📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 26 dokumenMEMAHAMI NIAT BERPINDAH KONSUMEN TERHADAP TELKOMSEL ONE DI JAWA BARAT: PENDEKATAN MODEL PUSH-PULL-MOORING
Di era Society 5.0, integrasi ruang siber dan fisik mendorong perusahaan untuk mengadopsi konektivitas digital yang mulus. Perubahan ini menuntut perusahaan telekomunikasi berinovasi cepat agar tetap relevan. Telkom merespons melalui inisiatif “5 Bold Moves”, termasuk integrasi IndiHome ke Telkomsel dan peluncuran produk Fixed Mobile Convergence (FMC), yaitu Telkomsel One. Layanan ini menggabungkan internet tetap dan seluler dalam satu platform untuk konektivitas yang terintegrasi di rumah dan saat bepergian. Dengan paket bundling internet, suara, dan hiburan dalam satu langganan, Telkomsel One dirancang untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. Meski adopsinya di Jawa Barat terus tumbuh, masih ada ruang peningkatan yang membuka peluang pemahaman lebih dalam terhadap perilaku konsumen dan peningkatan niat beralih. Penelitian ini menggunakan kerangka Push-Pull-Mooring (PPM) untuk menganalisis faktor perilaku yang memengaruhi niat berpindah ke Telkomsel One. Push mencakup ketidakpuasan, pull mencerminkan manfaat yang dirasakan, dan mooring terkait loyalitas serta hambatan perpindahan. Studi ini juga membandingkan perbedaan antar generasi Gen Z, Milenial, dan Gen X yang memiliki perilaku unik. Survei kuantitatif terhadap 300 responden di Jawa Barat dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM-PLS), dengan MultiGroup Analysis (MGA) untuk melihat variasi antar generasi. Hasil menunjukkan faktor pull seperti manfaat, kenyamanan, dan relevansi memberi pengaruh paling kuat. Push berdampak sedang, sementara mooring seperti loyalitas dan hambatan perpindahan menjadi penghalang utama, khususnya pada konsumen yang lebih tua. Gen Z terbuka untuk berpindah karena kebiasaan digital dan promo menarik, meski bukan pengambil keputusan utama. Milenial responsif terhadap layanan yang fleksibel dan bisa disesuaikan. Gen X paling resisten dan membutuhkan pendekatan yang personal dan membangun kepercayaan.Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa faktor pull mendorong adopsi, mooring menjadi penghalang utama, dan karakteristik generasi berperan penting dalam dinamika switching di layanan FMC.
PENGURANGAN EMISI DARI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN 60 MW UNTUK PUSAT DATA DI JAWA BARAT, INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN RETSCREEN: STUDI KASUS PT PLN (PERSERO)
Transformasi digital Indonesia yang pesat telah mendorong lonjakan permintaan terhadap infrastruktur pusat data, yang pada gilirannya meningkatkan konsumsi listrik dan emisi karbon secara signifikan. Untuk menjawab tantangan lingkungan ini dan mendukung target dekarbonisasi nasional, penelitian ini mengevaluasi kelayakan teknis dan ekonomi serta dampak pengurangan emisi dari pembangunan pembangkit listrik tenaga angin berkapasitas 60 MW yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan listrik pusat data hijau di wilayah Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan perangkat lunak RETScreen Expert untuk mensimulasikan potensi produksi energi, kinerja finansial, dan pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK), serta dipadukan dengan