📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenPERENCANAAN PENANGGULANGAN SEDIMENTASI DI PELABUHAN TANJUNG ADIKARTO, KABUPATEN KULON PROGO, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Pelabuhan Tanjung Adikarto yang berlokasi di muara Sungai Serang, Kabupaten Kulon Progo, kini menghadapi kendala operasional yang serius akibat penutupan alur navigasi oleh sedimentasi masif. Permasalahan ini tidak hanya melumpuhkan aktivitas operasional pelabuhan, tetapi juga memicu risiko banjir akibat efek air balik (backwater) yang mengancam sistem drainase Kawasan Strategis Nasional (KSN) Yogyakarta International Airport (YIA). Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan perencanaan penanggulangan sedimentasi secara terpadu dan komprehensif melalui analisis hidrologi, analisis hidro-oseanografi yang mencakup pasang surut dan gelombang, serta pemodelan hidrodinamika dan transpor sedimen menggunakan perangkat lunak Delft3D. Hasil analisis hidro-oseanografi menunjukkan bahwa pasang surut di lokasi studi bertipe campuran condong ke harian ganda (Mixed Semidiurnal) dengan nilai Formzahl sebesar 0,4203. Sementara itu, debit andalan Sungai Serang berfluktuasi antara 4,77 m³/s hingga 28,02 m³/s. Kondisi penutupan alur teridentifikasi paling kritis saat musim kemarau, di mana penurunan debit sungai menghilangkan kapasitas penggelontoran alami (self-cleansing). Kondisi ini menyebabkan angkutan sedimen menyusur pantai (longshore transport) bergerak bebas membentuk lidah pasir yang menutupi mulut muara. Simulasi hidrodinamika membuktikan bahwa skenario pembangunan struktur jeti efektif untuk memotong laju transpor sedimen menyusur pantai sekaligus memblokir energi gelombang dominan, dengan estimasi Rencana Anggaran Biaya (RAB) konstruksi mencapai Rp295.625.334.684,49. Walaupun struktur jeti telah direncanakan, interaksi dinamis di muara tetap berpotensi membawa masuk sedimen halus ke dalam alur pelayaran pelabuhan dengan laju 274.247,75 m³/tahun. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan skema Operasi dan Pemeliharaan (O&P) melalui program pengerukan tahunan berkala agar pelabuhan beroperasi optimal dan kawasan terlindungi.
MIKROENKAPSULASI PROBIOTIK MENGGUNAKAN TEPUNG KAYA PREBIOTIK DAN HIDROKOLOID
Gangguan pencernaan yang meningkat di Indonesia memicu pengembangan probiotik Lactobacillus acidophilus, namun viabilitasnya mudah menurun akibat panas dan kondisi asam di dalam tubuh. Oleh karena itu, diperlukan metode mikroenkapsulasi untuk melindungi bakteri tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kombinasi bahan penyalut berupa tepung kaya prebiotik dan hidrokoloid terhadap viabilitas probiotik, menentukan pengaruh kondisi operasi spray drying terhadap viabilitas probiotik setelah proses pengeringan, serta menganalisis pengaruh mikroenkapsulasi terhadap stabilitas probiotik selama proses penyimpanan. Enkapsulasi dilakukan menggunakan variasi inulin (5%, 10%) dan sodium alginat (0,3%, 0,5%, 1%) pada temperatur inlet 120°C dan 150°C. Hasil menunjukkan efisiensi enkapsulasi tertinggi dalam mempertahankan viabilitas diperoleh pada formulasi 10% inulin + 1% sodium alginat pada 120°C (12,38 ± 1,48%). Peningkatan temperatur inlet terbukti menurunkan viabilitas awal probiotik, namun menghasilkan stabilitas penyimpanan bubuk yang lebih baik. Karakteristik fisik seperti kadar air (3,22 – 6,38%) tergolong memenuhi persyaratan standar mutu, sementara higroskopisitas (10,44 – 12,68%) seluruh sampel tergolong moderat higroskopis, dimana keduanya dipengaruhi secara signifikan oleh temperatur inlet. Uji stabilitas penyimpanan menunjukkan bahwa sel terenkapsulasi jauh lebih stabil dibandingkan sel bebas yang punah total dalam 6 hari, di mana sel terenkapsulasi masih terdeteksi setelah 30 hari. Lebih lanjut, uji in vitro sekuensial mengonfirmasi bahwa matriks inulin-alginat mampu mempertahankan viabilitas sel dari 5,7 menjadi 4,8 log CFU/mL melalui fase Simulated Gastric Fluid dan Simulated Intestinal Fluid, sedangkan sel bebas mengalami kematian total.
