📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenPENGARUH PERILAKU KONSUMEN PADA PENGADAAN SUKU CADANG AFTERMARKET DAN NON-ORISINAL PADA INDUSTRI ALAT BERAT DAN PERTAMBANGAN DI INDONESIA
Kerusakan pada alat berat dalam operasi pertambangan akan berdampak pada biaya ribuan dolar per jam, terlepas dari perbaikan terjadwal atau yang tidak terjadwal. Lokasi yang terpencil membuat logistic dan rantai pasokan menjadi tantangan tersendiri. Kualitas perawatan, peramalan, kondisi lingkungan, ketersediaan anggaran, sifat pembayaran, kemampuan vendor, dan penyebaran lokasi terpencil merupakan tantangan lain dalam mengelola inventori dalam bisnis pertambangan. Dalam situasi lain, tekanan untuk selalu beroperasi dengan biaya yang efisien wajib dilakukan untuk dapat bertahan di operasional, dan situasi ini mendorong beberapa strategi guna mengurangi biaya konsumsi suku cadang. Oleh karena itu, memastikan ketersediaan suku cadang sangat strategis. Sementara produsen peralatan asli (OEM) secara alami mendominasi ruang ini, banyak merek purnajual telah muncul, menjanjikan masa pakai yang diharapkan, kualitas kinerja yang serupa dengan barang asli dengan harga lebih rendah, Terutama, setelah lepas masa garansinya. Studi ini menyelidiki bagaimana perilaku konsumen B2B yang memengaruhi niat untuk membeli suku cadang purnajual dan non-asli untuk armada alat berat di pertambangan. Berdasarkan teori perilaku terencana seperti risiko downtime yang dirasakan, sensitivitas total biaya kepemilikan (TCO), dan kualitas hubungan pemasok, penelitian ini mempertanyakan faktor kontrol apa yang paling kuat memengaruhi niat pengadaan, antara preferensi asli dan non-asli, dan faktor apa yang memengaruhi keinginan pengadaan untuk beralih ke merek non-asli atau purnajual. Memahami keinginan dan alasan di balik keputusan tersebut akan bermanfaat bagi industri dalam rangka mempersiapkan strategi keterlibatan yang tepat dan penetrasi pasar, serta mengelompokkan perusahaan berdasarkan niat tersebut.
MENINGKATKAN UTILISASI ASET UNTUK PRODUKSI OVERBURDEN MELALUI PENDEKATAN LEAN SIX SIGMA: STUDI KASUS PADA PT MINING CONTRACTOR SITE X4
Pada saat yang bersamaan, industri batubara global mencatat permintaan tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2025, sementara para produsen Indonesia menghadapi tekanan akibat penurunan harga batubara pada pasar acuan. Dalam kondisi ini, kemampuan operasi pertambangan batubara terbuka untuk beroperasi secara efisien menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlangsungan operasi yang menguntungkan. Sepanjang tahun anggaran 2025, PT Mining Contractor mencatat kinerja produksi di bawah target pada Site X4. Realisasi produksi overburden tercatat sebesar 76.326.326 bank cubic meter, sementara target yang direncanakan adalah 98.494.361 bank cubic meter, sehingga terdapat selisih sebesar 22.168.035 bank cubic meter dari target dan estimasi pendapatan yang tidak terealisasi sebesar USD 58.966.973. Selisih ini terutama disebabkan oleh inefisiensi operasional yang menghambat pencapaian target Jam Kerja Efektif. Penelitian ini menerapkan kerangka Lean Six Sigma Define-Measure-Analyze untuk mengidentifikasi akar penyebab dan menyusun rencana perbaikan yang terprioritasi. Analisis Pareto, analisis word cloud, dan Focus Group Discussion (FGD) bersama pemangku kepentingan utama digunakan untuk menganalisis data Fleet Management System. Ditemukan delapan Undesirable Effects pada tiga subsistem operasional. Kedelapan inisiatif perbaikan tersebut dikonsolidasikan menjadi empat skenario implementasi dan diprioritaskan menggunakan Analytical Hierarchy Process. Penilaian risiko pra-implementasi dilakukan dan mengidentifikasi 15 risiko yang dapat dikelola. Dengan asumsi yang paling konservatif, implementasi ini diproyeksikan dapat memulihkan 8.428.226 bank cubic meter dan USD 22.427.510, setara dengan 38 persen dari kerugian peluang pada tahun anggaran 2025.
