📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 57 dokumen

PERANCANGAN IDENTITAS VISUAL DAN ENVIRONMENTAL GRAPHIC DESIGN PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BUDI PERTIWI

Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Pertiwi adalah fasilitas sosial yang didirikan pada tahun 1948 untuk memberikan pelayanan kesejahteraan bagi lansia. Panti ini berlokasi di Bandung dan bertujuan menciptakan lingkungan agar Lansia senantiasa beriman, sehat jasmani, rohani, bahagia dan sejahtera. Namun, Observasi menunjukkan bahwa identitas tersebut belum tercermin dalam lingkungan PSTW Budi Pertiwi, seperti environmental graphic design yang tidak terpadu memberikan kesan berantakan, kurangnya konsistensi dalam identitas visual dan lingkungan fisik yang kurang ramah bagi kebutuhan penghuni yang dapat berdampak langsung dengan kualitas hidup penghuni lansia. Berdasarkan masalah-masalah tersebut, dirancang identitas visual dan environmental graphic design yang sesuai kebutuhan penghuni lansia mencakup logo baru, penyampaian afirmasi positif, signs system yang jelas, serta elemen visual lainnya untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan bermakna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara, dan studi literatur untuk memahami kebutuhan penghuni lansia. Diharapkan perancangan ini dapat meningkatkan kualitas hidup penghuni serta memperkuat citra PSTW Budi Pertiwi di mata masyarakat.

2025
👤 Penulis: Keffa Kania
🏷️ Desain Visual 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Lansia 🏷️ Hidrologi Lingkungan

EKSPLORASI BEADING MENGGUNAKAN MATERIAL UPCYCLING COMPACT DISK BERMOTIF BATIK KAWUNG

Cakram optis merupakan cakram plastik, tipis, dan bundar yang mampu menyimpan data dalam bentuk pits dan lads. Salah satu contoh dari cakram optis adalah Compact Disc (CD) dan Digital Video Disc (DVD). Alat ini cukup populer Ketika tahun 1980-an sampai 2010-an. Namun karena berkembangnya waktu dan teknologi, membuat alat ini mulai ditinggalkan karena ada pengganti yang lebih baik. Sehingga banyak limbah CD/DVD yang tidak digunakan dan dibiarkan menganggur di lemari, bahkan dibuang sembarangan. Dikarenakan material cakram optis yang cukup berbahaya untuk lingkungan, jika langsung dibuang begitu saja tentu tidak baik. Oleh karena itu, pada penelitian ini dibuatlah sebuah karya berbahan dasar Cakram optis dengan pendekatan upcycling. Untuk menunjang karya yang dibuat, dibutuhkan sebuah kunci visual yang cukup familiar dengan Masyarakat. Pada awal eksplorasi diinginkan motif yang memiliki hubungan dengan budaya Indonesia, yaitu batik. Namun, material cakram optis merupakan material yang rapuh, sehingga sulit jika menggunakan motif yang terlampau rumit. Setelah eksplorasi mengikuti kondisi tersebut ditemukanlah motif batik kawung. Motif batik kawung selain dari kepopulerannya, juga dikarenakan struktur yang repetitif dan makna yang dimiliki dari motif batik kawung itu sendiri. Dengan mengambil lima jenis motifnya, akhirnya dihasilkanlah sebuah karya yang berbahan dasar cakram optis dengan pendekatan upcycling bermotif batik kawung. Perbandingan dari karya orang sebelumnya, pada penelitian ini menggunakan teknik yang berbeda yaitu menggunakan interlocking. Diharapkan dengan ditampilkannya karya ini dapat mengedukasi orang yang melihat, bahwa terdapat variasi motif batik kawung. Lalu diharapkan pula dengan karya ini, dapat mereduksi limbah Cakram optis di Masyarakat dan menginspirasi orang lain agar membuat karya dari barang yang sudah tidak terpakai dan menjaga lingkungan agar tidak tercemar.

