📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenEVALUASI SISTEM PEMANTAUAN KUALITAS AIR ONLINE (SPKA/ONLIMO) DI JAWA BARAT UNTUK INTEGRASI SENSOR LOGAM BERAT
Sistem Pemantauan Kualitas Air (SPKA) atau Onlimo merupakan sistem pemantauan kualitas air otomatis, kontinu, dan online yang telah dikembangkan di Provinsi Jawa Barat sejak tahun 2015. Sistem ini berperan penting dalam mendukung pengelolaan kualitas air melalui penyediaan data secara real-time. Namun, parameter yang dipantau masih terbatas pada pH, dissolved oxygen (DO), biochemical oxygen demand (BOD), chemical oxygen demand (COD), total dissolved solids (TDS), total suspended solids (TSS), amonia, dan nitrat, sehingga belum mampu mendeteksi pencemaran logam berat yang merupakan salah satu isu penting pada berbagai badan air. Di sisi lain, kajian mengenai integrasi sensor logam berat ke dalam sistem pemantauan kualitas air online masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi eksisting sistem Onlimo di Provinsi Jawa Barat, mengidentifikasi karakteristik logam berat pada berbagai tekanan antropogenik, serta mengembangkan strategi integrasi sensor logam berat ke dalam sistem Onlimo. Evaluasi sistem dilakukan melalui penapisan kondisi operasional stasiun dan pengujian kualitas data menggunakan Gap Test, Null Test, Flatline Test, Extreme Value Test, serta uji konsistensi hubungan BOD–COD pada data periode 2024–2025. Evaluasi juga dilakukan terhadap aspek non-teknis yang meliputi regulasi, kelembagaan, sumber daya manusia, pendanaan, dan tata kelola data. Analisis logam berat dilakukan pada media air dan sedimen melalui pengambilan sampel di tiga wilayah yang merepresentasikan sumber tekanan antropogenik berbeda, yaitu Babelan (aktivitas pembangkit listrik tenaga uap), Cikarang (aktivitas industri), dan Cisarua (aktivitas pertambangan emas). Karakteristik logam berat dianalisis menggunakan statistik deskriptif, korelasi Spearman, dan Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 28 stasiun Onlimo yang terpasang di Provinsi Jawa Barat, hanya 10 stasiun (35,7%) yang beroperasi secara andal dan menghasilkan data. Evaluasi menunjukkan bahwa sistem masih menghadapi berbagai permasalahan teknis, seperti kerusakan sensor, gangguan sistem pengambilan sampel, kehilangan data, serta berbagai anomali kualitas data berupa data gap, null value, flatline, extreme value, dan ketidakkonsistenan hubungan teoritis BOD–COD. Selain itu, evaluasi aspek non-teknis menunjukkan bahwa keberlanjutan sistem juga dipengaruhi oleh tantangan pada aspek pemeliharaan, sumber daya manusia, pendanaan, tata kelola data, dan koordinasi kelembagaan. Analisis logam berat menunjukkan adanya heterogenitas spasial yang tinggi sesuai dengan karakteristik sumber pencemar pada masing-masing lokasi penelitian. Hasil korelasi menunjukkan bahwa parameter fisika-kimia yang tersedia pada sistem Onlimo hanya memiliki hubungan yang terbatas dengan sebagian besar logam berat, sehingga belum mampu merepresentasikan kondisi pencemaran logam berat secara komprehensif. Analisis korelasi dan PCA juga menunjukkan bahwa karakteristik logam berat pada media air dan sedimen berbeda, dengan hubungan yang relatif lemah antara kedua media tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengambilan sampel sesaat (grab sampling) pada media air belum tentu mampu merepresentasikan akumulasi logam berat pada sedimen maupun dinamika pencemaran dalam jangka panjang. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini mengembangkan strategi integrasi sensor logam berat yang mengadaptasi framework pemantauan kualitas air yang telah dikemukakan dalam berbagai pedoman dan literatur internasional. Strategi yang diusulkan mencakup identifikasi kebutuhan data, penentuan lokasi prioritas, penentuan logam target, pemilihan teknologi sensor, instalasi dan integrasi sistem, penerapan quality assurance/quality control (QA/QC) dan pemeliharaan, serta pengelolaan data dan sistem peringatan dini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi sensor logam berat pada sistem Onlimo layak untuk dikembangkan, namun implementasinya perlu didahului oleh penguatan keandalan sistem melalui peningkatan kualitas data, pemeliharaan infrastruktur, serta penguatan aspek nonteknis yang meliputi tata kelola, sumber daya manusia, pendanaan, dan kelembagaan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menghasilkan strategi integrasi sensor logam berat, tetapi juga memberikan dasar ilmiah melalui evaluasi komprehensif sistem Onlimo, karakterisasi logam berat pada media air dan sedimen, serta penyusunan strategi integrasi sensor logam berat yang mendukung pengembangan sistem pemantauan kualitas air yang lebih andal, adaptif, dan berkelanjutan.
SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI
Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.
SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI
Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.
SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI
Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.
PENGARUH FERMENTASI MENGGUNAKAN SYMBIOTIC CULTURE OF BACTERIA AND YEAST TERHADAP KANDUNGAN DAN BIOAKTIVITAS KOMBUCHA BERBASIS CASCARA DARI KOPI ARABIKA (COFFEA ARABICA L.)
Cascara kopi arabika (Coffea arabica L.) merupakan produk samping industri pengolahan kopi yang memiliki potensi untuk divalorisasi menjadi minuman fungsional kombucha karena kandungannya yang kaya akan fitokimianya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh waktu fermentasi (0 hingga 6 hari) terhadap profil kimia, kandungan senyawa bioaktif, serta aktivitas biologis kombucha cascara arabika. Fermentasi dilakukan menggunakan kultur simbion bakteri dan khamir (SCOBY) pada suhu ruang (25°C). Analisis kinetika pertumbuhan SCOBY menunjukkan fase lag yang panjang (9,13 hari) diikuti oleh laju pertumbuhan spesifik ( ????) yang tinggi sebesar 4,05 g/L.hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses fermentasi berpengaruh signifikan (p < 0,05) terhadap penurunan pH dari 4,35 menjadi 3,62 dan peningkatan total asam dari 6,24% menjadi 44,56%, yang didominasi oleh pembentukan asam volatil. Kandungan Total Flavonoid Content (TFC) mengalami peningkatan signifikan (p < 0,05) dengan puncak pada hari ke-5. Sebaliknya, parameter Total Phenolic Content (TPC), total asam askorbat, serta aktivitas antioksidan (metode uji 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl dan ferric reducing antioxidant power) menunjukkan profil yang stabil dan tidak berbeda signifikan selama fermentasi (p > 0,05), mengindikasikan adanya mekanisme kesetimbangan dinamis dan proteksi matriks cascara terhadap oksidasi. Aktivitas antiinflamasi juga menunjukkan stabilitas yang inheren. Sementara itu, aktivitas antibakteri menunjukkan pola selektif dan bergantung waktu, di mana penghambatan efektif baru terdeteksi pada hari ke-6 terhadap bakteri Gram-positif Staphylococcus aureus dengan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) sebesar 250 ?L/mL, namun tidak efektif terhadap bakteri Gram-negatif Escherichia coli. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombucha cascara arabika memiliki potensi sebagai minuman fungsional dengan bioaktivitas yang konsisten pada fermentasi jangka pendek.
SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI
Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.
