📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4,000 dokumen

EVALUASI PENERAPAN ADAPTASI BERBASIS KOMUNITAS DALAM MENDUKUNG KETAHANAN IKLIM PERKOTAAN PADA PROGRAM KAMPUNG IKLIM DI KOTA CIREBON

Perubahan iklim menjadi salah satu isu global yang telah memengaruhi kehidupan di bumi terutama perkotaan seperti halnya di Kota Cirebon sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) di Pesisir Utara Jawa Barat. Kota ini tengah mengupayakan penguatan ketahanan iklim perkotaan melalui Program Kampung Iklim (ProKlim). Meskipun begitu, ProKlim menghadapi isu terhambatnya keberlanjutan program akibat arahan yang bersifat top-down dibandingkan bottom-up. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi adaptasi berbasis komunitas (Community Based Adaptation/CBA) pada ProKlim di Kota Cirebon dalam mendukung ketahanan iklim perkotaan secara berkelanjutan. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan pengambilan data sekunder kemudian dianalisis dengan metode analisis konten dan analisis deskriptif kualitatif untuk menilai tiga proses adaptasi, yaitu perencanaan, implementasi, serta monitoring dan evaluasi (monev) berdasarkan enam indikator faktor pendukung dari hasil telaahan literatur. Hasil analisis menunjukkan bahwa ProKlim Lestari Kelurahan Larangan telah merepresentasikan implementasi adaptasi berbasis komunitas dengan baik melalui penggerakan faktor pendukung di tiap proses adaptasinya, meskipun masih terdapat beberapa tantangan dalam pengelolaannya. Tingkat implementasi adaptasi berbasis komunitas mencapai penilaian kategori sedang hingga tinggi dengan skor rata-rata sebesar 2,61 dari 3,00. Proses perencanaan mendapatkan rata-rata skor tertinggi (2,83), diikuti oleh implementasi (2,60), dan terakhir monev (2,33). Temuan ini menunjukkan perlunya strategi optimalisasi pada tahap monev melalui peningkatan transparansi dan pertukaran informasi, penguatan koordinasi lintas aktor, integrasi mekanisme kelembagaan, serta penguatan kapasitas dan pembelajaran komunitas berbasis praktik sosial yang telah berkembang di tingkat lokal. Penelitian ini memberikan perspektif menyeluruh melalui kerangka evaluasi terstruktur mengenai pengembangan dan penyelenggaraan ProKlim berbasis komunitas dalam mendukung ketahanan iklim perkotaan, terutama di Kota Cirebon.

2026
👤 Penulis: Zeba Liqueiza Shakira Kudus
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Program Lingkungan

