📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 24 dokumenDESAIN SISTEM PENGUMPUL LINDI DI TPST BANTARGEBANG MENUJU INSITU DAN EXSITU INSTALASI PENGOLAHAN LINDI (IPL)
Kota Jakarta dengan luas wilayah 661,5 km2 memiliki jumlah penduduk sebanyak 10.679.951 jiwa pada tahun 2023 (Badan Pusat Statistik DKI Jakarta, 2023) menghasilkan sampah yang tidak sedikit setiap harinya. Sampah yang dihasilkan akan diangkut menuju TPST Bantargebang. Sampah yang diangkut dan ditimbun di TPST Bantargebang akan menghasilkan lindi. TPST Bantargebang memiliki 3 Insitu Instalasi Pengolangan Lindi (IPL) berupa IPAS (Instalasi Pengolahan Air Sampah) untuk mengatasi air lindi yang dihasilkan, tetapi saat ini hanya IPL 3 saja yang berfungsi dan masih kurang optimal. Selain itu adapula 1 Exsitu Instalasi Pengolangan Lindi (IPL) berupa IPAL (Instalasi Pengolahan Air Lindi) Bersama Sumur Batu. Saat ini keadaan air lindi yang dihasilkan oleh TPST Bantargebang belum memiliki jalur penyaluran lindi yang memadai dan langsung jatuh menuju badan air yang tersedia. Penerimaan lindi di IPL Bersama Sumur Batu juga melalui badan air. Maka dari itu dilakukan perencanaan penyaluran lindi untuk zona sampah aktif menuju IPL 3 dan IPL Bersama Sumur Batu agar lindi yang dihasilkan dapat terolah secara maksimal sebelum nantinya masuk ke badan air. Alternatif jalur yang terpilih untuk penyaluran lindi akan mengalirkan secara gravitasi penggunakan jenis pipa HDPE. Untuk penyaluran air drainase akan langsung masuk ke badan air. Dengan total debit aliran lindi yang dihasilkan menuju IPL 3 sebesar 0,3685 m3/detik dan menuju IPL Bersama Sumur Batu sebesar 1,0793 m3/detik dengan periode ulang 10 tahun. Sehingga diameter penyaluran lindi yang direncanakan pada jalur I3 (menuju IPL 3) paling besar adalah 0,433 meter dan pada jalur IB (menuju IPL Bersama) paling besar adalah 0,746 meter.
DESAIN SISTEM PENGUMPUL LINDI DI TPST BANTARGEBANG MENUJU INSITU DAN EXSITU INSTALASI PENGOLAHAN LINDI (IPL)
Kota Jakarta dengan luas wilayah 661,5 km2 memiliki jumlah penduduk sebanyak 10.679.951 jiwa pada tahun 2023 (Badan Pusat Statistik DKI Jakarta, 2023) menghasilkan sampah yang tidak sedikit setiap harinya. Sampah yang dihasilkan akan diangkut menuju TPST Bantargebang. Sampah yang diangkut dan ditimbun di TPST Bantargebang akan menghasilkan lindi. TPST Bantargebang memiliki 3 Insitu Instalasi Pengolangan Lindi (IPL) berupa IPAS (Instalasi Pengolahan Air Sampah) untuk mengatasi air lindi yang dihasilkan, tetapi saat ini hanya IPL 3 saja yang berfungsi dan masih kurang optimal. Selain itu adapula 1 Exsitu Instalasi Pengolangan Lindi (IPL) berupa IPAL (Instalasi Pengolahan Air Lindi) Bersama Sumur Batu. Saat ini keadaan air lindi yang dihasilkan oleh TPST Bantargebang belum memiliki jalur penyaluran lindi yang memadai dan langsung jatuh menuju badan air yang tersedia. Penerimaan lindi di IPL Bersama Sumur Batu juga melalui badan air. Maka dari itu dilakukan perencanaan penyaluran lindi untuk zona sampah aktif menuju IPL 3 dan IPL Bersama Sumur Batu agar lindi yang dihasilkan dapat terolah secara maksimal sebelum nantinya masuk ke badan air. Alternatif jalur yang terpilih untuk penyaluran lindi akan mengalirkan secara gravitasi penggunakan jenis pipa HDPE. Untuk penyaluran air drainase akan langsung masuk ke badan air. Dengan total debit aliran lindi yang dihasilkan menuju IPL 3 sebesar 0,3685 m3/detik dan menuju IPL Bersama Sumur Batu sebesar 1,0793 m3/detik dengan periode ulang 10 tahun. Sehingga diameter penyaluran lindi yang direncanakan pada jalur I3 (menuju IPL 3) paling besar adalah 0,433 meter dan pada jalur IB (menuju IPL Bersama) paling besar adalah 0,746 meter.
