📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 43 dokumen

IDENTIFIKASI ALTERASI HIDROTERMAL BERBASIS PENGINDERAANJJAUH TERVERIFIKASI DI LAPANGAN GEOTERMAL TOMPASO (SULAWESI UTARA)

Tompaso Sulawesi Utara merupakan wilayah bagian dari sistem geotermal aktif dengan keanekaragaman jenis batuan dan mineral dari alterasi hidrotermal yang akan berdampak pada pertanian, pertambangan dan membantu pengembangan strategi mitigasi dampak lingkungan yang diidentifikasi melalui data satelit, seperti Sentinel-2. Tujuan utama adalah menganalisis karakteristik geologi dan struktur serta mendeteksi cekaman vegetasi di dalam dan luar zona alterasi. Pengumpulan data terdiri dari data primer, meliputi data geologi regional, pengukuran lapangan, dan data vegetasi, serta data sekunder, yaitu citra Sentinel-2A, DEM Nasional, dan informasi geologi lokal. Metode analisis vegetasi memanfaatkan indeks vegetasi seperti normalize difference vegetation index (NDVI), structure insensitive pigment index (SIPI), dan red edge vegetation index (REVI) yang diturunkan dari band VNIR (visible and near infrared) dan SWIR (short wave infrared) pada citra Sentinel-2. Hasil interpretasi citra nilai indeks vegetasi dan data lapangan menunjukkan bahwa nilai SPAD (soil and plant analysis development) klorofil pada tanaman pakis jenis athyrium filix-femina dan diplazium dilatatum di zona alterasi lebih rendah dibandingkan zona luar, dengan nilai berkisar 0 – 25 SPAD dan 25 – 55 SPAD, menunjukkan dampak geotermal pada vegetasi. Analisis petrografi dari sampel batuan piroklastik satuan tuf menunjukkan mineral alterasi kaolinit, alunit, klorit dan epidot, yang terbentuk pada kondisi asam dan suhu tinggi. Nilai indeks vegetasi 1 hingga -1 yang lebih rendah di daerah alterasi menunjukkan bahwa vegetasi mengalami cekaman yang disebabkan oleh faktor seperti kontaminasi mineral hidrotermal atau kondisi tanah yang bersifat asam dan pH tinggi. Korelasi antara hasil indeks vegetasi dan data lapangan dengan koefisien R2 0.8 mengindikasikan pengaruh langsung dari aktivitas hidrotermal terhadap kesehatan vegetasi

2024
👤 Penulis: Laode bariadi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Vegetasi

MEMANFAATKAN ENERGI GEOTERMAL DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS CABAI MERAH (CAPSICUM ANNUUM) DI SELAYO, KABUPATEN SOLOK, SUMATERA BARAT

Daerah Selayo memiliki temperatur antara 18 hingga 22 derajat celsius, merupakan salah satu daerah dengan suhu terendah di antara daerah lainnya di Provinsi Sumatera Barat. Kondisi iklim yang dingin ini memberikan tantangan dalam dunia pertanian, terutama untuk tanaman capsicum annuum (cabai) yang memerlukan temperatur yang lebih hangat dan stabil. Budidaya cabai seringkali terhambat oleh fluktuasi temperatur yang mengakibatkan pertumbuhan terhambat, penundaan panen, dan hasil yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji desain sistem pemanas berkelanjutan berupa rumah kaca yang menggunakan geothermal heat pump dan geothermal radiant floor sebagai sumber panas utama. Sistem ini dirancang untuk menjaga suhu stabil pada 28°C guna mendukung pertumbuhan tanaman cabai (Capsicum annuum) di lingkungan dingin, di mana suhu sekitar berkisar 22°C pada siang hari dan turun hingga 18°C pada malam hari. Sumber panas berasal dari manifestasi geotermal Bukit Kili, yang diharapkan mampu menyediakan panas secara konsisten. Hasil simulasi menggunakan DSSAT menunjukkan bahwa sistem ini mampu meningkatkan produktivitas tanaman cabai secara signifikan. Dengan suhu stabil 28°C, rata-rata hasil panen mencapai 1,8 kg per tanaman, atau total 54 kg dari 30 tanaman, jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi tanpa rumah kaca. Sistem pemanas ini juga terbukti mendukung pertumbuhan vegetatif, meningkatkan efisiensi fotosintesis, dan mengurangi abortus bunga dan buah.