penilaian risiko Lingkungan dan Sosial (L&S) untuk menilai keberlanjutan proyek secara menyeluruh. Metodologi mencakup pengumpulan data primer melalui wawancara dengan pengembang pembangkit (IPP) dan kontraktor EPC, serta data sekunder dari basis data iklim ERA5 dan NASA. Spesifikasi teknis mengacu pada turbin Goldwind GWH182-5.3 berkapasitas 5,3 MW, yang dirancang untuk wilayah dengan kecepatan angin rendah hingga sedang. Model proyek disusun untuk wilayah Ciemas, Sukabumi, yang dipilih karena potensi anginnya yang tinggi dan kedekatannya dengan infrastruktur digital utama. Hasil penilaian risiko L&S menunjukkan tingkat risiko sedang untuk kontroversi proyek dan perubahan iklim, tinggi untuk keanekaragaman hayati dan kelangkaan air, serta rendah untuk risiko penggusuran, masyarakat adat, dan warisan budaya. Hal ini menandakan perlunya strategi mitigasi spesifik seperti pemantauan keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumber daya air, tetapi dengan potensi resistensi sosial yang rendah terhadap proyek. Secara teknis, pembangkit ini diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 119,7 GWh listrik per tahun. Dari sisi lingkungan, proyek ini berpotensi mengurangi emisi GRK sebesar 131.745 ton CO? per tahun, setara dengan penurunan 10,9% dibandingkan pembangkit listrik tenaga batu bara 128 MW sebagai skenario pembanding. Secara finansial, proyek menunjukkan kinerja yang layak dengan IRR setelah pajak sebesar 12,2%, NPV sebesar USD 4,1 juta, dan periode pengembalian sederhana selama 10,3 tahun dalam jangka operasi 20 tahun, berdasarkan tarif referensi dari Perpres No. 112 Tahun 2022. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa variabel paling berpengaruh positif terhadap IRR adalah jumlah listrik yang diekspor ke jaringan dan tarif ekspor listrik, masing-masing berkontribusi lebih dari +0,6 deviasi standar. Sebaliknya, biaya investasi awal (CAPEX) memiliki dampak negatif paling besar dengan sensitivitas melebihi –0,4 deviasi standar. Variabel lain seperti rasio utang, biaya operasi dan pemeliharaan (O&M), jangka waktu utang, dan suku bunga menunjukkan pengaruh sedang. Solusi bisnis yang ditawarkan menekankan pentingnya sinergi antara target transisi energi PLN dan ekspansi infrastruktur digital nasional. Rencana implementasi mencakup kesiapan lahan, izin proyek, integrasi jaringan transmisi, serta mitigasi risiko ESG. Rekomendasi kelembagaan mencakup dorongan untuk pembentukan kemitraan publik-swasta, pengembangan model energi terbarukan hibrida (seperti angin dan baterai), serta penciptaan skema insentif bagi energi terbarukan yang terhubung ke pusat data. Sebagai kesimpulan, penelitian ini membuktikan bahwa integrasi energi angin untuk mendukung pusat data di Jawa Barat tidak hanya layak secara teknis dan finansial, tetapi juga unggul secara lingkungan dibandingkan pembangkit berbasis batu bara. Studi ini mengisi kesenjangan literatur dalam integrasi energi angin untuk pusat data di pasar berkembang dan menawarkan kerangka model replikasi untuk wilayah permintaan tinggi lainnya. Penelitian ini merekomendasikan agar PLN dan para pembuat kebijakan memprioritaskan integrasi energi terbarukan dalam perencanaan pusat data dan memperkuat kebijakan investasi yang ramah hijau serta mendukung pencapaian target net zero nasional.