PERANCANGAN TAS MEDIS UNTUK PERAWAT HOME VISIT ATAU HOME CARE
Home Care merupakan pelayanan pelayanan kesehatan profesional yang dilakukan oleh tenaga medis secara langsung di lingkungan domestik atau rumah pasien. Karakteristik kerja ini menuntut perawat untuk bermobilisasi tinggi menggunakan kendaraan beroda dua, sehingga memunculkan kebutuhan akan sarana bawa perlatan medis yang adaptif dan efisien. Namun, tas medis yang tersedia di pasaran belum mencukupi kebutuhan serta mampu mengakomodasi kapasitas, keamanan, dan kemudahan akses peralatan secara optimal. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki tujuan untuk merancang serta mengevaluasi sebuah desain tas medis yang ergonomis guna mendukung efisiensi kerja dan mengurangi beban fisik pada perawat home care yang bermobilitas tinggi. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan pendekatan User-Centered Design (UCD), melalui pendekatan ini penulis melakukannya dengan tahapan wawancara mendalam, studi literatur, simulasi penanganan pada pasien, serta pengujian ketahanan material terhadap lingkungan luar (outdoor). Hasil akhir dari penelitian ini menghasilkan sistem bawa tas medis yang flesibel, menyediakan dua tipe tas utama yaitu backpack dan handbag. Kedua tas tersebut dilengkapi dengan sistem peletakan yang dibagi menjadi tiga zona yaitu zona A, zona B, dan zona C. Pembagian zona ini digunakan sebagai pemisah alat medis berkategori steril dan non-steril berdasarkan tingkat urgensi tindakan,, sekaligus berfungsi menjaga keamanan selama proses bermobilisasi menuju rumah pasien maupun sebaliknya. Sebagai kesimpulan, implementasi dari perancangan tas medis ini terbukti signifikan dapat meningkatkan kenyamanan pengguna secara ergonomi bagi pengguna, menjaga sterilitas alat dari kontaminasi lingkungan, serta mampu untuk memperkuat citra profesional tenaga medis di mata pasien maupun masyarakat luas.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PANDUAN RITME NAPAS DAN ANTARMUKA LAYAR PADA PERANGKAT WEARABLE BERBASIS LOCOMOTOR-RESPIRATORY COUPLING (LRC)
Pelari amatir kerap mengalami kesulitan menyinkronkan ritme pernapasan dengan kadens langkah kaki secara mandiri; survei terhadap 66 pelari menunjukkan bahwa 74,2% di antaranya gagal mempertahankan pola Locomotor-Respiratory Coupling (LRC) tanpa bantuan eksternal, akibat tingginya beban kognitif untuk menghitung langkah dan mengatur napas secara bersamaan. Sistem panduan yang telah ada umumnya bersifat reaktif dan bergantung pada smartphone, sehingga instruksi yang diberikan terlambat akibat latensi transmisi Bluetooth A2DP yang berkisar 150–170 ms. Tugas Akhir ini merancang dan mengimplementasikan tiga subsistem pada purwarupa wearable berbasis ESP32: Subsistem Panduan Ritme yang membangkitkan sinyal audio secara pre-emptive menggunakan mesin penjadwalan prediktif (filter Simple Moving Average N=5 dan kompensasi latensi -170 ms), Subsistem Antarmuka Tampilan berbasis layar OLED yang dikendalikan Finite State Machine delapan-tahapan, serta arsitektur inti mikrokontroler dengan skema single-boot dualradio yang memisahkan operasi Bluetooth Classic (A2DP) dan Bluetooth Low Energy (BLE) melalui NVS untuk mengatasi konflik alokasi memori heap. Pengujian osiloskop pada kecepatan lari 120–200 SPM menunjukkan deviasi waktu pemicuan konstan pada -174,25 ms (pola 3:2) dan -174,80 ms (pola 2:1), masih di dalam toleransi ±30 ms. Uji ketahanan penyimpanan biner berkerapatan 6-byte pada LittleFS berhasil menampung 200.000 kejadian langkah (10 sesi) hanya dalam 1,14 MB dari kapasitas 1,96 MB tanpa kehilangan data. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh spesifikasi teknis sistem tercapai, membuktikan kelayakan arsitektur perangkat tertanam non-blocking berbasis dual-core FreeRTOS untuk aplikasi panduan pernapasan lari secara real-time.
