📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 38 dokumenSTUDI KARAKTERISASI GEOKIMIA PEMBENTUKAN AIR ASAM TAMBANG DAN REKOMENDASI PENIMBUNAN BATUAN PENUTUP PADA TAMBANG BATUBARA PT XYZ
Kegiatan penambangan dapat mengubah bentang alam yang dapat mengakibatkan perubahan kondisi lingkungan, sehingga memungkinkan terjadinya perubahan sifat fisika dan kimia batuan. Perubahan tersebut dapat mempengaruhi kualitas air yang jika menunjukkan tingkat keasaman yang tinggi, maka air tersebut merupakan air asam tambang atau AAT. Studi karakterisasi geokimia batuan di lokasi tambang merupakan langkah awal yang sangat penting untuk memprediksi potensi pembentukan air asam tambang. Dengan mengetahui potensi pembentukan AAT, diharapkan dapat diketahui rencana dan strategi pencegahan AAT. Salah satunya dengan menggunakan metode enkapsulasi pada area timbunan batuan penutup. Dalam penelitian ini dilakukan karakterisasi geokimia dari sampel batuan yang diambil secara grab dan core sampling saat kunjungan lapangan yang dilakukan di PT XYZ. Karakterisasi Geokimia dari sampel batuan tersebut dilakukan dengan menggunakan uji statik yang kemudian hasilnya akan dibuat suatu model geokimia yang terbagi menjadi 2 area, yaitu area pit utara dan selatan. Hasil dari karakterisasi geokimia yang dilakukan melalui uji statik, terdapat 11 sampel batuan bersifat menghasilkan asam atau PAF (potentially acid forming) dan 9 sampel batuan bersifat tidak menghasilkan asam atau NAF (non-acid forming). Adapun hasil dari karakterisasi geokimia batuan dibuatkan model geokimia untuk masing-masing area pit. Pada area pit utara melalui karakterisasi geokimia yang dihasilkan dari 12 sampel, didapatkan 63% batuan merupakan PAF dan 37% batuan adalah NAF. Pada area pit selatan melalui karakterisasi geokimia yang dihasilkan dari 8 sampel, 80% batuan merupakan PAF dan 20% batuan adalah NAF. Adapun hasil model geokimia dan rencana produksi OB tahunan digunakan untuk menghasilkan desain dan strategi perencanaan penimbunan batuan PAF dan NAF dengan menggunakan metode enkapsulasi.
STUDI GEOLOGI DAN GEOKIMIA SEPANJANG ALIRAN SUNGAI BANYUPAHIT, KABUPATEN BONDOWOSO, JAWA TIMUR
Sungai Banyupahit mengalir sepanjang 12 km di Kaldera Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan di sepanjang aliran sungai, yaitu dari hulu di sekitar Danau Kawah Ijen hingga keluaran Mata Air Hangat Blawan di dinding utara kaldera. Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi geologi dan keberadaan sistem panas bumi melalui karakteristik air di sepanjang Sungai Banyupahit. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah studi literatur, analisis citra DEM (Digital Elevation Model), pemetaan geologi, pengukuran langsung karakteristik fisik (temperatur, pH, dan konduktivitas listrik) air dingin dan panas, pengambilan dan analisis kimia sampel air dingin dan panas, serta pengukuran langsung gas tanah (CO2, H2S, dan SO2). Analisis citra DEM dan pemetaan di lapangan menunjukkan, bahwa litologi di sepanjang aliran Sungai Banyupahit tersusun atas 8 satuan batuan. Satuan tersebut, dari tua ke muda, adalah Satuan Breksi Piroklastik Blawan, Batugamping, Andesit Piroksen Blawan, Tuf Plalangan, Andesit Gunung Blau, Breksi Piroklastik Gunung Papak, Andesit Piroksen Kawah Ijen, dan Breksi Piroklastik Gunung Kukusan. Hasil pemetaan struktur geologi dan pengukuran gas tanah menunjukkan keterdapatan 3 struktur geologi berarah barat daya-timur laut. Manifestasi panas bumi muncul sebagai Danau Kawah Ijen (41°C, pH <1) di hulu Sungai Banyupahit dan Mata Air Hangat Blawan (40-50°C, pH~6,4) di hilir sungai. Karakteristik Sungai Banyupahit adalah mempunyai temperatur antara 21 dan 24°C, pH antara 0,7 dan 5 (makin netral ke arah hilir), tipe SO4, dan kaya akan unsur terlarut Cl, F, B, dan SiO2. Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa di sepanjang Sungai Banyupahit terdapat 3 sistem panas bumi, yaitu Sistem Kawah Ijen, Gunung Blau, dan Blawan.