DIAGNOSIS KESULITAN KEUANGAN DAN STRATEGI TRANSFORMASI PADA HOLDING BADAN USAHA MILIK NEGARA PERTAHANAN INDONESIA: PENDEKATAN TERINTEGRASI ADAPTED ALTMAN Z-SCORE DAN SYSTEMS THINKING
DEFEND ID, holding badan usaha milik negara industri pertahanan Indonesia (PT Len Industri bersama PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, PT Pindad, dan PT Dahana), tetap berada dalam kesulitan keuangan sejak pembentukannya pada 2022: adapted Altman Z-score-nya bergerak dari 0,87-0,93 selama 2021-2024 menjadi 0,70 pada 2025, jauh di bawah ambang zona aman 2,99. Dengan desain metode campuran yang memadukan adapted Altman Z-score, diagnostik DuPont dan delapan rasio terhadap lima belas perusahaan sejenis global, sebelas wawancara, dan diagram lingkar sebab-akibat systems thinking, penelitian ini mendiagnosis kesulitan tersebut dan merancang pemulihan hingga 2030. Kesulitan bersifat struktural dan spesifik bagi DEFEND ID, didorong oleh defisiensi marjin operasi dan produktivitas aset, bukan leverage, serta dipertahankan oleh tiga lingkar umpan balik penguat yang berpasangan: spiral utang–profitabilitas, siklus erosi teknologi, dan jebakan modal kerja. Strategi transformasi terintegrasi enam program memulihkan Z-score menjadi sekitar 3,03 pada 2030, dengan syarat penyertaan modal negara (PMN) bersyarat-milestone sebesar Rp3,0 triliun sepanjang 2026–2027 dan pemulihan marjin yang berkelanjutan, dikoordinasikan oleh Komite Pengarah Bersama tripartit. Penelitian ini memperluas teori turnaround klasik dengan dimensi kelembagaan keempat untuk badan usaha milik negara multi-prinsipal.
ANALISIS KEBERLANJUTAN PRODUKSI VANILI ORGANIK DI KABUPATEN LOMBOK UTARA DAN LOMBOK TIMUR
Vanili (Vanilla planifolia) merupakan komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi yang memiliki potensi besar di pasar global, khususnya untuk segmen organik. Provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnya Pulau Lombok, memiliki potensi pengembangan vanili organik, namun dihadapkan pada tantangan produktivitas yang rendah, fluktuasi harga, dan kerentanan terhadap perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan produksi vanili organik, mengidentifikasi peran dan hubungan antar stakeholder, serta merumuskan strategi pengembangan yang berkelanjutan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur menggunakan metode campuran (mixed method). Analisis keberlanjutan dilakukan menggunakan Multiaspect Sustainability Analysis (MSA) pada lima dimensi (lingkungan, ekonomi, sosial, kelembagaan, teknologi). Peran aktor dianalisis menggunakan metode MACTOR (Matrix of Alliances and Conflicts: Tactics, Objectives, and Recommendations), dan perumusan strategi dilakukan melalui Analisis Prospektif. Hasil analisis menunjukkan bahwa status keberlanjutan produksi vanili organik secara agregat adalah berkelanjutan dengan indeks 78,93. Dimensi lingkungan memiliki indeks tertinggi (94,50), sedangkan dimensi teknologi memiliki indeks terendah (47,57) dan berstatus kurang berkelanjutan, menjadi faktor pembatas utama. Analisis stakeholder menempatkan UD. Rempah Organik Lombok dan ICS sebagai aktor dominan, sementara petani berada pada posisi dependen. Faktor kunci penentu keberlanjutan di masa depan adalah dukungan dan peran pemerintah, penggunaan benih unggul, adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim, produktivitas, inovasi teknologi, tingkat adopsi GAP dan pascapanen vanili. Strategi prioritas yang dirumuskan adalah mendorong kebijakan daerah untuk menetapkan vanili sebagai komoditas unggulan dan penyediaan kebun induk benih unggul untuk meningkatkan produktivitas dan adopsi teknologi.
