📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 38 dokumenPUSAT REHABILITASI ODHA (ORANG DENGAN HIV/AIDS) DI BANDUNG DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR PEMULIHAN
Jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia semakin meningkat. Meningkatnya kasus ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya hubungan seksual dengan penderita, penggunaan jarum suntik tercemar, transfusi darah, dan penularan ibu ke bayi saat kehamilan, melahirkan, dan menyusui. Padahal, WHO sendiri menargetkan pada tahun 2030 untuk menuntaskan kasus HIV/AIDS. Kenaikan kasus juga disebabkan oleh minimnya edukasi dan pemahaman di masyarakat mengenai HIV/AIDS, mekanisme penularan, kelompok orang berisiko tertular, dan cara pencegahan penularan. Kurangnya edukasi berakibat pada stigma buruk yang dialami oleh ODHA. Stigma buruk yang dialami ODHA ini membuat ODHA rentan terkena masalah mental. Selain masalah mental, kualitas hidup dari ODHA sendiri semakin lama akan semakin memburuk. Hal ini juga menjadi penyebab mereka enggan melakukan pengobatan. Oleh karena itu, selain pengobatan secara medis, penanganan mental juga perlu dilakukan kepada penyandang HIV/AIDS. Kota Bandung menempati salah satu kota dengan penyumbang kasus terbanyak. Karena itu, proyek ini mengambil tempat di Bandung, Jawa Barat, dengan fungsi bangunan sebagai pusat rehabilitasi ODHA yang komprehensif. Selain rehabilitasi medis, juga dilakukan rehabilitasi psikologis. Proyek juga akan menjadi pusat edukasi yang akan melibatkan masyarakat sekitar untuk menerima ODHA dan meningkatkan reintegrasi sosial mereka. Pendekatan yang dilakukan yaitu dengan arsitektur penyembuhan untuk memulihkan fisik dan psikis penderita, serta desain yang inklusif, yang akan melibatkan komunitas dan masyarakat sekitar.
A MOTHER’S SANCTUARY: PERAN ARSITEKTUR BIOPHILIC DALAM FASILITAS KESEHATAN KHUSUS IBU HAMIL
Kesehatan ibu hamil sangat berperan penting dalam perwujudan Sustainable Development Goal (SDG) nomor 3, yaitu “Memastikan kehidupan yang sehat dan sejahtera bagi semua orang di segala usia”. Namun, WHO menyatakan bahwa setiap hari di tahun 2020 terdapat sekitar 800 perempuan yang meninggal dunia dan sebagian besar terjadi selama masa kehamilan dan persalinan. Dari banyaknya kasus kematian ibu yang terjadi, sebagian besar kasus kematian tersebut terjadi akibat kondisi preeklamsia atau komplikasi pada ibu hamil. Komplikasi kehamilan seringkali muncul akibat adanya perubahan psikologis yang dialami oleh ibu. Perubahan psikologis yang dialami oleh ibu hamil dapat menimbulkan masalah psikologis yang cukup serius pada ibu hamil. Perubahan psikologis yang terjadi ini disebabkan oleh banyak faktor dan memiliki banyak dampak yang berisiko tinggi terhadap nyawa ibu dan bayinya. Sehingga, diperlukan sebuah fasilitas kesehatan khusus ibu hamil yang mampu memenuhi kebutuhan psikologis dan menangani perubahan kondisi psikologis sang ibu. Oleh sebab itu, pendekatan yang akan digunakan tidak hanya dilakukan secara emosional dan sosial pada ibu hamil, melainkan turut menghadirkan alam sebagai bagian dari proses pemulihan psikologis dan fisik sang ibu. Dengan demikian, perancangan proyek ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan seorang ibu selama proses kehamilan hingga melahirkan dengan menciptakan fasilitas kesehatan yang mampu menyediakan lingkungan yang sehat bagi ibu. Proyek ini akan berlokasi di Kelurahan Manjahlega, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung dan akan menjadi fasilitas penunjang Rumah Sakit Al-Islam yang terletak di sebelah lokasi proyek. Dalam menjawab tujuan proyek, terdapat empat persoalan perancangan yang akan dibahas, yaitu penciptaan bentuk dan ruang dalam arsitektur berbasis health design, respons terhadap lingkungan sekitar, kemudahan akses pengguna, dan penciptaan lingkungan dan ruang yang nyaman dan aman bagi ibu hamil tanpa adanya tekanan. Untuk menjawab persoalan perancangan tersebut, digunakan teori Biophilic Design, Human-Centered Design, dan Recreational Environment.