2024
👤 Penulis: Wily Rustam
🏷️ Geotermal 🏷️ Pertanian 🏷️ Kecerdasan Buatan

EVALUASI KESTABILAN LUBANG BOR FORMASI CIBULAKAN, DI AREA BAJA DAN SEKITARNYA, PADA CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA

Cekungan Jawa Barat Utara merupakan salah satu cekungan penghasil hidrokarbon di Indonesia dibuktikan dengan banyaknya lapangan penghasil hidrokarbon di cekungan tersebut. Potensi hidrokarbon di Cekungan Jawa Barat Utara juga dinilai masih cukup besar sehingga pengeboran sumur-sumur eksplorasi perlu dilakukan secara agresif. Pengeboran sumur darat di Provinsi Jawa Barat umumnya memiliki kondisi permukaan berupa pemukiman padat penduduk, persawahan, perkebunan dan area kehutanan sehingga diperlukan kajian keteknikan yang terperinci dalam melakukan eksekusi pengeborannya. Permasalahan operasional dalam pengeboran sumur dengan trajektori vertikal maupun berarah adalah guguran serpih, kondisi lubang bor yang tidak layak untuk dilakukan perekaman data bawah permukaan, rangkaian pipa terjepit, hilang lumpur sirkulasi (lost circulation), dan semburan dari bawah permukaan (blowout). Penelitian ini ditujukan untuk memitigasi risiko-risiko pengeboran yang ada baik di permukaan maupun dibawah permukaan. Data log tali kawat dan data hasil pengeboran sumur sekitar sejumlah 4 (empat) sumur digunakan untuk mengevaluasi potensi risiko bahaya pengeboran, tekanan pori, elastisitas batuan, kekuatan batuan, serta orientasi dan besaran Insitu Stress yang pada akhirnya data evaluasi tersebut digunakan untuk menganalisa kestabilan lubang bor pada sumur yang akan dieksekusi. Mekanisme pembentukan tekanan pori berupa pembebanan (loading) selanjutnya hasil evaluasi dan pemodelan 1 (satu) dimensi kestabilan lubang menunjukan nilai tegasan vertikal (Sv) berada pada rentang 0,965-0,972 psi/ft, nilai tekanan pori (Pp) berada pada rentang 0,433 0,489 psi/ft, tegasan horizontal minimum (Shmin) berada pada rentang 0,8 0,83 psi/ft, tegasan horizontal maksimum (Shmaks) berada pada rentang 1,08 1,2 psi/ft, sehingga berdasarkan nilai tegasan vertikal (Sv), nilai horizontal minimum (Shmin) dan nilai horizontal maksimum (Shmaks) yang dianalisa dalam penelitian ini, kondisi rezim tegasan pada area penelitian berada pada rezim tegasan sesar mendatar dengan Shmin < Sv < SHmaks. Analisa nilai berat lumpur di formasi batuan yang akan ditembus pada penelitian ini didapatkan nilai yang berbeda, untuk sumur dengan trajektori vertikal direkomendasikan pada rentang 1,2 1,26 gr/cm3 dan pada sumur dengan trajektori berarah direkomendasikan pada rentang 1,28 1,39 gr/cm3 dengan arah trajektori sejajar dengan arah tegasan horizontal minimum (Shmin) sekitar N900E N1100E dan inklinasi sebesar 70 450.