2025
👤 Penulis: Annisa Ramadina
🏷️ Kreativitas Upcycling 🏷️ Hidrologi Lingkungan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Produk

ANALISIS ELEKTRIFIKASI KENDARAAN OPERASIONAL UNTUK MENGURANGI EMISI DI JALAN DAN PENGELUARAN OPERASIONAL DALAM KEGIATAN PEMBANGKIT LISTRIK PANAS BUMI

Studi ini mengevaluasi kelayakan, dampak lingkungan, dan implikasi ekonomi dari transisi armada kendaraan operasional Star Energy Geothermal Wayang Windu Limited (SEGWWL) dari kendaraan bermesin pembakaran dalam (ICE) ke kendaraan listrik berbasis baterai (BEV). Penelitian ini bertujuan mendukung target keberlanjutan SEGWWL melalui analisis Total Cost of Ownership (TCO), pengeluaran operasional (OPEX), dan emisi gas rumah kaca (GRK) berdasarkan berbagai skenario elektrifikasi pada segmen kendaraan ringan, kendaraan berat, dan shuttle karyawan. Dengan menggunakan kombinasi data primer (utilisasi armada, konsumsi bahan bakar, biaya perawatan) dan data sekunder (spesifikasi kendaraan, tarif listrik, kerangka kebijakan), studi ini memodelkan TCO dan profil emisi selama periode enam tahun untuk masing-masing segmen. Hasil menunjukkan bahwa elektrifikasi kendaraan ringan—seperti penggantian Toyota Innova dengan BYD M6 BEV—menawarkan penghematan biaya sebesar kurang lebih Rp601,91 juta serta penurunan emisi tahunan sebesar 52%. Sebaliknya, elektrifikasi segmen kendaraan berat dan shuttle karyawan menghadapi tantangan ekonomi karena tingginya biaya awal dan terbatasnya ketersediaan model EV yang tahan medan berat, yang menghasilkan tambahan TCO sebesar Rp5,5 miliar dan Rp719,89 juta secara berturut-turut. Meskipun demikian, BEV menunjukkan keunggulan jangka panjang dalam OPEX berkat biaya energi dan perawatan yang lebih rendah, serta pembebasan penuh dari pajak kendaraan bermotor sesuai kebijakan pemerintah Indonesia saat ini. Dari sisi lingkungan, elektrifikasi penuh armada berpotensi mengurangi emisi GRK SEGWWL hingga 76,46-ton CO?eq per tahun, atau setara dengan penurunan 39,41% dibandingkan baseline ICE. Studi ini menyimpulkan bahwa elektrifikasi kendaraan ringan dapat segera diterapkan secara ekonomis dan ramah lingkungan, sementara untuk segmen kendaraan berat dan shuttle, diperlukan perkembangan pasar lebih lanjut, penurunan harga, atau insentif kebijakan tambahan. Rekomendasi mencakup strategi implementasi bertahap, investasi infrastruktur pengisian daya, pemantauan berkelanjutan, pelatihan teknisi, serta advokasi kebijakan untuk mendukung transisi kendaraan listrik yang sukses dan terukur di sektor energi panas bumi Indonesia.

2025
👤 Penulis: Fahmi Arief Hakim
🏷️ Elektrifikasi Kendaraan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi Panas Bumi 🏷️ Hidrologi Lingkungan

PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN TERHADAP CLIMATE ACTION MELALUI CROSS-CULTURE (STUDI KASUS PADA INDONESIA DAN BELGIA)

Industri komunikasi visual periklanan memiliki peran signifikan dalam memperkuat konsumsi yang tidak berkelanjutan dan menyumbang pada kerusakan lingkungan global. Pola konsumsi yang terbentuk lebih menitikberatkan pada simbol daripada manfaat, memperkuat kesadaran semu dalam masyarakat. Di sisi lain, periklanan juga berpotensi menjadi alat perubahan sosial jika diarahkan untuk mendorong aksi kolektif dan perilaku prolingkungan. Penelitian ini menggunakan teori decolonizing design, politics of design, design of the pluriverse, social engineering, poverty porn, serta pendekatan cross-culture untuk mengeksplorasi peran kampanye sosial lintas budaya dalam meningkatkan kesadaran terhadap climate action. Studi ini juga meninjau bagaimana pendekatan kreatif dan partisipatif dapat mengatasi hambatan psikologis serta meningkatkan efektivitas pesan pada Gen Z. Perancangan kampanye sosial ini mengusung konsep dualisme antara negara maju dan berkembang, dengan fokus pada kolaborasi kolektif, bukan saling menyalahkan. Strategi kampanye dirancang melalui pendekatan lokalisasi budaya guna menciptakan pesan yang relevan dan inklusif bagi audiens di Indonesia dan Belgia. Kampanye sosial bertajuk Adpocalypse, yang mengusung gaya naratif yang sulit diabaikan dengan mekanisme “tidak bisa diskip”, menyerupai kekacauan apokaliptik yang memaksa perhatian. Meskipun dapat dilewati, struktur visual dan emosional kampanye dirancang untuk menciptakan keterlibatan bawah sadar di kalangan Gen Z. Kampanye ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan mendorong aksi nyata terhadap perubahan iklim lintas budaya.

