📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenEFEK SINERGIS SISTEM IONIK MULTIKOMPONEN TERHADAP STABILITAS MIKROEMULSI SURFAKTAN ANIONIK DAN PENURUNAN TEGANGAN ANTARMUKA: IMPLIKASI TERHADAP PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK MENGGUNAKAN ALKALI–SURFAKTAN
Implementing Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) via alkaline-surfactant flooding requires understanding how brine ionic composition affects surfactant behavior. This study evaluated the effects of multicomponent ionic systems on microemulsion formation, phase behavior, and interfacial tension (IFT) reduction to develop an optimum formulation for oil recovery. The performance of Linear Alkylbenzene Sulfonate and Alpha Olefin Sulfonate (LAS:AOS 50:50) and Sulfonated di-Alkyl Ester (SAE-2) was evaluated through IFT measurements, aqueous stability, phase behavior, and spontaneous imbibition tests at 65°C. Results indicated that monovalent cations increased IFT relative to base brine, whereas 200 ppm Mg²? achieved the lowest screening IFT of 0.082 mN/m. Conversely, carbonate ions significantly increased IFT, particularly when combined with divalent cations, reaching 0.225 mN/m. All screening formulations exhibited Winsor Type II phase behavior. Formulation optimization revealed that surfactant selection and salinity were critical for achieving ultra-low IFT. The optimum formulation comprising 0.75 wt% SAE-2, 1.5 wt% Na?CO?, 20,000 ppm NaCl, and 2 wt% Ethylene Glycol Monobutyl Ether successfully achieved an ultra-low IFT of 0.00804 mN/m. In spontaneous imbibition tests, this SAE-2 formulation yielded an oil recovery factor of 44.74%, significantly outperforming the optimized LAS:AOS formulation (13.17%) and base brine (4.13%), demonstrating its superior potential for CEOR applications.
STUDI PARAMETRIK STABILITAS LERENG DENGAN VARIASI MUKA AIR TANAH DAN PERKUATAN LERENG MENGGUNAKAN PENDEKATAN PROBABILISTIK
Stabilitas lereng merupakan aspek penting dalam rekayasa geoteknik karena dipengaruhi oleh kondisi hidrologi, khususnya perubahan muka air tanah yang dapat meningkatkan tekanan air pori sehingga menurunkan kuat geser tanah dan kestabilan lereng. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi muka air tanah dan konfigurasi perkuatan terhadap stabilitas lereng menggunakan analisis transien dan pendekatan probabilistik. Studi kasus dilakukan pada Lereng No. 6 di kawasan Cisokan. Analisis rembesan transien dilakukan menggunakan SEEP/W untuk memperoleh distribusi tekanan air pori, yang kemudian digunakan sebagai masukan dalam analisis stabilitas lereng transien menggunakan SLOPE/W. Selanjutnya, analisis probabilistik dilakukan menggunakan SLIDE2 untuk mengevaluasi pengaruh ketidakpastian parameter tanah terhadap stabilitas lereng. Variasi yang dianalisis meliputi tiga kondisi muka air tanah, yaitu 7.6 m, 5.0 m, dan 1.2 m, serta tiga konfigurasi perkuatan, yaitu tanpa perkuatan, perkuatan satu baris, dan perkuatan dua baris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan muka air tanah menurunkan nilai Factor of Safety (FS) dan meningkatkan Probability of Failure (PoF), sedangkan penerapan perkuatan meningkatkan FS, menurunkan PoF, dan meningkatkan Reliability Index (RI). Konfigurasi perkuatan dua baris memberikan peningkatan stabilitas yang lebih baik dibandingkan perkuatan satu baris. Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi analisis transien dan pendekatan probabilistik dapat memberikan evaluasi stabilitas lereng yang lebih komprehensif.
EVALUASI SISTEMATIS PENYESUAIAN SALINITAS DENGAN BANTUAN ALKALINE PADA SURFACTANT FLOODING BERBASIS ALKIL ESTER SULFONAT UNTUK MINYAK RINGAN LAPANGAN X: PERAN ALKALINE DALAM OPTIMASI PERILAKU FASA MIKROEMULSI DAN TEGANGAN ANTARMUKA
Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) is a promising tertiary recovery method for improving oil recovery from mature reservoirs. This study evaluated the effect of alkali type and concentration on the performance of a Polymeric Alkyl Ester Sulfonate (SAE–2) based alkaline-surfactant system for Field X, a light oil reservoir in East Kalimantan, Indonesia. A total of 22 formulations were prepared using NaOH, Na2CO3, and combined NaOH–Na2CO3 at concentrations ranging from 0.10 to 1.50 %wt, while maintaining constant SAE–2 at 0.50 %wt. Formulation performance was assessed through aqueous stability testing, phase behavior analysis, interfacial tension (IFT) measurements, and spontaneous imbibition experiments on Berea sandstone cores at reservoir temperature. The results demonstrated that alkali type had greater influence on formulation performance than concentration alone. NaOH formulations exhibited the broadest aqueous stability and achieved the highest recovery factor of 52.76% at 1.50 %wt of Na?CO? formulations demonstrated systematic phase behavior progression and generated multiple Winsor Type III microemulsion windows. The formulation containing 1.50 %wt Na2CO3 and 0.50 %wt SAE–2 produced the lowest IFT of 4.101 × 10?3 mN/m and achieved a recovery factor of 46.90%. The combined NaOH– Na2CO3 system showed poor stability and unfavorable phase behavior. Based on comprehensive evaluation, 1.50 %wt NaOH and 0.50 %wt SAE–2 was identified as the optimum formulation for Field X.
