📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenANALISIS SKENARIO KEBIJAKAN HARGA KARBON DAN TRANSISI ENERGI TERHADAP KELAYAKAN FINANSIAL PROYEK HPAL NIKEL ANTAM DI HALMAHERA TIMUR
Komitmen Indonesia mencapai NZE 2060 menuntut industri padat energi menjaga profitabilitas sambil menurunkan emisi. Berbagai studi sebelumnya membahas emisi HPAL dan desain kebijakan NEK, tetapi umumnya berada pada tingkat makro dan fokus pada jejak karbon teknis. Belum ada yang mengkaji kelayakan finansial proyek HPAL Indonesia secara langsung, terutama di bawah kombinasi kebijakan NEK, CBAM, dan skenario transisi energi. Sebagai pelaku utama rantai pasok nikel untuk baterai kendaraan listrik, ANTAM berpotensi menghadapi peningkatan biaya karbon melalui proyek HPAL di Halmahera Timur. Penelitian ini menilai dampak kebijakan harga karbon nasional dan global serta transisi energi terhadap kelayakan finansial proyek tersebut. Model keuangan berbasis skenario menggunakan metode DCF untuk horizon 20 tahun dengan WACC 14,89%. Empat konfigurasi dianalisis: gas tanpa harga karbon, gas dengan NEK, gas dengan NEK-CBAM, dan energi terbarukan surya dengan NEK, CBAM, dan offset karbon 10%. Analisis menunjukkan penerapan NEK dan CBAM menurunkan indikator kelayakan karena meningkatnya beban biaya karbon. NEK menurunkan NPV dan IRR dari USD 332,76 juta; 18,90% menjadi USD 316,43 juta; 18,72%, sementara paparan CBAM menurunkannya lebih jauh menjadi USD 154,60 juta; 16,84%. Transisi energi berbasis surya meningkatkan investasi dari USD 1,95 miliar menjadi USD 2,35 miliar, namun menurunkan total emisi dari 14,40 menjadi 12,46 juta ton CO?e (-13,45%) dan bersama offset karbon 10% menurunkan biaya karbon kumulatif dari USD 937,80 menjadi USD 810,61 juta (-13,56%), dengan NPV dan IRR tetap di atas ambang kelayakan. Analisis sensitivitas menemukan variabel pasar, khususnya harga MHP dan volume penjualan, serta biaya material input dan energi menjadi penentu utama fluktuasi nilai proyek. Simulasi Monte Carlo (3.000 iterasi) menunjukkan bahwa konfigurasi energi terbarukan menghasilkan sebaran NPV sedikit lebih sempit dan volatilitas lebih rendah dibandingkan gas. Secara keseluruhan, proyek HPAL ANTAM tetap layak secara finansial pada seluruh skenario, tetapi profitabilitasnya sangat sensitif terhadap desain kebijakan harga karbon internasional dan bauran sumber energi. Untuk mempertahankan daya saing, kebijakan seperti penetapan harga karbon yang bertahap, insentif energi terbarukan, fokus pasar non-EU, dan pemanfaatan pembiayaan hijau menjadi penting. Studi ini memberi kontribusi pada evaluasi tingkat proyek dari strategi dekarbonisasi HPAL BUMN Indonesia di bawah kombinasi NEK-CBAM dan transisi energi, serta menjadi dasar kebijakan dan strategi investasi yang lebih adaptif terhadap agenda dekarbonisasi nasional.
PERSEBARAN SPASIAL SAMPAH LAUT DAN PARAMETER KUALITAS AIR LAUT DI SEKITAR EKOSISTEM MANGROVE PESISIR KABUPATEN BREBES
Kondisi laut di Indonesia saat ini terancam akan adanya sampah laut dan polutan akibat aktivitas manusia. Akibatnya ekosistem di pesisir seperti mangrove yang memiliki banyak manfaat menjadi terancam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persebaran sampah spasial laut dan membandingkan pola kelimpahannya dengan parameter kualitas air laut di sekitar ekosistem mangrove pesisir Kabupaten Brebes. Sampah spasial laut yang diteliti berupa sampah berukuran makro dan meso dan sampel air laut dilakukan pengukuran secara langsung untuk mendapatkan nilai parameter fisis serta uji laboratorium untuk melihat kandungan nutrien. Ada 4 titik pengambilan sampel dengan kondisi berbeda yaitu konservasi mangrove, muara sungai, pantai tak terjamah, dan pantai wisata. Penelitian ini dilakukan selama 3 musim yakni musim peralihan II (November), musim barat (Februari), terakhir musim peralihan I (Mei). Sampel air laut yang diambil akan diawetkan dengan H2SO4 dan seminggu kemudian dilakukan pengujian nutrien di Laboratorium MTCRC. Sampel sampah laut akan diolah sesuai dengan Pedoman Pemantauan Sampah Laut oleh KLHK tahun 2020. Hasilnya jenis sampah yang dominan adalah sampah plastik (PL) dengan persentase 38 – 80% di semua titik dan setiap musim. Sampah tertinggi mencapai 173 buah di kawasan pantai tak terjamah. 3 lokasi pengambilan sampel memiliki fluktuasi yang berbeda-beda. Sampah di area pantai wisata, konservasi mangrove, dan muara sungai dipengaruhi oleh aktivitas pariwisata. Sampah jenis makro lebih dominan dibandingkan meso dengan berat/m2 mencapai 164,84 g/m2. Parameter oseanografi tidak terlalu berpengaruh pada kelimpahan sampah dikarenakan sumber sampah dominan dari aktivitas manusia. Lalu, kualitas air laut baik parameter fisik dan nutrien dengan menggunakan indeks pencemaran dari Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 51 Tahun 2004, semua titik dalam 3 musim tergolong ke dalam tercemar ringan, dengan rentang nilai 1,159 – 5,006. Analisis keterkaitan spasial menunjukkan bahwa fluktuasi kelimpahan sampah dan Indeks Pencemaran memiliki pola yang bervariasi di setiap titik dan musim. Disimpulkan bahwa kelimpahan makro dan mesoplastik tidak dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk menentukan indeks pencemaran suatu perairan.
