📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 25 dokumenTRANSISI HIJAU DALAM INDUSTRI PUPUK: EVALUASI DAMPAK KEBIJAKAN EMISI NOL BERSIH TERHADAP INISIATIF INVESTASI PUPUK INDONESIA DALAM PENGEMBANGAN PABRIK AMONIA HIJAU DAN BIRU
Indonesia menyadari pentingnya pertanian berkelanjutan dan secara aktif mendorong inisiatif serta penelitian untuk mengidentifikasi dan menerapkan praktik terbaik dalam mengurangi emisi amonia. Penelitian ini bertujuan untuk menilai apakah strategi PT Pupuk Indonesia dalam membangun pabrik amonia hijau dan biru memberikan hasil positif dari perspektif keberlanjutan dan kelayakan komersial, serta kontribusinya terhadap pencapaian kebijakan emisi nol bersih di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan Critical System Heuristic (CSH), Causal Loop Diagram (CLD), dan analisa sensitivitas sederhana untuk merepresentasikan umpan balik dan hubungan sistemik. Temuan menunjukkan bahwa investasi dalam produksi amonia hijau dan biru mendorong inovasi teknologi yang meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi emisi karbon sekitar 30% pada tahun 2050. Namun, peningkatan kapasitas produksi awalnya menyebabkan peningkatan emisi sekitar 10%. Penelitian ini menekankan bahwa pengurangan emisi CO2 harus menjadi prioritas dalam keputusan investasi, dengan fokus pada adopsi teknologi dan praktik yang lebih bersih yang memberikan manfaat lingkungan yang signifikan. Kebijakan pemerintah, insentif, dan potensi sanksi berperan penting dalam membentuk strategi investasi. PT Pupuk Indonesia disarankan untuk menerapkan kebijakan yang memastikan kelayakan jangka panjang proyek-proyek ini dengan fokus pada hal-hal yang menguntungkan yang memberikan keunggulan strategis bagi investasi Pupuk Indonesia, serta menjalin kerjasama dengan badan pemerintah untuk mendapatkan insentif dan dukungan yang mendukung investasi berkelanjutan.
VALUASI BISNIS PERUSAHAAN DRONE INDONESIA: STUDI KASUS PT MDT
Bisnis drone di Indonesia berkembang pesat karena potensinya yang luas dan investasi signifikan dalam teknologi drone. Teknologi ini menjadi penting di berbagai sektor seperti pertanian, pertambangan lepas pantai, dan fotografi udara. Pasar drone global dan Asia juga mencerminkan pertumbuhan ini, dengan proyeksi peningkatan CAGR sebesar 7,1% yang didorong oleh penggunaan di berbagai industri dan investasi besar. Namun, penilaian bisnis drone di Indonesia menghadapi tantangan karena fokus pada aset tidak berwujud yang sering diabaikan oleh teori investasi tradisional dan sifat startup banyak perusahaan yang lebih mengutamakan penciptaan nilai daripada kesehatan keuangan. PT MDT, didirikan pada tahun 2016, menggunakan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) untuk layanan pemetaan udara dan bermitra dengan industri seperti pertanian, pertambangan lepas pantai, dan fotografi udara. Mereka juga menawarkan program sertifikasi pilot UAV dan menjual produk serta suku cadang terkait. Meskipun menawarkan berbagai layanan dan produk, PT MDT mengalami pertumbuhan stagnan dan perlu memaksimalkan produktivitas dengan sumber daya yang ada. Manajemen khawatir tentang penilaian potensi merger dan menghadapi tantangan dalam menjaga catatan keuangan yang jelas serta mempertimbangkan risiko industri. Analisis menunjukkan bahwa pertumbuhan PT MDT didorong oleh layanan pemetaan dan pemeliharaan, meskipun terjadi penurunan penjualan produk. Sementara kesehatan keuangan meningkat, biaya produksi dan pengeluaran yang tinggi menantang profitabilitas. Margin Laba Kotor (GPM) dan Margin Laba Operasional (OPM) yang positif menunjukkan potensi, namun Margin Laba Bersih (NPM) masih negatif. Perluasan layanan, peningkatan efisiensi, dan pemanfaatan teknologi serta kemitraan disarankan. Strategi ini dapat meningkatkan pertumbuhan berkelanjutan dan meningkatkan nilai perusahaan PT MDT, yang saat ini diperkirakan sebesar 3,84 Milyar Rupiah.