MODEL REGENERASI KOLABORATIF SEBAGAI STRATEGI KEBERLANJUTAN DI KAMPUNG BATIK CIWARINGIN

Batik Ciwaringin merupakan batik yang berkembang melalui pesantren di Desa Babakan sejak abad ke-18 dan hingga kini masih dijalankan sebagai bagian dari kehidupan sehari- hari masyarakat Desa Ciwaringin. Namun, minat generasi muda untuk terlibat dalam praktik membatik semakin menurun. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti stigma terhadap profesi perajin batik, tersedianya pilihan profesi lain yang lebih menjanjikan secara ekonomi, proses belajar yang membutuhkan waktu lama dan ketekunan di tengah kondisi zaman yang serba instan, keterbatasan akses ke pasar, serta program pemberdayaan yang cenderung tidak berkelanjutan. Permasalahan ini menunjukkan bahwa regenerasi perajin menjadi isu utama yang menentukan keberlanjutan praktik membatik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses regenerasi perajin batik di Kampung Batik Ciwaringin, memetakan sistem regenerasi yang terbentuk, serta merumuskan model konseptual demi terciptanya keberlanjutan praktik membatik di Kampung Batik Ciwaringin. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama menggunakan pendekatan etnografi untuk memetakan praktik membatik, sistem regenerasi dan kolaborasi, serta instrumen untuk mengukur potensi regenerasi. Tahap kedua menggunakan pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR) melalui aktivitas lokakarya untuk memetakan sistem kolaborasi yang dianggap paling ideal dan sesuai dengan kebutuhan komunitas saat ini. Tahap ketiga berupa sintesis dan refleksi untuk merumuskan model konseptual yang menjadi inti dari penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, pemetaan praktik membatik menunjukkan bahwa praktik tersebut tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga dengan sistem nilai yang melandasinya. Melalui analisis axial coding, tipologi lima nilai kriya berkelanjutan dari Zhan dan Walker (2018), yaitu nilai spiritual, lokal-kultural, sosial, ekonomi, dan lingkungan, berkembang dengan ditemukannya nilai keenam, yaitu nilai kolaboratif. Nilai ini muncul dari keterlibatan berbagai aktor dalam praktik membatik dan menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan bagian yang terintegrasi dari praktik tersebut. Kedua, dengan analisis menggunakan Model Paduan Regenerasi dari Nurcahyanti (2022), Teori Pemetaan Aktor, dan Asset-Based Community Development (ABCD) dari Yusuf dkk. (2021) ditemukan bahwa pemetaan sistem regenerasi menunjukkan proses regenerasi berlangsung melalui empat sistem yang berbeda namun saling berkaitan. Empat sistem regenerasi yang teridentifikasi membentuk empat konsep, yaitu bahwa regenerasi di Kampung Batik Ciwaringin terjadi melalui pemanfaatan teknologi, kemitraan strategis, ketahanan ekonomi, dan edukasi informal. Hasil ini juga menunjukkan bahwa regenerasi merupakan proses yang melibatkan berbagai aktor, sumber daya, dan bentuk pembelajaran. Hasil tersebut kemudian dikembangkan menjadi instrumen untuk mengukur potensi regenerasi, yang dapat digunakan untuk melihat kesiapan komunitas untuk terlibat dalam program pemberdayaan terkait regenerasi dan kolaborasi. Ketiga, sistem regenerasi dikembangkan melalui kolaborasi internal dan eksternal, dengan lokakarya berbasis komunitas dan partisipatif. Analisis menggunakan Model Paduan Regenerasi dari Nurcahyanti (2022) serta Taksonomi Bloom dari Anderson dan Krathwohl (2001) menunjukkan bahwa proses pembelajaran dalam aktivitas regenerasi berlangsung secara bertahap dari pemahaman hingga penciptaan. Dari proses ini lahir sistem regenerasi melalui kolaborasi serta model regenerasi kolaboratif yang menempatkan praktik membatik sebagai pusat, dengan integrasi nilai, aktor, dan sistem pembelajaran. Kebaruan penelitian ini terletak pada tiga hal. Pertama, pengembangan nilai kolaboratif merupakan dimensi keenam dalam tipologi nilai kriya terkait keberlanjutan. Kedua, integrasi berbagai model analisis untuk memetakan sistem regenerasi dan kolaborasi secara komprehensif. Ketiga, perumusan sistem regenerasi melalui kolaborasi (internal dan eksternal) serta model regenerasi kolaboratif. Penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan batik Ciwaringin berakar pada kemampuan komunitas dalam menjaga proses regenerasi melalui mekanisme kolaboratif dalam kehidupan sehari-hari. Regenerasi tidak hanya berupa pewarisan keterampilan, tetapi juga proses pembentukan kembali praktik melalui interaksi lintas generasi dan kolaborasi antaraktor. Kontribusi utamanya terletak pada pergeseran cara pandang dari regenerasi sebagai proses linier menjadi sistem hidup berbasis praktik yang dinamis dan kontekstual. Dampak penelitian ini adalah memberikan dasar operasional, konseptual, dan metodologis bagi pengembangan program pemberdayaan dan pendidikan di bidang kriya, serta kebijakan pelestarian batik yang berfokus pada penguatan sistem regenerasi berbasis komunitas secara kolaboratif dan kontekstual.

2026
👤 Penulis: Nadia Arfan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PROYEKSI KONSENTRASI KLOROFIL-A PERMUKAAN LAUT BERDASARKAN MODEL IKLIM CMIP6 SSP1-2.6 DAN SSP5-8.5 TAHUN 2015-2050 DI PERAIRAN SELATAN JAWA

Perairan Selatan Jawa memiliki variabilitas klorofil-a tinggi akibat pengaruh sistem angin monsun dan interaksi laut dan atmosfer, sehingga perubahan iklim berpotensi memengaruhi produktivitas primer di masa depan. Kajian mengenai proyeksi klorofil-a di wilayah ini menggunakan model CMIP6 masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi spasial-temporal klorofil-a serta responsnya terhadap fenomena upwelling menggunakan tujuh model CMIP6 (SSP1-2.6 dan SSP5-8.5) pada periode 2015–2050, yang divalidasi dengan data ERA5, ESA OC- CCI, WOA23, CMEMS (2015–2024), dan CTD in situ (2018, 2019, 2022). Metode analisis data meliputi analisis bias, tren, TSS, dan EPV. Hasil menunjukkan GFDL- ESM4 memiliki kinerja terbaik dengan nilai TSS 0,686 pada SSP1-2.6 dan 0,767 pada SSP5-8.5, sedangkan CMCC-ESM2, CanESM5, CanESM5-1, dan KIOST- ESM terendah dengan TSS < 0,1. Proyeksi jangka panjang data MME menunjukkan adanya tren penurunan konsentrasi klorofil-a sebesar ?0,0002 mg/m3/tahun pada skenario SSP1-2.6 dan ?0,0003 mg/m3/tahun pada SSP5-8.5 selama periode 2015– 2050. Berbeda dengan hasil tren data MME periode 2015-2024 yang menunjukkan peningkatan konsentrasi klorofil-a permukaan laut pada kedua skenario. Hal ini mengindikasikan adanya potensi penurunan konsentrasi klorofil-a di masa depan pada kedua skenario emisi akibat perubahan iklim. Variabilitas klorofil-a akibat upwelling di Perairan Selatan Jawa belum direpresentasikan secara optimal oleh model CMIP6, yang ditunjukkan oleh kecenderungan underestimasi konsentrasi klorofil-a selama musim timur. Kondisi ini berkaitan dengan bias angin timur ekuatorial yang menyebabkan pemompaan ekman tersimulasi lebih kuat di wilayah lepas pantai dan lebih lemah di daerah pesisir.

