📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenDAMPAK SUHU DAN KELEMBAPAN RELATIF UDARA SERTA CURAH HUJAN PADA LUAS SERANGAN PENGGEREK BATANG PADI DI KABUPATEN LOMBOK BARAT, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
Penggerek batang padi (Scirpophaga incertulas) merupakan salah satu hama utama yang dapat menurunkan produktivitas padi dan dipengaruhi oleh kondisi iklim, terutama suhu udara, kelembapan relatif, dan curah hujan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh parameter iklim terhadap luas serangan penggerek batang padi di Kabupaten Lombok Barat, mengidentifikasi hubungan linear dan non-linear, pola temporal dan musiman, serta mengevaluasi kinerja model prediksi. Penelitian menggunakan data bulanan periode Januari 2023–Juli 2025 yang meliputi suhu udara, kelembapan relatif, curah hujan, dan luas serangan penggerek batang padi. Analisis dilakukan menggunakan regresi linear berganda (Ordinary Least Squares/OLS), Seasonal Autoregressive Integrated Moving Average (SARIMA), Seasonal Autoregressive Integrated Moving Average with Exogenous Variables (SARIMAX), dan Generalized Additive Model (GAM). Evaluasi model dilakukan melalui perbandingan hasil prediksi dengan data observasi menggunakan indikator Root Mean Square Error (RMSE), Mean Absolute Error (MAE), dan Mean Absolute Percentage Error (MAPE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan berpengaruh signifikan terhadap luas serangan penggerek batang padi dengan hubungan negatif, sedangkan suhu udara dan kelembapan relatif tidak berpengaruh signifikan pada regresi linear berganda. Analisis SARIMA menunjukkan adanya pola musiman tahunan, sementara GAM mengidentifikasi hubungan non-linear yang signifikan antara parameter iklim dan luas serangan. Berdasarkan evaluasi model, SARIMA memberikan performa prediksi terbaik dengan nilai RMSE 3,106 ha, MAE 3,870 ha, dan MAPE 56,850%, diikuti GAM (RMSE 3,626 ha; MAE 3,929 ha; MAPE 86,544%), sedangkan SARIMAX memiliki tingkat kesalahan tertinggi (RMSE 10,940 ha; MAE 14,673 ha; MAPE 278,188%). Dengan demikian, model SARIMA merupakan model yang paling sesuai untuk memprediksi luas serangan penggerek batang padi di Kabupaten Lombok Barat pada periode penelitian.
CIRCUIT BREAKER DENGAN ENFORCEMENT DI DATA PATH KERNEL PADA SERVICE MESH MENGGUNAKAN EBPF
Arsitektur microservice rentan terhadap partial failure dan amplifikasi antrean saat beban memuncak. Pada service mesh, pola circuit breaker (CB) lazim dipakai sebagai mekanisme fail-fast, namun sebagian besar pendekatan menempatkan deteksi dan enforcement CB di user space, sehingga keputusan CB baru berdampak setelah traffic menempuh seluruh lintasan pemrosesan proxy dan menambah latency serta overhead. Penelitian ini mengusulkan Kernel-Assisted Circuit Breaker (KA-CB), yaitu filter berbasis extended Berkeley Packet Filter (eBPF) yang memisahkan policy di user space dari enforcement yang dipindahkan ke tingkat kernel melalui hook XDP dan TC, sehingga memproses permintaan lebih dini dan bersifat melengkapi, bukan menggantikan, CB user space. Prototype dievaluasi pada service mesh berbasis Istio mengikuti Design Science Research Methodology (DSRM) melalui controlled experiment yang membandingkan Istio, Linkerd, dan Cilium sebagai baseline dengan Istio yang dipadukan KA-CB, pada skenario transient overload dan noisy neighbors dengan workload Online Boutique di Google Kubernetes Engine, masing-masing sepuluh run dan diuji secara non-parametrik disertai ukuran efek. Istio-kacb-hybrid mencatat latency terendah pada seluruh sel, dengan penurunan p95 sekitar 65-70% terhadap istio-baseline yang signifikan dan berukuran efek besar serta setidaknya setara dengan linkerd-baseline. Penggunaan CPU sidecar dan laju context switch turun sekitar 13-24% secara neto, dengan peningkatan memori kecil sekitar 4-5%. Keunggulan tersebut menyertai satu trade-off, yaitu success rate istio-kacb-hybrid merupakan yang terendah, sekitar 50-51% dibandingkan 65-82% pada ketiga baseline, sehingga perbaikan latency dibaca sebagai pertukaran antara latency dan ketersediaan layanan dan bukan perbaikan tanpa syarat. Kebaruan penelitian terletak pada relokasi enforcement CB ke data path kernel sementara policy tetap di user space, yang memperluas pola eBPF network function ke ranah operasi resiliensi.
