📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 40 dokumenPERUMUSAN USULAN PROSEDUR PEMBARUAN INFORMASI GEOSPASIAL STUDI KASUS: KOTA BANDUNG
Informasi geospasial merupakan informasi yang memiliki unsur lokasi yang diwakili oleh bentuk – bentuk dasarnya seperti titik, garis, dan bidang. Informasi ini dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kondisi di permukaan bumi asli. Namun karena seiring waktu terdapat beberapa perubahan yang terjadi pada penampakan permukaan bumi, maka informasi geospasial pun perlu mengalami pembaruan. Pada penelitian ini akan dirumuskan sebuah usulan prosedur pembaruan, mengingat belum adanya standar baku terkait teknis pembaruan informasi geospasial. Diawali dari tersedianya data foto udara Kota Bandung yang diproduksi pada tahun 2016, penelitian ini akan mengamati perubahan yang terjadi dengan mengakuisisi kembali data foto udara menggunakan wahana nir-awak pada dua daerah di Kota Bandung pada tahun 2022. Berdasarkan hasil perbandingan, terdapat perubahan seperti penambahan objek baru, hilangnya objek lama, dan perubahan bentuk objek. Namun, tidak teramati adanya perubahan posisi horizontal pada objek – objek yang tidak mengalami perubahan penampakan dengan rata-rata selisih nilai easting dan northing -0.002 dan -0.025 meter. Hal ini menjadi janggal karena teramati nya perubahan posisi pada titik referensi yang dalam hal ini stasiun CORS CLBG dan CANG dengan perubahan easting dan northing sebesar 0.15 dan -0.04 meter. Hal ini dapat disebabkan oleh digunakannya metode real-time kinematic dalam mengadakan titik kontrol tanah yang diduga bahwa dalam komunikasi datanya, metode ini sudah mengoreksi perubahan koordinat stasiun seiring waktu. Dengan begitu, metode – metode yang digunakan dalam penelitian ini dari mulai akuisisi hingga pengolahan data dapat dijadikan landasan untuk perumusan prosedur pembaruan.
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PETA KADASTER KELAUTAN INDONESIA
Hingga kini, penyelenggaraan kelautan Indonesia mengacu pada peraturan seperti UUD 1945 Pasal 33 Ayat 3, UU No. 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-pulau Kecil, dan UU No. 32 Tahun 2014 Tentang Kelautan. Namun, belum ada peraturan yang secara menyeluruh mengatur Kadaster Kelautan, sehingga perencanaan, pengelolaan, dan pengambilan keputusan terkait dengan sumber daya di laut dan wilayah pesisir masih belum optimal, seperti di Sumatera Barat. Permasalahan utama dalam Kadaster Kelautan adalah ketiadaan spesifikasi teknis baku untuk pembuatan Peta Kadaster Kelautan, terutama di wilayah pesisir yang memiliki masalah seperti alih fungsi lahan hutan bakau. Diperlukan pengolahan data geospasial dan analisis melalui Peta Kadaster Kelautan untuk mendukung pengambilan keputusan dan pemenuhan kebutuhan pembangunan berkelanjutan, khususnya terkait dengan sumber daya di laut dan wilayah pesisir masih belum optimal, seperti di Sumatera Barat. Permasalahan utama dalam Kadaster Kelautan adalah ketiadaan spesifikasi teknis baku untuk pembuatan Peta Kadaster Kelautan, terutama di wilayah pesisir yang memiliki masalah seperti alih fungsi lahan hutan bakau. Diperlukan pengolahan data geospasial dan analisis melalui Peta Kadaster Kelautan untuk mendukung pengambilan keputusan dan pemenuhan kebutuhan pembangunan berkelanjutan, khususnya terkait penjagaan ekosistem laut. Produk capstone Peta Kadaster Kelautan di Provinsi Sumatera Barat menghasilkan 25 peta, dan setiap peta terdiri dari 3 bagian yakni; ruang permukaan, ruang kolom air dan bagian ruang dasar laut.