ANALISA TANTANGAN BISNIS DAN STRATEGI SOLUSI DARI BISNIS LAYANAN PERAWAT DI RUMAH STUDI KASUS CARE YOUR SELF (CYS)
Tesis ini bertujuan untuk menganalisis tantangan bisnis dan merumuskan solusi strategis dalam layanan keperawatan di rumah (homecare nursing) di Indonesia, dengan mengambil studi kasus Care Your Self (CYS), sebuah penyedia layanan homecare komprehensif. Dalam konteks meningkatnya kebutuhan akan layanan kesehatan berbasis rumah yang dipicu oleh tren menua-nya populasi, tuntutan kenyamanan pasien, dan peningkatan kesadaran akan alternatif layanan medis konvensional, industri homecare menunjukkan potensi pertumbuhan yang besar. Care Your Self memosisikan dirinya sebagai penyedia layanan terintegrasi, mulai dari perawatan prenatal, pediatrik, geriatri, hingga layanan paliatif, sekaligus melengkapi layanan tersebut dengan pengiriman peralatan medis dan ambulans. Meskipun memiliki nilai unik, Care Your Self menghadapi hambatan kritis seperti keterbatasan infrastruktur teknologi informasi, persaingan dari penyedia berskala kecil yang mendominasi pasar terfragmentasi, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap layanan homecare, khususnya di daerah non-perkotaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran, dengan menggabungkan teknik kualitatif dan kuantitatif melalui survei, wawancara mendalam, serta observasi lapangan terhadap klien, staf internal, dan pemangku kepentingan lainnya. Analisis data sekunder juga dilakukan untuk memperkuat konteks temuan. Hasil studi menunjukkan bahwa upaya strategis harus difokuskan pada pengembangan sistem informasi yang adaptif dan berbasis seluler, peneguhan identitas merek sebagai penyedia layanan premium, serta kampanye edukatif untuk meningkatkan pemahaman publik akan manfaat layanan homecare. Implikasi dari studi ini tidak hanya relevan bagi Care Your Self dalam mengatasi hambatan pertumbuhan dan memperluas jangkauan layanannya, tetapi juga menawarkan panduan strategis yang aplikatif bagi pelaku industri homecare lainnya di Indonesia. Melalui inovasi teknologi, pendekatan pemasaran yang terarah, dan penguatan kapasitas internal, penyedia layanan dapat membangun fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan dan berkontribusi signifikan terhadap sistem kesehatan nasional.
PERANCANGAN LANSKAP HEALING GARDEN DI RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN BANDUNG
Perkembangan studi akademis mengenai healing garden melonjak drastis pada awal tahun 2023, yaitu sebanyak 17 jumlah studi dari yang sebelumnya di tahun 2022 berjumlah 3 studi. Hal ini menandakan tren dan kebutuhan healing garden di Indonesia semakin meningkat. Studi membuktikan ketersediaan healing garden di rumah sakit selain berdampak positif bagi kesehatan, berfungsi sebagai fasilitas pendukung penyembuhan pasien, dan bersifat antithesis terhadap suasana rumah sakit. Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) yang menjadi rujukan tertinggi di Provinsi Jawa Barat mengusung konsep Green Hospital sehingga ketersediaan healing garden di rumah sakit ini harus selaras dengan perkembangan konsep rumah sakit kedepannya. Ruang terbuka hijau yang tersedia di RSHS sudah tersedia dibanyak titik diantara masa bangunan, namum belum dimanfaatkan sebagai healing garden. Menyadari dampak mendalam healing garden terhadap psikologis, sosial, dan lingkungan kepada pasien, tenaga medis, dan pendamping pasien, tesis ini membahas tiga rumusan masalah utama: menilai ruang luar yang ada di rumah sakit yang berpotensi dikembangkan menjadi healing garden; mengidentifikasi elemen pendekatan desain yang bisa diterapkan pada konsep healing garden dengan menyesuaikan kondisi eksisting area potensial; dan mengembangkan konsep dan desain penerapan yang disesuaikan dengan kondisi ruang luar rumah sakit. Untuk mencapai hal tersebut, penelitian ini mengejar tiga tujuan: menganalisis kondisi eksisting ruang luar dan menemukan ruang luar yang potensial untuk dikembangkan menjadi healing garden, menganalisis elemen yang mendukung proses penyembuhan proses rehabilitasi, dan pada akhirnya, merumuskan desain lanskap healing garden di RSHS. Ruang lingkup penelitian dibatasi pada taman kantong yang tersebar merata di area rumah sakit dan yang sesuai dengan kriteria kebutuhan healing garden untuk 11 program rehabilitasi medik. Metode perancangan dimulai dari perumusan data sekunder berupa program rehabilitasi terkait, 5 stimulus indra yang diperlukan, dan 4 stimulus peran healing garden yang dibutuhkan, yang kemudian menghasilkan skema dan analisis kebutuhan stimulus indra dan stimulus peran. Kemudian dirumuskan matrix studi preseden dan konsiderasi luasan serta paparan keramaian untuk masing-masing program