📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenANALISIS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN BERBASIS KOMUNITAS :STUDI KASUS PROGRAM KAMPUNG IKLIM (PROKLIM) DI KAMPUNG CIBUNUTDAN KAMPUNG TAKAKURA SUKAMISKIN, KOTA BANDUNG
Program Kampung Iklim (ProKlim) kerap dihadapkan pada ancaman ketergantungan proyek (project dependency) pasca-pendampingan eksternal. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan model keberlanjutan ProKlim pasca-predikat Lestari di kawasan perkotaan yang dibedakan oleh fondasi sosialnya, yakni Kampung Cibunut (stabil-homogen) dan Kampung Takakura (dinamis-heterogen) di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus komparatif. Analisis dilakukan menggunakan kerangka Community-Based Environmental Management (CBEM), tipologi sosiologi (Gemeinschaft-Gesellschaft), serta konsep modal sosial (bonding, bridging, linking). Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi, yang didukung oleh data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan capaian administratif tertinggi belum menjamin ketangguhan substantif yang seragam akibat perbedaan tipologi sosial. Di Kampung Cibunut, keberlanjutan berakar pada ikatan paguyuban dan bonding capital yang melahirkan "gotong royong emosional" serta inovasi subsisten, namun rentan akibat minimnya linking capital. Sebaliknya, Kampung Takakura merepresentasikan masyarakat patembayan yang digerakkan "profesionalitas rasional" purnatugas. Mereka sukses meretas pendanaan CSR skala besar lewat bridging dan linking capital, namun dibayangi ancaman krisis regenerasi kultural dan mentalitas transaksional warga. Studi ini menyimpulkan bahwa tidak ada model tunggal (one-size-fits-all) untuk keberlanjutan iklim perkotaan. Resiliensi sejati menuntut keseimbangan kapasitas struktural dan kohesi sosial. Sebagai solusi, direkomendasikan "Model Keberlanjutan Iklim Urban Berbasis Adaptasi Karakter" yang mencakup reorientasi penilaian kontekstual, peran pemerintah sebagai broker modal sosial, dan sistematisasi regenerasi.
ANALISIS LAJU ANGKUTAN SEDIMEN SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP EROSI TIKUNGAN DAN PERUBAHAN MORFOLOGI SUNGAI PADA RUAS HILIR SUNGAI BENENAIN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Sungai Benenain merupakan sungai dengan karakteristik morfologi yang dinamis akibat interaksi antara aliran, angkutan sedimen, dan geometri alur. Pada ruas hilir, kelengkungan sungai menyebabkan distribusi energi aliran yang tidak seragam sehingga memengaruhi proses erosi dan deposisi, khususnya pada tikungan sungai. Penelitian ini bertujuan menganalisis laju angkutan sedimen dan implikasinya terhadap perubahan dasar sungai serta erosi pada tikungan, sekaligus mengevaluasi skenario penanganan yang sesuai dengan karakteristik hidrodinamika dan morfologi lokal. Analisis dilakukan pada ruas hilir Sungai Benenain sepanjang ±5,96 km selama periode 2019–2023 menggunakan formulasi angkutan sedimen Van Rijn serta pemodelan hidrodinamika dan morfologi satu dimensi (1D) dan dua dimensi (2D) dengan HEC-RAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan debit dari 1,5 m³/det menjadi 100 m³/det meningkatkan laju angkutan sedimen total dari 0,007715 ton/hari menjadi 868,882805 ton/hari, dengan dominasi angkutan sedimen dasar. Peningkatan kecepatan dan tegangan geser juga diikuti oleh degradasi dasar hingga ?0,7621 m, yang menunjukkan keterkaitan antara energi aliran, mobilisasi sedimen, dan perubahan morfologi sungai. Pada tiga tikungan kritis, perbedaan geometri alur menghasilkan distribusi kecepatan, tegangan geser, serta zona erosi–deposisi yang berbeda. Evaluasi skenario menunjukkan bahwa kombinasi krib–revetment lebih sesuai diterapkan pada Tikungan 1 dan Tikungan 2, sedangkan revetment lebih sesuai pada Tikungan 3. Skenario tersebut mampu mengurangi konsentrasi energi aliran pada tebing luar dan menghasilkan respons perubahan dasar yang lebih terkendali. Hasil penelitian menegaskan bahwa penanganan erosi tikungan tidak dapat diterapkan secara seragam, tetapi perlu ditentukan berdasarkan keterkaitan antara angkutan sedimen, karakteristik hidrodinamika, dan respons morfologi lokal pada setiap tikungan.
