📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenAPLIKASI HIDROEKSTRAKSI UNTUK PEMURNIAN GARAM KROSOK SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS EKSPERIMEN DI TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS
Garam merupakan salah satu bahan yang banyak dimanfaatkan dalam berbagai sektor, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun industri. Namun, garam krosok yang dihasilkan melalui proses evaporasi air laut umumnya masih mengandung berbagai pengotor, seperti ion kalium (K?), magnesium (Mg²?), kalsium (Ca²?), klorida (Cl?), karbonat (CO3²?), sulfat (SO?²?), dan material tak larut lainnya yang menyebabkan kadar natrium klorida (NaCl) belum memenuhi standar mutu yang ditetapkan. Selain sebagai upaya peningkatan kualitas garam, proses pemurnian garam juga memiliki potensi untuk diintegrasikan ke dalam pembelajaran kimia karena melibatkan konsep larutan, kristalisasi, pemisahan campuran, serta analisis kimia. Proyek akhir ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas metode hidroekstraksi dalam meningkatkan kemurnian garam krosok serta mengimplementasikannya sebagai model pembelajaran kimia berbasis eksperimen pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Sampel garam krosok yang digunakan berasal dari daerah Tegal, Cirebon, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemurnian garam dilakukan dengan metode hidroekstraksi menggunakan larutan garam jenuh sebagai media pencuci dengan prinsip perbedaan kelarutan antara NaCl dan ion-ion pengotor. Tingkat kemurnian garam sebelum dan sesudah pemurnian dianalisis dengan metode Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) untuk menentukan kadar natrium dan titrasi argentometri metode Mohr untuk menentukan kadar klorida. Selain kajian kimia, proyek akhir ini juga mencakup pengembangan dan implementasi modul pembelajaran berbasis eksperimen yang diuji pada 19 siswa kelas X SMA. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui pre-test dan post-test, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Rasch untuk menilai kualitas instrumen dan capaian pembelajaran siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode hidroekstraksi mampu meningkatkan kemurnian garam krosok dengan tingkat efektivitas yang berbeda pada setiap sampel. Berdasarkan hasil analisis AAS, kadar NaCl garam asal Tegal meningkat dari 82,6% menjadi 90% dan garam asal Cirebon meningkat dari 92,0% menjadi 94,5%. Sementara itu, hasil analisis menggunakan titrasi argentometri menunjukkan peningkatan kadar NaCl yang lebih tinggi, yaitu dari 92,2% menjadi 99,4% untuk garam Tegal, dari 94% menjadi 99,4% untuk garam NTT, dan dari 98% menjadi 98,5% untuk garam Cirebon. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hidroekstraksi efektif dalam mengurangi kandungan ion pengotor yang terdapat pada garam krosok sehingga meningkatkan tingkat kemurniannya. Hasil analisis Rasch menunjukkan bahwa instrumen memiliki hasil pengukuran yang cukup baik dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan nilai mean dari 12,7 pada pre-test menjadi 14,3 pada post-test. Selain itu, hasil post- test menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep pemurnian garam dan konduktivitas larutan setelah mengikuti kegiatan eksperimen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode hidroekstraksi berpotensi digunakan sebagai metode pemurnian garam krosok untuk meningkatkan kadar NaCl sekaligus sebagai konteks pembelajaran kimia berbasis eksperimen yang mampu menghubungkan konsep-konsep kimia dengan aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
STUDI EVALUASI DESAIN BUKAAN DAN RUANG DALAM TERHADAP PENCAHAYAAN ALAMI DAN VISUAL WELL-BEING PENGHUNI UNIT APARTEMEN
Unit vertikal seperti apartemen semakin berkembang di lingkungan perkotaan seiring dengan pertumbuhan penduduk. Akan tetapi, desain apartemen sebagai unit vertikal tentunya berbeda dengan desain unit tapak. Tata letak ruang dalam tidak sepenuhnya mendapatkan pencahayaan alami optimal yang merata akibat dari bukaan fasad tunggal. Apartemen sebagai lingkungan fisik menjadi faktor eksternal yang menciptakan lingkungan cahaya yang dapat memengaruhi well-being penghuni. Pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruangan menjadi stimulus persepsi visual dan respon biologis melaui jalur image forming (IF) dan non-image forming (NIF). Tidak optimalnya pencahayaan alami di dalam ruang dapat disebabkan oleh proporsi jendela yang kurang tepat atau orientasi ruang yang kurang optimal sehingga dapat memengaruhi well-being penghuni. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif terhadap 32 unit dan 37 responden pengukuran lapangan iluminansi horizontal (Eh), iluminansi vertikal (Ev), dan equivalent melanopic lux (EML), simulasi data pencahayaan tahunan (sDA dan ASE), serta survei kesejahteraan (SPANE-B) dan persepsi kenyamanan visual. Hasil menunjukkan bahwa kondisi pencahayaan alami di dalam ruang merupakan kombinasi simultan dari posisi terhadap obstruksi, desain selubung bangunan, orientasi dan layout ruang. EML berhubungan positif dengan keseimbangan SPANE-B, dengan 200 melanopic lux sebagai ambang minimum. Kontribusi penelitian ini adalah pada hubungan stimulus cahaya dengan kesejahteraan penghuni di dalam konteks hunian serta pada perumusan kombinasi parameter desain.