PRA-RANCANGAN SISTEM BUDIDAYA TANAMAN SERAIWANGI (CYMBOPOGON NARDUS L.) YANG TERINTEGRASI DENGAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK DARI LIMBAH KELAPA SAWIT PADA LAHAN PASCATAMBANG BATU BARA
Tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) var. Serai wangi 1 merupakan tanaman yang bernilai ekonomis tinggi dengan kandungan minyak atsirinya. Tanaman tersebut merupakan komoditas yang berpotensi digunakan dalam aktivitas rehabilitasi lahan pascatambang dengan penambahan pupuk organik untuk meningkatkan produksinya. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh kombinasi pupuk kandang, jangkos, dan solid terhadap pertumbuhan dan hasil biomassa serai wangi (Cymbopogon nardus L.) var. Serai wangi 1. Penelitian ini dilaksanakan di disposal lahan pascatambang batu bara Kelubir Mine Operation (KMO) PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara yang terletak di Desa Kelubir, Kecamatan Tanjung Palas Utara, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara pada bulan September – Desember 2023. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan dan 6 ulangan yaitu p1: Pupuk jangkos 2,5 kg + Pupuk solid 2,5 kg; p2: Pupuk kandang 5 kg dan p3: Pupuk jangkos 2,5 kg + Pupuk solid 2,5 kg. Analisis yang dilakukan menggunakan two-way annova dan uji lanjut duncan dengan taraf nyata 95 %. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan kombinasi pupuk organik kandang, jangkos, dan solid tidak berpengaruh terhadap variabel pertumbuhan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L) var. Serai wangi 1 seperti tinggi tanaman, panjang daun, dan jumlah anakan. Sedangkan pada hasil biomassa ketiga perlakuan berpengaruh terhadap berat basah daun, kadar air, shoot-root ratio, serta rendemen. Rendemen yang dihasilkan berbeda pada setiap perlakuan yaitu p2 (1,8%); p3 (1,37%); dan p1 (1,21%).
PRA-RANCANGAN SISTEM PRODUKSI BAYAM MERAH (AMARANTHUS TRICOLOR) DAN BAYAM HIJAU (AMARANTHUS HYBRIDUS) MENGGUNAKAN PUPUK ORGANIK DENGAN MODEL DISTRIBUSI COMMUNITY SUPPORTED AGRICULTURE (CSA) PADA WILAYAH URBAN
Penggunaan pupuk sintetis secara kontinu menjadi salah satu faktor pemicu degradasi kualitas tanah. LOB merupakan pupuk hayati cair yang terdiri dari organisme hidup, berperan dalam penyediaan nutrisi bagi tanaman serta peningkatan kesuburan tanah. LOB berpotensi menjadi solusi berkelanjutan atas maraknya penggunaan pupuk sintetis di bidang pertanian. Saat ini, penelitian terkait pengaruh LOB dan pemanfaatannya terhadap tanaman khususnya bayam hijau (Amaranthus hybridus L.) masih terbatas. Untuk itu, penelitian dilakukan dengan tujuan untuk menentukan pengaruh aplikasi LOB terhadap pertumbuhan, kadar klorofil, dan vitamin C tanaman bayam hijau serta menentukan dosis LOB terbaik. Parameter yang diukur dalam penelitian ini meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot basah tajuk, bobot kering tajuk, kadar air, shoot-root ratio, kandungan klorofil, dan kadar vitamin C. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perbedaan konsentrasi LOB pada media tanam sebagai perlakuan. Terdapat 4 perlakuan, yaitu P1 (kontrol), P2 (10 ml LOB/l air), P3 (20 ml LOB/l air), P4 (30 ml LOB/l air) dengan 8 ulangan. Penelitian ini dilakukan di greenhouse menggunakan 32 polybag. Data dianalisis menggunakan metode sidik ragam (ANOVA) dengan taraf signifikansi sebesar 5% dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi LOB memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun. Namun, LOB tidak berpengaruh nyata pada shoot-root ratio, kadar air, kandungan klorofil, dan kandungan vitamin C bayam hijau. Dengan hasil rata-rata tinggi tanaman; jumlah daun; luas daun; bobot basah tajuk; bobot kering tajuk; kadar air; shoot-root ratio; kandungan klorofil; dan kadar vitamin C terbaik ditunjukkan secara berturut-turut sebesar: 67,51 ±12,33a cm; 15,67 ± 0,82b helai; 71,80 ± 10,32b cm2; 87,29 ± 20,94a gr; 11,15 ± 5,98a gr; 76,14 ± 17,22a %; 11,26 ± 4,74a; 23,72 ± 2,62a SPAD; dan 0,478%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, shoot-root ratio, dan kadar air ditunjukkan oleh P4 (30 ml LOB/l air). Perlakuan terbaik pada parameter kandungan klorofil dan kandungan vitamin C secara berturut-turut ditunjukkan oleh P3 (20 ml LOB/l air) dan P2 (10 ml LOB/l air). Secara keseluruhan, LOB memberikan peningkatan terhadap growth performance, klorofil, biomassa, dan vitamin C bayam hijau.
PENGARUH PGPR (PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA) TERHADAP BIOMASSA TAJUK DAN AKAR PADA JAGUNG MANIS (ZEA MAYS VAR. SACCHARATA) F1 PARAGON DENGAN SISTEM MONOKULTUR
Penyusutan lahan dan degradasi lahan di Indonesia memerlukan perhatian dengan solusi intensifikasi pertanian yang ramah lingkungan. PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) merupakan mikroba menguntungkan yang dapat mengkolonisasi lapisan tanah yang berfungsi sebagai biosimultan, biofertilizer, dan bioprotektan. PGPR memiliki potensi untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dan menghasilkan tanaman yang berproduksi dan berkualitas tinggi. Jagung manis merupakan komoditas strategis dengan nilai total impor di Indonesia pada tahun 2021 mencapai 911,194 ribu ton pada tahun 2021. Brangkasan jagung manis seringkali tidak diurus, padahal dapat diolah menjadi pupuk ataupun pakan sehingga memiliki nilai ekonomis. Pada penelitian ini dilakukan budidaya tanaman jagung manis dengan tambahan input PGPR dengan berbagai konsentrasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) dan menentukan konsentrasi PGPR yang memberikan pengaruh terbaik terhadap biomassa akar dan tajuk pada jagung manis (Zea mays var. Sacharata). Percobaan dalam penelitian ini dilakukan di Desa Haurngombong pada Mei- September 2023 dengan 4 perlakuan konsentrasi PGPR: 0 g/L, 10 g/L, 20 g/L, dan 30 g/L. Ada 6 ulangan pada tiap perlakuan sehingga terdapat 24 set percobaan. Luas lahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 72 m2 dengan jarak tanam 0,5 x 1 m. Pelaksanaan percobaan mengikuti SOP Budidaya Jagung Manis dengan perendaman benih di awal sebelum penanaman dan penyemprotan dengan larutan PGPR setiap minggunya. Parameter pengamatan dalam penelitian ini adalah bobot segar tajuk, bobot kering tajuk, bobot segar akar, bobot kering akar, dan rasio tajuk-akar. Uji ANOVA dan DMRT dilakukan untuk menganalisis data hasil penelitian ini. Pada hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa PGPR berpengaruh signifikan terhadap bobot kering akar dan PGPR 10 g/L memberi pengaruh terbaik terhadap biomassa tajuk dan akar pada jagung manis (Zea mays var. saccharata) F1 Paragon dengan sistem monokultur.