PENGEMBANGAN PRODUK GEOSPASIAL AREA PRIORITAS KONSERVASI BIODIVERSITAS EKOREGION DI JAWA BARAT
Biodiversitas global sedang menghadapi ancaman kepunahan yang serius. Indonesia, sebagai salah satu dari tujuh belas negara mega-biodiversitas di dunia, bertanggung jawab atas 60% hilangnya biodiversitas global antara tahun 1996 hingga 2008. Ancaman seperti bencana hidrometeorologi dan tekanan sosio-ekonomi semakin mengancam keutuhan habitat fauna di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Kawasan konservasi adalah cara yang paling efektif dalam melestarikan ekosistem alami. Dalam penentuan kawasan konservasi, diperlukan langkah awal yang mendasar dan sistematis, oleh karena itu digunakan rujukan berupa Open Standards for The Practice of Conservation yang diterbitkan versi 4.0 yang diterbitkan pada tahun 2020 oleh CMP (Conservation Measures Partnership). Pekerjaan ini hanya akan mencakup tahap penilaian, yang merupakan langkah pertama dalam proses penentuan kawasan prioritas konservasi. Tahap ini meliputi definisi cakupan konservasi, identifikasi ancaman kritis, penilaian situasi konservasi, dan penggunaan model spasial untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk geospasial yang berperan dalam penentuan wilayah prioritas konservasi biodiversitas ekoregion di Jawa Barat, dengan juga mempertimbangkan dampak positif terhadap kesejahteraan manusia. Dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran mesin, penginderaan jauh, dan Sistem Informasi Geografis (SIG), model wilayah prioritas konservasi yang diciptakan akan ditampilkan dalam bentuk WebGIS untuk memudahkan akses informasi terkait upaya konservasi. Pekerjaan ini terdiri dari beberapa langkah utama. Pertama, dalam pendefinisian tujuan dan mengidentifikasi tim proyek, ditetapkan bahwa tujuan utama proyek ini adalah mengembangkan model untuk menentukan area prioritas konservasi biodiversitas di Jawa Barat, dengan tim proyek yang terdiri dari mahasiswa ITB dan BBKSDA Jawa Barat. Selanjutnya, mendefinisikan cakupan, visi, dan target konservasi. Proyek ini berfokus pada lokasi Jawa Barat, melindungi mamalia endemik yang terancam punah, dan menyediakan jasa ekosistem karbon. Ancaman kritis terhadap konservasi dianalisis, mencakup ancaman langsung dari aktivitas manusia dan fenomena alam seperti perubahan iklim. Dalam mengembangkan model spasial, empat model utama dikembangkan: model kesesuaian multi habitat, model jasa ekosistem karbon, model tekanan iklim, dan model tekanan sosio-ekonomi. Keempat model ini digabungkan untuk menentukan area prioritas konservasi yang kemudian ditampilkan dalam WebGIS. Model kesesuaian habitat menggunakan beberapa metode pembelajaran mesin untuk menentukan wilayah yang cocok sebagai habitat mamalia endemik. Model jasa ekosistem mengukur potensi penyerapan dan penyimpanan karbon di area konservasi. Model tekanan iklim mengidentifikasi risiko kekeringan yang dapat merusak biodiversitas, dan model tekanan sosio-ekonomi menilai dampak aktivitas manusia terhadap kerugian biodiversitas. WebGIS yang dikembangkan menyediakan akses mudah bagi khalayak umum untuk melihat peta interaktif yang menampilkan informasi area prioritas konservasi, kesesuaian habitat, potensi jasa ekosistem, serta ancaman iklim dan sosio-ekonomi. Dengan pendekatan ini, upaya konservasi dapat lebih terarah, efisien, dan efektif dalam melindungi biodiversitas dan jasa ekosistem yang ada. Pentingnya penggunaan data penginderaan jauh dan pembelajaran mesin dalam pekerjaan ini adalah untuk mendapatkan cakupan data yang luas, akurat, dan efisien dalam waktu dan biaya. Penginderaan jauh memungkinkan pengumpulan data dari area yang luas dengan cepat, sedangkan pembelajaran mesin membantu dalam analisis data yang kompleks dan memberikan prediksi yang lebih akurat mengenai wilayah yang memerlukan prioritas konservasi. Selain itu, pekerjaan ini juga mempertimbangkan dampak sosial dari kegiatan konservasi. Kawasan konservasi yang direncanakan diharapkan tidak hanya melindungi biodiversitas tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan manusia, seperti penyediaan jasa ekosistem penyerapan dan penyimpanan karbon. Dalam implementasinya, produk ini dapat diakses dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah, peneliti, dan masyarakat umum. Dengan pendekatan berbasis data dan teknologi yang inovatif, proyek ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam melindungi biodiversitas di Jawa Barat dan menjadi acuan bagi upaya konservasi di masa mendatang.
