📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 124 dokumen

SURVEI BATIMETRIK MELALUI PENDEKATAN DATA GLOBAL POSITIONING SYSTEM SECARA REAL TIME

Batimetrik adalah ukuran kedalaman di bawah air yang menunjukan data kedalaman atau topografi 3-D dari dasar perairan. Adapun pekerjaan yang terkait dengan bidang ini disebut dengan survei batimetrik. Produk akhir dari survei batimetrik ini adalah peta batimetrik yang umumnya menampilkan informasi kedalaman yang bisa disajikan dalam bentuk angka kedalaman, garis kontur dan gradasi warna. Sekarang ini tuntutan untuk mendapatkan peta batimetrik secara real time di tempat yang belum pernah dilakukan survei batimetrik sebelumnya belum dapat diwujudkan. Hal ini dikarenakan kita harus melakukan pengamatan pasut (pasang surut) selama minimal 15 piantan untuk mendapatkan koreksi pasut. Hal inilah yang menghambat survei batimetrik real time. Dengan mengganti komponen koreksi pasut ini dengan komponen tinggi geometrik, model geoid global, model chart datum dan model koreksi variasi kecepatan rambat gelombang akustik, yang kesemuanya bisa didapatkan secara real time, maka survei batimetrik real time bisa diwujudkan.

2026
👤 Penulis: DIAS FAHMI FAJRIN (NIM 15105048) pembimbing : Dr. Ir. Eka Djunarsjah, M.T. ;Dr. Irwan Meilano, S.T.,
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Real Time 🏷️ Kartografi Air

ANALISIS REGANGAN DAN POTENSI BAHAYA GEMPA DISELAT SUNDA BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS 2006-2011

Di sepanjang lepas pantai barat Sumatera,Lempeng Indo-Australian menunjam di bawah Lempeng Eurasia dengan arah yang miring (~45o).Penunjaman miring tersebut mengakibatkan terbentuknya Zona Sumatera, suatu zona geser menganan, yang memanjang dari ujung utara hingga ujung selatan Pulau Sumatera. Namun di sepanjang lepas pantai selatan Pulau Jawa, Lempeng Indo-Australian menunjam Lempeng Eurasia dengan arah normal sehingga tidak terbentuk suatu zona seperti yang ada di Sumatera. Daerah Busur Muka yang merupakan daerah transisi diantara Sumatera dan Jawa, dipengaruhi oleh kondisi pergerakan lempeng kedua daerah tersebut. Daerah Busur Muka ini dapat mengalami kompresi akibat penunjaman lempeng dan juga dipengaruhi ekstensi karena pergerakan sebagian Pulau Sumatera ke arah Barat laut. Hasil analisa beberapa faktor geofisika menunjukkan adanya dominasi ekstensi di daerah busur muka. Hasil tersebut menunjukkan indikasi adanya bukaan yang menerus di daerah busur muka ini karena lempeng busur muka Sumatra, yang batas selatannya berupa Zona Sumatra, terus melaju ke arah barat laut. Sehingga juga dapat disimpulkan adanya kelanjutan Zona Sumatera sampai ke batas Palung dalam bentuk suatu sistim graben.

2026
👤 Penulis: YUDHY ANUGRAH FERNANDA A. (NIM 15106016); Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, ST, M.Sc., dan Irwan Gumila
🏷️ Geofisika 🏷️ Zona Sumatera 🏷️ Analisis Potensi Gempa

PENENTUAN GARIS PANTAI DENGAN ACUAN MEAN SEA LEVEL BERDASARKAN PETA RUPA BUMI INDONESIA (STUDI KASUS : PANTAI PANGANDARAN,CIAMIS,JAWA BARAT)

