📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5,228 dokumen

URBAN FOODSCAPE BANDUNG: INTEGRATED ARCHITECTURE TO RESTORE HUMAN–FOOD ATTACHMENT AND REDUCE FOOD DEPENDENCY

Urbanisasi di Kota Bandung menyebabkan meningkatnya ketergantungan terhadap pasokan pangan dari wilayah sekitar, sementara keterbatasan lahan produktif dan perubahan iklim meningkatkan kerentanan sistem pangan perkotaan. Kondisi tersebut turut mengurangi keterlibatan masyarakat dalam proses produksi pangan sehingga memunculkan keterputusan hubungan masyarakat dengan sistem pangan (urban food attachment). Penelitian ini bertujuan menghasilkan rancangan arsitektur yang mengintegrasikan sistem pangan perkotaan dengan aktivitas publik sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun kembali keterhubungan masyarakat terhadap sumber pangannya. Perancangan dilakukan melalui pendekatan adaptive reuse terhadap bangunan mangkrak The Maj Dago Apartment di Kota Bandung menjadi Urban Foodscape Bandung, yaitu pusat urban farming terpadu yang mengintegrasikan fungsi pembibitan, budidaya, panen, pengolahan, distribusi, konsumsi, edukasi, dan komunitas dalam satu sistem ruang. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi tapak, analisis preseden, serta pengembangan konsep dan simulasi desain. Strategi perancangan disusun berdasarkan alur siklus pangan (food journey), didukung penerapan sistem hidroponik berteknologi tinggi, prinsip ekonomi sirkular, pemanfaatan struktur eksisting, serta integrasi energi terbarukan melalui photovoltaic panel. Hasil perancangan berupa fasilitas urban farming terpadu yang menghubungkan aktivitas produksi pangan dengan ruang publik melalui pengalaman spasial yang berkesinambungan. Rancangan ini mengintegrasikan fungsi produksi, edukasi, distribusi, dan interaksi sosial dalam satu kesatuan sistem sehingga mendukung peningkatan ketahanan pangan perkotaan, pemanfaatan kembali bangunan eksisting, serta penguatan keterhubungan masyarakat dengan sistem pangan.

2026
👤 Penulis: Raia Rahmah Ramadani
🏷️ Urbanisasi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGARUH KINERJA PRASARANA FISIK DAN PRODUKTIVITAS TANAM TERHADAP ANGKA KEBUTUHAN NYATA OPERASI DAN PEMELIHARAAN (AKNOP) STUDI KASUS DAERAH IRIGASI GADUNG, JAWA BARAT

Pengelolaan sistem irigasi berperan penting guna mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya pada Daerah Irigasi yang memiliki peran strategis seperti Daerah Irigasi Gadung yang merupakan sub sistem dari Daerah Irigasi jatiluhur. Pengelolaan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi memerlukan perencanaan biaya yang sesuai dengan kondisi aktual jaringan agar pelayanan irigasi berlangsung efektif dan berkelanjutan. Penelitian terdahulu umumnya mengkaji kinerja sistem irigasi dan Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan (AKNOP) secara terpisah, sedangkan kajian yang mengintegrasikan kinerja prasarana fisik, produktivitas tanam, dan AKNOP dalam satu model kuantitatif masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kinerja prasarana fisik dan produktivitas tanam terhadap AKNOP pada jaringan utama Daerah Irigasi Gadung, Jawa Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi data panel terhadap data tahun 2020,2022, dan 2024 menggunakan perangkat lunak STATA. Variabel bebas terdiri atas kinerja prasarana fisik dan produktivitas tanam, sedangkan variabel terikat adalah AKNOP serta luas layanan sebagai variabel kontrol. Model terbaik yang diperoleh adalah Pooled Least Squares (PLS) atau Ordinary Least Squares (OLS). Hasil analisis diperoleh bahwa secara parsial kinerja prasarana fisik maupun produktivitas tanam tidak berpengaruh signifikan terhadap AKNOP. Namun, secara simultan model mampu menjelaskan variasi AKNOP sebesar 73,93% dengan persamaan ln(Y) = 14,10433 ? 0,007281 X? + 0,010107 X? ? 0,000442 Luas. Analisis skenario menunjukkan bahwa peningkatan kinerja prasarana fisik merupakan alternatif paling efektif dengan menurunkan nilai AKNOP menjadi Rp 1.345.622.329 atau 10,10% dibandingkan kondisi eksisting, lebih besar dibandingkan skenario peningkatan produktivitas tanam (11,85%) maupun skenario gabungan (19,31%). Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi kinerja prasarana fisik, produktivitas tanam, dan AKNOP dalam satu model analisis kuantitatif berbasis data aktual yang memberikan pendekatan evaluasi AKNOP.

2026
👤 Penulis: Evi Risniawati
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KARAKTERISTIK SIFAT FISIS DAN MEKANIS LAMINATED VENEER BAMBOO (LVB) BERBAHAN DASAR STRIP BAMBU TALI (GIGANTOCHLOA APUS) BAGIAN LUAR, TENGAH, DAN DALAM

