π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 58 dokumenKARAKTERISASI TIGHT RESERVOIR MENGGUNAKAN AMPLITUDE VARIATION WITH FREQUENCY (AVF), SEISMIK MULTI-ATRIBUT, DAN NEURAL NETWORK PADA LAPANGAN βNBβ, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN
Lapangan βNBβ yang terletak di Cekungan Sumatra Selatan merupakan salah satu lapangan hidrokarbon yang tergolong sebagai tight reservoir dengan kedalaman relatif dangkal serta memiliki geometri kompleks akibat keberadaan strike-slip fault yang memotong struktur antiklin utama. Keberadaan sesar tersebut menjadi indikasi adanya kompartemenlisasi yang berdampak pada kontinuitas dan persebaran properti reservoir. Data yang tersedia berupa data 3D PSTM tanpa data gather. Untuk menghadapi kondisi tersebut, diperlukan upaya peningkatan kualitas data seismik melalui proses preconditioning. Preconditioning terbatas pada penghilangan noise data seismik menggunakan FXY-Deconvolution yang bekerja pada domain frekuensi. Adapun metode karakterisasi reservoir dilakukan secara terintegrasi dengan memanfaatkan berbagai metode yang relevan, yaitu analisis sensitivitas, atribut amplitudo, atribut kompleks, Amplitude Variation with Frequency (AVF), inversi post-stack, serta metode emerge training dengan pendekatan seismik multi-atribut dan neural network. Berdasarkan hasil analisis sensitivitas, parameter Vp/Vs adalah parameter paling sensitif, sehingga Vp/Vs menjadi indikator utama dalam identifikasi zona prospektif hidrokarbon lapangan penelitian dan terdapat perbedaan trend pada cross plot. Analisis dilakukan pada 12 sumur, dengan tiga sumur diantaranya memiliki log Vs yang memungkinkan perhitungan nilai Vp/Vs dengan menggunakan emerge log predict. Integrasi metode-metode tersebut menghasilkan dugaan bahwa sistem sesar pada lapangan βNBβ tidak hanya memengaruhi struktur, tetapi juga berperan dalam membentuk reservoir dengan karakteristik yang berbeda. Melalui proses emerge training menggunakan neural network, dihasilkan volume pseudo Vp/Vs. Dengan demikian, studi ini menunjukkan bahwa integrasi metode preconditioning, seismik atribut, serta emerge training berbasis multi-atribut dan neural network dapat meningkatkan kualitas data untuk karakterisasi reservoir pada lapangan βNBβ. Diperoleh bahwa kedua area penelitian yang terpisahkan oleh strike-slip fault memiliki potensi yang tinggi dengan karakteristik berbeda.
SIMULASI PEMANTAUAN PLUME CO2 MENGGUNAKAN TEKNIK 3D SEISMIK SELANG WAKTU UNTUK STUDI KASUS CCS PADA LAPANGAN
Krisis iklim yang memburuk mendorong Carbon Capture and Storage (CCS) sebagai solusi strategis, dengan Indonesia berkomitmen pada implementasinya, termasuk di lapangan "GR", Sulawesi Tengah, yang memerlukan pemantauan plume CO? pasca-injeksi untuk memastikan keamanan penyimpanan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan mensimulasikan pemantauan plume CO? menggunakan metode seismik 3D selang waktu yang diawali validasi properti seismik dengan data sumur, dan dilanjutkan perhitungan substitusi fluida dari brine ke CO? yang menghasilkan penurunan Vp (7.19%) dan densitas (1.08%) serta peningkatan Vs (0.54%). Perubahan properti ini menjadi dasar pembangunan model kecepatan dan densitas 3D untuk kondisi sebelum dan sesudah injeksi (10 dan 20 tahun), yang kemudian diinput ke perangkat lunak NORSAR untuk simulasi seismik dan pengolahan data termasuk migrasi. Hasilnya menunjukkan bahwa proses migrasi berhasil mengatasi efek bow tie dan secara efektif mencitrakan geometri plume CO? pada section seismic dan time slice map, mengonfirmasi bahwa plume CO? dapat dideteksi jelas melalui respons seismik, serta membuktikan potensi besar metode seismik 3D selang waktu dalam mendukung keamanan dan keberlanjutan program CCS.
EVALUASI PENENTUAN SEISMIK UNTUK ANALISIS PSEUDOSTATIK PADA BENDUNGAN WAY APU.