IMPLEMENTASI TATA KELOLA TERPADU: STUDI KASUS DI PT ASAMURA GROUP
PT Asamura sebagai BUMN di sektor energi menghadapi tantangan dalam implementasi tata kelola terintegrasi yang sesuai. Tata kelola ini menjadi penting untuk BUMN yang memiliki anak perusahaan dengan kontribusi laba yang signifikan. Regulasi terbaru Permen BUMN No. 02/MBU/03/2023 menekankan pentingnya penerapan tata kelola terintegrasi mencakup manajemen risiko, audit internal, dan kepatuhan. Oleh karena itu, diperlukan model tata kelola terintegrasi yang adaptif, efektif, dan efisien, yang mampu mengatasi kelemahan pendekatan silo saat ini sekaligus memperkuat GCG secara konsisten di seluruh entitas grup. Untuk mengatasi tantangan bisnis tersebut, tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis struktur organ pengelola risiko di masing-masing anak perusahaan, mengidentifikasi dan merumuskan parameter yang relevan untuk merancang model atau kebijakan tata kelola terintegrasi yang efektif dan optimal, menyusun peta jalan implementasi tata kelola terpadu di Grup PT Asamura. Kerangka kerja penelitian ini menggunakan gap analysis untuk memetakan kesenjangan antara kondisi organ pengelola risiko dengan ketentuan yang berlaku. Metode penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui kuesioner, sedangkan data sekunder dari laporan tahunan PT Asamura. Analisis dilakukan dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) berdasarkan tiga parameter utama: (1) Lini Bisnis (terhubung langsung dengan rantai pasok induk, tidak terkait rantai pasok tetapi mendukung pilar RJPP, tidak mendukung keduanya), (2) Ukuran dan Kontribusi (asset, modal, laba bersih), serta (3) Status dan Kepemilikan Saham (operasi, pengendali, non pengendali). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis hirarki proses (AHP) bobot prioritas kriteria dalam penilaian entitas, yaitu Lini Bisnis (59,6%), Status & kepemilikan saham (22,8%), dan ukuran & kontribusi (17,5%). Hasil AHP menegaskan bahwa anak perusahaan yang berada pada rantai pasok inti dan berstatus operasional memiliki prioritas utama dalam penguatan tata kelola. Berdasarkan klasifikasi risiko, penelitian ini menyederhanakan tipe entitas menjadi tiga kategori: Type 1, Type 2 dan Type 3 dan penelitian ini menyusun roadmap tiga tahap (jangka pendek, menengah, dan panjang). Rekomendasi penelitian ini bahwa penguatan tata kelola terintegrasi di PT Asamura Group harus dilakukan secara bertahap dan proporsional.
EVALUASI DAN IDENTIFIKASI LANGKAH PENINGKATAN KINERJA LALU LINTAS KAWASAN SIMPANG PASTEUR KOTA BANDUNG
Kawasan Simpang Pasteur, yang berfungsi sebagai pintu gerbang utama menuju Kota Bandung dan terhubung langsung dengan akses jalan tol, mengalami permasalahan kemacetan yang cukup parah. Pada jam-jam sibuk, volume lalu lintas yang sangat tinggi menyebabkan kondisi jenuh dengan Tingkat Pelayanan (Level of Service/LoS) berada pada kategori F, serta tundaan rata-rata kendaraan yang melebihi 60 detik. Penelitian ini dilakukan untuk menilai kinerja lalu lintas eksisting sekaligus menentukan alternatif perbaikan yang paling efektif. Evaluasi kinerja mengacu pada pemodelan mikrosimulasi menggunakan perangkat lunak PTV Vissim yang merepresentasikan kondisi lapangan secara mendekati nyata. Dalam penelitian ini diuji enam skenario perbaikan, meliputi perubahan waktu siklus, perubahan pola sirkulasi pergerakan kendaraan dan pengubahan fase sinyal lalu lintas. Hasil analisis menunjukkan bahwa skenario 6 memberikan peningkatan paling signifikan, dengan penurunan tundaan rata-rata sebesar 85% serta pengurangan panjang antrian secara substansial dibanding kondisi eksisting.