rehabilitasi hingga menghasilkan peta kesesuaian penempatan kelompok program rehabilitasi. Hal ini menjadi dasar masterplan dan perancangan masing-masing healing garden pada ruang terpilih. Hasil perancangan mengelompokkan 11 program rehabilitasi yang sudah ada di RSHS menjadi 5 kelompok rehabilitasi. Pemanfaatan taman kantong pada RSHS dibagi menjadi healing garden kelompok rehabilitasi 1 dan 3, healing garden kelompok rehabilitasi 2, healing garden kelompok rehabilitasi 4, dan healing garden kelompok rehabilitasi 5, dan taman pendukung healing garden. Fasilitas dan elemen lanskap pada masing-masing healing garden merespon pada kebutuhan tiap kelompok rehabilitasi dari segi kebutuhan stimulus indra dan kebutuhan stimulus peran. Hal ini menjadi rujukan perancangan dan pengembangan konsep desain. Konsep dan desain yang dihasilkan menyediakan fasilitas yang memaksimalkan taman kantong eksisting menjadi healing garden yang bersifat restoratif, aksesibel, dan berkontribusi aktif dalam memfasilitasi pasien rehabilitasi, petugas medis, dan pendamping pasien RSHS secara keseluruhan.
FASILITAS TERAPI DOWN SYNDROME: PENDEKATAN PADA LINGKUNGAN PENYEMBUHAN TERAPEUTIK
Down syndrome merupakan kelainan genetik yang memengaruhi aspek fisik, kognitif, serta perilaku individu. Prelevansi Down syndrome di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya, tetapi fasilitas terapi komprehensif yang disediakan pemerintah masih sangat terbatas. Akibatnya, para penyandang Down syndrome sering mengalami keterbatasan dalam mengakses layanan yang mendukung perkembangan dan kemandirian mereka. Selain itu, masih ditemukan stigma negatif mengenai Down syndrome di kalangan masyarakat yang memperburuk kesejahteraan mental dan sosial para penyandang Down syndrome. Dengan demikian, dibutuhkan sebuah fasilitas terapi Down syndrome yang terintegrasi dengan pelatihan keterampilan serta edukasi bagi keluarga dan kalangan masyarakat umum. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup para penyandang Down syndrome di Indonesia serta mengurangi stigma negatif di kalangan masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan lingkungan penyembuhan terapeutik, fasilitas ini mengutamakan kenyamanan fisik, emosional, serta psikologis pengguna, terutama para penyandang Down syndrome. Pendekatan ini melibatkan elemen desain biofilik, pencahayaan alami, ventilasi silang, integrasi dengan elemen alam seperti taman dan air, serta perancangan arsitektur yang holistik. Selain itu, fasilitas ini juga harus memenuhi prinsip inklusivitas serta kemudahan akses untuk semua pengguna, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, sehingga meningkatkan kenyamanan pengguna, serta menghadirkan ruang publik yang mendorong inklusi sosial.
DESAIN SISTEM PRIVATE BLOCKCHAIN UNTUK INTEGRASI DAN PRIVASI DATA REKAM MEDIS
Rekam medis elektronik di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, seperti fragmentasi sistem antar fasilitas kesehatan, rendahnya auditabilitas, dan risiko manipulasi data untuk klaim fiktif (phantom billing). Sistem yang ada belum sepenuhnya mampu menjamin integritas dan privasi data pasien, serta sering kali tidak melibatkan pasien dalam pengelolaan akses terhadap rekam medis pasien. Permasalahan ini berisiko menurunkan kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan serta merugikan lembaga penyedia dan pemerintah. Untuk mengatasi masalah tersebut, penelitian ini mengusulkan desain sistem manajemen rekam medis berbasis private blockchain menggunakan framework Hyperledger Fabric. Proses pengembangan mengikuti metodologi Design Science Research Methodology (DSRM) dengan tahapan: identifikasi masalah, perumusan tujuan, desain dan pengembangan sistem, demonstrasi prototipe, serta evaluasi. Sistem dirancang untuk mendukung akses data berbasis otorisasi pasien, pencatatan transaksi yang immutable, serta penyimpanan data yang terdistribusi antar node dalam jaringan. Prototipe dikembangkan untuk menguji fungsionalitas utama, seperti pemberian dan pencabutan akses, penambahan data medis, serta pelacakan aktivitas. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sistem berhasil memenuhi kebutuhan integrasi dan privasi, serta mampu mencegah perubahan data tanpa jejak audit. Fitur kontrol akses berbasis peran dan smart contract mendukung transparansi serta keamanan dalam pengelolaan data medis. Sistem ini berpotensi menjadi solusi komplementer terhadap rekam medis elektronik konvensional dan dapat dikembangkan lebih lanjut untuk skala nasional. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam bentuk rancangan arsitektur sistem yang dapat menjadi landasan penerapan teknologi blockchain di sektor kesehatan Indonesia.
