📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 56 dokumenKAJIAN INHIBISI KOROSI CAIRAN ION [DMIM]BR, [DDMIM]BR, DAN [DVIM]BR PADA BAJA KARBON DALAM LARUTAN HCL 1 M
Baja karbon merupakan material yang memiliki manfaat masif pada banyak lini kehidupan, terutama pada industri automotif, minyak, dan gas. Setidaknya150 juta ton baja karbon per tahun hancur di banyak negara dikarenakan peristiwa korosi. Bahkan, Indonesia mengalami kerugian senilai 5 triliun rupiah setiap tahun akibat korosi. Hal tersebut menunjukkan bahwa korosi menghasilkan dampak yang merugikan secara ekonomi bagi suatu negara. Oleh karena itu, penelitian mengenai inhibisi korosi yang berkelanjutan harus secara konsisten dilakukan untuk menjawab masalah yang ditimbulkan oleh proses korosi. Banyak metode inhibisi korosi yang dikembangkan guna mengatasi kehancuran logam akibat korosi, tetapi penambahan inhibitor menjadi metode yang disukai untuk diimplementasikan di sektor industri. Hal tersebut disebabkan karena metode penambahan inhibitor korosi dinilai sebagai metode yang efektif, efisien, murah, dan ramah lingkungan dalam menghambat korosi. Pada penelitian ini membahas mengenai aktivitas inhibisi dari cairan ion turunan imidazol [DMIm]Br, [DdMIm]Br, dan [DVIm]Br. Cairan ion tersebut diharapkan dapat memberikan efek inhibisi korosi pada logam dalam suasana korosif. Hal tersebut dikarenakan adanya kekhasan struktur dari cairan ion, seperti keberadaan heteroatom N dan ikatan pi yang dapat mendukung proses adsorpsi. Lebih dari itu, penelitian kajian inhibisi korosi sebelumnya menunjukkan besarnya potensi pengembangan inhibitor dari senyawa turunan imidazol yang dapat secara aktif memberikan efek inhibisi korosi. Oleh karena itu, cairan ion [DMIm]Br, [DdMIm]Br, dan [DVIm]Br dapat menjadi kandidat inhibitor korosi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah penentuan konsentrasi optimum cairan ion dalam menginhibisi korosi, mengetahui efek peningkatan suhu terhadap efisiensi inhibisi, dan melakukan kajian aspek termodinamika-kinetika mengenai proses adsorpsi dan inhibisi korosi. Di sisi lain, cairan ion yang menjadi bahan kajian pada penelitian ini merupakan senyawa hasil sintesis dengan menggunakan metode Microvave Assisted Organic Synthesis (MAOS). Kemudian cairan ion hasil sintesis dikarakterisasi menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT), uji titik leleh, pengukuran Fourier Transform Infra Red (FTIR), dan Nuclear Magnetic Resonance (NMR). Adapun uji inhibisi korosi guna memperoleh data efisiensi inhibisi dan laju korosi memanfaatkan uji bobot hilang/Weight Loss, Electrochemical Impedance Spectrocopy (EIS), dan Potentiodynamic Polarization (PDP). Selain itu, pencitraan Scanning Electron Microscope (SEM) dan uji sudut kontak dilakukan untuk studi permukaan lebih lanjut pada permukaan baja karbon. Proses adsorpsi cairan ion diidentifikasi menggunakan model isoterm Langmuir sesuai dengan data dari uji EIS. Di sisi lain, kajian aspek termodinamika-kinetika dilakukan menggunakan data dari metode uji yang maenghasilkan nilai efisiensi inhibisi paling tinggi yakni uji bobot hilang. Melalui penelitian ini, diperoleh kesimpulan bahwa cairan ion memiliki kemampuan inhibisi korosi optimum pada konsentrasi 100 ppm ([DMIm]Br dan [DdMIm]Br) dan 120 ppm ([DVIm]Br). Kemudian, kecendurungan dari efisiensi inhibisi yang diberikan cairan ion berbanding lurus dengan kenaikan suhu. Adapun efisiensi optimum inhibisi [DMIm]Br, [DdMIm]Br, dan [DVIm]Br secara berturut-turut yakni 92,96%, 94,93%, dan 94,88%. Di sisi lain, aspek termodinamika adsorpsi menunjukkan bahwa cairan ion dapat mengadsorpsi permukaan baja logam secara chemisorption dikarenakan ?Gads berada diantara –40 kJ/mol dan –20 kJ/mol. Lebih dari itu, penambahan cairan ion mampu meningkatkan nilai energi aktivasi (Ea) proses korosi, meningkatkan nilai ?H korosi, membuat nilai ?S korosi semakin negatif, dan membuat nilai ?G korosi semakin positif yang membuat proses korosi menjadi terhambat.
