📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPERANCANGAN INDUSTRI KEMASAN BIOPLASTIK BERBASIS PATI UBI JALAR DENGAN PENAMBAHAN GLISEROL DAN KITOSAN
Perancangan industri kemasan bioplastik berbasis pati ubi jalar ini disusun sebagai upaya pengembangan alternatif kemasan ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik konvensional. Plastik konvensional masih banyak digunakan dalam sektor pangan karena praktis, ringan, dan murah, namun sulit terdegradasi secara alami sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Ubi jalar dipilih sebagai bahan baku utama karena mengandung pati yang mampu membentuk film, berasal dari sumber daya terbarukan, mudah diperoleh, serta berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Sistem pascapanen yang dirancang mencakup proses produksi bioplastik mulai dari penerimaan dan sortasi ubi jalar, pencucian, pengupasan, penghancuran, pencampuran ubi jalar dengan air, pengendapan pati, ekstraksi pati basah, pengeringan, penggilingan, pengayakan, pembuatan larutan pati dan kitosan, penambahan gliserol, pencetakan, pengeringan bioplastik, pemotongan, pembentukan kemasan, pemasangan strip perekat, pengemasan, penyimpanan, hingga distribusi. Alur proses dirancang secara berurutan untuk menjaga efisiensi produksi, higienitas, serta kestabilan mutu produk akhir. Inovasi yang dikembangkan adalah kemasan bioplastik berbasis pati ubi jalar dengan penambahan kitosan dan gliserol. Pati ubi jalar berperan sebagai bahan utama pembentuk film, kitosan berfungsi memperbaiki struktur film dan memberikan potensi sifat antimikroba, sedangkan gliserol berperan sebagai plasticizer untuk meningkatkan fleksibilitas bioplastik. Inovasi ini dipilih karena memiliki keseimbangan antara kualitas produk, kemudahan proses produksi, biaya bahan, dan potensi keuntungan dibandingkan alternatif formulasi lainnya. Dengan adanya penambahan kitosan dan gliserol, produk yang dihasilkan diharapkan memiliki karakteristik yang lebih baik dibandingkan bioplastik berbasis pati murni yang cenderung rapuh dan sensitif terhadap air. Kapasitas produksi yang dirancang adalah 14,4 kg bioplastik per hari atau sekitar 960 unit kemasan per hari. Produk akhir berupa kemasan bioplastik kering yang telah dipotong, dibentuk, diberi strip perekat, dikemas, dan siap didistribusikan kepada konsumen. Keunggulan produk ini terletak pada penggunaan bahan alami dan terbarukan, sifatnya yang biodegradable, lebih ramah lingkungan, serta berpotensi digunakan sebagai alternatif kemasan untuk produk pangan dan hortikultura. Produk juga dirancang agar memiliki nilai 3 fungsional, tidak hanya sebagai pembungkus, tetapi juga sebagai kemasan berkelanjutan yang mendukung pengurangan limbah plastik. Dari aspek fasilitas dan utilitas, industri bioplastik dirancang dengan pembagian area produksi yang terdiri dari area basah, area kering, area penyimpanan, area utilitas, dan area pendukung pekerja. Pembagian area ini bertujuan untuk menjaga kelancaran alur produksi, meminimalkan kontaminasi silang, serta meningkatkan keamanan dan kenyamanan kerja. Kebutuhan utilitas utama meliputi air untuk proses pencucian, sanitasi, dan formulasi larutan, serta listrik untuk pengoperasian peralatan produksi. Analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa rancangan sistem pascapanen bioplastik berbasis pati ubi jalar layak untuk direalisasikan. Dengan asumsi harga jual sebesar Rp3.500 per unit, kapasitas penjualan 960 unit per hari atau 350.400 unit per tahun, umur proyek selama 10 tahun, WACC sebesar 14,21%, serta inflasi 2,7% per tahun, diperoleh pendapatan tahun pertama sebesar Rp1.226.400.000. Investasi awal (CAPEX) yang dibutuhkan sebesar Rp214.673.018, dengan nilai Gross Profit Margin (GPM) sebesar 8%, Net Present Value (NPV) sebesar Rp250.698.127, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 37,79%, Break Even Point (BEP) sebesar 298.784 unit per tahun, Payback Period (PP) selama 2,27 tahun, dan Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar 1,08. Nilai NPV yang positif, IRR yang lebih tinggi daripada WACC, BCR yang melebihi satu, serta periode pengembalian modal yang lebih singkat dibandingkan umur proyek menunjukkan bahwa sistem pascapanen yang dirancang memiliki prospek finansial yang baik dan layak untuk dikembangkan sebagai usaha skala kecil hingga menengah. Selain itu, hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kuantitas penjualan dan harga kitosan merupakan variabel yang paling memengaruhi kelayakan finansial, sehingga strategi pemasaran, kepastian penyerapan pasar, dan efisiensi penggunaan bahan perlu menjadi perhatian utama dalam implementasi sistem ini.
