📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenPENGEMBANGAN MODEL PENGELOLAAN KINERJA APARATUR SIPIL NEGARA: STUDI KASUS PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT
Pengelolaan kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan bagian penting dari reformasi birokrasi yang bertujuan meningkatkan kualitas kinerja organisasi dan pelayanan publik. Seiring dengan perubahan struktur organisasi, sistem kerja, dan penerapan PermenpanRB No. 6 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Kinerja Pegawai ASN, instansi pemerintah dituntut melaksanakan pengelolaan kinerja secara menyeluruh dan berkelanjutan. Namun, evaluasi kinerja ASN selama ini cenderung hanya melihat dari capaian kinerja maupun indikator organisasi, sehingga belum mampu menjelaskan dinamika pengelolaan kinerja secara komprehensif. Kondisi ini menjadi keterbatasan organisasi dalam mengidentifikasi masalah dan menentukan prioritas perbaikan pengelolaan kinerja secara efisien. Oleh karena itu diperlukan suatu model yang dapat menggambarkan pengelolaan kinerja ASN secara holistik. Model Context, Input, Process, Product (CIPP) adalah kerangka utama yang memastikan adanya 4 komponen pembentuk model. Komponen ini kemudian diisi dengan variabel yang berasal dari Systematic Literatur Review (SLR), divalidasi relevansinya oleh pakar melalui metode Delphi dan diuji secara empiris dengan Structural Equation Modeling (SEM). Pada tahap terakhir dilakukan analisis topik masukan responden dengan menggunakan BERTopic untuk memperkaya hasil penelitian. Hasil dari SLR menghasilkan 12 variabel utama yang kemudian dikelompokkan menjadi 6 konstruk utama, yaitu governance, performance management, work support system, human capital, work attitude, dan performance outcome. Jumlah data yang diolah dalam penelitian ini sebanyak 575 data berasal dari ASN Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Hasil yang diperoleh, governance berpengaruh signifikan pada work support system, work support system mempengaruhi human capital dan performance management, keduanya kemudian mempengaruhi performance outcome dimediasi oleh work attitude. Temuan ini menunjukkan pengelolaan kinerja ASN adalah proses yang saling terkait antara organisasi, lingkungan kerja, kompetensi, kepemimpinan dan juga engagement serta motivasi pegawai. Penelitian ini menghasilkan model pengelolaan kinerja ASN yang tervalidasi secara konseptual dan empiris serta dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas kinerja ASN secara berkelanjutan
KESESUAIAN PRODUK-PASAR DAN NIAT ADOPSI UNTUK LAYANAN BERLANGGANAN: STUDI KASUS GOJEK PLUS DI INDONESIA
Gojek PLUS adalah layanan berlangganan lintas layanan dalam ekosistem super-app Gojek di Indonesia yang menunjukkan tingkat product-market fit rendah dan tingginya angka pelanggan yang berhenti berlangganan. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi niat adopsi dan ketergantungan produk pada Gojek PLUS, serta menilai apakah layanan ini telah mencapai product-market fit di kalangan pengguna Indonesia. Kerangka hibrid yang menggabungkan Value-Based Adoption Model (VAM), Expectation-Confirmation Theory (ECT), Teori Biaya Peralihan, dan Teori Hambatan Kognitif diuji menggunakan PLS-SEM terhadap 110 responden yang memenuhi syarat, dengan tolok ukur 'Sangat Kecewa' dari Sean Ellis sebagai variabel dependen terminal sebagai pengganti niat perilaku yang umum digunakan. Enam dari delapan hipotesis terdukung. Persepsi Pengalaman adalah pendorong utama Persepsi Nilai (? = 0,762), Niat Adopsi (? = 0,613), dan Kecenderungan Retensi (? = 0,654), dengan PEOU ? PE ? RT ? DEP sebagai jalur dominan menuju ketergantungan. Persepsi Nilai tidak memprediksi Niat Adopsi (? = 0,035, p = 0,811), menantang prediksi VAM dalam konteks berlangganan terbundel, dan Niat Adopsi tidak memprediksi Ketergantungan (? = 0,030, p = 0,808), mengonfirmasi adanya kesenjangan niat-perilaku. Skor PMF sebesar 15,4% menempatkan Gojek PLUS di bawah ambang batas product-market fit yang kuat, yaitu 40%. Penelitian ini merekomendasikan perancangan ulang orientasi pengguna dan penumpukan manfaat loyalitas berbasis durasi berlangganan untuk membangun kecenderungan retensi dan menutup kesenjangan PMF, dengan re-engagement berbasis pengalaman bagi pelanggan yang berhenti berlangganan sebagai inisiatif sekunder.