PERANCANGAN SISTEM SMART WASTE MANAGEMENT UNTUK SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA BANDUNG
Perkembangan teknologi yang kian pesat dapat dirasakan dalam kehidupan sehari – hari. Dalam kehidupan sehari – hari, tanpa disadari pemanfaatan teknologi semakin tersebar di berbagai bidang. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah (problem solving), memperbaiki (improvement), dan/atau inovasi (innovation). Saat ini, masih banyak negara yang mengalami permasalahan dalam pengelolaan sampah, termasuk Indonesia. Terbakarnya Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti menjadi pertanda bahwa sistem pengelolaan sampah di Kota Bandung masih perlu dioptimalkan. Sampah yang dihasilkan setiap harinya oleh masyarakat Kota Bandung masih belum dipisahkan berdasarkan jenisnya. Hal ini menyebabkan tidak optimalnya proses pengolahan sampah. Tidak optimalnya proses pengolahan sampah mempengaruhi jumlah sampah yang dibawa ke TPA setiap harinya. Tentunya Kota Bandung tidak diam saja dalam menghadapi permasalahan pada sistem pengelolaan sampahnya. Berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka menyelesaikan permasalahan ini. Kota Bandung telah mengusungkan gerakan Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan Sampah), pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Refuse-Derived Fuel (RFD), dan aplikasi Bandung Waste Management. Akan tetapi, solusi – solusi tersebut masih belum dapat menjadi solusi atas permasalahan pada sistem pengelolaan sampah di Kota Bandung. Oleh karena itu, diusulkanlah solusi untuk permasalahan pengelolaan sampah di Kota Bandung adalah suatu sistem yang dapat mengurangi jumlah sampah yang dibawa ke TPA setiap harinya. Pengurangan jumlah sampah ini dilakukan dengan cara pengoptimalan proses pengolahan sampah. Hal ini dapat terwujudkan dengan partisipasi masyarakat untuk memilah sampahnya terlebih dahulu sebelum dibuang. Berbekal ilmu yang telah dipelajari selama menjalankan pendidikan di Sistem dan Teknologi Informasi, dibuatlah sebuah tugas akhir untuk merancang suatu solusi berbasis Teknologi Informasi terhadap permasalahan pengelolaan sampah. Solusi yang dirancang adalah sistem smart waste management. Smart waste management adalah peningkatan atau optimalisasi pengelolaan sampah tradisional dengan teknologi informasi. Desain solusi akan memanfaatkan model yang direpresentasikan dengan meminjam konsep layer pada enterprise architecture. iii Empat layer yang merepresentasikan hasil rancangangan tugas akhir ini antara lain business layer, data layer, application layer, dan technology layer. Pada business layer, dihasilkan organization/actor catalog, driver/goal/objective catalog, role catalog, business service/function catalog, process/event/control/product catalog, actor/role matrix, dan process flow diagram. Pada data layer, dihasilkan data entity/data component catalog, data entity/business function matrix, dan logical data diagram. Pada application layer, dihasilkan application use-case diagram dan low fidelity prototype. Pada technology layer, dihasilkan technology portfolio catalog dan environment & location diagram. Berdasarkan hasil evaluasi, hasil rancangan sistem smart waste management terbukti dapat memenuhi kebutuhan untuk sistem pengelolaan sampah di Kota Bandung. Dengan demikian, hasil rancangan model sistem smart waste management untuk sistem pengelolaan sampah di Kota Bandung pada tugas akhir ini layak untuk diimplementasikan.