PENGARUH WAKTU PERLAKUAN AWAL ULTRASONIKASI TERHADAP EKSTRAKSI AGAR KASAR DARI GRACILARIA SP
Agar merupakan polisakarida hidrokoloid yang diekstraksi dari rumput laut merah seperti Gracilaria sp. dan banyak dimanfaatkan dalam industri pangan, farmasi, dan bioteknologi. Metode ekstraksi konvensional umumnya menggunakan pemanasan dalam waktu lama sehingga kurang efisien secara energi dan berpotensi menurunkan kualitas produk. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh durasi pra-perlakuan ultrasonikasi terhadap perolehan agar, kebutuhan energi ekstraksi, dan gel strength agar yang dihasilkan. Biomassa Gracilaria sp. melalui pra-perlakuan ultrasonikasi selama 30, 60, dan 90 menit, kemudian diekstraksi menggunakan metode refluks air panas pada suhu 95–100 °C selama 1 jam, dengan kontrol tanpa pra-perlakuan selama 1 dan 6 jam. Larutan ekstrak dimurnikan menggunakan metode freeze–thaw dan dikeringkan dalam oven. Parameter yang dianalisis meliputi perolehan agar, kebutuhan energi ekstraksi (kWh/g), dan gel strength, dengan analisis statistik menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey pada tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan durasi ultrasonikasi meningkatkan pelepasan agar pada tahap pra-perlakuan, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap perolehan agar pada tahap ekstraksi air panas (p > 0,05). Sebaliknya, durasi ultrasonikasi berpengaruh sangat signifikan terhadap kebutuhan energi ekstraksi (p < 0,001), yang meningkat dari 0,165 kWh/g pada perlakuan 30 menit menjadi 0,251 kWh/g pada 90 menit. Gel strength juga dipengaruhi secara signifikan oleh variasi perlakuan (p = 0,023), meskipun perbedaan antar variasi waktu ultrasonikasi tidak signifikan secara statistik. Secara keseluruhan, pra-perlakuan ultrasonikasi selama 30 menit menunjukkan kondisi paling optimal karena menghasilkan kebutuhan energi ekstraksi terendah serta mempertahankan kualitas gel yang lebih baik dibandingkan durasi ultrasonikasi yang lebih lama.
PROYEKSI CARBON LOSS PADA PEMODELAN LAND USE-LAND COVER (LULC) PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2020–2040 BERBASIS VARIASI SKENARIO IBU KOTA NUSANTARA (IKN)
Perubahan Land Use-Land Cover (LULC), khususnya deforestasi, merupakan isu penting yang berdampak pada ekosistem dan iklim global. Di Provinsi Kalimantan Timur, laju deforestasi yang tinggi akibat ekspansi perkebunan, pertanian, pertambangan, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menuntut adanya pemodelan spasial untuk memprediksi perubahan tutupan lahan serta dampaknya terhadap carbon loss. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan transisi LULC dominan, menentukan kategori deforestasi terbesar, menghitung carbon loss historis (periode 1990–2020) dan proyektif (2020–2030 dan 2020–2040), serta membandingkan skenario pembangunan IKN agar diperoleh skenario yang paling efektif dalam menekan carbon loss. Analisis dilakukan menggunakan peta tutupan lahan KLHK tahun 1990, 2000, 2011, dan 2020, analisis NDVI dari citra Landsat 5 dan Landsat 8 dengan threshold NDVI 0,4, serta pemodelan perubahan LULC dengan model CA Markov melalui Land Change Modeler (LCM) pada perangkat lunak TerrSet. Estimasi carbon loss dihitung menggunakan metode stock-change pada lima variasi skenario pembangunan IKN yang mencakup kondisi eksisting, Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), dan Protecting Forest Area (PFA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa transisi dominan berubah dari Hutan Lahan Kering Sekunder menjadi Semak Belukar (700 ribu ha) pada 1990–2000, dari Semak Belukar ke Pertanian Lahan Kering Campur (721 ribu ha) pada 2000–2011, dan dari Semak Belukar serta Hutan Lahan Kering Sekunder menjadi Perkebunan (504 ribu ha) pada 2011–2020. Kategori deforestasi terbesar periode 1990–2020 adalah Deforestasi menjadi Semak dan Padang Rumput seluas 718 ribu ha. Validasi model menghasilkan Kappa 0,7544 yang menunjukkan tingkat akurasi kuat dan layak untuk proyeksi lanjutan. Total carbon loss periode 1990–2020 mencapai sekitar 0,29 gigaton C atau 1,08 gigaton CO?e. Hasil pemodelan proyeksi 2020–2040 menunjukkan bahwa skenario pembangunan IKN dengan kebijakan PFA merupakan strategi yang paling efektif dalam menekan carbon loss. Dibandingkan skenario yang hanya menerapkan RDTR, penerapan PFA menghasilkan proyeksi carbon loss yang lebih rendah, sehingga perlindungan Hutan Alam menjadi faktor utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim di Provinsi Kalimantan Timur.
