📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenMODIFIKASI LAPISAN TRANSPOR ELEKTRON SNO2 MELALUI PENAMBAHAN CARBON DOTS UNTUK PENINGKATAN KINERJA SEL SURYA PEROVSKIT
Sel surya perovskit (perovskite solar cells, PSCs) merupakan teknologi fotovoltaik yang berkembang pesat karena memiliki efisiensi tinggi, biaya produksi yang relatif rendah, dan proses fabrikasi yang sederhana. Namun, performa PSCs masih dibatasi oleh kehilangan muatan dan rekombinasi pada antarmuka perangkat. Pada arsitektur n-i-p, SnO? banyak digunakan sebagai lapisan transpor elektron (ETL), tetapi keberadaan cacat permukaan seperti oxygen vacancies dapat meningkatkan rekombinasi dan menurunkan efisiensi perangkat. Penelitian ini mengkaji pengaruh konfigurasi nitrogen pada nitrogen-functionalized carbon dots (N-CDs), yaitu pyrrolic-N, pyridinic-N, dan graphitic-N, terhadap sifat elektronik SnO? serta kinerja PSCs berbasis perovskit triple-cation Cs-FA-MA. N-CDs disintesis melalui metode hidrotermal dengan variasi prekursor untuk menghasilkan dominasi konfigurasi nitrogen yang berbeda, kemudian diinkorporasikan ke dalam lapisan SnO? sebagai ETL. Karakterisasi dilakukan untuk mengevaluasi struktur kimia, sifat optik, tingkat energi, mobilitas elektron, serta dinamika transfer muatan pada antarmuka ETL/perovskit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan N-CDs tidak menurunkan transparansi optik SnO? secara signifikan dan mampu memperbaiki kualitas antarmuka melalui pengurangan cacat permukaan serta peningkatan transpor elektron. Seluruh jenis N-CDs memberikan peningkatan performa dibandingkan dengan SnO? tanpa modifikasi, namun efeknya bergantung pada konfigurasi nitrogen yang dominan. N-CDs kaya pyridinic-N, menunjukkan hasil terbaik dengan penyelarasan tingkat energi yang lebih baik, mobilitas elektron yang lebih tinggi, serta ekstraksi elektron yang lebih cepat sehingga mampu menekan rekombinasi muatan. Perangkat PSCs dengan ETL SnO? termodifikasi N-CDs kaya pyridinic-N menghasilkan power conversion efficiency (PCE) tertinggi sebesar 17,40%, lebih tinggi dibandingkan perangkat berbasis SnO? pristine (14,85%) maupun konfigurasi nitrogen lainnya. Selain itu, perangkat ini mempertahankan sekitar 67% dari PCE awal setelah penyimpanan selama 1008 jam tanpa enkapsulasi, menunjukkan peningkatan stabilitas yang signifikan. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa konfigurasi ikatan C–N pada N-CDs merupakan faktor penting dalam rekayasa antarmuka PSCs berbasis SnO?. Konfigurasi pyridinic-N terbukti paling efektif dalam meningkatkan sifat elektronik ETL, memperbaiki ekstraksi muatan, meningkatkan efisiensi konversi daya, dan memperkuat stabilitas perangkat. Temuan ini memberikan pemahaman tentang hubungan antara struktur kimia N-CDs dan kinerja PSCs.
PENGEMBANGAN DAN EVALUASI MODEL INTERVENSI DIGITAL TERINTEGRASI SAHABAT DM UNTUK MENINGKATKAN SELFMANAGEMENT DAN KENDALI GLIKEMIK PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA LAYANAN KESEHATAN PRIMER DI KOTA BANDUNG
International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan jumlah penderita diabetes melitus (DM) di Indonesia dapat mencapai 28,57 juta pada 2045, menjadikan Indonesia sebagai negara penderita DM ketujuh terbesar di dunia. Edukasi terstruktur untuk meningkatkan manajemen perawatan DM telah terbukti efektif membantu pasien, tetapi keterbatasan waktu di layanan primer seringkali membuat proses konseling tidak optimal. Di sisi lain pemanfaatan teknologi digital saat ini menawarkan peluang untuk meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan diri pasien dalam mengelola penyakit kronis yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan layanan digital edukasi gaya hidup sehat berkelanjutan sebagai panduan pengelolaan dan penatalaksanaan diabetes melitus, dengan tujuan akhir menurunkan HbA1c dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods sequential exploratory yang terdiri atas empat tahapan utama, dengan integrasi metode kualitatif dan kuantitatif. Tahap pertama merupakan studi kualitatif eksploratif yang bertujuan untuk menggali ekspektasi dan kebutuhan pasien terhadap layanan digital dalam pengelolaan T2DM. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 20 responden yang dipilih secara purposif. Analisis data dilakukan secara tematik menggunakan perangkat lunak NVivo untuk mengidentifikasi tema-tema utama, yang kemudian menjadi dasar pengembangan fitur dan konten intervensi digital. Tahap kedua adalah tahap pengembangan aplikasi digital Sahabat DM menggunakan pendekatan research and development (R&D) berbasis desain partisipatif. Proses ini melibatkan masukan dari pasien dan tenaga medis / kesehatan untuk memastikan bahwa aplikasi memenuhi kebutuhan pengguna. Aplikasi memuat edukasi audio visual (video) berdurasi 1–2 menit tentang gaya hidup sehat, pengelolaan diet, aktivitas fisik, informasi obat, efek sampingnya tanaman berkhasiat, dan teknik relaksasi, materi edukasi per pekan. Tahap ketiga merupakan uji Usability aplikasi secara kuantitatif menggunakan pendekatan deskriptif. Penilaian/evaluasi