KAJIAN DINAMIKA INTERMEDIASI NEGARA DALAM PEMBANGUNAN IKM MANUFAKTUR: STUDI KASUS PERKAMPUNGAN INDUSTRI KECIL PULO GADUNG
Penelitian ini mengkaji dinamika intermediasi negara dalam pembangunan IKM (Industri Kecil Menengah) manufaktur khususnya di subsektor industri otomotif di Indonesia melalui studi kasus Perkampungan Industri Kecil (PIK) Pulo Gadung, Jakarta. PIK yang diresmikan pada tahun 1982, yaitu era orde baru, pernah menjadi ikon kebijakan pembinaan industri kecil nasional, namun mengalami kemunduran tajam pasca-reformasi 1998. Penelitian ini berargumen bahwa kemunduran PIK sebagai kawasan industri yang diperuntukkan khusus industri kecil menengah ini, bukan disebabkan oleh kegagalan model kawasan industri kecil itu sendiri, melainkan oleh runtuhnya arsitektur kelembagaan yang memungkinkan negara menjalankan fungsi intermediasi secara efektif. Fungsi intermediasi dimaksud berbicara mengenai elemen fungsional yang seharusnya ada di kawasan industri buatan, yaitu antara lain agregasi pengetahuan antar pelaku IKM, fasilitasi jaringan antara IKM dengan industri besar dan program pemerintah, serta koordinasi lintas sektor yang menghubungkan kebijakan nasional dengan eksekusi di tingkat kawasan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus tunggal dan kerangka analisis Multi-Level Perspective (MLP), penelitian ini menelusuri transisi kawasan industri PIK dari era Orde Baru hingga pasca-reformasi melalui wawancara semi-terstruktur dengan pelaku IKM dan pengelola kawasan yaitu UPK PPUKMP (Unit Pengelola Kawasan Pusat Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah Serta Pemukiman), serta penelusuran dokumen historis dan literatur akademik. Analisis MLP menunjukkan bahwa terdapat dua tekanan lanskap yang bekerja secara simultan, yaitu liberalisasi ekonomi yang didorong WTO (World Trade Organization)/IMF (International Monetary Fund) dan desentralisasi melalui UU No. 22 Tahun 1999, menyebabkan runtuhnya mekanisme koordinasi hierarkis yang selama ini menjadi tulang punggung fungsi intermediasi negara. Ketika BPLIP (Badan Pengelola Lingkungan Industri dan Permukiman) digantikan oleh unit dengan kapasitas dan otoritas yang lebih terbatas, kawasan industri PIK kehilangan aktor kelembagaan yang mampu menjembatani IKM dengan industri besar, program pemerintah, dan rantai pasok otomotif. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya celah struktural antara mandat nasional yaitu salah satunya pada Kementerian Perindustrian dan kewenangan eksekusi Pemerintah Daerah yang tidak diisi oleh mekanisme koordinasi yang memadai. Sebagai pengalaman komparatif, penelitian ini mengidentifikasi dan menganalisis elemen kelembagaan dalam konteks pembangunan IKM yaitu dari Thailand, Malaysia, dan China untuk menunjukkan bahwa efektivitas pembinaan IKM bergantung bukan pada banyaknya program, melainkan pada keberadaan aktor intermediari yang secara eksplisit dirancang untuk menjembatani mandat nasional dengan eksekusi di tingkat kawasan. Penelitian ini merekomendasikan redesain fungsi UPK PPUKMP sebagai lembaga perantara yang fleksibel, pembangunan platform koordinasi lintas kewenangan, dan penunjukan orkestrator tunggal dalam pembinaan IKM manufaktur. Kebaruan konseptual pada penelitian ini terletak pada penempatan definisi kawasan industri PIK pada tujuan awalnya yaitu sebagai arena intermediasi negara dalam suatu rangkaian kebijakan pembangunan IKM. berangkat dari situ, penelitian ini melihat pergeseran yang terjadi sampai pada kondisi hari ini. Selain itu, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan literatur tentang kebijakan industri dan pembangunan IKM di Indonesia, khususnya dengan mengisi celah analitik mengenai bagaimana perubahan arsitektur kelembagaan di level makro berdampak pada mekanisme intermediasi yang bekerja secara konkret di level kawasan industri kecil. Selain itu, melalui pengalaman komparatif Thailand, Malaysia, dan China, penelitian ini turut berkontribusi pada diskusi mengenai keragaman lintasan pembangunan industri di Asia dengan menunjukkan bahwa efektivitas pembinaan IKM sangat dipengaruhi oleh konfigurasi kelembagaan yang spesifik pada masing-masing konteks nasional. Dalam konteks Indonesia, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pelemahan aktor intermediari di tingkat kawasan menjadi salah satu faktor penting yang membedakan lintasan pembangunan IKM manufaktur Indonesia dari negara-negara pembanding.
PERANCANGAN SPESIFIKASI TEKNIS BANTAL PREMIUM BERDASARKAN FAKTOR PENILAIAN KONSUMEN PADA ULASAN DARING
