📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenPUSAT REINTEGRASI DAN PEMULIHAN ANAK RENTAN PERKOTAAN DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BERBASIS PERILAKU
Arsitektur memiliki peran penting dalam menciptakan kota dan komunitas yang inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan, mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Dalam pembangunan kota yang resilien dan membina generasi mudanya, arsitektur dapat menjadi katalis melalui perancangan fasilitas yang mampu mendukung proses pemulihan, pembinaan, dan reintegrasi sosial sebagai penyediaan ruang yang aman bagi anak-anak rentan di kawasan perkotaan. Sayangnya, permasalahan anak rentan, khususnya anak jalanan yang terdorong menjadi pekerja informal akibat kemiskinan, disfungsi keluarga, maupun keterbatasan akses pendidikan, masih menjadi fenomena yang banyak dijumpai di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Sosial (2022), terdapat sekitar 16.290 anak jalanan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, Kota Bandung menjadi salah satu daerah perkotaan dengan angka yang cukup tinggi. Menurut data Dinas Sosial (2024), terdapat 1.645 anak jalanan di Kota Bandung dengan tren peningkatan sekitar 400 anak setiap tahunnya. Pada tahun 2023, Dinas Sosial juga menyebutkan bahwa Jalan Pajajaran menjadi salah satu dari sembilan kawasan rawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Kondisi tersebut menunjukkan tingginya kerentanan anak di kawasan perkotaan, baik dari aspek fisik, psikologis, sosial, maupun perkembangan perilaku. Perancangan Pusat Reintegrasi dan Pemulihan Anak Rentan Perkotaan di Jalan Pajajaran, Kota Bandung mengintegrasikan fungsi hunian transisi, pendidikan nonformal, konseling psikososial, pengembangan keterampilan, serta ruang interaksi komunitas sebagai wadah yang mendukung proses reintegrasi anak ke masyarakat. Pendekatan arsitektur berbasis perilaku diterapkan melalui perancangan lingkungan binaan yang mempertimbangkan hubungan antara perilaku pengguna dengan elemen ruang, kualitas visual, serta materialitas yang mampu menciptakan rasa aman, meningkatkan interaksi sosial yang positif, membangun kemandirian, dan mendorong perubahan perilaku secara bertahap. Metode perancangan meliputi studi literatur mengenai anak rentan perkotaan, pusat reintegrasi, dan arsitektur berbasis perilaku; observasi lapangan pada fasilitas pemberdayaan anak di Bandung; analisis kebutuhan pengguna; serta eksplorasi desain melalui zoning, simulasi pencahayaan, analisis perilaku pengguna, dan pemilihan material yang mendukung kenyamanan serta pembentukan perilaku adaptif. Dengan demikian, proyek berfungsi sebagai fasilitas pemulihan, pembelajaran, dan pembentukan karakter yang membantu anak rentan membangun kembali rasa aman, kepercayaan diri, serta kesiapan untuk kembali berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga mendukung terwujudnya SDG 11 melalui peningkatan kualitas hidup anak dan keberlanjutan komunitas perkotaan.
PERANCANGAN KERANGKA PEMRIORITASAN USULAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH YANG DIDANAI MELALUI CSR/TJSL MENGGUNAKAN DELPHI–ANP– VIKOR: STUDI KASUS PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT
Keterbatasan pendanaan APBD dan banyaknya usulan program pembangunan daerah mendorong Pemerintah Daerah untuk mencari sumber pendanaan alternatif. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki sumber pendanaan alternatif yaitu dana Corporate Social Responsibility/Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR/TJSL). Penggunaan dana CSR/TJSL yang juga terbatas, menuntut adanya mekanisme pemrioritasan usulan program yang sistematis, transparan, dan berbasis multi-kriteria. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka pengambilan keputusan dengan mengintegrasikan Systematic Literature Review (SLR) berbasis PRISMA, metode Delphi, Analytic Network Process (ANP), dan VIKOR. PRISMA digunakan untuk mengidentifikasi kandidat kriteria dari literatur, Delphi digunakan untuk konsensus kriteria oleh pakar, ANP digunakan untuk menentukan bobot kriteria berdasarkan hubungan antar-kriteria, sedangkan VIKOR digunakan untuk menghasilkan peringkat usulan program. Pada fase awal SLR dihasilkan 58 artikel. Selanjutnya diperoleh 27 artikel final yang menghasilkan 5 kandidat kriteria diantaranya: Kesesuaian dengan tema/prioritas pembangunan daerah, keterkaitan dengan SDGs, kontribusi sosial/penerima manfaat, fleksibilitas waktu pelaksanaan, dan kebutuhan anggaran. Seluruh kriteria diterima melalui Delphi. Hasil ANP menunjukkan kebutuhan anggaran memiliki bobot tertinggi sebesar 0.337. Hasil VIKOR menunjukkan bahwa alternatif peringkat pertama memenuhi syarat acceptable advantage dan acceptable stability, serta hasil analisis sensitivitas menunjukkan peringkat prioritas tergolong stabil. Kerangka PRISMA– Delphi–ANP–VIKOR dapat digunakan sebagai alat bantu pengambilan keputusan dalam pemrioritasan program CSR/TJSL secara lebih objektif dan akuntabel.
