📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 146 dokumen

STUDI DEFORMASI POSTSEISMIK GEMPA PANGANDARAN 2006 DENGAN MENGGUNAKAN METODE SURVEI GPS

Gempa dan tsunami Pangandaran 2006 yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006 pukul 15.19 WIB mengakibatkan kerugian materiil dan korban jiwa yang tidak sedikit. Gempa tersebut tercatat dengan magnitude 6,8 skala Ritcher (BMG, 2006). Gempa yang terletak 200 km dari daratan terdekat tersebut merupakan salah satu tahapan dari siklus gempa bumi yang terjadi di sekitar selatan Jawa Barat. Dengan mempelajari siklus gempa bumi dalam hal ini pada tahapan postseismik, diharapkan dapat berkontribusi dalam melihat kemungkinan periode terjadinya pengulangan gempa dan dalam melihat kemungkinan efek postseismik terhadap daerah sekitar akibat gempa Pangandaran 2006 sehingga dapat dijadikan evaluasi potensi gempa di masa yang akan datang sebagai upaya dalam mitigasi bencana. Survei GPS dilakukan dengan mengamati titik-titik pengamatan GPS di sekitar Pangandaran. Pada tanggal 23-30 Juli 2006 survei GPS kala ke-1 dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap 28 titik pengamatan, sedangkan survei GPS kala ke-2 mengamati 30 titik pengamatan pada tanggal 9-14 Agustus 2007. Metode yang digunakan adalah metode diferensial dengan moda jaring. Dari hasil pengolahan dan analisis mengindikasikan bahwa titik-titik di sekitar Pangandaran mengalami pergerakan sebesar 2-4 cm dengan arah ke selatan atau searah dengan tahapan coseismiknya.

2026
👤 Penulis: TEUKU MOCHAMAD NAWAKSARA (NIM 15103019)
🏷️ Geologi 🏷️ Gempa Bumi 🏷️ Survei Gps

VISUALISASI PRE-DISASTER MAP BERBASIS WEB MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK MAPSERVER (STUDI KASUS WILAYAH CEKUNGAN BANDUNG)

Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, setidaknya terjadi tiga bencana besar yang melanda Indonesia, yaitu gempa yang diikuti tsunami Aceh (2004), gempa Yogyakarta (2005) dan banjir Jakarta (2007). Hal ini menunjukkan bahwa Negara Indonesia berada pada wilayah rawan bencana alam. Untuk mengantisipasi datangnya bencana, maka diperlukan sebuah pre-disaster map yang mudah diakses oleh semua pihak. Dengan memanfaatkan teknologi internet, suatu pre-disaster berbasis web diharapkan dapat mendukung hal tersebut. Tugas akhir ini menjelaskan mengenai bencana, jenis bencana, jenis peta bencana dan cara penyajian visualisasinya pada web.

2026
👤 Penulis: ISWAHYUDI ISLAHI (NIM 15101014)
🏷️ Geologi 🏷️ Pengendalian Bencana Alam 🏷️ Teknologi Informasi

IDENTIFIKASI DAERAH BENCANA GEMPA MENGGUNAKAN KOMBINASI INFORMASI SPEKTRAL DAN TEKSTUR CITRA SPOT 4 DAN IKONOS

Pada tanggal 27 Mei 2006 terjadi gempa bumi di D.I. Yogyakarta yang merupakan gempa bumi terkuat yang mengguncang daerah tersebut. Gempa bumi ini menewaskan lebih dari 6.000 jiwa serta kerusakan bangunan yang sangat parah terutama di Kabupaten Bantul yang merupakan daerah yang paling parah terkena bencana ini. Pada penelitian ini digunakan citra penginderaan jauh pra gempa yaitu citra SPOT 4 dan pasca gempa yaitu citra IKONOS yang merupakan alat yang cukup cepat dan efisien dalam mengidentifikasi daerah mana saja yang mengalami kerusakan akibat bencana ini terutama di daerah sebagian besar Kabupaten Bantul yang merupakan cakupan dari penelitian ini dengan penggunaan kombinasi informasi spektral dan tekstur, sehingga dengan mengetahui informasi dari hasilnya tersebut dapat dilakukan pemetaan daerah bencana untuk dapat memfasilitasi manajemen respon terhadap bencana secara cepat.