MENEMUKAN SOLUSI UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN APOTEK HANA: IMPLEMENTASI DESIGN THINKING
Menurut Profil Statistik Kesehatan (2023), tingkat keluhan kesehatan di daerah pedesaan dalam sebulan terakhir 1,09% lebih tinggi dibandingkan daerah perkotaan. Namun, sebaliknya, persentase masyarakat yang menerima perawatan rawat jalan justru 4,34% lebih tinggi di perkotaan dibandingkan di pedesaan. Data ini menunjukkan adanya ketidakmerataan fasilitas layanan kesehatan di Indonesia, termasuk di provinsi Sumatera Selatan. Distribusi fasilitas kesehatan di Sumatera Selatan terkonsentrasi di kota besar seperti Palembang, Baturaja, dan Lubuk Linggau. Akan tetapi, Akses fasilitas layanan kesehatan seperti apotek masih terbatas di daerah pedesaan. Hal ini menyebabkan bidan desa mengalami kesulitan dalam menyediakan kebutuhan perbekalan kefarmasian untuk klinik praktek mandiri mereka. Disisi lain beberapa apotek di kota Palembang seperti Apotek Hana mengalami kendala terhadap jumlah penjualan mereka akibat tingginya persaingan antar apotek di kota Palembang. Kondisi ini dapat menjadi peluang bagi apotek Hana untuk meningkatkan jumlah penjualannya dengan melakukan kolaborasi dengan bidan desa di desa sekitar kota Palembang. Kolaborasi ini membutuhkan strategi yang ideal untuk menarik bidan desa sebagai pelanggan apotek Hana. Oleh sebab itu, penting untuk memahami kebiasaan dan preferensi bidan desa dalam berbelanja untuk menyediakan perbekalan kefarmasian mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kebiasaan dan preferensi bidan desa agar menghasilkan strategi kolaborasi yang ideal antara Apotek Hana dengan Bidan desa di sekitar Kota Palembang. Peneliti menggunakan pendekatan design thingking untuk mengembangkan strategi kolaborasi ini dengan 5 proses tahapan yakni Empathy, Define, Ideate, Prototype, dan Test. Pengumpulan data primer menggunakan dua metode yakni metode kualitatif dengan in-depth interview terhadap 13 bidan desa, dan metode kuantitatif menggunakan survey dengan kuestioner untuk pengujian kesesuaian prototype yang dihasilkan. Dari hasil analisa, peneliti mengidentifikasi empat tantangan utama bidan desa dalam mengakses perbekalan kefarmasian mereka yakni jarak tempuh yang jauh, biaya yang tinggi, serta variasi produk yang sering terbatas. Berdasarkan hasil analisis ini, peneliti menyarankan 4 program sebagai solusi tantangan bidan desa yakni program harga pengiriman bertingkat, program keanggotaan, program diskon, serta program pembayaran kredit. Masing-masing program dirancang rencana implementasinya selama 1 tahun dan diproyeksikan dalam 6 bulan mendatang, penjualan apotek Hana dapat meningkat hingga delapan kali lipat
DEVELOPMENT OF POST-STROKE CARE MOBILE APPLICATION PROTOTYPE
This study aims to present the development of a mobile application to enhance post-stroke management and care. Therefore, the development of Stroke Digicare serves as a valuable resource for post-stroke patients, caregivers, and healthcare providers, in contributing to the improvement of stroke outcomes and enhancing overall quality of post-stroke care. Stroke disease is the leading cause of disability worldwide, having high chances of reoccurrence and a long-term continuous management. The maintenance of care and therapy plays a crucial role in the recovery process for post-stroke patients. However, the current systems often lack personalized support, accessibility, high cost and integration of essential post-stoke management components. This research addresses these limitations by proposing a mobile application called Stroke Digicare, combining medication & clinical scheduling, rehabilitation modules, patient monitoring through video calls and current condition input, also medical record list. The research and analysis began with a comprehensive review of literatures and existing mobile applications on post-stroke managements, highlighting the gaps and opportunities for improvement. Based on the analysis, a systematic design process, prototype development, user testing, and user satisfaction review were carried out. The mobile application incorporates evidence-based stroke management guidelines, such as the Global Stroke Guideline to determine the rehabilitation parameters and features for efficient monitoring to facilitate remote care for patients and caregivers. Evaluation of the Stroke Digicare application was conducted through a usability testing method that comprises of two phases, with 30 homogenous participants in the first phase and 50 in the second phase. Results demonstrates the potential of mobile application in enhancing post-stroke management and care, having average usability score of 81,428 and 82,375. Furthermore, the user satisfaction is assessed though a SERVQUAL method which yielded positive feedback towards the importance of available features.