PENGEMBANGAN WEARABLE BERBASIS FUSI SENSORINERSIA KARDIA UNTUK ANALISIS PERFORMA LARI
Pemantauan performa lari pada pelari rekreasional idealnya mengintegrasikan beban eksternal (external load), yang merepresentasikan usaha mekanik, dan beban internal (internal load), yang mencerminkan respons fisiologis, namun perangkat wearable komersial yang tersedia umumnya terfragmentasi dan bersifat tertutup (black box). Tugas Akhir ini merancang dan mengimplementasikan prototipe wearable berbasis dada (chest-mounted) terbuka yang memfusikan sensor inersia dan elektrokardiografi (EKG) untuk analisis performa dan kelelahan lari. Sistem dibangun pada mikrokontroler XIAO ESP32-C3 dengan sensor inersia LSM6DSO, barometer BMP388, dan modul EKG satu sadapan MAX30003, serta telemetri nirkabel berbasis MQTT menuju dashboard web. Parameter gait diekstraksi dari sinyal IMU, sedangkan running power diestimasi menggunakan model analitik berbasis fisika dengan kalibrasi empiris berbasis komponen aerodinamik, percepatan horizontal, elevasi, dan osilasi vertikal, kemudian difusikan dengan heart rate untuk menghitung efficiency index (EI) dan mengidentifikasi fenomena cardiac drift sebagai indikator relatif penurunan efisiensi fisiologis selama aktivitas lari berkepanjangan. Pengujian melibatkan enam subjek pada skenario indoor (treadmill 6, 8, dan 10 km/jam), outdoor, dan endurance, dengan acuan Stryd, Garmin Forerunner, dan sistem akuisisi BIOPAC. Heart rate dan cadence merupakan parameter paling andal dengan MAPE masing-masing sekitar 5% dan 6%, sedangkan estimasi kecepatan dan running power absolut masih bersifat moderat dengan MAPE masing-masing sekitar 15% dan 17%; validasi terhadap BIOPAC menunjukkan heart rate dan mean RR yang sangat mendekati acuan kelas laboratorium dengan MAPE sekitar 2%. Komponen daya elevasi (Pclimb) bekerja sesuai prinsip fisika, dan cardiac drift terdeteksi pada lima dari enam subjek serta selaras dengan persepsi kelelahan subjektif. Karena validasi terhadap BIOPAC dan Pclimb dilakukan pada satu subjek, kontribusi utama penelitian ini adalah demonstrasi feasibility kerangka sistem pemantauan performa lari yang terintegrasi dan bersifat white box, dengan akurasi parameter biomekanik absolut dan perluasan jumlah subjek validasi sebagai area pengembangan selanjutnya.
REKOMENDASI STRATEGIS UNTUK MEMPERBAIKI POSISI HONDA SCOOPY DI PASAR MELALUI PENINGKATAN RELEVANSI PRODUK DAN KESELARASAN KOMUNIKASI
Sepeda motor memiliki peran yang penting dalam sistem mobilitas masyarakat Indonesia, baik sebagai alat transportasi maupun sebagai bagian dari aktivitas sosial dan kehidupan ekonomi sehari-hari. Di industri sepeda motor, kategori sepeda motor matic atau AT menjadi kategori yang paling dominan di pasar domestik, dan kategori ini masih memiliki tingkat kompetisi tertinggi di Indonesia. Salah satu kelompok desain yang menunjukkan trend positif adalah fashionable AT scooter. Namun, Honda Scoopy sebagai produk utama di segmen ini, menghadapi penurunan performa penjualan, walaupun segmen ini terus menunjukkan tren yang positif. Kondisi ini menjadi permasalahan bisnis karena penurunan performa tidak terjadi di kategori yang sedang melemah, melainkan di segmen yang masih memiliki potensi untuk bertumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi dan preferensi konsumen dalam membeli fashionable AT scooter, menganalisa faktor internal dan eksternal yang berkontribusi terhadap penurunan penjualan, serta formulasi rekomendasi strategis untuk memperkuat posisi Scoopy di pasar. Penelitian ini berfokus pada pasar domestik Indonesia, dengan Honda Scoopy sebagai objek utama, dan Yamaha Fazzio sebagai kompetitor utama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena permasalahan yang dihadapi di penelitian ini terkait dengan persepsi konsumen, nilai simbolis, preferensi gaya hidup, relevansi produk, dan keselarasan komunikasi, yang membutuhkan eksplorasi mendalam melebihi data kuantitatif. Data primer didapatkan melalui wawancara dengan tim internal AHM, dan pengguna fashionable AT scooter, yang terdiri dari pengguna Scoopy dan Fazzio. Data sekunder diperoleh dari data internal AHM, laporan pasar, beberapa hasil survei, dan material komunikasi. Data dianalisa menggunakan analisis tematik dengan pendekatan metodologi Gioia untuk mempertahankan keterkaitan antara data mentah dari hasil wawancara, dengan first-order concepts, second-order themes, dan aggregate dimensions. Temuan penelitian kemudian dianalisa menggunakan beberapa alat analisis kondisi internal dan external, seperti PESTEL, Porter’s Five Forces, Product Life Cycle, Integrated Marketing Communication, Marketing Mix 7P, EFAS, IFAS, SFAS, dan TOWS matrix. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa preferensi konsumen di segment fashionable AT scooter, cukup kuat dipengaruhi oleh faktor identitas dan simbolis. Konsumen tidak hanya menilai sepeda motor mereka sebagai alat transportasi saja, tapi juga sebagai produk yang merepresentasikan gaya hidup, ekspresi diri, dan identitas visual. Warna dan ekspresi visual muncul sebagai factor yang penting dalam membentuk persepsi konsumen dan pertimbangan pembelian. Scoopy sendiri dipersepsikan dengan brand yang kuat dan terpercaya, namun mulai dipersepsikan sebagai motor yang aman, mainstream, dan kekurangan pembeda visual jika dibandingkan dengan Fazzio. Di sisi lain, Fazzio dipersepsikan sebagai motor yang ekspresif, muda dan memiliki pembeda visual yang kuat, terutama dari pilihan warna yang fresh dan sesuai dengan trend visual saat ini. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Scoopy menghadapi communication alignment gap. Media sosial, terutama Instagram dan TikTok, menjadi titik kontak yang penting dalam membentuk persepsi konsumen. Walau demikian, komunikasi Scoopy saat ini dipersepsikan kurang berkaitan dengan aktivitas harian, gaya hidup, dan ekspresi identitas dari target penggunanya. selain itu, eksekusi dealer dan titik kontak offline juga belum sepenuhnya sesuai dengan image fashionable yang ingin dikomunikasikan oleh perusahaan. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa penurunan performa Scoopy kurang terkait dengan pelemahan pasar, dan lebih terkait dengan kurang sesuainya perubahan ekspektasi konsumen dengan respon produk dan komunikasi Scoopy saat ini. Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini mengidentifikasi dua strategic gaps utama, yaitu product relevance gap dan communication alignment gap. Product relevance gap mencerminkan penurunan diferensiasi visual dan relevansi simbolis dari sudut pandang konsumen. Sedangkan communication alignment gap mencerminkan ketidakkonsistenan antara positioning yang diinginkan perusahaan dengan persepsi yang terbentuk di berbagai titik kontak. Sehingga, penelitian ini memformulasikan rekomendasi strategis yang berfokus pada peningkatan relevansi produk dan perbaikan keselarasan komunikasi. Rekomendasi-rekomendasi ini mencakup penguatan komunikasi media sosial dengan mengacu pada gaya hidup, peningkatan relevansi pesan, pengembangan warna baru pastel dan tone-down, pengembangan aksesoris retro, penyelarasan komunikasi antara dealer dengan frontliners, serta persiapan penyegaran produk yang bersifat jangka panjang dan berkelanjutan. Kontribusi dari penelitian ini terletak pada analisis strategis yang terintegrasi dengan produk mature yang menghadapi penurunan sales di segment yang sedang bertumbuh. Penelitian ini menggabungkan perilaku konsumen, relevansi produk, keselarasan komunikasi, dan alat manajemen stratejik untuk dapat menjelaskan bagaimana sebuah produk yang memiliki brand yang kuat bisa kehilangan relevansinya saat ekspektasi konsumen berubah. Selain itu, penelitian ini juga memberikan rekomendasi manajerial, roadmap implementasi, KPI dan pemetaan departemen yang bertanggung jawab untuk mendukung AHM dalam membuat keputusan terkait penguatan posisi Scoopy di segmen fashionable AT.
