📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 31 dokumenMEMANUSIAKAN MOBILITAS PERKOTAAN: MEMAHAMI PERILAKU KOMUTER KELAS MENENGAH DAN ATAS DI JABODETABEK UNTUK ADOPSI TRANSPORTASI PUBLIK BERKELANJUTAN
Mobilitas perkotaan di megapolitan yang berkembang pesat menghadapi tantangan perilaku yang kompleks, namun perilaku komuter dari kalangan menengah-atas, yang berkontribusi besar terhadap ketergantungan pada kendaraan pribadi, masih kurang mendapat perhatian dalam penelitian. Penelitian ini mengkaji preferensi pemilihan moda transportasi di kalangan komuter kelas menengah-atas di wilayah Jabodetabek, di tengah meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi yang menghambat pencapaian tujuan mobilitas berkelanjutan. Studi ini bertujuan untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi pilihan moda transportasi dan bagaimana transportasi umum dapat bersaing secara lebih efektif. Dengan menggunakan desain penelitian campuran (mixed-methods) eksplanatori berurutan, penelitian ini mengintegrasikan Teori Perilaku Konsumen, Teori Perilaku Terencana, dan Teori Pemilihan Moda. Analisis kuantitatif terhadap 234 responden survei, dilanjutkan dengan 13 wawancara kualitatif, mengeksplorasi sikap, perilaku, dan dinamika pengambilan keputusan. Analisis faktor dan klaster mengidentifikasi tiga segmen komuter: Young Urban Explorers (22,3%) yang mengadopsi pola multimoda dan memiliki kepedulian lingkungan, Comfort-Driven Private Users (33,8%) yang mengutamakan kenyamanan dan status kendaraan pribadi, serta Balanced Mobility Mavens (44,0%) yang tetap setia pada kendaraan pribadi dengan penerimaan terbatas terhadap transportasi umum, tergantung pada standar keselamatan. Analisis regresi logistik mengungkap prediktor utama, yakni kepedulian lingkungan (? = 0,29), aversi terhadap kepadatan (? = -0,89), serta hubungan positif yang tidak terduga antara tingkat tarif dan niat menggunakan transportasi umum (OR = 3,158), yang menunjukkan bahwa tarif tinggi ditafsirkan sebagai sinyal kualitas oleh pengguna kelas atas. Temuan ini berkontribusi bagi teori dan praktik dengan menunjukkan bahwa intervensi yang berorientasi pada kualitas—yang menargetkan kenyamanan, efisiensi, dan keselamatan—sangat penting untuk mendorong perubahan perilaku. Studi ini menantang pendekatan perencanaan transportasi berbasis biaya dan mendorong strategi yang selaras dengan nilai-nilai kompleks para komuter kalangan menengah-atas. Keterbatasan penelitian meliputi fokus geografis tunggal serta penggunaan data yang dilaporkan sendiri; studi longitudinal dan lintas kota di masa depan sangat dianjurkan.
PERANCANGAN KAMPANYE MULTIMEDIA GOTRANSIT SEBAGAI PENGENALAN TRANSPORTASI KRL JAKARTA UNTUK PERANTAU GENERASI Z
Perantau Generasi Z yang baru tiba di Jakarta sering menghadapi kesulitan dalam memahami sistem transportasi umum, terutama Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line. Kurangnya informasi mengenai rute, mekanisme pembayaran, dan etika penggunaan KRL dapat menyebabkan pengalaman perjalanan yang kurang nyaman dan tidak efisien. Oleh karena itu, diperlukan kampanye multimedia yang informatif dan menarik untuk memperkenalkan transportasi KRL kepada perantau Generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk merancang kampanye multimedia GoTransit sebagai media edukasi yang sesuai dengan karakteristik Generasi Z. Kampanye ini mengutamakan penyajian informasi dalam bentuk digital yang interaktif dan mudah diakses. Metode penelitian yang digunakan meliputi observasi terhadap perilaku pengguna KRL, studi literatur mengenai pola konsumsi media Generasi Z, serta kuesioner untuk memahami kebutuhan dan preferensi target audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z lebih tertarik pada kampanye berbasis media sosial dengan format video pendek, infografis digital, dan simulasi interaktif. Oleh karena itu, kampanye GoTransit dikembangkan melalui platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube guna meningkatkan pemahaman dan kenyamanan pengguna baru dalam menggunakan KRL. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kampanye multimedia berbasis digital dapat menjadi solusi efektif dalam memperkenalkan transportasi KRL kepada perantau Generasi Z. Dengan pendekatan komunikasi yang tepat, kampanye ini diharapkan mampu meningkatkan literasi transportasi serta pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi pengguna baru KRL di Jakarta.
