📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenANALISIS NEUTRONIK DESAIN MOLTEN SALT REACTORFUJI DENGAN KOMBINASI ISOTOP U DAN PU SEBAGAI BAHAN FISIL AWAL
Molten salt reactor (MSR), termasuk dalam daftar reaktor generasi IV, menggunakan kombinasi bahan bakar dan pendingin yang terkandung dalam lelehan garam. Pada penelitian, studi neutronik dilakukan pada MSR tipe FUJI-12 dan FUJI-U3 yang dikembangkan oleh International Thorium Molten-Salt Forum (ITMSF) Jepang menggunakan modul PIJ dan CITATION dari SRAC2006.. Pendingin yang digunakan adalah FliBe atau LiF-BeF2 dan dicampur dengan berbagai kombinasi bahan bakar berbasis U dan Pu dalam kondisi terpisah maupun tergabung. Penelitian ini membahas tentang penentuan komposisi bahan bakar optimum yang mencapai kritikalitas sesuai dengan referensi pada desain FUJI-12 dan FUJI-U3. Selanjutnya dilakukan tiga skenario refuelling (pengembalian atomic number density isotop tertentu ke kondisi awal) setiap 40 hari sekali. Skenario refuelling yang digunakan adalah pengembalian bahan bakar (tanpa thorium), thorium, dan bahan bakar serta thorium. Proses refuelling disederhanakan dengan menggunakan bahasa pemrograman Bash berbasis Linux. Power Peaking Factor (PPF) merupakan parameter yang berhubungan dengan stabilitas, keamanan, dan efisiensi reaktor. PPF yang rendah menunjukkan reaktor memiliki distribusi rapat daya yang baik agar spek keselamatan reaktor dari segi pemerataan daya reaktor MSR meningkat. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah setiap varian bahan bakar memiliki skenario refuelling unggulan tersendiri yang dapat menjaga kondisi superkritis pada reaktor lebih lama, menjaga konsistensi PPF reaktor walaupun desain tidak mempertimbangkan pemerataan spektrum fluks neutron.
PEMODELAN KONSEP BANDGAP EKONOMI MENGGUNAKAN ALGORITMA CLUSTERING UNTUK EVALUASI EFEKTIVITAS KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PEMERATAAN KESEJAHTERAAN EKONOMI DI WILAYAH INDONESIA
Ketimpangan ekonomi antarwilayah di Indonesia masih menjadi tantangan pembangunan, di mana kebijakan subsidi pemerintah yang bersifat seragam sering kali kurang efektif karena tidak mempertimbangkan kondisi spesifik tiap daerah. Penelitian ini mengembangkan konsep bandgap ekonomi, yaitu analogi dari teori bandgap material dalam fisika semikonduktor, untuk mengukur celah antara kondisi ekonomi aktual suatu wilayah dengan kondisi ideal yang ingin dicapai. Metode clustering K-Means++ digunakan untuk mengelompokkan 32 provinsi beserta kota/kabupaten di Indonesia (data tahun 2022) berdasarkan tujuh indikator kesejahteraan ekonomi, yaitu upah Minimum Provinsi, pengeluaran rumah tangga, tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, Gini Ratio, Indeks Pembangunan Manusia, dan Produk Domestik Regional Bruto. Hasil pemodelan menghasilkan dua kelompok wilayah, yaitu cluster dengan kebutuhan subsidi kecil dan cluster dengan kebutuhan subsidi besar, yang keabsahan pemisahannya dikonfirmasi melalui reduksi dimensi Principal Component Analysis (PCA). Pendekatan fungsi distribusi Fermi- Dirac kemudian diterapkan untuk mengubah tingkat kerentanan ekonomi wilayah menjadi indeks kebutuhan subsidi yang terukur, sehingga penentuan prioritas bantuan tidak lagi bersifat subjektif melainkan berbasis kuantifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi tidak selalu memiliki bandgap ekonomi kecil, karena kesejahteraan masyarakat turut dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, ketimpangan, dan tekanan biaya hidup. Model ini terbukti mampu mengidentifikasi wilayah prioritas subsidi secara objektif dan dapat menjadi dasar bagi perumusan kebijakan pemerataan ekonomi yang lebih tepat sasaran.
ALAT MEKANIS OTOMATIS UNTUK MENGATUR DAN MENGELUARKAN OBAT DALAM BERBAGAI UKURAN.