Garis pantai ialah suatu garis pertemuan antara laut dan darat, karena sifat dari laut yang dinamis maka garis pantai dapat berubah-ubah untuk waktu tertentu. Oleh karena itu penetapan garis laut yang jelas sangat diperlukan. Untuk menentukan garis pantai yang dipakai bisa digunakan beberapa acuan misalnya Mean Sea Level, Low Water Level dan High Water Level. Untuk tugas akhir ini, digunakan Mean Sea Level sebagai acuan untuk penetapan garis pantai dengan wilayah studi kasus Pantai Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat dengan data pantai Cilacap, Jawa Tengah. Mean Sea Level didapatkan dari pengamatan pasang surut untuk waktu tertentu. Dari pengamatan pasang surut ini juga bisa didapatkan nilai variasi Mean Sea Level. Mean Sea Level dapat diperoleh dengan cara menghitung nilai rata-rata tinggi muka laut dan variasi dihitung dengan cara mencari selisih antar nilai Mean Sea Level tertinggi dan Mean Sea Level terendah dalam suatu kurun waktu tertentu. Dari hasil pengolahan data yang dilakukan untuk tugas akhir ini ialah nilai variasi Mean Sea Level untuk pantai di Cilacap dan juga peta garis pantai Pangandaran dengan acuan Mean Sea Level berdasarkan atas peta rupa bumi Indonesia keluaran Bakosurtanal. Dari kedua hasil tersebut bisa didapatkan untuk menganalisis keadaan muka laut dan jenis pantai Pangandaran.

2026
👤 Penulis: RIMA REZANI MARSHA (NIM 15107039); Pembimbing: Dr. Ir Eka Djunarsjah, MT., dan Moh. Fifik Syaifudin,
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Geologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGOLAHAN DATA MULTIBEAM ECHOSOUNDER PADA SURVEI PRA-PEMASANGAN PIPA BAWAH LAUT

Pekerjan rekayasa lepas pantai dalam hal ini penginstalasian pipa bawah laut merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi keperluan distribusi minyak dan gas yang telah melewati proses eksplorasi. Kegiatan ini memerlukan informasi yang cukup detil sehingga berimplikasi pada terlibatnya banyak teknologi data. Tahapan awal dalam kegiatan pemasangan pipa bawah laut adalah kegiatan pra-pemasangan pipa dimana pada tahap ini dilakukan survei awal yang bertujuan untuk menghasilkan gambaran topografi bawah laut area yang nantinya akan dipasang pipa. Survei pra-pemasangan pipa bawah laut ini dilakukan di sebelah timur Pulau Kalimantan tepatnya di sekitar delta Mahakam. Kegiatan survei dilakukan dengan menggunakan perangkap lunak QINSy 8.0 baik saat perencanaan awal survei, saat survei berlangsung, hingga saat proses pengolahan data untuk menghasilkan gambaran akhir topografi area survei. Data utama yang digunakan dalam survei ini adalah data kedalaman yang diperoleh dari Multibeam Echosounder (MBES) dimana data yang diolah merupakan data MBES yang telah terakuisisi dengan data dari Singlebeam Echosounder, Motion Reference Unit, Sound Velocity, dan juga pasang surut. Data yang diperoleh setelah survei selesai dilakukan otomatis dikumpulkan dalam suatu folder yang dibentuk oleh perangkat lunak QINSy 8.0 untuk selanjutnya dapat diolah dengan bantuan perangkat lunak lain yaitu QLOUD. Hasil akhir dari proses pengolahan data ini adalah sebuah gambaran jelas dari topografi dasar laut area yang direncanakan akan dipasang pipa bawah laut. Hal yang selanjutnya dilakukan adalah menganalisis permukaan bawah laut tersebut untuk mengetahui natural hazards baik yang terbentuk secara alami maupun buatan seperti bangkai kapal serta pipa dan kabel bawah laut yang sudah terpasang sebelumnya di sekitar area tersebut yang dapat membahayakan proses instalasi pipa bawah laut.