RANCANGAN MODEL PREDIKSI KEPATUHAN WAJIB PAJAK KENDARAAN BERMOTOR MENGGUNAKAN TEKNIK DATA MINING (STUDI KASUS: PROVINSI JAWA BARAT)
Kepatuhan pajak kendaraan bermotor (PKB) menjadi tantangan bagi pemerintah daerah karena karakteristik wajib pajak yang kompleks dan heterogen. Kondisi ini menyulitkan pemerintah daerah dalam mengidentifikasi serta menerapkan kebijakan yang efektif, yang selama ini masih dilakukan dengan pendekatan konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pendukung kebijakan berbasis data dengan mengintegrasikan clustering, classification, dan explainable artificial intelligence (XAI). Model ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan kebijakan yang masih bersifat umum tanpa mempertimbangkan karakteristik masing-masing. Analisis dimulai dengan pengelompokan wajib pajak menggunakan metode k-prototype clustering berdasarkan denda dan pemutihan. Jumlah cluster optimal ditentukan menggunakan metode elbow, dengan hasil k = 3 dan nilai silhouette score sebesar 0,939. Selanjutnya, status kepatuhan wajib pajak diprediksi menggunakan beberapa algoritma, yaitu logistic regression, k-nearest neighbor, decision tree, random forest, dan XGBoost, dengan penerapan hyperparameter tuning menggunkaan GridSearchCV untuk mengoptimalkan kinerja model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa XGBoost-SMOTE memiliki kinerja terbaik dengan nilai accuracy (0,804) dan F1-score (0,601). Untuk memastikan transparansi dalam proses prediksi, digunakan metode SHapley Additive exPlanations (SHAP) guna menginterpretasikan hasil prediksi model serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi, dengan hasil yaitu pkb pokok, merek kendaraan, status kepatuhan tahun sebelumnya, denda tahun sebelumnya, dan kategori layanan tahun sebelumnya.
PENGARUH KOMBINASI BIOSTIMULAN DAN REDUKSI PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF, KARAKTER FISIOLOGIS, DAN FENOLOGI TANAMAN JAGUNG MANIS ( ZEA MAYS SACCHARATA )
Jagung manis ( Zea mays saccharata ) merupakan tanaman dengan kebutuhan hara tinggi, khususnya nitrogen, sehingga penggunaan pupuk NPK secara intensif sering dilakukan namun berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kombinasi berbagai dosis biostimulan dengan tingkat reduksi pupuk NPK terhadap pertumbuhan vegetatif, karakter fisiologis, dan fenologi tanaman jagung manis varietas F1 Paragon, serta menentukan kombinasi perlakuan yang paling optimal. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan delapan perlakuan kombinasi dosis biostimulan dan reduksi pupuk NPK dengan jumlah ulangan sebanyak empat kali. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat basah dan kering tajuk, berat basah dan kering akar, kandungan klorofil relatif (SPAD), serta waktu muncul bunga jantan dan bunga betina. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan uji Duncan pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi dosis biostimulan dan dosis pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap sebagian besar parameter pertumbuhan vegetatif tanaman jagung manis, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan klorofil relatif (SPAD) dan waktu muncul bunga. Perlakuan biostimulan 4 g/L dengan 75% NPK memberikan respon pertumbuhan vegetatif terbaik dan mampu mempertahankan kondisi fisiologis serta fenologi tanaman dengan baik. Dengan demikian, kombinasi dosis biostimulan dan reduksi pupuk NPK berpotensi meningkatkan efisiensi pemupukan tanpa menurunkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung manis
PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE ANALISIS PENETAPAN KADAR ALFA-TOKOFEROL ASETAT DALAM SEDIAAN SERUM KOSMETIK MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
Photoaging merupakan proses penuaan dini pada kulit yang disebabkan oleh akumulasi radikal bebas akibat paparan radiasi ultraviolet secara terus menerus. Salah satu senyawa antioksidan yang poten dan banyak digunakan untuk mencegah kerusakan kolagen serta menjaga kelembapan kulit adalah Vitamin E dalam bentuk turunannya yaitu ?-tokoferol asetat karena memiliki stabilitas fisikokimia yang lebih baik. Untuk menjamin efikasi, keamanan, dan perlindungan konsumen, kadar ?-tokoferol asetat di dalam sediaan kosmetik serum yang beredar dipasaran harus dipastikan kesesuaiannya dengan klaim etiket menggunakan metode analisis yang tervalidasi. Dalam hal ini, dilakukan pengembangan dan validasi metode analisis yang tervalidasi. Dalam hal ini, dilakukan pengembangan dan validasi metode analisis penetapan kadar ?-tokoferol asetat dalam sediaan serum kosmetik dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS. Hasil optimasi menunjukkan metode yang optimum menggunakan spektrofotometer Beckman Coulter DU720, dengan kuvet kuarsa pada panjang gelombang maksimum 285 nm menggunakan pelarut etanol proanalisis. Hasil validasi metode menunjukkan spesifisitas yang baik dengan tidak adanya interferensi serapan komponen matriks serum blanko pada panjang gelombang maksimum analit. Linearitas dari metode pada rentang 50 – 175 ?g/mL dengan perolehan persamaan regresi y = 0,00442x – 0,0163, nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,9996, dan nilai koefisien variansi regresi linear (Vx0) sebesar 1,259%. Batas deteksi dan batas kuantitasi dari metode adalah 4,674 dan 14,164 ?g/mL. Persentase perolehan kembali (% recovery) untuk sampel serum adalah 98,78 - 101,65%. Hasil presisi intraday dan interday seluruhnya memenuhi persyaratan dengan nilai %SBR ? 2% dan nilai HORRAT ? 2. Ketegaran metode baik dan memenuhi persyaratan. Penetapan kadar dengan menggunakan metode adisi standar tervalidasi menunjukkan kadar ?-tokoferol asetat pada produk komersial Sampel A, Sampel B, dan Sampel C berturut-turut adalah 0,402; 0,105; dan 4,188%. Dari nilai persentasi kadar tersebut, maka sampel A dan B memenuhi persyaratan rentang kelaziman ?- tokoferol asetat dalam sediaan serum dan sampel C memenuhi persyaratan konsentrasi zat aktif sebagai serum anti-aging.
