📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPENGEMBANGAN AI BERBASIS ADVERSARIAL COLLABORATION UNTUK DECISION SUPPORT PERSIDANGAN HUKUM
Peradilan pidana membutuhkan proses pengambilan keputusan yang konsisten, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Namun, meningkatnya kompleksitas perkara dan beban penanganan kasus menyebabkan inkonsistensi putusan. Di sisi lain, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) sebagai decision support system pada domain hukum menghadapi berbagai tantangan, meliputi keterbatasan legal knowledge, rendahnya kemampuan penalaran hukum, serta kecenderungan menghasilkan hallucination. Oleh karena itu, Tugas Akhir ini bertujuan mengevaluasi pendekatan Multi-Agent Adversarial Collaboration dalam menghasilkan argumentasi hukum yang komprehensif dan halusinasi yang rendah, membandingkan kinerjanya dengan sistem benchmark, serta mengidentifikasi komponen yang paling berkontribusi terhadap analisis putusan hukum. Tugas Akhir ini menggunakan metodologi CRISP-DM yang meliputi tahapan business understanding untuk mengidentifikasi kebutuhan sistem analisis hukum, data understanding untuk memahami data, serta data preparation untuk menyusun legal knowledge base. Pada tahap modelling, data diproses melalui chunking, embedding, dan indexing untuk membangun legal knowledge base. Selanjutnya, dibangun sistem Decision Support Persidangan Hukum berbasis Multi-Agent Adversarial Collaboration yang didukung retrieval, memory, validation layer, dan judge layer Pada tahap evaluasi, sistem memperoleh nilai Context Precision sebesar 0,9280, Context Recall sebesar 0,8453, MRR sebesar 0,7663, dan Precision@2 sebesar 0,7011. Evaluasi kualitas argumentasi menghasilkan nilai Faithfulness sebesar 0,7276 pada KUHP dan 0,7011 pada yurisprudensi.Validasi ahli hukum menunjukkan argumentasi yang dihasilkan memiliki skor rata-rata 3.26.. Selain itu, sistem Multi-Agent menunjukkan kinerja lebih baik dibandingkan sistem benchmark dengan Macro F1-Score sebesar 0,72 pada penentuan pasal KUHP dan nilai error prediksi lama hukuman sebesar 0,2908. Hasil ablation study mengidentifikasi memory sebagai komponen yang paling berkontribusi. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, sistem terbukti menghasilkan analisis hukum yang komprehensif, mengurangi hallucination, dan meningkatkan kualitas prediksi putusan.
PENGARUH VARIASI KECEPATAN PENGADUKAN PADA SINTESIS HIJAU NANOPARTIKEL KITOSAN DARI EKSUVIA LARVA LALAT TENTARA HITAM (HERMETIA ILLUCENS) MENGGUNAKAN EKSTRAK TANAMAN MATA LELE (LEMNA MINOR)
Biokonversi limbah organik menggunakan lalat tentara hitam (Hermetia illucens) menghasilkan produk samping berupa eksuvia larva yang kaya akan kitin, sebuah prekursor biopolimer kitosan. Modifikasi kitosan menjadi nanopartikel dapat meningkatkan reaktivitas dan bioaktivitas material secara signifikan untuk berbagai aplikasi. Namun, metode sintesis konvensional umumnya mengandalkan agen kimia yang berpotensi toksik dan tidak berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis nanopartikel kitosan dari eksuvia larva H. illucens melalui pendekatan sintesis hijau (green synthesis) menggunakan ekstrak tanaman mata lele (Lemna minor) sebagai agen sintesis, serta mengevaluasi pengaruh kecepatan pengadukan terhadap karakteristik akhir nanopartikel dengan variasi kecepatan pengadukan 55, 110, dan 220 rpm. Tahapan penelitian meliputi ekstraksi kitosan, preparasi dan purifikasi ekstrak L. minor, sintesis nanopartikel kitosan, serta karakterisasi nanopartikel. Hasil pengujian pada ekstrak mata lele menunjukkan kadar total fenolik sebesar 3,32 ± 0,12 mg GAE/L dan flavonoid 3,80 ± 0,18 mg QE/L, yang dapat berperan sebagai agen pentaut dan penstabil dalam pembentukan nanopartikel. Proses deasetilasi dari kitin eksuvia lalat tentara hitam menghasilkan perolehan kitosan sebesar 13,95 ± 2,13% dengan derajat deasetilasi 87% dan kelarutan 2 mg/mL dalam asam asetat 1%. Pada karakterisasi nanopartikel, didapatkan bahwa peningkatan kecepatan pengadukan berbanding lurus dengan reduksi ukuran partikel, namun berbanding terbalik dengan nilai potensial zeta dan perolehan pembentukan nanopartikel yang mengindikasikan bahwa gaya geser mekanis dari pengadukan dapat mencegah aglomerasi partikel. Kondisi sintesis optimum dicapai pada kecepatan pengadukan 220 rpm, yang menghasilkan nanopartikel dengan ukuran rata-rata terkecil (174,00 ± 24,51 nm) dan stabilitas suspensi yang baik (-32,53 ± 1,98 mV). Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode sintesis hijau menggunakan ekstrak L. minor bisa menjadi alternatif berkelanjutan untuk proses sintesis nanopartikel kitosan dari eksuvia lalat tentara hitam.