INTEGRASI METODE GRAVITASI, GEOKIMIA, DAN MINERALOGI DALAM PROSPEKSI ENDAPAN EMAS DI AREA KUTA USANG, KABUPATEN DAIRI, SUMATERA UTARA
Penelitian ini mengintegrasikan metode gravitasi, geokimia, dan mineralogi sebagai suatu kombinasi yang efisien dan hemat biaya untuk prospeksi endapan emas primer di area yang terbatas akan informasi geologi. Area Kuta Usang di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara merupakan target penelitian yang diduga memiliki endapan emas primer. Hal ini terlihat dari kehadiran tambang rakyat dengan metode gophering dan pendulangan di area hulu sungai. Oleh karena itu peta complete bouguer anomaly (CBA) dari data gravitasi yang bersifat open access seperti Global Gravity Model Plus (GGMPlus) diinterpretasi untuk mengindentifikasi sumber anomali gravitasi lokal yang berelasi dengan endapan emas, seperti patahan dan batuan intrusif. Identifikasi tersebut dilakukan mengekstraksi nilai tinggi Total Horizontal Derivative (THD) dan Analytic Signal (AS). Selanjutnya, ekstraksi tersebut dikombinasikan dengan penarikan garis dari batas kontras gravitasi yang ditunjukkan oleh peta residual CBA, serta informasi geologi regional untuk menentukan lokasi sampling rock chip dan konsentrat dulang. Peta yang telah dihasilkan berhasil mengidentifikasi keberadaan patahan dan intrusi granit di sejumlah titik yang dibuktikan saat kegiatan sampling pada 28 lokasi. Dari kegiatan tersebut, dilakukan pengamatan petrografi, uji X-Ray Diffraction (XRD), dan uji XRay Fluorescence (XRF) pada sampel rock chip. Hasil dari ketiganya menunjukkan alterasi di area ini terjadi akibat berkembangnya rekahan di dalam batuan, kemudian terisi oleh mineral karbonat seperti dolomite dan calcite, serta mineral alterasi lainnya seperti sericite, epidotee, dan minor chlorite. Disamping itu, mineralisasi sulfida terjadi setelah mineral alterasi pengisi rekahan tergantikan oleh mineral sulfida seperti pyrite, sphalerite, galena, dan minor chalcopyrite. Pengkayaan emas dan perak dari sampel yang terkayakan oleh mineral sulfida didukung oleh uji Atomic Absorption Spectrometry (AAS) dan kolorimetri dengan kadar Au di atas 2 ppb dan kadar Ag di atas 3 ppm. Dari uji tersebut teridentifikasi dua lokasi yang memiliki kadar Au di atas 3 ppm dan kadar Ag 20 ppm, pada litologi sekis mika dan filit teroksidasi. Berdasarkan pengamatan SEM-EDS, AuAg terkayakan dalam bentuk electrum pada sekis mika tersebut setelah menggantikan pyrite. Selain itu, timah hadir dalam mineralisasi emas ini sebagai mineral aksesoris berupa cassiterite yang juga menggantikan pyrite. Hal tersebut juga didukung dengan teridentifikasinya cassiterite pada sejumlah titik sampel dulang sungai. Ditinjau dari peta hasil ekstraksi nilai tinggi AS dan THD, kedua lokasi berkadar Au-Ag tinggi tersebut berada di tepi zona THD tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa lokasi pengkayaan Au-Ag berkadar tinggi berada di luar zona patahan utama.
