π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPENGEMBANGAN SISTEM DETEKSI DAN KLASIFIKASI KEGAGALAN AKIBAT KETIDAKSEIMBANGAN MEKANIK PADA MOTOR BRUSHLESS DIRECT CURRENT DENGAN FITUR CONTINUOUS TRAINING DAN CONTINUOUS DEPLOYMENT
Dalam satu dekade terakhir, penjualan mobil listrik telah meningkat secara signifikan. Dengan meningkatnya penjualan mobil listrik, pangsa pasar global motor brushless direct current (BLDC) juga terpengaruh secara langsung karena merupakan penggerak utama (prime mover) dari mobil listrik. Sebagai penggerak utama, perawatan motor BLDC menjadi penting karena kerusakan yang terjadi kepada motor akan berpengaruh langsung terhadap performa mobil listrik dan keselamatan penumpang. Karena itu, metode perawatan prediktif menjadi metode yang paling efektif dan efisien secara biaya dalam jangka panjang. Salah satu konsep dalam perawatan prediktif adalah prognostic health management (PHM), yang mempunyai 5 langkah utama yaitu: akuisisi data, pemrosesan sinyal, diagnosis, prognosis, dan pengambilan keputusan. Seiring dengan berkembangnya teknologi, diagnosis serta prognosis kegagalan pada mesin dipermudah dengan adanya kecerdasan buatan. Melalui proses deep learning, sebuah model kecerdasan buatan (AI model) mampu mempelajari pola dari suatu sistem yang kompleks dan non-linier. Namun, performa dan kapabilitas dari model untuk melakukan inferensi sangat bergantung kepada data masukan yang digunakan. Kondisi operasional dari motor BLDC yang sangat dinamis, mengakibatkan perubahan data melalui faktor yang bervariasi seperti noise, sensitivitas sensor yang menurun dan lainnya. Fenosmena tersebut disebut sebagai temporal data drift, yaitu pergeseran karakteristik data yang disebabkan oleh waktu. Temporal data drift menyebabkan penurunan performa model yang disebut sebagai temporal model degradation. Masalah ini mengarahkan tren riset ke suatu bidang baru bernama machine learning operations (MLOps), yaitu suatu praktik yang bertujuan untuk mengintegrasikan proses pengembangan dan perawatan model kecerdasan buatan menjadi satu proses yang kontinu, dengan menerapkan fitur continuous training, continuous delivery, dan continuous integration. Penelitian ini betujuan untuk mengembangkan sistem deteksi dan klasifikasi kegagalan ketidakseimbangan mekanik pada motor BLDC yang dilengkapi dengan fitur continuous training dan continuous delivery (CT/CD) dari MLOps. Untuk melatih model kecerdasan buatan yang mampu mendeteksi kegagalan yang terjadi pada motor, purwarupa motor yang dilengkapi dengan sensor dibangun. Hipotesisnya dengan diterapkannya MLOps, model kecerdasan buatan dapat beradaptasi terhadap data yang dinamis. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dalam aplikasi MLOps pada embedded system di bidang rekayasa dalam industri otomotif. Sebagai referensi, penelitian ini menggunakan model arsitektur MLOps bersifat open source yang dikembangkan oleh Yumo Luo di tahun 2023 dimana sistem MLOps digunakan untuk mempertahankan performa dari model kecerdasan buatan dalam lingkungan operasional yang dinamis. Karakteristik dari sistem MLOps open source yang bersifat modular dan fleksibel membuat sistem ini kompatibel untuk menunjang siklus hidup (life cycle) model pembelajaran mesin pada embedded system. Dengan diterapkannya MLOps pada kasus deteksi kegagalan juga memperluas cakupan penelitian yang dilakukan sebelumnya dengan menyediakan evaluasi dari kapabilitas sistem lewat studi kasus empiris. Tahapan penelitian mencakup dua tahap utama yaitu pengembangan model deteksi serta klasifikasi kegagalan dan pengembangan arsitektur MLOps. Pengembangan model deteksi dan klasifikasi diawali dengan membangun purwarupa yang merepresentasikan motor dalam keadaan ketidakseimbangan mekanik dengan menerapkan beban eksentrik pada cakram yang terpasang pada shaft yang terhubung ke rotor. Sejumlah eksperimen kemudian dilakukan untuk mengakuisisi sinyal getaran dari motor dalam keadaan fault. Eksperimen yang dilakukan mempunyai 3 variasi kecepatan, untuk merepresentasikan lingkungan operasional yang dinamis, dan 5 variasi beban. Total dataset yang diperoleh berjumlah 15 dataset dengan total poin data berjumlah 600.000. Data yang diperoleh melalui eksperimen kemudian dilatih menggunakan beberapa algoritma seperti convolutional neural network (CNN), long-short term memory (LSTM), dan long-short term memory β fully connected network (LSTM-FCN). Melalui pelatihan model ditemukan bahwa model yang dilatih dengan algoritma CNN mempunyai kompatibilitas yang paling tinggi untuk diterapkan pada sistem MLOps, dengan akurasi pelatihan dari CNN mencapai 99.46% dan waktu latih 14 detik. Melalui sistem MLOps, performa model saat melakukan inferensi dapat dimonitor. Penurunan performa model kemudian memicu suatu peringatan.