Evaluasi stabilitas dinamik bendungan urugan umumnya dilakukan dengan analisis pseudo-statik berbasis metode keseimbangan batas karena sifatnya yang sederhana dan mudah diterapkan. Aspek utama dalam analisis ini adalah penentuan koefisien seismik yang diaplikasikan pada bidang gelincir potensial. Di Indonesia, prosedur tersebut diatur dalam pedoman PdT-14-2004-A mengenai analisis stabilitas bendungan urugan akibat beban gempa. Pedoman ini diadaptasi dari standar desain Jepang Tahun 1992 yang disusun berdasarkan kondisi kegempaan dan geologi setempat, sehingga berpotensi kurang sesuai dengan karakteristik seismik Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian penentuan koefisien seismik pada PdT-14-2004-A terhadap kondisi ground motion di Indonesia dengan studi kasus Bendungan Way Apu. Analisis dilakukan dengan mengadaptasi metode Ghanbari dan Davoodi (2010), yang mempertimbangkan dua faktor utama, yaitu faktor reduksi percepatan horizontal maksimum di permukaan (?) dan faktor amplifikasi akibat geometri bendungan (?). Parameter ? diperoleh dengan membandingkan koefisien seismik leleh terhadap percepatan horizontal maksimum yang menghasilkan deformasi permanen sebesar 0,3 m berdasarkan analisis deformasi Newmark. Sementara itu, parameter ? ditentukan dari kecenderungan variasi koefisien seismik terhadap elevasi bendungan dengan asumsi linier, menggunakan variasi bidang gelincir pada Y/H = 1, 0,75, 0,5, dan 0,25 sebagaimana diatur dalam Pd T-14-2004-A. Pemodelan 2D dengan QUAKE/W digunakan untuk analisis rambatan gelombang dan penentuan periode natural bendungan, yang selanjutnya dimanfaatkan dalam seismic hazard analysis guna memperoleh ground motion sintetis sesuai kondisi lokasi. Hasil analisis dibandingkan dengan pendekatan terdahulu (Makdisi-Seed, 1978; Hynes-Griffin, 1984; Bray-Travasarou, 2009; Ghanbari dan Davoodi, 2010; Langit, 2021; Aghnat, 2021) serta pedoman negara lain (Jepang dan India). Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai koefisien seismik yang diperoleh relatif lebih rendah dibandingkan Pd T-14-2004-A, namun mendekati nilai pada pedoman Jepang. Dengan demikian, pedoman Pd T-14-2004-A dapat dikatakan bersifat konservatif, namun tetap relevan sebagai acuan dalam desain stabilitas dinamik bendungan urugan di Indonesia.
SIMULASI PEMANTAUAN INJEKSI CO2 MENGGUNAKAN METODE PEMODELAN KEDEPAN SEISMIK REFLEKSI 3D SELANG WAKTU PADA LAPANGAN
Perubahan iklim merupakan masalah penting yang berdampak pada skala lokal maupun global. Iklim yang bersifat dinamis dapat mengalami perubahan karena berbagai faktor, salah satunya adalah peningkatan emisi karbon dalam bentuk gas CO?. Oleh karena itu diperlukan upaya mitigasi dan salah satunya melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Untuk memastikan keamanannnya, setiap proyek CCS memerlukan sistem pemantauan guna melacak sebaran CO?. Salah satu metode pemantauan adalah seismik refleksi 3D selang waktu yang dilakukan dengan cara mendeteksi perubahan respon seismik. Salah satu lokasi yang berpotensi untuk implementasi CCS di Indonesia adalah Lapangan "FD", wilayah Cekungan Banggai, Sulawesi Tengah. Target reservoir pada Lapangan βFDβ adalah Formasi Mentawa dengan Formasi Poh sebagai batuan penutup. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan simulasi pemantauan CO? dengan menggunakan metode pemodelan kedepan seismik 3D selang waktu untuk periode injeksi selama 20 tahun serta pasca injeksi. Model kecepatan gelombang P dan densitas batuan dibangun berdasarkan data sumur dan peta struktur kedalaman lalu dimodifikasi dengan menambahkan plume CO? pada Formasi Mentawa yang berada pada kedalaman 1100β1200 meter. Properti fisik plume CO? dihitung dengan pendekatan substitusi fluida Gassman dan DEM. Hasil subtitusi fluida menunjukkan penurunan kecepatan gelombang P dan densitas masing-masing sebesar 6.62% dan 7.0%. Selanjutnya didesain suatu survey akuisisi seismik refleksi 3D untuk mensimulasikan perambatan gelombang seismik. Simulasi ini menghasilkan seismogram sintetik untuk kondisi sebelum dan sesudah injeksi CO?. Data seismogram kemudian diproses melalui tahapan penentuan geometri, stacking, dan time migration. Hasil simulasi dan pengolahan data mampu mencitrakan geometri plume CO? dengan baik dalam arah vertikal maupun lateral. Ditemukan perubahan amplitudo pada top Formasi Mentawa serta delay pada refleksi top Formasi Minahaki dan Matindok di sekitar area plume CO?.