Pasar bantal premium di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kualitas tidur. Dalam mengembangkan produk bantal premium, perusahaan perlu memahami kebutuhan konsumen secara akurat agar spesifikasi produk yang dirancang mampu memenuhi ekspektasi pasar. Namun, proses identifikasi kebutuhan konsumen umumnya dilakukan melalui survei atau wawancara yang memerlukan waktu dan biaya yang relatif besar. Penelitian ini bertujuan merancang spesifikasi teknis bantal premium bagi KWALA berdasarkan faktor penilaian konsumen yang diperoleh dari ulasan daring. Penelitian menggunakan pendekatan data mining dan pengembangan produk. Data berupa ulasan daring produk bantal premium dikumpulkan dari media e-commerce dan diolah melalui tahapan CRISP-DM. Identifikasi kebutuhan konsumen dilakukan menggunakan pemodelan topik latent Dirichlet allocation (LDA), sedangkan tingkat kepentingan kebutuhan dihitung menggunakan metode TF-MONO. Selanjutnya, kebutuhan konsumen diterjemahkan menjadi spesifikasi teknis melalui quality function deployment (QFD) fase I atau house of quality (HoQ). QFD fase II dan TRIZ digunakan untuk menghasilkan alternatif konsep produk yang kemudian dievaluasi menggunakan Pugh chart. Konsep terpilih divalidasi melalui analisis implementasi dan pengukuran intensi pembelian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling memengaruhi penilaian konsumen terhadap bantal premium adalah kenyamanan, keempukan, ukuran, kelembutan, dan ketebalan. Faktor kenyamanan memiliki bobot kepentingan tertinggi sebesar 1,52, diikuti keempukan sebesar 0,75. Proses QFD menghasilkan 13 engineering characteristics yang menjadi dasar penyusunan spesifikasi teknis produk. Spesifikasi utama yang diusulkan meliputi rata-rata tekanan 1185,58 Pa, kedalaman indentasi 14,10 cm, kenaikan temperatur maksimum 1,70°C, indentation force deflection 7,60 N, denier 0,8 den, dimensi 70 cm × 50 cm, permukaan 300 thread count, koefisien gesek statis 0,55, ketebalan 22,20 cm, berat isi 1800 gram, dan loft retention 92%. Evaluasi konsep menghasilkan dua alternatif yang layak diimplementasikan. Konsep utama menggunakan cover Tencel Lyocell bermotif strip horizontal dan filling gel-coated microfiber, dengan 75% responden memiliki intensi membeli. Konsep alternatif juga dirancang menggunakan cover cotton 300TC strip horizontal untuk meminimalisir kenaikan biaya material. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan ulasan daring dapat digunakan secara efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan menghasilkan spesifikasi teknis lebih sesuai dengan preferensi pasar
NIMA: SEBUAH PUSAT PROMOSI DAN BUDIDAYA PERIKANAN DI TEPI WADUK DARMA
Waduk Darma di Kabupaten Kuningan merupakan kawasan perairan multifungsi yang berperan sebagai sumber irigasi, destinasi wisata, sekaligus sentra budidaya perikanan air tawar melalui lebih dari 6.500 unit Keramba Jaring Apung (KJA). Potensi tersebut belum didukung oleh fasilitas yang mampu mengintegrasikan aktivitas produksi perikanan, mitigasi risiko budidaya, serta kegiatan wisata dan edukasi. Di sisi lain, fenomena upwelling (umbalan) yang terjadi secara berkala menyebabkan penurunan kualitas air dan kematian ikan secara massal sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi para pembudidaya. Infrastruktur pascapanen, logistik, dan ruang publik yang tersedia juga masih terbatas sehingga belum mampu meningkatkan nilai tambah hasil perikanan maupun kualitas pengalaman wisata kawasan. Tugas akhir ini mengusulkan NIMA (Adaptive Fishery Hub) sebagai sebuah pusat promosi dan budidaya perikanan di tepi Waduk Darma yang berfungsi sebagai titik temu antara aktivitas ekonomi, sosial, dan ekologi. Perancangan menggabungkan tiga fungsi utama, yaitu fasilitas Pusat Pemasaran dan Promosi Hasil Perikanan (P3HP), pusat penyelamatan ikan berbasis Recirculating Aquaculture System (RAS) yang didukung sistem pemantauan kualitas air, serta ruang publik dan wisata edukatif yang memperlihatkan proses budidaya dan pengolahan hasil perikanan secara aman tanpa mengganggu operasional. Pendekatan perancangan menggunakan Concept-Based Approach dengan konsep Adaptive Confluence, yang memaknai bangunan sebagai antarmuka antara manusia dan alam, air dan daratan, serta aktivitas produksi dan rekreasi dalam satu ekosistem yang adaptif terhadap perubahan lingkungan. Konsep tersebut diwujudkan melalui strategi pemisahan sirkulasi publik dan logistik, penerapan alur pengolahan yang higienis, respons terhadap fluktuasi muka air waduk, serta pembentukan ruang transisi yang memungkinkan interaksi visual antara pengunjung dan aktivitas perikanan. Massa bangunan disusun mengikuti karakter tapak dan orientasi terbaik ke arah waduk untuk memperkuat hubungan visual dengan lanskap sekaligus mendukung efisiensi operasional. Hasil perancangan menghadirkan sebuah fasilitas terpadu yang tidak hanya meningkatkan efisiensi rantai pasok dan nilai tambah produk perikanan, tetapi juga memperkuat ketahanan sektor budidaya terhadap fenomena upwelling melalui sistem mitigasi berbasis teknologi. Di sisi lain, proyek ini membangun identitas baru kawasan Waduk Darma sebagai destinasi wisata edukatif yang menghubungkan masyarakat, nelayan, dan wisatawan dalam pengalaman ruang yang informatif, interaktif, dan berkelanjutan. Dengan demikian, NIMA diharapkan menjadi model pengembangan kawasan perikanan tepi waduk yang mampu mengintegrasikan produktivitas ekonomi, pelestarian lingkungan, dan penguatan kualitas ruang publik.