PENYEIMBANGAN PERLINDUNGAN PASAR DAN EFISIENSI OPERASIONAL: PENYESUAIAN STRATEGIS INDUSTRI BAJA NASIONAL INDONESIA
Sektor baja Indonesia saat ini berpusat pada dua ekosistem utama yang saling bersaing, yaitu PT Krakatau Steel (KRAS) dan grup, produsen baja milik negara di Jawa, dan pabrik-pabrik baja terintegrasi yang didirikan melalui penanaman modal asing di Kawasan Industri Indonesia Morowali (IMIP). Konfigurasi ini memunculkan tantangan dalam analisis menggunakan kerangka persaingan konvensional, dikarenakan ancaman terbesar bagi produsen nasional kini datang dari dalam negeri dan bukan dari impor, sehingga tidak dapat terjangkau oleh tarif dan tindakan pengamanan perdagangan. Dengan melakukan analisis terhadap utilisasi pabrik Hot Strip Mill 1 (HSM-1) milik KRAS selama periode 2015–2024, tesis ini menguji proposisi utama, yaitu ketidakmampuan KRAS untuk menutupi biaya operasional bersifat struktural dan peningkatan efisiensi internal saja tidak cukup untuk mengembalikan daya saing. Hal ini didorong oleh komposisi biaya dan utilisasi pabrik yang rendah, dan dapat diperparah dengan masuknya Morowali baru-baru ini, Studi ini mensintesis dua kerangka teori untuk melakukan evaluasi masalah dan memberikan solusi. Studi ini menggunakan pendekatan paradigma Structure Conduct-Performance (SCP) dalam proses evaluasi masalah dan mengacu pada Developmental State Model dalam pembuatan rekomendasi solusi. Proses penyusunan rekomendasi mengadopsi mekanisme kendali timbal balik Amsden sebagai prinsip operasinya, di mana negara hanya memberikan dukungan berdasarkan tolok ukur kinerja yang terukur. Studi ini memiliki tiga tujuan yaitu mengukur hal-hal yang mendorong penurunan utilisasi HSM-1, mengukur kelemahan biaya terstruktur yang dimiliki KRAS, dan merancang intervensi pada tingkat ekosistem industri yang dapat mengembalikan kemampuan keberlangsungan usaha sekaligus menjaga disiplin dalam berkompetisi. Selanjutnya, metode penelitian campuran sekuensial eksplanatori digunakan dalam studi ini untuk melakukan analisis dua tahap. Tahapan kuantitatif dilakukan untuk membangun dasar empiris dengan menggunakan empat instrumen, berlandaskan pada analisis Cost-Volume-Profit (CVP) dan model selisih biaya bayangan. Model CVP mengklasifikasikan setiap unit biaya spesifik di seluruh interval operasi KRAS untuk memperoleh titik impas volume produksi, margin pengaman, dan efek pengaruh operasi dari data-data laporan keuangan yang sudah diaudit. Model selisih biaya bayangan membandingkan KRAS dengan Morowali sebagai acuan biaya terendah, analisis regresi kemudian mengukur pola kesesuaian, dan analisis skenario mengolah diagnosis menjadi pilihan kebijakan. Tahap kualitatif berupa wawancara ahli kemudian memvalidasi dan menyempurnakan temuan ini. Analisis CVP menunjukkan bahwa HSM-1 hanya mencapai titik impas dalam empat dari sepuluh tahun. Dengan biaya tetap rata-rata USD 350–560 juta per tahun dan besaran margin yang terkendala oleh slab impor, fasilitas tersebut membutuhkan volume 0.3–49.8 persen di atas nilai-nilai yang telah dicapai untuk mencapai titik impas di tahun-tahun lainnya. Tesis ini menunjukkan bahwa hal ini menunjukkan ciri-ciri Perangkap Profitabilitas-Utilisasi. Model selisih biaya bayangan menunjukan KRAS berada USD 125–200 per ton di atas basis biaya Morowali. Analisis skenario menunjukkan bahwa intervensi modal negara bertahap melalui Danantara, dimulai dengan pengaktifan kembali tanur tiup dan fasilitas pengolahan baja senilai sekitar USD 90 juta, menurunkan ambang batas titik impas dari sekitar 1.518 menjadi 1.248 ribu ton. Pengurangan 270 kt ini terbagi antara pemulihan harga yang didorong oleh tarif (119 kt) dan biaya variabel yang lebih rendah dari slab dalam negeri (151 kt). Hasil ini mendukung strategi Ekspansi dan Bertahanmelalui integrasi pembuatan baja hulu, penegakan konten lokal sebesar 40 persen, penutupan celah reklasifikasi tarif pada baja paduan impor, dan pencapaian pendanaan dengan pengkondisian kinerja. Tesis ini menerapkan paradigma SCP untuk menganalisis kegagalan pasar ekosistem ganda di mana ancaman utama bersifat domestik daripada lintas batas. Tesis ini juga mengusulkan konsep Perangkap Profitabilitas-Utilisasi sebagai konstruksi yang berlandaskan CVP serta mengintegrasikan mekanisme kendali timbal balik Amsden dengan SCP untuk menentukan kapan intervensi negara untuk membangun daya saing yang tepat dan bukan ketergantungan, dengan model yang dapat diterapkan untuk industri padat modal di pasar negara berkembang.