2026
👤 Penulis: RAHADIAN YUWONO SUBROTO (NIM 15108073); Pembimbing: Dr. Ir. Eka Djunarsjah, MT.
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Lingkungan 🏷️ Pengolahan Data Geografis

ANALISIS SPASIAL DEFORMASI TEKTONIK WILAYAH JAWA BARAT DENGAN MENGGUNAKAN METODE INTERPOLASI MOVING AVERAGE

Wilayah Jawa Barat merupakan salah satu daerah rawan gempa bumi karena posisinya yang terletak di daerah subduksi antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo Australia. Wilayah Jawa Barat juga memiliki beberapa patahan (sesar) yang merupakan salah satu pemicu terjadinya gempa bumi. Pemahaman mengenai deformasi di wilayah Jawa Barat penting untuk selalu dilakukan karena adanya potensi bahaya tersebut. Pengamatan deformasi di wilayah Jawa Barat telah dilakukan di beberapa titik pengamatan. Hasilnya adalah data vektor kecepatan pergeseran tanah wilayah Jawa Barat di setiap titik pengamatan. Untuk pemahaman yang lebih baik diperlukan suatu model yang dapat menggambarkan pergeseran tanah di wilayah Jawa Barat secara menyeluruh bukan hanya di titik-titik pengamatan. Untuk itu dilakukan proses interpolasi dengan metode Moving Average yang membentuk suatu grid tertentu di wilayah Jawa Barat untuk memberikan data pergeseran yang kontinyu. Hasil interpolasi Moving Average yang didapatkan kemudian dijadikan model untuk melakukan analisis regangan dengan menggunakan metode segmen segitiga.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil interpolasi Moving Average terbaik yang dapat memberikan data kontinyu adalah yang dilakukan dengan ukuran window 0,940. Hasil analisis regangan menunjukkan bahwa deformasi wilayah Jawa Barat dipengaruhi oleh postseismic akibat gempa Pangandaran pada tahun 2006, fenomena subduksi antar lempeng, dan aktifitas sesar.

2026
👤 Penulis: OSSY MAULITA BUDIAWATI (NIM 15107030); Pembimbing: Dr. Ir. Dina Anggreni, M.T dan Dr. Irwan Meilano,
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Deformasi Tektonik 🏷️ Interpolasi Geografis

ESTIMASI LAJU GESER DARI SESAR SUMATERA DI ACEH BERDASARKAN PENGAMATAN GPS (GLOBAL POSITIONING SYSTEM) TAHUN 2009-2010

Abstrak tidak tersedia.

2026
👤 Penulis: MIRLIANSYAH (NIM 15106019); Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc. dan Irwan Gumilar, S.T., M.Si
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Geografi

VARIASI SPASIO TEMPORAL UNDULASI GEOID DI GREENLAND BERDASARKAN DATA SATELIT GRACE

Satelit GRACE dapat dimanfaatkan untuk mengamati perubahan medan gaya berat di Greenland secara temporal (bulanan). Parameter medan gaya berat yang diamati adalah undulasi geoid. Pemanfaatan data satelit GRACE harus diproses dengan algoritma yang sesuai. Dalam hal ini undulasi geoid dihitung berdasarkan koefisien geopotensial global. Untuk mereduksi efek ring waves digunakan filter Gentlycut. Variasi perubahan undulasi geoid di Greenland menunjukkan kecenderungan menurun dalam kurun waktu (2004 – 2009), yang sesuai dengan informasi kenaikan muka tanah yang ditunjukkan dari hasil pengamatan dengan GPS. Fenomena ini dapat dikaitkan dengan berkurangnya massa tutupan es di Greenland sebagai dampak dari pemanasan global.

2026
👤 Penulis: MEILINE HARLIANA SIAHAAN (NIM 15106045); Pembimbing: Dr. Ir. Kosasih Prijatna, M.Sc.
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Satelit Grace 🏷️ Hidrologi

PENGGUNAAN DUAL PASS DIFFERENTIAL INSAR UNTUK PEMANTAUAN DEFORMASI (STUDI KASUS : SESAR PALU-KORO)