2024
👤 Penulis: Kharisma W. Endarmoyo
🏷️ Geotermal 🏷️ Teknik Pertambangan 🏷️ Analisis Stabilitas Lubang Bor

IDENTIFIKASI AREA ALTERASI BERDASARKAN CITRA SATELIT SENTINEL-2 DAN RESPONS TUMBUHAN PAKU UNTUK EKSPLORASI GEOTERMAL DI LAPANGAN VOLKANIK

Lapangan geotermal umumnya berada pada lokasi yang sulit dijangkau dengan tutupan vegetasi yang tinggi, sehingga eksplorasi tahap awal membutuhkan waktu yang cukup banyak. Penginderaan jauh menjadi solusi untuk mendukung survei pendahuluan ini karena dapat mengidentifikasi area dengan tutupan vegetasi tinggi dengan pendekatan pada respons tumbuhan. Sehingga diharapkan eksplorasi tahap awal dapat berlangsung lebih efektif dan efisien. Manifestasi geotermal yang tampak pada fitur permukaan seperti mata air panas, lubang uap, dan fumarola, dapat berdampak pada cekaman vegetasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi area alterasi berdasarkan citra Sentinel-2B, respons tumbuhan paku di area alterasi dan non-alterasi, serta menganalisis efektivitas indeks vegetasi REVI dari citra Sentinel-2B untuk eksplorasi geotermal di Gunung Tangkuban Parahu dan Gunung Kamojang (Jawa Barat) serta Gunung Ijen (Jawa Timur). Data yang digunakan meliputi citra Sentinel-2B dan pengukuran klorofil pada tumbuhan paku. Metode yang digunakan mencakup rasio saluran dan indeks vegetasi untuk mengidentifikasi daerah alterasi dan cekaman vegetasi. Tumbuhan paku yang mengalami cekaman vegetasi karena tumbuh di tanah terkontaminasi dapat menjadi indikator tidak langsung dari keberadaan sistem geotermal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio saluran dan indeks vegetasi sesuai dengan pengukuran klorofil tumbuhan paku di lapangan. Berdasarkan citra Sentinel-2B, daerah alterasi diidentifikasi dengan komposit warna R, G, B untuk saluran 4/2, 11/12, 11/8A sebagai warna merah muda. Hal tersebut diperkuat dengan dilakukannya identifikasi indeks vegetasi REVI yang menunjukkan bahwa daerah yang teridentifikasi alterasi memiliki nilai REVI yang rendah dengan nilai < 0,3 yang menunjukkan bahwa pada daerah tersebut tanaman paku tumbuh semakin jarang sebagai respons dari tumbuh di wilayah yang tidak ideal, sehingga tanaman paku tumbuh tidak optimal sebagai upaya pertahanan diri menjadi lebih kering, kerdil, atau dalam kondisi yang terlalu ekstrem menyebabkan tanaman paku mati. Pengukuran terhadap nilai klorofil pada tumbuhan paku endemik mengkonfirmasi bahwa vegetasi di atas daerah alterasi berada dalam kondisi tercekam, dengan nilai klorofil < 10 SPAD.

2024
👤 Penulis: Wina Eka Rahmidiani
🏷️ Geotermal 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS ANOMALI VEGETASI TEMPERATUR DAN MINERAL MENGGUNAKAN LANDSAT 8 UNTUKMENENTUKAN AREA PROSPEK PANAS BUMI DI GUNUNG AMBANG, SULAWESI UTARA

Gunung Ambang memiliki potensi sebesar 225 MWe dengan sumber daya panas bumi terpasang dengan kapasitas terpasang yang diperkirakan akan dikembangkan pada tahun 2025. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi daerah prospek panas bumi di Gunung Ambang berdasarkan anomali dari pemetaan remote sensing menggunakan metode analisis dari data citra yang berasal dari satelit Landsat-8. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi anomali suhu permukaan, anomali vegetasi, pesebaran mineral, keberadaan penentuan zona prospek panas bumi. Hasil dari analisis anomali metode Land Surface Temperatur (LST), Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Fault Fracture and Density (FFD) dan Analitycal Spectral Device (ASD) digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan anomali di area yang diindikasikan merupakan area prospek panas bumi.