PEMODELAN KONSEP BANDGAP EKONOMI MENGGUNAKAN ALGORITMA CLUSTERING UNTUK EVALUASI EFEKTIVITAS KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PEMERATAAN KESEJAHTERAAN EKONOMI DI WILAYAH INDONESIA
Ketimpangan ekonomi antarwilayah di Indonesia masih menjadi tantangan pembangunan, di mana kebijakan subsidi pemerintah yang bersifat seragam sering kali kurang efektif karena tidak mempertimbangkan kondisi spesifik tiap daerah. Penelitian ini mengembangkan konsep bandgap ekonomi, yaitu analogi dari teori bandgap material dalam fisika semikonduktor, untuk mengukur celah antara kondisi ekonomi aktual suatu wilayah dengan kondisi ideal yang ingin dicapai. Metode clustering K-Means++ digunakan untuk mengelompokkan 32 provinsi beserta kota/kabupaten di Indonesia (data tahun 2022) berdasarkan tujuh indikator kesejahteraan ekonomi, yaitu upah Minimum Provinsi, pengeluaran rumah tangga, tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, Gini Ratio, Indeks Pembangunan Manusia, dan Produk Domestik Regional Bruto. Hasil pemodelan menghasilkan dua kelompok wilayah, yaitu cluster dengan kebutuhan subsidi kecil dan cluster dengan kebutuhan subsidi besar, yang keabsahan pemisahannya dikonfirmasi melalui reduksi dimensi Principal Component Analysis (PCA). Pendekatan fungsi distribusi Fermi- Dirac kemudian diterapkan untuk mengubah tingkat kerentanan ekonomi wilayah menjadi indeks kebutuhan subsidi yang terukur, sehingga penentuan prioritas bantuan tidak lagi bersifat subjektif melainkan berbasis kuantifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi tidak selalu memiliki bandgap ekonomi kecil, karena kesejahteraan masyarakat turut dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, ketimpangan, dan tekanan biaya hidup. Model ini terbukti mampu mengidentifikasi wilayah prioritas subsidi secara objektif dan dapat menjadi dasar bagi perumusan kebijakan pemerataan ekonomi yang lebih tepat sasaran.
ALAT MEKANIS OTOMATIS UNTUK MENGATUR DAN MENGELUARKAN OBAT DALAM BERBAGAI UKURAN.
Ketidakpatuhan minum obat yang disebabkan oleh kompleksitas polifarmasi merupakan tantangan kritis dalam bidang kesehatan, khususnya bagi pasien lanjut usia yang membutuhkan dosis dan dimensi pil yang beragam. Sistem dispenser otomatis standar tidak memiliki adaptabilitas universal yang diperlukan untuk menangani beragam ukuran obat, sehingga menyebabkan kemacetan mekanis dan pengeluaran obat yang tidak konsisten. Makalah ini menyajikan perancangan dan validasi dispenser pil otomatis modular berpenggerak rantai yang direkayasa untuk mengakomodasi variasi geometri obat di dalam kemasan blister. Untuk memitigasi fluktuasi kecepatan kinematik dan getaran transversal yang disebabkan oleh efek poligon pada penggerak rantai, sebuah mekanisme penegang serpentine hasil cetak 3D yang dirancang khusus telah dimodelkan secara analitis dan diintegrasikan ke dalam sistem. Analisis videografi berkecepatan tinggi memvalidasi model kinematik teoretis, dengan menunjukkan variasi kecepatan operasional yang terstabilisasi sebesar 5,00%, yang mendekati prediksi teoretis. Pengujian keandalan tingkat sistem menggunakan konfigurasi pemuatan obat campuran secara acak pada 100 kali proses pengeluaran obat menghasilkan tingkat keberhasilan sebesar 99%. Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa integrasi antara perhitungan celah rel pemandu (guide rail) dan gaya penegangan yang disesuaikan berhasil menekan aksi kordal (chordal action), sehingga menghasilkan solusi yang andal dan dapat diskalakan secara mekanis untuk regimen polifarmasi
MODEL TERINTEGRASI GOVERNMENT VALUE CAPTURE DALAM RANTAI NILAI NIKEL (STUDI EXPORT VALUE, SMELTER MARGIN, DAN PENERIMAAN NEGARA 2017β2024)
dan sejak pelarangan ekspor bijih 2014 dan 2019 menempuh hilirisasi secara agresif. Namun selama 2017β2024 muncul paradoks fiskal: nilai ekspor melonjak ~848% hingga Rp 1.260,58 triliun, tetapi rasio penerimaan negara terhadap nilai ekspor turun dari 27,21% (2018) ke 11,59% (2024) jauh di bawah tolok ukur global (World Bank 20β25%, Chile 40%, Norwegia 78%). Akar masalahnya diduga fragmentasi data dan lemahnya koordinasi antar-lembaga, bukan hilirisasi itu sendiri. Penelitian ini bertujuan (1) mengidentifikasi faktor integrasi data penyebab rendahnya penerimaan negara; (2) merancang Nickel Value Chain Integrated Monitoring System (NVIMS) untuk mendeteksi anomali dan ketidaksesuaian pencatatan; serta (3) membangun prototipe dan mensimulasikan kesenjangan penerimaan yang dapat ditangkap, dengan mengkaji lima determinan (Export Value, Smelter Margin, Production Volume, Downstream Level, dan repatriasi DHE). Metode memadukan data panel 112 perusahaan nikel 2017β2024 (896 firm year observations) dari enam institusi dan harga LME/SHFE serta tujuh wawancara, dengan rekonsiliasi silang, Fishbone, dan simulasi what-if. Hasil penelitian mengidentifikasi 94 anomali dan empat ketidaksesuaian sistemik lintas lembaga, volume produksi, ekspor (?Rp 28 triliun/tahun), nilai ekspor realisasi DHE (?USD 5,7 miliar/Rp 85,5 triliun), pendapatan SPT nilai ekspor (?Rp 86,8 triliun/tahun; effective tax rate perusahaan asing hanya 5,99% terhadap tarif 22%), serta royalti actual normatif (?Rp 36 triliun/tahun) total kebocoran ?Rp 198,2 triliun per tahun dari sepuluh perusahaan terbesar. NVIMS tujuh lapis (37 modul, 122 tools) dirinci lengkap pada Layer 1β3 yang memenuhi 21 dari 36 sel Zachman. Simulasi tiga skenario memproyeksikan penerimaan menjadi Rp 63,6/79,5/95,4 triliun (rasio 20/25/30%) dan akumulasi Rp 150β250 triliun dalam lima tahun (ROI >800Γ; Perpres No. 76/2025). Kontribusi penelitian: model holistik government value capture, dataset terkomprehensif (112 perusahaan, delapan tahun) pertama untuk industri nikel Indonesia, serta penggunaan ganda Zachman Framework menjembatani Enterprise Architecture dan Extractive Industry Fiscal Governance.