Bambu tali (Gigantochloa apus) merupakan material lignoselulosa yang melimpah di Indonesia dan berpotensi sebagai bahan baku Laminated Veneer Bamboo (LVB) untuk mendukung pengembangan material struktural ramah lingkungan. Perbedaan struktur anatomi pada bagian luar, tengah, dan dalam dinding bambu menyebabkan variasi distribusi serat dan vascular bundle yang memengaruhi karakteristik fisis dan mekanis produk LVB. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh posisi strip bambu terhadap karakteristik sifat fisis dan mekanis LVB, serta menentukan tipe strip yang menghasilkan performa terbaik berdasarkan persyaratan sifat mekanis material lantai. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan berupa tipe strip bambu yang terdiri atas strip bagian dalam, tengah, dan luar. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf 5% apabila menunjukkan perbedaan nyata. Kemudian diinterpretasikan menggunakan pendekatan visualisasi multidimensi berbasis bubble chart, radar/spider chart, dan heatmap desirability index untuk mengevaluasi hubungan antar parameter secara komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi strip bambu berpengaruh sangat nyata terhadap seluruh parameter yang diuji. Strip bagian luar memiliki kerapatan tertinggi dan porositas terendah dibandingkan bagian tengah dan dalam. Seluruh produk LVB memiliki kadar air yang memenuhi standar SNI 01-5008.2-2000 serta tidak mengalami delaminasi yang menunjukkan kualitas perekatan yang baik. Selain itu, LVB berbahan strip bagian luar menghasilkan daya serap air dan pengembangan tebal terendah, serta memiliki nilai Modulus of Elasticity (MOE), Modulus of Rupture (MOR), dan keteguhan rekat tertinggi. Berdasarkan klasifikasi PKKI 1961, LVB strip luar termasuk ke dalam kayu kelas kuat II dan memenuhi persyaratan sifat mekanis material lantai berdasarkan standar ISO 21629-1:2021. Dengan demikian, strip bagian luar bambu tali merupakan konfigurasi paling optimal dalam menghasilkan LVB dengan performa fisis dan mekanis terbaik.

2026
👤 Penulis: Yemima Indani Arihta
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

RANCACILI 3.0: REKONFIGURASI RUANG TRANSISI PRIVAT-PUBLIK SEBAGAI STRATEGI PEMULIHAN SOSIAL PADA HUNIAN VERTIKAL

Pertumbuhan penduduk dan keterbatasan lahan di Kota Bandung memicu backlog perumahan hingga lebih dari 636.000 unit. Sebagai solusi, pemerintah menghadirkan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) untuk mengoptimalkan lahan melalui hunian vertikal. Namun, pendekatan rusunawa konvensional kerap memunculkan "paradoks hunian vertikal", sebagaimana terjadi di Rusunawa Rancacili, kawasan yang secara historis menjadi titik pendaratan bagi warga terdampak normalisasi bantaran sungai (Cikapundung/Citarum) maupun penggusuran permukiman padat di Kota Bandung. Sebagai hunian relokasi, kondisi rusunawa saat ini memicu trauma sosio-spasial, hilangnya ruang komunal dan interaksi, fragmentasi komunitas, potensi konflik antarwarga, hingga matinya ekosistem usaha mikro (UMKM) warga, yang diperparah oleh kondisi bangunan yang mangkrak dan kurang terawat. Merespons permasalahan tersebut, tugas akhir ini mengusulkan proyek "Rancacili 3.0: Rekonfigurasi Ruang Transisi Privat-Publik sebagai Strategi Pemulihan Sosial". Perancangan ini bertujuan meredefinisi standar hunian vertikal relokasi menjadi ekosistem kampung vertikal yang berdaya dan bermartabat. Pendekatan utama yang digunakan adalah Architecture as Repair, yang memosisikan arsitektur sebagai instrumen katalis pemulihan trauma relokasi sekaligus katalis perbaikan jaringan sosial-ekonomi penghuni. Strategi intervensi dirumuskan melalui tiga aspek utama, yaitu reintegrasi ekonomi mikro warga, penyediaan lingkungan hunian yang aman dan terpadu, serta optimalisasi ruang komunal untuk memfasilitasi interaksi sosial antarwarga. Rusunawa Rancacili dipilih sebagai studi kasus karena merepresentasikan kompleksitas persoalan nyata, yaitu desain rusunawa konvensional, kondisi bangunan yang kurang terawat, serta profil penghuni Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang sangat bergantung pada integrasi ruang dan ekonomi. Melalui tugas akhir ini, perancangan hunian vertikal diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan ruang tinggal dasar, tetapi juga dapat diimplementasikan sebagai model perbaikan struktur komunitas dan alat pemberdayaan masyarakat bagi kawasan permukiman padat perkotaan lainnya di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Arvino Caesario A.P.
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGARUH KOMBINASI BIOSTIMULAN DAN REDUKSI PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF, KARAKTER FISIOLOGIS, DAN FENOLOGI TANAMAN JAGUNG MANIS ( ZEA MAYS SACCHARATA )

Jagung manis ( Zea mays saccharata ) merupakan tanaman dengan kebutuhan hara tinggi, khususnya nitrogen, sehingga penggunaan pupuk NPK secara intensif sering dilakukan namun berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kombinasi berbagai dosis biostimulan dengan tingkat reduksi pupuk NPK terhadap pertumbuhan vegetatif, karakter fisiologis, dan fenologi tanaman jagung manis varietas F1 Paragon, serta menentukan kombinasi perlakuan yang paling optimal. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan delapan perlakuan kombinasi dosis biostimulan dan reduksi pupuk NPK dengan jumlah ulangan sebanyak empat kali. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat basah dan kering tajuk, berat basah dan kering akar, kandungan klorofil relatif (SPAD), serta waktu muncul bunga jantan dan bunga betina. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan uji Duncan pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi dosis biostimulan dan dosis pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap sebagian besar parameter pertumbuhan vegetatif tanaman jagung manis, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan klorofil relatif (SPAD) dan waktu muncul bunga. Perlakuan biostimulan 4 g/L dengan 75% NPK memberikan respon pertumbuhan vegetatif terbaik dan mampu mempertahankan kondisi fisiologis serta fenologi tanaman dengan baik. Dengan demikian, kombinasi dosis biostimulan dan reduksi pupuk NPK berpotensi meningkatkan efisiensi pemupukan tanpa menurunkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung manis

2026
👤 Penulis: Kania Ramadhani Iskandar
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

TEMPA: PERANCANGAN PUSAT KOMUNITAS PENGRAJIN BESI MULTIFUNGSI BERBASIS KEARIFAN LOKAL DAN TEKNOLOGI BANGUNAN DI DESA MEKARMAJU

