📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 26 dokumenPOTENSI DAN UPAYA IDXCARBON DI INDONESIA MEMELOPORI PERDAGANGAN KARBON SEBAGAI MEKANISME REGULASI EKONOMI UNTUK MENCAPAI NET-ZERO EMISSION SESUAI KOMITMEN INTERNASIONAL
Disertasi ini berfokus pada peran IDXCarbon dalam kebijakan iklim Indonesia dalam kaitannya dengan tujuan global mengurangi emisi gas rumah kaca, serta kompleksitas perdagangan karbon baik secara internasional maupun domestik. IDXCarbon yang dimulai pada 26 September 2023 menyoroti upaya terpenting Indonesia dalam memerangi perubahan iklim sesuai dengan protokol internasional seperti Konferensi PBB di Rio de Janeiro tentang SDGs, UNFCCC, Protokol Kyoto, dan Perjanjian Paris. Program ini menekankan peran Indonesia dalam mitigasi perubahan iklim, memanfaatkan perdagangan karbon untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060. Pasar Karbon, yang dikembangkan bekerja sama dengan ACX (Air Carbon Exchange), menggunakan teknologi rantai blok canggih untuk memastikan transparansi dan efektivitas, sehingga menghasilkan kekuatan yang kuat. dan pasar karbon yang adil. Sistem ini tidak hanya mematuhi persyaratan peraturan dan teknologi khusus Indonesia, namun juga berkontribusi dalam mengurangi jejak karbon negara ini. Studi ini menyelidiki kerangka operasional IDXCarbon, mekanisme perdagangan, dan kepatuhan untuk menilai efisiensi dan tantangannya, dengan tujuan menjadikannya model internasional untuk skema perdagangan karbon. Hal ini konsisten dengan komitmen iklim negara-negara besar yang dimulai pada tahun 2019 dan peningkatan aktivitas Indonesia setelah tahun 2021, sebagaimana tersirat dalam Keputusan Presiden Joko Widodo No. 98 tentang “Nilai Ekonomi Karbon”. Studi ini mendapat dukungan luas dari kementerian dan lembaga pemerintah di Indonesia, yang mengindikasikan adanya gerakan nasional untuk memasukkan permasalahan iklim ke dalam agenda pembangunannya, sehingga memungkinkan pertumbuhan ekonomi dan ekologi dalam jangka panjang.
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN HUTAN DI INDONESIA OLEH
Perubahan iklim seperti peningkatan temperatur dan penurunan curah hujan diprediksi akan berdampak terhadap frekuensi, intensitas, dan luasan area bahaya kebakaran hutan di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi perubahan frekuensi kejadian, intensitas bahaya, dan luasan area kebakaran hutan yang disebabkan oleh perubahan iklim. Data yang digunakan meliputi: reanalysis ERA5-Land yang diasumsikan sebagai observasi, dan luaran model CMIP6 untuk historis dan proyeksi near-future (2025-2054) dan far-future (2069-2098) digunakan untuk data model. Skenario SSP2-4.5 dan SSP5-8.5 digunakan untuk memodelkan potensi perubahan kebakaran hutan di masa depan. Metode yang digunakan adalah perhitungan Fire Weather Index (FWI), pengategorian nilai FWI (sangat rendah, rendah, moderat, tinggi sangat tinggi, ekstrem), perhitungan frekuensi dan perubahan frekuensi tiap kategori FWI, peratingan dan pembobotan tiap kategori FWI, perhitungan intensitas dan perubahan intensitas bahaya, pengategorian bahaya (sangat rendah, rendah, moderat, tinggi, dan sangat tinggi), dan perhitungan luasan serta perubahan luasan bahaya tiap kategori bahaya kebakaran. Hasil penelitian menunjukkan perbandingan antara periode near-future (2025 – 2054) dan far-future (2069 – 2098) dengan skenario SSP2-4.5 dan SSP5-8.5 secara Ensemble mean konsensus model 63% dari segi frekuensi tiap kategori (moderat, tinggi, sangat tinggi, dan ekstrem) di sebagian wilayah di Indonesia akan berpotensi mengalami peningkatan mulai dari 25 hingga 250 kali dari periode historis (1985 – 2014). Dari segi intensitas, bahaya kebakaran hutan akan mengalami peningkatan intensitas bahaya sebesar 1 – 9 kali dan peningkatan level bahaya ringan menjadi moderat dari periode historis (1985 – 2014). Dari segi luasan area bahaya, seluas 111,5 – 305,4 ribu km2 daerah dengan level bahaya sangat rendah akan berubah naik menjadi daerah-daerah dengan level bahaya kebakaran hutan yang lebih tinggi.
