📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 172 dokumenDINAMIKA EVAPOTRANSPIRASI PADA TAHUN 2015 – 2025 DI PEGUNUNGAN MALABAR BERDASARKAN ALGORITMA SEBAL
Hutan tropis berperan vital dalam siklus hidrologi hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), namun konversi lahan dapat menurunkan kapasitas tata air tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika temporal Evapotranspirasi Aktual (ETa) dan Forest Canopy Density (FCD) pada tiga kelas tutupan lahan (hutan alam, agroforestri kopi, perkebunan monokultur) di Pegunungan Malabar, hulu DAS Citarum, periode 2015–2025; menganalisis kekuatan hubungan FCD–ETa pada berbagai skala temporal; serta mengkaji keterkaitan pola elevasi dan ketersediaan energi radiasi dengan ETa pada masing-masing kelas tutupan lahan. ETa diestimasi menggunakan algoritma SEBAL berbasis citra Landsat 8/9. Hasil menunjukkan hutan alam mendominasi kawasan pada 2025 (43%; FCD 82,79%), diikuti agroforestri (32,1%; FCD 65,88%) dan perkebunan (24,1%; FCD 50,22%). Two-Way ANOVA menunjukkan tutupan lahan [F(2,60)=57,803; p<0,001] dan musim [F(1,60)=21,509; p<0,001] berpengaruh signifikan tanpa interaksi bermakna [F(2,60)=0,911;p=0,408], dengan hierarki ETa Hutan Alam > Agroforestri > Perkebunan (Tukey HSD). Hutan alam relatif stabil dengan peningkatan pada 2023, mengindikasikan kondisi energy-limited; agroforestri menunjukkan tren pemulihan pasca-2018 hingga mencapai 75% kapasitas hutan alam; perkebunan paling rentan terhadap anomali curah hujan 2017–2019. FCD berkorelasi kuat dan konsisten terhadap ETa pada seluruh skala temporal (rtahunan = 0,945; rpenghujan = 0,903; rkemarau = 0,930). Hutan alam pada elevasi tertinggi menerima radiasi terendah namun ETa tertinggi (rasio ET/Radiasi 0,607, tertinggi dibanding agroforestri 0,453 dan perkebunan 0,357), mengindikasikan FCD berperan lebih besar dibandingkan radiasi dalam mempengaruhi ETa. Temuan ini menjadikan FCD indikator relevan untuk pengelolaan tata air hulu DAS Citarum.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK EKSPANSI BISNIS RITEL TRADISIONAL: PADA INDUSTRI DISTRIBUSI FMCG INDONESIA: PT SAM
Industri fast-moving consumer goods (FMCG) di Indonesia merupakan salah satu sektor yang dinamis di Asia Tenggara, didorong oleh pertumbuhan populasi yang kuat, peningkatan daya beli, serta perubahan perilaku konsumen. PT SAM, sebagai perusahaan distribusi dan logistik yang telah memiliki posisi kuat pada saluran modern trade (MT) dan e-commerce, berupaya melakukan ekspansi ke saluran general trade (GT) guna meningkatkan cakupan pasar dan posisi kompetitif perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka pengambilan keputusan yang terstruktur dalam ekspansi bisnis GT dengan mengevaluasi kelayakan finansial, operasional, dan strategis dari berbagai alternatif strategi ekspansi. Penelitian mengadopsi kerangka Kepner–Tregoe yang berfokus pada Decision Analysis dan Potential Problem Analysis. Dalam Decision Analysis, pengambil keputusan mendefinisikan kriteria “Must” sebagai persyaratan yang tidak dapat ditawar, serta kriteria “Want” sebagai faktor yang diinginkan dan memengaruhi tingkat daya tarik masing-masing alternatif. Potential Problem Analysis diterapkan untuk mengidentifikasi potensi risiko pada setiap opsi strategis serta merumuskan tindakan pencegahan dan rencana kontingensi. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed method) yang mengintegrasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data sekunder diperoleh dari laporan keuangan dan laporan industri, sedangkan data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan Focus Group Discussion (FGD) dengan para pemangku kepentingan internal utama. Analisis dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, data sekunder digunakan untuk mengevaluasi kondisi dasar dari tiga alternatif strategi, yaitu akuisisi, pendirian perusahaan baru (greenfield), dan joint venture (JV). Kedua, data primer digunakan untuk menentukan kriteria keputusan dan menangkap perspektif para pemangku kepentingan. Ketiga, kerangka Kepner Tregoe Decision Analysis diterapkan untuk menilai dan menentukan peringkat alternatif strategi, yang kemudian dilanjutkan dengan Potential Problem Analysis untuk mengidentifikasi risiko dan strategi mitigasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opsi akuisisi dieliminasi pada tahap kriteria Must akibat adanya kewajiban pajak bawaan sebesar Rp22,7 miliar dan piutang pihak berelasi sebesar Rp58,8 miliar. Opsi JV NewCo memperoleh skor Want tertinggi sebesar 84,1%, menghasilkan Net Profit Before Tax yang positif sejak tahun pertama pada seluruh skenario, serta memberikan Net Present Value (NPV) sebesar Rp97,3 miliar dengan nilai investasi Rp5,25 miliar. Opsi JV memberikan PT SAM kecepatan implementasi seperti akuisisi dengan profil risiko yang lebih mendekati greenfield, sehingga memposisikan perusahaan sebagai distributor multi-channel dengan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Rencana implementasi terdiri atas lima fase, mencakup pendirian perusahaan, pengembangan sistem, serta pemenuhan aspek legal, keuangan, dan perpajakan, dengan pelaksanaan dimulai pada Juni 2026. Dalam jangka panjang, integrasi saluran MT, GT, dan e-commerce ke dalam satu platform terpadu akan memposisikan PT SAM sebagai distributor multi-channel yang mampu menyediakan akses pasar yang komprehensif serta menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
PERANCANGAN PUSAT DESAIN OBJEK KEHIDUPAN SEHARI-HARI BANDUNG
Kota Bandung telah resmi dinobatkan sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) dalam kategori City of Design sejak 11 Desember 2015. Predikat internasional ini mencerminkan potensi besar kota dalam mengintegrasikan elemen kreatif ke dalam pembangunan urban. Namun, pada realitasnya, pencapaian tersebut masih menyisakan kesenjangan literasi yang signifikan di ranah domestik. Desain seringkali dipandang secara eksklusif sebagai komoditas estetika atau praktis milik kalangan profesional dan akademisi, sementara masyarakat luas sebagai perancang alami dalam kehidupan mereka sendiri belum merasakan dampak langsung maupun ruang partisipasi yang inklusif untuk berkembang bersama. Sebagai strategi untuk meruntuhkan dinding pembatas tersebut, penelitian perancangan ini menggunakan objek kehidupan sehari-hari sebagai titik masuk interaksi utama. Objek keseharian dipilih karena sifatnya yang familiar, dekat, dan bebas dari intimidasi struktural, sehingga mampu menjadi stimulan yang efektif dalam membumikan konsep desain yang kompleks menjadi lebih fungsional dan mudah dipahami oleh masyarakat awam. Tujuan besar dari perancangan Pusat Desain Objek Kehidupan Sehari-hari ini adalah menyatukan expert dan diffuse design di Kota Bandung ke dalam satu ekosistem yang kolaboratif. Secara spasial, fasilitas ini dirancang menggunakan pendekatan infrastruktur sosial dan desain interior yang partisipatif untuk memfasilitasi terjadinya transfer pengetahuan, lokakarya, hingga kokreasi antara desainer profesional dan komunitas masyarakat.
PEMBUATAN PETA PEMANTAUAN LINGKUNGAN SPASIO-TEMPORAL UAP AIR DI BANDUNG UTARA
