📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenTERMINAL DI TENGAH ARUS: TRANSFORMASI TERMINAL LEUWIPANJANG SEBAGAI RUANG ADAPTIF TERHADAP ARUS MANUSIA, AIR, DAN POLUSI KOTA
Perkembangan pesat wilayah metropolitan Bandung menempatkan mobilitas dan konektivitas regional menjadi sebuah isu yang krusial. Kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya transmigrasi membuat kapasitas infrastruktur transportasi perlu ditingkatkan. Salah satunya yaitu terminal bus yang menampung moda transportasi yang penting bagi Kota Bandung. Keberadaan terminal menjadi pendukung dan berperan vital sebagai simpul transportasi baik antar provinsi, kota, maupun desa. Salah satu simpul transportasi utama di Kota Bandung adalah Terminal Leuwipanjang yang merupakan terminal tipe A dan menjadi pintu masuk bus dari arah barat. Terminal in melayani angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), angkutan dalam kota, dan angkutan pedesaan. Sebagai infrastruktur vital, terminal bus masih menghadapi beberapa persoalan seperti fenomena banjir yang menggangu operasional, kurangnya perkembangan fasilitas dan persepsi masyarakat terhadap terminal yang cenderung negatif. Terminal Leuwipanjang berlokasi di Kelurahan Situsaeur, Kecamatan Bojongloa Kidul yang termasuk kecamatan dengan kerentanan banjir sekitar 7.35% total lahan termasuk daerah bahaya bnjir. Permasalahan banjir dapat disebabkan karena curah hujan yang tinggi, kurangnya resapan air, drainase kurang baik, ataupun dominasinya perkerasan pada tipologi terminal. Kondisi ini pula yang dapat mengakibatkan pada persoalan kedua yaitu persepsi masyarakat terhadap terminal sebagai tempat yang kurang baik, kumuh, tidak sehat, dan penuh asap. Persepsi masyarakat dapat berujung pada menurunnya pengguna terminal. Untuk menanggapi tantangan terkait Terminal Leuwipanjang, perancangan ulang terminal dilakukan dengan menempatkan terminal bukan hanya sekedar tempat bus datang dan pergi tetapi terminal memiliki makna dan fungsi yang lebih besar. Penerapan konsep dengan menghubungkan tiga konsep besar terminal sebagai simpul kota, resapan kota, dan ruang ketiga. Proses perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis kondisi eksisting, dan studi preseden terminal. Hasil dari proses ini yaitu konsep perancangan yang berfokus pada integrasi fungsi transportasi yang efisien dalam meningkatkan konektivitas sesuai dengan fungsi utamanya sekaligus membawa unsur keberlanjutan lingkungan dan membawa funsi baru yang meningkatan persepsi posifitif masyarakat terhadap terminal. Perancangan bertukuan untuk mentransformasikan terminal sebagai hub transportasi multimoda yang efisien, mengembangkan funsi terminal sebagai ruang publik inklusif (ruang ketiga) yangn mampu mewadahi kehidupan sosial masyarakat, dan infrastruktur yang berorientasi pada mitigasi banjir yang sering terjadi melalui strategi water sensitive urban design.
AQUATIC HOSPITAL: AIR SEBAGAI ELEMEN PENYEMBUH PADA FASILITAS KESEHATAN IBU DAN ANAK DI KOTA BARU PARAHYANGAN
Kelahiran merupakan transisi emosional yang mendalam bagi seorang ibu, namun lingkungan rumah sakit konvensional seringkali dirancang dengan prioritas efisiensi klinis yang mengabaikan pengalaman sensori, sehingga menciptakan ruang yang kaku dan intimidatif. Kondisi ini memperburuk fenomena tokophobia (ketakutan terhadap persalinan) yang, menurut studi, dialami oleh 20-30% ibu hamil. Hal ini menjadi sebuah tantangan kesehatan mendesak di Jawa Barat yang menyumbang 17% angka kematian ibu dan bayi nasional dengan beban tertinggi di wilayah Bogor, Bandung, dan Garut. Tugas Akhir ini merancang "Aquatic Hospital" di Kota Baru Parahyangan sebagai fasilitas kesehatan Tipe C yang mengintegrasikan air sebagai mediator penyembuhan multisensori untuk menyeimbangkan standar medis ketat sesuai Permenkes No. 24 Tahun 2016 dengan keamanan emosional pasien. Strategi perancangan diwujudkan melalui empat pilar sensori terintegrasi: (1) Visual Fluidity, menggunakan bentuk massa organik dengan palet warna biru (aquatic) dan earth tones untuk mereduksi beban kognitif, serta sistem double-skin facade selektif yang dirancang untuk menjaga privasi pada area privat namun tetap terbuka di area publik guna memaksimalkan koneksi visual ke danau; (2) Auditory Rhythm, memanfaatkan fitur air sebagai soundscape untuk memitigasi kebisingan urban dari Jl. Parahyangan Raya; (3) Haptic Ripple, menghadirkan elevated garden sebagai area tunggu organik bagi pendamping yang dilengkapi sistem gelang getar (vibrating wristbands) untuk meminimalisir gangguan suara (noise) dari sistem paging, serta taman mikro-terapeutik khusus pasien rawat inap untuk memfasilitasi pemulihan; dan (4) Environmental Flow, di mana organisasi ruang secara aktif merespons perbedaan kontur tapak guna menciptakan Sense of Extent yang menyatu dengan lanskap luar, sekaligus mengintegrasikan Rainwater Harvesting Columns menuju Eco-Retention Pond sebagai sistem utilitas berkelanjutan. Desain ini berkontribusi pada pencapaian SDG 3 dalam menjamin kehidupan sehat dan kesejahteraan ibu-anak, serta SDG 10 dalam mengurangi kesenjangan akses layanan kesehatan berkualitas.