2026
👤 Penulis: INTAN SOFIYANTI (NIM 15103020)
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Citra Penginderaan Jauh 🏷️ Manajemen Respon Bencana

ZONASI DAERAH RAWAN LONGSOR DENGAN METODE STABILITY INDEX MAPPING (SINMAP) (Studi Kasus: Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung)

Abstrak: Longsor sebagai bencana geologi yang telah sering terjadi di Indonesia dan banyak memakan korban, khususnya di Jawa Barat bagian selatan, sudah sepatutnya untuk diwaspadai dan dilakukan penanganan secara lebih baik, dari segi konsep, metode, sampai ke teknis di lapangan. Salah satu metode untuk menganalisis bencana longsor adalah metode Stability Index Mapping (SINMAP), dimana data-data yang digunakan pada metode ini yaitu, DEM, titik-titik yang pernah mengalami longsor pada area studi(landslide inventory), data curah hujan, data jenis tanah, yang akan diterapkan pada tugas akhir ini untuk menganalisis zona rawan longsor pada kecamatan Pangalengan, kabupaten Bandung. Indeks Stabilitas sebagai hasil akhir dari metode SINMAP akan ditumpang susunkan dengan peta tata guna lahannya untuk tujuan menghasilkan peta zonasi kestabilan lahan kecamatan Pangalengan.

2026
👤 Penulis: Isfandiar Muhammad Baihaqi (NIM:151 02 040)
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Bencana Longsor 🏷️ Peta Zonasi Kestabilan Lahan

STUDI GEOLOGI, ALTERASO, DAN MINERALISASI DAERAH TEMPURSASI DAN SEKITARNYA, KABUPATEN LUMAJANG, PROVINSI JAWA TIMUR

Minimnya studi terkait kondisi geologi, alterasi, dan mineralisasi pada Zona Pegunungan Selatan pada Pulau Jawa bagian timur menjadi suatu hal yang harus diperhatikan karena banyak ditemukan endapan mineral yang ada pada zona ini. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah memetakan kondisi geologi, alterasi, dan mineralisasi serta merekonstruksi sejarah geologi dan pembentukan endapan mineral di daerah Tempursari, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Metode yang digunakan meliputi pemetaan geologi dengan skala 1:25.000 dan skala 1:1000 (detail), analisis petrografi dan mineragrafi, serta interpretasi data sekunder berupa lokasi pengamatan geologi, struktur geologi, dan data spektral hasil pembacaan analytical spectral device (ASD). Hasil penelitian menunjukkan tiga satuan geomorfologi berupa Dataran Aluvial Tempursari, Dataran Kaki Gunung Semeru, dan Perbukitan Sisa-Gunung-Api Lumajang. Satuan batuan yang tersusun di daerah penelitian, dari yang tertua, meliputi Lava Andesit Mandalika, Intrusi Andesit Hornblenda, Intrusi Andesit Piroksen, dan Breksi Tuf Wuni. Struktur geologi berupa dua sesar geser mengiri dengan orientasi timur laut–barat daya dan dua sesar geser menganan orientasi barat laut–tenggara. Zona alterasi yang teridentifikasi antara lain zona klorit, zona epidot-klorit, zona serisit, dan silisifikasi, yang mengindikasikan adanya aktivitas hidrotermal. Mineralisasi yang ditemukan berupa pirit yang tersebar, bintik-bintik kalkopirit, bintik-bintik kovelit, noda malakit, besi oksida, serta urat kuarsa-pirit dan pirit. Mineralisasi paling intens ditemukan pada Intrusi Andesit Hornblenda. Satuan batuan yang ada pada daerah penelitian terbentuk pada rentang umur Oligosen Akhir hingga Miosen Tengah, begitupun dengan perkembangan struktur geologinya. Jika dilihat dari zona alterasi dan mineralisasinya, indikasi endapan mineral yang terbentuk diinterpretasikan merupakan bagian atas dari sistem porfiri yang berasosiasi dengan fluida hidrotermal dan berkembang pada umur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal.