SYNESTHESIA OF DELIGHT: PERPUSTAKAAN UMUM BERBASIS EXPERIENTIAL DESIGN SCHEMAS SEBAGAI RUANG BELAJAR INFORMAL DI BANDUNG
Bandung merupakan Kota besar dengan kepadatan penduduk tinggi yang didominasi oleh penduduk usia produktif. Berdasarkan data terbaru dari BPS (tahun 2024-2025), sekitar 65.62% atau sekitar 1.69 juta orang merupakan penduduk usia produktif di Bandung. Banyaknya jumlah penduduk ini perlu diwadahi dalam suatu ruang publik yang mendukung produktivitas dan tetap mementingkan kesejahteraan pengguna di dalamnya. Pertumbuhan minat baca penduduk indonesia juga ditandai dengan munculnya berbagai perpustakaan independen dan ruang baca swasta. Perkembangan minat baca dan produktivitas yang tidak diwadahi dalam ruang publik yang memadai ini kemudian memberikan celah bagi komersialisasi ruang publik dan pada akhirnya tidak inklusif. Dalam tugas akhir ini, solusi ruang yang diajukan adalah sebuah bangunan perpustakaan publik yang mampu mendefinisikan ulang konsep kaku perpustakaan konvensional atau pemahaman awam bahwa perpustakaan hanya sebagai gudang buku. Perpustakaan memiliki fungsi lain sebagai ruang rekreasi edukatif. Oleh karena itu, bangunan perpustakaan publik dalam tugas akhir ini juga difungsikan sebagai informal learning space. Dalam sintesisnya digunakan konsep experiential design schemas. Kerangka kerja ini menjadi alat untuk mengimplementasikan data spasial dan konsep yang ingin diterapkan ke dalam elemen arsitektural dengan melakukan gubahan dalam lima kelompok besar skema: kontras, gradient, flux, rhythm, dan sequence. Konsep-konsep dalam skema ini diterapkan untuk menghasilkan proses multisensori pada indra penerima dan menghasilkan pengalaman dalam penggunaan ruang. Perpustakaan publik dengan fungsi informal learning space ini mengorganisasikan elemen alami (angin dan cahaya matahari) dengankonsep dalam experiential design schemas sehingga bangunan dapat menjadi membran yang memfasilitasi interaksi antara pengguna dan elemen alami untuk meningkatkan kesejarhteraan pengguna. Bangunan ini terdiri dari 3 lantai utama dan rooftop. Lantai 1 merupakan area publik dengan cafe, lantai 2 berisi ruang baca dan ruang diskusi terbuka, serta lantai 3 berisi ruang baca dan lebih banyak ruang bersekat untuk privasi dan abience(ruang diskusi tertutup, pod individu, dan ruang multimedia). Ketiga lantai ini dihubungkan dengan satu elemen kunci dari konsep arsitektural yang digunakan, yaitu tangga multisensori. Kesimpulannya, bangunan perpustakaan publik dengan konsep eksperiensial desain skema ini mendemonstrasikan pendekatan konsep multisensori yang mampu meningkatkan kualitas belajar dan kesejahteraan pengguna di ruang publik yang dinamis.