PRA-RANCANGAN SISTEM PERTANIAN TUMPANG SARI TANAMAN SEMANGKA DAN KACANG MERAH DI LAHAN PERKEBUNAN LADA
Penelitian ini mengusulkan pra-rancangan sistem pertanian tumpang sari yang menggabungkan tanaman semangka (Citrullus lanatus) dan kacang merah (Phaseolus vulgaris) di lahan perkebunan lada (Piper nigrum) dengan menggunakan tanaman gamal (Gliricidia sepium) sebagai tajar hidup. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, mengurangi biaya operasional, dan memberikan pendapatan tambahan bagi petani lada. Latar belakang penelitian menunjukkan bahwa lada merupakan komoditas unggulan di Kepulauan Bangka Belitung, namun membutuhkan tajar yang optimal untuk pertumbuhannya. Penggunaan tajar mati seperti kayu atau beton memiliki kelemahan, seperti biaya tinggi dan masa penggunaan yang singkat. Oleh karena itu, penggunaan tajar hidup seperti gamal dapat memberikan solusi yang lebih ekonomis dan berkelanjutan. Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama: (1) merancang sistem produksi biomassa tanaman semangka dan kacang merah menggunakan metode tumpang sari di lahan perkebunan lada, (2) menentukan neraca massa dan energi pada pra-rancangan sistem ini, dan (3) melakukan kajian kelayakan finansial dari sistem pertanian tumpang sari ini. Metodologi yang digunakan meliputi penanaman semangka dan kacang merah secara bersamaan dengan lada dan gamal di lahan seluas 100 m² di Desa Namang, Bangka Tengah. Wilayah usaha terdiri dari lahan pertanian terbuka yang akan digunakan untuk budidaya tanaman semangka merah, kacang merah, dan lada. Tanaman semangka merah akan ditanam di bagian tengah lahan pertanian dengan menggunakan sistem penanaman berjajar, sementara tanaman kacang merah dan lada akan ditanam di sekitarnya dengan pola penanaman tumbang sari untuk memanfaatkan ruang secara efektif. Produksi yang dihasilkan dari pra-rancangan ini berupa tanaman semangka sebesar 1920 kg/tahun, tanaman kacang merah sebesar 20,16 kg/tahun, tanaman lada 180 kg/tahun, dan tanaman gamal sebesar 347 kg/tahun. Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem tumpang sari ini dapat meningkatkan produktivitas lahan dan memberikan pendapatan tambahan melalui penjualan hasil produksi semangka dan kacang merah. Pra-rancangan sistem budidaya tumpang sari tanaman semangka dan kacang merah pada lahan lada memiliki 3 tahapan subsistem, yaitu subsistem budidaya, subsistem pencucian dan perendaman lada, serta subsistem penjemuran lada. Pada subsistem budidaya, terdapat 4 sub-subsistem yang dibagi berdasarkan tiap jenis komoditas, yaitu semangka, kacang merah, tanaman lada, dan tanaman gamal. Pada komoditas kacang merah memiliki neraca massa total sebesar 221,2837 kg/tahun, kemudian pada komoditas semangka memiliki neraca massa total sebesar 3.517,54 kg/tahun. Selanjutnya pada komoditas lada memiliki neraca massa total sebesar 340,775 kg/tahun dan terakhir pada komoditas gamal memiliki nilai neraca massa total sebesar 530,16 kg/tahun. Subsistem pencucian dan perendaman lada memiliki nilai neraca massa total sebesar 680 kg/tahun. Subsistem penjemuran lada memiliki nilai neraca massa total sebesar 72,79 kg/tahun. Pada subsistem budidaya kacang merah dan semangka, energi yang dikeluarkan manusia adalah sebesar 539.910,49 kJ/tahun, pada subsistem budidaya gamal dan lada sebesar 422.677,33 kJ/tahun, pada subsistem pencucian dan perendaman sebesar 3350,63 kJ/tahun, dan pada subsistem penjemuran lada sebesar 1.478,71 kJ/tahun. Dari segi finansial, penelitian ini mencakup berbagai analisis biaya dan pendapatan. Biaya tetap yang diperlukan adalah Rp9.132.000 per tahun, sementara biaya variabel mencapai Rp148.800 per tahun, sehingga total biaya operasional menjadi Rp9.276.800 per tahun. Dengan pendapatan kotor sebesar Rp37.427.500 per tahun mulai tahun ketiga, penelitian ini memperkirakan laba bersih yang dapat diperoleh adalah Rp28.150.700 per tahun. Analisis Break Even Point (BEP) menunjukkan bahwa titik impas untuk proyek ini adalah Rp2.285.959. Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa proyek ini memiliki Net Present Value (NPV) sebesar Rp35.643.702 untuk 5 tahun dan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 48%, yang menunjukkan tingkat pengembalian investasi yang tinggi. Net B/C Ratio dari proyek ini adalah 2,66 yang berarti bahwa keuntungan bersih yang diperoleh lebih dari dua kali lipat biaya yang dikeluarkan. Payback Period (PP) atau periode pengembalian modal diperkirakan sekitar 2 tahun 9 bulan, menunjukkan bahwa investasi akan kembali dalam waktu yang relatif singkat. Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru tentang sistem pertanian tumpang sari dan menjadi referensi bagi PT Cinquer Agro Nusantara serta petani lada di Bangka Belitung untuk mengoptimalkan penggunaan lahan perkebunan lada secara lebih efisien dan berkelanjutan.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PERANGKAT KERAS UNTUK PEMANTAUAN DAN PERAWATAN KEBUN BERBASIS INTERNET OF THINGS
FKGG (Forum Komunikasi Gunung Geulis) merupakan sebuah komunitas pertanian dan perkebunan percontohan yang berlokasi di Jatiroke, Jatinangor. Komunitas ini memiliki dua macam kebun yang berbeda, yaitu kebun konvensional dengan media tanam berupa tanah dan kebun hidroponik dengan media tanam berupa air. Dua tahun lalu, para petani di FKGG melakukan perawatan dan pemantauan kebun secara manual sehingga memerlukan tenaga kerja yang cukup banyak. Pada tahun sebelumnya, pengembang dari SCCIC dan STI ITB telah mengadakan pengabdian masyarakat untuk membantu para petani di FKGG dengan membuat sistem perawatan dan pemantauan kebun berbasis internet of things. Namun, setelah dilakukan peninjauan ulang, alat yang dipasang belum sepenuhnya optimal. Terdapat beberapa aspek yang dapat diperbaiki, seperti microcontroller yang restart setiap kali pompa dinyalakan, ketergantungan terhadap koneksi internet, dan tidak adanya mekanisme kontrol secara on-site. Oleh karena itu, dilakukan pengembangan lanjutan pada sistem yang sudah ada untuk meningkatkan keandalan sistem dan mengurangi ketergantungan terhadap koneksi internet. Pada laporan ini, desain dan implementasi perangkat keras untuk otomasi pertanian konvensional dan pertanian hidroponik dibahas secara rinci. Perangkat keras yang diimplementasikan dicirikan oleh keselamatan, keandalan, dan keserbagunaan karena dapat berfungsi dengan baik dalam berbagai situasi untuk sistem pertanian konvensional maupun hidroponik. Perangkat keras ini juga memiliki redundansi bawaan dan mekanisme fail-safe untuk kejadian-kejadian yang tidak terduga. Untuk sistem pertanian konvensional, perangkat keras ini dirancang untuk mengontrol pompa air dan katup solenoid untuk keperluan irigasi terjadwal. Selain itu, perangkat keras ini juga dapat membaca data dari lingkungan, seperti kelembaban tanah, ketersediaan air, dan aliran air. Untuk sistem pertanian hidroponik, perangkat keras terutama dirancang untuk mengontrol pompa air dan pompa peristaltik untuk keperluan pemberian dosis otomatis. Selain itu, perangkat keras ini juga dapat membaca data lingkungan seperti tingkat pH, tingkat ppm, dan ketersediaan larutan dosis. Setelah pengujian menyeluruh, semua subsistem perangkat keras telah berfungsi dengan baik. Subsistem- subsistem yang telah diuji dan berhasil dengan baik meliputi (1) unit manajemen daya, (2) antarmuka untuk sensor, (3) antarmuka untuk aktuator, (4) antarmuka manusia-mesin (human machine interface), (5) kontroler utama dan komponen pendukung, serta (6) wireless transceiver.