PENGARUH WAKTU FERMENTASI SUBSTRAT PADAT DENGAN BACILLUS STEAROTHERMOPHILUS TERHADAP HIDROLISAT PROTEIN DARI LARVA LALAT TENTARA HITAM (HERMETIA ILLUCENS L.) BEBAS LEMAK
Larva lalat tentara hitam (LLTH, Hermetia illucens) merupakan salah satu sumber protein alternatif yang menjanjikan, namun efisiensi ekstraksi protein serta peningkatan bioaktivitas hidrolisatnya masih menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh fermentasi padat menggunakan Bacillus stearothermophilus terhadap perolehan protein dan sifat bioaktif hidrolisat protein LLTH. Tepung LLTH difermentasi selama 0–4 hari pada suhu 45°C, kemudian dilakukan ekstraksi protein secara alkali, hidrolisis enzimatis menggunakan bromelain, dan pengeringan beku. Parameter yang dianalisis meliputi protein recovery, derajat hidrolisis, komposisi asam amino, aktivitas antioksidan, aktivitas antibakteri, serta distribusi bobot molekul protein menggunakan sodium dodecyl sulfate polyacrylamide gel electrophoresis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi meningkatkan kadar protein kasar dan protein recovery, dengan nilai tertinggi sebesar 59,64 ± 8,85%. Peningkatan perolehan kembali protein yang dihasilkan oleh B. stearothermophilus tidak berbeda signifikan pada variasi waktu fermentasi. Derajat hidrolisis mencapai 42,21 ± 1,0% pada hari kedua fermentasi, kemudian menurun seiring bertambahnya waktu fermentasi, yang menunjukkan bahwa aktivitas proteolitik maksimum terjadi pada fase pertumbuhan eksponensial bakteri. Aktivitas antioksidan juga meningkat, ditunjukkan oleh nilai IC50 terendah sebesar 261,78 + 57 ppm pada hari ketiga fermentasi, meskipun aktivitas tersebut menurun pada hari keempat. Analisis asam amino menunjukkan peningkatan konsentrasi beberapa asam amino bebas setelah fermentasi, yang mengindikasikan terjadinya degradasi matriks protein oleh aktivitas protease. Sebaliknya, hidrolisat protein tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus maupun Escherichia coli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fermentasi menggunakan B. stearothermophilus berpotensi meningkatkan efisiensi ekstraksi protein dan aktivitas antioksidan hidrolisat protein LLTH, meskipun optimasi kondisi fermentasi masih diperlukan untuk memaksimalkan potensi proteolitiknya.
PENGARUH WAKTU FERMENTASI SUBSTRAT PADAT DENGAN BACILLUS STEAROTHERMOPHILUS TERHADAP HIDROLISAT PROTEIN DARI LARVA LALAT TENTARA HITAM (HERMETIA ILLUCENS L.) BEBAS LEMAK
Larva lalat tentara hitam (LLTH, Hermetia illucens) merupakan salah satu sumber protein alternatif yang menjanjikan, namun efisiensi ekstraksi protein serta peningkatan bioaktivitas hidrolisatnya masih menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh fermentasi padat menggunakan Bacillus stearothermophilus terhadap perolehan protein dan sifat bioaktif hidrolisat protein LLTH. Tepung LLTH difermentasi selama 0–4 hari pada suhu 45°C, kemudian dilakukan ekstraksi protein secara alkali, hidrolisis enzimatis menggunakan bromelain, dan pengeringan beku. Parameter yang dianalisis meliputi protein recovery, derajat hidrolisis, komposisi asam amino, aktivitas antioksidan, aktivitas antibakteri, serta distribusi bobot molekul protein menggunakan sodium dodecyl sulfate polyacrylamide gel electrophoresis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi meningkatkan kadar protein kasar dan protein recovery, dengan nilai tertinggi sebesar 59,64 ± 8,85%. Peningkatan perolehan kembali protein yang dihasilkan oleh B. stearothermophilus tidak berbeda signifikan pada variasi waktu fermentasi. Derajat hidrolisis mencapai 42,21 ± 1,0% pada hari kedua fermentasi, kemudian menurun seiring bertambahnya waktu fermentasi, yang menunjukkan bahwa aktivitas proteolitik maksimum terjadi pada fase pertumbuhan eksponensial bakteri. Aktivitas antioksidan juga meningkat, ditunjukkan oleh nilai IC?? terendah sebesar 261,78 + 57 ppm pada hari ketiga fermentasi, meskipun aktivitas tersebut menurun pada hari keempat. Analisis asam amino menunjukkan peningkatan konsentrasi beberapa asam amino bebas setelah fermentasi, yang mengindikasikan terjadinya degradasi matriks protein oleh aktivitas protease. Sebaliknya, hidrolisat protein tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus maupun Escherichia coli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fermentasi menggunakan B. stearothermophilus berpotensi meningkatkan efisiensi ekstraksi protein dan aktivitas antioksidan hidrolisat protein LLTH, meskipun optimasi kondisi fermentasi masih diperlukan untuk memaksimalkan potensi proteolitiknya.
