📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenKERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN MULTI-KRITERIA UNTUK PEMILIHAN STRATEGI PENINGKATAN KEANDALAN AUXILIARY BOILER PADA SISTEM UTILITAS KILANG: STUDI KASUS DI PT PERTAMINA PATRA NIAGA RU IV CILACAP
Permasalahan keandalan auxiliary boiler 151B501 pada sistem utilitas PT Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap merupakan persoalan pengambilan keputusan strategis, bukan semata-mata persoalan teknis. Sebagai peralatan utilitas kritikal pendukung RFCC, gangguan pada boiler ini dapat memengaruhi stabilitas suplai steam, kontinuitas operasi, risiko keselamatan, dan keandalan kilang. Beberapa strategi penanganan telah tersedia, namun masing-masing memiliki trade-off dari sisi keandalan, keselamatan, implementasi, fleksibilitas operasi, biaya, dan risiko. Penelitian ini menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mengevaluasi empat alternatif strategi berdasarkan lima kriteria utama: Operational Reliability, Safety, Operational Flexibility, Ease of Implementation, serta Cost and Risk Implications. Penilaian diperoleh dari stakeholder internal yang mewakili fungsi Engineering, Operation, Maintenance, dan Management, kemudian diolah melalui pairwise comparison, uji konsistensi, agregasi penilaian, dan perhitungan prioritas global. Hasil group AHP menunjukkan bahwa Safety dan Operational Reliability menjadi kriteria paling dominan, dengan kontribusi gabungan sekitar 68,9% dari total bobot. Comprehensive Physical Intervention muncul sebagai strategi yang paling diprioritaskan, diikuti oleh Partial Repair Strategy, Enhanced Monitoring and Decision Support, dan Operational Control and Discipline Strategy. Analisis sensitivitas terhadap perubahan bobot Safety sebesar ±10% menunjukkan ranking tetap stabil dalam skenario pengujian tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa AHP dapat menjadi kerangka pengambilan keputusan yang terstruktur, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan untuk mendukung pemilihan strategi peningkatan keandalan peralatan kritikal.
SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI
Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.
SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI
Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.
PENGEMBANGAN KERANGKA KERJA LABOR MARKET ANALYTICS BERBASIS LARGE LANGUAGE MODEL (LLM) UNTUK TRANSFORMASI TRAINING NEEDS ANALYSIS (STUDI KASUS: BALAI LATIHAN KERJA PROVINSI JAWA BARAT)
Akselerasi teknologi di era Industri 4.0 memicu kesenjangan kompetensi (skill mismatch) yang signifikan khususnya pada sektor industri manufaktur. Ditinjau dari perspektif Socio-Technical System, fenomena ini merupakan wujud asinkronisasi antara subsistem sosial dan subsistem teknis, di mana laju adaptasi kurikulum pendidikan atau pelatihan kerap tertinggal oleh pesatnya evolusi teknologi industri. Dampak dari ketidakselarasan struktural ini melandasi tingginya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Jawa Barat, yang secara ironis justru didominasi oleh lulusan pendidikan vokasi (SMK) di tengah masifnya konsentrasi kawasan industri. Kondisi tersebut mengonfirmasi adanya ketidakefektifan pada program pendidikan atau pelatihan berjalan. Mengangkat Balai Latihan Kerja (BLK) Provinsi Jawa Barat sebagai studi kasus, ketidakseimbangan ini berakar pada implementasi metode Training Needs Analysis (TNA) konvensional yang kurang optimal karena keterbatasan ukuran sampel, inefisiensi waktu operasional, risiko bias informasi