OPTIMASI PENINGKATAN KADAR GLUKOMANAN TEPUNG PORANG MENGGUNAKAN METODE FERMENTASI OLEH MIKROORGANISME PENGHASIL ENZIM ?-AMILASE DENGAN PENDEKATAN FULL FACTORIAL DESIGN (FFD)
Glukomanan merupakan polisakarida utama pada tepung porang (Amorphophallus muelleri) yang memiliki potensi tinggi dalam aplikasi pangan maupun industri. Namun dalam upaya memperoleh tepung porang dengan kandungan glukomanan yang tinggi, kandungan pati serta kalsium oksalat pada tepung porang menjadi penghambat dalam proses pemurnian. Oleh karena itu, diperlukan metode ekstraksi yang efektif untuk meningkatkan kadar glukomanan dan menurunkan senyawa pengotor tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi potensi penerapan metode fermentasi sebagai metode ekstraksi alternatif dari metode ekstraksi mekanis, ekstraksi pelarut dan enzimatis. Evaluasi potensi metode fermentasi dilakukan menggunakan empat jenis mikroorganisme, yaitu Bacillus subtilis, Bacillus cereus, Aspergillus niger, dan Aspergillus oryzae. Optimasi kondisi fermentasi dianalisis menggunakan rancangan Full Factorial Design (FFD) dengan faktor konsentrasi substrat, konsentrasi inokulum, dan jenis inokulum, sedangkan respons yang diamati meliputi kandungan glukomanan, efisiensi ekstraksi glukomanan, dan laju ekstraksi glukomanan. Analisis FFD memperlihatkan bahwa interaksi antar faktor, terutama antara konsentrasi substrat dengan konsentrasi inokulum berkontribusi signifikan terhadap variasi respons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum fermentasi yang diprediksi FFD adalah konsentrasi substrat 4% w/v serta penggunaan B. subtilis dengan konsentrasi inokulum 1% v/v. Kondisi fermentasi optimum terbukti mampu meningkatkan kandungan glukomanan pada tepung porang sebesar 105% hingga 575% lebih tinggi dibandingkan metode ekstraksi mekanis dan kimiawi, sekaligus mengurangi kadar kalsium oksalat sebesar 115% hingga 149% lebih baik dibandingkan dengan metode ekstraksi kimiawi dan enzimatis. Kondisi fermentasi optimum mampu menghasilkan tepung dengan kandungan glukomanan sebesar 25,51 ± 0,83%, kandungan kalsium oksalat sebesar 1,08 ± 0,18 mg/100 g, kadar air sebesar 2,16 ± 0,06%, dan kadar abu sebesar 8,18 ± 0,10%. Penelitian menunjukkan bahwa metode fermentasi berpotensi menggantikan metode ekstraksi fisik dan ekstraksi pelarut karena menghasilkan tepung dengan kadar glukomanan yang lebih tinggi, dengan efek positif berupa penurunan kalsium oksalat dan kadar air pada tepung hasil fermentasi.
ANALISIS NEUTRONIK DAN TERMAL-HIDROLIK REAKTOR TRIGA 2000 BANDUNG MENGGUNAKAN PROGRAM OPENMC-COOLODN2
Salah satu reaktor riset oleh General Atomic yang sedang beroperasi di Indonesia adalah reaktor TRIGA 2000 Bandung. Reaktor TRIGA (Training, Research and Isotope Production) didirikan dengan tujuan penelitian, pelatihan, produksi radioisotop, dan kebutuhan iradiasi sampel. Reaktor ini merupakan tipe TRIGA MARK II yang beroperasi kritis sejak tahun 1946 dan mengalami penurunan kritikalitas yang cukup signifikan. Isu dekomisioning terus digencarkan sebagai persiapan langkah-langkah baru untuk memperbaiki utilisasi reaktor riset TRIGA 2000 Bandung. Upaya reshuffling dalam mempertahankan kekritisan telah dilakukan, namun menimbulkan faktor puncak daya yang cukup tinggi sehingga menyebabkan peningkatan konsentrasi panas pada daerah lokal saluran pendingin. Daerah tersebut berpotensi terjadi pendidihan cairan di saluran pendingin. Hal tersebut mendorong peneliti untuk melakukan analisa komprehensif berupa kajian kopling neutronik dan termal-hidrolik menggunakan kode OpenMC-COOLODN2. Kajian awal pada penelitian ini dilakukan perhitungan komposisi wt% tiap elemen bahan bakar dengan menggunakan parameter burn-up history yang telah disediakan. Komposisi elemen bahan bakar TRIGA 2000 Bandung berupa campuran U-ZrH (Uranium Zirkonium Hidrida). Selanjutnya dilakukan validasi dengan cara membandingkan hasil parameter neutronik antara perhitungan OpenMC dan MCNP. Parameter yang digunakan adalah nilai faktor multiplikasi efektif (k-eff) dan nilai APF (Axial Power Peaking Factor) maksimum pada elemen bahan bakar F7 tanpa faktor deplesi. Parameter fisis lain digunakan sebagai penguatan data seperti PPF (Power Peaking Factor), spektum fluks neutron, reaction rate, distribusi fluks neutron, dan distribusi kepadatan daya pada variasi penarikan batang kendali 60% - 100%. Perhitungan faktor deplesi juga telah dilakukan pada variasi daya 100 kW - 600 kW dengan menghitung k-eff dan excess reactivity selama 1 tahun (time-step 12 bulan). Output perhitungan ini berupa profil persentase burn-up untuk masing-masing elemen bahan bakar mulai dari BoL (Beginning of Life) hingga EoL (End of Life). Data daya linear aksial pada bahan bakar terpanas (hottest fuel) tepatnya pada elemen B1 digunakan untuk parameter pembanding dengan hasil eksperimen pengukuran suhu thermocouple. Perhitungan ini menggunakan kode termal-hidrolik berbasis steady state berupa COOLODN2. Analisa mencakup karakteristik distribusi suhu pada fuel/cladding/superheat/ coolant dan DNBR. Kode OpenMC telah tervalidasi yang menunjukkan kesesuaian dan keakuratan dengan perbedaan nilai error (%?????) konsisten kurang dari 1%. Hasil perhitungan k-eff dan excess reactivity (%?????/????) tanpa deplesi menunjukkan bahwa reaktor dapat beroperasi kritis jika menggunakan lebih dari 50% penarikan batang kendali. Peningkatan persentase penarikan batang kendali efektif menurunkan nilai PPF maksimum pada arah aksial maupun radial. Spektrum fluks neutron menunjukkan operasi reaktor dominan pada daerah neutron termal. Kenaikan persentase penarikan batang kendali sebanding dengan profil kenaikan spektrum fluks neutron dan reaction rate. Selanjutnya, perhitungan deplesi inti reaktor dengan daya 100 kW- 600 kW selama 1 tahun pada dua kondisi (operasi 5 jam tiap minggu dan realtime) menunjukkan perbedaan signifikan pada nilai k-eff dan excess reactivity. Semakin besar daya, maka jumlah neutron untuk berfisi lebih besar sehingga mempercepat konsumsi bahan bakar fisil. Berdasarkan analisa termal-hidrolik menggunakan COOLODN2 terkait distribusi suhu fuel, cladding, superheat, coolant pada hottest fuel (elemen B1) menunjukkan kondisi yang masih memenuhi standart kesalamatan operasional khususnya pada rentang daya 100 kW – 400 kW. Hasil simulasi menunjukkan distribusi suhu bahan bakar yang lebih tinggi daripada hasil aktual (eksperimen). Hal ini memberikan justifikasi reaktor dalam kondisi aman dan di bawah batas operasi SCRAM yang didukung dengan syarat minimum nilai DNBR >1,3. Penggabungan analisis neutronik dan termal-hidrolik (N/TH) diharapkan dapat memberikan informasi mendalam terkait performa reaktor TRIGA 2000 Bandung saat ini. Selain itu, berguna sebagai referensi dalam melakukan pengembangan utilisasi dan revitalisasi elemen bahan bakar untuk meminimalisir adanya superheating yang berlebih sehingga dapat menekan perilisan bubble di dalam inti reaktor.
PERANCANGAN UNIT BIOPILE UNTUK MENGOLAH SLUDGE MINYAK BUMI PT. X BERBASIS UJI DEGRADASI SKALA LABORATORIUM
PT. X merupakan perusahaan minyak dan gas bumi dengan salah satu kegiatan berupa pengumpulan dan pengiriman minyak bumi. Salah satu limbah yang dihasilkan berupa sludge minyak terutama akibat adanya kegiatan tank cleaning. Sludge minyak tergolong sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun sehingga harus dikelola dengan baik agar tidak mencemari lingkungan. Biopile merupakan salah satu teknologi bioremediasi yang dapat diaplikasikan karena mampu menghilangkan kandungan hidrokarbon dalam sludge minyak secara permanen melalui mekanisme biodegradasi yang dilakukan oleh bakteri petrofilik. Sampel sludge minyak yang telah dicampur dengan tanah, sekam, dan bakteri petrofilik diberi enam variasi perlakuan untuk menentukan campuran pengolahan yang paling efektif melalui uji degradasi skala laboratorium. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan reaktor yang dirancang dengan sistem biopile secara batch. Berdasarkan hasil degradasi TPH, durasi pengolahan, serta analisis pertimbangan biaya dan operasi, perlakuan yang dipilih berupa penambahan biosurfaktan dengan dosis 3 CMC. Volume pengolahan yang dilakukan adalah sebesar 1.872 m3 pada biopile berdimensi 30 m ? 44,4 m ? 1,5 m selama enam bulan. Konsentrasi TPH di awal pengolahan adalah 6% dengan target akhir pengolahan sebesar 1%. Kebutuhan oksigen didistribusikan ke dalam tumpukan tanah dengan menggunakan pipa perforasi yang disambungkan dengan delapan buah blower bertekanan negatif. Penyesuaian kelembapan dilakukan di awal pengolahan hingga mencapai kadar air sebesar 30% W/W. Pemantauan berkala terhadap enam parameter dilakukan untuk memastikan degradasi selama pengolahan berlangsung. Campuran tanah yang telah diolah dan memenuhi baku mutu dapat dijadikan tanah pencampuran untuk pengolahan selanjutnya maupun digunakan sebagai tanah urug.