PENGARUH KONSENTRASI BIOSTIMULAN DAN REDUKSI PUPUK KIMIA NPK TERHADAP KOMPONEN HASIL DAN KUALITAS JAGUNG MANIS (ZEA MAYS SACCHARATA) VARIETAS F1 PARAGON
Jagung manis (Zea mays saccharata) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang permintaannya terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk, namun produktivitasnya masih menghadapi kendala akibat degradasi kesuburan tanah dan penggunaan pupuk kimia secara intensif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi konsentrasi biostimulan dan tingkat reduksi pupuk kimia NPK yang paling optimal dalam meningkatkan komponen hasil dan kualitas jagung manis. Penelitian dilaksanakan di Kebun Pendidikan SITH ITB, Desa Haurngombong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada September–Desember 2025 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan delapan perlakuan dan empat ulangan, terdiri atas kombinasi konsentrasi biostimulan (2, 4, dan 6 g/L) dengan tingkat reduksi pupuk NPK (75%, 50%, dan tanpa NPK) serta kontrol 100% NPK tanpa biostimulan. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95% (? = 0,05) dan dilanjutkan dengan uji Duncan apabila terdapat perbedaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi biostimulan 4 g/L dengan reduksi NPK sebesar 50–75% (perlakuan P4 dan P5) menghasilkan komponen hasil terbaik yang ditunjukkan oleh peningkatan panjang, diameter, dan bobot tongkol, baik berkelobot maupun tanpa kelobot, serta mampu mempertahankan kualitas jagung manis melalui penurunan kadar air dan peningkatan nilai °Brix serta gula reduksi dibandingkan kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa aplikasi biostimulan pada konsentrasi 4 g/L yang dikombinasikan berpotensi menjadi strategi budidaya jagung manis yang lebih efisien dan berkelanjutan
STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI RAMAH LINGKUNGAN DALAM MENDUKUNG PERWUJUDAN KOTA CIMAHI SEBAGAI PUSAT INDUSTRI NON-POLUTIF
Kota Cimahi memiliki karakteristik sebagai kota industri dengan sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) sebagai sektor yang dominan. Di sisi lain, aktivitas industri TPT berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan sehingga pengembangan industri perlu diarahkan pada penerapan prinsip industri ramah lingkungan untuk mendukung perwujudan Kota Cimahi sebagai pusat industri nonpolutif. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan industri ramah lingkungan pada industri TPT di Kota Cimahi. Penelitian menggunakan pendekatan rasionalistik dengan metode analisis deskriptif kualitatif melalui studi dokumen, observasi, dan wawancara. Analisis dilakukan melalui tiga sasaran penelitian, yaitu identifikasi struktur industri Kota Cimahi, analisis kesenjangan antara kondisi eksisting dan kondisi ideal industri ramah lingkungan, serta perumusan strategi pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri TPT menjadi sektor yang dominan pada struktur industri Kota Cimahi dan memiliki rantai nilai yang relatif lengkap dari tahap hulu, antara, hingga hilir. Analisis kondisi eksisting menunjukkan bahwa penerapan industri ramah lingkungan pada industri sampel telah dilakukan pada berbagai tingkat kematangan, sedangkan analisis kondisi ideal berdasarkan dokumen perencanaan menunjukkan adanya arahan pengembangan yang mencakup seluruh tingkat kematangan industri ramah lingkungan. Perbandingan antara kondisi eksisting dan kondisi ideal menunjukkan adanya kesenjangan pada setiap tingkat kematangan yang berkaitan dengan komitmen lingkungan, aktivitas pengelolaan lingkungan, sistem pendukung, inovasi dan teknologi, serta kolaborasi dan keberlanjutan. Berdasarkan kesenjangan tersebut, diidentifikasi kebutuhan pengembangan yang dijadikan dasar dalam perumusan strategi pengembangan industri ramah lingkungan untuk mendukung transformasi industri TPT yang lebih berkelanjutan di Kota Cimahi.