2025
👤 Penulis: Lentya Permata Sari Arya Pati
🏷️ Kampanye Sosial 🏷️ Desain Desaian 🏷️ Hidrologi Lingkungan

ANALISIS PENGARUH FAKTOR PENYEBAB KELELAHAN PEKERJA KONSTRUKSI TERHADAP KINERJA KESELAMATAN KERJA

Industri konstruksi di Indonesia menghadapi masalah serius terkait keselamatan dan kesehatan kerja (K3), dengan sektor konstruksi menyumbang 63,6% dari total kecelakaan kerja nasional menurut data BPJS Ketenagakerjaan pada tahun 2022. Kelelahan fisik pekerja, yang disebabkan oleh beban kerja berat serta faktor lingkungan seperti suhu ekstrem, pencahayaan, dan kebisingan berkontribusi signifikan terhadap tingginya angka kecelakaan. Oleh karena itu, pengelolaan kelelahan kerja menjadi kunci penting dalam menurunkan angka kecelakaan dan meningkatkan keselamatan pekerja di sektor konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor lingkungan kerja dan karakteristik individu terhadap tingkat kelelahan kerja pada pekerja konstruksi serta mengidentifikasi faktor yang paling berpengaruh dalam kelelahan kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 81 pekerja berusia antara 20 hingga 50 tahun. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah faktor-faktor fisik lingkungan kerja yang diukur menggunakan Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) dan 4-in-1 Environment Meter, sementara variabel terikatnya adalah kelelahan kerja yang diukur melalui kuesioner International Fatigue Research Committee dan pengujian waktu reaksi. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik, beberapa variabel yang mempengaruhi kelelahan kerja dapat diidentifikasi baik pada kondisi outdoor maupun indoor. Pada pekerja outdoor, dua variabel yang berpengaruh signifikan adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan nilai p = 0,022 dan Temperatur dengan nilai p = 0,026. Sementara pada kondisi indoor, Intensitas Kebisingan menunjukkan pengaruh signifikan dengan nilai p = 0,039. Variabel lainnya seperti usia, lama kerja, intensitas cahaya, dan beban kerja tidak menunjukkan pengaruh signifikan pada kedua kondisi tersebut .

2025
👤 Penulis: Charlos Malino
🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Konstruksi 🏷️ Hidrologi Lingkungan

EKSISTENSI LOKAL-GLOBAL DAN KEUNIKAN SOLUSI PERSAMAAN GELOMBANG NON-LINIER PADA RUANGWAKTU LENGKUNG BERDIMENSI-(1 + 1)

Gelombang memainkan peran yang penting dalam fisika, mulai dari ranah klasik hingga teori medan kuantum. Dengan sifatnya yang sangat bergantung pada bentuk dan kondisi inisial f dan g, pengkajian gelombang non-linier sering kali harus dilakukan secara kasus per kasus. Untuk itu, keberadaan teorema yang berlaku umum akan sangat mempermudah studi kita ke depannya. Di tugas akhir ini, yang menjadi fokus penulis adalah eksistensi dan keunikan dari solusi ?. Pengkajian keduanya pada ruangwaktu datar sebenarnya sudah ada pada berbagai bahan ajar. Akan tetapi, mengingat bahwa ruangwaktu dalam fisika tidak lagi (selalu) datar, menjadi sangat berguna untuk memperluas cakupan kita pada ruangwaktu umum. Tugas akhir ini bertujuan untuk itu, tetapi dibatasi pada dimensi (1 + 1). Memanfaatkan teorema bahwa manifold Lorentz berdimensi-(1 + 1) conformally flat, persamaan yang dikaji kembali menyerupai kasus ruangwaktu datar, tetapi dengan tambahan faktor konformal ? pada suku non-linier F. Selain itu, karena persoalan kita merupakan Cauchy problem, diharuskan pula agar ruangwaktu bersifat globally hyperbolic untuk menjaga kausalitas. Hal ini akan menjadi asersi yang digunakan sepanjang tugas akhir. Seterusnya sistem akan kita kaji seakan ia persamaan gelombang non-linier biasa, jelas dengan banyak modifikasi dari penulis. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa keunikan dan eksistensi lokal terjamin jika f dan g meluruh secara spasial, jika F smooth dan memenuhi F(0, 0) = 0, serta jika ? bounded. Di lain sisi, eksistensi global terjamin untuk kondisi yang sama, tetapi dengan f dan g yang memiliki compact support. Menggunakan hasil ini, diperoleh bahwa sistem Klein-Gordon, potensial ? 4 , dan Sinh-Gordon memiliki solusi lokal yang unik pada ruangwaktu de Sitter, serta solusi global yang unik pada ruangwaktu umum dengan ? yang hanya bergantung pada x.