ANALISIS SENSITIVITAS GEOMETRI DAN LUAS POLA SUMUR TERHADAP KINERJA INJEKSI KIMIA PADA RESERVOIR KONSEPTUAL BERTIPE CHANNEL FINING-UPWARD
This study evaluates the performance of surfactant, polymer, and alkaline-surfactant-polymer (ASP) flooding in a conceptual channel fining-upward sandstone reservoir. The objectives are to identify the scenario with the highest recovery factor and the scenario with the best economic performance under consistent reservoir, operating, chemical, well-pattern, and screening-level economic assumptions. The study focuses on pattern geometry and pattern area as the main development variables, while maintaining a common chemical-slug design to support fair scenario comparison. A three-dimensional conceptual reservoir model was built with vertical permeability contrast to represent a channel fining-upward system. The waterflood base case was simulated from 2000 to 2020 and used as the reference case. CEOR scenarios applied water injection from 2000 to 2010, followed by a 0.3 porevolume- injected chemical slug and chase water until 2020. The scenario matrix included inverted five-spot and inverted nine-spot patterns at 96-acre, 24-acre, and 6-acre pattern areas. Performance was evaluated using recovery factor, incremental oil, pressure response, voidage replacement ratio, oil saturation distribution, and screening-level economic indicators. The waterflood base case reached 17.81% recovery factor and 1.48 MMbbl cumulative oil production. The highest technical recovery was obtained from Scenario 5-ASP, a 6-acre inverted five-spot ASP case, with 76.50% final recovery factor, 58.69% incremental recovery factor, and 4.88 MMbbl incremental oil. However, the highest recovery case was not the best economic case. Scenario 3-ASP, a 24-acre inverted five-spot ASP case, gave the highest NPV10 of 59.13 MMUSD and IRR of 62.80%. These results show that CEOR scenario selection should balance recovery improvement with development cost, well count, liquid-handling requirement, chemical cost, and the practical development intensity required to deliver the recovery target. Therefore, the preferred scenario should be selected from an integrated technical-economic ranking rather than recovery factor alone.
PERANCANGAN FILM ANIMASI 3D MULTI-PANEL IMERSIF DALAM MENYAMPAIKAN MISPERSEPSI KELUARGA KEPADA USIA REMAJA HINGGA DEWASA MUDA
Miskomunikasi dalam keluarga merupakan permasalahan yang dapat memengaruhi hubungan emosional serta menghambat terbentuknya pemahaman antaranggota keluarga. Perbedaan pengalaman hidup, latar belakang emosional, dan gaya komunikasi, terutama antara figur pengasuh dan anggota keluarga yang lebih muda, sering kali memicu kesenjangan pemahaman yang berdampak pada dinamika keluarga secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang media storytelling dengan penyajian imersif melalui projection mapping pada tiga panel sebagai sarana reflektif dalam menyampaikan nilai-nilai keluarga (family values), khususnya empati, komunikasi, kasih sayang, dan pengorbanan. Metode perancangan dilakukan melalui kajian literatur, wawancara mendalam dengan narasumber, serta analisis dinamika komunikasi keluarga. Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi pola komunikasi, bentuk miskomunikasi, serta nilai-nilai keluarga yang menjadi landasan dalam pengembangan narasi. Proses perancangan mengikuti pendekatan design thinking untuk mengembangkan konsep visual dan storytelling yang relevan dengan isu yang diangkat. Hasil perancangan berupa film pendek animasi 3D yang disajikan menggunakan sistem projection mapping pada tiga panel sehingga menciptakan pengalaman visual yang lebih imersif melalui perpaduan narasi, visual, dan tata suara. Berdasarkan evaluasi terhadap audiens, pendekatan tersebut membantu menyampaikan konflik keluarga melalui sudut pandang setiap karakter tanpa menempatkan salah satunya sebagai pihak yang sepenuhnya benar atau salah, sekaligus mendorong pengalaman menonton yang lebih reflektif. Perancangan ini menunjukkan bahwa storytelling animasi 3D imersif dapat menjadi alternatif media komunikasi visual dalam menyampaikan nilai-nilai keluarga melalui pengalaman emosional yang mendukung refleksi audiens.