EVALUASI RESPON GEMPA MAKSIMUM (MCER) PADA BANGUNAN TINGGI FLAT PLATE DENGAN SISTEM DINDING GESER HASIL DESAIN BERBASIS KINERJA PADA LEVEL GEMPA SERVIS (SLE)
Sistem flat plate merupakan sistem pelat lantai dua arah tanpa balok yang langsung didukung oleh kolom. Sistem ini memiliki berbagai keunggulan seperti kemudahan konstruksi, efisiensi penggunaan ruang, fleksibilitas tata letak arsitektural, serta penghematan material dan biaya. Namun, pada bangunan tinggi di wilayah rawan gempa, sistem ini memiliki keterbatasan signifikan, terutama dalam kapasitas menahan beban lateral dan potensi kegagalan punching shear di sekitar sambungan kolom-pelat. Oleh karena itu, penggunaan flat plate umumnya dikombinasikan dengan sistem penahan beban lateral seperti shear wall. Meskipun demikian, peraturan SNI 1726:2019 tetap membatasi ketinggian bangunan untuk kategori desain seismik D, E, dan F. Pendekatan Performance-Based Seismic Design (PBSD) menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan tersebut, karena memungkinkan evaluasi perilaku struktur pada berbagai tingkat kinerja, seperti Immediate Occupancy (IO), Life Safety (LS), dan Collapse Prevention (CP). Berdasarkan PEER Tall Building Initiative (TBI) Guidelines, PBSD mengharuskan analisis pada dua tingkat gempa: Service-Level Earthquake (SLE) dengan periode ulang 43 tahun (probabilitas terlampaui 50% dalam 30 tahun) yang bertujuan memastikan struktur berfungsi tanpa kerusakan signifikan, dan Risk-Targeted Maximum Considered Earthquake (MCER) dengan periode ulang 2475 tahun (probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun) yang digunakan untuk mengevaluasi ketahanan maksimum struktur terhadap gempa besar. Penelitian ini berfokus pada perancangan gedung kantor flat plate dengan sistem shear wall menggunakan pendekatan PBSD untuk kategori risiko bangunan tinggi. Evaluasi dilakukan untuk meninjau apakah hasil desain yang memenuhi kriteria pada level SLE juga memadai untuk memenuhi persyaratan evaluasi MCER secara nonlinear. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran efektivitas desain awal berbasis SLE dalam menjamin kinerja struktur terhadap gempa maksimum sesuai standar PBSD. Berdasarkan hasil analisis, desain hasil level SLE dapat memenuhi kriteria penerimaan global MCER, namun belum cukup untuk memenuhi seluruh kriteria penerimaan MCER, selain itu asumsi awal pelat elastis juga tidak sesuai sehingga diperlukan pemodelan pelat secara nonlinear.
PERANCANGAN DAN EVALUASI KINERJA STRUKTUR ATAS RUMAH SAKIT DI JAKARTA DENGAN DAN TANPA BASE ISOLATION
Tingginya risiko seismik di wilayah Indonesia menjadi tantangan bagi perancangan struktur rumah sakit sebagai infrastruktur vital yang harus dapat beroperasi pascagempa. Dalam upaya peningkatan ketahanan tersebut, sistem base isolation menjadi solusi inovatif untuk melindungi struktur dari kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja struktur rumah sakit 11 lantai di Jakarta dengan dan tanpa base isolation jenis High Damping Rubber Bearing (HDRB) pada struktur dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Analisis berfokus pada respons dinamis dan perilaku nonlinear kedua sistem yang dimodelkan menggunakan perangkat lunak ETABS dengan mengacu standar desain gempa SNI 1726:2019. Evaluasi kinerja seismik dilakukan berdasarkan analisis respons spektra (RSA) untuk respons dinamis dan analisis pushover nonlinear untuk mengevaluasi perilaku inelastik. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan base isolation secara efektif mengubah respons dinamik struktur. Terjadi peningkatan periode dari 1.783 s menjadi 3.682 s dan penurunan gaya geser dasar hingga 63%. Struktur dengan base isolation menunjukkan reduksi signifikan pada gaya dalam elemen serta penurunan simpangan antarlantai hingga 72%. Mekanisme disipasi energi gempa berhasil dialihkan sepenuhnya pada komponen isolator yang memastikan elemen struktur utama tidak mengalami kerusakan. Penggunaan base isolation berhasil meningkatkan kinerja struktur dari Immediate Occupancy menjadi Operational. Hasil penelitian ini secara komprehensif membuktikan bahwa implementasi base isolation sangat efektif dalam meningkatkan kinerja seismik struktur, menjaga integritas struktural, dan memastikan keberlanjutan fungsional struktur rumah sakit.