SENSE+ (SPATIAL ENVIRONMENT FOR NEURO-SENSORY EXPERIENCE) : TRANSFORMING BANDUNG’S URBAN STRESS INTO CREATIVE ENERGY
Kota Bandung memiliki dua sisi yang berkontradiksi. Di satu sisi, Bandung memiliki potensi sebagai kota kreatif ditunjukkan dengan adanya 120 komunitas kreatif, tergabungnya Bandung pada UCCN, dan 56% aktivitas ekonomi Bandung berkaitan dengan kreatif. Namun, di sisi lain, Bandung mengalami peningkatan isu stres perkotaan, ditunjukkan oleh kenaikan jumlah anak dengan gangguan kesehatan mental sebesar 38,14% pada tahun 2022, sekitar 60% mahasiswa mengalami stres, kecemasan, atau depresi pada tingkat tertentu, serta 48,6% mahasiswa baru mengalami gejala gangguan mental emosional dengan 21,2% di antaranya merasa tidak bahagia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Bandung membutuhkan sebuah ruang yang dapat mentransformasi kondisi stres menjadi kreativitas. Isu perancangan utama yang diangkat adalah bagaimana arsitektur dapat mengubah eustress dan distress menjadi energi kreatif. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, studi preseden, analisis tapak, analisis pengguna dan aktivitas, serta sintesis teori menjadi strategi perancangan arsitektur. SENSE+ mengusulkan perancangan creative hub yang dipadukan dengan contemplative center sebagai tipologi arsitektur yang mentransformasikan stres menjadi energi kreatif melalui pendekatan neuroarchitecture dan programmatic disjunction. Pendekatan perancangan diturunkan lebih lanjut menjadi konsep transprogramming, biophilic design & healing environment, dan Attention Restoration Theory (ART) untuk membentuk sekuens ruang being away, fascination, extent, dan compatibility yang mendukung transformasi kondisi psikologis pengguna dari keadaan stres menuju kondisi yang lebih tenang, fokus, dan kreatif. Hasil perancangan berupa kompleks creative hub dan contemplative center yang dirancang untuk mengubah gelombang otak beta (15–20 Hz), yang berkaitan dengan kondisi stres, menuju gelombang alfa (8–12 Hz), yang berkaitan dengan kondisi relaks dan kreativitas. Perubahan kondisi tersebut dicapai melalui strategi perancangan yang memanfaatkan elemen biofilik, konfigurasi ruang, geometri, pencahayaan alami, material, lanskap, dan pengalaman multisensori sesuai dengan pendekatan perancangan yang dipilih. Luaran tugas akhir ini diharapkan mampu mentransformasi stres perkotaan di Kota Bandung menjadi energi kreatif yang berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup serta perekonomian kota.
REVITALISASI KAWASAN PASAR ASTANA ANYAR: MODEL MIXED-USE SEBAGAI PENGUNGKIT AKTIVITAS SOSIAL-EKONOMI DAN RESTORASI LINGKUNGAN SUNGAI
Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi di Kota Bandung memicu keterbatasan lahan, yang berdampak pada munculnya permukiman informal atau kawasan kumuh, salah satunya di bantaran Sungai Citepus dekat Pasar Astana Anyar. Fenomena ini menimbulkan berbagai masalah multidimensi, mulai dari degradasi lingkungan fisik seperti pencemaran dan penyempitan sungai yang memicu banjir, hingga kerentanan sosial dan ekonomi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Selain itu, kawasan Pasar Astana Anyar juga mengalami penurunan fungsi akibat ketidakteraturan pedagang kaki lima (PKL) dan hilangnya ruang terbuka hijau. Upaya relokasi pemerintah sering kali gagal karena memutus akses warga terhadap sumber penghidupan utama mereka di pusat kota. Untuk merespons permasalahan tersebut, perancangan ini menggunakan pendekatan behaviour mapping dan behaviour setting guna memahami pola aktivitas komunal dan pergerakan keseharian warga permukiman informal. Pendekatan ini dipadukan dengan desain partisipatif yang menempatkan pengguna sebagai subjek aktif, sehingga rancangan ruang dapat menjembatani transisi perilaku warga dari hunian tapak ke hunian vertikal tanpa menghilangkan akar kebiasaan sosial mereka. Proses perancangan ini berlandaskan pada tiga nilai utama kawasan, yaitu inklusif, berdaya, dan pulih. Solusi yang ditawarkan adalah sebuah model bangunan mixed-use yang mengintegrasikan fungsi hunian vertikal (Rusunawa) bagi MBR dan area komersial berupa revitalisasi Pasar Astana Anyar. Dengan mengusung konsep "One Stop Everyday Living", kawasan ini dirancang agar masyarakat dapat tinggal, bekerja, berkumpul, dan bergerak secara efisien di satu lokasi yang sama. Penggabungan ini memungkinkan warga yang direlokasi tetap memiliki akses langsung terhadap mata pencaharian mereka di pasar, sekaligus menata ulang sistem perdagangan lokal yang sebelumnya tidak teratur menjadi kawasan yang inklusif. Selain aspek sosial-ekonomi, proyek ini juga berfokus pada restorasi lingkungan melalui penerapan infrastruktur hijau pada sempadan Sungai Citepus. Lahan hasil relokasi dialihfungsikan menjadi area resapan air, wetlan, taman, dan kolam detensi untuk memitigasi risiko banjir dan memulihkan fungsi ekologi sungai. Secara keseluruhan, revitalisasi terpadu ini diharapkan mampu menghadirkan hunian yang layak, mengembalikan daya saing ekonomi pasar rakyat, serta menciptakan ruang publik perkotaan yang sehat dan berkelanjutan.
