📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 84 dokumenPERBANDINGAN SISTEM REAL TIME KINEMATIC (RTK)-CORS BPN DAN REAL TIME PRECISE POINT POSITIONING (RTPPP)PADA PEMETAAN PERSIL
Dalam penentuan posisi secara real-time, telah dikenal sistem Real Time Kinematic (RTK). RTK merupakan penentuan posisi secara diferensial menggunakan data pengamatan fase, di mana data atau koreksi fase dikirim secara seketika dari stasiun referensi ke receiver pengguna. Dengan keterbatasan RTK yang membutuhkan stasiun referensi, maka Precise Point Positioning (PPP) dapat menjadi alternatif. Precise Point Positioning (PPP) adalah metode penentuan posisi absolut menggunakan data fase dan pseudorange dalam bentuk kombinasi bebas ionosfer. Dari metode tersebut berkembang menjadi sistem Real Time Precise Point Positioning (RTPPP), yang memungkinkan pengguna menentukan posisi suatu titik secara real-time tanpa diperlukannya stasion referensi layaknya RTK. Kedua sistem tersebut, RTK dan RTPPP, sangat berpotensi digunakan dalam penentuan batas-batas persil tanah. Melalui kajian Tugas Akhir akan dilihat bagaimana perbandingan metoda RTK CORS-BPN dengan metoda RTPPP untuk penentuan batas-batas persil tanah, dengan studi kasus di kampus ITB. Dari penghitungan hasil koordinat di dapatkan luas dari sistem RTK dan RTPPP, yang divalidasi menggunakan luas dari pengukuran Electronic Total Station (ETS). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah perbandingan dalam segi akuisisi, presisi, dan keefektifan waktu yang diperlukan dalam sistem RTK dan RTPPP. Pada hasil pengamatan sistem RTK menggunakan CORS BPN, memiliki ketelitian horizontal yang relatif rendah hanya pada waktu pagi hari, sedangkan sistem RTPPP memilikin ketelitian horizontal relatif stabil baik pada waktu pagi hari dan sore hari. Namun, RTK memiliki tingkat presisi yang relatif lebih baik di bandingkan RTPPP, dengan syarat CORS yang digunakan relatif dekat dan hanya pada waktu pagi hari. Dalam segi biaya RTK membutuhkan biaya yang lumayan besar dibandingkan RTPPP, dikarenakan banyaknya istrument yang dibutuhkan seperti receiver, CORS, dan jaringan internet.
SURVEI PEMETAAN 3DIMENSI SECARA TERESTRIS (STUDI KASUS: GEDUNG FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG)
Peta adalah suatu gambar yang berisi informasi tentang permukaan bumi dan obyek diatasnya. Pemetaan saat ini dapat dibagi atas dua model yaitu model konvensional dan model dijital. Pada pemetaan dijital sudah memungkinkan untuk secara langsung ataupun tidak langsung, pengukuran hingga penyajian, dalam bentuk 3 dimensi. Hal ini menyebabkan tidak perlu lagi untuk membagi pernyataan posisi setiap titik dalam posisi horizontal dan vertikal seperti dalam model konvensional. Dalam pelaksanaan pemetaan 3 dimensi, pemilahan data memegang peranan sangat penting agar dapat membedakan titik muka bumi dengan obyek dan membedakan bidang permukaan tanah sesuai terrain. Dari pelaksanaan, didapatkan peta 3 dimensi yang sebenarnya yang dapat digambarkan dari berbagai sudut pandang yang berbeda dalam bentuk softcopy disertai dengan prosedur pengukuran.