EVALUASI KINERJA SEISMIK DAN PERANCANGAN RETROFIT MELALUI PENERAPAN BANTALAN ISOLASI SEISMIK BERDASARKAN REVISI PETA BAHAYA SEISMIK ANTARA TAHUN 2004 DAN TAHUN 2022
Indonesia merupakan negara dengan tingkat aktivitas seismotektonik yang tinggi karena terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Eurasia. Terutama Kota Padang yang berada dekat zona subduksi dan sesar aktif. Penelitian ini mengevaluasi kinerja seismik jembatan non-isolated di Kota Padang berdasarkan revisi peta bahaya gempa tahun 2004 dan 2022, serta merancang strategi retrofitting menggunakan bantalan isolasi seismik Lead Rubber Bearing (LRB). Analisis dilakukan dengan metode Nonlinear Time History Analysis (NLTHA) menggunakan perangkat lunak MIDAS Civil 2025. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peningkatan demand gempa pada peta 2022 menyebabkan nilai Demand/Capacity Ratio (D/C) Pilar meningkat signifikan, melebihi batas aman. Penerapan LRB berhasil menurunkan nilai D/C, serta mengurangi deformasi lateral dan drift secara signifikan. Pada Pilar 1,5 m Γ 1,5 m, level kinerja meningkat dari Near Collapse menjadi Fully Operational, sedangkan pada Pilar 3 m Γ 3 m level kinerja meningkat dari Near Collapse menjadi Immediate Occupancy. Dengan demikian, penggunaan LRB terbukti efektif dalam meningkatkan kinerja seismik dan keselamatan struktur jembatan terhadap gempa rencana sesuai standar terbaru.
ANALISIS POLA SEISMISITAS DAN MEKANISME SUMBER DI AREA INJEKSI DAN PRODUKSI LAPANGAN PANAS BUMI
Indonesia memiliki potensi panas bumi yang tinggi karena letaknya berada pada jalur busur vulkanik aktif. Lapangan Panas Bumi βSEVERAβ merupakan salah satu wilayah yang menunjukkan adanya aktivitas mikroseismik yang signifikan sebagai respons terhadap proses injeksi dan produksi fluida. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi hiposenter, magnitudo momen (Mw), nilai b-value, dan mekanisme fokus kejadian mikroseismik di bagian barat dan timur lapangan. Penentuan hiposenter dilakukan menggunakan metode Non-Linear dengan perangkat lunak NonLinLoc, perhitungan magnitudo momen menggunakan metode Spectral Fitting, dan mekanisme fokus ditentukan melalui metode Full Waveform Inversion (FWI). Sebanyak 80 kejadian mikroseismik berhasil dipetakan, dengan hiposenter terkonsentrasi pada bagian barat (injeksi) pada kedalaman 0,5β0,79 km dan bagian timur (produksi) pada kedalaman 0,75β1,2 km. Nilai rata-rata magnitudo momen sebesar 0,61 Mw, dengan nilai tertinggi 1,36 Mw. Bagian barat menunjukkan nilai 0,679 Mw yang lebih tinggi dibandingkan bagian timur 0,553 Mw, mengindikasikan efek peningkatan tekanan pori akibat injeksi fluida. Nilai bvalue sebesar 1,94 mengindikasikan dominasi kejadian bermagnitudo kecil. Terdapat 16 pola mekanisme fokus yang sudah berhasil ditentukan menggunakan Full Waveform Inversion. Zona timur didominasi oleh normal fault dengan komponen dominan berupa double couple (DC) dan isotropik (ISO). Sementara itu, zona barat menunjukkan kombinasi normal fault dan thrust fault, dengan dominasi komponen CLVD. Perbedaan ini mencerminkan pengaruh fluida terhadap arah dan tipe deformasi di masing-masing zona. Hasil ini menunjukkan bahwa seismisitas di Lapangan βSEVERAβ sangat dipengaruhi oleh aktivitas injeksi dan produksi fluida, serta pentingnya analisis mekanisme fokus untuk memahami respons geomekanik sistem panas bumi.