STASIUN INTERCHANGE LRT LEUWIPANJANG: REDEFINING BANDUNG-RAYA MOBILITY
Kota Bandung merupakan salah satu kota besar yang ada di Indonesia. Akan tetapi, penyediaan transportasi publiknya belum merata dan terorganisir dengan baik sehingga kemacetan seringkali terjadi. Sejak tahun 2018, Kota Bandung sudah berencana untuk membangun jaringan transportasi berbasis rel, LRT Bandung Raya yang menghubungkan Kota Cimahi, Kota Bandung, Lembang, Soreang, Banjaran, Majalaya, dan Jatinangor dengan total delapan jalur. Walaupun sempat terhambat dalam pelaksanaannya, proyek ini rencanya akan dibangun dua jalur prioritas yang menghubungkan KCJB Tegalluar. Agar pelaksanaannya berjalan dengan baik, stasiun harus didesain dengan pendekatan human centric design agar pelaksanaannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Untuk menciptakan kota dengan transportasi yang terintegrasi, diperlukan adanya konektivitas yang baik antar moda transportasi. Konektivitas tersebut, perlu dihubungkan dengan adanya jalur pedestrian yang nyaman digunakan sehingga masyarakat tertarik dengan kebiasaan berjalan kaki. Hal ini dapat memicu terjadinya pembangunan kota yang berfokus pada jalur pedestrian. Kebiasaan tersebut dapat mengubah kebiasaan mobilitas masyarakat yang awalnya berorientasi pada kendaraan pribadi menjadi menggunakan transportasi umum dan berjalan kaki. Hal ini tentunya dapat mengurangi jumlah kendaraan yang berada di jalan serta dapat mengurangi, permasalahan kota yang tidak pernah selesai, yaitu kemcetan. Penggunaan transportasi umum berbasis rel, seperti lrt erat kaitannya dengan perjalanan yang serba cepat. Pengguna dituntut untuk tidak teralalu lama di dalam stasiun sehingga membutuhkan aksesibilitas yang efektif. Apabila stasiun didesain dengan wayfinding yang buruk serta kapasitas yang tidak sesuai, akan menghambat perjalanan penumpang serta menyebabkan kepadatan penumpang. Pengalamn penumpang yang buruk, seperti kesesakan dapat menimbulkan tekanan yang buruk bagi psikologis. Hal ini dapat menyebabkan stres perjalanan dan mengurangi produktivitas pengguna kereta yang sebagian besar adalah pekerja dan pelajar. Oleh karena itu, penting untuk membuat suasana pengguna di dalam stasiun tetap nyaman. Transportasi umum juga diharapkan tidak hanya dirasakan oleh segelintir masyarakat tetapi para penyandang disabilitas yang seringkali terlupakan dapat ikut menggunakannya. Oleh karena itu, pendekatan artapakktur barrier-free design perlu diperhatikan dalam pembangunan stasiun.
PERANCANGAN MODUL PENGHALAU RINTANGAN PADA METRO KAPSUL
Metro kapsul merupakan salah satu moda transportasi umum berjenis kereta dengan penggerak sendiri yang biasanya beroperasi pada perkotaan dengan menggunakan konstruksi jalur rel yang dibuat tidak sebidang dengan jalan raya (elevated). Metro kapsul termasuk dalam moda transportasi yang bertipe APMS (Automated People Mover System). APMS merupakan sistem transportasi yang bekerja secara otomatis dengan terdiri dari gerbong atau kereta yang beroperasi secara mandiri tanpa perlu adanya pengemudi. Berdasarkan peraturan dan standar yang berlaku di Indonesia, metro kapsul diatur oleh PM. Perhubungan Nomor 175 Tahun 2015 serta SNI No. 8826 tahun 2019. Berdasarkan peraturan dan standar tersebut, metro kapsul harus memiliki komponen diantaranya yang disebut dengan modul penghalau rintangan. Modul penghalau rintangan merupakan suatu alat yang digunakan untuk menghalau atau menyingkirkan rintangan pada jalan rel yang ditempatkan pada bagian depan bawah metro kapsul. Penelitian yang dilakukan dalam kasus ini adalah perancangan modul penghalau rintangan. Proses perancangan diawali dengan penyusunan persyaratan berdasarkan pada peraturan dan standar berlaku, dilanjutkan dengan pembuatan dan pemilihan alternatif, pendetailan alternatif terpilih dan kemudian dilakukan simulasi. Simulasi yang dilakukan merujuk pada SNI No. 8826 tahun 2019. Berdasarkan simulasi yang sudah dilakukan, rancangan modul penghalau rintangan sudah memenuhi persyaratan yang telah disusun sebelumnya dengan nilai Factor of Safety sebesar 3,4.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI NIAT KOMUNITAS AKADEMIS KOTA JAMBI KATEGORI CHOICE USER UNTUK MENGGUNAKAN BUS TRANS SIGINJAI (STUDI KASUS KOMUNITAS AKADEMIS UNIVERSITAS JAMBI DAN UIN