PERANCANGAN TAMAN KOTA DI JAKARTA DENGAN PENDEKATAN CONTEMPLATIVE LANDSCAPE MODEL (CLM) STUDI KASUS : TAMAN SUROPATI, JAKARTA PUSAT
Kesehatan mental menjadi isu yang semakin penting di kawasan perkotaan akibat tingginya tingkat stress masyarakat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau memiliki peran penting dalam nmendukung kesehatan mental. Salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk menilai kualitas lanskap yang mendukung kesehatan mental adalah Contemplative Landscape Model (Olszewska, 2023). Model ini mengevaluasi kualitas kontemplatif lanskap berdasarkan tujuh elemen utama yaitu : layers of the landscape (1), landform (2), biodiversity (3), color & light (4), compatibility (5), archetypal elements (6), serta character of peace & silence (7). Jakarta sebagai kota metropolitan terbesar di Indonesia dipilih sebagai konteks penelitian. Melalui kuesioner analisis pra-asesmen pada beberapa kota, Taman Suropati di Jakarta Pusat ditetapkan sebagai lokasi studi. Evaluasi CLM dilakukan pada 31 titik pengamatan yang tersebar di dalam taman. Hasil penilaian menunjukkan bahwa Taman Suropati berada pada kategori sedang, yang mengindikasikan bahwa taman memiliki potensi kontemplatif namun belum optimal dalam mendukung kesehatan mental pengunjung. Validasi eksploratif melalui kuesioner juga dilakukan untuk memperoleh perspektif pengguna terhadap kualitas ruang taman. Hasilnya menunjukkan bahwa kekuatan utama Taman Suropati terletak pada elemen archetypal elements, sementara beberapa elemen lain masih memiliki peluang untuk ditingkatkan. Sebagai taman kota yang berada di kawasan cagar budaya, pengembangan Taman Suropati memiliki sejumlah keterbatasan, terutama terkait elemen bentuk lahan (landform) dan struktur lanskap eksisting. Oleh karena itu, intervensi desain difokuskan pada elemen CLM yang masih dapat dikembangkan tanpa mengubah karakter utama taman. Proses perancangan menggunakan scene-based method, yaitu pendekatan yang berangkat dari persepsi visual pengguna pada berbagai titik pandang dan kemudian ditransformasikan ke dalam rencana tapak. Analisis spasial dilakukan untuk menentukan anchor point sebagai titik awal perancangan. Titik-titik dengan potensi skor CLM tinggi dikembangkan sebagai main contemplative nodes, sedangkan titik dengan potensi sedang hingga tinggi dikembangkan sebagai secondary contemplative nodes. Selanjutnya, seluruh node dihubungkan melalui rangkaian contemplative sequence untuk menciptakan pengalaman ruang yang mendukung refleksi, relaksasi, dan keterhubungan dengan alam. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pendekatan CLM dapat diterapkan sebagai kerangka desain dalam pengembangan taman kota untuk meningkatkan kualitas kontemplatif ruang dan mendukung kesehatan mental masyarakat tanpa mengubah struktur utama taman yang telah ada.