Ketidakpatuhan minum obat yang disebabkan oleh kompleksitas polifarmasi merupakan tantangan kritis dalam bidang kesehatan, khususnya bagi pasien lanjut usia yang membutuhkan dosis dan dimensi pil yang beragam. Sistem dispenser otomatis standar tidak memiliki adaptabilitas universal yang diperlukan untuk menangani beragam ukuran obat, sehingga menyebabkan kemacetan mekanis dan pengeluaran obat yang tidak konsisten. Makalah ini menyajikan perancangan dan validasi dispenser pil otomatis modular berpenggerak rantai yang direkayasa untuk mengakomodasi variasi geometri obat di dalam kemasan blister. Untuk memitigasi fluktuasi kecepatan kinematik dan getaran transversal yang disebabkan oleh efek poligon pada penggerak rantai, sebuah mekanisme penegang serpentine hasil cetak 3D yang dirancang khusus telah dimodelkan secara analitis dan diintegrasikan ke dalam sistem. Analisis videografi berkecepatan tinggi memvalidasi model kinematik teoretis, dengan menunjukkan variasi kecepatan operasional yang terstabilisasi sebesar 5,00%, yang mendekati prediksi teoretis. Pengujian keandalan tingkat sistem menggunakan konfigurasi pemuatan obat campuran secara acak pada 100 kali proses pengeluaran obat menghasilkan tingkat keberhasilan sebesar 99%. Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa integrasi antara perhitungan celah rel pemandu (guide rail) dan gaya penegangan yang disesuaikan berhasil menekan aksi kordal (chordal action), sehingga menghasilkan solusi yang andal dan dapat diskalakan secara mekanis untuk regimen polifarmasi
MODEL TERINTEGRASI GOVERNMENT VALUE CAPTURE DALAM RANTAI NILAI NIKEL (STUDI EXPORT VALUE, SMELTER MARGIN, DAN PENERIMAAN NEGARA 2017–2024)
dan sejak pelarangan ekspor bijih 2014 dan 2019 menempuh hilirisasi secara agresif. Namun selama 2017–2024 muncul paradoks fiskal: nilai ekspor melonjak ~848% hingga Rp 1.260,58 triliun, tetapi rasio penerimaan negara terhadap nilai ekspor turun dari 27,21% (2018) ke 11,59% (2024) jauh di bawah tolok ukur global (World Bank 20–25%, Chile 40%, Norwegia 78%). Akar masalahnya diduga fragmentasi data dan lemahnya koordinasi antar-lembaga, bukan hilirisasi itu sendiri. Penelitian ini bertujuan (1) mengidentifikasi faktor integrasi data penyebab rendahnya penerimaan negara; (2) merancang Nickel Value Chain Integrated Monitoring System (NVIMS) untuk mendeteksi anomali dan ketidaksesuaian pencatatan; serta (3) membangun prototipe dan mensimulasikan kesenjangan penerimaan yang dapat ditangkap, dengan mengkaji lima determinan (Export Value, Smelter Margin, Production Volume, Downstream Level, dan repatriasi DHE). Metode memadukan data panel 112 perusahaan nikel 2017–2024 (896 firm year observations) dari enam institusi dan harga LME/SHFE serta tujuh wawancara, dengan rekonsiliasi silang, Fishbone, dan simulasi what-if. Hasil penelitian mengidentifikasi 94 anomali dan empat ketidaksesuaian sistemik lintas lembaga, volume produksi, ekspor (?Rp 28 triliun/tahun), nilai ekspor realisasi DHE (?USD 5,7 miliar/Rp 85,5 triliun), pendapatan SPT nilai ekspor (?Rp 86,8 triliun/tahun; effective tax rate perusahaan asing hanya 5,99% terhadap tarif 22%), serta royalti actual normatif (?Rp 36 triliun/tahun) total kebocoran ?Rp 198,2 triliun per tahun dari sepuluh perusahaan terbesar. NVIMS tujuh lapis (37 modul, 122 tools) dirinci lengkap pada Layer 1–3 yang memenuhi 21 dari 36 sel Zachman. Simulasi tiga skenario memproyeksikan penerimaan menjadi Rp 63,6/79,5/95,4 triliun (rasio 20/25/30%) dan akumulasi Rp 150–250 triliun dalam lima tahun (ROI >800×; Perpres No. 76/2025). Kontribusi penelitian: model holistik government value capture, dataset terkomprehensif (112 perusahaan, delapan tahun) pertama untuk industri nikel Indonesia, serta penggunaan ganda Zachman Framework menjembatani Enterprise Architecture dan Extractive Industry Fiscal Governance.
SYNESTHESIA OF DELIGHT: PERPUSTAKAAN UMUM BERBASIS EXPERIENTIAL DESIGN SCHEMAS SEBAGAI RUANG BELAJAR INFORMAL DI BANDUNG
Bandung merupakan Kota besar dengan kepadatan penduduk tinggi yang didominasi oleh penduduk usia produktif. Berdasarkan data terbaru dari BPS (tahun 2024-2025), sekitar 65.62% atau sekitar 1.69 juta orang merupakan penduduk usia produktif di Bandung. Banyaknya jumlah penduduk ini perlu diwadahi dalam suatu ruang publik yang mendukung produktivitas dan tetap mementingkan kesejahteraan pengguna di dalamnya. Pertumbuhan minat baca penduduk indonesia juga ditandai dengan munculnya berbagai perpustakaan independen dan ruang baca swasta. Perkembangan minat baca dan produktivitas yang tidak diwadahi dalam ruang publik yang memadai ini kemudian memberikan celah bagi komersialisasi ruang publik dan pada akhirnya tidak inklusif. Dalam tugas akhir ini, solusi ruang yang diajukan adalah sebuah bangunan perpustakaan publik yang mampu mendefinisikan ulang konsep kaku perpustakaan konvensional atau pemahaman awam bahwa perpustakaan hanya sebagai gudang buku. Perpustakaan memiliki fungsi lain sebagai ruang rekreasi edukatif. Oleh karena itu, bangunan perpustakaan publik dalam tugas akhir ini juga difungsikan sebagai informal learning space. Dalam sintesisnya digunakan konsep experiential design schemas. Kerangka kerja ini menjadi alat untuk mengimplementasikan data spasial dan konsep yang ingin diterapkan ke dalam elemen arsitektural dengan melakukan gubahan dalam lima kelompok besar skema: kontras, gradient, flux, rhythm, dan sequence. Konsep-konsep dalam skema ini diterapkan untuk menghasilkan proses multisensori pada indra penerima dan menghasilkan pengalaman dalam penggunaan ruang. Perpustakaan publik dengan fungsi informal learning space ini mengorganisasikan elemen alami (angin dan cahaya matahari) dengankonsep dalam experiential design schemas sehingga bangunan dapat menjadi membran yang memfasilitasi interaksi antara pengguna dan elemen alami untuk meningkatkan kesejarhteraan pengguna. Bangunan ini terdiri dari 3 lantai utama dan rooftop. Lantai 1 merupakan area publik dengan cafe, lantai 2 berisi ruang baca dan ruang diskusi terbuka, serta lantai 3 berisi ruang baca dan lebih banyak ruang bersekat untuk privasi dan abience(ruang diskusi tertutup, pod individu, dan ruang multimedia). Ketiga lantai ini dihubungkan dengan satu elemen kunci dari konsep arsitektural yang digunakan, yaitu tangga multisensori. Kesimpulannya, bangunan perpustakaan publik dengan konsep eksperiensial desain skema ini mendemonstrasikan pendekatan konsep multisensori yang mampu meningkatkan kualitas belajar dan kesejahteraan pengguna di ruang publik yang dinamis.