FROM SAFETY TO EMPOWERMENT: FASILITAS PEMBERDAYAAN WANITA PENYINTAS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) DENGAN PENDEKATAN HEALING ENVIRONMENT DI KABUPATEN BANDUNG BARAT
Berdasarkan laporan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan sebagian besar dari kasus kekerasan terhadap perempuan. Perempuan yang tidak memiliki pekerjaan formal rentan mengalami kekerasan akibat ketergantungan ekonomi serta norma sosial yang menghalangi perempuan untuk meninggalkan hubungan yang tidak sehat. Studi menunjukkan bahwa angka kasus KDRT pada kenyataannya lebih tinggi dibandingkan dengan angka yang dilaporkan akibat keterbatasan sistem pengumpulan data yang bergantung pada pelaporan sukarela serta stigma sosial terhadap perempuan yang bersuara mengenai kekerasan yang dialaminya. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan tertinggi di Indonesia. Saat ini, intervensi pemerintah masih berfokus pada pendampingan hukum, sementara fasilitas yang mendukung pemulihan emosional, pemberdayaan, dan reintegrasi sosial masih terbatas. Beberapa rumah aman yang tersedia masih berupa bangunan sewaan yang tidak secara khusus dirancang untuk memberikan keamanan, privasi, maupun ruang pemulihan. Kabupaten Bandung Barat bahkan belum memiliki rumah aman khusus meskipun memiliki wilayah yang luas. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan akan fasilitas khusus yang menyediakan tempat perlindungan bagi perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga serta mendukung proses pemulihan mereka. Tipologi proyek ini adalah pusat edukasi perempuan yang dikombinasikan dengan hunian sementara yang berlokasi di Jalan Ciloa, Kabupaten Bandung Barat. Pusat edukasi ini bertujuan untuk membantu perempuan mencapai kemandirian ekonomi dan memperoleh skills yang dibutuhkan melalui pelatihan vokasional, terutama dalam bidang kuliner, hortikultura, serta beauty and fashion. Hunian sementara menyediakan tempat tinggal yang aman bagi perempuan yang melindungi diri dari pasangan yang melakukan kekerasan. Proyek ini dirancang untuk memprioritaskan kenyamanan, privasi, dan otonomi pengguna melalui strategi healing environment. Strategi tersebut meliputi sirkulasi yang jelas untuk mengurangi stres, akses terhadap alam untuk mendukung pemulihan emosional, pemisahan zona untuk menjaga privasi dan keamanan, serta penggunaan elemen dengan tepian halus dan material alami untuk menciptakan suasana domestik. Respons kontekstual terhadap kondisi kemiringan lahan diwujudkan melalui massa bangunan bertingkat yang mempertahankan kontur alami. Proyek ini bertujuan untuk menyediakan lingkungan transisi yang aman bagi penyintas untuk memulihkan diri, mengembangkan potensi diri, serta membantu proses reintegrasi ke masyarakat sekaligus mengurangi stigma terhadap penyintas KDRT.