PERANCANGAN KAMPUNG SUSUN NELAYAN PRODUKTIF DI PANTAI KALIBARU, JAKARTA UTARA
Kelurahan Kalibaru di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, memiliki potensi dan kontribusi pada sektor perikanan yang cukup besar. Jumlah nelayan di Jakarta Utara menurut laporan BPS tahun 2019 mencapai sekitar 25.235 orang dengan sebaran besar nelayan di titik pendaratan ikan, seperti Marunda, Cilincing, Kalibaru, Muara Angke, dan Kamal Muara. Kecamatan Cilincing adalah salah satu wilayah penghasil perikanan tangkap utama di Jakarta Utara dengan produksi ikan yang mencapai hampir 5,9 juta kg pada tahun 2017. Kalibaru terletak di inti kawasan industri dan pusat logistik, dikelilingi oleh Pelabuhan Tanjung Priok, Pelindo II, dan Kawasan Industri Marunda. Oleh karena itu, perekonomian masyarakat lokal Kalibaru sangat berkaitan dengan simpul-simpul ekonomi di sekitarnya, yang berpusat pada ekonomi perikanan, industri, dan sektor informal. Namun, Kelurahan Kalibaru menduduki peringkat ketujuh di DKI Jakarta sebagai kelurahan dengan jumlah RW kumuh tertinggi (Pendataan RW kumuh 2017 Provinsi DKI Jakarta). Kepadatan penduduk Kalibaru mencapai lebih dari 60.000 jiwa/km². Angka ini sangat tinggi dibandingkan kepadatan rata-rata DKI Jakarta, yakni sekitar 16.704 jiwa/km² sehingga mengakibatkan kualitas kehidupan yang buruk di lingkungan tersebut. Fenomena ini sejalan dengan tema Design for Resilient Communities dan berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan. Tugas akhir ini mengusulkan penataan kawasan permukiman kumuh Kalibaru melalui tipologi kampung susun produktif nelayan yang mengintegrasikan hunian vertikal dengan ruang usaha komersial. Pendekatan force-based approach digunakan untuk merespons dinamika isu dan konteks lingkungan, keterbatasan lahan, serta kebutuhan sosial-ekonomi nelayan. Metode perancangan meliputi analisis konteks dan isu lingkungan, serta observasi lapangan untuk memahami kondisi fisik area kumuh, kepadatan penduduk ekstrem, dan potensi lingkungan pesisir. Selanjutnya, dilakukan pemetaan kebutuhan penghuni, khususnya para nelayan, melalui wawancara dan studi literatur. Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik nelayan, mulai dari ruang untuk menyimpan dan memperbaiki alat tangkap hingga area untuk mengolah hasil laut dan berdagang. Data ini kemudian menjadi dasar dalam tahap pengembangan konsep dan perancangan. Dengan memindahkan hunian dari horizontal ke vertikal, lahan dapat dimanfaatkan secara lebih efisien, menciptakan ruang terbuka dan menyediakan area komunal. Desain ini secara langsung mendukung pertumbuhan ekonomi nelayan melalui zona pada lantai dasar kampung susun yang dirancang untuk menampung fasilitas produktif, seperti tempat penyimpanan dan perbaikan alat tangkap, ruang pengolahan hasil laut, serta bangunan komersial terintegrasi untuk menjual hasil bahari. Integrasi hunian dan ruang usaha ini menciptakan ekosistem yang mandiri, di mana nelayan dapat bekerja dan tinggal di satu lokasi, meningkatkan efisiensi dan pendapatan nelayan. Hasil rancangan diharapkan mampu mewujudkan hunian layak yang berkelanjutan, sanitasi yang baik, ruang sosial yang terencana, serta berkontribusi pada ketahanan ekonomi komunitas pesisir.
KERANGKA HYBRID AHP-TOPSIS UNTUK SELEKSI KONTRAKTOR INFRASTRUKTUR PADA INDUSTRI PERTAMBANGAN: STUDI KASUS PT XYZ
Pemilihan kontraktor merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan proyek infrastruktur di industri pertambangan. Namun, proses pemilihan kontraktor umumnya masih didasarkan pada persyaratan kualifikasi minimum dan penawaran harga terendah, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan kapabilitas yang dibutuhkan untuk keberhasilan pelaksanaan proyek. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan evaluasi kontraktor yang lebih terstruktur untuk mendukung pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan, mengevaluasi, dan mengusulkan implementasi kerangka kerja Hybrid AHP TOPSIS untuk pemilihan kontraktor proyek infrastruktur di PT XYZ. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods yang mengombinasikan studi literatur, analisis dokumen, wawancara, serta metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Sebanyak sebelas responden ahli terlibat dalam penilaian AHP, dan bobot yang diperoleh digunakan dalam TOPSIS untuk mengevaluasi alternatif kontraktor pada tiga proyek infrastruktur yang telah selesai. Kerangka kerja yang diusulkan terdiri atas enam kriteria utama dan sembilan belas subkriteria, yaitu Technical, Health Safety Environment and Security (HSES), Financial, Performance History, Local Capability–Participation, dan Commercial. Hasil AHP menunjukkan bahwa Technical (25,1%) dan HSES (24,9%) merupakan dua kriteria dengan bobot tertinggi, dengan selisih yang sangat kecil. Temuan ini menunjukkan bahwa kapabilitas teknis dipandang sebagai prasyarat utama keberhasilan pelaksanaan proyek, sementara HSES tetap menjadi pertimbangan yang sama pentingnya dalam pemilihan kontraktor. Kerangka kerja yang diusulkan menghasilkan peringkat kontraktor yang transparan dan konsisten pada ketiga studi kasus. Dibandingkan pendekatan yang berorientasi pada kualifikasi minimum dan harga terendah, kerangka kerja ini menyediakan proses evaluasi yang lebih komprehensif, transparan, dan dapat ditelusuri, serta tetap sesuai dengan tata kelola pengadaan PT XYZ. Dengan demikian, kerangka kerja Hybrid AHP-TOPSIS dapat menjadi alat bantu pengambilan keputusan untuk meningkatkan kualitas pemilihan kontraktor pada proyek infrastruktur pertambangan.