2026
👤 Penulis: Siti Haerunisa
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data

PENGARUH STRUKTUR PELINDUNG PANTAI TERHADAP KARAKTERISTIK GELOMBANG

Wilayah pesisir di Indonesia semakin rentan terhadap abrasi akibat peningkatan energi gelombang dan kenaikan muka air laut, sehingga diperlukan upaya mitigasi melalui penggunaan struktur pelindung pantai yang efektivitasnya dipengaruhi oleh parameter fisik seperti tinggi struktur, lebar struktur, dan koefisien redaman. Penelitian ini mengkaji pengaruh parameter tersebut terhadap karakteristik transmisi gelombang menggunakan model Persamaan Air Dangkal satu dimensi. Solusi analitik diperoleh dari Linear Shallow Water Equations (LSWE) untuk struktur berbentuk persegi dengan menerapkan syarat kontinuitas pada antarmuka domain, sedangkan solusi numerik dihitung menggunakan metode volume hingga pada grid setengah dengan skema upwind dan limiter Koren. Selain itu, model Nonlinear Shallow Water Equations (NSWE) dengan suku redaman digunakan untuk mensimulasikan transformasi gelombang serta melakukan validasi terhadap hasil eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan tinggi struktur, lebar struktur, dan koefisien redaman menyebabkan penurunan koefisien transmisi gelombang (Kt), yang menunjukkan peningkatan efektivitas struktur dalam meredam gelombang. Skema Koren mampu memberikan hasil propagasi gelombang yang lebih akurat dibandingkan skema upwind karena menghasilkan difusi numerik yang lebih kecil. Secara keseluruhan, model Persamaan Air Dangkal mampu merepresentasikan fenomena transmisi dan peredaman gelombang pada struktur terendam dengan baik.

2026
👤 Penulis: Khaznaya Shafaa Kaylasani
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN MODEL KESIAPAN ADOPSI TEKNOLOGI PENINGKATAN PRODUKTIVITAS SUSU PADA PETERNAK SAPI PERAH SKALA KECIL DI PROVINSI JAWA BARAT

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya tingkat adopsi teknologi peternakan pada peternak sapi perah skala kecil di Jawa Barat, yang berdampak pada belum optimalnya produktivitas susu dan pengelolaan limbah ternak. Penelitian sebelumnya masih terbatas dalam mengintegrasikan kesiapan individu, persepsi teknologi, dan faktor kontekstual dalam analisis adopsi teknologi peternakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengembangkan model konseptual adopsi teknologi peternakan yang digunakan untuk mendukung perumusan implikasi manajerial dalam meningkatkan produktivitas susu dan pengelolaan limbah ternak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner kepada peternak sapi perah skala kecil. Variabel penelitian dikembangkan melalui integrasi Technology Readiness Index (TRI), Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT), dan variabel kontekstual berupa government support dan pro-environmental behavior (PEB-Waste). Data penelitian sebanyak 160 responden dianalisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimism dan innovation berpengaruh positif terhadap performance expectancy dan effort expectancy, sedangkan insecurity berpengaruh negatif terhadap performance expectancy. Kemudian, performance expectancy, social influence, dan government support berpengaruh positif terhadap intention to adopt teknologi. Hasil penelitian juga menunjukkan terdapat perbedaan karakteristik dan tingkat kesiapan peternak dalam mengadopsi teknologi. Hasil penelitian ini memberikan implikasi bagi para pembuat kebijakan untuk menyusun implementasi teknologi peternakan yang disesuaikan dengan karakteristik dan tingkat kesiapan peternak sapi perah skala kecil di Jawa Barat.

2026
👤 Penulis: R Agi Supriyadi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STUDI PERENCANAAN SISTEM POLDER TERINTEGRASI UNTUK PENGENDALIAN BANJIR KAWASAN CILINCING, JAKARTA UTARA

Jakarta Utara memiliki risiko banjir tinggi akibat topografi rendah, pasang surut air laut, dan land subsidence masif. Penelitian ini bertujuan merencanakan sistem pengendalian banjir terintegrasi di DTA Pompa Bulak Cabe seluas 61,05 Km2 (wilayah Cilincing) melalui optimalisasi sistem polder pada Kali Cakung Drain dan Kali Blencong menggunakan pemodelan hidrodinamika dua dimensi (2D) HEC-RAS. Analisis hidrologi dengan hujan rencana periode ulang 25 tahun sebesar 270,87 mm menunjukkan volume limpasan tinggi akibat nilai Curve Number yang besar, dipicu oleh padatnya pemukiman dan buruknya daya serap tanah. Evaluasi hidraulika eksisting melalui simulasi 2D mengonfirmasi bahwa kapasitas Kali Cakung Drain tidak mampu menampung akumulasi debit banjir dari seluruh sub-catchment dan memicu genangan yang meluas di bantaran sungai. Sebagai solusi visioner dan berkelanjutan, direncanakan kombinasi polder terintegrasi berupa normalisasi, tanggul dengan faktor keamanan tinggi, rumah pompa, dan kolam detensi yang dirancang ramah lingkungan berdasarkan batas kecepatan izin material. Infrastruktur ini terbukti mampu mereduksi volume banjir hingga 91,73% serta menyusutkan area genangan berdasarkan hasil simulasi numerik 2D, dengan spesifikasi kolam detensi minimal 1.400.000 m³ dan kapasitas pompa pengeluaran 30 m³/s. Proyek ini membutuhkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebesar Rp288.575.498.892,80 dan menghasilkan nilai Net Present Value (NPV) terbesar senilai Rp816 Miliar, sehingga dinilai optimal secara teknis dan finansial untuk jangka panjang.