PENGARUH VARIASI RASIO KITOSAN DAN EKSTRAK TANAMAN PADA SINTESIS HIJAU PARTIKEL KITOSAN DARI SELONGSONG LARVA LALAT TENTARA HITAM (HEMERTIA ILLUCENS) MENGGUNAKAN EKSTRAK TANAMAN MATA LELE (LEMNA MINOR)
Larva lalat tentara hitam (LTH, Hermetia illucens) dan tanaman mata lele (Lemna minor) berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku sintesis hijau partikel kitosan yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi produktivitas L. minor, karakteristik kitosan dari eksuvia larva LTH, serta perolehan, morfologi, ukuran, kestabilan, dan aktivitas antimikroba partikel kitosan yang disintesis dengan variasi rasio volumetrik kitosan:ekstrak L. minor (1:1, 1:2, 2:1). Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan relatif L. minor sebesar 0,14 ± 0,016 frond.hari?¹ dengan waktu pelipatgandaan 5,47 ± 0,61 hari, serta kandungan fenolik dan flavonoid total ekstrak berturut-turut 3,32 ± 0,12 mg GAE/L dan 3,80 ± 0,18 mg QE/L. Kitosan yang diekstraksi dari eksuvia LTH memiliki perolehan 13,95 ± 2,13% dengan derajat deasetilasi 87,3%. Sintesis partikel kitosan menghasilkan perolehan 10,88–29,13% tanpa perbedaan signifikan antarrasio (p > 0,05), morfologi sferis pada seluruh perlakuan dengan indikasi aglomerasi pada rasio kitosan rendah, serta ukuran partikel (179,83–287 nm) dan potensial zeta (+32,17 hingga +39,9 mV) yang dipengaruhi signifikan oleh rasio kitosan:ekstrak (p < 0,05). Analisis FTIR mengonfirmasi keberhasilan inkorporasi senyawa fitokimia ke dalam struktur partikel kitosan melalui interaksi nonkovalen. Aktivitas antimikroba terhadap E. coli dan S. aureus tergolong sangat rendah pada seluruh perlakuan, diduga akibat konsentrasi partikel yang rendah (<2 mg/mL). Penelitian ini menunjukkan bahwa rasio kitosan:ekstrak tanaman berpengaruh terhadap karakteristik fisik partikel kitosan, meskipun optimasi lebih lanjut diperlukan untuk meningkatkan bioaktivitasnya.
KEWAJIBAN IMBALAN PASCAKERJA PSAK 219 MENGGUNAKAN PROJECTED UNIT CREDIT MULTIPLE DECREMENT DENGAN MODIFIKASI TINGKAT DISKONTO
Pengukuran kewajiban imbalan pascakerja sesuai PSAK 219 dipengaruhi oleh asumsi aktuaria dan tingkat diskonto yang digunakan. Umumnya menggunakan pendekatan Single Decrement (SD) dan satu tingkat diskonto untuk seluruh peserta, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan berbagai kemungkinan penyebab keluar peserta sebelum usia pensiun normal maupun perbedaan karakteristik sisa masa kerja peserta. Maka, penelitian ini bertujuan untuk menyusun tabel Multiple Decrement (MD) dari tabel SD, menentukan tingkat diskonto berdasarkan segmentasi Masa Kerja Yang Akan Datang (MKYAD) menggunakan kurva imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia yang diterbitkan oleh IBPA, serta menganalisis pengaruhnya terhadap nilai Current Service Cost (CSC) dan Present Value of Defined Benefit Obligation (PVDBO) menggunakan metode Projected Unit Credit (PUC). Tabel MD disusun menggunakan asumsi Uniform Distribution of Decrements (UDD) dengan mempertimbangkan empat penyebab decrement, yaitu meninggal dunia, cacat, mengundurkan diri, dan pensiun normal. Tingkat diskonto ditentukan berdasarkan nilai Average Remaining Working Lifetime (ARWL) pada setiap kelompok MKYAD dan mengacu pada kurva imbal hasil IBPA, dengan interpolasi linear untuk tenor yang tidak tersedia. Asumsi yang digunakan meliputi mortalitas TMI IV 2019, tingkat cacat sebesar 1% dari mortalitas, tingkat pengunduran diri berdasarkan kelompok usia, usia pensiun normal 57 tahun, dan tingkat kenaikan gaji sebesar 5% per tahun. Hasil penelitian sesuai tanggal valuasi 2 Oktober 2025 menunjukkan bahwa kelompok MKYAD jangka pendek, menengah, dan panjang memiliki ARWL masing-masing sebesar 5,81 tahun, 14,71 tahun, dan 27,35 tahun dengan tingkat diskonto 5,7343%, 6,7312%, dan 6,8733%. Penggunaan model MD menghasilkan nilai kewajiban yang lebih rendah dibandingkan model SD. Model MD menghasilkan total CSC sebesar Rp 3.811.103.682 dan PVDBO sebesar Rp 44.187.464.043, atau lebih rendah masing-masing sebesar 25,90% dan 37,98% dibandingkan model SD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model MD dan tingkat diskonto berbasis segmentasi MKYAD menghasilkan pengukuran kewajiban imbalan pascakerja yang lebih mencerminkan karakteristik peserta.