Pemetaan sebaran spasio-temporal uap air dilakukan di Bendungan Bantar Awi. Dam Bantar Awi dipilih menjadi area kajian karena memiliki fungsi sebagai penyedia air bagi PDAM dan PLTA setempat. Lokasi dam yang strategis juga memungkinkan analisis turunan untuk menjelaskan kondisi hidrologi dan klimatologi wilayah Kawasan Bandung Utara, serta usaha mitigasi bencana banjir pada hilir Sungai Cikapundung. Nilai Precipitable Water Vapor (PWV) menunjukan ketebalan air jika uap air pada kolom di titik pengamatan mengalami kondensasi. Metode estimasi uap air menggunakan komponen koreksi kesalahan atmosfer/Zenith Total Delay (ZTD) pengolahan data Global Navigation Satellite System (GNSS) metode diferensial statik. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan GNSS di Dam Bantar Awi selama 12 jam dari jam tujuh pagi WIB. Data GNSS diolah dua kali: dengan koreksi troposfer dan tanpa koreksi troposfer. Pengolahan diferensial statik menghilangkan sebagian besar pengaruh kesalahan dengan menyelisihkan persamaan GNSS. Kesalahan yang tersisa ketika pengolahan tidak menggunakan koreksi atmosfer mempengaruhi estimasi tinggi titik pengukuran. Oleh karena itu, selisih tinggi solusi dengan dan tanpa koreksi troposfer menunjukan kesalahan akibat troposfer ke arah zenith. Nilai uap air kemudian dapat diestimasi menggunakan selisih tinggi tersebut. Hasil pengolahan adalah peta sebaran spasial uap air Dam Bantar Awi untuk tiap satu jam interval. Peta menunjukan variasi uap air dan dapat dikaitkan dengan pergerakan matahari dan massa udara. Topografi area Bantar Awi juga berpengaruh terhadap pergerakan uap air. Kondisi topografi menentukan keterbukaan titik-titik pengamatan terhadap matahari serta arah gerak massa udara. Titik-titik pengamatan yang mendapatkan sinar matahari pada suatu jam interval memiliki nilai PWV besar yang menurun pada jam interval setelahnya ketika tertutup dari matahari. Kejadian antropogenik dapat terekam dan ditunjukan melalui peta yang kami buat. Pada pengambilan data GNSS, terjadi pembakaran sampah di sekitar area pengerjaan. Asap pembakaran menambah kesalahan yang memperbesar nilai koreksi ZTD sehingga terjadi over-estimasi PWV. Pembakaran sampah terlihat sebagai nilai ekstrem pada hasil peta yang menunjukan kemampuan produk kami sebagai alat memonitor kondisi lingkungan. Pengujian produk dilakukan dengan membandingkan pola sebaran spasio-temporal dengan hasil dari metode Precise Point Positioning (PPP). Hasil pengujian menunjukan kesamaan pola sebaran uap air untuk jam-jam pengamatan di sore hari.
PERANCANGAN ALL-IN-ONE COFFEE MAKER UNTUK TRAVELING
Bagi banyak orang, kopi bukan sekadar minuman, ia adalah ritual harian yang sulit ditinggalkan bahkan saat bepergian. Namun kenyataannya, traveler yang terbiasa menyeduh kopi sendiri kerap dihadapkan pada pilihan yang tidak memuaskan: bergantung pada fasilitas hotel yang tidak selalu tersedia, membeli kopi di luar dengan kualitas yang tidak terjamin, atau membawa beberapa peralatan sekaligus yang justru memberatkan perjalanan. Produk coffee maker portabel yang ada di pasaran pun belum menjawab masalah ini secara tuntas — sebagian besar hanya mendukung satu metode seduhan dan tidak dilengkapi pemanas air, sehingga pengguna tetap membutuhkan sumber panas eksternal. Penelitian ini berangkat dari pengalaman nyata tersebut, dengan tujuan merancang sebuah coffee maker kompak yang mampu memanaskan air, menyeduh espresso, dan menyeduh pour over, semuanya dalam satu produk yang cukup kecil untuk masuk ke dalam tas ransel. Proses perancangan menggunakan pendekatan human-centered design, didukung oleh auto-etnografi, wawancara mendalam dengan pengguna dan pakar, konsultasi teknis bersama rekan dari bidang teknik elektro, serta studi terhadap produk-produk sejenis yang sudah ada. Hasil dari penelitian ini adalah Kofiekum, sebuah sistem coffee maker berbentuk silinder nesting dengan dimensi ?90 mm × tinggi ? 350 mm. Produk ini menggunakan material stainless steel 304 dan polipropilena food grade, serta dirancang untuk bekerja dengan dua sumber daya listrik: AC 220V/80W untuk penggunaan di penginapan, dan DC 12V/50W melalui USB-C sebagai opsi darurat. Kofiekum diharapkan menjadi jawaban atas kekosongan kategori produk yang selama ini belum terjawab coffee maker portabel yang benar-benar lengkap, mandiri, dan siap digunakan di mana saja.
KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN FISIOLOGI BIBIT SEBAGAI ACUAN PEMILIHAN SPESIES UNTUK REHABILITASI HUTAN
Deforestasi hutan tropis Indonesia ditandai dengan penurunan tutupan hutan primer dari 55,7% menjadi 45,2% luas daratan antara tahun 2000–2022, dan program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yang diamanatkan Permen LHK Nomor 23 Tahun 2021 belum mencapai target dengan mortalitas bibit di lapangan mencapai 40–70% pada tahun pertama penanaman. Kegagalan ini bersumber dari ketidaksesuaian spesies dengan kondisi tapak dan minimnya data ekofisiologi lokal untuk mendukung seleksi spesies berbasis bukti ilmiah. Bibit yang tampak sehat di persemaian tidak menjamin kemampuan bertahan di lapangan, karena morfologi tidak mencerminkan kapasitas fisiologis aktual dalam menghadapi cekaman di tapak terbuka. Penelitian ini dilaksanakan di Persemaian Aklimatisasi ITB Kampus Jatinangor selama sebelas minggu, mengkaji tiga spesies hutan tropis untuk rehabilitasi, yaitu Khaya anthotheca (KA), Altingia excelsa (AE), dan Intsia bijuga (IB). Pengukuran morfologi mencakup tinggi, diameter batang, jumlah, ketebalan daun, dan Specific Leaf Area (SLA). Pengukuran fisiologi dilakukan menggunakan IRGA CI-340 pada intensitas cahaya 1.500 ?mol/m²/s, mencakup laju fotosintesis neto, transpirasi, konduktansi stomata, suhu daun, dan Water Use Efficiency (WUE), dilanjutkan kalkulasi Relative Growth Rate (RGR) dan uji ANOVA-Tukey HSD. KA sebagai spesies pionir mencatat konduktansi stomata tertinggi, suhu daun terendah, dan akselerasi pertumbuhan batang tertinggi pada periode akhir. AE sebagai spesies transisi menunjukkan tekanan termal kumulatif dengan kompensasi struktural parsial. IB sebagai spesies klimaks menerapkan strategi trade-off antara pertumbuhan primer dan sekunder disertai kapasitas re-growth daun pascagugur. Berdasarkan integrasi data morfofisiologi dan dinamika pertumbuhan, ketiga spesies direkomendasikan untuk ditanam secara bertahap sesuai zonasi suksesional sebagai dasar program rehabilitasi hutan tropis berbasis data ilmiah.
PENANGANAN SEDIMENTASI DI AREA PELABUHAN BATU BARA, SUNGAI BERAU, KALIMANTAN TIMUR
Pelabuhan Batu Bara di Sungai Berau, Kalimantan Timur, mengalami pendangkalan akibat sedimentasi, yang menurunkan kapasitas barging dari 7.000–7.200 ton (2024) menjadi 6.000–6.400 ton (2025) dan kedalaman efektif jetty dari 5,5–6 m menjadi ±4 m. Penelitian ini menganalisis karakteristik hidrologi-hidraulika penyebab sedimentasi serta merumuskan solusi penanganannya. DAS Berau memiliki luas 14.368 km² dengan CN 70,69 dan debit normal 821–1.111 m³/s. Pemodelan HEC-RAS menunjukkan kecepatan aliran di sekitar jetty 0,5 m/s (Q2) hingga 0,7 m/s (Q25); meski Q25 melampaui kecepatan kritis erosi lanau halus, probabilitas kejadiannya rendah (±4%/tahun) sehingga flushing alami tidak berlangsung berkelanjutan. Pada debit andalan 50%, laju sedimentasi tahunan mencapai 10–15 cm/tahun. Solusi yang dirumuskan adalah pengerukan menggunakan Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD), sesuai karakteristik material clayey silt, dengan luas area 12.150 m², kedalaman 2 m, dan volume keruk 24.300 m³. Hasil kerukan dibuang ke dumping area >12 mil laut sesuai Permenhub No. PM 125 Tahun 2018, dengan estimasi biaya ±Rp 6,74 miliar (±Rp 277.346/m³) dan pengerukan pemeliharaan setiap 4–6 tahun. Selain itu, teridentifikasi lahan kritis berpotensi erosi sangat berat di dekat badan sungai, sehingga direkomendasikan rehabilitasi vegetasi, pemulihan riparian buffer zone, dan pengaturan tata guna lahan untuk mendukung penanganan sedimentasi secara berkelanjutan.