Transportasi umum yang layak dan nyaman merupakan moda alternatif penting bagi masyarakat untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi ke berbagai fasilitas seperti pasar, kantor, rumah sakit, sekolah, dan termasuk juga universitas. Provinsi Jambi telah menyediakan transportasi umum berupa bus yang dikenal sebagai bus trans siginjai, melayani rute Terminal Sijenjang – Bapelkes Pijoan yang merupakan rute mahasiswa menuju dan dari kampus. Namun, sistem bus trans siginjai menghadapi tantangan rendahnya tingkat adopsi dan penggunaannya dibandingkan dengan potensi jumlah komunitas akademis yang ada. Studi ini bertujuan untuk mengetahui apakah komunitas akademis di Kota Jambi akan mempertimbangkan untuk menggunakan bus trans siginjai di masa depan. Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode purposive sampling dan mendapatkan 388 responden dari komunitas akademis kategori choice user yang berdomisili di Kota Jambi. Hasil analisis PLS-SEM menunjukkan bahwa persepsi mengenai kendaraan pribadi berpengaruh negatif namun tidak signifikan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui variabel persepsi layanan terhadap niat. Infrastruktur tidak secara langsung berpengaruh terhadap niat, namun pengaruhnya dimediasi oleh variabel persepsi layanan terhadap pembentukan niat. Temuan studi mengkonfirmasi fungsi instrumental layanan bus yang diamati melalui variabel persepsi aksesibilitas, pengaruh sosial, dan persepsi layanan berpengaruh signifikan terhadap niat untuk menggunakan bus trans siginjai. Hasil ini dapat menjadi masukan kepada pembuat kebijakan sebagai strategi untuk meningkatkan tingkat adopsi bus trans siginjai di masa depan.
PERANCANGAN ATRIBUT JASA TRAVEL JACKAL HOLIDAYS
Transportasi umum memiliki peran penting dalam mobilitas masyarakat Indonesia, termasuk layanan travel seperti Jackal Holidays yang menghadapi tantangan meningkatkan kepuasan pelanggan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi atribut layanan menggunakan service blueprint, model Kano, SERVQUAL, dan matriks IPA untuk memahami kesenjangan layanan, mengidentifikasi atribut kunci yang memengaruhi kepuasan pelanggan, dan memberikan rekomendasi prioritas perbaikan. Hasil penelitian diharapkan membantu Jackal Holidays memenuhi ekspektasi pelanggan untuk mempertahankan posisi sebagai pilihan utama travel di Indonesia. Tahap pengumpulan dan pengolahan data pada penelitian ini mencakup identifikasi service blueprint untuk memahami perjalanan layanan secara sistematis, validasi atribut menggunakan metode CVR dan CVI untuk menilai relevansi atribut, serta evaluasi atribut melalui model Kano untuk mengklasifikasikan dampaknya terhadap kepuasan pelanggan. Selanjutnya, metode SERVQUAL digunakan untuk mengukur kesenjangan antara harapan dan persepsi pelanggan, sedangkan matriks IPA memetakan atribut berdasarkan tingkat kepentingan dan kinerja. Hasil dari ketiga metode tersebut diintegrasikan untuk memberikan rekomendasi strategis terkait arah dan prioritas perbaikan layanan yang efektif bagi peningkatan kepuasan pelanggan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut jasa Jackal Holidays sebagian besar belum memenuhi kepuasan pelanggan. Berdasarkan klasifikasi Kano, kesenjangan harapan dan persepsi, dan matriks IPA, Jackal Holidays memiliki atribut prioritas untuk diperbaiki seperti kemudahan mendapatkan tiket, keberangkatan tepat waktu, dan keamanan di stasiun travel yang termasuk ke dalam dua kategori prioritas teratas. Dengan prioritas tersebut, diharapkan dapat menjadi acuan Jackal Holidays untuk memperbaiki kinerja jasanya.