MIKROENKAPSULASI PROBIOTIK MENGGUNAKAN KOMBINASI TEPUNG KAYA PREBIOTIK DAN HIDROKOLOID
Gangguan pencernaan yang meningkat di Indonesia memicu pengembangan probiotik Lactobacillus acidophilus, namun viabilitasnya mudah menurun akibat panas dan kondisi asam di dalam tubuh. Oleh karena itu, diperlukan metode mikroenkapsulasi untuk melindungi bakteri tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kombinasi bahan penyalut berupa tepung kaya prebiotik dan hidrokoloid terhadap viabilitas probiotik, menentukan pengaruh kondisi operasi spray drying terhadap viabilitas probiotik setelah proses pengeringan, serta menganalisis pengaruh mikroenkapsulasi terhadap stabilitas probiotik selama proses penyimpanan. Enkapsulasi dilakukan menggunakan variasi inulin (5%, 10%) dan sodium alginat (0,3%, 0,5%, 1%) pada temperatur inlet 120°C dan 150°C. Hasil menunjukkan efisiensi enkapsulasi tertinggi dalam mempertahankan viabilitas diperoleh pada formulasi 10% inulin + 1% sodium alginat pada 120°C (12,38 ± 1,48%). Peningkatan temperatur inlet terbukti menurunkan viabilitas awal probiotik, namun menghasilkan stabilitas penyimpanan bubuk yang lebih baik. Karakteristik fisik seperti kadar air (3,22 – 6,38%) tergolong memenuhi persyaratan standar mutu, sementara higroskopisitas (10,44 – 12,68%) seluruh sampel tergolong moderat higroskopis, dimana keduanya dipengaruhi secara signifikan oleh temperatur inlet. Uji stabilitas penyimpanan menunjukkan bahwa sel terenkapsulasi jauh lebih stabil dibandingkan sel bebas yang punah total dalam 6 hari, di mana sel terenkapsulasi masih terdeteksi setelah 30 hari. Lebih lanjut, uji in vitro sekuensial mengonfirmasi bahwa matriks inulin-alginat mampu mempertahankan viabilitas sel dari 5,7 menjadi 4,8 log CFU/mL melalui fase Simulated Gastric Fluid dan Simulated Intestinal Fluid, sedangkan sel bebas mengalami kematian total.
PENGEMBANGAN BUKU PENGAYAAN MATEMATIKA SMA/MA DENGAN PENDEKATAN PEMIKIRAN TINGKAT TINGGI PADA MATERI ALJABAR DAN KALKULUS
Kemampuan berpikir tingkat tinggi perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematika, terutama agar peserta didik tidak hanya menggunakan rumus atau prosedur, tetapi juga mampu menganalisis informasi, mengevaluasi strategi, dan menyusun gagasan atau penyelesaian baru. Materi aljabar memiliki potensi untuk mendukung kemampuan tersebut karena menuntut peserta didik untuk bernalar, mengenali pola, menyatakan hubungan, dan mengonstruksi hubungan antarkonsep. Oleh karena itu, proyek ini bertujuan untuk mengembangkan buku pengayaan matematika SMA/MA dengan pendekatan pemikiran tingkat tinggi pada materi aljabar serta mendeskripsikan hasil evaluasi terhadap buku yang dikembangkan. Buku pengayaan ini dikembangkan sebagai bahan ajar pendamping dengan cakupan materi fungsi, barisan dan deret, matriks, eksponen dan logaritma, serta ketaksamaan. Pengembangan dilakukan menggunakan model ADDIE yang dimodifikasi, yaitu melalui tahap analisis, desain, pengembangan, dan evaluasi, tanpa tahap implementasi. Tahap analisis digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan pengembangan buku; tahap desain untuk menetapkan cakupan materi, struktur bab, alur penyajian, serta arah penyusunan contoh dan latihan; tahap pengembangan untuk menghasilkan produk awal buku pengayaan; dan tahap evaluasi untuk menilai produk melalui validasi ahli materi serta angket respons guru dan peserta didik sebagai calon pengguna. Setelah revisi berdasarkan masukan validator, angket respons guru yang melibatkan 12 orang guru matematika SMA/MA memperoleh rata-rata keseluruhan 3,38, sedangkan angket respons peserta didik yang melibatkan 31 orang peserta didik SMA/MA memperoleh rata-rata keseluruhan 3,57. Keduanya berada pada kategori sangat sesuai. Dengan demikian, buku pengayaan matematika SMA/MA dengan pendekatan pemikiran tingkat tinggi pada materi aljabar dinilai layak oleh validator dan memperoleh respons positif dari calon pengguna sebagai bahan ajar pendamping dalam kegiatan pengayaan matematika.
