📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 57 dokumen

PROYEKSI PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KEANDALAN DEBIT DAS PROGO, WS PROGO OPAK SERANG, PROVINSI JAWA TENGAH – D.I YOGYAKARTA

Daerah Aliran Sungai (DAS) memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan sumber daya air, salah satunya sebagai sumber air baku. Pertumbuhan populasi dan urbanisasi meningkatkan konversi lahan, menurunkan kualitas lingkungan, dan menekan sumber daya alam. Kombinasi perubahan iklim dan konversi lahan memperburuk rezim aliran sungai, mengurangi fungsi konservasi air, dan meningkatkan risiko bencana hidrologi yang mempengaruhi ketersediaan air. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi eksisting dan proyeksi tutupan lahan dan curah hujan DAS Progo hingga tahun 2050, serta mengevaluasi keandalan DAS Progo dalam memenuhi kebutuhan air baku SPAM Kartamantul di bawah pengaruh perubahan iklim skenario SSP2-4.5 dan SSP5-8.5. Penelitian ini mengintegrasikan pendekatan penginderaan jauh dengan analisis model Cellular Automata-Markov Chain, pemodelan hidrologi F.J. Mock dan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi penutupan lahan DAS Progo pada tahun 2050 tetap didominasi penutupan lahan pertanian yaitu 75,4% dari total luas DAS dan terjadi peningkatan penutupan lahan tanpa tanaman sebanyak 6.4% pada tahun 2050. Proyeksi tahun 2050 curah hujan DAS Progo mengalami peningkatan pada skenario SSP 2-4.5 namun mengalami penurunan pada skenario SSP 5-8.5 dibandingkan kondisi eksisting. Proyeksi kebutuhan air di DAS Progo untuk wilayah layanan SPAM Kartamantul akan terus meningkat pada tahun 2050 hingga 4.206,42 l/s. Rata – rata debit andalan Q90 pada tahun 2050 untuk skenario SSP 2-4.5 adalah sebesar 72.150 l/s sedangkan skenario SSP 5-8.5 adalah sebesar 70.330 l/s. Kebutuhan air untuk SPAM Kartamantul dapat terpenuhi hingga tahun 2050 pada skenario SSP 2-4.5 dan SSP 5-8.5 (Supply > Demand). Indeks Konservasi DAS Progo tahun 2050 berstatus degradasi (IKc < IKa). Kawasan dengan status kritis menjadi 15,8% pada tahun 2050.

2025
👤 Penulis: Rizki Puji Lestari
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

ANALISIS PETA RISIKO DAN MITIGASI BENCANA BANJIR SUB-DAS CITEPUS PADA TINGKAT KELURAHAN/DESA

Sub-DAS Citepus sebagai bagian DAS Citarum Hulu, yang melintas dari Kota Bandung hingga Kabupaten Bandung adalah salah satu sungai dengan kondisi padat pemukiman dan sering terjadi banjir pada wilayah bantaran sungainya. Wilayah bantaran sungai yang telah dipadati pemukiman mengakibatkan kesulitan dalam pembangunan fisik sungai karena perlu pembebasan lahan, sehingga salah satu upaya dalam penurunan risiko bencana banjir adalah upaya mitigasi bencana. Penelitian ini bermaksud memodelkan dan menganalisis kondisi hidrologi dan hidraulika Sungai Citepus untuk mengetahui tingkat bahaya yang ditimbulkan, menganalisis kerentanan, memetakan risiko dan rekomendasi mitigasi sebagai dasar peningkatan kesiap-siagaan bencana banjir. Metode hidrologi yang digunakan meliputi analisis frekuensi Hydrognomon, pemodelan debit banjir HEC-HMS HSS SCS-CN dan Nakayasu, analisis hidraulika HEC-RAS 1D dan 2D, serta pemetaan QGIS. Validasi model dilakukan menggunakan NSE dan RMSE untuk pemodelan 1D dan IoU untuk pemodelan 2D. Hasil perhitungan debit banjir menunjukkan bahwa metode SCS-CN dipilih sebagai model terbaik dengan nilai NSE 80% dan RMSE 0.071 m. Pada pemodelan banjir 2D, kondisi 1 (muka air Sungai Citarum normal) menghasilkan kesesuaian sebesar 82,84%, sementara kondisi 2 (muka air Sungai Citarum Q20th) memberikan kesesuaian sebesar 81,08%. Kondisi 2 menunjukkan bahwa peningkatan muka air Sungai Citarum memberikan pengaruh terhadap muka air Sungai Citepus hingga ±1.700 meter ke arah hulu pada wilayah Kabupaten Bandung (RW 8 Cangkuang Wetan dan RW 11 Pasawahan). Analisis risiko menunjukkan bahwa pada kondisi 1 luas area berisiko sedang mencapai 141,1 ha dan risiko tinggi 122,71 ha, sedangkan pada kondisi 2 risiko sedang meningkat menjadi 147,27 ha dan risiko tinggi menjadi 122,78 ha. Rekomendasi mitigasi menunjukkan bahwa wilayah terdampak backwater dari Sungai Citarum perlu diarahkan ke lokasi aman seperti Kantor Kelurahan Cangkuang Wetan, sedangkan wilayah lain dapat dievakuasi sesuai elevasi rumah dan potensi kerusakan. Penelitian ini merekomendasikan penertiban bangunan di bantaran sungai, peningkatan kapasitas masyarakat terhadap kesiapsiagaan banjir, serta pemeliharaan rutin Sungai Citepus dan Sungai Citarum.

