📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 90 dokumenANALISIS IN-SERVICE DAN TRANSPORTASI PADA STRUKTUR ANJUNGAN LEPAS PANTAI TIPE JACKET EMPAT KAKI
Pemenuhan kebutuhan energi nasional di Indonesia yang masih didominasi oleh minyak dan gas bumi harus dipastikan agar ketahanan energi nasional dapat dipastikan dalam kondisi yang baik. Keberlangsungan pemenuhan energi ini akan berimplikasi pada kebutuhan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi. Perairan Indonesia menjadi salah satu lokasi strategis untuk kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi. Untuk itu, diperlukan kesiapan dalam berbagai aspek termasuk dari ranah infrastruktur. Struktur anjungan lepas pantai menjadi salah satu infrastruktur penting yang digunakan dalam kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di lepas pantai. Pada tugas akhir ini, dilakukan proses analisis in-service terhadap struktur anjungan lepas pantai secara menyeluruh serta analisis transportasi struktur topside yang direncanakan untuk diinstalasi di perairan Indonesia. Analisis in-service yang mencakup analisis in-place, seismic, dan juga fatigue dilakukan untuk memastikan kekuatan struktur ketika masa operasionalnya. Sementara analisis transportasi dilakukan untuk memastikan kekuatan struktur topside ketika ditransportasikan dari lokasi pembangunan ke lokasi struktur akan beroperasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada analisis in-service maupun transportasi telah memenuhi kriteria standar API RP 2A-WSD dan DNVGL-ST-N001. Pada kondisi in-place dan seismic, seluruh parameter utama seperti unity check, joint punching shear, pile safety factor, pile lateral displacement, serta defleksi memenuhi kriteria yang ditentukan. Analisis fatigue memperlihatkan bahwa fatigue life struktur pada seluruh kategori berada di atas design life 30 tahun. Sementara itu, pada analisis transportasi, struktur juga memenuhi batas kriteria yang ditetapkan. Secara keseluruhan, struktur anjungan lepas pantai yang dianalisis dinyatakan aman dan layak digunakan baik dalam kondisi operasional maupun saat transportasi.
EVALUASI TEKNO-EKONOMI CO-FIRING HIDROGEN DAN AMONIA PADA PLTGU
Sektor ketenagalistrikan di Indonesia menyumbang 239,26 juta ton karbon dioksida pada tahun 2023. Dengan adanya target mencapai net-zero emission, maka pembangkit listrik perlu mengurangi emisi karbonnya. Pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) merupakan pembangkit berbasis gas alam yang menggunakan siklus ganda Brayton dan Rankine yang masih berbasis fosil. Reduksi karbon dioksida dapat digunakan menggunakan teknologi co-firing berbasis hidrogen dan amonia. Penelitian ini mengkaji pemasangan co-firing hidrogen dan amonia pada PLTGU untuk tipe 3 x 146 MW gas turbin dan 243 MW siklus uap. tiga tipe variasi co-firing berupa: hidrogen secara langsung (5–30%-Volume), amonia secara langsung (5–20%-Volume), dan amonia dengan perengkahan (25 – 65%-Volume). Pemodelan dilakukan dengan simulasi proses Aspen HYSYS yang dilanjutkan dengan perhitungan keekonomian. Nilai pembangkitan listrik dengan adanya co-firing hidrogen akan meningkat dari co-firing 0% sebesar 90,51 USD/MWh menjadi 105,06 USD/MWh untuk co-firing 30% dengan penurunan intensitas emisi dari 0,463 tCO2/MWh menjadi 0,412 tCO2/MWh dengan harga gas hidrogen sebesar 2,52 USD/kgH2. Biaya reduksi karbon untuk co-firing hidrogen cenderung datar yaitu dalam rentang 283–287 USD/tCO2. Pada co-firing amonia secara langsung, nilai LCOE akan meningkat hingga 105,93 USD/MWh pada co-firing 20% dengan nilai intensitas karbon berkurang menjadi 0,420 tCO2/MWh. Biaya reduksi karbon co-firing amonia secara langsung akan lebih rendah pada co-firing tinggi yaitu 355,36 USD/tCO2 pada co-firing 20%. Co-firing amonia dengan perengkahan terlebih dahulu menghasilkan LCOE tertinggi yaitu 147,64 USD/MWh untuk co-firing terbesar 65% dan intensitas karbon terendah sebesar 0,301 tCO2/MWh. Biaya reduksi karbon cukup besar pada tempuhan co-firing kecil yaitu 383,78 USD/tCO2 pada co-firing 5% dan akan mengecil hingga 352,48 USD/tCO2 pada co-firing 65%. Apabila dibandingkan dari ketiga metode co-firing, co-firing hidrogen memiliki nilai keekonomian terbaik akibat minim penambahan peralatan, dan diikuti dengan variasi co-firing amonia secara langsung. Amonia dengan perengkahan memiliki keuntungan bahwa dapat dilaksanakan pada kapasitas yang lebih besar apabila upaya dekarbonisasi yang ingin dilakukan lebih agresif.
