📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 173 dokumen

PEMANFAATAN TEKNOLOGI TLS (TERRESTRIAL LASER SCANNING) UNTUK PEMANTAUAN DEFORMASI KERUCUT SINDER GUNUNG GALUNGGUNG

Penelitian ini berfokus pada konsep dasar, prosedur, dan pemantauan deformasi kerucut sinder (cinder cone) Gunung Galunggung dengan menggunakan metode Terrestrial Laser Scanning (TLS). Pemantauan deformasi dengan menggunakan titik kontrol yang selama ini biasa digunakan tidak merepresentasikan zona deformasi secara keseluruhan. Hal tersebut dapat diatasi dengan pemanfaatan teknologi TLS. Saat ini penelitian tentang pengamatan deformasi gunungapi yang dikaitkan pada aktifitas kegiatan vulkanik dengan menggunakan TLS belum banyak dilakukan. Permasalahan dalam pengamatan deformasi ini juga belum banyak diketahui. Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan untuk menjawab hal tersebut. Metodologi yang digunakan adalah studi literatur, membuat perencanaan pengukuran, melaksanakan pengambilan data, mengolah data TLS, dan membandingkan model tiga dimensi (3D) untuk menginterpretasikan deformasi kerucut sinder dari dua kala pengukuran, yaitu pada bulan April 2012 dan September 2012. Model 3D dari kedua kala kemudian dibandingkan untuk memperoleh kisaran nilai vektor deformasi serta volume permukaan kerucut sinder. Hasil akhir yang diperoleh berupa model deformasi 3D kala kedua terhadap kala pertama. Dari hasil penelitian ini didapat estimasi volume kala pertama sebesar 21.635,19 m3 dan kala kedua sebesar 21.513,15 m3 serta rentang deformasi umumnya sebesar 2,6 cm. Hasil pemodelan morfologi 3D dari pengukuran TLS dapat diaplikasikan untuk pemetaan dan pemantauan deformasi kerucut sinder Gunung Galunggung. Hasil pemodelan pada kedua kala menunjukkan adanya nilai deformasi. Namun demikian pada pemodelan tersebut masih memiliki galat karena permukaan objek yang tidak konsisten akibat gangguan dari vegetasi. Vektor deformasi yang diperoleh mempunyai nilai yang relatif lebih besar dibandingkan dengan hasil GPS. Hal ini disebabkan adanya perbedaan cara dan kondisi lingkungan pada saat pengambilan data kala pertama dan kedua. Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mitigasi bencana dan mengetatahui permasalahan yang ada pada pemantauan deformasi gunungapi menggunakan TLS.

2026
👤 Penulis: YUDOVAN VIDYAN (NIM : 15108056); Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Hasanuddin Z.A., M.Sc; Irwan Gumilar, S
🏷️ Geoteknik 🏷️ Pemantauan Deformasi Gunungapi 🏷️ Teknologi Terrestrial Laser Scanning

APLIKASI TLS (TERRESTRIAL LASER SCANNING) UNTUK STUDI DEFORMASI ALAMIAH

TLS (Terrestrial Laser Scanning) telah menjadi teknologi terbaru yang menghasilkan model tiga dimensi dengan resolusi tinggi. Awalnya pemanfaatan TLS ini adalah untuk memodelkan objek, identifikasi, dan pelestarian situs sejarah saja. Namun dengan perkembangan teknologi yang diterapkan pada alat dan tahapan proses pasca pengukuran yang semakin sempurna, ketelitian identifikasi serta penyaringan (filtering) hasil pindaian dapat dimaksimalkan untuk kepentingan penelitian lain.Pemanfaatan TLS telah berkembang menjadi alat pemetaan topografi atau pemodelan objek alami dan buatan. Selain itu dengan memodelkan objek yang sama pada kala waktu (epok) berbeda, perubahan yang terjadi pada objek dapat direkam dan dihitung untuk kepentingan penelitian atau mitigasi efek perubahan yang dialami objek tersebut. Proses ini dikenal dengan studi deformasi yaitu proses pengukuran dan analisa fenomena perubahan terhadap objek alami (tanah longsor, deformasi gunungapi,erosi pesisir pantai, dan lain-lain) atau objek buatan (penurunan dan retakan permukaan bangunan yang disebabkan oleh gaya luar yang mengenainya). Tugas akhir ini dibuat untuk membahas penggunaan TLS, terutama untuk studi deformasi alami berdasarkan studi yang pernah dilakukan dan dipublikasikan pada jurnal internasional. Ketelitian maksimal pengukuran TLS untuk pemantauan tanah longsor, aktifitas gunungapi dan erosi pesisir pantai adalah: ketelitian registrasi hingga 5.5 mm dan georeferensi hingga 12.5 mm.

