📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 23 dokumen

PEMETAAN RISIKO BENCANA KAWASAN SESAR LEMBANG SECARA PARTISIPATIF

Pemetaan risiko bencana merupakan langkah penting dalam upaya mitigasi dan pengurangan dampak bencana terutama untuk wilayah yang rawan bencana seperti Kawasan Sesar Lembang. Capstone Project ini bertujuan untuk memetakan risiko bencana di Kawasan Sesar Lembang secara partisipatif, dengan melibatkan masyarakat setempat dalam pengumpulan data dan proses analisisnya. Area studi untuk pemetaan risiko bencana ini adalah 19 RW yang berada di 4 desa yakni Desa Gudangkahuripan, Lembang, Pagerwangi, dan Langensari. Peta risiko bencana ini disajikan dalam skala yang besar disebabkan belum tersedianya peta risiko bencana berskala besar untuk wilayah ini. Metode yang digunakan pada project ini meliputi survei lapangan, wawancara langsung, dan pengolahan data-data sekunder. Seluruh data tersebut akan digunakan dalam perhitungan seluruh indikator penyusun faktor risiko kebencanaan seperti bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Data-data tersebut diolah dan dianalisis menggunakan Sistem Informasi Geografis untuk menghasilkan peta risiko bencana yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 19 RW di Kawasan Sesar Lembang memiliki indeks rata-rata tingkat risiko bencana yang tinggi untuk gempa bumi dan tingkat sedang untuk tanah longsor. Peta risiko bencana yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar untuk perencanaan dan pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana di Kawasan Sesar Lembang serta dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana yang ada di Kawasan Sesar Lembang.

2024
👤 Penulis: Muhammad Firman Hafizh
🏷️ Geografi Bencana 🏷️ Manajemen Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA GERAKAN TANAH DI KABUPATEN LEBAK

Kabupaten Lebak menempati posisi 15 dari 514 kabupaten dan kota dengan indeks risiko bencana tertinggi. Beragam jenis bencana terjadi di Kabupaten Lebak, beberapa diantaranya disebabkan oleh pergerakan tanah. Pada tahun 2023, Kabupaten Lebak mengalami kerugian 200 miliar hingga menelan korban jiwa akibat bencana tersebut. Demi meminimalisasi dampak buruk, diperlukan sebuah informasi yang dapat dijadikan dasar acuan untuk membuat kebijakan penanggulangan bencana. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah di Kabupaten Lebak dapat menjadi solusi yang dipilih untuk mengurangi dampak buruk bencana pergerakan tanah. Peta risiko sebenarnya selalu diproduksi secara berkala setiap 5 tahun sekali oleh BNPB. Namun, mengingat masih banyaknya kejadian bencana dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, maka proyek ini akan memperbarui peta risiko yang telah dibuat. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah disusun mengikuti petunjuk yang ada pada Buku RBI tahun 2016 dan Modul Teknis KRB Tanah Longsor tahun 2019. Peta risiko terbentuk dari hasil penggabungan peta bahaya, kerentanan, serta kapasitas. Ketiga peta penyusun tersebut disusun dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Selain itu, dilakukan pengukuran langsung dengan menggunakan GNSS untuk mengetahui vektor pergerakan tanah yang terjadi di wilayah sampel. Peta yang dihasilkan pada proyek kali ini telah tervalidasi sehingga dapat dikatakan sudah cukup baik.

2024
👤 Penulis: Fajar Catur Nugroho
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Risiko Bencana 🏷️ Pengukuran Geografi

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA GERAKAN TANAH DI KABUPATEN LEBAK

Kabupaten Lebak menempati posisi 15 dari 514 kabupaten dan kota dengan indeks risiko bencana tertinggi. Beragam jenis bencana terjadi di Kabupaten Lebak, beberapa diantaranya disebabkan oleh pergerakan tanah. Pada tahun 2023, Kabupaten Lebak mengalami kerugian 200 miliar hingga menelan korban jiwa akibat bencana tersebut. Demi meminimalisasi dampak buruk, diperlukan sebuah informasi yang dapat dijadikan dasar acuan untuk membuat kebijakan penanggulangan bencana. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah di Kabupaten Lebak dapat menjadi solusi yang dipilih untuk mengurangi dampak buruk bencana pergerakan tanah. Peta risiko sebenarnya selalu diproduksi secara berkala setiap 5 tahun sekali oleh BNPB. Namun, mengingat masih banyaknya kejadian bencana dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, maka proyek ini akan memperbarui peta risiko yang telah dibuat. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah disusun mengikuti petunjuk yang ada pada Buku RBI tahun 2016 dan Modul Teknis KRB Tanah Longsor tahun 2019. Peta risiko terbentuk dari hasil penggabungan peta bahaya, kerentanan, serta kapasitas. Ketiga peta penyusun tersebut disusun dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Selain itu, dilakukan pengukuran langsung dengan menggunakan GNSS untuk mengetahui vektor pergerakan tanah yang terjadi di wilayah sampel. Peta yang dihasilkan pada proyek kali ini telah tervalidasi sehingga dapat dikatakan sudah cukup baik.