EVALUASI MODEL PALEOCLIMATE MODELING INTERCOMPARISON PROJECT PHASE 4 (PMIP4) DALAM MENSIMULASIKAN KONTRAKSI INDO-PACIFIC WARM POOL ANTARA PERIODE MID-HOLOSEN DAN MODERN
Indo-Pacific Warm Pool (IPWP) merupakan kolam hangat yang memiliki peran penting dalam memengaruhi iklim Asia dan perubahan iklim skala global. Ketidakpastian dalam memproyeksikan iklim masa depan mendorong kebutuhan akan model iklim yang mampu mensimulasikan iklim masa lampau dengan baik untuk meningkatkan keandalan proyeksi. Pada penelitian ini dilakukan perbandingan antara perubahan suhu permukaan laut (SPL) di IPWP hasil simulasi model pada periode Mid-Holosen relatif terhadap kondisi Pra-Industri yang terdapat pada Paleoclimate Modelling Intercomparison Project phase 4 (PMIP4) dengan data arsip alami proxy SPL menggunakan Weighted Cohen’s Kappa (??). Data proxy SPL menunjukkan terjadinya pendinginan di bagian barat dan timur dari wilayah IPWP dan penghangatan di bagian tengah IPWP. Sedangkan hasil simulasi seluruh model untuk rata-rata seluruh tahun menunjukkan terjadinya pendinginan di seluruh wilayah IPWP, yang diduga akibat gandungan gas rumah kaca. Walau demikian, pada rata-rata musim Desember-Januari-Februari (DJF), sebagian model menunjukkan terjadinya penghangatan pada bagian tengah IPWP. Sebagian besar model menunjukkan terjadinya pendinginan pada Maret-April-Mei (MAM) dan Juni-Juli-Agustus (JJA) di seluruh wilayah IPWP. Pada September-OktoberNovember (SON), sebagian besar wilayah IPWP menunjukkan penghangatan. Model Climate Earth System Model, version 2 (CESM2) pada bulan DJF menunjukkan hasil simulasi yang paling baik dari seluruh model dengan nilai ?? = 0,4088. Nilai Cohen’s Kappa yang rendah untuk rataan seluruh tahun menunjukkan model PMIP4 yang digunakan belum mampu mensimulasikan kontraksi IPWP pada periode Mid-Holosen.