STUDI EKSPERIMENTAL PERILAKU MONOTONIK DAN SIKLIK TANAH LEMPUNG LAUT TERKONSOLIDASI LEBIH DENGAN LAMINASI UNTUK DESAIN FONDASI LEPAS PANTAI
Perkembangan infrastruktur lepas pantai di Indonesia yang terus meningkat menuntut keandalan desain fondasi, yang sangat bergantung pada pemahaman perilaku tanah dasar laut, khususnya tanah lempung laut terkonsolidasi lebih (Overconsolidated Marine Clay, OCMC) yang umum dijumpai pada lingkungan sedimen laut. Pada beberapa lokasi, endapan OCMC tidak tersusun homogen, melainkan mengandung struktur laminasi berupa sisipan lanau dan pasir dengan ketebalan dan kontinuitas yang bervariasi. Kehadiran laminasi ini berpotensi mengubah perilaku mekanis tanah, baik pada pembebanan monotonik maupun siklik. Sementara itu, sebagian besar basis data dan model perilaku tanah yang digunakan dalam desain fondasi lepas pantai justru dikembangkan dari tanah lempung homogen, sehingga pengaruh laminasi terhadap respons OCMC belum dipahami secara memadai. Penelitian ini bertujuan mengkaji perilaku monotonik dan siklik tanah OCMC berlaminasi dari Teluk Bintuni, Indonesia, sekaligus mengevaluasi kesesuaian pendekatan Cyclic Contour Diagram (CCD) yang umum digunakan dalam analisis fondasi lepas pantai. Kajian difokuskan pada pengaruh struktur laminasi dan tingkat overkonsolidasi terhadap perkembangan regangan, kuat geser niralir, respons tekanan air pori, dan ketahanan siklik tanah. Penelitian ini juga menilai apakah CCD yang dikembangkan dari basis data Drammen Clay mampu merepresentasikan perilaku siklik tanah OCMC berlaminasi di lokasi penelitian. Program penelitian mencakup karakterisasi tanah melalui pengujian sifat indeks, identifikasi mineralogi dengan X-Ray Diffraction (XRD), serta identifikasi struktur internal sampel menggunakan Computed Tomography (CT-scan). Kondisi konsolidasi dievaluasi melalui interpretasi nilai Overconsolidation Ratio (OCR) dari data CPTu dan diverifikasi dengan hasil uji konsolidasi laboratorium. Perilaku monotonik dikaji melalui pengujian Direct Simple Shear (DSS) dan triaksial pada beberapa tingkat OCR, sedangkan perilaku siklik ditelaah melalui pengujian siklik DSS dan triaksial dengan berbagai kombinasi tegangan geser rata-rata dan tegangan geser siklik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tanah yang diteliti merupakan endapan OCMC dengan nilai OCR umumnya lebih besar dari dua, dengan struktur laminasi berupa sisipan lanau dan pasir non-plastis di dalam matriks lempung plastisitas tinggi. Hasil CT-scan memperlihatkan laminasi berbentuk sejajar hingga bergelombang. Pada pembebanan monotonik, peningkatan OCR menghasilkan kekakuan awal dan kuat geser niralir yang lebih tinggi, disertai kecenderungan perilaku yang lebih dilatif. Kuat geser niralir hasil DSS secara umum lebih rendah daripada hasil triaksial; perbedaan ini mengindikasikan adanya pengaruh anisotropi serta orientasi bidang geser terhadap struktur laminasi tanah. Pada pembebanan siklik, peningkatan amplitudo tegangan geser siklik mempercepat akumulasi regangan geser dan menurunkan jumlah siklus menuju kegagalan. Meskipun demikian, tanah OCMC berlaminasi dari Teluk Bintuni menunjukkan ketahanan siklik yang lebih tinggi dibandingkan Drammen Clay: pada rasio tegangan geser rata-rata, rasio tegangan geser siklik, dan tingkat OCR yang setara, jumlah siklus menuju kegagalan secara konsisten lebih besar daripada prediksi basis datanya. Temuan ini menunjukkan bahwa batas kegagalan siklik tanah OCMC berlaminasi berada pada posisi yang berbeda dari CCD referensi, sehingga baik CCD berbasis Drammen Clay maupun faktor penskalaan sederhana belum memadai untuk merepresentasikan perilaku siklik tanah di lokasi penelitian. Kebaruan penelitian ini terletak pada kajian eksperimental yang mengintegrasikan karakterisasi struktur laminasi, perilaku monotonik, dan perilaku siklik tanah OCMC berlaminasi dari Indonesia dalam satu kerangka evaluasi CCD. Penelitian ini memperlihatkan bahwa keberadaan laminasi memengaruhi respons mekanis tanah dan dapat menghasilkan perilaku siklik yang berbeda secara nyata dari tanah lempung homogen yang menjadi basis pengembangan CCD saat ini. Hasil penelitian memperdalam pemahaman perilaku tanah laut berlaminasi, memperkaya basis data perilaku siklik OCMC, serta memberikan justifikasi teknis bagi pengembangan CCD yang bersifat site-specific untuk meningkatkan keandalan desain fondasi lepas pantai pada kondisi tanah yang serupa.