COMPARATIVE STUDY OF PASSENGER SAFETY BETWEEN CABLE BARRIERS AND W-BEAM GURDRAILS DURING CAR CRASHES
Pemilihan pembatas jalan raya di Indonesia saat ini masih didasarkan pada bukti komparatif yang terbatas, meskipun pembatas kabel, pagar pengaman W-beam, dan pembatas beton semuanya diakui dalam peraturan lalu lintas jalan nasional. Penelitian ini mengatasi kesenjangan tersebut dengan membuat dan membandingkan model tabrakan elemen hingga dari pembatas kabel dan pagar pengaman balok-W, yang masing-masing ditabrak oleh mobil sedan Toyota Camry model 2012 dalam kondisi uji TB32 yang ditentukan dalam EN 1317 (110 km/jam, 20°, 1.500 kg). Kedua simulasi dijalankan di Ansys LS-DYNA dan validitasnya diverifikasi melalui perilaku keseimbangan energi serta waktu intrusi sebelum hasilnya dapat diandalkan. Data percepatan dari setiap uji coba disaring — menggunakan filter Butterworth empat kutub tanpa fase berfrekuensi 13 Hz untuk Indeks Keparahan Percepatan (ASI), dan filter CFC60 untuk saluran kecepatan — serta digunakan untuk menghitung probabilitas cedera penumpang berdasarkan model korelasi Meng dan Untaroiu (2020). Penghalang kabel menghasilkan ASI sebesar 4,328, yang berarti probabilitas cedera AIS3+ berkisar antara 0,066 (paha) hingga 0,999 (dada). Pagar pengaman W-beam menunjukkan kinerja yang jauh lebih buruk dalam hal ini, dengan ASI mencapai 45,684 dan secara efektif probabilitas 1 di setiap bagian tubuh yang dievaluasi. Menariknya, pagar pengaman tersebut lebih efektif dalam meredam energi kinetik kendaraan: dalam waktu 79 ms, kecepatan mobil telah berkurang menjadi 27,288 m/s dan energinya menjadi 424,6 kJ, dibandingkan dengan 29,031 m/s dan 482,8 kJ untuk penghalang kabel. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun pagar pengaman tipe W-beam lebih kaku dan mampu menyerap lebih banyak energi dari benturan, kekakuan yang sama justru menimbulkan beban deselerasi yang jauh lebih berat bagi penumpang — sehingga pagar kabel menjadi pilihan yang lebih aman di antara keduanya dalam skenario tabrakan spesifik ini. Temuan-temuan ini dimaksudkan untuk mendukung pembahasan kebijakan di masa mendatang mengenai standar pagar pengaman untuk jalan tol di Indonesia.
PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN UNTUK PROGRAM INOVASI DAN INKUBASI PADA DIREKTORAT KAWASAN SAINS DAN TEKNOLOGI (DKST) INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Peralihan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) menjadi Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST) Institut Teknologi Bandung membuat cakupan layanan yang dikelola menjadi lebih luas dan beragam. Sayangnya, perluasan ini belum diimbangi oleh sistem manajemen yang memadai. Proses komersialisasi hasil riset melalui skema spin-off masih belum terstandardisasi, penentuan komposisi tenant belum mempertimbangkan kebutuhan pengguna, kapasitas ruang, dan aspek finansial secara bersamaan, sementara pengetahuan organisasi masih tersebar di berbagai media dan individu. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kapabilitas sistem manajemen DKST ITB melalui tiga rancangan, yaitu proses bisnis komersialisasi hasil riset, komposisi tenant dan kebutuhan fasilitas yang optimal, serta Knowledge Management System (KMS). Perancangan proses bisnis dilakukan menggunakan pendekatan Business Process Management yang mencakup tahap process identification, process discovery, process analysis, dan process redesign. Penentuan komposisi tenant menggunakan pendekatan sequential exploratory mixed methods, yang diawali dengan wawancara untuk memperoleh voice of customer, kemudian pembangunan model linear programming menggunakan algoritma Python untuk memaksimalkan pendapatan penyewaan lantai 7, 9, dan 10 IIP Bandung Technopolis pada tiga skenario harga. Perancangan KMS menggunakan adaptasi 10-Step Knowledge Management Roadmap melalui analisis proses bisnis dan infrastruktur aktual, identifikasi aset pengetahuan, perancangan blueprint, serta pengembangan prototipe. Hasil penelitian menghasilkan pemodelan proses bisnis jalur komersialisasi, rancangan proses komersialisasi yang dilengkapi dengan mekanisme asesmen, dan pembagian peran yang lebih jelas. Model optimasi menghasilkan komposisi empat kategori tenant pada setiap lantai dengan pendapatan sebesar Rp 235.075.000 pada skenario pesimistis, Rp 527.712.500 pada skenario realistis, dan Rp 820.350.000 pada skenario optimistis. Selain itu, prototipe KMS mengintegrasikan repositori pengetahuan, direktori pengetahuan, dan platform kolaborasi untuk mendukung layanan DKST ITB .Ketiga rancangan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam satu platform website DKST ITB melalui halaman Spin-off, Fasilitas, dan KMS. Integrasi ini diharapkan dapat membantu menstandarkan proses komersialisasi, meningkatkan pemanfaatan ruang dan potensi pendapatan, serta mendukung pengelolaan pengetahuan yang lebih terstruktur bagi DKST ITB.
PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN UNTUK PROGRAM INOVASI DAN INKUBASI PADA DIREKTORAT KAWASAN SAINS DAN TEKNOLOGI (DKST) INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Peralihan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) menjadi Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST) Institut Teknologi Bandung membuat cakupan layanan yang dikelola menjadi lebih luas dan beragam. Sayangnya, perluasan ini belum diimbangi oleh sistem manajemen yang memadai. Proses komersialisasi hasil riset melalui skema spin-off masih belum terstandardisasi, penentuan komposisi tenant belum mempertimbangkan kebutuhan pengguna, kapasitas ruang, dan aspek finansial secara bersamaan, sementara pengetahuan organisasi masih tersebar di berbagai media dan individu. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kapabilitas sistem manajemen DKST ITB melalui tiga rancangan, yaitu proses bisnis komersialisasi hasil riset, komposisi tenant dan kebutuhan fasilitas yang optimal, serta Knowledge Management System (KMS). Perancangan proses bisnis dilakukan menggunakan pendekatan Business Process Management yang mencakup tahap process identification, process discovery, process analysis, dan process redesign. Penentuan komposisi tenant menggunakan pendekatan sequential exploratory mixed methods, yang diawali dengan wawancara untuk memperoleh voice of customer, kemudian pembangunan model linear programming menggunakan algoritma Python untuk memaksimalkan pendapatan penyewaan lantai 7, 9, dan 10 IIP Bandung Technopolis pada tiga skenario harga. Perancangan KMS menggunakan adaptasi 10-Step Knowledge Management Roadmap melalui analisis proses bisnis dan infrastruktur aktual, identifikasi aset pengetahuan, perancangan blueprint, serta pengembangan prototipe. Hasil penelitian menghasilkan pemodelan proses bisnis jalur komersialisasi, rancangan proses komersialisasi yang dilengkapi dengan mekanisme asesmen, dan pembagian peran yang lebih jelas. Model optimasi menghasilkan komposisi empat kategori tenant pada setiap lantai dengan pendapatan sebesar Rp 235.075.000 pada skenario pesimistis, Rp 527.712.500 pada skenario realistis, dan Rp 820.350.000 pada skenario optimistis. Selain itu, prototipe KMS mengintegrasikan repositori pengetahuan, direktori pengetahuan, dan platform kolaborasi untuk mendukung layanan DKST ITB .Ketiga rancangan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam satu platform website DKST ITB melalui halaman Spin-off, Fasilitas, dan KMS. Integrasi ini diharapkan dapat membantu menstandarkan proses komersialisasi, meningkatkan pemanfaatan ruang dan potensi pendapatan, serta mendukung pengelolaan pengetahuan yang lebih terstruktur bagi DKST ITB.
PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN UNTUK PROGRAM INOVASI DAN INKUBASI PADA DIREKTORAT KAWASAN SAINS DAN TEKNOLOGI (DKST) INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Peralihan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) menjadi Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST) Institut Teknologi Bandung membuat cakupan layanan yang dikelola menjadi lebih luas dan beragam. Sayangnya, perluasan ini belum diimbangi oleh sistem manajemen yang memadai. Proses komersialisasi hasil riset melalui skema spin-off masih belum terstandardisasi, penentuan komposisi tenant belum mempertimbangkan kebutuhan pengguna, kapasitas ruang, dan aspek finansial secara bersamaan, sementara pengetahuan organisasi masih tersebar di berbagai media dan individu. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kapabilitas sistem manajemen DKST ITB melalui tiga rancangan, yaitu proses bisnis komersialisasi hasil riset, komposisi tenant dan kebutuhan fasilitas yang optimal, serta Knowledge Management System (KMS). Perancangan proses bisnis dilakukan menggunakan pendekatan Business Process Management yang mencakup tahap process identification, process discovery, process analysis, dan process redesign. Penentuan komposisi tenant menggunakan pendekatan sequential exploratory mixed methods, yang diawali dengan wawancara untuk memperoleh voice of customer, kemudian pembangunan model linear programming menggunakan algoritma Python untuk memaksimalkan pendapatan penyewaan lantai 7, 9, dan 10 IIP Bandung Technopolis pada tiga skenario harga. Perancangan KMS menggunakan adaptasi 10-Step Knowledge Management Roadmap melalui analisis proses bisnis dan infrastruktur aktual, identifikasi aset pengetahuan, perancangan blueprint, serta pengembangan prototipe. Hasil penelitian menghasilkan pemodelan proses bisnis jalur komersialisasi, rancangan proses komersialisasi yang dilengkapi dengan mekanisme asesmen, dan pembagian peran yang lebih jelas. Model optimasi menghasilkan komposisi empat kategori tenant pada setiap lantai dengan pendapatan sebesar Rp 235.075.000 pada skenario pesimistis, Rp 527.712.500 pada skenario realistis, dan Rp 820.350.000 pada skenario optimistis. Selain itu, prototipe KMS mengintegrasikan repositori pengetahuan, direktori pengetahuan, dan platform kolaborasi untuk mendukung layanan DKST ITB .Ketiga rancangan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam satu platform website DKST ITB melalui halaman Spin-off, Fasilitas, dan KMS. Integrasi ini diharapkan dapat membantu menstandarkan proses komersialisasi, meningkatkan pemanfaatan ruang dan potensi pendapatan, serta mendukung pengelolaan pengetahuan yang lebih terstruktur bagi DKST ITB.
PEMODELAN KESESUAIAN HABITAT TRACHYPITHECUS AURATUS, PRESBYTIS COMATA DAN MACACA FASCICULARIS DI TAMAN BURU GUNUNG MASIGIT KAREUMBI
Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBGMK) merupakan habitat penting bagi berbagai spesies primata di Jawa Barat yang saat ini menghadapi tekanan akibat perubahan tutupan lahan, perambahan, fragmentasi habitat, dan aktivitas manusia. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kualitas habitat sehingga diperlukan informasi mengenai distribusi habitat yang sesuai sebagai dasar pengelolaan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian habitat tiga spesies primata, yaitu Trachypithecus auratus, Presbytis comata, dan Macaca fascicularis, di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBGMK), mengidentifikasi preferensi habitat masing-masing spesies berdasarkan variabel lingkungan yang berpengaruh, serta menganalisis tingkat tumpang tindih (overlap) habitat antarspesies. Kawasan ini merupakan salah satu habitat penting bagi keanekaragaman hayati di Jawa Barat yang menghadapi tekanan akibat perubahan penggunaan lahan dan aktivitas antropogenik. Oleh karena itu, pemahaman mengenai distribusi habitat potensial dan tumpang tindih habitat antarspesies menjadi input penting dalam perencanaan konservasi yang efektif dan berkelanjutan. Pemodelan kesesuaian habitat dilakukan menggunakan Maximum Entropy (MaxEnt), yang merupakan metode berbasis machine learning dan dirancang untuk menggunakan data kehadiran spesies saja (presence only) sebagai variabel distribusi. Penelitian ini menggunakan kombinasi berbagai variabel lingkungan yang diduga memengaruhi distribusi spesies, meliputi faktor topografi (elevasi dan kemiringan lereng), tutupan lahan, serta jarak terhadap fitur antropogenik seperti kebun dan pemukiman. Seluruh variabel lingkungan diproses dalam format raster dengan resolusi spasial yang seragam untuk memastikan konsistensi analisis. Evaluasi performa model dilakukan menggunakan nilai Area Under the Curve (AUC) dari kurva Receiver Operating Characteristic (ROC), yang umum digunakan untuk menilai akurasi prediksi model distribusi spesies. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa model MaxEnt memiliki kinerja yang baik dalam memprediksi distribusi habitat potensial ketiga spesies primata. Nilai AUC yang diperoleh masing-masing sebesar 0,842 untuk Trachypithecus auratus, 0,773 untuk Presbytis comata, dan 0,826 untuk Macaca fascicularis, yang mengindikasikan tingkat akurasi model berada dalam kategori sedang hingga baik. Perbedaan nilai AUC antarspesies mencerminkan variasi kompleksitas relung ekologis serta sensitivitas masing-masing spesies terhadap perubahan kondisi lingkungan. Selain itu, kontribusi variabel lingkungan terhadap model menunjukkan adanya perbedaan preferensi habitat pada setiap spesies, yang berkaitan dengan karakteristik ekologis dan perilaku masing-masing. Distribusi spasial kesesuaian habitat menunjukkan bahwa area dengan nilai kesesuaian tinggi tersebar secara tidak merata di dalam kawasan penelitian. Trachypithecus auratus dan Presbytis comata cenderung memiliki distribusi habitat yang lebih terkonsentrasi pada area dengan kondisi hutan yang relatif baik dan minim gangguan, sedangkan Macaca fascicularis menunjukkan distribusi yang lebih luas dan mampu menempati area dengan tingkat gangguan yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Macaca fascicularis memiliki toleransi ekologis yang lebih tinggi dibandingkan dengan dua spesies lainnya. Analisis tumpang tindih (overlap) habitat antarspesies menunjukkan adanya variasi tingkat kesamaan preferensi habitat. Tumpang tindih yang relatif tinggi ditemukan antara Trachypithecus auratus dan Presbytis comata, yang mengindikasikan adanya kesamaan dalam preferensi habitat serta potensi interaksi dalam pemanfaatan sumber daya. Di sisi lain, tumpang tindih antara kedua spesies tersebut dengan Macaca fascicularis cenderung lebih rendah, yang mencerminkan perbedaan dalam strategi adaptasi terhadap lingkungan. Pola ini mengindikasikan adanya mekanisme pembagian relung (niche partitioning) yang memungkinkan ketiga spesies untuk hidup berdampingan dalam satu lanskap tanpa terjadi kompetisi yang berlebihan. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya menjaga heterogenitas habitat dalam mendukung keberlangsungan berbagai spesies primata di kawasan konservasi. Area dengan tingkat kesesuaian habitat tinggi serta memiliki nilai tumpang tindih antarspesies yang signifikan perlu menjadi prioritas dalam pengelolaan kawasan, karena berperan penting dalam mempertahankan keanekaragaman hayati. Selain itu, keberadaan area dengan tekanan antropogenik yang tinggi juga perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya mitigasi dampak terhadap habitat satwa. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dalam pengembangan pendekatan pemodelan distribusi spesies berbasis spasial, khususnya dalam konteks konservasi primata di Indonesia.
PENGEMBANGAN MODEL FORECASTING DEMAND BERBASIS MACHINE LEARNING DAN PERANCANGAN KEBIJAKAN PERSEDIAAN SPARE PART PESAWAT DENGAN PENDEKATAN INTERMITTENT DEMAND
PT X menghadapi tantangan dalam perencanaan kebutuhan spare part pesawat untuk aktivitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) karena pola permintaan yang bersifat intermittent (jarang muncul dan banyak bernilai nol). Metode forecasting existing saat ini memiliki akurasi yang rendah, sehingga berisiko menyebabkan kekurangan stok. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model forecasting yang lebih akurat menggunakan pendekatan Machine Learning (ML) dan menyusun kebijakan persediaan yang optimal dengan pendekatan intermittent demand. Metodologi diawali dengan klasifikasi pola permintaan menggunakan parameter Average Demand Interval (ADI) dan Coefficient of Variation Squared (????????2) untuk mengelompokkan spare part ke dalam kategori smooth, erratic, slow, dan lumpy, dilanjutkan analisis ABC berbasis nilai biaya multi-mata uang yang distandardisasi ke USD. Pengembangan model dilakukan melalui dua skema: forecasting menggunakan model Naïve sebagai baseline dan Two-Stage Regression (klasifikasi dan regresi), dengan feature engineering berupa lag temporal, moving average, demand density, dan fitur momentum. Analisis feature importance menunjukkan bahwa fitur lag temporal dan demand density merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan akurasi prediksi pada pola intermittent demand. Untuk menangani ketidakseimbangan kelas pada Stage 1, diterapkan teknik SMOTE (Synthetic Minority Over-sampling Technique). Algoritma yang diuji untuk Two-Stage Regression meliputi Logistic/Linear Regression, Random Forest, dan Support Vector Machine (SVM), dievaluasi menggunakan chronological train-test split (80:20) dan walk-forward rolling validation. Signifikansi perbedaan performa model Machine Learning terhadap metode baseline dan metode existing yaitu Syntetos-Boylan Approximation (SBA) dibuktikan secara statistik menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test. Model terbaik kemudian diintegrasikan ke dalam perhitungan kebijakan persediaan berupa Economic Order Quantity (EOQ), Reorder Point (ROP), dan safety stock menggunakan pendekatan Negative Binomial Distribution (NBD). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kebijakan persediaan usulan merupakan alternatif yang paling optimal dibanding metode existing, dengan potensi penghematan Total Inventory Cost (TIC) hingga 72%.