MEMANFAATKAN AI DAN DATA ANALITIK DI INDUSTRI KEAMANAN UNTUK MENGURANGI PEMICU BIAYA DAN MEAN TIME TO RESPOND (MTTR) DI PT ARA DELVIN
Studi ini meneliti kinerja operasional PT ARA DELVIN di pasar yang semakin menuntut layanan keamanan yang lebih cepat, transparan, dan berbasis teknologi. Penelitian berfokus pada dua isu bisnis yang saling terkait: pemicu biaya (cost drivers) utama perusahaan dan Mean Time to Respond (MTTR). Meskipun PT ARA DELVIN memiliki posisi pasar yang kuat, operasinya masih sangat bergantung pada tenaga kerja, dan berbagai sistem pemantauan – alarm, CCTV, kontrol akses, dan sensor IoT – bersifat terfragmentasi dan tidak saling terhubung. Akibatnya, biaya operasional tinggi dan respons terhadap insiden lambat. MTTR saat ini rata-rata 32 hingga 37 menit, sedangkan target internal adalah 17 menit. Pemicu biaya utama yang teridentifikasi meliputi ketergantungan pada tenaga kerja, sistem multi-vendor yang terfragmentasi, koordinasi manual antara SROC dan tim lapangan, serta minimnya penggunaan analitik prediktif. Penelitian ini mengkaji bagaimana AI, IoT, dan analitik data dapat mengatasi pemicu biaya tersebut dan mengurangi MTTR. Studi ini merupakan studi kasus kualitatif eksploratif, dilengkapi lapisan kuantitatif menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) untuk menilai kesiapan pengguna, karena setiap implementasi sistem di organisasi padat tenaga kerja akan gagal tanpa kesiapan internal. Kerangka DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) digunakan untuk mendiagnosis secara sistematis pemicu biaya dan gap MTTR. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan manajemen dan staf operasional, focus group discussion, observasi lapangan, dan kuesioner terstruktur. Secara paralel, catatan insiden, laporan alarm, catatan MTTR, dan catatan pemeliharaan ditinjau untuk mengidentifikasi inefisiensi biaya. Empat isu utama muncul dari analisis: ketergantungan tinggi pada tenaga kerja yang menjadi pemicu biaya terbesar; sistem multi-vendor yang terfragmentasi sehingga sulit diintegrasikan; koordinasi manual antara SROC dan tim lapangan yang memperpanjang MTTR; dan minimnya penggunaan analitik prediktif sehingga operasi tetap reaktif. Solusi yang diusulkan berpusat pada satu platform terintegrasi yang menghubungkan sistem alarm, CCTV, sensor IoT, dan kontrol akses dalam satu dasbor, dengan pengiriman otomatis, peringatan real-time, dan pelaporan terintegrasi. Analitik prediktif memungkinkan perusahaan bertindak sebelum insiden meningkat. Dampak yang diharapkan bersifat ganda: penurunan pemicu biaya operasional utama (ketergantungan tenaga kerja yang lebih rendah, biaya pemeliharaan sistem terfragmentasi yang berkurang, serta penurunan rework) dan perbaikan signifikan MTTR menuju target internal 17 menit.
KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MENGAMANKAN PASOKAN SAF BERBASIS UCO UNTUK KEPATUHAN MANDAT NASIONAL DI PT PERTAMINA PATRA NIAGA
Dalam studi ini, isu bisnis yang dipertimbangkan melibatkan masalah pengambilan keputusan strategis yang dihadapi PT Pertamina Patra Niaga (PPN) dalam memperoleh pasokan Minyak Jelantah (Used Cooking Oil/UCO) berkualitas yang memadai dan memenuhi persyaratan untuk produksi Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF). Pemerintah Indonesia memberlakukan aturan campuran SAF 1% pada tahun 2027 dan meningkatkannya menjadi 5% pada tahun 2029 sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 113.K/EK.05/MEM.E/2026. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) harus merumuskan strategi yang sesuai dengan aspek komersial dan hukum terkait rantai pasokan. Oleh karena itu, studi ini meneliti empat strategi alternatif: strategi 100% "Make" UCO, strategi 100% "Buy" UCO, strategi 100% "Make" SAF Domestik, dan strategi "Partially Buy” SAF. Penelitian ini menggunakan teknik multi-kriteria yang dikenal sebagai Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan mengumpulkan data utama melalui interview semi-tersetruktur dan kuesioner AHP di antara anggota Dewan Direksi Subholding Downstream PPN. Hasil analisis AHP mengungkapkan bahwa prioritas eksekutif menekankan pada Objektif Bisnis (59.1%) khususnya menyeimbangkan kelayakan Komersial dengan Objective Kepatuhan (40.9%). Sehingga, 100% "Make" SAF Domestik menjadi strategi yang dipilih dalam studi ini (36,2%), didukung dengan strategi 100% "Beli" UCO (31,3%) untuk pengadaan bahan baku. Untuk mencegah potensi inefisiensi rantai pasokan, seperti kekurangan bahan baku atau bahan baku yang tidak tersertifikasi, penelitian ini mengusulkan pendekatan dalam menyediakan bahan baku yang dapat dilacak secara digital: membeli pasokan UCO dalam jumlah besar dari pihak ketiga dengan berkolaborasi dengan jaringan masyarakat dan melibatkan Badan Gizi Nasional dalam kerangka program MBG. Pada akhirnya, studi ini menyediakan alat bantu pengambilan keputusan berbasis AHP yang komprehensif, menghasilkan rekomendasi berbasis fakta untuk menciptakan rantai pasokan UCO yang sesuai dan layak secara biaya dan kepatuhan guna mendukung mandat SAF nasional Indonesia.