2025
👤 Penulis: Daud Al Amin Rahmatulloh
🏷️ Geologi 🏷️ Alterasi Mineralisasi 🏷️ Hidrologi

ESTIMASI RISIKO GEMPA BUMI MELALUI PENGEMBANGAN PETA EKSPOSUR BERBASIS TAKSONOMI BANGUNAN, STUDI KASUS KAWASAN KONVERGENSI AKTIF SEGMEN BANDA

Penelitian ini menilai eksposur dan potensi kerugian akibat gempa pada fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan permukiman di Kawasan konvergensi aktif segmen Banda, yang berada pada zona tektonik kompleks antara Lempeng Australia, Pasifik, Eurasia, serta mikroblok lokal. Urgensi penelitian muncul dari kebutuhan informasi spasial rinci mengenai bangunan publik, karena fasdik dan faskes tidak hanya menyediakan layanan dasar tetapi juga sering berfungsi sebagai lokasi evakuasi darurat. Data eksposur makro saat ini belum cukup untuk mitigasi risiko lokal, sementara permukiman merupakan kategori bangunan paling luas dan rentan. Oleh karena itu, pemetaan mikrospasial berbasis taksonomi LW, MUR, MCF, dan CR menjadi penting untuk menilai kerentanan dan mendukung pengambilan keputusan. Hasil pemetaan menunjukkan sebagian besar fasdik (SD–SMP–SMA) bertipe MCF, dengan jumlah tertinggi di Sulawesi Tengah (SD: 2.277; SMP: 696; SMA: 180) dan Sulawesi Utara (SD: 1.892; SMP: 618; SMA: 193), sedangkan Maluku dan Maluku Utara masih didominasi MUR. Puskesmas sebagian besar juga MCF, terutama di Sulawesi Tengah (109 unit) dan Maluku (102 unit), sementara MUR dan LW hadir di Papua Barat dan Papua Barat Daya. Analisis populasi terdampak (bangunan dengan damage ratio ?10%) menunjukkan jumlah penduduk terdampak fasdik 12.438–35.343 jiwa (SD), 14.895–33.837 jiwa (SMP), dan 11.448–26.970 jiwa (SMA); faskes 1.125–18.874 jiwa per fasilitas; sedangkan permukiman menampilkan paparan tertinggi, mencapai ratusan ribu hingga lebih dari satu juta jiwa per provinsi. Penelitian ini menyediakan peta eksposur mikrospasial, estimasi kerugian ekonomi, dan jumlah populasi terdampak, yang dapat digunakan sebagai dasar ilmiah untuk mitigasi bencana, prioritisasi perkuatan bangunan, alokasi sumber daya, dan strategi kesiapsiagaan, mendukung pembangunan wilayah tangguh terhadap risiko gempa bumi.

2025
👤 Penulis: Dinda Puspa Vidya
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Risiko Gempa Bumi 🏷️ Analisis Eksposur Bangunan

PEMODELAN AKUIFER TERTEKAN DAN BEBAS PADA SUMUR EKSPLORASI DI DESA POSUHA, KABUPATEN KOLAKA, PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Formasi sedimen dan ultramafik di Pulau Sulawesi khususnya di Sulawesi Tenggara, seperti Formasi Langkowala dan Kompleks Ultramafik berpotensi sebagai formasi terakumulasinya sumber daya alam berupa air tanah. Hal ini harus terus diperhatikan dalam melakukan kajian dan pemodelan terkait sistem akuifer tertekan dan bebas. Tujuan dari penelitian antara lain adalah sebagai upaya melakukan pemodelan air tanah serta karakteristik dari Formasi Langkowala dan Kompleks Ultramafik berdasarkan data geologi, hidrogeologi, survei geofisika, dan pengujian lapangan. Mengetahui kondisi bawah permukaan dan melakukan korelasi antara titik pengeboran sehingga didapatkan hasil pemodelan yang digunakan untuk mengetahui karakteristik akuifer tertekan dan bebas, mengestimasi cadangan air tanah, serta pola aliran bawah permukaan yang ada di daerah penelitian. Lokasi penelitian dibagi menjadi satu area khusus, yang berada di Desa Pesouha dan sekitarnya, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. Batuan akuifer Formasi Langkowala dan Kompleks Ultramafik diduga memiliki potensi untuk menghasilkan cadangan air tanah yang cukup baik serta kualitas dan kuantitas yang harus tetap diperhatikan. Selain itu, kontrol struktur geologi berupa rekahan akan berpengaruh dominan terhadap sebaran air tanah di daerah penelitian. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini antara lain pemodelan air tanah, estimasi sumber daya air tanah, dan sebaran atau pola aliran air tanah di Formasi Langkowala dan Kompleks Ultramafik. Oleh karena itu penelitian ini digunakan sebagai upaya dalam memperhitungkan aspek-aspek geologi, hidrogeologi, dan survei geofisika bawah permukaan sesuai dengan kaidah dalam penerapan sistem hidrogeologi secara lokal dan regional. Penelitian akan menghasilkan peta geologi, peta hidrogeologi, peta pola aliran air tanah, penampang resistivitas uji geolistrik, hasil pengujian insitu, uji laboratorium, dan pemodelan akuifer tertekan dan bebas.