ESTIMASI LOKASI DAN WAKTU INSIDEN ASAL GEMPA BUMI DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA DAN SIMULATED ANNEALING
Seismologi adalah ilmu fisika yang mempelajari gempa bumi dan gelombang seismik, dan salah satu masalah terpenting dalam seismologi adalah estimasi lokasi asal dan waktu insiden gempa bumi. Prinsip dasar dari estimasi asal gempa bumi adalah meminimalisir perbedaan antara waktu gempa terdeteksi sebenarnya dengan waktu gempa terdeteksi dari solusi prediksi. Oleh karena itu, algoritma metaheuristik untuk permasalahan optimisasi solusi seperti Algoritma Genetika dan Simulated Annealing (GA-SA) dapat digunakan untuk estimasi ini. Pada Tugas Akhir ini, program algoritma GASA berbasis real-value integer digunakan untuk mengestimasi hiposenter gempa serta waktu insiden untuk kasus gempa dalam dan gempa dangkal. Performa algoritma ini kemudian dibandingkan dengan solusi referensi. Performa program untuk kedua kasus juga dibandingkan. Analisis hasil uji program menunjukkan bahwa program mampu menghasilkan solusi yang akurat untuk kedua kasus dengan performa lebih baik untuk kasus gempa dangkal, walaupun terdapat kelemahan pada waktu komputasi yang dibutuhkan.
PENENTUAN LOKASI HIPOSENTER DAN MODEL KECEPATAN GELOMBANG SEISMIK 1-D DARI GEMPA SUSULAN CIANJUR 2022 MENGGUNAKAN INVERSI SIMULTAN BERBASIS MARKOV CHAIN MONTE CARLO (MCMC)
Pulau Jawa menjadi salah satu wilayah di mana sebagian besar kejadian gempa bumi di Indonesia terjadi. Salah satu pemicunya disebabkan oleh aktivitas tumbukan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia dan memicu aktivitas sesar kerak dangkal, termasuk sesar Cimandiri. Cianjur menjadi salah satu daerah yang rentan terhadap gempa bumi akibat dari aktivitas Sesar Cimandiri. Gempa bumi yang merusak terjadi di Cianjur pada tanggal 21 November 2022 dengan magnitudo Mw 5,6, mengakibatkan 602 korban jiwa dan 58.356 pemukiman rusak. 514 rekaman gempa susulan, yang direkam pada rentang 22 November hingga 22 Desember 2022, digunakan pada penelitian ini. Kemudian, data tersebut dianalisis untuk menentukan lokasi hiposenter gempa susulan dan model kecepatan seismik 1-D secara simultan menggunakan perangat lunak mcmc_eq yang memanfaatkan metode inversi Markov Chain Monte Carlo (MCMC). Pendekatan inversi ini dilakukan secara probabilistik dengan random sampling sejumlah rantai model (chain). Metode MCMC yang diterapkan ini bisa digunakan tanpa bergantung pada informasi a priori (seperti model awal) dan regularisasi, sehingga metode ini bisa dimanfaatkan hanya dengan menggunakan data waktu tiba gelombang P dan S dan koordinat stasiun. Hasil model kecepatan seismik 1-D yang dihasilkan, untuk Vp dan Vs, cenderung lebih cepat dibandingkan dengan model kecepatan yang digunakan pada penelitian sebelumnya, sehingga titik hiposenter yang dihasilkan mengalami pergeseran ke arah barat laut dan kedalaman yang tidak lebih dalam dari 10 km, jika dibandingkan dengan hasil penentuan hiposenter awal penelitian sebelumnya. Hasil inversi simultan ini dapat menunjukkan adanya dua klaster gempa susulan yang berasal dari sesar konjugat dengan orientasi barat barat daya β utara timur laut dan utara barat laut β selatan tenggara.