PERANCANGAN KAWASAN PERMUKIMAN TERAPUNG DI KEPULAUAN SERIBU STUDI KASUS : PULAU TIDUNG
Kenaikan permukaan air laut yang diproyeksikan dalam kurun waktu 100 tahun ke depan diperkirakan dapat mencapai hingga 1,40 meter, dengan laju kenaikan rata-rata 4 mm per tahun. Fenomena ini berpotensi menyebabkan terendamnya beberapa pulau kecil yang ada di Indonesia, termasuk Pulau Tidung di Kabupaten Kepulauan Seribu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang solusi terhadap persoalan kenaikan air laut melalui pengembangan kawasan permukiman terapung. Proses perancangan dilakukan menggunakan metode Fragmental, yang memungkinkan identifikasi solusi secara cepat dan tepat melalui pendekatan Problem Solving. Hasil dari penerapan metode ini adalah kriteria perancangan Kawasan Permukiman Terapung yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim serta menciptakan sistem kota yang Kompak serta dapat memulihkan Ekologi kawasan yang terdampak. Diharapkan bahwa hasil dari perancangan ini dapat menjadi acuan bagi Pemerintah, Masyarakat, dan Perencana Kota dalam menghadapi isu kenaikan air laut di Indonesia
IDENTIFIKASI KETAHANAN RUMAH TANGGA DI KAWASAN PESISIR KELURAHAN LEATO SELATAN AKIBAT DAMPAK PERUBAHAN IKLIM
Kawasan pesisir kelurahan Leato Selatan merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi sebagai tempat kegiatan perdagangan, pintu keluar masuknya transportasi jalur darat dan laut maupun kegiatan lainya akhir-akhir ini sering mengalami kenaikan muka air laut akibat dampak perubahan iklim. Dampak kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim di kawasan pesisir Leato Selatan antara lain yaitu menyebabkan rusaknya pemukiman, kerusakan lingkungan serta mempengaruhi kondisi sosial ekonomi rumah tangga. Untuk itu, perlunya identifikasi ketahanan rumah tangga di kawasan pesisir kelurahan Leato Selatan dalam menghadapi ancaman kenaikan muka air laut akibat dampak perubahan iklim. Adapun ketahanan rumah tangga yang di identifikasi dalam penelitian ini yaitu aspek sosial, aspek ekonomi, serta aspek fisik dan lingkungan. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode kuantitatif dengan analisis skoring. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh peneliti, rata-rata rumah tangga di kawasan pesisir Kelurahan Leato Selatan sudah memiliki kondisi ketahanan yang baik dalam menghadapi ancaman kenaikan muka air laut akibat dampak perubahan iklim. Dari total 100 responden yang dijadikan sebagai sampel penelitian perwakilan dari masing-masing rumah tangga terdapat 94 responden sudah memiliki ketahanan tinggi serta 6 responden yang memiliki ketahanan sedang. Namun setelah peneliti melakukan validasi atas hasil yang diperoleh dalam penelitian, dengan memperoleh informasi dari pihak pemerintah kelurahan dan pihak LSM serta berdasarkan kondisi di lapangan dapat disimpulkan bahwa tidak sepenuhnya dapat dikatakan bahwa rumah tangga di lokasi penelitian sudah memiliki ketahanan tinggi terhadap kenaikan muka air laut akibat dampak perubahan iklim. Untuk itu, pada aspek sosial perlunya melakukan pelatihan-pelatihan atau sosialisasi kepada masing-masing rumah tangga, sementara untuk aspek ekonomi perlunya UMKM yang dimiliki oleh setiap rumah tangga agar tidak hanya bergantung pada kondisi laut dan untuk aspek fisisk-lingkungan diperlukanya infrastruktur tangguh pemecah ombak.
EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI EKONOMI SIRKULER DI UNI EROPA (27) TERHADAP TINGKAT PERUBAHAN IKLIM: ANALISIS PREVALENSI DENGAN DATA EUROSTAT
Ekonomi sirkuler, pendekatan berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya, semakin mendapat perhatian di tengah kekhawatiran yang meningkat terhadap perubahan iklim akibat peningkatan emisi gas rumah kaca. Masalahnya terletak pada dampak nyata penggunaan ekonomi sirkuler dalam membangun ketahanan iklim. Dalam studi ini, saya menganalisis data Eurostat dari 27 negara Uni Eropa menggunakan statistik regresi multivariat untuk mengungkap hubungan antara praktik ekonomi sirkuler dan emisi gas rumah kaca. Dengan menerapkan kerangka metodologis yang kuat, temuan saya mengungkapkan adanya korelasi signifikan antara adopsi ekonomi sirkuler dan penurunan emisi gas rumah kaca. Temuan ini memiliki implikasi bagi pembuat kebijakan, mendorong integrasi strategi ekonomi sirkuler untuk meningkatkan ketahanan iklim dan membentuk kebijakan iklim yang efektif bagi pembuat kebijakan Uni Eropa.