INVENTARISASI EMISI PENCEMAR UDARA DAN GAS RUMAH KACA DARI KEGIATAN AKADEMIK (STUDI KASUS: KAMPUS ITB JATINANGOR)
Studi ini menetapkan baseline inventarisasi emisi untuk ITB Jatinangor, dengan fokus pada gas rumah kaca (GRK) dan pencemar udara dari kegiatan akademik dan penunjangnya. Dengan menggunakan metode IPCC Tier 1, faktor emisi jaringan listrik nasional, serta basis data faktor emisi (USEPA, EMEP/EEA), emisi Scope 1 dan 2 dihitung dari penggunaan listrik, kebocoran refrigeran, pembakaran, pengomposan, dan pengolahan air limbah. Data dikumpulkan melalui survei, wawancara, dan catatan resmi, sementara pola spasial divisualisasikan menggunakan interpolasi SIG (GIS). Hasil menunjukkan laboratorium menyumbang emisi GRK terbesar (2,068.09 ton CO?e/tahun) akibat tingginya kebutuhan listrik dan pemrosesan sampel, sedangkan fasilitas penunjang mendominasi emisi pencemar udara dari pembakaran bahan bakar stasioner. Emisi terutama didorong oleh penggunaan listrik tidak langsung (Scope 2), tetapi emisi langsung (Scope 1) masih belum terlaporkan sepenuhnya, khususnya dari lemari asam (fume hood) dan unit pembakaran karena adanya celah pemantauan. Perbandingan dengan universitas yang memiliki sistem data matang menyoroti peluang bagi ITB Jatinangor untuk meningkatkan pelacakan emisi dan mengadopsi praktik terbaik menuju kampus berkelanjutan.
ENERGY AND EXERGY AUDITS TO IMPROVE THE PERFORMANCE OF GEOTHERMAL POWER PLANTS CASE STUDY: PATUHA GEOTHERMAL POWER PLANT
Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, disertai dengan meningkatnya kebutuhan listrik. Berdasarkan RUPTL 2025 2034, PLN memproyeksikan pertumbuhan rata-rata kebutuhan listrik sebesar 5,3% per tahun, dengan rencana pembangunan pembangkit total 69.512 MW, termasuk 42.569 MW dari energi baru terbarukan dan 10.256 MW dari sistem penyimpanan energi. Energi panas bumi menjadi salah satu kontributor utama, dengan potensi nasional mencapai 23.965,5 MW, terbesar kedua di dunia. Jawa Barat memiliki cadangan terbesar, dengan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Patuha sebagai salah satu fasilitas utamanya. Penelitian ini mengevaluasi kinerja PLTP Patuha melalui audit energi dan eksergi. Data operasional perusahaan tahun 2021 2024 digunakan dalam simulasi Aspen HYSYS, dengan perhitungan tambahan menggunakan MS Excel. Hasil simulasi divalidasi melalui perhitungan manual sebelum dilakukan identifikasi konsumsi internal terbesar serta peluang optimasi, termasuk analisis ekonominya. Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio pemakaian sendiri turun dari 5,02% pada 2021 menjadi 4,23% pada 2024, menandakan pengurangan konsumsi internal. Hot Well Pump (HWP), Liquid Ring Vacuum Pump (LRVP), dan Cooling Tower Fan teridentifikasi sebagai konsumen internal terbesar. Pemasangan Variable Speed Drive (VSD) pada HWP menghasilkan penghematan bersih tahunan sebesar Rp 2,12 miliar dengan periode balik modal 2,08 tahun, sedangkan penerapan VSD pada Cooling Tower Fan memberikan penghematan bersih tahunan Rp 3,93 miliar dengan periode balik modal hanya 0,37 tahun. Dari sisi eksergi, komponen dengan irreversibilitas terbesar adalah kondensor, cooling tower, dan turbin, dengan fokus perbaikan diarahkan pada pengurangan irreversibilitas kondensor melalui optimasi kinerja cooling tower.
KAJIAN TEKNO EKONOMI PEMBANGUNAN PLTS DI PLTGU TANJUNG BATU KALIMANTAN TIMUR
Kebutuhan energi listrik di Indonesia terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan populasi. Namun, ketergantungan terhadap energi fosil, terutama batu bara, menimbulkan tantangan terhadap keberlanjutan lingkungan dan peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK). Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) rooftop terintegrasi di PLTGU Tanjung Batu, Kalimantan Timur, serta mengevaluasi kelayakan teknis dan keekonomian proyek tersebut. Metodologi yang digunakan meliputi pemodelan teknis menggunakan perangkat lunak PVsyst dengan data iradiasi dari Solargis, serta analisis keekonomian menggunakan indikator Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP). Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem PLTS rooftop dengan kapasitas 168 kWp mampu menghasilkan energi listrik sebesar 253.311 kWh dalam satu tahun dengan nilai Performance Ratio (PR) sebesar 83,02%. Secara ekonomi, proyek ini layak dengan NPV sebesar Rp 3,92 miliar, IRR 24,22%, dan PP selama 5,4 tahun. Selain itu, proyek ini mampu mengurangi emisi karbon sebesar 5.577,9 ton CO? selama 25 tahun masa operasi. Penelitian ini membuktikan bahwa pengembangan PLTS rooftop di PLTGU Tanjung Batu merupakan langkah strategis untuk mendukung transisi energi bersih dan efisiensi biaya operasional pembangkit.