MODEL DINAMIKA TUMOR-IMUN PADA KANKER PAYUDARA DENGAN INTERVENSI TERAPI
Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker dengan jumlah kasus yang tinggi, sehingga diperlukan pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan pengendaliannya. Tugas akhir ini membahas model dinamika tumor-imun pada kanker payudara dengan intervensi terapi. Model dasar yang digunakan menggambarkan interaksi antara sel tumor MCF-7, natural killer cell (NK cell), cytotoxic T lymphocyte (CTL), white blood cell (WBC), serta pengaruh estrogen terhadap pertumbuhan tumor. Kajian dilakukan melalui analisis titik kesetimbangan, kestabilan lokal, simulasi numerik, dan bifurkasi numerik terhadap parameter efektivitas CTL. Hasil analisis menunjukkan bahwa model dasar memiliki beberapa titik kesetimbangan yang dapat dikaitkan dengan kondisi bebas tumor, dormansi, dan escape. Bifurkasi numerik terhadap parameter p6 menunjukkan perubahan jumlah titik kesetimbangan dari tiga menjadi lima, kemudian kembali menjadi tiga, yang mengindikasikan adanya bifurkasi saddle-node. Selanjutnya, model dikembangkan dengan menambahkan kemoterapi dan imunoterapi berupa TIL dan IL-2 eksternal. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tanpa treatment, populasi tumor menuju kondisi escape, sedangkan seluruh skenario treatment yang dikaji mampu menekan tumor menuju kondisi dormansi atau terkendali. Skenario kombinasi simultan menghasilkan waktu masuk dormansi paling cepat, sedangkan skenario kombinasi sekuensial menghasilkan reduksi maksimum tumor terbesar. Hasil ini menunjukkan bahwa model matematika dapat digunakan untuk memahami secara kualitatif pengaruh terapi terhadap dinamika tumor-imun.
ANALISIS GEOMEKANIKA UNTUK PEREKAHAN HIDROLIK PADA FORMASI TELISA, LAPANGAN TULIP, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN
Lapangan Tulip merupakan salah satu lapangan produksi minyak dan gas yang dioperasikan oleh PT Medco E&P Indonesia, secara administratif terletak di Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatra Selatan. Lapangan ini berada pada Sub-Cekungan Palembang Selatan, Cekungan Sumatra Selatan, dengan interval reservoir utama pada Formasi Telisa dengan properti reservoir permeabilitas (rata-rata 5,5 mD pada batupasir dan 2,1 mD pada batulempung), porositas efektif berkisar 18,1%, dan heterogenitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan membangun model geomekanika satu dimensi (1D) dan tiga dimensi (3D) untuk menentukan rezim tegasan saat ini, menghitung tegasan rekah untuk keperluan perekahan hidrolik, serta menentukan distribusi rekahan pada interval Formasi Telisa. Pemodelan geomekanika dilakukan menggunakan pendekatan poroelastik (Blanton dan Olson, 1999) untuk estimasi tegasan horizontal, dengan kalibrasi menggunakan data FCP dan ISIP dari laporan perekahan hidrolik. Hasil model 1D menunjukkan rata-rata gradien tegasan: Sv = 0,967 psi/ft, Shmin = 0,728 psi/ft, SHMax = 0,786 psi/ft, dan tekanan pori = 0,44 psi/ft. Pola tegasan ini mengindikasikan rezim sesar normal (Sv > SHMax > Shmin). Interpretasi struktur pada penampang seismik mengidentifikasi negative flower structure dengan tren sesar dominan berarah NNW–SSE (315–345°), yang merupakan hasil strain partitioning dari sesar geser berarah NW–SE sebagai PDZ utama. Lapangan Tulip terletak pada zona transtensional (releasing bend) dari sistem strike-slip tersebut, dibatasi oleh Tinggian Palembang di sisi barat dan Jemakur Graben di bagian timur. Model geomekanika 3D statis dibangun menggunakan properti mekanika batuan yang tersebar secara lateral melalui tren atribut inversi seismik. Hasil distribusi model 3D menunjukkan adanya stress barrier pada lapisan batulempung Telisa, yang berperan sebagai penahan tinggi rekahan. Nilai tekanan rekah minimum pada interval target rata-rata sebesar 1.680 psi. Rekomendasi zona target perekahan hidrolik berada pada daerah N-NNE yang ditentukan berdasarkan penggabungan parameter Brittleness Index (BI) dan tegasan horizontal minimum, dengan kriteria BI > 0,4 dan Shmin < 1.680 psi.
