📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 28 dokumen

PERANCANGAN DESAIN UNIT FILTRASI DAN PENGOLAHAN LUMPUR INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM (IPA) II KARAWANG DI KECAMATAN KARAWANG TIMUR

PERUMDAM Tirta Tarum Kabupaten Karawang merancang pembangunan IPA II Karawang dengan kapasitas produksi 100 LPS. IPA diproyeksikan dapat melayani hingga 85% penduduk Desa Plawad, Palumbonsari, dan Tegalsawah di Kecamatan Karawang Timur hingga tahun 2043. Instalasi dirancang dengan memanfaatkan sumber air baku dari Saluran Induk Tarum Tengah yang berasal dari Waduk Jatiluhur. Terdapat tiga aspek air baku yang tidak memenuhi standar kualitas air minum berdasar Permenkes No. 2 Tahun 2023 yaitu total coliform, fecal coliform, dan kekeruhan. Penentuan teknologi pengolahan air minum mengacu berdasarkan pendekatan multi metode (JICA, Kawamura, SNI 7508: 2011 , dan Notodarmojo) sehingga terpilih teknologi perancangan yaitu screening, koagulasi, flokulasi, sedimentasi, rapid sand filter, dan pengolahan lumpur. Unit filtrasi dan pengolahan lumpur kemudian dipilih dengan menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) dengan lima kriteria utama, yaitu CAPEX, OPEX, efisiensi lahan, kemudahan operasional, dan ketersediaan material hingga dihasilkan unit terpilih yaitu Rapid Sand Filter dual media dengan nozzle underdrain serta unit pengolahan lumpur Gravity Thickener dengan Sludge Drying Bed. Pembangunan IPA II dijadwalkan mulai 2026 dan beroperasi tahun 2029, dengan biaya investasi sebesar Rp22,15 miliar dan O&M bulanan Rp236,09 juta. Proyek ini dinilai layak secara finansial dengan NPV sebesar Rp28,55 miliar, BCR 1,52, dan periode pengembalian 19 tahun.

2025
👤 Penulis: Raihan Muhammad Alif
🏷️ Desain Sistem Pengolahan Air Minum 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Analisis Biaya Operasional Dan Investasi

KAJIAN POTENSI PENINGKATAN LAYANAN AIR BAKU INTAKE PDAM CIKALONG & PLTA PLENGAN-LAMAJAN-CIKALONG DENGAN PEMANFAATAN SITU CIPANUNJANG DAN SITU CILEUNCA

Situ Cipanunjang dan Situ Cileunca merupakan waduk kaskade yang terletak di hulu Sub-DAS Cisangkuy, berfungsi sebagai penyedia air baku bagi PDAM dan sumber energi untuk PLTA. Meskipun memiliki fungsi ganda, kedua situ belum memiliki Rencana Tahunan Operasi Waduk (RTOW). Saat ini, pelepasan air masih bergantung pada kondisi aktual muka air kolam tampungan PLTA tanpa perencanaan berbasis kebutuhan, yang menyebabkan defisit pasokan air pada musim kemarau dan surplus tak termanfaatkan pada musim hujan. Kebutuhan air irigasi dan industri sebelum titik pengambilan PDAM turut memengaruhi ketersediaan air bagi PDAM dan PLTA. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis potensi ketersediaan air pada enam infrastruktur utama, yaitu Situ Cipanunjang, Situ Cileunca, PLTA Plengan–Lamajan–Cikalong, dan Intake PDAM Cikalong; (2) mengevaluasi suplai air ke IPA Cikalong; (3) menganalisis produksi listrik PLTA; (4) menganalisis kebutuhan air irigasi dan industri; serta (5) menganalisis pemanfaatan kedua situ melalui simulasi menggunakan RIBASIM. Hasil simulasi skenario tanpa pemanfaatan situ menunjukkan adanya defisit suplai IPA Cikalong pada bulan Agustus–September di tahun kering. Selama defisit, ketiga PLTA tidak dapat memproduksi listrik karena aliran air diprioritaskan ke Sungai Cisangkuy untuk kebutuhan irigasi. Sebaliknya, pada skenario pemanfaatan situ, suplai IPA Cikalong dapat terpenuhi sepanjang tahun (musim basah, normal, dan kering), dan produksi listrik meningkat pada tahun kering: PLTA Plengan sebesar 23,71%, PLTA Lamajan 22,41%, dan PLTA Cikalong 32,33%. Volume yang digunakan dari Situ Cipanunjang mencapai 13,95 juta m³ dari volume efektif 19,26 juta m³, sementara Situ Cileunca sebesar 3,63 juta m³ dari 11,08 juta m³. Meskipun demikian, elevasi muka air tetap berada di atas batas kritis (intake level), menunjukkan kondisi penyimpanan air yang relatif aman.