PERANCANGAN UNIT LANDFARMING UNTUK MENGOLAH TANAH TERKONTAMINASI MINYAK BUMI PT X BERBASIS UJI DEGRADASI SKALA LABORATORIUM
Lumpur minyak bumi (oil sludge) merupakan limbah B3 bersifat toksik yang dapat merugikan makhluk hidup serta mengurangi kualitas dan daya dukung lingkungan sehingga perlu dilakukan penanganan dengan teliti. PT X selaku perusahaan penghasil minyak bumi di Indonesia menghasilkan 851 m3 limbah minyak bumi dari aktivitas tank cleaning pada tahun 2017. Limbah tersebut biasanya ditumpuk di sebuah lahan terbuka yang dilapisi geotekstil sembari menunggu pengiriman limbah ke pihak ketiga. Dengan kondisi oil sludge yang merembes dan mencemari tanah di sekitarnya, perlu dirancang suatu alternatif pengolahan limbah minyak bumi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Setelah melalui proses penilaian, landfarming dipilih sebagai teknologi yang paling sesuai dengan kondisi PT X berdasarkan aspek finansial, kemudahan dalam operasi dan pemeliharaan, reliabilitas, dan ketersediaan. Untuk melengkapi data perencanaan, dilakukan uji degradasi di laboratorium terhadap sampel oil sludge PT X dengan kandungan Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) 12%. Dari hasil analisis laboratorium, akan dilakukan penambahan nutrisi berupa pupuk NPK dengan pertimbangan efisiensi penurunan TPH yang besar, ekonomis, serta tidak terlalu banyak menambah volume pengolahan. Proses perancangan mencakup penentuan dimensi dan kelengkapan Treatment cell, Pre-treatment, dekontaminasi peralatan, sistem pengelolaan lindi, sistem pemantauan, SOP, serta analisis biaya dengan memperhatikan kriteria desain dan peraturan yang berlaku. Pengolahan menggunakan unit landfarming diharpkan dapat mencapai konsentrasi TPH < 1% dalam waktu 3 bulan dengan sistem 2 kali pengolahan batch untuk mengolah seluruh limbah minyak bumi PT X.
DEGRADASI TOTAL PETROLEUM HYDROCARBONS DENGAN KOMBINASI PROSES FOTOKATALISIS TIO2 DAN BIODEGRADASI PADA TANAH TERCEMAR HIDROKARBON MINYAK BUMI
Salah satu masalah lingkungan yang terus berlanjut ialah kontaminasi hidrokarbon sebagai akibat dari aktivitas di industri minyak dan gas. Meskipun telah banyak lahan tercemar yang berhasil dipulihkan kembali dengan bioremediasi, beberapa data di lapangan menunjukkan bahwa pengolahan secara biologis terkadang berlangsung sangat lambat atau tidak sempurna. Hal ini salah satunya disebabkan oleh rendahnya bioavailabilitas kontaminan. Peningkatan biodegradabilitas dan solubilitas senyawa kimia selama oksidasi kimia menjadi dasar pada penelitian ini untuk menyelidiki kemampuan kombinasi fotokatalisis TiO2 di bawah penyinaran sinar matahari dan biodegradasi dalam mengatasi keterbatasan bioavailabilitas hidrokarbon bagi mikroorganisme lokal dan mempercepat laju penyisihan hidrokarbon pada bioremediasi tanah tercemar minyak bumi dengan teknik landfarming. Penelitian dilakukan dalam reaktor mikrokosmos tanah pasir yang memiliki koefisien keseragamaan dan konsentrasi TPH awal berbeda di dalam wadah kaca berukuran 25 cm x 15 cm x 10 cm dengan menambahkan variasi dosis TiO2 sebesar 0,5, 1, 2, dan 3% wt. dan dua reaktor lain sebagai kontrol, yaitu biostimulasi dan natural attenuation. Selama 12 minggu penelitian, dilakukan pengecekan parameter utama, yaitu TPH gravimetri, bakteri heterotrofik, dan bakteri petrofilik, serta parameter pendukung proses, seperti pH, temperatur, kadar air, karbon organik, total nitrogen, dan intensitas UV. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa penambahan fotokatalis TiO2 secara cukup signifikan dapat mempercepat laju penyisihan TPH daripada dengan penambahan nutrien saja. Namun demikian, peningkatan laju degradasi TPH tidak selalu proporsional dengan penambahan konsentrasi fotokatalis TiO2. Laju degradasi TPH dipengaruhi oleh aktivitas bakteri petrofilik lokal dan energi dari sinar UV, namun tidak dipengaruhi oleh koefisien keseragaman tanah. Konsentrasi TiO2 0,5%, 1%, dan 2% pada tanah-1, tanah-2, dan tanah-3 secara berurutan menghasilkan laju penyisihan TPH terbesar.