EVALUASI KINERJA DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN OPERASIONAL ANGKUTAN UMUM (STUDI KASUS: TRANS METRO PASUNDAN KORIDOR 2)
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja operasional Trans Metro Pasundan (TMP) Koridor 2 di Kota Bandung, serta mengembangkan kebijakan operasional yang dapat meningkatkan performa angkutan umum tersebut. Evaluasi dilakukan menggunakan metode pemodelan transportasi dengan perangkat lunak PTV Visum, menganalisis berbagai skenario operasional termasuk variasi headway, kapasitas bus, dan jumlah penumpang. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penurunan headway dan penggunaan bus dengan kapasitas kecil pada headway 10 menit memberikan kinerja optimal dari segi load factor dan jumlah penumpang. Skenario ini memungkinkan operator mencapai keseimbangan antara kenyamanan penumpang dan efisiensi operasional. Berdasarkan analisis, direkomendasikan kebijakan pengurangan headway dan penyesuaian armada untuk meningkatkan kualitas layanan TMP Koridor 2. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada perbaikan sistem transportasi umum di Bandung dan kota-kota metropolitan lainnya.
PENGEMBANGAN APLIKASI MOBILE DI PLATFORM ANDROID SEBAGAI IMPLEMENTASI KONSEP MOBILITY AS A SERVICE DI WILAYAH METROPOLITAN BANDUNG RAYA
Penelitian ini berfokus pada pengembangan aplikasi mobile sebagai platform tunggal yang menerapkan konsep Mobility as a Service (MaaS) untuk Wilayah Metropolitan Bandung Raya. Mobilitas merupakan kebutuhan dasar dalam kehidupan manusia dalam keseharian, yang pada umumnya melibatkan alat transportasi. Kebutuhan masyarakat akan transportasi meningkat seiring berjalannya waktu sehingga jumlah volume kendaraan di badan jalan semakin tinggi dan menimbulkan kemacetan. Transportasi umum diselenggarakan sebagai solusi untuk mengangkut penumpang dalam jumlah besar tetapi tidak memakan banyak volume badan jalan. Untuk meningkatkan keterjangkauan layanan transportasi umum, berbagai macam operator dan program turut andil dalam penyelenggaraan layanan transportasi umum. Namun, banyaknya operator dan program menimbulkan masalah baru, yaitu layanan yang diselenggarakan oleh banyak pemangku kepentingan yang tidak terintegrasi membuat perjalanan tidak efisien bagi pelaku perjalanan. Oleh karena itu, diperlukan suatu platform tunggal yang dapat memudahkan pengguna dalam melakukan perjalanan menggunakan lebih dari satu operator dan program. Platform tunggal yang dikembangkan adalah aplikasi mobile untuk mendukung penggunaan layanan daring transportasi umum secara mobile di waktu kapan pun.
ANALISIS KOMPARASI BIAYA TRANSPORTASI STUDI KASUS PERJALANAN MAHASISWA ITB
Jumlah kendaraan di Kota Bandung hampir menyamai jumlah penduduknya. Kondisi ini mengakibatkan kemacetan di banyak ruas jalannya. Dengan jumlah yang mencapai 1,7 juta unit, kendaraan roda 2, khususnya motor pribadi, mendominasi ruas jalan di Kota Bandung. Penyebab dari banyaknya jumlah motor pribadi ini adalah karena biayanya dipercaya menjadi yang termurah. Penelitian ini kemudian mengevaluasi biaya perjalanan motor pribadi dibandingkan dengan angkutan umum dan ojek online untuk menentukan alternatif termurah. Hasilnya menunjukkan motor pribadi hanya menjadi yang termurah untuk jarak lebih dari 10 km, sedangkan di bawah itu, angkutan umum yang menjadi alternatif termurah. Sedangkan pada kondisi macet, angkutan umum hanya menjadi alternatif termurah hingga jarak tempuh 3 km walaupun hanya sedikit mengalami perubahan direct cost. Peningkatan waktu tempuh angkutan umum pada kondisi macet cukup signifikan untuk menjadikan ojek online alternatif termurah pada jarak 3 hingga 7 km serta motor pada jarak lebih dari 7 km
STUDI EKSPLORASI DAMPAK PERKEMBANGAN RIDEHAILING TERHADAP POLA PERGERAKAN PEKERJA DAN JUMLAH PENGGUNA TRANSPORTASI UMUM DI KAWASAN BLOK M, JAKARTA SELATAN OLEH