REDESAIN PENGOLAHAN REFUSE DERIVED FUEL (RDF) SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI REDUKSI SAMPAH TPA PUTRI CEMPO, KOTA SURAKARTA.
Sampah merupakan isu krusial yang masih dihadapi Indonesia, termasuk Kota Surakarta yang pada tahun 2023 menghasilkan sekitar 419 ton sampah per hari. Seluruh timbulan ini dibuang ke TPA Putri Cempo, satu-satunya fasilitas pemrosesan akhir, yang hanya mampu menangani 409 ton per hari. Ketimpangan kapasitas ini menyebabkan kelebihan beban dan menimbulkan dampak lingkungan. Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kota Surakarta mengembangkan fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) di TPA Putri Cempo sebagai penyedia bahan bakar untuk PLTSa Surakarta. Namun, fasilitas RDF eksisting belum berjalan optimal, hanya mampu mereduksi sekitar 10 ton sampah per hari dari kapasitas rancang 300 ton, akibat keterbatasan sistem pemilahan, pengeringan, dan koordinasi operasional. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi optimalisasi sistem RDF melalui redesain yang terfokus pada peningkatan efisiensi teknis dan kapasitas reduksi sampah untuk mendukung sistem pengelolaan berkelanjutan. Identifikasi kondisi eksisting menunjukkan bahwa sekitar 93,7% sampah di Kota Surakarta masih langsung ditimbun tanpa pengolahan, dengan hanya 3,8% diolah menjadi RDF dan 2,5% dipilah oleh sektor informal. Padahal, berdasarkan kerja sama dengan PLN, RDF dari TPA Putri Cempo menjadi komponen vital bagi operasi PLTSa. Proyeksi penduduk mencapai 567.092 jiwa pada tahun 2048 turut meningkatkan potensi timbulan sampah menjadi 161.441 ton/tahun. Dengan demikian, peningkatan kapasitas dan efektivitas pengolahan RDF menjadi kebutuhan strategis dalam menciptakan sistem pengelolaan yang adaptif terhadap beban masa depan dan mendukung transisi energi berbasis limbah. Sebagai solusi, dilakukan redesain sistem RDF yang berfokus pada optimalisasi unit pengeringan. Melalui pendekatan metode Simple Additive Weighting (SAW) terhadap tujuh kriteria evaluasi, teknologi biodrying dipilih sebagai metode paling sesuai. Sistem dirancang mencakup Bag Opener, Trommel, Manual Sorting, Shredder, Fine Shredder, dan unit biodrying, dengan hasil akhir berupa tiga fraksi: briket (<20 mm), RDF cacahan (20–50 mm), dan material >50 mm yang diproses ulang. Sistem ini diproyeksikan mampu menghasilkan RDF sebanyak 197 ton/hari pada tahun 2038 dan 149 ton/hari pada tahun 2048, dengan kadar air <20% dan nilai kalor >2.560 kcal/kg, sesuai standar kebutuhan PLTSa Surakarta. Rancangan ini tidak hanya menyelesaikan kendala teknis, tetapi juga meningkatkan integrasi antara pengelolaan sampah dan penyediaan energi terbarukan. Dari sudut pandang ekonomi, perancangan optimalisasi RDF di TPA Putri Cempo, Kota Surakarta, memerlukan investasi awal sebesar Rp24,72 miliar dengan biaya operasional tahunan Rp10,89 miliar. Analisis kelayakan finansial menggunakan NPV dan BCR menunjukkan hasil positif pada tiga skenario pendapatan bersih— Rp265,97 miliar (optimis), Rp172,96 miliar (moderat), dan Rp110,96 miliar (konservatif)—dengan BCR > 1, menandakan proyek layak secara ekonomi, serta laba kumulatif hingga 2048 mencapai Rp366,26 miliar setelah memperhitungkan depresiasi dan PPh 22%, menunjukkan potensi keuntungan jangka panjang dan manfaat ekonomi berkelanjutan. Namun, apabila biaya capex PLTSa diperhitungkan, proyek menjadi tidak layak secara finansial dengan NPV negatif dan BCR < 1; bahkan pada skenario optimis, PLTSa mencatat NPV –Rp144,7 miliar dan BCR 0,52, sehingga laba kumulatif Rp366,2 miliar tidak cukup menutup total investasi Rp346,2 miliar dan biaya operasional jangka panjang. Dengan demikian, keberlanjutan finansial proyek RDF sangat bergantung pada dukungan kebijakan, skema insentif, atau penerapan tipping fee sebagai sumber pendapatan tambahan agar proyek dapat mencapai kondisi layak secara ekonomi.