Penggunaan alat dan perkakas telah menjadi aspek yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masa modern. Khususnya perkakas logam yang digunakan pada berbagai aplikasi, dan teknik tempa tradisional memegang peran penting dalam proses perkembangannya. Desa Mekarmaju merupakan salah satu tempat yang masih menjaga warisan tradisional ini hidup hingga saat ini. Banyak dari masyarakat di desa ini menggantungkan hidupnya pada usaha pembuatan alat dan perkakas secara tradisional, seperti cangkul, pisau dan golok. Akan tetapi, kelangsungan industri lokal ini berhadapan dengan masalah tata ruang, keselamatan kerja, dan kesehatan. Kondisi kerja yang mengharuskan pekerja berdekatan dengan tungku pembakaran yang menghasilkan gas buang berbahaya dan proses pengikisan yang menghasilkan debu halus yang bisa terhirup dapat berakibat buruk bagi kesehatan pengrajin. Selain itu gerakan berat berulang yang dilakukan para penempa apabila tidak dibarengi dengan ergonomi yang baik dapat berdampak buruk bagi kesehatan fisik pengrajin. Dari sisi Sosial-Ekonomi, banyak generasi muda yang enggan meneruskan profesi ini salah satunya karena lingkungan kerja yang kurang sehat. Ditambah lagi dengan menurunnya minat masyarakat luas pada kerajinan lokal. Menanggapi permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah Pusat Komunitas Pengrajin Besi Multifungsi yang menyediakan ruang produksi yang lebih sehat dan menciptakan ruang pertunjukan kesenian pengrajin dan showcase serta fasilitas penunjang wisata guna mengenalkan dan meningkatkan minat masyarakat dan generasi muda pada kerajinan tempa. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif melalui observasi langsung untuk memahami kebiasaan kerja dan permasalahan yang ada pada proses kerja yang ada di lapangan, dilengkapi dengan kajian literatur mengenai teknologi bangunan serta kesehatan kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pengrajin sudah memiliki bentuk adaptasi lokal untuk memitigasi suhu tinggi yang dihasilkan dari proses pemanasan, yaitu menggunakan bilah bambu sebagai penutup dinding untuk memaksimalkan sirkulasi udara alami. Perancangan ini mengadaptasi kearifan lokal tersebut dan melengkapinya dengan sistem cerobong asap untuk mengarahkan aliran udara panas bersama dengan gas buang hasil pembakaran dengan lebih optimal. Untuk menangani permasalahan debu logam yang dihasilkan dari proses grinding, perancangan ini memperkenalkan elemen air di sekitar ruang produksi untuk meningkatkan kelembaban udara yang terbukti dapat menekan kadar partikel besi yang mengambang di udara ditambah efek mendinginkan udara sekitar. Perbaikan fasilitas kerja, ditambah dengan penambahan fasilitas wisata ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang profesional dan atraktif. Sebagai kesimpulan, perancangan Pusat Komunitas Pengrajin Besi Multifungsi ini dapat menjadi purwarupa bagi pengembangan ruang produksi yang lebih sehat di Desa Mekarmaju. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya memahami dan menghormati kearifan lokal yang ada dalam membuat pengembangan sebuah ruang yang berkelanjutan bagi komunitas pengrajin.

2026
👤 Penulis: Ananda Zahid Ziazan Sobandi
🏷️ Desain Komunikatif 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kesehatan Kerja

PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE ANALISIS PENETAPAN KADAR ALFA-TOKOFEROL ASETAT DALAM SEDIAAN SERUM KOSMETIK MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

Photoaging merupakan proses penuaan dini pada kulit yang disebabkan oleh akumulasi radikal bebas akibat paparan radiasi ultraviolet secara terus menerus. Salah satu senyawa antioksidan yang poten dan banyak digunakan untuk mencegah kerusakan kolagen serta menjaga kelembapan kulit adalah Vitamin E dalam bentuk turunannya yaitu ?-tokoferol asetat karena memiliki stabilitas fisikokimia yang lebih baik. Untuk menjamin efikasi, keamanan, dan perlindungan konsumen, kadar ?-tokoferol asetat di dalam sediaan kosmetik serum yang beredar dipasaran harus dipastikan kesesuaiannya dengan klaim etiket menggunakan metode analisis yang tervalidasi. Dalam hal ini, dilakukan pengembangan dan validasi metode analisis yang tervalidasi. Dalam hal ini, dilakukan pengembangan dan validasi metode analisis penetapan kadar ?-tokoferol asetat dalam sediaan serum kosmetik dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS. Hasil optimasi menunjukkan metode yang optimum menggunakan spektrofotometer Beckman Coulter DU720, dengan kuvet kuarsa pada panjang gelombang maksimum 285 nm menggunakan pelarut etanol proanalisis. Hasil validasi metode menunjukkan spesifisitas yang baik dengan tidak adanya interferensi serapan komponen matriks serum blanko pada panjang gelombang maksimum analit. Linearitas dari metode pada rentang 50 – 175 ?g/mL dengan perolehan persamaan regresi y = 0,00442x – 0,0163, nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,9996, dan nilai koefisien variansi regresi linear (Vx0) sebesar 1,259%. Batas deteksi dan batas kuantitasi dari metode adalah 4,674 dan 14,164 ?g/mL. Persentase perolehan kembali (% recovery) untuk sampel serum adalah 98,78 - 101,65%. Hasil presisi intraday dan interday seluruhnya memenuhi persyaratan dengan nilai %SBR ? 2% dan nilai HORRAT ? 2. Ketegaran metode baik dan memenuhi persyaratan. Penetapan kadar dengan menggunakan metode adisi standar tervalidasi menunjukkan kadar ?-tokoferol asetat pada produk komersial Sampel A, Sampel B, dan Sampel C berturut-turut adalah 0,402; 0,105; dan 4,188%. Dari nilai persentasi kadar tersebut, maka sampel A dan B memenuhi persyaratan rentang kelaziman ?- tokoferol asetat dalam sediaan serum dan sampel C memenuhi persyaratan konsentrasi zat aktif sebagai serum anti-aging.