2024
👤 Penulis: Amerensia L F A Soetjahjo
🏷️ Analisis Remote Sensing 🏷️ Geotermal 🏷️ Pemanfaatan Sumber Daya Alam

UPDATING MODEL KONSEPTUAL PADA LAPANGAN PANAS BUMI ULUMBU MENGGUNAKAN SIMULASI NUMERIK

Lapangan Panas Bumi Ulumbu termasuk dalam program pemerintah Flores Geothermal Island, dimana memiliki temperatur 230-250 ? berupa satu sistem reservoir dominasi air dengan steam cap di atas zona reservoir dan memiliki nilai possible reserves sebesar 103 MWe dari studi sebelumnya. Pembaharuan model perlu dilakukan secara komprehensif dan berkala berdasarkan data terbaru. Sehingga dilakukan simulasi reservoir dan karakteristik reservoir dengan membandingkan studi terdahulu untuk mengurangi resiko dalam eksploitasi dan updating model konseptual. Model numerik reservoir dibangun menggunakan simulator TOUGH2 V.2.0 EOS1 dengan 2 tahap validasi, menggunakan data 3 sumur dengan tahun berbeda pada tahap natural state, dan 1 sumur data uji produksi pada tahap history matching. Dilakukan perhitungan RMSE untuk menentukan nilai penyimpangan pada data observasi. Hasil kalibrasi menunjukkan memiliki kesesuaian yang baik antara simulasi model dengan data observasi. Deviasi dari data temperatur sebesar 11,8 - 28,8? dan tekanan 3,5 – 6,1 bar. Hasil tersebut dikomparasi dengan model sebelumnya yang sudah melewati tahap kalibrasi natural state, dimana hasil menunjukkan perbedaan pada distribusi panas, distribusi massa, dan kondisi saturasi fluida. Hal tersebut dapat terjadi karena data terbaru memiliki ketersediaan yang lebih baik sehingga hasil model lebih representatif. Dilakukan pembaharuan model konseptual berdasarkan kajian geosains dan data sumur.

2024
👤 Penulis: Fadhil Karunia Hammad
🏷️ Geotermal 🏷️ Simulasi Numerik 🏷️ Analisis Reservoir

ANALISIS PENURUNAN TANAH DENGAN METODE PLT D-INSAR DAN KONSOLIDASI SATU DIMENSI DI WILAYAH GUNUNG LUMPUR SIDOARJO

Penurunan tanah terjadi di Gunung Lumpur Sidoarjo, yang disebut LUSI, disebabkan oleh keluarnya fluida dan konsolidasi lempung lempung di daerah tersebut. Volume material yang dikeluarkan sebesar 4.301,42 m3/tahun dengan intensitas tertinggi mencapai 4.814,32 m3/tahun. Banyaknya material yang terekstraksi mempengaruhi penurunan tanah, banjir, dan kerusakan infrastruktur di kawasan LUSI. Penurunan tanah di kawasan LUSI dapat disebabkan oleh dua faktor utama yaitu konsolidasi lempung dan konsolidasi fluida. Oleh karena itu, pemantauan menggunakan PLT D-InSAR dan perhitungan konsolidasi satu dimensi (1D) diperlukan untuk mengetahui laju penurunan tanah, memprediksi waktu penurunan tanah, mengetahui faktor paling berpengaruh terhadap penurunan tanah, dan mengetahui tingkat penurunan tanah yang terjadi. Analisis Pairwise Logic Technique (PLT) D-InSAR digunakan dengan citra Sentinel-1A untuk mengetahui laju penurunan tanah (cm/tahun). Hasil pengolahan tersebut kemudian divalidasi oleh data GPS yang ada. Hasil laju penurunan tanah dari pengolahan PLT D-InSAR yang sudah tervalidasi GPS kemudian dibandingkan dengan analisis konsolidasi 1 dimensi (1D) dari data bor. Dari hasil analisis PLT D-InSAR, konsolidasi 1D, dan konsolidasi fluida dapat dilakukan analisis tingkat penurunan tanah di LUSI. Hasil analisis metode PLT D-InSAR dan konsolidasi 1D menunjukkan wilayah terdampak penurunan dengan laju rata-rata penurunan yaitu, wilayah penurunan tanah tinggi (1,47 – 1,83 cm/tahun), wilayah penurunan tanah sedang (1,36 – 1,47 cm/tahun) dan wilayah penurunan tanah rendah (1,01 – 1,36 cm/tahun). Penurunan tanah akibat pengaruh konsolidasi lempung sebesar 0,343 cm/tahun dengan waktu maksimum 1000 –3753 tahun. Kontribusi akibat pengaruh konsolidasi lempung sebesar 21,37 %. Penurunan tanah akibat konsolidasi fluida sebesar 1,011 cm/tahun dengan waktu maksimum 1000 – 6862 tahun. Kontribusi akibat konsolidasi fluida sebesar 62,99 %.