STUDI KETAHANAN KOROSI TINPLATE DAN TIN FREE STEEL DALAM LARUTAN NATRIUM KLORIDA DENGAN VARIASI KONSENTRASI DAN PH
Dalam industri makanan dan minuman, perlu dilakukan pemilihan bahan pengemasan yang tepat untuk memastikan kualitas produk dapat tetap terjaga sepanjang masa penyimpanan atau bahkan dapat memperpanjang masa penyimpanannya. Tinplate yang terbuat dari lembaran baja dengan lapisan tipis timah menjadi salah satu material yang banyak digunakan di berbagai industri pembuatan wadah dan pengemasan. Lapisan timah pada tinplate menjadi lapisan pelindung baja agar tidak kontak langsung dengan lingkungan sehingga menghindari reaksi korosi dan kontaminasi. Akan tetapi, diperlukan inovasi bahan pengemasan makanan kalengan dengan kondisi lingkungan yang ekstrim. TFS (Tin Free Steel) yang juga dikenal sebagai ECCS (Electrolytic Chromium-coated Steel) adalah jenis lembaran baja yang dilapisi lapisan tipis kromium sebagai pengganti lapisan timah. Penelitian ini dilakukan guna mempelajari ketahanan korosi tinplate dan TFS dalam larutan NaCl dengan variasi konsentrasi dan pH. Percobaan yang dilakukan yaitu pengujian elektrokimia dengan metode PDP (Potentiodynamic Polarization). Kurva polarisasi yang dihasilkan kemudian diekstrapolasi untuk menentukan nilai potensial korosi dan rapat arus korosi untuk setiap variasi. Di samping itu, diidentifikasi signifikansi dan persen kontribusi pengaruh antara yakni jenis sampel, konsentrasi NaCl, pH larutan dan ketebalan lacquer serta interaksi setiap faktornya terhadap ketahanan korosi tinplate dan TFS menggunakan metode analysis of variance (ANOVA). Ketahanan korosi TFS menjadi yang paling baik dalam setiap variasi larutan uji. Adapun nilai ????!"## sampel TFS polos tanpa lacquer pada masing-masing kondisi larutan ujinya sebesar 5,854 ?A?????????$ (pH 2; 4500 ppm), 10,033 ?A?????????$ (pH 2; 12500 ppm), 3,916 ?A?????????$ (pH 4; 4500 ppm), dan 2,826 ?A?????????$ (pH 4; 12500 ppm). Sementara itu, ketahanan korosi tinplate dengan coating number #10 relatif lebih rendah dibandingkan dengan coating number #25 dan TFS karena didapatkan nilai rapat arus korosi yang paling tinggi dalam setiap variasi larutan uji. Adapun nilai ????!"## TP#10 polos tanpa lacquer pada masing-masing kondisi larutan ujinya sebesar 15,144 ?A?????????$ (pH 2; 4500 ppm), 19,268 ?A?????????$ (pH 2; 12500 ppm), 6,055 ?A?????????$ (pH 4; 4500 ppm), dan 4,457 ?A?????????$ (pH 4; 12500 ppm). Penambahan lapisan pelindung tambahan berupa lacquer pada suatu sampel dapat mengurangi rapat arus korosi yaitu sebesar 78,4% sampai 97,8%. Faktor yang memberikan kontribusi paling signifikan pada penelitian ini adalah pH, khususnya pada seluruh sampel polos yaitu 66,88%.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI PADUAN MG-XMN (1.7 - 2 WT%) MENGGUNAKAN METODE SPARK PLASMA SINTERING : STUDI BIOKOROSI DI LARUTAN SIMULATED BODY FLUID
Penggunaan biomaterial berbasis magnesium untuk implan ortopedi menghadapi tantangan signifikan, terutama karena laju biodegradasi yang lebih cepat dibandingkan laju penyembuhan tulang manusia. Penambahan Mangan (Mn) sebagai unsur paduan pada Magnesium (Mg) telah terbukti meningkatkan kekerasan material serta memperlambat laju degradasi, sehingga meningkatkan ketahanan korosinya. Dalam penelitian ini, paduan Mg-xMn dengan variasi konsentrasi Mn (x=1,5; 1,7; dan 2) wt% telah difabrikasi menggunakan metode Spark Plasma Sintering (SPS). Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan Mn membentuk fase sekunder (?-Mn), yang berperan penting dalam peningkatan kekerasan material. Berdasarkan hasil uji imersi selama tujuh hari, paduan Mg- 1,5Mn terbukti mampu menurunkan laju korosi dari 4,848 mm/th menjadi 3,834 mm/th. Selain itu, konsentrasi Mg yang terlepas selama imersi, diukur menggunakan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS), adalah sebesar 427,51 mg/L. Pengukuran pH selama proses imersi menunjukkan kenaikan pH tertinggi pada paduan Mg-2Mn, yaitu dari 7,6 menjadi 9,5. Pada uji polarisasi tafel, paduan Mg-1,5Mn berhasil menurunkan laju korosi dari 1,588 mm/th menjadi 0,528 mm/th. Hasil karakterisasi difraksi sinar-X (XRD) pada produk korosi dipermukaan spesimen setelah uji imersi menunjukkan bahwa lapisan Mg(OH)2 terbentuk. Analisis SEM-EDS pada paduan Mg-Mn setelah imersi mengungkapkan produk korosi yang terbentuk memiliki struktur seperti jarum, dengan rasio Ca/P sebesar 1,22. Rasio ini mendekati komposisi octacalcium phosphate, yang menunjukkan potensi pembentukan lapisan mineral yang mendukung regenerasi tulang.
PENGARUH SOLUTION ANNEALING TERHADAP LAJU KOROSI SUPER DUPLEX STAINLESS STEEL UNS S32760
Super duplex stainless steel (SDSS) adalah paduan baja tahan karat yang memiliki struktur mikro dua fasa, yaitu ferit dan austenit, yang memberikan kombinasi antara kekuatan mekanik tinggi dan ketahanan korosi yang baik. Material ini banyak digunakan di industri yang beroperasi di lingkungan korosif, seperti pipa gas dan bejana reaksi kimia. Struktur mikro dari SDSS sangat mempengaruhi sifat mekanik dan ketahanan korosi material tersebut. Perubahan fraksi area fasa ferit dan austenit dapat mengubah karakteristik material. Penelitian ini menganalisis pengaruh perlakuan panas solution annealing pada temperatur 1100?1300?C terhadap laju korosi pada material SDSS UNS S32760. Karakterisasi menggunakan metode metalografi, energy-dispersive spectroscopy (EDS), X-ray diffraction (XRD), serta pengujian polarisasi potensiodinamik dan uji keras Rockwell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan temperatur solution annealing meningkatkan fraksi area fasa ferit, menyebabkan peningkatan nilai kekerasan material. Peningkatan fraksi area fasa ferit ini juga mempercepat laju korosi, disebabkan oleh penurunan kandungan kromium (Cr) dan molibdenum (Mo) dalam fasa ferit, yang melemahkan kemampuan lapisan pasif. Perbandingan fraksi fasa perlu diseimbangkan agar mendapatkan ketahanan korosi paling optimal.