ANALISIS KARAKTERISTIK FOTOMETRIK DAN KUALITAS DAYA LAMPU LED 30 WATT PADA VARIASI TINGKAT PEMBEBANAN MENGGUNAKAN DUA SUMBER TEGANGAN
Lampu LED telah menjadi beban penerangan dominan di sektor rumah tangga, namun driver berbasis Switching Mode Power Supply (SMPS) tanpa koreksi faktor daya menjadikannya beban non-linier yang menginjeksikan arus harmonik ke jaringan. Sebagian besar penelitian terdahulu berfokus pada lampu LED berdaya rendah (di bawah 25 W) dengan satu sumber tegangan, sementara karakteristik lampu LED berdaya menengah belum banyak dikaji secara komparatif antar sumber. Penelitian ini menganalisis harmonik dan kualitas daya lampu LED 30 W merek Philips TrueForce Essentials Cool Daylight pada pembebanan bertahap 1 hingga 8 lampu menggunakan dua sumber tegangan berbeda, yaitu AC Power Supply (ACPS) Lisun LSP-500VA dan jala-jala PLN (GRID). Karakterisasi fotometri dilakukan dengan integrating sphere LCPE-3/LMS-7000, sedangkan parameter kualitas daya direkam dengan osiloskop Micsig STo1104E dan diolah melalui Transformasi Fourier (FFT), kemudian trennya diramalkan melalui regresi linear, regresi polinomial orde-2, dan rekonstruksi spektrum harmonik. Hasil karakterisasi fotometri menunjukkan fluks luminus rata-rata 3,293 lm (?5,9% terhadap nominal 3,500 lm), CCT sekitar 6,653 K, CRI Ra sekitar 82,8, dan efikasi sekitar 112,9 lm/W. Hasil pengukuran kualitas daya memperlihatkan distorsi harmonik arus (THDi) yang sangat tinggi, yaitu 96–120% pada ACPS dan 111– 115% pada GRID, jauh melampaui batas emisi harmonik. Distorsi harmonik tegangan (THDv) pada ACPS meningkat hingga 7,6% seiring beban-melampaui batas 5% SPLN D5.004-1:2012-sedangkan THDv pada GRID stabil rendah sekitar 1,6%, membuktikan impedansi internal ACPS jauh lebih besar daripada PLN. Faktor daya total (TPF) kedua sumber tetap rendah, yaitu 0,51–0,67, akibat gabungan distorsi arus dan pergeseran fasa. Arus RMS dan daya aktif meningkat linear (R² ? 1,0) sehingga andal diramalkan hingga 24 lampu, sedangkan sebagian parameter THD dan faktor daya tidak andal diramalkan dan lebih tepat ditampilkan nilai rata-ratanya.
KARAKTERISASI FOTOMETRIK DAN ANALISIS ARUS HARMONIK LAMPU LED 20W UNTUK PENGGUNAAN SEKTOR DOMESTIK DENGAN DUA SUMBER TEGANGAN (PLN DAN AC POWER SUPPLY)
Program Sustainable Development Goals (SDG) 7 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menargetkan akses energi bersih dan terjangkau secara universal pada tahun 2030. Di Indonesia, sektor rumah tangga mendominasi konsumsi listrik dengan 134.563,85 GWh atau 42,36% dari total 317.691,86 GWh menurut Statistik PLN 2025. Lampu LED telah mendominasi sektor penerangan domestik Indonesia karena efikasi tinggi dan masa pakai panjang. Namun, driver LED tanpa Power Factor Correction (PFC) menghasilkan arus harmonik yang signifikan akibat karakteristik non-linear penyearah gelombang penuh dengan kapasitor filter. Penelitian ini menganalisis arus harmonik 12 unit lampu LED Verdant 20W secara komprehensif melalui tiga tahap: (1) karakterisasi fotometrik dan kolorimetri menggunakan sistem Lisun LPCE-3 Integrating Sphere; (2) pengukuran parameter kualitas daya pada konfigurasi paralel 1–12 lampu dengan dua sumber tegangan, yaitu jaringan PLN (strong grid, ~222 V) dan AC Power Supply 500 VA (weak grid, ~219 V); serta (3) pemodelan regresi per orde harmonik H1–H25 dengan evaluasi tiga model (linear, polinomial derajat-2, dan polinomial derajat-3) menggunakan metrik R², Adjusted R², RMSE, dan NRMSE-M. Hasil karakterisasi fotometrik menunjukkan bahwa fluks cahaya rata-rata 12 unit sebesar 1913,7 lm hanya mencapai 87,1% dari nilai pengenal yang diklaim produsen (2196 lm), tidak memenuhi ambang minimum 90% yang disyaratkan SNI IEC 62612:2020. CRI Ra rata-rata 79,4 juga berada di bawah batas minimum Ra ? 