EVALUASI KESTABILAN LERENG WASTE DUMP PIT XY DAN OPTIMALISASI JARAK AMAN SETTLING POND TERHADAP STABILITAS PIT ZW MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS PADA TAMBANG NIKEL SITE POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, SULAWESI TENGGARA
Penambangan terbuka nikel di Site Pomalaa menghasilkan lereng waste dump dan settling pond yang berpotensi mengalami ketidakstabilan, terutama pada kondisi jenuh. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kestabilan lereng Waste Dump Pit XY serta menentukan jarak aman settling pond terhadap lereng Pit ZW. Analisis dilakukan menggunakan Limit Equilibrium Method (LEM) dengan pendekatan Morgenstern–Price pada perangkat lunak Rocscience Slide2 untuk kondisi statis dan dinamis berdasarkan Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018. Data yang digunakan meliputi geometri lereng, parameter geoteknik, data borehole, kondisi muka air tanah, dan geometri settling pond. Evaluasi dilakukan melalui analisis Faktor Keamanan (FK), Probability of Failure (PF), simulasi sequence benching, redesain lereng, dan variasi jarak settling pond. Hasil analisis menunjukkan bahwa lereng aktual Waste Dump Pit XY memiliki FK statis 1,606 (PF 0,305%) dan FK dinamis 1,253 (PF 13,549%) pada kondisi jenuh. Redesain menggunakan sequence benching tiga jenjang menghasilkan FK statis 1,350 (PF 0,2%) dan FK dinamis 1,186 (PF 4,7%), serta meningkatkan kapasitas waste dump dari 199.375 m³ menjadi 291.159 m³. Redesain lereng Pit ZW menggunakan sequence bench empat jenjang menghasilkan FK deterministik 1,741 (PF 0,500%) pada kondisi statis dan FK deterministik 1,451 (PF 3,200%) pada kondisi dinamis sehingga memenuhi kriteria Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018. Simulasi variasi jarak settling pond menunjukkan jarak aman minimum 10 m dari kaki lereng dengan FK deterministik 1,592, FK mean 1,603, dan PF 4,954%, sedangkan pada jarak 5 m PF meningkat menjadi 5,500%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sequence benching, redesain lereng Pit ZW, dan optimasi jarak settling pond menghasilkan desain lereng yang memenuhi kriteria kestabilan berdasarkan Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS UNTUK PRODUKSI GASOLINE RENDAH SULFUR DI RU III PLAJU MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA AHP–TOPSIS TERINTEGRASI PADA GERBANG PRA-STUDI KELAYAKAN GUNA MENDUKUNG NET ZERO EMISSIONS INDONESIA TAHUN 2060
PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit III Plaju (RU III Plaju), kilang dengan kompleksitas rendah (Nelson Complexity Index ? 3,0), memproduksi gasoline dengan kandungan sulfur 170–230 ppm sekitar empat kali lipat dari batas maksimum 50 ppm yang diwajibkan untuk pemenuhan standar Euro IV/V berdasarkan Keputusan Dirjen Migas No. 110.K/MG.01/DJM/2022 sehingga menempatkan aset pada risiko ketidakpatuhan dan menjadi aset terdampar (stranded asset). Penutupan kesenjangan ini merupakan keputusan investasi strategis yang bersifat multidimensional, namun gerbang pra-studi kelayakan (Pre FS) kilang saat ini menyaring investasi hanya berdasarkan satu kriteria finansial (benefit–cost ratio lebih dari satu) yang tidak mampu menimbang pertimbangan regulasi, strategis, teknis, dan keberlanjutan. Penelitian ini mengembangkan kerangka kerja multi-criteria decision-making (MCDM) terintegrasi untuk disematkan pada gerbang Pre-FS dan mendemonstrasikannya pada keputusan pemenuhan gasoline rendah sulfur. Analisis SWOT kualitatif, yang disusun dari tujuh wawancara pakar dan divalidasi melalui focus group discussion, dikuantifikasi melalui matriks IFE (2,2983) dan EFE (2,5133) — dengan bobot faktor yang dielisitasi pada tingkat industri dari panel enam pakar melalui alokasi 100 poin — menempatkan kilang pada Sel V matriks IE dan Kuadran I SWOT serta mengidentifikasi kesenjangan desulfurisasi sebagai masalah prioritas. Pencocokan TOWS menghasilkan empat alternatif strategis yang dievaluasi melalui AHP (delapan sub-kriteria, consistency ratio 0,0028) dan diperingkat menggunakan TOPSIS. Pembangunan unit HDS/GSH (A4) menempati peringkat pertama (closeness coefficient 0,8481), hasil yang terbukti robust pada enam belas skenario perturbasi bobot ±20%. Gerbang MCDM menghasilkan rekomendasi yang transparan, dapat diaudit, dan dapat dipertanggungjawabkan yang tidak dapat dihasilkan oleh gerbang finansial sebelumnya sekaligus tetap mempertahankan kelayakan ekonomi sebagai salah satu kriterianya.