EFEKTIVITAS ASAM GLUTAMAT SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA KARBON DALAM LARUTAN NACL 1%
Korosi merupakan masalah rumit dalam pertambangan minyak bumi. Selain mengandung air, minyak mentah dan gas alam juga dapat mengandung CO2, asam organik, misalnya asam asetat, serta senyawa sulfida dan garam-garam klorida yang bersifat korosif terhadap bagian dalam pipa baja pengalirnya. Korosi di luar pipa dapat dihambat dengan mengecat dan perlindungan katoda, sedangkan korosi di bagian dalam pipa dihambat dengan penambahan inhibitor. Ada dua macam inhibitor korosi yaitu inhibitor anorganik dan organik. Inhibitor anorganik memiliki inhibisi yang baik terhadap laju korosi namun menimbulkan masalah bagi lingkungan apabila terakumulasi, sehingga pengunaan inhibitor organik menjadi pilihan alternatif karena lebih ramah lingkungan. Senyawa organik heteroatom yang mengandung atom nitrogen, oksigen, atau sulfur pada molekulnya seperti asam amino dapat digunakan sebagai inhibitor korosi, karena dapat teradsorpsi dengan baik pada permukaan logam. Asam amino seperti asam glutamat memiliki dua gugus karboksilat dan satu gugus amina diharapkan dapat menginhibisi korosi dengan cara teradsorpsi pada permukaan baja karbon. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas asam glutamat sebagai inhibitor korosi pada baja karbon dalam larutan NaCl 1% jenuh CO2 menggunakan metode Tafel, dengan optimasi konsentrasi, pH, dan suhu. Optimasi pH menggunakan larutan buffer asetat yang dibuat dari natrium asetat yang konsentrasinya tetap dan larutan asam asetat yang konsentrasinya bervariasi. Aplikasi hasil riset ini untuk pembelajaran kimia di Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam topik pembahasan mengenai sel elektrokimia, pengukuran daya inhibisi suatu inhibitor korosi tidak memungkinkan menggunakan metode Tafel, sehingga uji inhibitor asam glutamat pada paku besi dilakukan dengan menggunakan media agar. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa konsentrasi asam glutamat yang memberikan inhibisi korosi terbesar adalah 8 ppm sebesar 48,19% pada suhu kamar (26oC). Gugus fungsi asam glutamat yang berperan dominan dalam menginhibisi korosi adalah gugus karboksilat rantai samping. Dengan adanya buffer asetat dalam media dan kondisi di atas suhu kamar, asam glutamat 8 ppm tidak memberikan inhibisi yang berarti. Pada pH buffer asetat yang lebih tinggi, asam glutamat bersifat korosif terhadap baja karbon karena terbentuk lapis lindung yang kurang kedap atau berpori dibanding pH yang lebih rendah. Pada pH yang lebih rendah konsentrasi ion asetat dalam larutan semakin banyak dan membentuk lapis rangkap FeCO3.CH3COO– yang tidak berpori atau kedap sehingga arus korosi mengecil. Pada suhu yang lebih tinggi interaksi antara molekul asam glutamat dengan besi pada permukaan baja karbon melemah, sehingga interaksi permukaan baja karbon dengan media yang korosif masih dapat terjadi. Kenaikan suhu menyebabkan asam glutamat terurai melepas H+ membuat larutan uji semakin korosif dan arus korosi membesar. Kemampuan inhibisi asam glutamat pada paku besi dalam media agar menunjukkan hasil signifikan, sehingga dapat dipahami peran gugus fungsi pada asam glutamat dalam proses pembentukan lapis lindung pada permukaan paku besi dalam menghambat laju korosi. Asam glutamat paling efektif digunakan sebagai inhibitor korosi dalam media NaCl 1%, jenuh CO2, suhu kamar adalah pada konsentrasi 8 ppm. Dalam media yang mengandung buffer asetat dan di atas suhu kamar, asam glutamat tidak efektif digunakan sebagai inhibitor korosi. Dalam media agar, asam glutamat menunjukkan inhibisi yang baik pada paku besi, sehingga percobaan mengenai inhibitor korosi sebagai salah satu cara untuk memahami konsep korosi dalam topik elektrokimia, dapat diterapkan di Sekolah Menengah Atas
ISOLASI PROTEIN DARI GETAH KARET HEVEA BRASILIENSIS DAN UJI INHIBISI KOROSI PADA BAJA KARBON
Pipa baja karbon banyak digunakan untuk mengalirkan bahan baku atau hasil produk di dalam industri. Salah satu industri yang banyak menggunakan pipa baja karbon ini adalah industri minyak bumi. Adanya gas seperti CO2, O2 dan H2S dan air yang terdapat di lingkunganya menyebabkan pipa baja karbon mudah mengalami korosi. Korosi ini bisa terjadi di dalam maupun di luar pipa. Korosi yang terjadi di luar pipa dapat dihambat dengan pengecatan maupun dengan pembentukan sel galvani. Sedangkan korosi yang terjadi di dalam pipa dapat dihambat dengan menambahkan inhibitor korosi ke dalam lingkungannya. Inhibitor korosi dapat diartikan sebagai sebagai suatu zat kimia, yang ditambahkan dalam jumlah yang sedikit ke dalam lingkungannya, sehingga dapat menghentikan atau mengurangi laju korosi. Inhibitor korosi dapat berupa senyawa anorganik maupun senyawa organik heteroatom. Penggunaan senyawa anorganik seperti garam kromat, fosfat dan nitrit, telah mulai ditinggalkan, hal ini disebabkan senyawa anorganik ini bersifat toksis dan tidak mudah didegradasi di alam sehingga dapat mencemari lingkungan. Sebaiknya senyawa organik lebih mudah didegradasi di alam sehingga relatif ramah lingkungan. Senyawa organik yang mulai banyak dimanfaatkan sebagai inhibitor korosi adalah asam amino. Beberapa penelitian menunjukan asam amino seperti prolin, histidin dan alanin, memberikan daya inhibisi korosi yang cukup baik terhadap baja karbon. Beberapa penelitian juga menunjukan asam-asam amino yang membentuk senyawa peptida memberikan daya inhibisi korosi yang lebih baik jika dibandingkan dalam bentuk tunggalnya. Protein yang merupakan polimer peptida diduga juga memiliki daya inhibisi korosi terdahap baja karbon seperti halnya asam amino dan senyawa peptidanya. Lateks merupakan bahan ekstraktif yang dihasilkan oleh pohon karet Hevea brasiliensis yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Lateks diperoleh dari hasil penyadapan getah karet. Getah karet selain mengandung partikel karet juga mengandung senyawa yang lain salah satunya adalah protein. Namun pada pengolahan lateks di industri, protein yang terdapat di dalam getah tidak dimanfaatkan dan dibuang ke dalam limbah. Hal ini dikarenakan protein-protein ini dapat menyebabkan alergi pada manusia. Oleh karena itu, pada penelitian ini digunakan protein yang terdapat dalam getah karet sebagai sumber inhibitor korosi terhadap baja karbon, sehingga hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis dari protein getah karet ini. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, maka dilakukan beberapa metode, yaitu pemisahan lateks dari senyawa lain dengan cara koagulasi lateks dengan menggunakan asam asetat 1 %. Cairan (larutan serum) yang diperoleh dari hasil pemisahan ini mengandung berbagai senyawa dan salah satunya adalah protein. Selanjutnya larutan serum ini dilakukan uji inhibisi korosi terhadap baja karbon menggunakan metode Tafel. Larutan serum yang memberikan daya inhibisi ini selanjutnya difraksinasi dengan menggunakan garam ammonium sulfat. Hasil fraksinasi ini menghasilkan 3 fraksi protein yaitu fraksi 60%, 80% dan 90 %. Uji inhibisi korosi terhadap baja karbon dari ketiga fraksi ini memberikan daya inhibisi korosi secara berturut-turut adalah 66,56 %, 44, 32 % dan 33,96%. Sedangkan daya inhibisi korosi larutan serum adalah 87, 63%. Efisiensi inhibisi korosi dari larutan serum yang lebih tinggi daripada fraksi proteinnya. Hal ini disebabkan oleh adanya efek sinergis yang dihasilkan oleh protein yang terdapat dalam ketiga fraksi tersebut. Alasan lainnya adalah dapat pula disebabkan oleh adanya komponen selain protein yang juga memberikan efek inhbisi korosi. Namun sebagian besar komponen yang terdapat di dalam larutan serum ini bersifat relatif tidak stabil. Hal ini dapat terlihat dari hasil uji inhibisi korosi terhadap larutan serum yang disimpan dalam waktu tertentu. Hasil pengukuran inhibisi korosi dari larutan serum yang disimpan selama 1, 7 dan 21 hari menunjukan penurunan efisiensi inhibisi korosi, yaitu secara berturut-turut sebesar 87,63%, 72,27% dan 41,25 %. Berdasarkan hasil uji inhibisi korosi dari ketiga fraksi protein, fraksi 60 % memberikan efisiensi inhibisi korosi paling besar dan fraksi 90 % memberikan efisiensi inhibisi korosi paling kecil. Perbedaan ini dipengaruhi oleh ukuran dan berat molekul protein yang terdapat dalam masing-masing fraksi. Pada proses fraksinasi, protein dengan berat molekul kecil akan mengendap pada konsentrasi ammonium yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan protein dengan berat molekul yang lebih besar. Protein yang memiliki berat molekul lebih besar mempunyai asam amino yang lebih banyak. Protein ini juga memliki gugus polar yang lebih banyak, sehingga interaksi dengan logam Fe lebih banyak dan efisiensi inhibisi yang diberikan lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini, ukuran dan berat molekul protein diduga memegang peranan penting dalam proses inhibisi korosi terdapat baja karbon. Selain itu, kestabilan suatu molekul juga menentukan efisiensi inhibisi korosi.
SINTESIS 2-FENIL-4,5-DI(2-PIRIDIL)IMIDAZOL, 2-FENIL-4,5-DI(2-PIRIDIL)OKSAZOL, DAN 2-(2-HIDROKSIFENIL)-4,5-DI(2-PIRIDIL)IMIDAZOL SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA KARBON
Korosi adalah degradasi atau penurunan kualitas material karena bereaksi dengan lingkungan. Di bidang industri, terutama industri petroleum, korosi merupakan salah satu masalah yang sangat merugikan dan berbahaya. Upaya penanggulangan korosi membutuhkan biaya besar sehingga perlu dikembangkan teknik yang sesuai dengan biaya minimum, seperti penambahan inhibitor korosi berupa senyawa organik, seperti senyawa-senyawa turunan imidazol dan oksazol. Studi efisiensi senyawa turunan imidazol dan oksazol sebagai inhibitor korosi telah banyak dilakukan dan menunjukkan aktivitas inhibisi korosi berbeda, tergantung strukturnya. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari aktivitas inhibisi senyawa 2-fenil-4,5-di(2-piridil)imidazol (1), 2-fenil-4,5-di(2-piridil)oksazol (2) dan 2-(2-hidroksifenil)-4,5-di(2-piridil)imidazol (3) yang sebelumnya tidak pernah dilaporkan aktivitas inhibisi korosinya. Ketiga senyawa tersebut berpeluang menjadi inhibitor korosi karena merupakan senyawa heterosiklik yang sangat planar, memiliki kerapatan elektron tinggi, memiliki elektron phi pada ikatan rangkap terkonjugasi, bersifat hidrofob, mengandung gugus fungsi elektronegatif, dan mengandung atom nitrogen dengan pasangan elektron bebas sehingga memungkinkan teradsorpsi kuat pada permukaan logam sehingga meningkatkan aktivitas inhibisi korosi. Sintesis senyawa-senyawa turunan imidazol dan oksazol secara konvensional kurang efektif dan efisien. Maka, dikembangkan metode sintesis dengan Microwave Assisted Organic Synthesis (MAOS) sehingga secara signifikan dapat mempercepat reaksi, meningkatkan yield, dan mengurangi produk samping. Produk hasil sintesis dikarakterisasi dengan KLT (Kromatografi Lapis Tipis), spektroskopi infra merah dan NMR (Nuclear Magnetic Resonance/Resonansi Magnetik Inti). Senyawa 1, 2, dan 3 berhasil disintesis menggunakan metode MAOS menghasilkan padatan berwarna kuning kecoklatan. Waktu reaksi hanya dibutuhkan sekitar 1-3 menit dengan daya keluaran 800 W dan rendemen senyawa 1, 2, dan 3 diperoleh masing-masing 83,55 %; 25,96%; dan 23,60%, meningkat hingga 198% dibandingkan metode sintesis secara konvensional. Berdasarkan hasil karakterisasi KLT dan trayek titik leleh yang relatif sempit, maka disimpulkan bahwa ketiga senyawa hasil sintesis yang diperoleh telah murni. Penentuan struktur dilakukan dengan analisis spektrum IR untuk mengetahui gugus-gugus fungsi yang khas dan analisis spektrum NMR hingga dua dimensi untuk konfirmasi struktur molekul secara lebih akurat. Aktivitas inhibisi korosi dianalisis menggunakan metode EIS (Electrochemical Impedance Spectroscopy) dan metode Tafel pada berbagai konsentrasi dan suhu. Berdasarkan hasil pengukuran, ketiga senyawa memiliki kemiripan dalam fenomena inhibisi korosi dimana kenaikan konsentrasi juga meningkatkan efisiensi inhibisi korosi terhadap baja karbon dalam larutan NaCl 1%. Aktivitas inhibisi ketiganya menunjukkan kesesuaian dengan isoterm adsorpsi Langmuir, yaitu dengan membentuk lapisan monolayer pada permukaan baja dan terjadi adsorpsi elektrostatis. Sedangkan mekanisme proses inhibisi ditentukan dengan menentukan nilai ?Gads. Nilai ?Gads ketiga senyawa diperoleh negatif, menunjukkan bahwa proses adsorpsi senyawa inhibitor pada permukaan baja berlangsung spontan. Nilai ?Gads ketiga senyawa diperoleh berada antara ?20 dan ?40 kJ/mol sehingga proses adsorpsinya terjadi secara semi-fisik atau semi-kimia. Berdasarkan data yang diperoleh, juga diketahui bahwa senyawa 3 memiliki aktivitas inhibisi paling baik dibandingkan senyawa 1 dan 2 karena mengandung gugus hidroksi yang bersifat pendorong elektron sehingga dapat menyediakan pasangan elektron pada sistem elektron phi sehingga meningkatkan interaksi dengan permukaan logam besi. Sedangkan senyawa 2 memiliki aktivitas inhibisi lebih rendah karena interaksi atom oksigen pada cincin oksazol dengan permukaan logam besi relatif kurang kuat dibandingkan interaksi atom nitrogen pada cincin imidazol dengan permukaan besi. Meskipun sangat potensial digunakan sebagai inhibitor korosi, senyawa 1, 2, dan 3 masih perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui kondisi optimum sehingga aktivitas inhibisi korosinya dapat ditingkatkan. Selain itu, perlu dilakukan sintesis berbagai senyawa turunan imidazol dan oksazol yang lain untuk penentuan secara legkap hubungan struktur dan gugus fungsi terhadap adsorpsi pada permukaan logan dan aktivitas inhibisi korosi.