akibat responden non-teknis, serta tingginya beban anggaran dalam pelaksanaanya. Guna memutus siklus tersebut, penelitian ini mengembangkan kerangka kerja Labor Market Analytics otomatis berbasis data pipeline Large Language Model (LLM) untuk mentransformasi metodologi TNA menjadi sistem pengambilan keputusan yang objektif, efisien, dinamis, dan berbasis data. Metodologi penelitian ini mengoperasikan sebuah kerangka kerja analitik yang dirancang untuk memetakan kesenjangan kompetensi dua arah dan berskala besar dengan menyandingkan parameter kebutuhan (skill demand) dan pasokan (skill supply). Parameter demand diekstraksi melalui proses web scraping iklan lowongan kerja daring (JobStreet Indonesia) yang diintegrasikan dengan direktori Perusahaan Manufaktur Indonesia, menghasilkan 1.188 dataset terstruktur di bawah standardisasi Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) Kategori C (Industri Pengolahan). Fokus analisis dibatasi pada profil pekerjaan operator dan teknisi di 6 sektor industri manufaktur yang menjadi prioritas. Parameter supply diekstraksi dari dokumen kurikulum pelatihan kejuruan manufaktur di BLK Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menawarkan tiga kebaruan untuk ii mengatasi keterbatasan literatur terdahulu yaitu analisis kesenjangan dua arah (supply vs demand), pemetaan kompetensi subsektor manufaktur terintegrasi KBLI, dan efisiensi komputasi lokal (on-premise). Berbasis pendekatan Unsupervised Semantic menggunakan Google Gemma-3-4b dan Sentence Transformer, kerangka kerja ini mengatasi kelemahan NLP tradisional (belum memahami makna kata secara semantik) sekaligus beroperasi sepenuhnya tanpa API berbayar, sehingga sangat adaptif diimplementasikan pada instansi publik Hasil pengujian menunjukkan pipeline analitik ini efektif dijalankan pada infrastruktur standar dengan performa di atas ambang batas kelayakan 80%, mencatatkan F1-Score ekstraksi demand 87,05%, supply 81,76%, akurasi normalisasi semantik 80,18%, serta F1-Score klasifikasi 92,8%. Kerangka kerja ini berhasil menjaring data dari 751 entitas perusahaan unik yang terklasifikasi sektoral nasional KBLI dan mengekstraksi 3.099 entitas kompetensi unik. Skill gap analysis mengindentifikasi 179 kesenjangan kompetensi unik, dimana kurikulum eksisting baru mengakomodasi 19,4% kebutuhan industri. Melalui Analisis Pareto, diisolasi 47 kompetensi utama (vital few) pada kategori hard skills yang didominasi kebutuhan operasional, troubleshooting, dan pemahaman sistem mutu. Pada kategori soft skills, teridentifikasi 14 atribut kesenjangan unik yang didominasi aspek teamwork dan adaptability. Sementara pada pilar software skills, ditemukan kesenjangan mutlak pada penguasaan perangkat lunak administrasi dasar (Microsoft Office) dan rekayasa manufaktur (CAD/CAM). Berdasarkan temuan ini, dirumuskan tiga pilar rekomendasi strategis yakni adopsi pipeline LLM lokal sebagai instrumen utama TNA berkala; intervensi kurikulum terstruktur mencakup modul troubleshooting praktikum, pembelajaran berbasis project (Project-Based Learning), integrasi literasi computer khususnya CAD/CAM; serta tata kelola aspek surplus skills menjadi regulasi SOP dan job sheet wajib bengkel pelatihan.
SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI
Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.
SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI
Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.
SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI
Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.