KAJIAN STRATEGI TRANSPORT DEMAND MANAGEMENT BERDASARKAN AKSESIBILITAS DAN PREFERENSI PERJALANAN COMMUTER DALAM PENGGUNAAN BUS RAPID TRANSIT DI DAERAH KHUSUS JAKARTA
Daerah Khusus Jakarta menghadapi permasalahan transportasi perkotaan berupa tingginya penggunaan kendaraan pribadi, kemacetan lalu lintas, serta rendahnya proporsi perjalanan menggunakan angkutan umum. Meskipun Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta telah berkembang menjadi sistem angkutan umum berbasis jalan terbesar di Indonesia, efektivitasnya dalam mendorong peralihan moda masih dipengaruhi oleh tingkat aksesibilitas layanan dan preferensi perjalanan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi Transport Demand Management (TDM) berdasarkan aksesibilitas dan preferensi perjalanan commuter dalam penggunaan BRT di Daerah Khusus Jakarta. Secara khusus, penelitian ini menganalisis konektivitas jaringan jalan, aksesibilitas halte BRT dan feeder terhadap asal–tujuan perjalanan, preferensi perjalanan pengguna BRT, serta merumuskan strategi TDM yang dapat meningkatkan penggunaan angkutan umum berbasis jalan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan paradigma positivistik. Data diperoleh melalui survei terhadap 410 responden commuter di Daerah Khusus Jakarta. Analisis dilakukan menggunakan metode Space Syntax untuk mengidentifikasi tingkat konektivitas dan integrasi jaringan jalan, metode Isochrone dan Service Area untuk mengevaluasi aksesibilitas halte BRT dan feeder, serta Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi preferensi perjalanan. Selanjutnya, strategi TDM disusun menggunakan analisis SWOT yang didukung matriks IFAS, EFAS, dan TOWS. Hasil analisis Space Syntax menunjukkan bahwa sebagian besar koridor BRT Transjakarta berada pada ruas jalan dengan tingkat konektivitas dan integrasi yang tinggi, khususnya pada kawasan Jakarta Pusat, sehingga berperan penting dalam struktur jaringan transportasi perkotaan. Analisis aksesibilitas menunjukkan bahwa sebagian besar asal dan tujuan perjalanan masyarakat telah terjangkau oleh halte BRT melalui akses berjalan kaki maupun layanan feeder. Namun demikian, masih terdapat ketimpangan aksesibilitas pada beberapa wilayah pinggiran Jakarta yang memiliki jangkauan pelayanan lebih rendah dan tingkat ketergantungan yang lebihiv tinggi terhadap kendaraan pribadi. Hasil survei menunjukkan bahwa hanya 11,22% responden yang menggunakan feeder menuju halte, sedangkan 47,56% responden masih menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai halte BRT. Hasil SEM-PLS menunjukkan bahwa Facilitating Condition berpengaruh positif dan signifikan terhadap Attitude (? = 0,352; p = 0,001) serta berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Disruption Response Perception (? = -0,262; p = 0,013). Information Perception berpengaruh positif dan signifikan terhadap Attitude (? = 0,291; p = 0,001), Disruption Response Perception (? = 0,295; p = 0,003), dan Usage Behaviour (? = 0,246; p = 0,008). Selain itu, Performance Expectancy (? = -0,204; p = 0,006), Effort Expectancy (? = 0,173; p = 0,033), dan Perceived Value of Time (? = -0,151; p = 0,028) terbukti berpengaruh signifikan terhadap Anxiety pengguna. Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan variasi konstruk Usage Behaviour sebesar 59,7%, Attitude sebesar 54,5%, Anxiety sebesar 50,9%, Future Transit Use sebesar 49,6%, dan Disruption Response Perception sebesar 44,6%. Berdasarkan hasil analisis aksesibilitas dan preferensi perjalanan, strategi TDM yang direkomendasikan meliputi peningkatan konektivitas first-mile dan last-mile menuju halte BRT, penguatan integrasi layanan feeder, penyediaan informasi perjalanan secara real-time, peningkatan keandalan dan kenyamanan layanan, serta penerapan kebijakan pengendalian penggunaan kendaraan pribadi yang terintegrasi dengan pengembangan angkutan umum. Strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan penggunaan BRT Transjakarta, mendorong peralihan moda dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, serta mendukung terwujudnya sistem transportasi perkotaan yang berkelanjutan di Daerah Khusus Jakarta.