SINTESIS SENYAWA DIPEPTIDA BENZOILALANILGLISIN METIL ESTER SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA KARBON
Korosi merupakan salah satu masalah yang harus dihadapi dalam industri pengolahan minyak bumi. Banyak kasus yang ditimbulkan oleh korosi, misalnya kerusakan pada tangki penampungan minyak, pipa bawah tanah dan peralatan lainnya. Pipa yang dipakai untuk mengalirkan minyak mentah ke tahap proses lebih lanjut terbuat dari baja karbon sangat mudah mengalami korosi. Metode pencegahan korosi yang paling baik dilakukan di bagian dalam pipa baja karbon adalah dengan menggunakan inhibitor. Inhibitor korosi dari senyawa organik memiliki keunggulan dibanding inhibitor korosi senyawa anorganik karena mudah didegradasi oleh lingkungan. Sintesis senyawa-senyawa organik yang digunakan sebagai inhibitor korosi masih jarang dilakukan. Salah satu inhibitor korosi dari senyawa organik adalah asam amino tetapi senyawa asam amino memiliki gugus karboksilat yang bersifat asam yang dapat mempercepat terjadinya korosi, sehingga perlu dilakukan proteksi terhadap gugus karboksilat tersebut. Proteksi gugus karboksilat pada asam amino akan meningkatkan daya inhibisinya terhadap korosi. Dalam penelitian ini telah berhasil disintesis senyawa dipeptida benzoilalanilglisin metil ester. Reaksi sintesis berlangsung dalam tiga tahap. Tahap reaksi pertama adalah esterifikasi glisin dengan metanol menggunakan aktivator tionil klorida (SOCl2) menjadi senyawa glisin metil ester, berwujud kristal putih bertitik leleh 176,2oC. Karakterisasi menggunakan spektrum IR dan NMR glisin metil ester menunjukkan puncak dan pergeseran kimia khas C=O ester, C-O-C ester dan N-H primer. Tahap reaksi kedua adalah benzoilasi L-alanin menggunakan benzoil klorida dalam suasana basa menghasilkan senyawa benzoil alanin, berwujud kristal putih dengan titik leleh 148,9oC. Spektrum IR benzoil alanin menunjukkan puncak N-H sekunder dan O-H karboksilat. Tahap reaksi ketiga adalah penggabungan senyawa glisin metil ester dan senyawa benzoil alanin menggunakan pereaksi DCC (N,N’-Disikloheksilkarbodiimida) membentuk dipeptida benzoilalanilglisin metil ester berwujud kristal putih dengan titik leleh 112-113oC dan hasil samping dipeptida benzoilalanilglisin berwujud kristal putih-bening dengan titik leleh 186-187oC. Hasil samping tersebut terbentuk karena terjadi hidrolisis dipeptida benziolalanilglisin metil ester saat diekstraksi dengan aqua dm. Karakterisasi menggunakan spektrum IR, RMI-1H, RMI-13C dan MS dipeptida benzoilalanilglisin metil ester menunjukkan puncak khas C=O ester (1751 cm-1), C-O-C ester (1184-1207 cm-1), dipeptida benzoilalanilglisin menunjukkan puncak O-H karboksilat (3068-2600 cm-1). Spektrum RMI-1H benziolalanilglisin metil ester menunjukkan pergeseren kimia C-O-C ester pada 3,70 ppm, N-H sekunder pada 4,10 dan 4,80 ppm. Spektrum RMI-13C benziolalanilglisin metil ester menunjukkan pergeseren kimia karbonil ester pada 168,27 ppm dan karbonil amida pada 163,01 ppm dan 160,64 ppm. Data spektrofotometri massa atau mass spectroscopy (MS) benzoilalanilglisin metil ester dan benzoilalanilglisin secara berturut-turut menghasilkan puncak fragmentasi m/e = 264 dan 250. Kemampuan inhibisi korosi senyawa hasil sintesis diuji dengan alat Potensiostat/Galvanostat PGZ 301 menggunakan metode Tafel pada konsentrasi 8 ppm dalam pelarut NaCl 1% dengan induksi gas CO2. Efisiensi inhibisi korosi glisin metil ester, benzoil alanin, dipeptida benzoilalanilglisin metil ester dan dipeptida benzoilalanilglisin berturut-turut adalah 63,34 %, 35,86 %, 68,40 % dan 27,72 %. Hasil ini menunjukan bahwa pembentukan dipeptida benzoilalanilglisin metil ester dari senyawa glisin yang terproteksi pada gugus karboksilat dan L-alanin yang terproteksi pada gugus amina meningkatkan daya inhibisi korosi akibat hilangnya pusat keasaman dari struktur asal glisin dan L-alanin yang dapat menimbulkan lingkungan korosif pada baja karbon
STUDI EFISIENSI EKSTRAK KULIT NEPHELIUM LAPPACEUM (RAMBUTAN) SEBAGAI INHIBITOR ORGANIK PADA BAJA API 5L GRADE X52M DAN PADUAN ALUMUNIUM 5052 DALAM LARUTAN NACL 3,5%