PEMBUATAN FILAMEN BERBASIS HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE) DARI LIMBAH TUTUP BOTOL MINUMAN UNTUK APLIKASI TEKSTIL
Pengunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari merupakan hal yang umum dijumpai saat ini. Akan tetapi, plastik yang umum digunakan saat ini berasal dari bahan baku sintesis yang tidak dapat terdegradasi oleh alam. Hal ini mengakibatkan timbulnya limbah plastik yang dapat menyebabkan polusi pada lingkungan dan masalah kesehatan pada makhluk hidup. Oleh karena itu, limbah plastik perlu didaur ulang guna mengurangi permasalahan sampah plastika yang ada. Pada penelitian ini dilakukan daur ulang limbah tutup botol minum yang berasl dari polimer high density polyethylene (HDPE). Limbah tutup botol ini akan didaur ulang menjadi filamen untuk aplikasi tekstil. Filamen dibuat dengan menggunakan mesin ekstrusi yang akan diberikan perlakuan drawing untuk meningkatkan sifat mekanik dari filamen yang dihasilkan. Metodologi pada penelitian ini dilakukan dengan membuat filamen pada mesin ekstrusi dengan variasi kecepatan penarikan puller 60 rpm; 120 rpm; dan 230 rpm. Kemudian, filamen dengan sifat tarik tertinggi akan dilakukan drawing dengan variasi draw ratio 2; 3; 4; dan 5. Dari penilitan ini, dapat disimpulkan bahwa tutup botol HDPE akan dilakukan didaur ulang mejadi filamen untuk kebetuhan tekstil dengan menggunakan mesin ekstrusi. Filamen akan diberikan perlakuan berupa drawing untuk meningkatkan sifat mekanik filamen. Drawing yang dilakukan pada filamen meningkatkan kekuatan tarik filamen sebesar 118,12%, modulus elastisitas filamen menigkat sebesar 94.75%, dan kristalinitas filamen meningkat sebesar 9,48%. Akan tetapi, nilai regangan saat patah dari filamen menurun sebesar 91,94% akibat berkurangnya free volume dari filamen.
INSENTIF EKONOMI DAN PELAKSANAAN KEBIJAKAN: DAMPAK LINGKUNGANNYA DI NEGARA BERKEMBANG
Pada tahun 2022 Indonesia menghasilkan 6 juta ton sampah plastik, dan pada tahun 2021 Indonesia mengkontribusikan 6% dari seluruh sampah plastik yang diemisikan ke lautan dan pada tahun 2025 Indonesia telah mentargetkan berbagai program environmental goals, salah satu kebijakan yang diterapkan untuk mencapai target tersebut adalah SE No. 1230 Tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara insentif ekonomi dan pelaksanaan kebijakan kantong plastik berbayar terhadap pengurangan sampah di Indonesia. Pengumpulan data untuk penelitian ini didasarkan pada pengumpulan harga kantong plastik dari 43 lembaga swadaya masyarakat untuk mengukur insentif ekonomi. Selain itu, 65 kota dan kabupaten yang berbeda diamati sebagai pengukuran pelaksanaan kebijakan. Hasilnya memberikan perspektif yang kontras di mana insentif ekonomi dan pelaksanaan kebijakan tidak berhubungan secara signifikan dengan pengurangan sampah. Studi ini memberikan wawasan tentang program dan kebijakan pengelolaan sampah di negara berkembang.
IDENTIFIKASI PENERAPAN EKONOMI SIRKULAR DALAM UPAYA MENUNJANG KEBERLANJUTAN KAMPUNG KREATIF DI SENTRA INDUSTRI RAJUT BINONG JATI, KOTA BANDUNG
Pengelolaan sampah merupakan salah satu tantangan besar bagi perkotaan yang sulit diatasi, untuk mengurangi dampak akibat pengelolaan sampah yang buruk, penerapan ekonomi sirkular dapat menjadi solusi yang efektif terutama di negara berkembang yang memiliki potensi untuk menggerakkan perekonomian melalui kampung kreatif. Studi ini bertujuan untuk mendukung keberlanjutan sentra industri rajut di Kampung Binong Jati, yang berupaya meminimalisir permasalahan sampah melalui penerapan konsep ekonomi sirkular. Permasalahan seperti TPA Sarimukti yang kelebihan muatan, memperparah volume timbulan sampah di perkotaan dan berdampak negatif pada lingkungan serta kesejahteraan masyarakat Kota Bandung, yang tentunya turut mempengaruhi keadaan Kampung Binong Jati. Untuk itu, penelitian ini mengeksplorasi penerapan ekonomi sirkular dalam menunjang keberlanjutan Kampung Kreatif Binong Jati. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan strategi 9R untuk mengukur tingkat penerapan ekonomi kreatif, dan indikator lingkungan untuk mengetahui kondisi keberlanjutan Kampung Binong Jati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan solusi ekonomi sirkular di Kampung Binong Jati telah mencapai tingkatan tertinggi dari strategi 9R (Refuse, Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture, Repurpose, Recycle, Recover), meskipun masih perlu peningkatan dalam implementasi dan pengetahuan masyarakat. Selain itu, sebagian besar indikator lingkungan telah terpenuhi, menunjukkan bahwa kampung ini berkelanjutan dari segi lingkungan secara umum. Rekomendasi yang dihasilkan mencakup peningkatan frekuensi pengangkutan sampah, peningkatan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah, sosialisasi program Kang Pisman (Kurang, Pisahkan, Manfaatkan) yang lebih rutin, serta penyebarluasan program budi daya magot. Implementasi rekomendasi ini diharapkan dapat mendukung keberlanjutan Kampung Kreatif Binong Jati secara menyeluruh.