dilakukan menggunakan instrumen System Usability Scale (SUS) dan Single Ease Question (SEQ) terhadap sejumlah pengguna terbatas untuk menilai kemudahan penggunaan dan kenyamanan akses -fitur aplikasi. Hasil uji Usability pada tahap ketiga menunjukkan bahwa aplikasi memiliki tingkat kelayakan penggunaan yang baik, dengan skor System Usability Scale (SUS) sebesar 72 dengan kategori B (good) dan skor Single Ease Question (SEQ) rata-rata 5 yang menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai setiap tugas dalam aplikasi dapat diselesaikan dengan tingkat kemudahan yang relatif baik digunakan dan diterima oleh pengguna. Tahap keempat adalah implementasi intervensi digital melalui desain kuantitatif quasieksperimental dengan pre-test and post-test control group. Sebanyak 100 pasien T2DM dengan kadar HbA1c tidak terkontrol (> 8%) direkrut dari 10 Puskesmas di Kota Bandung selama periode Desember 2023 hingga Juni 2024. Responden dibagi secara seimbang ke dalam dua kelompok: kelompok intervensi (n=50) yang menerima layanan digital Sahabat DM selama 24 pekan, dan kelompok kontrol (n=50) yang memperoleh konseling konvensional dari Puskesmas. Materi edukasi digital diberikan secara rutin setiap pekan melalui media audio-visual, yang berfokus pada peningkatan kesadaran, edukasi berkelanjutan, dan penguatan perilaku hidup sehat. Hasil studi menunjukkan bahwa proporsi responden kelompok intervensi dengan kadar HbA1c 8–9% mengalami penurunan signifikan dari 40% pada awal seleksi menjadi 7% setelah 6 bulan intervensi. Sementara itu, pada kelompok kontrol, proporsi responden dengan HbA1c 6–8% menurun dari 44% menjadi 20% setelah konseling konvensional selama periode yang sama. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi berbasis aplikasi digital Sahabat DM efektif dalam menurunkan kadar HbA1c, meningkatkan pemahaman pasien terhadap pengelolaan diabetes melitus, berpotensi diintegrasikan ke layanan primer sebagai model edukasi diabetes berbasis teknologi. serta mendorong perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat dan berkelanjutan.
COSMOLOGICAL AXIS OF KNOWLEDGE: PERPUSTAKAAN UMUM SENI DAN BUDAYA DENGAN PENDEKATAN NEUROARCHITECTURE DI KOTA YOGYAKARTA
Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola akses informasi masyarakat, namun turut memengaruhi menurunnya minat literasi dan apresiasi terhadap budaya lokal. Permasalahan tersebut menuntut hadirnya perpustakaan yang mampu bertransformasi menjadi ruang publik yang mengintegrasikan fungsi pendidikan, pelestarian budaya, dan interaksi sosial. Topik tugas akhir ini berfokus pada perancangan Perpustakaan Umum Seni dan Budaya sebagai ruang edukasi dan pelestarian budaya yang mendukung SDG 4 (Quality Education), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), dan SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui penyediaan ruang belajar yang inklusif serta peningkatan akses terhadap pengetahuan dan budaya. Isu utama yang melatarbelakangi perancangan adalah rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia, perubahan perilaku belajar di era digital, serta semakin memudarnya identitas budaya lokal akibat arus globalisasi. Kondisi tersebut menuntut hadirnya fasilitas publik yang mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat hubungan masyarakat dengan nilai-nilai budaya lokal. Tipologi bangunan yang dipilih adalah Perpustakaan Umum Seni dan Budaya di Kota Yogyakarta. Tipologi ini dipilih karena perpustakaan memiliki peran strategis sebagai pusat literasi, pelestarian warisan budaya, ruang kolaborasi, serta inovasi akses pengetahuan yang relevan dengan karakter Yogyakarta sebagai kota pelajar dan pusat seni budaya Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah Neuroarchitecture, yang mengintegrasikan prinsip ilmu saraf ke dalam desain arsitektur untuk menciptakan ruang yang mendukung kenyamanan, konsentrasi, kesejahteraan emosional, dan interaksi sosial. Pendekatan tersebut dipadukan dengan konsep Cosmological Axis of Knowledge yang mengadaptasi Sumbu Filosofi Yogyakarta serta konsep Tri Nga (Ngerti–Ngrasa–Nglakoni) sebagai dasar pembentukan pengalaman ruang yang menghubungkan proses memahami, menghayati, dan mengimplementasikan pengetahuan. Metode perancangan dilakukan melalui studi literatur, analisis tapak, studi preseden, analisis pengguna, dan pengembangan konsep desain secara komprehensif. Perancangan ini bertujuan menghasilkan perpustakaan yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi, tetapi juga sebagai ruang belajar, berekspresi, dan berinteraksi yang mampu meningkatkan literasi masyarakat, melestarikan seni dan budaya lokal, serta menghadirkan pengalaman ruang yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan. Luaran yang dihasilkan berupa rancangan arsitektur "Cosmological Axis of Knowledge: Perpustakaan Umum Seni dan Budaya dengan Pendekatan Neuroarchitecture di Kota Yogyakarta" yang diharapkan dapat menjadi model pengembangan perpustakaan publik masa depan yang menghubungkan warisan budaya, teknologi, dan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.