Korosi adalah peristiwa kerusakan secara spontan pada logam dan paduan yang disebabkan oleh interaksi kimia, biokimia, dan elektrokimia antara logam dan lingkungan. Ion klorida merupakan salah satu ion agresif penyebab terjadinya korosi terutama pada lingkungan air laut. Salah satu metode pengendalian korosi yang saat ini banyak diteliti ialah green corrosion inhibitor. Ekstrak kulit buah rambutan merupakan salah satu green corrosion inhibitor alami yang mengandung senyawa–senyawa kimia seperti flavonoid dan tanin yang mampu menurunkan laju korosi. Dalam penelitian ini, ekstrak kulit rambutan dipelajari sebagai inhibitor korosi untuk baja API 5L grade X52M dan paduan aluminium 5052 dalam larutan NaCl 3,5% yang secara umum digunakan sebagai artificial sea water untuk percobaan di laboratorium. Serangkaian percobaan dilakukan untuk mempelajari pengaruh penambahan inhibitor ekstrak kulit rambutan dalam menurunkan laju korosi pada kedua jenis logam. Percobaan diawali dengan pembuatan ekstrak kulit rambutan dan preparasi sampel logam yang kemudian dilakukan uji perendaman, uji elektrokimia, dan uji karakterisasi. Uji perendaman dalam larutan NaCl 3,5% dilakukan dengan variasi konsentrasi ekstrak rambutan sebesar 0 gpl, 2 gpl, 5 gpl, 7 gpl, dan 9 gpl. Lalu dilakukan uji elektrokimia yang meliputi, uji Open Circuit Potential (OCP), Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS), Potentiodynamic Polarization (PDP) pada larutan blank dan larutan yang mengandung inhibitor pada konsentrasi optimum. Selain itu, dilakukan analisis karakterisasi permukaan menggunakan Optical Microscope (OM), Scanning Electron Microscope (SEM), karakterisasi senyawa organik menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), dan Ultraviolet-Visible Spectroscopy (UV-Vis). Dari hasil uji perendaman, efisiensi inhibitor ekstrak kulit rambutan tertinggi untuk menekan laju korosi pada baja API 5L grade X52M didapatkan dengan konsentrasi inhibitor 5 gpl yaitu sebesar 75,154% untuk waktu perendaman 7 jam dan 81,914% untuk waktu perendaman 96 jam. Sedangkan, pada aluminium 5052, diperoleh efisiensi inhibitor tertinggi dengan konsentrasi inhibitor 7 gpl yaitu sebesar 62,166% untuk waktu perendaman 7 jam dan 70,046% untuk waktu perendaman 96 jam. Dari uji EIS diperoleh rangkaian listrik ekuivalen pada larutan blank yaitu Rs-CPEdl(Rct)-L dan pada larutan dengan penambahan inhibitor ekstrak kulit rambutan adalah (CPEi(Ri(CPEdl/Rp)). Hasil karakterisasi OM dan SEM membuktikan bahwa inhibitor ekstrak kulit rambutan dapat mengurangi dampak korosi pada permukaan baja dan paduan aluminium. Selanjutnya, dari karakterisasi senyawa organik dengan uji FTIR dan UV-Vis dapat disimpulkan terdapat inhibitor ekstrak kulit rambutan yang teradsorpsi ke permukaan baja dan paduan aluminium.
STUDI INVESTIGASI SIFAT ELEKTROKIMIA DAN MEKANIK LAPISAN PADUAN ENTROPI SEDANG COFENI HASIL ELEKTRODEPOSISI
Paduan entropi sedang (medium entropy alloy, MEA) memiliki kekuatan struktural dan ketahanan korosi yang baik dengan potensi sebagai elektrokatalis. Fabrikasi lapisan MEA dengan metode elektrodeposisi menawarkan proses yang sederhana, terjangkau, dan mudah diterapkan di industri. Namun demikian, terdapat faktorfaktor yang dapat memengaruhi sifat elektrokimia dan mekanik lapisan MEA hasil fabrikasi seperti rapat dan mode arus elektrodeposisi, serta temperatur elektrolit. Penelitian ini menginvestigasi pengaruh faktor-faktor elektrodeposisi tersebut terhadap ketahanan korosi, sifat elektrokatalitik, kekerasan, hingga ketahanan aus dan erosi pada CoFeNi sebagai salah satu jenis MEA. Dilakukan serangkaian percobaan berupa elektrodeposisi lapisan CoFeNi pada variasi rapat arus elektrodeposisi 1 amps-per-squared-decimeter (ASD), 3 ASD, 6 ASD, dan 10 ASD; mode arus direct current (DC) dan pulsed current (PC); serta temperatur elektrolit pada temperatur kamar (RT) dan 50°C menggunakan orthogonal array L16 metode Taguchi secara duplo. Elektrodeposisi dilakukan pada substrat tembaga dan substrat baja API 5L X52M. Preparasi permukaan substrat dilakukan dengan pengampelasan, ultrasonic cleaning, degreasing, dan aktivasi. Dilakukan karakterisasi fasa dan struktur kristalografi dengan X-ray difraction (XRD), karakterisasi morfologi dan distribusi unsur dengan scanning electron microscope-energy dispersive spectrometry (SEM-EDS), serta karakterisasi topografi dan kekasaran permukaan dengan atomic force microscopy (AFM). Selain itu, dilakukan uji ketahanan korosi pada larutan NaCl 3,5%-berat, uji sifat elektrokatalitik pada larutan KOH 1 M, uji kekerasan Vickers, uji aus (ASTM G99), dan uji erosi (ASTM G76). Hasil penelitian menunjukkan lapisan CoFeNi berkomposisi equiatomic dan berfasa larutan padat tunggal face-centered cubic (FCC) dengan permukaan rata berhasil difabrikasi. Peningkatan rapat arus elektrodeposisi meningkatkan laju nukleasi pada lapisan CoFeNi sedangkan penggunaan mode arus PC dibandingkan DC menyebabkan efisiensi arus berkurang dan lapisan lebih seragam. Di lain sisi, elektrodeposisi pada temperatur elektrolit 50°C dibandingkan dengan RT menyebabkan peningkatan efisiensi arus namun menurunkan keseragaman lapisan. Pada berbagai kombinasi level, didapatkan rapat arus korosi terendah, overpotensial evolusi gas hidrogen terendah, overpotensial evolusi gas oksigen terendah, kekerasan tertinggi, specific wear rate terendah, dan erosion value terendah secara berurutan adalah 3,319 ?A/cm2, -128 mV vs RHE, 324 mV vs RHE, 624 HV, 16,043×10-6 mm2/Nm, dan 0,036 mm3/g.