PENGEMBANGAN SERIES2VEC UNTUK KLASIFIKASI DATA DERET WAKTU (STUDI KASUS: DETEKSI KETERLAMBATAN PEMBAYARAN PLN)
Klasifikasi deret waktu pada data operasional berskala besar menghadapi tantangan berupa pola temporal yang tidak konsisten antar instance, distribusi kelas yang sangat timpang, dominasi nilai nol (sparsity tinggi) yang dapat mendistorsi sinyal pembelajaran, serta adanya noise pada data. Pendekatan berbasis representasi selfsupervised seperti Series2Vec telah menunjukkan performa unggul pada dataset benchmark, namun penerapannya pada data operasional dengan karakteristik tersebut belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan menghasilkan model klasifikasi data deret waktu berbasis representasi Series2Vec dengan modifikasi fungsi kemiripan dan arsitektur. Evaluasi sistematis dilakukan dalam ruang desain 6×4 yang mencakup enam fungsi kemiripan temporal (SoftDTW, WDTW, ADTW, EDR, MSM, TWED) dan empat fungsi kemiripan frekuensi (Euclidean, Manhattan, Cosine, FC_H), pada dua konfigurasi window historis yaitu 12 bulan dan 24 bulan. Selain itu, dilakukan tiga eksperimen modifikasi arsitektur, yaitu penghapusan spatial encoder, penggantian DisjointCNN dengan encoder 4 block, dan frozen fine-tuning. Dataset terdiri dari 22.676 pelanggan PLN pascabayar dengan rasio ketidakseimbangan kelas 86,7%:13,3% dan tingkat sparsity sekitar 86,5%. Setiap konfigurasi dievaluasi melalui dua protokol yang saling melengkapi, yaitu linear probing untuk mengukur kualitas intrinsik representasi dan fine-tuning untuk mengukur potensi adaptasi supervised, dengan metrik utama Macro F1-score. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa pemilihan fungsi kemiripan berpengaruh terhadap kualitas representasi yang dihasilkan Series2Vec. Pada protokol linear probing, konfigurasi terbaik adalah MSM+Cosine dengan Val Macro F1 sebesar 0,8947 pada window 12 bulan dan EDR+FC_H sebesar 0,8921 pada window 24 bulan, melampaui konfigurasi default SoftDTW+Euclidean masing-masing sebesar 0,0106 dan 0,0043. Setelah fine-tuning, WDTW+Cosine mencapai Val Macro F1 tertinggi sebesar 0,9084 pada window 12 bulan dan ADTW+FC_H sebesar 0,9084 pada window 24 bulan, melampaui seluruh baseline termasuk LSTM (0,9017 dan 0,9002) dan TS2Vec (0,9021 dan 0,8937). Pada eksperimen modifikasi arsitektur, penggantian DisjointCNN dengan encoder 4 block menghasilkan performa yang sebanding dengan selisih kurang dari 0,004 pada kedua window, sementara frozen fine-tuning menunjukkan penurunan performa yang konsisten. Kontribusi keilmuan penelitian ini adalah evaluasi sistematis ruang desain 6×4 fungsi kemiripan serta eksperimen modifikasi arsitektur encoder Series2Vec pada data operasional dengan karakteristik sparsity tinggi, noise, ketidaksejajaran temporal, dan ketidakseimbangan kelas yang ekstrem. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan fungsi kemiripan alternatif dapat meningkatkan performa klasifikasi pada data deret waktu operasional. Pada eksperimen modifikasi arsitektur, penggantian DisjointCNN dengan arsitektur encoder 4 block menghasilkan performa yang sebanding, sementara frozen fine-tuning yang membekukan bobot DisjointCNN dan hanya melatih classification head menunjukkan penurunan performa yang konsisten pada kedua window, mengindikasikan bahwa pelatihan ulang DisjointCNN secara end-to-end selama fase fine-tuning berperan penting dalam meningkatkan performa klasifikasi.