2025
👤 Penulis: Icha Efrita Arisiwe
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Analisis Risiko Bencana

PERANCANGAN SISTEM DRAINASE SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN BANJIR DI SUBSISTEM BANGER HULU, KOTA PEKALONGAN, PROVINSI JAWA TENGAH

Banjir merupakan masalah yang sering terjadi di Subsistem Banger Hulu, Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, akibat intensitas hujan tinggi, kapasitas drainase yang tidak memadai, pengaruh debit sungai, serta pengaruh pasang surut air laut. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem drainase yang efektif sebagai upaya pengendalian banjir di wilayah tersebut. Pengendalian banjir didasarkan pada curah hujan periode ulang 5 tahun untuk drainase, debit periode ulang 20 tahun untuk sungai, serta pasang surut untuk sungai bagian hilir. Pemodelan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemodelan hidraulika menggunakan perangkat lunak Personal Computer Storm Water Management Model (PCSWMM). Pemodelan banjir eksisting dilakukan terhadap tiga skenario untuk mengecek asal penyebab banjir, yaitu skenario debit dan pasang surut pada sungai, skenario hujan pada drainase, serta skenario gabungan debit, pasang surut, dan hujan. Alternatif solusi yang akan diterapkan dalam penelitian ini adalah pembuatan tanggul sheet pile, perbaikan saluran sekunder eksisting, penambahan saluran sekunder, penambahan pintu air, serta pengadaan pompa dan rumah pompa. Alternatif solusi yang terpilih adalah solusi gabungan dari setiap alternatif yang menunjukkan presentase reduksi luas genangan di permukiman sebesar 100% dengan mengabaikan kedalaman genangan yang lebih kecil dari 10 cm.

2025
👤 Penulis: Tesa Anggraeni
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Analisis Risiko Banjir

PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR SUBSISTEM PABEAN, KOTA PEKALONGAN, PROVINSI JAWA TENGAH

Kota Pekalongan, khususnya Subsistem Drainase Pabean, merupakan wilayah yang sering mengalami banjir akibat topografi dataran rendah, alih fungsi lahan, sedimentasi sungai, serta penurunan muka tanah. Penelitian ini bertujuan merencanakan sistem pengendalian banjir berbasis curah hujan periode ulang 5 tahun untuk drainase dan 20 tahun untuk inflow sungai. Upaya pengendalian dilakukan melalui penambahan kolam retensi yang dilengkapi dengan pompa berkapasitas 1.200 liter/detik. Analisis dilakukan menggunakan pemodelan hidraulika dengan bantuan perangkat lunak PCSWMM, baik 1D maupun 2D, untuk mengevaluasi genangan dan tinggi muka air banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa solusi yang direncanakan mampu mereduksi luas genangan sebesar 53,14% dari luas genangan eksisting. Berdasarkan analisis rencana anggaran biaya (RAB), Pembangunan sistem pengendalian banjir untuk Subsistem Pabean, Kota Pekalongan memerlukan biaya sebesar Rp26.315.420.253,30 (dua puluh enam miliar tiga ratus lima belas juta empat ratus dua puluh ribu dua ratus lima puluh tiga rupiah koma tiga puluh).