STUDI INVESTIGASI SIFAT ANTIBAKTERI LAPISAN COATING CU-ZN SUPERHIDROFOBIK HASIL PULSE ELECTROPLATING PADA BAJA API 5L GRADE X52M DENGAN BAKTERI BACILLUS ARYABHATTAI DI LINGKUNGAN AIR LAUT
Baja adalah paduan logam yang paling banyak digunakan di dunia dan memiliki banyak kelebihan. Namun, baja rentan mengalami korosi karena sifat keterbasahan dari permukaan baja yang cukup tinggi. Korosi merupakan sesuatu hal yang tidak dapat dihindarkan, tetapi dapat dikendalikan. Korosi yang dipengaruhi mikroorganisme merupakan salah satu masalah utama di industri eksplorasi minyak dan gas. Mikroorganisme, termasuk bakteri, jamur, arkae, dan mikroalga dapat mempengaruhi korosi baik secara langsung atau tidak langsung. Bakteri pereduksi sulfat atau SRB (sulfate reducing bacteria) adalah kontributor utama MIC. Salah satu jenis bakteri SRB adalah Bacillus aryabhattai. Lapisan superhidrofobik memiliki nilai sudut kontak air statis lebih dari 150° dan dinamis kurang dari 10°. Morfologi permukaan yang kasar dan energi permukaan yang rendah memaksimalkan sifat superhidrofobisitas. Fabrikasi lapisan superhidrofobik menggunakan metode elektrodeposisi pulse electroplating memberikan deposit halus, berpori minim, dan efisiensi arus yang baik. Penelitian ini mempelajari bagaimana waktu elektrodeposisi mempengaruhi sudut kontak air dan karakteristik sifat antibakteri pada parameter optimum. Sebelum dilakukan proses fabrikasi lapisan superhidrofobik dengan deposit Cu-Zn sampel terlebih dahulu dilakukan preparasi sampel. Fabrikasi dilakukan dengan waktu elektrodeposisi selama 20, 30, 40, dan 50 menit. Proses dilanjutkan dengan solution immersion selama 30 menit untuk memperoleh struktur hierarki mikro-nano. Kemudian dilakukan perendaman dalam larutan myristic acid selama 36 jam untuk menurunkan tegangan permukaan. Sampel kemudian diukur nilai sudut kontak airnya, dimana nilai sudut kontak paling tinggi dianggap sebagai parameter yang optimum. Sampel dengan parameter optimum akan dilakukan pengujian tiap sisi lapisan, uji abrasi, uji self-cleaning, uji bakteri fasa sesil dan planktonik, uji elektrokimia, dan karakterisasi Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive Spectrometry setelah dilakukan perendaman selama 28 hari. Hasil fabrikasi menujukkan sudut kontak air tertinggi sebesar 160,50? didapat saat elektrodeposisi dilakukan selama 40 menit. Pada kondisi ini, sifat homogenitas lapisan cukup baik karena memiliki nilai standar deviasi yang kecil dan tahan terhadap abrasi hingga 40 cm, serta memiliki sifat self-cleaning yang baik. Lapisan superhidrofobik juga memiliki sifat antibakteri yang cukup baik dengan nilai persentase bakteri fasa sesil (menempel) sebesar 29,30% setelah dilakukan perendaman selama 21 hari. Hasil karakterisasi SEM-EDS juga mengindikasikan bahwa lapisan superhidrofobik memiliki kecenderungan bakteri fasa sesil (menempel) yang lebih sedikit.
STUDI KARAKTERISTIK ARUS BOCOR PADA ISOLATOR 150 KV TERKOROSI: STUDI KASUS JALUR GOMBONG-RAWALO-KESUGIHAN MENGGUNAKAN SIMULASI KOMPUTER
Penelitian ini menyelidiki efek degradasi korosi pada isolator keramik yang digunakan dalam sistem tenaga listrik tegangan tinggi. Menggunakan teknik komputasi canggih, penelitian ini menggunakan perangkat lunak ATPDraw untuk memodelkan dan mensimulasikan arus bocor pada isolator yang terkena berbagai kondisi lingkungan. Simulasi ini mengintegrasikan 'Suwarno Model' untuk sirkuit listrik setara dari isolator dan ‘Kizilcay Arc Model' untuk memodelkan fenomena busur. Parameter kunci seperti bentuk gelombang, amplitudo, dan Distorsi Harmonik Total (THD) divalidasi terhadap data eksperimental untuk memastikan akurasi. Studi ini mematuhi standar yang diakui, termasuk IEEE 1159-2:2009 untuk pemantauan kualitas daya listrik dan IEC 60060:2010 untuk teknik pengujian tegangan tinggi. Batasan penelitian ini meliputi penggunaan eksklusif data dari eksperimen sebelumnya pada isolator 150 kV yang korosi, yang berfokus pada tegangan uji di bawah kondisi kabut bersih dan kabut garam. Temuan menunjukkan korelasi langsung antara tingkat keparahan korosi isolator dan peningkatan arus bocor, dengan kenaikan nilai kapasitansi yang signifikan seiring dengan kemajuan korosi. Studi ini juga menyoroti pengaruh signifikan dari kapasitansi intrinsik dan resistansi non-linier terhadap besaran dan bentuk gelombang arus bocor, serta dampak parameter sirkuit busur pada riak arus. Temuan ini sangat penting untuk meningkatkan teknik diagnostik dan strategi pemeliharaan untuk isolator tegangan tinggi, yang pada akhirnya meningkatkan keandalan dan keamanan sistem transmisi daya.
PENGARUH TEKANAN DAN TEMPERATUR SPARK PLASMA SINTERING TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN KETAHANAN KOROSI PADUAN MAGNESIUM - 1.5 MANGAN
Magnesium berpotensi sebagai biodegradable material karena modulus elastisitasnya yang mendekati tulang, yang dapat mencegah stress shielding. Namun, magnesium memiliki laju korosi yang tinggi dalam tubuh, sehingga perlu ditambahkan unsur mangan. Produksi paduan magnesium-mangan menggunakan metode Spark Plasma Sintering (SPS). Penelitian ini mengkaji pengaruh variasi temperatur dan tekanan dalam proses SPS terhadap sifat mekanik dan ketahanan korosi paduan magnesium - 1,5 mangan. Serbuk digunakan sebagai material mentah dan dipreparasi menggunakan ball milling sebelum difabrikasi dengan SPS. Analisis struktur mikro mengungkapkan bagian berwarna gelap (MgO) dan terang (Mg), yang dikonfirmasi melalui analisa XRD. Uji densitas dilakukan dengan prinsip Archimedes. Terjadi peningkatan nilai densitas seiring dengan peningkatan temperatur dan tekanan SPS dari 1,767 g/cm3 menjadi 1,815 g/cm3. Uji tekan menunjukkan kekuatan tekan tertinggi pada spesimen (450-80) sebesar 167,22 MPa, dan kekuatan tekan terendah pada spesimen (400-40) sebesar 65,41 MPa. Uji korosi dengan metode polarisasi tafel pada larutan Simulated Body Fluid (SBF) di temperatur 37°C menunjukkan terjadinya penurunan laju korosi dari 12,87 mmpy menjadi 10,08 mmpy. Uji imersi selama 48 jam pada larutan SBF di temperatur 37 °C yang diamati dengan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) terjadi penurunan jumlah Mg yang lepas dari spesimen dari 172,48 mg/L menjadi 112,66 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan tekanan dan temperatur SPS meningkatkan densitas spesimen. Hal tersebut menyebabkan terjadinya pergerakan dislokasi akan semakin sulit terjadi dan meminimalisir tempat untuk terjadinya inisiasi korosi, sehingga akan meningkatkan kekuatan tekan dan ketahanan korosi.
