📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4,000 dokumen

CLIMATE CHANGE SCIENCE CENTER: PERANCANGAN SARANA EDUKASI PERUBAHAN IKLIM DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU DI KOTA BANDUNG

Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata pada daerah tertentu dalam jangka waktu yang panjang. Perubahan pada iklim dapat terjadi secara alamiah karena perubahan aktivitas matahari dan kejadian luar biasa pada alam, seperti bencana. Sejak 1800-an, aktivitas manusia menjadi faktor utama perubahan iklim. Kegiatan ini menghasilkan gas-gas yang membuat lapisan seperti penahan yang menghalau sinar matahari untuk terpantul keluar bumi. Akibatnya, sinar matahari terperangkap dan suhu bumi meningkat. Perubahan suhu rata-rata ini memicu perubahan lain pada bumi, termasuk iklim. Konsekuensi dari perubahan iklim sudah cukup terlihat saat ini, tidak hanya pada keadaan lingkungan, tapi juga pada kualitas kehidupan manusia. Berdasarkan survei oleh Peoples’ Climate Vote 2024 oleh University of Oxford dan GeoPoll, 60% responden merasa lebih khawatir terhadap perubahan iklim daripada tahun sebelumnya dan 54% merasa membutuhkan pembelajaran yang lebih banyak mengenai perubahan iklim. Pengetahuan masyarakat terhadap perubahan iklim adalah hal yang baik. Namun, masih banyak lapisan masyarakat yang tidak mengetahui usaha apa yang harus diambil untuk menghadapi perubahan iklim. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang untuk mengambil tindakan demi menjaga kestabilan iklim. Untuk menjawab permasalahan ini, dibutuhkan edukasi mengenai perubahan iklim yang terbuka untuk semua orang sebagai salah satu langkah menghadapi ancaman iklim global. Selain itu, sebagai upaya mengatasi perubahan iklim, perlu ada usaha dalam menerapkan sistem ramah lingkungan dalam perancangan bangunan. Proyek ini merupakan desain dari sarana edukasi informal berbasis ekshibisi sebagai upaya peningkatan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap isu perubahan iklim dan upaya reduksi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan bangunan melalui penerapan arsitektur hijau. Ekshibisi utama pada bangunan didesain untuk menyampaikan penyebab dan akibat dari perubahan iklim pada setiap elemen yang ada di bumi. Alur ekshibisi menggunakan konsep ‘Freedom-to-Wonder’. Dengan konsep ini, pengunjung bebas untuk mengunjungi setiap bagian ekshibisi. Setiap bagian ekshibisi terhubung untuk menciptakan aliran sirkulasi yang mengalir secara alami. Sebagai upaya menghadapi perubahan iklim, proyek ini menggunakan pendekatan arsitektur hijau, seperti integrasi solar panel, daur ulang air hujan, penggunaan sistem penghawaan ramah lingkungan, pemilihan material, roof garden, dan rain garden untuk menyerap air hujan di kawasan proyek. Design framework yang digunakan dalam merancang proyek ini adalah concept-based design. Proyek ini terletak di Jl. Ir. H. Juanda, Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung dengan luas tanah ±10.000 m2. Metode yang digunakan untuk mendukung perancangan bangunan ini adalah studi literatur, studi preseden, dan analisis perilaku pengguna. Proyek ini menjawab SDGs No. 4: Quality Education, No. 7: Affordable and Clean Energi, dan No. 13: Climate Action. Proyek ini diharapkan bisa meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai iklim saat ini melalui ekshibisi interaktif dan terlibat secara langsung dalam upaya mengurangi dampak buruk pemanasan global dan perubahan iklim.

2026
👤 Penulis: Aliza Syifana
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

REINTEGRATING THE SEA AND THE CITY: MERAK PORT AS A WATERFRONT TRANSIT HUB FOR MOBILITY AND PUBLIC LIFE

Transformasi kawasan pelabuhan sebagai pintu gerbang kota menghadirkan peluang untuk mengintegrasikan fungsi transportasi, ruang publik, dan identitas kultural dalam satu lanskap arsitektural yang inklusif. Studi ini berfokus pada Pelabuhan Merak di Cilegon, Banten, sebagai simpul mobilitas strategis yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatra, sekaligus salah satu pelabuhan penumpang tersibuk di Indonesia dengan arus pergerakan harian yang sangat dinamis. Secara potensial, pelabuhan ini dapat memperkuat interkonektivitas regional, mempercepat perputaran ekonomi, serta menjadi ruang interaksi sosial yang berkelanjutan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa peran pelabuhan masih terfokus pada aspek transportasi teknis, sementara kebutuhan dasar pengguna, kenyamanan, dan kualitas sirkulasi antar moda belum terakomodasi dengan baik. Kondisi seperti jarak yang jauh antara Stasiun Merak, terminal penumpang, drop-off point, pool travel-bus, dan dermaga, seringkali menimbulkan pergerakan tidak efisien, mengurangi kualitas pengalaman pengguna dan membatasi aksesibilitas masyarakat. Situasi ini menegaskan pentingnya reposisi fungsi pelabuhan sebagai ruang publik yang inklusif, efisien, dan terhubung dengan kota. Tugas akhir ini mengarahkan pengembangan terminal penumpang di Pelabuhan Merak bertransformasi menjadi waterfront transit hub yang tidak hanya memusatkan sirkulasi manusia dalam jaringan transportasi laut, darat, dan rel, tetapi juga memperluas fungsi terminal penumpang menjadi ruang publik multi-fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh penumpang reguler, penumpang eksekutif, pelaku usaha lokal, maupun masyarakat umum. Pendekatan arsitektural dirumuskan dengan merespons tekanan sosial, ekonomi, dan ekologis yang bekerja pada kawasan pesisir, serta diperkaya dengan prinsip biophilic design untuk menghadirkan integrasi elemen alam dalam pengalaman ruang yang sehat, nyaman, dan terhubung dengan laut. Melalui pendekatan ini, rancangan tidak hanya menawarkan solusi atas aksesibilitas, inklusivitas, dan konektivitas antar moda, tetapi juga mendorong transformasi Pelabuhan Merak dari sekadar infrastruktur transportasi menjadi ruang publik waterfront yang hidup, tangguh menghadapi fluktuasi kepadatan penumpang, dan berkontribusi pada terwujudnya lingkungan perkotaan yang lebih adil, inklusif, serta berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Anastasya Jasmine Auliasari
🏷️ Transportasi Laut 🏷️ Manajemen Ruang Publik 🏷️ Hidrologi