PENYISIHAN BESI DAN MANGAN DALAM AIR TANAH DENGAN REAKTOR KONTINU MENGGUNAKAN ADSORPSI MINERAL MORDENITE AKTIVASI DAN ALAMI
Mineral mordenite yang berasal dari batu alam hijau Sukabumi diujikan kemampuannya dalam menyisihan besi dan mangan dengan konsentrasi yang melebih baku mutu pada air tanah. Pada penelitian ini digunakan dua jenis adsorben yaitu mordenite aktivasi dan mordenite alami. Aktivasi pada mordenite dilakukan dengan pemanasan pada suhu 400-600oC selama dua jam. Percobaan secara batch dilakukan sebagai percobaan pendahuluan untuk mengetahui kemungkinan mineral mordenite untuk dijadikan adsorben dalam menyisihkan besi dan mangan pada air tanah. Percobaan secara batch tersebut membuktikan mineral mordenite mampu menurunkan konsentrasi besi dan mangan pada air tanah dipengaruhi oleh konsentrasi awal besi dan mangan pada air tanah serta waktu detensi selama proses adsorpsi. Peningkatan nilai pH selama proses adsorpsi berlangsung mengindikasikan mekanisme yang terjadi selama proses adsorpsi. Percobaan secara kontinu dilakukan setelah percobaan secara batch menggunakan reaktor dengan diameter 0.094 meter, tinggi reaktor 0.8 meter dan tinggi media di dalam reaktor adalah 0.6 meter. Pengoperasian reaktor menggunakan sistem downflow pada debit konstan 45 ml/menit. Efisiensi penyisihan besi & mangan menggunakan reaktor kontinu diperoleh sebesar 1.38-1.99%/menit & 0.8-1.49%/menit dan 2.26%/menit & 1.37-2.26%/menit untuk mordenite aktivasi dan mordenite alami. Selain itu, perlakuan regenerasi menggunakan larutan NH4Cl yang didahului dengan melakukan backwash pada adsorben berhasil meningkatkan kembali efisiensi penyisihan besi & mangan menjadi 1.98%/menit & 1.77-1.90%/menit dan 2.25%.menit & 2.02-2.21%/menit pada mordenite aktivasi dan mordenite alami. Pengoperasian reaktor yang kontinu selama 42 hari menunjukkan clogging yang terjadi lebih dahulu pada mordenite alami.
ANALISIS PENGARUH VARIASI BULKING AGENT DAN TEKSTUR TANAH PADA PENGOLAHAN TANAH TERKONTAMINASI MINYAK BUMI MENGGUNAKAN METODE BIOSTIMULASI
Kegiatan industri seperti industri migas terkadang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan antara lain berupa tanah terkontaminasi minyak bumi karena terjadinya tumpahan, kebocoran, dan lain-lain. Bioremediasi merupakan salah satu teknologi yang telah banyak digunakan untuk mengolah limbah tersebut. Salah satu faktor pembatas dalam penerapan bioremediasi adalah kondisi tanah yang kurang kondusif bila diolah secara biologis. Perbaikan kondisi tanah seperti penambahan bulking agent dapat dilakukan agar tekstur tanah membaik. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh penambahan bulking agent pada tipe tekstur tanah yang berbeda dalam proses bioremediasi tanah terkontaminasi minyak bumi dalam skala laboratorium serta menentukan variasi optimum dalam menerapakan teknik composting pada sampel tanah yang diolah. Bioremediasi dengan teknik composting dilakukan pada dua jenis tipe tanah yaitu loamy sand (S) dan silty clay loam (C) yang memiliki nilai kapasitas tahanan air yang berbeda. Bulking agent yang ditambahkan yaitu campuran daun kering dan potongan rumput serta potongan kayu (wood chips) dengan rasio penambahan volumerik terhadap tanah 1:1, 1:2, 1:3, dan 1:4. Pengaruh penambahan bulking agent pada penelitian ini tidak terlihat secara signifikan dilihat dari penurunan konsentrasi TPH pada reaktor dengan penambahan bulking agent tidak berbeda jauh dengan reaktor kontrol pada masing-masing tanah. Meski begitu, variasi optimum dalam proses bioremediasi yang dijalankan merupakan variasi dengan penambahan bulking agent yang menunjukkan nilai laju degradasi TPH tertinggi pada masing-masing tanah. Untuk tanah S, variasi proses bioremediasi dengan penambahan bulking agent campuran daun kering dan potongan rumput dengan rasio tanah:bulking agent = 4:1 dipilih sebagai variasi optimum dengan nilai laju degradasi TPH (k) 0,0257 %berat kering/hari. Sementara, penambahan bulking agent campuran daun kering dan potongan rumput dengan rasio tanah:bulking agent = 3:1 dalam proses bioremediasi pada tanah C dipilih sebagai variasi optimum untuk dijalankan dengan nilai laju degradasi TPH (k) 0,0191 %berat kering/hari.