PENGARUH DIGITAL LEADERSHIP DAN DIGITAL INNOVATION NETWORK TERHADAP PEMANFAATAN GENERATIVE AI SERTA DAMPAKNYA PADA PRODUKTIVITAS DAN PERTUMBUHAN UMKM
Kemunculan Generative Artificial Intelligence (GenAI) menghadirkan peluang strategis bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mengatasi keterbatasan sumber daya melalui efisiensi proses. Namun, faktor struktural yang mendorong UMKM memanfaatkan kapabilitas GenAI serta dampaknya terhadap kinerja organisasi belum banyak dikaji secara terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana digital leadership dan digital innovation network, sebagai faktor struktural UMKM, memengaruhi perilaku pemanfaatan GenAI, dan bagaimana pemanfaatan tersebut berdampak pada produktivitas serta pertumbuhan. Penelitian menggunakan paradigma Structure-Conduct-Performance (SCP) sebagai kerangka teoretis, dengan digital leadership dan digital innovation network diposisikan sebagai struktur, GenAI capability utilization sebagai perilaku organisasi, serta productivity dan growth sebagai dua dimensi kinerja. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dengan skala Likert 6 poin terhadap 103 responden pegawai UMKM yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan perangkat lunak SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digital leadership berpengaruh positif dan signifikan terhadap GenAI capability utilization, sementara digital innovation network tidak terbukti memiliki pengaruh langsung yang signifikan, namun mempengaruhi digital leadership. Pengaruh jejaring bisnis terhadap pemanfaatan GenAI bekerja melalui kepemimpinan digital. Dengan kata lain, paparan pimpinan UMKM pada jejaring bisnis membentuk orientasi dan visi digitalnya, dan justru lewat pimpinan ini pemanfaatan GenAI di organisasi terdorong. Selanjutnya, GenAI capability utilization berpengaruh positif dan signifikan terhadap productivity maupun growth, serta memediasi hubungan digital leadership dengan kedua dimensi kinerja. Temuan ini menempatkan kepemimpinan digital sebagai faktor struktural paling menentukan dalam pemanfaatan GenAI di UMKM, sekaligus sebagai saluran utama yang menerjemahkan paparan jejaring bisnis menjadi pemanfaatan teknologi dan kinerja organisasi.
EVALUASI RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN SEKITAR BIJB KERTAJATI UNTUK ANTISIPASI PERUBAHAN KEBIJAKAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN AEROTROPOLIS
Bandara tidak lagi berfungsi sekadar sebagai infrastruktur transportasi, tetapi juga sebagai penggerak pertumbuhan wilayah. Salah satu model yang banyak digunakan adalah Aerotropolis, yaitu konsep pengembangan kawasan yang menempatkan bandara sebagai pusat pertumbuhan. Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati diarahkan sebagai simpul pertumbuhan baru Jawa Barat dan dikendalikan oleh dua dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Namun, kedua dokumen tersebut disusun ketika BIJB masih diposisikan sebagai bandara komersial berbasis penumpang dan kargo. Terdapat arah perubahan yang muncul, yaitu rencana relokasi industri pertahanan dan Maintenance, Repair, and Overhaul pesawat yang menimbulkan pertanyaan mengenai relevansi substansi RDTR yang ada. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian RDTR yang berlaku di kawasan sekitar BIJB Kertajati terhadap konsep aerotropolis komersial atau industri pertahanan dan MRO. Metode yang digunakan adalah deskriptif-evaluatif. Kerangka evaluasi disusun dari sintesis literatur ke dalam tabel kriteria, komponen, dan indikator evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan, pada skenario aerotropolis komersial RDTR-KJ berada pada kategori “Sebagian Sesuai”, sedangkan RDTR-KKS kategori “Sesuai” meskipun berada tepat di batas bawahnya karena masih terdapat kebutuhan yang belum terakomodasi dalam perencanaan. Evaluasi terhadap kebutuhan industri pertahanan dan MRO menunjukkan kelas “Sebagian Sesuai” pada kedua dokumen karena belum adanya sub-zona atau ketentuan khusus bagi industri pertahanan serta belum terhubungnya secara spasial zona industri dengan BIJB. Kebaruan penelitian terletak pada kerangka evaluasi yang menilai substansi RDTR sekaligus terhadap konsep Aerotropolis dan kebutuhan industri pertahanan. Secara akademik, penelitian ini memperkaya kajian evaluasi substansi RDTR pada kawasan berbasis bandara dan secara praktis hasilnya menjadi dasar rekomendasi penyesuaian kebijakan tata ruang secara ex-ante terhadap isu perubahan fungsi kawasan.