80 yang ditetapkan SNI 6197-2020. Pada Tahap 2, THDi kedua sumber jauh melampaui batas IEC 61000-3-2 Kelas C (30%), dengan rata-rata PLN 108,74% dan ACPS 107,61%. Analisis framework daya IEEE 1459-2010 mengungkapkan bahwa penyebab utama True Power Factor rendah (PLN: 0,526; ACPS: 0,637) adalah daya distorsi D, bukan daya reaktif Q (rasio D/Q PLN = 1,8; ACPS = 3,3), sehingga kapasitor kompensasi tidak efektif. THDv ACPS meningkat linear dari 1,21% menjadi 7,65% seiring penambahan beban, mendekati batas IEC 8%. Novelty utama penelitian ini adalah pembuktian kuantitatif bahwa regresi linear tidak memadai untuk orde harmonik menengah pada sumber berimpedansi tinggi. Pada H9 sumber ACPS, R² model linear hanya 0,121 (NRMSE-M = 19,78%, kategori Buruk), sedangkan model Poly-2 memberikan R² = 0,875 (NRMSE-M = 7,45%). Orde H11 ACPS memerlukan model Poly-3 (R² = 0,912, NRMSE-M = 8,08%) karena baik model linear maupun Poly-2 gagal. Sementara itu, seluruh orde H1–H25 pada sumber PLN dapat dimodelkan dengan regresi linear (R² > 0,94). NRMSE-M dikembangkan sebagai metrik validasi baru yang memungkinkan perbandingan akurasi lintas orde dengan skala berbeda. Forecasting hingga n = 36 lampu mengindikasikan THDi PLN ~115,9% dan ACPS ~94,5%, dengan THDv ACPS mencapai ~22%, jauh melampaui batas IEC.
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI HIGH FRUCTOSE CORN SYRUP TERHADAP PRODUKSI BIOMASSA DAN KANDUNGAN DOCOSAHEXAENOIC ACID (DHA) DARI SCHIZOCHYTRIUM SP.
Meningkatnya kesadaran masyarakat global akan kesehatan jangka panjang mendorong konsumsi nutrisi preventif sebagai langkah investasi kesehatan. Docosahexaenoic Acid (DHA) menarik perhatian global karena kemampuannya dalam meningkatkan perkembangan otak hingga mengurangi penyakit kardiovaskular. Sebagian besar DHA diperoleh dari minyak ikan yang menunjukkan penurunan kualitas karena terjadi pencemaran laut hingga over eksploitasi. Schizochytrium sp menawarkan alternatif sebagai sumber penghasil lipid serta DHA tinggi dengan siklus pertumbuhan cepat dan sebagai solusi berkelanjutan dengan dampak lingkungan yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi High Fructose Corn Syrup (HFCS) sebesar 2,5; 5; 7,5; dan 10 g/L sebagai sumber karbon utama terhadap fase dan parameter kinetika pertumbuhan, laju konsumsi gula pereduksi, serta profil asam lemak Schizochytrium sp dalam medium By+ termodifikasi selama 96 jam. Analisis statistik menggunakan ANOVA one-way (p > 0,05) dan uji post hoc Tukey menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar variasi konsentrasi HFCS untuk parameter laju pertumbuhan spesifik, waktu generasi, produktivitas, dan Yx/s. Pertumbuhan tercepat diperoleh oleh konsentrasi HFCS 10 g/L dengan nilai laju pertumbuhan spesifik sebesar 0,659 ± 0,333 /hari, waktu generasi 1,207 ± 0,611 hari, produktivitas 1,913 ± 0,124 g/L/hari, dan Yx/s 0,836 ± 0,074 g/g . Adapun laju konsumsi gula pereduksi menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan (p < 0,05) dengan laju tertinggi pada konsentrasi HFCS 10 g/L sebesar 2,303 ± 0,352 g/L/hari. Selain itu, profil asam lemak biomassa Schizochytrium sp yang dikultivasi pada konsentrasi HFCS 10 g/L menunjukkan total lipid sebesar 13,83% dari DCW dengan kandungan DHA 16,08% dari total lipid. Analisis neraca massa menghasilkan produksi biomassa kering sebesar 57,43 gram dari kultur 7 liter dengan inokulum awal sebesar 27,93 gram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi HFCS sebagai sumber karbon utama berpotensi untuk mendukung pertumbuhan Schizochytrium sp yang berimplikasi pada kandungan DHA.
HUBUNGAN ANTARA PERKEMBANGAN CENTRAL BUSINESS DISTRICT DENGAN URBAN HEAT ISLAND MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT.