Jakarta Selatan, sebagai bagian dari wilayah administrasi DKI Jakarta, memiliki peran strategis dalam dinamika perkotaan ibu kota. Dikenal sebagai kawasan bisnis, perumahan, dan pusat perbelanjaan, Jakarta Selatan juga mengalami tantangan transportasi yang signifikan. Salah satu kawasan penting di Jakarta Selatan adalah Blok M, yang berfungsi sebagai pusat transit utama dan hub-komersial. Untuk mewujudkan Kawasan Blok M menjadi kawasan berorientasi transit, diperlukan operasionalisasi yang terintegrasi dalam pengembangan kawasan dan sistem transportasi. Melalui penetapan Kawasan Blok M menjadi kawasan berorientasi transit dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2012 tentang RTRW DKI Jakarta Tahun 2011 – 2030 tentu berpengaruh pada sistem transportasi internal Kawasan Blok M. Adanya kebijakan untuk penetapan kawasan berorientasi transit diharapkan menjadi solusi atas permasalahan transportasi di Jakarta Selatan dan Jakarta secara umum. Konsep TOD diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, meningkatkan penggunaan transportasi umum dan kendaraan non-bermotor, dan mendorong pengembangan aktivitas ramah lingkungan. Karakteristik kawasan pusat bisnis dan komersial di Jakarta, mengakibatkan dominasi demografi adalah pekerja serta pola transportasi di kawasan dinilai sangat dinamis dan kompleks. Perkembangan aktivitas ride-hailing, merupakan tanda revolusi transportasi yang didorong oleh layanan on-demand. Dampaknya pada sistem transportasi terasa langsung dan signifikan. Dalam Renstra Kota Jakarta Selatan Tahun 2023-2026, kemacetan selalu menjadi isu strategis. Kekhawatiran muncul bahwa upaya penerapan TOD dan penggunaan transportasi umum dapat menurun, yang pada akhirnya mempengaruhi keberlanjutan sistem transportasi. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk beradaptasi atas perkembangan teknologi, terkhusus perkembangan transportasi on-demand. Sering kali, kurangnya data kondisi terkini menyebabkan pengambilan keputusan seringkali tidak tepat sasaran. Maka dari itu, penting untuk melakukan profiling, untuk mengetahui siapa pengguna layanan ride-hailing dan bagaimana adopsinya mempengaruhi moda perjalanan eksisting, atau memprediksi potensi pertumbuhan moda yang muncul di masa depan.v Tujuan dari studi untuk memahami dan memperluas pengetahuan tentang siapa pengguna opsi mobilitas baru dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi adopsinya dibandingkan moda transportasi publik. Studi dilakukan terhadap pekerja yang tinggal di Kawasan Blok M (Melawai, Kramat Pela, Petogogan, Pulo, Gandaria Utara). Berbagai faktor yang dapat memprediksi substitusi terhadap transportasi berkelanjutan disusun berdasarkan sintesa dari berbagai studi terdahulu yang relevan dengan perencanaan transportasi di tingkat internasional, kemudian disesuaikan dengan kondisi demografis dan kondisi lokasi studi. Penelitian menggunakan instrumen kuesioner untuk mengumpulkan respon responden, dengan metode non-probability sampling, dimana kriteria responden telah ditetapkan sebelumnya. Kuesioner disusun dengan pendekatan stated preference untuk mengidentifikasi pilihan responden dari keadaan hipotesis atau rencana dan revealed preference untuk mengidentifikasi pilihan responden dari alternatif pilihan yang sudah ada. Metode analisis yang digunakan adalah regresi logistik biner untuk melihat hubungan antara penggunaan layanan ride-hailing dan variabel apa yang signifikan berpengaruh terhadap substitusi ride-hailing terhadap transportasi umum (model). Proses iteratif dilakukan dua kali untuk setiap model, pertama untuk mengidentifikasi variabel apa yang berpengaruh terhadap substitusi transportasi umum, kedua dari beberapa variabel yang signifikan akan dilihat atribut variabel yang signifikan berpengaruh untuk setiap model. Hasil analisis menunjukkan, faktor yang signifikan mempengaruhi dan membentuk pola pemilihan moda pekerja di Kawasan Blok M untuk transportasi umum adalah variabel Pendapatan Rumah Tangga Tahunan dimana atribut pendapatan rumah tangga tahunan rendah-menengah cenderung menggunakan opsi ride-hailing, sedangkan menengah keatas-tinggi cenderung mempertahankan penggunaan transprotasi umum, Kepemilikan Kendaraan Pribadi, Biaya Perjalanan, Waktu Penggunaan, dan Berbagai alasan penggunaan ride-hailing seperti lebih cepat dari moda transit, pertimbangan sulit parkir di lokasi kerja/tujuan, dan faktor cuaca. Hasil dari studi, diharapkan memberikan informasi kebijakan publik untuk memastikan bahwa teknologi mobilitas berbagi akan melengkapi kondisi multimodal yang ada dengan tidak memperburuk masalah lingkungan atau kesenjangan terkait pilihan mobilitas individu. Diperlukan sinergisitas antar pemangku kebijakan dalam menyikapi digitalisasi transportasi yang terjadi hingga peruusan alternatif yang mungkin bisa menjawab masalah yang muncul. Hal tersebut, secara tidak langsung akan berdampak pada terwujudnya konsep pengembangan TOD yang baik melalui perbaikan sistem transportasi serta komponen di dalamnya.