PENGARUH PERBEDAAN SUMBER PIGMEN ALAMI DARI LIMBAH KULIT BAWANG MERAH, KUBIS MERAH, DAN KULIT BUAH NAGA TERHADAP KUALITAS PIGMEN SEBAGAI BAHAN BAKU LABEL INDIKATOR SMART PACKAGING
Limbah pangan di Indonesia mencapai 14,73 juta ton per tahun, di mana limbah kulit bawang merah (Allium cepa L.), kubis merah (Brassica oleracea var. capitata L.), dan kulit buah naga (Hylocereus polyrhizus L.) mengandung pigmen alami yang berpotensi tinggi sebagai bahan baku smart packaging dalam bentuk indikator kesegaran makanan, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Pigmen ini memiliki sifat halokromik yang sensitif terhadap perubahan pH. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh perbedaan sumber pigmen terhadap kualitas dan karakteristik ekstrak, serta menentukan sumber bahan baku yang paling efektif dan stabil sebagai indikator kesegaran makanan. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan sumber limbah yang diekstraksi menggunakan metode perkolasi. Parameter yang diamati meliputi rendemen, kadar total antosianin, pH, warna (hue angle), dan stabilitas warna terhadap perubahan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan sumber pigmen berpengaruh signifikan (P<0,05) terhadap seluruh parameter yang diuji. Limbah kubis merah merupakan sumber pigmen paling efektif dengan rendemen tertinggi sebesar 95,06%, kadar total antosianin 11,90 mg/100g, pH 5,16, dan nilai hue angle 18,8. Selain itu, kubis merah memiliki spektrum respon halokromik paling luas dan kontras pada rentang pH 2–12 (merah-ungu-biru-hijau), sehingga memudahkan deteksi visual penurunan kualitas pangan secara real-time. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pigmen dari kubis merah adalah kandidat terbaik untuk aplikasi indikator kesegaran pada smart packaging.
ANALISIS DISTRIBUSI KEPADATAN PENDUDUK MENGGUNAKAN CITRA QUICKBIRD DENGAN METODA LAND USE DENSITY
Kependudukan merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk pertumbuhan pembangunan. Dalam suatu perencanaan wilayah/kota, aspek kependudukan sangat penting karena perencanaan tersebut memang berawal dan kembali kepada penduduk itu sendiri. Untuk mendukung hal tersebut perlu informasi yang jelas mengenai distribusi kepadatan penduduk baik tekstual maupun spasial. Saat ini penyajian data jumlah penduduk yang dimiliki oleh BPS (Badan Pusat Statistik) masih bersifat homogen. Data jumlah penduduk yang dihitung dan disajikan masih berdasarkan wilayah administrastif, sehingga distribusi kepadatan penduduk yang digambarkan belum bisa mewakili keadaan yang sebenarnya. Pemanfaatan citra satelit Quickbird bisa digunakan sebagai solusi untuk menggambarkan distribusi kepadatan penduduk. Citra Quickbird yang memiliki ketelitian yang cukup tinggi mampu untuk mengidentifikasi permukiman dengan baik yang digunakan sebagai indikator untuk menganalisis distribusi kepadatan penduduk. Dengan menggunakan prinsip land use density, maka pola permukiman yang diidentifikasi bisa digunakan untuk mengambarkan distribusi kepadatan penduduk. Peta distribusi kepadatan penduduk yang didapatkan tidak lagi merupakan peta yang sifatnya homogen dengan terbatas pada wilayah administrasinya saja tetapi sudah bisa mewakili kondisi sebenarnya.
PROYEKSI CARBON LOSS PADA PEMODELAN LAND USE-LAND COVER (LULC) PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2020–2040 BERBASIS VARIASI SKENARIO IBU KOTA NUSANTARA (IKN)
Perubahan Land Use-Land Cover (LULC), khususnya deforestasi, merupakan isu penting yang berdampak pada ekosistem dan iklim global. Di Provinsi Kalimantan Timur, laju deforestasi yang tinggi akibat ekspansi perkebunan, pertanian, pertambangan, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menuntut adanya pemodelan spasial untuk memprediksi perubahan tutupan lahan serta dampaknya terhadap carbon loss. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan transisi LULC dominan, menentukan kategori deforestasi terbesar, menghitung carbon loss historis (periode 1990–2020) dan proyektif (2020–2030 dan 2020–2040), serta membandingkan skenario pembangunan IKN agar diperoleh skenario yang paling efektif dalam menekan carbon loss. Analisis dilakukan menggunakan peta tutupan lahan KLHK tahun 1990, 2000, 2011, dan 2020, analisis NDVI dari citra Landsat 5 dan Landsat 8 dengan threshold NDVI 0,4, serta pemodelan perubahan LULC dengan model CA Markov melalui Land Change Modeler (LCM) pada perangkat lunak TerrSet. Estimasi carbon loss dihitung menggunakan metode stock-change pada lima variasi skenario pembangunan IKN yang mencakup kondisi eksisting, Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), dan Protecting Forest Area (PFA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa transisi dominan berubah dari Hutan Lahan Kering Sekunder menjadi Semak Belukar (700 ribu ha) pada 1990–2000, dari Semak Belukar ke Pertanian Lahan Kering Campur (721 ribu ha) pada 2000–2011, dan dari Semak Belukar serta Hutan Lahan Kering Sekunder menjadi Perkebunan (504 ribu ha) pada 2011–2020. Kategori deforestasi terbesar periode 1990–2020 adalah Deforestasi menjadi Semak dan Padang Rumput seluas 718 ribu ha. Validasi model menghasilkan Kappa 0,7544 yang menunjukkan tingkat akurasi kuat dan layak untuk proyeksi lanjutan. Total carbon loss periode 1990–2020 mencapai sekitar 0,29 gigaton C atau 1,08 gigaton CO?e. Hasil pemodelan proyeksi 2020–2040 menunjukkan bahwa skenario pembangunan IKN dengan kebijakan PFA merupakan strategi yang paling efektif dalam menekan carbon loss. Dibandingkan skenario yang hanya menerapkan RDTR, penerapan PFA menghasilkan proyeksi carbon loss yang lebih rendah, sehingga perlindungan Hutan Alam menjadi faktor utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim di Provinsi Kalimantan Timur.