CLIMATE CHANGE SCIENCE CENTER: PERANCANGAN SARANA EDUKASI PERUBAHAN IKLIM DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU DI KOTA BANDUNG
Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata pada daerah tertentu dalam jangka waktu yang panjang. Perubahan pada iklim dapat terjadi secara alamiah karena perubahan aktivitas matahari dan kejadian luar biasa pada alam, seperti bencana. Sejak 1800-an, aktivitas manusia menjadi faktor utama perubahan iklim. Kegiatan ini menghasilkan gas-gas yang membuat lapisan seperti penahan yang menghalau sinar matahari untuk terpantul keluar bumi. Akibatnya, sinar matahari terperangkap dan suhu bumi meningkat. Perubahan suhu rata-rata ini memicu perubahan lain pada bumi, termasuk iklim. Konsekuensi dari perubahan iklim sudah cukup terlihat saat ini, tidak hanya pada keadaan lingkungan, tapi juga pada kualitas kehidupan manusia. Berdasarkan survei oleh Peoples’ Climate Vote 2024 oleh University of Oxford dan GeoPoll, 60% responden merasa lebih khawatir terhadap perubahan iklim daripada tahun sebelumnya dan 54% merasa membutuhkan pembelajaran yang lebih banyak mengenai perubahan iklim. Pengetahuan masyarakat terhadap perubahan iklim adalah hal yang baik. Namun, masih banyak lapisan masyarakat yang tidak mengetahui usaha apa yang harus diambil untuk menghadapi perubahan iklim. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang untuk mengambil tindakan demi menjaga kestabilan iklim. Untuk menjawab permasalahan ini, dibutuhkan edukasi mengenai perubahan iklim yang terbuka untuk semua orang sebagai salah satu langkah menghadapi ancaman iklim global. Selain itu, sebagai upaya mengatasi perubahan iklim, perlu ada usaha dalam menerapkan sistem ramah lingkungan dalam perancangan bangunan. Proyek ini merupakan desain dari sarana edukasi informal berbasis ekshibisi sebagai upaya peningkatan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap isu perubahan iklim dan upaya reduksi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan bangunan melalui penerapan arsitektur hijau. Ekshibisi utama pada bangunan didesain untuk menyampaikan penyebab dan akibat dari perubahan iklim pada setiap elemen yang ada di bumi. Alur ekshibisi menggunakan konsep ‘Freedom-to-Wonder’. Dengan konsep ini, pengunjung bebas untuk mengunjungi setiap bagian ekshibisi. Setiap bagian ekshibisi terhubung untuk menciptakan aliran sirkulasi yang mengalir secara alami. Sebagai upaya menghadapi perubahan iklim, proyek ini menggunakan pendekatan arsitektur hijau, seperti integrasi solar panel, daur ulang air hujan, penggunaan sistem penghawaan ramah lingkungan, pemilihan material, roof garden, dan rain garden untuk menyerap air hujan di kawasan proyek. Design framework yang digunakan dalam merancang proyek ini adalah concept-based design. Proyek ini terletak di Jl. Ir. H. Juanda, Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung dengan luas tanah ±10.000 m2. Metode yang digunakan untuk mendukung perancangan bangunan ini adalah studi literatur, studi preseden, dan analisis perilaku pengguna. Proyek ini menjawab SDGs No. 4: Quality Education, No. 7: Affordable and Clean Energi, dan No. 13: Climate Action. Proyek ini diharapkan bisa meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai iklim saat ini melalui ekshibisi interaktif dan terlibat secara langsung dalam upaya mengurangi dampak buruk pemanasan global dan perubahan iklim.
STUDI AB INITIO SIFAT ELEKTRONIK MATERIAL HETEROBILAYER MOS2 – MOSE2 DENGANKETIDAKMURNIAN KARBON
Penggabungan material transition metal dichalcogenides (TMDs) dua dimensi (2D) menjadi heterobilayer membuka peluang munculnya sifat elektronik yang lebih unggul dibandingkan lapisan tunggalnya. Namun, residu karbon (C) seringkali ditemukan pada material tersebut saat proses sintesisnya. Keberadaan residu karbon ini berpotensi mengubah karakteristik elektronik material TMDs. Penelitian ab initio pun dilakukan untuk menganalisis pengaruh ketidakmurnian karbon terhadap sifat elektronik material TMDs heterobilayer. Heterobilayer MoS2–MoSe2 memiliki rapat keadaan dan struktur pita energi yang unik bergantung pada konfigurasi susunan strukturnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa heterobilayer MoS2–MoSe2 dengan konfigurasi AB’ memiliki energi interaksi paling stabil dengan celah pita langsung sebesar 0,75 eV serta band alignment tipeII, dimana pita valensi maksimum dan pita konduksi minimum berasal dari lapisan yang berbeda. Penambahan atom karbon sebagai adatom mempertahankan karakter celah pita langsung sebesar 0,22 eV, sedangkan karbon sebagai dopan substitusi menghasilkan celah pita tidak langsung sebesar 0,36 eV. Adanya ketidakmurnian karbon menurunkan celah pita energi heterobilayer MoS?–MoSe?, sedangkan band alignment tetap tipe-II dan hanya berubah menjadi tipe-I pada konfigurasi tertentu.
PENGEMBANGAN MODEL ANALISIS PERANAUGMENTED REALITY TERHADAP USER STICKINESS PADA M-COMMERCE
Teknologi Augmented Reality (AR) dalam mobile commerce semakin banyak digunakan untuk meningkatkan kualitas pengalaman belanja digital. Namun, bukti empiris mengenai bagaimana karakteristik AR membentuk keterikatan penggunaan berkelanjutan pengguna pada platform masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik AR terhadap user stickiness pada mcommerce melalui kerangka Stimulus–Organism–Response. Pada penelitian ini digunakan pendekatan kuantitatif dengan survei online terhadap 216 pengguna aplikasi m-commerce berbasis AR di Indonesia. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vividness, interactivity, reality congruence, dan modality richness berpengaruh positif terhadap customer satisfaction, yang selanjutnya membentuk emotional attachment pengguna. Emotional attachment terbukti menjadi determinan user stickiness, sementara customer satisfaction dan value cocreation behavior tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa customer satisfaction dan value co-creation behavior secara signifikan berkontribusi terhadap user stickiness, namun pengaruh keduanya sepenuhnya dimediasi oleh emotional attachment, mengindikasikan bahwa baik kepuasan fungsional maupun partisipasi aktif pengguna hanya mampu mendorong keterikatan jangka panjang apabila terlebih dahulu bertransformasi menjadi ikatan afektif dengan platformPada penelitian ini diberikan kontribusi teoretis dengan menempatkan emotional attachment sebagai mediator penting antara karakteristik AR dan user stickiness, serta memberikan pemahaman tambahan mengenai peran value co-creation behavior dalam konteks m-commerce berbasis teknologi AR.
