📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 20 dokumenANALISIS PENGARUH PARAMETER METEOROLOGI TERHADAP KONSENTRASI PM2.5 DI BANDUNG RAYA PADA TAHUN 2023
Bandung Raya sebagai daerah urban dengan topografi yang berada dalam cekungan serta daerah dengan penduduk yang padat dan terdapat daerah industri, menjadi faktor terbesar meningkatnya konsentrasi PM2.5 di Bandung Raya dan apabila dibiarkan akan menimbulkan efek yang sangat buruk terhadap kesehatan masyarakat sekitar. Adanya pengaruh parameter meteorologi membuat konsentrasi PM2.5 tidak selalu sama untuk masing-masing wilayah di Bandung Raya. Maka dari itu, perlu mengetahui bagaimana pola konsentrasi PM2.5 dan keterkaitannya terhadap kondisi meteorologi untuk masing-masing wilayah di Bandung Raya. Penelitian ini mengkaji variasi diurnal konsentrasi PM2.5 di wilayah Bandung Raya dan pengaruh parameter meteorologi terhadapnya. Variasi diurnal merujuk pada fluktuasi harian konsentrasi PM2.5 yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia dan kondisi atmosfer, seperti kecepatan angin dan temperatur. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola perubahan konsentrasi PM2.5 antara hari kerja dan akhir pekan di wilayah yang berbeda. Saat konsentrasi PM2.5 kondisi ekstrem hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kecepatan angin dan temperatur terhadap konsentrasi PM2.5 di Bandung Raya, saat anomali kecepatan angin dan temperatur positif maka anomali PM2.5 negatif. Sebaliknya, jika anomali kecepatan angin dan temperatur negatif maka anomali PM2.5 positif. Namun, pada kasus ekstrem anomali kecepatan angin dan temperatur dengan anomali PM2.5 dapat berbanding lurus yang di sebabkan oleh banyak faktor, salah satunya hujan.
PENGARUH VARIABILITAS ANGIN TERHADAP KONSENTRASI SO2 DI PASTEUR, KOTA BANDUNG SELAMA TAHUN 2023
Bandung, salah satu kota di Jawa Barat yang mengalami peningkatan aktivitas kendaraan dan industri yang cukup pesat. Hal ini meningkatkan emisi gas polutan yang dihasilkan, termasuk gas sulfur dioksida (SO2). Tingkat konsentrasi gas polutan dipengaruhi oleh faktor cuaca, salah satunya adalah angin. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh variabilitas angin terhadap besarnya konsentrasi SO2 yang diukur menggunakan alat Pandora, di Pasteur, Kota Bandung selama tahun 2023. Data penelitian yang digunakan meliputi konsentrasi gas sulfur dioksida (SO2) yang diukur menggunakan alat observasi Pandora, serta data kecepatan dan arah angin yang diukur dari alat Automatic Weather System (AWS). Penelitian dimulai dari 01 Desember 2022 hingga 30 November 2023 dengan melakukan analisis skala musiman, bulanan, dan diurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara musiman, konsentrasi SO? tertinggi terjadi pada musim JJA dan terendah pada musim DJF, sementara kecepatan angin tertinggi pada musim DJF dan terendah pada musim MAM. Secara bulanan, konsentrasi SO? tertinggi terjadi pada bulan Agustus dan terendah pada bulan Februari, dengan kecepatan angin tertinggi pada bulan Februari dan terendah pada bulan November. Secara diurnal, terdapat korelasi negatif antara kecepatan angin dan konsentrasi SO? pada musim DJF (-0,72), serta korelasi positif pada musim JJA (0,48). Pada musim DJF, konsentrasi SO? menurun ketika kecepatan angin melebihi 2 m/s, terutama dari arah barat. Pada musim JJA, konsentrasi SO? meningkat ketika kecepatan angin melebihi 3 m/s, terutama dari arah barat daya.
FAKTOR METEOROLOGI YANG MEMPENGARUHI VARIASI DIURNAL KELEMBAPAN TANAH (STUDI KASUS: PANCAWATI KECAMATAN CARINGIN, BOGOR)
Kelembapan tanah dipengaruhi oleh faktor meteorologi, seperti curah hujan, temperatur udara, kelembapan relatif, dan radiasi matahari dengan masing-masing memberi pengaruh pada kedalaman tanah yang berbeda. Penelitian ini mengkaji mengenai karakteristik kelembapan tanah dengan berbagai kedalaman dan faktor pengontrolnya berdasarkan dengan data-data yang tersedia di pegunungan di Bogor. Metode penelitian ini berdasarkan analisa korelasi dan variasi diurnal faktor pengontrol (curah hujan, radiasi matahari, kelembapan relatif, dan temperatur udara) dan korelasinya pada kedalaman tanah 25 cm, 50 cm, 75 cm, dan 100 cm. Hasil analisa menunjukkan bahwa fluktuasi kelembapan tanah dipengaruhi oleh temperatur udara, radiasi matahari, curah hujan, dan kelembapan relatif. Faktor pengontrol yang paling mempengaruhi variasi diurnal pada kedalaman 25 cm, 50 cm, 75 cm, dan 100 cm, yaitu varibel pada waktu dua jam yang sama pada lapisan paling atas. Dengan analisa lag korelasi menunjukkan bahwa faktor pengontrol langsung mempengaruhi kelembapan tanah pada semua kedalaman.