PERANCANGAN CIRCULAR MAKERSPACE LIBRARY BERBASIS KONSTRUKTIVISME:STUDI KASUS DI BANDUNG MELALUI KASUS ADAPTIVE REUSE
Bandung dikenal luas akan ekonomi kreatifnya, akan tetapi masih terdapat kesenjangan antara keterampilan yang dikuasai anak muda dengan kebutuhan dari industri kreatif itu. Pada saat yang sama, digitalisasi telah menyebabkan penurunan kunjungan pada perpustakaan tradisional, sekaligus dengan masalah sampah kota, terutama sampah plastik dan serat yang masih sangat kurang dimanfaatkan. Projek final yang berjudul “Circular Makerspace Library” ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang saling terhubung ini melalui penggabungan fungsi antara lingkungan pembelajaran modern dengan fasilitas fabrikasi. Desain ini memperlengkapi penggunanya dengan keterampilan industri yang dibutuhkan, menghidupkan kembali perpustakaan sebagai ruang ketiga, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bagaimana material daur ulang dapat diintegrasikan kembali ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan penerapan konsep adaptive reuse pada hangar heritage existing, serta konsep arsitektur modular dan ekspresionisme struktural, Bangunan tersebut sendiri menjadi suatu pengalaman belajar. Tata ruang yang mengutamakan visibilitas dan zonasi spasial melalui warna untuk memfasilitasi pembelajaran secara pasif. Konsep ini memungkinkan pengunjung untuk dapat terlibat dalam proses kerajinan melalui observasi dan praktik langsung berdasarkan konsep konstruktivisme. Secara keseluruhan, projek ini memberikan solusi arsitektural berkelanjutan yang menjembatani kesenjangan keterampilan lokal, mengembalikan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran yang dinamis, sekaligus mengurangi sampah perkotaan.
FA-BRICK: RUANG INKLUSIF, ADAPTIF, DAN PRODUKTIF BAGI UMKM FASHION LOKAL BANDUNG DALAM MENGHADAPI DISPARITAS PERSAINGAN INDUSTRI,DI JALAN BANDA
Kota Bandung mulai mendapatkan julukan sebagai “Paris Van Java” berkat kemunculan Factory Outlet (FO) dan Distribution Store (Distro) di akhir tahun 1990-an. Seiring berjalannya waktu, Distro menunjukkan kemampuan yang lebih baik untuk bertahan, bahkan terus bertumbuh berkat produk-produk eksklusif yang lahir dari kreativitas dan identitas. Jumlah UMKM fashion lokal di Bandung pun terus mengalami peningkatan hingga industri ini tumbuh besar. Namun, permasalahan mulai muncul ketika permintaan akan kebutuhan ruang kerja dan usaha ikut meningkat tanpa disertai dengan adanya wadah, baik berupa tempat maupun komunitas. Akibatnya, persaingan yang cenderung tidak sehat mulai tumbuh dalam industri fashion lokal Bandung hingga menimbulkan disparitas dari berbagai aspek (modal, eksposur, koneksi). Sebagai upaya untuk menjawab permasalahan tersebut, dibutuhkan sebuah pusat inkubasi fashion yang bisa menyatukan para pelaku UMKM fashion lokal Bandung. Fa-Brick hadir sebagai ruang aglomerasi berbasis ekosistem koperasi dengan tujuan untuk menghadirkan persaingan yang lebih inklusif, produktif, dan sehat. Nilai adaptive, catalyze, dan clarity diambil sebagai landasan perancangan. Nilai adaptive diwujudkan dengan konsep arsitektur industrial - temporer, dimulai dari penggunaan struktur baja dan raw material yang memudahkan proses konstruksi. Hal ini memungkinkan bangunan untuk terus beradaptasi dengan perubahan tren yang cepat, terlebih dalam dunia fashion. Selanjutnya, nilai catalyze diwujudkan dengan konsep social-condenser dan sociopetal, di mana pengorganisasian ruang serta fungsinya akan berperan penting dalam menciptakan arus pengunjung yang maksimal. Area rooftop garden tribune dan multi-purpose hall menjadi hasil nyata, dengan ragam aktivitas yang bisa dilaksanakan dalam waktu maupun tempat yang sama. Hal ini akan berdampak pada peningkatan produktivitas penjualan, yang selanjutnya juga akan meningkatkan aktivitas RnD dan produksi dari para UMKM fashion lokal. Terakhir, nilai clarity diwujudkan dengan artikulasi sirkulasi dalam bangunan yang jelas untuk membawa arus aktivitas secara sistematis dan inklusif bagi semua pihak. Atrium utama di tengah bangunan menjadi pemegang peran penting yang menghasilkan konektivitas yang baik hingga mampu mewujudkan inklusivitas bagi seluruh pengguna. Fa-Brick diharapkan dapat menjadi wadah yang terbuka dan ramah bagi seluruh UMKM fashion yang terlibat sehingga arah pengembangan industri ini bisa lebih jelas serta nyata.