2025
👤 Penulis: Annisa Rizki
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Analisis Sistem Energi

PERANCANGAN SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH DOMESTIK PADA PALEMBANG CITY SEWERAGE PROJECT ZONA 1 DI ILIR TIMUR 1, KOTA PALEMBANG

Penanganan air limbah domestik merupakan tantangan signifikan dalam pengelolaan infrastruktur perkotaan, khususnya di Kota Palembang yang mengalami pertumbuhan populasi dan urbanisasi pesat. Penelitian ini berfokus pada perancangan sistem penyaluran air limbah domestik untuk Zona 1 dalam Palembang City Sewerage Project di Kecamatan Ilir Timur 1. Dengan mempertimbangkan kondisi eksisting wilayah studi, seperti topografi, demografi, dan karakteristik air limbah, studi ini mengusulkan sistem pengelolaan air limbah terpusat (SPALD-T) sebagai solusi yang efisien dan berkelanjutan. Metode penelitian meliputi analisis kondisi awal, proyeksi populasi, serta evaluasi alternatif desain sistem perpipaan dan bangunan pelengkap berdasarkan parameter teknis dan non-teknis. Hasil perancangan mencakup desain jaringan perpipaan, spesifikasi teknis, perhitungan dimensi pipa, serta estimasi biaya konstruksi dan operasional. Studi ini juga menyoroti pentingnya aspek partisipasi masyarakat dan kebijakan pendukung untuk memastikan implementasi yang sukses. Perancangan ini mempertimbangkan berbagai skenario risiko, termasuk perubahan kebijakan, kualitas air limbah, serta faktor lingkungan seperti bencana alam. Sistem yang dirancang juga dirancang untuk meminimalkan dampak lingkungan dengan memastikan efisiensi pengelolaan limbah, penggunaan sumber daya yang optimal, dan kesesuaian dengan regulasi pemerintah terkait baku mutu air limbah domestik. Selain itu, proyeksi biaya konstruksi dan operasional disusun secara komprehensif untuk mendukung implementasi yang realistis dan berkelanjutan. Dengan pendekatan holistik yang mencakup aspek teknis dan non-teknis, penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi pengembangan infrastruktur sanitasi di wilayah perkotaan lainnya. Perancangan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas sanitasi dan kesehatan masyarakat, tetapi juga mendorong efisiensi penggunaan lahan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Kota Palembang secara keseluruhan.

2024
👤 Penulis: Muhammad Ilham Zaneta
🏷️ Sanitasi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Hidrologi

PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI WILAYAH KONFLIK: STUDI KASUS GAZA

This research addresses the challenges of water resource management in conflict-affected areas, with a case study focused on Gaza City. Gaza faces a severe water crisis due to over-extraction of groundwater, high levels of nitrate and chloride contamination, and limited natural water resources. The study provides a comprehensive evaluation of sustainable water supply alternatives, including seawater desalination using reverse osmosis technology, rainwater harvesting, and wastewater recycling, integrated with renewable energy solutions to minimize power consumption. Key findings highlight solutions to improve water quality and manage available quantities by enhancing water monitoring systems, reducing unaccounted-for water losses, and upgrading water infrastructure. The research also offers practical recommendations for developing comprehensive management policies based on sustainability principles such as Reduce, Reuse, and Recycle (3R) to achieve water security and ensure resource sustainability for future generations.