ANALISIS TEKNO EKONOMI HIBRIDISASI PLTS – PLTD DAN EKSPANSI PLTS: STUDI KASUS SISTEM PULAU KARANRANG
PLN berperan aktif dalam mendukung transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE) yang telah dicanangkan oleh pemerintah Indonesia. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah melalui peningkatan kapasitas terpasang pembangkit terbarukan dan program dedieselisasi. Pulau Karanrang yang mana sistem kelistrikannya saat ini masih bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi salah satu wilayah yang masuk dalam program dedieselisasi. Rencana pengembangan pembangkit di Pulau Karanrang mencakup integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan ekspansi kapasitas PLTS sebagai alternatif untuk mengurangi jam operasional PLTD. Dalam rangka mendukung program dedieselisasi, yaitu pengalihan pembangkit listrik dari berbasis diesel ke energi surya baik secara penuh maupun sebagian, diperlukan kajian menyeluruh dari sisi teknis, ekonomis maupun lingkungan. Tujuannya adalah untuk menentukan konfigurasi sistem yang paling optimal yang dilakukan dengan bantuan perangkat lunak PVsyst, HOMER, dan DIgSILENT. Terdapat empat skenario konfigurasi yang dianalisis, yaitu: ( 1) PLTD – PLTS Eksisting, (2) PLTD-PLTS eksisting-PLTS baru, (3) PLTD-PLTS eksisting-PLTS baru - Baterai, dan (4) Konfigurasi optimalisasi PLTD-PLTS eksisting-PLTS baru - Baterai. Berdasarkan hasil kajian, skenario yang paling optimal dan berkelanjutan untuk diimplementasikan di pulau karanrang adalah skenario 3, yaitu kombinasi PLTD-PLTS eksisting-PLTS baru-Baterai. Konfigurasi ini terdiri dari sistem hybrid yang menggabungkan pembangkit PLTD (100 kW), pembangkit tenaga surya sebesar 382 kWp dan baterai berkapasitas 1.000 kWh. Dari sisi ekonomi, skenario ini memberikan hasil paling optimal dengan nilai Internal Rate of Return (IRR) sebesar 19,89% dan Payback Period selama 4,7 tahun. Total biaya investasi (NPC) mencapai 2,90 M USD dan Levelized Cost of Energy (LCOE) sebesar $0,219. Selain efisiensi biaya, konfigurasi ini juga mendukung pemanfaatan energi terbarukan dengan fraksi EBT mencapai 55,6%, yang mampu menurunkan konsumsi bahan bakar hingga 48,26% dan mengurangi emisi CO? hingga 48%. Dari sisi teknis, tegangan dan frekuensi yang dihasilkan sistem ini berada dalam rentang yang sesuai dengan regulasi, yaitu tegangan rata-rata sebesar 0,3992 kV dan frekuensi 50,006 Hz.
ANALISIS TEKNO EKONOMI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA TERAPUNG DAN BATTERY ENERGY STORAGE SYSTEM: STUDI KASUS DANAU TOBA
Perubahan iklim global menjadi isu paling mendesak di abad ke-21. Pemerintah Indonesia menetapkan target NZE pada tahun 2060 serta bauran EBT sebanyak 23% di tahun 2025. Pada penelitian ini dilakukan analisis potensi integrasi PLTS terapung dan BESS sebagai usaha mendukung program NZE, pengurangan biaya pokok penyediaan, peningkatan bauran energi bersih, dan peningkatan kehandalan sistem interkoneksi Sumatera. Studi dilakukan dengan mengambil lokasi Danau Toba sebagai kandidat lokasi PLTS terapung dan dilakukan simulasi berbasis perangkat lunak PVsyst untuk mengevaluasi produksi energi PLTS, HOMER Pro untuk mengevaluasi kelayakan investasi, dan DIgSILENT PowerFactory untuk mengevaluasi kestabilan sistem. Perhitungan kapasitas maksimum PLTS terapung Danau Toba menghasilkan nilai kapasitas sebesar 258 MWp. Simulasi teknis menggunakan PVsyst menunjukkan bahwa PLTS terapung 258 MWp mampu menghasilkan energi sebesar 346,5 GWh per tahun dengan Performance Ratio (PR) sebesar 82,9%. Simulasi keekonomian dengan HOMER Pro terhadap lima skenario integrasi PLTS dan BESS menunjukkan bahwa skenario S2 (Basecase + PLTS terapung 258 MWp + BESS 250 MW) menunjukkan hasil paling unggul, dengan nilai Levelized Cost of Electricity (LCOE) sebesar 1.347,49 Rp/kWh. Penambahan kapasitas lebih lanjut seperti pada skenario S5 (Basecase + PLTS terapung 1.032 MWp + BESS 1.000 MW) meningkatkan potensi pengurangan emisi CO?. Simulasi kestabilan sistem menggunakan DIgSILENT PowerFactory menunjukkan bahwa penambahan BESS meningkatkan stabilitas sistem kleistrikan Sumatera. Pada simulasi RMS fault, skenario S2 mencatat frekuensi nadir sebesar 49,99 Hz dan waktu pemulihan frekuensi 0 detik, jauh lebih baik dibandingkan skenario tanpa BESS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan PLTS terapung dan BESS di Danau Toba tidak hanya layak secara teknis dan ekonomis, tetapi juga mampu meningkatkan kehandalan sistem tenaga listrik Sumatera.