POTENSI KETERDAPATAN LOGAM TANAH JARANG PADA PROFIL PELAPUKAN GRANITOID DI DAERAH SUKADANA, KALIMANTAN BARAT
Logam tanah jarang dan unsur lainnya digolongkan sebagai Critical Raw Materials (CRM) seiring dengan perkembangan teknologi tinggi, sehingga diperlukan eksplorasi untuk memenuhi permintaan. Di Indonesia, salah satu tipe endapan logam tanah jarang yang berkembang ialah ion adsorption clay. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi logam tanah jarang (LTJ) tipe tersebut berdasarkan mineralogi dan geokimia pada profil pelapukan granitoid di daerah Sukadana, Kalimantan Barat. Pemilihan lokasi pada Granit Sukadana didasari oleh kondisi geologi, intensitas pelapukan dan lateritisasi cukup memadai untuk pembentukan endapan LTJ. Kajian ini dilakukan melalui analisis mineralogi yang terdiri dari petrografi, XRD, SEM, dan analisis geokimia melalui XRF. Penelitian dilakukan di dua tempat, yakni Stasiun 2 dan Stasiun 4. Berdasarkan analisis petrografi, Stasiun 2 dan Stasiun 4 merupakan satuan granit serta ditemukannya rutil sebagai salah satu REE-bearing minerals. Sementara itu, XRD mengidentifikasi hadirnya mineral-mineral lempung yang dapat mengadsorpsi ion REE3+ seperti kaolinit dan illit. Dari hasil SEM juga menunjukkan kehadiran La dan Ce yang masing-masing memiliki konsentrasi sekitar 11 wt% dan 23 wt%. Di sisi lain, Al2O3 menunjukkan pola pengayaan pada saat SiO2 mengalami deplesi di horizon A seperti zona bauksit. Hal ini didukung juga oleh data konsentrasi Al2O3 pada Stasiun 2 mencapai 54,9 wt% dan Stasiun 4 mencapai 41,1 wt%. Hal ini dapat dijadikan sebagai studi awal untuk pengembangan eksplorasi LTJ pada formasi Granit Sukadana selanjutnya.
STUDI KARAKTERISTIK KOBALT (CO) PADA CEBAKAN NIKEL LATERIT DAERAH POMALAA UTARA, SULAWESI TENGGARA
Penelitian karakteristik kobalt (Co) pada cebakan nikel laterit di daerah Pomalaa Utara bertujuan untuk mengidentifikasi jenis mineral yang berasosiasi pada pengayaan kobalt (Co) di zona limonit, menentukan tipe cebakan kobalt (Co) pada batuan ultramafik jenis dunit dan harsburgit serta menentukan target eksplorasi kobalt (Co). Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis petrografi dan analisis X-Ray Diffraction (XRD), analisis geokimia menggunakan metode analisis X-Ray Fluoresence (XRF), sedangkan metode analisis statistik menggunakan histogram dan scatter diagram. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengolahan data yang diambil di daerah Pomalaa Utara, pengayaan unsur kobalt (Co) berhubungan dengan beberapa faktor seperti zona laterit, batuan dasar, asosiasi mineral, dan asosiasi geokimia. Unsur kobalt (Co) di daerah Pomalaa Utara memiliki nilai kadar rata-rata yang lebih tinggi pada zona limonit dibandingkan dengan zona lainnya, kadar rata-rata kobalt (Co) pada zona limonit dengan batuan dasar dunit terserpentinisasi lemah sebesar 0,108%, harsburgit terserpentinisasi lemah sebesar 0,123%, serta harsburgit terserpentinisasi sedang sebesar 0,122%. Ketebalan rata-rata pada zona limonit sebesar 12 m berada pada batuan dasar harsburgit terserpentinisasi sedang. Pada penelitian ini dapat disimpulkan pengayaan unsur kobalt (Co) di daerah Pomalaa Utara berada pada zona limonit bagian bawah pada kedalaman lima hingga delapan meter. Asosiasi mineral yang berhubungan dengan pengayaan kobalt (Co) adalah mineral gutit, sehingga dapat dikelompokkan sebagai kobalt tipe dua. Unsur kobalt (Co) pada zona limonit berkorelasi positif kuat dengan mangan (Mn), berkorelasi positif sedang dengan besi (Fe) dan berkorelasi positif lemah dengan krom (Cr).