Kawasan Pusat Kota atau yang disebut juga Central Business District merupakan kawasan pusat aktivitas manusia. Pembangunan kawasan ini harus selalu dimonitoring agar tidak terjadi kesemrawutan. Pembangunan Central Business District yang tidak terarah dapat menyebabkan suatu fenomena yang disebut Urban Heat Island (UHI). Urban Heat Island dapat berdampak buruk bagi segala sisi kehidupan manusia antara lain yaitu kenaikan permintaan energi, kenaikan permintaan sumber daya air, yang dapat mengganggu kestabilitasan ekonomi sampai juga berhubungan dengan kesehatan masyarakat. Metode yang dipakai adalah metode penginderaan jauh dengan dua satelit yang berbeda. Data utama yang dipakai dalam studi ini adalah data citra satelit SPOT 5 yang beresolusi 2,5 M dan data citra satelit Landsat 7 ETM+ yang dapat digunakan untuk mengukur temperatur permukaan. Teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi Urban Heat Island dengan ekstraksi temperatur dan teknik penghitungan NDVI, sedangkan untuk menidentifikasi Central Business Distrit dengan interpretaasi manual ditambah dengan data sekunder dari survey lapangan.Penelitian ini difokuskan kepada analisis hubungan antara perkembangan Central Business District dengan Urban Heat Island yang terjadi di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Urban Heat Island tidak dapat diidentifikasi dengan satelit Landsat 7 ETM+ karena waktu perekamannya adalah pagi hari sedangkan efek Urban Heat Island dapat terlihat jelas pada saat malam hari. Urban Heat Island dapat menjadi salah satu indikator untuk mengidentifikasi perkembangan Central Business district dengan ditunjang data pendukung lain. Selain itu UHI juga dapat menjadi indicator tercipta atau tidaknya sustainable development berdasarkan rencana tata ruang yang telah dibuat pemerintah.
PENYUSUNAN KONSEP PENGEMBANGAN TATA KELOLA TAMBANG EMAS RAKYAT BERKELANJUTAN MELALUI KELEMBAGAAN KOPERASI DI KABUPATEN GUNUNG MAS, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
Tambang emas rakyat di Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah, merepresentasikan paradoks pembangunan yang khas: sekitar 3.300 penambang aktif menghidupi diri dari endapan aluvial sepanjang Sungai Kahayan, namun seluruh aktivitas tersebut berlangsung di luar kerangka hukum formal menyusul kekosongan Wilayah Pertambangan Rakyat sejak Kepmen ESDM Nomor 109.K/MB.01/MEM.B/2022. Informalitas ini bukan semata-mata persoalan ketidakpatuhan, melainkan akibat dari kekosongan boundary rules yang memutus seluruh rantai pembinaan teknis negara, sehingga menghasilkan eksternalitas lingkungan berupa pencemaran merkuri Sungai Kahayan dan kerusakan lahan, serta eksternalitas sosial berupa ketiadaan perlindungan kerja dan kerentanan posisi tawar penambang dalam rantai niaga. Disahkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2025 beserta peraturan turunannya yaitu PP Nomor 39 Tahun 2025, Permen ESDM Nomor 18 Tahun 2025, dan Permenkop Nomor 12 Tahun 2025 membuka jendela kebijakan (policy window) bagi formalisasi tambang emas rakyat melalui kelembagaan koperasi. Namun, rangkaian regulasi tersebut masih bersifat normatif dan belum disertai konsep operasional yang menjembatani mandat top-down dengan kapasitas kelembagaan penambang di tingkat tapak. Penelitian ini bertujuan merumuskan konsep pengembangan tata kelola tambang emas rakyat berkelanjutan melalui kelembagaan koperasi di Kabupaten Gunung Mas sebagai respons terhadap kesenjangan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus kebijakan (policy case study) yang diposisikan pada arena kebijakan formal. Data primer diperoleh dari tiga forum koordinasi lintas-instansi yang melibatkan Kementerian PPN/Bappenas, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, dan Pemerintah Kabupaten Gunung Mas pada Juli–September 2025, serta observasi lapangan di lokasi tambang dan koperasi. Analisis dilakukan menggunakan tiga kerangka teori yang saling melengkapi: Institutional Analysis and Development (IAD) dari Ostrom (2005) untuk membedah arena tindakan kelembagaan, analisisiv pemangku kepentingan dari Reed et al. (2009) untuk memetakan relasi antar-aktor, dan model Triple Bottom Line yang dimodifikasi oleh Que et al. (2018) sebagai kerangka perumusan konsep. Penelitian menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, stabilitas arena PETI selama lebih dari tiga tahun tanpa legitimasi formal bukan disebabkan keengganan penambang untuk berformalisasi, melainkan oleh dua kelemahan IAD yang saling mengunci: ketiadaan boundary rules akibat kekosongan WPR, dan ketiadaan aggregation rules pada dua level sekaligus — level komunitas penambang dan level koordinasi antar-instansi. Kedua, kesenjangan antara kondisi eksisting dan prinsip tata kelola berkelanjutan sangat dalam pada empat dari lima dimensi (legalitas, prosperity, people, planet), sementara dimensi community menunjukkan kesenjangan lebih moderat karena kelembagaan adat Dayak Ngaju sudah memiliki basis hukum eksplisit dan kapasitas substantif yang belum terintegrasi. Ketiga, konsep model kelembagaan koperasi yang dirumuskan mengintegrasikan struktur tiga lapis: prasyarat legalitas (WPR/IPR), unit operasional koperasi primer– sekunder dengan mekanisme distribusi manfaat berbasis partisipasi anggota, dan operasionalisasi empat pilar TBL termodifikasi. Kontribusi khas penelitian ini dari perspektif Perencanaan Wilayah dan Kota adalah dua inovasi lokal yang tidak ditemukan padanannya pada praktik baik komparatif: mekanisme integrasi kelembagaan adat Dayak dalam struktur koperasi melalui tiga fungsi substantif (legitimator, mediator konflik, dan pengawas berbasis norma adat), serta kerangka pertimbangan keruangan dengan empat unit analisis spasial yang harus diintegrasikan sebelum operasionalisasi koperasi pada wilayah dengan 77,28% kawasan hutan dan minimnya data spasial terintegrasi.