2025
👤 Penulis: M. Abdul Rahman Salim
🏷️ Geologi 🏷️ Hidrologi 🏷️ Pemetaan Geologi

STUDI GEOLOGI DAN GEOKIMIA FLUIDA MANIFESTASI PANAS BUMI DAERAH CIANJUR BAGIAN SELATAN, JAWA BARAT

Beberapa manifestasi panas bumi ditemukan di daerah Cianjur bagian selatan, khususnya Tanggeung, Cibungur, Leles, dan Panyindangan. Tujuan penelitian ini adalah memahami kondisi geologi yang mengontrol keluaran manifestasi, mengetahui asal; karakteristik; dan pola aliran fluida bawah permukaan, serta mengetahui model geokimia sistem geotermal daerah penelitian. Secara geologi, daerah penelitian terdiri atas tujuh satuan batuan, yaitu: Satuan Breksi Volkanik, Breksi Tuf, Batupasir, Batupasir Karbonatan, Diorit, dan Andesit. Adapun struktur geologi di daerah penelitian meliputi: sesar naik, Sesar Geser Mengiri Cibungur, Sesar Geser Mengiri Leles, Sesar Geser Menganan Leuwilutung, dan Sesar Geser Menganan Sukajadi. Struktur geologi diduga menjadi pengontrol sistem geotermal di daerah penelitian Hasil analisis geokimia menunjukan bahwa terdapat 5 reservoir di daerah penelitian. Sistem geotermal Tanggeung memiliki kolam air panas (PTG) bertemperatur 63,9°C dan pH 7,8. Reservoir sistem geotermal Tanggeung memiliki temperatur 120±10°C di kedalaman 18 meter pada Satuan Batuan Breksi Tufan. Sistem geotermal Cibungur memiliki dua kolam air panas dan satu kolam air hangat (PPG, PCB, dan PCH) dengan temperatur dan pH masing-masing: 55,2°C, 53,5°C, dan 41,3°C serta 8,3, 8,5 dan 8,6. Seluruh manifestasi berasal dari reservoir yang sama. Reservoir tersebut memiliki temperatur 120±10°C di kedalaman 18 meter pada Satuan Batuan Breksi Tufan. Sistem geotermal Leles memiliki tiga kolam air panas (PL1, PL2, dan PL4) dengan temperatur dan pH masing-masing: 65,7°C, 65,3°C, dan 57°C serta 7,7 di seluruh manifestasi. Manifestasi PL1 dan PL2 berasal dari reservoir yang sama, sedangkan manifestasi PL4 berasal dari reservoir yang berbeda. Kedua reservoir tersebut memiliki temperatur 110±10°C di kedalaman 10 meter pada Satuan Batupasir Karbonatan. Sistem geotermal Panyindangan memiliki kolam air hangat bertemperatur 38,9°C, pH 7,75, dan debit 1 liter/detik. Reservoir sistem geotermal Panyindangan memiliki temperatur 110±10°C di kedalaman 10 meter pada Satuan Batupasir Karbonatan.