STUDI KOMPARASI RESPON SEISMIK JEMBATAN BENTANG KONTINU MONOLIT DAN JEMBATAN TERISOLASI DENGAN LEAD RUBBER BEARING (LRB) STUDI KASUS: JEMBATAN BETON BOX GIRDER LRT VELODROME β KELAPA GADING P62 β P66
Desain jembatan konvensional dengan sambungan monolit girder-pier di zona seismik tinggi rentan mentransfer gaya inersia gempa secara penuh ke pier dan pondasi, berisiko menyebabkan kerusakan parah dan membutuhkan dimensi serta penulangan yang sangat besar untuk menjaga elastisitas pier. Untuk mengatasi ini, teknologi isolasi seismik, khususnya penggunaan Lead Rubber Bearing (LRB), hadir sebagai solusi efektif dalam melindungi jembatan. LRB bekerja dengan memperpanjang periode alami struktur dan mendisipasi energi gempa, secara signifikan mengurangi gaya geser yang diteruskan ke pier dan pondasi. Penelitian ini mengevaluasi kinerja jembatan LRT Velodrome β Kelapa Gading Jakarta (P63-P65), yang awalnya didesain sebagai struktur bentang kontinu monolit girder-pier dengan kategori pier pendek dan desain seismik D sesuai SNI 2833- 2016. Struktur ini kemudian dimodifikasi menjadi terisolasi seismik menggunakan LRB dari merk OVM dengan variasi nilai kekakuan k1 dan k2. Kinerja kedua konfigurasi jembatan dievaluasi melalui analisis riwayat waktu non-linear (NLTHA) dengan tujuh gerak tanah yang dipilih melalui deagregasi dan penskalaan amplitudo berdasarkan NZS 1170.5:2004. Analisis ini dilakukan untuk mempelajari penurunan demand pada pier dan fondasi, respons histeresis LRB, serta respons deformasi dan gaya geser pada pier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peralihan struktur dari konvensional monolit menjadi terisolasi seismik dengan LRB mampu menurunkan demand pada pier dan pondasi dengan rentang nilai reduksi sebesar 36% - 47% dan 68% - 74%. Untuk reduksi respons perpindahan, semua kombinasi menunjukkan rata-rata nilai reduksi sebesar 64.48% untuk arah longitudinal dan 85.19% untuk arah transversal. Sedangkan reduksi gaya geser untuk setiap pier menunjukkan trend yang sama seperti reduksi respons perpindahan, dimana rata-rata nilai reduksi sebesar 66.67% untuk arah longitudinal dan 80.91% untuk arah transversal. Kemudian didapatkan kombinasi yang paling efisien yaitu kombinasi 4 dengan persentase sisa kapasitas yang paling kecil dalam rentang nilai 16.86% hingga 28.99%, namun mampu memberikan performa dalam mereduksi perpindahan dengan dengan selisih maksimum nilai perpindahan antar kombinasi sebesar 6.26%, sedangkan untuk reduksi gaya geser, didapatkan nilai reduksi maksimum dengan selisih 12.6 % dibandingkan antar kombinasi dan reduksi gaya geser dengan nilai terbesar berada pada arah transversal yang mengindikasikan bahwa pemasangan LRB mampu mereduksi potensi terjadinya kegagalan gaya geser pada pier pendek. Serta dengan perubahan struktur monolit menjadi terisolasi seismik mampu menghasilkan level performa operasional penuh.
PENGOLAHAN DATA SEISMIK 2D BERBASIS RADON TRANSFORM UNTUK PENEKANAN MULTIPLE DI DAERAH VIKING GRABEN
Industri minyak dan gas bumi merupakan salah satu sektor strategis yang menjadi tulang punggung perekonomian global. Dalam upaya eksplorasi dan produksi hidrokarbon secara efektif dan berkelanjutan, teknologi pemrosesan data seismik memegang peran penting dalam memberikan gambaran struktur geologi bawah permukaan. Namun, keberadaan multiples sering kali mengganggu kualitas data dan menyulitkan interpretasi geologi yang akurat. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menekan gangguan tersebut adalah penerapan Radon Transform dalam domain transformasi kinematik. Penelitian ini melakukan pemrosesan data 2D di Viking Graben serta menekan refleksi ganda (multiple) menggunakan metode Radon Transform. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi struktur geologi dan lapisan batuan di bawah permukaan daerah studi. Seismic Data Sequence meliputi deconvolution, supresi multiple dengan Radon Transform, analisis kecepatan, koreksi NMO (Normal Moveout), stacking, dan migration. Hasil menunjukkan bahwa alur kerja pemrosesan yang diterapkan berhasil meningkatkan kualitas data seismik. Selain itu, keenam lapisan batuan utama (L1-L6) berhasil diidentifikasi dengan jelas. Penerapan Radon Transform terbukti efektif dalam menekan refleksi berganda tanpa merusak informasi amplitudo primer.