MERAJUT INFRASTRUKTUR GAS ALAM: MEMPRIORITASKAN PORTOFOLIO PROYEK UNTUK MENGATASI KEKURANGAN PASOKAN GAS DI WILAYAH JAWA BARAT
Wilayah Jawa Barat merupakan pusat industri Indonesia yang menyumbang sepertiga perekonomian nasional dan mengonsumsi energi terbesar. Sektor manufaktur maupun pembangkitan listrik di wilayah ini sangat bergantung pada gas bumi, dengan total permintaan mencapai sekitar 1.120 MMSCFD, atau sekitar 34% dari total permintaan nasional. Pada tanggal 5 Agustus 2025, kebakaran dan ledakan di lapangan gas di Subang mengakibatkan sekitar 65 MMSCFD pasokan gas berkurang sehingga menghadapkan wilayah ini pada defisit pasokan gas yang kian memburuk akibat produksi hulu yang menurun sementara pusat permintaan yang terus tumbuh. Karena kondisi ini mengancam daya saing industri, keandalan kelistrikan, dan ketahanan energi nasional, maka diperlukan kajian sistematis untuk mengatasi hal tersebut. Kajian ini membahas bagaimana sektor midstream migas dapat mengusulkan alternatif proyek untuk mengatasi defisit tersebut melalui infrastruktur interkoneksi yang menghubungkan Jawa Barat dengan wilayah-wilayah surplus gas, dengan menganalisis kriteria apa yang memengaruhi pemilihan proyek, bagaimana proyek-proyek alternatif diprioritaskan, dan bagaimana perubahan parameter gas memengaruhi opsi tersebut. Kajian ini menggunakan desain metode campuran (mixed method) yang berurutan. Tahap kualitatif dilakukan dengan memadukan wawancara semi-terstruktur dan perangkat lunak analisis data kualitatif berbantuan komputer (computer-aided qualitative data analysis software/CAQDAS) untuk mengodekan dan mengidentifikasi kriteria yang diprioritaskan oleh para responden. Tahap kuantitatif kemudian menerapkan Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk membobot kriteria tersebut, memeringkat alternatif berdasarkan agregasi penilaian individual setiap responden, dan menggunakan simulasi Monte Carlo untuk menguji ketangguhan komersial proyek terpilih terhadap volatilitas harga. Empat kriteria terbukti yang menentukan: Fleksibilitas Pasokan Gas, Skenario Tarif , Keandalan Layanan, dan Keandalan Infrastruktur. Fleksibilitas Pasokan Gas dan Skenario Tarif memiliki bobot dominan yang nyaris setara. Tiga proyek alternatif dievaluasi: Pipa Transmisi Cisem-2, Jumper Line Cilamaya, dan pipa Sumatera Utara-Riau. Jumper Line Cilamaya menempati peringkat tertinggi karena proyeknya berbiaya rendah dan penawaran tarifnya menarik, Cisem-2 di peringkat kedua karena menjadi tulang punggung jangka panjang yang paling andal, dan Sumatera Utara-Riau di peringkat terakhir. Oleh karena itu, Jumper Line Cilamaya direkomendasikan sebagai solusi jangka pendek yang terjangkau, dan Cisem-2 sebagai tulang punggung strategis jangka panjang. Uji sensitivitas memastikan total biaya gas untuk proyek yang direkomendasikan tetap layak secara komersial pada rentang harga realistis harga minyak.
PUSAT RISET EKOLOGI DAN KONSERVASI FLORA IN-SITU: TIPOLOGI ADAPTIF MELALUI URBANISME EKOLOGIS DI GEDEBAGE, BANDUNG
Kawasan Bandung Timur, khususnya Gedebage, mengalami tekanan lingkungan yang semakin meningkat akibat pesatnya perkembangan kawasan terbangun. Kondisi tersebut ditandai oleh rendahnya proporsi ruang terbuka hijau dibandingkan standar ideal, meningkatnya suhu kawasan (urban heat island), penurunan muka tanah (land subsidence), risiko banjir, serta degradasi habitat flora lokal yang mengancam keberlanjutan ekosistem perkotaan. Permasalahan tersebut menunjukkan perlunya pendekatan arsitektur yang tidak hanya menyediakan fasilitas penelitian, tetapi juga berkontribusi terhadap pemulihan ekologi kawasan. Isu ini selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 15 (Life on Land). Tugas akhir ini mengusulkan tipologi In-Situ Ecology and Flora Conservation Research Center, yaitu pusat penelitian, konservasi, edukasi, dan rekreasi yang berfokus pada pelestarian flora lokal melalui pendekatan konservasi langsung di habitat alaminya. Tipologi ini dipilih sebagai media untuk mengintegrasikan fungsi ilmiah, edukatif, dan ekologis dalam mendukung pengembangan kota yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan. Pendekatan perancangan menggunakan Ecological Urbanism sebagai kerangka utama yang diintegrasikan dengan prinsip Biophilic Design, Passive Design, dan Water Sensitive Urban Design (WSUD). Integrasi ketiga pendekatan tersebut diterapkan melalui pembentukan koridor hijau, restorasi habitat, sistem pengelolaan air berkelanjutan, optimalisasi pencahayaan dan ventilasi alami, serta penggunaan elemen vegetasi sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas lingkungan dan kenyamanan pengguna. Metode perancangan meliputi studi literatur, analisis kondisi ekologis kawasan Gedebage, studi preseden, analisis tapak, identifikasi kebutuhan pengguna, serta proses sintesis desain yang diterjemahkan ke dalam pengembangan massa, zonasi, sistem bangunan, dan strategi keberlanjutan. Proses tersebut menghasilkan rancangan adaptif yang mempertimbangkan aspek lingkungan, fungsi, dan pengalaman ruang secara terpadu. Hasil perancangan berupa pusat penelitian dan konservasi flora yang tidak hanya mendukung kegiatan riset dan edukasi, tetapi juga berperan sebagai infrastruktur ekologis perkotaan yang mampu meningkatkan kualitas lingkungan, memperkuat konektivitas ekosistem, serta menjadi model pengembangan fasilitas konservasi berbasis Ecological Urbanism di kawasan perkotaan yang rentan terhadap degradasi lingkungan.