ANALISIS METODE TRANSFORMASI KOORDINAT SUMUR MINYAK DAN GAS BUMI DI WILAYAH KENALI ASAM, JAMBI
Kegiatan eksplorasi pada wilayah Kenali Asam,Jambi dilakukan sejak jaman belanda yang saat ini telah diserahkan kepada PT.Pertamina. Peninggalan kegiatan eksplorasi tersebut berupa sumur-sumur migas yang dokumentasi koordinatnya berupa posisi koordinat toposentrik. Dalam dokumentasi tersebut tidak dicantumkan sistem referensi koordinat yang digunakan. Saat ini sebagian sumur sudah diukur ulang menggunakan GPS. Pengukuran GPS dilakukan untuk mendapatkan posisi pada koordinat tanah yang saat ini digunakan yaitu WGS 1984, sehingga sebagian sumur tersebut dapat digunakan sebagai titik sekutu pada proses transformasi koordinat. Oleh karena itu dibutuhkan analisis datum dan penentuan metode transformasi koordinat dan datum yang paling cocok pada daerah tersebut. Tugas akhir ini dibuat agar dapat menyelesaikan masalah tersebut untuk dapat dibuat petanya dengan sistem koordinat tanah WGS 1984. Metodologi yang digunakan pada tugas akhir ini adalah menentukan kelayakan dan persebaran titik sekutu, mentransformasi menggunakan metode transformasi 2 dimensi dan 3 dimensi diantaranya: Metode Helmert, Affine, dan Bursa-Wolf, guna mendapatkan metode yang paling cocok pada daerah tersebut, mendefinisikan sistem referensi yang digunakan pada saat itu untuk transformasi datum 3 dimensi Bursa-Wolf. Setelah itu dilakukan analisis hasil transformasi menggunakan citra fotogrametri dan metode statistik Chi-square. Hasil yang didapat dari penelitian tersebut, elipsoid referensi yang digunakan adalah elipsoid Bessel 1841 dengan metode transformasi paling cocok adalah transformasi 2D Affine. Ini terlihat dari kesesuaian posisi pada citra fotogrametri ,residu pergeseran pada sumbu X dan Y yang bernilai kecil, dan lulus uji statistik Chi-square.
KAJIAN UNDANG-UNDANG DI INDONESIA YANG BERKAITAN DENGAN GEODESI DAN GEOMATIKA
Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadikan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia. Sehingga segala aspek kehidupan masyarakat Negara Indonesia harus dilandasi dengan Pancasila. Dan segala peraturan yang dibuat harus mengacu kepadanya. Dengan begitu akan tercipta kehidupan masyarakat yang damai, tertib, aman, sejahtera, makmur dan sentosa. Dalam perwujudannya, dibuatlah tata aturan perundang-undangan di Indonesia. Undang-undang yang sudah ditetapkan merupakan peraturan yang perlu dipatuhi. Karenanya, dalam tatanan pemerintahan Indonesia dibuat kementerian/lembaga pemerintah sebagai bentuk perwujudan peraturan di Indonesia. Pada pelaksanaan kegiatan-kegiatannya akan melibatkan berbagai disiplin ilmu, termasuk geodesi dan geomatika.Kegiatan yang dilakukan dalam penyusunan Tugas Akhir ini adalah dengan melakukan studi literatur terlebih dahulu mengenai undang-undang yang berlaku di Indonesia, teori perundang-undangan dan cakupan bidang geodesi dan geomatika.Dengan melakukan studi literatur dan pengkajian terhadap undang-undang yang berlaku, didapat suatu kesimpulan bahwa bidang ilmu geodesi dan geomatika bisa dipakai dalam pelaksanaan Undang-Undang Pokok Agraria, Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan, Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batubara, Undang-Undang Penataan Ruang, Undang-Undang Cagar Budaya, Undang-Undang Penanggulangan Bencana, Undang-Undang Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Undang-Undang Perairan Indonesia, Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi, dan Undang-Undang Wilayah Negara. Sehingga dapat diketahui juga bahwa para ahli bidang geodesi dan geomatika dapat bekerja sama dalam melakukan kegiatan pekerjaannya.
KAJIAN PENGARUH PENGGUNAAN METODE SURVEI GPS JARING TERTUTUP DAN RADIAL TERHADAP KETELITIAN POSISI
Saat ini kegiatan pengamatan GPS di Indonesia didasari oleh Standar Nasional Indonesia (SNI) 19-6724-2002. Salah satu hal yang diuraikan dalam standar nasional tersebut adalah penggunaan metode jaring tertutup untuk pengukuran Kerangka Dasar Horizontal (KDH). Metode jaring tertutup memang lebih unggul dari segi ketelitian posisi dibanding metode jaring radial. Di sisi lain metode jaring radial memiliki kelebihan dari segi waktu dan biaya pelaksanaan survey. Dengan semakin berkembangnya teknologi receiver, perangkat lunak pengolahan data GPS, serta semakin banyaknya jumlah satelit semenjak dibuatnya standar nasional tersebut, ketelitian posisi dengan menggunakan metode radial mungkin akan sama telitinya dengan metode jaring tertutup. Dalam Tugas Akhir ini akan dibahas seberapa presisi dan akurat koordinat yang dapat dihasilkan dari kedua metode tersebut. Sebagai parameter untuk membandingkan kepresisian dan akurasi ketelitian posisi metode jaring radial dan metode jaring tertutup, maka dianalisis perbedaan koordinat, setengah sumbu elips kesalahan, dan nilai standar deviasi yang diperoleh masing-masing jaring. Berdasarkan parameter-parameter tersebut didapatkan bahwa metode jaring tertutup memang lebih teliti dibandingkan jaring radial. Namun dengan level perbedaan hanya dalam milimeter sampai sentimeter, untuk kegiatan survei GPS yang tidak memerlukan ketelitian yang tinggi dapat saja menggunakan metode pengamatan jaring radial.