KLASIFIKASI NEOPLASIA INTRAEPITEL SERVIKS BERBASIS PEMBELAJARAN MESIN DAN PEMBELAJARAN MENDALAM MENGGUNAKAN CITRA KOLPOSKOPI
Lesi serviks menjadi salah satu tanda awal untuk melakukan diagnosis kanker serviks, secara umum terbagi menjadi tiga kategori: Neoplasia Intraepitel Serviks (NIS)1, NIS2, dan NIS3. Pada penelitian ini bertujuan untuk melakukan klasifikasi NIS berbasis pembelajaran mesin dan pembelajaran mendalam. Model pembelajaran mesin dibangun dengan pemanfaatan nilai ekstraksi fitur tekstur dan warna pada citra lesi serviks, yaitu Gray Level Co-occurrence Matrix (GLCM), L*a*b* color space, dan Local Binary Pattern (LBP), sedangkan model pembelajaran mendalam dibangun dengan memanfaatkan model dasar Convolutional Neural Network (CNN). Citra NIS pada data pelatihan dan pengujian menggunakan Intel Mobile Optical Detection Technologies, yaitu kumpulan citra NIS yang telah dikelompokkan dan diverifikasi oleh tenaga ahli. Eksperimen pada penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kinerja model dalam melakukan klasifikasi NIS1, NIS2, dan NIS3, dengan hasil akurasi, sensitivitas, dan spesifisitas pada kinerja model Extra Tree sebesar 0,98, 0,97, dan 0,98, sedangkan pada kinerja model dasar CNN didapatkan nilai akurasi, sensitivitas, dan spesifisitas sebesar 0,94, 0,96, dan 0,89. Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi pada ektraksi fitur GLCM, L*a*b*, dan LBP mampu melakukan pengenalan dan identifikasi karakteristik penting dari citra lesi serviks sebagai tahapan awal klasifikasi kanker serviks. Penelitian selanjutnya, direkomendasikan untuk dapat melakukan peluasan dataset dan melakukan pengujian lanjutan dengan metode klasifikasi yang lebih kompleks guna untuk meningkatkan kinerja model klasifikasi.
PEMANFAATAN SHAPLEY ADDITIVE EXPLANATION (SHAP) UNTUK FEATURE SELECTION PADA PEMBANGUNAN MODEL KLASIFIKASI PENYAKIT JANTUNG KORONER
Penyakit jantung koroner adalah salah satu penyebab utama kematian global, sehingga penting untuk mengembangkan model klasifikasi penyakit jantung koroner yang akurat. Namun, dataset penyakit ini seringkali berukuran kecil dan berdimensi rendah, yang dapat meningkatkan risiko overfitting pada model klasifikasi yang dibangun jika semua fitur digunakan. Oleh karena itu, diperlukan metode feature selection yang tepat untuk memilih fitur paling relevan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Shapley Additive Explanations (SHAP) dianggap memiliki potensi sebagai metode penyelesaian untuk feature selection. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan SHAP dapat digunakan sebagai solusi untuk feature selection pada model klasifikasi untuk data penyakit jantung koroner yang memiliki karakteristik data yang relatif sedikit dan berdimensi kecil. Eksperimen dilakukan dengan menggunakan dataset penyakit jantung koroner yang memiliki karakteristik data berukuran kecil dan berdimensi rendah. Terdapat dua metode feature selection pembanding, yaitu Principal Component Analysis (PCA), dan validasi narasumber. Model klasifikasi dibangun dengan algoritma random forest, dan kinerja model dievaluasi menggunakan metrik ROC-AUC dan AU-PRC untuk mengukur performa dalam prediksi penyakit jantung koroner. Dataset dibagi menjadi data latih dan data uji, di mana masing-masing model diuji dalam beberapa skenario eksperimen untuk menilai konsistensi kinerja dari metode SHAP untuk feature selection. Hasil eksperimen yang dilakukan pada penelitian ini, terdapat peningkatan kinerja model klasifikasi penyakit jantung koroner dengan menggunakan SHAP untuk feature selection. model klasifikasi mengalami peningkatan ROC-AUC dari 0.91 menjadi 0.94 dan AU-PRC dari 0.81 menjadi 0.97 setelah menerapkan feature selection dibandingkan dengan model hasil dari PCA dan model hasil feature dari validasi dokter. Dari hasil eksperimen yang telah dilakukan membuktikan bahwa SHAP meningkatkan keakuratan dan efisiensi model klasifikasi penyakit jantung koroner dengan menggunakan random forest, membuatnya menjadi metode yang sangat berguna untuk feature selection untuk karakteristik dataset yang berdimensi kecil dalam konteks kasus penyakit jantung koroner.