PERANCANGAN ECO-LODGE BAGI PENDAKI GUNUNG BERBASIS PENGALAMAN ALAM DI KAWASAN KAKI GUNUNG GEDE–PANGRANGO
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan dan keindahan alam yang luar biasa, mulai dari pegunungan, hutan tropis, pantai, hingga danau dan perairan laut yang eksotis. Potensi ini mendorong berkembangnya berbagai destinasi wisata yang terus bertambah jumlahnya setiap tahun, seiring dengan meningkatnya minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Keindahan alam tidak hanya menjadi daya tarik utama, tetapi juga menjadi latar yang dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk merancang beragam fasilitas wisata, seperti resort, glamping, taman rekreasi, desa wisata, hingga agrowisata. Perkembangan ini turut memperkuat posisi sektor pariwisata sebagai salah satu pilar penting dalam ekonomi kreatif dan penggerak perekonomian masyarakat lokal. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, masih terdapat sejumlah destinasi wisata yang pengelolaannya belum sepenuhnya sesuai dengan kaidah keberlanjutan, sehingga menimbulkan tantangan baru bagi pariwisata Indonesia ke depan. Banyak objek wisata yang pembangunannya dilaporkan telah merugikan keberadaan ekosistem dan melanggar aturan pembangunan yang berlaku. Terdapat pembangunan tempat wisata yang dilarang karena berpotensi mengganggu daerah resapan air dan memicu bencana seperti banjir dan longsor, khususnya Lembang yang merupakan hulu Citarum & Cikapundung sehingga memiliki fungsi utama sebagai resapan air. Ada pula tempat wisata yang pembangunannya melebihi luas yang ditetapkan peraturan setempat, sehingga berakhir merusak kawasan lingkungan yang seharusnya dilindungi. Selain itu, beberapa tempat wisata seperti wisata offroad memberi pengaruh buruk terhadap lingkungan dengan terjadinya perusakan vegetasi tanah, jalur resapan air, dan habitat satwa, sehingga memperparah risiko longsor. Tipologi arsitektur yang direncanakan adalah lodge. Lodge dapat menjadi alternatif wisata yang ramah lingkungan, dengan konsep low-impact architecture yang menjaga kelestarian alam. Lodge mampu mengintegrasikan konservasi, rekreasi, dan edukasi, menjadikannya wadah untuk menikmati alam sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan. Tipologi resort juga dapat memberi solusi ekonomi bagi masyarakat lokal melalui pariwisata berkelanjutan, tanpa merusak daya dukung kawasan. Penjawaban isu akan menggunakan pendekatan ekologis atau Low-Impact Development (LID), dengan tujuan menekan intervensi tapak seminimal mungkin (contoh: bangunan panggung, modular, terjaganya permeabilitas lahan). Proses perancangan menggunakan metode berupa studi literatur mengenai arsitektur tanggap bencana, observasi terkait kondisi lingkungan pada lapangan, studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan/Environmental Impact Assessment (AMDAL/EIA), serta benchmarking terhadap berbagai bangunan dengan penerapan Low-Impact Development yang tepat. Proyek ini bertujuan mengurangi resiko bencana pada kawasan pariwisata seraya melestarikan alam, mengingat banyaknya tempat wisata dibangun tanpa memperhatikan keseimbangan ekosistem dan kualitas lingkungan. Potensi lanskap alami Indonesia juga dapat dimaksimalkan sebagai objek wisata untuk meningkatkan ekonomi lokal.
PENAKSIR TAK BIAS PREDIKSI VALUE-AT-RISK DENGAN MODEL DISTRIBUSI EKOR TEBAL DAN APLIKASINYA PADA PERHITUNGAN PREMI
Prediksi risiko kerugian merupakan aspek penting dalam industri asuransi, khususnya dalam menentukan besaran premi yang tepat. Salah satu ukuran risiko yang umum digunakan adalah Value-at-Risk (VaR). Nilai prediksi VaR dapat mengalami bias, terutama pada data dengan karakteristik distribusi ekor tebal. Penelitian Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengkaji penaksir dan prediksi VaR, menganalisis pengaruh kesalahan pengukuran, serta mengevaluasi penggunaan data rerata dalam meningkatkan akurasi prediksi risiko. Metode yang digunakan meliputi pendekatan empiris dan parametrik, dengan mempertimbangkan distribusi berekor tebal seperti distribusi t-Student dan ekspansi Cornish-Fisher. Selain itu, dilakukan analisis terhadap variasi penaksir dan pendekatan kesalahan pengukuran untuk mengurangi bias prediksi VaR. Hasil penelitian Tugas Akhir menunjukkan bahwa karakteristik distribusi ekor tebal berpengaruh signifikan terhadap akurasi prediksi VaR, sehingga pendekatan konvensional cenderung menghasilkan VaR yang kurang sesuai. Penggunaan data rerata juga terbukti mampu meningkatkan stabilitas dan akurasi prediksi. Selanjutnya, ukuran risiko dan fungsi distorsi diaplikasikan dalam perhitungan premi asuransi, yang menunjukkan bahwa metode yang mempertimbangkan risiko ekor tebal menghasilkan premi yang lebih akurat.