2024
👤 Penulis: Giri Bayuaji
🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Penurunan Tanah 🏷️ Konsolidasi Lempung

STUDI PERILAKU UPLIFT DISPLACEMENT STRUKTUR TEROWONGAN PADA TANAH TERLIKUIFAKSI

Konstruksi terowongan di Indonesia, termasuk proyek MRT Jakarta, sedang berkembang pesat. Jakarta, yang berada di Pulau Jawa, dekat dengan pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia, meningkatkan risiko gempa bumi dan likuifaksi. Likuifaksi terjadi ketika tanah pasir loose yang tersaturasi sepenuhnya menerima beban dinamik, menyebabkan tanah berperilaku seperti cairan dan berpotensi menyebabkan perpindahan uplift pada terowongan yang dapat merusak strukturnya. Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perpindahan uplift pada terowongan, meliputi input motion, kedalaman tertanam, dimensi, bentuk terowongan, jarak antar terowongan, dan kondisi tanah terlikuifaksi sebagian. Selain itu, analisis terkait mekanisme perpindahan uplift yang terjadi akibat meningkatnya excess pore water pressure juga dilakukan. Data tanah berasal dari lokasi MRT Jakarta Glodok – Kota, dan pemodelan dilakukan menggunakan Plaxis 2D dengan model konstitutif PM4Sand, diverifikasi dengan model centrifuge dari penelitian Chian et al. (2014). Variasi input motion yang digunakan adalah harmonik 0.22g dan 0.1g, serta gempa Benioff dengan PGA bedrock 0.148g. Kedalaman terowongan yang diteliti adalah 5 meter, 7 meter, 15.38 meter (terowongan lingkaran), 15.63 meter (terowongan persegi), dan 17 meter. Dimensi terowongan lingkaran adalah 6.5 meter dan 8 meter, sedangkan terowongan persegi adalah 5.5 meter dan 7 meter. Jarak antar terowongan twin-tunnel adalah 10 meter dan 14 meter. Hasil menunjukkan bahwa input motion harmonik menghasilkan perpindahan uplift lebih besar dibandingkan gempa Benioff. Semakin dalam terowongan, semakin kecil perpindahan uplift. Dimensi terowongan yang lebih besar menyebabkan perpindahan uplift yang lebih besar. Perpindahan uplift kecil terjadi ketika tanah menyentuh lapisan tak terlikuifaksi. Semakin jauh jarak antar twin-tunnel, semakin besar perpindahan uplift. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membandingkan bentuk terowongan lingkaran dan persegi secara komprehensif.