STUDI AB INITIO SIFAT ELEKTRONIK MATERIAL HETEROBILAYER MOS2 – MOSE2 DENGANKETIDAKMURNIAN KARBON

Penggabungan material transition metal dichalcogenides (TMDs) dua dimensi (2D) menjadi heterobilayer membuka peluang munculnya sifat elektronik yang lebih unggul dibandingkan lapisan tunggalnya. Namun, residu karbon (C) seringkali ditemukan pada material tersebut saat proses sintesisnya. Keberadaan residu karbon ini berpotensi mengubah karakteristik elektronik material TMDs. Penelitian ab initio pun dilakukan untuk menganalisis pengaruh ketidakmurnian karbon terhadap sifat elektronik material TMDs heterobilayer. Heterobilayer MoS2–MoSe2 memiliki rapat keadaan dan struktur pita energi yang unik bergantung pada konfigurasi susunan strukturnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa heterobilayer MoS2–MoSe2 dengan konfigurasi AB’ memiliki energi interaksi paling stabil dengan celah pita langsung sebesar 0,75 eV serta band alignment tipeII, dimana pita valensi maksimum dan pita konduksi minimum berasal dari lapisan yang berbeda. Penambahan atom karbon sebagai adatom mempertahankan karakter celah pita langsung sebesar 0,22 eV, sedangkan karbon sebagai dopan substitusi menghasilkan celah pita tidak langsung sebesar 0,36 eV. Adanya ketidakmurnian karbon menurunkan celah pita energi heterobilayer MoS?–MoSe?, sedangkan band alignment tetap tipe-II dan hanya berubah menjadi tipe-I pada konfigurasi tertentu.

2026
👤 Penulis: Ashma Nisa Sholihah Adma
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN MODEL HIDRAULIKA UNTUK DAYA RUSAK AIR DENGAN METODE BEDA HINGGA (FDM) SKEMA EKSPLISIT MACCORMACK

Dampak destruktif bencana tsunami menuntut pemodelan hidraulika yang cepat dan akurat untuk mendukung mitigasi bencana. Meskipun Shallow Water Equation (SWE) 2D efektif digunakan, resolusi spasial tinggi yang dibutuhkan menghasilkan beban komputasi yang sangat besar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membangun, menguji performa stabilitas, serta menganalisis akurasi hasil simulasi dari model numerik eksplisit SWE 2D berbasis skema MacCormack dalam mensimulasikan berbagai fenomena aliran air yang berdaya rusak. Model dibangun menggunakan Metode Beda Hingga (FDM) eksplisit MacCormack dua tahap (prediktor-korektor), yang ditunjang algoritma ambang batas basah-kering (wet-dry threshold) serta Hansen Filter sebagai peredam osilasi numerik pada gelombang kejut. Evaluasi keandalan model dilakukan melalui skenario dam-break (linear dan sirkular), propagasi gelombang soliter pada kedalaman konstan, run-up gelombang soliter (non-breaking dan breaking) pada pantai kanonik, serta simulasi tsunami run-up pada pulau kerucut (Conical Island) dengan validasi berbasis Root-Mean-Square-Error (RMSE) terhadap data analitik dan eksperimen laboratorium. Hasil simulasi menunjukkan model mampu menangani kasus dam-break dengan RMSE sebesar 0,075 m (linear) dan 0,084 m (sirkular), serta mempertahankan bentuk gelombang soliter pada kedalaman konstan secara stabil (rata-rata RMSE 0,0715%–0,150%). Pada run-up pantai kanonik, hasil simulasi selaras dengan eksperimen (RMSE rata-rata 0,3804 untuk non-breaking dan 2,92 untuk breaking). Namun, pada kasus kompleks 2D Conical Island, model mengalami penjalaran gelombang ~5% lebih cepat (dilatasi waktu) dan kurang presisi dalam mereplikasi tinggi limpasan maksimum di sisi belakang pulau (lee side run-up) serta fenomena surut (rundown drawback), dengan rata-rata RMSE total sebesar 0,0147 m. Deviasi ini diidentifikasi terjadi akibat difusi numerik filter Hansen serta hambatan artifisial dari parameter wet-dry threshold pada lereng curam. Dapat disimpulkan bahwa skema eksplisit MacCormack yang dikembangkan stabil dan mampu menyajikan fenomena hidrodinamika secara kualitatif, tetapi memiliki keterbatasan fisis dalam memprediksi kuantitas limpasan pada topografi 2D yang kompleks. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan skema numerik orde lebih tinggi serta optimasi parameter batas basah-kering.