KONSTRUKSI TABEL MORBIDITAS INSIDENSI PENYAKIT KATASTROPIK: PENDEKATAN ESTIMASI AREA KECIL DI TINGKAT KABUPATEN/KOTA
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengelola program Jaminan Kesehatan Nasional yang memerlukan instrumen manajemen risiko akurat berupa tabel morbiditas. Tabel ini sangat krusial dalam memproyeksikan beban klaim penyakit katastropik dan menjaga solvabilitas dana jaminan sosial. Penelitian ini bertujuan mengonstruksi tabel morbiditas insidensi penyakit katastropik di tingkat kabupaten/kota menggunakan data historis BPJS Kesehatan periode 2018-2023. Fokus penelitian mencakup delapan penyakit katastropik utama dengan rentang usia 0 hingga 109 tahun bagi peserta laki-laki dan perempuan. Metodologi yang digunakan melibatkan perhitungan angka insidensi standar usia (ASIR) dan graduasi pola nasional dengan metode Gaussian Kernel Smoothing. Selanjutnya, metode Estimasi Area Kecil (SAE) model Fay-Herriot diterapkan untuk mengestimasi tingkat morbiditas di 514 kabupaten/kota dengan memanfaatkan variabel penyerta sosial-ekonomi, yaitu: Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per Kapita dan Harapan Lama Sekolah (HLS). Pengaruh faktor-faktor tersebut divalidasi melalui uji signifikansi dan deteksi multikolinearitas menggunakan Variance Inflation Factor (VIF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model SAE Fay-Herriot berhasil meningkatkan presisi estimasi secara signifikan, ditandai dengan nilai Mean Squared Error (MSE) EBLUP yang secara konsisten lebih rendah dibandingkan varians sampling estimasi langsung. Model ini mampu memberikan estimasi risiko yang logis bagi wilayah dengan klaim terobservasi nol melalui mekanisme borrowing strength. Penentuan tabel morbiditas lokal dilakukan menggunakan pendekatan Rasio Morbiditas Terstandarisasi (SMR) yang disesuaikan dengan penambahan batas atas kepercayaan sebagai margin keamanan. Hasil visualisasi spasial menunjukkan keragaman risiko yang tinggi dengan konsentrasi tingkat morbiditas yang lebih intens pada wilayah dengan kapasitas ekonomi dan edukasi yang lebih maju.