RERAILING THE HEART OF THE METROPOLIS: TRANSFORMASI STASIUN GAMBIR MENGHADAPI RESTRUKTURISASI OPERASI KERETA API
Daerah Metropolitan Jakarta memiliki jaringan transportasi berbasis rel paling ekstensif di Indonesia. Sistem ini mencakup layanan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line, Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta, Lintas Raya Terpadu (LRT) Jakarta, Lintas Raya Terpadu (LRT) Jabodebek, serta kereta api jarak jauh (KAJJ). Untuk menghadapi pertumbuhan mobilitas perkotaan, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendorong restrukturisasi jaringan kereta api dan pengembangan konsep Transit Oriented Development (TOD) di sejumlah simpul transportasi. Salah satu langkah strategis dalam perkembangan ini adalah mempersiapkan Stasiun Manggarai sebagai pusat operasi utama KAJJ. Dampaknya, fungsi Stasiun Gambir selaku stasiun utama KAJJ kelas eksekutif dan campuran di Jakarta akan dialihkan. Layanan KRL Commuter Line yang terakhir beroperasi di Stasiun Gambir pada tahun 2012, diisukan akan direaktivasi sehingga Gambir kembali melayani KRL sekaligus beberapa perjalanan KAJJ. Pengembalian layanan KRL membuka peluang dan tantangan baru bagi stasiun ini. Peluang untuk menjadi simpul transportasi strategis berpotensi terhambat oleh risiko lonjakan pengguna (crowd surge) musiman akibat kegiatan di kawasan Medan Merdeka, sementara tata ruang dan integrasi moda eksisting saat ini dinilai belum optimal. Sehingga, diperlukan intervensi spasial untuk memitigasi gangguan operasional akibat konflik sirkulasi dan kepadatan pengguna yang tinggi. Proyek ini mengajukan perancangan ulang Stasiun Gambir guna merespons perluasan fungsi transit sekaligus mempertahankan fungsi ruang publik. Melalui pendekatan kajian regulasi, pemetaan kebutuhan spasial pengguna, dan sinkronisasi dengan rencana pengembangan Medan Merdeka, proyek ini diharapkan dapat meningkatkan integrasi antarmoda dan mewujudkan ruang kota yang adaptif terhadap dinamika mobilitas.
PERANCANGAN TAMAN KOTA DI JAKARTA DENGAN PENDEKATAN CONTEMPLATIVE LANDSCAPE MODEL (CLM) STUDI KASUS : TAMAN SUROPATI, JAKARTA PUSAT
Kesehatan mental menjadi isu yang semakin penting di kawasan perkotaan akibat tingginya tingkat stress masyarakat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau memiliki peran penting dalam nmendukung kesehatan mental. Salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk menilai kualitas lanskap yang mendukung kesehatan mental adalah Contemplative Landscape Model (Olszewska, 2023). Model ini mengevaluasi kualitas kontemplatif lanskap berdasarkan tujuh elemen utama yaitu : layers of the landscape (1), landform (2), biodiversity (3), color & light (4), compatibility (5), archetypal elements (6), serta character of peace & silence (7). Jakarta sebagai kota metropolitan terbesar di Indonesia dipilih sebagai konteks penelitian. Melalui kuesioner analisis pra-asesmen pada beberapa kota, Taman Suropati di Jakarta Pusat ditetapkan sebagai lokasi studi. Evaluasi CLM dilakukan pada 31 titik pengamatan yang tersebar di dalam taman. Hasil penilaian menunjukkan bahwa Taman Suropati berada pada kategori sedang, yang mengindikasikan bahwa taman memiliki potensi kontemplatif namun belum optimal dalam mendukung kesehatan mental pengunjung. Validasi eksploratif melalui kuesioner juga dilakukan untuk memperoleh perspektif pengguna terhadap kualitas ruang taman. Hasilnya menunjukkan bahwa kekuatan utama Taman Suropati terletak pada elemen archetypal elements, sementara beberapa elemen lain masih memiliki peluang untuk ditingkatkan. Sebagai taman kota yang berada di kawasan cagar budaya, pengembangan Taman Suropati memiliki sejumlah keterbatasan, terutama terkait elemen bentuk lahan (landform) dan struktur lanskap eksisting. Oleh karena itu, intervensi desain difokuskan pada elemen CLM yang masih dapat dikembangkan tanpa mengubah karakter utama taman. Proses perancangan menggunakan scene-based method, yaitu pendekatan yang berangkat dari persepsi visual pengguna pada berbagai titik pandang dan kemudian ditransformasikan ke dalam rencana tapak. Analisis spasial dilakukan untuk menentukan anchor point sebagai titik awal perancangan. Titik-titik dengan potensi skor CLM tinggi dikembangkan sebagai main contemplative nodes, sedangkan titik dengan potensi sedang hingga tinggi dikembangkan sebagai secondary contemplative nodes. Selanjutnya, seluruh node dihubungkan melalui rangkaian contemplative sequence untuk menciptakan pengalaman ruang yang mendukung refleksi, relaksasi, dan keterhubungan dengan alam. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pendekatan CLM dapat diterapkan sebagai kerangka desain dalam pengembangan taman kota untuk meningkatkan kualitas kontemplatif ruang dan mendukung kesehatan mental masyarakat tanpa mengubah struktur utama taman yang telah ada.