2026
👤 Penulis: Sulaiman Veda Ananta
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Numerik

PENGEMBANGAN MODEL ANALISIS PERANAUGMENTED REALITY TERHADAP USER STICKINESS PADA M-COMMERCE

Teknologi Augmented Reality (AR) dalam mobile commerce semakin banyak digunakan untuk meningkatkan kualitas pengalaman belanja digital. Namun, bukti empiris mengenai bagaimana karakteristik AR membentuk keterikatan penggunaan berkelanjutan pengguna pada platform masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik AR terhadap user stickiness pada mcommerce melalui kerangka Stimulus–Organism–Response. Pada penelitian ini digunakan pendekatan kuantitatif dengan survei online terhadap 216 pengguna aplikasi m-commerce berbasis AR di Indonesia. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vividness, interactivity, reality congruence, dan modality richness berpengaruh positif terhadap customer satisfaction, yang selanjutnya membentuk emotional attachment pengguna. Emotional attachment terbukti menjadi determinan user stickiness, sementara customer satisfaction dan value cocreation behavior tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa customer satisfaction dan value co-creation behavior secara signifikan berkontribusi terhadap user stickiness, namun pengaruh keduanya sepenuhnya dimediasi oleh emotional attachment, mengindikasikan bahwa baik kepuasan fungsional maupun partisipasi aktif pengguna hanya mampu mendorong keterikatan jangka panjang apabila terlebih dahulu bertransformasi menjadi ikatan afektif dengan platformPada penelitian ini diberikan kontribusi teoretis dengan menempatkan emotional attachment sebagai mediator penting antara karakteristik AR dan user stickiness, serta memberikan pemahaman tambahan mengenai peran value co-creation behavior dalam konteks m-commerce berbasis teknologi AR.

2026
👤 Penulis: Fella Amalia
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

DESAIN BIOPHILIC DI RUANG KERJA UNTUK MENINGKATKAN KINERJA KOGNITIF, RESPONS FISIOLOGI, DAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS

Pertumbuhan penduduk perkotaan di Indonesia yang terus meningkat berdampak pada penurunan kualitas lingkungan perkotaan, ditandai dengan berkurangnya vegetasi perkotaan dan meningkatnya kepadatan bangunan. Kondisi ini menyebabkan masyarakat perkotaan semakin terbatas dalam merasakan elemen alam, khususnya selama jam kerja di dalam ruangan sehingga tidak memiliki cara untuk meredakan kondisi negatif yang muncul selama jam kerja, sehingga kondisi-kondisi tersebut terakumulasi dan berdampak pada penurunan konsentrasi, peningkatan kesalahan kerja, serta menurunnya produktivitas. Desain biophilic merupakan pendekatan yang mengimplementasikan elemen alami ke dalam ruangan dan terbukti memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan psikologis, respons fisiologis, maupun kinerja kognitif, namun penelitian eksperimental mengenai desain biophilic di ruang kerja pada negara berkembang seperti Indonesia masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh desain biophilic dengan atribut greenery, water features, dan multisensory experience terhadap kinerja kognitif, respons fisiologis, dan kesejahteraan psikologis pekerja. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen within-subject dengan melibatkan 30 partisipan yang menjalani dua skenario ruang kerja secara bergantian, yaitu skenario biophilic dan nonbiophilic. Partisipan diminta mengerjakan Visual Search Task (VST) untuk mengukur kinerja kognitif, mengukur detak jantung dan tekanan darah (TDS dan TDD) untuk respons fisiologis, serta mengisi kuesioner Perceived Restorativeness Scale (PRS) dan Positive and Negative Affect Schedule (PANAS) untuk kesejahteraan psikologis. Terakhir, partisipan mengisi kuesioner Nature Relatedness-6 (NR-6) untuk mengukur tingkat keterhubungan individu dengan alam, yang digunakan untuk menganalisis perannya dalam memoderasi kinerja kognitif, respons fisiologis, dan kesejahteraan psikologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain biophilic tidak secara signifikan meningkatkan kinerja kognitif, meskipun terdapat kecenderungan positif pada reaction time dan akurasi Visual Search Task. Dari sisi respons fisiologis, desain biophilic secara signifikan menurunkan detak jantung (t(26) = ?2,19; p = 0,04), sedangkan tekanan darah sistolik maupun diastolik lebih stabil namun tidak signifikan. Dari sisi kesejahteraan psikologis, skenario biophilic dinilai lebih restoratif berdasarkan skor PRS (t(26) = 9,22; p < 0,01), serta secara signifikan meningkatkan afek positif (Z = ?2,31; p = 0,02) dan menurunkan afek negatif (Z = ?4,20; p < 0,01) dari sebelum ke sesudah eksperimen. Sebaliknya, ruang nonbiophilic tidak menunjukkan perubahan afek yang signifikan. Perbandingan langsung antar skenario menegaskan bahwa afek positif signifikan lebih tinggi pada ruang biophilic (t = 3,90; p < 0,01). Hasil penting lainnya, uji korelasi menunjukkan bahwa individu dengan keterhubungan alam (nature relatedness) yang lebih tinggi merasakan manfaat desain biophilic yang lebih besar pada persepsi restoratif (r = 0,40; p = 0,04) dan penurunan afek negatif (r = ?0,41; p = 0,03), namun justru menunjukkan peningkatan detak jantung yang lebih besar (r = 0,43; p = 0,02), berlawanan dengan arah yang diharapkan. Pola ini sejalan dengan effect size interaksi mixed ANOVA yang tergolong moderate (?²?? 0,09) meskipun tidak signifikan. Peran moderasi nature relatedness lebih konsisten terlihat melalui pendekatan korelasi dibandingkan perbandingan antar kelompok, kemungkinan akibat keterbatasan ukuran sampel kelompok NR rendah (n = 4).