STUDI EKSPERIMENTAL PERILAKU MONOTONIK DAN SIKLIK TANAH LEMPUNG LAUT TERKONSOLIDASI LEBIH DENGAN LAMINASI UNTUK DESAIN FONDASI LEPAS PANTAI
Perkembangan infrastruktur lepas pantai di Indonesia yang terus meningkat menuntut keandalan desain fondasi, yang sangat bergantung pada pemahaman perilaku tanah dasar laut, khususnya tanah lempung laut terkonsolidasi lebih (Overconsolidated Marine Clay, OCMC) yang umum dijumpai pada lingkungan sedimen laut. Pada beberapa lokasi, endapan OCMC tidak tersusun homogen, melainkan mengandung struktur laminasi berupa sisipan lanau dan pasir dengan ketebalan dan kontinuitas yang bervariasi. Kehadiran laminasi ini berpotensi mengubah perilaku mekanis tanah, baik pada pembebanan monotonik maupun siklik. Sementara itu, sebagian besar basis data dan model perilaku tanah yang digunakan dalam desain fondasi lepas pantai justru dikembangkan dari tanah lempung homogen, sehingga pengaruh laminasi terhadap respons OCMC belum dipahami secara memadai. Penelitian ini bertujuan mengkaji perilaku monotonik dan siklik tanah OCMC berlaminasi dari Teluk Bintuni, Indonesia, sekaligus mengevaluasi kesesuaian pendekatan Cyclic Contour Diagram (CCD) yang umum digunakan dalam analisis fondasi lepas pantai. Kajian difokuskan pada pengaruh struktur laminasi dan tingkat overkonsolidasi terhadap perkembangan regangan, kuat geser niralir, respons tekanan air pori, dan ketahanan siklik tanah. Penelitian ini juga menilai apakah CCD yang dikembangkan dari basis data Drammen Clay mampu merepresentasikan perilaku siklik tanah OCMC berlaminasi di lokasi penelitian. Program penelitian mencakup karakterisasi tanah melalui pengujian sifat indeks, identifikasi mineralogi dengan X-Ray Diffraction (XRD), serta identifikasi struktur internal sampel menggunakan Computed Tomography (CT-scan). Kondisi konsolidasi dievaluasi melalui interpretasi nilai Overconsolidation Ratio (OCR) dari data CPTu dan diverifikasi dengan hasil uji konsolidasi laboratorium. Perilaku monotonik dikaji melalui pengujian Direct Simple Shear (DSS) dan triaksial pada beberapa tingkat OCR, sedangkan perilaku siklik ditelaah melalui pengujian siklik DSS dan triaksial dengan berbagai kombinasi tegangan geser rata-rata dan tegangan geser siklik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tanah yang diteliti merupakan endapan OCMC dengan nilai OCR umumnya lebih besar dari dua, dengan struktur laminasi berupa sisipan lanau dan pasir non-plastis di dalam matriks lempung plastisitas tinggi. Hasil CT-scan memperlihatkan laminasi berbentuk sejajar hingga bergelombang. Pada pembebanan monotonik, peningkatan OCR menghasilkan kekakuan awal dan kuat geser niralir yang lebih tinggi, disertai kecenderungan perilaku yang lebih dilatif. Kuat geser niralir hasil DSS secara umum lebih rendah daripada hasil triaksial; perbedaan ini mengindikasikan adanya pengaruh anisotropi serta orientasi bidang geser terhadap struktur laminasi tanah. Pada pembebanan siklik, peningkatan amplitudo tegangan geser siklik mempercepat akumulasi regangan geser dan menurunkan jumlah siklus menuju kegagalan. Meskipun demikian, tanah OCMC berlaminasi dari Teluk Bintuni menunjukkan ketahanan siklik yang lebih tinggi dibandingkan Drammen Clay: pada rasio tegangan geser rata-rata, rasio tegangan geser siklik, dan tingkat OCR yang setara, jumlah siklus menuju kegagalan secara konsisten lebih besar daripada prediksi basis datanya. Temuan ini menunjukkan bahwa batas kegagalan siklik tanah OCMC berlaminasi berada pada posisi yang berbeda dari CCD referensi, sehingga baik CCD berbasis Drammen Clay maupun faktor penskalaan sederhana belum memadai untuk merepresentasikan perilaku siklik tanah di lokasi penelitian. Kebaruan penelitian ini terletak pada kajian eksperimental yang mengintegrasikan karakterisasi struktur laminasi, perilaku monotonik, dan perilaku siklik tanah OCMC berlaminasi dari Indonesia dalam satu kerangka evaluasi CCD. Penelitian ini memperlihatkan bahwa keberadaan laminasi memengaruhi respons mekanis tanah dan dapat menghasilkan perilaku siklik yang berbeda secara nyata dari tanah lempung homogen yang menjadi basis pengembangan CCD saat ini. Hasil penelitian memperdalam pemahaman perilaku tanah laut berlaminasi, memperkaya basis data perilaku siklik OCMC, serta memberikan justifikasi teknis bagi pengembangan CCD yang bersifat site-specific untuk meningkatkan keandalan desain fondasi lepas pantai pada kondisi tanah yang serupa.
PERANCANGAN WELLNESS CENTER LANSIA BERBASIS HIDROTERAPI DI CIPANAS GARUT DENGAN PENDEKATAN WELL-BEING
Mengingat populasi lansia di Indonesia saat ini, khususnya di Jawa barat, menunjukkan peningkatan yang pesat, inovasi fasilitas bagi lansia yang berfokus pada kualitas hidup dan kemandirian, bukan hanya sekadar perawatan, sangatlah dibutuhkan. Namun sayangnya, fasilitas dalam pemenuhan kebutuhan lansia yang bersifat preventif maupun kuratif dalam penuaan sekunder, mendukung aspek sosial, serta ramah terhadap ergonomi lansia belum menjadi perhatian penting di Indonesia. Hal ini memungkinkan lansia berisiko mengalami isolasi sosial sehingga pemenuhan kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Salah satu langkah untuk melakukan pencegahan degenerasi tersebut adalah dengan melakukan terapi. Jenis terapi yang dianjurkan untuk lansia yang memiliki keterbatasan motorik adalah hidroterapi atau terapi air. Sementara itu, Cipanas Garut memiliki sebuah potensi alam yaitu sumber air panas alami yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung kegiatan terapi air (hydrothermal). Tujuan utama perancangan ini adalah menghasilkan desain interior wellness center berbasis hidroterapi sebagai fasilitas penampung kegiatan terapeutik dan hunian sementara lansia yang secara aktif mendukung karakter well-being di masa tua dan sebagai tindakan preventif dari penuaan sekunder. Metode perancangan yang digunakan