SINTESIS, KARAKTERISASI, DAN EVALUASI AKTIVITAS FOTOKATALITIK MMT/PANI/CEO2 TERDOPING LOGAM CU DAN CO TERHADAP DEGRADASI METILEN BIRU
Pencemaran air akibat limbah zat warna sintetis, khususnya metilen biru, menjadi salah satu permasalahan lingkungan. Metilen biru memiliki toksisitas yang dapat mengganggu kesehatan manusia, sehingga diperlukan teknologi yang efektif untuk menghilangkan zat warna tersebut. Metode fotokatalisis dapat menjadi alternatif yang menguntungkan karena bersifat destruktif. Fotokatalis berbasis semikonduktor CeO? telah banyak dikembangkan untuk aplikasi fotodegradasi polutan organik, namun penggunaannya masih terbatas akibat energi celah pita yang lebar dan laju rekombinasi elektron–hole yang tinggi. Strategi doping logam Cu dan Co pada CeO? dapat mempersempit celah pita dan menekan laju rekombinasi, sehingga berpotensi meningkatkan aktivitas fotokatalitik. Selain itu, pembentukan nanokomposit dengan montmorilonit (MMT) sebagai matriks pendukung dan polianilin (PANI) sebagai konduktor diharapkan dapat mempercepat transfer muatan dan mencegah aglomerasi partikel. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh doping Cu, Co, dan CuCo (co-doping) pada nanokomposit MMT/PANI/CeO? terhadap aktivitas fotodegradasi metilen biru. CeO? terdoping logam disintesis menggunakan metode sol-gel, kemudian dikompositkan dengan MMT/PANI untuk membentuk nanokomposit fotokatalis. Karakterisasi material dilakukan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Scanning Electron Microscopy (SEM), X-Ray Fluorescence (XRF), Transmission Electron Microscopy (TEM), Zeta Potential Analyzer, dan UV-Visible Diffuse Reflectance Spectroscopy (UV- Vis DRS). Aktivitas fotokatalitik dievaluasi melalui degradasi larutan metilen biru di bawah iradiasi cahaya UV (? = 366 nm). Hasil karakterisasi XRD menunjukkan bahwa puncak difraktogram CeO? terdoping logam sesuai dengan standar CeO? (COD-7217887) tanpa terbentuknya senyawa lain. Hasil FTIR menunjukkan adanya vibrasi Ce–O pada bilangan gelombang 505 cm?¹, vibrasi N–H khas PANI pada 1303 cm?¹, serta vibrasi Si– O–Al khas MMT pada 526 cm?¹. Hasil UV-Vis DRS menunjukkan nilai energi celah pita CeO?-Co sebesar 2,00 eV, yang mengalami penurunan dari CeO? murni hasil sintesis sebesar 3,17 eV. Analisis XRF menunjukkan bahwa keberadaan dopan Co dan Cu dalam nanokomposit berhasil tervalidasi berdasarkan nilai dari %at (atomic percent) dan %wt (weight percent). Analisis SEM menunjukkan bahwa nanopartikel CeO? terdoping logam telah terdispersi pada permukaan komposit MMT/PANI. Hasil karakterisasi TEM menunjukkan bahwa nanopartikel CeO?-Co memiliki ukuran paling kecil, yaitu sebesar 37,5 nm, partikel CeO2 berbentuk sferis, komposit MMT/PANI menunjukkan bentuk seperti lembaran yang bertumpuk. Material nanokomposit terdoping Co menunjukkan aktivitas fotokatalitik yang lebih tinggi (27,65%) dibandingkan doping Cu dan CuCo dalam mendegradasi metilen biru. Efisiensi degradasi yang diperoleh pada kondisi optimum sebesar 37,83% dengan massa fotokatalis 0,02 gram, konsentrasi metilen biru 10 ppm, pH 5, dan waktu iradiasi selama 60 menit. Berdasarkan studi kinetika, fotodegradasi menggunakan nanokomposit mengikuti model kinetika orde dua, sedangkan adsorpsi nanokomposit mengikuti model kinetika orde satu semu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nanokomposit MMT/PANI/CeO? terdoping Cu, Co, dan CuCo berpotensi dikembangkan sebagai material fotokatalis untuk aplikasi pengolahan limbah zat warna dalam lingkungan perairan.