PUSAT PENAMPUNGAN, REHABILITASI, DAN TERAPI ANJING DAN KUCING LIAR DENGAN INTEGRASI FUNGSI ANIMAL ASSISTED THERAPY DI KOTA BANDUNG
Anjing dan kucing adalah hewan-hewan yang umum disukai manusia dan sebagian besar hidup layak sebagai hewan peliharaan atau hewan pekerja. Sayangnya, masih banyak anjing dan kucing liar yang hidup terlantar dan harus berjuang setiap hari. Akibatnya, kondisi kesehatan dan kebersihan mereka tidak memadai, mengakibatkan mereka tidak memiliki kesejahteraan hidup atau animal welfare. Di Kota Bandung, terdapat sekitar 15 ribu ekor kucing liar pada tahun 2022 dan jumlah anjing liar yang tidak tercatat, yang umumnya hidup di jalanan. Masyarakat telah mencoba menyelamatkan mereka, tetapi fasilitas penampungan hewan yang ada saat ini tidak didesain sesuai standar dan tidak layak menampung hewan dalam jumlah yang besar. Selain itu, angka populasi hewan-hewan tersebut terus bertambah. Kondisi ini disertai keadaan hidup mereka yang tidak layak dapat mengakibatkan beberapa masalah, yaitu masalah kesehatan karena berpotensi menyebarkan penyakit zoonosis kepada manusia dan sesama hewan, dan masalah biodiversity karena bersifat invasif terhadap spesies hewan kecil. Kedua masalah tersebut bertentangan dengan SDGs (Sustainable Development Goals) nomor 15 yaitu Life on Land, dengan tujuan untuk melindungi, merestorasi, dan meningkatkan keberlanjutan ekosistem darat, dan menghentikan kehilangan biodiversity. Masalah tersebut harus ditangani dengan memberikan animal welfare, menjaga angka populasi, dan memberikan kesempatan hidup layak sebagai hewan peliharaan maupun sebagai hewan pekerja. Hewan pekerja berupa anjing dan kucing umum digunakan sebagai hewan terapi, terutama untuk terapi berbasis hewan atau animal assisted therapy (AAT). Jenis terapi ini belum umum digunakan di Indonesia karena kurangnya pengetahuan, keterbatasan ahli, dan standar yang belum resmi. Meskipun begitu, dengan jumlah anjing dan kucing liar yang banyak di Indonesia, potensi AAT dapat dikembangkan melalui penyelamatan dan pelatihan mereka sebagai hewan terapi. Maka dari itu, dihadirkan sebuah perancangan desain yang dapat membantu pencapaian animal welfare dan juga menjadi lingkungan penyembuhan bagi para pengguna AAT. Hasil perancangan diolah dengan konsep desain wellness focused dengan pendekatan arsitektur terapeutis. Hasil perancangan ditempatkan di Jalan Purwakarta, Kota Bandung, Jawa Barat, dengan aksesibilitas yang baik, kontur yang relatif datar, dan potensi pengguna yang tinggi akibat populasi kawasan sekitar. Hasil perancangan berupa pusat penampungan yang layak bagi anjing dan kucing liar dan terlantar dengan fasilitas pendukung tercapainya animal welfare dan integrasi animal assisted therapy sebagai lingkungan penyembuhan bersama untuk hewan dan manusia. Fasilitas tambahan yang disediakan pada perancangan ini berupa fasilitas publik dan komersial bagi penyuka atau pemilik hewan.
PERENCANAAN BREAKWATER UNTUK MENGENDALIKAN KEMUNDURAN GARIS PANTAI DI PANTAI KUTA, BALI MENGGUNAKAN PEMODELAN NUMERIK DELFT3D
Pantai Kuta, Bali mengalami kemunduran garis pantai akibat proses hidrodinamika serta perubahan konfigurasi pesisir yang dipengaruhi oleh pembangunan infrastruktur pantai dan perluasan daratan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Erosi paling signifikan terjadi pada kawasan depan Discovery Mall yang termasuk dalam zona kritis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kondisi eksisting garis pantai serta merencanakan bangunan pelindung pantai berupa detached breakwater untuk mengendalikan kemunduran garis pantai. Evaluasi kondisi eksisting dan perencanaan dilakukan menggunakan pemodelan numerik Delft3D. Pemodelan dilakukan dengan dua skenario elevasi detached breakwater yang berbeda untuk mengevaluasi pengaruh elevasi struktur terhadap perubahan garis pantai dan pola sedimentasi. Konfigurasi detached breakwater ditentukan berdasarkan segmen garis pantai yang memerlukan perlindungan serta target pembentukan salient atau tombolo sebagai respons terhadap perubahan transport sedimen. Dimensi struktur direncanakan berdasarkan gelombang rencana, kemudian dilakukan perbandingan antara penggunaan armor tipe rubble mound dan quadripod dari aspek teknis, metode konstruksi, dan biaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa detached breakwater mampu meningkatkan akresi di belakang struktur sehingga berpotensi menstabilkan garis pantai. Skenario dengan elevasi struktur yang lebih dangkal menghasilkan akresi yang lebih besar dibandingkan skenario elevasi yang lebih dalam. Berdasarkan perbandingan yang dilakukan, armor tipe quadripod memberikan alternatif yang lebih efisien dalam pelaksanaan konstruksi dan lebih ekonomis dibandingkan armor rubble mound.