BRIDGING INFORMALITY HUNIAN TRANSISIONAL PRODUKTIF UNTUK PEMULUNG DI KOTA BANDUNG
Bandung merupakan salah satu kota dengan populasi terpadat di Indonesia yang sangat bergantung pada sektor formal pemerintah untuk pengelolaan sampahnya. Sektor ini beroperasi dalam sistem ekonomi linier (take-make-dispose) tradisional. Saat ini, Kota Bandung menghasilkan sekitar 430 ton sampah yang membutuhkan sekitar 154 ritase pengangkutan harian untuk dibuang. Namun, TPA Sarimukti sebagai tempat pemrosesan akhir utama yang melayani Kawasan Bandung Raya, hanya memiliki kapasitas sekitar 140 ritase harian, menyisakan 14 hingga 15 ritase sampah yang tidak terbuang setiap harinya. Hal ini memicu permasalahan besar berupa penumpukan limbah perkotaan. Berbagai solusi telah diupayakan oleh pemerintah, termasuk daur ulang limbah mandiri. Namun, kurangnya jangkauan komunitas dan edukasi publik membuat solusi ini kurang efektif. Solusi potensial lainnya, selain perbaikan sistem secara menyeluruh, adalah keterlibatan sektor informal yang didominasi oleh para pemulung. Berbeda dengan sektor formal, sektor informal ini beroperasi berdasarkan sistem ekonomi sirkular. Ekonomi sirkular mendefinisikan ulang konsep 'limbah' dengan memastikan bahwa material tidak pernah benar-benar dibuang dan justru didaur ulang kembali ke dalam rantai pasok menjadi material baru, menciptakan sistem rantai pasok tertutup (closed-loop system). Pemulung merupakan tulang punggung utama dari sistem ini. Namun, dalam posisinya di pengelolaan limbah skala makro ini, mereka mengalami kerentanan sosial-ekonomi dan konflik spasial antara kehidupan bertempat tinggal dan bekerja mereka. Hal ini tidak hanya memicu gesekan antar-kebutuhan individu, tetapi juga mengoyak tatanan sosial (social fabric) pemulung itu sendiri. Sebuah intervensi arsitektural diajukan untuk memecahkan permasalahan ini dengan mewadahi kebutuhan kerja sekaligus hunian para pemulung, sembari mendorong pemberdayaan sosial maupun finansial dari sektor informal tersebut. Rancangan ini melibatkan pusat pengolahan limbah yang didesain secara spesifik untuk alur kerja pemulung dalam memilah dan mengelola sampah. Unit-unit hunian juga dirancang untuk mewadahi kehidupan pribadi dan tempat tinggal para penghuni secara layak, sekaligus mendorong interaksi warga melalui ruang-ruang komunal. Arsitektur ini juga mengintegrasikan pemulung ke dalam tatanan perkotaan (urban fabric) dengan menciptakan ruang-ruang publik yang memperlihatkan realitas pengolahan limbah tersebut. Konsep desain yang diajukan meliputi transition from contamination, empowerment from stagnation, community & flexibility. Persyaratan desain kemudian dirumuskan untuk memenuhi konsep-konsep tersebut, contohnya melalui penerapan zonasi vertikal, pemeliharaan filter higienis (hygienic filters), dan penciptaan lanskap yang produktif serta fleksibel. Solusi arsitektural ini secara langsung menjawab SDG 10 (Reduce Inequalities / Mengurangi Ketimpangan) dan SDG 1 (No Poverty / Tanpa Kemiskinan).