USULAN KORELASI PENENTUAN RECOVERY FAKTOR PADA AKHIR PERIODELAJU ALIR PLATEAU SUMUR GAS
Estimation of flow rate and time needed of plateau is the main requirement in the process of gas field business influenced by the results of economic evaluation. From engineering aspect, acquisition factor has become the optimization target. It is to maximize recovery factor. On the other hand, water production has always become a real problem in the field inhibiting the production of gas. The purpose of this study is to identify the new proposed correlation to estimate recovery factor at the end of plateau flow rate production of gas reservoir in the water thrust force. The correlations is obtained by constructing 2-D reservoir model for two phase flow (water-gas) and perform sensitivity analysis for rock properties such as absolute permeability (k) and comparison of vertical permeability with horizontal permeability (kv / kh) and the aquifer properties-aquifer thickness and aquifer radius. By using sensitivity data, recovery factor correlation at the end of the plateau of gas production flow rate of for the polynomial degree three and five is identified. From validation results, the maximum error of 12.72% and the minimum error of 0.31% of three degrees as well as the maximum error of 11.5% and the minimum error of 0.19% for degree five have also been revealed.
ESTIMASI LEAF AREA INDEX BERBASIS DATA SPEKTRAL DAN KARAKTERISTIK TEGAKAN PADA PLOT PERMANEN DI CA/TWA GUNUNG PAPANDAYAN, GARUT
Leaf Area Index (LAI) merupakan parameter biofisik penting yang menggambarkan kondisi dan produktivitas kanopi hutan, namun variasinya pada ekosistem hutan pegunungan tropis masih kurang dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pola distribusi LAI dan keterkaitannya dengan karakteristik tegakan, serta menyusun model terbaik untuk mengestimasi LAI berbasis data spektral dan variabel vegetasi di CA/TWA Gunung Papandayan, Garut. Penelitian dilakukan pada plot permanen seluas 1 ha, terbagi menjadi 100 subplot berukuran 10 m × 10 m. Nilai LAI diperoleh menggunakan metode Canopy Hemispherical Photography (CHP), sedangkan data spektral diperoleh dari citra Sentinel-2A. Variabel yang dianalisis meliputi indeks vegetasi (NDVI, SAVI, EVI, FCD, dan NDMI), karakteristik struktur tegakan, komposisi floristik, jumlah individu, dan densitas kayu spesifik. Analisis data mencakup autokorelasi spasial, korelasi Pearson, Principal Component Analysis (PCA), uji multikolinearitas, serta regresi linear yang dievaluasi menggunakan R², RMSE, dan Corrected Akaike Information Criterion (AICc). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LAI berkisar antara 1,32–4,06 dengan rerata 2,45 ± 0,51 dan berpola mengelompok berdasarkan Moran’s Index sebesar 0,36. NDVI menunjukkan hubungan terkuat dengan LAI (r = 0,64), diikuti oleh FCD, SAVI, EVI, dan NDMI. Model terbaik pada kelompok indeks tunggal diperoleh dari NDVI dengan nilai R² sebesar 0,46 dan RMSE 0,36. Sementara itu, model multivariat yang mengombinasikan NDVI dan rata-rata DBH menghasilkan model paling efisien (R² = 0,52; RMSE = 0,34; AICc = 53,99), sedangkan penambahan indeks keanekaragaman spesies memberikan akurasi tertinggi (R² = 0,53; RMSE = 0,33). Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi informasi spektral dan karakteristik tegakan meningkatkan performa estimasi LAI pada hutan tropis pegunungan serta berpotensi mendukung pemantauan kondisi kanopi dan pengelolaan kawasan konservasi.
PENGARUH APLIKASI KOMBINASI MEDIA TANAM INSECT FRASS DAN KOMPOS TERHADAP PERKECAMBAHAN, PERTUMBUHAN, BIOMASSA, DAN NUTRISI MICROGREENS KALE (BRASSICA OLERACEAE)
Tingginya permintaan terhadap microgreens yang terus meningkat karena nilai gizinya yang tinggi dan siklus panennya yang singkat, sehingga cocok untuk memenuhi kebutuhan pangan sehat, membuka peluang besar dalam sektor pertanian modern. Namun, di sisi lain, praktik budidaya konvensional yang tidak ramah lingkungan dan berkurangnya ketersediaan lahan menyebabkan penurunan kualitas lahan dan berkurangnya ruang untuk budidaya. Insect frass menawarkan solusi komprehensif yang mengintegrasikan aspek kesuburan tanah, efisiensi sumber daya, dan perlindungan tanaman dalam satu sistem pertanian berkelanjutan. Microgreens dipilih sebagai pangan rendah kalori dan bergizi tinggi, seperti vitamin C, E, K, dan mineral yang lebih tinggi dibandingkan sayuran dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi media tanam terhadap perkecambahan, pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas nutrisi microgreens kale (Brassica oleraceae). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perbedaan komposisi media tanam. Data dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics versi 27 dengan uji ANOVA dan uji lanjut Tukey pada taraf signifikansi 5%. Terdapat 20 sampel penelitian dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, meliputi P1 (100% tanah) sebagai kontrol negatif, P2 (tanah + NPK) sebagai kontrol positif, P3 (1,2% insect frass + tanah), dan P4 (30% kompos + 68,8% tanah + 1,2% insect frass). Parameter yang diamati mencakup persentase perkecambahan, tinggi tanaman, panjang akar, berat basah dan kering tajuk, berat basah dan kering akar, kadar air, shoot-root ratio, nutrisi media tanam, serta kandungan vitamin C dan kadar klorofil microgreens kale. Kondisi lingkungan yaitu suhu ruangan, kelembaban ruangan, serta faktor edafik (pH, suhu, dan kelembaban) pada setiap perlakuan media tanam diukur selama masa penelitian. Kondisi lingkungan selama penelitian berada pada rentang optimal dengan suhu ruang sebesar 25.56 ± 0.22°C dan suhu pada media tanam 25.35 ± 0.10°C. Kelembaban ruang tercatat rata-rata 62.85 ± 0.49%, sedangkan kelembaban edafik pada media tanam 61.92 ± 0.29%. Nilai pH edafik media tanam menunjukkan rata-rata 6.97 ± 0.01, yang masih berada dalam rentang optimal untuk pertumbuhan microgreens. Growth performance terbaik diperoleh dari perlakuan P4 (30% kompos + 68,8% tanah + 1,2% insect frass), yang menunjukkan peningkatan parameter pertumbuhan dan kandungan nutrisi secara signifikan dibandingkan perlakuan lainnya, dengan rata-rata persentase potensi berkecambah 90 ± 1.90%, daya berkecambah 82.67 ± 1.25%, kecepatan berkecambah 88 ± 2.44%, keserempakan berkecambah 88 ± 2.44%, rata-rata tinggi microgreens 6.61 ± 0.24 cm, panjang akar 4.90 ± 0.07 cm, berat basah tajuk 3.28 ± 0.16 g, berat kering tajuk 0.28 ± 0.01 g, berat basah total 4.85 ± 0.16 g, berat kering total 0.32 ± 0.01 g, shoot-root ratio 7.40 ± 0.94, nutrisi media tanam yang meliputi C organik 5,89% (sangat tinggi), N total 0,57% (tinggi), P tersedia 438,13 mg/kg (sangat tinggi), serta kandungan vitamin C pada microgreens 11.27 ± 0.14 (mg/100 g), kadar klorofil microgreens dengan spektrofotometer 25.68,8 ± 0.54 (mg/L), dan kadar klorofil metode SPAD 28.67 ± 0.18 unit SPAD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap persentase potensi berkecambah, daya berkecambah, tinggi tanaman, berat basah dan berat kering tajuk, berat basah dan berat kering total, shoot-root ratio, serta kandungan vitamin C dan kadar klorofil microgreens. Perlakuan P4 (30% kompos + 68,8% tanah + 1,2% insect frass) memberikan hasil paling signifikan di antara seluruh perlakuan. Namun, media tanam tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap indeks kecepatan berkecambah, keserempakan berkecambah, dan panjang akar microgreens. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa aplikasi insect frass dengan kombinasi kompos dapat meningkatkan parameter pertumbuhan dan kandungan nutrisi microgreens kale (Brassica oleraceae) secara signifikan.
GANGGUAN DALAM KODE KOREKSI KESALAHAN KUANTUM
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak dari sebuah gangguan noise terhadap keadaan dari sebuah informasi kuantum. Secara kuantum, sebuah informasi sangat rentan terjadinya kerusakan akibat gangguan yang berasal dari sekitar ataupun berasal dari perangkat yang digunakan. Wadah pembawa dari informasi kuantum berupa partikel mikroskopis, seperti foton atau elektron, maka informasi tersebut mengikuti aturan kuantum yang salah satunya adalah superposisi. Secara klasik, sebuah informasi hanya berupa bilangan diskrit 0 dan 1, sedangkan informasi kuantum berupa kombinasi antara 0 dan 1. Maka dari itu, metode yang digunakan untuk mengatasi gangguan pada informasi kuantum adalah Quantum Error Correction (QEC). Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis sebuah sirkuit QEC dengan menyisipkan sebuah gangguan bit flip, phase flip, depolarizing, dan amplitude damping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan berupa bit flip, phase flip, dan depolarizing merupakan jenis gangguan yang dapat dikontrol dan dipahami dengan baik karena perilakunya mengikuti operator kuantum, yaitu operator Pauli. Sedangkan, gangguan berupa amplitude damping merupakan jenis gangguan yang sulit dikontrol dan karenanya gangguan ini yang mengakibatkan keadaan dari informasi kuantum semakin rusak. Metode penelitian ini dilakukan dengan melakukan perhitungan analitik dari keadaan kuantum dalam sirkuit QEC sampai ke tahap pengukuran. Setelah dilakukan pengukuran, maka diperoleh hasil berupa sindrom 00, 01, 10, dan 11 dengan probabilitas tertentu