2026
👤 Penulis: Djauhari Adham Roseno
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERENCANAAN DAN SIMULASI KINERJA HIDRAULIK EMBUNG DENGAN PELIMPAH ITB GOLDEN RATIO MENGGUNAKAN FLOW-3D(STUDI KASUS: EMBUNG CIPALASARI - KAWASAN JATILUHUR INDUSTRIAL SMART CITY)

Pembangunan Kawasan Jatiluhur Industrial Smart City (JISC), Kabupaten Purwakarta, berpotensi meningkatkan limpasan permukaan dan risiko banjir akibat perubahan tata guna lahan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja hidraulik Embung Cipalasari dengan menerapkan pelimpah tipe ITB Golden Ratio Spillway. Analisis hidrologi dilakukan menggunakan data hujan satelit CHIRPS terkoreksi untuk memperoleh hujan rencana kala ulang 2 hingga 100 tahun. Debit limpasan DAS Cipalasari dan kawasan industri Blok D-JISC serta routing embung dimodelkan menggunakan PCSWMM untuk memperoleh elevasi muka air di atas mercu pelimpah sebagai kondisi batas simulasi analisis hidraulik pelimpah. Evaluasi kinerja hidraulik pelimpah dilakukan menggunakan FLOW-3D dengan menganalisis distribusi kecepatan aliran, tekanan, bilangan Froude, potensi kavitasi dan indeks kavitasi. Hasil simulasi menunjukkan elevasi muka air di atas mercu pelimpah berkisar antara 0,5 m hingga 1,7 m. Kecepatan aliran maksimum mencapai 7,29 m/s pada skenario Tr-100, sedangkan tekanan minimum terjadi pada hilir mercu pelimpah. Analisis bilangan Froude menunjukkan perubahan aliran dari kondisi subkritis menjadi superkritis pada saluran peluncur, kemudian kembali menjadi subkritis setelah memasuki kolam olak. Simulasi cavitation potential menunjukkan bahwa area hilir mercu hingga awal saluran peluncur merupakan zona yang paling rentan terhadap potensi kavitasi. Namun, hasil perhitungan indeks kavitasi menghasilkan nilai minimum sebesar 4,90 yang masih berada di atas batas kritis terjadinya kavitasi untuk setiap titik tinjau pada pelimpah. Berdasarkan hasil tersebut, pelimpah ITB Golden Ratio menunjukkan kinerja hidraulik yang baik dan aman terhadap risiko kavitasi pada seluruh skenario simulasi yang ditinjau

2026
👤 Penulis: Muhammad Ravi Yuvhendmindo
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Kinerja Hidraulik 🏷️ Pelimpah Itb Golden Ratio

ANALISIS BIOEKONOMI GREEN PRODUCT BERBASIS LEBAH TANPA SENGAT (TRIGONA SP.) UNTUK PENGEMBANGAN INDUSTRI PANGAN BERKELANJUTAN

Perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pangan sehat mendorong kebutuhan akan sistem produksi pangan yang lebih berkelanjutan. Bioekonomi menjadi salah satu pendekatan yang relevan karena mengintegrasikan pemanfaatan sumber daya hayati dengan penciptaan nilai ekonomi secara bertanggung jawab. Lebah tanpa sengat (Trigona sp.) merupakan sumber daya hayati yang berpotensi menghasilkan madu, propolis, dan bee bread dengan kandungan bioaktif tinggi, sekaligus memberikan manfaat ekologis melalui jasa penyerbukan. Namun, pemanfaatan lebah tanpa sengat di Indonesia masih belum optimal, dan kajian yang mengintegrasikan konsep green product, Life Cycle Assessment (LCA), serta bioekonomi pada produk lebah tanpa sengat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi karakteristik green product pada usaha lebah tanpa sengat, (2) menganalisis dampak lingkungan produk menggunakan pendekatan LCA, dan (3) menilai kinerja bioekonomi usaha perlebahan tanpa sengat. Penelitian dilakukan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, melalui survei kuantitatif, wawancara, dan observasi lapangan. Analisis lingkungan dilakukan berdasarkan standar ISO 14040/44, sedangkan analisis bioekonomi dilakukan dengan mengintegrasikan nilai tambah ekonomi dan dampak Global Warming Potential (GWP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem perlebahan tanpa sengat telah memenuhi karakteristik green product dari aspek input, proses, dan output. Pada aspek lingkungan, produksi madu menghasilkan jejak karbon sebesar 0,357 kg CO?-eq per kg, sedangkan propolis sebesar 3,675 kg CO?-eq per kg. Kontribusi emisi terbesar berasal dari tahap pengolahan dan pengemasan, sementara fase budidaya memiliki dampak yang sangat kecil. Dari sisi bioekonomi, nilai rasio indikator ekonomi terhadap lingkungan madu sebesar Rp42.297 per kg CO?-eq dan propolis sebesar Rp86.394 per kg CO?-eq menunjukkan menunjukkan bahwa meskipun propolis memiliki emisi lebih tinggi, nilai ekonomi yang dihasilkan per satuan emisi juga lebih besar. Temuan ini menegaskan adanya trade-off antara dampak lingkungan dan nilai ekonomi, dimana keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh rendahnya emisi, tetapi juga oleh kemampuan sistem dalam menghasilkan nilai tambah yang optimal terhadap tekanan lingkungan.