VARIASI DENSITAS SKELETAL DAN LAJU KALSIFIKASI KARANG PORITES DI TELUK BANTEN
Perubahan suhu permukaan laut (SPL) merupakan faktor lingkungan penting yang memengaruhi pertumbuhan karang masif Porites. Karang ini mampu merekam kondisi lingkungan melalui perlapisan pertumbuhan tahunan, sehingga menjadi arsip perubahan iklim laut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan variabilitas SPL terhadap pertumbuhan skeletal tahunan karang Porites di Teluk Banten pada tiga zona perairan, yaitu Pulau Kalih (inshore), Pulau Panjang (nearshore), dan Pulau Tunda (offshore). Penelitian dilakukan melalui rekonstruksi data SPL periode 2012 – 2024 menggunakan data pengukuran in situ dan citra satelit, kalibrasi densitas skeletal menggunakan citra CT-Scan, pengukuran parameter pertumbuhan skeletal tahunan (densitas skeletal dan laju kalsifikasi), analisis hubungan statistik menggunakan korelasi dan regresi linier, serta identifikasi intensitas termal Degree Heating Week (DHW) dan fenomena Marine Heatwaves (MHW). Hasil penelitian menunjukkan bahwa densitas skeletal dan laju kalsifikasi bervariasi antar lokasi penelitian, dengan nilai rata-rata tertinggi ditemukan pada Pulau Panjang yaitu 1,46 g/cm3 (densitas) dan 1,75 g/cm2/tahun (laju kalsifikasi). Secara umum, densitas skeletal dan laju kalsifikasi pada seluruh koloni menunjukkan kecenderungan menurun selama periode pengamatan. Hubungan antara SPL dan parameter pertumbuhan skeletal juga bervariasi antar lokasi. Korelasi negatif kuat dan signifikan antara SPL dan laju kalsifikasi hanya ditemukan pada koloni Pulau Kalih (r = -0,604; p < 0,05), sedangkan hubungan pada Pulau Panjang dan Pulau Tunda relatif lemah dan tidak signifikan. Analisis stres termal menunjukkan bahwa tahun 2016 merupakan periode anomali SPL positif tertinggi yang disertai peningkatan frekuensi MHW dan akumulasi DHW hingga 3,75 °C-weeks. Kondisi tersebut diikuti oleh penurunan laju kalsifikasi pada koloni di Pulau Panjang dan Pulau Tunda, sedangkan koloni di Pulau Kalih menunjukkan penurunan yang lebih nyata pada tahun-tahun berikutnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan SPL dan stres termal tidak memberikan respons pertumbuhan yang seragam pada karang Porites. Variasi respons antar lokasi mengindikasikan bahwa kondisi lingkungan lokal berperan dalam menentukan sensitivitas karang terhadap perubahan iklim.
PREDIKSI ALGAL BLOOM DI TELUK JAKARTA MENGGUNAKAN DEEP LEARNING
Teluk Jakarta merupakan perairan yang rentan terhadap algal bloom sehingga memerlukan sistem peringatan dini yang proaktif. Penelitian ini memprediksi algal bloom menggunakan arsitektur deep learning bidirectional stacked long short-term memory (BS-LSTM) serta menganalisis parameter pemicunya. Data diperoleh dari satelit Himawari-8/9 periode 2020-2025 pada 28 stasiun dengan resolusi harian yang optimal untuk mereduksi noise. Hasil menunjukkan dua puncak musiman pada Februari dan Juni yang dipengaruhi oleh debit sungai dan suplai nutrien dari tiga belas sungai, dengan Sungai Cisadane, Cikarang Bekasi Laut, dan Citarum sebagai penyumbang debit tertinggi, serta muara urban kecil seperti Muara Baru dan Muara Angke yang membawa konsentrasi hara lebih tinggi ke pesisir. Intensitas algal bloom didominasi kategori low risk (10-20 mg/m³) dengan kejadian tertinggi di stasiun B7 sebanyak 777 hari kejadian. Durasi beruntun rata-rata berkisar 1-1,5 hari, maksimum rata-rata di stasiun B7 2,5 hari dengan maksimum mencapai 11 hari di yang berpotensi meningkatkan risiko hipoksia. Korelasi spasial klorofil-a tertinggi terjadi antara inner bay dan nearshore (r = 0,68), sedangkan terendah antara inner bay dan outer bay (r = 0,22). Perbandingan hasil pengujian menunjukkan skenario 3 sebagai skenario terbaik dengan data latih lima tahun yang menghasilkan korelasi global 0,367, koefisien determinasi 0,122, bias -0,285 dan RMSE 1,546 mg/m³, mengungguli performa skenario 1 (r = 0,356, RMSE = 1,566 mg/m³, bias = -0,339) dan skenario 2 (r = 0,362, RMSE = 1,549 mg/m³, bias = -0,291). Kurva pembelajaran tidak menunjukkan overfitting, namun prediksi cenderung underestimate dan smoothing pada nilai ekstrem, dengan performa spasial terbaik di zona offshore barat. Model klasifikasi berbasis ambang dinamis terbaik di stasiun B7 dengan precision 0,72, recall 0,247, dan F1-score 0,367, meskipun masih dipengaruhi ketidakseimbangan data. Stasiun B7 menunjukkan bahwa pada Februari dinamika dipengaruhi debit sungai Citarum dengan jeda 10 hari (r = 0,43) serta fosfat harian dengan jeda 3 hari (r = 0,78), sedangkan pada Oktober dipengaruhi kecepatan angin dengan jeda 4 hari (r = 0,46) dan suhu permukaan laut yang lebih hangat dengan jeda 2 hari (r = 0,45). Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan BS-LSTM berpotensi mendukung pemantauan kualitas perairan pesisir secara lebih proaktif.