OPTIMALISASI MODEL MACHINE LEARNING MELALUI ANALISIS FITUR PENTING UNTUK PREDIKSI RISIKO STUNTING BALITA BERBASIS DATA KOHORT LONGITUDINAL MAL-ED (2009-2017)
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis pada balita yang ditandai oleh nilai Height-for-Age Z-score (HAZ) di bawah ?2 SD menurut WHO, dengan prevalensi di Indonesia mencapai 21,5% pada 2023. Stunting bersifat multifaktorial, namun sebagian besar penelitian prediksi masih berbasis data crosssectional yang belum menangkap dinamika growth faltering sejak periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sehingga membatasi deteksi dini risiko. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi fitur prediktor utama, mengoptimalkan model Machine Learning terbaik, serta mengimplementasikannya ke dalam sistem berbasis web, menggunakan data kohort longitudinal MAL-ED 0–60 bulan dari delapan negara berkembang. Fitur temporal (mean, std, slope, nilai terakhir) dibentuk dari pengukuran berulang usia 0–24 bulan di delapan domain (antropometri, ASI, imunisasi, diare, ISPA, diet, mikrobiologi, biomarker inflamasi usus), menghasilkan 735 fitur. Beberapa model (Logistic Regression, Random Forest, Gradient Boosting, XGBoost, SVM, k-NN, MLP) dioptimalkan melalui SMOTE, hyperparameter tuning (RandomizedSearchCV, F2-score), crossvalidation, dan optimasi threshold; Random Forest dipilih karena recall tertinggi. Sebagai pelengkap, Random Survival Forest dikembangkan untuk estimasi waktu terjadinya (time-to-event) stunting, dibandingkan dengan Cox Proportional Hazards dan DeepSurv. Pada Skenario 1 (48 fitur, threshold 0,40) yang merepresentasikan ketersediaan data layanan kesehatan primer seperti Posyandu, Random Forest menghasilkan Accuracy 83,3%, Recall 88,7%, Precision 73,3%, F2-score 85,1%, dan ROC-AUC 92,1% (test set 186 anak), sementara Random Survival Forest menghasilkan C-index 0,8444. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi eksplisit model klasifikasi dan survival berbasis data longitudinal, dilengkapi interpretasi SHAP pada level individu dan kategori fitur. Seluruh model diimplementasikan pada sistem prototipe berbasis web StuntGuard (FastAPI, React, PostgreSQL), yang menyajikan status prediksi, estimasi usia onset, kurva survival, dan interpretasi faktor risiko, sebagai landasan awal decision support tool untuk skrining dini stunting berbasis data longitudinal.