2026
👤 Penulis: Yusriyah Maharani Malik
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kimia 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

USULAN DESAIN TRANSFORMASI HILIR TERINTEGRASI PERTAMINA MELALUI SINERGI SUBHOLDING KILANG, LOGISTIK, DAN PEMASARAN: PENDEKATAN REFINERY OF THE FUTURE

Sektor hilir minyak dan gas Indonesia menghadapi tekanan yang semakin kuat akibat volatilitas pasar minyak mentah dan produk, penurunan margin kilang, risiko pengangkutan dan persediaan, tuntutan transisi energi, serta mandat berkelanjutan untuk menjaga ketahanan energi nasional. Sebelum integrasi, rantai nilai hilir Pertamina dijalankan melalui tiga subholding yang saling bergantung, yaitu PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) untuk kegiatan kilang dan petrokimia, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) untuk kegiatan komersial dan perdagangan, serta PT Pertamina International Shipping (PIS) untuk logistik kelautan terintegrasi. Meskipun spesialisasi tersebut memperjelas tanggung jawab masing-masing entitas, struktur ini juga menciptakan titik-titik serah terima yang menyebabkan perencanaan, insentif, data, dan pengambilan keputusan belum sepenuhnya selaras. Penelitian ini mengkaji bagaimana transformasi hilir terintegrasi dapat mengurangi kebocoran nilai dan meningkatkan kinerja end-to- end Pertamina melalui pendekatan Refinery of the Future. Tujuan penelitian ini adalah mengusulkan desain transformasi yang menghubungkan operasi kilang, logistik, persediaan, distribusi, dan permintaan pasar dalam satu model operasi yang terkoordinasi. Penelitian ini mengidentifikasi sumber utama kebocoran margin, inefisiensi logistik, ketidakseimbangan persediaan, dan keterlambatan pengambilan keputusan; mengevaluasi kebutuhan model operasi, tata kelola, digitalisasi, dan manajemen kinerja dalam integrasi; serta merumuskan roadmap implementasi yang layak. Proposisi yang mendasari penelitian ini adalah bahwa integrasi secara hukum saja tidak akan menciptakan nilai yang berkelanjutan apabila tidak didukung oleh logika ekonomi bersama, hak pengambilan keputusan yang jelas, perencanaan terintegrasi, visibilitas data yang andal, dan kesiapan organisasi. Penelitian ini memiliki keterbatasan berupa terbatasnya akses terhadap data transaksi internal yang terperinci, sifat ilustratif dari sebagian interpretasi kuantitatif, serta tidak dilakukannya perancangan ulang teknik secara rinci maupun pengujian kinerja setelah integrasi. Kontribusi penelitian ini terletak pada kontekstualisasi konsep Refinery of the Future sebagai arsitektur bisnis hilir terintegrasi bagi perusahaan energi milik negara yang harus menyeimbangkan kinerja komersial, kewajiban pelayanan publik, dan ketahanan energi. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan metode campuran. Bukti penelitian dikumpulkan dari laporan tahunan perusahaan dan materi internal integrasi, wawancara semi-terstruktur dengan personel senior yang relevan dalam fungsi kilang, logistik, komersial, dan digital, kuesioner terstruktur kepada pekerja dari ketiga subholding, observasi lapangan di Pertamina Digital Hub, serta sejumlah data keuangan dan operasional terpilih. Bukti kualitatif dianalisis secara tematik berdasarkan isu ketidakselarasan, kebocoran margin, inefisiensi logistik, ketidakseimbangan persediaan, fragmentasi digital, tata kelola, dan kapabilitas. Bukti kuantitatif dianalisis secara deskriptif dan dibandingkan dengan temuan kualitatif melalui triangulasi. Analisis mengidentifikasi lima akar permasalahan yang saling terkait. Pertama, mandat dan struktur insentif berbasis entitas mendorong optimalisasi lokal, bukan penciptaan nilai hilir secara keseluruhan. Kedua, perbedaan ritme perencanaan antara produksi kilang, penjadwalan kapal, persediaan, dan komersialisasi melemahkan sinkronisasi permintaan-pasokan. Ketiga, persediaan terapung, keterbatasan dermaga, risiko demurrage, ketidaksesuaian ukuran muatan dan kapal, serta menurunnya produktivitas kargo terhadap DWT menunjukkan bahwa kinerja logistik dan modal kerja membutuhkan pengendalian terintegrasi. Keempat, kapabilitas digital telah tersedia pada sebagian organisasi, tetapi definisi data bersama, visibilitas lintas fungsi, tata kelola, dan adopsinya belum lengkap. Kelima, profitabilitas tidak merata di sepanjang rantai nilai: KPI membukukan kerugian yang signifikan pada tahun 2024, sementara PPN dan PIS tetap menghasilkan laba, sehingga menunjukkan perlunya pengelolaan margin secara end-to-end. Hasil survei pekerja menunjukkan dukungan yang kuat terhadap integrasi dan manfaat operasional serta logistik yang diharapkan, namun masih terdapat perhatian terhadap perubahan budaya, integrasi teknologi, birokrasi, keterlibatan pekerja, dan pemahaman atas konsep Refinery of the Future. Berdasarkan temuan tersebut, desain yang diusulkan terdiri atas empat elemen yang saling memperkuat, yaitu model operasi crude-to-customer; tata kelola dan hak pengambilan keputusan yang terpadu; arsitektur KPI terintegrasi; serta downstream command center yang didukung oleh lapisan data single-source-of- truth. Pada tahap awal, command center perlu memprioritaskan sinkronisasi permintaan-pasokan, visibilitas persediaan secara end-to-end, dan profitability cockpit yang menghubungkan faktor penggerak margin dari kilang, pengangkutan, persediaan, dan realisasi pasar. Implementasi direkomendasikan dalam tiga fase, yaitu menstabilkan tata kelola, prioritas data, dan minimum viable product untuk command center; mengintegrasikan rutinitas perencanaan, sistem terpilih, dan tinjauan realisasi nilai; serta melembagakan analitik prediktif, optimalisasi logistik, dan pengembangan kapabilitas. Jalur implementasi ini mendukung sasaran internal integrasi Pertamina berupa potensi peningkatan laba bersih hingga sekitar USD 340 juta pada tahun 2029, dengan tetap bergantung pada keberhasilan pelaksanaan dan validasi lebih lanjut.