PENINGKATAN DAYA SAING KERAJINAN LIDI SINDANGHEULA MELALUI INOVASI DESAIN UNTUK PASAR GLOBAL
Desa Sindangheula, Kabupaten Serang, Banten, merupakan sentra kerajinan lidi terbesar di provinsinya, namun produknya masih terbatas pada sapu bernilai jual rendah akibat minimnya inovasi desain, meskipun Indonesia merupakan eksportir sapu lidi terbesar kedua dunia (US$29,32 juta pada 2023; LPEI, 2024). Untuk meningkatkan daya saing kerajinan tersebut, penelitian ini mengembangkan Sculptural Cross, sebuah side table berbahan utama lidi kelapa yang mengangkat lidi dari material komoditas menjadi material furnitur premium. Perancangan dilakukan melalui pendekatan Human Centered Design (HCD), dengan Asset Based Community Development (ABCD) untuk memetakan aset komunitas pengrajin merek kolektif SADILA sebagai pijakan keputusan desain. Produk dibentuk dengan menyilangkan dua modul bundel lidi menjadi struktur X yang sculptural, menonjolkan lengkung organik dan tekstur serat lidi sebagai identitas visual utama, lalu memadukannya dengan rangka serta tali baja nirkarat dan permukaan akrilik frosted untuk menjamin kekuatan dan konsistensi dimensi, sementara pengolahan dan perakitan tetap dikerjakan pengrajin lokal demi mempertahankan nilai craftsmanship. Melalui empat tahap iterasi, prototipe terbukti berdiri mandiri, menahan beban fungsional sebuah side table, dan memenuhi dimensi standar, sementara evaluasi kualitatif lingkup terbatas memberikan indikasi awal penerimaan desain. Sculptural Cross menjadi pembuktian konsep bahwa lidi kelapa layak menjadi material furnitur bernilai tambah tinggi dan berpotensi menyasar celah pasar furnitur premium berbasis serat alam yang dikonfirmasi melalui observasi IFEX 2026, dengan kerangka perancangan yang berpotensi direplikasi pada kerajinan komunitas tradisional lain di Indonesia.