MENGURANGI LEAD TIME PENGADAAN SUKU CADANG PERAWATAN DI PT BUKIT ASAM TBK
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memproses 2.679 permintaan pengadaan pada paruh pertama tahun 2025, di mana 55% di antaranya merupakan suku cadang perawatan yang penting untuk menjaga kelancaran dan keandalan operasi dengan total 1.368 Purchase Requisition (PR). Fokus penelitian ini adalah menganalisis dan meningkatkan waktu pengadaan untuk suku cadang perawatan mulai dari saat PR diajukan hingga Purchase Order (PO) selesai diterbitkan. Metodologi penelitian menggabungkan analisis kuantitatif terhadap data transaksi dengan pemodelan proses menggunakan BPMN dan simulasi melalui perangkat lunak Bizagi. Wawasan tambahan diperoleh melalui wawancara dan diskusi kelompok terarah bersama para pemangku kepentingan terkait. Simulasi proses As-Is menunjukkan bahwa total waktu pengadaan mencapai 60,5 hari dari awal hingga akhir, jauh melebihi target perusahaan sebesar 50 hari. Keterlambatan utama terjadi pada tahap pelaksanaan pengadaan dan pembuatan PO, terutama karena adanya prosedur berulang dan proses persetujuan yang masih dilakukan secara manual. Untuk mengatasi hal tersebut, penulis mengusulkan beberapa solusi bisnis melalui pendekatan Business Process Reengineering (BPR) seperti penerapan tanda tangan elektronik untuk mempercepat persetujuan, penerapan umbrella contract untuk menghilangkan siklus pengadaan yang berulang, serta implementasi sistem vendor rating dan risk dashboard yang memberikan visibilitas waktu nyata terhadap potensi masalah. Simulasi To-Be dari perbaikan yang diusulkan menunjukkan bahwa dalam skenario campuran, di mana 45% pengadaan menggunakan umbrella contract dan 55% tetap dengan metode konvensional, rata-rata waktu pengadaan menurun menjadi 44.7 hari dan berhasil melampaui target KPI yang diharapkan. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi alur persetujuan digital, pengaturan kontrak yang terstandar, dan pemantauan risiko secara proaktif dapat meningkatkan efisiensi operasional pengadaan. Selain itu, penelitian ini juga membuktikan nilai praktis dari penerapan BPR dalam meningkatkan proses pengadaan agar lebih responsif dan andal di sektor pertambangan.
PENYISIHAN NITROGEN DAN FOSFAT PADA EFLUEN IPAL BOJONGSOANGMENGGUNAKAN CONSTRUCTED WETLAND TIDE SUBSURFACE HORIZONTALFLOW DENGAN SISTEM UMPAN MENERUS
Teknologi daur ulang limbah merupakan solusi tepat dalam menangani kelangkaan air bersih saat ini. Efluen IPAL Bojongsoang di Bandung merupakan salah satu potensi daur ulang air limbah jika ditambahkan pengolahan lebih lanjut dengan menggunakan constructed wetland. Dengan menggunakan media seperti tanah, pasir, kerikil dan menambahkan tanaman Typha latifolia dan Scirpus grossus serta sistem aerasi parameter seperti BOD/COD dapat tersisihkan dengan sangat baik dengan efisiensi 80-90%, namun tidak untuk penyisihan nitrogen dan fosfat yang baru mencapai 50-60%. Modifikasi dilakukan dengan tiga tahapan pengolahan yaitu tahap I untuk penyisihan BOD/COD dengan Typha latifolia ditambah aerasi dan tahap II untuk penyisihan nitrogen dan fosfat dengan Scirpus grossus dengan dan tanpa aerasi dan tahap III ditujukan untuk melengkapi penyisihan nitrogen melalui proses denitrifikasi dengan Glycine max dan tanpa aerasi. Didapatkan hasil bahwa terjadi peningkatan efisiensi penyisihan baik nitrogen maupun fosfat hingga mencapai 80- 99%. Proses aerasi dan kombinasi tanaman (T.latifolia, S.grossus, G.max) serta pengolahan bertahap terbukti memberikan pengaruh dalam penyisihan nitrogen dan fosfat. Digunakan pola aliran PFR untuk menentukan kinetika penyisihan nitrogen dan fosfat dan didapatkan konstanta reaksi penyisihan (k) untuk total nitrogen dari tahap I,II,III adalah 0,66/hari; 0,36/hari; 0,33/hari dan untuk total fosfat nilai k dari tahap I,II,III adalah 0,81/hari; 0,44/hari; 0,41/hari .