DESAIN DAN ANALISIS PIPA BAWAH LAUT PROYEK SEGARA WANA DI LEPAS PANTAI JAWA TIMUR
Kebutuhan minyak dan gas bumi di Indonesia terus meningkat, sementara produksi domestik menunjukkan tren penurunan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan bahwa produksi minyak mentah hanya mencapai 600 ribu barel oil per day (BOPD), jauh di bawah angka konsumsi sebesar 1,6 juta BOPD. Selisih antara produksi dan konsumsi gas alam juga semakin mengecil, membuat pembangunan infrastruktur pipa bawah laut menjadi kunci untuk mengoptimalkan distribusi energi dari fasilitas produksi lepas pantai ke konsumen. Oleh karena itu, studi ini menjadi sangat relevan dan krusial untuk memastikan sistem penyaluran yang efisien, aman, dan berkelanjutan. Dalam studi ini, analisis dimulai dengan menggunakan data lingkungan paling ekstrem di sepanjang jalur pipa. Data ini diolah melalui uji distribusi Kolmogorov-Smirnov untuk mendapatkan parameter desain lingkungan, termasuk tinggi gelombang signifikan, kecepatan arus, dan storm surge dengan periode ulang 1, 10, dan 100 tahun. Tahapan desain pipa mengikuti standar DNV-ST-F101 dengan mempertimbangkan kriteria kegagalan tekanan internal, tekanan eksternal. Penentuan tebal dinding pipa disesuaikan dengan katalog API 5L. Analisis kestabilan pipa bawah laut dilakukan sesuai standar DNV-RP-F109 untuk menentukan tebal lapisan selimut beton yang diperlukan agar pipa tetap stabil di dasar laut. Berdasarkan analisis, tebal beton yang diperlukan adalah 44 mm. Selanjutnya, studi ini juga menganalisis instalasi untuk mengoptimalkan konfigurasi lay barge dan memastikan tegangan serta regangan pada pipa memenuhi kriteria DNV-ST-F101. Analisis ini mempertimbangkan respons gerakan lay barge akibat delapan arah datang gelombang. Tahap desain terakhir adalah menentukan panjang bentang bebas maksimum yang diizinkan, yaitu 12.4 meter, berdasarkan kriteria screening fatigue dan ultimate limit state sesuai standar DNV-RP-F105, untuk mencegah kegagalan struktural.
DESAIN AWAL SISTEM PERPIPAAN BAWAH LAUT DARI RISER HINGGA GARIS PANTAI: STUDI KASUS PADA SISTEM PERPIPAAN TRANSMISI GAS BUMI DI LAUT X
To Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia dan memenuhi target energi nasional yang ambisius sebesar 12 BCFD pada tahun 2030, pengembangan infrastruktur transmisi gas baru menjadi sangat penting. Dengan produksi saat ini yang masih jauh tertinggal dari target tersebut, ekspansi jaringan pipa untuk menghubungkan cadangan lepas pantai yang belum dimanfaatkan ke fasilitas darat merupakan prioritas strategis yang krusial. Studi ini menjawab kebutuhan tersebut dengan mengusulkan sebuah desain awal untuk pipa bawah laut baru di cekungan gas Laut X yang berpotensi tinggi, dengan tujuan untuk menyediakan solusi rekayasa yang layak guna meningkatkan kapasitas distribusi gas nasional. Studi ini menyajikan sebuah desain awal yang komprehensif untuk pipa transmisi gas alam bawah laut di Laut X, yang membentang sekitar 77 km dari titik tie-in riser lepas pantai hingga fasilitas di garis pantai. Tujuan utamanya adalah untuk mengembangkan sistem pipa yang aman, andal, dan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis melalui serangkaian analisis rekayasa terintegrasi yang sesuai dengan standar internasional, terutama DNV-OS-F101, DNV-RP-F105, dan ASME B31.8. Proses perancangan dimulai dengan pemilihan rute komparatif, di mana rute yang unggul secara teknis dipilih untuk memitigasi risiko terkait tekanan eksternal ekstrem dari lembah laut dalam. Analisis hidraulik dilakukan untuk menentukan ukuran pipa nominal yang optimal, dan menyimpulkan diameter 34 inci NPS. Pemilihan material mengarah pada baja API 5L Grade X70 karena rasio kekuatan terhadap beratnya yang tinggi, yang memungkinkan desain yang lebih hemat biaya. Ketebalan dinding pipa ditentukan melalui analisis multikriteria, dengan