PENENTUAN LAT (LOWEST ASTRONOMICAL TIDE) BERDASARKAN PERIODE WAKTU PENGAMATAN PASUT
LAT (Lowest Astronomical Tide) adalah datum vertikal yang direkomendasikan oleh IHO (International Hydrographic Organization). IHO menyatakan bahwa LAT didapatkan dari prediksi pasut selama 18,6 tahun dengan data pengamatan minimal selama 12 bulan atau dengan metode lain yang terbukti dapat memberikan hasil yang dapat diandalkan. Pernyataan IHO tersebut menunjukkan bahwa belum ada metode yang baku dalam penentuan LAT khususnya dalam hal panjang data pengamatan. Pada penelitian ini bertujuan untuk menentukan selisih nilai LAT pendekatan terhadap nilai LAT dari data pengamatan 12 bulan. LAT pendekatan adalah LAT yang didapatkan berdasarkan data pengamatan di bawah satu tahun. Data pengamatan pasut yang digunakan adalah data pasut Batam, Tarakan, dan Ambon. LAT ditentukan dengan cara melakukan analisis harmonik untuk mencari komponen pasut, kemudian diprediksi selama 18,6 tahun dan dicari nilai ketinggian muka air terendahnya. Pada penelitian ini didapatkan selisih nilai LAT pendekatan dari variasi panjang data pengamatan terhadap nilai LAT 12 bulan. Penyimpangan yang didapatkan adalah 0,5 cm hingga 11,4 cm di daerah Batam, 28,9 cm hingga 79,8 cm di daerah Tarakan, dan 4,2 cm hingga 53,0 cm di daerah Ambon. Nilai pergeseran garis pantai terbesar akibat selisih dari nilai LAT tersebut adalah 45,7 m dan terkecil adalah 0,002 m.
PEMANTAUAN LONGSORAN DI KAWASAN CILOTO (CIANJUR) MENGGUNAKAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER
Fenomena longsor merupakan hal yang sering terjadi di Jawa Barat. Salah satu tempat yang paling sering mengalami longsor adalah di daerah Ciloto, Puncak. Diawali pada tahun 1988, kejadian longsor Ciloto mengakibatkan penurunan permukaan jalan yang diikuti dengan pergerakan tanah hingga lebih dari 1,5 meter dan terus diikuti dengan longsor yang berakhir di sungai Cijember (Sadarviana, 2006). Maka dari itu, selain untuk mengetahui besarnya longsoran yang terjadi, penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui manfaat apa saja yang didapat dalam memantau longsoran menggunakan TLS Inti dari pengamatan deformasi dan longsoran dalam bidang geodesi adalah menghitung pergeseran atau perpindahan titik atau objek yang diamati. Oleh karena itu, pengamatan longsor dengan menggunakan teknologi laser scanner harus ada dua data pengamatan yang diambil dalam rentang waktu tertentu agar dapat ditentukan nilai longsorannya. Setelah keduanya melalui proses registrasi, filtering, dan modeling, kita dapat membandingkannya dan mendapatkan nilai pergerakan tanah yang terjadi. Hasil yang didapat, dalam selang 6 bulan (April 2012- Oktober 2012), daerah Ciloto mengalami pergeseran tanah rata-rata sebesar 4mm dan pergeseran tanah maksimum 13mm. Hal ini menunjukan daerah Ciloto masih mengalami longsor sampai saat ini. Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa melakukan pemantauan dengan menggunakan terrestrial laser scanner memberikan beberapa manfaat, antara lain pemantauan dapat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat dan hasil yang diperoleh dapat merepresentasikan pergerakan longsor yang terjadi.