2025
👤 Penulis: Muhammad Sultan Badruzzaman
🏷️ Geologi 🏷️ Geokimia 🏷️ Sistem Geotermal

STUDI ANALISIS SEKATAN SESAR PADA LAPANGAN DIABLO, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN, JAMBI

Analisis sekatan sesar merupakan komponen penting untuk menentukan sifat sesar sebagai jalur migrasi atau penyekat bagi hidrokarbon. Lapangan Diablo yang terletak pada bagian paling tenggara dari Blok Jabung, merupakan salah satu lapangan yang masih dalam tahap eksplorasi dan diperlukan pemahaman sistem sekatan sesar yang konklusif. Penelitian ini menganalisis sekatan sesar pada interval Formasi Talangakar Bawah hingga Formasi Air Benakat dari Lapangan Diablo, Cekungan Sumatra Selatan, menggunakan metode Shale Gouge Ratio (SGR) dan Jukstaposisi sebagai parameter utama. Data yang digunakan pada penelitian berupa data seismik 3D dengan luas sekitar 21 km² dan data 3 sumur eksplorasi. Pemodelan geologi 3D dilakukan menggunakan parameter utama petrofisika berupa volume serpih. Analisis sekatan sesar dilakukan dengan memodelkan diagram jukstaposisi, diagram throw, diagram volume serpih, dan diagram SGR pada bidang sesar untuk menentukan sifat sekatan sesar pada tiap interval formasi. Hasil analisis menunjukkan terdapat 21 sesar berarah dominan NE-SW memiliki nilai throw rata-rata 34 ft. Analisis jukstaposisi menunjukkan dominasi pertemuan batuserpih dengan batuserpih, sementara potensi kebocoran umumnya terjadi pada pertemuan batupasir dengan batupasir di Formasi Talangakar Atas serta antara batupasir berserpih dengan batupasir berserpih di Formasi Gumai. Perhitungan SGR menunjukkan kisaran nilai 16–87% dengan rata-rata 49%, menunjukkan tingginya proporsi serpih pada zona sesar. Berdasarkan ambang batas SGR 15–20% (Yielding, 2002), seluruh sesar bersifat sekat pada interval Formasi Air Benakat dan Talangakar Bawah, sedangkan pada interval Talangakar Atas (Sesar A, B, C, dan D) dan Formasi Gumai (Sesar B dan D) cenderung bersifat bocor yang divalidasi dengan perbedaan data tekanan formasi pada sumur SOKA-1 dan SOKA-2.

2025
👤 Penulis: Muhammad Ilham Akhsyah Wahmi
🏷️ Geologi 🏷️ Hidrokarbon 🏷️ Analisis Sekatan Sesar

ANALISIS MORFOLOGI GADING SPESIES PROBOSCIDEA DARI PULAU JAWA DAN FLORES SERTA KAITANNYA DENGAN LINGKUNGAN PURBA

Penelitian ini bertujuan untuk membedakan morfologi antara gading Proboscidea yang banyak ditemukan di Indonesia, lebih tepatnya pada fosil gading yang ditemukan di Pulau Jawa dan Flores. Morfologi dari gading yang diamati dikaitkan dengan lingkungan purba serta kondisi geologinya. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam penelitian gading untuk kedepannya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode biometrik dimana dilakukan pengukuran pada gading serta dengan mendeskripsikan fisik dari gading yang diamati. Hasil dari pengukuran akan dibandingkan antar spesies dan dibuat sebuah plot untuk melihat persebaran spesies dan menentukan parameter mana yang paling cocok dalam penentuan spesies dari gading yang diamati. Hasil dari penelitian ini berupa dua parameter yang paling cocok digunakan dalam identifikasi yaitu hubungan antara panjang gading dan sudut lengkungannya. Kondisi fisik dari gading juga dihubungkan dengan lingkungan purba dimana kondisi gading yang teramati dapat terlihat adaptasi serta kebiasaan pada suatu spesies.