PENCIPTAAN PRODUK MELALUI PERANCANGAN FORMULASI BERBASIS TEKNOLOGI LANJUTAN DAN STRATEGI INOVASI HIJAU UNTUK BASICNEST DALAM MEMASUKI PERSAINGAN INDUSTRI PERAWATAN KULIT
Pesatnya Pertumbuhan industry perawatan kulit dibarengi dengan meningkatannya kekhawatiran konsumen terkait kualitas produk, kredibilitas merek, dan kepercayaan terhadap merek. Secara khusus, konsumen semakin memperhatikan kualitas produk, citra merek, dan kepercayaan merek sebagai penentu utama niat beli. Berbagai masalah seperti klaim produk yang tidak jelas/berlebihan, persepsi kualitas yang tidak konsisten, dan terbatasnya transparansi merek terkait kandungan dan bahan, telah menimbulkan ketidakpastian dalam keputusan pembelian konsumen di pasar perawatan kulit. Penelitian ini membahas tantangan tantangan tersebut dalam konteks PT Cahaya Dhana Nusantara yang bekerja sama dengan PT Cosmax Indonesia, dengan tujuan mengembangkan produk perawatan kulit yang berbasis sains dan memiliki nilai etik. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif. Analisa kuantitatif dilakukan melalui kuesioner terstruktur dan analisis regresi linier berganda untuk menguji pengaruh kualitas produk, citra merek, dan kepercayaan merek terhadap niat beli. Data primer didukung oleh sumber sekunder seperti literatur akademis, teori pemasaran, dan praktik terbaik industry guna memastikan validitas serta relevansi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas produk, citra merek dan kepercayaan merek berperan signifikan dalam membentuk niat beli konsumen terhadap produk perawatan kulit. Formulasi produk yang transparan, posisi merek yang kuat, dan komunikasi merek yang dapat dipercaya merupakan faktor kunci yang dapat meningkatkan keyakinan serta kesediaan konsumen untuk membeli. Penelitian ini mengusulkan kerangka kerja pengembangan produk bagi Basicnest yang mengintegrasikan desain formulasi mutakhir, strategi merek, dan komunikasi pemasaran berbasis kepercayaan. Kerangka kerja tersebut memposisikan Basicnest sebagai merek perawatan kulit yang kompetitif dan bertanggung jawab, yang selaras dengan harapan konsumen modern serta standar industry.
ANALISIS PARAMETER PEMBORAN UNTUK OPTIMASI LAJU PENETRASI DAN SISTEM PERINGATAN DINI TERHADAP RISIKO PIPA TERJEPIT, KEHILANGAN SIRKULASI, DAN LUAPAN MENGGUNAKAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK
Accurate prediction of Rate of Penetration (ROP) and the identification of drilling efficiency remain critical challenges in optimizing drilling operations and reducing non-productive time. Traditional methods often struggle to capture the complex, time-dependent performance and bit-rock interactions inherent in diverse drilling zones. This study introduces an Artificial Neural Network (ANN) based approach to predict Rate of Penetration (ROP) and identify drilling efficiency zones. Utilizing forward and backward propagation with stochastic gradient descent, the model incorporates Mechanical Specific Energy (MSE) as a key input to capture the influence of critical variables such as Weight on Bit (WOB), RPM, and friction factors on bit-rock interaction. Following ROP prediction, drilling performance is evaluated across depth intervals to classify efficient and inefficient zones, enabling targeted parameter optimization to reduce non-productive time and costs. Model reliability was ensured through Holdout Method. In parallel, a drilling risk assessment module was developed to monitor loss, overflow, and stuck pipe conditions using trip tank sensors and torque/drag indicators. All predictive results were integrated into a web-based monitoring platform capable of real-time ROP prediction, drilling risk visualization, and Early Warning System classification. The model training achieved a Mean Squared Error of 0.6783 and an R² of 0.9989, with validation on an offset well yielding an R² of 0.8627. In addition, the Early Warning System demonstrated reliable classification performance, with F1-scores ranging from 0.67 to 0.89 for stuck, loss, and overflow risk prediction. System integration enabled real-time responses with a lag time of less than 30 minutes, significantly reducing rig time.
PENGUJIAN SENYAWA CARBON-DOTS (CDS) SEBAGAI KANDIDAT SENYAWA ANTIVIRUS TERHADAP SARS-COV-2 DENGAN METODE CHEMICAL CROSS-LINKING
Data survei global pada bulan maret 2026 melaporkan sebanyak 3.3% dari 64397 sampel di 80 negara masih terkonfirmasi positif SARS-CoV-2. Prevalensi ini dilaporkan rendah dan stabil oleh WHO, namun masih diperlukan penanganan yang intensif. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan pengembangan obat antivirus yang menargetkan langsung pada virus SARS-CoV-2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa, protein C-Terminal Domain Nukleokapsid (N-CTD) SARS-CoV-2 dapat digunakan sebagai target pengobatan antivirus karena peranannya dalam replikasi, transkripsi dan perakitan dalam siklus hidup virus. Protein N-CTD SARS-CoV-2 juga dapat membentuk dimer dengan sifat conserved. Berdasarkan data tersebut, maka dilakukan pencarian kandidat obat antivirus yang dapat menghambat dimerisasi protein N-CTD SARS-CoV-2. Salah satu metode awal drug discovery yang mudah dilakukan yaitu chemical cross-linking. Metode ini berbasis interaction-based drug screening yang berfokus pada interaksi protein dan senyawa uji sehingga dapat digunakan untuk menyeleksi senyawa antivirus. Senyawa Carbon-Dots (CDs) diketahui memiliki potensi sebagai antivirus karena memiliki sifat biokompatibilitas, stabilitas, kelarutannya dalam air, bioavailable yang baik serta toksisitas yang rendah. Namun, penelitian mengenai potensi CDs tersebut sebagai antivirus SARS-CoV-2 masih belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menyeleksi