PENGEMBANGAN SISTEM PERSENYAWAAN MULTIKOMPONEN ANTIBIOTIK MOKSIFLOKSASIN DENGAN NSAID GOLONGAN ASAM FENEMAT (ASAM MEFENAMAT, ASAM NIFLUMAT, DAN ASAM FLUFENAMAT)
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengkarakterisasi garam moksifloksasin-asam fenamat: asam mefenamat, asam niflumat, dan asam flufenamat untuk mengetahui dampaknya terhadap kelarutan dan stabilitas yang belum pernah dilaporkan sebelumnya. Garam dibuat menggunakan metode slurry dan dilanjut dengan analisis keadaan padat menggunakan elektrotermal dan Powder X-ray Diffraction (PXRD) untuk mengonfirmasi terbentuknya sistem padatan baru, serta Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan ^1H-Nuclear Magnetic Resonance (^1H-NMR) untuk menentukan struktur interaksi antara moksifloksasin dengan asamasam tersebut. Uji kelarutan garam dilakukan menggunakan spektrofotometer UV derivatif dan uji stabilitas (75 ± 5,0% RH/25 ± 3°C) dievaluasi menggunakan FTIR dan PXRD. Hasil karakterisasi PXRD menunjukkan senyawa baru yang terbentuk merupakan garam amorf. Karakterisasi dengan FTIR dan ^1H-NMR mengonfirmasi adanya interaksi ionik pada garam moksifloksasin–asam niflumat (MN) 1:1 dan moksifloksasin–asam flufenamat (MF) 1:1, serta interaksi ionik yang disertai ikatan hidrogen pada garam moksifloksasin–asam mefenamat (MM) 2:1. Seluruh sistem garam menunjukkan stabilitas fisik yang baik selama penyimpanan empat minggu berdasarkan hasil analisis dengan PXRD dan FTIR. Pembentukan garam tersebut meningkatkan kelarutan ketiga asam fenamat secara signifikan dalam medium dapar KCl pH 2 dan hanya meningkatkan kelarutan asam mefenamat dalam medium dapar fosfat pH 6.8, tetapi menurunkan kelarutan moksifloksasin baik dalam medium dapar KCl pH 2, maupun medium dapar fosfat pH 6.8
PERENCANAAN SALURAN DRAINASE JALAN TOL JAKARTA - CIKAMPEK KE ARAH JAKARTA PADA KAWASAN CIKUNIR, KOTA BEKASI, JAWA BARAT
Ruas Jalan Tol Cikampek kilometer 9,8-12,3 ke arah Jakarta merupakan salah satu kawasan yang masih kurang memadai dalam sistem drainase pada sisi arah Jakarta, serta adanya beban drainase akibat pembangunan proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Dengan adanya permasalahan tersebut, perlu dilakukan perencanaan sistem drainase yang terintegrasi dan optimal dengan tujuan air dapat dialirkan ke tempat pembuangan yaitu sungai sebagai titik pembuangan sistem drainase jalan tol tersebut. Perencanaan drainase dilakukan dengan analisis hidrologi berdasarkan data satelit yang dikoreksi terhadap curah hujan dari stasiun terdekat dan pengolahan debit rencana menggunakan metode hidrograf satuan sintetis. Langkah perencanaan dimulai dengan simulasi hidraulika pada Kali Cakung dan dua saluran crossing yaitu Saluran Kalimalang, menggunakan software HEC-RAS yang menggunakan inputan debit rencana. Selanjutnya, dilakukan pemodelan drainase tepi jalan dengan EPA SWMM 5.2 untuk memvalidasi kapasitas saluran terhadap beban air dari jalan tol dan KCIC. Melengkapi sisi teknis, disusun pula Rencana Anggaran Biaya (RAB) serta skema O&P yang melibatkan koordinasi lintas instansi dan perawatan fisik berkala. Output yang ditargetkan adalah sistem drainase yang mumpuni dalam mengalirkan air ke sungai pembuang sekaligus melindungi aset infrastruktur dari kerusakan dini.
STUDI KELAYAKAN TEKNO EKONOMI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA UNTUK PENGEMBANGAN GREEN HYDROGEN SEBAGAI PENDINGIN GENERATOR PADA PLTGU GRESIK.
Produksi hidrogen pada PLTGU Gresik digunakan sebagai media pendingin generator, sebagian besar energi listrik yang digunakan untuk memproduksi hidrogen tersebut masih disuplai dari listrik jaringan. Kontribusi PLTS eksisting masih terbatas, sehingga hidrogen yang dihasilkan belum dapat dikategorikan sebagai green hydrogen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan tekno-ekonomi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi listrik untuk produksi green hydrogen pada PLTGU Gresik. Kajian dilakukan dengan mempertimbangkan performa teknis PLTS, kelayakan finansial, emisi gas rumah kaca, serta kestabilan sistem kelistrikan. Metode penelitian dilakukan melalui integrasi tiga perangkat lunak utama. PVsyst digunakan untuk memodelkan produksi energi PLTS berdasarkan data iklim, konfigurasi modul, inverter, orientasi panel, serta rugi-rugi sistem. HOMER Pro digunakan untuk mengevaluasi kelayakan ekonomi, biaya produksi hidrogen, kontribusi energi terbarukan, serta emisi pada setiap skenario. Selanjutnya, DIgSILENT digunakan untuk menganalisis kelayakan integrasi sistem terhadap jaringan kelistrikan melalui simulasi load flow, quasi-dynamic, serta respons dinamis terhadap kehilangan daya