2025
👤 Penulis: Fatah Wiksa Adristo
🏷️ Fosil 🏷️ Geologi 🏷️ Morfologi

STUDI GEOLOGI DAN HIDROGEOLOGI DAERAH LIMBONG, KABUPATEN LUWU UTARA, PROVINSI SULAWESI SELATAN

Daerah Limbong memiliki distribusi mata air panas yang mengindikasikan adanya sistem geotermal dari bawah permukaan. Namun, informasi geologi dan hidrogeologi di daerah Limbong masih sangat terbatas sehingga belum teridentifikasi secara masif. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi geologi dengan hidrogeologi di daerah Limbong. Metode penelitian yang dilakukan berupa studi literatur, analisis citra satelit, pemetaan geologi, analisis geomorfologi, analisis petrografi, dan karakteristik fisik serta kimia air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian terdiri dari empat satuan geomorfologi berupa Bukit Intrusi Dango, Bukit Intrusi Kanandede, Bukit Intrusi Tobangan, dan Bukit Piroklastik Komba. Terdapat lima satuan batuan tidak resmi dari tua ke muda di daerah penelitian berupa Satuan Lava Pengkendekan, Satuan Granit Nase, Satuan Granit Tanano, Satuan Granodiorit Rongkong, dan Satuan Tuf Komba. Terdapat empat jenis sesar yaitu Sesar Geser Menganan Normal Tulang-Tulang, Sesar Geser Normal Mengiri Rasasisi, Sesar Normal Menganan Kanandede, dan Sesar Mengiri Tanano. Kompleks mata air panas di Daerah Tanano berada pada fasies Na–????????????3 yang menunjukkan adanya interaksi intens dengan proses pelapukan mineral silikat dari granit. Kompleks mata air panas di Daerah Komba berada pada fasies Na–Cl yang menunjukkan adanya interaksi dengan fluida panas yang relatif dalam di bawah permukaan dan proses evaporasi yang intens. Kedua kompleks mata air menunjukkan bahwa sumber panas di bawah permukaan kemungkinan berasal dari batuan granit di sisi utara daerah penelitian. Mata air dingin dan air sungai berada pada fasies ?????????????????????3 yang menunjukkan air luahan langsung dari area resapan. Zona resapan berada pada elevasi 1407–1472 mdpl yang terletak pada lereng landai di puncak pegunungan dengan litologi granit. Zona luahan terletak pada elevasi lebih rendah, sekitar kurang dari 883 mdpl, yang terletak pada lereng agak miring hingga agak curam dan berada relatif dekat dengan zona sesar.

2025
👤 Penulis: Pramukti Probojati Yoga
🏷️ Geologi 🏷️ Hidrogeologi 🏷️ Mata Air Panas

STUDI GEOLOGI DAN KARAKTERISTIK NIKEL LATERIT DI DAERAH SELOGIRI, KABUPATEN KEBUMEN, JAWA TENGAH

Kebutuhan akan nikel di Indonesia mengalami peningkatan pesat seiring dengan perkembangan teknologi dan tingginya permintaan industri. Untuk menjawab tantangan tersebut, eksplorasi sumber daya nikel perlu dilakukan secara berkelanjutan. Nikel laterit yang berasal dari pelapukan batuan ultramafik tersebar di berbagai wilayah khusus di Indonesia, salah satunya adalah daerah Selogiri yang memiliki prospek nikel akibat kehadiran batuan ultramafik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik nikel laterit serta kondisi geologi yang memengaruhi proses laterisasi. Pengambilan data lapangan dilakukan melalui pemetaan geologi dan pengeboran manual menggunakan hand auger. Pemetaan mencakup persebaran litologi, kondisi stratigrafi, dan struktur geologi. Data sampel dari pengeboran dianalisis menggunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF) untuk menentukan kandungan unsur kimia dari masing-masing zona laterit. Sebanyak tujuh sampel tanah dan satu batuan dasar dianalisis untuk mewakili setiap zona laterit di daerah penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa daerah penelitian terdiri atas satuan serpentinit, gabro, basalt, batulempung bersisik, dan aluvial. Struktur geologi yang berkembang mencakup dua jenis sesar, yaitu sesar naik menganan berarah timur laut – barat daya dan sesar geser menganan turun berarah utara – selatan. Profil laterit dilokasi penelitian terbagi menjadi tanah penutup setebal 0,9 m, zona limonit setebal 1,8 m, zona saprolit setebal 1,35 m dari hasil pengeboran dan batuan dasar berupa serpentinit. Satuan batuan daerah penelitian tersingkap pada umur Plio-Pleistosen dan dilanjutkan dengan proses laterisasi. Berdasarkan analisis geokimia, tingkat laterisasi di daerah penelitian tergolong dalam kategori laterisasi lemah. Nikel ditemukan terkonsentrasi pada zona saprolit, dengan kadar tertinggi sebesar 0,061%. Kehadiran mineral serpentin pada zona saprolit yang teridentifikasi melalui pengeboran serta pengayaan pada zona saprolit mengindikasikan bahwa tipe nikel laterit di daerah ini termasuk dalam kategori tipe silikat.