PENGEMBANGAN PRODUK GEOSPASIAL AREA PRIORITAS KONSERVASI BIODIVERSITAS EKOREGION DI JAWA BARAT
Biodiversitas global sedang menghadapi ancaman kepunahan yang serius. Indonesia, sebagai salah satu dari tujuh belas negara mega-biodiversitas di dunia, bertanggung jawab atas 60% hilangnya biodiversitas global antara tahun 1996 hingga 2008. Ancaman seperti bencana hidrometeorologi dan tekanan sosio-ekonomi semakin mengancam keutuhan habitat fauna di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Kawasan konservasi adalah cara yang paling efektif dalam melestarikan ekosistem alami. Dalam penentuan kawasan konservasi, diperlukan langkah awal yang mendasar dan sistematis, oleh karena itu digunakan rujukan berupa Open Standards for The Practice of Conservation yang diterbitkan versi 4.0 yang diterbitkan pada tahun 2020 oleh CMP (Conservation Measures Partnership). Pekerjaan ini hanya akan mencakup tahap penilaian, yang merupakan langkah pertama dalam proses penentuan kawasan prioritas konservasi. Tahap ini meliputi definisi cakupan konservasi, identifikasi ancaman kritis, penilaian situasi konservasi, dan penggunaan model spasial untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk geospasial yang berperan dalam penentuan wilayah prioritas konservasi biodiversitas ekoregion di Jawa Barat, dengan juga mempertimbangkan dampak positif terhadap kesejahteraan manusia. Dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran mesin, penginderaan jauh, dan Sistem Informasi Geografis (SIG), model wilayah prioritas konservasi yang diciptakan akan ditampilkan dalam bentuk WebGIS untuk memudahkan akses informasi terkait upaya konservasi. Pekerjaan ini terdiri dari beberapa langkah utama. Pertama, dalam pendefinisian tujuan dan mengidentifikasi tim proyek, ditetapkan bahwa tujuan utama proyek ini adalah mengembangkan model untuk menentukan area prioritas konservasi biodiversitas di Jawa Barat, dengan tim proyek yang terdiri dari mahasiswa ITB dan BBKSDA Jawa Barat. Selanjutnya, mendefinisikan cakupan, visi, dan target konservasi. Proyek ini berfokus pada lokasi Jawa Barat, melindungi mamalia endemik yang terancam punah, dan menyediakan jasa ekosistem karbon. Ancaman kritis terhadap konservasi dianalisis, mencakup ancaman langsung dari aktivitas manusia dan fenomena alam seperti perubahan iklim. Dalam mengembangkan model spasial, empat model utama dikembangkan: model kesesuaian multi habitat, model jasa ekosistem karbon, model tekanan iklim, dan model tekanan sosio-ekonomi. Keempat model ini digabungkan untuk menentukan area prioritas konservasi yang kemudian ditampilkan dalam WebGIS. Model kesesuaian habitat menggunakan beberapa metode pembelajaran mesin untuk menentukan wilayah yang cocok sebagai habitat mamalia endemik. Model jasa ekosistem mengukur potensi penyerapan dan penyimpanan karbon di area konservasi. Model tekanan iklim mengidentifikasi risiko kekeringan yang dapat merusak biodiversitas, dan model tekanan sosio-ekonomi menilai dampak aktivitas manusia terhadap kerugian biodiversitas. WebGIS yang dikembangkan menyediakan akses mudah bagi khalayak umum untuk melihat peta interaktif yang menampilkan informasi area prioritas konservasi, kesesuaian habitat, potensi jasa ekosistem, serta ancaman iklim dan sosio-ekonomi. Dengan pendekatan ini, upaya konservasi dapat lebih terarah, efisien, dan efektif dalam melindungi biodiversitas dan jasa ekosistem yang ada. Pentingnya penggunaan data penginderaan jauh dan pembelajaran mesin dalam pekerjaan ini adalah untuk mendapatkan cakupan data yang luas, akurat, dan efisien dalam waktu dan biaya. Penginderaan jauh memungkinkan pengumpulan data dari area yang luas dengan cepat, sedangkan pembelajaran mesin membantu dalam analisis data yang kompleks dan memberikan prediksi yang lebih akurat mengenai wilayah yang memerlukan prioritas konservasi. Selain itu, pekerjaan ini juga mempertimbangkan dampak sosial dari kegiatan konservasi. Kawasan konservasi yang direncanakan diharapkan tidak hanya melindungi biodiversitas tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan manusia, seperti penyediaan jasa ekosistem penyerapan dan penyimpanan karbon. Dalam implementasinya, produk ini dapat diakses dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah, peneliti, dan masyarakat umum. Dengan pendekatan berbasis data dan teknologi yang inovatif, proyek ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam melindungi biodiversitas di Jawa Barat dan menjadi acuan bagi upaya konservasi di masa mendatang.