PENIALIAN DAMPAK SOSIAL DAN LINGKUNGAN OPERASIONAL TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (TPST) BANTARGEBANG BERDASARKAN PERSEPSI MASYARAKAT DESA TAMANRAHAYU, KECAMATAN SETU, KABUPATEN BEKASI
Pertumbuhan perkotaan dan peningkatan jumlah penduduk menyebabkan terjadinya peningkatan timbulan sampah di suatu wilayah. Tercatat bahwa kawasan perkotaan di seluruh dunia menghasilkan rata-rata 2,01 miliar ton sampah padat setiap tahunnya. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan akan tempat pembuangan dan pengolahan akhir sampah. Namun, seringkali keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mendapat penolakan dari masyarakat sekitar karena dampak yang ditimbulkan berpengaruh terhadap perubahan lingkungan dan sosial masyarakat. Hal tersebut dikenal dengan istilah Not In My Backyard (NIMBY). Permasalahan tersebut juga terjadi pada TPST Bantargebang. Operasional TPST Bantargebang nyatanya menimbulkan dampak lingkungan dan sosial di masyarakat yang tinggal di sekitar TPST. Dampak tersebut turut dirasakan oleh masyarakat Desa Tamanrahayu yang lokasinya berbatasan langsung dengan TPST Bantargebang. Untuk menangani dampak – dampak tersebut, diperlukan tindakan penanganan yang sesuai dengan dampak yang dirasakan oleh masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan penelitian mengenai penialian dampak sosial dan lingkungan akibat operasional TPST Bantargebang bagi masyarakat Desa Tamanrahayu. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitataif dan analisis matriks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dampak positif dan negatif yang ditimbulkan akibat operasional TPST Bantargebang. Dampak positif yang dirasakan berupa peluang penciptaan lapangan kerja. Sedangkan, dampak negatif yang dirasakan oleh masyarakat Desa Tamanrahayu berupa penurunan kualitas air, udara, tanah, dan nilai estetika lingkungan, timbulnya konflik sosial, gangguan kesehatan, gangguan kebisingan, dan gangguan lalu lintas. Penurunan kualitas air, udara, dan gangguan kesehatan merupakan dampak yang signifikan dirasakan oleh masyarakat Desa Tamanrahayu. Sedangkan dampak lainnya memiliki tingkat signifikansi sedang. Dalam menangani dampak tersebut, terdapat beberapa upaya mitigasi yang dapat dilakukan baik itu oleh Pemerintah Provinsi DK Jakarta, Pemerintah Kabupaten Bekasi, dan masyarakat itu sendiri. Upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DK Jakarta dapat berupa penyediaan fasilitasv air bersih yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat Desa Tamanrahayu, pengendalian air lindi yang dihasilkan oleh sampah di TPST, penataan lokasi tempat tinggal pemulung sekitar lokasi TPST, dan penyediaan buffer zone yang dapat membatasi area TPST Bantargebang dengan permukiman warga. Upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi dapat berupa koordinasi dengan Pemerintah Provinsi DK Jakarta terkait penanganan kesehatan dan operasional kendaraan pengangkut sampah. Sedangkan, dalam lingkup masyarakat juga dapat dilakukan upaya sederhana untuk meminimalisir paparan dampak seperti penggunaan filter pada kran air sumur guna menyaring kandungan endapan pada air dan penanaman tanaman hias di sekitar rumah guna meningkatkan keindahan lingkungan. Upaya – upaya tersebut harus dilakukan secara konsiten dan menyeluruh guna meningkatkan kualitas lingkungan dan masyarakat Desa Tamanrahayu.