PENGEMBANGAN KEAMANAN DATA PADA SISTEM SERTIFIKASI BENIH PERKEBUNAN BERBASIS BLOCKCHAIN
Kualitas benih merupakan penentu utama keberhasilan produksi pertanian, sehingga sertifikasi benih yang kredibel menjadi instrumen penting dalam menjamin integritas, legalitas, dan keterlacakan benih perkebunan. Namun, sistem sertifikasi benih perkebunan yang berjalan saat ini masih memiliki kelemahan mendasar pada aspek keamanan data. Mekanisme pencatatan yang terpusat dan ketergantungan pada dokumen fisik menyebabkan potensi manipulasi data, pemalsuan dokumen, lemahnya audit trail, serta keterlacakan yang terbatas. Kasus pemalsuan benih di Kalimantan Timur tahun 2013 yang melibatkan ratusan ribu bibit, serta kasus serupa di Jawa Barat dan Jawa Timur, mengonfirmasi bahwa permasalahan ini bersifat struktural dan memerlukan intervensi arsitektural, bukan sekadar kebijakan prosedural. Penelitian ini bertujuan merancang sistem pendukung keamanan data pada proses sertifikasi benih perkebunan yang mampu menjaga integritas data, mendukung validitas dan verifikasi dokumen, menegakkan kontrol akses, menyediakan audit trail, serta menjamin keterlacakan data secara end-to-end dalam ekosistem multipihak. Hipotesis penelitian menyatakan bahwa penerapan sistem berbasis Hyperledger Fabric, InterPlanetary File System (IPFS) Private Cluster, dan prinsip Zero Trust Architecture (ZTA) mampu memperkuat keamanan data sertifikasi dibandingkan dengan mekanisme konvensional yang belum memiliki pencatatan terdistribusi, pembuktian integritas dokumen, dan verifikasi akses berkelanjutan. Penelitian menggunakan Design Research Methodology (DRM) sebagai pendekatan metodologis melalui empat tahapan utama: Research Clarification (RC) untuk merumuskan masalah dan kriteria keberhasilan; Descriptive Study I (DS-I) untuk menganalisis sistem sertifikasi saat ini, mengidentifikasi celah keamanan, dan membangun Reference Model Final (RMF); Prescriptive Study (PS) untuk merancang arsitektur sistem pendukung dan membangun Proof of Concept (PoC); serta Descriptive Study II (DS-II) untuk mengevaluasi efektivitas sistem berdasarkan indikator keamanan yang terukur. Analisis keamanan menggunakan pemodelan ancaman STRIDE, analisis SWOT, serta kerangka Goal-Oriented Requirements Engineering (GORE) untuk mendeskripsikan dan menurunkan kebutuhan sistem. ii Sistem yang dirancang mengusulkan arsitektur berlapis yang memisahkan lapisan interaksi pengguna, lapisan kontrol dan keamanan, lapisan logika pengelolaan data sertifikasi, lapisan penyimpanan dokumen terdistribusi, serta lapisan infrastruktur kepercayaan. Hyperledger Fabric digunakan sebagai permissioned blockchain untuk validasi, pencatatan transaksi, dan governance data sertifikasi lintas organisasi. IPFS Private Cluster berperan sebagai penyimpanan dokumen digital berbasis content addressing dengan mekanisme integritas menggunakan Content Identifier (CID) dan SHA-256. ZTA diterapkan melalui Keycloak sebagai Identity Provider, Policy Engine untuk evaluasi kebijakan akses dinamis, serta penegakan prinsip “never trust, always verify” yang diimplementasikan langsung pada chaincode Hyperledger Fabric. Evaluasi sistem dilakukan melalui tiga jenis pengujian. Pengujian fungsional dengan Black Box Testing menunjukkan bahwa seluruh skenario alur sertifikasi, mulai dari pencatatan batch benih, pengajuan sertifikasi, input hasil inspeksi, evaluasi, penerbitan sertifikat, penelusuran riwayat, hingga verifikasi dokumen berjalan sesuai hasil yang diharapkan. Pengujian keamanan membuktikan bahwa sistem mampu menolak akses tanpa otorisasi, membatasi tindakan berdasarkan kebijakan akses, mencegah eskalasi hak akses, melindungi integritas data final, serta menghasilkan audit log. Pengujian kinerja menggunakan Hyperledger Caliper menunjukkan operasi baca stabil pada seluruh beban uji dengan latensi rendah, sedangkan operasi tulis optimal hingga 25 TPS sebelum mengalami kejenuhan akibat proses konsensus, endorsement, dan commit ke buku besar. Tambahan overhead ZTA pada operasi baca tercatat sekitar 3,28 ms, yang dinilai tidak signifikan untuk kebutuhan verifikasi. Kebaruan penelitian terletak pada tiga aspek: (1) Non-Intrusive Security Integration, yaitu penguatan keamanan yang tidak mengubah struktur utama proses sertifikasi yang sudah berjalan; (2) Multi-Layer Security Orchestration, yaitu orkestrasi keamanan berlapis yang menghubungkan kontrol akses, audit, penyimpanan dokumen berbasis bukti integritas, dan pencatatan blockchain secara kohesif; serta (3) Domain-Specific Blockchain Governance, yaitu tata kelola permissioned blockchain yang dirancang sesuai karakter ekosistem sertifikasi benih perkebunan dengan endorsement policy multipihak dan isolasi kanal buku besar bersama. Penelitian ini menghasilkan model konseptual keamanan data, kerangka metodologis yang dapat direplikasi, serta rancangan PoC sistem pendukung keamanan data sertifikasi benih perkebunan. Hasil evaluasi membuktikan hipotesis bahwa kombinasi Hyperledger Fabric, IPFS Private Cluster, dan ZTA secara nyata memperkuat integritas data, validitas dokumen, kontrol akses, auditabilitas, dan keterlacakan data sertifikasi benih perkebunan secara end-to-end.