PRA-RANCANGAN SISTEM PERTANIAN TUMPANG SARI TANAMAN SEMANGKA (CITRULLUS LANATUS) DAN KACANG MERAH (PHASEOLUS VULGARIS) DI LAHAN PERKEBUNAN LADA (PIPER NIGRUM)
PT Cinquer Agro Nusantara merupakan salah satu perusahaan produsen lada dengan sistem budidaya organik. Dengan begitu, pengendalian gulma di area perkebunan lada dilakukan secara manual melalui pencabutan atau pemangkasan oleh tenaga kerja yang juga meningkatkan biaya operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penanaman tanaman semangka (Citrullus lanatus) sebagai agen pengendali gulma di perkebunan lada serta menentukan faktor yang berperan terhadap pertumbuhannya agar biaya operasional pengendalian gulma dapat diminimalisasi. Tanaman semangka (Citrullus lanatus) merupakan salah satu tanaman produksi yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman tutupan atau cover crops karena tipe pertumbuhannya yang menjalar dan memiliki sulur-sulur pembelit. Selain itu, tanaman semangka juga dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah dan buahnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan sehingga dapat memberikan pemasukan tambahan bagi para petani lada khususnya di daerah Bangka Belitung. Benih yang digunakan berasal dari PT East West Seed Indonesia yaitu varietas Baginda F1 dengan umur panen 55 hingga 60 HST. Pengamatan pertumbuhan dilakukan selama 60 hari dengan parameter pertumbuhan berupa tinggi gulma, luas tutupan gulma, panjang tanaman semangka, luas tutupan semangka, jumlah daun semangka, serta jumlah bunga dan buah semangka. Dilakukan pengambilan data dengan frekuensi satu kali setiap tujuh hari. Pengolahan data hasil pengamatan dilakukan menggunakan uji hipotesis T dan Pearson Correlation. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan tanaman semangka yang tidak optimal di lokasi penelitian akibat ketidaksesuaian kondisi lingkungan serta serangan hama dan penyakit. Uji T dan matriks korelasi juga menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara pertumbuhan gulma di area perkebunan lada yang ditanami semangka dan area yang tidak ditanami semangka (kontrol).