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PETA KADASTER KELAUTAN INDONESIA
Hingga kini, penyelenggaraan kelautan Indonesia mengacu pada peraturan seperti UUD 1945 Pasal 33 Ayat 3, UU No. 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-pulau Kecil, dan UU No. 32 Tahun 2014 Tentang Kelautan. Namun, belum ada peraturan yang secara menyeluruh mengatur Kadaster Kelautan, sehingga perencanaan, pengelolaan, dan pengambilan keputusan terkait dengan sumber daya di laut dan wilayah pesisir masih belum optimal, seperti di Sumatera Barat. Permasalahan utama dalam Kadaster Kelautan adalah ketiadaan spesifikasi teknis baku untuk pembuatan Peta Kadaster Kelautan, terutama di wilayah pesisir yang memiliki masalah seperti alih fungsi lahan hutan bakau. Diperlukan pengolahan data geospasial dan analisis melalui Peta Kadaster Kelautan untuk mendukung pengambilan keputusan dan pemenuhan kebutuhan pembangunan berkelanjutan, khususnya terkait dengan sumber daya di laut dan wilayah pesisir masih belum optimal, seperti di Sumatera Barat. Permasalahan utama dalam Kadaster Kelautan adalah ketiadaan spesifikasi teknis baku untuk pembuatan Peta Kadaster Kelautan, terutama di wilayah pesisir yang memiliki masalah seperti alih fungsi lahan hutan bakau. Diperlukan pengolahan data geospasial dan analisis melalui Peta Kadaster Kelautan untuk mendukung pengambilan keputusan dan pemenuhan kebutuhan pembangunan berkelanjutan, khususnya terkait penjagaan ekosistem laut.
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PETA KADASTER KELAUTAN INDONESIA
Hingga kini, penyelenggaraan kelautan Indonesia mengacu pada peraturan seperti UUD 1945 Pasal 33 Ayat 3, UU No. 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-pulau Kecil, dan UU No. 32 Tahun 2014 Tentang Kelautan. Namun, belum ada peraturan yang secara menyeluruh mengatur Kadaster Kelautan, sehingga perencanaan, pengelolaan, dan pengambilan keputusan terkait dengan sumber daya di laut dan wilayah pesisir masih belum optimal, seperti di Sumatera Barat. Permasalahan utama dalam Kadaster Kelautan adalah ketiadaan spesifikasi teknis baku untuk pembuatan Peta Kadaster Kelautan, terutama di wilayah pesisir yang memiliki masalah seperti alih fungsi lahan hutan bakau. Diperlukan pengolahan data geospasial dan analisis melalui Peta Kadaster Kelautan untuk mendukung pengambilan keputusan dan pemenuhan kebutuhan pembangunan berkelanjutan, khususnya terkait dengan sumber daya di laut dan wilayah pesisir masih belum optimal, seperti di Sumatera Barat. Permasalahan utama dalam Kadaster Kelautan adalah ketiadaan spesifikasi teknis baku untuk pembuatan Peta Kadaster Kelautan, terutama di wilayah pesisir yang memiliki masalah seperti alih fungsi lahan hutan bakau. Diperlukan pengolahan data geospasial dan analisis melalui Peta Kadaster Kelautan untuk mendukung pengambilan keputusan dan pemenuhan kebutuhan pembangunan berkelanjutan, khususnya terkait penjagaan ekosistem laut.