DETERMINAN SOSIO-EKONOMI DAN KONDISI KETENAGAKERJAAN TERHADAP PROBABILITAS BEKERJA DI INSTANSI PEMERINTAH PADA PROVINSI JAWA BARAT
Penelitian ini menganalisis hubungan antara karakteristik sosio-ekonomi dan kondisi ketenagakerjaan dengan probabilitas bekerja di instansi pemerintah pada Provinsi Jawa Barat. Studi ini menggunakan data pooled cross-sectional Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) tahun 2021-2024, yang mencakup periode dengan dinamika kebijakan rekrutmen Aparatur Sipil Negara (ASN) yang signifikan. Estimasi dilakukan melalui pendekatan kuantitatif asosiatif menggunakan model regresi logistik (logit), yang dilengkapi year fixed effects, cluster-robust standard error pada tingkat kabupaten/kota, dan prosedur pairs cluster bootstrap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan merupakan determinan terkuat karena fungsinya sebagai syarat administratif yang melekat pada setiap formasi ASN. Pada aspek generasi, Gen X memiliki probabilitas lebih tinggi dan Gen Z lebih rendah dibandingkan Baby Boomer, sedangkan Milenial tidak berbeda signifikan, pola ini menggambarkan efek keterbatasan dan ketidakpastian penyelenggaraan rekrutmen saat setiap generasi memasuki pasar kerja daripada perbedaan preferensi. Pada aspek pengalaman ketenagakerjaan, individu yang belum pernah bekerja dan memiliki masa transisi dari kelulusan ke pekerjaan yang lebih singkat memiliki probabilitas terserap lebih tinggi, menegaskan bahwa instansi pemerintah cenderung menyerap tenaga kerja pada tahap awal karier. Di tingkat wilayah, dari empat indikator hanya proporsi pekerja informal yang berhubungan positif sebagai indikator terkuat dan UMK yang berhubungan negatif yang signifikan, menunjukkan bahwa instansi pemerintah menjadi penyedia kerja formal utama pada wilayah dengan sektor formal di luar instansi pemerintah yang terbatas, meskipun besaran kontribusinya lebih kecil dibandingkan faktor individu. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa keterserapan pekerja ke instansi pemerintah di Provinsi Jawa Barat bukan sekadar hasil pilihan rasional individu atas pekerjaan yang stabil, melainkan bentuk alokasi yang terkendala oleh regulasi dan mekanisme rekrutmen, dengan kualifikasi pendidikan dan tahap awal karier sebagai penyaring yang lebih berperan dibandingkan kondisi makro pasar tenaga kerja.
DESAIN BIOPHILIC DI RUANG KERJA UNTUK MENINGKATKAN KINERJA KOGNITIF, RESPONS FISIOLOGI, DAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS
Pertumbuhan penduduk perkotaan di Indonesia yang terus meningkat berdampak pada penurunan kualitas lingkungan perkotaan, ditandai dengan berkurangnya vegetasi perkotaan dan meningkatnya kepadatan bangunan. Kondisi ini menyebabkan masyarakat perkotaan semakin terbatas dalam merasakan elemen alam, khususnya selama jam kerja di dalam ruangan sehingga tidak memiliki cara untuk meredakan kondisi negatif yang muncul selama jam kerja, sehingga kondisi-kondisi tersebut terakumulasi dan berdampak pada penurunan konsentrasi, peningkatan kesalahan kerja, serta menurunnya produktivitas. Desain biophilic merupakan pendekatan yang mengimplementasikan elemen alami ke dalam ruangan dan terbukti memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan psikologis, respons fisiologis, maupun kinerja kognitif, namun penelitian eksperimental mengenai desain biophilic di ruang kerja pada negara berkembang seperti Indonesia masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh desain biophilic dengan atribut greenery, water features, dan multisensory experience terhadap kinerja kognitif, respons fisiologis, dan kesejahteraan psikologis pekerja. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen within-subject dengan melibatkan 30 partisipan yang menjalani dua skenario ruang kerja secara bergantian, yaitu skenario biophilic dan nonbiophilic. Partisipan diminta mengerjakan Visual Search Task (VST) untuk mengukur kinerja kognitif, mengukur detak jantung dan tekanan darah (TDS dan TDD) untuk respons fisiologis, serta mengisi kuesioner Perceived Restorativeness Scale (PRS) dan Positive and Negative Affect Schedule (PANAS) untuk kesejahteraan psikologis. Terakhir, partisipan mengisi kuesioner Nature Relatedness-6 (NR-6) untuk mengukur tingkat keterhubungan individu dengan alam, yang digunakan untuk menganalisis perannya dalam memoderasi kinerja kognitif, respons fisiologis, dan kesejahteraan psikologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain biophilic tidak secara signifikan meningkatkan kinerja kognitif, meskipun terdapat kecenderungan positif pada reaction time dan akurasi Visual Search Task. Dari sisi respons fisiologis, desain biophilic secara signifikan menurunkan detak jantung (t(26) = ?2,19; p = 0,04), sedangkan tekanan darah sistolik maupun diastolik lebih stabil namun tidak signifikan. Dari sisi kesejahteraan psikologis, skenario biophilic dinilai lebih restoratif berdasarkan skor PRS (t(26) = 9,22; p < 0,01), serta secara signifikan meningkatkan afek positif (Z = ?2,31; p = 0,02) dan menurunkan afek negatif (Z = ?4,20; p < 0,01) dari sebelum ke sesudah eksperimen. Sebaliknya, ruang nonbiophilic tidak menunjukkan perubahan afek yang signifikan. Perbandingan langsung antar skenario menegaskan bahwa afek positif signifikan lebih tinggi pada ruang biophilic (t = 3,90; p < 0,01). Hasil penting lainnya, uji korelasi menunjukkan bahwa individu dengan keterhubungan alam (nature relatedness) yang lebih tinggi merasakan manfaat desain biophilic yang lebih besar pada persepsi restoratif (r = 0,40; p = 0,04) dan penurunan afek negatif (r = ?0,41; p = 0,03), namun justru menunjukkan peningkatan detak jantung yang lebih besar (r = 0,43; p = 0,02), berlawanan dengan arah yang diharapkan. Pola ini sejalan dengan effect size interaksi mixed ANOVA yang tergolong moderate (?²?? 0,09) meskipun tidak signifikan. Peran moderasi nature relatedness lebih konsisten terlihat melalui pendekatan korelasi dibandingkan perbandingan antar kelompok, kemungkinan akibat keterbatasan ukuran sampel kelompok NR rendah (n = 4).