mempertimbangkan penahanan tekanan (pressure containment), keruntuhan sistem (system collapse), dan perambatan tekuk (propagation buckling), yang menghasilkan desain tersegmentasi dengan ketebalan bervariasi antara 0,750 hingga 0,875 inci untuk mengoptimalkan penggunaan material berdasarkan variasi kedalaman air. Analisis lebih lanjut dilakukan untuk memastikan integritas operasional. Stabilitas di dasar laut (on-bottom stability) dicapai dengan menggunakan lapisan pemberat beton (concrete weight coating) dengan ketebalan dari 42,0 mm hingga 52,5 mm, yang dirancang untuk menahan gaya hidrodinamik. Analisis bentang bebas (free-span) menetapkan panjang bentang tak tertumpu maksimum yang diizinkan (30 m hingga 36 m) untuk mencegah kegagalan akibat Vortex-Induced Vibration (VIV) dan tegangan berlebih statis (static overstress). Untuk mengimbangi ketebalan dinding yang dioptimalkan pada segmen yang lebih dalam, buckle arrestor integral dirancang dan diintegrasikan ke dalam sistem untuk mencegah perambatan tekuk (buckle propagation) yang katastrofik. Terakhir, desain yang telah selesai divalidasi terhadap kriteria Ultimate Limit State (ULS) untuk pembebanan gabungan dan tekuk lateral (lateral buckling), yang mengonfirmasi integritas strukturalnya. Tugas akhir ini berhasil menyajikan satu set lengkap spesifikasi desain awal untuk sistem pipa bawah laut, menyediakan landasan rekayasa yang kokoh untuk tahap pengembangan proyek di masa depan.
KAJIAN TEKNO-EKONOMI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA 400 MWP TERINTEGRASI DENGAN SISTEM PUMPED HYDRO STORAGE (PHS) DI DANAU TOBA
Komitmen Indonesia untuk mencapai Net Zero Emissions pada tahun 2060 telah mendorong eksplorasi solusi energi terbarukan skala besar, termasuk integrasi sistem PLTS terapung dan sistem Pumped hydro storage (PHS). Penelitian ini menganalisis kelayakan tekno-ekonomi sistem PLTS terapung berkapasitas 400 MWp yang dikombinasikan dengan Pumped hydro storage (PHS) di Danau Toba, Sumatera Utara yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Penelitian ini menyajikan konfigurasi hibrida yang inovatif dan belum pernah diterapkan di Indonesia sebelumnya. Simulasi multi-platform dilakukan menggunakan PVsyst untuk estimasi hasil energi dan HOMER Pro untuk optimasi tekno-ekonomi. Penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai kelayakan dan konfigurasi optimal sistem hibrida PLTS Terapung –PHS guna mendukung transisi energi terbarukan di Indonesia. Hasil simulasi PVsyst menunjukkan PLTS terapung Danau Toba dengan 714.285 modul (560 Wp) dan 113 inverter memiliki kapasitas 400 MWp (310 MWac), performance ratio 0,803, dan produksi energi tahunan 517 GWh. Kerugian terbesar berasal dari suhu (6,14%), namun lebih rendah dibanding PLTS darat, sehingga sistem ini tetap mampu memasok listrik secara stabil ke jaringan Sumatera Utara. Berdasarkan simulasi HOMER Pro, skenario 4 (Grid + PLTS 400 MWp + PHS 500 MW) adalah konfigurasi teknis terbaik meski biaya tertinggi, dengan LCOE Rp1.526/kWh dan NPC Rp264,99 miliar, hanya 0,22% lebih mahal dari skenario 1. Skenario ini unggul dalam stabilitas sistem melalui kontribusi PHS 47,8 GWh per tahun, mendukung peak shaving dan load shifting, serta menghasilkan excess energy tahunan 4,5 GWh, 48% lebih besar dari skenario 1. Hasil simulasi DiGSILENT menunjukkan sistem hybrid PLTS terapung 400 MWp dan PHS 500 MW memiliki stabilitas tegangan dan frekuensi yang baik, menjaga tegangan di 149–152 kV dan frekuensi 49,3–50 Hz meski terjadi perubahan mendadak, termasuk saat simulasi ramp rate hingga 80% dan pelepasan PLTS sementara. Dari sisi pengurangan emisi GRK, skenario 4 paling efektif dengan total pengurangan emisi tahunan 525,1 ton CO?. PLTS terapung menyumbang 480,68 ton CO? per tahun pada siang hari, sementara PHS menambah pengurangan 44,5 ton CO? saat sore hari dalam mode discharging.