2026
👤 Penulis: Anisa
🏷️ Kepedulian Lingkungan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

USULAN STRATEGI MANAJEMEN JALUR KARIR UNTUK MENGATASI KEBUNTUAN KARIR KARYAWAN : STUDI KASUS DI PT PERTA SAMTAN GAS

PT Perta Samtan Gas (PSGas) adalah perusahaan pengolahan gas patungan yang mapan dalam ekosistem energi milik negara Indonesia. Diatur oleh Perjanjian Pemegang Saham (SHA) yang mensyaratkan konsensus dari Dewan Direksi kedua belah pihak untuk semua keputusan strategis, PSGas menghadapi hambatan struktural dalam karir bagi karyawan yang dipekerjakan langsung, yang mengakibatkan hambatan sistematis terhadap promosi, mobilitas karir, dan pengembangan peran, sehingga menyebabkan kebuntuan karir. Studi ini membahas tiga pertanyaan penelitian: kondisi kebuntuan karir saat ini di PSGas; hubungan antara struktur organisasi, tata kelola sistem karir, dan kebuntuan karir; serta perumusan strategi manajemen jalur karir untuk mengatasinya. Desain studi kasus tunggal metode campuran digunakan, yang mengintegrasikan kuesioner terstruktur yang diberikan kepada 126 karyawan yang dipekerjakan langsung (90.6% dari populasi 139 karyawan, melebihi minimum rencana awal yang hanya 105), dianalisis menggunakan PLS-SEM dengan SmartPLS 3.0, dan wawancara mendalam dengan sebelas informan kunci, dianalisis melalui pengkodean tematik terbuka, aksial, dan selektif. Temuan ini menegaskan bahwa kebuntuan karir tersebar luas, dengan rata-rata keseluruhan Career Stuckness (CS) sebesar 4.13 (kategori Tinggi) dan 61.1% karyawan tetap tidak dipromosikan selama lebih dari lima tahun. Analisis PLS- SEM mengungkapkan bahwa Struktur Organisasi (ORS) berdampak positif terhadap Career Stuckness (? = +0.592, p < 0.001) dan Tata Kelola Sistem Karir (GCS) berdampak negatif terhadap Career Stuckness (? = -0.343, p < 0.001), dengan daya penjelas gabungan sebesar R² = 0.595. Analisis kualitatif mengidentifikasi tiga akar penyebab: kendala tata kelola SHA, kekakuan sistem Grup Pertamina, dan perbedaan budaya Indonesia-Korea di antara pemegang saham. Berdasarkan temuan ini, studi ini mengusulkan Kerangka Manajemen Jalur Karir Terintegrasi menggunakan Model Penyelarasan 7S McKinsey. Tujuh strategi intervensi diorganisasikan ke dalam tiga fase implementasi: jangka pendek (Staf, Gaya, Keterampilan), jangka menengah (Sistem, Struktur), dan jangka panjang (Strategi, Nilai Bersama), yang semuanya dirancang untuk beroperasi dalam batasan tata kelola SHA yang ada. Kerangka kerja ini bertujuan untuk mengurangi kebuntuan karir dari 4.13 menjadi di bawah 3.67 (kategori Menengah) melalui peningkatan tata kelola dan infrastruktur karir secara simultan.

2026
👤 Penulis: Mohammad Irwan Trimulyono
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENGUJIAN DENDROCALAMUS ASPER (BAMBU BETUNG) SEBAGAI FITOREMEDIATOR LOGAM BERAT KADMIUM SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN KLOROFIL DAUN

Perkembangan aktivitas industri yang pesat meningkatkan pencemaran lingkungan melalui pelepasan limbah logam berat. Limbah industri tekstil di Kabupaten Bandung menjadi salah satu sumber pencemar Cd dengan konsentrasi yang melampaui baku mutu lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan fitoremediasi bibit Dendrocalamus asper berdasarkan kemampuan translokasi dan bioakumulasi, serta efisiensi prosesnya. Dianalisis pula keberlangsungan hidup serta pertumbuhan bibit dan kandungan klorofil daun selama 90 hari. Penggunaan alat XRF untuk menganalisis Cd yang terserap serta unsur pembentuk klorofil (Mg, Mn, dan Fe). Hasil data kemampuan fitoremediasi diuji dengan korelasi Spearman, keberlangsungan hidup dihitung dengan survival rate, lalu regresi logistik, serta pertumbuhan bibit dan kandungan klorofil daun menggunakan 2-way ANOVA, lalu uji lanjut Tukey. Didapatkan bibit D. asper mampu menyerap Cd sebesar 62,71% dan 83,24% pada masing-masing 1,2 mg/L dan 2,4 mg/L Cd, akumulasi tertinggi pada daun (57,66%) dan akar (50,99%). Nilai TF > 1 dan BCF < 1 mengindikasikan D. asper belum tergolong hiperakumulator, namun baik dalam mereduksi kandungan Cd tanah. Kedua jenis bibit toleran hingga 2,4 mg/L Cd, survival rate bibit kultur jaringan 100% dan kondisi kesehatan lebih baik daripada bibit stek batang, sehingga dianjurkan untuk praktik fitoremediasi selanjutnya. Konsentrasi Cd yang diberikan masih di bawah batas toleran bibit D. asper dengan tidak terganggunya pertumbuhan bibit maupun kandungan klorofil daunnya. Hal ini terlihat pula dari belum adanya hambatan dalam penyerapan unsur pembentuk klorofil, yaitu Mg, Mn, dan Fe. Hasil penelitian ini diharapkan dapat diimplementasikan sebagai solusi terhadap pencemaran lingkungan oleh logam berat.