2024
👤 Penulis: Gunadi Rizqi Pasca Aquila
🏷️ Geotermal 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Terowongan 🏷️ Analisis Dinamik Struktur

STUDI PENGARUH PENIMBUNAN TERHADAP GAYA DALAM PADA TIANG PANCANG BETON

Umumnya, pembangunan timbunan pada tanah lempung lunak di dekat struktur yang sudah ada harus dihindari, karena potensi tekanan lateral tidak terdrainase pada timbunan yang sudah ada. Namun, jika benar-benar tidak dapat dihindari, memprediksi pengaruh pergerakan tanah lateral tidak terdrainase akibat penimbunan sangat penting untuk memahami perilaku struktur fondasi di sekitarnya. Sayangnya, dampak dari perpindahan lateral tanah sangat kompleks karena kompleksitas interaksi tanah timbunan dan struktur. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh gaya dalam pada tiang pancang akibat pergerakan tanah yang disebabkan timbunan yang berdekatan dengan pondasi tiang pancang. Hal yang akan dianalisis meliputi nilai bending moment, lateral displacement, total displacement, dan lateral earth pressure tiang pancang. Penelitian ini juga bertujuan untuk menentukan pendekatan yang dapat menghubungkan pengaruh tinggi dan jarak timbunan terhadap gaya dalam pada tiang pancang beton. Perbandingan dilakukan antara perilaku yang diamati dari uji model centrifuge yang dilakukan oleh peneliti lain dan yang dihitung dengan metode elemen hingga. Penelitian ini menggunakan perangkat lunak elemen hingga yaitu PLAXIS 2D dan MIDAS GTS NX. Temuan menunjukkan bahwa timbunan mempengaruhi gaya dalam yang bekerja pada pondasi tiang pancang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemodelan 3D menghasilkan gaya internal yang lebih kecil dibandingkan dengan pemodelan 2D. Selain itu, kurva analisis gaya dalam yang diperoleh menunjukkan bentuk yang serupa, sehingga memungkinkan untuk menentukan persentase perbandingan analisis gaya dalam dari model PLAXIS 2D dan MIDAS GTS NX.

2024
👤 Penulis: Azka Syarifa Amani
🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Struktur Beton 🏷️ Model Numerik

STUDI AMBLESAN TANAH DI KOTA PEKALONGAN DAN SEKITARNYA, JAWA TENGAH

Amblesan tanah telah menjadi masalah yang signifikan bagi beberapa kota di Indonesia tepatnya di kota-kota pesisir. Dalam 20 tahun terakhir, Kota Pekalongan merupakan salah satu kota yang mengalami amblesan tanah paling cepat di Pulau Jawa. Faktor utama penyebab amblesan tanah yaitu faktor alamiah (konsolidasi alamiah) dan faktor antropogenik (pengambilan airtanah dan penambahan beban bangunan) serta dapat disebabkan oleh keduanya. Pemantauan amblesan tanah di Kota Pekalongan sudah dilakukan sejak 2007 menggunakan metode InSAR, hasil dari pemantauan InSAR sebesar 10–11 cm/tahun. Hal tersebut melatarbelakangi studi mengenai kontribusi dari faktor mana yang paling berpengaruh dan berapa besaran dari masing masing faktor yang dapat mengakibatkan amblesan tanah. Metode yang digunakan dalam analisis amblesan tanah yaitu metode konsolidasi satu dimensi Terzaghi dengan model analitik dan validasi menggunakan numerik pada masing masing faktor. Analisis amblesan tanah dilakukan pada 7 titik: Bor 1, Bor 2, Bor 3, Bor 4, CPTu 4, CPTu 7, dan CPTu 9. Hasil analisis menunjukan faktor alamiah yaitu konsolidasi alamiah memiliki kontribusi sebesar 0,3–1,91 m dalam rentang tahun 2013–2023. Konsolidasi alamiah di Kota Pekalongan akan terus berlangsung hingga tahun 2028–3593, dengan besaran maksimum 0,3–1,91 m. Faktor antropogenik akan mempercepat proses konsolidasi yang terjadi. Ekstraksi airtanah memiliki kontribusi 0,03–0,16 m dalam rentang tahun 2013– 2023 dan penambahan beban bangunan memiliki kontribusi 0,0003–0,03 m dalam rentang tahun 2013–2023. Dalam 10 tahun terakhir ekstraksi airtanah lebih berperan besar dalam bahaya amblesan tanah yang terjadi di Kota Pekalongan. Faktor antropogenik akan mempercepat laju amblesan tanah sebesar 0,4–1,75 cm/tahun atau mempercepat sekitar 15–42%. Perbandingan metode analitik dan numerik pada ketiga faktor, memberikan hasil yang tidak begitu jauh selisihnya hanya berkisar 0,0004–0,1 m. Persentase kemiripan hasil yang didapatkan berkisar antara 4,9–37,5%. Perbedaan hasil yang cukup kecil ini menunjukan bahwa metode analitik masih dapat digunakan.