PERENCANAAN SKENARIO UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS DALAM PEMBANGKIT LISTRIK MANDIRI: STUDI KASUS PT KPC DALAM MENGHADAPI TANTANGAN EMISI NOL BERSIH GLOBAL SETELAH 2031
PT Kaltim Prima Coal (KPC) menghadapi tantangan signifikan dengan pembangkit listrik captive-nya di tengah komitmen Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060. Berbagai faktor pendorong menciptakan ketidakpastian dan mempengaruhi keberlanjutan pembangkit listrik berbahan bakar batubara KPC. Studi ini menangani tantangan-tantangan tersebut dengan menggunakan pendekatan perencanaan skenario yang komprehensif untuk mengidentifikasi ketidakpastian kritis, mengembangkan skenario masa depan yang masuk akal, dan mengusulkan rekomendasi strategis yang dapat ditindaklanjuti. Tujuannya adalah untuk menyediakan kerangka kerja yang kokoh bagi KPC untuk menavigasi ketidakpastian ini sambil memastikan kepatuhan terhadap peraturan yang terus berkembang dan menjaga efisiensi operasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor pendorong yang menyebabkan ketidakpastian, membuat skenario yang masuk akal untuk operasi masa depan KPC, dan merumuskan rekomendasi strategis. Metodologi kualitatif digunakan, mengintegrasikan data primer dari survei, wawancara, dan diskusi kelompok terarah dengan data sekunder dari publikasi pemerintah, jurnal akademik, dan laporan industri. Proses perencanaan skenario mengikuti lima tahap: orientasi, eksplorasi, penciptaan skenario, pertimbangan, dan integrasi. Pendekatan ini mengidentifikasi dua ketidakpastian kritis—fluktuasi harga batubara dan variasi regulasi karbon—yang menjadi dasar untuk empat skenario: Pedang Bermata Dua, Garis Perak, Badai Sempurna, dan Era Keemasan. Setiap skenario memberikan implikasi unik bagi operasi KPC, stabilitas keuangan, dan kepatuhan regulasi. Temuan studi ini menunjukkan bahwa meningkatkan efisiensi operasional, mengadopsi pembakaran biomassa, dan terlibat dalam proyek kredit karbon dan offset adalah strategi yang layak di semua skenario. Strategi-strategi ini bertujuan untuk mengurangi biaya dan emisi, memanfaatkan infrastruktur yang ada, dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi. Penelitian ini berkontribusi pada manajemen strategis di sektor energi dengan menunjukkan efektivitas perencanaan skenario dalam menangani ketidakpastian terkait perubahan iklim dan perubahan regulasi. Dengan menerapkan rekomendasi ini dan memantau sinyal peringatan dini, pembangkit listrik captive PT KPC dapat lebih baik mempersiapkan diri menghadapi ketidakpastian di masa depan, selaras dengan tujuan Emisi Nol Bersih Indonesia setelah tahun 2031, dan mempertahankan ketahanan serta daya saing selama transisi energi global.