2025
👤 Penulis: Andi Safa Afianzar
🏷️ Persamaan Gelombang Non-Linier 🏷️ Fisika Teori Tinggi 🏷️ Hidrologi Lingkungan

EVALUASI PENERAPAN MANAJEMEN MATERIAL RAMAH LINGKUNGAN DALAM KONSEP GREEN CONSTRUCTION

Pertumbuhan industri konstruksi yang pesat di Indonesia menyebabkan peningkatan limbah konstruksi, konsumsi material berlebihan, serta emisi karbon yang signifikan. Limbah konstruksi menyumbang hingga 40% dari total limbah global, yang jika tidak dikelola secara efektif akan mengakibatkan pemborosan sumber daya, peningkatan biaya proyek, dan dampak buruk terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penerapan konsep Green Construction pada tahap konstruksi proyek di Indonesia, mengidentifikasi faktor-faktor penghambat implementasi, serta merumuskan rekomendasi strategi untuk meningkatkan penerapannya. Metode penelitian menggunakan pendekatan campuran dengan analisis kuantitatif (kuesioner skala Likert 1–4 terhadap indikator SE Menteri PUPR No. 1 Tahun 2022 dan rating PUSKIM 2016) serta kualitatif melalui wawancara mendalam dengan perwakilan pihak proyek. Studi kasus mencakup tiga proyek gedung dengan tingkat sertifikasi karakteristik berbeda: RS Harapan Kita–Tokushukai (LEED Platinum), RS Kanker Dharmais (Greenship Gold), dan Labtek XV ITB (tanpa sertifikasi). Hasil evaluasi menunjukkan RS Harapan Kita memiliki tingkat penerapan tertinggi (rata-rata skor indikator 3,4/4 atau 85%), diikuti RS Dharmais (2,8/4 atau 70%), dan Labtek XV ITB (2,2/4 atau 55%). Didapatkan faktor utama yang menghambat implementasi meliputi lemahnya regulasi pemerintah, kurangnya komitmen manajemen proyek, keterbatasan material bersertifikat hijau, serta minimnya penggunaan teknologi digital di lapangan. Penelitian ini merekomendasikan strategi implementasi dengan memperkuat regulasi dan insentif pemerintah, meningkatkan pemanfaatan teknologi digital seperti BIM, optimalisasi rantai pasok hijau, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan praktis dalam meningkatkan penerapan konstruksi berkelanjutan di proyek konstruksi di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Muhammad Kaisar Diandra
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi Lingkungan 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS CFD DISTRIBUSI PM2.5 HASIL PEMBAKARAN BIOFUEL KAYU DALAM RUANGAN RUMAH TANGGA TERTUTUP

In 2007, the Indonesian government launched a major kerosene-to-Liquefied Petroleum Gas (LPG) conversion program, aiming to provide a cleaner fuel alternative for its citizens. Despite this effort, many households in suburban and rural areas continue to rely on wood as cooking fuel due to its accessibility and cultural preferences. The combustion of wood emits various air pollutants, including particulate matter (PM), which can disperse in the indoor environment and be inhaled by the occupants. Prolonged exposure to fine particulate matter (PM2.5) poses significant health risks, including acute respiratory infection (ARI), chronic obstructive pulmonary disease (COPD) and lung cancer – especially among the vulnerable populations who typically spend more time indoors, such as women, children and the elderly. Understanding the behaviour of indoor air pollutants is therefore critical for mitigation and exposure risk reduction. This study investigates the distribution of PM2.5 in several indoor household environments resulting from wood stove combustion using computational fluid dynamics (CFD) simulations. A steady-state simulation coupled with an unsteady discrete phase model (DPM) was conducted in ANSYS Fluent software to evaluate PM2.5 dispersion in two households located in Suntenjaya Village in West Java. The simulations revealed average PM2.5 concentrations of 2.81?g/m3 and 3.73 ?g/m3 after a 30-minute emission period. However, certain localized zones within the domain showed concentrations approaching the national air quality limit. Further simulations incorporating the effect of passive natural ventilation showed concentration reductions of 27.29% and 19.93%, highlighting the viability of utilizing passive ventilation strategies in improving indoor air quality.