PROSEDUR TEKNIS PENGUKURAN DAN PERPETAAN OBJEK RUANG PERAIRAN TIGA DIMENSI
Kadaster Kelautan adalah sebuah sistem informasi menyeluruh yang memungkinkan pendefinisian, penyimpanan data, visualisasi, serta pengelolaan hak-hak di ruang kelautan. Kadaster Kelautan secara teknis dapat dijabarkan sebagai sebuah infrastruktur informasi hak-hak atas properti kelautan. Dalam studi komprehensif tentang Kadaster Kelautan, terdapat dua aspek yang mempengaruhi pelaksanaannya yaitu proses perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi. Aspek tersebut adalah aspek teknis (technical framework) dan aspek legal (legal aspect).Fakta menunjukkan bahwa daerah pantai dan laut lepas memiliki potensi dan signifikansi yang besar bagi kehidupan manusia di Bumi (Payoyo, 1994). Untuk itu, dibutuhkan kebijakan yang tepat guna dan komprehensif dalam pelaksanaan kegiatan ini. Lebih lagi, pembuatan perangkat teknis yang dibutuhkan ini, dalam penelitian ini dibatasi ke dalam perangkat teknis pengukuran dan perpetaan objek-objek ruang perairan. Kerangka pemikiran teknis yang berbasiskan riset adalah aspek yang akan dibahas dalam kegiatan ini.Cakupan riset yang dimaksud di sini meliputi pengukuran kerangka dasar horisontal dan pendefinisian datum vertikal sebagai aspek pembeda dengan kadaster di darat, dan penggambarannya ke dalam bentuk hybrid, yaitu kombinasi visualisasi 3D sebagai pemberi informasi posisi terhadap kedalaman dan ketinggian, dan 2D sebagai informasi detilnya. Dengan demikian, melalui prinsip ilmiah dan teknis (lewat kombinasi pengukuran surveying dan rekayasa hidrografi) dalam visualisasi hybrid yang bergeoreferensi ini, diharapkan dapat dibuat sebuah aturan yang fundamental berupa kebijakan dalam penggunaan dan pengelolaan ruang kelautan ini (Miles, 1998).
STUDI KARAKTERISTIK PENGIKATAN JARINGAN TITIK GPS TERHADAP SERI ITRF 1994, 1996, 1997, 2000, 2005 (Studi Kasus Pengikatan Jaring GPS Sesar Lembang)
Dalam pengolahan data GPS untuk memperoleh ketelitian posisi sesuai dengan yang dibutuhkan, terdapat tahapan yang cukup penting, yaitu bagaimana teknik pengikatan data terhadap titik ikat atau titik referensi. Titik ikat tersebut dapat berupa titik kerangka referensi seperti DGN 95, WGS 84 atau ITRF (International Terestrial Reference Frame) 199X, 200X. Hasil pengikatan terhadap satu sistem kerangka referensi belum tentu sama dengan sistem kerangka referensi lainnya, dalam hal nilai maupun ketelitiannya. Sebagai contoh hasil pengikatan ke sistem DGN 95 belum tentu sama dengan WGS 84, atau ITRF 1994 belum tentu sama dengan ITRF 2000 atau ITRF 2005. Variasi nilai sangat dimungkinkan sekali terjadi diantaranya. Secara teori mungkin pengikatan ke ITRF 2005 akan memberikan ketelitian hasil yang lebih baik apabila dibandingkan dengan ITRF 1994, karena ITRF 2005 lebih stabil. Berdasarkan hal tersebut karya tulis ini dibuat. Untuk melihat korelasi dari penggunaan seri ITRF dengan hasil koordinat yang diperoleh. Dengan mengikatkan Jaring titik pantau deformasi sesar Lembang terhadap beberapa seri ITRF mulai dari ITRF 1994, 1996, 1997, 2000, dan 2005 untuk kemudian dilihat koordinat hasil pengolahannya serta implikasinya terhadap vektor pergeseran dalam studi sistem sesar (dengan studi kasus Sesar Lembang).