2026
👤 Penulis: Annisa Jati Pascalis
🏷️ Bioekonomi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

MODEL KOLABORASI DESAIN UNTUK KRIYA BERKELANJUTAN: HARMONISASI PAGUYUBAN DAN PATEMBAYAN DI KAMPUNG WISATA YOGYAKARTA

Disertasi ini meneliti dan merumuskan model kolaborasi desain untuk kriya berkelanjutan dalam konteks kampung wisata di Yogyakarta, dengan nilai kebudayaan Jawa sebagai landasan utama. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh isu krisis lingkungan (Jogja Darurat Sampah) di kawasan perkotaan, problematika sosiokultural dalam kolaborasi, serta tuntutan keberlanjutan ekonomi di sektor kriya. Yogyakarta juga merepresentasikan relasi yang kuat antara kriya, kebudayaan Jawa, dan pariwisata berbasis komunitas. Dengan menggunakan paradigma sosiologis, penelitian ini mengangkat dinamika dialektis dan ketegangan ideologis dalam praktik kolaborasi antarkelompok artisan kriya di antara komunitas/paguyuban (Gemeinschaft) yang mengutamakan nilai kebersamaan (guyub) dengan industri/patembayan (Gesellschaft) yang berorientasi pada nilai keuntungan ekonomi. Kolaborasi dalam paguyuban dibangun melalui relasi sosial dan ikatan emosional dalam struktur informal. Sementara itu, kolaborasi dalam konsep patembayan mengembangkan pola kerja sama yang lebih rasional, profesional, dan terstruktur secara formal. Secara konseptual, perbedaan orientasi antara kedua kelompok sosial ini berpotensi menimbulkan konflik, sehingga kolaborasi desain menjadi tidak strategis dan menghambat pengembangan berkelanjutan bagi kelompok artisan kriya. Oleh karena itu, perbedaan orientasi kelompok artisan perlu diidentifikasi berdasarkan karakteristiknya agar dapat menentukan posisi dalam spektrum paradigma paguyuban dan patembayan, sehingga tercipta harmonisasi dalam kolaborasi desain untuk kriya berkelanjutan. Namun demikian, kerangka analisis untuk mengklasifikasikan karakteristik kelompok artisan, pola kolaborasi, dan karya kriya dalam kedua paradigma ini masih perlu dikembangkan. Secara kontekstual, paguyuban dan patembayan dalam kebudayaan Jawa di kampung wisata Yogyakarta juga memiliki kearifan lokal yang memperkaya diskursus akademik global dalam kolaborasi desain dan kriya berkelanjutan. Berdasarkan permasalahan penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan (a) mengidentifikasi dan mengklasifikasikan karakteristik kelompok artisan kriya di Yogyakarta berdasarkan tiga aspek, meliputi ideologi kelompok (people), proses kolaborasi (process), dan hasil karya (product), dalam paradigma paguyuban dan i patembayan; serta (b) merumuskan model kolaborasi desain untuk kriya berkelanjutan sebagai strategi harmonisasi pengembangan kelompok artisan dalam konteks kampung wisata di Yogyakarta (place). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi etnografi dan Participatory Action Research (PAR). Pengumpulan data penelitian melibatkan 38 partisipan dari 18 kelompok artisan kriya di Yogyakarta melalui observasi partisipatoris, wawancara mendalam, dokumentasi karya, serta diskusi kelompok terarah. Secara sistematis, kelompok artisan kriya sebagai partisipan penelitian juga dikategorikan ke dalam empat dimensi keberlanjutan yang mencakup budaya, lingkungan, sosial, dan ekonomi. Selanjutnya, analisis data etnografis dilakukan secara berjenjang menggunakan teknik kodifikasi dengan tiga wujud kebudayaan sebagai kerangka konseptual, yaitu nilai ideologis kelompok (mentifact) sebagai aspek makro, praktik sosial (sociofact) sebagai aspek meso, dan karya (artifact) sebagai aspek mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kelompok, kolaborasi dan karya artisan kriya di Yogyakarta tidak bersifat dikotomis, melainkan memiliki spektrum yang dinamis di antara domain paguyuban dan domain patembayan. Berdasarkan analisis data etnografi, penelitian ini memetakan 12 komponen indikator klasifikasi untuk mengidentifikasi karakteristik kelompok, kolaborasi, dan karya kriya. Model klasifikasi ini memposisikan kelompok artisan pada spektrum paguyuban kriya dan patembayan kriya. Secara mikro (artifact), klasifikasi ini juga memetakan elemen elemen dalam identifikasi karakteristik karya, yakni: Identitas, Material, Produk, Estetika, Konsep, dan Teknik yang disingkat menjadi IMPEKT. Berdasarkan temuan etnografis dan proses PAR sebagai uji model, disertasi ini merumuskan panduan klasifikasi kelompok artisan dan model Loka Desain untuk kriya berkelanjutan yang terdiri dari enam tahapan, yakni: menemukan bersama (co finding), mendefinisikan bersama (co-defining), mengembangkan ide bersama (co ideation), berkarya bersama (co-crafting), mengevaluasi bersama (co-evaluation), dan merencanakan bersama (co-planning). Melalui refleksi dinamika antara domain paguyuban kriya dan patembayan kriya, sintesis penelitian ini merekomendasikan pembentukan pakaryan kriya (studio kolektif) sebagai entitas baru yang mengharmoniskan jiwa gotong royong dan nilai kebersamaan (guyub) dengan kepentingan ekonomi melalui komersialisasi hasil karya kolaboratif. Sebagai strategi desain, pembentukan pakaryan kriya merupakan proses transformasi sosial yang tidak menghilangkan karakteristik paguyuban kriya maupun patembayan kriya. Dengan demikian, disertasi ini berkontribusi secara teoretis dalam memperluas diskursus kolaborasi desain dan kriya berkelanjutan dalam konteks kampung wisata berbasis nilai-nilai kebudayaan Jawa di Yogyakarta. Secara praktis, disertasi ini menghasilkan panduan klasifikasi kelompok artisan kriya serta model kolaborasi desain sebagai strategi pengembangan kelompok artisan kriya yang berkelanjutan di kampung wisata.