PERANCANGAN VERTIKAL MIXED-USE BUILDING SEBAGAI SOLUSI GENERASI Z PERKOTAAN DENGAN PENDEKATAN KEBERLANJUTAN
Perkembangan kawasan perkotaan di Indonesia menunjukkan peningkatan kepadatan yang signifikan, sehingga mendorong kebutuhan akan hunian vertikal dan bangunan multifungsi (mixed-use building) sebagai solusi keterbatasan lahan. Generasi muda, khususnya Generasi Z, menjadi pengguna potensial yang membutuhkan hunian dengan karakter fleksibel, produktif, dan terintegrasi dengan gaya hidup modern perkotaan. Namun, tantangan yang muncul adalah bagaimana menciptakan lingkungan hunian yang tidak hanya efisien secara ruang, tetapi juga berkelanjutan, sehat, serta mampu mendorong interaksi sosial dan kesejahteraan penggunanya. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk merancang bangunan vertikal mixed-use yang inklusif dan berkelanjutan sebagai solusi terhadap kebutuhan generasi muda perkotaan. Pendekatan keberlanjutan digunakan sebagai dasar dalam merancang agar bangunan tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional, tetapi juga mempertimbangkan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi. Metode perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis kebutuhan pengguna, serta analisis tapak dan konteks lingkungan sekitar. Studi kasus yang dijadikan acuan adalah Dago Suites Bandung & HQuarters Bandung, sebagai contoh bangunan vertikal yang menggabungkan fungsi hunian, komersial, dan fasilitas umum di kawasan perkotaan padat. Melalui metode tersebut, diperoleh pemahaman terhadap pola aktivitas pengguna, sirkulasi, serta integrasi antar fungsi ruang yang mendukung kehidupan urban yang dinamis. Konsep desain yang diterapkan menekankan pada keterhubungan antar-zona melalui sirkulasi vertikal dan horizontal yang efisien serta ruang komunal yang mendorong interaksi sosial. Desain interior difokuskan pada efisiensi ruang, fleksibilitas fungsi, serta penciptaan suasana yang nyaman dan mendukung produktivitas generasi muda. Prinsip keberlanjutan diwujudkan melalui pemanfaatan pencahayaan alami, ventilasi silang, dan pengolahan ruang hijau vertikal yang meningkatkan kualitas udara dan kenyamanan Implementasi desain ini diharapkan dapat memberikan alternatif solusi bagi pengembangan hunian vertikal di kawasan perkotaan, yang tidak hanya fungsional dan estetis, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan dan kesejahteraan penggunanya, sejalan dengan tujuan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
STUDI SPASIAL ECENG GONDOK (EICHHORNIA CRASSIPES (MART.) SOLMS) DAN HUBUNGANNYA DENGAN KUALITAS AIR UNTUK KONSERVASI EKOSISTEM AIR TAWAR DI JAWA BARAT
Ekosistem air tawar mengalami penurunan biodiversitas yang signifikan, salah satu penyebab utamanya adalah invasi tumbuhan asing Eichhornia crassipes. Spesies ini dapat mendominasi perairan, mengubah fungsi ekosistem, dan berpotensi menghambat pencapaian SDG 6 tentang air bersih dan sanitasi. Penelitian mengenai spesies ini sebagian besar berfokus pada pemanfaatan biomassa, produksi bioenergi, bioadsorben, fitoremediasi, dan berbagai aplikasi biokimia. Sementara, kajian ekologis yang mengintegrasikan pemetaan berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan pengambilan sampel lapangan untuk mengkuantifikasi okupansi, distribusi, densitas, dan biomassa populasi serta mengaitkannya dengan kualitas air masih terbatas. Penelitian ini mengukur parameter kualitas air mencakup oksigen terlarut (DO), suhu, pH, konduktivitas, total padatan terlarut (TDS), kecepatan arus, transparansi, nutrien, dan klorofil-a. Hasil penelitian menunjukkan bahwa E. crassipes menempati 3,10–12,41% area, dengan densitas 15–20 individu/m² dan biomassa sebesar 164–299 g/individu (basah) serta 24–53 g/individu (kering). Secara spasial, E. crassipes terkonsentrasi pada zona yang relatif terlindung dan berpotensi menerima input nutrien, seperti zona litoral, area sekitar akuakultur, dan sebagian area inlet. Tingginya nilai densitas tanaman berasosiasi dengan rendahnya DO dan klorofil-a, serta tingginya suhu, konduktivitas, TDS, transparansi, dan nitrit. Evaluasi kualitas air berdasarkan baku mutu air menunjukkan bahwa lokasi terinvasi cenderung memiliki kelas mutu yang lebih rendah, terutama akibat rendahnya DO dan tingginya konsentrasi nutrien pada beberapa lokasi. Berdasarkan data spasial dan lapangan, pengelolaan konservasi ekosistem air tawar yang terinvasi perlu dilakukan berbasis data seperti penetapan zona prioritas, pengendalian input nutrien, pencegahan penyebaran, pemantauan berbasis UAV, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan.