ANALISIS SPEKTRUM AKUSTIK MAKHARIJUL HURUF SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN FISIKA AKUSTIK UNTUK PENGUATAN SAINS DI PONDOK PESANTREN
Penelitian ini bertujuan menganalisis spektrum akustik makharijul huruf sebagai dasar pengembangan modul pembelajaran fisika akustik berbasis konteks pesantren. Penelitian difokuskan pada huruf makhraj al-halq, yaitu hamzah (?), ha’ (??), ‘ain (?), ha (?), ghain (?), dan kho’ (?), melalui analisis frekuensi forman pertama (F1) dan frekuensi forman kedua (F2). Penelitian menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan mengadaptasi model ADDIE hingga tahap Development. Data suara direkam dan dianalisis menggunakan perangkat lunak Praat untuk menghasilkan spektrogram dan mengekstraksi nilai frekuensi forman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap huruf makhraj al-halq memiliki karakteristik akustik yang berbeda, dengan rentang nilai F1 sebesar 601,72– 1251,68 Hz dan F2 sebesar 1457,20–2195,46 Hz. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa kelompok pembaca Al-Qur'an bersertifikat memiliki distribusi nilai forman yang lebih konsisten dibandingkan kelompok pembaca pemula. Hasil uji Mann– Whitney U menunjukkan bahwa sebagian besar perbedaan distribusi nilai F1 dan F2 belum signifikan pada taraf signifikansi ? = 0,05, meskipun beberapa huruf menunjukkan effect size kecil hingga sedang. Temuan tersebut dimanfaatkan sebagai dasar pengembangan modul pembelajaran fisika akustik yang mengintegrasikan konsep gelombang bunyi, resonansi rongga vokal, dan frekuensi forman dengan fenomena pelafalan huruf hijaiyah di lingkungan pesantren. Hasil validasi memperoleh skor rata-rata 3,50 dari ahli materi dan 3,70 dari ahli pembelajaran, sehingga modul termasuk kategori sangat layak. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemanfaatan analisis spektrum akustik makharijul huruf sebagai konteks pengembangan modul pembelajaran fisika akustik berbasis pesantren.
PERANCANGAN SIMULASI BERBASIS AGEN UNTUK STUDI KOMPARASI ALGORITMA DISPATCHER LIFT PADA GEDUNG BERTINGKAT DENGAN POLA LALU LINTAS DINAMIS
Pesatnya pembangunan gedung bertingkat menuntut sistem transportasi vertikal yang optimal, seperti lift. Evaluasi kinerja lift umumnya menggunakan Discrete Event Simulation (DES), namun pendekatan ini memiliki kekurangan akibat waktu yang diskrit dan faktor spasial yang diabaikan. Untuk mengatasi hal ini, penelitian ini mengembangkan instrumen simulasi berbasis Agent-Based Modeling (ABM) yang memodelkan penumpang dan lift sebagai agen otonom. Instrumen ini dirancang untuk mengintegrasikan Lift Performance Metrics (LPM) dan Quality of Service (QoS) dengan estimasi konsumsi energi listrik. Hasil pengujian komparasi pada arsitektur skala 15 lantai menunjukkan bahwa nilai-nilai metrik yang dihasilkan oleh DES terlalu ideal, sehingga dapat membuat rancangan sistem lift tidak sesuai. Hal ini diperkuat dengan hasil Average Waiting Time (AWT) dan Round Trip Time (RTT) pada ABM, yang membesar akibat hambatan spasial hingga 62,12% dan 200,73% masing-masing. Lingkungan ABM lalu difungsikan untuk membandingkan kinerja sistem Konvensional (KON) dan Destination Dispatch System (DDS) pada empat skenario puncak lalu lintas untuk arsitektur 15, 25, dan 35 lantai. Hasil komparasi menunjukkan bahwa efisiensi algoritma sangat sensitif terhadap elevasi bangunan dan tata letak fasilitas. Sistem DDS mengungguli KON pada skenario pagi hari dengan menekan AWT sebesar 78,26% di gedung 15 lantai. Pada skala menengah 25 lantai pada lalu lintas dua arah, algoritma KON yang lebih adaptif dan fleksibel dapat melayani penumpang 35,24% lebih cepat. Pada skenario bangunan 35 lantai, DDS menunjukkan keunggulan signifikan hingga 72,39% dari KON pada skenario malam hari. Pengelompokan destinasi DDS di tingkat tinggi juga menghemat energi listrik hingga 180 kWh dalam sehari. Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan DDS merupakan solusi teknis yang optimal untuk bangunan skala tinggi. Kata