PLTS secara instan dan ramping. Skenario yang dianalisis meliputi S0 sebagai kondisi eksisting dengan 10% PV menggunakan 2-unit elektroliser alkalin, S1 dengan 50% PV menggunakan 2-unit elektroliser alkalin, S2 dengan 100% PV menggunakan 4-unit elektroliser alkalin serta S3 dengan 100% PV menggunakan 1-unit elektroliser PEM. Hasil simulasi PVsyst menunjukkan bahwa semua skenario memiliki kinerja teknis yang baik, dengan nilai performance ratio berada di atas 75%. Hasil kelayakan ekonomi pada HOMER Pro menunjukkan hasil yang baik serta kompetitif untuk skenario S2 dan S3. Skenario S3 memberikan performa terbaik dengan nilai LCOH Rp53.904-62.443/kgH2, present worth sebesar Rp1,86-2,96 miliar, ROI sebesar 27,02-50,13%, IRR sebesar 10,93-14,26%, serta discounted payback period sebesar 7,62-10,45 tahun. Hasil evaluasi tingkat emisi menunjukkan bahwa peningkatan kontribusi PLTS mampu menurunkan intensitas emisi secara signifikan, dengan nilai lifecycle GHG intensity sebesar 19,86 kgCO2/kgH2 menjadi 0,13 kgCO2/kgH2 pada skenario S2 dan S3, sehingga hidrogen yang dihasilkan dapat dikategorikan sebagai green hydrogen. Hasil simulasi DIgSILENT menunjukkan bahwa semua skenario masih berada dalam batas operasi kelistrikan yang aman. Deviasi tegangan maksimum berada sekitar -0,64% terhadap tegangan nominal 380 V, sedangkan respons frekuensi akibat kehilangan daya PLTS secara instan maupun ramping tetap berada dalam rentang operasi yang stabil. Berdasarkan hasil scoring, skenario S3 dipilih sebagai skenario terbaik karena memberikan kombinasi paling optimal antara performa teknis, kelayakan ekonomi, penurunan emisi, fleksibilitas operasi elektroliser, dan kestabilan sistem kelistrikan. Analisis sensitivitas pada skenario S3 menunjukkan bahwa kelayakan ekonomi paling dipengaruhi oleh harga jual hidrogen dan tingkat diskonto, sedangkan tarif listrik memberikan pengaruh yang relatif kecil karena suplai energi pada skenario S3 didominasi oleh PLTS. Hasil evaluasi menunjukkan pengembangan PLTS dengan elektroliser PEM layak dipertimbangkan sebagai strategi pengembangan green hydrogen untuk pendingin generator di PLTGU Gresik.
PREDIKSI TOKSISITAS SENYAWA POTENSI ANTI-AGING SECARA IN SILICO DAN PENGUJIAN TOKSISITAS AKUT PADA EMBRIO ZEBRAFISH (DANIO RERIO)
Penuaan kulit merupakan proses biologis yang dipengaruhi faktor intrinsik dan ekstrinsik, seperti paparan sinar ultraviolet yang menginduksi pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) dan mendegradasi kolagen. Untuk mengatasi gejala penuaan, telah dikembangkan berbagai senyawa aktif sebagai bahan utama produk kosmetika. Aspek keamanan sediaan topikal tersebut harus dievaluasi secara ketat demi menjamin keamanan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menguji profil toksisitas dan keamanan dari 12 senyawa potensial anti-aging, yaitu alfa arbutin, asam askorbat, bisabolol, asam ferulat, asam glikolat, asam laktat, asam maltobionat, niacinamide, pantenol, asam suksinat, feniletil resorsinol, dan asam traneksamat. Penelitian dilakukan melalui prediksi toksisitas secara in silico menggunakan program Toxtree dan pkCSM serta validasi biologis secara in vivo dengan metode Fish Embryo Acute Toxicity (FET) pada embrio zebrafish (Danio rerio) berdasarkan pedoman OECD Guideline Test No. 236. Metode FET dilakukan untuk menentukan LC50 dari senyawa uji dengan pemaparan zat uji pada embrio zabrafish selama 96 jam, mortalitas diamati dengan empat parameter, yaitu koagulasi embrio, kegagalan pembentukan somit, kegagalan pelepasan ekor dari kuning telur, dan tidak adanya detak jantung. Hasil prediksi in silico dengan Toxtree menunjukkan bahwa alfa arbutin, asam ferulat, asam glikolat, asam laktat, dan asam suksinat termasuk dalam Cramer Kelas I (toksisitas rendah), sedangkan tujuh senyawa lainnya termasuk dalam Cramer Kelas III (toksisitas tinggi) karena kompleksitas strukturnya. Toxtree mendeteksi adanya structural alerts sensitisasi kulit pada asam askorbat, asam ferulat, asam traneksamat, dan feniletil resorsinol, sementara pkCSM memprediksi potensi sensitisasi kulit spesifik pada bisabolol dan feniletil resorsinol. Pada pengujian toksisitas akut in vivo melalui limit test (100 bpj), sebanyak 11 dari 12 senyawa menunjukkan LC50 > 100 bpj sehingga dikategorikan sebagai senyawa yang praktis tidak toksik menurut standar OECD. Senyawa feniletil resorsinol menunjukkan profil toksisitas akut yang signifikan dengan mortalitas embrio mencapai 100% pada konsentrasi 100 bpj. Melalui uji definitif (full study test), diperoleh nilai LC50 untuk feniletil resorsinol sebesar 6,882 bpj sehingga termasuk ke dalam kategori senyawa toksik.