2025
👤 Penulis: Raffee Fakih Gyasi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi Lingkungan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

KAJIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA PERUBAHAN DESAIN BREAKWATER DI PROYEK PEMBANGUNAN FASILITAS PELABUHAN LAUT SANUR

Permasalahan pada proyek Pelabuhan Sanur disebabkan oleh perbedaan elevasi 2 meter antara pengukuran awal dan kondisi lapangan, yang dapat mengakibatkan penambahan volume pekerjaan breakwater. Kontrak yang digunakan di proyek ini adalah lump sum fixed price, sehingga penambahan biaya tidak dimungkinkan. Melalui kontrak design and build, KSO pelaksana proyek dapat menetapkan desain ulang breakwater dengan memperhatikan pengaruh dan kepentingan para stakeholder yang terlibat tanpa perlu adendum biaya kontrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses pengambilan keputusan terhadap alternatif desain breakwater yang paling optimal sesuai kondisi proyek berdasarkan bobot stakeholder dan bobot kriteria yang diharapkan. Metode yang digunakan adalah diskusi kelompok terarah untuk menganalisis pengaruh dan kepentingan stakeholder sesuai dengan pemetaan stakeholder, serta survei kuesioner terbuka untuk mendapatkan kriteria desain dari sudut pandang masing-masing stakeholder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 stakeholder yang terlibat, terbagi menjadi stakeholder internal yang berfokus pada aspek strategis dan teknis, serta stakeholder eksternal yang berfokus pada dampak konstruksi. Bobot stakeholder yang tidak egaliter menunjukkan bahwa Pemilik Proyek (45,67%), Pelaksana Proyek (25,67%), dan Konsultan MK (15,66%) memiliki pengaruh terbesar, sementara Pemerintah Setempat (9%) dan Masyarakat Terdampak (4%) memiliki pengaruh yang lebih rendah. Dari 16 kriteria desain breakwater yang teridentifikasi, bobot tertinggi adalah Fungsionalitas (13,76%), Dampak Lingkungan (13,76%), dan Mutu Pekerjaan (11,01%). Pengambilan keputusan terhadap desain breakwater dilakukan melalui model hirarki dengan mempertimbangkan bobot stakeholder dan kriteria dengan hasil diperoleh bahwa BPPT Lock (skor 4,1326) merupakan alternaitf desain breakwater yang paling optimal, mengungguli alternatif lain seperti Tetrapod, Dolos, dan Batu. Penelitian ini dapat terus dikembangkan dengan membandingkan metode multikriteria yang lebih beragam dan pendalaman aspek sosial-budaya, terutama terkait masyarakat adat di Sanur, Bali.

2024
👤 Penulis: Heru Wijanarko
🏷️ Desain Rantai Pasok 🏷️ Analisis Multikriteria 🏷️ Hidrologi Lingkungan

PROFIL RISIKO KELELAHAN KERJA DAN GEJALA HEAT STRAIN PADA PEKERJA LUAR RUANGAN DI KOTA SEMARANG, INDONESIA

Indonesia sebagai negara tropis, mengalami peningkatan suhu akibat perubahan iklim. Pekerja luar ruangan yang terpapar suhu panas dalam jangka waktu yang lama dan tanpa perlindungan sangat rentan terhadap penyakit yang berhungan dengan panas seperti kelelahan dan gejala heat strain. Kota semarang sebagai salah satu daerah tropis yang terletak di area pesisir memiliki suhu lingkungan yang tinggi menyebabkan kerentanan terhadap pekerja akibat kondisi kerja yang tidak terlindungi. Penelitian ini mengeksplorasi Profil risiko kelelahan kerja dan gejala heat strain di antara 120 pekerja luar ruangan di Semarang, termasuk pedagang kaki lima, tukang becak, pekerja konstruksi, dan petugas parkir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengukur iklim kerja dengan menggunakan Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), sementara heat strain dievaluasi dengan Physiological Strain Index (PSI) berdasarkan suhu tubuh dan detak jantung sebelum dan setelah bekerja, kemudian tekanan darah akan diukur apakah terdapat perbedaan nilai yang signifikan. Kelelahan kerja dinilai melalui uji waktu reaksi dan kuisioner Subjective Self Rating Test (SSRT) dari IRFC, dan kuesioner High Occupational Temperature Health and Productivity Suppression (HOTHAPS) digunakan untuk menganalisis persepsi dan perilaku pencegahan pekerja. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan software R-Studio. Statistik deskriptif digunakan untuk menghitung rata-rata ± standar deviasi untuk setiap variabel. Uji Shapiro-Wilk digunakan untuk menilai normalitas data (nilai p <0,05 menunjukkan distribusi yang tidak normal). Uji Kruskal-Wallis dan post-hoc dilakukan pada data yang tidak berdistribusi normal untuk mengidentifikasi perbedaan yang signifikan di seluruh jenis pekerjaan. Hubungan antara karakteristik individu terhadap kelelahan kerja dan gejala heat strain dianalisis menggunakan regresi kuantil. Sementara, untuk hubungan antara iklim kerja panas terhadap kelelahan kerja dan gejala heat strain dianalisis menggunakan regresi linier berganda, serta perilaku pencegahan sebagai mediator pada hubungan antara iklim kerja dan gejala heat strain dianalisis menggunakan analisis mediasi. Penelitian ini menemukan bahwa usia memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan kinerja psikomotorik (??= 0,005 dan LB?= 0.004, LB?= 0.006) dan peningkatan kelelahan mental (??= 0,115 dan LB?= -0,124, LB?= 0.057), untuk gejala heat strain dipengaruhi oleh usia (??= 0,029 dan LB?= 0.010, LB?= 0.052) dan IMT (??= 0,208 dan LB?= 0.009, LB?= 0.770), sementara karakteristik individu lainnya tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kelelahan dan gejala heat strain. Iklim kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja psikomotorik (?= 0.191 dan p= 0.000). Untuk kelelahan mental, iklim kerja buruk juga berpengaruh signifikan (?= 5.097 dan p= 0.000). Iklim kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap gejala heat strain (?= 1.345 dan p= 0.000). Analisis moderasi menunjukkan usia (p = 0,002) dan masa kerja (p = 0,002) mempengaruhi hubungan antara iklim panas dan kinerja psikomotorik. Namun, pada kelelahan mental dan gejala heat strain, hanya masa kerja (p = 0,05) yang hampir signifikan, sedangkan faktor lainnya tidak memoderasi hubungan tersebut. Hubungan antara iklim kerja dan gejala heat strain melalui mediator perilaku pencegahan menunjukkan bahwa perilaku pencegahan tidak berpengaruh secara signifikan (?= 0.011 dan p= 0.650) sebagai mediator yang dapat berpengaruh terhadap penurunan gejala heat strain, faktor lain yang tidak dianalisis dalam penelitian ini mungkin lebih relevan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik individu usia dan indeks massa tubuh (IMT) secara signifikan memengaruhi kinerja psikomotorik dan tekanan panas. Iklim kerja panas meningkatkan kinerja psikomotorik, kelelahan mental, dan gejala heat strain, dengan efektivitas perilaku pencegahan yang terbatas dalam mitigasi.

2024
👤 Penulis: Dhiyaul Auliyah Muslimin
🏷️ Kesehatan Mental Pekerja Luar Ruangan 🏷️ Hidrologi Lingkungan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

DAMPAK PENERAPAN MULTIMODA TERHADAP EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS LOGISTIK DI KAWASAN THE GREATER MEDAN

Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara. Namun, peningkatan arus komoditas menimbulkan tantangan logistik akibat ketergantungan pada moda transportasi tunggal dan infrastruktur yang belum optimal. Penerapan sistem transportasi multimoda dan pengembangan infrastruktur menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi logistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak penerapan sistem transportasi multimoda di kawasan industri sekitar Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung. Penelitian ini menganalisis kecenderungan industri untuk beralih dari moda transportasi tunggal ke multimoda, memprediksi kenaikan arus peti kemas, mengevaluasi kapasitas infrastruktur eksisting, dan mengidentifikasi kebutuhan infrastruktur tambahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri masih cenderung menggunakan moda transportasi tunggal, namun penerapan multimoda dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas logistik dengan mengurangi biaya, mempercepat waktu pengiriman, dan menjamin keamanan barang. Proyeksi arus peti kemas menunjukkan kenaikan, sehingga diperlukan penambahan infrastruktur seperti reach stacker, truk kontainer, dan rangkaian kereta api di Dry Port Sei Mangkei. Secara keseluruhan, penerapan multimoda memberikan dampak positif terhadap efisiensi, efektivitas, dan keberlanjutan logistik di kawasan The Greate Medan.

2024
👤 Penulis: Muhammad Dawud Septiawan
🏷️ Logistik Industri 🏷️ Transportasi Multimodal 🏷️ Hidrologi Lingkungan

ANALISIS PENERAPAN KONSEP VIRGINIA SOLID WASTE MANAGEMENT HIERARCHY PADA PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN DI KOTA CIREBON

Pengelolaan persampahan yang efektif dan berkelanjutan merupakan tantangan yang dihadapi oleh banyak kota di seluruh dunia, termasuk Kota Cirebon. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas dan keberlanjutan strategi pengelolaan persampahan di Kota Cirebon dengan menggunakan Virginia Solid Waste Management Hierarchy sebagai acuan utama. Metodologi penelitian yang digunakan meliputi survei lapangan, wawancara dengan pemangku kepentingan, dan pengumpulan data sekunder terkait pengelolaan sampah di Kota Cirebon. Selain itu, metode Delphi digunakan dengan melibatkan panel ahli dan pemangku kepentingan dalam mengumpulkan pendapat dan perspektif mengenai strategi juga program pengelolaan persampahan. Pada hasil analisis delphi menunjukkan program jangka pendek dan menengah akan difokuskan untuk kegiatan sosialisasi dan kajian, lalu pada jangka panjang akan mulai diterapkan aturan yang tegas dan memulai pembangunan insinerator. Pada analisis SAW yang membandingkan antara penerapan Virginia Solid Waste Management Hierarchy dan skema pengelolaan eksisting diketahui nilai dari penerapan Virginia Solid Waste Management Hierarchy lebih besar yaitu 2,15. Menunjukkan potensi penerapannya untuk pengelolaan sampah di Kota Cirebon

2024
👤 Penulis: Muhammad Juliarba
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi Lingkungan 🏷️ Kecerdasan Buatan

STUDI MENGENAI DAMPAK KENAIKAN EV TERHADAP MOBIL KONVENSIONAL/ WAWASAN KASUS DARI PASAR OTOMOTIF INDONESIA.

Indonesia, dengan perekonomian yang terus berkembang dan infrastruktur yang berkembang, menghadapi tantangan besar dalam mengalokasikan kebutuhan transportasi dan pada saat yang sama juga memperhatikan kepedulian terhadap lingkungan. Penelitian ini akan mengeksplorasi aspek-aspek kendaraan, dengan fokus khusus pada kendaraan listrik (EV) di Indonesia melalui tinjauan komprehensif terhadap literatur yang ada, kebijakan pemerintah, dan laporan industri. Penelitian ini mengkaji keadaan industri otomotif di Indonesia saat ini, dengan menyoroti tren, tantangan, dan peluang utama. Laporan ini mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi kendaraan listrik di Indonesia, termasuk insentif pemerintah, pembangunan infrastruktur, preferensi pelanggan, dan peningkatan teknologi. Lebih lanjut, artikel ini mengkaji implikasi ekonomi, lingkungan, dan sosial dari adopsi kendaraan listrik secara luas di Indonesia. Meskipun terdapat tantangan seperti infrastruktur pengisian daya yang terbatas, biaya awal yang tinggi, dan ketergantungan pada bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik, Indonesia memiliki potensi pertumbuhan pasar kendaraan listrik yang tinggi karena banyaknya pasokan sumber daya alam dan dukungan pemerintah yang kuat terhadap inisiatif energi terbarukan. Makalah ini diakhiri dengan rekomendasi bagi pemangku kepentingan industri dan peneliti untuk mendorong pembangunan berkelanjutan dan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia, sehingga berkontribusi terhadap upaya negara menuju sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan dan efisien.

2024
👤 Penulis: Muhammad Haikal Nadhif
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Otomotif 🏷️ Hidrologi Lingkungan

MENGGALI INDIKATOR USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH (UMKM) DALAM PENERAPAN PRAKTIK BISNIS BERKELANJUTAN DI INDONESIA

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia, memberikan kontribusi signifikan terhadap nilai PDB dan penyediaan lapangan kerja. Meningkatnya tekanan global terhadap keberlanjutan telah meningkatkan minat terhadap praktik bisnis berkelanjutan (SBP) di kalangan UMKM. Meskipun sebagian besar praktik bisnis berkelanjutan telah dijalankan oleh perusahaan besar, studi mengenai UMKM masih terbatas, terutama di negara-negara Asia. Studi ini menyelidiki penerapan bisnis berkelanjutan dalam UMKM di Indonesia, dengan menekankan pertimbangan lingkungan, sosial, ekonomi, dan tata kelola. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur terhadap tujuh UMKM dari berbagai industri yang termasuk dalam nominasi SBM-ESG Awards 2024, yang menunjukkan komitmen mereka dalam menjalankan bisnis secara berkelanjutan. Melalui proses analisis tematik, temuan menunjukkan bahwa UMKM terlibat aktif dalam berbagai praktik berkelanjutan, khususnya dalam pelibatan masyarakat dan praktik ketenagakerjaan yang adil. Namun, ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan, seperti pengukuran dan pelaporan emisi. Studi ini juga menyoroti pentingnya adopsi teknologi untuk efisiensi dan inovasi, serta peran sertifikasi dan pelaporan sukarela dalam meningkatkan praktik tata kelola. Laporan penelitian ini menambah pemahaman mengenai penerapan bisnis berkelanjutan di lingkungan UMKM Indonesia dan memberikan rekomendasi baik bagi UMKM maupun pengambil kebijakan untuk meningkatkan keberlanjutan di sektor ini.

2024
👤 Penulis: Agustin Anandia Kartika Prabasari
🏷️ Pendidikan Bisnis 🏷️ Manajemen Sumber Daya Manusia (Msdm) 🏷️ Hidrologi Lingkungan

DESAIN HUNIAN BERTINGKAT (APARTEMEN) DENGAN PENDEKATAN METODE KONSTRUKSI CEPAT PREFABRICATED PREFINISHED VOLUMETRIC CONSTRUCTION (PPVC) MENGGUNAKAN MATERIAL KAYU DI KOTA BANDUNG

Fenomena kepadatan penduduk di Kota Bandung telah menjadi isu penting yang harus diselesaikan. Pertumbuhan cepat perkotaan ditambah meningkatnya urbanisasi menjadi penyebab terjadinya fenomena tersebut. Secara umum, setiap peningkatan jumlah penduduk akan disertai dengan tuntutan pertambahan akan tempat tinggal. Namun, hal tersebut sulit terealisasi karena semakin sempitnya lahan yang menyebabkan timbulnya permukiman kumuh. Oleh karena itu, United Nations menekankan beberapa poin Sustainable Development Goals dengan tujuan mewujudkan kota yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Salah satu caranya adalah dengan menyediakan hunian bertingkat. Pembangunan hunian bertingkat sebaiknya disesuaikan dengan kondisi meminimalisir biaya konstruksi, fleksibilitas material bongkar pasang, serta penggunaan material lokal berbasis ekonomi dan estetika. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah merancang apartemen melalui pendekatan metode konstruksi cepat PPVC menggunakan material kayu. Upaya ini dilakukan untuk mengatasi kepadatan penduduk secara arsitektural dan menghindari dampak negatif terhadap lingkungan. Apartemen merupakan tipe hunian bertingkat yang lazim ditemukan di Kota Bandung. Akan tetapi, hampir seluruh apartemen masih menggunakan metode konstruksi konvensional yang menghabiskan waktu dan material konstruksi. Oleh karena itu, metode konstruksi cepat PPVC dapat diterapkan karena prosesnya yang lebih mudah, fleksibel, dan dapat dibongkar pasang dengan penggunaan material kayu yang ringan. Sehingga, metode konstruksi cepat berbasis pada material alam dapat berkonstribusi pada konstruksi dan pembangunan di Kota Bandung.

2024
👤 Penulis: Josephine Melyana Rachman
🏷️ Konstruksi Cepat 🏷️ Hidrologi Lingkungan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Material Bangunan
Halaman 3 dari 4
💬