ANALISIS PENGGUNAAN EGM2008 YANG DISESUAIKAN DENGAN MUKA AIR LAUT RATA-RATA SETEMPAT UNTUK TRANSFER ELEVASI DI DELTA MAHAKAM
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penggunaan model EGM2008 yang disesuaikan dengan muka air laut rata-rata (Mean Sea Level/MSL) Delta Mahakam pada tahun 2007 (EGM-fit 2007) menyimpang terhadap MSL Delta Mahakam pada tahun 2010.
ANALISIS DATA TIME SERIES GPS KONTINU DI DAERAH SUMATERA
Pada setiap data time series GPS, terdapat sinyal-sinyal yang mempengaruhi hasil hitungan yang didapat. Komponen-komponen tersebut akan membentuk suatu pola dalam data time series GPS. Pada umumnya, dalam suatu data time series GPS terdapat komponen periodik yang biasanya tidak dapat dideteksi dengan langsung. Untuk mendeteksi komponen periodik tersebut, maka dilakukan analisis spektral. Tujuan dari analisis spektral ini adalah untuk mendeteksi komponen perodik apa yang berpengaruh dominan dalam suatu data time series. Dengan mengetahui jenis dari komponen periodiknya, maka kita bisa mengetahui karakteristik dari data time series tersebut dan kemudian dapat ditentukan berapa jenis parameter yang dibutuhkan untuk melakukan curve fitting. Dalam melakukan fitting, digunakan dua buah pendekatan, yaitu fitting secara linier saja dan fitting linier dengan memperhitungkan komponen periodik. Sebagai bahan pembandingan antara kedua metode ini, maka dihitung pula laju pergeseran titik pengamatan per tahunnya. Dari analisis yang dilakukan terhadap kedua metode ini, didapat bahwa perbedaan laju pergeseran per tahun ketika menggunakan metode fitting linier dan ketika menggunakan metode fitting linier dengan memperhitungkan komponen periodik yang paling besar yaitu bernilai 3.7 mm per tahun.
PENENTUAN CHART DATUM PADA SUNGAI YANG DIPENGARUHI PASANG SURUT (STUDI KASUS: TELUK SANGKULIRANG, KALIMANTAN TIMUR))
Sungai memiliki berbagai macam fungsi, salah satunya adalah sebagai sarana transportasi. Untuk keperluan keamanan dari transportasi dan navigasi kapal, nilai chart datum dari sungai perlu ditentukan. Pada sungai di Indonesia, penelitian mengenai chart datum sungai, masih, sangat kurang. Hal tersebut dengan dapat dibuktikan, masih banyaknya kapal yang kandas, pada saat melayari sungai. Pada sungai yang dipengaruhi oleh gaya pasang surut, pada umumnya chart datum ditentukan melalui pengamatan pasang surut yang dilakukan di muara yang berbatasan langsung dengan laut, kemudian lakukan transformasi chart datum ke daerah sungai di belakang muara. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder ini terdiri dari data pengamatan pasang surut selama 15 hari pada stasiun pengamatan Desa Bual-Bual di muara sungai Sangkulirang dan Desa Sempayau, dan data kedalaman dari sungai yang didapat dari survei batimetri. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini, Bual-Bual sebesar 1.54 meter dibawah muka air rata-rata, dan nilai chart datum pada desa Sempayau, sebesar 2.1 meter dibawa muka air rata-rata. Ternyata, terdapat perbedaan nilai chart datum yang didapat antara muara sungai, dan daerah belakan muara. Terdapat dua faktor penting yang menentukan besarnya nilai chart datum pada sungai pasang surut, yaitu faktor pasang yang naik dari laut, dan faktor debit pada aliran sungai tersebut.