2026
👤 Penulis: ANDRE NILSON (NIM 15108066) ; pembimbing : Prof.Ir. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc., Ph.D. Irwan Gumila
🏷️ Geoteknik 🏷️ Pemetaan Topografi 🏷️ Analisis Deformasi Alam

SURVEI SEISMIK UNTUK PEMASANGAN PIPA BAWAH LAUT (Studi Kasus: Pemasangan Pipa Bawah Laut PGN Di Perairan Tanjung Priok)

Perencanaan pipa bawah laut memerlukan informasi subbottom profilling untuk mengetahui jenis, struktur dan sebaran sedimen dari dasar laut dan lapisan di bawah dasar laut. Informasi ini penting untuk keamanan pipa bawah laut, yaitu untuk menghindari resiko terjadi nya longsoran sehingga membuat pipa tersebut bengkok, tergelinding, bahkan bisa meledak. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengetahui subbottom profilling dasar laut adalah survey seismik refleksi. Metode ini menghasilkan citra subbottom profilling dengan memantulkan gelombang seismik dari dasar laut dan lapisan-lapisan di bawah dasar laut.

2026
👤 Penulis: TODONA A.R.M.S. (NIM 15104009); Pembimbing: Dr. Ir. Eka Djunarsjah, M.T. dan Priatin Hadi Widjaya, S
🏷️ Geoteknik 🏷️ Pengendalian Risiko 🏷️ Hidrologi

PEMANTAUAN DEFORMASI BENDUNGAN DARMA (KUNINGAN, JABAR) DENGAN METODE SURVEY GPS

Bendungan Darma terletak di Desa Darma, Kecamatan Kadu Gede, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, merupakan bendungan tipe kombinasi timbunan batu (rockfill) dan timbunan tanah homogen. Bendungan ini termasuk bendungan besar di Indonesia yang cukup berperan dalam pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat sekitar. Besarnya volume bendungan yang dapat menampung air pastinya diikuti juga dengan besarnya resiko bahaya yang dihadapi apabila runtuhnya bendungan ini. Bendungan Darma jika runtuh pasti akan membawa bahaya besar mengingat bendungan ini jauh lebih besar dibandingkan dengan Bendungan Situ Gintung yang belum lama ini runtuh dan mengakibatkan kerugian material dan nonmaterial sangat besar. Jebolnya bendungan terjadi akibat adanya deformasi di bendungan. Puncak Bendungan Darma yang dijadikan jalan raya, struktur bendungan, lokasi bendungan yang berada di lokasi gempa adalah beberapa faktor terjadinya deformasi pada bendungan. Dari fenomena deformasi bendungan dan dampak yang ditimbulkan, deformasi Bendungan Darma perlu dipantau secara periodik. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam memantau deformasi adalah metode survey GPS. Dengan mengetahui besarnya deformasi bendungan yang ditunjukan oleh perubahan titik – titik koordinat pada pengamatan satu ke pengamatan berikutnya, maka karakteristik dari deformasi bendungan ini dapat dipelajari lebih lanjut. Pada bulan Mei dan September 2009, telah dilakukan pemantauan deformasi bendungan dengan metode survey GPS. Hasil pemantauan selama Mei – September 2009 menunjukan besarnya deformasi horizontal dan vertikal Bendungan Darma yang terjadi dalam orde mm. Deformasi bendungan berkorelasi dengan struktur bendungan, puncak bendungan yang dipakai sebagai jalan raya, tekanan air.