TINGKAT KEMUDAHAN TAMBANG BERDASARKAN TIPE BONGKAH, RQD DAN SILIKA BEBAS PADA BLOK A, DAERAH ROUTA, KABUPATEN KONAWE, SULAWESI TENGGARA
Dalam pertambangan nikel laterit, tipe bongkah, nilai Rock Quality Designation (RQD), dan kandungan silika bebas merupakan parameter penting dalam kajian geologi teknik untuk menilai kualitas massa batuan, tingkat rekahan, serta kekerasan batuan. Ketiga parameter tersebut berpengaruh terhadap kemudahan penggalian, fragmentasi material, produktivitas alat gali, dan tingkat kemudahan tambang (mineability level). Penelitian ini dilakukan di daerah Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, dengan tujuan menganalisis distribusi tipe bongkah, RQD, dan silika bebas untuk menentukan tingkat kemudahan tambang pada area penelitian. Data yang digunakan meliputi pengamatan geomorfologi lapangan, pengukuran panjang bongkah dan RQD, data assay geokimia dari 408 titik bor, dua sampel petrografi, serta data DEMNAS. Secara umum, profil laterit pada area penelitian terdiri atas zona top soil, limonit, saprolit, dan bedrock. Litologi penyusun daerah penelitian didominasi oleh dunit dan peridotit. Analisis distribusi tipe bongkah, RQD, dan silika bebas pada zona saprolit dilakukan menggunakan metode Inverse Distance Weighted (IDW), sedangkan distribusi kedalaman sumur bor menuju bedrock dianalisis menggunakan metode Triangulated Irregular Network (TIN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa area penelitian didominasi oleh tipe bongkah WT3 sebesar 65,7% dan nilai RQD buruk hingga sangat buruk (<50%). Kondisi tersebut mengindikasikan intensitas rekahan yang cukup tinggi. Distribusi silika bebas pada zona saprolit didominasi kandungan SiO? sebesar 35-45%, sehingga tidak menunjukkan adanya pengayaan silika bebas >50%. Secara umum, Blok A masih berpotensi untuk dilakukan penambangan nikel dengan tingkat kemudahan tambang yang baik, meskipun tetap diperlukan kajian lanjutan terkait aspek teknis penambangan lainnya.
REE DOWNSTREAM FINANCING STRATEGY THROUGH FUTURE FLOW ASSET SECURITIZATION: A CASE STUDY OF REFINERY AND NDFEB MAGNET FACILITY FINANCING
Indonesia memiliki cadangan Rare Earth Elements (REE) yang signifikan secara global di Bangka-Belitung, namun belum mewujudkan kilang pengolahan terpadu di hilir. Pembiayaan proyek konvensional tidak mampu memperhitungkan tiga risiko yang saling berkaitan — volatilitas harga keranjang REE, kendala sovereign ceiling yang membatasi peringkat kredit BUMN pada batas peringkat kedaulatan Indonesia, dan ketidakpastian tingkat pemulihan pemisahan kimia REE — sehingga menciptakan kesenjangan pembiayaan struktural yang menghalangi kebijakan hilirisasi untuk mengubah pasir mineral berat kaya monasit menjadi rantai pasokan Separated Rare Earth Oxides yang berbasis domestik. Dengan rancangan metode campuran pragmatis (Analisis Tekno-Ekonomi, pemodelan arus kas terdiskonto, analisis sensitivitas dan pengujian stres; serta wawancara ahli semi-terstruktur dengan OJK, BAPETEN, BAPPENAS, praktisi keuangan terstruktur, praktisi hukum, dan manajemen senior Perminas), penelitian ini mengkaji Future Flow Asset Securitization (SA) melalui tiga lini pertanyaan: pengukuran kumpulan aset yang dapat disekuritisasi, perancangan struktur SA yang sesuai regulasi Indonesia, serta pembandingan SA dengan pembiayaan proyek konvensional pada dimensi keuangan dan non-keuangan. Proyek terpadu tiga provinsi (Bangka-Belitung, Sulawesi Barat, Aceh; CAPEX USD 1.048 juta; NPV USD 192,5 juta; IRR 15,6%) layak pada baseline namun tidak memadai secara struktural di bawah pembiayaan konvensional; piutang ko mineral di Blok Tami'ang memberikan peningkat kredit alami pada empat kategori aset yang dapat disekuritisasi (RQ1). SPV luar negeri yang terlindungi dari kebangkrutan dengan True Sale melalui empat jalur regulasi (ESDM, KIK-EBA, DBH, perizinan subnasional) dapat diimplementasikan dalam kerangka POJK (RQ2). SA berpotensi menghasilkan pengurangan Biaya Modal 200–600 basis poin di atas sovereign ceiling, tenor sesuai Life of Mine, DSCR terjaga dalam kondisi stres, dan kapasitas CAPEX penuh melalui tranching — mengungguli pada tiga dari empat dimensi non-keuangan (RQ3). Studi ini membawa Sekuritisasi Aliran Kas Masa Depan ke ranah kumpulan multi aset ko-mineral dalam arsitektur KIK-EBA. Secara praktis, penelitian ini menghasilkan cetak biru struktural bagi Perminas, jalur operasionalisasi KIK-EBA bagi OJK, serta referensi koordinasi bagi BAPPENAS dalam kerangka RPJMN.