PROYEKSI LAND USE LAND COVER (LULC), DEFORESTASI, DAN CARBON LOSS DALAM MENDUKUNG PELESTARIAN HEART OF BORNEO DI KALIMANTAN UTARA (1990-2040)
Kalimantan Utara merupakan bagian inti kawasan Heart of Borneo (HoB) yang memiliki peran ekologis strategis. Ekspansi perkebunan dan pertanian terus mendorong deforestasi, sehingga mengancam integritas kawasan HoB sekaligus menurunkan simpanan karbon yang penting bagi pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika deforestasi dan driving factors-nya selama periode 1990– 2020, mengestimasi simpanan karbon dan carbon loss, memproyeksikan perubahan tutupan lahan tahun 2030 dan 2040 melalui tiga skenario, serta mengevaluasi implikasinya terhadap pelestarian kawasan HoB. Penelitian dilakukan di Provinsi Kalimantan Utara dengan pendekatan analisis perubahan Land Use Land Cover, estimasi karbon berbasis look-up table, dan pemodelan Land Change Modeler pada perangkat lunak TerrSet. Seleksi driving factors dilakukan menggunakan Uji Pearson, sedangkan validasi model menggunakan Kappa. Hasil penelitian menunjukkan kehilangan tutupan hutan sebesar 701.917 ha selama 1990–2020, dengan laju tertinggi terjadi pada periode 2000–2011. Simpanan karbon menurun dari 1,369 GtC pada 1990 menjadi 1,234 GtC pada 2020, dengan carbon loss sebesar 136,89 juta ton C. Pemodelan LULC tahun 2020 memperoleh nilai Kappa sebesar 0,88 dan accuracy rate rata-rata 89,17%, sehingga dinilai layak untuk proyeksi masa depan. Hasil proyeksi menunjukkan bahwa skenario Forest Conservation menghasilkan simpanan karbon tertinggi dan carbon loss terendah, sedangkan skenario Plantation Expansion menunjukkan dampak paling negatif. Skenario Forest Conservation menghasilkan penyerapan karbon tertinggi dan kehilangan terendah, menjadikannya strategi paling efektif yang sesuai dengan tujuan konservasi HoB dan target NDC Indonesia.
MODEL TERPADU PERENCANAAN PRODUKSI DAN PETI KEMAS SERTA OPERASI PELABUHAN DAN GUDANG UNTUK PENGENDALIAN INVENTORI DI PERUSAHAAN PULP AND PAPER DENGAN MENGGUNAKAN DINAMIKA SISTEM
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya inventori pada perusahaan pulp and paper yang dipengaruhi oleh hubungan dinamis antara perencanaan produksi, perencanaan peti kemas, serta operasi pelabuhan, gudang, dan transportasi dalam sistem logistik terintegrasi. Kompleksitas masalah meningkat akibat karakteristik sistem produksi make-to-order dalam lingkungan business-to-business. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model terpadu untuk pengendalian inventori dan merumuskan kebijakan yang mampu meningkatkan kinerja sistem. Secara ilmiah, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model dinamika sistem dengan mengintegrasikan subsektor pelabuhan dan perencanaan peti kemas sebagai bagian endogen dalam struktur model, serta mengembangkan formulasi matematis berbasis observasi empiris yang merepresentasikan interaksi dinamis antar subsektor logistik. Pemilihan subsektor pelabuhan dan perencanaan peti kemas didasarkan pada analisis sistem terkait masalah penelitian. Metodologi yang digunakan adalah dinamika sistem dengan pengembangan stock and flow diagram yang diimplementasikan dalam Vensim DSS. Model divalidasi menggunakan Theil’s Inequality Statistics Test dan kemudian dianalisis melalui uji sensitivitas terhadap ketidakpastian parameter. Setelah model valid dan robust, luaran simulasi model dioptimisasi menggunakan algoritma Powell untuk memperoleh kebijakan optimal dalam ruang solusi. Pendekatan optimisasi dilakukan untuk menghasilkan kebijakan optimal dengan mensimulasikan seluruh ruang solusi secara simultan, berbeda dengan pendekatan tradisional dinamika sistem yang umumnya mengembangkan skenario parsial dalam mengubah variabel keputusan secara bertahap. Berdasarkan hasil proses optimisasi, dilakukan analisis sensitivitas simultan terhadap variabel keputusan untuk mengetahui dampak perubahan terhadap variabel ukuran kinerja. Hasil menunjukkan rancangan kebijakan optimal bersifat robust sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun rencana implementasi kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dikembangkan mampu merepresentasikan perilaku sistem secara memadai. Temuan utama menunjukkan ii bahwa akumulasi inventori tidak disebabkan oleh keterbatasan kapasitas produksi, tetapi oleh ketidaksinkronan antar subsektor, khususnya antara operasi gudang dan ketersediaan peti kemas. Variabel-variabel tersebut diidentifikasi sebagai leverage points utama dalam sistem. Kapasitas pelabuhan bukan bottleneck utama, namun pelabuhan berperan mendukung efektivitas perencanaan peti kemas. Variabel efisiensi peralatan juga perlu dipertahankan kinerjanya karena parameter tersebut bersifat sensitif. Simulasi menunjukkan bahwa perbaikan koordinasi antar subsektor melalui penyesuaian kapasitas produksi, peningkatan efisiensi gudang, dan pengelolaan peti kemas yang lebih baik dapat mengurangi penumpukan inventori dan meningkatkan kinerja sistem. Kebijakan yang dihasilkan, dengan implementasi bertahap, mampu menurunkan rata-rata inventori gudang dengan kebijakan optimal sebesar 25,74% per tahun dibandingkan dengan kondisi dasar, serta memberikan efek positif terhadap efisiensi operasional dan finansial perusahaan.