ANALISIS TEKNO-EKONOMI PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA DENGAN BATERAI YANG TERINTEGRASI DENGAN ISOLATED GRID NIAS
Nias dengan geografis berupa pulau terpisah merupakan wilayah Provinsi Sumatera Utara yang tidak terhubung dengan jaringan transmisi utama Sumatera sehingga memiliki sistem kelistrikan yang terpisah (isolated grid). Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi hibridisasi PLTS dan baterai pada sistem isolated grid Nias untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil terutama PLTD yang masih menjadi bagian konfigurasi utama. Pemodelan PLTS Nias 26 MWac mampu menghasilkan energi tahunan sebesar 36,71GWh/tahun dengan performance ratio sebesar 0,764. Simulasi keekonomian multi-skenario untuk konfigurasi pembangkitan isolated grid Nias menghasilkan skenario S2 sebagai skenario terbaik dengan konfigurasi PLTS Nias 26 MWac dan baterai 13 MWh terintegrasi dengan isolated grid Nias. Skenario S2 memberikan capaian net present cost (NPC) sebesar Rp10,249 triliun dengan LCOE sebesar Rp2.445/kWh. Hibridisasi PLTS dan baterai membantu penurunan kapasitas puncak pembangkit berbahan bakar fosil sehingga tingkat konsumsi bahan bakar menurun dan tambahan fleksibilitas operasi sehingga mampu menghilangkan capacity shortage dan menurunkan excess energy dari PLTS yang tidak mampu diserap beban. Hal ini mengakibatkan penurunan tingkat emisi CO2 dari 265.921 ton/tahun menjadi 232.173 ton/tahun. Simulasi stabilitas aliran daya dan RMS menunjukkan bahwa sistem kelistrikan isolated grid Nias mampu mempertahankan kestabilan operasi pada kedua skenario gangguan. Pada skenario instantaneous power out, tegangan turun hingga 68,2 kV dan frekuensi mencapai 49,05 Hz, kemudian kembali stabil pada 69,13 kV dan 49,42 Hz. Sementara itu, pada skenario ramp-down power out, perubahan tegangan berada pada rentang 69,57–70,05 kV dan frekuensi pada rentang 49,43–50,07 Hz, menunjukkan bahwa penetrasi PLTS 26 MWac masih dapat diakomodasi dengan baik oleh sistem dalam beradaptasi terhadap intermitensi PLTS.
OPTIMALISASI HIDROGENOLISIS GLISEROL UNTUK SINTESIS BIO-PG (1,2-PROPILEN GLIKOL) MELALUI RUTE DEHIDRASI-HIDROGENASI MENGGUNAKAN KATALIS CU-NI/???? ? ????????2????3
Meningkatnya produksi biodiesel di Indonesia menyebabkan ketersediaan gliserol sebagai produk samping semakin melimpah, sementara nilai ekonominya terus mengalami penurunan. Di sisi lain, kebutuhan propilen glikol (PG) nasional masih didominasi oleh produk impor sehingga diperlukan upaya hilirisasi gliserol menjadi produk bernilai tambah. Salah satu alternatif yang menjanjikan adalah sintesis bio-propilen glikol (bio-PG) dari gliserol. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi komposisi logam Cu-Ni terhadap karakteristik fisikokimia katalis Cu-Ni/?-Al?O? serta kinerjanya dalam sintesis bio-propilen glikol. Katalis disintesis menggunakan metode impregnasi kering dengan variasi komposisi logam Cu dan Ni pada penyangga ?-Al?O?. Karakterisasi katalis dilakukan menggunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF), X-Ray Diffraction (XRD), Brunauer-Emmett-Teller (BET), dan Scanning Electron Microscope (SEM). Reaksi hidrogenolisis dilakukan di dalam reaktor batch menggunakan larutan gliserol 20 wt% pada temperatur 180°C dan tekanan 4,5 MPa. Produk reaksi dianalisis menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC), sedangkan performa katalis dievaluasi berdasarkan konversi gliserol, selektivitas propilen glikol, dan perolehan propilen glikol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi komposisi logam Cu-Ni memberikan pengaruh terhadap karakteristik katalis dan aktivitas hidrogenolisis gliserol. Konversi gliserol tertinggi diperoleh pada katalis C sebesar 63,48%, sedangkan perolehan propilen glikol tertinggi dicapai oleh katalis B dengan konversi gliserol sebesar 43,14%, selektivitas sebesar 63,42%, dan perolehan propilen glikol sebesar 27,36%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perolehan propilen glikol dipengaruhi oleh keseimbangan antara konversi gliserol dan selektivitas produk, sehingga konversi yang tinggi tidak selalu menghasilkan perolehan propilen glikol yang optimum.