ANALISIS GAYA UJUNG DAN DEFLEKSI STRUKTUR PADA CONTOH KASUS STRUKTUR DOLPHIN TUBULAR MENGGUNAKAN METODE KEKAKUAN LANGSUNG BERBASIS MATLAB
Struktur dolphin tubular merupakan salah satu struktur lepas pantai yang berfungsi sebagai fasilitas tambat dan sandar kapal serta menerima beban lingkungan secara langsung, seperti beban gelombang dan arus. Beban tersebut dapat menyebabkan timbulnya gaya dalam dan defleksi yang harus diperhitungkan secara akurat agar struktur tetap memenuhi persyaratan keamanan. Analisis menggunakan metode kekakuan langsung banyak diterapkan dalam analisis struktur karena mampu merepresentasikan perilaku struktur melalui pendekatan matriks, namun perhitungan secara manual menjadi tidak efisien untuk struktur dengan jumlah elemen yang besar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan program berbasis MATLAB yang mampu menghitung gaya ujung elemen dan defleksi struktur dolphin tubular menggunakan metode kekakuan langsung. Metode yang digunakan meliputi penyusunan matriks kekakuan elemen, matriks transformasi, matriks insiden, pembentukan matriks kekakuan global, perhitungan beban lingkungan akibat gelombang dan arus menggunakan Persamaan Morison, serta penyelesaian perpindahan nodal untuk memperoleh gaya ujung elemen dan defleksi struktur. Program yang dikembangkan divalidasi melalui beberapa kasus pembebanan dan dibandingkan dengan hasil analisis menggunakan perangkat lunak SACS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program MATLAB mampu memodelkan struktur ruang tiga dimensi, menghitung gaya ujung elemen akibat beban lingkungan, serta menentukan defleksi pada setiap joint yang memiliki derajat kebebasan. Perbandingan hasil dengan SACS menunjukkan adanya perbedaan nilai gaya ujung elemen akibat perbedaan pendekatan perhitungan beban gelombang, di mana SACS menggunakan integrasi sepanjang elemen dengan distribusi hiperbolik, sedangkan program MATLAB menggunakan penyederhanaan distribusi beban berbentuk trapesium. Meskipun demikian, pola distribusi gaya dan besaran hasil yang diperoleh masih berada dalam batas yang dapat diterima sehingga program MATLAB yang dikembangkan dapat dinyatakan tervalidasi secara numerik dan layak digunakan sebagai alat analisis struktur dolphin tubular berbasis metode kekakuan langsung.