dan mengetahui potensi senyawa CDs sebagai kandidat senyawa antivirus yang mampu menghambat dimerisasi protein N-CTD SARS-CoV-2 menggunakan metode chemical cross-linking. Dalam penelitian ini digunakan pyrrolic CDs, pyridinic CDs, graphitic CDs, dan nuciferine CDs sebagai senyawa uji. Sintesis senyawa CDs dilakukan dengan menggunakan metode bottom up hydrothermal. Protein rekombinan N-CTD SARS-CoV-2 diekspresikan pada isolat bakteri Escherichia coli BL21 (DE3). Isolat tersebut telah ditransformasi dengan plasmid pET23a(+) yang mengandung gen pengkode N-CTD SARS-CoV-2. Konfirmasi gen pengkode N-CTD SARS CoV-2 dilakukan dengan metode PCR koloni. Protein rekombinan N-CTD SARS-CoV-2 diproduksi dengan menambahkan inducer IPTG pada medium kultur. Selanjutnya, dilakukan purifikasi dan presipitasi protein rekombinan dengan menggunakan HisPurTM Ni-NTA Spin Columns dan aseton. Protein N-CTD hasil dipresipitasi kemudian digunakan sebagai target pengujian senyawa CDs menggunakan metode chemical cross-linking. Hasil chemical cross linking dikonfirmasi dengan SDS-PAGE dan dianalisis kuantitatif intensitas pita SDS-PAGE menggunakan software ImageJ. Data intensitas pita dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro Wilk test, one-way ANOVA dan uji lanjutan post-hoc dengan Tukey’s test. Hasil penelitian menunjukkan keberadaan gen N-CTD (~370 bp) pada bakteri E. coli BL21 (DE3) transforman N_CTD_SARS-CoV-2. Hasil ekspresi fraksi sitoplasmik, purifikasi dan presipitasi menunjukkan adanya protein N-CTD pada ukuran ~14.5 kDa. Hasil Tukey’s test (p < 0.05) menunjukkan adanya penurunan intensitas yang signifikan pada pita protein dimer dan peningkatan efisiensi inhibisi dimerisasi antara kontrol (0 ppm) dengan pemberian pyrrolic CDs (2000 ppm), pyridinic CDs (4000 dan 6000 ppm), dan graphitic CDs (4000 dan 6000 ppm). Namun, nuciferine CDs memperlihatkan potensi indikasi penurunan rasio dimer terhadap protein total pada konsentrasi 4000 dan 6000 ppm, meskipun nilai efisiensinya berfluktuasi stagnan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini senyawa pyrrolic CDs, pyridinic CDs, graphitic CDs, dan nuciferine CDs berpotensi menghambat dimerisasi N-CTD SARS-CoV-2 dengan metode chemical cross-linking. Di antara keempat senyawa yang diuji, pyrrolic CDs menunjukkan potensi inhibisi terbaik karena mampu menghambat dimerisasi pada konsentrasi terendah (2000 ppm). Namun, diperlukan penelitian lanjutan seperti uji in vitro dan in vivo untuk mengevaluasi potensi senyawa CDs meliputi uji sitotoksisitas, uji aktivitas antivirus, serta pengujian pada hewan model.
ARCHITECTURE AS AN IMMUNE SYSTEM: PERANCANGAN HEALING ENVIRONMENT BAGI PENDERITA PENYAKIT AUTOIMUN
Penyakit autoimun merupakan kelompok penyakit kronis yang terjadi ketika sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri. Diperkirakan terdapat 80 hingga 150 jenis penyakit autoimun, termasuk systemic lupus erythematosus (SLE), juvenile idiopathic arthritis, dan rheumatoid arthritis, yang seba gian besar bersifat melemahkan, harus dikelola seumur hidup, dan belum memiliki terapi kuratif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan peningkatan prevalensi penyakit autoimun sebesar 40% yang menyerang kelompok usia produktif maupun lanjut usia. Fenomena ini menciptakan tantangan medis dan sosial dikarenakan pasien sering menghadapi beban psikologis, skeptisisme publik, dan keterbatasan dukungan non-medis. Sebagai rumah sakit rujukan utama di Jawa Barat, Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menyediakan layanan subspesialis dengan kuota terbatas, termasuk untuk kasus autoimun. Keterbatasan ini membuat banyak pasien dari luar pusat kota harus datang jauh lebih awal untuk mendapatkan nomor antrean. Di sisi lain, tidak terdapat akomodasi khusus yang dapat meringankan pasien. Situasi ini menegaskan bahwa pemulihan tidak hanya bergantung pada intervensi medis, tetapi juga pada lingkungan pendukung yang terintegrasi. Untuk itu, arsitektur diposisikan sebagai immune system eksternal, sebuah pendekatan holistik yang memandang ruang tidak hanya sebagai wadah fisik, melainkan sebagai mekanisme yang melindungi tubuh, mendukung proses pemulihan, serta memperkuat inklusivitas sosial. Sejalan dengan pendekatan tersebut, riset dalam bidang architectural neuroimmunology menunjukkan bahwa desain biophilic, seperti penggunaan cahaya alami, material, vegetasi, dan kualitas akustik dapat menurunkan aktivitas neuroinflammation atau indikator stres fisik pasien. Hal ini mendasari perumusan proyek sebagai sebuah healing environment yang menghubungkan pasien, masyarakat, dan lingkungan melalui integrasi fungsi rumah singgah dan fasilitas pemulihan privat sebagai recovery spaces; serta ruang eksibisi interaktif dan plaza makanan sehat (healthy food hub) sebagai sarana edukasi publik, promosi gaya hidup sehat, dan interaksi sosial. Berlokasi strategis di lingkungan RSHS Bandung, rancangan ini menjadi perpanjangan tangan layanan medis sekaligus wadah edukasi dan advokasi publik mengenai penyakit autoimun. Metode perancangan dimulai dengan studi literatur tentang arsitektur kesehatan dan healing environment, observasi lapangan untuk memahami kebutuhan aktual pasien, serta analisis preseden global untuk mengidentifikasi aspek arsitektur terbaik yang mendukung. Proyek ini menghasilkan rancangan arsitektur yang berperan sebagai mekanisme perlindungan sekaligus penguatan resiliensi. Lebih dari sekadar fasilitas, rancangan ini menjadi medium edukasi dan advokasi sosial yang membangun lingkungan inklusif bagi penderita autoimun, sejalan dengan tujuan SDGs 3 (Good Health and Well-Being), 10 (Reduced Inequalities), dan 11 (Sustainable Cities and Communities).