SACRED STILLNESS: INTEGRASI RUANG PEMAKAMAN DAN TERAPI DALAM MELEWATI MASA DUKA DI BANDUNG BARAT
Berbagai suku di Indonesia memiliki tradisi upacara pemakaman yang beragam; banyak diantaranya memandang kematian sebagai perayaan kehidupan, sehingga mengalihkan fokus dari sekadar perpisahan menjadi penghormatan terhadap perjalanan hidup orang terkasih. Prosesi ini sering kali melibatkan keluarga besar dan kerabat, sehingga ketersediaan ruang yang tenang menjadi aspek yang sangat penting. Tradisi pemakaman di Indonesia sangat bervariasi dalam hal ini; setiap tradisi memiliki cara pandang yang berbeda terhadap kematian. Mengingat perlunya perubahan perspektif dalam memandang kematian, diperlukan desain rumah duka yang universal sehingga dapat mampu mengakomodasi berbagai jenis upacara pemakaman. Oleh karena itu, penting untuk mendefinisikan ulang konsep rumah duka tradisional dengan mengintegrasikan aspek psikologis dan terapeutik. Upaya ini bertujuan untuk menciptakan suasana rumah duka yang lebih akrab dan hangat, serta menjauhi kesan formal maupun industrial yang kaku. Kematian tak lepas dari rasa duka, terlepas dari bagaimana peristiwa tersebut dipersepsikan. Anak-anak dan remaja sering kali mengalami kesepian secara emosional dan sosial akibat kehilangan anggota keluarga atau sosok yang memiliki ikatan batin yang kuat dengan mereka. Mereka yang mengalami kedukaan ini menghadapi risiko lebih tinggi terhadap masalah kesehatan mental, rasa kesepian, dan hambatan perkembangan. Demikian pula, orang dewasa juga menghadapi tantangan serupa akibat kehilangan orang yang dicintai. Tanpa penanganan sosial yang tepat dan segera, banyak orang dewasa dilaporkan mengalami kesepian dan rasa duka yang berkepanjangan setelah kehilangan. Pesatnya urbanisasi dan tingginya tingkat migrasi di Bandung Barat menyebabkan lemahnya jaringan dukungan sosial, sehingga muncul kebutuhan untuk memfasilitasi interaksi sosial masyarakat. Oleh karena itu, kehadiran fasilitas yang dapat mengakomodasi berbagai kelompok usia menjadi sangat krusial. Proyek ini berlokasi di Bandung Barat, tepatnya di kawasan Lembang. Lokasi ini memiliki keunggulan berupa sirkulasi udara alami yang sejuk serta pemandangan pegunungan yang menenangkan. Keunggulan tersebut tidak hanya mendukung aspek pemulihan melalui bangunan, tetapi juga memungkinkan komersialisasi sebagian area bagi masyarakat umum. Mengingat karakteristik lokasi tersebut, diperlukan berbagai pertimbangan matang untuk memastikan proyek ini memiliki dampak lingkungan yang minim dan tidak merugikan kawasan sekitarnya. Hal ini penting untuk menjamin keberlanjutan proyek dalam jangka panjang. Proyek ini berkaitan dengan tiga Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Salah satunya adalah SDG ketiga, yaitu good health and well-being. Fokus utama proyek ini adalah pemulihan kesehatan mental bagi mereka yang sedang berduka. Hal ini secara langsung mendukung tujuan tersebut karena berdampak positif terhadap kesejahteraan penduduk Bandung Barat.