2026
👤 Penulis: Mirza Roland
🏷️ Desain Transformasi Operasional 🏷️ Refinery Of The Future 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGARUH KONSENTRASI BIOSTIMULAN DAN REDUKSI PUPUK KIMIA NPK TERHADAP KOMPONEN HASIL DAN KUALITAS JAGUNG MANIS (ZEA MAYS SACCHARATA) VARIETAS F1 PARAGON

Jagung manis (Zea mays saccharata) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang permintaannya terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk, namun produktivitasnya masih menghadapi kendala akibat degradasi kesuburan tanah dan penggunaan pupuk kimia secara intensif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi konsentrasi biostimulan dan tingkat reduksi pupuk kimia NPK yang paling optimal dalam meningkatkan komponen hasil dan kualitas jagung manis. Penelitian dilaksanakan di Kebun Pendidikan SITH ITB, Desa Haurngombong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada September–Desember 2025 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan delapan perlakuan dan empat ulangan, terdiri atas kombinasi konsentrasi biostimulan (2, 4, dan 6 g/L) dengan tingkat reduksi pupuk NPK (75%, 50%, dan tanpa NPK) serta kontrol 100% NPK tanpa biostimulan. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95% (? = 0,05) dan dilanjutkan dengan uji Duncan apabila terdapat perbedaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi biostimulan 4 g/L dengan reduksi NPK sebesar 50–75% (perlakuan P4 dan P5) menghasilkan komponen hasil terbaik yang ditunjukkan oleh peningkatan panjang, diameter, dan bobot tongkol, baik berkelobot maupun tanpa kelobot, serta mampu mempertahankan kualitas jagung manis melalui penurunan kadar air dan peningkatan nilai °Brix serta gula reduksi dibandingkan kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa aplikasi biostimulan pada konsentrasi 4 g/L yang dikombinasikan berpotensi menjadi strategi budidaya jagung manis yang lebih efisien dan berkelanjutan

2026
👤 Penulis: Muhammad Nabil Razhin
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI RAMAH LINGKUNGAN DALAM MENDUKUNG PERWUJUDAN KOTA CIMAHI SEBAGAI PUSAT INDUSTRI NON-POLUTIF

Kota Cimahi memiliki karakteristik sebagai kota industri dengan sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) sebagai sektor yang dominan. Di sisi lain, aktivitas industri TPT berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan sehingga pengembangan industri perlu diarahkan pada penerapan prinsip industri ramah lingkungan untuk mendukung perwujudan Kota Cimahi sebagai pusat industri nonpolutif. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan industri ramah lingkungan pada industri TPT di Kota Cimahi. Penelitian menggunakan pendekatan rasionalistik dengan metode analisis deskriptif kualitatif melalui studi dokumen, observasi, dan wawancara. Analisis dilakukan melalui tiga sasaran penelitian, yaitu identifikasi struktur industri Kota Cimahi, analisis kesenjangan antara kondisi eksisting dan kondisi ideal industri ramah lingkungan, serta perumusan strategi pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri TPT menjadi sektor yang dominan pada struktur industri Kota Cimahi dan memiliki rantai nilai yang relatif lengkap dari tahap hulu, antara, hingga hilir. Analisis kondisi eksisting menunjukkan bahwa penerapan industri ramah lingkungan pada industri sampel telah dilakukan pada berbagai tingkat kematangan, sedangkan analisis kondisi ideal berdasarkan dokumen perencanaan menunjukkan adanya arahan pengembangan yang mencakup seluruh tingkat kematangan industri ramah lingkungan. Perbandingan antara kondisi eksisting dan kondisi ideal menunjukkan adanya kesenjangan pada setiap tingkat kematangan yang berkaitan dengan komitmen lingkungan, aktivitas pengelolaan lingkungan, sistem pendukung, inovasi dan teknologi, serta kolaborasi dan keberlanjutan. Berdasarkan kesenjangan tersebut, diidentifikasi kebutuhan pengembangan yang dijadikan dasar dalam perumusan strategi pengembangan industri ramah lingkungan untuk mendukung transformasi industri TPT yang lebih berkelanjutan di Kota Cimahi.

2026
👤 Penulis: Salman Aryadi
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU YANG MEMPENGARUHI PROFITABILITAS DI PERTAMINA PAPUA