USULAN REKAYASA PROSES BISNIS PRODUK FESYEN BERBASIS TENUN IKAT WARNA ALAM SUMBA TIMUR DI LURITANEA
Luritanea saat ini menghadapi hambatan produktivitas dalam mengekseskusi proses operasional inovasi produk berbasis tenun ikat Sumba “Tenun Eco-fashion”. Hal ini disebabkan karena tidak adanya pemetaan proses operasional, tanggung jawab masing-masing proses yang belum terdefinisi, dan tidak adanya sistem pengendalian standar kualitas untuk proses operasional. Berdasarkan potensi penyelesaian masalah yang didukung dari penelitian terkait dengan dampak positif penerapan Business Process Reengineering (BPR) yang berorientasi pada standar kualitas untuk menciptakan nilai di mata pelanggan, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan rancangan proses bisnis pengembangan produk Tenun Eco-fashion pada Luritanea yang didasarkan pada persyaratan dalam standar ISO 9001. Peneltian ini menggunakan tahapan implementasi BPR yang terdiri dari: persiapan reengineering, pemetaan dan analisis proses bisnis as-is, perancangan proses to-be, dan implementasi hasil reengineering melalui pemenuhan persyaratan ISO 9001:2015. Pada penelitian ini BPR dilakukan dengan dua pendekatan untuk menghasilkan dua arah perbaikan, yaitu pendekatan clean sheet dan pendekatan systematic reengineering. Pemetaan proses bisnis as-is diawali dengan identifikasi proses bisnis melalui wawancara semi terstruktur yang menghasilkan 6 kategori proses, 24 proses, dan 97 aktivitas. Setelah dilakukan evaluasi terhadap ISO 9001:2015, proses as-is hanya memenuhi 17 dari 63 (26,9%) klausul yang dipersyaratkan. Setelah dilakukan perancangan proses to-be, melalui pendekatan clean sheet dihasilkan 4 proses baru dan 4 proses yang dilakukan perancangan ulang, sedangkan melalui pendekatan systematic reengineering dihasilkan 2 proses dari pembakuan prosedur. Untuk mendukung pemenuhan persyaratan ISO 9001:2015 dihasilkan juga rancangan informasi terdokumentasi yang terdiri 10 dokumen pendukung, 4 formulir, dan 10 prosedur. Dari hasil evaluasi proses bisnis to-be dan rancangan informasi terdokumentasi terhadap ISO 9001:2015, didapatkan pemenuhan 61 dari 63 klausul proses bisnis (96,8%). Penelitian ini menghasilkan rancangan proses bisnis yang didasarkan pada pemenuhan persyaratan dalam standar ISO 9001:2015 dan didokumentasikan dalam pemodelan proses bisnis IDEF9000.
PENGEMBANGAN SISTEM BIKE FITTING BERBASIS SENSOR WEARABLE DAN APLIKASI ANALISIS POSE UNTUK EVALUASI STABILITAS PANGGUL DAN POSTUR TUBUH
Bike fitting merupakan proses penyesuaian posisi sepeda terhadap pengendara untuk meningkatkan efisiensi kayuhan, kenyamanan, serta mengurangi risiko cedera muskuloskeletal. Meskipun penting untuk pencegahan cedera, layanan bike fitting saat ini masih kurang portabel dan mengandalkan sistem laboratorium yang mahal, sehingga sulit dijangkau oleh pesepeda non-atlet. Penerapan bike fitting sejatinya sangat krusial bagi pesepeda rekreasional demi menghindari keluhan muskuloskeletal akibat kesalahan postur yang repetitif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi sistem bike fitting hibrida yang dirancang agar lebih mudah diakses (accessible) oleh masyarakat umum melalui solusi yang objektif, portabel, dan terjangkau. Sistem yang dikembangkan mengintegrasikan sensor wearable berbasis Inertial Measurement Unit (IMU) BNO055 pada area sakrum untuk mengukur pelvic rocking dan pelvic tilt, serta aplikasi Android berbasis MediaPipe BlazePose untuk menganalisis postur tubuh secara markerless. Evaluasi sistem meliputi pengujian akurasi, performa, dan pengujian dinamis pada tiga subjek menggunakan mountain bike (MTB) dan road bike dengan tiga variasi tinggi sadel. Hasil validasi menunjukkan sensor IMU memiliki Mean Absolute Error (MAE) sebesar 0,326° pada sumbu roll dan 0,626° pada sumbu pitch. Estimasi sudut lutut MediaPipe menghasilkan MAE sebesar 4,12° (BDC) dan 5,27° (TDC). Sistem bekerja dengan sampling rate IMU 78,39 Hz, frame rate MediaPipe 17,6 fps, Bluetooth Low Energy (BLE) latensi median 8,0 ms, packet loss 0%, serta offset sinkronisasi maksimum 34,8 ms. Pengujian dinamis membuktikan sistem mampu mendeteksi perubahan biomekanika akibat variasi tinggi sadel melalui parameter knee angle, pelvic rocking, dan pelvic tilt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem hibrida IMU-MediaPipe berhasil menyediakan alat evaluasi data gerak real-time yang andal dan memadai bagi pesepeda rekreasional.