PEMANFAATAN BIODEGRADABLE PLASTIC MATERIAL BERBAHAN DASAR TEPUNG TAPIOKA MENJADI SEBUAH RANCANGAN DESAIN KEMASAN HOTEL AMENITIES
Jumlah sampah yang dihasilkan di seluruh dunia dapat dibilang sama dengan jumlah populasi penduduk dunia itu sendiri. Dari semua limbah sampah tersebut, terdapat Salah satu limbah berbahaya. Adalah limbah plastik yang sudah sangat terkenal dengan sifat material yang sulit terurai. Material plastik yang berbahaya ini sayangnya sudah sangat dibutuhkan didalam kehidupan masyarakat secara luas dan umum. Sektor-sektor besar yang memiliki tingkat kebutuhan akan penggunaan material plastik yang tinggi yang juga dibarengi dengan tingkat pembuangan plastik yang juga tinggi, salah satunya adalah sektor kemasan. Kemasan dipakai oleh sektor bisnis perhotelan dalam menyediakan perlengkapan hotel. Bisnis perhotelan yang berkembang pesat dan semakin bertambah jumlahnya sama dengan peningkatan jumlah permintaan akan kebutuhan toiletries hotel. Dimana ada kebutuhan produk, disitu ada pembuangan limbah bekas. Setiap tamu hotel check out, maka produk toiletries hotel yang telah dipakai, sekalipun belum habis tersebut, akan dibuang. Salah satu solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mengganti material dengan bio-degradable material.
PERENCANAAN PENGELOLAAN SAMPAH PUING BANGUNAN PASCA GEMPA BUMI DI KECAMATAN CUGENANG, KABUPATEN CIANJUR
Pada Senin, 21 November 2022 sekitar pukul 13.21 WIB terjadi gempa berkekuatan magnitudo 5,6 SR dengan episenter pada koordinat 6.84 LS dan 107 BT berlokasi di darat 10 km Barat Daya Kabupaten Cianjur dengan kedalaman 10 km. Gempa ini memberikan dampak yang sangat besar terhadap salah satu kecamatan yaitu Kecamatan Cugenang, sebanyak 13.834 rumah rusak berat, 4.949 rumah rusak sedang, dan 4.470 rumah rusak ringan. Akibat dari peristiwa tersebut jumlah timbulan sampah pada area terdampak bertambah cukup banyak. Salah satunya yaitu sampah puing bangunan. Sampah puing bangunan pada kecamatan Cugenang sebagian besar berasal dari rumah yang rusak. Oleh karena itu, diperlukan adanya evaluasi terhadap sistem pengelolaan sampah puing bangunan di kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, serta membuat perancangan sistem pengelolaan sampah puing bangunan. Fasilitas yang dirancang diharapkan menjadi salah satu alternatif yang akan membantu menjawab tantangan pengelolaan sampah puing bangunan di wilayah terdampak Gempa Cianjur. Saat ini sampah puing bangunan pasca Gempa Cianjur umumnya hanya dikumpulkan dan ditimbun tanpa pemilahan ataupun pengolahan lebih lanjut. Perencanaan yang dilakukan yaitu membuat alur pengolahan sampah puing bangunan dan merancang fasilitas tempat pengolahan sampah puing bangunan yang dapat menampung seluruh kapasitas timbulan sampah puing bangunan. Alternatif terpilih untuk mengolah sampah puing bangunan pasca gempa cianjur yaitu dengan membagi dan mengelompokan sampah puing bangunan, kemudian dilakukan pengolahan dengan menggunakan teknologi yang efektif untuk mengolah sampah puing bangunan. Sedangkan untuk sampah yang tidak dapat diolah dikirim ke TPA. Fasilitas pengolahan sampah puing bangunan yang direncanakan yaitu memiliki luas sebesar 2.800 m². Total investasi yang diperlukan yaitu sebesar Rp Rp 8.412.364.000. Dan total biaya operasional Rp 2.438.919.048 per tahun. Dengan memperhitungkan nilai Net Present Value (NPV), berdasarkan hasil perhitungan didapat hasil NPV>0 maka dapat dikatakan bahwa perencanaan pembangunan fasilitas pengolahan sampah puing bangunan untuk daerah terdampak gempa cianjur, layak secara ekonomi.