PENGEMBANGAN PRODUK GEOSPASIAL AREA PRIORITAS KONSERVASI BIODIVERSITAS EKOREGION DI JAWA BARAT
Biodiversitas global sedang menghadapi ancaman kepunahan yang serius. Indonesia, sebagai salah satu dari tujuh belas negara mega-biodiversitas di dunia, bertanggung jawab atas 60% hilangnya biodiversitas global antara tahun 1996 hingga 2008. Ancaman seperti bencana hidrometeorologi dan tekanan sosio-ekonomi semakin mengancam keutuhan habitat fauna di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Kawasan konservasi adalah cara yang paling efektif dalam melestarikan ekosistem alami. Dalam penentuan kawasan konservasi, diperlukan langkah awal yang mendasar dan sistematis, oleh karena itu digunakan rujukan berupa Open Standards for The Practice of Conservation yang diterbitkan versi 4.0 yang diterbitkan pada tahun 2020 oleh CMP (Conservation Measures Partnership). Pekerjaan ini hanya akan mencakup tahap penilaian, yang merupakan langkah pertama dalam proses penentuan kawasan prioritas konservasi. Tahap ini meliputi definisi cakupan konservasi, identifikasi ancaman kritis, penilaian situasi konservasi, dan penggunaan model spasial untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk geospasial yang berperan dalam penentuan wilayah prioritas konservasi biodiversitas ekoregion di Jawa Barat, dengan juga mempertimbangkan dampak positif terhadap kesejahteraan manusia. Dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran mesin, penginderaan jauh, dan Sistem Informasi Geografis (SIG), model wilayah prioritas konservasi yang diciptakan akan ditampilkan dalam bentuk WebGIS untuk memudahkan akses informasi terkait upaya konservasi. Pekerjaan ini terdiri dari beberapa langkah utama. Pertama, dalam pendefinisian tujuan dan mengidentifikasi tim proyek, ditetapkan bahwa tujuan utama proyek ini adalah mengembangkan model untuk menentukan area prioritas konservasi biodiversitas di Jawa Barat, dengan tim proyek yang terdiri dari mahasiswa ITB dan BBKSDA Jawa Barat. Selanjutnya, mendefinisikan cakupan, visi, dan target konservasi. Proyek ini berfokus pada lokasi Jawa Barat, melindungi mamalia endemik yang terancam punah, dan menyediakan jasa ekosistem karbon. Ancaman kritis terhadap konservasi dianalisis, mencakup ancaman langsung dari aktivitas manusia dan fenomena alam seperti perubahan iklim. Dalam mengembangkan model spasial, empat model utama dikembangkan: model kesesuaian multi habitat, model jasa ekosistem karbon, model tekanan iklim, dan model tekanan sosio-ekonomi. Keempat model ini digabungkan untuk menentukan area prioritas konservasi yang kemudian ditampilkan dalam WebGIS. Model 2 kesesuaian habitat menggunakan beberapa metode pembelajaran mesin untuk menentukan wilayah yang cocok sebagai habitat mamalia endemik. Model jasa ekosistem mengukur potensi penyerapan dan penyimpanan karbon di area konservasi. Model tekanan iklim mengidentifikasi risiko kekeringan yang dapat merusak biodiversitas, dan model tekanan sosio-ekonomi menilai dampak aktivitas manusia terhadap kerugian biodiversitas. WebGIS yang dikembangkan menyediakan akses mudah bagi khalayak umum untuk melihat peta interaktif yang menampilkan informasi area prioritas konservasi, kesesuaian habitat, potensi jasa ekosistem, serta ancaman iklim dan sosio-ekonomi. Dengan pendekatan ini, upaya konservasi dapat lebih terarah, efisien, dan efektif dalam melindungi biodiversitas dan jasa ekosistem yang ada. Pentingnya penggunaan data penginderaan jauh dan pembelajaran mesin dalam pekerjaan ini adalah untuk mendapatkan cakupan data yang luas, akurat, dan efisien dalam waktu dan biaya. Penginderaan jauh memungkinkan pengumpulan data dari area yang luas dengan cepat, sedangkan pembelajaran mesin membantu dalam analisis data yang kompleks dan memberikan prediksi yang lebih akurat mengenai wilayah yang memerlukan prioritas konservasi. Selain itu, pekerjaan ini juga mempertimbangkan dampak sosial dari kegiatan konservasi. Kawasan konservasi yang direncanakan diharapkan tidak hanya melindungi biodiversitas tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan manusia, seperti penyediaan jasa ekosistem penyerapan dan penyimpanan karbon. Dalam implementasinya, produk ini dapat diakses dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah, peneliti, dan masyarakat umum. Dengan pendekatan berbasis data dan teknologi yang inovatif, proyek ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam melindungi biodiversitas di Jawa Barat dan menjadi acuan bagi upaya konservasi di masa mendatang.