EVALUASI POTENSI PLASTIK SEBAGAI PEREKAT PEMBRIKETAN REFUSE DERIVED FUEL (RDF) DARI SAMPAH ANORGANIK
Produksi briket di Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) saat ini masih bergantung pada penambahan bahan perekat kanji (tepung tapioka) karena mesin ekstrusi ulir eksisting belum mampu menghasilkan briket utuh tanpa perekat, sehingga menambah biaya produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan parameter tekanan, temperatur, dan perekat optimal pembriketan RDF pada dua jalur perekat, yaitu menggunakan kanji dan menggunakan plastik di dalam sampah anorganik, setelah sebelumnya mengevaluasi parameter proses pembriketan pada mesin ekstrusi ulir. Penelitian meliputi karakterisasi bahan baku, pemodelan pembriketan mesin ekstrusi ulir, pembriketan pada mesin ekstrusi ulir, dan eksperimen terkontrol menggunakan mesin press hidrolik dengan variasi kandungan kanji, tekanan (15 – 30 MPa), dan temperatur (110 – 170 °C) pada bahan baku sampah anorganik berkadar air 15%. Pengujian durabilitas dilakukan menggunakan metode uji jatuh (drop test) dari ketinggian 185 cm ke permukaan pelat baja sebanyak empat kali, untuk mengetahui kemampuan briket menerima beban benturan eksternal. Pengukuran densitas dan kadar air, serta pengamatan visual briket juga dilakukan untuk menganalisis kualitas briket yang dihasilkan. Karakterisasi fisik menunjukkan cacahan RDF memiliki kadar air 34,4% dengan dominasi plastik film LDPE sebesar 37%. Pemodelan mesin ekstrusi ulir mengestimasi tekanan operasi mesin sekitar 15 MPa, dan hasil eksperimen terkontrol menunjukkan bahwa pada temperatur pembriketan 110 °C, briket tanpa perekat hanya mencapai durabilitas 56,5 – 58%, sedangkan briket berkanji mencapai 96%. Namun demikian, pada temperatur pembriketan 150 °C dan 170 °C, briket tanpa perekat mencapai durabilitas 97 – 100%, setara dengan briket berkanji. Temuan ini membuktikan bahwa fraksi plastik dapat berfungsi sebagai perekat menggantikan kanji, sepanjang temperatur pembriketan memadai untuk mengaktifkan pelunakan plastik. Evaluasi parameter proses menyimpulkan bahwa temperatur merupakan faktor pembatas utama pembriketan tanpa perekat pada mesin eksisting.
ANALISIS TEGANGAN MEKANIK DAN OPTIMASI DESAIN RANGKA KURSI RODA ELEKTRIK MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA
Kursi roda elektrik merupakan alat bantu mobilitas yang penting bagi penyandang disabilitas, namun penambahan komponen elektronik seperti baterai, motor, dan kontroler meningkatkan beban yang harus ditanggung oleh rangka. Desain rangka kursi roda elektrik yang menjadi objek penelitian ini belum dievaluasi keselamatan strukturalnya secara formal. Penelitian ini bertujuan menganalisis tegangan mekanik pada rangka, menentukan faktor keamanannya, dan merancang desain baru yang lebih ringan namun tetap memenuhi persyaratan keselamatan sesuai standar ISO 7176-8:2014. Metode penelitian dilakukan dengan memodelkan geometri tiga dimensi rangka menggunakan SOLIDWORKS, kemudian dianalisis menggunakan Metode Elemen Hingga (MEH) pada perangkat lunak ANSYS Workbench dengan elemen solid tetrahedron orde kedua (SOLID187). Kondisi tumpuan jepit diterapkan pada titik kontak roda, dengan pembebanan statis sebesar 1.177,2 N pada area tempat duduk sesuai ISO 7176-8:2014 dan kapasitas beban nominal 50 kg. Studi konvergensi mesh dilakukan untuk memastikan keandalan hasil, dan optimasi desain dilakukan secara parametrik dengan mengurangi ketebalan dinding pada komponen yang mengalami tegangan jauh di bawah batas izin. Hasil analisis menunjukkan bahwa desain awal rangka menghasilkan tegangan von Mises maksimum sebesar 86 MPa dengan faktor keamanan global sebesar 2,91, yang telah memenuhi persyaratan SF ? 2,0. Evaluasi faktor keamanan lokal mengungkapkan adanya komponen dengan SF mencapai 1.136,36, menunjukkan inefisiensi penggunaan material yang besar. Melalui optimasi ketebalan dinding, diperoleh desain optimal dengan massa rangka berkurang 36,94% (dari 850,59 gram menjadi 536,37 gram); meskipun faktor keamanan global menurun menjadi 0,58, faktor keamanan lokal tiap komponen masih jauh di atas batas minimum yang disyaratkan, sehingga desain optimal dinyatakan layak digunakan.