2025
👤 Penulis: M Faisal Pirdaus
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Analisis Biaya Pembangunan

PENENTUAN DAERAH RESAPAN SISTEM PANASBUMI KAMOJANG, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT

Lapangan panasbumi Kamojang yang terletak di Jawa Barat, Indonesia, merupakan salah satu kawasan panasbumi aktif yang telah dimanfaatkan sejak tahun 1983 sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) sekaligus lokasi wisata. Keberadaan mata air di sekitar daerah penelitian menjadi sumber air dan rekreasi yang penting bagi pengelola kawasan. Untuk menjaga fungsi hidrologi dan ekosistem mata air, diperlukan pemahaman terhadap daerah resapan dan karakteristik fluida. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daerah resapan pada sistem panasbumi berdasarkan interpretasi data isotop stabil 18O dan 2H, mengidentifikasi model hidrogeologi, menganalisis faktor geologi yang memengaruhi daerah resapan, serta mengevaluasi proses geokimia dan isotop yang terjadi pada fluida panasbumi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah resapan utama diprediksi berada di timur mata air panas di beberapa puncak gunung pada satuan yang setara dengan Qgpk (batuan gunungapi Guntur–Pangkalan dan Kendang) dan Qym (endapan gunungapi muda) pada peta geologi regional. Model konsep hidrogeologi disajikan pada Gambar IV.14. Faktor-faktor yang memengaruhi keberadaan daerah resapan meliputi elevasi, topografi, litologi, serta struktur berupa sesar dan sistem rekahan. Interpretasi geokimia menunjukkan bahwa mata air berada dekat dengan daerah resapan dan seluruh mata air panas belum mencapai kesetimbangan dengan batuan. Fluida mata air panas Manuk, Berecek, Kamojang, dan Cikahuripan berasal dari aktivitas vulkanik, sedangkan fluida mata air panas Hujan dan hot pool berasal dari pemanasan ulang oleh uap dari reservoir panasbumi. Interpretasi isotop menunjukkan bahwa daerah penelitian dipengaruhi oleh evaporasi dan air hujan berasal dari daratan atau vegetasi sekitar. Fluida di daerah penelitian dipengaruhi oleh sumber panasbumi atau magmatik, dan terjadi pencampuran (mixing) antara air meteorik yang terpanaskan oleh uap pada reservoir panasbumi dengan fluida hasil kondensasi.

2025
👤 Penulis: Rahel Tamita Ginting
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Geokimia

KAJIAN PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN LIMPASAN PERMUKAAN SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP KEBIJAKAN TATA RUANG (STUDI KASUS: SUB DAS CIKERUH)

Perubahan tata guna lahan merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi keseimbangan hidrologis suatu Daerah Aliran Sungai. Dinamika perubahan guna lahan khususnya di wilayah perkotaan seringkali meningkatkan limpasan permukaan (run-off) dan memperbesar risiko banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tata guna lahan di Sub DAS Cikeruh pada periode 2014 – 2024, menghitung dampaknya terhadap limpasan permukaan menggunakan metode Soil Conservation Service – Curve Number (SCS-CN), serta mengevaluasi implikasinya terhadap kebijakan tata ruang. Analisis dilakukan melalui pemrosesan citra penginderaan jauh, penghitungan nilai CN berdasarkan klasifikasi tutupan lahan, dan pengujian kesesuaian dengan kebijakan tata ruang yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan lahan signifikan dari lahan pertanian dan hutan menuju kawasan terbangun sehingga pada tahun 2024 proporsi lahan terbangun mencapai ±60% dari total wilayah. Perubahan tersebut meningkatkan nilai CN dari 78,40 (2014) menjadi 78,52 (2024) dan diproyeksikan naik hingga 80,06 berdasarkan skenario RTRW Provinsi Jawa Barat 2022 – 2042. Peningkatan CN menandakan penurunan kapasitas infiltrasi tanah dan kenaikan volume limpasan permukaan yang berimplikasi pada peningkatan risiko banjir. Evaluasi kebijakan menunjukkan adanya inkonsistensi antar dokumen tata ruang khususnya pada alokasi kawasan lindung yang dialihkan menjadi kawasan budidaya. Temuan ini menegaskan pentingnya sinkronisasi kebijakan tata ruang lintas wilayah dan level pemerintahan untuk menjaga fungsi ekologi Sub DAS Cikeruh sekaligus mengurangi risiko hidrometeorologi.