2024
👤 Penulis: Wildan Fatih Gunawan
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Risiko Bencana 🏷️ Pengukuran Geografi

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA GERAKAN TANAH DI KABUPATEN LEBAK

Kabupaten Lebak menempati posisi 15 dari 514 kabupaten dan kota dengan indeks risiko bencana tertinggi. Beragam jenis bencana terjadi di Kabupaten Lebak, beberapa diantaranya disebabkan oleh pergerakan tanah. Pada tahun 2023, Kabupaten Lebak mengalami kerugian 200 miliar hingga menelan korban jiwa akibat bencana tersebut. Demi meminimalisasi dampak buruk, diperlukan sebuah informasi yang dapat dijadikan dasar acuan untuk membuat kebijakan penanggulangan bencana. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah di Kabupaten Lebak dapat menjadi solusi yang dipilih untuk mengurangi dampak buruk bencana pergerakan tanah. Peta risiko sebenarnya selalu diproduksi secara berkala setiap 5 tahun sekali oleh BNPB. Namun, mengingat masih banyaknya kejadian bencana dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, maka proyek ini akan memperbarui peta risiko yang telah dibuat. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah disusun mengikuti petunjuk yang ada pada Buku RBI tahun 2016 dan Modul Teknis KRB Tanah Longsor tahun 2019. Peta risiko terbentuk dari hasil penggabungan peta bahaya, kerentanan, serta kapasitas. Ketiga peta penyusun tersebut disusun dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Selain itu, dilakukan pengukuran langsung dengan menggunakan GNSS untuk mengetahui vektor pergerakan tanah yang terjadi di wilayah sampel. Peta yang dihasilkan pada proyek kali ini telah tervalidasi sehingga dapat dikatakan sudah cukup baik.

2024
👤 Penulis: Bummy Akbar
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Risiko Bencana 🏷️ Pengukuran Geografi

INTEGRASI DATA POINT CLOUD MULTI SOURCES UNTUK IDENTIFIKASI BANGUNAN YANG TERKENA DAMPAK BENCANA GEOLOGI DI KABUPATEN LEBAK

Kabupaten Lebak, terletak di Provinsi Banten, merupakan daerah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana alam, khususnya tanah longsor. Karakteristik geografis kabupaten ini yang terdiri dari daerah perbukitan dan pegunungan, ditambah dengan curah hujan yang tinggi, meningkatkan risiko terjadinya tanah longsor secara signifikan. Dampak dari bencana ini tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan kerugian ekonomi, tetapi juga merusak infrastruktur dan bangunan. Oleh karena itu, pada project ini dilakukan identifikasi kerusakan bangunan secara akurat agar dapat dilakukan evaluasi kebencanaan secara tepat. Proses awal dilakukan identifikasi fenomena pergerakan tanah yang diturunkan dari data InSAR untuk menentukan wilayah yang berisiko tinggi. Selanjutnya, survei lapangan dilakukan dan rekomendasi untuk memvalidasi area yang teridentifikasi sehingga menghasilkan pemilihan Kecamatan Cikulur untuk analisis lebih lanjut. Untuk mengetahui dampak kerusakan bangunan secara detail, dilakukan pengintegrasian data point cloud LiDAR dan TLS dengan objek MTs Ar-Ribathiyyah Cikulur. Dari hasil integrasi dua sumber point cloud tersebut didapatkan RMSE 0,265 mm, dengan hasil penggabungan tersebut akan dibuat Model 3D BIM. Model 3D BIM memiliki kedalaman detail dan informasi pada LOD300 yang mencakup atribut informasi kondisi bangunan, termasuk hasil analisis vertikalitas bangunan, sehingga asesmen terhadap kelayakan bangunan dapat dilakukan secara kuantitatif.