2026
👤 Penulis: SUKMA ABDILLAH (NIM 15105003); Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc., dan Irwan Gumi
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Deformasi Struktural 🏷️ Manajemen Bendungan

TINGKAT REGANGAN DI SELAT SUNDA BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS TAHUN 2006 - 2010

Selat Sunda berada pada pertemuan dua lempeng tektonik, yaitu lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Selat Sunda memiliki aktivitas seismik yang cukup tinggi. Hal tersebut ditunjukkan oleh beberapa kejadian gempa yang pernah terjadi di wilayah Selat Sunda. Tingginya aktivitas seismik tersebut disebabkan oleh adanya zona subduksi dan beberapa sesar di wilayah Selat Sunda. Sesar yang diteliti dalam Tugas Akhir ini yaitu sesar Sumatera segmen Teluk Semangka dan terusan sesar Sumatera. Berdasarkan cukup tingginya aktivitas seismik di Selat Sunda maka perlu dilakukan penelitian mengenai regangan yang terjadi di wilayah Selat Sunda untuk mengetahui aktivitas tektonik di daerah tersebut. Kemudian dilakukan analisis potensi bahaya gempa berdasarkan aktivitas kedua sesar tersebut.

2026
👤 Penulis: MARTA NUGRAHA HIDAYAT (NIM 15106024); Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, ST, M.Sc., dan Irwan Gumilar, S
🏷️ Hidrologi 🏷️ Teknik Geofisika 🏷️ Geoteknik

IDENTIFIKASI KERUSAKAN DAERAH PASCA GEMPA DENGAN METODE OBJECT BASED IMAGE ANALYSIS

Abstrak

2026
👤 Penulis: CITRA KHAIRUNNISA (NIM 15107078); Pembimbing: Prof. Ketit Wikantika, Ph.D. dan Asep Hadiyana, ST., M
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Peta Objektif

EVALUASI KINERJA DAN PERKUATAN JEMBATAN TOL SURABAYA-MALANG PADA KOLOM SEGI ENAM

Meningkatnya frekuensi kejadian gempa bumi di Indonesia menuntut dilakukannya evaluasi ulang terhadap kinerja struktur jembatan eksisting yang memiliki peran vital dalam sistem transporta.si. Salah satu jembatan dengan usia layanan panjang adalah Jembatan Centre Bridge Kilometer 758 pada ruas tol Surabaya-Malang, yang dibangun pada tahun 1987 dan masih beroperasi hlngga saat ini. Hasil inspeksi tahun 2022 menggunakan Bridge Management System (BMS) menunjukkan adanya kerusakan berupa retak, spalling pada abutment, pierhead, gelagar, dan pilar, serta deformasi bantalan elastomer, sehlngga diperlukan evaluasi kapasit.a.s struktur. Penelitian ini mengevaluasi kapasitas dan kinerja struktur jembatan berdasarkan SNI 1725:2016 dan SNI 2833:2016 dengan pendekatan Performance-Based Design melalui analisis statis nonlinier (pushover analysis). Kurva hubungan base shear-roof displacement digunakan untuk menentukan performance point dan tingkat kinerja struktur. Pemodelan dan analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak Midas Civil. Hasil analisis menunjukkan bahwa berdasarkan Peraturan Muatan Jembatan Jalan Raya Tahun 1970, kapasitas penampang kolom eksisting masih memenuhi persyaratan desain awal. Namun, berdasarkan peraturan terbaru, beberapa kolom pada arah longitudinal dan transversal melampaui kurva interaksi P-M dengan nilai capacity ratio lebih besar dari 1.