KONSTRUKSI VISUALITAS BARONG KET SEBAGAI ARTEFAK BUDAYA BALI: KAJIAN ETNOGRAFIS PADA MAKNA DAN IDENTITAS
Barong Ket sebagai warisan budaya takbenda masyarakat Bali memiliki fungsi utama sebagai simbol religius yang merepresentasikan relasi spiritual antara manusia dan Dewa dalam tradisi Hindu Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji visualitas Barong Ket melalui tiga aspek utama: ide, tindakan, dan artefak. Kajian ini menempatkan visualitas Barong Ket dalam konteks komunikasi simbolik serta proses keberlanjutan identitas budaya lokal. Dengan pendekatan ini, penelitian berupaya mengisi kekosongan konseptual yang terdapat dalam studi sebelumnya yang umumnya hanya mendeskripsikan fungsi dan simbol topeng secara umum, tanpa membedah makna visual secara teoretis sebagai medium ekspresi dan negosiasi identitas. Fokus penelitian ini terletak pada visualitas Barong Ket sebagai praktik budaya, dengan menelaah bagaimana relasi bentuk dan warna berfungsi dalam komunikasi visual yang membangun dan memediasi makna simbolik serta identitas budaya masyarakat Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi visual, metodologi penelitian kualitatif dengan metode etnografis milik Spradley. Penelitian ini menyoroti peran warna dan bentuk sebagai titik kunci dalam pembentukan makna simbolik Barong Ket. Warna merah yang dominan direpresentasikan sebagai simbol pelindung dan kekuatan sakral yang berakar dari ajaran lontar dan mitos. Perbedaan warna dan bentuk di tiap daerah tidak semata-mata menunjukkan variasi artistik, tetapi menggambarkan proses negosiasi nilai budaya dan spiritual masyarakat yang hidup dinamis dan kontekstual. Elemen visual tersebut tidak hanya merujuk pada aspek estetika, tetapi juga mengandung pesan spiritual yang ditransmisikan melalui praktik budaya lintas generasi. Penelitian ini menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, visualitas Barong Ket merupakan konstruksi budaya berbasis ide, praktik, dan artefak. Bentuk dan warna berfungsi sebagai medium kehadiran dan komunikasi energi niskala. Bentuk tapel tidak hanya berfungsi estetis, tetapi bersama warna membentuk rasa dan energi simbolik yang berakar pada kosmologi Hindu Bali. Kedua, Barong Ket berfungsi sebagai simbol visual dan spiritual yang mengalami transformasi makna melalui negosiasi antara ranah sakral dan profan, tanpa menghilangkan daya sakralnya. Transformasi ini mencerminkan mekanisme adaptif budaya, termasuk perubahan identitas simbolik dari artefak budaya menjadi subjek spiritual hidup melalui proses ritualisasi. Ketiga, keberlanjutan identitas visual Barong Ket berlangsung secara dinamis melalui regenerasi partisipatif, khususnya dalam komunitas seni dan perlombaan, yang menegaskan Barong Ket sebagai entitas budaya hidup yang terus menegosiasikan makna, fungsi, dan visualitasnya dalam konteks sosial dan spiritual kontemporer. Kontribusi teoritis mengklarifikasi bahwa kontruksi visualitas dapat dilihat jauh melebihi itu karena ada arena metafisis dan ritualnya. pada pendekatan simbolik visual yang membuka ruang interpretasi baru tentang kedudukan objek budaya dalam relasi antara estetika, fungsi, dan makna. Dengan demikian, Barong Ket dipahami bukan hanya sebagai artefak budaya, tetapi sebagai entitas visual hidup yang mereproduksi dan menegosiasikan identitas budaya dalam konteks sosial dan spiritual yang dinamis.