2026
👤 Penulis: Kristian Oentoro
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN INTERIOR KAPAL PENUMPANG RO-RO MERAK–BAKAUHENI: DESAIN ADAPTASI RUANG PENUMPANG SAAT LONJAKAN ARUS MUDIK.

Pelabuhan Merak merupakan salah satu pelabuhan penyeberangan tersibuk di Indonesia yang berperan sebagai penghubung utama antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Setiap tahunnya pelabuhan ini melayani jutaan penumpang, baik yang melakukan perjalanan dengan kendaraan maupun tanpa kendaraan. Aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Merak juga memiliki pola lonjakan penumpang yang relatif dapat diprediksi, terutama pada periode peak season seperti libur Lebaran dan Tahun Baru. Kondisi tersebut menuntut ketersediaan fasilitas pelabuhan yang mampu mengakomodasi pergerakan penumpang secara efektif, aman, dan nyaman. Namun pada kondisi eksisting, khususnya pada terminal eksekutif Pelabuhan Merak, ditemukan permasalahan terkait pengelolaan ruang dan alur sirkulasi penumpang. Area terminal yang bercampur dengan fungsi komersial seperti pusat perbelanjaan menyebabkan alur perjalanan penumpang dari kedatangan hingga proses keberangkatan menjadi kurang jelas dan terfragmentasi. Padahal, proses naik kapal ferry memiliki tahapan yang cukup kompleks sehingga membutuhkan alur ruang yang jelas agar penumpang dapat bergerak dengan mudah, terutama pada saat terjadi lonjakan jumlah pengguna. Berdasarkan permasalahan tersebut, perancangan ini bertujuan untuk merancang Pelabuhan Ferry Eksekutif Merak yang lebih berorientasi pada kebutuhan pengguna dengan mempertimbangkan pola lonjakan penumpang yang terjadi secara berkala setiap tahun. Pendekatan yang digunakan dalam perancangan ini menitikberatkan pada pengalaman pengguna serta kemampuan ruang untuk beradaptasi terhadap peningkatan kapasitas pada periode peak season. Dengan demikian, perancangan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas fasilitas serta kenyamanan pengguna dalam melakukan perjalanan melalui Pelabuhan Merak.

2026
👤 Penulis: Izzah Aisyah Yulis
🏷️ Desain Ruang 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

DESIGNING KEY SUCCESSION PLANNING PRIORITIES FOR A FAMILY-OWNED FACILITY SERVICE COMPANY WITH REFERENCE TO PT EI

PT EI merupakan perusahaan jasa fasilitas milik keluarga yang di Indonesia yang saat ini sedang mengalami proses transisi kepemimpinan dari pendiri kepada generasi penerus. Tanpa adanya perencanaan suksesi yang baik, perusahaan berisiko menghadapi tantangan terkait keberlanjutan jangka panjang, kesinambungan bisnis, serta pelestarian nilai-nilai organisasi yang telah menjadi dasar perusahaan sejak didirikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan utama yang memengaruhi kesiapan perencanaan suksesi di PT EI serta mengubah hambatan tersebut menjadi prioritas strategis dalam penyusunan roadmap perencanaan suksesi yang praktis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan tujuh informan penting yang berasal dari pihak kepemilikan keluarga dan manajemen operasional. Hasil wawancara dianalisis menggunakan Metodologi Gioia melalui proses pengkodean tiga tahap, di mana dimensi agregat dihubungkan dengan empat premis dalam kerangka Parallel Planning Process (PPP) yang dikembangkan oleh Carlock dan Ward (2001). Selanjutnya, temuan penelitian diprioritaskan menggunakan Impact–Effort Matrix untuk menentukan urutan implementasi strategi. Hasil penelitian ini adalah sembilan hambatan kritis dalam keempat premis PPP, terutama yang berkaitan dengan budaya perusahaan yang belum terformalkan, transisi kepemimpinan yang sedang berlangsung, ketergantungan yang kuat pada pendiri, visi dan strategi yang belum selaras, serta belum adanya sistem formal untuk tata kelola, logistik, dan sumber daya manusia. Hambatan-hambatan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi sembilan usulan strategi dan dikelompokkan ke dalam enam prioritas strategis, yaitu institusionalisasi budaya perusahaan, formalisasi struktur organisasi, penyelarasan visi bersama, pengembangan tata kelola keluarga, perancangan ulang prosedur operasional, serta pembentukan jalur pengembangan kepemimpinan. Berdasarkan Impact–Effort Matrix, tiga prioritas pertama dikategorikan sebagai Quick Wins, sedangkan tiga prioritas lainnya termasuk Major Projects, sehingga membentuk prioritas roadmap untuk meningkatkan kesiapan suksesi dan keberlanjutan jangka panjang PT EI.