PENGOLAHAN DATA MAGNETOTELURIK MENGGUNAKAN METODE ROBUST HUBER DAN IMPLEMENTASINYA PADA DATA LAPANGAN
Metode magnetotelurik (MT) merupakan metode geofisika pasif yang memanfaatkan variasi alami medan elektromagnetik untuk mengestimasi distribusi resistivitas listrik bawah permukaan bumi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kode program pengolahan data magnetotelurik menggunakan Python yang mampu diaplikasikan pada data lapangan, mengevaluasi pengaruh tahapan pre-processing dan robust processing, serta memvalidasi hasil pengolahannya terhadap software referensi. Program yang dikembangkan mengimplementasikan tahapan pre-processing yang meliputi kalibrasi, detrending, penghapusan DC offset, dan notch filter, dilanjutkan dengan decimation, transformasi Fourier (Fourier Transform), estimasi cross-power spectral density, robust processing menggunakan metode Huber, serta perhitungan impedansi, resistivitas semu, dan fasa. Data yang digunakan merupakan hasil akuisisi lapangan di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, dengan durasi perekaman selama 17 ???????????? 7 ????????????????????. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan pre-processing memberikan pengaruh terhadap peningkatan kualitas data, sedangkan robust processing mampu meminimalkan pengaruh beberapa data outlier sehingga menghasilkan estimasi parameter yang lebih stabil. Hasil validasi terhadap software referensi menunjukkan kesesuaian yang baik pada rentang frekuensi tinggi (???????? = 24 ????????????), dengan nilai ???????????????? log10(????) resistivitas semu sebesar 0,0649 untuk komponen ???????? dan 0,0571 untuk komponen ????????. Sedangkan pada frekuensi rendah ( ???????? = 150 ????????) menghasilkan nilai RMSE log10(????) resistivitas semu sebesar 1.8380 untuk komponen ???????? dan 1.1831 untuk komponen ????????.
DEPOSISI SELEKTIF TRIMETILALUMINIUM (TMA) PADA PERMUKAAN LAPISAN TUNGGAL MOS2 DAN MOSE2
Atomic Layer Deposition (ALD) merupakan metode deposisi lapisan tipis yang memiliki kontrol ketebalan hingga skala atom. Selektivitas deposisi pada material dua dimensi seperti MoS? dan MoSe? dipengaruhi oleh mekanisme adsorpsi dan dekomposisi prekursor. Penelitian ini bertujuan menghitung adsorpsi selektif trimetilaluminium (TMA) pada monolayer MoS? dan MoSe?, membandingkan kebolehjadian dekomposisi TMA, serta menganalisis pengaruh cacat vakansi terhadap proses tersebut menggunakan metode Density Functional Theory (DFT). Optimasi struktur dilakukan menggunakan fungsional vdW-DF-ob86 dengan kpoint 16×16×1. Hasil menunjukkan bahwa konfigurasi adsorpsi paling stabil adalah orientasi Lay, dengan energi interaksi sebesar ?0,665 eV pada MoS? dan ?0,652 eV pada MoSe?. Keberadaan cacat vakansi menurunkan kekuatan adsorpsi awal menjadi ?0,495 eV pada MoS? dan ?0,491 eV pada MoSe?. Analisis diagram tingkat energi menunjukkan bahwa mekanisme dekomposisi kedua lebih menguntungkan secara termodinamika dibandingkan mekanisme pertama. Pada permukaan pristine, energi akhir MoS? lebih rendah dibandingkan MoSe?, sedangkan pada permukaan cacat energi akhir MoSe? menjadi lebih rendah daripada MoS?. Hasil ini menunjukkan bahwa cacat vakansi memodifikasi jalur reaksi dan meningkatkan stabilisasi produk akhir, khususnya pada MoSe?, sehingga berpotensi meningkatkan selektivitas deposisi TMA pada proses ALD.