2026
👤 Penulis: Nadine Dzaalika
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PUSAT REINTEGRASI DAN PEMULIHAN ANAK RENTAN PERKOTAAN DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BERBASIS PERILAKU

Arsitektur memiliki peran penting dalam menciptakan kota dan komunitas yang inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan, mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Dalam pembangunan kota yang resilien dan membina generasi mudanya, arsitektur dapat menjadi katalis melalui perancangan fasilitas yang mampu mendukung proses pemulihan, pembinaan, dan reintegrasi sosial sebagai penyediaan ruang yang aman bagi anak-anak rentan di kawasan perkotaan. Sayangnya, permasalahan anak rentan, khususnya anak jalanan yang terdorong menjadi pekerja informal akibat kemiskinan, disfungsi keluarga, maupun keterbatasan akses pendidikan, masih menjadi fenomena yang banyak dijumpai di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Sosial (2022), terdapat sekitar 16.290 anak jalanan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, Kota Bandung menjadi salah satu daerah perkotaan dengan angka yang cukup tinggi. Menurut data Dinas Sosial (2024), terdapat 1.645 anak jalanan di Kota Bandung dengan tren peningkatan sekitar 400 anak setiap tahunnya. Pada tahun 2023, Dinas Sosial juga menyebutkan bahwa Jalan Pajajaran menjadi salah satu dari sembilan kawasan rawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Kondisi tersebut menunjukkan tingginya kerentanan anak di kawasan perkotaan, baik dari aspek fisik, psikologis, sosial, maupun perkembangan perilaku. Perancangan Pusat Reintegrasi dan Pemulihan Anak Rentan Perkotaan di Jalan Pajajaran, Kota Bandung mengintegrasikan fungsi hunian transisi, pendidikan nonformal, konseling psikososial, pengembangan keterampilan, serta ruang interaksi komunitas sebagai wadah yang mendukung proses reintegrasi anak ke masyarakat. Pendekatan arsitektur berbasis perilaku diterapkan melalui perancangan lingkungan binaan yang mempertimbangkan hubungan antara perilaku pengguna dengan elemen ruang, kualitas visual, serta materialitas yang mampu menciptakan rasa aman, meningkatkan interaksi sosial yang positif, membangun kemandirian, dan mendorong perubahan perilaku secara bertahap. Metode perancangan meliputi studi literatur mengenai anak rentan perkotaan, pusat reintegrasi, dan arsitektur berbasis perilaku; observasi lapangan pada fasilitas pemberdayaan anak di Bandung; analisis kebutuhan pengguna; serta eksplorasi desain melalui zoning, simulasi pencahayaan, analisis perilaku pengguna, dan pemilihan material yang mendukung kenyamanan serta pembentukan perilaku adaptif. Dengan demikian, proyek berfungsi sebagai fasilitas pemulihan, pembelajaran, dan pembentukan karakter yang membantu anak rentan membangun kembali rasa aman, kepercayaan diri, serta kesiapan untuk kembali berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga mendukung terwujudnya SDG 11 melalui peningkatan kualitas hidup anak dan keberlanjutan komunitas perkotaan.

2026
👤 Penulis: Astri Nagita Hidayat
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KOMPOSISI DAN POTENSI SOIL SEED BANK PADA BERBAGAI FASE SUKSESI PASCAGANGGUAN DI HUTAN CAGAR ALAM GUNUNG PAPANDAYAN, GARUT

Soil seed bank merupakan cadangan benih yang tersimpan di dalam tanah dan berperan penting dalam proses regenerasi vegetasi serta pemulihan ekosistem setelah terjadi gangguan. Komposisi dan struktur soil seed bank dapat berubah sepanjang proses suksesi dan memengaruhi potensi regenerasi alami suatu ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi dan struktur komunitas soil seed bank komunitas soil seed bank serta hubungan antara soil seed bank dan vegetasi di atas tanah pada berbagai fase suksesi di Cagar Alam Papandayan. Penelitian dilakukan pada tiga tahap suksesi, yaitu belukar muda, belukar tua, dan hutan. Analisis soil seed bank dilakukan menggunakan metode ekstraksi dan germinasi, sedangkan vegetasi di atas tanah dianalisis berdasarkan inventarisasi spesies pada masing-masing zona. Struktur komunitas dianalisis menggunakan densitas biji, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), dan indeks dominansi, sedangkan hubungan antara vegetasi dan soil seed bank dianalisis menggunakan indeks kesamaan Sørensen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa soil seed bank terdiri atas 22 spesies, yang didominasi oleh spesies pionir (19 spesies). Kelompok herba-perdu mendominasi soil seed bank baik berdasarkan jumlah spesies maupun densitas biji pada seluruh tahap suksesi. Densitas biji tertinggi ditemukan pada zona belukar muda dan belukar tua, sedangkan zona hutan memiliki densitas biji yang lebih rendah. Komposisi densitas biji didominasi oleh famili Asteraceae pada seluruh tahap suksesi. Nilai indeks keanekaragaman meningkat seiring bertambahnya tahapan suksesi. Dari total 34 spesies vegetasi yang ditemukan, Sebanyak 11 dari total 34 spesies vegetasi juga ditemukan dalam soil seed bank. Nilai indeks Sørensen menunjukkan kesamaan vegetasi dan soil seed bank yang rendah hingga sedang serta cenderung menurun dari belukar muda menuju hutan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa soil seed bank di Cagar Alam Papandayan masih didominasi oleh spesies pionir dan hanya merepresentasikan sebagian kecil komunitas vegetasi di atas tanah.