2026
👤 Penulis: Eriana Mayutasya Putri
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

EVALUASI DAN OPTIMASI KINERJA STEAM WASHING BERBASIS PEMODELAN PADA PLTP DARAJAT UNIT 1

Kualitas uap merupakan faktor penting yang memengaruhi keandalan jangka panjang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), terutama pada lapangan bertipe steam-dominated, dimana terbawanya kontaminan bersama aliran uap dapat menyebabkan deposisi, scaling, korosi, serta penurunan kinerja turbin. Penelitian ini mengevaluasi dan mengoptimasi kinerja sistim steam washing yang dipasang sebelum separator pada PLTP Darajat Unit 1 menggunakan pendekatan berbasis pemodelan. Analisis dilakukan dengan menggabungkan karakterisasi droplet secara hidraulik, perhitungan termodinamika pencampuran uap-air, serta mekanisme penangkapan partikel melalui difusi, intersepsi, dan impaksi inersia. Pengaruh distribusi ukuran partikel diperhitungkan menggunakan model Rosin–Rammler. Hasil menunjukkan bahwa konfigurasi nozzle MP343 yang digunakan saat ini memiliki efisiensi penangkapan partikel sebesar 44,54%, yang menghasilkan efisiensi penurunan kontaminan keseluruhan sebesar 40,1% setelah proses pemisahan, serta menurunkan konsentrasi klorida dari 0,2167 mg/L menjadi 0,1298 mg/L. Pada tahap optimasi pertama, nozzle MP375 teridentifikasi sebagai konfigurasi terbaik pada kondisi operasi eksisting dengan peningkatan efisiensi penangkapan menjadi 51,73% dan efisiensi penurunan keseluruhan menjadi 46,6%. Namun demikian, konsentrasi klorida yang dihasilkan masih berada di atas batas yang direkomendasikan MHI, yaitu sebesar 0,1158 mg/L. Tahap optimasi kedua dilakukan dengan mengevaluasi seluruh konfigurasi nozzle pada tekanan injeksi 20 bar. Hasilnya menunjukkan bahwa nozzle MP375 kembali memberikan kinerja terbaik dengan efisiensi penangkapan sebesar 79,89% dan efisiensi penurunan keseluruhan sebesar 71,9%. Pada kondisi tersebut, konsentrasi klorida, besi, silika, dan TDS berhasil diturunkan menjadi masing-masing 0,061; 0,003; 0,003; dan 0,149 mg/L. Validasi lapangan lebih lanjut direkomendasikan untuk mengonfirmasi hasil prediksi model sebelum implementasi pada skala operasional.

2026
👤 Penulis: Iyan Engkuma
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN DINAMIKA EVAPOTRANSPIRASI PADA LAHAN GAMBUT TROPIS DI KALIMANTAN TENGAH BERDASARKAN CITRA LANDSAT 8/9

Ekosistem rawa gambut tropis memiliki peran esensial dalam regulasi siklus hidrologi, namun sangat rentan terhadap degradasi akibat intervensi tata guna lahan yang eksploitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika struktur vegetasi, tren nilai evapotranspirasi (ET), serta mengidentifikasi interaksi ekofisiologis antara tingkat kerapatan kanopi (Forest Canopy Density/FCD) dengan fluks hidrologi di Taman Nasional Sebangau (TNS) sebagai kawasan pelestarian alam dan Ex-Mega Rice Project (EMRP) sebagai kawasan terdegradasi, selama rentang periode 2013–2025. Pendekatan kuantitatif dilakukan melalui analisis data spasial citra satelit dan diuji menggunakan statistik inferensial parametrik (Korelasi Pearson, Paired Sample T-Test, One-Way ANOVA, dan Post-Hoc Tukey HSD) pada taraf signifikansi 5% (? = 0,05). Hasil penelitian memperlihatkan divergensi trayektori ekologis yang ekstrem. TNS menunjukkan stabilitas dan daya lenting lanskap yang tinggi, didominasi oleh Hutan Rawa Gambut (>80%) dengan FCD tinggi (77–82%) yang menghasilkan fluks ET superior dan stabil (4,149–4,494 mm/hari). Sebaliknya, EMRP terfragmentasi parah akibat kegagalan suksesi alami yang didominasi oleh Semak Belukar (32%) dan Perkebunan Sawit (31%), menghasilkan FCD moderat (63–72%) dan fluks ET yang lebih rendah (3,374–4,114 mm/hari). Hasil uji beda menyatakan bahwa perubahan tutupan lahan mendikte nilai neraca air secara signifikan (p < 0,05), di mana Lahan Terbuka mengalami defisit transpirasi paling kritis. Analisis korelasi membuktikan adanya hubungan linear positif yang sangat kuat (r = 0,880) antara kerapatan tajuk dan nilai ET. Disimpulkan bahwa arsitektur tajuk di atas permukaan tanah bertindak sebagai regulator mutlak sirkulasi tata air gambut. Temuan ini merekomendasikan bahwa rekayasa restorasi hidrologi di lanskap terdegradasi wajib diintegrasikan dengan revegetasi struktural masif guna memulihkan mesin pompa biologis ekosistem.