PENGARUH GOVERNMENT SUPPORT PADA KEUNGGULAN BERSAING INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH MELALUI PERAN MEDIASI DARI ENTREPRENEURIAL ORIENTATION
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Government Support terhadap Competitive Advantage melalui peran mediasi Entrepreneurial Orientation pada Industri Kecil dan Menengah (IKM). Government Support dalam penelitian ini dibedakan menjadi dukungan finansial dan non-finansial, sementara Entrepreneurial Orientation diukur melalui tiga dimensi utama, yaitu innovativeness, proactiveness, dan risk-taking. Competitive Advantage diukur melalui dua pendekatan, yaitu cost-based dan differentiation-based. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 176 pelaku IKM Jawa Barat. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan pemerintah yang bersifat non-finansial memiliki pengaruh signifikan terhadap seluruh dimensi Entrepreneurial Orientation, sedangkan dukungan finansial tidak berpengaruh signifikan. Entrepreneurial Orientation terbukti berperan penting dalam menciptakan Competitive Advantage, meskipun pengaruhnya berbeda pada setiap dimensi. Dimensi Innovativeness ditemukan berpengaruh hanya pada dimensi Differentiation-based, dimensi Proactiveness berpengaruh pada kedua dimensi Competitive Advantage, dan dimensi Cost-based Competitive Advantage. Selain itu, tidak ditemukan pengaruh langsung Government Support terhadap Competitive Advantage. Namun, ditemukan adanya pengaruh tidak langsung melalui Entrepreneurial Orientation pada dukungan non-finansial, yang menunjukkan pola mediasi penuh. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperkuat peran Entrepreneurial Orientation sebagai mekanisme kunci dalam mentransformasikan dukungan pemerintah menjadi keunggulan kompetitif. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa kebijakan pengembangan IKM perlu difokuskan pada penguatan kapasitas dan kapabilitas kewirausahaan, bukan hanya pada pemberian bantuan finansial.
SISTEM NAVIGASI SURVEI NIRAWAK BAWAH AIR UNTUK PEMETAAN PERAIRAN DANGKAL BERBASIS SLAM (SIMULTANEOUS LOCALIZATION AND MAPPING)
Survei bawah air pada perairan dangkal memerlukan sistem navigasi yang mampu menyediakan informasi posisi secara kontinu dan akurat. Sistem navigasi akustik konvensional seperti Long Baseline (LBL), Short Baseline (SBL), dan Ultra-Short Baseline (USBL) memiliki keterbatasan pada lingkungan perairan dangkal akibat kebutuhan infrastruktur tambahan dan biaya operasional yang tinggi. Sebagai alternatif, teknologi Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) memungkinkan estimasi posisi menggunakan integrasi sensor visual dan inersial. Capstone Design Project ini mendukung pengembangan sistem navigasi survei nirawak bawah air berbasis SLAM melalui penyusunan Dokumen Prosedural Navigasi Survei Nirawak Bawah Air Berbasis SLAM dan Dokumen Teknis Laporan Pilot Project. Sistem dikembangkan menggunakan kamera monokular GoPro HERO10 Black dan sensor Inertial Measurement Unit (IMU) yang diintegrasikan dengan algoritma ORB-SLAM3 berbasis Visual-Inersial SLAM. Tahapan pekerjaan meliputi kalibrasi kamera, kalibrasi IMU, kalibrasi ekstrinsik kamera-IMU, akuisisi data, pemrosesan trajektori, transformasi koordinat, dan analisis hasil. Hasil proyek berupa dokumen prosedural dan teknis yang dapat digunakan sebagai acuan implementasi, evaluasi, dan pengembangan sistem navigasi survei nirawak bawah air berbasis SLAM untuk pemetaan perairan dangkal.