ANALISIS PERKUATAN MINIPILE SEBAGAI RIGID INCLUSION UNTUK TIMBUNAN AREA HOPPER DI ATAS TANAH LUNAK PADA PROYEK PERTAMBANGAN BATUBARA DI KALIMANTAN
Area Hopper pada proyek pertambangan batubara berfungsi sebagai titik transfer material batubara menuju struktur hopper, yang mensyaratkan jalan akses dengan elevasi lebih tinggi agar muatan dapat dituang secara gravitasi. Konstruksi timbunan tersebut perlu dibangun di atas lapisan tanah lunak setebal 5 meter yang berpotensi mengalami masalah stabilitas dan penurunan berlebih. Penelitian ini menganalisis sistem perkuatan berupa minipile sebagai rigid inclusion yang dikombinasikan dengan LTP dan MSE Wall untuk mengatasi permasalahan tersebut. Analisis dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu perhitungan analitik menggunakan metode Adapted Terzaghi dan Hewlett & Randolph, serta pemodelan numerik menggunakan PLAXIS 2D dengan model konstitutif Hardening Soil dan Soft Soil, yang dikalibrasi melalui pendekatan aksisimetri sebelum diterapkan pada model plane strain aktual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkuatan minipile–LTP meningkatkan faktor keamanan stabilitas global timbunan dari kondisi tidak aman (SF<1) menjadi SF=1,201 pada fase operasional dan SF=1,843 pasca konsolidasi jangka panjang, disertai reduksi penurunan diferensial secara signifikan dibandingkan zona tanpa perkuatan. Fenomena soil arching effect pada LTP berhasil dibuktikan melalui nilai SRR yang berada di bawah 1 pada ketiga pendekatan (PLAXIS2D dan Hewlett & Randolph = 0,20; Adapted Terzaghi = 0,17), didukung visualisasi trajektori tegangan utama yang melengkung menuju kepala tiang. Distribusi gaya aksial pada minipile juga mengonfirmasi mekanisme transfer beban tersebut, ditandai oleh peralihan negative skin friction menjadi positive skin friction pada neutral point yang letaknya bervariasi mengikuti kekakuan lapisan tanah di sekitar tiang. Penelitian ini juga membuktikan bahwa peningkatan ?' LTP dan pengurangan spasi minipile akan menurunkan tegangan yang dialami tanah di antara tiang, serta membuktikan bahwa keberadaan lapisan stiff clay alami di atas soft clay dapat mereduksi kebutuhan tebal & ?' LTP yang disyaratkan. Selain itu, penggunaan geotekstil spesifikasi standar dapat diterapkan tanpa perlu menggunakan spesifikasi tinggi.
PERANCANGAN ULANG FUNGSI PLANNING & GOVERNANCE PADA DIREKTORAT PRODUCT & TECHNOLOGY PT ASTRA DIGITAL ARTA BERDASARKAN ANALISIS PROSES BISNIS
PT Astra Digital Arta membentuk fungsi Planning & Governance (PnG) untuk mendukung perencanaan dan tata kelola pada Direktorat Product & Technology. Dalam pelaksanaannya, fungsi PnG masih berfokus pada koordinasi, monitoring administratif, dan pelaporan sehingga keterlibatannya dalam perencanaan strategis, pengawalan pengembangan produk digital, serta System Development Life Cycle (SDLC) belum optimal. Kondisi tersebut menyebabkan ketidaksesuaian antara fungsi yang dirancang dan peran yang dijalankan. Penelitian ini bertujuan merancang ulang fungsi PnG agar selaras dengan kebutuhan organisasi dan arah pengembangan bisnis perusahaan. Penelitian dilakukan melalui pemetaan proses bisnis dan Responsibility Assignment Matrix (RAM) existing, analisis kesenjangan, serta perancangan proses bisnis, Responsibility Assignment Matrix (RAM), job description, dan job specification usulan menggunakan Star Model. Data dikumpulkan melalui wawancara dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi PnG mengalami penyempitan peran dan belum terlibat secara optimal dalam perencanaan strategis maupun pengawalan pengembangan produk digital. Perancangan menghasilkan tiga strategic priorities dan tiga organizational capabilities yang diterjemahkan ke dalam usulan proses bisnis yang mencakup checkpoint pada tahapan System Development Lifecycle (SDLC), Responsibility Assignment Matrix (RAM), job description, dan job specification. Hasil perancangan diharapkan meningkatkan kesesuaian fungsi Planning & Governance dengan kebutuhan organisasi melalui proses bisnis pada Direktorat Product & Technology.