EVALUASI KINERJA BAHAN BAKAR PERTALITE DAN REVVO89 MELALUI UJI JALAN DAN CHASSIS DYNAMOMETER PADA 7 MOBIL
Transportasi barang dan orang menyumbang 20% dari total energi global primer yang dikonsumsi. Dalam penggunaannya, pada transportasi terdapat pengaruh angka RON bahan bakar, angka RON tinggi maka harga per liter dari suatu bahan bakar juga tinggi. Namun, nilai RON yang tinggi belum tentu dapat meningkatkan performa mesin, karena umumnya setiap produk mesin didesain dengan beragam perbedaan. Biasanya produsen kendaraan menyarankan penggunaan bahan bakar dengan angka RON yang sesuai. Belakangan ini, sedang marak isu perihal penurunan kualitas bahan bakar dari Pertamina jenis Pertalite, yang dinilai memiliki kinerja yang lebih rendah dari Revvo89, meskipun angka RON tidak jauh berbeda yang hanya terpaut selisih satu poin. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja bahan bakar Pertalite dan Revvo89, berdasarkan parameter prestasi mesin pada tujuh kendaraan uji melalui tiga tahapan pengujian, yaitu uji jalan, uji sasis dinamometer, dan uji emisi . Tujuh kendaraan yang di uji antara lain Toyota Avanza 1300 cc, Toyota Avanza 1500 cc, Honda Brio 1200 cc, Toyota Calya 1200 cc, Suzuki Pick-Up 1500 cc, Toyota Innova 2000 cc dan Mitsubishi Xpander 1500 cc. Uji jalan dilakukan untuk mendapatkan data dari parameter akselerasi, kecepatan maksimum, dan konsumsi bahan bakar. Sedangkan uji sasis dinamometer bertujuan untuk mendapatkan data dari parameter torsi, daya, dan rasio udara-bahan bakar. Sementara uji emisi dilakukan untuk memperoleh data dari emisi gas buang kendaraan uji. Berdasarkan analisis parameter prestasi mesin terhadap kendaraan uji pada pemakaian bahan bakar Pertalite dan Revvo89, dapat disimpulkan bahwa RON bahan bakar tidak selalu sesuai dengan rasio kompresi kendaraan. Berdasarkan analisis bahan bakar Pertalite dengan RON 90 untuk rasio kompresi 9 – 10 hanya cocok untuk kendaraan uji Toyota Innova 2000 cc, dan untuk bahan bakar Revvo89 dengan RON 91,2 untuk rasio kompresi 10 – 11, hanya cocok untuk kendaraan uji Toyota Calya 1200 cc. Kelima kendaraan lainya tidak terdapat kesesuaian antara nilai RON bahan bakar dan rasio kompresi. Secara umum dari analisis, bahan bakar Pertalite lebih unggul dibandingkan Revvo89.
USULAN STRATEGI BAURAN PEMASARAN PADA PERUSAHAAN PERDAGANGAN PUPUK ORGANIK DENGAN MEMANFAATKAN BIG DATA ANALYTICS (STUDI KASUS : PT SIMCO TRIDATAMA)
Industri pertanian memainkan peran penting dalam ketahanan dan keberlanjutan pangan suatu negara. Meskipun produk pupuk sangat penting untuk menyediakan nutrisi bagi tanaman, dalam praktiknya, penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dapat menimbulkan dampak buruk terhadap kualitas tanah, termasuk kerusakan fisik, kimia, dan biologi, yang pada akhirnya mengurangi kesuburan tanah. Untuk mengatasi permasalahan ini, penggunaan pupuk organik didorong untuk meningkatkan kualitas tanah dan kandungan unsur hara, yang bertujuan untuk mencapai pendekatan yang seimbang dalam mengoptimalkan nutrisi tanaman sekaligus meminimalkan dampak buruk yang terkait dengan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Pergeseran perilaku konsumen ke arah pembelian online pasca-Covid telah mempengaruhi sektor pertanian, dengan lonjakan signifikan dalam penjualan produk tanaman di Tokopedia (platform E-Commerce terkemuka di Indonesia). Didukung dengan data jumlah petani milenial di Indonesia yang melek teknologi, terdapat peluang bagi perusahaan di sektor pertanian untuk memanfaatkan Big Data yang dihasilkan oleh website E-Commerce. PT Simco Tridatama sebagai perusahaan dagang yang biasa bergerak pada sektor Business-to-Business (B2B) mempunyai permasalahan dalam menentukan strategi bauran pemasaran yang tepat untuk penetrasi pasar retail dan e-commerce yang berdampak pada fluktuasi penjualan produk pupuk organik. . Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan strategi bauran pemasaran (4p) pupuk organik melalui penerapan Analisa Big Data menggunakan kerangka Knowledge Discovery in Database (KDD). Pengumpulan data dari E-Commerce dilakukan dengan metode Web Scraping, dilanjutkan dengan teknik pengolahan dan Data Mining seperti Pivot Table, K-Means, dan Multidimensional Scaling (MDS). Interpretasi data dari hasil data mining berfungsi sebagai solusi untuk merumuskan strategi perbaikan bagi perusahaan.