STUDI KARAKTERISASI DAN BENEFISIASI BAUKSIT DI DAERAH TAYAN, KALIMANTAN BARAT
Penelitian dilakukan di daerah Tayan, Provinsi Kalimantan Barat di dalam area pertambangan IUP OP PT Antam Tbk. Daerah penelitian terbagi menjadi dua Blok antara lain Blok Mandai dan Blok Kelasau yang tidak terpisahkan secara geologi, namun hanya menjadi pembatas sebaran data area penelitian. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mendefinisikan karakteristik bauksit yang terbentuk di daerah penelitian berdasarkan beberapa parameter. Beberapa parameter yang digunakan untuk mendefinisikan karakteristik bauksit adalah batuan asal, kelimpahan senyawa oksida, dan derajat lateritisasi. Karakteristik bauksit yang telah didefinisikan tersebut kemudian dianalisis fraksi benefisiasi yang paling optimal dengan dilakukan uji fraksinasi pada masing-masing karakteristik bauksit tersebut. Penelitian dilakukan pada empat batuan asal berbeda yaitu diorit, diorit kuarsa, granodiorit, dan gabro. Pengambilan sampel dilakukan pada sumur uji menggunakan metode channel sampling dan dilakukan 3 jenis pengambilan sampel, yaitu sampel laterit in situ, sampel benefisiasi bauksit, dan sampel fraksinasi bauksit. Sampel laterit in situ dianalisis untuk mengetahui karakteristik profil laterit yang lengkap pada kondisi alami. Sampel bauksit pada profil laterit tersebut kemudian dilakukan proses benefisiasi pada ukuran +0,17 cm untuk mengetahui potensi peningkatan kualitas bauksit pada tiap karakter bauksit dengan ukuran fraksi yang umum digunakan saat ini. Uji fraksinasi dilakukan pada sampel bauksit yang akan dipisahkan berdasarkan ukuran butir menjadi 8 ukuran butir antara lain +10 cm, +5 cm, +2 cm, +1 cm, +0,17 cm, +0,10 cm, +0,06 cm, dan +0,03 cm. Seluruh sampel sumur uji dilakukan analisis X-Ray Fluorescence (XRF) untuk mendapatkan senyawa SiO2, Al2O3, Fe2O3, dan TiO2, dan analisis wet analysis gravimetry untuk mendapatkan nilai senyawa silika reaktif (RSiO2). Selain analisis geokimia, sampel fraksinasi yang mewakili masing-masing karakter bauksit dilakukan analisis X-Ray Diffraction (XRD) untuk mengetahui kelimpahan mineralnya. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa bauksit di daerah penelitian secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga karakter bauksit. Ketiga karakteristik ini dipisahkan berdasarkan derajat lateritisasi, kelimpahan senyawa oksida, dan batuan asal. Karakter bauksit silika rendah berkorelasi dengan batuan asal gabro dan diorit. Karakter bauksit silika sedang berkorelasi dengan batuan asal diorit kuarsa dan granodiorit. Karakter bauksit silika tinggi berkorelasi dengan batuan asal granodiorit terlateritisasi lemah. Kualitas bauksit yang baik ditunjukkan dengan nilai Al2O3 yang tinggi (>42%) dan SiO2 yang rendah (<20%). Hasil uji fraksinasi menunjukkan bahwa ukuran butir berkorelasi kuat positif terhadap kelimpahan senyawa Al2O3 dan berkorelasi kuat negatif terhadap kelimpahan senyawa SiO2. Secara umum kualitas bauksit akan memburuk umum pada ukuran butir di bawah 0,17 cm. Rekomendasi ukuran fraksi yang optimum untuk proses benefisiasi pada setiap karakter bauksit, yaitu karakter silika rendah pada fraksi 0,03 cm ke atas, karakter silika sedang pada fraksi 0,10 cm ke atas, dan karakter silika tinggi pada fraksi 0,17 cm ke atas. Studi yang dilakukan pada penelitian ini dapat membantu industri komoditas bauksit dari tahap eksplorasi sampai dengan produksi dalam karakterisasi dan benefisiasi bauksit. Metode pembagian klasifikasi berdasarkan karakteristik geokimia dapat menjadi pembagian klasifikasi sederhana yang aplikatif. Pada kegiatan eksplorasi dapat menjadi acuan geologiawan dalam mengarahkan kegiatan eksplorasi, pembagian ini juga dapat digunakan sebagai kelas dalam estimasi sumberdaya mineral, dalam kegiatan penambahan dapat digunakan sebagai acuan blending bijih agar sesuai dengan permintaan pasar, dan dalam kegiatan pencucian diharapkan menjadi lebih optimal mendapatkan kualitas bauksit dan CF untuk meningkatkan produk yang dapat dijual.