PERANCANGAN WELLNESS CENTER LANSIA BERBASIS HIDROTERAPI DI CIPANAS GARUT DENGAN PENDEKATAN WELL-BEING
Mengingat populasi lansia di Indonesia saat ini, khususnya di Jawa barat, menunjukkan peningkatan yang pesat, inovasi fasilitas bagi lansia yang berfokus pada kualitas hidup dan kemandirian, bukan hanya sekadar perawatan, sangatlah dibutuhkan. Namun sayangnya, fasilitas dalam pemenuhan kebutuhan lansia yang bersifat preventif maupun kuratif dalam penuaan sekunder, mendukung aspek sosial, serta ramah terhadap ergonomi lansia belum menjadi perhatian penting di Indonesia. Hal ini memungkinkan lansia berisiko mengalami isolasi sosial sehingga pemenuhan kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Salah satu langkah untuk melakukan pencegahan degenerasi tersebut adalah dengan melakukan terapi. Jenis terapi yang dianjurkan untuk lansia yang memiliki keterbatasan motorik adalah hidroterapi atau terapi air. Sementara itu, Cipanas Garut memiliki sebuah potensi alam yaitu sumber air panas alami yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung kegiatan terapi air (hydrothermal). Tujuan utama perancangan ini adalah menghasilkan desain interior wellness center berbasis hidroterapi sebagai fasilitas penampung kegiatan terapeutik dan hunian sementara lansia yang secara aktif mendukung karakter well-being di masa tua dan sebagai tindakan preventif dari penuaan sekunder. Metode perancangan yang digunakan adalah Design Thinking dengan pendekatan studi kualititaf-empiris yaitu penggunaan beberapa fasilitas hidroterapi di Garut sebagai studi kasus dan pembanding untuk menganalisis integrasi kegiatan hidroterapi, serta salah satu fasilitas serupa yaitu Rukun Place Bandung sebagai benchmark hunian sementara. Proses perancangan dimulai dengan studi literatur yang mendalam mengenai Universal Design dan Environmental Psychology bagi lansia. Proyek berlokasi di Cipanas kota Garut yang dikenal dengan potensi alam dan sumber air panas alami sebagai terapi kesehatan (wellness tourism). Peluang besar lainnya dari lokasi ini adalah belum adanya fasilitas yang serupa sehingga proyek ini dapat dikembangkan menjadi ide dan penelitian baru. Konsep desain yang diusung adalah Modern Tropis Heritage yang berlandaskan prinsip Kontrass Kognitif dan memanfaatkan keindahan alam Gunung Guntur. Konsep ini dipilih agar dapat menyelaraskan suasana dengan kondisi Cipanas yang alami sehingga terasa hangat dan terapeutik. Impelementasi desain akan difokuskan menjadi 3 elemen, yaitu unit terapi air panas (hidroterapi), dan unit hunian sementara, dan unit wellness pelengkap lainnya seperti unit workshop, spa, sauna, medical checkup, snoezelen room, perpustakaan, indoor garden, gym, yoga, dan salon. Unit terapi air panas yang merupakan poin utama dari perancangan ini, dirancang sebagai fasilitas yang meningkatkan kesehatan lansia. Sedangkan Unit hunian akan memaksimalkan ergonomis, keamanan, dan kemudahan sehingga kemandirian lansia meningkat. Terakhir, pelengkap kegiatan mencakup fasilitas yang mendorong karakter well-being dan relaksasi. Prinsip kontras kognitif yaitu penggunaan kontras luminan tinggi dan material alami akan digunakan untuk mendukung navigasi, stimulasi, dan kenyamanan lansia secara menyeluruh. Hasil rancangan ini diharapkan dapat menjadi solusi prototipe perancangan fasilotas lansia yang holistic di Jawa Barat.
FORMULASI PRODUKSI BERAS ANALOG BERBASIS FERCAF MENGGUNAKAN EKSTRUDER SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN LOKAL
Ketergantungan impor beras mengancam ketahanan pangan Indonesia. Diversifikasi pangan melalui pemanfaatan surplus ubi kayu menjadi tepung FERCAF sebagai bahan baku beras analog merupakan solusi potensial. Penelitian ini bertujuan mengembangkan formulasi beras analog berbasis FERCAF menggunakan ekstruder. Penelitian ini dilakukan dua tahap. Tahap pertama mengoptimasi komposisi tepung (FERCAF 100%, 85%, 70%), rasio maizena:kacang hijau (1:2), kadar air (16%, 18%, 20%), dan prekondisi (tanpa, 10 menit). Formulasi terbaik (70% FERCAF, 20% kacang hijau, 10% maizena, kadar air 20%, prekondisi 10 menit) dipilih berdasarkan karakteristik fisik dan uji hedonik. Tahap kedua menambahkan hidrokoloid CMC atau karagenan (3%, 4%) pada formulasi tersebut. Produk diuji dimensi, derajat pecah, warna, tekstur (TPA), daya rehidrasi, daya kembang, dan sensori oleh 50 panelis. Hasil menunjukkan penambahan CMC 3% menghasilkan beras analog terbaik: dimensi bulir seragam (0,22×0,78×0,25 cm), derajat pecah 16,55%, kapasitas rehidrasi 424,58%, daya kembang 156,69%, hardness 11.839,55 g, adhesiveness mendekati nol, dan nilai ?E terkecil (mentah 1,8; matang 2,8). Uji sensori mengonfirmasi penerimaan tertinggi dan 72% panelis memilihnya sebagai alternatif beras konvensional. Karagenan justru menghasilkan nasi terlalu kohesif dan gagal mempertahankan bulir. Kesimpulannya, formulasi optimum adalah 70% FERCAF, 20% tepung kacang hijau, 10% maizena, air 20%, prekondisi 10 menit, dan CMC 3%, menghasilkan beras analog dengan karakteristik mendekati beras komersial.