2024
👤 Penulis: Mohammed A.S. Algoul
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Sustainable Water Management

ANALISIS OPTIMASI PEMOMPAAN AIR DARI KOLAM PENGENDAPAN MENUJU PIT LAKE SAAT PASCATAMBANG PADA TAMBANG EMAS PT XYZ

Sebuah perusahaan tambang tembaga-emas di Nusa Tenggara akan memasuki tahap pascatambang pada tahun 2033, meninggalkan void bekas tambang dengan diameter sekitar 2 km dan kedalaman 700 m. Void ini direncanakan untuk dijadikan pit lake yang akan diisi oleh air limpasan, rembesan, dan air hujan, dengan perkiraan waktu pengisian penuh sekitar 40 tahun. Untuk mempercepat proses pengisian pit lake, air dari kolam pengendapan dapat dipompa masuk ke dalam void. Pemompaan direncanakan dari kolam pegendapan Tongoloka Toe Dike. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang meliputi curah hujan selama 21 tahun (2002-2022) dari stasiun WS-01, peta topografi lokasi penambangan, serta luas catchment area. Analisis dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak MATLAB 2024a untuk menentukan curah hujan rencana mingguan. Beberapa distribusi, seperti Weibull, Gumbel, Gamma, Eksponensial, dan Log Pearson Tipe III, digunakan untuk menghitung curah hujan, dan distribusi dengan nilai signifikansi terbesar dipilih untuk setiap minggu. Setelah itu, dilakukan fitting data dengan data cumulative distribution function (CDF) untuk mendapatkan nilai curah hujan dengan probabilitas 50%, 55%, 60%, 65%, 70%, 75%, 80%, 85%, 90%, 95%, dan 97,5%. Simulasi Monte Carlo digunakan untuk menentukan probabilitas curah hujan tiap minggunya. Waktu pemompaan ditetapkan 3.5 tahun, dimulai pada pertengahan tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk bisa memompa dari Tongoloka Toe Dike, setidaknya 1 pompa memerlukan 11 booster. Penelitian ini menganalisis penggunaan 1 hingga 10 pompa. Skenario dengan 9 pompa memiliki efektivitas pemompaan 99,99%, volume air yang masuk kolam adalah 66.220.811 m3, volume air dari pompa yang menuju pit lake adalah 66.212.640 m3 dan telah memasuki minggu tanpa terjadi overflow. Skenario 9 pompa ini mampu untuk mempercepat pembuatan pit lake selama 14 tahun.

2024
👤 Penulis: Aulia Bagas Widya Prakosa
🏷️ Analisis Optimasi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Hydrologi

PERANCANGAN SISTEM PLAMBING AIR BERSIH, AIR BUANGAN, VENT, AIR HUJAN, DAN SISTEM PEMADAM KEBAKARAN DI MUSEUM MEMORIAL SOEKARNO, KOTA BANDUNG.

Museum Memorial Soekarno dirancang untuk mempelajari sejarah secara lebih atraktif dan menarik , sehingga bermanfaat bagi perkembangan masa depan di Kota Bandung. Museum Memorial Soekarno memiliki struktur yang terdiri dari 5 lantai dan dua basement. Fungsi peralatan plambing adalah menyediakan air bersih dengan tekanan cukup ke tempat yang diinginkan dan membuang air kotor tanpa mencemari area lain. Sistem plambing yang direncanakan adalah sistem air bersih, air daur ulang, air buangan, vent, dan air hujan yang dirancang berdasarkan dari SNI 8153:2015 tentang Sistem Plambing pada Bangunan Gedung. Sistem air bersih dan air daur ulang menggunakan tangki atas yang akan dipompakan dari tangki bawah. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, museum ini membutuhkan kebutuhan air bersih sebesar 76,33 m3. Sistem penyediaan air bersih didukung oleh reservoir bawah dengan volume 55,98 m3 dan reservoir atas sebesar 8,53 m3. Air buangan pada perancangan ini direncanakan untuk menggunakan sistem pengaliran yang terpisah antara Greywater dan Blackwater. Greywater yang dihasilkan dari floor drain, sink, dan lavatory dialirkan menuju STP untuk diolah kembali menjadi air daur ulang. dengan volume reservoir bawah daur ulang sebesar 30,84 m3 dan reservoir atas daur ulang sebesar 10,36 m3. Blackwater dihasilkan dari alat plambing urinal dan kloset, akan dialirkan langsung menuju riol kota. Sistem vent direncanakan untuk menggunakan sistem vent loop dengan tujuan untuk melayani 8 alat plambing yang menghasilkan air buangan. Air hujan yang terkumpul dari atap dialirkan ke fasilitas pengolahan untuk digunakan kembali (reuse), dan bila tangki pengolahan melebihi kapasitas akan dialirkan menuju sump pit yang kemudian akan dialirkan menuju riol kota. Sistem Pemadam Kebakaran akan menggunakan sprinkler, hidran, dan hidran halaman yang bersumber dari air bersih.