EFEKTIVITAS MULTIMEDIA INTERAKTIF FLAZZLE “YUK SHALAT” BERBASIS AUGMENTED REALITY TERHADAP RETENSI MEMORI ANAK
Rendahnya retensi memori anak terhadap tata cara salat disebabkan oleh metode konvensional yang kurang interaktif dan tidak sesuai dengan karakteristik kognitif anak fase operasional konkret. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas media interaktif komersial Flazzle "Yuk Shalat" berbasis Augmented Reality (AR) dalam meningkatkan retensi memori serta menganalisis hubungan antara pengalaman pengguna (UX) dengan retensi memori anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental pretest- posttest control group design dan delayed test (7 hari). Subjek penelitian terdiri dari 60 siswa kelas 2 Madrasah Ibtidaiyyah yang dibagi menjadi kelompok eksperimen (menggunakan media Flazzle AR) dan kelompok kontrol (menggunakan buku modul konvensional). Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test, Mann-Whitney U, dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media Flazzle AR secara signifikan efektif dalam meningkatkan pemahaman langsung siswa (p= 0,000, p<0,05), dimana pemahaman pada aspek visualisasi gerakan dan bacaan memiliki proporsi yang seimbang. Namun, efektivitasnya dalam mempertahankan retensi memori tidak lebih unggul dibandingkan metode konvensional karena adanya faktor pengulangan aktif melalui program pembiasaan keagamaan di sekolah. Lebih lanjut, tidak ditemukan hubungan signifikan antara pengalaman pengguna (UX) dengan retensi memori (r= 0,081, p= 0,675), yang mengindikasikan bahwa aspek kesenangan dan kemudahan dalam desain media tidak cukup untuk menjamin informasi dapat bertahan dalam jangka waktu lama. Kesimpulannya, media AR efektif untuk pemahaman awal, namun untuk memperkuat retensi memori, desain interaktif perlu mengintegrasikan elemen retrieval practice dan pengulangan terjadwal dalam bentuk fitur notifikasi yang mengingatkan anak mengulang materi, kuis mengingat dengan tingkatan level, integrasi fitur dengan praktik nyata seperti “Praktikkan aku” yang nantinya akan mendorong anak mempelajari kembali materi yang sudah didapatkan. Kontribusi penelitian ini menekankan pentingnya integrasi antara prinsip pedagogis dan psikologi kognitif dalam perancangan media interaktif berbasis AR untuk anak.
ANALISIS KEADILAN SPASIAL DALAM PENYEDIAAN TAMAN TERHADAP MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI KOTA BANDUNG
Tingkat kepadatan penduduk Kota Bandung yang sangat tinggi (15.233 jiwa/km²), diiringi dengan dominasi lahan terbangun sebesar 67,76%, telah menyebabkan ruang perkotaan menjadi semakin terbatas dan kompetitif. Tekanan spasial tersebut secara langsung memicu krisis penyediaan taman kota, yang tercermin dari capaian Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik yang baru menyentuh angka 12,15%. Di tengah keterbatasan tersebut, Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) menjadi kelompok yang paling rentan. Keterbatasan daya beli menjebak mereka pada segregasi hunian padat dan menyempitkan akses terhadap ruang rekreasi komersial. Oleh karena itu, keberadaan taman publik aktual yang dekat dan bebas biaya menjadi kebutuhan strategis bagi kelompok ini. Sayangnya, penilaian terhadap taman perkotaan pada studi terdahulu kerap bertumpu pada distribusi spasial dan cakupan radius semata, sehingga mengabaikan realitas kompleks terkait hambatan rute pejalan kaki dan kapasitas layanan taman. Padahal, penyediaan taman bagi kawasan MBR tidak dapat dinilai sekadar dari dokumen perencanaan, melainkan harus dikaitkan dengan pemerataan manfaat layanan aktual yang diterima penduduk. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan menerapkan pendekatan multidimensional untuk mengevaluasi bagaimana taman aktual lintas hierarki benar-benar melayani permukiman MBR. Secara spesifik, penelitian ini menganalisis keadilan spasial penyediaan taman di Kota Bandung melalui pendekatan spasial-kuantitatif yang meliputi: validasi taman aktual, identifikasi permukiman MBR, pemodelan sebaran penduduk mikro, pengukuran dimensi Spatial Proximity, Density, Connectivity, dan Diversity, serta penyusunan Indeks Keadilan Taman (IKT) pada skenario 500 meter dan 1.000 meter. Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa dari 455 objek taman yang tercatat di RDTR, hanya 303 objek yang tervalidasi sebagai taman aktual. Ketersediaan taman aktual tersebut kemudian dianalisis tingkat pelayanannya terhadap permukiman MBR yang teridentifikasi ke dalam tipologi formal, swadaya, dan liar. Berdasarkan pengukuran tersebut, nilai rata-rata IKT pada skenario 500 meter hanya mencapai 0,13 dengan median 0, yang mengindikasikan bahwa mayoritas kawasan MBR belum terlayani secara memadai. Ketika batas jangkauan diperluas menjadi 1.000iv meter, rata-rata IKT meningkat menjadi 0,38. Namun, peningkatan ini bersifat bersyarat karena perbaikan layanan baru dapat diakses setelah kelompok MBR menanggung pengorbanan ekstra berupa tambahan waktu tempuh dan kelelahan fisik di luar batas toleransi ideal. Secara spasial, deprivasi layanan tetap persisten pada permukiman organik berkepadatan tinggi (seperti Batununggal) meskipun batas jangkauan telah ditingkatkan. Sebaliknya, keadilan taman yang tinggi justru secara paradoks terkonsentrasi di sekitar kawasan perumahan terpadu skala besar (seperti Gedebage), dengan akses MBR lebih didorong oleh fenomena eksternalitas positif yang terjadi. Kontras antara sebagian kecil kelompok MBR yang diuntungkan secara lokasi dengan mayoritas MBR lain yang masih terisolasi ini mempertegas wujud ketimpangan spasial di Kota Bandung. Berangkat dari fenomena tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa ketidakadilan taman bagi kelompok MBR berakar pada tiga tipologi persoalan: Krisis Ketersediaan Ruang, Beban Kepadatan Berlebih, dan Beban Jarak Aksesibilitas. Secara konseptual dan metodologis, penyusunan IKT menawarkan instrumen yang menggeser tata ruang dari sekadar pemenuhan kuota hijau menjadi evaluasi kerentanan spasial. Pada akhirnya, pendekatan ini menegaskan bahwa arahan penanganan tidak dapat dilakukan melalui satu intervensi tunggal, melainkan harus diarahkan secara spesifik sesuai dengan tipologi persoalan pada kawasan prioritas, agar penyediaan taman dapat memberikan pemerataan manfaat yang berkeadilan.
FASILITAS MULTI-OLAHRAGA REHABILITASI UNTUK MENDUKUNG TERWUJUDNYA KOTA SEHAT
Topik utama dari tugas akhir ini adalah perancangan fasilitas olahraga perkotaan terpadu BARA (Bandung Active Recreation Arena) yang mengintegrasikan fungsi olahraga, rehabilitasi, dan ruang publik untuk mendukung terwujudnya Healthy City. Topik ini berkaitan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), serta SDG 13 (Climate Action). Keterkaitan tersebut diwujudkan melalui penyediaan fasilitas yang mendorong gaya hidup sehat, menghadirkan ruang publik yang inklusif dan aktif, serta menerapkan strategi perancangan yang responsif terhadap kondisi perkotaan dan lingkungan. Saat ini, Kota Bandung menghadapi berbagai tantangan dalam penyediaan fasilitas olahraga publik, di antaranya kepadatan kawasan urban, keterbatasan lahan, rendahnya aktivasi kawasan olahraga, serta meningkatnya minat masyarakat untuk berolahraga. Di sisi lain, kawasan GOR Pajajaran memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan olahraga terpadu yang tidak hanya berfungsi sebagai lokasi penyelenggaraan pertandingan, tetapi juga sebagai destinasi olahraga, rekreasi, dan ruang interaksi masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya tipologi fasilitas olahraga yang mampu mengintegrasikan berbagai fungsi dalam satu kawasan secara lebih efisien, aktif, dan adaptif terhadap perkembangan kota. Menurut World Health Organization (WHO), Healthy City merupakan kota yang secara berkelanjutan menciptakan dan meningkatkan kondisi fisik maupun sosial untuk mendukung kesehatan, kesejahteraan, serta kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, perancangan BARA tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas olahraga dan rehabilitasi, tetapi juga sebagai ruang publik yang mampu meningkatkan aktivitas fisik, memperkuat interaksi sosial, serta menghidupkan kembali kawasan olahraga melalui integrasi berbagai fungsi dan aktivitas dalam satu lingkungan yang saling terhubung. Pendekatan arsitektur yang digunakan berorientasi pada pengalaman pengguna melalui penerapan fluid spatial integration, active vertical circulation, sensory-stimulating environments, serta ruang yang fleksibel dan multifungsi. Pendekatan ini didukung oleh konsep neuroplastisitas yang memandang bahwa lingkungan fisik dapat memengaruhi kemampuan manusia untuk beradaptasi, pulih, dan berkembang melalui pengalaman ruang yang positif. Metode perancangan meliputi studi literatur, observasi lapangan, analisis tapak, studi preseden, serta penyusunan program ruang berdasarkan karakter aktivitas, pola penggunaan, kapasitas, dan fleksibilitas ruang. Hasil analisis tersebut menjadi dasar dalam merumuskan konsep serta strategi perancangan kawasan olahraga yang terintegrasi. Tujuan utama dari perancangan ini yaitu menghadirkan fasilitas olahraga perkotaan yang mampu mengakomodasi berbagai cabang olahraga, fasilitas rehabilitasi, ruang publik aktif, serta fungsi pendukung dalam satu kawasan yang saling terhubung. Dengan demikian, luaran yang diharapkan bukan hanya berupa bangunan olahraga, melainkan sebuah kawasan yang mendorong gaya hidup aktif, meningkatkan kualitas interaksi sosial, mengoptimalkan pemanfaatan kawasan GOR Pajajaran, serta berkontribusi terhadap terwujudnya Healthy City di Kota Bandung.