EVALUASI SIMULASI MULTISKALA KEJADIAN WIND GUST DI BANDARA SOEKARNO-HATTA DENGAN MODEL WRF-ARW
Pada tanggal 22 September 2025 pukul 22.00 WIB, Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengalami cuaca ekstrem berupa angin kencang dengan kecepatan maksimum mencapai 49 knot (25,2 m/s) yang terindikasi sebagai kejadian wind gust. Fenomena ini bersifat lokal dan berlangsung singkat sehingga sulit direpresentasikan secara langsung oleh model cuaca numerik konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan simulasi multiskala WRF- ARW yang memanfaatkan Large-Eddy Simulation (WRF-LES) dalam merepresentasikan kejadian wind gust di wilayah Bandara Soekarno-Hatta, baik secara temporal maupun spasial. Simulasi dilakukan menggunakan data inisialisasi National Centers for Environmental Prediction Final (NCEP-FNL) dan data topografi Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS), dengan empat skema multiskala yang memiliki ukuran domain dan resolusi yang berbeda (A, B, C1, dan C2) yang mencakup resolusi dari skala meso hingga skala mikro (30 – 40 m). Keluaran model diverifikasi terhadap data observasi AWS, citra satelit Himawari-9, dan data radiosonde. Hasil analisis menunjukkan bahwa kejadian wind gust terjadi sekitar pukul 15.00 UTC yang ditandai oleh lonjakan kecepatan angin maksimum hingga sekitar 14 m/s, penurunan temperatur mendadak dari 28 – 29°C menjadi 22°C, dan perubahan tekanan udara yang signifikan, yang mengindikasikan adanya outflow dari sistem konvektif aktif di wilayah Jawa bagian barat. Seluruh skema model memerlukan koreksi lag waktu antara 40 hingga 120 menit untuk mendekati pola observasi. Dari keempat skema LES yang diuji, Skema A domain 5 (resolusi 30 m) menunjukkan performa terbaik dalam merepresentasikan kecepatan angin yang mirip dengan observasi dengan korelasi tertinggi (r = 0,76), bias terendah (0,10), dan RMSE terendah (2,12 m/s). Hasil analisis spasial dan temporal menunjukkan bahwa hasil model cukup merepresentasikan kejadian wind gust, meskipun nilai kecepatan angin absolut pada seluruh skema masih belum sepenuhnya mendekati observasi.
PERANCANGAN PUSAT KEBUDAYAAN POP KOREA SEBAGAI TEMPAT HIBURAN DAN BELAJAR DI BANDUNG DENGAN PENDEKATAN TEORI TEMPAT KETIGA
Perkembangan budaya populer Korea (K-pop) di Indonesia memicu terbentuknya berbagai komunitas penggemar yang aktif menyelenggarakan kegiatan seperti acara kumpul sesama penggemar (fans gathering), dance cover, nonton dan nyanyi bersama, hingga K-market di berbagai daerah di Indonesia terutama kota-kota besar, termasuk Bandung. Berdasarkan hasil wawancara dengan dua komunitas penggemar K-pop yang khusus menyelenggarakan acara mengatakan bahwa minimnya ruang yang dikhususkan untuk penggemar K-pop berkumpul mengadakan acara. Hasil survei lapangan yang dilakukan pada acara komunitas penggemar K-pop yaitu Dopamin Market dengan kuesioner secara acak pada pengunjung yang datang (114 responden) menunjukkan alasan terbanyak menyukai K-pop untuk hiburan pelarian dari stress sekaligus sumber motivasi belajar. Namun, masih beredar di kalangan masyarakat Indonesia tentang stereotip negatif terhadap penggemar K-pop. Oleh karena itu, perancangan pusat kebudayaan pop Korea diperlukan sebagai sarana hiburan, berkumpul, dan belajar yang ditujukan tidak hanya untuk penggemar tetapi juga masyarakat awam. Perancangan ini bertujuan untuk menciptakan ruang aman (safe space) khusus untuk orang yang menggemari dan yang tertarik dengan K-pop sebagai tempat hiburan dan belajar di Bandung dengan pendekatan teori tempat ketiga (third place theory) yang mana ruang komunitas sebagai “ruang ketiga” di luar rumah dan sekolah/kerja. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi fasilitas sejenis, serta survei dan wawancara pada komunitas Extraverse, Dopamin Market, dan T-Space.
PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR TERHADAP BAHAYA TSUNAMI
Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.
PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR TERHADAP BAHAYA TSUNAMI
Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.
PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR TERHADAP BAHAYA TSUNAMI
Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.
INVESTIGASI EMISI KARBON MATERIAL BIOMASSA PADA BANGUNAN KAYU REKAYASA PRODUK INDUSTRI DI INDONESIA
Sektor bangunan dan konstruksi merupakan salah satu kontributor terbesar emisi karbon global, menyumbang sekitar 37% emisi CO? dunia pada tahun 2022. Di Indonesia, industri manufaktur dan konstruksi menyumbang sekitar 21,46% emisi sektor energi nasional, sebagian besar berasal dari penggunaan material konvensional beremisi tinggi seperti beton dan baja. Pemerintah Indonesia menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% secara mandiri dan hingga 43,20% dengan dukungan internasional pada tahun 2030 melalui kerangka Nationally Determined Contributions (NDC). Pencapaian target tersebut membutuhkan transisi menuju material konstruksi rendah karbon. Kayu rekayasa produk industri muncul sebagai alternatif yang menjanjikan karena bersifat terbarukan, efisien dalam pemanfaatan bahan baku, serta mampu menyimpan karbon biogenik dalam jangka panjang. Namun, data emisi karbon kayu rekayasa di Indonesia masih sangat terbatas, belum terdokumentasi secara sistematis, dan belum terdapat Environmental Product Declaration (EPD) terverifikasi dari produsen lokal. Kondisi ini menyulitkan perencana dan pengambil kebijakan dalam menilai potensi material kayu rekayasa untuk mengurangi emisi karbon secara objektif. Penelitian ini bertujuan menginvestigasi besaran emisi karbon material kayu rekayasa produk industri di Indonesia pada tahap sebelum bangunan digunakan, yaitu modul A1 hingga A5 yang mencakup pasokan bahan baku, transportasi bahan baku, manufaktur, transportasi produk ke lokasi konstruksi, dan proses konstruksi. Metode yang digunakan adalah Life Cycle Assessment (LCA) mengacu pada ISO 14040/14044, dan EN 15978:2011, dengan perhitungan karbon biogenik mengikuti EN 16449:2014. Tiga studi kasus dianalisis, yaitu Glulam pada Rumah Pluit Samudra di Jakarta, CLT pada Show Unit Modular di Pejaten, dan Blockwood pada Rumah Pascabencana Gasol di Cianjur, dengan unit fungsional 1 m³ produk terpasang. Data primer diperoleh melalui kunjungan lapangan, wawancara produsen, dan dokumen produksi, sedangkan data sekunder dilengkapi dari basis data emisi internasional dan EPD terverifikasi. Perhitungan Life Cycle Inventory (LCI) dilakukan secara manual berbasis Microsoft Excel agar setiap titik data dapat ditelusuri secara transparan. Hasil penelitian menunjukkan total emisi Global Warming Potential (GWP)-fosil pada modul A1-A5 sebesar 987,26 kg CO?e/m³ untuk Glulam, 904,29 kg CO?e/m³ untuk CLT, dan 840,55 kg CO?e/m³ untuk Blockwood. Modul A3 (manufaktur) menjadi penyumbang emisi terbesar pada seluruh studi kasus akibat konsumsi listrik selama proses produksi dan penggunaan perekat. Modul A1 menjadi kontributor terbesar kedua, tetapi perhitungannya menggunakan data asumsi dari literatur dan EPD terverifikasi. Penyimpanan karbon biogenik tertinggi ditemukan pada CLT sebesar 1.047,60 kg CO?e/m³, sedangkan Glulam dan Blockwood masing-masing 654,76 kg CO?e/m³. Setelah memperhitungkan karbon biogenik, CLT menghasilkan emisi neto -143,33 kg CO?e/m³ atau berperan sebagai penyerap karbon (carbon sink), sementara Glulam dan Blockwood tetap memiliki emisi neto positif namun jauh lebih rendah dibandingkan material konvensional setara seperti beton struktural. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyediaan basis data emisi karbon material kayu rekayasa produk industri di Indonesia yang disusun berdasarkan data primer dari produsen lokal pada tiga jenis produk dengan karakteristik yang berbeda. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah berupa penyediaan nilai acuan awal yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan basis data emisi material bangunan nasional, penyusunan informasi lingkungan produk kayu rekayasa lokal, serta sebagai referensi bagi pengembangan kebijakan dan pengambilan keputusan dalam pemilihan material bangunan berdasarkan kinerja emisi karbon di Indonesia.