adalah Design Thinking dengan pendekatan studi kualititaf-empiris yaitu penggunaan beberapa fasilitas hidroterapi di Garut sebagai studi kasus dan pembanding untuk menganalisis integrasi kegiatan hidroterapi, serta salah satu fasilitas serupa yaitu Rukun Place Bandung sebagai benchmark hunian sementara. Proses perancangan dimulai dengan studi literatur yang mendalam mengenai Universal Design dan Environmental Psychology bagi lansia. Proyek berlokasi di Cipanas kota Garut yang dikenal dengan potensi alam dan sumber air panas alami sebagai terapi kesehatan (wellness tourism). Peluang besar lainnya dari lokasi ini adalah belum adanya fasilitas yang serupa sehingga proyek ini dapat dikembangkan menjadi ide dan penelitian baru. Konsep desain yang diusung adalah Modern Tropis Heritage yang berlandaskan prinsip Kontrass Kognitif dan memanfaatkan keindahan alam Gunung Guntur. Konsep ini dipilih agar dapat menyelaraskan suasana dengan kondisi Cipanas yang alami sehingga terasa hangat dan terapeutik. Impelementasi desain akan difokuskan menjadi 3 elemen, yaitu unit terapi air panas (hidroterapi), dan unit hunian sementara, dan unit wellness pelengkap lainnya seperti unit workshop, spa, sauna, medical checkup, snoezelen room, perpustakaan, indoor garden, gym, yoga, dan salon. Unit terapi air panas yang merupakan poin utama dari perancangan ini, dirancang sebagai fasilitas yang meningkatkan kesehatan lansia. Sedangkan Unit hunian akan memaksimalkan ergonomis, keamanan, dan kemudahan sehingga kemandirian lansia meningkat. Terakhir, pelengkap kegiatan mencakup fasilitas yang mendorong karakter well-being dan relaksasi. Prinsip kontras kognitif yaitu penggunaan kontras luminan tinggi dan material alami akan digunakan untuk mendukung navigasi, stimulasi, dan kenyamanan lansia secara menyeluruh. Hasil rancangan ini diharapkan dapat menjadi solusi prototipe perancangan fasilotas lansia yang holistic di Jawa Barat.
FORMULASI PRODUKSI BERAS ANALOG BERBASIS FERCAF MENGGUNAKAN EKSTRUDER SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN LOKAL
Ketergantungan impor beras mengancam ketahanan pangan Indonesia. Diversifikasi pangan melalui pemanfaatan surplus ubi kayu menjadi tepung FERCAF sebagai bahan baku beras analog merupakan solusi potensial. Penelitian ini bertujuan mengembangkan formulasi beras analog berbasis FERCAF menggunakan ekstruder. Penelitian ini dilakukan dua tahap. Tahap pertama mengoptimasi komposisi tepung (FERCAF 100%, 85%, 70%), rasio maizena:kacang hijau (1:2), kadar air (16%, 18%, 20%), dan prekondisi (tanpa, 10 menit). Formulasi terbaik (70% FERCAF, 20% kacang hijau, 10% maizena, kadar air 20%, prekondisi 10 menit) dipilih berdasarkan karakteristik fisik dan uji hedonik. Tahap kedua menambahkan hidrokoloid CMC atau karagenan (3%, 4%) pada formulasi tersebut. Produk diuji dimensi, derajat pecah, warna, tekstur (TPA), daya rehidrasi, daya kembang, dan sensori oleh 50 panelis. Hasil menunjukkan penambahan CMC 3% menghasilkan beras analog terbaik: dimensi bulir seragam (0,22Γ0,78Γ0,25 cm), derajat pecah 16,55%, kapasitas rehidrasi 424,58%, daya kembang 156,69%, hardness 11.839,55 g, adhesiveness mendekati nol, dan nilai ?E terkecil (mentah 1,8; matang 2,8). Uji sensori mengonfirmasi penerimaan tertinggi dan 72% panelis memilihnya sebagai alternatif beras konvensional. Karagenan justru menghasilkan nasi terlalu kohesif dan gagal mempertahankan bulir. Kesimpulannya, formulasi optimum adalah 70% FERCAF, 20% tepung kacang hijau, 10% maizena, air 20%, prekondisi 10 menit, dan CMC 3%, menghasilkan beras analog dengan karakteristik mendekati beras komersial.
ANALISIS MODEL PATERSON DALAM PREDIKSI INDEKS KEKASARAN PERMUKAAN JALAN BERDASARKAN DATA KONDISI LAPANGAN DI PROVINSI BANTEN
Indeks Kekasaran Permukaan Jalan (International Roughness Index, IRI) merupakan indikator utama kinerja fungsional perkerasan. Nilai IRI di masa mendatang umumnya diprediksi menggunakan Model Paterson yang dikembangkan dari basis data internasional, namun keandalannya pada kondisi lokal Indonesia yang beriklim tropis basah dengan curah hujan tinggi dan mengalami beban lalu lintas berat belum sepenuhnya teruji. Penelitian ini bertujuan menganalisis akurasi Model Paterson dalam memprediksi IRI, mengidentifikasi faktor penyebab deviasi prediksi, serta memodelkan hubungan antara IRI dan lendutan. Penelitian dilakukan pada ruas Jalan Nasional bertipe perkerasan lentur di Provinsi Banten menggunakan data IRI hasil pengukuran ROMDAS dan data lendutan Falling Weight Deflectometer, yang menghasilkan 385 segmen untuk periode satu tahun dan 146 segmen untuk periode dua tahun. Akurasi prediksi dievaluasi terhadap nilai IRI lapangan dan dilengkapi uji sensitivitas koefisien lingkungan, kalibrasi konstanta model, serta analisis regresi log-linear. Hasil penelitian menunjukkan Model Paterson hanya menangkap sekitar 52% variasi IRI pada periode satu tahun dan cenderung memberikan nilai lebih rendah daripada kondisi lapangan, dengan ketelitian yang menurun nyata pada periode dua tahun. Uji sensitivitas membuktikan deviasi prediksi bukan berasal dari koefisien lingkungan, melainkan dari karakteristik struktural perkerasan dan faktor lokal yang belum terakomodasi dalam model asli. Kalibrasi konstanta model dari 1,04 menjadi 1,1147 berhasil mengoreksi bias pada periode satu tahun, namun belum cukup meningkatkan akurasi pada periode 2 tahun. Hubungan antara IRI dan lendutan secara statistik terbukti sangat lemah. Sebagai alternatif, Model regresi lokal sederhana yang dikalibrasi langsung dengan data lapangan secara statistik lebih stabil dibandingkan Model Paterson. Kebaruan penelitian ini adalah pembuktian bahwa peningkatan akurasi prediksi IRI lebih efektif dicapai melalui kalibrasi lokal, dibandingkan penyesuaian koefisien, sekaligus memberikan kontribusi bagi pengembangan manajemen perkerasan jalan di Indonesia.