VALUASI RUMAH SAKIT UNTUK MENENTUKAN HARGA AKUISISI YANG OPTIMAL
Penelitian ini mengevaluasi kelayakan finansial dan strategis untuk mengakuisisi sebuah rumah sakit di Bandar Lampung oleh SMI Ltd., sebuah perusahaan layanan kesehatan yang baru didirikan. Penelitian ini menggunakan analisis keuangan yang komprehensif, termasuk valuasi DCF, untuk menentukan NPV, IRR, dan PBP dari akuisisi yang diusulkan. Lingkungan eksternal dianalisis menggunakan kerangka PESTEL, yang menyoroti faktor utama yang membuat industri rumah sakit menarik untuk investasi. Faktor dievaluasi melalui analisis VRIO, yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi sumber daya dan kapabilitas unik rumah sakit yang menjadikannya target akuisisi yang menarik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa akuisisi ini layak secara finansial, dengan NPV sebesar Rp. 7.033.579, IRR sebesar 14,35%, PI sebesar 1,08, dan PBP selama 5 tahun dan 11 bulan. Meskipun hasil ini menunjukkan bahwa akuisisi ini layak secara finansial, IRR hanya sedikit melebihi tingkat pengembalian yang diharapkan, menunjukkan daya tarik finansial yang terbatas di bawah harga penawaran awal. Untuk mengatasi kekhawatiran ini dan meningkatkan kelayakan finansial investasi, analisis ini mengusulkan revisi harga penawaran akuisisi menjadi Rp 35.550.800.000. Penyesuaian ini mengurangi total biaya investasi menjadi Rp 54.550.800.000, yang menghasilkan peningkatan hasil anggaran modal, termasuk IRR yang lebih tinggi sebesar 16,71% dan PBP yang lebih pendek.Hasil simulasi Monte Carlo menunjukkan hampir 95% probabilitas untuk mencapai NPV positif, dengan 85% probabilitas untuk mencapai hasil DCF. Analisis sensitivitas mengidentifikasi dua belas faktor kritis yang memengaruhi valuasi, termasuk BOR, LOS, volume pasien, kenaikan tarif, biaya akuisisi, belanja modal, biaya pendapatan, biaya operasional, dan WACC. Studi ini menyimpulkan bahwa akuisisi rumah sakit layak secara finansial dengan harga penawaran yang direvisi, yang memenuhi target IRR 16,5% dari SMI Ltd. Rekomendasi strategis diberikan untuk mengoptimalkan harga akuisisi dan meningkatkan valuasi keseluruhan, termasuk negosiasi yang menyeluruh untuk mendapatkan harga pembelian yang lebih rendah, manajemen biaya operasional yang efisien, dan implementasi strategi pemasaran yang ditargetkan untuk meningkatkan volume pasien. Langkah-langkah ini penting untuk memastikan keberlanjutan finansial jangka panjang dan kesuksesan dari akuisisi ini.
ANALISIS KELAYAKAN FINANCIAL EKSPANSI PRODUKSI SARUNG TANGAN MEDIS PT. CROWN TEKNOLOGI INDONESIA
Studi kelayakan ini menganalisis rencana ekspansi PT. Crown Teknologi Indonesia (CTI) ke dalam produksi sarung tangan medis, segmen pasar yang menunjukkan pertumbuhan signifikan akibat meningkatnya kesadaran global akan pengendalian infeksi dan tingginya permintaan produk kesehatan. Penelitian ini mengevaluasi kelayakan finansial, potensi pasar, dan risiko terkait dalam pendirian fasilitas produksi baru di Padang, Indonesia, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2028. Analisis pasar mengungkapkan permintaan yang kuat untuk sarung tangan medis di wilayah Asia-Pasifik, yang diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 11,1% dari tahun 2022 hingga 2029, dengan pasar Indonesia diperkirakan akan berkembang dari USD 40,951 juta pada tahun 2022 menjadi USD 70,100 juta pada tahun 2029. Fasilitas baru CTI akan memproduksi sarung tangan nitril berkualitas tinggi, yang penting untuk menjaga standar kebersihan di lingkungan kesehatan. Proyeksi finansial menunjukkan daya tarik proyek ini, dengan nilai sekarang bersih (NPV) sebesar IDR 461,56 miliar, tingkat pengembalian internal (IRR) sebesar 25,30%, indeks profitabilitas sebesar 25,30%, periode pengembalian investasi selama 7,15 tahun, dan periode pengembalian diskonto selama 8,83 tahun, yang semuanya menegaskan profitabilitas proyek dan kesesuaiannya dengan tujuan strategis CTI. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekspansi ini tidak hanya layak secara finansial tetapi juga bermanfaat secara strategis, menempatkan CTI untuk memanfaatkan peluang pasar yang berkembang sambil berkontribusi pada peningkatan infrastruktur kesehatan di Indonesia.