PERANCANGAN PERBAIKAN KUALITAS JASA TRANSPORTASI UMUM KRL COMMUTER LINE
Transportasi umum KRL Commuter Line memiliki peran krusial dalam mobilitas penduduk di wilayah Jabodetabek. Meskipun demikian, kualitas layanan yang saat ini disediakan sering kali menimbulkan keluhan dari penumpang, baik terkait kenyamanan, keandalan, maupun fasilitas lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas layanan eksisting dan merancang perbaikan kualitas layanan KRL Commuter Line guna meningkatkan kepuasan penumpang. Metodologi penelitian ini melibatkan pendekatan integratif yang mencakup analisis Kansei Engineering, service blueprint, model Kano, model SERVQUAL, dan TRIZ. Service blueprint digunakan untuk memodelkan proses layanan dan mengidentifikasi atribut-atribut yang mempengaruhi pengalaman pengguna. Kansei Engineering digunakan untuk memahami kebutuhan emosional dan preferensi penumpang. Model Kano membantu mengkategorikan atribut layanan berdasarkan dampaknya terhadap kepuasan penumpang. Model SERVQUAL mengevaluasi kualitas layanan berdasarkan dimensi keandalan, daya tanggap, kepastian, empati, dan fasilitas fisik. TRIZ digunakan untuk merumuskan solusi perbaikan dari masalah yang teridentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh atribut layanan KRL Commuter Line belum mampu memuaskan dan memenuhi kebutuhan emosional penumpang. Berdasarkan tingkat kepentingan perbaikan, terdapat tiga atribut layanan yang menjadi prioritas perbaikan, yaitu sistem KRL/C Access, kepedulian petugas terhadap kebutuhan penumpang, dan penjualan tiket perjalanan. Dengan demikian, diusulkan enam rancangan perbaikan kualitas layanan berbasis metode TRIZ.
IDENTIFIKASI INTEGRASI FISIK ANTARMODA TRANSPORTASI PADA LRT DI KOTA PALEMBANG
Transportasi memiliki peran penting bagi mobilitas masyarakat. Namun, terdapat berbagai permasalahan transportasi seperti kemacetan dan rendahnya minat masyarakat terhadap transportasi umum yang dapat menghambat perpindahan dan aktivitas masyarakat. Untuk mengatasi permasalah transportasi di Kota Palembang, pemerintah setempat mengembangkan sistem integrasi antarmoda dengan LRT sebagai moda utama. Selain itu, Kota Palembang juga menjadi pionir bagi pengembangan integrasi antarmoda di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi integrasi fisik antarmoda transportasi pada LRT di Kota Palembang. Penelitian mencakup identifikasi coverage area berdasarkan integrasi jalur LRT dengan angkutan kota, BRT, dan feeder LRT serta identifikasi tingkat walkability infrastruktur pejalan kaki di sekitar Stasiun Demang. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis spasial, kualitatif, dan kuantitatif. Identifikasi coverage area dilakukan melalui analisis buffer dengan radius 400 meter sebagai asumsi jarak lima menit berjalan kaki. Identifikasi tingkat walkability dilakukan melalui penilaian pada 33 segmen jalan di sekitar stasiun berdasarkan sembilan parameter dari GWI yang telah dimodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jangkauan pelayanan dari integrasi antarmoda LRT dengan moda lainnya masih terbatas untuk menunjang aksesibilitas masyarakat. Masih terdapat wilayah kecamatan serta kawasan permukiman per kecamatan yang belum terlayani. Jangkauan pelayanan feeder LRT pun belum cukup luas. Jangkauan pelayanan terluas adalah jangkauan dari integrasi jalur LRT dengan trayek angkutan kota. Terkait walkability di sekitar Stasiun Demang, sebagian besar segmen jalan tergolong highly walkable. Menurut perhitungan rata-rata skor seluruh segmen, infrastruktur pejalan kaki juga tergolong highly walkable sehingga dinilai aman dan nyaman bagi pengguna LRT untuk melakukan perpindahan moda ke/dari Stasiun Demang dengan berjalan kaki. Namun, diperlukan perbaikan pada kondisi dan ketersediaan infrastruktur ramah disabilitas dan amenitas.