2024
👤 Penulis: Mohammad Ilham Prayudi
🏷️ Desain Arsitektur 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Sistem Pemadam Kebakaran

STUDI POTENSI PEMANFAATAN AIR HUJAN SEBAGAI AIR BERSIH RUMAH TANGGA DI KECAMATAN BANDUNG WETAN, KOTA BANDUNG

Air merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan air semakin lama semakin meningkat dikarenakan pertumbuhan penduduk yang pesat. Selain kebutuhan yang meningkat, ketersediaan air juga semakin terbatas karena perubahan tutupan lahan menjadi lahan terbangun. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah pemanenan air hujan. Kota Bandung merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia dengan curah hujan tinggi. Meskipun curah hujan tinggi, pemanfaatan air hujan oleh masyarakat di Kota Bandung termasuk Kecamatan Bandung Wetan masih minim. Penelitian dilakukan pada 414 rumah di Kecamatan Bandung Wetan. Berdasarkan hasil analisis, pemanenan air hujan dapat menghasilkan air sebanyak 3,88 m3 hingga 225,2 m3 dengan rata-rata 37,93 m3 . Jumlah tersebut dapat memenuhi kebutuhan air rumah tangga sebesar 1,52% hingga 303,93% dengan rata-rata 20,37%. Dari segi pemenuhan kebutuhan air, sebanyak 77% rumah berada di rentang pemenuhan 0% hingga 25%. Dari segi kualitas, parameter kekeruhan, warna, dan bakteriologi melewati baku mutu air minum Permenkes No 2 Tahun 2023 sehingga perlu dilakukan pengolahan. Nilai parameter melewati standar dikarenakan kondisi atap yang tidak terawat. Sistem pengolahan dimulai dari screening, first-flush diverter, filtration (polypropylene, activated granular carbon, dan ceramic), atau Home Ultrafiltration kemudian dialirkan ke kran air. Dari segi kebutuhan lahan, sebesar 20,29% dari jumlah rumah memiliki lahan yang cukup, 15,22% tidak memiliki cukup lahan, sedangkan 64,49% lainnya tidak memiliki lahan sisa untuk membangun sistem pemanenan air hujan. Alternatif yang dapat diberikan yaitu pengecilan volume reservoir dan penerapan sistem pemanenan air hujan komunal. Dari segi ekonomi, hanya 3-6 rumah yang mengalami surplus dengan payback period sebesar 32,03-1266,3 tahun. Alternatif yang dapat dilakukan yaitu pengecilan volume reservoir sehingga payback period menjadi 6,68-190 tahun. Biaya penerapan sistem pemanenan air hujan lebih mahal daripada biaya operasional sumber air eksisting. Namun, sistem pemanenan air hujan dapat digunakan sebagai alternatif sumber air pada wilayah atau rumah yang tidak memiliki sumber air lain untuk mencukupi kebutuhan air bersih.

2024
👤 Penulis: Muhammad Andika
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS NERACA AIR DAS MAJALAYA TERHADAP PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN MENGGUNAKAN SWAT+

abstrak bisa dilihat di filenya

2024
👤 Penulis: Abdul Wahab Ihsan S.H Lihawa
🏷️ Analisis Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Geografi Klimatologi