IDENTIFIKASI INTENSITAS ARUS LINTAS INDONESIA (ARLINDO) PADA PERIODE MID HOLOCENE BERDASARKAN FORAMINIFERA PLANKTONIK DAN GRAIN SIZE DI PERAIRAN SANGATTA
Periode Mid Holocene merupakan fase transisi iklim yang memengaruhi dinamika sirkulasi laut wilayah tropis, termasuk jalur utama Arus Lintas Indonesia (Arlindo). Perubahan intensitas Arlindo ini berdampak langsung pada distribusi panas dan stratifikasi kolom air di perairan Indonesia. Namun, bukti dan rekaman detail mengenai fluktuasi intensitas Arlindo pada periode Mid Holocene di Selat Makassar masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi intensitas Arlindo serta hubungannya dengan suhu permukaan laut (SPL), suhu termoklin laut (STL), depth of thermocline (DOT), dan sortable silt di sekitar Selat Makassar, khususnya Perairan Sangatta. Metode yang digunakan yaitu analisis SPL dan STL, penentuan DOT, analisis kelimpahan relatif spesies foraminifera planktonik berdasarkan habitatnya, serta pengukuran grain size pada inti sedimen TR1926B. Hasil penelitian menunjukkan pada awal periode Mid Holocene sekitar 8.000 – 7.000 tahun lalu (thl), kondisi yang mengindikasikan intensitas Arlindo menguat ditandai dengan SPL yang menghangat hingga 29,11 °C dan STL 23,98 °C sehingga terjadi pendalaman DOT. Hal ini didukung dengan meningkatnya nilai sortable silt hingga 28,8 dan log Zr/Rb mencapai 0,24 yang merepresentasikan penguatan energi kinetik arus yang memicu proses winnowing. Ketika akhir periode Mid Holocene sekitar 6.000 – 5.000 thl, indikasi intensitas Arlindo melemah ditunjukkan dengan penurunan SPL hingga 28,30 °C dan STL sebesar 22,54 °C, terjadi pendangkalan DOT, serta penurunan nilai sortable silt yang mencapai 23,5 dan log Zr/Rb hingga 0,10. Fluktuasi ini juga didukung oleh jumlah kelimpahan relatif spesies foraminifera planktonik mixed layer dweller lebih dominan sekitar 61,9% dibandingkan thermocline dweller sekitar 38,1% yang menunjukkan kondisi Perairan Sangatta pada periode Mid Holocene didominasi oleh mixed layer depth yang tebal dan DOT yang dalam. Dapat disimpulkan bahwa intensitas Arlindo di Perairan Sangatta berfluktuasi yang berkaitan dengan perubahan monsun tenggara akibat perubahan parameter orbital insolasi selama periode Mid Holocene.
ANALISIS KEPUTUSAN MODEL BISNIS STRATEGIS UNTUK MEMASUKI PASAR PERDAGANGAN LNG INTERNASIONAL OLEH PERUSAHAAN GAS NEGARA (PGN)
PGN, sebagai Subholding Gas di bawah Pertamina, menghadapi titik balik struktural pada bisnis intinya. Walaupun pendapatan 2025 tetap stabil, laba bersih turun 21 persen menjadi USD 346 juta. Kompresi marjin ini mencerminkan ketidaksesuaian struktural antara pasokan gas pipa hulu yang menua, ketergantungan PGN yang meningkat pada LNG, dan batas atas harga yang diberlakukan melalui skema HGBT. Untuk merestrukturisasi pertumbuhan, divisi LNG Supply PGN (GSLT) mulai menjajaki perdagangan LNG internasional, namun, langkah awal melalui kontrak suplai kepada pembeli internasional berakhir dengan force majeure dan saat ini dalam proses arbitrase internasional dengan potensi kerugian lebih dari USD 150 juta. Model bisnis yang tidak terstruktur telah menghasilkan kinerja yang fluktuatif dengan eksposur hukum signifikan, diperlukan evaluasi atas alternatif model bisnis yang dapat digunakan. Penelitian ini menjawab tiga pertanyaan: (1) faktor yang memengaruhi kemampuan perusahaan untuk masuk dalam perdagangan LNG Internasional; (2) bagaimana model bisnis LNG berbeda dalam karakteristiknya; dan (3) model bisnis manakah yang paling sesuai dengan kemampuan dan rencana korporasi PGN. Metode penelitian bersifat kualitatif, dilandasi kerangka Kepner–Tregoe, dan diimplementasikan melalui RBV dan VRIO untuk analisis internal, PESTEL dan Porter’s Five Forces untuk analisis eksternal, serta MCDA dengan metode AHP. Data primer berasal dari wawancara terhadap 12 narasumber dan data sekunder mencakup RJPP LNG Trading PGN 2025–2035, laporan keuangan tahunan 2024 dan 2025, regulasi pemerintah, dan publikasi industri. Analisis internal dan eksternal menunjukkan PGN sebagai perusahaan kuat-aset dan pertumbuhan permintaan LNG di Asia-Pasifik sebagai peluang namun PGN lemah secara kapabilitas. Hasil MCDA menempatkan model hybrid asset-backed portfolio sebagai pilihan paling sesuai yang dibuktikan dengan tiga skenario sensitivitas.Rekomendasi pada thesis ini konsisten dengan RJPP LNG Trading PGN 2025–2035, yang memproyeksikan pendapatan dari USD 453 juta menjadi USD 785 juta, dan profitabilitas USD 0,16–0,31 per MMBTU. Tesis ini merekomendasikan implementasi bertahap, penguatan fondasi selama 0–12 bulan, integrasi volume dalam 1–3 tahun dan ekspansi regional 3–5 tahun setelahnya.