MODEL EVALUASI TRANSFORMASI DIGITAL PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA BARAT MENGGUNAKAN PENDEKATAN STRUCTURE – CONDUCT – PERFORMANCE (SCP)
Transformasi digital pada sektor pemerintahan menjadi salah satu upaya strategis untuk meningkatkan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan, kualitas pelayanan publik, efisiensi organisasi, serta kualitas pengambilan keputusan. Namun, evaluasi transformasi digital pada pemerintah daerah masih didominasi oleh pengukuran tingkat kematangan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) yang belum sepenuhnya mampu menjelaskan hubungan antara kesiapan organisasi, implementasi transformasi digital, dan kinerja organisasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan Model Evaluasi Transformasi Digital Pemerintah Daerah dengan menggunakan paradigma Structure–Conduct–Performance (SCP) sebagai kerangka evaluasi untuk menganalisis keterkaitan antara kesiapan organisasi (Structure), implementasi transformasi digital (Conduct), dan kinerja organisasi (Performance) pada perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma post-positivisme. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, studi dokumentasi, serta penilaian menggunakan rubrik evaluasi terhadap sembilan perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yaitu Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Kesehatan, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil, Dinas Sosial, Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta Badan Penghubung. Dimensi Structure dievaluasi melalui tata kelola SPBE, proses bisnis layanan, mindset dan budaya digital, serta kapasitas organisasi digital. Dimensi Conduct dievaluasi melalui pemanfaatan sistem digital, pemanfaatan data dan informasi, serta manajemen pengetahuan. Sementara itu, dimensi Performance dievaluasi melalui efisiensi operasional, keterpaduan proses lintas unit, produktivitas kerja, kualitas pengambilan keputusan, dan kualitas layanan. Hasil evaluasi dianalisis menggunakan paradigma SCP sebagai kerangka analisis, kemudian dipetakan ke dalam kuadran hubungan Structure–Conduct dan Conduct–Performance untuk mengidentifikasi karakteristik implementasi transformasi digital pada masing-masing perangkat daerah. ii Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan organisasi yang lebih baik cenderung diikuti oleh implementasi transformasi digital yang lebih tinggi, sedangkan implementasi transformasi digital yang lebih baik cenderung menghasilkan peningkatan kinerja organisasi. Meskipun demikian, hubungan tersebut tidak selalu berlangsung secara linier. Beberapa perangkat daerah mampu mencapai implementasi transformasi digital yang tinggi meskipun masih memerlukan penguatan pada aspek kesiapan organisasi, sedangkan perangkat daerah lain menunjukkan bahwa implementasi transformasi digital yang telah berkembang belum sepenuhnya menghasilkan peningkatan kinerja yang optimal. Hasil pemetaan kuadran menunjukkan bahwa DPMPTSP, Dinas Kesehatan, dan Diskominfo berada pada kategori Stable Digital–High Impact Digital, Dinas Perhubungan dan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil berada pada pola Active Transformation–High Impact Digital, Bappeda berada pada pola Active Transformation–Transition Phase, sedangkan Dinas Sosial, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta Badan Penghubung berada pada pola Structural Gap–Low Utilization. Penelitian ini menghasilkan Model Evaluasi Transformasi Digital Pemerintah Daerah yang mengintegrasikan dimensi Structure, Conduct, dan Performance sebagai kerangka evaluasi implementasi transformasi digital. Model evaluasi yang dihasilkan tidak hanya memberikan gambaran mengenai tingkat kesiapan organisasi, implementasi transformasi digital, dan kinerja organisasi secara terpisah, tetapi juga mampu menjelaskan hubungan antardimensi serta menjadi dasar dalam penyusunan prioritas intervensi kebijakan sesuai karakteristik masing-masing perangkat daerah. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendekatan evaluasi transformasi digital pada sektor publik yang lebih komprehensif dibandingkan pengukuran yang hanya berfokus pada tingkat kematangan SPBE. Selain memberikan kontribusi akademis dalam pengembangan kerangka evaluasi transformasi digital berbasis paradigma Structure–Conduct–Performance (SCP), hasil penelitian ini juga memberikan kontribusi praktis sebagai acuan bagi pemerintah daerah dalam mengevaluasi implementasi transformasi digital secara lebih menyeluruh serta menyusun strategi peningkatan transformasi digital yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing perangkat daerah.