Penelitian ini menginvestigasi determinan profitabilitas pada Lapangan Papua Pertamina, lapangan minyak marginal yang mengalami imbal hasil negatif persisten (Return on Assets -20,25%, Net Profit Margin -25,43%) sepanjang periode 2019-2023. Studi ini membahas apakah profitabilitas terutama digerakkan oleh faktor internal yang dapat dikontrol manajemen atau kondisi eksternal yang digerakkan pasar, menyediakan panduan berbasis bukti untuk strategi transformasi yang dapat diterapkan pada operasi lapangan marginal secara global. Penelitian menggunakan metodologi kuantitatif dengan menganalisis 60 observasi bulanan dari Januari 2019 hingga Desember 2023, menguji enam faktor internal (rasio utang terhadap aset, rasio lancar, perputaran aset, biaya angkat per barel, volume produksi, utilisasi aset) dan dua faktor eksternal (harga minyak mentah Brent, pandemi COVID-19). Kerangka regresi tiga model secara sistematis memisahkan faktor operasional internal (Model 1), kondisi pasar eksternal (Model 2), dan efek kombinasi (Model 3) untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai pengaruh internal, pengaruh eksternal, dan implikasi alokasi sumber daya strategis. Temuan empiris menetapkan bahwa faktor internal yang dapat dikontrol manajemen menjelaskan 89,12% varians profitabilitas (R² = 0,8912, F = 72,34, p < 0,001), sementara faktor eksternal yang digerakkan pasar menjelaskan 52,34% varians (R² = 0,5234, F = 31,23, p < 0,001). Kesenjangan daya penjelas 37 poin persentase mengkuantifikasi dominasi faktor internal. Biaya angkat muncul sebagai determinan dominan dengan koefisien -9,12 (p < 0,001), mengindikasikan setiap kenaikan satu dolar per barel mengurangi Return on Assets sebesar 9,12 poin persentase. Harga minyak menunjukkan koefisien positif +1,34 (p < 0,001), namun perbandingan mengungkapkan pengurangan biaya memberikan dampak profitabilitas 6,8 kali lebih besar daripada kenaikan harga ekuivalen. Model kombinasi (R² = 0,9600, F = 89,45, p < 0,001) memvalidasi rasio koefisien 7,3:1 antara efek biaya angkat dan harga minyak, menetapkan bahwa manajemen biaya 7,3 kali lebih kuat daripada pergerakan harga dalam menentukan profitabilitas. Analisis R-squared inkremental menunjukkan faktor internal berkontribusi 9,4 kali lebih besar daya penjelas dibandingkan faktor eksternal ketika ditambahkan ke model dasar. Semua delapan hipotesis terkonfirmasi dengan hubungan arah yang diharapkan dan pengujian diagnostik komprehensif memvalidasi kualitas model. Rasio utang terhadap aset menunjukkan dampak negatif kuat (? = -92,45, p < 0,001), rasio lancar mendemonstrasikan efek likuiditas positif (? = +24,56, p < 0,05), perputaran aset menunjukkan pengaruh efisiensi (? = +47,89, p < 0,001), biaya angkat menampilkan dampak negatif dominan (? = -9,12, p < 0,001), volume produksi berkontribusi moderat (? = +0,0034, p < 0,10), utilisasi aset mempengaruhi secara positif (? = +0,52, p < 0,05), harga minyak memberikan pengaruh positif eksternal (? = +1,34, p < 0,001), dan COVID-19 mendemonstrasikan disrupsi parah (? = -34,12, p < 0,001). Mean Variance Inflation Factor sebesar 1,62 mengindikasikan tidak ada multikolinearitas, uji Breusch-Pagan mengkonfirmasi homoskedastisitas, uji Breusch-Godfrey menunjukkan tidak ada autokorelasi, uji Jarque-Bera memvalidasi normalitas, uji Augmented Dickey-Fuller mengkonfirmasi stasioneritas, dan uji F mendeteksi tidak ada pola musiman. Rekomendasi strategis yang diturunkan dari bukti empiris menyarankan pengalokasian 80-85% sumber daya transformasi terhadap perbaikan operasional internal dan 15-20% terhadap manajemen risiko eksternal, mencerminkan rasio koefisien terkuantifikasi 7,3:1 dan rasio kontribusi inkremental 9,4:1. Empat inisiatif prioritas mencakup: Prioritas 1 pengurangan biaya angkat menargetkan penghematan $7-9 per barel melalui optimasi kimia, efisiensi energi, produktivitas tenaga kerja, pemeliharaan preventif, dan perbaikan logistik, memproyeksikan perbaikan +62 hingga +80 poin persentase Return on Assets dengan investasi $4- 6 juta selama 12-24 bulan; Prioritas 2 peningkatan efisiensi aset menargetkan perbaikan perputaran aset dari 0,42 menjadi 0,55-0,60 melalui debottlenecking dan intervensi sumur, memproyeksikan perbaikan +7 hingga +8 poin persentase dengan investasi $3-5 juta; Prioritas 3 optimasi struktur keuangan mengurangi rasio utang terhadap aset dari 0,50 menjadi 0,42-0,45, memproyeksikan perbaikan +4 hingga +7 poin persentase; Prioritas 4 manajemen risiko harga minyak melalui hedging collar mencakup 50-70% produksi. Implementasi gabungan memproyeksikan transformasi Return on Assets dari -20% menjadi +35-55% dalam 24 bulan, memvalidasi kelayakan pemulihan profitabilitas melalui perbaikan yang dikontrol manajemen. Penelitian ini berkontribusi dengan mengkuantifikasi kepentingan relatif determinan internal versus eksternal melalui kerangka tiga model yang novel, menetapkan bahwa ekonomi biaya per unit mendominasi pertimbangan volume untuk lapangan marginal, dan menyediakan metodologi yang dapat digeneralisasi untuk alokasi sumber daya di industri ekstraktif padat modal.

2026
👤 Penulis: Muhamad Husein
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Keuangan Pertambangan 🏷️ Efisiensi Operasional

FORMULASI STRATEGI TRANSFORMASI OPERASIONAL INDUSTRI PERTAHANAN MENGGUNAKAN INTEGRASI DELPHI-AHP DAN KERANGKA TRIPLE BOTTOM LINE: STUDI KASUS PT LEN INDUSTRI (PERSERO)