2025
👤 Penulis: Raynald Ariyaputera
🏷️ Geologi 🏷️ Karakteristik Mineral Nikel 🏷️ Analisis Geokimia

STUDI LINGKUNGAN PENGENDAPAN, KARAKTERISTIK, KUALITAS, DAN ESTIMASI SUMBER DAYA BATUBARA BLOK BARAT PIT X, KABUPATEN PASER, KALIMANTAN TIMUR

Formasi Warukin yang berumur Miosen Tengah dikenal sebagai salah satu formasi pembawa batubara di Indonesia. Formasi ini terendapkan di Cekungan Pasir yang dipisahkan oleh Pegunungan Meratus dari Cekungan Barito. Salah satu perusahaan yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) di cekungan ini adalah PT Kideco Jaya Agung, yang mengoperasikan Blok Barat Pit X. Penelitian ini berfokus pada peninjauan kondisi geologi, lingkungan pengendapan, karakteristik, dan kualitas batubara serta melakukan perhitungan terhadap estimasi sumber daya batubara di lokasi penelitian yang memiliki luas total 1,6 km2. Data primer pada penelitian ini meliputi hasil penampang stratigrafi dan observasi singkapan yang disajikan dalam bentuk kolom stratigrafi untuk melakukan analisis lingkungan pengendapan berdasarkan litofasies. Karakteristik batubara diperoleh dengan analisis data sekunder berupa kualitas batubara. Selain itu, digunakan data pemboran dan data log untuk memperoleh korelasi lapisan batubara. Pemodelan lapisan dan estimasi sumber daya batubara dilakukan melalui perangkat lunak Minescape Ventyx 5.7 dengan mengadopsi metode circular USGS. Terdapat lima lapisan batubara, dengan penelitian yang difokuskan pada lapisan 4, 5, dan 6 berdasarkan ketersediaan data kualitas. Kondisi geologi daerah penelitian memiliki indikasi sebagai salah satu sayap lipatan berdasarkan keberadaan pada peta geologi regional dan tren dari kedudukan lapisan. Secara litostratigrafi, terdiri atas dua satuan tidak resmi, yaitu Satuan Batupasir-Batulanau dan Satuan Batulempung-Batupasir. Hasil analisis litofasies menunjukkan lingkungan pengendapan transitional lower delta plain dengan asosiasi fasies channel, interdistributary bay, dan swamp. Batubara pada daerah ini tergolong peringkat subbituminus B dengan nilai kalori rata-rata 9.924,7 btu/lb, kadar sulfur rendah (0,08–0,09% adb), dan kadar abu sangat rendah (2,84–3,78% adb). Kompleksitas geologi pada ketiga lapisan yang dianalisis termasuk dalam kategori sederhana hingga moderat dengan total estimasi sumber daya batubara mencakup 0,002 juta ton tereka, 1,2 juta ton tertunjuk, dan 37,6 juta ton terukur.

2025
👤 Penulis: Muhammad Raihan Perkasa
🏷️ Geologi 🏷️ Batubara 🏷️ Analisis Lingkungan

STUDI PEMODELAN GEOLOGI 3D DAN ESTIMASI SUMBER DAYA TERUKUR NIKEL LATERIT DENGAN METODE INVERSE DISTANCE WEIGHT (IDW) DI AREA TAMBANG X, DAERAH POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, SULAWESI TENGGARA