MIND THE GAP: MENUTUP KESENJANGAN STRATEGI DAN EKSEKUSI, PERANCANGAN KERANGKA KOMPETENSI UNTUK TIM OPERASIONAL PENJUALAN DI PT. LTI
Organisasi sering kali menghadapi tantangan bukan dalam perencanaan strategi, melainkan dalam menerjemahkannya ke dalam eksekusi operasional yang konsisten. Dalam departemen Operasional Penjualan PT LTI, kinerja yang tidak merata, ekspektasi peran yang ambigu, dan penilaian manajerial yang inkonsisten mencerminkan adanya kesenjangan strategi-eksekusi yang persisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan tersebut melalui pengembangan kerangka kompetensi yang mendefinisikan standar perilaku dan kapabilitas yang diperlukan untuk eksekusi yang efektif, disertai pendekatan penilaian dan pengembangan kompetensi yang lebih objektif. Penelitian menggunakan desain kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pimpinan, karyawan aktif, dan mantan anggota tim. Perancangan kerangka mengintegrasikan pendekatan identifikasi kompetensi top-down berdasarkan McClelland (1973), Lucia dan Lepsinger (1999), serta Dessler (2012), dengan prinsip penambatan perilaku dari Spencer dan Spencer (1993), menghasilkan metodologi hibrida yang sesuai dengan konteks organisasi. Melalui analisis tematik, penelitian ini mengidentifikasi sebelas kompetensi kritis dan menerjemahkannya ke dalam indikator perilaku yang terukur melalui Behaviorally Anchored Rating Scale (BARS) Development Matrix. Kerangka ini diujicobakan kepada 116 karyawan Operasional Penjualan (99 Store Manager dan 17 District Manager) dan divalidasi oleh pimpinan senior, yang mengonfirmasi kesesuaiannya dengan observasi lapangan serta mendukung urutan implementasi yang dimulai dari tingkat Operations Manager. Rencana Pelatihan dan Pengembangan satu tahun, mencakup Rencana Pengembangan Individual untuk Operations Manager dan Rencana Pelatihan Umum untuk seluruh tim, mengoperasionalisasikan temuan ke dalam peta jalan peningkatan kapabilitas yang terstruktur.
PENGARUH GOVERNMENT SUPPORT PADA KEUNGGULAN BERSAING INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH MELALUI PERAN MEDIASI DARI ENTREPRENEURIAL ORIENTATION
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Government Support terhadap Competitive Advantage melalui peran mediasi Entrepreneurial Orientation pada Industri Kecil dan Menengah (IKM). Government Support dalam penelitian ini dibedakan menjadi dukungan finansial dan non-finansial, sementara Entrepreneurial Orientation diukur melalui tiga dimensi utama, yaitu innovativeness, proactiveness, dan risk-taking. Competitive Advantage diukur melalui dua pendekatan, yaitu cost-based dan differentiation-based. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 176 pelaku IKM Jawa Barat. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan pemerintah yang bersifat non-finansial memiliki pengaruh signifikan terhadap seluruh dimensi Entrepreneurial Orientation, sedangkan dukungan finansial tidak berpengaruh signifikan. Entrepreneurial Orientation terbukti berperan penting dalam menciptakan Competitive Advantage, meskipun pengaruhnya berbeda pada setiap dimensi. Dimensi Innovativeness ditemukan berpengaruh hanya pada dimensi Differentiation-based, dimensi Proactiveness berpengaruh pada kedua dimensi Competitive Advantage, dan dimensi Cost-based Competitive Advantage. Selain itu, tidak ditemukan pengaruh langsung Government Support terhadap Competitive Advantage. Namun, ditemukan adanya pengaruh tidak langsung melalui Entrepreneurial Orientation pada dukungan non-finansial, yang menunjukkan pola mediasi penuh. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperkuat peran Entrepreneurial Orientation sebagai mekanisme kunci dalam mentransformasikan dukungan pemerintah menjadi keunggulan kompetitif. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa kebijakan pengembangan IKM perlu difokuskan pada penguatan kapasitas dan kapabilitas kewirausahaan, bukan hanya pada pemberian bantuan finansial.