METODE EKSTRAKSI TOPIK DENGAN KOMBINASI KEYWORD EXTRACTION DAN GRAF PADA KUMPULAN ARTIKEL ILMIAH
Peningkatan jumlah publikasi ilmiah menimbulkan tantangan dalam proses analisis literatur, khususnya dalam mengidentifikasi topik utama. Berbagai metode ekstraksi topik yang telah dikembangkan umumnya mengandalkan analisis statistik kemunculan kata, dengan fokus pada distribusi probabilistik kata dalam dokumen untuk merepresentasikan topik. Penelitian ini mengusulkan ekstraksi topik yang mengombinasikan ekstraksi kata kunci menggunakan YAKE, yaitu metode ekstraksi kata kunci yang menilai tingkat kepentingan kata berdasarkan karakteristik isi dokumen, dengan representasi graf untuk memodelkan hubungan antar kata kunci. Metode yang diusulkan, disebut YAKE-Graf, dibandingkan dengan pendekatan YAKE-Direct, yaitu pendekatan yang membentuk topik langsung dari hasil ekstraksi kata kunci YAKE tanpa representasi graf, menggunakan kumpulan abstrak artikel ilmiah. Eksperimen dilakukan pada variasi n-gram (unigram, bigram, trigram, dan mixed) dan dievaluasi menggunakan metrik topic coherence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa YAKE-Graf secara konsisten menghasilkan nilai coherence yang lebih tinggi dibandingkan YAKE-Direct pada seluruh variasi n-gram, dengan peningkatan rata-rata 82%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa representasi graf mampu memperkuat keterkaitan antar kata kunci dalam pengidentifikasian topik, meskipun memerlukan waktu komputasi tambahan dengan rata-rata sebesar 4,83%. Secara keseluruhan, terdapat trade-off di mana YAKE-Graf lebih unggul dalam menghasilkan topik yang koheren, sementara YAKE-Direct lebih efisien dari segi waktu komputasi.
ESTIMASI RISIKO BANJIR AKIBAT DAMPAK EKSPANSI KAWASAN TERBANGUN BERBASIS EXPECTED ANNUAL DAMAGE (EAD) DI KAWASAN BANJIR BALEENDAH, KABUPATEN BANDUNG
Banjir merupakan bencana hidrometeorologi yang dominan di Kabupaten Bandung, sementara Kecamatan Baleendah berada pada zona cekungan terendah Citarum Hulu sehingga rentan terhadap genangan berkepanjangan. Dalam dua dekade terakhir, Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu mengalami ekspansi kawasan terbangun yang berpotensi meningkatkan limpasan permukaan, keterpaparan aset, dan kerugian ekonomi akibat banjir. Pekerjaan ini bertujuan menganalisis pengaruh perubahan tata guna lahan terhadap risiko banjir di kawasan banjir Baleendah menggunakan pendekatan Expected Annual Damage (EAD). Analisis dilakukan dengan membandingkan kondisi tata guna lahan tahun 2000 dan 2020 menggunakan kerangka hazard – exposure – vulnerability – risk. Data tata guna lahan hasil asimilasi GLAD UMD dan RBI memiliki overall accuracy sebesar 83%, sedangkan model HEC-HMS yang digunakan menunjukkan kinerja baik dengan NSE 0,676, RMSE 0,6 m3/s, dan PBIAS 11,81%. Kemudian, debit hasil simulasi digunakan pada model HEC-RAS 2D untuk menghasilkan karakteristik genangan yang kemudian diintegrasikan dengan data bangunan dan valuasi aset untuk menghitung EAD. Hasil pekerjaan menunjukkan bahwa luas kawasan terbangun meningkat sebesar 12,69%, menyebabkan kenaikan nilai Curve Number (CN) dari 65,54 menjadi 67,67 (+3%) dan debit maksimum tahunan sebesar 12,4%. Jumlah bangunan yang terpapar banjir periode ulang 1 tahun meningkat dari 18.531 menjadi 34.924 unit, sedangkan nilai EAD meningkat dari Rp233,88 miliar menjadi Rp465,25 miliar per tahun atau naik 98,92%. Di sisi lain, curah hujan ekstrem menurun sekitar 6,3% pada periode 2011–2020 dibandingkan dengan periode 2001–2010. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan risiko banjir di Baleendah lebih dipengaruhi oleh ekspansi kawasan terbangun dibandingkan dengan perubahan curah hujan, sehingga perubahan tata guna lahan menjadi faktor dominan dalam peningkatan kerugian ekonomi akibat banjir.