PENGEMBANGAN PRODUK GEOSPASIAL AREA PRIORITAS KONSERVASI BIODIVERSITAS EKOREGION DI JAWA BARAT
Biodiversitas global sedang menghadapi ancaman kepunahan yang serius. Indonesia, sebagai salah satu dari tujuh belas negara mega-biodiversitas di dunia, bertanggung jawab atas 60% hilangnya biodiversitas global antara tahun 1996 hingga 2008. Ancaman seperti bencana hidrometeorologi dan tekanan sosio-ekonomi semakin mengancam keutuhan habitat fauna di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Kawasan konservasi adalah cara yang paling efektif dalam melestarikan ekosistem alami. Dalam penentuan kawasan konservasi, diperlukan langkah awal yang mendasar dan sistematis, oleh karena itu digunakan rujukan berupa Open Standards for The Practice of Conservation yang diterbitkan versi 4.0 yang diterbitkan pada tahun 2020 oleh CMP (Conservation Measures Partnership). Pekerjaan ini hanya akan mencakup tahap penilaian, yang merupakan langkah pertama dalam proses penentuan kawasan prioritas konservasi. Tahap ini meliputi definisi cakupan konservasi, identifikasi ancaman kritis, penilaian situasi konservasi, dan penggunaan model spasial untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk geospasial yang berperan dalam penentuan wilayah prioritas konservasi biodiversitas ekoregion di Jawa Barat, dengan juga mempertimbangkan dampak positif terhadap kesejahteraan manusia. Dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran mesin, penginderaan jauh, dan Sistem Informasi Geografis (SIG), model wilayah prioritas konservasi yang diciptakan akan ditampilkan dalam bentuk WebGIS untuk memudahkan akses informasi terkait upaya konservasi. Pekerjaan ini terdiri dari beberapa langkah utama. Pertama, dalam pendefinisian tujuan dan mengidentifikasi tim proyek, ditetapkan bahwa tujuan utama proyek ini adalah mengembangkan model untuk menentukan area prioritas konservasi biodiversitas di Jawa Barat, dengan tim proyek yang terdiri dari mahasiswa ITB dan BBKSDA Jawa Barat. Selanjutnya, mendefinisikan cakupan, visi, dan target konservasi. Proyek ini berfokus pada lokasi Jawa Barat, melindungi mamalia endemik yang terancam punah, dan menyediakan jasa ekosistem karbon. Ancaman kritis terhadap konservasi dianalisis, mencakup ancaman langsung dari aktivitas manusia dan fenomena alam seperti perubahan iklim. Dalam mengembangkan model spasial, empat model utama dikembangkan: model kesesuaian multi habitat, model jasa ekosistem karbon, model tekanan iklim, dan model tekanan sosio-ekonomi. Keempat model ini digabungkan untuk menentukan area prioritas konservasi yang kemudian ditampilkan dalam WebGIS. Model kesesuaian habitat menggunakan beberapa metode pembelajaran mesin untuk menentukan wilayah yang cocok sebagai habitat mamalia endemik. Model jasa ekosistem mengukur potensi penyerapan dan penyimpanan karbon di area konservasi. Model tekanan iklim mengidentifikasi risiko kekeringan yang dapat merusak biodiversitas, dan model tekanan sosio-ekonomi menilai dampak aktivitas manusia terhadap kerugian biodiversitas. WebGIS yang dikembangkan menyediakan akses mudah bagi khalayak umum untuk melihat peta interaktif yang menampilkan informasi area prioritas konservasi, kesesuaian habitat, potensi jasa ekosistem, serta ancaman iklim dan sosio-ekonomi. Dengan pendekatan ini, upaya konservasi dapat lebih terarah, efisien, dan efektif dalam melindungi biodiversitas dan jasa ekosistem yang ada. Pentingnya penggunaan data penginderaan jauh dan pembelajaran mesin dalam pekerjaan ini adalah untuk mendapatkan cakupan data yang luas, akurat, dan efisien dalam waktu dan biaya. Penginderaan jauh memungkinkan pengumpulan data dari area yang luas dengan cepat, sedangkan pembelajaran mesin membantu dalam analisis data yang kompleks dan memberikan prediksi yang lebih akurat mengenai wilayah yang memerlukan prioritas konservasi. Selain itu, pekerjaan ini juga mempertimbangkan dampak sosial dari kegiatan konservasi. Kawasan konservasi yang direncanakan diharapkan tidak hanya melindungi biodiversitas tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan manusia, seperti penyediaan jasa ekosistem penyerapan dan penyimpanan karbon. Dalam implementasinya, produk ini dapat diakses dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah, peneliti, dan masyarakat umum. Dengan pendekatan berbasis data dan teknologi yang inovatif, proyek ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam melindungi biodiversitas di Jawa Barat dan menjadi acuan bagi upaya konservasi di masa mendatang.