FACTORS INFLUENCING PEOPLE-RELATED PATIENT SATISFACTION AMONG NURSES AND ADMINISTRATIVE STAFF IN A PREMIUM PRIVATE HOSPITAL GROUP: A MIXED-METHODS RESEARCH
Penelitian ini dilakukan untuk membahas faktor-faktor yang berpengaruh pada pelayanan yang berpusat pada pasien, khususnya pada perawat dan staf administrasi di jaringan rumah sakit premium PPHG. Latar belakang penelitian ini adalah masih banyaknya pasien Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri, terutama ke Malaysia, Singapura, dan Thailand. Bagi PPHG, kondisi ini menjadi tantangan bisnis, tetapi juga membuka peluang strategis. Dengan strategi PPHG NextGen, RS PPHG ingin memperkuat jaringan rumah sakit premiumnya agar dapat menjadi pilihan utama di dalam negeri bagi pasien yang mengharapkan layanan dengan standar internasional. Namun, PPHG masih menghadapi tantangan untuk mencapai tujuan ini. Berdasarkan feedback dari pasien, salah satu sumber keluhan utama masih berkaitan dengan aspek People. Artinya, kualitas layanan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan klinis atau fasilitas yang baik, tetapi juga oleh bagaimana staf berinteraksi dengan pasien. Hal ini mencakup kejelasan informasi, empati, daya tanggap, dan cara berkomunikasi selama pasien menjalani perawatan. Penelitian ini menggunakan metode post positivist design mixed methods. Pada fase kuantitatif, penelitian ini menguji tujuh faktor yang diduga berpengaruh pada Skor Kepuasan Pasien. Faktor-faktor tersebut disusun berdasarkan kerangka Job Demands and Resources serta literatur tentang kualitas pelayanan. Tujuh faktor yang diuji adalah Kompetensi Individu, Motivasi Individu, Kelelahan, Kecerdasan Emosional, Kepemimpinan dan Dukungan Supervisor, Budaya Tempat Kerja, serta Kebijakan Rumah Sakit. Data survei dikumpulkan dari perawat dan staf administrasi di empat belas rumah sakit premium PPHG. Analisis yang dilakukan mencakup uji validitas dan reliabilitas, analisis deskriptif, perbandingan kelompok, serta simple linear regression. Analisis ini digunakan untuk melihat hubungan antara masing-masing faktor dengan Skor Kepuasan Pasien. Setelah itu, penelitian dilanjutkan dengan fase kualitatif melalui Focus Group Discussion atau FGD. FGD dilakukan bersama delapan peserta yang dipilih menggunakan metode maximum variation sampling. Diskusi ini berfokus untuk menggali lebih dalam faktor-faktor yang terbukti memiliki hubungan signifikan dengan kepuasan pasien. Hasil FGD kemudian dianalisis menggunakan Gioia thematic analysis untuk menemukan pola dan wawasan yang dapat melengkapi hasil statistik. Hasil fase kuantitatif menunjukkan bahwa ada lima faktor yang memiliki hubungan positif dan signifikan dengan Skor Kepuasan Pasien. Budaya Tempat Kerja menjadi predictor yang paling kuat, kemudian diikuti oleh Kecerdasan Emosional, Kebijakan Rumah Sakit, Kepemimpinan dan Dukungan Supervisor, serta Motivasi Individu. Budaya Tempat Kerja juga menunjukkan variasi terbesar terhadap kepuasan pasien di antara unit rumah sakit yang diamati. Temuan ini menunjukkan bahwa kolaborasi, keamanan psikologis, pembelajaran layanan, dan norma layanan bersama memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman pasien. Sementara itu, Kompetensi Individu dan Kelelahan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan Skor Kepuasan Pasien pada model yang diuji. Namun, kedua faktor ini tetap penting untuk diperhatikan dalam konteks operasional dan manajemen sumber daya manusia. Hasil fase kualitatif membantu menjelaskan temuan kuantitatif secara lebih dalam. Dari fase ini, terlihat bahwa perilaku pelayanan yang berpusat pada pasien terbentuk melalui dua hal yang saling berkaitan. Pertama, staf perlu memiliki kesiapan personal sebelum melayani pasien. Kesiapan ini mencakup kesadaran atas identitas profesional sebagai staf rumah sakit, baik sebagai perawat maupun staf administrasi, kemampuan mengatur diri, serta pola pikir untuk benar-benar peduli kepada pasien. Kedua, staf juga membutuhkan sistem pendukung dari organisasi. Sistem ini mencakup tata kelola yang jelas, peningkatan keterampilan secara berkelanjutan, serta budaya kerja yang kolaboratif. Melalui analisis Gioia, penelitian ini juga menemukan beberapa hal praktis yang dapat diterapkan di PPHG, seperti dukungan dari rekan kerja, pengarahan saat pergantian shift, kerja sama antar departemen, kepemimpinan yang mudah diakses, budaya tidak saling menyalahkan, Prosedur Operasi Standar yang jelas, dan rutinitas komunikasi layanan. Berdasarkan temuan tersebut, penulis merekomendasikan agar PPHG memperkuat budaya kerja kolaboratif sebagai dasar utama dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Selain itu, PPHG juga perlu lebih fokus membangun kecerdasan emosional staf, terutama mereka yang berhadapan langsung dengan pasien. Rekomendasi lain mencakup penguatan peran supervisor, penyederhanaan dan standardisasi kebijakan pelayanan pasien, serta pemberian dukungan yang lebih tepat sasaran kepada kelompok staf yang lebih rentan.