SISTEM NAVIGASI SURVEI NIRAWAK BAWAH AIR UNTUK PEMETAAN PERAIRAN DANGKAL BERBASIS SLAM (SIMULTANEOUS LOCALIZATION AND MAPPING)
Survei bawah air pada perairan dangkal memerlukan sistem navigasi yang mampu menyediakan informasi posisi secara kontinu dan akurat. Sistem navigasi akustik konvensional seperti Long Baseline (LBL), Short Baseline (SBL), dan Ultra-Short Baseline (USBL) memiliki keterbatasan pada lingkungan perairan dangkal akibat kebutuhan infrastruktur tambahan dan biaya operasional yang tinggi. Sebagai alternatif, teknologi Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) memungkinkan estimasi posisi menggunakan integrasi sensor visual dan inersial. Capstone Design Project ini mendukung pengembangan sistem navigasi survei nirawak bawah air berbasis SLAM melalui penyusunan Dokumen Prosedural Navigasi Survei Nirawak Bawah Air Berbasis SLAM dan Dokumen Teknis Laporan Pilot Project. Sistem dikembangkan menggunakan kamera monokular GoPro HERO10 Black dan sensor Inertial Measurement Unit (IMU) yang diintegrasikan dengan algoritma ORB-SLAM3 berbasis Visual-Inersial SLAM. Tahapan pekerjaan meliputi kalibrasi kamera, kalibrasi IMU, kalibrasi ekstrinsik kamera-IMU, akuisisi data, pemrosesan trajektori, transformasi koordinat, dan analisis hasil. Hasil proyek berupa dokumen prosedural dan teknis yang dapat digunakan sebagai acuan implementasi, evaluasi, dan pengembangan sistem navigasi survei nirawak bawah air berbasis SLAM untuk pemetaan perairan dangkal.
SISTEM NAVIGASI SURVEI NIRAWAK BAWAH AIR UNTUK PEMETAAN PERAIRAN DANGKAL BERBASIS SLAM (SIMULTANEOUS LOCALIZATION AND MAPPING)
Survei bawah air pada perairan dangkal memerlukan sistem navigasi yang mampu menyediakan informasi posisi secara kontinu dan akurat. Sistem navigasi akustik konvensional seperti Long Baseline (LBL), Short Baseline (SBL), dan Ultra-Short Baseline (USBL) memiliki keterbatasan pada lingkungan perairan dangkal akibat kebutuhan infrastruktur tambahan dan biaya operasional yang tinggi. Sebagai alternatif, teknologi Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) memungkinkan estimasi posisi menggunakan integrasi sensor visual dan inersial. Capstone Design Project ini mendukung pengembangan sistem navigasi survei nirawak bawah air berbasis SLAM melalui penyusunan Dokumen Prosedural Navigasi Survei Nirawak Bawah Air Berbasis SLAM dan Dokumen Teknis Laporan Pilot Project. Sistem dikembangkan menggunakan kamera monokular GoPro HERO10 Black dan sensor Inertial Measurement Unit (IMU) yang diintegrasikan dengan algoritma ORB-SLAM3 berbasis Visual-Inersial SLAM. Tahapan pekerjaan meliputi kalibrasi kamera, kalibrasi IMU, kalibrasi ekstrinsik kamera-IMU, akuisisi data, pemrosesan trajektori, transformasi koordinat, dan analisis hasil. Hasil proyek berupa dokumen prosedural dan teknis yang dapat digunakan sebagai acuan implementasi, evaluasi, dan pengembangan sistem navigasi survei nirawak bawah air berbasis SLAM untuk pemetaan perairan dangkal.