Sesar Palu-Koro merupakan salah satu sesar aktif yang terdapat di wilayah Indonesia Timur. Akibat adanya aktivitas sesar ini, bencana alam berupa gempa bumi sangat beresiko terjadi di wilayah Palu. Untuk itu diperlukan upaya pemantauan secara kontinyu dari aktivitas sesar Palu-Koro sebagai salah satu bentuk mitigasi bencana akibat gempa bumi. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya kerugian yang besar baik dari korban jiwa maupun infrastruktur.Salah satu bentuk teknologi yang dapat digunakan adalah Dual Pass Differential InSAR. Metoda ini menggunakan dua buah citra SAR untuk menghasilkan citra InSAR. Hasil citra InSAR tersebut kemudian dilakukan proses deferencing dengan data eksternal berupa data DEM. Differencing tersebut dilakukan untuk menghilangkan pengaruh topografi pada fasa interferogram.Pada tugas akhir ini digunakan perangkat lunak GAMMA untuk pengolahan data. Hasil akhir pada tugas akhir ini memperlihatkan terjadinya deformasi pada Sesar Palu-Koro walaupun belum begitu jelas akibat gempa tanggal 2 Maret 2009. Penyebab dari kekurangjelasan tersebut antara lain berasal dari sisa kesalahan DEM, atmosfer, dan dekorelasi geometri masih terdapat pada citra akhir DInSAR.

2026
👤 Penulis: INDRA (NIM 15107034); Pembimbing: Dr. Ir. Dina Anggreni Sarsito, MT., dan Teguh Purnama Sidiq, ST.,
🏷️ Geofisika 🏷️ Pemantauan Deformasi Sesar 🏷️ Dual Pass Differential Insar

ANALISIS HASIL SURVEI MAGNETOMETER UNTUK PELETAKAN PIPA GAS BAWAH LAUT (Studi Kasus : Survei Re-Route Pipa PGN di Perairan Tanjung Priok)

Dalam kegiatan pemasangan pipa bawah laut dibutuhkan informasi tentang keadaan dasar laut yang akan dilewati oleh jalur pipa. Kondisi dasar laut dapat diketahui melalui survei kelautan. Salah satu teknologi yang digunakan dalam survei kelautan adalah magnometer. Survei dengan menggunakan magnometer dilakukan untuk mendeteksi adanya objek-objek yang bersifat logam dasar laut yang dapat membahayakan dalam proses pemasangan pipa. Bahaya tersebut dapat berupa bangkai kapal, pipa, dan kabel, maupun bahaya lain yang terdapat diarea survei peletakan pipa.Tujuan utama dari survei magnometer ini adalah untuk mendapatkan nilai anomali intensitas medan magnet yang menunjukkan adanya objek yang bersifat logam di daerah survei. Anomali intensitas medan mangnet dihasilkan dengan pengoreksian data medan magnet lokal dari hasil pengamatan dengan , koreksi harian, dan koreksi IGRF. Hasil dari koreksi harian ini di dapat dari pengukuran medan magnet di base station darat, dan koreksi IGRF yang didapat dari IGRF yang telah ditetapkan.Produk yang dihasilkan dari survei magnometer adalah peta anomali intensitas medan megnet. Peta anomali ini menunjukkan posisi objek yang bersifat logam yang terdapat pada daerah survei, terutama objek logam yang berada dibawah laut.

2026
👤 Penulis: HERIANTO KAROSEKALI (NIM 15106048); Pembimbing: Dr. Ir. Eka Djunarsjah, MT., dan Ir. Catur Purwanto,
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Magnetik 🏷️ Manajemen Proses Pemasangan Pipa Bawah Laut

ANALISIS DEFORMASI AKIBAT SESAR AKTIF DI SEKITAR GUNUNG API LOKON BERDASARKAN DATA GPS TAHUN 2009-2011

Abstrak

2026
👤 Penulis: FREZI PRIMA ARDI (NIM 15107033); Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, ST., M.Sc., dan Irwan Gumilar, ST.,
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Geodesi

ANALISIS DEFORMASI GUNUNGAPI LOKON (SULAWESI UTARA) BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS NOVEMBER-DESEMBER 2009 DAN MARET 2010

Dalam melakukan penelitian deformasi yang terjadi pada Gunungapi Lokon, digunakan data pengamatan GPS (Global Positioning System) bulan November-Desember 2009 dan Maret 2010. Data GPS lalu diolah, dan dihasilkan koordinat geosentrik dan standar deviasi serta koordinat geodetik. Koordinat geosentrik dan standar deviasi yang didapat kemudian ditransformasikan ke dalam sistem toposentrik. Setelah dilakukan uji statistik menggunakan uji -t dan nilai resultan pergeseran titik pengamatan dinyatakan lulus uji statistik, maka selanjutnya dilakukan plotting vektor pergeseran.