Pembentukan Holding BUMN Industri Pertahanan (DEFEND ID) pada tahun 2021 menandai tonggak sejarah yang signifikan bagi lanskap pertahanan Indonesia, menempatkan PT Len Industri (Persero) sebagai perusahaan induk yang bertugas memimpin ekosistem teknologi pertahanan nasional. Meskipun berhasil mencapai pendapatan komersial yang substansial dan memenuhi mandat strategis untuk menyokong kebutuhan alat peralatan pertahanan dan keamanan (Alpalhankam) domestik, PT Len Industri (Persero) menghadapi kerentanan struktural dan operasional yang krusial. Beroperasi dalam lingkungan manufaktur High-Mix Low-Volume (HMLV) yang sangat kompleks, perusahaan saat ini berjuang mengatasi kesenjangan kinerja operasional yang persisten. Masalah yang paling menonjol adalah Cost of Poor Quality (COPQ) yang mengalami peningkatan, menyerap antara 2,4% hingga 3,9% dari Cost of Revenue dari tahun 2022 hingga 2025. Erosi profitabilitas yang tersembunyi ini diperburuk oleh tingginya rasio penolakan (reject) dan pengerjaan ulang (rework), kekurangan kompetensi teknis, dan tidak adanya mekanisme transfer pengetahuan formal, yang menciptakan kerapuhan sistemik dalam kapasitas organisasi untuk mempertahankan kualitas. Oleh karena itu, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi transformasi operasional berbasis bukti yang berfokus pada dua pilar penting: pelembagaan Budaya Perbaikan Berkelanjutan (Continuous Improvement Culture) dan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (Human Capital Enhancement). Untuk memastikan evaluasi keberlanjutan organisasi yang komprehensif, strategi yang diusulkan dievaluasi menggunakan kerangka pengukuran kinerja Triple Bottom Line (TBL) tertimbang, yang mengintegrasikan dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang disesuaikan secara khusus dengan konteks industri pertahanan HMLV. Penelitian ini menggunakan paradigma pragmatisme melalui desain sekuensial eksploratori metode campuran (mixed-methods). Data kualitatif primer dikumpulkan secara cermat melalui wawancara semi-terstruktur dengan Dewan Direksi PT Len Industri (Persero) dan pengguna akhir utama dari Kementerian Pertahanan. Setelah eksplorasi kualitatif, metode Modified Delphi dua putaran yang melibatkan panel yang dikurasi dengan cermat yang terdiri dari 12 pakar digunakan. Proses ini bertujuan untuk memvalidasi dan menghitung bobot rasio penerapan (applicability-ratio) dari indikator kinerja TBL. Selanjutnya, Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk mengevaluasi, menimbang, dan memprioritaskan intervensi strategis yang diusulkan secara sistematis. Metode Modified Delphi berhasil memvalidasi kerangka kerja kuat yang terdiri dari 35 indikator kinerja TBL tertimbang yang dikontekstualisasikan untuk sektor pertahanan. Temuan menunjukkan bahwa metrik seperti COPQ dan Reject Rate (Ekonomi), Technology and Manufacturing Readiness Level (TRL/MRL), Transfer Pengetahuan (Sosial), dan Kepatuhan Regulasi Lingkungan (Lingkungan) muncul sebagai prioritas dengan bobot tertinggi. Evaluasi garis dasar (baseline) terhadap target strategis 2029 menunjukkan bahwa 12 dari 35 indikator saat ini berada jauh di bawah target, membenarkan kebutuhan mendesak untuk intervensi struktural. Lebih lanjut, analisis AHP secara kuantitatif menetapkan bahwa pelembagaan Budaya Perbaikan Berkelanjutan (bobot 60,2%) memegang prioritas dasar di atas Peningkatan Kapasitas SDM (bobot 39,8%). Di antara alternatif strategis yang dievaluasi, penerapan Lean Six Sigma Enterprise (LSS) menempati peringkat sebagai prioritas global teratas (31,31%), diikuti oleh Digital Manufacturing Integration (26,68%). Secara bersamaan, Knowledge Management System (KMS) dan Supply Chain Optimization (SCO) diidentifikasi melalui Matriks Prioritas sebagai langkah cepat (Quick Wins) yang sangat layak diterapkan dan memberikan dampak strategis yang substansial. Sebagai kesimpulan, tesis ini menyintesis temuan-temuan tersebut ke dalam peta jalan (roadmap) transformasi operasional 3 tahun yang preskriptif dan bertahap. Tahun fondasi pertama menekankan implementasi komprehensif metodologi 5S, manajemen visual, dan pembentukan Kantor Keunggulan Transformasi (Transformation Excellence Office). Tahun akselerasi kedua berfokus pada Value Stream Mapping dan integrasi Lean Six Sigma Green/Black Belt. Tahun kematangan terakhir melembagakan Total Productive Maintenance (TPM) dan budaya Kaizen yang mandiri. Untuk menjamin eksekusi yang berkelanjutan, studi ini sangat merekomendasikan integrasi inisiatif-inisiatif ini melalui arsitektur tata kelola yang kuat yang dikendalikan oleh sistem penyelarasan strategis Hoshin Kanri. Pada akhirnya, penelitian ini menyediakan kerangka kerja TBL pertama yang divalidasi secara empiris untuk industri pertahanan milik negara di Indonesia, menawarkan model strategis yang dapat direplikasi untuk produsen pertahanan sejenis.

2026
👤 Penulis: Hasful Anwar Fathoni
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KANGKUNG (IPOMOEA REPTANS VAR. BANGKOK LP-1) SEBAGAI RESPONS TERHADAP APLIKASI BIOSTIMULAN EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) SECARA FOLIAR