PENATAAN RUANG AIR MILIK SUNGAI TALLO DALAM RANGKA PENGENDALIAN BANJIR

Makassar menjadi muara dari 2 sungai besar Sungai Tallo dan Sungai Jenneberang dimana Sungai Tallo sering menimbulkan banjir disekitar alur sungai di dalam Kota Makassar, di sepanjang 3,2 km daerah perkotaan. Namun demikian, belum ada strategi penanganan pengendalian banjir yang handal dikarenakan belum menyentuh pada akar permasalahan penyebab utama banjir di Sungai Tallo. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis mengenai penataan ruang air milik Sungai Tallo dalam rangka pengendalian banjir. Metode dalam penelitian ini menggunakan analisis hidrologi, hidrolika berupa HEC-RAS, serta pengaturan sempadan sungai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengukuran kapasitas Sungai Tallo dilakukan melalui analisis hidrologi dengan perhitungan HSS Nakayasu yang menghasilkan debit banjir rencana Q25 pada daerah hilir sebesar 619.36 m3/detik, yang merepresentasikan tinggi muka air yang meningkat setinggi 0.8 meter dari tepi sungai di kawasan sekitar lokasi penelitian. Berdasarkan analisis hidrolika, ditemukan bahwa kapasitas Sungai Tallo yang berada pada kondisi eksisting masih tidak mampu mengalirkan debit banjir rencana sehingga menyebabkan potensi terjadinya banjir semakin meningkat. Selain itu, penataan ruang air Sungai Tallo dilakukan dengan mempertimbangkan jarak garis sempadan sungai dengan lebar 15 meter dari tepi sungai sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Tahun 1993. Namun rencana tata ruang dengan sempadan sungai, sejauh ini belum sepenuhnya memenuhi harapan, sebab masih terdapat permasalahan terkait pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan peraturan sempadan sungai yang dibuktikan dengan masih adanya 21 rumah yang masuk dalam kategori kawasan sempadan sungai sekitar lokasi penelitian. Strategi penataan ruang air dalam upaya pengendalian banjir dengan skenario tanggul dapat mengatasi banjir pada lokasi penelitian. Dengan itu mampu menghilangkan adanya genangan banjir dan tingkat risiko banjir sehingga membantu dalam pengendalian banjir. Akan tetapi dengan adanya skenario tanggul diperlukan penyesuain tata guna lahan pada kawasan penelitian.

2024
👤 Penulis: M. Yoesril Al-Qadri
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Analisis Geografis

ANALISIS NERACA AIR DAN ALOKASI AIR MENGGUNAKAN WATER EVALUATION AND PLANNING (WEAP) PROGRAM (STUDI KASUS: DAS CIUJUNG, WS CIUJUNG – CIDANAU – CIDURIAN, PROVINSI BANTEN)

Kebutuhan air merupakan salah satu aspek vital yang harus dipenuhi untuk mendukung kehidupan sehari-hari, pertanian, dan kegiatan industri. Kebutuhan air di Kabupaten Lebak, Pandeglang, dan Serang dilayani oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciujung. Seiring dengan peningkatan populasi, perkembangan industri, dan berkurangnya luas tutupan lahan hutan, ketiga kabupaten tersebut mengalami peningkatan kebutuhan air yang signifikan. Namun, ketersediaan air yang ada di DAS Ciujung tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menghitung neraca air, mengidentifikasi ketersediaan dan kebutuhan air, serta mensimulasikan alokasi air menggunakan program WEAP (Water Evaluation and Planning) di wilayah DAS Ciujung. Perhitungan debit pada pemodelan WEAP sudah mirip dengan debit aktual yang diukur dengan AWLR (Air Water Level Recorder) dengan nilai r sebesar 0,93 dan r² sebesar 0,87. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, ketersediaan air pada DAS Ciujung berasal dari tigabelas sub-DAS dengan kontribusi debit terbesar dari sub-DAS Jembatan Rangkasbitung yang mencapai 32,54 m³/s. Kebutuhan air di DAS Ciujung terbagi dalam empat sektor, yaitu domestik (30,96 m³/s), irigasi (374,78 m³/s), industri (29,89 m³/s), serta pemeliharaan sungai dan kehilangan air (57,19 m³/s). Analisis neraca air menunjukkan bahwa DAS Ciujung mengalami defisit air secara keseluruhan, namun terdapat surplus pada bulan Januari, Mei, dan Desember. Berbagai skenario dianalisis untuk memperkirakan neraca air di masa depan. Skenario pertama hingga ketiga menggunakan variasi ketersediaan air (Q10, Q20, Q50) yang menunjukkan surplus air. Skenario keempat menggunakan variasi ketersediaan air dengan probabilitas Q90 yang menunjukkan mayoritas periode mengalami defisit air dan beberapa periode mengalami surplus air. Skenario kelima menunjukkan peningkatan konsumsi air (return flow) di sektor industri sebesar 90% dan peningkatan intake oleh industri sebesar 10% yang menghasilkan defisit air dari akhir bulan Juni hingga awal November serta awal April dengan surplus pada bulan-bulan lainnya. Skenario keenam melibatkan penurunan luas area irigasi sebesar 14,94% akibat alih fungsi lahan, skenario ini menunjukkan defisit air pada awal bulan April dan akhir Juni hingga awal November dengan kondisi surplus pada bulan-bulan yang lainnya. Skenario ketujuh menunjukkan peningkatan cakupan PDAM Lebak sebesar 25% dan PDAM Tirta Albantani sebesar 45%, skenario ini menghasilkan defisit air dari akhir bulan Maret hingga awal April dan dari bulan Juni hingga November dengan kondisi surplus pada bulan-bulan yang lainnya. Skenario kedelapan, merupakan kombinasi dari penurunan luas area irigasi sebesar 14,94%, peningkatan konsumsi air (return flow) menjadi 90% dan peningkatan intake air pada sektor industri sebesar 10%, peningkatan cakupan PDAM Lebak dan PDAM Tirta Albantani masing-masing sebesar 25% dan 45%, serta ketersediaan air menggunakan debit Q80. Skenario ini menunjukkan defisit air dari akhir bulan Maret hingga awal bulan April dan terjadi defisit kembali pada bulan Juni hingga bulan November dengan kondisi surplus pada bulan-bulan yang lainnya.