2025
👤 Penulis: Niar Resi Pramesthi
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Struktur Jembatan 🏷️ Peraturan Muatan Jembatan

STUDI SELUBUNG KERUNTUHAN MOHR-COULOMB YANG DIPERLUAS PADA SHALE TERHANCURKAN TERKOMPAKSI DENGAN NILAI ISAPAN MATRIC 60 KPA

Shale merupakan material dengan karakteristik unik dan menjadi isu penting dalam kajian geoteknik. Sensitivitas shale terhadap kondisi jenuh takjenuh menyebabkan variasi kekuatan geser yang signifikan sehingga pemahaman mengenai konsep ini menjadi sangat penting dalam analisis stabilitas konstruksi. Penelitian dilakukan dengan tujuan mendapatkan parameter kuat geser dengan menggunakan metode uji triaksial takjenuh tipe consolidated drained (CD) pada sampel shale dari daerah Cisomang, Jawa Barat. Sampel dipersiapkan melalui prosedur pemadatan Modified Proctor metode C pada kadar air optimum 16,10%. Proses uji triaksial takjenuh meliputi tahap saturasi awal dengan kontrol B-value, konsolidasi untuk mencapai kesetimbangan drainase, proses equalisasi isapan matric dalam kerangka tanah takjenuh, dan tahap pembebanan geser hingga titik keruntuhan. Pendekatan eksperimental ini mengacu pada teori mekanika tanah takjenuh melalui konsep selubung keruntuhan Mohr-Coulomb yang diperluas (extended Mohr- Coulomb failure envelope) yang dikembangkan oleh Fredlund dan Rahardjo (1993), dengan penggunaan dua variabel tegangan independen yaitu tegangan normal bersih (? ? ua) dan isapan matric (ua ? uw). Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada isapan matric 60 kPa terjadi peningkatan kuat geser yang konsisten dibandingkan kondisi jenuh. Dari hasil pengujian triaksial takjenuh pada penelitian ini didapatkan nilai kuat geser (?) shale sebesar 65.35 kPa dengan parameter sebagai berikut: (1) c = 57.48 kPa, (2) ?? = 22.62o, (3) d = 52.09 kPa, (4) ?b = 20.98o. Hasil ini menegaskan bahwa kontribusi kekuatan tambahan akibat tekanan air pori negatif pada shale masih berlangsung pada rentang suction di bawah nilai air entry value (AEV). Nilai sudut ?? yang diperoleh berada pada kisaran mendekati sudut ?’, yang mengindikasikan bahwa hubungan antara kuat geser dan isapan matric pada rentang suction rendah–menengah masih bersifat hampir linear. Hal ini selaras dengan prediksi teori dan studi terdahulu pada shale wilayah Cisomang, yang memiliki AEV relatif tinggi akibat dominasi mineral lempung.

2025
👤 Penulis: Agil Akmal Ananda
🏷️ Geoteknik 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

EVALUASI KESTABILAN LERENG MENGGUNAKAN ANALISIS BALIK LONGSORAN PADA PIT "G" TAMBANG AIR LAYA, PT BUKIT ASAM TBK, KABUPATEN MUARA ENIM, SUMATRA SELATAN

Kestabilan lereng merupakan faktor krusial dalam kegiatan pertambangan terbuka, terutama di wilayah dengan kondisi geologi yang kompleks. Ketidakstabilan lereng dapat menyebabkan longsoran yang berisiko terhadap keselamatan pekerja, peralatan tambang, dan kelangsungan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kestabilan lereng di Jalan "X" PIT "G" Tambang Air Laya PT Bukit Asam Tbk yang mengalami kejadian longsoran pada 5 Maret 2025 dengan material longsoran berupa satuan batulempung karbonan (KE2-BE) dan satuan batulempung pasiran (BE-BU). Model geometri lereng diperoleh dari pemodelan stratigrafi berbasis data bor geoteknik dan analisis kestabilan dilakukan menggunakan perangkat lunak Slide2. Pendekatan utama dalam studi ini adalah analisis balik untuk menentukan kondisi kritis aktual lereng saat longsoran dengan variasi kondisi kejenuhan muka airtanah dan beban eksternal. Analisis awal menggunakan Metode Morgenstern-Price menunjukkan bahwa pada kondisi normal, lereng memiliki nilai Faktor Keamanan (FK) sebesar 1,46 yang tergolong stabil sehingga dilakukan analisis balik untuk mengetahui penyebab terjadinya longsoran. Kemudian, dilakukan analisis dengan beberapa kondisi muka airtanah yaitu kering sebagian dan jenuh total dengan berbagai skenario beban alat angkut tambang, beban seismik, dan pengaruh hujan selama 30 hari. Hasil analisis balik menunjukkan bahwa longsoran terjadi akibat kondisijenuh total ketika curah hujan tinggi dengan nilai FK 0,96. Infiltrasi air hujan menyebabkan peningkatan tekanan air pori yang menyebabkan penurunan kohesi dan sudut geser dalam material penyusun lereng. Material yang awalnya mampu menahan beban dalam kondisi kering mengalami penurunan kekuatan geser secara signifikan saat kondisi jenuh. Akibatnya, gaya penahan massa tanah dan batuan menjadi lebih kecil dibandingkan gaya penggerak sehingga kestabilan lereng menurun serta berpotensi menimbulkan longsoran.