2026
👤 Penulis: Kevin Hartama Tjahyadi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

VARIABILITAS DAN DINAMIKA UPWELLING DI CEKUNGAN MENTAWAI (1995–2024)

Perairan Cekungan Mentawai merupakan salah satu wilayah di Samudra Hindia timur yang dipengaruhi oleh sistem monsun, variabilitas iklim, dan dinamika arus regional sehingga berpotensi mengalami upwelling. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi variabilitas musiman dan antartahunan upwelling s erta menganalisis faktor-faktor oseanografi yang memengaruhinya selama periode 1995–2024. Penelitian menggunakan data reanalisis CMEMS dan ERA5 berupa suhu potensial, salinitas, arus laut, dan angin permukaan. Analisis dilakukan melalui perhitungan transpor Ekman, Ekman pumping, komposit musiman, serta cross-correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upwelling berkembang pada musim timur dan mencapai intensitas maksimum pada musim peralihan II, yang ditandai oleh penurunan suhu permukaan laut, peningkatan salinitas, transpor Ekman yang bergerak menjauhi pantai, dan Ekman upwelling bernilai positif. Hubungan antara Ekman upwelling dan suhu permukaan laut menunjukkan korelasi negatif yang sangat kuat (r = -0,89) dengan lag 2 bulan. Pada skala antartahunan, IOD positif memberikan pengaruh yang lebih dominan dibandingkan ENSO, dengan korelasi DMI terhadap anomali suhu permukaan laut sebesar -0,56 (lag 0), sedangkan korelasi ONI sebesar 0,37 (lag 7 bulan). Selain itu, pola arus ekuatorial menunjukkan karakteristik Wyrtki Jet pada April–Mei dan Oktober–November yang diduga turut memodulasi distribusi massa air dan perkembangan upwelling di Cekungan Mentawai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upwelling di Cekungan Mentawai dikendalikan oleh interaksi angin monsun, dinamika Ekman, variabilitas iklim, dan arus regional.

2026
👤 Penulis: Noval Lefrand
🏷️ Hidrologi 🏷️ Ekspedisi Oseanografi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR PENGOLAHAN LIMBAH PERTANIAN PADA KAWASAN SENTRA PRODUKSI PANGAN SUMATERA SELATAN

Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) Sumatera Selatan merupakan salah satu kawasan strategis nasional dalam mendukung ketahanan pangan, dengan padi sebagai salah satu komoditas pangan pokok yang dibudidayakan. Aktivitas budidaya padi menghasilkan limbah jerami yang pada beberapa wilayah masih ditangani melalui pembakaran terbuka sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran udara serta hilangnya bahan organik yang dapat dimanfaatkan kembali dalam sistem pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan infrastruktur pengolahan limbah pertanian berupa fasilitas komposter jerami padi pada KSPP Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan melalui identifikasi lahan sawah berdasarkan tiga skenario, meliputi (1) skenario kebutuhan energi pangan, (2) Business as Usual (BAU), dan (3) Protecting Paddy Fields Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PPF-KP2B); estimasi potensi limbah jerami; perhitungan kebutuhan komposter; serta penentuan arahan lokasi komposter melalui analisis kesesuaian lahan dan location-allocation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan lahan sawah berdasarkan skenario kebutuhan energi pangan lebih rendah dibandingkan luas sawah hasil skenario lainnya hingga tahun 2044. Skenario PPFKP2B mempertahankan luas sawah lebih besar dibandingkan BAU sehingga menghasilkan potensi limbah jerami dan kebutuhan komposter yang lebih tinggi. Hasil analisis kesesuaian lahan menunjukkan bahwa ketersediaan ruang yang memenuhi kriteria pengembangan masih mampu mendukung kebutuhan fasilitas komposter yang dihasilkan pada seluruh skenario. Analisis location-allocation menunjukkan bahwa kebutuhan fasilitas komposter cenderung teralokasi pada wilayah dengan konsentrasi produksi padi dan potensi jerami yang tinggi, terutama di Kabupaten Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Ogan Komering Ulu Timur. Penelitian ini menghasilkan pendekatan perhitungan kebutuhan dan pengalokasian fasilitas komposter secara spasial berdasarkan potensi jerami, kesesuaian lahan, kapasitas fasilitas, dan jangkauan pelayanan yang dapat menjadi masukan dalam perencanaan pengolahan limbah pertanian di KSPP Sumatera Selatan.

2026
👤 Penulis: Galuh Sekar Ayu
🏷️ Pertanian 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
Halaman 24 dari 267
💬