USULAN STRATEGI MANAJEMEN JALUR KARIR UNTUK MENGATASI KEBUNTUAN KARIR KARYAWAN : STUDI KASUS DI PT PERTA SAMTAN GAS
PT Perta Samtan Gas (PSGas) adalah perusahaan pengolahan gas patungan yang mapan dalam ekosistem energi milik negara Indonesia. Diatur oleh Perjanjian Pemegang Saham (SHA) yang mensyaratkan konsensus dari Dewan Direksi kedua belah pihak untuk semua keputusan strategis, PSGas menghadapi hambatan struktural dalam karir bagi karyawan yang dipekerjakan langsung, yang mengakibatkan hambatan sistematis terhadap promosi, mobilitas karir, dan pengembangan peran, sehingga menyebabkan kebuntuan karir. Studi ini membahas tiga pertanyaan penelitian: kondisi kebuntuan karir saat ini di PSGas; hubungan antara struktur organisasi, tata kelola sistem karir, dan kebuntuan karir; serta perumusan strategi manajemen jalur karir untuk mengatasinya. Desain studi kasus tunggal metode campuran digunakan, yang mengintegrasikan kuesioner terstruktur yang diberikan kepada 126 karyawan yang dipekerjakan langsung (90.6% dari populasi 139 karyawan, melebihi minimum rencana awal yang hanya 105), dianalisis menggunakan PLS-SEM dengan SmartPLS 3.0, dan wawancara mendalam dengan sebelas informan kunci, dianalisis melalui pengkodean tematik terbuka, aksial, dan selektif. Temuan ini menegaskan bahwa kebuntuan karir tersebar luas, dengan rata-rata keseluruhan Career Stuckness (CS) sebesar 4.13 (kategori Tinggi) dan 61.1% karyawan tetap tidak dipromosikan selama lebih dari lima tahun. Analisis PLS- SEM mengungkapkan bahwa Struktur Organisasi (ORS) berdampak positif terhadap Career Stuckness (? = +0.592, p < 0.001) dan Tata Kelola Sistem Karir (GCS) berdampak negatif terhadap Career Stuckness (? = -0.343, p < 0.001), dengan daya penjelas gabungan sebesar R² = 0.595. Analisis kualitatif mengidentifikasi tiga akar penyebab: kendala tata kelola SHA, kekakuan sistem Grup Pertamina, dan perbedaan budaya Indonesia-Korea di antara pemegang saham. Berdasarkan temuan ini, studi ini mengusulkan Kerangka Manajemen Jalur Karir Terintegrasi menggunakan Model Penyelarasan 7S McKinsey. Tujuh strategi intervensi diorganisasikan ke dalam tiga fase implementasi: jangka pendek (Staf, Gaya, Keterampilan), jangka menengah (Sistem, Struktur), dan jangka panjang (Strategi, Nilai Bersama), yang semuanya dirancang untuk beroperasi dalam batasan tata kelola SHA yang ada. Kerangka kerja ini bertujuan untuk mengurangi kebuntuan karir dari 4.13 menjadi di bawah 3.67 (kategori Menengah) melalui peningkatan tata kelola dan infrastruktur karir secara simultan.
INTEGRASI SEKTOR INFORMAL KE DALAM PEREKONOMIAN PERKOTAAN: URBAN FOOD HUB DI JALAN JAMIKA, BANDUNG
Pertumbuhan Kota Bandung yang pesat sangat bergantung pada sektor ekonomi informal yang menopang keseharian penduduknya. Per Agustus 2024, tercatat 43,45% tenaga kerja (545,1 ribu orang) bekerja di sektor informal, meningkat 78,9 ribu orang dibanding tahun sebelumnya. Sebaliknya, pekerja formal menurun 26,8 ribu orang karena banyak keluarga beralih ke sektor informal demi bertahan hidup. Pedagang Kaki Lima (PKL) menjadi representasi nyata dari kebutuhan ini. Meskipun bermodal minim dan bertahan tanpa kepastian tempat atau perlindungan regulasi, keberadaan PKL tetap menghidupkan jalanan kota, sekaligus menyokong sektor pendidikan, pariwisata, dan industri kreatif. Komoditas PKL mencakup pakaian, barang, dan jasa, dengan pedagang makanan sebagai sektor utama yang erat kaitannya dengan wisata kuliner urban. Namun, keterbatasan lahan dan peningkatan kepadatan memicu persaingan ruang yang ketat di trotoar dan koridor jalan. Penerapan kebijakan yang tidak konsisten dan menyeluruh akhirnya menjebak pedagang dalam siklus penggusuran dan negosiasi akibat konflik spasial. Fenomena ini diteliti di Jalan Jamika, Kecamatan Bojongloa Kaler, kawasan padat penduduk dan lalu lintas yang berdekatan dengan pusat sejarah Bandung. Konflik sirkulasi dengan pemilik toko telah memicu usulan relokasi, padahal koridor ini berpotensi kuat sebagai zona transisi untuk menguji integrasi sektor formal dan informal. Tugas Akhir ini mengusulkan sebuah Urban Food Hub untuk mengonsolidasikan pedagang ke dalam fasilitas yang mudah diakses. Berbeda dari pusat jajanan biasa, hub ini berfungsi sebagai katalis placemaking yang mengubah koridor jalan menjadi jangkar komunitas dan simpul budaya kuliner. Alih-alih memandang informalitas secara negatif, proyek ini memaknainya kembali sebagai identitas kota dengan merancang ruang yang inklusif bagi semua pengguna. Melalui observasi lapangan dan pemetaan perilaku, studi ini menangkap ritme spasial pedagang serta alur pergerakan pengunjung. Analisis tapak mengungkap kesenjangan aktivitas koridor yang sepi di siang hari namun ramai di malam hari, memperjelas jarak antara tata guna lahan formal dan praktik riil. Dengan studi preseden pasar formal, tipologi sirkulasi vertikal, serta wawancara partisipatif bersama warga dan pedagang, proyek ini bertujuan mengembangkan strategi arsitektural yang mampu meregulasi aktivitas informal dalam kerangka kota formal demi menyelesaikan konflik ruang sekaligus mendukung pencapaian SDG 8 dan SDG 11.