2024
👤 Penulis: Latif Marthakusuma
🏷️ Geotermal 🏷️ Manajemen Airtanah 🏷️ Analisis Amblesan Tanah

ANALISIS PERILAKU RAYAPAN GESER MATERIAL INTERBURDEN 1 PIT ABC, TAMBANG BATUBARA DEF

Longsoran di Lereng Panel Utara terjadi pada bagian yang didominasi oleh sejenis material yang diidentifikasi sebagai clayshale. Kasus ini menginisiasi dilakukannya penelitian rayapan geser atas material tersebut, dalam rangka memprediksi kekuatan geser jangka panjangnya. Penelitian diawali dengan penentuan karakteristik dasar material berdasarkan pengujian laboratorium, untuk mengkoreksi karakteristik yang telah didefinisikan secara tidak langsung di lapangan. Uji rayapan yang dilakukan tanpa memperhitungkan faktor eksternal (air dan suhu) ini memberikan prediksi penurunan kekuatan geser jangka panjang yang cukup optimis, yaitu sebesar 55.45% hingga 77.65% dari nilai puncak aktualnya. Analisis lebih dalam mengenai karakteristik material ini menunjukkan bahwa penurunan kekuatan tidak terutama disebabkan oleh faktor waktu, melainkan keberadaan fissure dalam massa batuan tersebut.

2024
👤 Penulis: Nataneil Adhynagara Horansil
🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Rayapan Gaiser 🏷️ Karakteristik Material Batu Karbon

PEMETAAN MANIFESTASI GEOTERMAL BERDASARKAN CITRA TERMAL DAN DATA TEMPERATUR TANAH DI DAERAH KAMOJANG, JAWA BARAT

Pemerintah Indonesia mencanangkan percepatan pengembangan energi terbarukan untuk mewujudkan Net Zero Emission pada 2060 yang diatur dalam Perpres No. 112 Tahun 2022. Indonesia memiliki potensi geotermal dan daya tarik yang besar namun pemanfaatannya belum maksimal. Dalam pengembangan energi geotermal tahapan eksplorasi menjadi salah satu tahapan yang sulit dan membutuhkan waktu yang banyak, sehingga diperlukan suatu metode yang dapat meningkatkan efektivitas tahapan eksplorasi dengan menggunakan penginderaan jauh. Suatu sistem geotermal ditandai dengan keberadaan manifestasi permukaan dan anomali termal. Penelitian ini memanfaatkan sensor TIR (Thermal Infrared Radiometer) yang ada pada citra ASTER untuk diolah menjadi LST (Land Surface Temperature). Berbagai tahapan koreksi dilakukan untuk mendapatkan nilai LST yang mendekati nilai temperatur tanah. Berdasarkan uji validasi, didapatkan nilai koefisien determinasi R2 yang cukup tinggi sebesar 0,66 antara nilai LST terkoreksi vegetasi dengan temperatur tanah. Selain itu, dilakukan uji normalitas yang menunjukkan nilai residual diantara keduanya terdistribusi normal. Nilai dari LST terkoreksi vegetasi merupakan hasil yang paling mendekati nilai temperatur sebenarnya. Nilai LST terkoreksi vegetasi kemudian diolah dan dianalisis menggunakan pendekatan statistik. Berdasarkan hasil perhitungan citra ASTER, ditemukan lima lokasi anomali termal citra. Setelah dilakukan verifikasi lapangan, tiga lokasi anomali termal terverifikasi sebagai area manifestasi geotermal, satu lokasi sebagai area manifestasi geotermal interpretatif dan satu lokasi lainnya berasal dari kolam pemandian air panas. Manifestasi permukaan yang dijumpai berupa mata air panas, fumarol, tanah beruap, kolam lumpur panas, dan batuan yang telah mengalami alterasi. Anomali termal dari citra satelit yang terkonfirmasi sebagai daerah manifestasi geotermal berada pada kelas 3 dari klasifikasi LST terkoreksi vegetasi. Temperatur tersebut berada pada kisaran 27,44°C hingga 30,69°C. Manifestasi permukaan yang ada di daerah penelitian dikontrol oleh struktur geologi berupa sesar dan struktur kaldera.