Produksi tanaman kangkung di Indonesia menunjukkan tren penurunan sehingga diperlukan upaya peningkatan produktivitas melalui pendekatan pertanian berkelanjutan. Salah satu inovasi yang berkembang adalah pemanfaatan biostimulan berbasis bahan alami, seperti ekstrak daun kelor (Moringa oleifera), yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Namun, informasi mengenai efektivitas aplikasi foliar ekstrak daun kelor pada tanaman kangkung masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi ekstrak daun kelor secara foliar terhadap pertumbuhan vegetatif, kandungan pigmen fotosintesis, biomassa, serta menentukan konsentrasi paling efektif pada tanaman kangkung (Ipomoea reptans var. Bangkok LP-1). Penelitian dilaksanakan pada Oktober–November 2025 di Screenhouse SITH ITB Jatinangor menggunakan Rancangan Acak Lengkap satu faktor dengan empat taraf perlakuan, yaitu P0 (kontrol), P1 (1:10), P2 (1:20), dan P3 (1:30), masing-masing lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan vegetatif, kadar klorofil (SPAD), kadar karotenoid, biomassa basah dan kering (total, tajuk, dan akar), serta rasio tajuk akar. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak daun kelor tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif, indeks luas daun, kadar klorofil, dan rasio tajuk akar, namun berpengaruh nyata terhadap kadar karotenoid dan biomassa tanaman. Uji lanjut DMRT menunjukkan bahwa perlakuan P1 (1:10) menghasilkan kadar karotenoid tertinggi sebesar 0,146 mg g?¹ dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan lainnya. Pada parameter biomassa, perlakuan P1 menghasilkan bobot basah total, tajuk, dan akar masing-masing sebesar 111,82 g, 71,83 g, dan 39,99 g, serta bobot kering total, tajuk, dan akar sebesar 11,60 g, 6,35 g, dan 5,24 g, yang menunjukkan akumulasi biomassa tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya, dengan perbedaan nyata terutama pada biomassa total berdasarkan uji lanjut DMRT, sementara komponen tajuk dan akar menunjukkan pola respons yang serupa. Hasil ini menunjukkan bahwa respons utama tanaman terhadap aplikasi ekstrak daun kelor lebih tercermin pada peningkatan akumulasi biomassa dan kandungan karotenoid dibandingkan pada perubahan parameter pertumbuhan vegetatif yang diamati. Berdasarkan hasil penelitian, aplikasi ekstrak daun kelor secara foliar pada konsentrasi 1:10 (P1) merupakan perlakuan paling efektif dalam meningkatkan kandungan karotenoid dan biomassa tanaman kangkung, tanpa memberikan pengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan vegetatif pada kondisi penelitian ini.

2026
👤 Penulis: Hazmi Abdul Jalil
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

RENCANA IMPLEMENTASI KAWASAN EKO-INDUSTRI MINERAL STRATEGIS YANG DIDUKUNG KECERDASAN BUATAN DI BANGKA BELITUNG

Studi kasus akhir ini membahas Bangka Strategic Mineral Eco Estate (BSMEE) sebagai model implementasi hilirisasi mineral strategis di Bangka Belitung. Provinsi ini memiliki sejarah panjang dalam pertambangan timah serta potensi mineral ikutan, seperti logam tanah jarang, zirkon, kuarsa berkadar tinggi, dan ilmenit. Namun, ekosistem mineral yang ada masih terfragmentasi antara kegiatan pertambangan, pengolahan, logistik, perencanaan kawasan industri, tata kelola data, dan koordinasi kelembagaan. Akibatnya, nilai tambah mineral belum sepenuhnya tertangkap di tingkat daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif melalui telaah kebijakan, analisis data sekunder, kajian literatur eco-industrial park, serta masukan dari wawancara pemangku kepentingan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama bukan terletak pada ketiadaan sumber daya mineral atau kawasan industri, melainkan pada lemahnya keterhubungan antara pasokan bahan baku, kapasitas pengolahan, infrastruktur, sistem data, dan kewenangan kelembagaan. Karena itu, BSMEE tidak hanya diposisikan sebagai kawasan industri, tetapi sebagai ekosistem mineral yang terkoordinasi. Model yang diusulkan menggabungkan klaster industri, infrastruktur bersama, industrial symbiosis, sistem Big Data and AI, dan tata kelola bertahap. Implementasinya perlu dimulai dari penyelarasan kelembagaan, pemetaan bahan baku dan produk samping, standardisasi data, pengembangan dasbor digital awal, serta persiapan anchor tenant sebelum masuk ke investasi hilir berskala besar. Penelitian ini memberikan kerangka praktis untuk mendorong Bangka Belitung dari wilayah berbasis mineral hulu menuju ekosistem mineral strategis yang lebih terintegrasi, terlacak, dan bernilai tambah.

2026
👤 Penulis: Odi Ariyanto
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN STRUKTUR PEMECAH GELOMBANG PADA PENGEMBANGAN KOLAM D PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA CILACAP

Pengembangan Kolam D Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap membutuhkan kondisi perairan yang terlindungi untuk mendukung aktivitas operasional pelabuhan. Pengaruh gelombang yang masuk ke area kolam dapat mengganggu keamanan kapal serta kegiatan tambat dan bongkar muat, sehingga diperlukan struktur pemecah gelombang sebagai bangunan pelindung. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kondisi hidrodinamika kawasan PPS Cilacap sebagai dasar dalam mengevaluasi efektivitas layout breakwater yang direncanakan oleh PT. Haskoning Indonesia dalam mereduksi pengaruh gelombang pada area Kolam D. Analisis distribusi gelombang dilakukan melalui pemodelan hidrodinamika menggunakan Delft3D pada kondisi eksisting dan setelah adanya penambahan struktur breakwater. Hasil pemodelan digunakan sebagai dasar perencanaan struktur pemecah gelombang tipe rubble mound serta analisis stabilitas daya dukung tanah terhadap struktur yang direncakan. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa tinggi gelombang maksimum pada kondisi eksisting sebesar 2.638 m dari arah timur. Setelah penambahan breakwater, tinggi gelombang pada area terlindungi berkurang menjadi 0.049–0.456 m. Struktur yang direncanakan memiliki panjang 1.450 m, elevasi puncak +5.5 m, lebar puncak 3.48 m, tinggi 11.5 m, dan kemiringan 1:2. Analisis stabilitas daya dukung tanah menghasilkan nilai faktor keamanan sebesar 4.65 sehingga struktur memenuhi kriteria keamanan perencanaan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa layout breakwater efektif dalam mereduksi gelombang dan memberikan perlindungan terhadap area Kolam D PPS Cilacap.

2026
👤 Penulis: Fina Rahmawati Fadhilla
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Struktur
Halaman 22 dari 349
💬