VERIFIKASI POSISI PIPA BAWAH LAUT PASCA PEMASANGAN (STUDI KASUS : BALIKPAPAN PLATFORM)
Pipa bawah laut memerlukan desain awal yang sempurna dan proses instalasi yang teliti agar keseluruhan proses pembangunan pipa berhasil dan cost effective. Pembangunan pipa dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu survei pra-pemasangan pipa bawah laut, pemasangan pipa bawah laut, dan survei pasca-pemasangan pipa bawah laut. Verifikasi pipa bawah laut termasuk ke dalam kegiatan survei pasca-pemasangan dengan tujuan utama untuk mendapatkan posisi absolute dari pipa bawah laut tersebut. Penulis melakukan pengolahan data multibeam echosounder dengan menggunakan perangkat lunak QINSy. Selain itu, dilakukan juga analisis mengenai perbandingan posisi dari rencana pipa dengan posisi pipa hasil dari pengolahan data multibeam echosounder. Hasil analisis kemudian akan digunakan untuk pertimbangan dalam perencanaan pembangunan pipa pada wilayah yang sama. Hasil pengolahan data multibeam echosounder menunjukkan terdapat perbedaan posisi perencanaan dan posisi aktual dari pipa. Perbedaan posisi tersebut terjadi pada bagian lengkungan dari pipa dengan perbedaan sejauh 5.4 m. Perbedaan yang terdapat pada lengkungan dari pipa ini masih dapat diterima, dikarenakan tidak ada posisi pipa yang free-span dan juga tidak mengakibatkan pipa ini berbenturan dengan pipa yang lainnya.
PEMETAAN CHART DATUM DENGAN PENDEKATAN MODEL PASANG SURUT GLOBAL TPXO 7.1 (WILAYAH STUDI : PROVINSI JAWA BARAT)
Pengamatan pasang surut mempunyai banyak sekali manfaat di bidang geodesi terutama untuk menentukan datum vertikal. Datum vertikal yang paling umum digunakan adalah bidang mean sea level dan chart datum. Pada awalnya pengamatan pasang surut dilakukan dengan mengamati ketinggian muka air yang ditunjukkan dengan angka pada rambu ukur, seiring dengan perkembangan teknologi satelit altimetri dapat mengamati ketinggian muka air tanpa pengukuran langsung dan mencakup wilayah yang lebih luas. Hasil analisis data yang didapatkan dari pengamatan satelit altimetri dikumpulkan sehingga dapat dibentuk suatu model pasang surut global. Namun penggunaan model pasang surut masih perlu diverifikasi dengan pengukuran stasiun pasang surut untuk mengetahui kualitas model. Model pasang surut yang digunakan pada tugas akhir ini adalah TPXO 7.1.Pengerjaan tugas akhir ini adalah dengan mengekstrak nilai amplitudo dan fase komponen harmonik pasang surut pada model dan menentukankedudukan chart datum terhadap MSL dari amplitudo komponen pasang surut. Hasil penentuan kedudukan chart datum terhadap MSL dengan pendekatan model pasut surut TPXO 7.1, wilayah perairan Provinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa kedudukan chart datum terhadap MSL di wilayah utara lebih kecil daripada wilayah selatan dengan jenis pasang surut yang bervariasi.Arah gelombang pasang surut yang terjadi pada pantai utara dari barat ke timur, sedangkan pantai selatan dari timur ke barat.
PENETAPAN GARIS PANTAI DENGAN ACUAN CHART DATUM BERDASARKAN PETA RUPA BUMI INDONESIA (STUDI KASUS: PANTAI PANGANDARAN, CIAMIS - JAWA BARAT)
Garis pantai memiliki peranan yang sangat penting bagi suatu negara terutama negara kepulauan seperti Indonesia. Dengan adanya informasi garis pantai yang dimiliki, maka akan dapat ditentukan batas wilayah baik itu batas wilayah teritorial maupun batas wilayah administratif suatu daerah. Selain itu informasi mengenai garis pantai ini juga dimanfaatkan untuk pengelolaan tata ruang suatu wilayah pesisir dan pemanfaatan potensi sumber daya yang dimiliki daerah tersebut. Garis pantai merupakan garis pertemuan antara daratan dan lautan. Ada tiga jenis garis pantai yang bisa di tarik dari kedudukan muka laut yang ada yakni; garis pantai air tinggi, garis pantai air rata-rata, dan garis pantai air rendah. Informasi mengenai garis pantai ini bisa diperoleh dari peta topografi atau peta rupa bumi Indonesia. untuk penentuan garis pantai ini diperlukan data pengamatan pasut dalam jangka waktu tertentu. Data pengamatan pasut ini dianalisis dengan menggunakan analsisis harmonic pasut agar dapat ditentukan nilai datum vertical yang adan ditetapkan sebagai chart datum. Untuk keperluan penelitian tugas akhir ini maka garis pantai yang digunakan adalah garis pantai yang mengacu pada air rendah atau chart datum.