KLASIFIKASI ALZHEIMERβS DISEASE DAN FRONTOTEMPORAL DEMENTIA MENGGUNAKAN MACHINE LEARNING BERBASIS FITUR TOPOLOGI VISIBILITY GRAPH PADA DATA EEG DENGAN STIMULASI FOTIK
Penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer's Disease (AD) dan Frontotemporal Dementia (FTD) memerlukan diagnosis dini non-invasif, namun banyak studi klasifikasi Electroencephalogram (EEG) melaporkan akurasi tinggi yang belum tentu valid akibat kebocoran data. Penelitian ini menganalisis fitur topologi Visibility Graph (VG) yang membedakan kelompok pada EEG stimulasi fotik, mengevaluasi kinerja model, serta mengukur pengaruh kebocoran data terhadap estimasi kinerja. Data sekunder berupa rekaman EEG dari 88 subjek (36 AD, 23 FTD, 29 kontrol sehat/CN) dengan stimulasi fotik pada 5, 10, 15, dan 20 Hz. Setelah pra-pemrosesan standar dan dekomposisi spektral, tiap epoch ditransformasikan menjadi VG; dari graf diekstraksi dua belas fitur topologi, diseleksi secara statistik (p<0,01), dan direduksi dengan Principal Component Analysis. Klasifikasi memakai Logistic Regression, Support Vector Machine, Linear Discriminant Analysis, dan Artificial Neural Network pada empat tugas (AD vs CN, FTD vs CN, AD vs FTD, dan tiga kelas). Evaluasi memakai Leave-One-Subject-Out (LOSO), dengan 8-fold cross-validation dan Repeated Random Sub-sampling 85/15 sebagai pembanding. Analisis stabilitas menunjukkan pola pita khas (theta pada AD vs CN, delta pada FTD vs CN), dengan fitur efisiensi, bilangan independensi, dan average clustering paling sering terpilih. AD vs CN paling dapat dibedakan (akurasi 64,29%; AUC 0,78), sedangkan FTD vs CN paling sulit (55,32%). Penempatan seleksi fitur di luar validasi meningkatkan akurasi rata-rata secara semu sekitar 42 poin. Fitur VG memiliki daya pisah moderat namun tidak terbias, menegaskan pentingnya validasi yang bersih dari kebocoran data.
DINAMIKA EVAPOTRANSPIRASI PADA TAHUN 2015 β 2025 DI PEGUNUNGAN MALABAR BERDASARKAN ALGORITMA SEBAL
Hutan tropis berperan vital dalam siklus hidrologi hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), namun konversi lahan dapat menurunkan kapasitas tata air tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika temporal Evapotranspirasi Aktual (ETa) dan Forest Canopy Density (FCD) pada tiga kelas tutupan lahan (hutan alam, agroforestri kopi, perkebunan monokultur) di Pegunungan Malabar, hulu DAS Citarum, periode 2015β2025; menganalisis kekuatan hubungan FCDβETa pada berbagai skala temporal; serta mengkaji keterkaitan pola elevasi dan ketersediaan energi radiasi dengan ETa pada masing-masing kelas tutupan lahan. ETa diestimasi menggunakan algoritma SEBAL berbasis citra Landsat 8/9. Hasil menunjukkan hutan alam mendominasi kawasan pada 2025 (43%; FCD 82,79%), diikuti agroforestri (32,1%; FCD 65,88%) dan perkebunan (24,1%; FCD 50,22%). Two-Way ANOVA menunjukkan tutupan lahan [F(2,60)=57,803; p<0,001] dan musim [F(1,60)=21,509; p<0,001] berpengaruh signifikan tanpa interaksi bermakna [F(2,60)=0,911;p=0,408], dengan hierarki ETa Hutan Alam > Agroforestri > Perkebunan (Tukey HSD). Hutan alam relatif stabil dengan peningkatan pada 2023, mengindikasikan kondisi energy-limited; agroforestri menunjukkan tren pemulihan pasca-2018 hingga mencapai 75% kapasitas hutan alam; perkebunan paling rentan terhadap anomali curah hujan 2017β2019. FCD berkorelasi kuat dan konsisten terhadap ETa pada seluruh skala temporal (rtahunan = 0,945; rpenghujan = 0,903; rkemarau = 0,930). Hutan alam pada elevasi tertinggi menerima radiasi terendah namun ETa tertinggi (rasio ET/Radiasi 0,607, tertinggi dibanding agroforestri 0,453 dan perkebunan 0,357), mengindikasikan FCD berperan lebih besar dibandingkan radiasi dalam mempengaruhi ETa. Temuan ini menjadikan FCD indikator relevan untuk pengelolaan tata air hulu DAS Citarum.