NIAT BERHENTI PELANGGAN DAN STRATEGI RETENSI DALAM PROGRAM LOYALITAS DIGITAL. STUDI KASUS ERASPACE
Di tengah pesatnya transformasi digital di industri ritel elektronik Indonesia, program loyalitas digital menjadi strategi utama untuk mempertahankan pelanggan. Namun, PT EraX menghadapi tantangan signifikan melalui tingginya tingkat churn pada aplikasi loyalitas Eraspace meski telah menawarkan berbagai insentif. Penelitian ini berangkat dari urgensi untuk memahami lebih dalam faktor- faktor yang menyebabkan pelanggan berhenti menggunakan program ini, serta merumuskan strategi retensi yang efektif dan berbasis data. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh nilai yang dirasakan (perceived value), pengalaman pengguna (UX), kepuasan pelanggan, dan keterlibatan pelanggan terhadap niat churn, serta mengevaluasi efektivitas fitur-fitur loyalitas dalam Eraspace. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 164 responden yang terdiri dari pengguna aktif, churned, dan non-user. Data dianalisis dengan metode Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS), disertai dengan uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceived value (? = 0,567) dan UX (? = 0,224) berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan (p < 0,05), namun kepuasan dan keterlibatan pelanggan tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap penurunan niat churn. Temuan penting ini mengindikasikan bahwa meskipun pelanggan merasa puas, hal tersebut belum cukup untuk mencegah mereka keluar dari program, karena tidak ada keterikatan emosional atau manfaat nyata yang dirasakan secara konsisten. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini melakukan analisis strategis menggunakan SWOT dan QSPM. Strategi retensi prioritas yang dihasilkan meliputi: (1) personalisasi otomatis berbasis AI dan data analytics untuk menyajikan penawaran yang relevan; (2) desain ulang UX khususnya pada proses penukaran poin agar lebih sederhana dan intuitif; serta (3) penerapan gamifikasi dan storytelling untuk menciptakan keterlibatan emosional dan loyalitas jangka panjang. Selain itu, program loyalitas disarankan untuk memperluas fleksibilitas insentif dan integrasi dengan ekosistem digital EraX secara keseluruhan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa loyalitas pelanggan tidak dapat dibangun hanya dengan insentif rasional atau kepuasan fungsional, tetapi juga memerlukan pendekatan yang emosional dan interaktif yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Dengan strategi berbasis teknologi, empati digital, dan pemahaman perilaku pelanggan, Eraspace dapat memperkuat daya saingnya dan menurunkan tingkat churn secara berkelanjutan. Penelitian ini juga merekomendasikan eksplorasi lanjutan terhadap variabel psikososial seperti kepercayaan, biaya peralihan, serta penggunaan machine learning untuk prediksi churn yang lebih akurat dan adaptif.
OPTIMALISASI ADOPSI E-PROCUREMENT UNTUK UMKM KABUPATEN TRENGGALEK : STUDI KOLABORASI MULTI SEKTOR MENGGUNAKAN PENDEKATAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM)
Pesatnya perkembangan teknologi digital telah mentransformasi berbagai sektor secara global, termasuk usaha kecil dan menengah (UMKM). Namun, UMKM di pedesaan, seperti Kabupaten Trenggalek, sering menghadapi tantangan yang signifikan dalam mengadopsi teknologi tersebut karena keterbatasan sumber daya dan infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi adopsi e-procurement oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Trenggalek, serta untuk mengembangkan strategi peningkatan kapasitas digital melalui kolaborasi multi-sektor. Dengan memanfaatkan kerangka kerja Technology Acceptance Model (TAM) yang dimodifikasi, penelitian ini menganalisis pengaruh kesiapan teknologi, kesiapan organisasi, kualitas sistem, serta faktor eksternal terhadap persepsi kemudahan penggunaan, persepsi manfaat, sikap terhadap teknologi, dan niat untuk menggunakan teknologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS). Data dikumpulkan melalui survei menggunakan kuesioner kepada 400 responden yang dipilih dengan metode stratified random sampling, yang mewakili berbagai sektor UMKM di Trenggalek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi kemudahan penggunaan dan manfaat teknologi secara signifikan memengaruhi sikap terhadap teknologi, yang pada akhirnya mendorong niat UMKM untuk menggunakan sistem e-procurement. Namun, hambatan utama meliputi rendahnya literasi digital, keterbatasan infrastruktur teknologi, dan kurangnya dukungan organisasi. Di sisi lain, kualitas sistem, seperti keandalan, antarmuka yang intuitif dan kecepatan respons, berperan penting dalam meningkatkan persepsi positif terhadap teknologi. Penelitian ini juga mengungkapkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, untuk menyediakan pelatihan literasi digital, infrastruktur teknologi, dan kebijakan pendukung yang berkelanjutan. Sebagai rekomendasi, penelitian ini menyarankan pengembangan program pelatihan digital yang terfokus pada kebutuhan lokal UMKM, penyediaan dekstop platform e-procurement yang ramah pengguna, serta peningkatan koordinasi lintas sektor untuk menciptakan ekosistem digital yang inklusif. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing UMKM di era ekonomi digital dan memperkuat kontribusi mereka terhadap pertumbuhan ekonomi regional dan nasional.