STUDI BAHAYA TSUNAMI DI CILACAP BERDASARKAN SEJARAH TSUNAMI PANGANDARAN 2006 DAN GEMPA PADA SUBDUKSI MEGATHRUST JAWA
Seismic gap merupakan area dengan aktivitas seismik yang relatif rendah pada periode yang panjang sehingga dapat menyebabkan gempa yang sangat besar. Kabupaten Cilacap yang terletak di pesisir selatan Pulau Jawa berhadapan langsungdengan zona seismic gap tersebut. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan mengkaji bahaya tsunami melalui simulasi numerik menggunakan Cornell Multi-grid Coupled Tsunami (COMCOT) v.1.7. Data batimetri pada simulasi numerik menggunakan hasil asimilasi GEBCO, BATNAS, PUSHIDROSAL dan data topografi Copernicus. Pada penelitian ini dilakukan 4 skenario simulasi, yaitu gempa dengan magnitudo 7,8 yang mengacu pada sejarah tsunami Pangandaran serta magnitudo 8,1, 8,5, dan 8,8 berdasarkan gempa hipotetik pada subduksi Megathrust Jawa. Dalam skenario terburuk (Mw = 8,8), hasil simulasi menunjukkan bahwa tsunami akan mencapai pesisir paling cepat pada menit ke-40 setelah gempa dengan tinggi gelombang mencapai 17 meter. Akibatnya, sebanyak 39 dari total 344 desa di Kabupaten Cilacap terendam tsunami dengan 21 desa diantaranya terletak di pesisir. Total area yang terendam mencapai 4612,7 Ha dengan kedalaman maksimum hingga 13 meter. Desa Bunton mengalami dampak paling parah dengan 66,96% wilayah desa terendam tsunami, sementara inundasiterjauh terjadi di Desa Karangturi dengan jarak mencapai 4,32 km dari garis pantai.
ANALISIS RESPONS LOKAL TANAH WILAYAH GORONTALO DAN SULAWESI UTARA DENGAN METODE GENERALIZED INVERSION TECHNIQUE
Analisis respons lokal tanah merupakan salah satu aspek penting di dalam studi bahaya seismik selain faktor dari sumber seismik seperti magnitudo, geometri sesar, penurunan stress, dan proses penyesaran, serta faktor propagasi seismik yang meliputi atenuasi anelastik, penyebaran geometrik, dan penghamburan gelombang seismik sepanjang jalur penjalaran. Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara terletak pada zona seismik aktif, yaitu zona subduksi Sulawesi Utara di utara Laut Sulawesi dan zona subduksi ganda Laut Maluku, khususnya busur Sangihe, serta sesar-sesar lokal. Distribusi dari seismisitas dan historis gempabumi merusak yang pernah terjadi menunjukkan potensi bahaya seismik di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara relatif tinggi. Ada beberapa metode untuk mengidentifikasi karakteristik respons lokal tanah yang digunakan dalam perkembangan studi hubungan antara kondisi lokal tanah terhadap guncangan pada suatu wilayah dengan memanfaatkan spektrum Fourier dari rekaman sinyal seismik. Salah satu metode yang umum digunakan adalah metode Generalized Inversion Technique (GIT) untuk mengekstraksi faktor amplifikasi spektral, spektrum sumber seismik, dan faktor propagasi seismik dari spektrum Fourier gelombang geser maupun coda dari rekaman seismik secara terpisah melalui pendekatan matriks inversi dengan solusi unik dengan menerapkan asumsi stasiun referensi serta pembobotan kualitas data untuk mengkonstrain parameter model dari ketiga faktor tersebut dengan mengadaptasi solusi inversi kuadrat terkecil. Tujuan penelitian ini untuk mengestimasi respons lokal tanah pada stasiun seismik di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara, serta menginvestigasi pengaruh dari faktor sumber dan faktor propagasi seismik serta zona seismik terhadap estimasi respons lokal tanah yang dihasilkan menggunakan metode GIT. Penelitian ini menggunakan data rekaman seismik dalam domain percepatan dari 20 stasiun seismik permanen BMKG di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara terhadap 104 kejadian gempabumi pada rentang waktu 2021-2024 dengan magnitudo ? 4,5 dengan kedalaman sumber ? 300 km dan jarak episenter ? 