2025
👤 Penulis: Ikhsan Rahmawan
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Kebijakan Tata Ruang

DESAIN TANGGUL DAN JETTY PENGENDALI BANJIR DI MUARA SUNGAI CITARUM HILIR, JAWA BARAT

Sungai Sungai Citarum merupakan salah satu sungai terpenting di Pulau Jawa yang memiliki peran vital dalam mendukung sektor pertanian, industri, dan pemukiman. Sungai ini mengalir sejauh 297 km dari Situ Cisanti di Kabupaten Bandung hingga Muara Gembong di pesisir utara Jawa Barat. Sepanjang alirannya, Sungai Citarum menghadapi permasalahan banjir yang semakin meningkat baik dari sisi intensitas, frekuensi, maupun cakupannya. Berbagai faktor turut memengaruhi kondisi ini, seperti tingginya curah hujan, pasang surut air laut, penyempitan badan sungai akibat perubahan tata guna lahan, serta keterbatasan infrastruktur pengendalian banjir. Sistem pengendalian banjir yang ada saat ini dinilai belum mampu merespons kompleksitas permasalahan tersebut secara optimal. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang sistem penanggulangan banjir di wilayah hilir Sungai Citarum, khususnya pada segmen antara Waduk Jatiluhur hingga muara, melalui pembangunan tanggul dan jetty sebagai infrastruktur utama. Analisis dilakukan melalui pengumpulan data lingkungan seperti curah hujan, topografi, pasang surut, dan karakteristik tanah. Perhitungan debit banjir menggunakan Metode Hidrograf Satuan Sintesis Nakayasu, sementara pemodelan hidraulik dilakukan dengan perangkat lunak HEC-RAS. Data pasang surut diperoleh dari program ERGTide, dan analisis stabilitas tanggul dilakukan dengan bantuan perangkat lunak GEO5 menggunakan debit banjir dengan periode ulang 10 tahun sebagai dasar perencanaan. Hasil studi menunjukkan bahwa desain tanggul dan jetty yang disesuaikan dengan kondisi wilayah dapat meningkatkan efektivitas pengendalian banjir, khususnya di daerah hilir yang rawan genangan. Rancangan ini diharapkan dapat memberikan solusi teknis yang aplikatif untuk menurunkan risiko banjir secara signifikan serta mendukung keberlanjutan permukiman dan infrastruktur di sepanjang Sungai Citarum.

2025
👤 Penulis: Hilmy Taqiyuddin
🏷️ Desain Tanggul 🏷️ Analisis Hidraulik 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

KOMPILASI DAN VISUALISASI DATA HIDROLIK SUNGAI DI DAERAH KHUSUS JAKARTA SEBAGAI BAGIAN DARI DATA MASUKAN KAJIAN TANGGUL LAUT

Penelitian ini menganalisis perilaku hidraulik sungai-sungai utama di Provinsi Daerah Khusus Jakarta serta keterkaitannya dengan kejadian banjir, dengan fokus pada parameter tinggi muka air (TMA), debit aliran, dan curah hujan. Data yang digunakan mencakup pengamatan harian selama 18 tahun terakhir dari pos-pos pemantauan yang tersebar di wilayah hulu hingga hilir. Hasil analisis menunjukkan adanya pola kenaikan TMA dan debit yang signifikan pada periode hujan tinggi, terutama di titik-titik hilir sungai yang berdekatan dengan kawasan padat penduduk, sehingga berpotensi menjadi lokasi rawan banjir. Fenomena banjir besar juga diidentifikasi memiliki keterkaitan kuat dengan curah hujan tinggi di wilayah hulu dan hilir secara bersamaan, namun proses analisis tidak bisa dilakukan lebih jauh karena keterbatasan data yang diterima. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian data memiliki kekosongan (missing data) dan anomali yang tidak dapat dijelaskan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), sementara data kosong di Dinas Sumber Daya Air (SDA) sebagian besar memiliki justifikasi teknis terkait gangguan alat atau kondisi lapangan. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan kualitas data hidrologi untuk mendukung perencanaan pengendalian banjir yang berbasis bukti. Rekomendasi diarahkan pada penguatan sistem monitoring, perbaikan infrastruktur sungai, dan integrasi data antar lembaga sebagai langkah strategis untuk mitigasi banjir yang lebih efektif.