DEVELOPMENT OF A LEAN ENTERPRISE INTERVENTION DECISION FRAMEWORK (LEIDF) FOR STATE INTERVENTION IN DISTRESSED STATE-OWNED ENTERPRISES: AN EX-POST CASE ILLUSTRATION OF PT KRAKATAU STEEL (PERSERO) TBK
Keputusan intervensi negara pada BUMN yang mengalami kondisi distress memerlukan proses pengambilan keputusan yang terstruktur dan terstandar. BUMN memiliki mandat ganda yaitu menjaga keberlanjutan finansial sekaligus mengemban amanat negara/kepentingan publik. Oleh karena itu, penilaian kredit biasa tidak memadai untuk menilai proposal intervensi BUMN. Meskipun analisa mendalam atas proposal intervensi telah ada, belum adanya framework standar berpotensi mengakibatkan inkonsistensi dalam proses assessment. Akibatnya, Keputusan berisiko lebih didorong oleh kondisi genting, financial pressure atau pertimbangan strategis yang kurang dilengkapi langkah pengaman yang memadai. Tesis ini menggunakan pendekatan kualitatif dan design oriented untuk mengembangkan Lean Enterprise Intervention Decision Framework (LEIDF) dan menerapkannya pada kasus PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sebagai ilustrasi kasus ex-post. LEIDF dikembangkan melalui studi literatur, sintesa konsep dan konsultasi dengan DAM Danantara. Landasan teori meliputi bounded rationality, stage-gate decision logic, Financial versus economic viability, execution feasibility, moral hazard, risiko fiskal, SOE governance dan juga kepentingan umum/negara. Konsultasi dengan Danantara digunakan untuk memahami praktek assessment intervensi, ketersediaan data, tata kelola dan pelaksanaan LEIDF secara praktis. Tesis ini mengusulkan LEIDF sebagai framework pengambilan Keputusan berbasis stage-gate, berurutan, berbasis pertanyaan, dan berdasarkan pada bukti. LEIDF terdiri dari 4 gate yaitu Post-Intervention Economic Viability, Execution Feasibility, Intervention Risk Control dan Public Value/State Interest Justification. Ilustrasi penerapan pada kasus PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. menunjukkan bahwa LEIDF dapat mengorganisasi assessment atas proposal intervensi secara terstruktur dan operasional, dengan hasil rekomendasi keputusan adalah Conditional Recovery (Penyehatan)
PERANCANGAN PROSES APLIKASI DAN KARAKTERISASI SIFAT DIELEKTRIK SERTA HIDROFOBISITAS PERMUKAAN INSULATOR DI BAWAH KONDISI POLUSI AKTUAL MENGGUNAKAN LAPISAN PELINDUNG RTV KARET SILIKON DENGAN PENGISI NANOPARTIKEL
Isolator pada jaringan transmisi dan distribusi tenaga listrik rentan mengalami penurunan performa akibat akumulasi polutan yang dapat memicu flashover dan kegagalan isolasi. Perancangan ini bertujuan mengevaluasi pengaruh metode pelapisan coating terhadap karakteristik elektrik dan fisik isolator guna menentukan metode yang paling optimal. Tiga metode yang dibandingkan, yaitu spray, dip, dan tuang, menggunakan komposisi coating yang sama dan diuji pada kondisi bersih dan berpolutan. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran resistansi isolator, sudut kontak, kapasitansi, dan tan delta. Pada parameter resistansi isolator, metode spray meningkatkan nilainya sebesar 638.75 G? pada kondisi bersih dan 669.64 G? pada kondisi berpolutan dibandingkan isolator uncoated, dengan perubahan kondisi bersih dan berpolutan sebesar 4,03%. Dari sisi hidrofobisitas, metode spray menjadi satu-satunya yang mencapai hydrophobicity class 1 (HC 1) pada kondisi bersih (receding angle 65,2°) dan mempertahankan kelas HC 2 pada kondisi berpolutan (receding angle 57,4°). Selain itu, metode spray meningkatkan tan delta sebesar 26,57% pada kondisi bersih, serta 59% pada kondisi berpolutan dibandingkan isolator uncoated. Dengan demikian, metode spray direkomendasikan sebagai solusi pelapisan isolator yang paling optimal.
THE ENVIRONMENTAL IMPACTS OF PILE DRIVING FOR OFFSHORE WIND TURBINES ON MARINE MAMMALS IN INDONESIAN WATERS
This study presents a national-scale assessment of construction-phase underwater noise impacts from offshore wind turbine (OWT) monopile installation on marine mammals in Indonesian waters. Although offshore wind development is a key component of Indonesia’s energy transition, quantitative integration of acoustic environmental impacts remains limited in existing planning frameworks. This research addresses this gap by combining engineering-based acoustic modeling with spatial ecological analysis across techno?economically feasible offshore wind farm (OWF) candidate sites. Monopile geometric parameters—including diameter, pile length, penetration depth, and wall thickness—were derived using multiple linear regression based on a reference dataset of existing offshore wind projects. The resulting model identifies turbine capacity as the dominant design variable, producing representative monopile diameters of approximately 4.11–6.64?m for the 2.5?MW turbine class, with site-specific adjustments captured through secondary parameters. Underwater noise source levels were estimated using two complementary approaches: the Energy Conversion Factor (ECF) framework of Wood et?al. (2023) and the empirical scaling law of von?Pein et?al. (2022). The Wood model produces uniform and conservative Energy Source Levels (?209–211?dB re 1?µPa²·s), while the von?Pein model exhibits greater sensitivity to site-specific parameters, generating more variable Sound Exposure Levels. Transmission loss modeling indicates that Permanent Threshold Shift (PTS) impact ranges remain relatively limited, extending up to 430–614?m (Wood model) and 85–191?m (von?Pein model) depending on hearing group and hammer scenario. In contrast, Temporary Threshold Shift (TTS) zones extend significantly further, reaching 8–19?km (Wood model) and 2.6–6.0?km (von?Pein model). These results highlight the strong dependence of predicted impact extent on model selection. Spatial overlay analysis in QGIS reveals substantial overlap between acoustic impact zones and marine mammal habitats, particularly for Balaenopteridae, Delphinidae, and Physeteridae. The integrated risk classification framework—combining acoustic exposure, ecological vulnerability, and wave-based installation windows—identifies a clear west-to-east gradient, with low-risk zones concentrated in the Java Sea and higher-risk regions in the Banda Sea, Maluku, and offshore Papua. Seasonal analysis shows increased risk levels during August–October. The findings demonstrate that offshore wind development in Indonesia must incorporate both spatial and temporal considerations to minimize ecological impacts. The study provides a first-order, evidence-based framework for acoustic risk assessment and supports targeted mitigation measures including optimized installation timing, noise reduction technologies, and spatial planning strategies.