2026
👤 Penulis: Milan Ardana
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Hutan 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGUKURAN LAJU ALIRAN FLUIDA DUA-FASA DALAM PIPA MENGGUNAKAN GELOMBANG ULTRASONIK DAN TOMOGRAFI RESISTANSI ELEKTRIKAL

Pengukuran laju aliran fluida multi-fasa tetap menjadi kebutuhan krusial di berbagai sektor industri, seperti farmasi, petrokimia, serta minyak dan gas. Namun, proses pengukuran ini masih menghadapi berbagai tantangan akibat kompleksitas karakteristik aliran, seperti interaksi antar fasa, distribusi kecepatan yang tidak merata, serta fluktuasi tekanan yang dinamis. Selain itu, pola aliran seperti slug flow, churn flow, anular flow, stratified flow dan bubble flow dapat menimbulkan fluktuasi hidrodinamik yang berpotensi menyebabkan degradasi pada dinding pipa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini mengusulkan kombinasi metode ultrasonik refleksi (UR) dan tomografi resistansi elektrikal (TRE) untuk pengukuran aliran fluida dua-fasa. Pendekatan ini bertujuan mengukur laju aliran sekaligus merekonstruksi distribusi fluida dua-fasa cairan dan udara (water and air) di dalam pipa, serta mengidentifikasi struktur aliran, khususnya pada fasa cair dan gas. Metode TRE bekerja dengan menginjeksikan arus lemah melalui elektroda dan mengukur perubahan resistansi untuk merekonstruksi profil aliran, sedangkan konfigurasi dual-plane TRE digunakan untuk meningkatkan resolusi temporal dan spasial melalui analisis korelasi silang. Metode UR memanfaatkan pantulan gelombang ultrasonik untuk mendeteksi perbedaan sifat akustik antar fasa, sehingga efektif dalam mengidentifikasi struktur aliran. Sensitivitas metode UR ditingkatkan melalui analisis sinyal pantulan (echo) dan variasi frekuensi. Untuk mendukung akuisisi data berkecepatan tinggi, sistem diimplementasikan menggunakan field programmable gate array (FPGA) yang memungkinkan sampling rate tinggi sesuai dengan karakteristik transduser ultrasonik berfrekuensi tinggi. Validasi eksperimen dilakukan menggunakan pipa akrilik transparan dengan konfigurasi aliran horizontal agar observasi visual dapat dilakukan secara langsung. Selain itu, pendekatan komputasional dinamika fluida (KDF) diterapkan untuk memodelkan dinamika aliran dua-fasa, mengamati mekanisme pembentukan slug flow, serta membandingkan distribusi pola aliran hasil simulasi dengan hasil eksperimen. Dengan demikian, simulasi KDF berperan sebagai pendukung analisis fisis terhadap fenomena aliran dan sebagai pembanding terhadap hasil pengukuran berbasis UR dan TRE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan mampu membedakan karakter sinyal antara aliran slug dan aliran stratifikasi (stratified) yang menjadi objek utama pengamatan, serta mengidentifikasi pola aliran slug yang pada kondisi eksperimen dikategorikan sebagai low-aerated slug flow. Pengukuran menggunakan metode UR menunjukkan bahwa ketebalan aliran slug berada pada kisaran 0,330 hingga 0,355 cm, dengan kecenderungan meningkat seiring bertambahnya kecepatan UR pada rentang 0,6 hingga 1,3 m/s. Hubungan antara kedua parameter menunjukkan kecenderungan nonlinier. Pada tahap kalibrasi, sistem UR menunjukkan kesalahan pengukuran kurang dari 1% terhadap referensi. Hasil simulasi KDF menunjukkan kesesuaian dengan tren eksperimen dalam merepresentasikan pembentukan dan distribusi aliran, walaupun masih terdapat perbedaan akibat penyederhanaan model numerik dan kompleksitas dinamika aliran dua-fasa. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pendekatan integratif yang menggabungkan metode UR, TRE, dan KDF untuk meningkatkan kemampuan pengukuran laju aliran, identifikasi karakteristik aliran, serta analisis perilaku slug flow secara lebih representatif. Pendekatan ini memberikan dasar yang lebih komprehensif bagi pengembangan sistem pemantauan aliran dua-fasa pada aplikasi industri.