This research assesses the technical viability of Sulfonated di-Alkyl Ester (SAE-2), a polymeric surfactant, for chemical enhanced oil recovery (CEOR) in ultra-low salinity brine (300 ppm NaCl). Base formulation SAE-2 at 1.0 %wt reduced the interfacial tension (IFT) of high-wax crude oil from 3.386 mN/m to 0.913 mN/m. Systematic screening of alkaline agents, divalent cations, co-solvents, and co-surfactants was conducted to optimize performance. Sodium carbonate (Na?CO?) promoted in-situ soap generation and significantly lowered IFT but increased ionic sensitivity. While calcium ions (Ca²?) caused severe destabilization, magnesium ions (Mg²?) remained tolerable and contributed to IFT reduction. To overcome the stability-activity trade-off, 1.5%wt ethylene glycol butyl ether (EGBE) was incorporated as a cosolvent, maintaining clear aqueous stability for seven days at 60°C. The optimal formulation (19J) comprising 1.0 %wt SAE-2, 2.5 %wt Na?CO?, 100 ppm MgCl?, and 1.5%wt EGBE, achieved IFT of 0.04846 mN/m and formed a stable Winsor Type II microemulsion. Spontaneous imbibition tests on Berea cores yielded exceptional oil recovery of 95.61%, compared to only 50.55% for formulations containing nonylphenol ethoxylate (NPE). These findings demonstrate that Formulation 19J is highly technically feasible for reservoir-scale surfactant flooding in ultra-low salinity environments.
ANALISIS PARAMETER PEMBORAN SECARA REAL-TIME UNTUK DETEKSI DINI ANOMALI PEMBORAN DAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN MACHINE LEARNING TANPA SUPERVISI DENGAN INTERPRETASI BERBASIS ATURAN
This study aims to develop a real-time drilling anomaly detection framework by combining unsupervised machine learning methods with a rule-based approach. The primary objectives are to determine the most effective and efficient machine learning model for real-time anomaly detection, develop feature engineering as model inputs, identify early signs of drilling anomalies, and validate detection results by comparing them against historical data and field reports. The case study was conducted on three wells in South Sumatra, Indonesia (Well A, Well B, and Well C) using historical drilling parameter data simulated as if it were streaming in real-time. Well A was focused on kick detection validation, Well B on lost circulation, and Well C on stuck pipe, while bit balling cases were validated using the Drilling Anomaly Index (DAI) and lithology due to the absence of specific incident records. Data pre-processing included separating data by drilling section and handling missing values, while model preparation involved tuning the Isolation Forest algorithm hyperparameters and determining the severity threshold to balance sensitivity and noise tolerance. The results indicate that the developed framework can detect anomalies earlier than conventional observations recorded in the Daily Drilling Report (DDR) or Final Well Report (FWR) and can identify early signs such as kick potential, lost circulation potential, differential sticking, and mechanical sticking. Validation using the DAI demonstrated consistent detection of abnormal drilling behaviors across the wells. Integration with a rule-based system also enhanced decision support capabilities by providing recommended actions before anomalies escalate. This study emphasizes the importance of high-quality real-time drilling parameter data for prediction accuracy and operational safety. The developed framework provides a robust platform for proactive drilling anomaly management, with potential for further development in non-rotary operations and expanded rulebased determination. Overall, the combination of feature engineering, unsupervised learning, and a rulebased system proved effective in improving safety, efficiency, and decision-making in drilling operations.