ANALISIS EKSPERIMENTAL POTENSI PANAS PANEL SURYA SEBAGAI SUMBER TERMAL SISTEM PENDINGINAN ABSORPSI DI KOTA BANDUNG
Modul fotovoltaik hanya mengonversi sebagian kecil radiasi matahari menjadi listrik, sementara sebagian besar terdisipasi menjadi panas yang menurunkan efisiensi panel. Panas terbuang ini berpotensi dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi termal, baik untuk menggerakkan sistem pendinginan berbasis penyerapan maupun untuk keperluan termal lain seperti pemanasan air domestik, preheating, dan pengeringan. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi temperatur aktual panel surya secara eksperimental dan mengevaluasi potensi panasnya sebagai sumber termal untuk sistem pendinginan maupun pemanfaatan termal lainnya di iklim tropis Kota Bandung. Pengukuran temperatur dilakukan secara kontinu selama tujuh hari pada instalasi PLTS Laboratorium Manajemen Energi Institut Teknologi Bandung menggunakan tujuh sensor termokopel tipe-K dengan modul MAX6675 dan sistem akuisisi data berbasis ESP32, pada interval satu menit. Data intensitas radiasi matahari, temperatur ambien, dan kecepatan angin diperoleh dari dataset reanalisis ERA5-Land. Potensi panas dihitung melalui pendekatan neraca energi serta analisis perpindahan panas konveksi dan radiasi. Hasil pengukuran menunjukkan temperatur panel rata-rata siang 40,7 °???? dengan puncak lokal mencapai sekitar 73,5 °???? pada titik terpanas. Intensitas radiasi merupakan penggerak termal dominan (r = 0,68). Total potensi panas selama enam hari pengukuran mencapai sekitar 855 kWh, atau sekitar 19 kali energi listrik yang dihasilkan. Sebaran temperatur panel memenuhi kebutuhan termal berbagai aplikasi suhu rendah mencakup preheating, pendinginan adsorpsi, dan absorpsi suhu rendah, sementara kebutuhan sistem absorpsi konvensional (? 70 °????) hanya tercapai secara sporadis pada titik-titik terpanas. Penentuan teknologi pemanfaatan termal yang paling sesuai menjadi arah penelitian lanjutan.
SINTESIS DAN FABRIKASI ELEKTRODA BERBASIS NANOKOMPOSIT AGNP/CU-BTC UNTUK PENENTUAN KADAR GLUKOSA SECARA VOLTAMMETRI
Diabetes mellitus adalah penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi fungsi organ manusia akibat penumpukan glukosa dalam sistem peredaran darah. Penelitian mengenai sensor glukosa semakin berkembang agar diabetes bisa diidentifikasi sejak dini secara noninvasif. MOFs (Metal-Organic Frameworks) adalah material dengan sifat berpori yang mampu mengadsorpsi analit. Salah satu MOF yang paling menjanjikan dalam hal ini adalah MOF Cu- BTC yang terdiri dari ion pusat Cu(II) dan penghubung benzen trikarboksilat (BTC). Sensitivitas elektroda juga dapat ditingkatkan melalui inkorporasi AgNP (nanopartikel perak) di dalam matriks elektroda. Namun, kinerja kedua material ini dalam deteksi glukosa belum dibandingkan dengan detail. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja elektroda nanokomposit AgNP/Cu-BTC sebagai sensor glukosa secara voltammetri. MOF Cu-BTC disintesis melalui metode solvotermal dari prekursor Cu(NO3)2·3H2O dan H3BTC. AgNP disintesis dari prekursor AgNO3 yang direduksi dengan natrium sitrat. Elektroda difabrikasi dengan campuran grafit/PVDF pada permukaan pelat tembaga. MOF Cu-BTC berhasil disintesis dengan orientasi pertumbuhan kristal dominan pada bidang (222). Spektrum FTIR MOF Cu-BTC menunjukkan serapan karakteristik ulur Cu-O pada 727 cm-1. AgNP memiliki puncak serapan UV-Vis pada 413 nm, dengan rata-rata ukuran partikel sebesar 41,5 nm berdasarkan karakterisasi DLS. Elektroda dengan rasio MOF Cu-BTC : AgNP = 1:3 menunjukkan kinerja yang terbaik sebagai sensor glukosa, dengan batas deteksi sebesar 0,01007 mM; sensitivitas sebesar 307,7 ?A mM-1 cm-2 , serta rentang linear pada 0,05 mM– 20 mM.