2026
👤 Penulis: FAJRI HAMDANI (NIM 15106057); Pembimbing: Dr. Ir. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., dan Dr. Ir. Dina Anggr
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Geografi 🏷️ Hidrologi

PEMODELAN DEFORMASI AKIBAT PENGARUH SUBDUKSI DI JAWA BARAT BERDASARKAN PENGAMATAN GPS TAHUN 2006-2009

Bagian barat Indonesia merupakan wilayah dari batas lempeng antara lempeng Australia dan lempeng Sunda (Eurasia) dengan aktivitas seismik yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya subduksi dari lempeng tektonik yang terus berlangsung sampai ke selatan dan tenggara sepanjang Palung Jawa. Daerah Jawa bagian barat sendiri sebenarnya memiliki karakteristik seismik yang unik. Tidak seperti daerah-daerah di Pulau Sumatra yang merupakan daerah rawan gempa karena sering terjadi gempa dengan magnitude yang besar, daerah Jawa bagian Barat ini jarang terjadi gempa. Gempa yang terjadi pun biasanya dalam magnitude yang lebih kecil dibandingkan dengan gempabumi di Sumatra. Tetapi, di Jawa bagian Barat juga pernah terjadi gempa dengan skala kerusakan yang besar, seperti gempa Pangandaran (17 Juli 2006) dan yang terbaru gempa Tasikmalaya (2 September 2009). Untuk itu masih perlu diselidiki lebih lanjut pola deformasi pada zona subduksi di Jawa Barat. Untuk menyelidiki pola deformasi tersebut, maka dilakukan pengukuran GPS dengan teknik differensial menggunakan metode jaring. Titik-titik tersebut diukur secara kontinyu dan episodik, kemudian data titik hasil pengamatan GPS di bagian barat Pulau Jawa kemudian diolah dengan software ilmiah Bernese. Selanjutnya dilakukan perhitungan vektor pergeseran dan nilai parameter regangan sehingga tingkat rekatan pada zona subduksinya dapat dimodelkan. Berdasarkan nilai pergeseran dari titik-titik pengamatan, bagian barat Pulau Jawa berkisar 1-6 cm/tahun dominan ke arah Tenggara. Berdasarkan hasil pola regangannya, bagian Barat Jawa dominan mengalami regangan dan tingkat rekatan yang terjadi adalah sebesar 0 %. Deformasi bagian Barat Pulau Jawa dipengaruhi oleh tiga factor yaitu pergerakan lempeng sunda, pengaruh subduksi dan pengaruh lokal dalam kasus ini dimungkinkan karena adanya aktivitas Sesar Cimandiri.

2026
👤 Penulis: AGUNG BUDIAWAN (NIM 15104058); Pembimbing: Dr. Ir. Irwan Meilano, M.Sc., dan Heri Andreas, ST.,MT.
🏷️ Geofisika 🏷️ Subduksi Tektonik 🏷️ Deformasi Tanah