SIMULASI PENCAHAYAAN ALAMI BERDASARKAN VARIASI UKURAN DAN POSISI BUKAAN PADA RUANG KELAS SEKOLAH DASAR NEGERI DI INDONESIA DENGAN MEMPERTIMBANGKAN SKENARIO PERUBAHAN IKLIM
Pencahayaan alami merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan pada desain ruang kelas sekolah dasar negeri di Indonesia karena akan berdampak pada kesehatan, kenyamanan, dan fokus siswa. Kinerja pencahayaan alami yang baik dapat mengurangi penggunaan lampu sehingga akan berdampak pada penghematan energi listrik. Bangunan ruang kelas sekolah dasar yang berada di Indonesia seharusnya memiliki kinerja pencahayaan alami yang optimal karena Indonesia merupakan negara tropis yang mendapatkan penyinaran matahari sepanjang tahun. Namun, perubahan iklim yang terus terjadi dari masa ke masa menyebabkan kinerja pencahayaan alami pada ruang kelas sekolah dasar negeri berubah seiring dengan berjalannya waktu. Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mengubah parameter desain bangunan. Salah satu parameter desain bangunan yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja pencahayaan alami adalah WWR. Maka, desain ruang kelas sekolah dasar yang memiliki kinerja pencahayaan alami yang baik dapat diperoleh dengan memvariasikan parameter desain bangunan yang berkaitan dengan WWR, seperti ukuran dan posisi bukaan. Kinerja pencahayaan alami pada ruang kelas sekolah dasar negeri di Indonesia dapat diketahui melalui pemodelan bangunan dan simulasi pada perangkat lunak Rhinoceros 3D dan Grasshopper. Simulasi tersebut dilakukan dengan memanfaatkan data iklim historis yang diperoleh dari situs Climate One Buildings dan data iklim masa depan yang diperoleh dari Future Weather Generator. Hasil simulasi desain dasar dengan skenario perubahan tahun dan emisi data iklim menunjukkan bahwa skenario perubahan iklim memengaruhi kinerja pencahayaan alami pada ruang kelas sekolah dasar negeri di Indonesia karena perubahan iklim menyebabkan komponen radiasi dan iluminansi juga berubah. Maka dari itu, dilakukan simulasi desain variasi pada setiap skenario iklim masa depan. Hasil simulasi tersebut menunjukkan bahwa WWR adalah parameter desain yang paling memengaruhi kinerja pencahayaan alami pada penelitian ini. Setelah dilakukan optimisasi terhadap semua hasil simulasi, terdapat satu desain bukaan yang optimal untuk semua skenario iklim masa depan, yaitu bukaan dengan WWR sebesar 15%, elevasi jendela sebesar 1,5 m, tinggi jendela sebesar 1,1 m, dan jarak antarjendela sebesar 1,5 m. Kata kunci: ruang kelas, sekolah dasar, pencahayaan alami, perubahan iklim masa depan, ukuran dan posisi bukaan?
PENGARUH PENERBITAN OBLIGASI HIJAU OLEH PERUSAHAAN DI INDONESIA TERHADAP RASIO PROFITABILITAS DAN AKTIFITAS
Adanya dampak perubahan iklim yang mengganggu, perlu diatasi karena akan berdampak pada individu, pemerintahan, lingkungan hidup, dan kerugian ekonomi. Obligasi hijau pada umumnya digunakan dalam praktik keuangan ramah lingkungan untuk mengatasi masalah perubahan iklim dan pendanaan dari obligasi hijau tersebut digunakan untuk proyek-proyek ramah lingkungan. Perusahaan-perusahaan di Indonesia didorong untuk menerbitkan obligasi hijau oleh pemerintah Indonesia. Hal ini merupakan bagian dari tanggung jawab Indonesia untuk mengatasi masalah perubahan iklim karena sektor industri di Indonesia menyumbangkan emisi karbon yang signifikan. PT Sarana Multi Infrastruktur menanggapi hal tersebut dengan menerbitkan obligasi hijau pada tahun 2018 dan perusahaan tersebut akan dijadikan sampel dalam penelitian ini. Pada penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis pengaruh penerbitan obligasi hijau terhadap rasio profitabilitas dan aktivitas. Pada penelitian ini menggunakan metode Difference-inDifference dengan hasil analisis menunjukan bahwa perusahaan di Indonesia yang menerbitkan obligasi hijau memberikan dampak yang signifikan terhadap rasio profitabilitas dan aktifitas rasio. Hal ini menunjukkan bahwa Perusahaan dapat memanfaatkan asetnya secara efektif dan mampu mengoptimalkan alokasi modal dari pembiayaan obligasi hijau untuk menghasilakn keuntungan dan pendapatan. Maka dari itu, Perusahaan di Indonesia dapat mendukung masalah perubahan iklim dengan menerbitkan obligasi hijau yang juga memiliki pengaruh dalam menarik perhatian investor.