2024
👤 Penulis: Erwin
🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Citra Termal 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi Terbarukan

SIMULASI INJEKSI AIR PANAS IKUTAN SEBAGAI ALTERNATIF PENANGANAN AIR BUANGAN TAMBANG PT XYZ

Menjaga lingkungan merupakan komitmen penting bagi perusahaan tambang dalam menjalankan usahanya, salah satunya memastikan air buangan dari aktifitas penambangan memenuhi baku mutu lingkungan sesuai peraturan yang berlaku. PT XYZ adalah salah satu perusahaan tambang emas yang beroperasi di Pulau Sulawesi. Area penambangan terletak pada daerah vulkanik yang merupakan daerah prospek geotermal. Pada salah satu pit penambangannya (Pit A) terdapat air panas yang keluar dengan suhu >70oC dan debit hingga mencapai 1000 liter/detik. Air panas yang keluar ini menjadi air buangan tambang yang tidak dapat langsung dialirkan ke badan air karena belum memenuhi baku mutu. Air buangan tambang ini harus diolah untuk menurunkan kadar arsen, boron, klorida, total dissolved solid (TDS) dan suhu jika akan dialirkan ke sungai terdekat sedangkan pembuangan ke laut hanya membutuhkan penurunan suhu. Alternatif lain adalah mengembalikan air buangan tambang ini ke dalam aliran airtanah dengan cara injeksi. Pengolahan yang dilakukan saat ini menggunakan metode mixing pond dan cooling circuit sebelum dialirkan ke laut. Kedua metode ini membutuhkan area yang cukup luas untuk penyediaan infrastrukturnya sedangkan penambangan juga membutuhkan perluasan lahan. Seiring kemajuan penambangan, bukaan tambang semakin besar dan debit air yang keluar akan semakin besar sehingga alternatif injeksi perlu dipertimbangkan. Studi ini dilakukan untuk mendapatkan perkiraan debit air panas yang akan keluar seiring dengan bukaan tambang yang semakin besar dan gambaran awal lokasi yang dijadikan target injeksi. Dari data pengujian lapangan yang pernah dilakukan sebelumnya, perhitungan dan simulasi menggunakan metode beda hingga (finite difference) dengan bantuan perangkat lunak (software) MODFLOW diperoleh perkiraan debit air yang keluar dapat mencapai 2000 liter/detik dan lokasi injeksi yang disarankan berada di sisi utara Pit A dengan jarak minimum 2 km dari final pit design. Hasil studi ini diharapkan dapat dijadikan acuan studi selanjutnya sebelum alternatif injeksi ini dijadikan pilihan dan diimplementasikan.

2024
👤 Penulis: Edy Susanto
🏷️ Geotermal 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Analisis Sistem Penanggulangan Lingkungan
Halaman 3 dari 3
💬