2024
👤 Penulis: Nabiela Kusdarningrum Kusuma
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Analisis Neraca Air

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SUMBER DAYA DAN ANTARMUKA PENGGUNA PADA IOT ULTRASONIC WATER METER

Tingkat NRW (Non-Revenue Water) di Indonesia berdasarkan Laporan Kinerja BUMD 2023 melebihi standar nasional yang sebesar 25%. NRW nasional pada tahun 2023 mencapai 33,90% atau sekitar 1,74 miliar m3, yang berpotensi menyebabkan kerugian pendapatan sebesar Rp 9,75 triliun per tahun. NRW dapat disebabkan oleh kehilangan komersial dan fisik. Kehilangan komersial dapat terjadi akibat meter air pelanggan yang tidak akurat atau pembacaan meter yang salah. Sedangkan kehilangan air fisik dapat terjadi selama pekerjaan instalasi pipa. Ketika kehilangan air komersial diidentifikasi dan diatasi, akan terjadi peningkatan pendapatan secara langsung berdasarkan penjualan air. Meter air ultrasonik memiliki keunggulan presisi tinggi, konsumsi daya rendah, dan masa pakai yang panjang sehingga dapat menjadi kandidat penting untuk generasi berikutnya dari meter air. Penelitian ini berfokus pada aspek manajemen daya dan antarmuka pengguna dari Meter Air berbasis Ultrasonik dengan Internet of Things. Implementasi sumber daya sistem mampu bertahan hingga 2 bulan, sehingga belum memenuhi spesifikasi umur baterai yang seharusnya bertahan hingga 5 tahun. Namun, sistem ini sudah memenuhi spesifikasi dalam menyimpan volume air pelanggan ketika terputus dari sumber daya. Implementasi antarmuka yang mencakup indikator daya, interaksi pengguna pada display, serta pengiriman data secara paksa oleh pengguna dapat memenuhi semua spesifikasi Standar Metrologi. Untuk perancangan mendatang, disarankan untuk menggunakan hanya satu mikrokontroler guna mencapai spesifikasi baterai yang dapat bertahan hingga 5 tahun.

2024
👤 Penulis: Noor Shafira
🏷️ Meter Air Ultrasonik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Analisis Nrw (Non-Revenue Water)