ESTIMASI MANFAAT GANDA DALAM MERESPON KEBIJAKAN PEMBATASAN KENDARAAN PRIBADI DI KAWASAN BERORIENTASI TRANSIT STUDI KASUS: PROVINSI DKI JAKARTA
Dominasi penggunaan kendaraan pribadi yang tinggi menyebabkan terjadinya eksternalitas bagi suatu perkotaan diantaranya peningkatan kemacetan lalu lintas terutama pada jam sibuk, peningkatan polusi, hingga penurunan tingkat kesehatan masyarakat perkotaan. Pengambilan kebijakan untuk meminimalisir eksternalitas tersebut sangat penting pada kondisi saat ini terutama dalam merespon tujuan global pengurangan emisi hingga nol (net zero emissions) di Tahun 2050. Belakangan ini, pendekatan co-benefits atau manfaat ganda dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan di sektor transportasi. Pentingnya co-benefits sangat dipromosikan bersamaan dengan strategi mitigasi untuk pengurangan gas rumah kaca khususnya bagi kota-kota di negara berkembang yang menghadapi 3 tantangan utama yaitu pembangunan, polusi lingkungan, dan adaptasi perubahan iklim (Puppim De Oliveira, 2013). Pendekatan manfaat ganda menciptakan situasi terbaik dengan mempertimbangkan keuntungan lokal dan global. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi manfaat ganda dari kebijakan pembatasan kendaraan pribadi di Jakarta dengan tiga sasaran utama: mengidentifikasi kebijakan, menghitung perpindahan moda, dan menghitung emisi yang terhindarkan. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan multinomial logit, serta perhitungan emisi berdasarkan panduan IPCC dan EMISI dari WRI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan KRE (Kebijakan Restriksi Kendaraan) memberikan dampak perpindahan moda yang signifikan dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. Emisi yang terhindarkan melalui perhitungan perjalanan dapat mencapai 57%. Variabel independen yang signifikan dalam mempengaruhi pemilihan moda adalah biaya perjalanan, waktu tempuh, jarak, tingkat pendapatan, dan tingkat pendidikan. Temuan penelitian ini mendukung konsep manfaat ganda dari pendekatan transportasi yang terkait dengan strategi Avoid-Shift-Improve (ASI) dan menunjukkan manfaat ganda dari implementasi kebijakan pembatasan kendaraan pribadi. Dengan demikian, kebijakan pembatasan kendaraan pribadi di Jakarta tidak hanya efektif dalam mengurangi kemacetan, tetapi juga berkontribusi secara signifikan terhadap pengurangan emisi, memberikan keuntungan lingkungan yang substansial.
KAJIAN TARIF INTEGRASI ANTAR MODA ANGKUTAN UMUM DI KOTA BANDUNG
Berbagai kota besar di dunia saat ini beralih menyediakan transportasi umum sebagai bentuk solusi dalam menangani masalah mobilitas masyarakat, mengurangi kemacetan lalu lintas, serta mengatasi isu polusi lingkungan. Kota Bandung sebagai salah satu metropolis di Indonesia, menawarkan berbagai alternatif angkutan umum bagi penduduknya, yaitu Angkot, Trans Metro Bandung (TMB), dan Trans Metro Pasundan (TMP). Jumlah kendaraan bermotor pribadi di Kota Bandung mencapai 2 juta saat ini, hampir setara dengan jumlah penduduknya. Ini menunjukkan bahwa angkutan umum masih bukan pilihan utama bagi masyarakat untuk melakukan perjalanan. Sistem integrasi hadir sebagai solusi dalam meminimalkan permasalahan angkutan umum seperti perpindahan antar moda yang dianggap mengambil waktu dan mengakibatkan biaya perjalanan menjadi lebih besar. Untuk mendorong peningkatan pengguna angkutan umum di Kota Bandung, maka dalam penelitian ini secara spesifik akan mengkaji skema integrasi tarif angkutan umum di Kota Bandung. Diharapkan dengan diberlakukannya integrasi tarif, terjadi peningkatan jumlah pengguna angkutan umum seiring dengan penurunan biaya tarif yang harus ditanggung oleh penumpang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji skema tarif integrasi antar moda angkutan umum di Kota Bandung. Kajian ini dilakukan dengan tiga tahap utama, yang pertama adalah analisis biaya operasional kendaraan (BOK), kedua adalah analisis preferensi menggunakan metode contingent valuation untuk meninjau perbandingan antara kemampuan membayar (ATP) dan keinginan membayar (WTP) responden, dan yang ketiga adalah analisis untuk penentuan skema besaran tarif integrasi antar moda angkutan umum. Hasil dari analisis biaya operasional kendaraan menunjukkan bahwa BOK untuk angkot sebesar Rp. 5.837,57/bus-km, TMB sebesar Rp. 7.024,12/bus-km, dan TMP sebesar Rp. 10.313,86/bus-km. Nilai rata-rata ATP responden berada pada nilai Rp. 13.242,44 sedangkan nilai pertemuan antara ATP dan WTP sebesar Rp. 10.000. Dengan pertimbangan antara daya beli masyarakat dan biaya operasional kendaraan, maka didapatkan kema tarif ideal untuk tarif integrasi sebesar Rp. 8.500 yang berlaku selama 90 menit tanpa melihat jarak perjalanan. Tarif ini merupakan tarif yang dibayarkan oleh penumpang, sedangkan untuk memenuhi biaya operasional sistem, Pemerintah Provinsi Jawa Barat perlu memberikan subsidi yang dibayarkan kepada operator angkutan umum.