OPTIMALISASI KUALITAS DATA PERTANAHAN MENJADI DATA SIAP ELEKTRONIK MELALUI PENINGKATAN BERTAHAP (STUDI KASUS DI KABUPATEN CIREBON)
Peningkatan kualitas data pertanahan yang siap mendukung sistem elektronik merupakan kebutuhan mendesak di era digitalisasi pelayanan pertanahan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui kondisi eksisting data pertanahan di Kabupaten Cirebon, (2) mengidentifikasi faktor-faktor penyebab rendahnya kualitas data pertanahan di Kantor Pertanahan Kabupaten Cirebon, dan (3) menentukan strategi yang tepat untuk meningkatkan kualitas data pertanahan. Penelitian ini menggunakan metode USG (Urgency, Seriousness, and Growth), fishbone, dan SWOT. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis dokumen pertanahan di BPN (Badan Pertanahan Nasional) Kabupaten Cirebon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kualitas data pertanahan di Kabupaten Cirebon masih perlu dilakukan peningkatan terkait kualitas data. Hal ini ditunjukkan dengan masih adanya anomali pada bidang tanah. Faktor utama yang menyebabkan rendahnya kualitas data adalah pengadaan peta foto yang masih mencakup 29% wilayah Kabupaten Cirebon, masih banyak bidang K4 (KW 4, KW 5, dan KW 6) sebanyak 78.609 bidang di Kabupaten Cirebon, keterbatasan sumber daya manusia dibandingkan dengan permintaan layanan, kurangnya kemampuan penggunaan perangkat lunak pemetaan, ketidaksesuaian metode dalam tahapan pekerjaan, tuntutan kementerian dalam menyediakan data siap elektronik, dan terbatasnya anggaran untuk penambahan sumber daya manusia. Berdasarkan temuan tersebut, beberapa strategi untuk meningkatkan kualitas data pertanahan meliputi melakukan koordinasi lintas sektor dengan instansi pemerintah pusat maupun daerah dalam pemenuhan dukungan teknis maupun non teknis, penggunaan teknologi termutakhir untuk mempercepat proses perbaikan dan validasi, peningkatan kompetensi SDM, melakukan percepatan pemetaan foto udara sebagai upaya melengkapi kebutuhan peta dasar pertanahan, dan melakukan implementasi kebijakan berupa juknis peningkatan kualitas data KW 1-6. Penerapan strategi ini dapat memberikan peningkatan jumlah data siap elektronik yaitu sebesar 2,17% untuk Surat Ukur Elektronik dan sebesar 1,28% untuk Buku Tanah Elektronik.
DESAIN INTERAKSI APLIKASI MOBILE PEMESANAN PROGRAM DIET DI YELLOW FIT KITCHEN DENGAN PENDEKATAN USER CENTERED DESIGN
Dalam dunia yang semakin digital, efisiensi dan kemudahan dalam bertransaksi menjadi kunci penting untuk pengalaman pengguna yang memuaskan. Saat ini, dalam keberjalanannya, Yellow Fit Kitchen sebagai salah satu brand terbesar penyedia menu program diet menggunakan platform Whatsapp untuk pemesanan dan konsultasi serta website untuk penyediaan informasi. Namun, pada kenyataannya, pengguna mengalami kesulitan untuk menyelesaikan proses pemesanan karena harus melakukan transisi antara Whatsapp dan website. Selain itu, terdapat ketidaksesuaian informasi antara kedua platform tersebut dan kurang jelasnya alur proses pemesanan menurunkan efektivitas dan efisiensi dari proses pemesanan. Masalah ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk desain interaksi yang lebih baik. Dengan pesatnya perkembangan aplikasi mobile sekarang, maka penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi berupa desain interaksi aplikasi mobile pemesanan program diet di Yellow Fit Kitchen yang mengintegrasikan kedua fungsionalitas dari platform WhatsApp dan juga website. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah user-centered design yang mengutamakan kebutuhan pengguna untuk memastikan aplikasi menyediakan fungsionalitas dan fitur yang sesuai dengan harapan mereka. Proses pengembangan aplikasi dimulai dengan analisis kebutuhan dan masalah pengguna melalui studi literatur dan kuesioner. Selanjutnya, dilakukan perancangan low-fidelity dan high-fidelity berupa antarmuka frontend, lalu diakhiri dengan evaluasi dan pengujian. Prototipe aplikasi dikembangkan untuk pelanggan, calon pelanggan, dan pihak Yellow Fit Kitchen tanpa mengimplementasikan sisi administrator. Usability goals yang diharapkan dapat dipengaruhi meliputi effective to use, efisiensi penggunaan, having good utility, dan easy to learn. Sementara itu, user experience goals yang diharapkan dapat dipengaruhi adalah helpful dan satisfying. Evaluasi dilakukan dengan metriks perhitungan untuk mengukur keenam kriteria tersebut, seperti task completion rate, number of errors, time on task, satisfaction rate, metode Single Ease Question (SEQ), Intrinsic Motivation Inventory (IMI), dan Single Usability of Scale (SUS). Pengukuran ini telah menunjukkan adanya peningkatan dalam nilai usability dan user experience melalui dua kali iterasi pengujian.
OPTIMIZING USER EXPERIENCE: A DATA-DRIVEN APPROACH TO ENHANCING B2B INVOICING EFFICIENCY ACROSS MULTIPLE PLATFORMS PT PAKAR DIGITAL GLOBAL
Tesis ini mengeksplorasi implementasi pengambilan keputusan berbasis data untuk meningkatkan pengalaman pengguna dan efisiensi penagihan B2B di berbagai platform Paper.id. Dalam sektor fintech yang berkembang pesat, tetap unggul berarti terus berinovasi untuk meningkatkan aktivasi dan retensi pengguna, terutama dalam bulan pertama penggunaan. Penelitian ini mengadopsi pendekatan terstruktur, mengintegrasikan analitik canggih seperti Analisis Seri Waktu, Analisis Deskriptif, dan Analisis Korelasi, untuk menganalisis secara mendalam data pengguna yang dikumpulkan melalui basis data MySQL perusahaan. Fase analitis diikuti dengan perencanaan strategis menggunakan analisis SWOT dan TOWS, yang menginformasikan pengembangan peningkatan UI/UX yang ditargetkan di bawah kerangka kerja Agile Scrum. Pendekatan metodis ini memungkinkan penyempurnaan iteratif berdasarkan umpan balik waktu nyata, memastikan bahwa strategi tersebut adaptif dan selaras dengan kebutuhan pengguna. Efektivitas peningkatan ini dinilai secara kuantitatif dalam analisis pasca-implementasi yang komprehensif, yang membandingkan indikator kinerja sebelum dan sesudah penyesuaian UI/UX di platform mobile dan desktop. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam aktivasi dan retensi pengguna pada platform mobile, menggarisbawahi efektivitas perbaikan yang ditargetkan. Tesis ini tidak hanya menunjukkan manfaat praktis dari pemanfaatan strategi berbasis data dalam mengoptimalkan pengalaman pengguna tetapi juga berkontribusi pada pemahaman akademis tentang implementasi TI strategis di industri fintech. Temuan menyarankan bahwa kerangka kerja peningkatan berkelanjutan seperti Agile Scrum, dikombinasikan dengan pemahaman mendalam tentang data pengguna, dapat secara signifikan meningkatkan kepuasan pengguna dan hasil bisnis.