PENGEMBANGAN MODEL PREDIKSI SUHU MODUL FOTOVOLTAIK DENGAN KOREKSI KOEFISIEN BERBASIS DATA UNTUK KONDISI DARAT DAN PERAIRAN PADA IKLIM TROPIS
Suhu modul merup?kan faktor utama yang mempengaruhi efisiensi dan ketahanan sistem fotovoltaik, khususnya pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung yang diharapkan memberik?n keuntungan dari sisi pendinginan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediksi suhu modul dengan koreksi koefisien berbasis data untuk kondisi darat dan perairan pada iklim tropis. Karakterisasi iklim dilakukan menggun?kan data primer instalasi PV darat di Gedung CAS ITB, sementara pemilihan dan kalibrasi model menggun?kan data suhu modul terukur dari dataset PV perairan Florida. Tiga model prediksi suhu, yaitu Faiman, NOCT, dan Sandia, dibandingkan. Model Faiman terpilih karena memiliki bias terkecil serta struktur koefisien yang dapat dikalibrasi secara fisik. Kalibrasi dilakukan melalui mekanisme umpan balik proporsional yang mengoreksi koefisien kehilangan panas (U0) secara iteratif. Hasil kalibrasi memperoleh U0 sebesar 25,00 W/m²K untuk kondisi darat dan 29,87 W/m²K untuk kondisi perairan dengan nilai U1 ditetapkan sebesar 2,00 W·s/m³K. Pengujian data independen menunjukkan penurunan RMSE dari 5,80°C menjadi 3,45°C dan peningkatan R² dari 0,304 menjadi 0,753. Penerapan pada enam danau di Bali sebagai analisis sensitivitas orde pertama menghasilkan selisih suhu modul 1,76°C antara kondisi darat dan perairan, setara dengan uplift energi 0,94%. Besaran uplift yang marginal ini mengindikasikan bahwa keuntungan termal instalasi terapung di iklim tropis lebih kecil dibanding asumsi literatur iklim sedang, akibat kelembaban tinggi dan kecepatan angin yang rendah.
PENGEMBANGAN SISTEM LOKALISASI FIDUCIAL UNTUK NAVIGASI BEDAH TULANG BELAKANG WAKTU NYATA DENGAN INTEGRASI PERANCANGAN BEDAH BERBASIS VISUALISASI CT SCAN 3D DAN NAVIGASI OPTIK
ntegrasi teknologi navigasi dalam prosedur bedah tulang belakang saat ini esensial untuk meminimalisasi risiko komplikasi klinis. Namun, prosedur registrasi spasial yang umumnya masih bergantung pada lokalisasi fiducial marker secara manual sering kali memakan waktu yang lama. Penelitian ini mengembangkan sistem navigasi yang mengintegrasikan data citra CT bertipe O-arm dengan kamera pelacak optik menggunakan algoritma lokalisasi fiducial otomatis. Dalam mengevaluasi sistem navigasi yang telah dikembangkan, algoritma lokalisasi fiducial diuji menggunakan 4 data CT scan berbeda untuk melihat rata-rata Fiducial Localization Error (FLE) dari pengaruh dari jarak kamera pelacak optik, pengaruh orientasi instrumen bedah, serta pengaruh konfigurasi fiducial sebagai referensi dalam proses registrasi spasial. Hasil dari evaluasi menujukkan bahwa sistem navigasi bedah yang dikembangkan mampu mendeteksi lokasi fiducial dari data CT scan dengan akurasi sub-milimeter, yaitu dengan galat sekitar 0.36-0.38 mm. Pada integrasi perangkat keras, sistem mencapai Target Registrastion Error (TRE) minimum sebesar 2.11 mm pada jarak fokus optimal kamera sejauh 1.6 meter. Orientasi alat bedah memengaruhi presisi secara signifikan, dengan lonjakan galat tertinggi (TRE > 5.0 mm) terjadi pada sudut pitch -45° akibat terhalangnya marker infrared instrument dari garis pandang sensor kamera pelacak optik. Lebih lanjut, penggunaan konfigurasi 7 fiducial dengan sebaran spasial yang luas terbukti paling superior dalam meminimalisasi nilai TRE dalam sistem navigasi.