AKSESIBILITAS JARINGAN BRT SUROBOYO BUS TRAYEK TERMINAL PURABAYA-RAJAWALI PADA KORIDOR UTARA-SELATAN KOTA SURABAYA
Suroboyo Bus sebagai angkutan umum massal berbasis jalan pertama di Kota Surabaya diharapkan dapat memberikan pelayanan transportasi yang dapat diandalkan, cepat, nyaman, terjangkau, dan berokupansi lebih besar. Suroboyo Bus trayek Terminal Purabaya-Rajawali menjadi trayek krusial karena berada pada koridor Utara-Selatan Kota Surabaya sebagai koridor utama pergerakan kota dengan banyaknya pusat kegiatan yang tersebar pada wilayah tersebut. Aksesibilitas menjadi tujuan utama dari hadirnya suatu sistem transportasi yaitu kemudahan perjalanan menuju berbagai pusat kegiatan yang tersebar pada guna lahan perkotaan yang diakomodasi oleh suatu layanan transportasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sebaran halte dan perhentian bus yang optimal dalam meningkatkan aksesibilitas jaringan BRT Suroboyo Bus trayek Terminal Purabaya-Rajawali pada koridor Utara-Selatan Kota Surabaya. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif, SNAMUTS, dan Set Covering Problem dalam menganalsis tiga sasaan studi yaitu identifikasi pelayanan Suroboyo Bus, mengukur aksesibilitas Suroboyo Bus dalam menghubungkan koridor Utara-Selatan Kota Surabaya, dan menentukan sebaran halte Suroboyo Bus yang optimal di sepanjang trayek. Hasil studi menunjukkan terdapat beberapa indikator pelayanan yang tidak memenuhi standar yaitu ratarata waktu perjalanan dan waktu tunggu serta waktu headway yang tidak konsisten. Cakupan pelayanan dari sebaran halte/perhentian Suroboyo Bus kurang maksimal karena adanya area yang tidak terlayani halte/perhentian Suroboyo Bus. Secara keseluruhan, halte/perhentian Suroboyo Bus dengan aksesibilitas paling tinggi adalah Terminal Intermoda Joyoboyo dan halte dengan aksesibilitas paling rendah adalah halte Darmo. Sebaran halte dan perhentian Suroboyo Bus eksisting belum optimal karena tidak dapat memenuhi semua titik permintaan yang ada. Didapatkan 54 lokasi yang terpilih sebagai lokasi halte/perhentian bus yang optimal. Tanpa mempertimbangkan Terminal Purabaya, hanya 26 lokasi halte/perhentian Suroboyo Bus eksisting yang terpilih sebagai lokasi yang optimal sedangkan 19 halte/perhentian bus lainnya mengalami pergesaran dengan adanya tambahan 10 lokasi halte/perhentian bus. Hasil optimasi sebaran halte dan perhentian Suroboyo Bus memberikan cakupan pelayanan yang lebih besar sehingga semakin banyak potensi permintaan perjalanan menuju berbagai pusat kegiatan pada koridor Utara-Selatan Kota Surabaya yang dapat dilayani oleh Suroboyo Bus trayek Terminal Purabaya-Rajawali. Hasil studi dapat memberikan pertimbangan mengenai upaya peningkatan aksesibilitas Suroboyo Bus yang dapat dilakukan melalui peningkatan aspek pelayanan yang ada. Selain itu, penentuan sebaran halte/perhentian Suroboyo Bus yang optimal pada penelitian ini juga dapat menjadi dasar pertimbangan dalam menyediakan sarana transit yang memperhatikan kedekatan terhadap lokasi dengan potensi bangkitan yang tinggi serta integrasi dengan angkutan umum lainny