USULAN STRATEGI PEMASARAN INDIHOMEMELALUI SALURAN DIGITAL(KASUS PT. TELKOM INDONESIA – WITEL JAKARTA PUSAT)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya kebutuhan akan internet. Internet merupakan suatu kebutuhan yang dapat menjadi kebutuhan primer saat ini. Dengan kemajuan internet saat ini, pemasaran digital menjadi salah satu aspek yang sangat terpengaruh. Tingginya jumlah pengguna internet di Indonesia memberikan peluang bagi berkembangnya pemasaran digital. Telah terjadi perubahan signifikan dalam strategi pemasaran baik barang maupun jasa. Dengan banyaknya pemain Internet Service Provider saat ini, IndiHome yang merupakan produk layanan dari PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, perlu menunjukkan kekuatan positioningnya. Salah satu kelebihan IndiHome adalah satu-satunya yang memiliki Layanan Triple Play yang terdiri dari Internet, TV Interaktif, dan Telepon. Awalnya IndiHome hanya menggunakan jalur konvensional dalam menjual produknya yaitu penawaran langsung oleh Sales Agent kepada pelanggan, namun sejak Agustus 2022 Witel Jakarta Pusat menerapkan langganan IndiHome melalui jalur digital yang dapat dilakukan melalui Website, Landing Page maupun Media Sosial ( FB, IG, Twitter). Bahkan, calon pelanggan merasa asing dengan cara berlangganan IndiHome melalui saluran baru ini. Fenomena tersebut menyebabkan penurunan hasil penjualan IndiHome pada September 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor internal dan eksternal penyebab menurunnya penjualan IndiHome di Witel Jakarta Pusat. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur, observasi dan angket dengan jumlah responden sebanyak 140 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Variabel internal dan eksternal yang mempengaruhi penurunan penjualan IndiHome selain karena harga IndiHome yang lebih mahal dibandingkan penyedia internet lainnya, pelanggan kesulitan untuk berlangganan IndiHome melalui saluran digital sehingga tetap memilih penjualan. agen sebagai cara yang lebih nyaman. Pelanggan juga kesulitan mendapatkan update terkait tahapan berlangganan. Selain itu, pelanggan juga mengkhawatirkan keamanan data pribadi yang mereka unggah ke sistem saat melakukan langganan. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah dengan menerapkan Komunikasi Pemasaran
GAMIFIKASI DI BANK DIGITAL: STRATEGI LEVEL OPERASIONAL TERHADAP PARTISIPASI NASABAH MELALUI GAMIFIKASI (STUDI KASUS BANK MINT)
Penelitian ini mempelajari lanskap transformatif sektor perbankan, yang didorong oleh upaya pemerintah dan kemunculan layanan perbankan digital. Penelitian ini terkonsentrasi pada penanganan isu-isu yang berkaitan dengan keterlibatan dan loyalitas Nasabah dalam platform perbankan digital Mint Bank, dengan memeriksa pemanfaatan taktik gamifikasi. Melalui penggunaan metodologi survei online, tanggapan dari 195 peserta dievaluasi, mengungkap wawasan penting tentang elemen gamifikasi yang efektif yang disesuaikan dengan demografi Nasabah Mint. Studi ini menggunakan analisis chi-square untuk meneliti hubungan antara jenis misi, preferensi hadiah, dan kombinasi penempatan misi dan hadiah, dengan mempertimbangkan variabel seperti prioritas tugas, penundaan hadiah, nilai persepsi, dan keterlibatan Nasabah. Jenis misi yang mengharuskan menyelesaikan tugas tunggal yang dipasangkan dengan imbalan langsung diidentifikasi sebagai strategi yang disukai, selain imbalan yang terkait dengan tugas-tugas tertentu seperti poin dan cashback. Penemuan ini memberikan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti bagi Manajemen Mint untuk menyempurnakan strategi gamifikasi mereka, dengan menekankan pentingnya menyelaraskan jenis misi dengan imbalan yang disukai untuk mendorong keterlibatan yang berkelanjutan. Sebuah rencana aksi strategis yang terdiri dari tujuh langkah disarankan untuk mengarahkan eksekusi dan penilaian inisiatif gamifikasi, dengan metrik seperti Tingkat Penyelesaian Misi dan Peringkat Kepuasan Nasabah yang berfungsi sebagai metrik kinerja yang penting