EVALUASI METODE PENGUKURAN LATERAL FRACTION (LF) DAN INTERAURAL CROSS-CORRELATION (IACC) BERBASIS MIKROFON AMBISONIK
Evaluasi kualitas akustik ruang tidak hanya ditentukan oleh parameter energi dan peluruhan waktu, tetapi juga oleh parameter spasial yang menggambarkan kesan ruang secara komprehensif. Dua parameter objektif spasial yang esensial berdasarkan standar ISO 3382-1 adalah Lateral Fraction (LF) dan Interaural Cross-Correlation (IACC). Secara konvensional, pengukuran LF menuntut kombinasi mikrofon omnidireksional dan bidireksional yang tersusun secara koinsiden, sedangkan ekstraksi IACC mensyaratkan perangkat binaural fisis seperti Head and Torso Simulator (HATS). Mengingat tingginya keterbatasan biaya, kompleksitas konfigurasi fisis, serta sensitivitas orientasi dari instrumen referensi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan kelayakan instrumen alternatif yang lebih praktis, yakni mikrofon ambisonik komersial Zoom H3-VR, untuk karakterisasi parameter LF dan IACC. Pengujian fisis dilakukan di dalam Anechoic Chamber Laboratorium Adhiwijogo, Program Studi Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung, guna mengamankan kondisi medan bebas (free-field) tanpa interferensi akustik ruangan. Karakterisasi dilakukan dengan mengakuisisi sinyal eksitasi Exponential Sine Sweep (ESS) yang kemudian dikonversi dari ranah fisis A-format menjadi matriks ortogonal B-format. Kanal W dan Y pada matriks tersebut dialokasikan secara langsung untuk kalkulasi nilai LF, sementara keseluruhan sinyal B-format diproses secara komputasional melalui dekoding binaural untuk mensintesis nilai IACC. Seluruh perolehan nilai dari instrumen ini kemudian dikomparasikan terhadap nilai rujukan analitis dari simulasi medan bebas EASE 5 dengan mengevaluasi selisih deviasi, bias, rentang galat maksimum, serta batas toleransi Just Noticeable Difference (JND). Hasil analisis komparatif menunjukkan bahwa ekstraksi nilai IACC dari perangkat Zoom H3-VR memiliki tingkat validitas yang tinggi pada pita frekuensi 125–500 Hz, menyentuh batas ambang toleransi pada 1 kHz, dan mulai menyimpang secara signifikan pada pita 2 kHz serta 4 kHz. Tercatat 26 dari 78 titik data pengujian melampaui ambang batas JND, dengan konsentrasi galat tertinggi pada rentang frekuensi 1–4 kHz yang dipicu oleh keterbatasan resolusi First-Order Ambisonics (FOA) serta fenomena spatial aliasing. Pada evaluasi parameter LF, instrumen ini mencatatkan nilai galat keseluruhan yang sangat rendah yakni sebesar 0,035, dengan penyimpangan yang hanya terjadi secara fokal pada sudut 90° di pita frekuensi rendah. Kesimpulannya, Zoom H3-VR terbukti layak difungsikan sebagai instrumen alternatif yang valid untuk pengukuran parameter spasial LF dan IACC pada pita frekuensi rendah hingga menengah, sementara pengukuran IACC pada frekuensi tinggi mensyaratkan koreksi tambahan atau validasi silang dengan instrumen standar ISO 3382.
MODEL REGENERASI PENGETAHUAN TEKTONIKA LOKAL PADA MASJID TRADISIONAL ACEH UNTUK KETANGGUHAN SEISMIK
Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan tingkat risiko seismik yang tinggi. Berbagai peristiwa gempa besar telah menyebabkan kerusakan signifikan pada bangunan publik, terutama yang dibangun dengan praktik konstruksi swadaya masyarakat. Di sisi lain, sejumlah Masjid Tradisional Aceh yang menggunakan sistem konstruksi kayu justru mampu bertahan terhadap beban gempa dengan tingkat kerusakan yang relatif rendah. Fenomena ini menunjukkan adanya pengetahuan tektonika lokal yang berkembang melalui pengalaman adaptif masyarakat dalam merespons risiko seismik. Namun, pengetahuan tersebut masih berada dalam bentuk implisit, belum sepenuhnya diformalkan sebagai sistem pengetahuan konstruksi, dan belum dioperasionalkan sebagai dasar pengembangan desain arsitektur masa kini yang tangguh terhadap gempa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pengetahuan tektonika lokal Masjid Tradisional Aceh dalam membentuk respons dan ketangguhan seismik bangunan, merumuskan Unit Pengetahuan Tektonika Lokal (UPTL) yang berkontribusi terhadap mekanisme ketangguhan seismik, serta menyusun model regenerasi pengetahuan tektonika lokal sebagai kerangka konseptual dan operasional bagi pengembangan desain arsitektur masa kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan desain sekuensial melalui tiga tahap. Tahap pertama berfokus pada identifikasi data empiris melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, catatan lapangan, dokumentasi, serta pengukuran dengan Terrestrial Laser Scanning pada lima objek studi Masjid Tradisional Aceh. Tahap kedua melakukan evaluasi performa seismik melalui analisis numerik multiskala, yaitu analisis pushover dan time history pada skala bangunan serta finite element analysis (FEA) pada skala sambungan balok-kolom. Tahap ketiga melakukan sintesis dan translasi pengetahuan melalui perumusan unit pengetahuan, kriteria desain, parameter desain, serta penyusunan model konseptual-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketangguhan seismik Masjid Tradisional Aceh terbentuk melalui