Nikel merupakan komoditas dengan permintaan global yang terus meningkat. Permintaan yang terus tumbuh menyebabkan perlu suatu tahapan untuk memperkirakan potensi sumber daya nikel baru di suatu wilayah. Salah satu tahapan penting tersebut adalah pemodelan zona endapan dan estimasi sumber daya nikel laterit. Penelitian ini bertujuan untuk memahami karakteristik geologi dan zona endapan nikel laterit, melakukan pemodelan geologi 3D zona laterit berdasarkan karakteristiknya, serta mengestimasi sumber daya terukur nikel laterit di area penelitian yang berlokasi di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Data yang digunakan adalah data pengamatan singkapan, sayatan tipis batuan dasar, topografi orisinil hasil akuisisi LiDAR, dan inti bor. Endapan nikel laterit di lokasi penelitian terdiri atas empat zona utama, yaitu tanah pucuk, limonit, saprolit, dan batuan dasar. Keempat zona ini menunjukkan kemenerusan geologi yang baik. Batuan dasar terdiri dari harzburgit, lherzolit, dunit, dan serpentinit. Pengayaan nikel tertinggi ditemukan pada zona limonit dan saprolit dengan kemenerusan kadar yang baik. Pemodelan geologi 3D dan pemodelan blok dilakukan di area penelitian. Model 3D dibangun dengan mengorelasikan empat domain utama laterit berdasarkan data titik bor. Domain limonit serta saprolit dari model 3D ditransformasikan menjadi blok-blok kubus dalam pemodelan blok yang kemudian diisi dengan interpolasi kadar Ni menggunakan metode Inverse Distance Weight (IDW). Nilai power optimal masing-masing sebesar 3 untuk limonit dan 4 untuk saprolit. Estimasi kadar nikel dibatasi oleh nilai cut-off grade (COG), yaitu 1,2% untuk domain limonit dan 1,5% untuk domain saprolit. Hasil estimasi menunjukkan bahwa domain limonit memiliki sumber daya terukur sebesar 1,42 juta ton dengan kadar rata-rata nikel 1,36%, sedangkan domain saprolit memiliki sumber daya terukur sebesar 1,84 juta ton dengan kadar rata-rata nikel 1,86%.

2025
👤 Penulis: Sulthan Pramudito Bevansha A A
🏷️ Geologi 🏷️ Estimasi Sumber Daya Mineral 🏷️ Metode Inverse Distance Weight (Idw)

STUDI GEOLOGI DAN HIDROGEOLOGI DI DAERAH DOLOK MARAWA, KABUPATEN SIMALUNGUN, PROVINSI SUMATRA UTARA

Penelitian mengenai kondisi geologi dan hidrogeologi di Daerah Dolok Marawa, Kabupaten Simalungun, masih terbatas, meskipun hal ini sangat penting untuk memahami potensi sumber daya air tanah, pengembangan kawasan wisata, serta konservasi lingkungan di wilayah tersebut. Daerah ini memiliki keberadaan mata air panas dan hangat di sepanjang aliran Sungai Balakbak serta endapan travertin yang tersebar di sekitar keluaran mata air. Metode penelitian meliputi pemetaan geologi skala 1:25.000 melalui penginderaan jauh, pengamatan lapangan, dan analisis petrografi, serta analisis fisik dan kimia air yang mencakup parameter suhu, pH, Total Dissolved Solids (TDS), Electrical Conductivity (EC), kandungan kation–anion utama (Na?, K?, Ca²?, Mg²?, Cl?, SO?²?, HCO??, NO??), dan isotop stabil ¹?O dan ²H. Hasil pemetaan mengidentifikasi lima satuan geologi utama yaitu Satuan Lava Andesit (Qlva), Satuan Tuf Terlaskan (Qtt), Satuan Tuf Lapili (Qtl), Satuan Travertin (Qtr), dan Satuan Aluvium (Qa), serta dua struktur geologi. Berdasarkan diagram Piper, sampel air di daerah penelitian diklasifikasikan sebagai fasies Ca+Mg–HCO?. Seluruh sampel menunjukkan karakter immature water yang belum mencapai kesetimbangan geokimia dengan batuan akuifer. Mata air panas diduga berasal dari air meteorik yang telah mengalami pemanasan atau pencampuran. Model hidrogeologi yang dikembangkan menunjukkan bahwa pola aliran air tanah cenderung ke arah timur laut, dengan zona resapan mata air panas berada pada elevasi sekitar ±534 mdpl dan mata air dingin pada ±800 mdpl. Litologi di daerah penelitian bervariasi dari permeabel hingga impermeabel sehingga membentuk akuifer bertipe ruang antarbutir, bercelah, atau kombinasi keduanya. Sumber panas diduga berasal dari sisa aktivitas vulkanik, khususnya Dolok Bahtopu. Air meteorik meresap ke bawah, mengalami pemanasan, kemudian naik melalui rekahan sambil membawa material karbonat yang selanjutnya mengendap di permukaan sebagai travertin.

2025
👤 Penulis: Jose Promo Anugerah Panjaitan
🏷️ Geologi 🏷️ Hidrogeologi 🏷️ Pengelolaan Sumber Air
Halaman 3 dari 10
💬