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI KITOSAN TERHADAP KARAKTERISTIK BIOPLASTIK BERBASIS PATI UBI JALAR (IPOMOEA BATATAS) DENGAN PLASTICIZER GLISEROL
Plastik konvensional masih banyak digunakan karena sifatnya yang fleksibel, ringan, dan kuat, namun memiliki kelemahan utama berupa sifat non-degradable yang menyebabkan akumulasi limbah dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan bioplastik berbasis bahan alami yang ramah lingkungan dan mudah terurai. Pati ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan salah satu sumber biopolimer potensial karena ketersediaannya yang melimpah, bersifat biodegradable, dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kitosan sebagai filler serta menentukan konsentrasi kitosan yang optimal dalam formulasi bioplastik berbasis pati ubi jalar untuk menghasilkan karakteristik bioplastik terbaik sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor, yaitu variasi konsentrasi kitosan sebesar 0,5%; 1%; 1,5%; dan 2%, masing-masing dengan lima ulangan. Konsentrasi pati dan gliserol sebagai plasticizer ditetapkan tetap masing-masing sebesar 9% dan 3,5%. Parameter yang diamati meliputi kuat tarik, elongasi, densitas, indeks swelling, permeabilitas uap air (WVP), dan biodegradabilitas. Data dianalisis menggunakan ANOVA satu arah, dan apabila terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji Duncan (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. analisis data dilakukan menggunakan software IBM SPSS Statistics versi 27, sedangkan untuk keperluan rekapitulasi data awal dan visualisasi grafik digunakan Microsoft Excel 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi kitosan berpengaruh signifikan terhadap sebagian besar karakteristik bioplastik. Peningkatan konsentrasi kitosan meningkatkan kuat tarik dan densitas, menurunkan nilai swelling dan WVP, serta memperlambat laju biodegradasi, namun cenderung menurunkan nilai elongasi. Konsentrasi kitosan 1,5% dan 2% memenuhi persyaratan SNI 7188.7:2016 untuk nilai swelling, sedangkan seluruh perlakuan memenuhi persyaratan SNI 7818:2014 untuk parameter kuat tarik dan waktu degradasi, namun belum memenuhi persyaratan untuk parameter elongasi. Temuan ini menunjukkan bahwa, konsentrasi kitosan 2% menunjukkan karakteristik terbaik secara keseluruhan sebagai formulasi bioplastik pati ubi jalar.
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI GLISEROL TERHADAP KARAKTERISTIK BIOPLASTIK BERBAHAN DASAR PATI UBI JALAR DENGAN FILLER KITOSAN
Pengaruh Konsentrasi Gliserol terhadap Karakteristik Bioplastik Berbahan Dasar Pati Ubi Jalar dengan Filler Kitosan. Dibimbing oleh Angga Dwiartama dan Heri Rahman. Penggunaan plastik konvensional sebagai kemasan menimbulkan masalah limbah lingkungan jangka panjang. Bioplastik berbasis pati ubi jalar (Ipomoea batatas L.) menjadi alternatif potensial, namun memiliki kelemahan pada sifat mekanis dan ketahanan terhadap air. Penambahan gliserol sebagai plasticizer dapat memperbaiki karakteristik bioplastik dengan meningkatkan fleksibilitas dan memodifikasi sifat fisik serta mekaniknya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi konsentrasi gliserol terhadap karakteristik bioplastik serta menentukan konsentrasi gliserol yang paling optimal untuk menghasilkan bioplastik dengan sifat terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan variasi konsentrasi gliserol (1,5%, 2,5%, 3,5%, dan 4,5%) dan penambahan filler kitosan 2% untuk menguji karakteristik bioplastik yang meliputi kekuatan tarik, densitas, elongasi, Water Vapour Permeability (WVP), swelling index, dan laju biodegradasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan Analisis Ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan Uji Lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil penelitian, variasi konsentrasi gliserol maemberikan pengaruh nyata terhadap karakteristik fisik dan mekanik bioplastik yang dihasilkan. Peningkatan konsentrasi gliserol dari 1,5% hingga 4,5% menyebabkan penurunan densitas dan kekuatan tarik, serta peningkatan nilai Water Vapour Permeability (WVP), swelling index, dan elongasi. Sementara itu, parameter biodegradabilitas tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan dan menunjukkan bahwa seluruh formulasi memiliki kemampuan terurai yang baik. Secara keseluruhan, formulasi optimal terdapat pada konsentrasi gliserol 2,5% (G2).