IKLAN AMBIENT MEDIA PADA RUANG DIGITAL DALAM PERSPEKTIF KAJIAN BUDAYA
Ambient media mengalami transformasi mendasar dari media berbasis ruang fisik menjadi praktik komunikasi dalam ekosistem digital yang berbasis jaringan. Perubahan ini tidak hanya menggeser cara penyampaian pesan, tetapi juga mengubah relasi antara produsen, media, dan audiens. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi tersebut serta mengkaji bagaimana karakteristik, proses produksi, dan konstruksi makna ambient media berkembang dalam ruang digital. Temuan penelitian menunjukkan bahwa transformasi ke lingkungan digital telah menggeser paradigma komunikasi dari spatial experience ke networked experience, di mana nilai iklan tidak lagi terletak pada lokasi, melainkan pada kemampuan sirkulasi dan reproduksi pesan dalam jaringan digital. Dalam konteks ini, audiens mengalami rekonfigurasi peran menjadi aktif memproduksi, mendistribusikan, dan menginterpretasikan ulang pesan. Selain itu, viralitas muncul bukan sekadar sebagai efek komunikasi, tetapi sebagai mekanisme utama yang menentukan keberhasilan penyebaran pesan melalui logika partisipasi dan replikasi sosial. Lebih lanjut, media sosial berfungsi sebagai arena negosiasi makna yang terbuka, di mana pesan iklan tidak lagi bersifat tunggal, melainkan mengalami afirmasi, resistensi, dan reinterpretasi oleh audiens. Temuan ini juga mengungkap bahwa praktik ambient media di ruang digital mengandung dimensi ideologis yang mencerminkan relasi kuasa serta berperan dalam membentuk identitas sosial. Dengan demikian, ambient media tidak hanya berfungsi sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai praktik wacana yang berkontribusi dalam produksi makna dan konstruksi budaya digital.
PROVISION OF OCEAN WEATHER-INFORMED MARINE TOURISM ACTIVITY IN KEPULAUAN SERIBU TO MAINTAIN SAFETY STANDARDS AND QUALITY OF USER EXPERIENCE
Kepulauan Seribu is a marine tourism destination with high dependence on oceanographic and meteorological conditions, yet no single platform has previously provided integrated tidal, weather, and activity safety information accessible to tourists and tourism operators. This study addresses that gap by developing Searibu, a WebGIS-based marine information system that delivers harmonic tidal predictions using the TPXO10-atlas model, marine weather and ocean condition forecasts from the ECMWF IFS, MFWAM, and SMOC models accessed through the Open-Meteo API, an automated activity safety assessment classifying eleven marine tourism activities as Safe, Caution, or Avoid based on current and forecast metocean conditions, and a water-level data export module producing IHO S-104 Edition 2.0.0-compliant HDF5 files. The system was developed using the Iterative and Incremental Development methodology on a three-tier architecture comprising a PostgreSQL and SQLite data layer, a Flask and Python application logic layer, and a React and TypeScript presentation layer. Quality evaluation against ISO/IEC 25010 assessed seven of eight quality characteristics as Fulfilled. These results confirm that Searibu provides an accessible, interpretable, and standards-compliant approach to supporting safer and better-informed marine tourism activities in Kepulauan Seribu.
PROVISION OF OCEAN WEATHER-INFORMED MARINE TOURISM ACTIVITY IN KEPULAUAN SERIBU TO MAINTAIN SAFETY STANDARDS AND QUALITY OF USER EXPERIENCE
Kepulauan Seribu is a marine tourism destination with high dependence on oceanographic and meteorological conditions, yet no single platform has previously provided integrated tidal, weather, and activity safety information accessible to tourists and tourism operators. This study addresses that gap by developing Searibu, a WebGIS-based marine information system that delivers harmonic tidal predictions using the TPXO10-atlas model, marine weather and ocean condition forecasts from the ECMWF IFS, MFWAM, and SMOC models accessed through the Open-Meteo API, an automated activity safety assessment classifying eleven marine tourism activities as Safe, Caution, or Avoid based on current and forecast metocean conditions, and a water-level data export module producing IHO S-104 Edition 2.0.0-compliant HDF5 files. The system was developed using the Iterative and Incremental Development methodology on a three-tier architecture comprising a PostgreSQL and SQLite data layer, a Flask and Python application logic layer, and a React and TypeScript presentation layer. Quality evaluation against ISO/IEC 25010 assessed seven of eight quality characteristics as Fulfilled. These results confirm that Searibu provides an accessible, interpretable, and standards-compliant approach to supporting safer and better-informed marine tourism activities in Kepulauan Seribu.