KAJIAN PRINSIP ADAPTIVE REUSE DALAM PELESTARIAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA STUDI KASUS: KANTOR POS BESAR BANDUNG
Sejumlah bangunan cagar budaya di Indonesia saat ini mengalami penurunan fungsi pemanfaatan yang menyebabkan keterbengkalaian serta mengancam keberlanjutan dari nilai historis dan arsitekturalnya. Adaptive reuse menjadi salah satu upaya pelestarian dengan penggunaan kembali bangunan cagar budaya dengan mengadaptasi fungsi baru tanpa menghilangkan signifikansi budayanya. Namun, penerapan adaptive reuse di Indonesia juga masih menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan pelestarian nilai historis dengan kebutuhan kontemporer. Kantor Pos Besar Bandung merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang telah menerapkan adaptive reuse dengan tetap mempertahankan fungsi pelayanan kantor pos, sehingga fungsi baru hasil adaptasi dapat berjalan berdampingan dengan fungsi utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai historis Kantor Pos Besar Bandung sebagai landasan pelestarian, menganalisis penerapan adaptive reuse pada revitalisasi bangunan tersebut, serta memahami peran arsitek dalam proses pengambilan keputusan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi evaluatif melalui studi kasus tunggal, yaitu Kantor Pos Besar Bandung. Data penelitian diperoleh melalui studi literatur, observasi lapangan, studi dokumen, dan wawancara dengan narasumber yang terdiri atas arsitek, pengelola gedung, dan komunitas filatelis. Sedangkan evaluasi terhadap penerapan adaptive reuse pada proses revitalisasi bangunan cagar budaya, dilakukan berdasarkan sintesis literatur, analisis tematik, dan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan adaptive reuse pada Kantor Pos Besar Bandung diwujudkan melalui lima prinsip utama yaitu nilai historis dan arsitektural, adaptasi spasial dan integrasi fisik, standardisasi teknis dan regulasi, aktivasi dan keterlibatan sosial, serta viabilitas ekonomi dan lingkungan. Kelima prinsip tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan adaptive reuse ditentukan oleh kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara nilai historis, kebutuhan fungsi baru, pemenuhan standar teknis, keterlibatan berbagai aktor, serta keberlanjutan pengelolaan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa arsitek berperan sebagai pengambil keputusan sekaligus mediator dalam menyeimbangkan kepentingan pelestarian, kebutuhan operasional, aspek teknis, serta keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Selain itu, penelitian ini memberikan pemahaman mengenai penerapan adaptive reuse pada bangunan cagar budaya yang tetap mempertahankan fungsi utamanya melalui integrasi fungsi pendamping tanpa menghilangkan identitas bangunan.