PENILAIAN KUALITAS VEGETASI RIPARIAN MENGGUNAKAN INTEGRASI INDEKS QBR DAN ANALISIS SPASIAL SUNGAI CIKERUH KABUPATEN SUMEDANG DAN BANDUNG, JAWA BARAT
Kabupaten Bandung telah beberapa kali terjadi bencana banjir, yang disebabkan sungai sudah tidak mampu menampung air yang datang. Kondisi ini mendorong untuk melihat kondisi ekologi di area Sungai Cikeruh. Sungai Cikeruh mengalir di dua daerah yaitu Kabupaten Bandung dan Sumedang, yang berperan dalam mendukung fungsi ekologi dan hidrologinya. Tujuan penelitian untuk menilai kualitas vegetasi riparian Sungai Cikeruh berdasarkan indeks QBR (Qualitat del Bosc de Ribera) dengan indikator total cover, cover structure, cover quality vegetasi dan channel alteration pada zona riparian. Penilaian dilakukan dengan mengobservasi zona riparian Sungai Cikeruh. Metode QBR-GIS digunakan dengan menggunakan parameter penginderaan jauh Normalized Difference Vegetation Index, Soil Adjusted Vegetation Index, Canopy Height Model, slope, dan Normalized Difference Built-up Index. Pemilihan lokasi dilakukan menggunakan metode stratified random sampling untuk menggambarkan variasi kondisi lingkungan sepanjang aliran sungai. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan kondisi kualitas vegetasi riparian yang jelas antara bagian hulu, tengah, dan hilir Sungai Cikeruh, baik berdasarkan analisis lapangan maupun spasial. Pada bagian hulu nilai QBR lapangan sebesar 100, 100, dan 55 yang termasuk dalam kategori natural hingga fair. Pada bagian tengah Sungai Cikeruh, kondisi vegetasi riparian menunjukkan variasi yang lebih tinggi dengan nilai QBR lapangan sebesar 55 (fair), 75 (good), dan 23.32 (bad). Sementara itu, pada bagian hilir Sungai Cikeruh, kondisi vegetasi riparian mengalami degradasi yang signifikan dengan nilai QBR lapangan sebesar 30, 35, dan 30 yang seluruhnya berada dalam kategori poor. Secara hidrologi, kondisi ini berdampak pada meningkatnya kekeruhan air, fluktuasi debit yang lebih tinggi, serta peningkatan frekuensi banjir, terutama pada hilir Sungai Cikeruh yang berada pada Kabupaten Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas vegetasi riparian di Sungai Cikeruh mengalami gradasi yang sistematis dari hulu ke hilir sebagai respons terhadap intensitas tekanan antropogenik. Hal tersebut dikarenakan meningkatnya tekanan aktivitas manusia. Hasil analisis QBR berbasis GIS konsisten dengan data lapangan, menunjukkan bahwa parameter spasial (NDVI, SAVI, CHM, slope, NDBI) efektif dalam merepresentasikan kondisi biotik riparian secara cepat dalam skala luas. Terdapat hubungan yang kuat antara nilai QBR dengan kondisi hidrologi, dimana QBR dengan nilai tinggi memiliki kondisi hidrologi lebih baik, sedangkan QBR dengan nilai rendah memiliki kondisi hidrologi kurang baik.
ANALISIS DAMPAK BANJIR TERHADAP JARINGAN JALAN DAN DISTRIBUSI BAHAN BAKAR MINYAK (STUDI KASUS: KABUPATEN ACEH UTARA)
Distribusi bahan bakar minyak (BBM) sebagai komoditas strategis memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi jaringan jalan, sehingga rentan terhadap gangguan bencana yang mendegradasi kinerja jaringan jalan meskipun stok BBM berada pada level yang aman. Penelitian ini mengembangkan kerangka analisis terintegrasi berbasis jaringan yang menghubungkan estimasi cepat kedalaman genangan dengan evaluasi kinerja jaringan jalan dan sistem distribusi BBM, dengan studi kasus Kabupaten Aceh Utara pada kejadian banjir Sumatera November 2025. Kedalaman genangan diestimasi secara statis dari observasi aktual genangan hasil citra Synthetic Aperture Radar Sentinel-1 dengan data Digital Elevation Model, kemudian dikembangkan menjadi lima skenario kedalaman. Dampak genangan diterjemahkan ke dalam degradasi fungsional setiap ruas jalan menggunakan pendekatan berbasis graf, yang selanjutnya digunakan untuk mengevaluasi perubahan struktur dan aksesibilitas jaringan serta pengaruhnya terhadap redistribusi permintaan BBM yang dimodelkan berdasarkan kapasitas penyaluran dan hambatan waktu tempuh. Hasil menunjukkan bahwa pada kondisi terparah, connectivity index antar kecamatan turun hingga hanya sekitar seperenambelas kondisi normalnya, disertai fragmentasi spasial yang terdefinisi jelas antara kelompok kecamatan di wilayah barat dan timur. Fragmentasi ini memicu konsolidasi permintaan yang menghasilkan shortage di SPBU-SPBU tertentu, sementara terputusnya akses dari sejumlah kecamatan menuju seluruh SPBU menyebabkan terjadinya permintaan yang tidak tersalurkan sama sekali. Perbedaan ambang batas toleransi genangan antar jenis kendaraan menghasilkan kondisi di mana masyarakat lebih kesulitan mengakses SPBU dibandingkan kemampuan armada mobil tangki dalam menyalurkan pasokan. Dari sisi operasional, peningkatan waktu tempuh yang terjadi mengurangi kemampuan penyelesaian ritase harian setiap armada sehingga dibutuhkan lebih banyak armada pada kondisi banjir, meskipun seluruh SPBU tetap dapat dijangkau di semua skenario.