PERANCANGAN PUSAT DESAIN OBJEK KEHIDUPAN SEHARI-HARI BANDUNG
Kota Bandung telah resmi dinobatkan sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) dalam kategori City of Design sejak 11 Desember 2015. Predikat internasional ini mencerminkan potensi besar kota dalam mengintegrasikan elemen kreatif ke dalam pembangunan urban. Namun, pada realitasnya, pencapaian tersebut masih menyisakan kesenjangan literasi yang signifikan di ranah domestik. Desain seringkali dipandang secara eksklusif sebagai komoditas estetika atau praktis milik kalangan profesional dan akademisi, sementara masyarakat luas sebagai perancang alami dalam kehidupan mereka sendiri belum merasakan dampak langsung maupun ruang partisipasi yang inklusif untuk berkembang bersama. Sebagai strategi untuk meruntuhkan dinding pembatas tersebut, penelitian perancangan ini menggunakan objek kehidupan sehari-hari sebagai titik masuk interaksi utama. Objek keseharian dipilih karena sifatnya yang familiar, dekat, dan bebas dari intimidasi struktural, sehingga mampu menjadi stimulan yang efektif dalam membumikan konsep desain yang kompleks menjadi lebih fungsional dan mudah dipahami oleh masyarakat awam. Tujuan besar dari perancangan Pusat Desain Objek Kehidupan Sehari-hari ini adalah menyatukan expert dan diffuse design di Kota Bandung ke dalam satu ekosistem yang kolaboratif. Secara spasial, fasilitas ini dirancang menggunakan pendekatan infrastruktur sosial dan desain interior yang partisipatif untuk memfasilitasi terjadinya transfer pengetahuan, lokakarya, hingga kokreasi antara desainer profesional dan komunitas masyarakat.
PEMBUATAN PETA PEMANTAUAN LINGKUNGAN SPASIO TEMPORAL UAP AIR DI BANDUNG UTARA
Pemetaan sebaran spasio-temporal uap air dilakukan di Bendungan Bantar Awi. Dam Bantar Awi dipilih menjadi area kajian karena memiliki fungsi sebagai penyedia air bagi PDAM dan PLTA setempat. Lokasi dam yang strategis juga memungkinkan analisis turunan untuk menjelaskan kondisi hidrologi dan klimatologi wilayah Kawasan Bandung Utara, serta usaha mitigasi bencana banjir pada hilir Sungai Cikapundung. Nilai Precipitable Water Vapor (PWV) menunjukan ketebalan air jika uap air pada kolom di titik pengamatan mengalami kondensasi. Metode estimasi uap air menggunakan komponen koreksi kesalahan atmosfer/Zenith Total Delay (ZTD) pengolahan data Global Navigation Satellite System (GNSS) metode diferensial statik. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan GNSS di Dam Bantar Awi selama 12 jam dari jam tujuh pagi WIB. Data GNSS diolah dua kali: dengan koreksi troposfer dan tanpa koreksi troposfer. Pengolahan diferensial statik menghilangkan sebagian besar pengaruh kesalahan dengan menyelisihkan persamaan GNSS. Kesalahan yang tersisa ketika pengolahan tidak menggunakan koreksi atmosfer mempengaruhi estimasi tinggi titik pengukuran. Oleh karena itu, selisih tinggi solusi dengan dan tanpa koreksi troposfer menunjukan kesalahan akibat troposfer ke arah zenith. Nilai uap air kemudian dapat diestimasi menggunakan selisih tinggi tersebut. Hasil pengolahan adalah peta sebaran spasial uap air Dam Bantar Awi untuk tiap satu jam interval. Peta menunjukan variasi uap air dan dapat dikaitkan dengan pergerakan matahari dan massa udara. Topografi area Bantar Awi juga berpengaruh terhadap pergerakan uap air. Kondisi topografi menentukan keterbukaan titik-titik pengamatan terhadap matahari serta arah gerak massa udara. Titik-titik pengamatan yang mendapatkan sinar matahari pada suatu jam interval memiliki nilai PWV besar yang menurun pada jam interval setelahnya ketika tertutup dari matahari. Kejadian antropogenik dapat terekam dan ditunjukan melalui peta yang kami buat. Pada pengambilan data GNSS, terjadi pembakaran sampah di sekitar area pengerjaan. Asap pembakaran menambah kesalahan yang memperbesar nilai koreksi ZTD sehingga terjadi over-estimasi PWV. Pembakaran sampah terlihat sebagai nilai ekstrem pada hasil peta yang menunjukan kemampuan produk kami sebagai alat memonitor kondisi lingkungan. Pengujian produk dilakukan dengan membandingkan pola sebaran spasio-temporal dengan hasil dari metode Precise Point Positioning (PPP). Hasil pengujian menunjukan kesamaan pola sebaran uap air untuk jam-jam pengamatan di sore hari.