400 km yang telah melalui kontrol kualitas serta eliminasi respons instrumen. Data sinyal tersebut difilter menggunakan filter Butterworth orde 4 dengan rentang 0,5-4 Hz lalu dipotong jendela bising sinyal selama 30 detik sebelum waktu tiba gelombang P hingga jendela waktu 180 detik setelah waktu tiba gelombang P, lalu diterapkan tapering sinyal kosinus pada kedua ujung sinyal. Kontrol kualitas waveform dan analisis SNR diterapkan untuk menyeleksi data yang memiliki kualitas yang baik, menghasilkan 2.118 data jendela gelombang geser sinyal seismik satu komponen yang akan digunakan dalam estimasi respons lokal tanah. Perhitungan respons lokal tanah menggunakan GIT dilakukan menggunakan program GITANES dengan mengasumsikan parameter propagasi seismik berupa kecepatan rata-rata gelombang geser, parameter penyebaran geometrik, faktor kualitas atenuasi gelombang geser, dan eksponen hubungan atenuasi terhadap frekuensi. Hasil estimasi respons lokal berupa amplifikasi spektral menggunakan metode GIT menunjukkan faktor amplifikasi pada masing-masing stasiun seismik tergolong cukup tinggi pada rentang antara 3 hingga 6 pada tiga rentang frekuensi puncak amplifikasi, yaitu antara 0,7-3 Hz, 3-5 Hz, dan 5-10 Hz. Ketiga karakteristik tersebut mendeskripsikan variasi kondisi lokal tanah yang umumnya terdiri dari sedimen lunak baik dari endapan danau atau pantai maupun pada struktur batuan berusia muda berdasarkan peta geologi. Selain itu, faktor jarak dan parameter atenuasi yang telah diasumsikan sebelum perhitungan terbukti menyebabkan estimasi amplifikasi spektral tidak mengalami perubahan yang signifikan terhadap variasi asumsi parameter. Magnitudo gempabumi yang lebih besar cenderung akan meningkatkan nilai faktor amplifikasi pada frekuensi yang lebih rendah maupun pada frekuensi puncak amplifikasinya, namun tidak memberikan dampak yang signifikan pada frekuensi yang lebih tinggi yang diduga frekuensi dominan pada magnitudo yang lebih besar pada frekuensi rendah yang teratenuasi lebih cepat pada frekuensi yang lebih tinggi. Penelitian ini juga menemukan karakteristik gempabumi intraslab memberikan perbedaan yang lebih signifikan pada variasi magnitudo dibandingkan gempabumi interface, serta adanya pengaruh kedalaman sumber memberikan karakteristik yang berbeda terhadap variasi magnitudo. Amplifikasi spektral berdasarkan zona seismik dan kontur amplifikasi rata-rata menunjukkan zona subduksi Sulawesi Utara dan busur Sangihe, khsusunya pada zona slab kedalaman menengah pada wilayah Teluk Tomini dan Laut Maluku bagian selatan memberikan kontribusi dominan terhadap estimasi respons lokal tanah.
ANALISIS PERILAKU SEISMIK GEDUNG DI LERENG DENGAN SISTEM ISOLASI SEISMIK FRICTION PENDULUM BEARING
Pertumbuhan populasi manusia dan keterbatasan lahan mendorong pemanfaatan lahan di lereng untuk konstruksi bangunan. Untuk membangun gedung di daerah lereng tanpa melakukan modifikasi besar terhadap topografi alami lereng, struktur bangunan dapat dirancang mengikuti kemiringan tanah. Bangunan gedung di lereng memiliki ketidakberaturan struktur dan memiliki perilaku yang berbeda jika dibandingkan dengan gedung biasa di lahan yang rata. Hal ini menyebabkan pengaruh gempa terhadap gedung di lereng lebih besar dibanding gedung di lahan rata. Isolasi seismik adalah salah satu metode dalam desain struktur tahan gempa yang dapat mengisolasi struktur atas dari tanah sehingga struktur atas menerima gaya seismik yang telah direduksi. Pada awalnya, isolasi seismik digunakan di tingkat dasar dan disebut sebagai sistem isolasi dasar. Seiring perkembangan, ditemukan metode penempatan isolasi seismik di antartingkat disebut sebagai sistem isolasi tingkat. Untuk struktur gedung di lereng, isolasi tingkat dapat menjadi alternatif dari isolasi dasar karena kolom dasar tidak berada di tingkat yang sama dalam konfigurasi gedung stepback. Namun, belum diketahui secara jelas perbedaan respons struktur dengan isolasi dasar dan isolasi tingkat pada gedung di lereng. Pada penelitian ini, akan dilakukan analisis perilaku seismik struktur gedung di lereng dengan isolasi seismik jenis friction pendulum bearing (FPB). Model yang dianalisis dan dibandingkan terdiri dari model konvensional sebagai variabel kontrol, model isolasi dasar, model isolasi tingkat, model terisolasi dengan radius kecekungan FPB yang lebih kecil, serta model struktur setback yang dibandingkan dengan model struktur stepback. Model adalah struktur gedung beton bertulang terletak di lereng dan dianalisis dengan analisis nonlinear riwayat waktu. Hasil penelitian ini mendapatkan tiga kesimpulan dari perbandingan antarmodel. Model isolasi tingkat dapat menghasilkan respons struktur yang lebih baik dibanding model isolasi dasar, terutama untuk bagian struktur di atas isolasi tingkat. Isolator FPB dengan radius kecekungan yang lebih kecil menghasilkan pengaruh isolasi yang lebih kecil. Model setback menunjukkan kinerja struktur yang lebih baik dibanding model stepback karena perbedaan massa dan kekakuan struktur.