EX-ANTE EVALUATION OF THE UPSTREAM-DOWNSTREAM INTEGRATION POLICY PLAN OF ANTIMONY MINERALS FOR THE INDEPENDENCE OF THE NATIONAL MUNITIONS INDUSTRY :COST-BENEFIT ANALYSIS (CASE STUDY OF PT PINDAD, BOMBANA, AND PERMINAS)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan ekonomi dan relevansi strategis pengembangan tambang antimon dalam negeri di Bombana dalam mendukung kemandirian industri pertahanan nasional, khususnya kebutuhan bahan baku antimon sulfida untuk produksi amunisi PT Pindad. Latar belakang penelitian didasarkan pada tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor antimon, dominasi pasar global oleh negara-negara tertentu, dan meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik dan kebijakan pengendalian ekspor. Kondisi ini menempatkan industri pertahanan nasional pada posisi rentan dari perspektif keamanan pasokan. Penelitian ini menggunakan evaluasi kebijakan ex-ante dengan pendekatan Analisis Biaya-Manfaat (CBA) yang diperkaya dengan kerangka Teori Berlian dari Sam Kaner 1996 dan perspektif ekonomi pertahanan. Analisis dilakukan untuk menilai kelayakan keuangan, efisiensi ekonomi, dan manfaat strategis dari kebijakan integrasi hulu-hilir antimon. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa proyek tambang antimon Bombana layak secara ekonomi dengan nilai Net Present Value (NPV) positif sebesar USD 136,98 juta, Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 4,42, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 12,46 persen yang melebihi tingkat diskonto sosial, dan masa pengembaliansekitar enam tahun. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa proyek ini tetap layak dalam skenario kenaikan biaya dan penurunan harga moderat. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan antimon dalam negeri memiliki nilai strategis yang signifikan karena mampu mengurangi ketergantungan impor, meningkatkan ketahanan rantai pasok industri pertahanan, dan memperkuat otonomi strategis negara. Evaluasi kebijakan alternatif menekankan bahwa model integrasi vertikal penuh dari tambang, smelter, dan bahan baku amunisi yang dikoordinasikan oleh negara adalah pilihan kebijakan yang paling optimal. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa kebijakan integrasi hulu-hilir antimon yang dievaluasi melalui PKB ex-ante tidak hanya layak secara ekonomi, tetapi juga krusial sebagai instrumen pengembangan industri strategis dan pertahanan nasional jangka panjang.
PEMODELAN INVERSI 3D ANOMALI TIME-LAPSE MICROGRAVITY MENGGUNAKAN METODE STOKASTIK PADA LAPANGAN “ARUNIKA
Aktivitas produksi hidrokarbon menyebabkan perubahan distribusi fluida reservoir yang berdampak pada perubahan massa bawah permukaan, yang dapat dipantau menggunakan metode time-lapse microgravity (TLM) karena metode ini sensitif terhadap perubahan densitas. Penelitian ini bertujuan memodelkan distribusi perubahan densitas fluida reservoir pada Lapangan Arunika menggunakan inversi stokastik tiga dimensi, dengan tahap awal berupa pemodelan sintetik untuk tiga skenario mekanisme produksi, yaitu solution gas drive (???????? = ?0,015 ????/ ????????³), gas cap drive (???????? = ?0,0075 ????/????????³), dan water drive (???????? = +0,005 ????/????????³), yang selanjutnya diikuti oleh pengolahan dan inversi data anomali TLM lapangan. Hasil pemodelan sintetik menunjukkan bahwa perubahan densitas negatif menghasilkan anomali gravitasi negatif, sedangkan perubahan densitas positif menghasilkan anomali gravitasi positif. Pada data lapangan, peta anomali TLM menunjukkan nilai sekitar ?0,0030 hingga +0,0009 mGal dan didominasi oleh anomali negatif. Hasil inversi stokastik menunjukkan perubahan densitas minimum sebesar ?0,063036 g/cm³, maksimum sebesar +0,047953 g/cm³, rata-rata sebesar ?0,001463 g/cm³, dan simpangan baku sebesar 0,006996 g/cm³, dengan nilai rata-rata negatif yang mengindikasikan dominasi penurunan densitas bawah permukaan, sejalan dengan pola anomali gravitasi negatif pada data lapangan. Nilai misfit menurun dari sekitar 0,045 mGal menjadi 0,018–0,021 mGal dan relatif stabil hingga akhir iterasi. Distribusi perubahan densitas negatif terutama terlihat pada kedalaman 450 m dan 550 m, dan overlay dengan data sumur produksi menunjukkan bahwa beberapa sumur berproduksi tinggi berada dekat dengan zona densitas negatif, yang mengindikasikan bahwa zona perubahan densitas negatif berkaitan dengan deplesi fluida reservoir akibat aktivitas produksi hidrokarbon.