PERANCANGAN PRODUK ERGONOMIS UNTUK MEMBANTU TOILETING ANAK CEREBRAL PALSY GMFCS III USIA 12-18 TAHUN
Anak dengan Cerebral Palsy (CP) mengalami keterbatasan mobilitas dan kontrol postural yang berdampak pada rendahnya kemandirian dalam aktivitas mandi dan toileting. Di Indonesia, permasalahan ini semakin kompleks karena mayoritas rumah tangga masih menggunakan kloset jongkok yang kurang sesuai dengan kebutuhan fungsional anak CP, khususnya pada tingkat Gross Motor Function Classification System (GMFCS) III. Kondisi tersebut meningkatkan ketergantungan terhadap caregiver dan menimbulkan kesenjangan antara kebutuhan pengguna dengan fasilitas sanitasi yang tersedia. Penelitian ini bertujuan merancang fasilitas sanitasi yang mendukung aktivitas mandi dan toileting anak CP secara lebih aman, nyaman, dan mandiri dalam konteks kamar mandi rumah tinggal di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan desain berpusat pada pengguna melalui studi literatur, observasi lapangan, wawancara dengan pengguna dan caregiver, analisis aktivitas, serta analisis ergonomi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kebutuhan utama pengguna meliputi stabilitas postural, kemudahan perpindahan posisi, aksesibilitas fasilitas sanitasi, serta efisiensi penggunaan ruang kamar mandi. Berdasarkan temuan tersebut, dikembangkan tiga alternatif desain dan dipilih satu rancangan terintegrasi yang terdiri atas penopang kloset, bak air, dudukan tambahan, pegangan, dan struktur pendukung. Konfigurasi horizontal antara penopang kloset dan bak air mendukung perpindahan yang lebih aman, sementara sistem pegangan membantu pengguna saat duduk, berdiri, dan berpindah posisi. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan fasilitas sanitasi yang mengintegrasikan aktivitas mandi dan toileting dengan mempertimbangkan kondisi kamar mandi rumah tangga Indonesia yang masih didominasi penggunaan kloset jongkok. Hasil penelitian ini berkontribusi sebagai acuan perancangan fasilitas sanitasi yang lebih inklusif bagi pengguna dengan keterbatasan motorik dan caregiver.
PERANCANGAN PENGONTROL FINITE CONTROL SET MODEL PREDICTIVE CONTROL DENGAN DISTURBANCE OBSERVER UNTUK MENGATASI INTERMITENSI PADA SISTEM PANEL SURYA MANDIRI DI BAWAH KONDISI NAUNGAN SEBAGIAN
Pembangkit listrik tenaga surya merupakan salah satu solusi yang dapat mendukung kebijakan pemerintah dalam mengatasi ketergantungan terhadap sumber energi fosil. Namun terdapat berbagai tantangan teknis yang dapat menurunkan efisiensi sistem, sehingga sistem PV tidak bekerja di titik daya optimumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pengontrol Finite Control Set Model Predictive Control untuk meningkatkan performa dan kerobasan dari sistem fotovoltaik yang terintegrasi dengan boost converter. Dalam perancangan algoritma pengontrol, efek gangguan itu akan diestimasi menggunakan Disturbance Observer untuk meningkatkan kerobasan sistem terhadap gangguan. Namun tantangan selanjutnya pada sistem PV terletak pada perubahan kondisi naungan modul fotovoltaik yang diakibatkan oleh pergerakan awan dan bayangan benda-benda sekitar, sehingga sistem PV akan memiliki beberapa puncak daya keluaran. Situasi ini dikenal sebagai kondisi naungan sebagian (PSC). Oleh karena itu pada penelitian ini digunakan metode Incremental Conductance-Modified Particle Swarm Optimization yang dapat melacak puncak global yang kemudian dijadikan arus referensi bagi mekanisme pengontrol. Hasil simulasi MATLAB/Simulink menunjukkan bahwa sistem mampu bekerja baik pada kondisi standar ataupun PSC. Pada kondisi standar dengan iradiasi seragam, sistem mencapai waktu tunak 0,42 detik, efisiensi 94,572%, dan akurasi daya 99,97%. Pada kondisi standar dengan variasi iradiasi dan beban, sistem menghasilkan waktu tunak rata-rata 0,330 detik, akurasi daya 99,904%, dan efisiensi rata-rata 93,933%. Pada kondisi PSC, sistem mampu mencapai waktu tunak 0,352 detik, akurasi daya 99,699%, dan efisiensi rata-rata 94,31%. Hasil ini menunjukkan bahwa integrasi Hybrid IC–MPSO dan FCS–MPC dengan Disturbance Observer mampu meningkatkan performa pelacakan titik maksimum daya dan menjaga efisiensi sistem PV mandiri di bawah kondisi naungan sebagian.