BASIS DATA SPASIAL SKALA BESAR (2D DAN 3D)
Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai perguruan tinggi multikampus yang mengelola aset dan infrastruktur pada Kampus Ganesha, Jatinangor, dan Cirebon menghadapi kendala berupa data spasial yang terfragmentasi, belum lengkap, belum terstandar, dan sulit diakses, serta belum tersedianya dokumen baku yang mengatur penyusunan dan pengelolaan basis data spasial kampus. Tugas akhir ini bertujuan menyusun dokumen Spesifikasi Produk Data (SPD) yang mengacu pada SNI ISO 19131:2014 serta membangun kerangka basis data spasial dengan integrasi BIM untuk mendukung pengelolaan aset dan infrastruktur kampus. Pengembangan yang dilakukan menghasilkan dua produk utama, yaitu dokumen SPD Basis Data Spasial Kampus ITB (SADIKIN) dan repositori data berbasis SharePoint Teams (SHAREit), satu produk pendukung berupa olahan data spasial dari akuisisi UAV-LiDAR Tahun 2025, serta satu produk pengembangan berupa prototipe Basis Data Spasial Kampus ITB dengan Integrasi Building Information Modeling (BIM) berbasis openMAINT. SADIKIN setebal 75 halaman mendefinisikan 28 unsur spasial dalam 7 kategori, elemen kualitas data berdasarkan ISO 19157:2013, serta metadata yang mengacu pada SNI ISO 19115:2012. Olahan data spasial menghasilkan ortofoto, point cloud terklasifikasi, DTM, garis kontur, data 2D hasil digitasi, serta model 3D LoD1 dan LoD2 dalam format CityGML, dengan ortofoto beresolusi 3,25 cm/piksel serta ketelitian horisontal 90% (ACCr) 0,031 m dan vertikal (ACCz) 0,081 m yang memenuhi standar peta skala 1:1.000. SHAREit menghimpun data ke dalam sembilan kelompok folder utama yang terstruktur. Prototipe berbasis openMAINT (PostgreSQL/PostGIS) membuktikan secara konsep bahwa data spasial 2D dan informasi aset bangunan dapat dikelola secara berjenjang dari tingkat kampus hingga lantai menggunakan sampel data Kampus Jatinangor pada lingkungan localhost. Hasil tugas akhir ini menempatkan SADIKIN dan SHAREit sebagai fondasi standardisasi dan dokumentasi data spasial kampus, sedangkan prototipe openMAINT berperan sebagai bukti konsep bagi pengembangan basis data spasial kampus yang lebih menyeluruh dan operasional pada masa mendatang.
DARI DAUN KE EKSTRAK: ANALISIS COST-BENEFIT DAN INPUT-OUTPUT ATAS HILIRISASI KRATOM DI INDONESIA
Indonesia memproduksi sebagian besar kratom (Mitragyna speciosa) dunia, tetapi hanya menangkap sebagian kecil nilai yang dihasilkan di sepanjang rantai nilai kratom global, karena mengekspor daun mentah sementara pengolahan bernilai tinggi terjadi di luar negeri. Pemberlakuan Permendag 20/2024 yang melarang ekspor daun kratom mentah dan olahan kasar, serta Permendag 21/2024 yang mengatur ekspor kratom olahan melalui instrumen eksportir terdaftar, persetujuan ekspor, dan laporan surveyor, telah menciptakan sekaligus kewajiban dan peluang bagi perusahaan domestik untuk bergerak ke hilir menuju ekstraksi berkemurnian tinggi. Penelitian ini mengkaji apakah hilirisasi tersebut layak dilakukan, dengan mengambil kasus PT MIT, produsen ekstrak mitragynine 50% (Mit50) berskala pilot, sebagai unit analisisnya. Permasalahan utama yang dikaji adalah apakah transisi dari perdagangan daun mentah menuju ekstraksi domestik menciptakan nilai baik bagi perusahaan yang berinvestasi maupun bagi perekonomian nasional, serta implikasi strategis dan kebijakan apa yang menyertainya. Penelitian ini mengintegrasikan dua metode yang saling melengkapi. Analisis Biaya-Manfaat pada tingkat perusahaan mengevaluasi kelayakan finansial dari peningkatan kapasitas produksi Mit50 menjadi 100 kilogram per bulan, dan Analisis Input-Output mengukur dampak makroekonomi dari investasi tersebut terhadap perekonomian Indonesia. Model finansial disusun berdasarkan data operasional pilot yang telah tervalidasi, mencakup struktur biaya produksi aktual, catatan belanja modal, dan harga transaksi komersial, bukan berdasarkan asumsi sintetis. Tiga skenario yang dibedakan menurut tingkat utilisasi kapasitas steady state sebesar 75%, 85%, dan 93% dievaluasi pada tingkat diskonto 15% yang diperoleh melalui pendekatan build-up biaya modal. Analisis makroekonomi memetakan ekstraksi kratom ke dalam sektor produk farmasi pada Tabel Input Output Indonesia tahun 2020 dan menghitung pengganda Tipe I untuk output, pendapatan, dan nilai tambah, beserta indeks keterkaitan ke belakang dan ke depan. Hasil finansial menunjukkan bahwa investasi ini layak pada ketiga skenario. Pada skenario dasar, proyek menghasilkan nilai sekarang bersih sekitar Rp 11,80 miliar, tingkat pengembalian internal sebesar 37,59% terhadap tingkat acuan 15%, indeks profitabilitas sebesar 2,31, dan periode pengembalian terdiskonto selama 4,88 tahun. Analisis sensitivitas sembilan parameter mengidentifikasi harga jual sebagai pemicu nilai paling material, diikuti oleh biaya variabel dan volume produksi; meski demikian proyek tetap layak hingga tingkat utilisasi kapasitas 44,74% dan harga jual USD 1.410 per kilogram, yang menunjukkan margin keamanan yang lebar. Hasil makroekonomi menunjukkan bahwa sektor farmasi tempat ekstraksi kratom dipetakan berfungsi sebagai sektor penarik permintaan yang kuat, dengan pengganda output sebesar 1,7433 dan indeks keterkaitan ke belakang sebesar 1,0731. Pada skenario dasar steady-state, investasi ini menghasilkan dampak output perekonomian secara keseluruhan sekitar Rp 48,37 miliar, mendukung sekitar sembilan puluh tiga lapangan kerja, dan menyumbang devisa sekitar USD 1,53 juta per tahun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hilirisasi kratom menjadi ekstrak berkemurnian tinggi bersifat menguntungkan secara privat sekaligus bermanfaat secara ekonomi, sehingga menyelaraskan insentif tingkat perusahaan dengan agenda hilirisasi nasional. Kontribusi utamanya terletak pada upaya menunjukkan, melalui kerangka analitis terintegrasi yang berbasis bukti empiris, bagaimana pergeseran regulasi menuju persyaratan ekspor olahan dapat diterjemahkan menjadi pengembalian privat dan sosial yang terukur. Temuan ini memberikan panduan praktis bagi perusahaan yang berinvestasi, basis bukti bagi pembuat kebijakan dalam menyusun agenda hilirisasi, serta metodologi yang dapat