MEMANFAATKAN SISTEM INFORMASI GEOSPAIAL (SIG) UNTUK ANALISIS AKSESIBILITAS FASILITAS PUSKESMAS MASYARAKAT SAAT INI DI KABUPATEN BANDUNG, INDONESIA
Seiring dengan meningkatnya permintaan layanan kesehatan, diperlukan data yang akurat untuk keputusan strategis di masa mendatang. Untuk memenuhi permintaan tersebut secara efektif, Kementerian Kesehatan Jawa Barat berencana untuk melakukan transformasi digital yang akan memudahkan proses tersebut, seperti digitalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permintaan dan penawaran Puskesmas Kabupaten Bandung sebagai langkah menuju transformasi tersebut. Puskesmas berperan penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, di mana sebagian besar kasus awalnya dilaporkan, layanan yang diberikan oleh Puskesmas merugikan masyarakat sekitar, tidak hanya dalam menyediakan perawatan medis tetapi juga kebijakan kesehatan pemerintah lainnya untuk meningkatkan kualitas hidup di daerah tersebut. Kabupaten Bandung tidak hanya menjadi kabupaten terbesar di Jawa Barat tetapi juga menghadirkan tantangan unik untuk alokasi sumber daya karena topografinya. Dengan tiga juta orang yang tersebar di 31 kecamatan yang disajikan di lokasi yang akurat datanya akan memudahkan proses pengambilan keputusan untuk Puskesmas atau penggunaan lain untuk fasilitas kesehatan. Laporan kesehatan terkini menunjukkan distribusi Puskesmas, di mana 19 dari 31 kecamatan memiliki 2 Pusat Kesehatan Masyarakat, sementara beberapa kecamatan memiliki 1 atau 3 Puskesmas. Kesenjangan permintaan dapat menyebabkan layanan kesehatan menjadi kurang optimal dan menilai seberapa baik orang yang tinggal di daerah tersebut mengakses layanan kesehatan ini. Peningkatan aksesibilitas layanan kesehatan memerlukan alokasi sumber daya yang strategis. Untuk mengatasi masalah kelebihan kapasitas dan distribusi yang tidak merata, penelitian ini menganjurkan akses yang lebih adil terhadap layanan kesehatan bagi semua penduduk Kabupaten Bandung. Memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan analisis data deskriptif untuk menilai cakupan dan kemampuan area layanan Puskesmas Kabupaten Bandung. Mengevaluasi distribusi layanan kesehatan yang ada menggunakan Analisis Area Layanan ArcGIS dan fitur visualisasi penawaran dan permintaan Tableau. Berdasarkan analisis area layanan, Puskesmas di wilayah Kabupaten Bandung dapat diakses secara efektif, dengan area layanan secara kolektif mencakup 63% (1.094,1 km2) ketika klinik yang jangkauan layanan efektifnya mencapai 64,4% (1.125 km2) juga disertakan. Rata-rata, Kabupaten Bandung setiap Puskesmas melayani 59.978 orang, lebih dari standar Target Nasional sebesar 30.000 orang dan rata-rata provinsi sebesar 45.507 orang. Hal ini dibuktikan lebih lanjut oleh sebagian besar kecamatannya yang gagal memenuhi permintaan penduduknya. Untuk merencanakan fasilitas kesehatan masa depan secara efektif, model peta menempatkan setiap Puskesmas di setiap kecamatan dan area layanan efektif berdasarkan waktu tempuh efektif (30 Menit), sementara dasbor tableau memvisualisasikan lokasi permintaan setiap kecamatan untuk Puskesmas berdasarkan Target Nasional. Hasil penelitian ini adalah analisis terperinci dan model distribusi fasilitas Puskesmas berdasarkan laporan kesehatan terkini. Menampilkan lokasi fasilitas kesehatan kecamatan dan area layanan. Dapat disimpulkan bahwa dengan bantuan model berdasarkan data terkini Kabupaten Bandung, kecamatan mudah didiagnosis dengan kurangnya aksesibilitas atau kurangnya fasilitas. Membantu DINKES (Dinas Kesehatan) dan pemerintah daerah dalam pengambilan keputusan di masa mendatang serta mengusulkan rekomendasi untuk meningkatkan aksesibilitas pelayanan kesehatan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023.