2025
👤 Penulis: Goestyananda Pratama
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Balik Longsoran 🏷️ Kondisi Geologi Kompleks

PERANCANGAN SISTEM DRAINASE UNTUK PENGENDALIAN BANJIR DI SUBSISTEM BREMI, KOTA PEKALONGAN, PROVINSI JAWA TENGAH

Subsistem Bremi di Kota Pekalongan merupakan wilayah rawan banjir yang dipengaruhi oleh curah hujan tinggi, pasang laut (rob), serta penurunan muka tanah. Kondisi tersebut menyebabkan kapasitas sistem drainase eksisting tidak mampu menampung debit banjir. Penelitian ini bertujuan merancang sistem drainase yang lebih optimal untuk mengurangi luas genangan banjir di wilayah tersebut. Metode yang digunakan meliputi analisis hidrologi untuk penentuan hujan rencana dan debit banjir periode ulang tertentu, analisis hidraulika dengan pemodelan PCSWMM 1D/2D, serta analisis geoteknik untuk mengevaluasi kestabilan tanggul sheetpile. Selain itu, dilakukan penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) berdasarkan Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) serta kajian operasi dan pemeliharaan. Beberapa alternatif solusi dianalisis, yaitu pembangunan tanggul dan normalisasi sungai, redesain saluran sekunder, serta kombinasi keduanya dengan penambahan rumah pompa. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa alternatif kombinasi memberikan hasil paling efektif dengan reduksi luas genangan hingga 95% dibanding kondisi eksisting.

2025
👤 Penulis: Vallerie Maryam
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Geoteknik

ANALISIS KESTABILAN LERENG DENGAN MUDCELL PADA IN PIT DUMP DI TAMBANG BATUBARA

Kestabilan lereng merupakan aspek kritis dalam operasi tambang terbuka, khususnya pada In Pit Dump (IPD) yang mengandung mudcell—zona penampung material lumpur dengan sifat geoteknik lemah. Keberadaan mudcell dapat menurunkan stabilitas lereng akibat kohesi rendah dan kadar air tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kestabilan lereng IPD dengan mudcell menggunakan metode Limit Equilibrium Method (LEM) melalui perangkat lunak Slide2. Data yang digunakan meliputi penampang lereng, parameter material, beban seismik, dan beban alat. Hasil analisis menunjukkan bahwa lereng aktual masih memenuhi kriteria stabil berdasarkan Kepmen ESDM No. 1827/2018, sedangkan desain awal IPD memerlukan rekomendasi resloping pada sisi barat untuk mencapai faktor keamanan (FK) > 1,05 dan probability of failure (PoF) < 10% sedangkan lereng timur sudah memenuhi kriteria stabil, sehingga hasil rekomendasi didapatkan FK 1.154 dan PoF 5.7% pada sisi barat dan FK 1.259 dan PoF 0.6%. Simulasi variasi dimensi mudcell dengan tinggi 0,5,dan 10m mengalami penurunan FK 1.158 – 1.078 pada sisi barat sedangkan pada sisi timur didapatkan penurunan FK 1.296- 1.193. Untuk variasi lebar 90, 120, 150 m terjadi penurunan FK 1.154-1.063 sisi barat sedangkan pada sisi timur FK 1.259-1.171. Rekomendasi optimal adalah mudcell dengan tinggi 5 m dan lebar 90 m, yang menghasilkan FK 1.154 pada sisi barat dengan PoF 5.7% dan FK 1.259 pada sisi timur dengan PoF 0.6%.