2025
👤 Penulis: Zahrani Fitriana Putri Nabila
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Analisis Data Masukan

PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI CIWARU, KABUPATEN PANDEGLANG, PROVINSI BANTEN

Sungai Ciwaru sudah dikenal dengan fenomena banjir yang terus terjadi setiap tahunnya. Pada Sungai Ciwaru, banjir yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh adanya input pasang surut melainkan disebabkan oleh meluapnya Sungai Ciwaru sebagai akibat dari berkurangnya kapasitas penampang Sungai Ciwaru akibat sedimentasi. Penanganan banjir secara menyeluruh dari hulu ke hilir sungai diperlukan untuk meminimalisir limpasan banjir di wilayah Sungai Ciwaru. Tujuan dari kajian ini adalah menganalisis dan merencanakan desain struktur penanggulangan banjir pada Sungai Ciwaru, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Debit desain yang digunakan diestimasikan dengan hidrograf satuan sistesis metode SCS-Snyder yang diverifikasi terhadap kondisi pengukuran debit di lapangan. Adapun debit desain yang digunakan adalah debit hulu Sungai Ciwaru periode ulang 20 tahun sebesar 25.19 m3/s. Struktur yang direncanakan adalah tanggul atau sheet piles pada tepi sungai. Pemodelan hidraulika dilakukan dengan menggunakan perangkat HEC-HMS dan HEC-RAS. Fitur yang digunakan dalam pemodelan menggunakan perangkat lunak HEC-RAS adalah 1D (satu dimensi) yang meninjau perbandingan antara tinggi muka air banjir dengan elevasi tepi sungai. Kondisi eksisting kapasitas aliran Sungai Ciwaru mampu mengalirkan debit bankfull dengan periode ulang 1.1 tahun. Sehingga, setiap tahunnya kemungkinan besar (90.9%) akan ada setidaknya satu ruas atau lebih Sungai Ciwaru yang melimpas. Metode pengendalian banjir pada Sungai Ciwaru dilakukan secara bertahap. Mulai dari skenario normalisasi. Untuk alternatif 1 panjang sungai yang dinormalisasi sebesar 2,922.3 m dengan lebar 8 m, sedangkan alternatif 2 panjang sungai yang dinormalisasi sebesar 2,922.3 m dengan lebar 10 m. Karena masih terdapat ruas yang melimpas/overflow (32.26%) maka dilakukan penanganan berupa pemasangan sheet piles pada ruas Sungai Ciwaru yang masih melimpas, dimana persentase overflow yang didapatkan tidak ada yang melimpas (0.00%). Alternatif 1 memerlukan tinggi elevasi sheet piles +3.58 m dan panjang 972 m, sedangkan alternatif 2 memerlukan tinggi elevasi sheet piles +4.25 m dengan panjang 3,671 m. Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang diperlukan untuk alternatif 1 sebesar Rp.9,492,778,000 dan untuk alternatif 2 sebesar Rp. 10,207,918,000.

2025
👤 Penulis: Abdul Ghany
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Analisis Risiko Banjir

EVALUASI DAN PERANCANGAN SISTEM DRAINASE BERBASIS KONSEP ECO DRAINASE SEBAGAI UPAYA KONSERVASI AIR DI UNIVERSITAS PADJDJARAN KAMPUS JATINANGOR

Perkembangan pesat Universitas Padjadjaran (UNPAD) Kampus Jatinangor meningkatkan luasan lahan terbangun, berdampak pada penurunan area resapan alami dan peningkatan volume limpasan air hujan. Meskipun telah mengimplementasikan berbagai infrastruktur konservasi air, sistem yang ada belum terintegrasi secara optimal untuk mengelola limpasan di kawasan padat infrastruktur kampus. Kondisi ini menuntut sistem drainase berbasis lingkungan (eco drainage) yang mampu menahan, menyerap, dan memanfaatkan kembali air hujan di lokasi jatuhnya sebagai alternatif strategis yang mengintegrasikan fungsi hidrologis dengan prinsip keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi sistem drainase eksisting dan merancang eco drainage di UNPAD Kampus Jatinangor (Zona I, III, dan IV) guna mitigasi genangan (flooding) dan konservasi air. Analisis hidrologi dan hidraulika mengidentifikasi titik-titik genangan signifikan akibat kapasitas saluran drainase yang tidak memadai pada Puncak Hujan Desain (PUH) 2 dan PUH 5. Perencanaan ecodrain difokuskan pada konservasi kuantitas air, dengan Rainwater Harvesting (RWH) terpilih sebagai teknologi utama untuk zona tersebut. Meskipun RWH diterapkan pada lima gedung yang sesuai, simulasi PCSWMM menunjukkan genangan masih terdeteksi, sehingga diperlukan redesain dua segmen saluran drainase eksisting untuk meningkatkan kapasitas sistem. Biaya total yang dianggarkan untuk pembangunan RWH (CAPEX) adalah sebesar Rp 531.106.623,00, OPEX RWH sebesar 82.565.970,00/tahun. Sementara itu, biaya redesain saluran mencapai Rp358.272.360,00.