ANALISA TEKNO EKONOMI POTENSI PEMANFAATAN WADUK PLTA (PUMPED HYDRO STORAGE) CISOKAN DENGAN MENGOPTIMALKAN PLTS TERAPUNG
Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mencapai target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050, sejalan dengan komitmen nasional menuju Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060. Meskipun memiliki target tersebut, bahan bakar fosil masih mendominasi bauran energi.. Studi ini meneliti kelayakan teknis dan ekonomi menggunakan indikator Net Present Cost (NPC) dan Levelized Cost of Energy (LCOE dari sistem PLTS terapung di Waduk Cisokan, dengan cakupan area sebesar 0,52 km² untuk pemasangan kapasitas 46,62 MWp. Berdasarkan hasil simulasi menggunakan aplikasi PVsyst dan HOMER Pro, skenario eksisting menunjukkan nilai LCOE sebesar Rp 1.153,38 Rp/kWh. Integrasi PLTS berkapasitas 46,6 MWp mampu menurunkan LCOE menjadi 1.130,33 RpkWh dan NPC menjadi Rp 13.995 Miliar, dengan nilai IRR sebesar 12,6% dan Payback Period selama 7,53 tahun. Sementara itu, penambahan sistem PHS meningkatkan keandalan sistem, namun berdampak pada peningkatan biaya, dengan NPC mencapai Rp 14.689 Miliar, LCOE sebesar 1.186,38 Rp/kWh, IRR sebesar 1,4%, dan Payback Period yang lebih panjang, yaitu 21,3 tahun. Integrasi PLTS dengan PHS mampu meningkatkan kontribusi energi terbarukan dan pembangkit lokal di Jawa Barat. Studi ini menyajikan analisis tekno-ekonomi yang mengkaji integrasi sistem PLTS Terapung dengan pumped hydro storage (PHS) pada proyek pembangkit penyimpanan energi air pertama di Tanah Air, yaitu Cisokan. Kajian ini sekaligus memperluas penerapan konsep integrasi dari proyek PLTS Terapung Cirata sebagai upaya mendukung transisi energi yang lebih andal dan berkelanjutan.
STUDI KELAYAKAN PENERAPAN SISTEM PLTS DI PULAU TUNDA DALAM UPAYA PENINGKATAN RASIO ELEKTRIFIKASI PLN PROVINSI BANTEN
Hingga saat ini, rasio elektrifikasi desa berlistrik PLN di Provinsi Banten masih berada pada angka 99,4%, yang menunjukkan bahwa masih terdapat sejumlah desa terpencil yang belum sepenuhnya memperoleh akses listrik yang andal dan berkelanjutan. Salah satu wilayah tersebut adalah Pulau Tunda, yang hingga kini masih menghadapi permasalahan ketidakstabilan pasokan listrik akibat ketergantungan pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang hanya beroperasi selama 12 jam per hari. Kondisi ini menyebabkan tingginya biaya operasional serta dampak lingkungan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sistem penyimpanan energi baterai (BESS), dan PLTD guna menyediakan pasokan listrik selama 24 jam penuh secara efisien dan ramah lingkungan. Evaluasi dilakukan dari aspek teknis dan keekonomian sistem menggunakan indikator Levelized Cost of Energy (LCOE), Net Present Cost (NPC), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period. Hasil simulasi menunjukkan bahwa skenario PLTD eksisting menghasilkan energi 766 MWh/tahun dengan LCOE 0,332 USD/kWh dan emisi tertinggi. Skenario PLTD–PLTS mampu mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 36% dengan LCOE 0,269 USD/kWh. Skenario PLTS–BESS menghasilkan 1570 MWh/tahun dengan kontribusi energi terbarukan 100% namun memerlukan kapasitas BESS besar dan excess energy 46% sehingga LCOE sangat tinggi (0,487 USD/kWh). Skenario PLTD–PLTS–BESS menjadi skenario optimal dengan kapasitas PLTD 239 kW, PLTS 550 kWp, dan BESS 1776 kWh menghasilkan 896 MWh/tahun, kontribusi energi terbarukan 86%, LCOE 0,212 USD/kWh, NPC 1,89 juta USD, IRR 18%, Payback 4,9 tahun, dan mampu menurunkan emisi karbon hingga 85% dibandingkan PLTD eksisting. Secara teknis, skenario optimal menjaga tegangan 20 kV dan 0,4 kV serta frekuensi 49–51 Hz sesuai grid code. Kesimpulannya, integrasi PLTS dan BESS pada sistem PLTD di Pulau Tunda terbukti layak secara teknis dan ekonomis, sekaligus signifikan menurunkan emisi. Model ini dapat direplikasi di wilayah terpencil lain untuk mencapai target elektrifikasi 100% dan mendukung transisi energi bersih di Indonesia.