2025
👤 Penulis: Wisnu Ramadhan
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Kestabilan Loker 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Tambang

PEMODELAN STABILITAS LERENG DENGAN TENSION CRACK BERDASARKAN INTERPRETASI MODIFIED SELF-POTENSIAL DAN UJI GEOTKNIK DI SEKITAR JEMBATAN CIPADA

Jembatan Cipada di Kabupaten Bandung Barat, Padalarang berada pada kawasan perbukitan dengan risiko longsor tinggi akibat kondisi geologi, topografi, dan curah hujan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kestabilan lereng dengan memperhatikan pengaruh tension crack melalui interpretasi Modified Self-Potential dan data uji geoteknik yang kemudian dimodelkan menggunakan perangkat lunak Rocscience Slide 2.0 dengan metode Spencer. Analisis dilakukan pada kondisi tension crack kering, terisi air 50%, dan penuh, baik statis maupun dinamis dengan beban seismik sebesar 0,073 g. Hasil menunjukkan bahwa tipe longsor dominan adalah translasi non-circular pada kontak tanah lempung dan pasir tufaan, dengan penurunan faktor keamanan paling signifikan terjadi pada tension crack terisi air, terutama di dekat crest, serta semakin kritis saat dipengaruhi beban dinamis. Secara umum, lereng baru memenuhi standar kestabilan secara keseluruhan menurut SNI 8460:2017 dan KEPMEN ESDM No. 1827 pada jarak ?17,5 meter dari crest. Berdasarkan hasil tersebut, upaya mitigasi yang direkomendasikan meliputi pemantauan deformasi lereng, pembangunan sistem drainase, pembuatan dinding penahan, serta penanaman vegetasi berakar kuat, dengan kesimpulan bahwa keberadaan tension crack berisi air merupakan faktor paling berpengaruh terhadap kestabilan lereng di sekitar Jembatan Cipada.

2025
👤 Penulis: Davin Valerian Handalim
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Stabilitas Loker 🏷️ Kecerdasan Buatan

STUDI PARAMETRIK PERILAKU SEISMIK SISTEM STRUKTUR TEROWONGAN PADA LERENG TANAH

Penelitian ini merupakan studi parametrik mengenai perilaku seismik sistem struktur terowongan pada lereng tanah yang ditujukan untuk memperluas pemahaman tentang interaksi tanah–struktur di bawah pengaruh beban gempa. Kajian ini disusun sebagai bentuk kontribusi dalam pengembangan ilmu ketekniksipilan, khususnya pada bidang geoteknik dan rekayasa terowongan, mengingat pentingnya aspek kestabilan lereng dan keandalan terowongan di wilayah rawan gempa. Analisis dilakukan dengan pendekatan numerik menggunakan metode elemen hingga (Plaxis 2D), yang dikombinasikan dengan kajian literatur untuk memperkuat validasi hasil. Beberapa skenario pemodelan disusun secara parametrik, meliputi kondisi flat ground dan sloping ground, keberadaan maupun ketiadaan terowongan, serta variasi metode analisis, yaitu pseudostatik dan dinamik dengan input gempa shallow crustal dan megathrust. Parameter utama yang dikaji mencakup amplification factor, amplification factor of tunnel (AFt), deformasi lereng, dan nilai racking yang terbentuk. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa metode pseudostatik cenderung menghasilkan nilai racking yang lebih besar dibandingkan analisis dinamik, sehingga memberikan estimasi yang lebih konservatif. Keberadaan terowongan juga terbukti memperbesar deformasi racking sekaligus memengaruhi pola perambatan gelombang seismik. Fenomena ini terlihat dari kecenderungan deamplifikasi pada bagian mid-slope dan amplifikasi pada bagian crest slope. Selain itu, nilai AFt pada kondisi sloping ground tercatat sekitar 10% lebih kecil dibandingkan kondisi flat ground.