kerja terpadu antara keteraturan geometri, sistem struktur inti-perimeter, sistem rangka kayu, sambungan mortise–tenon, sistem tumpuan, dan strategi material ringan. Karakteristik tersebut tidak bekerja sebagai elemen tunggal, melainkan sebagai sistem tektonika yang saling terkait dalam mengendalikan respons bangunan terhadap beban gempa. Penelitian ini merumuskan 21 UPTL yang dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu geometri bangunan, sistem struktur, sistem konstruksi, dan material bangunan. Unit-unit tersebut kemudian diturunkan menjadi 39 kriteria desain dan 80 parameter desain. Model regenerasi dikembangkan melalui pendekatan konseptual-parametrik dengan lima alternatif konfigurasi modul. Selanjutnya, dua model dengan konfigurasi 16 modul dan 25 modul dipilih sebagai model konseptual siap uji. Hasil uji model menunjukkan bahwa kedua model memenuhi kategori Immediate Occupancy pada analisis pushover dan time history. Pada skala sambungan, hasil finite element analysis menunjukkan bahwa logika sambungan mortise–tenon masih dapat dipertahankan ketika material ditranslasikan ke kayu rekayasa, meskipun respons deformasi dan tegangan lokal bervariasi pada setiap sambungan. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan tektonika lokal Masjid Tradisional Aceh dapat menjadi dasar pengembangan desain bangunan tangguh gempa yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap keterbatasan praktik konstruksi masyarakat. Temuan ini juga menegaskan bahwa pelestarian arsitektur tradisional perlu diarahkan tidak hanya pada bentuk fisik, tetapi juga pada pemahaman logika konstruksi, sistem sambungan, strategi material, dan mekanisme performa yang terkandung di dalamnya. Kebaruan penelitian terletak pada tiga aspek. Pertama, penelitian ini memformalkan pengetahuan tektonika lokal Masjid Tradisional Aceh menjadi UPTL yang dapat ditranslasikan ke dalam kriteria desain dan parameter desain. Kedua, penelitian ini merumuskan model regenerasi pengetahuan tektonika lokal sebagai pendekatan alternatif dalam pengembangan arsitektur tangguh gempa yang berakar pada kearifan lokal, dengan menempatkan pengetahuan konstruktif tradisional sebagai sistem pengetahuan yang dapat diregenerasi dan dioperasionalkan, bukan sekadar dilestarikan. Ketiga, penelitian ini mengintegrasikan dokumentasi empiris, pengetahuan implisit, analisis numerik multiskala, dan pemodelan konseptual–parametrik untuk mengungkap mekanisme performa seismik pada sistem struktur dan sambungan tradisional secara terukur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Masjid Tradisional Aceh tidak hanya dapat dipahami sebagai objek warisan arsitektur, tetapi sebagai sistem pengetahuan konstruksi yang memiliki logika performatif terhadap risiko gempa. Ketangguhan seismiknya terbentuk melalui relasi antarelemen tektonika yang bekerja secara terpadu, sedangkan model regenerasi yang dirumuskan menunjukkan bahwa pengetahuan lokal tersebut dapat diformalkan menjadi perangkat desain dan diuji secara numerik tanpa mereproduksi bentuk tradisional secara literal. Kesimpulan ini menempatkan model regenerasi pengetahuan tektonika lokal sebagai pendekatan alternatif bagi pengembangan desain masjid masa kini yang tangguh, adaptif, dan kontekstual terhadap kondisi praktik konstruksi masyarakat.
PENENTUAN PREMI ASURANSI KEBAKARAN LAHAN GAMBUT DENGAN SKENARIO PERUBAHAN IKLIM DI PROVINSI RIAU
Kebakaran lahan gambut di Provinsi Riau merupakan bencana tahunan yang menimbulkan dampak ekologis dan ekonomi yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi probabilitas terjadinya kebakaran lahan gambut secara spasio-temporal serta mengkuantifikasi risiko kerugian ekonomi yang ditimbulkannya. Prediksi peluang kebakaran dilakukan berdasarkan variabel iklim menggunakan pendekatan Machine Learning berbasis Convolutional Long Short Term Memory (ConvLSTM) untuk memodelkan parameter iklim (temperatur, curah hujan, dan kelembapan tanah) di wilayah Riau. Estimasi tingkat kerugian ekonomi dilakukan menggunakan pendekatan Simulasi Monte Carlo. Hasil simulasi digunakan untuk menghitung total kerugian agregat untuk setiap iterasi. Barisan data kerugian agregat kemudian berguna untuk mengestimasi harga premi murni asuransi kebakaran lahan gambut dengan periode bulanan dan tahunan. Pengukuran risiko dari kerugian agregat dilakukan menggunakan metrik Value at Risk (VaR), Tail Value at Risk (TVaR), dan Tail Variance (TV) pada tingkat kepercayaan 75%, 85%, dan 95%. Dipertimbangkan juga perhitungan premi dengan berbagai jenis modifikasi asuransi (deductible, policy limit, coinsurance, dan gabungan). Untuk mengatasi dinamisnya perubahan iklim, dilakukan analisis sensitivitas perubahan iklim terhadap premi asuransi. Perhitungan premi murni beserta modifikasinya dilakukan kembali dalam kondisi perubahan iklim. Perubahan iklim dibagi menjadi 2, yaitu pemanasan dan pengeringan serta pendinginan dan pembasahan. Hasil estimasi premi menunjukkan bahwa perubahan iklim mengakibatkan adanya perubahan peluang kebakaran yang menyebabkan peningkatan dan penurunan harga premi.
FORMULASI STRATEGI TRANSFORMASI OPERASIONAL INDUSTRI PERTAHANAN MENGGUNAKAN INTEGRASI DELPHI-AHP DAN KERANGKA TRIPLE BOTTOM LINE: STUDI KASUS PT LEN INDUSTRI (PERSERO)
Pembentukan Holding BUMN Industri Pertahanan (DEFEND ID) pada tahun 2021 menandai tonggak sejarah yang signifikan bagi lanskap pertahanan Indonesia, menempatkan PT Len Industri (Persero) sebagai perusahaan induk yang bertugas memimpin ekosistem teknologi pertahanan nasional. Meskipun berhasil mencapai pendapatan komersial yang substansial dan memenuhi mandat strategis untuk menyokong kebutuhan alat peralatan pertahanan dan keamanan (Alpalhankam) domestik, PT Len Industri (Persero) menghadapi kerentanan struktural dan operasional yang krusial. Beroperasi dalam lingkungan manufaktur High-Mix Low-Volume (HMLV) yang sangat kompleks, perusahaan saat ini berjuang mengatasi kesenjangan kinerja operasional yang persisten. Masalah yang paling menonjol adalah Cost of Poor Quality (COPQ) yang mengalami peningkatan, menyerap antara 2,4% hingga 3,9% dari Cost of Revenue dari tahun 2022 hingga 2025. Erosi profitabilitas yang tersembunyi ini diperburuk oleh tingginya rasio penolakan (reject) dan pengerjaan ulang (rework), kekurangan kompetensi teknis, dan tidak adanya mekanisme transfer pengetahuan formal, yang menciptakan kerapuhan sistemik dalam kapasitas organisasi untuk mempertahankan kualitas. Oleh karena itu, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi transformasi operasional berbasis bukti yang berfokus pada dua pilar penting: pelembagaan Budaya Perbaikan Berkelanjutan (Continuous Improvement Culture) dan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (Human Capital Enhancement). Untuk memastikan evaluasi keberlanjutan organisasi yang komprehensif, strategi yang diusulkan dievaluasi menggunakan kerangka pengukuran kinerja Triple Bottom Line (TBL) tertimbang, yang mengintegrasikan dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang disesuaikan secara khusus dengan konteks industri pertahanan HMLV. Penelitian ini menggunakan paradigma pragmatisme melalui desain sekuensial eksploratori metode campuran (mixed-methods). Data kualitatif primer dikumpulkan secara cermat melalui wawancara semi-terstruktur dengan Dewan Direksi PT Len Industri (Persero) dan pengguna akhir utama dari Kementerian Pertahanan. Setelah eksplorasi kualitatif, metode Modified Delphi dua putaran yang melibatkan panel yang dikurasi dengan cermat yang terdiri dari 12 pakar digunakan. Proses ini bertujuan untuk memvalidasi dan menghitung bobot rasio penerapan (applicability-ratio) dari indikator kinerja TBL. Selanjutnya, Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk mengevaluasi, menimbang, dan memprioritaskan intervensi strategis yang diusulkan secara sistematis. Metode Modified Delphi berhasil memvalidasi kerangka kerja kuat yang terdiri dari 35 indikator kinerja TBL tertimbang yang dikontekstualisasikan untuk sektor pertahanan. Temuan menunjukkan bahwa metrik seperti COPQ dan Reject Rate (Ekonomi), Technology and Manufacturing Readiness Level (TRL/MRL), Transfer Pengetahuan (Sosial), dan Kepatuhan Regulasi Lingkungan (Lingkungan) muncul sebagai prioritas dengan bobot tertinggi. Evaluasi garis dasar (baseline) terhadap target strategis 2029 menunjukkan bahwa 12 dari 35 indikator saat ini berada jauh di bawah target, membenarkan kebutuhan mendesak untuk intervensi struktural. Lebih lanjut, analisis AHP secara kuantitatif menetapkan bahwa pelembagaan Budaya Perbaikan Berkelanjutan (bobot 60,2%) memegang prioritas dasar di atas Peningkatan Kapasitas SDM (bobot 39,8%). Di antara alternatif strategis yang dievaluasi, penerapan Lean Six Sigma Enterprise (LSS) menempati peringkat sebagai prioritas global teratas (31,31%), diikuti oleh Digital Manufacturing Integration (26,68%). Secara bersamaan, Knowledge Management System (KMS) dan Supply Chain Optimization (SCO) diidentifikasi melalui Matriks Prioritas sebagai langkah cepat (Quick Wins) yang sangat layak diterapkan dan memberikan dampak strategis yang substansial. Sebagai kesimpulan, tesis ini menyintesis temuan-temuan tersebut ke dalam peta jalan (roadmap) transformasi operasional 3 tahun yang preskriptif dan bertahap. Tahun fondasi pertama menekankan implementasi komprehensif metodologi 5S, manajemen visual, dan pembentukan Kantor Keunggulan Transformasi (Transformation Excellence Office). Tahun akselerasi kedua berfokus pada Value Stream Mapping dan integrasi Lean Six Sigma Green/Black Belt. Tahun kematangan terakhir melembagakan Total Productive Maintenance (TPM) dan budaya Kaizen yang mandiri. Untuk menjamin eksekusi yang berkelanjutan, studi ini sangat merekomendasikan integrasi inisiatif-inisiatif ini melalui arsitektur tata kelola yang kuat yang dikendalikan oleh sistem penyelarasan strategis Hoshin Kanri. Pada akhirnya, penelitian ini menyediakan kerangka kerja TBL pertama yang divalidasi secara empiris untuk industri pertahanan milik negara di Indonesia, menawarkan model strategis yang dapat direplikasi untuk produsen pertahanan sejenis.