KAJIAN TENTANG AGNOTOLOGI DAN RELEVANSINYA DENGAN KEBIJAKAN SAINS : KASUS KONTROVERSI ENERGI NUKLIR DI INDONESIA
Agnotologi adalah studi tentang produksi ignorance, mengkaji ignorance tidak hanya ketiadaan pengetahuan, tetapi diproduksi melalui interaksi dinamis antara berbagai aktor. Ignorance adalah fenomena kompleks yang signifikan terhadap keberlangsungan kolektif. Penelitian ini mengkaji produksi ignorance dan implikasi dalam kontroversi energi nuklir di Indonesia. Pendekatan yang digunakan kualitatif dengan metode contribution of the professions to the procedures of the houses perspektif sosiologi asosiasi yaitu menelusuri kontribusi entitas-entitas yang berpartisipasi dalam pembentukan wacana tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ignorance teridentifikasi saat kolektif terbentuk bergerak ke satu arah dengan stabil, dan pada akhirnya mengabaikan atau kurang merespons isu-isu lain. Pola produksi ignorance tergambarkan dari hasil analisis beberapa asosiasi-asosiasi yang penulis istilahkan sebagai rezim. Pada rezim investasi mandiri, ignorance diproduksi melalui pola strategic ploy dan selective choice. Rezim ini secara strategis mempromosikan teknologi Thorium Molten Salt Reactor (TMSR) sehingga mengalihkan perhatian tentang riset reaktor uranium yang sudah lama dikaji di Indonesia. Rezim net zero emission (NZE) memperlihatkan pola strategic ploy dan selective choice. Rezim ini mempromosikan secara startegis bahwa nuklir sebagai satu-satunya solusi utama untuk mencapai target NZE, sehingga mengesampingkan isu-isu kritis seperti mitigasi dan adaptasi risiko kecelakaan nuklir yang mungkin bisa terjadi di Indonesia mengingat posisi Indonesia yang berada di wilayah (Ring of Fire). Pola ini juga mengabaikan potensi besar dari sumber energi terbarukan lain yang juga bebas karbon seperti matahari, angin, hidro, dan geotermal. Pada rezim keadilan lingkungan, pola yang terlihat yaitu strategic ploy dan true belief. Kelompok anti-nuklir secara sinergis menggunakan tragedi nuklir masa lalu sebagai argumen utama untuk menanamkan ketakutan pada publik. Taktik ini dapat mengalihkan fokus mengenai kemajuan teknologi reaktor nuklir terbaru yang dilengkapi sistem keselamatan passive safety. Pola true belief muncul dari keyakinan yang terlalu kuat, berdasarkan narasi historis tentang bahaya nuklir, yang menghalangi penerimaan pengetahuan baru tentang evolusi teknologi keselamatan saat ini.
KAJIAN TEKNO EKONOMI PEMBANGUNAN PLTS SEBAGAI SUPLAI SISTEM BANTU DI GARDU INDUK 150 KV CILEDUG
PT PLN sebagai perusahan penyedia listrik terbesar di Indonesia mempunyai peran penting dalam percepatan transisi energi untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060 sebagai komitmen Indonesia dalam Paris Agreement. Berdasarkan laporan pemakaian sendiri Gardu Induk tahun 2020-2024 konsumsi energi menagalami peningkatan setiap tahunnya yaitu sebesar 99,6 GWh menjadi 118,46 GWh dimana dalam hal ini akan menjadi beban operasional perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi integrasi sistem energi terbarukan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan sistem penyimpanan energi baterai (BESS) sebagai sumber daya baru untuk mengurangi biaya operasional Gardu Induk. Studi kasus difokuskan pada Gardu Induk 150 kV Ciledug, yang memiliki potensi energi surya cukup tinggi dan luas lahan yang memadai. Pada penelitian ini diawali dengan merancang secara teknis sistem PLTS menggunakan aplikasi PVSyst untuk mendapatkan potensi kapasitas maksimal PLTS berdasarkan luas lahan yang tersedia, iradiasi matahari dan parameter teknis sistem PV. Kemudian dari hasil olah data PVSyst digunakan untuk data masukan di aplikasi HOMER dengan membandingkan 2 skenario yaitu: skenario Grid PLNPLTS dan skenario Grid PLN-PLTS-BESS. Kemudian dari masing-masing skenario dianalisis dari sisi teknis dan keekonomiannya (LCOE,Net Present Cost, Payback Period, dan IRR). Dari hasil penelitian, diperoleh konfigurasi paling optimal untuk perencanaan pembangunan PLTS GI 150 kV Ciledug yaitu skenario Grid PLN-PLTS dengan konfigurasi PV 68 kWp yang memproduksi total listrik sebesar 92.655 kWh/tahun, serta fraksi EBT sebesar 24,8%. Matrik ekonomi menunjukan IRR dan Payback Period bernilai positif yaitu 13% dan 7,02 tahun. Pada ringkasan biaya membutuhkan biaya Investasi sebesar Rp838.530.019. Nilai NPC dan LCOE pada konfigurasi ini menjadi yang paling kecil dibandingkan skenario yang lain, yaitu Rp5.203.280.923,25 dan Rp1.316,85/kWh.