PETROGENESIS PRODUK VULKANIK YANG DIKONTROL TEKTONIK DI GUNUNGAPI SUOH DAN SEKITARNYA, LAMPUNG BARAT
Gunungapi Suoh adalah sebuah kompleks vulkanik aktif yang terletak di Lembah Suoh, sebuah area depresi tektonik pull-apart basin yang terbentuk oleh keberadaan Sesar Besar Sumatra di Lampung bagian barat, Provinsi Lampung, Indonesia. Erupsi gunung ini pada tahun 1933 memperlihatkan gunung ini memiliki karakteristik erupsi eksplosif yang kuat dan memakan banyak korban meskipun saat itu erupsi yang terjadi adalah erupsi freatik. Hasil pemetaan dan pengambilan sampel di Lembah Suoh dan sekitarnya membuktikan ternyata karakter eksplosif kuat ditemukan pada sebagian besar produk erupsi di area ini. Oleh karena itu, diperlukan studi mengenai karakteristik erupsi dan proses magmatismenya. Menggunakan studi tektonik, geokimia, dan petrografi mikrotekstural, didapatkan bahwa zona lemah pada jalur-jalur sesar di area Lembah Suoh ternyata mengontrol proses magmatisme yang dibuktikan dengan minimnya proses asimilasi magma dan keberadaan jejak dekompresi kuat pada kristal-kristal meski suplai magma umumnya tidak konstan banyak dan magma disinyalir memiliki kekentalan yang tinggi. Hasil analisis pada sampel Gunungapi Suoh ini kemudian dibandingkan dengan analisis produk gunungapi lainnya di sekitar Suoh. Produk gunungapi lain diketahui umumnya menunjukkan pengaruh tektonik yang lebih minimal dibandingkan produk Gunungapi Suoh. Diharapkan hasil studi ini dapat menjadi model dasar proses kenaikan magma yang bisa dijadikan acuan untuk memitigasi bahaya erupsi Gunungapi Suoh di masa depan. Selain itu, pengklasifikasian produk yang dilakukan juga akan memperbaharui peta geologi di area Lembah Suoh pada skala lokal.
KAJIAN KARAKTERISTIK GEOKIMIA DAN ANALISIS MINERALOGI PADA LAPISAN INTERBURDEN A2-B TAMBANG BATUBARA PT BUKIT ASAM (PERSERO) TBK.
Salah satu kegiatan penambangan yakni pengupasan tanah penutup akan menyebabkan terdedahnya mineral yang ada pada batuan. Saat terekspos, material dengan kandungan mineral sulfida akan mengalami proses oksidasi. Keberadaan air yang kontak dengan hasil oksidasi tersebut dapat menimbulkan air asam tambang (AAT). Air asam tambang memiliki tingkat keasaman yang tinggi dengan pH yang rendah serta kandungan logam terlarut yang tinggi. Dalam menjalankan sistem Good Mining Practice, PT Bukit Asam (Persero) Tbk. perlu melakukan pengelolaan tambang untuk meminimalisir terbentuknya AAT, khususnya pada Tambang Muara Tiga Besar (MTB). Dalam memprediksi pembentukan air asam tambang, dilakukan beberapa metode yang dapat dilakukan baik di lapangan ataupun di laboratorium. Metode tersebut adalah karakterisasi geokimia dengan metode uji statik dan uji kinetik. Parameter geokimia pada uji statik adalah total sulfur, acid neutralizing capacity (ANC), pH pasta, dan net acid generation (NAG). Sedangkan uji kinetik menggunakan metode free draining column leach test. Hasil penelitian menunjukan bahwa 8 sampel dari lapisan Interburden A2-B Muara Tiga Besar tergolong ke dalam kategori PAF (potential acid forming) dan dua lainnya terkategori sebagai NAF (non-acid forming). Sampel-sampel yang berada tepat di atas maupun di bawah seam batubara memiliki kecenderungan PAF dengan nilai total sulfur yang tinggi. Pola penyebaran batuan PAF pada lapisan Interburden A2-B di seluruh wilayah IUP PT Bukit Asam menunjukan kecenderungan tingkat asam semakin tinggi secara spasial dari timur ke barat. Hal ini di tunjukan dari uji statik dan uji kualitas air yang menyebutkan bahwa MTB yang berada paling barat wilayah IUP memiliki batuan PAF dengan nilai NAG pH dan pH pasta paling rendah serta kandungan logam paling tinggi.