STUDI KETAHANAN HOT CORROSION PADUAN ENTROPI TINGGI AL0,75COCRFENI TERHADAP LELEHAN GARAM 50%-WT NA2SO4+50%-WT V2O5 SECARA ISOTERMAL PADA TEMPERATUR 1100?C
Perkembangan produksi energi yang bersih dan berkelanjutan membutuhkan lingkungan proses yang semakin tinggi agar tercapai proses yang lebih efisien. Pada aplikasi temperatur tinggi, paduan konvensional akan mengalami penurunan performa, sedangkan paduan super (superalloys) memiliki keterbatasan penggunaan akibat titik lelehnya. Paduan entropi tinggi (HEA) menjadi alternatif untuk aplikasi temperatur tinggi karena memiliki kekuatan yang tinggi, stabil secara termal, serta ketahanan oksidasi yang baik. Al0,75CoCrFeNi merupakan salah satu jenis HEA yang banyak diteliti karena memiliki ketahanan korosi yang baik. Percobaan dimulai dengan peleburan paduan menggunakan tanur busur listrik dalam kondisi inert dilanjutkan dengan homogenisasi pada temperatur 1100°C selama 10 jam. Pengujian hot corrosion diawali dengan pelapisan garam leleh pada permukaan sampel dengan menggunakan kuas. Sampel lalu dimasukkan ke dalam tanur horizontal dengan temperatur pengujian hot corrosion secara isotermal pada 1100°C untuk variasi waktu 9, 16, 25, 50 jam. Setelah pengujian, dilakukan perhitungan perubahan berat kupon lalu karakterisasi dengan mikroskop optik, XRD, maupun SEM-EDS. Hasil yang diperoleh berupa perubahan massa, struktur mikro as-cast, as-homogenized, senyawa oksida yang terbentuk, serta distribusi unsur pada oksida dan substrat. Paduan as-cast dan as-homogenized memiliki struktur A1-FCC kaya FeCr serta B2-BCC kaya NiAl+A2-BCC kaya FeCr dengan bentuk fasa berupa widmanstätten serta allotriomorphic. Homogenisasi menyebabkan distribusi serta perbesaran butir pada struktur mikro paduan. Senyawa oksida yang terbentuk meliputi oksida transien seperti Fe2O3, Fe3O4, serta NiO, lalu spinel oksida seperti CoCr2O4, CoCrFeO4, NiFe2O4, AlFe2O4, FeV2O4, CoFe2O4, NiCr2O4, chromite, dan sulfida Fe1-xS. Tinjauan kinetika menunjukkan pertambahan massa pada pengujian 9 jam, 16 jam, 25 jam, dan 50 jam berturut-turut ialah 14,89 mg/cm2, 25,62 mg/cm2, 22,02 mg/cm2, dan 10,14 mg/cm2 sedangkan berdasarkan pendekatan penetrasi sulfida diperoleh 50,59 ?m, 113,04 ?m, 139,41 ?m, dan 158,13 ?m. Peristiwa hot corrosion dimulai dengan pembentukan oksida transien serta spinel oksida pada tahap awal dilanjutkan pertumbuhan oksida khususnya Al2O3 serta Cr2O3 akibat adanya difusi dari kation unsur maupun anion oksigen serta sulfat. Perubahan tekanan parsial antara oksigen serta keberadaan komponen sulfat menyebabkan terjadinya pelarutan oksida dan pembentukan sulfida. Pada tahap lanjut dapat terjadi reaksi substitusi maupun pembentukan kembali oksida selama reaksi.
PERAN NILAI SINGULAR PADA UJI KEBEBASAN DUA VARIABEL KUALITATIF (STUDI KASUS: KOROSI PADA STAINLESS STEEL)
Korosi adalah serangan destruktif pada logam yang dipicu oleh reaksi kimia atau elektrokimia dengan oksigen dan air, yang menghasilkan lubang-lubang kecil di permukaan (pitting). Stainless steel (SS) memiliki ketahanan tinggi terhadap korosi, terutama karena kandungan kromium (Cr), nikel (Ni), dan niobium (Nb), dengan penambahan molibdenum (Mo) pada SS modern untuk meningkatkan ketahanan. Ketika SS dipanaskan cukup lama pada suhu 5600C hingga 9800C, Cr membentuk fase intermetalik ? yang dapat menurunkan sifat mekanik dan ketahanan korosi SS. Fase ? menghasilkan korosi dengan tingkat yang bervariasi, ditunjukkan oleh perubahan warna dari coklat muda (CM) hingga biru tua (BT).Tesis ini menganalisis data korosi menggunakan analisis korespondensi (AK) untuk memberikan informasi hubungan antara dua variabel kategorikal dalam ruang berdimensi rendah dalam bentuk peta AK. Dalam analisis ini digunakan metode tradisional dan metode penyederhanaan. Data korosi pada studi kasus memiliki tiga kategori baris dan lima kategori kolom dalam tabel kontingensi ????×????. Kemudian dilakukan perubahan pada distribusi marginal baris berdasarkan asumsi (uji Goodness of fit). Pada tahap akhir dilakukan uji ????2 dari kedua kasus, yaitu distribusi marginal berdasarkan observasi dan asumsi. Sehingga diperoleh hasil analisis bahwa metode penyederhanaan akan lebih sederhana dan lebih akurat karena meminimalisir pembulatan. Kemudian untuk perubahan distribusi marginal berdasarkan asumsi penulis, digunakan data ukuran populasi. Pada analisis ini menghasilkan peta AK yang hampir serupa dengan hasil peta AK yang diperoleh berdasarkan data observasi. Sehingga uji goodness of fit dengan menerapkan uji ????2 pada prosesnya menghasilkan hasil yang baik. Artinya marginal baris yang diasumsikan penulis sesuai dengan distribusi berdasarkan data observasinya.