RANCANG BANGUN CHATBOT TERINTEGRASI APLIKASI LINE UNTUK MEMBANTU PEMERIKSAAN DINI DAN PEMBELAJARAN PENYAKIT ISPA
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) merupakan penyakit menular yang dapat diderita oleh balita dan dewasa. Untuk mengurangi antrian pemeriksaan pada fasilitas kesehatan, deteksi dini ISPA dapat menjadi solusi alternatif. Peningkatan literasi ISPA juga diperlukan sebagai langkah pencegahan terhadap penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi masalah tersebut dengan mengembangkan chatbot berbasis aturan yang terintegrasi dalam aplikasi LINE untuk membantu deteksi dini ISPA dan memberikan edukasi kesehatan. Algoritma deteksi dini ISPA yang dibangun pada Chatbot harus comply terhadap pedoman tatalaksana ISPA yang dirilis oleh Kementrian Kesehatan. Selain itu, chatbot ini dibangun dengan memperhatikan tingkat usabilitas yang tinggi serta memenuhi standar etika penerapan AI dalam dunia kesehatan yang diterapkan oleh WHO. Pemberian edukasi terkait penyakit ISPA diimplementasikan pada chatbot dalam bentuk audiovisual serta diterapkan fitur gamifikasi untuk meningkatkan kertarikan pengguna dalam menggunakan chatbot. Fase pengujian melibatkan serangkaian evaluasi untuk menentukan akurasi sistem dan kepuasan pengguna. Hasilnya menunjukkan bahwa hasil deteksi dini yang dihasilkan oleh chatbot divalidasi oleh dr. M. Taufik Hidayat selaku Kepala Puskesmas Talang yang memvalidasi keandalan sistem. Selain itu, sistem ini menerima skor System Usability Scale (SUS) sebesar 78 dan skor SEQ 4,529 dari 5,000 yang termasuk dalam kategori kegunaan dan kemudahan yang baik. Lebih lanjut, penelitian ini menemukan peningkatan signifikan dalam skor literasi ISPA responden yaitu kenaikan sebesar 21.819 poin atau sekitar 8,73% dari skor tertinggi yang menunjukkan efektivitasnya dalam mendidik pengguna. Chatbot juga telah memenuhi standar etika yang diterapkan oleh WHO. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa chatbot untuk deteksi dan edukasi ISPA ini efektif, efisien, dan diterima dengan baik oleh pengguna, menawarkan alat yang menjanjikan untuk intervensi kesehatan masyarakat.
PERANCANGAN ARSITEKTUR DIGITAL PUBLIC INFRASTRUCTURE (DPI) PADA SISTEM PENANGANAN KLAIM ASURANSI: STUDI KASUS RSKB HALMAHERA SIAGA
Perkembangan teknologi yang pesat telah menciptakan perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, salah satunya adalah dalam sektor kesehatan. Salah satu pendekatan teknologi yang sedang diusung oleh UNDP adalah Digital Public Infrastructure atau DPI yang merupakan infrastruktur yang meliputi sistem-sistem digital yang memungkinkan identifikasi pengguna, proses pembayaran digital, serta pertukaran data dan informasi. Infrastruktur ini krusial dalam mengatasi tantangan, baik geografis, waktu, hingga biaya yang menjadi hambatan dalam akses layanan penanganan klaim saat ini. Latar belakang penelitian menjelaskan perlunya infrastruktur digital yang mendukung sistem penanganan klaim yang efisien dalam RSKB Halmahera Siaga Bandung, dengan tujuan meningkatkan dan mencapai akses layanan kesehatan dan inklusi. Objektif dari tugas akhir ini adalah untuk mengembangkan dan merancang sebuah DPI yang dapat digunakan dalam sistem penanganan klaim asuransi di sektor kesehatan. Pengembangan akan menggunakan The Open Group Architecture Framework Architecture Development Method (TOGAF ADM), yang mencakup tahapan Preliminary Phase, Architecture Vision, Business Architecture, dan Information Systems Architecture. Hasil yang diharapkan dari tugas akhir ini adalah rancangan arsitektur dashboard berdasarkan standar DPI yang optimal, yang dapat mengatasi kendala yang dihadapi dalam operasional RSKB Halmahera Siaga Bandung. Dengan infrastruktur ini, diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas layanan kesehatan dan sinergi di bidang tersebut, mendukung pengembangan yang bermanfaat.