2025
👤 Penulis: Raihan, M.B
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Konservasi Lingkungan

EVALUASI DAN PERANCANGAN SISTEM DRAINASE BERBASIS KONSEP ECODRAINAGE SEBAGAI UPAYA KONSERVASI AIR DI UNIVERSITAS PADJADJARAN KAMPUS JATINANGOR

Perubahan tata guna lahan dan meningkatnya limpasan permukaan akibat urbanisasi mengakibatkan tingginya resiko genangan (flooding) di kawasan Universitas Padjadjaran Kampus Jatinangor. Perancangan ini bertujuan untuk mengevaluasi dan merancang sistem drainase pada Wilayah B seluas ±31,5 ha dengan menerapkan konsep eco-drainage sebagai strategi pengelolaan limpasan dan konservasi air. Teknologi yang diterapkan meliputi swale, kolam detensi (detention basin), dan rainwater harvesting (RWH), yang dianalisis melalui simulasi menggunakan perangkat lunak PCSWMM dengan skenario hujan rencana PUH 5 durasi 6 jam. Simulasi mencakup tiga skenario: kondisi eksisting, penerapan eco-drainage, dan redesain saluran. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting terjadi genangan di titik JB49, JB62, JB7, JB71, dan JB73. Penerapan eco-drainage mampu menurunkan volume genangan pada JB49 dari 0,935 × 10?6 liter menjadi 0,151 × 10?6 liter dan pada JB73 dari 0,149 × 10?6 liter menjadi 0,149 × 10?6 liter. Karena keterbatasan ruang untuk perancangan eco-drainage, dilakukan redesain saluran konvensional yang menghasilkan eliminasi genangan di seluruh titik Wilayah B. Hasil evvaluasi dan perancangan ini menunjukkan bahwa integrasi eco-drainage dengan optimasi saluran konvensional mampu mengurangi resiko banjir lokal secara signifikan serta mendukung upaya konservasi air dalam skala kawasan kampus.

2025
👤 Penulis: Rubbanayah Salwa Rattubait
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Kecerdasan Buatan

OPTIMALISASI UNIT INTAKE, GRIT CHAMBER DAN PENGOLAHAN LUMPUR INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) PULOGADUNG JAKARTA TIMUR

Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pulogadung adalah salah satu fasilitas utama penyediaan air minum di wilayah Jakarta Timur yang dikelola oleh Perumda PAM Jaya Jakarta. Seiring meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan air bersih, kapasitas operasional IPA ini telah ditingkatkan secara bertahap sampai berkapasitas 4.600 liter per detik. Namun, peningkatan kapasitas tersebut belum diiringi dengan penyesuaian atau optimalisasi pada unit-unit pengolahan yang ada. Hal ini berdampak pada turunnya kinerja beberapa unit pengolahan. Akibatnya, beban kerja pada unit-unit pengolahan meningkat dan potensi gangguan operasional pun bertambah. Unit intake akan ada penambahan coarse screen. penambahan coarse screen di bagian hulu saluran masuk dengan bukaan 0,05 m dan lebar batang 0,05 m. Unit grit chamber hanya akan meningkatan frekuensi pembersihan lumpur saja yang dulunya dari 2 hari sekali menjadi 1 kali sehari. Unit pengolahan lumpur akan membuat suatu tempat penyimpanan sementara utuk lumpur kering atau lumpur yang sudah di dewatering oleh decanter. Tempat penyimpanan lumpur akan memiliki 2 ruang yang dipisahkan oleh sekat yang memiliki tinggi 1,5 meter. Untuk ukuran dari tempat penyimpanan ini memiliki panjang 17,4 meter, lebar 8,7 meter, dan bagian lantai akan memiliki kemiringan 1 derajat untuk mengalirkn air ke saluran drainase yang ada di depan. Perencanaan optimalisasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pulogadung ini akan memakan biaya investasi sebesar Rp 23.769.755.107 dengan biaya operasional dan pemeliharaan setiap tahunnya mencapai Rp137.617.266.767. Setelah dilakukan analisis ekonomi berdasarkan nilai NPV dan BCR, optimalisasi ini dinilai layak secara ekonomi dengan nilai NPV sebesar Rp 2.557.602.382.138 dan BCR sebesar 3,38.