SURVEI NIRAWAK BAWAH AIR : PERANCANGAN PROSEDUR PENJAGAAN JALUR SECARA AUTONOM DAN TERKENDALI DALAM PROSES AKUSISI DATA SPASIAL DENGAN TEKNOLOGI ROBOT BAWAH AIR DI LINGKUNGAN PERAIRAN DANGKAL
Survei bawah air pada perairan dangkal memerlukan sistem navigasi yang mampu menyediakan informasi posisi secara kontinu dan akurat. Sistem navigasi akustik konvensional seperti Long Baseline (LBL), Short Baseline (SBL), dan Ultra-Short Baseline (USBL) memiliki keterbatasan pada lingkungan perairan dangkal akibat kebutuhan infrastruktur tambahan dan biaya operasional yang tinggi. Sebagai alternatif, teknologi Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) memungkinkan estimasi posisi menggunakan integrasi sensor visual dan inersial. Capstone Design Project ini mendukung pengembangan sistem navigasi survei nirawak bawah air berbasis SLAM melalui penyusunan Dokumen Prosedural Navigasi Survei Nirawak Bawah Air Berbasis SLAM dan Dokumen Teknis Laporan Pilot Project. Sistem dikembangkan menggunakan kamera monokular GoPro HERO10 Black dan sensor Inertial Measurement Unit (IMU) yang diintegrasikan dengan algoritma ORB-SLAM3 berbasis Visual-Inersial SLAM. Tahapan pekerjaan meliputi kalibrasi kamera, kalibrasi IMU, kalibrasi ekstrinsik kamera-IMU, akuisisi data, pemrosesan trajektori, transformasi koordinat, dan analisis hasil. Hasil proyek berupa dokumen prosedural dan teknis yang dapat digunakan sebagai acuan implementasi, evaluasi, dan pengembangan sistem navigasi survei nirawak bawah air berbasis SLAM untuk pemetaan perairan dangkal.
ANALISIS STRUKTUR VERTIKAL KLOROFIL-A DAN DEEP CHLOROPHYLL MAXIMUM DI SELATAN SELAT LOMBOK PADA BULAN MARET TAHUN 2021
Selat Lombok memiliki dinamika oseanografi yang kompleks, dengan pencampuran vertikal yang sangat intensif akibat interaksi antara Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), pasang surut, dan topografi selat. Penelitian ini mengkaji variasi struktur vertikal klorofil-a dan karakteristik Deep Chlorophyll Maximum (DCM) di perairan Selatan Selat Lombok menggunakan 94 profil CTD beresolusi temporal 3 jam yang direkam pada 13–25 Maret 2021. Identifikasi DCM dilakukan berdasarkan kriteria Baldry dkk. (2024) yang disesuaikan dengan status kesuburan perairan. Dari 94 profil CTD, sebanyak 73 profil (78%) berhasil mengidentifikasi DCM yang valid. DCM ditemukan secara konsisten pada rentang kedalaman 19 66 m (rata-rata 37,5 m) dengan konsentrasi puncak 0,506–1,013 mg/m³. Analisis posisi vertikal DCM terhadap struktur kolom air menunjukkan distribusi vertikal yang sangat spesifik dan berhimpit: 10% profil berada di dalam Lapisan Pencampuran (Mixed Layer Depth/MLD), mayoritas sebesar 85% terperangkap di zona transisi (antara batas bawah MLD dan batas atas termoklin), dan 5% DCM berada di dalam lapisan termoklin. DCM selalu berada di atas pusat piknoklin dengan jarak rata-rata 62,0 m, dan korelasi Pearson antara keduanya sangat lemah (r = ?0,14). Hal ini menegaskan bahwa variabilitas vertikal DCM dominan diatur oleh kondisi fisis-optik: MLD bertindak sebagai penghalang pergerakan ke lapisan permukaan akibat turbulensi lapisan atas, sementara zona eufotik (1% PAR pada kedalaman 38–43 m) menjadi batas bawah pergerakan vertikal DCM. Analisis spektral Lomb-Scargle menunjukkan ketiadaan sinyal periodik yang signifikan pada deret waktu kedalaman DCM (daya puncak tertinggi 0,15, berada di bawah ambang batas signifikansi FAP 5% sebesar 0,24). Ketiadaan dominasi ini mengindikasikan bahwa pergerakan vertikal DCM tidak diatur oleh periodisitas pasang surut secara tunggal, melainkan akibat dari kompleksitas interaksi hidrodinamika lokal yang terus-menerus menekan batas ruang spasialnya. Perbandingan dengan data model CMEMS sepanjang tahun 2021 menghasilkan Z score sebesar 0,458, mengonfirmasi bahwa kondisi struktural DCM ini adalah representasi tipikal dari dinamika transisi monsun di perairan tersebut.