PENGEMBANGAN KATALIS DENGAN MODIFIKASI FOSFOR UNTUK KONVERSI MINYAK NABATI MENJADI BAHAN BAKAR OKTAN TINGGI
Konsumsi bahan bakar minyak terus mengalami peningkatan, berbanding terbalik dengan cadangan minyak bumi yang terus berkurang setiap tahunnya. Bahan bakar minyak nabati dari sawit adalah salah satu bahan bakar alternatif yang dapat dijadikan bahan bakar oktan tinggi. Katalis yang biasa digunakan untuk perengkahan minyak nabati yaitu HZSM-5 zeolite dikarenakan ukuran porinya yang bersifat selektif (bertindak sebagai penyaring molekul) dan keasaman intrinsiknya yang kuat sehingga dapat mengarahkan produk menjadi fraksi bensin yang berkualitas tinggi. Namun, keasaman yang tinggi juga membuat katalis HZSM-5 dikenal memiliki stabilitas yang rendah dan umur pakai yang pendek. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengembangan katalis HZSM-5 yang berfokus pada peningkatan stabilitas hidrotermal tanpa mengurangi kualitas bahan bakar oktan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan katalis HZSM-5 dengan variasi rasio mol Si/Al (30–80) lalu di modifikasi silikalit-1 dengan variasi rasio mol TPABr/SiO2 (0,2–0,8) metode inti-cangkang dan fosfor dengan variasi rasio mol P/Al (0–1) metode impregnasi basah. Hasil menunjukkan bahwa katalis HZ-30 memiliki perolehan OLP (43,43%) tertinggi, kandungan bensin (90,13%) dan nilai RON (113) yang tinggi. Katalis HZ@Si-0,2 yang memiliki rasio TPABr/SiO2 terendah berhasil membentuk lapisan silikalit-1 yang terbaik dengan perolehan OLP (34,89%), kandungan bensin (84,59%) yang turun signifikan dengan sedikit penurunan RON (108) dan peningkatan pembentukan kokas (10,33%) yang tinggi. Impregnasi fosfor mampu mempertahankan kinerja katalitik katalis dan meningkatkan umur pakai katalis. Katalis HZP-0,5 yang memiliki rasio mol P/Al sebesar 0,5 menunjukkan kinerja katalitik yang terbaik dengan berhasil mempertahankan perolehan OLP (42,06%), kandungan bensin (91,80%), dan nilai RON (112) yang tinggi serta secara signifikan mampu menurunkan pembentukan kokas (2,55%). Selain itu juga, mampu meningkatkan umur pakai katalis dari 8 jam (HZ-30) menjadi 14 jam.
SURVEI NIRAWAK BAWAH AIR : PERANCANGAN PROSEDUR PENJAGAAN JALUR SECARA AUTONOM DAN TERKENDALI DALAM PROSES AKUSISI DATA SPASIAL DENGAN TEKNOLOGI ROBOT BAWAH AIR DI LINGKUNGAN PERAIRAN DANGKAL
Survei bawah air pada perairan dangkal memerlukan sistem navigasi yang mampu menyediakan informasi posisi secara kontinu dan akurat. Sistem navigasi akustik konvensional seperti Long Baseline (LBL), Short Baseline (SBL), dan Ultra-Short Baseline (USBL) memiliki keterbatasan pada lingkungan perairan dangkal akibat kebutuhan infrastruktur tambahan dan biaya operasional yang tinggi. Sebagai alternatif, teknologi Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) memungkinkan estimasi posisi menggunakan integrasi sensor visual dan inersial. Capstone Design Project ini mendukung pengembangan sistem navigasi survei nirawak bawah air berbasis SLAM melalui penyusunan Dokumen Prosedural Navigasi Survei Nirawak Bawah Air Berbasis SLAM dan Dokumen Teknis Laporan Pilot Project. Sistem dikembangkan menggunakan kamera monokular GoPro HERO10 Black dan sensor Inertial Measurement Unit (IMU) yang diintegrasikan dengan algoritma ORB-SLAM3 berbasis Visual-Inersial SLAM. Tahapan pekerjaan meliputi kalibrasi kamera, kalibrasi IMU, kalibrasi ekstrinsik kamera-IMU, akuisisi data, pemrosesan trajektori, transformasi koordinat, dan analisis hasil. Hasil proyek berupa dokumen prosedural dan teknis yang dapat digunakan sebagai acuan implementasi, evaluasi, dan pengembangan sistem navigasi survei nirawak bawah air berbasis SLAM untuk pemetaan perairan dangkal.