PENELITIAN KARAKTERISTIK (LAJU GESER) SESAR AKTIF MENGGUNAKAN PEMODELAN DATA DEFORMASI PERMUKAAN

Sumatera adalah salah satu wilayah di indonesia dengan aktivitas tektonik paling aktif di dunia. Hal ini menyebabkan Sumatera mengalami pergeseran yang diakibatkan terjadinya tumbukan lempeng Eurasia dan Hindia-Australia dengan kecepatan 49 mm/tahun [Prawirodirdjo, 2000]. Akibatnya terdapat sesar aktif di sepanjang Sumatera yang terbagi menjadi beberapa segmen, salah satunya adalah segmen Aceh (sesar Aceh).Penelitian karakteristik sesar Aceh dilakukan dengan mengamati beberapa titik pantau yang tersebar di sepanjang sesar Aceh, baik titik pantau kontinyu maupun berkala. Pengolahan data dengan software Bernese 5.0, matlab dan excel menghasilkan vektor pergeseran titik-titik pantau yang berkisar antara 3-13 cm ke arah barat daya.Analisis deformasi dalam tugas akhir ini bertujuan untuk mengindikasikan pola pergerakan deformasi sesar, serta menghitung laju geser dan kedalaman bidang sesar yang terkunci. Berdasarkan penghitungan kecepatan sesar Aceh berkisar 18-39 mm/tahun yang terkunci pada kedalaman 10 km. Analisis deformasi ini bermanfaat untuk memprediksi kekuatan gempa bumi yang terjadi di sekitar sesar dalam jangka waktu yang panjang.

2026
👤 Penulis: ADITYA S. PESIK (NIM. 15105011); Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, ST, M.Sc., dan Ir. Heri Andreas, MT.
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Deformasi Permukaan 🏷️ Teknik Geologi

APLIKASI TEKNIK SPATIAL FILTERING UNTUK MENGHITUNG PERGESERAN KOSEISMIK GEMPA SIMEULUE Mw 7.4 FEBRUARI 2008 BERDASARKAN DATA GPS SuGAr (SUMATRAN GPS ARRAY)

Wilayah barat Sumatera merupakan wilayah yang sangat rawan terhadap gempabumi karena posisinya di sepanjang jalur subduksi dua lempeng bumi, yaitu lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Gempa Simeulue Mw 7.4 pada 20 Februari 2008 terjadi sebagai akibat pergerakan Lempeng Indo-Australia yang menujam ke bawah Lempeng Eurasia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memahami mekanisme pada saat terjadinya gempa yaitu dengan melakukan studi deformasi koseismik yang mengiringi gempa tersebut. Dengan memanfaatkan teknologi GPS berketelitian tinggi, maka dapat dideteksi terjadinya deformasi koseismik pada permukaan bumi yang ditunjukkan oleh respon pergeseran posisi stasiun GPS pada periode waktu tertentu. Berdasarkan analisis data time series pengamatan stasiun GPS, maka akan dapat dihitung vektor pergeseran koseismik akibat gempa tersebut.

2026
👤 Penulis: ADHITA TARIH RAHMAN (NIM 15106066); Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, ST, M.Sc., dan Irwan Gumilar, ST
🏷️ Geofisika 🏷️ Deformasi Permukaan 🏷️ Analisis Data Time Series

ASPEK GEOLOGI PENENTUAN LANDAS KONTINEN

Landas Kontinen merupakan wilayah dasar laut di luar wilayah Laut Teritorial tempat suatu negara pantai memiliki hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, kepastian hukum atas suatu wilayah Landas Kontinen yang dapat ditarik melebihi jarak 200 mil laut ini, akan sangat mendukung suatu negara pantai, termasuk Indonesia untuk memanfaatkan segala sumber daya alam yang ada. Salah satu kriteria penarikan batas Landas Kontinen ini adalah berdasarkan aspek geologi, yaitu dengan menarik garis yang perbandingan ketebalan sedimennya dengan jarak horisontal dari kaki lereng kontinen bernilai 1%. Aspek geologi ini diharapkan mampu membuat batas Landas Kontinen Indonesia menjadi maksimum. Kriteria berdasarkan aspek geologi tersebut, telah diterapkan pada daerah selatan Sumbawa, yang menghasilkan batas Landas Kontinen Indonesia menjadi kurang dari 200 mil laut. Keadaan ini membuat upaya dalam menarik Landas Kontinen tambahan tidak dapat dilakukan. Sehingga, sebaiknya penerapan kriteria berdasarkan aspek geologi pada daerah selatan Sumbawa tidak digunakan.

2026
👤 Penulis: ERICK SEBASTIAN (NIM 15102011)
🏷️ Geofisika 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan
Halaman 3 dari 9
💬