2025
👤 Penulis: Resky Bida Sitandi
🏷️ Optimisasi Pengolahan Air 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Analisis Ekonomi

PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR KALI PESANGGRAHAN BAGI PERUMAHAN KEDOYA SELATAN, JAKARTA BARAT

Sungai Pesanggrahan, atau yang biasa disebut Kali Pesanggrahan oleh masyarakat sekitar, merupakan sungai yang mengalir melalui tiga provinsi di Indonesia, yaitu dari Kabupaten Bogor di Provinsi Jawa Barat, melintasi Kota Depok dan wilayah Jakarta Selatan di Provinsi DKI Jakarta, hingga bermuara di Kota Tangerang, Provinsi Banten. Sungai ini memiliki luas daerah aliran sungai (DAS) sebesar 112,50 km² dan panjang aliran sekitar 66,7 km, serta dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane. Aliran Sungai Pesanggrahan yang melewati kawasan permukiman, seperti di Kedoya Selatan, menjadi salah satu penyebab utama terjadinya banjir yang berdampak signifikan bagi masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem pengendalian banjir yang efektif berdasarkan pendekatan teknik sipil, guna menampung debit banjir rencana. Alternatif pengendalian yang dikaji meliputi pembangunan tanggul dengan turap beton dan normalisasi penampang sungai. Pemodelan hidraulika dilakukan menggunakan perangkat lunak HEC-HMS dan HEC-RAS dengan pendekatan dua dimensi (2D), untuk menganalisis perbandingan tinggi muka air banjir terhadap elevasi tepi sungai. Pemodelan ini juga digunakan untuk mengidentifikasi titik rawan banjir serta merancang tanggul dan penampang sungai yang dinormalisasi. Selain itu, analisis kestabilan geoteknik dilakukan untuk menentukan kedalaman pondasi dan dimensi turap beton yang direncanakan. Analisis manajemen rekayasa konstruksi turut dilakukan sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan alternatif berdasarkan estimasi biaya konstruksi. Berdasarkan hasil pemodelan, diperoleh rancangan sistem pengendalian banjir untuk debit kala ulang 25 tahun dengan menggunakan turap beton dan normalisasi penampang pada titik-titik tertentu di ruas Sungai Pesanggrahan.

2025
👤 Penulis: Erica Tannia
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Teknik Sipil