2025
👤 Penulis: Reagan Caesar Cahyadi
🏷️ Seismik 🏷️ Geoteknik 🏷️ Rekayasa Terowongan

STUDI ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL PARAMETER KEKAKUAN TANAH DENGAN MODEL HARDENING SOIL PADA KASUS TIMBUNAN BANDUNG SOFT CLAY

Deformasi timbunan pada tanah lunak sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian parameter tanah yang bervariasi secara spasial. Pengabaian variabilitas spasial berpotensi menghasilkan desain yang terlalu konservatif atau tidak aman. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variabilitas spasial parameter kekakuan tanah pada kasus timbunan di Bandung Soft Clay dengan Random Finite Element Method (RFEM). Metode ini menggabungkan random field theory dan Monte Carlo Simulation, dengan parameter tanah hasil uji lapangan dan laboratorium yang diinterpolasi menggunakan kriging dan dimodelkan dalam Hardening Soil Model. Simulasi dilakukan dengan FEM deterministik dan RFEM, lalu divalidasi terhadap data settlement plate. Hasil menunjukkan bahwa prediksi RFEM lebih representatif dibanding FEM, dengan rata-rata deformasi mendekati observasi lapangan serta menghasilkan rekomendasi parameter tanah yang konsisten dengan kondisi aktual. Kesimpulannya, variabilitas spasial berpengaruh signifikan pada analisis geoteknik dan penerapan RFEM dapat meningkatkan reliabilitas desain secara keseluruhan.

2025
👤 Penulis: Imanullah Rafi Priambodo
🏷️ Geoteknik 🏷️ Model Hardening Soil 🏷️ Metode Random Finite Element

PENGARUH ALTERASI TERHADAP KUALITAS MASSA BATUAN DAN KESTABILAN TEROWONGAN PADA TAMBANG BAWAH TANAH DI WILAYAH IUP PONGKOR, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT

Gunung Pongkor adalah daerah dengan endapan epitermal sulfidasi rendah yang ditambang di bawah tanah sehingga memerlukan analisis geologi dan geoteknik. Proses pengambilan data dilakukan dengan metode inspeksi muka terowongan pada tujuh bukaan terowongan produksi yang akan digunakan untuk mengklasifikasikan kualitas massa batuan serta analisis kestabilan terowongan dengan metode elemen hingga. Kualitas massa batuan ditentukan dengan menggunakan klasifikasi Sistem-Q. Tipe alterasi ditentukan melalui pengamatan megaskopis, analisis petrografi, serta Analytical Spectral Devices (ASD). Hasil analisis telah diidentifikasi empat tipe alterasi di lokasi penelitian, yaitu klorit-kuarsa ± ilit, klorit-ilit, klorit-montmorilonit, dan kuarsa-kalsit ± ilit. Tipe klorit-kuarsa ± ilit memiliki kualitas massa batuan yang paling baik dengan nilai Q sebesar 5,39–6,17 (kelas sedang) dan kondisi terowongan paling stabil. Tipe klorit-ilit memiliki nilai Q sebesar 3,24–3,5 (kelas buruk) namun masih tetap dalam kondisi stabil. Tipe kuarsa-kalsit ± ilit memiliki nilai Q sebesar 2,79–6,63 (kelas buruk–sedang) dengan kecenderungan tidak stabil, sedangkan tipe klorit–montmorilonit memiliki kualitas terburuk dengan nilai Q sebesar 2,1–3,31 (kelas buruk) dan kondisi terowongan tidak stabil. Alterasi pada batuan memengaruhi mineralogi batuan, dengan kehadiran mineral sekunder yang paling berpengaruh terhadap kualitas massa batuan dan tingkat kestabilan terowongan adalah mineral lempung (montmorilonit dan ilit), kalsit, dan kuarsa. Kandungan mineral lempung, terutama montmorilonit dan kalsit, menyebabkan kualitas massa batuan dan tingkat kestabilan terowongan semakin buruk, sedangkan kandungan kuarsa yang tinggi menghasilkan kualitas massa batuan dan tingkat kestabilan terowongan yang semakin baik.

2025
👤 Penulis: Kanya Duiarizke Maulidia
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Geologi 🏷️ Hidrologi
Halaman 3 dari 12
💬