2024
👤 Penulis: Resy Meilani
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Data Point Cloud 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA GERAKAN TANAH DI KABUPATEN LEBAK

Kabupaten Lebak menempati posisi 15 dari 514 kabupaten dan kota dengan indeks risiko bencana tertinggi. Beragam jenis bencana terjadi di Kabupaten Lebak, beberapa diantaranya disebabkan oleh pergerakan tanah. Pada tahun 2023, Kabupaten Lebak mengalami kerugian 200 miliar hingga menelan korban jiwa akibat bencana tersebut. Demi meminimalisasi dampak buruk, diperlukan sebuah informasi yang dapat dijadikan dasar acuan untuk membuat kebijakan penanggulangan bencana. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah di Kabupaten Lebak dapat menjadi solusi yang dipilih untuk mengurangi dampak buruk bencana pergerakan tanah. Peta risiko sebenarnya selalu diproduksi secara berkala setiap 5 tahun sekali oleh BNPB. Namun, mengingat masih banyaknya kejadian bencana dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, maka proyek ini akan memperbarui peta risiko yang telah dibuat. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah disusun mengikuti petunjuk yang ada pada Buku RBI tahun 2016 dan Modul Teknis KRB Tanah Longsor tahun 2019. Peta risiko terbentuk dari hasil penggabungan peta bahaya, kerentanan, serta kapasitas. Ketiga peta penyusun tersebut disusun dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Selain itu, dilakukan pengukuran langsung dengan menggunakan GNSS untuk mengetahui vektor pergerakan tanah yang terjadi di wilayah sampel. Peta yang dihasilkan pada proyek kali ini telah tervalidasi sehingga dapat dikatakan sudah cukup baik.

2024
👤 Penulis: Muhammad Akbarrudin
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Risiko Bencana 🏷️ Pengukuran Geografi

PEMETAAN RISIKO BENCANA KAWASAN SESAR LEMBANG SECARA PARTISIPATIF

Pemetaan risiko bencana merupakan langkah penting dalam upaya mitigasi dan pengurangan dampak bencana terutama untuk wilayah yang rawan bencana seperti Kawasan Sesar Lembang. Capstone Project ini bertujuan untuk memetakan risiko bencana di Kawasan Sesar Lembang secara partisipatif, dengan melibatkan masyarakat setempat dalam pengumpulan data dan proses analisisnya. Area studi untuk pemetaan risiko bencana ini adalah 19 RW yang berada di 4 desa yakni Desa Gudangkahuripan, Lembang, Pagerwangi, dan Langensari. Peta risiko bencana ini disajikan dalam skala yang besar disebabkan belum tersedianya peta risiko bencana berskala besar untuk wilayah ini. Metode yang digunakan pada project ini meliputi survei lapangan, wawancara langsung, dan pengolahan data-data sekunder. Seluruh data tersebut akan digunakan dalam perhitungan seluruh indikator penyusun faktor risiko kebencanaan seperti bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Data-data tersebut diolah dan dianalisis menggunakan Sistem Informasi Geografis untuk menghasilkan peta risiko bencana yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 19 RW di Kawasan Sesar Lembang memiliki indeks rata-rata tingkat risiko bencana yang tinggi untuk gempa bumi dan tingkat sedang untuk tanah longsor. Peta risiko bencana yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar untuk perencanaan dan pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana di Kawasan Sesar Lembang serta dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana yang ada di Kawasan Sesar Lembang.

2024
👤 Penulis: Fajar Husaini Syuhada
🏷️ Geografi Bencana 🏷️ Manajemen Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA GERAKAN TANAH DI KABUPATEN LEBAK

Kabupaten Lebak menempati posisi 15 dari 514 kabupaten dan kota dengan indeks risiko bencana tertinggi. Beragam jenis bencana terjadi di Kabupaten Lebak, beberapa diantaranya disebabkan oleh pergerakan tanah. Pada tahun 2023, Kabupaten Lebak mengalami kerugian 200 miliar hingga menelan korban jiwa akibat bencana tersebut. Demi meminimalisasi dampak buruk, diperlukan sebuah informasi yang dapat dijadikan dasar acuan untuk membuat kebijakan penanggulangan bencana. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah di Kabupaten Lebak dapat menjadi solusi yang dipilih untuk mengurangi dampak buruk bencana pergerakan tanah. Peta risiko sebenarnya selalu diproduksi secara berkala setiap 5 tahun sekali oleh BNPB. Namun, mengingat masih banyaknya kejadian bencana dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, maka proyek ini akan memperbarui peta risiko yang telah dibuat. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah disusun mengikuti petunjuk yang ada pada Buku RBI tahun 2016 dan Modul Teknis KRB Tanah Longsor tahun 2019. Peta risiko terbentuk dari hasil penggabungan peta bahaya, kerentanan, serta kapasitas. Ketiga peta penyusun tersebut disusun dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Selain itu, dilakukan pengukuran langsung dengan menggunakan GNSS untuk mengetahui vektor pergerakan tanah yang terjadi di wilayah sampel. Peta yang dihasilkan pada proyek kali ini telah tervalidasi sehingga dapat dikatakan sudah cukup baik.

2024
👤 Penulis: Muhammad Naufal Mufiddin
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Risiko Bencana 🏷️ Pengukuran Geografi
Halaman 2 dari 2
💬