MANAJEMEN RISIKO PEMBENGKAKAN BIAYA DALAM PROYEK KONSTRUKSI JALAN TOL: STUDI KASUS JALAN TOL SERBELAWAN– PEMATANG SIANTAR
Pembengkakan biaya (cost overrun) merupakan salah satu tantangan utama dalam proyek konstruksi jalan tol karena berdampak terhadap kinerja proyek, profitabilitas kontraktor, serta pencapaian target pembangunan infrastruktur. Proyek Jalan Tol Serbelawan–Pematang Siantar menghadapi berbagai permasalahan selama pelaksanaannya, antara lain keterlambatan pembebasan lahan, perubahan desain, kenaikan harga material, gangguan logistik, dan ketidakpastian eksternal yang menyebabkan peningkatan biaya dan keterlambatan penyelesaian proyek. Oleh karena itu, penerapan manajemen risiko yang efektif diperlukan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan memitigasi faktor-faktor penyebab pembengkakan biaya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi faktor-faktor risiko utama yang menyebabkan pembengkakan biaya pada Proyek Jalan Tol Serbelawan–Pematang Siantar; (2) menganalisis tingkat prioritas, akar penyebab, serta hubungan antar faktor risiko menggunakan Root Cause Analysis (RCA), Analytic Hierarchy Process (AHP), dan Event Tree Analysis (ETA); serta (3) merumuskan strategi mitigasi yang efektif untuk meminimalkan pembengkakan biaya pada proyek jalan tol di masa mendatang. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods melalui studi kasus dengan memanfaatkan tinjauan pustaka, dokumentasi proyek, wawancara semi-terstruktur, serta kuesioner penilaian pakar (expert judgment). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan pembebasan lahan merupakan faktor risiko paling dominan yang menyebabkan pembengkakan biaya, diikuti oleh perubahan desain, kenaikan harga material, gangguan logistik, dan ketidakpastian eksternal. Hasil analisis AHP menempatkan keterlambatan pembebasan lahan sebagai risiko dengan prioritas tertinggi. Analisis RCA mengidentifikasi bahwa lemahnya koordinasi antarinstansi, tumpang tindih regulasi, lamanya proses administrasi, serta belum optimalnya sistem verifikasi kepemilikan lahan merupakan akar penyebab utama keterlambatan pembebasan lahan. Selanjutnya, hasil analisis ETA menunjukkan bahwa penerapan strategi mitigasi secara preventif dan korektif mampu menurunkan probabilitas serta dampak pembengkakan biaya melalui peningkatan identifikasi risiko sejak tahap awal dan penguatan mekanisme pengendalian proyek. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, direkomendasikan pembentukan satuan tugas (task force) pembebasan lahan yang terintegrasi, peningkatan kualitas Detailed Engineering Design (DED) sebelum konstruksi dimulai, penerapan strategi pengadaan berbasis risiko, penguatan mekanisme pengelolaan kontrak yang lebih adaptif terhadap risiko proyek, serta implementasi sistem pemantauan proyek berbasis digital. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan koordinasi antar pemangku kepentingan, mengurangi ketidakpastian selama pelaksanaan proyek, serta meminimalkan
PENGUJIAN DENDROCALAMUS ASPER (BAMBU BETUNG) SEBAGAI FITOREMEDIATOR LOGAM BERAT KADMIUM SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN KLOROFIL DAUN
Perkembangan aktivitas industri yang pesat meningkatkan pencemaran lingkungan melalui pelepasan limbah logam berat. Limbah industri tekstil di Kabupaten Bandung menjadi salah satu sumber pencemar Cd dengan konsentrasi yang melampaui baku mutu lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan fitoremediasi bibit Dendrocalamus asper berdasarkan kemampuan translokasi dan bioakumulasi, serta efisiensi prosesnya. Dianalisis pula keberlangsungan hidup serta pertumbuhan bibit dan kandungan klorofil daun selama 90 hari. Penggunaan alat XRF untuk menganalisis Cd yang terserap serta unsur pembentuk klorofil (Mg, Mn, dan Fe). Hasil data kemampuan fitoremediasi diuji dengan korelasi Spearman, keberlangsungan hidup dihitung dengan survival rate, lalu regresi logistik, serta pertumbuhan bibit dan kandungan klorofil daun menggunakan 2-way ANOVA, lalu uji lanjut Tukey. Didapatkan bibit D. asper mampu menyerap Cd sebesar 62,71% dan 83,24% pada masing-masing 1,2 mg/L dan 2,4 mg/L Cd, akumulasi tertinggi pada daun (57,66%) dan akar (50,99%). Nilai TF > 1 dan BCF < 1 mengindikasikan D. asper belum tergolong hiperakumulator, namun baik dalam mereduksi kandungan Cd tanah. Kedua jenis bibit toleran hingga 2,4 mg/L Cd, survival rate bibit kultur jaringan 100% dan kondisi kesehatan lebih baik daripada bibit stek batang, sehingga dianjurkan untuk praktik fitoremediasi selanjutnya. Konsentrasi Cd yang diberikan masih di bawah batas toleran bibit D. asper dengan tidak terganggunya pertumbuhan bibit maupun kandungan klorofil daunnya. Hal ini terlihat pula dari belum adanya hambatan dalam penyerapan unsur pembentuk klorofil, yaitu Mg, Mn, dan Fe. Hasil penelitian ini diharapkan dapat diimplementasikan sebagai solusi terhadap pencemaran lingkungan oleh logam berat.