PENGARUH PERSEPSI RISIKO TERHADAP NIAT PELANGGAN UNTUK MENGGUNAKAN BANK DIGITAL DI JABODETABEK 2023-2024
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dimensi persepsi risiko yang signifikan terhadap niat penggunaan bank digital, dengan harapan mengatasi kesenjangan antara niat penggunaan dan penggunaan sebenarnya. Bank digital, yang beroperasi hanya melalui aplikasi online tanpa kantor fisik, digunakan oleh 78% masyarakat Indonesia pada tahun 2021. Meskipun demikian, terdapat kesenjangan dimana 69% masyarakat Indonesia menyatakan kesediaannya untuk menggunakan bank digital, namun hanya 32% yang sebenarnya menggunakan bank digital. Kesenjangan ini disebabkan oleh persepsi risiko, sebagaimana dibuktikan dalam penelitian Model Adopsi Teknologi (TAM) sebelumnya. Penelitian ini mendalami Teori Persepsi Risiko (PRT) untuk menganalisis dimensi-dimensi persepsi risiko. Tujuan dari penelitian ini adalah memahami bagaimana persepsi risiko mempengaruhi niat penggunaan bank digital, mengidentifikasi faktor risiko yang paling signifikan, dan mengidentifikasi korelasi antara variabel. Enam dimensi persepsi risiko—keuangan, kinerja, sosial, waktu, keamanan, dan privasi—diteliti dalam penelitian ini. Penelitian kuantitatif ini dilakukan pada populasi berusia 17-50 tahun di Jabodetabek dengan menggunakan data pada tahun 2023-2024. Sampel yang digunakan berjumlah 400 responden yang dihitung menggunakan metode Slovin dan dikumpulkan dengan penghakiman sampel melalui kuesioner online. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif melalui SPSS dan Structural Equation Modeling melalui SmartPLS, dengan pengujian hipotesis melalui bootstrapping dan uji t dua ekor pada signifikansi 5%. Penelitian ini menemukan bahwa tingkat persepsi risiko rendah, dengan persepsi risiko keamanan sebagai satu-satunya faktor signifikan yang menunjukkan korelasi negatif sebesar 30,3%. Perlu dicatat bahwa temuan ini ditemukan pada responden yang didominasi Gen-Z, sehingga dapat menjelaskan rendahnya persepsi risiko. Rekomendasi praktis bagi bank digital mencakup peningkatan enkripsi, pengamanan firewall, dan pelaksanaan audit keamanan untuk mengurangi persepsi risiko keamanan, sehingga berpotensi meningkatkan niat pengguna. Penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan studi longitudinal, variabel lainnya, dan dampak dari perbedaan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk membantu bank digital dalam memitigasi persepsi risiko dan meningkatkan niat penggunaan bank digital.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SWITCHING INTENTION KE PENGGUNAAN PASSWORD MANAGER
Pada era digital ini, setiap pengguna internet memiliki banyak akun yang digunakan pada berbagai layanan yang tersedia di internet. Setiap akun tersebut memiliki pasangan nama pengguna dan password yang beragam. Kesulitan yang terjadi adalah cara mengingat password-password yang dimiliki pengguna. Penggunaan password manager menjadi suatu solusi untuk mengatasi permasalahan ini. Semakin pentingnya keamanan informasi di era digital ini seharusnya membuat tingkat adopsi password manager semakin tinggi. Namun, beberapa studi ilmiah melaporkan tingkat pengadopsian password manager yang rendah. Penelitian ini akan membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pengguna dalam beralih ke penggunaan password manager untuk melakukan penyimpanan dan manajemen password. Penelitian ini menggunakan kerangka kerja pengadopsian teknologi yang populer, yaitu push, pull, dan mooring (PPM) untuk meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi switching intention pengguna. Analisis penelitian menggunakan metode structural equation modeling-partial least square (SEM-PLS) untuk menentukan signifikansi dan dampak dari faktor yang diteliti. Ditemukan bahwa faktor response cost of managing password, perceived usefulness, perceived response efficacy, perceived security risk, set- up cost, dan awareness berpengaruh signifikan terhadap switching intention dalam menggunakan password manager.