KEADILAN SPASIAL AKSES BUS BAGI PEREMPUAN DI KOTA BANDUNG BERBASIS ANALISIS PENYEDIAAN, PERMINTAAN, DAN PELUANG
Transportasi umum merupakan salah satu infrastruktur dasar perkotaan yang berperan penting dalam menghubungkan penduduk dengan berbagai peluang sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan kota. Namun, perempuan sering kali tidak terakomodasi secara memadai dalam perencanaan transportasi karena kebijakan transportasi yang bersifat umum dan tidak menangkap ketimpangan akses yang dialami kelompok pengguna tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keadilan akses transportasi umum bus terhadap perempuan di Kota Bandung melalui pendekatan analisis penyediaan, permintaan, dan peluang. Digunakan pendekatan kuantitatif berbasis keadilan spasial dengan mengembangkan analisis bivariat dengan mengintegrasikan tiga komponen aksesibilitas bagi perempuan. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak QGIS dengan unit spasial sebanyak 19.806 grid heksagonal di seluruh Kota Bandung yang diintegrasikan ke dalam kelurahan. Hasil menunjukkan bahwa layanan bus di Kota Bandung belum terdistribusi secara spasial yang adil, dengan 9,10% wilayah Kota Bandung masuk dalam kategori prioritas intervensi tinggi dalam analisis tipologi kawasan bivariat melalui agregasi komponen permintaan, peluang, dan penyediaan. Kawasan dengan intervensi tinggi sebagian besar terletak di sebagian pinggiran bagian selatan, barat dan timur Kota Bandung. Distribusi nilai indeks aksesibilitas mengindikasikan bahwa ketimpangan di Kota Bandung tidak bersifat ekstrem, namun memerlukan pendekatan kebijakan yang menyeluruh dan merata. Penemuan atas penelitian ini mempertegas bahwa perencanaan transportasi umum massal di Kota Bandung belum sepenuhnya responsif terhadap kebutuhan spesifik perempuan dan diharapkan menjadi pertimbangan kebijakan pengembangan sistem bus yang berkeadilan di Kota Bandung.
FORMULASI PRODUKSI BERAS ANALOG BERBASIS FERCAF MENGGUNAKAN EKSTRUDER SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN LOKAL
Ketergantungan impor beras mengancam ketahanan pangan Indonesia. Diversifikasi pangan melalui pemanfaatan surplus ubi kayu menjadi tepung FERCAF sebagai bahan baku beras analog merupakan solusi potensial. Penelitian ini bertujuan mengembangkan formulasi beras analog berbasis FERCAF menggunakan ekstruder. Penelitian ini dilakukan dua tahap. Tahap pertama mengoptimasi komposisi tepung (FERCAF 100%, 85%, 70%), rasio maizena:kacang hijau (1:2), kadar air (16%, 18%, 20%), dan prekondisi (tanpa, 10 menit). Formulasi terbaik (70% FERCAF, 20% kacang hijau, 10% maizena, kadar air 20%, prekondisi 10 menit) dipilih berdasarkan karakteristik fisik dan uji hedonik. Tahap kedua menambahkan hidrokoloid CMC atau karagenan (3%, 4%) pada formulasi tersebut. Produk diuji dimensi, derajat pecah, warna, tekstur (TPA), daya rehidrasi, daya kembang, dan sensori oleh 50 panelis. Hasil menunjukkan penambahan CMC 3% menghasilkan beras analog terbaik: dimensi bulir seragam (0,22×0,78×0,25 cm), derajat pecah 16,55%, kapasitas rehidrasi 424,58%, daya kembang 156,69%, hardness 11.839,55 g, adhesiveness mendekati nol, dan nilai ?E terkecil (mentah 1,8; matang 2,8). Uji sensori mengonfirmasi penerimaan tertinggi dan 72% panelis memilihnya sebagai alternatif beras konvensional. Karagenan justru menghasilkan nasi terlalu kohesif dan gagal mempertahankan bulir. Kesimpulannya, formulasi optimum adalah 70% FERCAF, 20% tepung kacang hijau, 10% maizena, air 20%, prekondisi 10 menit, dan CMC 3%, menghasilkan beras analog dengan karakteristik mendekati beras komersial.
PERANCANGAN VIDEO MAPPING BERBASIS STORYTELLING INTERAKTIF SEBAGAI MEDIA PENGENALAN NILAI MORAL UNTUK ANAK USIA 4-6 TAHUN
Korupsi merupakan persoalan kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk aspek integritas individu. Pembentukan integritas tidak terjadi secara instan pada masa dewasa, melainkan berkembang melalui internalisasi nilai moral sejak usia dini. Usia 4–6 tahun merupakan periode penting dalam perkembangan moral anak, namun karakteristik belajar mereka menuntut pendekatan yang konkret, visual, dan partisipatif. Perancangan ini bertujuan merancang media video mapping berbasis storytelling interaktif sebagai sarana pengenalan nilai moral bagi anak usia 4–6 tahun. Nilai moral yang dikenalkan meliputi empati, kejujuran, dan tanggung jawab yang diposisikan sebagai fondasi pembentukan integritas individu. Metode perancangan yang digunakan adalah Double Diamond yang meliputi tahap discover, define, develop, dan deliver. Hasil perancangan berupa media video mapping berdurasi 4 menit 28 detik yang memadukan animasi dua dimensi, storytelling interaktif, serta pendamping sebagai fasilitator melalui pendekatan read aloud. Media ini dirancang sesuai dengan karakteristik kognitif dan moral anak usia dini melalui pengalaman visual, naratif, dan partisipatif. Perancangan ini menunjukkan bahwa video mapping berbasis storytelling interaktif memiliki potensi sebagai media pengenalan nilai moral yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini.