📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 32 dokumen

MENTAL HEALTH CENTER DENGAN PENDEKATAN HEALING ENVIRONMENT

Kesehatan mental adalah bagian yang penting dalam meraih kesejahteraan yang menyeluruh. Meningkatnya urbanisasi dan kepadatan penduduk berkontribusi terhadap berbagai pemicu stres, yang menyebabkan tingkat stres yang lebih tinggi di masyarakat perkotaan dan menjadi faktor sehingga mempersulit masyarakat untuk mencapai kesejahteraan yang menyeluruh. Faktor-faktor seperti gaya hidup yang serba cepat, individualisme, dan menjauhnya manusia dari alam diidentifikasi sebagai kontributor stres di perkotaan. Fenomena stres di perkotaan dieksplorasi, menyoroti pemicu stres seperti kebisingan, polusi, kurangnya ruang hijau, dan tantangan kehidupan kota. Teks ini menekankan hubungan antara stres perkotaan dan masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan, depresi, gangguan tidur, penyalahgunaan zat, dan masalah kesehatan kronis. Mekanisme koping individu dalam menanggapi stres juga dibahas, dengan mengakui beragam cara orang menghadapi stres, baik secara positif maupun negatif. Pentingnya mengatasi masalah kesehatan mental digarisbawahi, terutama di daerah yang mengalami urbanisasi dengan cepat seperti Kota Bandung, di mana prevalensi stres dan gangguan mental terus meningkat, sedangkan pemahaman dan kesadaran masyarakatnya rendah, serta kurangnya fasilitas serta sumber daya yang memadai. Kasus Kota Bandung, Indonesia, dibahas dalam hal kepadatan penduduk, tantangan perkotaan, dan hubungannya dengan meningkatnya prevalensi masalah kesehatan mental. Kebutuhan akan fasilitas kesehatan mental dan kesadaran ditekankan, mengingat kurangnya sumber daya yang ada dan stigma seputar kesehatan mental di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan respon arsitektur untuk mengurangi stres perkotaan. Konsep "Urban oasis" dibawakan untuk menciptakan ruang publik yang tenang di dalam lingkungan perkotaan untuk mengurangi stres. Selain itu, gagasan "Pusat Kesehatan Mental" juga dipaparkan, dengan fokus pada penyediaan terapi psikologis, perawatan komplementer, edukasi, serta pembentukan komunitas yang mendukung dalam lingkungan yang regeneratif dan terhubung dengan alam. Pentingnya "Healing Environment" juga disoroti, dengan menekankan integrasi elemen-elemen alam ke dalam lingkungan binaan untuk meningkatkan kesejahteraan. Sebagai kesimpulan, teks ini mengadvokasi intervensi arsitektural dan fasilitas kesehatan jiwa untuk mengatasi meningkatnya stres perkotaan dan tantangan kesehatan jiwa di Bandung. Tujuannya adalah untuk menciptakan ruang yang inklusif dan suportif yang mendorong kesejahteraan dan mengurangi dampak negatif urbanisasi terhadap kesehatan mental.

2024
👤 Penulis: Paul Dwi Ranigiyan
🏷️ Kesehatan Mental 🏷️ Urbanisasi 🏷️ Healing Environment

ANALISIS TINGKAT AKTIVITAS FISIK, STATUS EKONOMI DAN GEJALA DEPRESI PADA PENGIDAP DIABETES MELITUS DI KOTA BANDUNG

Aktivitas fisik yang kurang dapat beresiko menyebabkan penyakit tambahan lainnya pada pengidap diabetes mellitus salah satunya yakni depresi, selain itu juga banyak bukti yang menunjukkan hubungan antara status sosial ekonomi dan prevalensi diabetes. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar dan bagaimana hubungan tingkat aktivitas fisik, status ekonomi dan depresi pada pengidap diabetes mellitus di Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan yakni, deskriptif kuantitatif, dengan analisa data korelasi uji Chi-Square, yang berjumlah 166 subjek yang aktif mengikuti prolanis. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat aktivitas fisik pada pengidap diabetes mellitus di Kota Bandung cenderung sedang, dengan status ekonomi yang rendah dan tingkat gejala depresi nomal. Berdasarkan hasil analisa data dengan uji Chi-square didapatkan nilai significancy antara aktivitas fisik dengan status ekonomi yakni 0.272 (P>0,05), artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan. Antara aktivitas fisik dan gejala depresi didapatkan nilai significancy 0.273 (P>0,05), artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan. Status ekonomi dengan gejala depresi didapatkan nilai significancy 0,085 (P>0,05), artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status ekonomi dan depresi pada pengidap diabetes mellitus di Kota Bandung. Kesimpulan yang didapat yakni pada pengidap diabetes mellitus di Kota Bandung yang mengikuti program layanan kronis diabetes tidak terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik, status ekonomi dan gejala depresi, karena berdasarkan fakta dilapangan para pengidap aktif dalam melakukan kegiatan prolanis yang dapat membantu penyembuhannya.

2024
👤 Penulis: Anastasya Putri Kirey
🏷️ Kesehatan Mental 🏷️ Diabetes Mellitus 🏷️ Analisis Data Kualitatif
Halaman 3 dari 3
💬