PENGEMBANGAN MODEL TAKAFUL HIBRID DENGAN AKUN TABARRU’, AKUN PERUSAHAAN, DAN TABUNGAN BERBASIS TEORI RUIN
Pertumbuhan industri asuransi syariah (Takaful) yang pesat mendorong penerapan model Takaful Hibrid 3-Akun, yang memisahkan kontribusi peserta ke dalam Dana Perusahaan, Dana Tabarru’, dan Dana Tabungan. Namun, pemisahan yang kaku ini menimbulkan fenomena fragmentasi dana yang menyebabkan peluang kebangkrutannya menjadi lebih tinggi dibandingkan asuransi konvensional. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model mitigasi risiko lintas-akun (cross-subsidization) yang patuh syariah untuk menurunkan peluang kebangkrutan tersebut. Mekanisme yang diusulkan bekerja dengan mengalokasikan sebagian porsi keuntungan investasi Dana Tabungan ke dalam Qard Hasan (dana pinjaman tanpa bunga) secara periodik melalui nisbah yang disepakati, sehingga tersedia cadangan likuiditas tambahan tanpa melanggar prinsip syariah. Simulasi Monte Carlo yang diuji menggunakan solusi analitik eksak model Cramer- Lundberg. Hasil simulasi menggunakan asumsi peneliti pada skenario deterministik (V1) menunjukkan peluang kebangkrutan model Takaful modifikasi lebih rendah dibandingkan model konvensional, yaitu 7,751% berbanding 8,463% (selisih penurunan risiko ? = 0,712%). Hasil ini tetap konsisten pada skenario stokastik (V2) dengan volatilitas pasar ? = 12%, dengan peluang 7,814% berbanding 8,469% (selisih ? = 0,655%). Analisis sensitivitas terhadap dua belas parameter internal dan eksternal menunjukkan perilaku model yang stabil, dengan porsi Dana Tabarru’ (?2) dan porsi Dana Tabungan (?2) sebagai parameter internal yang paling berpengaruh terhadap peluang kebangkrutan.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN, RANTING DAN BATANG TUMBUHAN KELOR (MORINGA OLEIFERA) DENGAN METODE DPPH DAN CUPRAC
An'oksidan merupakan senyawa yang dapat mencegah penyakit degenera'f dengan cara menetralisir atau mengkap radikal bebas. Tumbuhan kelor (Moringa oleifera) merupakan tumbuhan yang masif digunakan oleh masyarakat sebagai bahan masakan dapat menjadi sumber an'oksidan. Peneli'an ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagian tumbuhan kelor yang masih jarang digunakan yakni ran'ng dan batang. Dalam peneli'an ditentukan kadar fenol total, flavonoid total dan ak'vitas an'oksidan dari ekstrak bagian daun, ran'ng, dan batang kelor. Metode ekstraksi yang digunakan adalah refluks menggunakan pelarut dengan polaritas ber'ngkat yaitu n-heksana, e'l asetat dan etanol. Total fenol dan flavonoid dilakukan dengan spektrofotometri UV-sinar tampak. Uji ak'vitas an'oksidan dilakukan dengan metode DPPH dan CUPRAC. Korelasi total fenol, flavonoid terhadap ak'vitas an'oksidan serta korelasi dua metode uji dilakukan dengan Korelasi Pearson. Ak'vitas an'oksidan dengan metode DPPH bernilai antara 2,208 hingga 66,105 mg AEAC/g, sedangkan metode CUPRAC pada rentang 21,995 - 73,808 mg AEAC/g. Secara umum, korelasi antara senyawa golongan fenol dan flavonoid dengan ak'vitas an'oksidan yaitu kuat hingga sangat kuat, sedangkan korelasi antara kedua metode uji ak'vitas an'oksidan yaitu kuat hingga sangat kuat. Ekstrak etanol daun kelor mengandung kuerse'n dengan kadar 1,498 ± 0,378 mg/g. Bagian tumbuhan ran'ng dapat dilakukan ekplorasi karena memiliki ak'vitas yang baik dalam ak'vitas an'oksidan.