STUDI KOMPARASI PERFORMA BIOKLIMATIK DESAIN MASJID PADA PARAMETER TEMPERATUR DAN BEBAN PENDINGINAN STUDI KASUS: MASJID DI KOTA PALEMBANG
Fenomena yang terjadi pada zaman modern terkait majunya fasilitas akomodasi material hingga teknologi konstruksi berpengaruh pada bangunan ibadah masjid yang menjadikannya memiliki gaya arsitektur yang sama di seluruh dunia terlepas dari keseuaiannya dengan iklim setempat. Para perancang/arsitek tentu mengikuti apa yang menjadi tren desain masjid sekarang yakni masjid dengan desain berasal dari timur tengah yang jelas memiliki profil iklim yang berbeda dengan Indonesia yakni dry warm climates dengan kecenderungan kering serta curah hujan yang rendah dan suhu yang variatif. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan mengungkap perbedaan desain dan menjelaskan perbedaan kinerja bioklimatik khususnya dalam parameter temperatur dan penggunaan energi pada bangunan masjid lama dan baru. Diasumsikan terjadi perbedaan performa yang signifikan karena perbedaan respon orientasi iklim. Penelitian ini tergolong baru di Indonesia karena kebanyakan pembahasan terkait arsitektur lama dan baru lebih membicarakan terkait isu perubahan langgam dan ragam hias arsitektural bangunan masjid. Penelitian ini akan menyajikan pandangan baru berupa komparasi evaluasi kinerja bangunan pada kedua kategori bangunan dengan variabel yang secara jelas membedakan antara keduanya. Diperoleh temuan bahwa dari desain yang representatif masjid lama memiliki kinerja bioklimatik yang lebih efisien dibanding desain yang representatif masjid baru.
PANDANGAN MENGENAI RISIKO PAPARAN PANAS AKIBAT PERUBAHAN IKLIM DI PERKOTAAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEJAHTERAAN MENTAL DAN KINERJA DI JAKARTA, INDONESIA
Perubahan iklim telah lama menjadi perhatian global karena dampak luas yang ditimbulkannya terhadap lingkungan, termasuk kesehatan manusia. Seiring dengan jumlah kematian akibat "dampak kesehatan yang dipahami dengan baik dari perubahan iklim" terus meningkat, ada kebutuhan mendesak untuk data empiris yang membuktikan faktor-faktor yang dapat berkontribusi terhadap kondisi kesehatan mental seseorang akibat efek panas perkotaan akibat perubahan iklim. Meskipun studi sebelumnya telah menunjukkan dalam pengukuran bagaimana posisi sosioekonomi dapat mempengaruhi kerentanan terhadap morbiditas yang terkait dengan panas, sebagai salah satu manifestasi perubahan iklim, dengan kesehatan mental adalah rumit dan kompleks. Oleh karena itu, faktor-faktor lain, seperti persepsi risiko, masih bisa memainkan peran dalam hubungan tersebut. Penelitian ini mengeksplorasi faktor-faktor tersebut dan menguji interaksi antara faktor demografis, persepsi risiko perubahan iklim yang didorong oleh panas perkotaan, kesejahteraan mental, dan kinerja tugas individu. Analisis menyoroti bagaimana pendapatan bulanan yang lebih tinggi berkorelasi dengan indikator kesejahteraan mental yang ditingkatkan dan kinerja tugas individu, menyoroti pengaruh status sosioekonomi terhadap persepsi risiko panas perkotaan dan kesejahteraan mental. Selain itu, kesejahteraan mental yang lebih tinggi terkait dengan peningkatan kinerja, dan demografi sosial muncul sebagai prediktor kunci dari persepsi risiko, yang kemudian memengaruhi kesejahteraan mental dan kinerja tugas individu. Temuan ini memberikan wawasan dalam memahami dinamika kompleks dampak perubahan iklim perkotaan terhadap kesejahteraan mental dan produktivitas.