BEAMFORMING PADA RADAR NON-ROTATING 360° BERBASIS HEXAGONAL ARRAY UNTUK APLIKASI AIR SURVEILLANCE
Radar air surveillance konvensional memindai wilayah azimut melalui putaran mekanis, yang membatasi laju pembaruan data dan menuntut perawatan berkala. Radar non-rotating mengatasi keterbatasan ini melalui pemindaian elektronik, namun realisasinya sebagai phased array aktif menuntut penggeser fasa dan penguat pada setiap elemen, sehingga kompleksitas, konsumsi daya, dan biayanya menjadi sangat tinggi. Butler matrix menawarkan alternatif pasif, tetapi menghadirkan dua persoalan: Butler matrix berorde genap tidak menghasilkan berkas pada arah broadside, dan jaringan ini tidak menyediakan informasi sudut kedatangan sinyal secara presisi. Penelitian ini mengusulkan integrasi rat-race coupler pasif pada pasangan port masukan Butler matrix 8×8 yang bersebelahan, untuk secara simultan mengisi celah berkas broadside dan membangkitkan kanal jumlah (?) serta kanal selisih (?) bagi estimasi sudut monopulse — seluruhnya tanpa komponen aktif maupun pemrosesan digital. Sistem dirancang pada substrat FR4 di frekuensi 3 GHz sebagai satu sektor dari susunan heksagonal 48 elemen, disimulasikan dengan CST Microwave Studio, difabrikasi, dan divalidasi melalui pengukuran Vector Network Analyzer serta pengukuran pola radiasi outdoor. Hasil pengukuran menunjukkan return loss seluruh port berada di bawah ?10 dB, deviasi fasa progresif Butler matrix tidak melebihi 2,7°, dan rat-race coupler menghasilkan beda fasa 0,43° pada kanal ? dan 180,16° pada kanal ?. Sistem terintegrasi membentuk berkas ? tepat pada arah broadside, membuktikan tercapainya beam gap filling. Kurva diskriminan ?/? pada lima pasangan port .menghasilkan estimasi sudut dengan galat rerata 0,44°, mencakup seluruh sektor ±30°.
PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE ANALISIS PENETAPAN KADAR PHENYLETHYL RESORCINOL DALAM SEDIAAN NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
Phenylethyl resorcinol (PR) merupakan senyawa anti-hiperpigmentasi yang tidak stabil terhadap cahaya dan memiliki kelarutan rendah, sehingga diformulasikan dalam sistem nanostructured lipid carrier (NLC). Penelitian ini bertujuan membuat sediaan PR-NLC serta melakukan validasi metode spektrofotometri UV-Vis untuk penetapan kadar total dan efisiensi penjerapan PR. NLC dibuat dengan metode emulsifikasi-ultrasonikasi, menghasilkan sediaan sferis berukuran sebesar 192,9 ± 21,27 nm, indeks polidispersitas (PDI) 0,321 ± 0,053, zeta potensial -2,58 ± 1,68 mV, dan stabil selama penyimpanan 7 hari (p > 0,05). Preparasi sampel dilakukan melalui pengenceran dengan metanol (0,05 : 9,95), dilanjutkan dengan vorteks 1 menit 1.500 rpm, dan sonikasi 10 menit frekuensi 40%. Absorbansi diukur dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 281 nm. Hasil validasi metode menunjukkan spesifisitas yang baik, linearitas terpenuhi pada rentang 15-50 µg/mL (y = 0,0157524x – 0,0004524; r2 = 0,9988). Nilai LOD dan LOQ berturut-turut sebesar 1,51 dan 4,56 µg/mL. Uji presisi memenuhi syarat SBR ? 2,0% (HORRAT 0,073 – 0,154) dan akurasi sampel memberikan perolehan kembali 100,2 – 101,0%. Metode menunjukkan ketangguhan pada variasi panjang gelombang ± 1 nm dan waktu tunggu pengukuran < 30 menit. Penetapan kadar PR total memberi hasil sebesar 0,487 – 0,508% dan persentase entrapment efficiency sebesar 98,87 – 99,32%. Formulasi PR-NLC yang dihasilkan memiliki karakteristik yang baik dan metode spektrofotometri UV-Vis yang dikembangkan telah memenuhi parameter validasi sehingga layak digunakan untuk penetapan kadar total dan efisiensi penjerapan phenylethyl resorcinol dalam sediaan NLC.