SIMULASI INJEKSI AIR PANAS IKUTAN SEBAGAI ALTERNATIF PENANGANAN AIR BUANGAN TAMBANG PT XYZ

Menjaga lingkungan merupakan komitmen penting bagi perusahaan tambang dalam menjalankan usahanya, salah satunya memastikan air buangan dari aktifitas penambangan memenuhi baku mutu lingkungan sesuai peraturan yang berlaku. PT XYZ adalah salah satu perusahaan tambang emas yang beroperasi di Pulau Sulawesi. Area penambangan terletak pada daerah vulkanik yang merupakan daerah prospek geotermal. Pada salah satu pit penambangannya (Pit A) terdapat air panas yang keluar dengan suhu >70oC dan debit hingga mencapai 1000 liter/detik. Air panas yang keluar ini menjadi air buangan tambang yang tidak dapat langsung dialirkan ke badan air karena belum memenuhi baku mutu. Air buangan tambang ini harus diolah untuk menurunkan kadar arsen, boron, klorida, total dissolved solid (TDS) dan suhu jika akan dialirkan ke sungai terdekat sedangkan pembuangan ke laut hanya membutuhkan penurunan suhu. Alternatif lain adalah mengembalikan air buangan tambang ini ke dalam aliran airtanah dengan cara injeksi. Pengolahan yang dilakukan saat ini menggunakan metode mixing pond dan cooling circuit sebelum dialirkan ke laut. Kedua metode ini membutuhkan area yang cukup luas untuk penyediaan infrastrukturnya sedangkan penambangan juga membutuhkan perluasan lahan. Seiring kemajuan penambangan, bukaan tambang semakin besar dan debit air yang keluar akan semakin besar sehingga alternatif injeksi perlu dipertimbangkan. Studi ini dilakukan untuk mendapatkan perkiraan debit air panas yang akan keluar seiring dengan bukaan tambang yang semakin besar dan gambaran awal lokasi yang dijadikan target injeksi. Dari data pengujian lapangan yang pernah dilakukan sebelumnya, perhitungan dan simulasi menggunakan metode beda hingga (finite difference) dengan bantuan perangkat lunak (software) MODFLOW diperoleh perkiraan debit air yang keluar dapat mencapai 2000 liter/detik dan lokasi injeksi yang disarankan berada di sisi utara Pit A dengan jarak minimum 2 km dari final pit design. Hasil studi ini diharapkan dapat dijadikan acuan studi selanjutnya sebelum alternatif injeksi ini dijadikan pilihan dan diimplementasikan.

2024
👤 Penulis: Edy Susanto
🏷️ Geotermal 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Analisis Sistem Penanggulangan Lingkungan

RECOVERY NUTRIEN DARI AIR LINDI MELALUI METODE KRISTALISASI STRUVITE MENGGUNAKAN AIR CATHODE ELECTROCOAGULATION

Keberadaan fosfor dan nitrogen yang berlebih di badan air dapat menyebabkan permasalahan lingkungan. Metode pengolahan limbah yang sedang dikembangkan untuk mengatasi hal tersebut yaitu melalui recovery ammonium dan fosfor menjadi struvite atau kristalisasi struvite menggunakan teknologi Air-Cathode Electrocoagulation. Metode ini menggunakan prinsip elektrokimia yaitu oksidasi pada plat anoda Mg0 menjadi Mg2+ dan reduksi O2 dari udara bebas menjadi OH- . Proses kristalisasi struvite salah satunya dipengaruhi oleh debit yang memengaruhi reaksi penyisihan nutrien dan pembentukan struvite. Pada penelitian ini menggunakan empat variasi debit yaitu 1 mL/menit, 2 mL/menit, 3 mL/menit, dan 4 mL/menit. Penelitian dilakukan dengan mengukur efisiensi penyisihan nutrien dan laju penyisihan nutrien, juga analisis karakteristik presipitat menggunakan metode SEM-EDS. Dilakukan pula uji polarisasi dan analisis produksi listrik untuk mengetahui karakteristik reaktor ACEC. Hasil penelitian menunjukkan terdapat nilai debit optimum yaitu 2 mL/menit yang menghasilkan efisiensi penyisihan nutrien dan pembentukan struvite tertinggi. Penggunaan nilai debit <2 mL/menit atau >2 mL/menit dapat menurunkan efisiensi proses penyisihan nutrien dan menghambat pembentukan presipitat. Berdasarkan kurva polarisasi, didapatkan power density maksimum sebesar 293,8 mW/cm2 dan terdapat overpotential loss sebesar 1650 mV. Produksi listrik pada keempat variasi debit menurun selama pengoperasian reaktor.

2024
👤 Penulis: Narendra Ananta Dwi Putra
🏷️ Elektrokimia 🏷️ Kristalisasi Struvite 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air
Halaman 2 dari 2
💬