PENGARUH POLA ANGKUTAN SEDIMEN TERHADAP PERUBAHAN MORFOLOGI SUNGAI CITARUM–MAJALAYA PASCANORMALISASI

Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum mengalami degradasi lingkungan yang signifikan akibat perubahan tata guna lahan yang masif untuk pertanian dan urbanisasi. Kondisi ini memicu erosi lahan di daerah hulu, yang menyebabkan sedimentasi tidak terkendali di daerah Majalaya. Akibatnya, kapasitas tampung Sungai Citarum terus berkurang, sehingga meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir. Studi ini bertujuan untuk menganalisis perubahan morfologi Sungai Citarum–Majalaya dan implikasinya terhadap peningkatan risiko banjir pascanormalisasi yang dilakukan pada tahun 2020. Pemodelan numerik menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 6.4.1 2D dilakukan dalam dua tahap: tahap validasi (Mei 2020–Januari 2022) menggunakan data batimetri, MERIT DEM, debit SWAT+, data sedimen berupa grain size dan sediment rating curve; serta tahap proyeksi (hingga tahun 2032) menggunakan debit rata-rata harian historis. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara estimasi sediment yield tahunan berbasis lahan (USLE: 210.949,76 ton/tahun; MUSLE: 218.784,54 ton/tahun) dengan metode berbasis pengukuran sungai (Batimetri: 12.688,80 ton/tahun; SRC: 27.036,90 ton/tahun). Perbedaan ini mengindikasikan bahwa sekitar 87,64% dari total erosi lahan terperangkap di hulu oleh faktor geomorfologi dan infrastruktur seperti check dam dan bendung sebelum mencapai outlet. Ditemukan pula bahwa laju sedimentasi pascanormalisasi terjadi lebih cepat (kapasitas 50% terisi dalam 7 tahun proyeksi) dibandingkan kondisi pranormalisasi (11 tahun), karena alur yang baru dikeruk berfungsi sebagai perangkap sedimen yang efisien. Selain itu, laju sedimentasi yang teramati di lapangan lebih cepat dari hasil proyeksi model akibat terjadinya kondisi 'tahun basah' (2020-2022) dengan debit puncak yang lebih tinggi dari rata-rata historis. Model sedimentasi HEC-RAS 2D berhasil divalidasi dengan akurasi sangat tinggi (selisih volume deposisi 3,2%) menggunakan kombinasi fungsi transpor "Yang" dan kecepatan jatuh "van Rijn". Dalam dua tahun pascanormalisasi, proses sedimentasi terbukti telah mengurangi kapasitas tampung sungai sebesar 23%, dengan laju rata-rata sedimentasi sebesar 1,9 cm/bulan, sehingga didapatkan ketebalan sedimen maksimum 2,84 meter dengan rata-rata 40 cm. Simulasi proyeksi 10 tahun menunjukkan bahwa manfaat normalisasi bersifat sementara. ii Terjadi peningkatan laju rata-rata sedimentasi sebesar 11 cm/tahun, sehingga didapatkan ketebalan sedimen maksimum 4,54 meter dengan rata-rata 1,42 meter, dan sisa kapasitas tampung sungai diproyeksikan hanya 46,30% pada akhir tahun 2032. Peningkatan risiko banjir terbukti signifikan; debit kala ulang 2 tahun (Q2), yang sebelumnya aman pada tahun 2020, telah menyebabkan genangan seluas 0,91 hektar pada tahun 2022. Studi ini menyimpulkan bahwa normalisasi hanya memberikan solusi jangka pendek terhadap laju sedimentasi yang masif. Oleh karena itu, direkomendasikan sebuah strategi pengelolaan berkelanjutan yang mengintegrasikan penanganan gejala di hilir dengan akar permasalahan di hulu. Ini meliputi pembangunan check dam dan sediment trap, rehabilitasi hutan dan lahan, penerapan teknik konservasi tanah dan air, serta pengerukan sungai secara terjadwal dengan siklus setiap 2–3 tahun untuk menjaga tingkat layanan pengendalian banjir secara efektif.

2025
👤 Penulis: Siti Aisyah Nurul Qolbi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Analisis Sedimentasi

PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR KALI KAMAL, KOTA JAKARTA UTARA, PROVINSI DKI JAKARTA

Banjir sering menjadi persoalan bagi masyarakat, terutama di daerah perkotaan, seperti Jakarta. Kali Kamal, yang terletak di Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta, merupakan area yang sering mengalami permasalahan banjir. Kondisi ini disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, antara lain kapasitas alur sungai yang tidak memadai untuk menampung debit puncak, pengaruh pasang surut air laut (rob), tingginya curah hujan, serta besarnya volume limpasan permukaan (runoff). Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan sistem pengendalian banjir yang efektif untuk mengatasi masalah tersebut. Metodologi penelitian menggunakan data sekunder yang dianalisis secara hidrologi dan hidraulika. Analisis hidrologi untuk menghitung debit banjir rencana dilakukan dengan bantuan perangkat lunak QGIS dan HEC-HMS. Selanjutnya, analisis hidraulika untuk memodelkan genangan dan mengevaluasi alternatif solusi penanganan banjir dilakukan menggunakan perangkat lunak HEC-RAS. Dari beberapa alternatif yang dimodelkan, solusi kombinasi antara normalisasi sungai, pembangunan tanggul pengaman, dan peningkatan kapasitas pompa di rumah pompa hilir menjadi 75 m3/s. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa penerapan solusi kombinasi ini mampu mereduksi volume banjir rencana secara signifikan, yaitu sebesar 62%. Oleh karena itu, alternatif terpilih direkomendasikan sebagai solusi teknis yang komprehensif untuk pengendalian banjir di Kali Kamal.

2025
👤 Penulis: Zahra Divani
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Analisis Sistem Pengendalian Banjir
Halaman 2 dari 4
💬