PENGEMBANGAN PROGRAM NUMERIK UNTUK MENGESTIMASI NILAI MAGNITUDO MUTLAK ASTEROID MENGGUNAKAN FUNGSI FASE TIGA PARAMETER
Magnitudo mutlak (H) adalah parameter astronomi fundamental yang merepresentasikan kecerlangan intrinsik suatu benda langit. Untuk asteroid, nilai H menjadi sangat penting karena digunakan untuk menurunkan parameter fisis diameter, yang diperlukan dalam banyak aplikasi praktis seperti distribusi ukuran dan properti fisis populasi asteroid. Estimasi nilai H dari magnitudo tampak memerlukan pendekatan matematis yang kompleks guna mengompensasi fluktuasi akibat jarak geometris dan sudut fase orbit, khususnya akibat lonjakan kecerlangan non-linear dari efek oposisi di daerah sudut fase orbit kecil. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengembangkan pipeline komputasi numerik berbasis bahasa pemrograman Python untuk mengotomatisasi pemrosesan data fotometri deret waktu serta menghitung parameter kurva fase asteroid menggunakan model fungsi fase tiga parameter (H–G1–G2). Alur pemrosesan data diawali dengan interpolasi data efemeris, yang dilanjutkan dengan pengelompokan data observasi berdasarkan rentang sudut fase orbit menggunakan metode binning seragam dan algoritma Ck-means. Estimasi periode rotasi dilakukan melalui analisis spektral periodogram Lomb- Scargle. Morfologi kurva cahaya dari setiap kelompok sudut fase kemudian dicocokkan menggunakan deret Fourier untuk menghitung nilai magnitudo representatif (a0). Pada tahap akhir, nilai a0 dari seluruh rentang sudut fase orbit diekstrapolasi menggunakan metode kuadrat terkecil non-linear berbasis algoritma Levenberg-Marquardt untuk mendapatkan nilai magnitudo mutlak dan parameter kemiringan fungsi fase orbit. Keandalan program komputasi ini divalidasi menggunakan sampel pengamatan empiris dari lima asteroid yang mewakili berbagai kelas taksonomi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa implementasi algoritma non-linear berhasil mencegah distorsi galat dan mengonversi parameter fisis secara rasional. Penggunaan model tiga parameter terbukti memperhitungkan lonjakan kecerlangan yang disebabkan oleh efek oposisi di sudut fase kecil. Lebih lanjut, distribusi nilai parameter kemiringan G1 dan G2 yang dihitung oleh program terbukti memiliki korelasi fisis terhadap distribusi kelas taksonomi asteroid. Program komputasi yang dikembangkan terbukti tangguh, akurat, dan fleksibel untuk memfasilitasi analisis data fotometri asteroid.
STUDI ARAH ALIRAN AIR BAWAH PERMUKAAN DI KAWASAN KAMPUS ITB JATINANGOR MENGGUNAKAN METODE SELF-POTENTIAL (SP)
Penelitian ini bertujuan untuk memetakan arah aliran air bawah permukaan, mengidentifikasi karakteristik litologi akuifer, mengestimasi kedalaman perlapisan, serta menentukan zona recharge dan discharge di kawasan Kampus ITB Jatinangor. Metode yang digunakan adalah integrasi antara metode pasif SelfPotential (SP) untuk analisis lateral dan data sekunder Time-Domain Electromagnetic (TDEM) untuk analisis vertikal. Pengukuran SP dilakukan menggunakan konfigurasi fixed-base dengan menerapkan koreksi base-shift sepanjang lintasan pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai anomali SP di lokasi penelitian bervariasi antara -15 mV hingga 105 mV. Zona resapan (recharge zone) teridentifikasi di dataran tinggi bagian utara kampus, tepatnya di area lapangan bola, yang ditandai oleh anomali SP rendah hingga negatif (mencapai -15 mV) akibat mekanisme potensial elektrokinetik (streaming potential) saat air meresap secara vertikal. Sebaliknya, zona luapan (discharge zone) berada di dataran rendah bagian selatan kampus yang berimpit dengan lokasi dua danau ITB Jatinangor, ditandai oleh akumulasi anomali SP positif tinggi berkisar antara 65 mV hingga 105 mV akibat penumpukan kation. Berdasarkan kontras anomali tersebut, arah aliran air tanah terindikasi kuat bergerak secara lateral dari utara menuju selatan. Analisis vertikal melalui inversi 1D data TDEM (RMSE 5,27%) berhasil memvalidasi sistem hidrogeologi ini dengan mengidentifikasi struktur selangseling (interbedded) vulkanik, berupa lapisan akuifer terbuka (unconfined aquifer) pasir jenuh air pada kedalaman 7,0–13,0 meter (22,8 ?·m). Di bawahnya, ditemukan lapisan kedap air (aquitard) berupa lempung pada kedalaman 13,0–18,0 meter (8,7 ?·m) yang menyekat rangkaian sistem akuifer tertutup (confined aquifer) berupa pasir jenuh air pada kedalaman 18,0–25,0 meter (25,4 ?·m) dan 33,0–45,0 meter (13,6 ?·m). Integrasi kedua metode ini memberikan indikasi kualitatif yang kuat mengenai model hidrogeologi yang utuh dan konsisten di kawasan Kampus ITB Jatinangor.
KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KANGKUNG (IPOMOEA REPTANS VAR. BANGKOK LP-1) SEBAGAI RESPONS TERHADAP APLIKASI BIOSTIMULAN EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) SECARA FOLIAR
Produksi tanaman kangkung di Indonesia menunjukkan tren penurunan sehingga diperlukan upaya peningkatan produktivitas melalui pendekatan pertanian berkelanjutan. Salah satu inovasi yang berkembang adalah pemanfaatan biostimulan berbasis bahan alami, seperti ekstrak daun kelor (Moringa oleifera), yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Namun, informasi mengenai efektivitas aplikasi foliar ekstrak daun kelor pada tanaman kangkung masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi ekstrak daun kelor secara foliar terhadap pertumbuhan vegetatif, kandungan pigmen fotosintesis, biomassa, serta menentukan konsentrasi paling efektif pada tanaman kangkung (Ipomoea reptans var. Bangkok LP-1). Penelitian dilaksanakan pada Oktober–November 2025 di Screenhouse SITH ITB Jatinangor menggunakan Rancangan Acak Lengkap satu faktor dengan empat taraf perlakuan, yaitu P0 (kontrol), P1 (1:10), P2 (1:20), dan P3 (1:30), masing-masing lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan vegetatif, kadar klorofil (SPAD), kadar karotenoid, biomassa basah dan kering (total, tajuk, dan akar), serta rasio tajuk akar. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak daun kelor tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif, indeks luas daun, kadar klorofil, dan rasio tajuk akar, namun berpengaruh nyata terhadap kadar karotenoid dan biomassa tanaman. Uji lanjut DMRT menunjukkan bahwa perlakuan P1 (1:10) menghasilkan kadar karotenoid tertinggi sebesar 0,146 mg g?¹ dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan lainnya. Pada parameter biomassa, perlakuan P1 menghasilkan bobot basah total, tajuk, dan akar masing-masing sebesar 111,82 g, 71,83 g, dan 39,99 g, serta bobot kering total, tajuk, dan akar sebesar 11,60 g, 6,35 g, dan 5,24 g, yang menunjukkan akumulasi biomassa tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya, dengan perbedaan nyata terutama pada biomassa total berdasarkan uji lanjut DMRT, sementara komponen tajuk dan akar menunjukkan pola respons yang serupa. Hasil ini menunjukkan bahwa respons utama tanaman terhadap aplikasi ekstrak daun kelor lebih tercermin pada peningkatan akumulasi biomassa dan kandungan karotenoid dibandingkan pada perubahan parameter pertumbuhan vegetatif yang diamati. Berdasarkan hasil penelitian, aplikasi ekstrak daun kelor secara foliar pada konsentrasi 1:10 (P1) merupakan perlakuan paling efektif dalam meningkatkan kandungan karotenoid dan biomassa tanaman kangkung, tanpa memberikan pengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan vegetatif pada kondisi penelitian ini.
RENCANA IMPLEMENTASI KAWASAN EKO-INDUSTRI MINERAL STRATEGIS YANG DIDUKUNG KECERDASAN BUATAN DI BANGKA BELITUNG
Studi kasus akhir ini membahas Bangka Strategic Mineral Eco Estate (BSMEE) sebagai model implementasi hilirisasi mineral strategis di Bangka Belitung. Provinsi ini memiliki sejarah panjang dalam pertambangan timah serta potensi mineral ikutan, seperti logam tanah jarang, zirkon, kuarsa berkadar tinggi, dan ilmenit. Namun, ekosistem mineral yang ada masih terfragmentasi antara kegiatan pertambangan, pengolahan, logistik, perencanaan kawasan industri, tata kelola data, dan koordinasi kelembagaan. Akibatnya, nilai tambah mineral belum sepenuhnya tertangkap di tingkat daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif melalui telaah kebijakan, analisis data sekunder, kajian literatur eco-industrial park, serta masukan dari wawancara pemangku kepentingan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama bukan terletak pada ketiadaan sumber daya mineral atau kawasan industri, melainkan pada lemahnya keterhubungan antara pasokan bahan baku, kapasitas pengolahan, infrastruktur, sistem data, dan kewenangan kelembagaan. Karena itu, BSMEE tidak hanya diposisikan sebagai kawasan industri, tetapi sebagai ekosistem mineral yang terkoordinasi. Model yang diusulkan menggabungkan klaster industri, infrastruktur bersama, industrial symbiosis, sistem Big Data and AI, dan tata kelola bertahap. Implementasinya perlu dimulai dari penyelarasan kelembagaan, pemetaan bahan baku dan produk samping, standardisasi data, pengembangan dasbor digital awal, serta persiapan anchor tenant sebelum masuk ke investasi hilir berskala besar. Penelitian ini memberikan kerangka praktis untuk mendorong Bangka Belitung dari wilayah berbasis mineral hulu menuju ekosistem mineral strategis yang lebih terintegrasi, terlacak, dan bernilai tambah.
ANALISIS NEUTRONIK DESAIN MOLTEN SALT REACTORFUJI DENGAN KOMBINASI ISOTOP U DAN PU SEBAGAI BAHAN FISIL AWAL
Molten salt reactor (MSR), termasuk dalam daftar reaktor generasi IV, menggunakan kombinasi bahan bakar dan pendingin yang terkandung dalam lelehan garam. Pada penelitian, studi neutronik dilakukan pada MSR tipe FUJI-12 dan FUJI-U3 yang dikembangkan oleh International Thorium Molten-Salt Forum (ITMSF) Jepang menggunakan modul PIJ dan CITATION dari SRAC2006.. Pendingin yang digunakan adalah FliBe atau LiF-BeF2 dan dicampur dengan berbagai kombinasi bahan bakar berbasis U dan Pu dalam kondisi terpisah maupun tergabung. Penelitian ini membahas tentang penentuan komposisi bahan bakar optimum yang mencapai kritikalitas sesuai dengan referensi pada desain FUJI-12 dan FUJI-U3. Selanjutnya dilakukan tiga skenario refuelling (pengembalian atomic number density isotop tertentu ke kondisi awal) setiap 40 hari sekali. Skenario refuelling yang digunakan adalah pengembalian bahan bakar (tanpa thorium), thorium, dan bahan bakar serta thorium. Proses refuelling disederhanakan dengan menggunakan bahasa pemrograman Bash berbasis Linux. Power Peaking Factor (PPF) merupakan parameter yang berhubungan dengan stabilitas, keamanan, dan efisiensi reaktor. PPF yang rendah menunjukkan reaktor memiliki distribusi rapat daya yang baik agar spek keselamatan reaktor dari segi pemerataan daya reaktor MSR meningkat. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah setiap varian bahan bakar memiliki skenario refuelling unggulan tersendiri yang dapat menjaga kondisi superkritis pada reaktor lebih lama, menjaga konsistensi PPF reaktor walaupun desain tidak mempertimbangkan pemerataan spektrum fluks neutron.