2026
👤 Penulis: Lalu Febrian Wiranata
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Dinamika Fluida

FROM SAFETY TO EMPOWERMENT: FASILITAS PEMBERDAYAAN WANITA PENYINTAS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) DENGAN PENDEKATAN HEALING ENVIRONMENT DI KABUPATEN BANDUNG BARAT

Berdasarkan laporan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan sebagian besar dari kasus kekerasan terhadap perempuan. Perempuan yang tidak memiliki pekerjaan formal rentan mengalami kekerasan akibat ketergantungan ekonomi serta norma sosial yang menghalangi perempuan untuk meninggalkan hubungan yang tidak sehat. Studi menunjukkan bahwa angka kasus KDRT pada kenyataannya lebih tinggi dibandingkan dengan angka yang dilaporkan akibat keterbatasan sistem pengumpulan data yang bergantung pada pelaporan sukarela serta stigma sosial terhadap perempuan yang bersuara mengenai kekerasan yang dialaminya. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan tertinggi di Indonesia. Saat ini, intervensi pemerintah masih berfokus pada pendampingan hukum, sementara fasilitas yang mendukung pemulihan emosional, pemberdayaan, dan reintegrasi sosial masih terbatas. Beberapa rumah aman yang tersedia masih berupa bangunan sewaan yang tidak secara khusus dirancang untuk memberikan keamanan, privasi, maupun ruang pemulihan. Kabupaten Bandung Barat bahkan belum memiliki rumah aman khusus meskipun memiliki wilayah yang luas. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan akan fasilitas khusus yang menyediakan tempat perlindungan bagi perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga serta mendukung proses pemulihan mereka. Tipologi proyek ini adalah pusat edukasi perempuan yang dikombinasikan dengan hunian sementara yang berlokasi di Jalan Ciloa, Kabupaten Bandung Barat. Pusat edukasi ini bertujuan untuk membantu perempuan mencapai kemandirian ekonomi dan memperoleh skills yang dibutuhkan melalui pelatihan vokasional, terutama dalam bidang kuliner, hortikultura, serta beauty and fashion. Hunian sementara menyediakan tempat tinggal yang aman bagi perempuan yang melindungi diri dari pasangan yang melakukan kekerasan. Proyek ini dirancang untuk memprioritaskan kenyamanan, privasi, dan otonomi pengguna melalui strategi healing environment. Strategi tersebut meliputi sirkulasi yang jelas untuk mengurangi stres, akses terhadap alam untuk mendukung pemulihan emosional, pemisahan zona untuk menjaga privasi dan keamanan, serta penggunaan elemen dengan tepian halus dan material alami untuk menciptakan suasana domestik. Respons kontekstual terhadap kondisi kemiringan lahan diwujudkan melalui massa bangunan bertingkat yang mempertahankan kontur alami. Proyek ini bertujuan untuk menyediakan lingkungan transisi yang aman bagi penyintas untuk memulihkan diri, mengembangkan potensi diri, serta membantu proses reintegrasi ke masyarakat sekaligus mengurangi stigma terhadap penyintas KDRT.

2026
👤 Penulis: Salma Syahidah Kurniawan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

EVALUASI KESTABILAN LERENG WASTE DUMP PIT XY DAN OPTIMALISASI JARAK AMAN SETTLING POND TERHADAP STABILITAS PIT ZW MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS PADA TAMBANG NIKEL SITE POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, SULAWESI TENGGARA

Penambangan terbuka nikel di Site Pomalaa menghasilkan lereng waste dump dan settling pond yang berpotensi mengalami ketidakstabilan, terutama pada kondisi jenuh. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kestabilan lereng Waste Dump Pit XY serta menentukan jarak aman settling pond terhadap lereng Pit ZW. Analisis dilakukan menggunakan Limit Equilibrium Method (LEM) dengan pendekatan Morgenstern–Price pada perangkat lunak Rocscience Slide2 untuk kondisi statis dan dinamis berdasarkan Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018. Data yang digunakan meliputi geometri lereng, parameter geoteknik, data borehole, kondisi muka air tanah, dan geometri settling pond. Evaluasi dilakukan melalui analisis Faktor Keamanan (FK), Probability of Failure (PF), simulasi sequence benching, redesain lereng, dan variasi jarak settling pond. Hasil analisis menunjukkan bahwa lereng aktual Waste Dump Pit XY memiliki FK statis 1,606 (PF 0,305%) dan FK dinamis 1,253 (PF 13,549%) pada kondisi jenuh. Redesain menggunakan sequence benching tiga jenjang menghasilkan FK statis 1,350 (PF 0,2%) dan FK dinamis 1,186 (PF 4,7%), serta meningkatkan kapasitas waste dump dari 199.375 m³ menjadi 291.159 m³. Redesain lereng Pit ZW menggunakan sequence bench empat jenjang menghasilkan FK deterministik 1,741 (PF 0,500%) pada kondisi statis dan FK deterministik 1,451 (PF 3,200%) pada kondisi dinamis sehingga memenuhi kriteria Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018. Simulasi variasi jarak settling pond menunjukkan jarak aman minimum 10 m dari kaki lereng dengan FK deterministik 1,592, FK mean 1,603, dan PF 4,954%, sedangkan pada jarak 5 m PF meningkat menjadi 5,500%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sequence benching, redesain lereng Pit ZW, dan optimasi jarak settling pond menghasilkan desain lereng yang memenuhi kriteria kestabilan berdasarkan Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018.