OPTIMASI PEMANFAATAN DATA GEOSPASIAL MULTI-SKALA DALAM KONSERVASI DAN PELESTARIAN SITUS CAGAR BUDAYA GUA PAWON DAN LINGKUNGANNYA
Situs Cagar Budaya Gua Pawon dan area sekitar yang melingkupinya sebagai warisan budaya telah diteliti selama lebih dari 20 tahun, namun, data geospasial yang dapat diakses masih terbatas. Pemanfaatan Light Detection and Ranging (LiDAR) memberikan metode non-intrusif bagi arkeolog, mengurangi risiko kerusakan pada target arkeologis, dan dapat dimanfaatkan untuk melestarikan situs gua. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengklasifikasikan data geospasial multi-skala objek gua, menganalisis data geospasial untuk rekonstruksi hunian prasejarah, dan mengembangkan model tiga dimensi untuk melestarikan Situs Cagar Budaya Gua Pawon. Akuisisi data telah dilakukan dengan menggunakan pendekatan multi-sensor, yaitu Terrestrial Laser Scanner, airborne fotogrametri, airborne LiDAR, structure light scanner, dan solid-state LiDAR. Kualitas hasil pengukuran tiap sensor telah divalidasi. Hasil dari akusisi data diolah menjadi model tiga dimensi. Validasi antara model dan kondisi lapangan memiliki nilai di bawah 1 cm menggunakan akuisisi terestris, sementara menggunakan akuisisi udara memiliki nilai di bawah 45 cm. Analisis tingkat skala dilakukan dan menghasilkan tiga tingkat, yaitu skala makro untuk memetakan area Gua Pawon dan lingkungannya; skala meso untuk mendokumentasikan Gua Pawon dan Gua Barong; dan skala mikro untuk medokumentasikan fitur dan objek detil. Model tiga dimensi dapat merekam dan merekonstruksi ruang utama Gua Pawon dan Gua Barong; juga kemungkinan ekskavasi yang bisa dilakukan di Gua Pawon. Pemodelan tiga dimensi memiliki potensi untuk memperkenalkan Situs Cagar Budaya Gua Pawon dan lingkungannya melalui tur virtual. Penelitian ini dapat memberikan dampak positif pada konservasi dan pelestarian Situs Cagar Budaya Gua Pawon.
ANALISIS PENGARUH JARAK CENTRAL BUSSINESS DISTRICT TERHADAP NILAI JUAL TANAH DI KOTA BANDUNG BERBASISKAN GEOSPASIAL
Central Bussiness District (CBD) adalah salah satu bentuk pusat perekonomian, di wilayah Kota Bandung keberadaan CBD ini memiliki beberapa pengaruh terhadap lingkungan disekitarnya. Salah satu dampaknya adalah terhadap harga tanah disekitarnya, dampak dari keberadaan CBD ini sudah ditulis oleh beberapa ekonom dalam teori mereka yaitu Teori Lokasi. Untuk menguji teori lokasi tersebut maka memerlukan uji coba sebuah metode matematis untuk menganalisis harga tanah disekitar wilayah CBD. Berdasarkan hasil analisis akan didapatkan nilai yang menentukan besar pengaruh CBD terhadap harga tanah disekitarnya. Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah Analisis Regresi. Uji coba analisis regresi dibagi menjadi dua tipe yaitu Regresi Linier dan Regresi Nonlinier. Hasil dari analisis regresi tersebut berupa koefisien determinasi yang memiliki skala dari nol (0) hingga satu (1), koefisien determinasi dengan nilai nol berarti hasil analisis dari metode yang digunakan tidak memiliki hubungan antarvariabel, sedangkan nilai satu berarti dari hasil analisis antarvariabelnya memiliki hubungan yang sempurna.