PEMBUATAN PETA PEMANTAUAN LINGKUNGAN SPASIO TEMPORAL UAP AIR DI BANDUNG UTARA
Pemetaan sebaran spasio-temporal uap air dilakukan di Bendungan Bantar Awi. Dam Bantar Awi dipilih menjadi area kajian karena memiliki fungsi sebagai penyedia air bagi PDAM dan PLTA setempat. Lokasi dam yang strategis juga memungkinkan analisis turunan untuk menjelaskan kondisi hidrologi dan klimatologi wilayah Kawasan Bandung Utara, serta usaha mitigasi bencana banjir pada hilir Sungai Cikapundung. Nilai Precipitable Water Vapor (PWV) menunjukan ketebalan air jika uap air pada kolom di titik pengamatan mengalami kondensasi. Metode estimasi uap air menggunakan komponen koreksi kesalahan atmosfer/Zenith Total Delay (ZTD) pengolahan data Global Navigation Satellite System (GNSS) metode diferensial statik. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan GNSS di Dam Bantar Awi selama 12 jam dari jam tujuh pagi WIB. Data GNSS diolah dua kali: dengan koreksi troposfer dan tanpa koreksi troposfer. Pengolahan diferensial statik menghilangkan sebagian besar pengaruh kesalahan dengan menyelisihkan persamaan GNSS. Kesalahan yang tersisa ketika pengolahan tidak menggunakan koreksi atmosfer mempengaruhi estimasi tinggi titik pengukuran. Oleh karena itu, selisih tinggi solusi dengan dan tanpa koreksi troposfer menunjukan kesalahan akibat troposfer ke arah zenith. Nilai uap air kemudian dapat diestimasi menggunakan selisih tinggi tersebut. Hasil pengolahan adalah peta sebaran spasial uap air Dam Bantar Awi untuk tiap satu jam interval. Peta menunjukan variasi uap air dan dapat dikaitkan dengan pergerakan matahari dan massa udara. Topografi area Bantar Awi juga berpengaruh terhadap pergerakan uap air. Kondisi topografi menentukan keterbukaan titik-titik pengamatan terhadap matahari serta arah gerak massa udara. Titik-titik pengamatan yang mendapatkan sinar matahari pada suatu jam interval memiliki nilai PWV besar yang menurun pada jam interval setelahnya ketika tertutup dari matahari. Kejadian antropogenik dapat terekam dan ditunjukan melalui peta yang kami buat. Pada pengambilan data GNSS, terjadi pembakaran sampah di sekitar area pengerjaan. Asap pembakaran menambah kesalahan yang memperbesar nilai koreksi ZTD sehingga terjadi over-estimasi PWV. Pembakaran sampah terlihat sebagai nilai ekstrem pada hasil peta yang menunjukan kemampuan produk kami sebagai alat memonitor kondisi lingkungan. Pengujian produk dilakukan dengan membandingkan pola sebaran spasio-temporal dengan hasil dari metode Precise Point Positioning (PPP). Hasil pengujian menunjukan kesamaan pola sebaran uap air untuk jam-jam pengamatan di sore hari.
PEMBUATAN PETA PEMANTAUAN LINGKUNGAN SPASIO TEMPORAL UAP AIR DI BANDUNG UTARA
Pemetaan sebaran spasio-temporal uap air dilakukan di Bendungan Bantar Awi. Dam Bantar Awi dipilih menjadi area kajian karena memiliki fungsi sebagai penyedia air bagi PDAM dan PLTA setempat. Lokasi dam yang strategis juga memungkinkan analisis turunan untuk menjelaskan kondisi hidrologi dan klimatologi wilayah Kawasan Bandung Utara, serta usaha mitigasi bencana banjir pada hilir Sungai Cikapundung. Nilai Precipitable Water Vapor (PWV) menunjukan ketebalan air jika uap air pada kolom di titik pengamatan mengalami kondensasi. Metode estimasi uap air menggunakan komponen koreksi kesalahan atmosfer/Zenith Total Delay (ZTD) pengolahan data Global Navigation Satellite System (GNSS) metode diferensial statik. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan GNSS di Dam Bantar Awi selama 12 jam dari jam tujuh pagi WIB. Data GNSS diolah dua kali: dengan koreksi troposfer dan tanpa koreksi troposfer. Pengolahan diferensial statik menghilangkan sebagian besar pengaruh kesalahan dengan menyelisihkan persamaan GNSS. Kesalahan yang tersisa ketika pengolahan tidak menggunakan koreksi atmosfer mempengaruhi estimasi tinggi titik pengukuran. Oleh karena itu, selisih tinggi solusi dengan dan tanpa koreksi troposfer menunjukan kesalahan akibat troposfer ke arah zenith. Nilai uap air kemudian dapat diestimasi menggunakan selisih tinggi tersebut. Hasil pengolahan adalah peta sebaran spasial uap air Dam Bantar Awi untuk tiap satu jam interval. Peta menunjukan variasi uap air dan dapat dikaitkan dengan pergerakan matahari dan massa udara. Topografi area Bantar Awi juga berpengaruh terhadap pergerakan uap air. Kondisi topografi menentukan keterbukaan titik-titik pengamatan terhadap matahari serta arah gerak massa udara. Titik-titik pengamatan yang mendapatkan sinar matahari pada suatu jam interval memiliki nilai PWV besar yang menurun pada jam interval setelahnya ketika tertutup dari matahari. Kejadian antropogenik dapat terekam dan ditunjukan melalui peta yang kami buat. Pada pengambilan data GNSS, terjadi pembakaran sampah di sekitar area pengerjaan. Asap pembakaran menambah kesalahan yang memperbesar nilai koreksi ZTD sehingga terjadi over-estimasi PWV. Pembakaran sampah terlihat sebagai nilai ekstrem pada hasil peta yang menunjukan kemampuan produk kami sebagai alat memonitor kondisi lingkungan. Pengujian produk dilakukan dengan membandingkan pola sebaran spasio-temporal dengan hasil dari metode Precise Point Positioning (PPP). Hasil pengujian menunjukan kesamaan pola sebaran uap air untuk jam-jam pengamatan di sore hari.