PENDEKATAN SPATIAL MOMENT DALAM MENGIDENTIFIKASI MOVING RAINSTORMS PADA KEJADIAN BANJIR JAKARTA
Beberapa penelitian terkait pengaruh hujan yang bergerak menunjukkan hasil bahwa hujan yang bergerak berperan signifikan dalam mempengaruhi debit. Pada kejadian banjir Jakarta ekstrem di tahun 2013 dan 2020, data reflektivitas radar menunjukkan propagasi awan yang diindikasikan sebagai pergerakan sistem hujan pada masingmasing waktu kejadian. Pengidentifikasian hujan yang bergerak memanfaatkan pendekatan spatial moment dinilai mampu mengkarakterisasi fitur organisasi curah hujan spasial dalam parameter statistik konsentrasi dan distribusi curah hujan spasial. sebagai fungsi dari jarak ke outlet yang diukur sepanjang jalur aliran DAS. Analisis variasi waktu ke waktu jarak aliran berbobot curah hujan terhadap outlet memungkinkan perhitungan kecepatan hujan skala DAS. Perolehan nilai konsentrasi dan distribusi curah hujan pada kedua tahun kejadian konsisten saat dibandingkan dengan plot hovmoller yang menunjukkan propagasi hujan, perhitungan kecepatan hujan dilakukan tiap jam untuk mendeteksi kecepatan saat kejadian, hasilnya menunjukkan nilai yang fluktuatif namun mendeteksi kecepatan propagasi hujan saat ke hulu yang ditandai kecepatan hujan yang bernilai positif pada pukul 14.00-15.00 WIB tanggal 15 Januari 2013 dan 04.00-06.00 WIB untuk tanggal 1 Januari 2020. Secara umum, penggunaan stastistik spatial moment mengisolasi fitur variabilitas spasial curah hujan untuk waktu kejadian.
STUDI METOCEAN DALAM RANGKA PEMELIHARAAN PIPA BAWAH LAUT
Pipa bawah laut didesain untuk dapat bertahan terhadap kondisi lingkungan sekitar selama masa operasionalnya. Lingkungan dapat memberikan beban terhadap kondisi pipa; beban lingkungan akibat aliran air di sekitar pipa disebut sebagai beban hidrodinamika. Beban terhadap pipa dapat menyebabkan kegagalan sistem. Studi metocean merupakan salah satu upaya pemeliharaan pipa bawah laut terhadap kondisi lingkungan. Penelitian ini ditujukan untuk melihat karaktersitik meteorologis dan oseanografis, keterkaitan keduanya, serta pengaruhnya terhadap kondisi arus. Pengamatan dilakukan pada anak Sungai Mahakam dengan menggunakan alat hidro-akustik tipe Doppler, Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) selama 8 hari. Analisis harmonik dilakukan untuk mendapatkan nilai konstanta pasang surut pada lokasi pengamatan. Didapatkan bahwa tipe pasang surut lokasi yaitu campuran ganda condong semidiurnal. Analisis spektral dilakukan untuk mendekomposisi arus. Berdasarkan analisis spektral, didapatkan gaya dominan yang bekerja pada arus adalah aliran sungai. Selain itu, ditemukan bahwa gaya pasang surut memberikan pengaruh yang signifikan pada lokasi pengamatan. Estimasi nilai ekstrim dilakukan pada kecepatan arus residu menggunakan distribusi generalized extreme value (GEV). Arus residu didapatkan dengan menghilangkan komponen deterministik dari data kecepatan arus yang berupa arus pasang surut dan aliran sungai. Didapatkan nilai kecepatan arus ekstrim dengan periode 30 hari sebesar 11,390 cm/s. Adapun nilai parameter distribusi kecepatan arus lokasi pada distribusi GEV yaitu: ? =0,051, ? =4,141, ? =6,612. Berdasarkan data arus, dilakukan studi atas pengaruhnya terhadap pipa.