PERANCANGAN SISTEM MANAJEMEN ENERGI BERBASIS ALGORITMA GENETIKA UNTUK APLIKASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS) ATAP RUMAHAN
Tingkat adopsi PLTS atap skala rumah tangga sangat dipengaruhi oleh besaran penghematan biaya listrik yang dapat diperoleh, yang mana hal tersebut berkorelasi dengan regulasi yang berlaku. Penghapusan skema net metering melalui Peraturan Menteri ESDM No. 2 Tahun 2024 meniadakan kompensasi finansial atas suplus energi PLTS yang diekspor ke jaringan PLN, sehingga penghematan biaya listrik menjadi tidak optimal tanpa strategi pengelolaan energi yang tepat. Perubahan regulasi ini menggeser orientasi sistem dari ekspor surplus energi ke maksimalisasi konsumsi mandiri (self-consumption). Perancangan ini bertujuan untuk merancang dan memverifikasi Sistem Manajemen Energi (Energy Management System/EMS) berbasis Algoritma Genetika (Genetic Algorithm/GA) pada sistem PLTS Atap hibrida residensial untuk pelanggan rumah tangga 2200 VA. EMS dirancang dengan fungsi objektif meminimalkan biaya listrik prosumer melalui optimasi daya baterai dan aksi charge atau discharge baterai dengan tetap menjaga operasi baterai pada SOC 20-80% dan batas daya baterai. Pengujian kinerja EMS dilakukan secara closed-loop menggunakan MATLAB/Simulink dengan data masukan berupa profil beban, cuaca, dan tarif listrik. Verifikasi EMS dilakukan pada lima skenario yang meliputi variasi kompensasi ekspor, kondisi cuaca cerah dan berawan, skema tarif konstan dan dinamis (Time-of-Use), variasi kapasitas penyimpanan, serta variasi SOC awal baterai. Pada seluruh skenario verifikasi, EMS berhasil melakukan penghematan biaya listrik hingga 17,45% dibanding biaya listrik harian yang diberikan oleh sistem PLTS tanpa EMS. EMS yang dirancang membutuhkan waktu komputasi 18,99 detik per siklus pada timestep 5 menit. Dengan demikian, EMS berbasis Algoritma Genetika mampu bekerja pada kondisi sistem yang dinamis dan memberikan referensi daya baterai untuk meminimalkan tagihan listrik harian.
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SUBSISTEM CLOUD BACKEND BERBASIS MQTT UNTUK PENJADWALAN BERBASIS RENTANG WAKTU DAN KOORDINASI MULTI-CAREGIVER PADA DISPENSER OBAT IOT
Medication adherence merupakan faktor penting dalam keberhasilan terapi, terutama pada lansia yang menjalani pengobatan jangka panjang dan mengonsumsi beberapa jenis obat. Kompleksitas jadwal obat, keterbatasan fisik dan kognitif, serta tidak selalu hadirnya caregiver dapat menyebabkan obat tidak dikonsumsi sesuai jadwal. Untuk membantu permasalahan tersebut, tugas akhir kelompok ini mengembangkan MedEase, yaitu dispenser obat berbasis Internet of Things yang dapat menyimpan obat, memberikan pengingat, mengeluarkan obat sesuai jadwal, serta memungkinkan caregiver melakukan pemantauan dari jarak jauh. Tugas akhir ini berfokus pada perancangan dan implementasi subsistem cloud backend berbasis MQTT untuk mendukung pengelolaan jadwal obat, sinkronisasi cloud-device, pemantauan status perangkat, penyimpanan riwayat kepatuhan, dan notifikasi caregiver. Subsistem yang dikembangkan terdiri atas aplikasi web caregiver, basis data, scheduler, backend event listener, komunikasi MQTT, dan integrasi Telegram. Aplikasi web digunakan untuk mengelola perangkat, obat, jadwal, profil waktu makan, riwayat konsumsi, dan akses multi-caregiver. Basis data berperan sebagai pusat state sistem, sedangkan backend event listener memproses event dari perangkat, memperbarui basis data, dan mengirim notifikasi jika terdapat event penting. Subsistem dirancang menggunakan model hybrid cloud-edge. Cloud menjadi sumber kebenaran untuk data obat, konfigurasi caregiver, jadwal, dan riwayat sistem, sedangkan ESP32 menjalankan jadwal harian secara lokal. Dengan pendekatan ini, alarm dan proses dispensing tetap dapat berjalan meskipun koneksi internet sementara terputus. Jadwal caregiver dikompilasi menjadi payload harian dan dikirim ke perangkat melalui MQTT. Scheduler menggunakan model penjadwalan berbasis jendela, yaitu setiap dosis direpresentasikan dengan waktu awal, waktu target, dan waktu akhir. Jendela identik dapat digabung untuk mendukung konsumsi beberapa obat pada waktu yang sama, sedangkan jendela yang beririsan sebagian ditolak untuk menghindari ambiguitas. Hasil implementasi menunjukkan bahwa subsistem berhasil mengintegrasikan aplikasi web caregiver, Supabase PostgreSQL, backend Node.js, broker MQTT, Telegram Bot API, dan ESP32 dispenser. Pengujian menunjukkan sinkronisasi cloud-to-broker memiliki p95 sebesar 265 ms, sinkronisasi hingga acknowledgement perangkat memiliki p95 sebesar 1,81 s, propagasi realtime ke antarmuka pengguna memiliki p50 sebesar 423 ms, dan pengiriman notifikasi Telegram memiliki p95 sebesar 796 ms. Evaluasi usability terhadap 10 calon caregiver menghasilkan task completion rate 100% dan skor System Usability Scale rata-rata 84,0. Berdasarkan hasil tersebut, subsistem yang dikembangkan telah memenuhi fungsi utama sebagai infrastruktur penjadwalan, sinkronisasi, pemantauan, dan notifikasi pada dispenser obat IoT MedEase.