IDENTIFIKASI SUBAQUEOUS STRUCTURE DI AREA DANAU RANAU DENGAN MENGINTEGRASIKAN DATA BATIMETRI DAN SATELLITE GRAVITY & IMPLIKASINYA PADA ZONA PERMEABILITAS GEOTERMAL
Danau Ranau merupakan salah satu danau tektonik–vulkanik terbesar di Sumatra Selatan yang terbentuk akibat aktivitas tektonik Sesar Besar Sumatra yang memiliki arah umum NW - SE dan proses vulkanisme. Kompleksitas struktur geologi bawah permukaan di area ini berperan penting dalam memahami evolusi tektonik, potensi bahaya geologi, serta zona permeabilitas pada sistem panas bumi. Model konseptual dari interpretasi survey 3G di area daratan oleh penelitian sebelumnya, menunjukan adanya tren struktur yang diinterpretasikan sebagai jalur permeabilitas mengikuti arah dari struktur yang ada yaitu NW-SE. Namun kurangnya data di area danau membuat interpretasi struktur bawah air masih dapat dipertanyakan. Penelitian ini mengintegrasikan data survei batimetri dengan data satellite gravity untuk menggambarkan adanya zona tambahan/sesar tambahan yang dapat menjadi subaqueous structure di area Danau Ranau. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi subaqueous structure di Danau Ranau melalui integrasi data batimetri dan data gravitasi satelit. Analisis batimetri dilakukan untuk mengungkap morfologi dasar danau, kelurusan, serta indikasi pola rekahan yang terekam pada kontur isobath. Sementara itu, data gravitasi satelit diolah dengan metode First Horizontal Derivative (FHD) untuk menonjolkan batas-batas kontras densitas batuan yang diasosiasikan dengan keberadaan sesar bawah air danau. Hasil integrasi menunjukkan bahwa pola kelurusan batimetri memiliki kesesuaian dengan zona gradien tinggi pada anomali gravitasi, yang mengindikasikan adanya jaringan sesar utama berarah barat laut –tenggara dan timur laut – barat daya. Temuan ini memberikan pemahaman baru mengenai konfigurasi struktur bawah permukaan Danau Ranau serta implikasinya terhadap sistem panas bumi dan dinamika tektonik di kawasan tersebut.Danau Ranau merupakan salah satu danau tektonik–vulkanik terbesar di Sumatra Selatan yang terbentuk akibat aktivitas tektonik Sesar Besar Sumatra yang memiliki arah umum NW - SE dan proses vulkanisme. Kompleksitas struktur geologi bawah permukaan di area ini berperan penting dalam memahami evolusi tektonik, potensi bahaya geologi, serta zona permeabilitas pada sistem panas bumi. Model konseptual dari interpretasi survey 3G di area daratan oleh penelitian sebelumnya, menunjukan adanya tren struktur yang diinterpretasikan sebagai jalur permeabilitas mengikuti arah dari struktur yang ada yaitu NW-SE. Namun kurangnya data di area danau membuat interpretasi struktur bawah air masih dapat dipertanyakan. Penelitian ini mengintegrasikan data survei batimetri dengan data satellite gravity untuk menggambarkan adanya zona tambahan/sesar tambahan yang dapat menjadi subaqueous structure di area Danau Ranau. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi subaqueous structure di Danau Ranau melalui integrasi data batimetri dan data gravitasi satelit. Analisis batimetri dilakukan untuk mengungkap morfologi dasar danau, kelurusan, serta indikasi pola rekahan yang terekam pada kontur isobath. Sementara itu, data gravitasi satelit diolah dengan metode First Horizontal Derivative (FHD) untuk menonjolkan batas-batas kontras densitas batuan yang diasosiasikan dengan keberadaan sesar bawah air danau. Hasil integrasi menunjukkan bahwa pola kelurusan batimetri memiliki kesesuaian dengan zona gradien tinggi pada anomali gravitasi, yang mengindikasikan adanya jaringan sesar utama berarah barat laut –tenggara dan timur laut – barat daya. Temuan ini memberikan pemahaman baru mengenai konfigurasi struktur bawah permukaan Danau Ranau serta implikasinya terhadap sistem panas bumi dan dinamika tektonik di kawasan tersebut.
IDENTIFIKASI KONTROL GEOLOGI PADA SISTEM GEOTERMAL GUNUNG UNGARAN, JAWA TENGAH BERDASARKAN ANALISIS VULKANOSTRATIGRAFI DAN GAYA BERAT
Gunung Ungaran yang terletak di Jawa Tengah merupakan salah satu gunung api strato di Pulau Jawa dan wilayah kerja panas bumi (WKP) yang sedang berada pada tahap eksplorasi. Pada tahap ini, diperlukan pemahaman yang menyeluruh dan tepat mengenai sistem geotermal di lokasi ini. Hasil laporan eksplorasi menunjukkan bahwa terdapat multikaldera yang mengelilingi Gunung Ungaran. Keberadaan multikaldera tersebut juga diperkirakan sebagai kondisi geologi yang mengontrol sistem geotermal di WKP ini. Akan tetapi, penelitian-penelitian lainnya serta persebaran manifestasi termal tidak menunjukkan keberadaan multikaldera yang dimaksud. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi geologi yang tepat yang mengontrol sistem geotermal di WKP ini. Metode analisis vulkanostratigrafi dan analisis gaya berat digunakan untuk mengidentifikasi kondisi geologi yang mengontrol sistem geotermal di WKP ini. Persebaran manifestasi di WKP ini sebagian besar berada pada Khuluk Ungaran. Kemunculan manifestasi-manifestasi tersebut diperkirakan berasosiasi dengan keberadaan struktur geologi berupa sesar yang memotong tubuh Khuluk Ungaran. Beberapa struktur geologi tersebut teridentifikasi juga pada hasil analisis first horizontal derivative (FHD) dan euler deconvolution. Hasil analisis vulkanostratigrafi dan gaya berat juga menunjukkan bahwa hanya ada satu kaldera yang mengelilingi Khuluk Ungaran, yaitu Kaldera Kaligetas. Dengan demikian, sistem geotermal pada WKP ini cenderung dikontrol oleh keberadaan zona permeabel pada tubuh Gunung Ungaran.