2026
👤 Penulis: Alya Nabila Ramadhani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS UNTUK PRODUKSI GASOLINE RENDAH SULFUR DI RU III PLAJU MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA AHP–TOPSIS TERINTEGRASI PADA GERBANG PRA-STUDI KELAYAKAN GUNA MENDUKUNG NET ZERO EMISSIONS INDONESIA TAHUN 2060

PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit III Plaju (RU III Plaju), kilang dengan kompleksitas rendah (Nelson Complexity Index ? 3,0), memproduksi gasoline dengan kandungan sulfur 170–230 ppm sekitar empat kali lipat dari batas maksimum 50 ppm yang diwajibkan untuk pemenuhan standar Euro IV/V berdasarkan Keputusan Dirjen Migas No. 110.K/MG.01/DJM/2022 sehingga menempatkan aset pada risiko ketidakpatuhan dan menjadi aset terdampar (stranded asset). Penutupan kesenjangan ini merupakan keputusan investasi strategis yang bersifat multidimensional, namun gerbang pra-studi kelayakan (Pre FS) kilang saat ini menyaring investasi hanya berdasarkan satu kriteria finansial (benefit–cost ratio lebih dari satu) yang tidak mampu menimbang pertimbangan regulasi, strategis, teknis, dan keberlanjutan. Penelitian ini mengembangkan kerangka kerja multi-criteria decision-making (MCDM) terintegrasi untuk disematkan pada gerbang Pre-FS dan mendemonstrasikannya pada keputusan pemenuhan gasoline rendah sulfur. Analisis SWOT kualitatif, yang disusun dari tujuh wawancara pakar dan divalidasi melalui focus group discussion, dikuantifikasi melalui matriks IFE (2,2983) dan EFE (2,5133) — dengan bobot faktor yang dielisitasi pada tingkat industri dari panel enam pakar melalui alokasi 100 poin — menempatkan kilang pada Sel V matriks IE dan Kuadran I SWOT serta mengidentifikasi kesenjangan desulfurisasi sebagai masalah prioritas. Pencocokan TOWS menghasilkan empat alternatif strategis yang dievaluasi melalui AHP (delapan sub-kriteria, consistency ratio 0,0028) dan diperingkat menggunakan TOPSIS. Pembangunan unit HDS/GSH (A4) menempati peringkat pertama (closeness coefficient 0,8481), hasil yang terbukti robust pada enam belas skenario perturbasi bobot ±20%. Gerbang MCDM menghasilkan rekomendasi yang transparan, dapat diaudit, dan dapat dipertanggungjawabkan yang tidak dapat dihasilkan oleh gerbang finansial sebelumnya sekaligus tetap mempertahankan kelayakan ekonomi sebagai salah satu kriterianya.

2026
👤 Penulis: Irza Afrianto
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STUDI GEOLOGI DAN MINERALISASI TIMAH DAN UNSUR TANAH JARANG PADA ENDAPAN PRIMER DI DAERAH TANJUNG GUNUNG, KABUPATEN BANGKA TENGAH, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pulau Bangka dikenal memiliki potensi endapan timah primer dan unsur tanah jarang (UTJ), namun keterkaitan antara keduanya masih belum diteliti secara mendalam. Penelitian berlokasi pada daerah Tanjung Gunung, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, dalam IUP PT Timah Tbk. dengan luas sekitar 12 km2. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kondisi geologi beserta kontrolnya terhadap proses alterasi dan mineralisasi, menganalisis karakteristik geokimia granitoid, serta mengidentifikasi zona alterasi, karakteristik, dan persebaran mineralisasi timah dan UTJ di daerah penelitian. Data dikumpulkan melalui pemetaan lapangan pada 79 titik observasi, kemudian diintegrasikan dengan analisis petrografi, mineragrafi, X-Ray Fluorescence (XRF), X-Ray Diffraction (XRD), dan Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS). Secara geomorfologi, daerah penelitian diklasifikasikan menjadi dua satuan berupa Satuan Perbukitan Struktural Tanjung Gunung dan Satuan Dataran Denudasional Tanjung Gunung. Daerah penelitian tersusun atas empat satuan batuan, yaitu metabatupasir, batupasir, granit, dan endapan aluvial. Berdasarkan data geokimia, granit terbentuk akibat kolisi Blok Sibumasu dengan Sukhothai Arc–Indochina pada Trias Akhir–Jura Awal yang menghasilkan intrusi granitoid tipe-S peraluminous yang dikonfirmasi oleh nilai A/CNK sebesar 1,28 dan posisi sampel pada field syn-collision granites. Karakteristik geokimia granitoid dicirikan oleh pengayaan LREE, anomali negatif Eu, serta deplesi Ba, Sr, P, dan Ti yang mencerminkan evolusi magmatik lanjut. Struktur geologi didominasi oleh sesar mendatar menganan berarah NW-SE yang mengontrol bukaan rekahan tarik NNW-SSE sebagai jalur utama migrasi fluida hidrotermal. Lima zona alterasi teridentifikasi dengan urutan pembentukan dari fase suhu tinggi ke rendah berupa albitisasi, greisenisasi, serisitisasi, argilisasi, dan silisifikasi, dengan zona greisenisasi sebagai target paling prospektif mineralisasi timah. Mineralisasi timah primer hadir dalam empat tipe struktur berupa diseminasi, single vein, sheeted vein, dan lode vein berarah dominan NNW-SSE hingga WNW-ESE yang terbentuk dalam tiga fase paragenesis berupa fase magmatik, hidrotermal, dan supergen. Mineralisasi UTJ bersumber dari mineral aksesori berupa monasit, apatit, dan zirkon, dengan pengayaan maksimum yang terkonsentrasi di dalam zona albitisasi.

2026
👤 Penulis: A. Zaky Aditya
🏷️ Geologi 🏷️ Mineralisasi Timah 🏷️ Hidrologi
Halaman 20 dari 267
💬