INTERAKSI SINERGIS SISTEM ALKALI-SURFAKTAN-POLIMER DALAM KONDISI SALINITAS SANGAT RENDAH: OPTIMALISASI FORMULASI DAN MEKANISME PENINGKATAN PRODUKSI MINYAK
Alkaline–Surfactant–Polymer (ASP) flooding represents a method of Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) that utilizes the synergistic interactions between alkali, surfactant, and polymer to improve oil recovery efficiency. This study evaluates the performance of ASP under ultra-low-salinity brine conditions (300 ppm) and elucidates the mechanisms that contribute to the improvement of oil recovery. Comprehensive chemical screening tests were performed, encompassing interfacial tension (IFT) measurements, aqueous stability tests (AST), phase behavior (PB) assessments, viscosity measurements, and imbibition tests on Berea sandstone cores. The optimal formulation of alkaline surfactants consisted of 2.5 %wt Na?CO? and 0.5 %wt LABS:AOS in a 1:1 ratio, resulting in an interfacial tension (IFT) of 0.28 mN/m. This formulation demonstrated remarkable aqueous stability and facilitated the formation of Winsor Type I microemulsions. Incorporation of polymer (HPAM) preserved system compatibility while elevating viscosity from 23.2 cP to 84.32 cP and decreasing the viscosity ratio from 0.974 to 0.268, thus improving sweep efficiency. Imbibition tests exhibited enhanced recovery factors in comparison to base brine injection. The enhanced oil recovery is attributed to synergistic effects, including the reduction of interfacial tension by the alkaline-surfactant system, improved sweep efficiency using polymer, and wettability alteration induced by ultra-low salinity. These conditions reduced surfactant adsorption and enhanced polymer performance, thereby facilitating the effective mobilization of residual oil.
STUDI LABORATORIUM TERHADAP KINERJA DAN SENSITIVITAS CAMPURAN SURFAKTAN ZWITTERIONIK-ANIONIK
Residual oil trapped by capillary forces remains difficult to mobilize through conventional waterflooding, necessitating the application of an Enhanced Oil Recovery method to significantly reduce the interfacial tension (IFT) between the oil and aqueous phases. This study evaluates the performance of a zwitterionicanionic surfactant mixture, consisting of Macat-AO14 (MA-AO14) as the zwitterionic surfactant and Aristonate-M (AR-M) as the anionic surfactant, with isopropyl alcohol (IPA) at a concentration of 0.1% as a co-solvent, using crude oil from Field X. The experimental evaluation consisted of three sequential stages, namely aqueous stability tests, phase behavior observations, and IFT measurements using a spinning drop tensiometer. These tests were conducted across a NaCl salinity range of 0.5% to 2.5% and total surfactant concentrations of 0.15 wt% and 0.3 wt%. The results demonstrated that the MA-AO14/AR-M formulations at 70/30 and 80/20 ratios exhibited the best aqueous stability. Notably, the 70/30 ratio successfully formed a Winsor Type III middle-phase microemulsion and achieved an ultralow minimum IFT of 8.65 × 10?³ mN/m at an optimum salinity of 1.75% NaCl. Conversely, the 80/20 ratio failed to reach the ultralow IFT order. Furthermore, increasing the total surfactant concentration to 0.3 wt% yielded no significant improvement in IFT reduction. These findings indicate that the MA-AO14/AR-M at a ratio of 70/30, with a surfactant concentration of 0.15 wt%, a salinity of 1.75% NaCl and an IPA concentration of 0.1%, represents the best performing zwitterionic-anionic surfactant formulation under the evaluated conditions.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM INDOOR POSITIONING BERBASIS TIME DIFFERENCE OF ARRIVAL DENGAN ULTRA-WIDEBAND: PERANGKAT KERAS DAN INTEGRASI TOP-LEVEL
Peneliti robotika di Institut Teknologi Bandung membutuhkan informasi posisi, orientasi, kecepatan, dan percepatan drone selama pengujian di dalam ruangan, namun teknologi yang tersedia berharga sangat mahal dan GPS tidak akurat di dalam ruangan. Tugas akhir ini merancang dan mengimplementasikan indoor positioning system berbasis Time Difference of Arrival (TDoA) dengan Ultra-wideband (UWB), dengan lingkup pengerjaan berupa perangkat keras dan integrasi top-level. Perangkat keras terdiri atas sub-sistem tag dan sub-sistem anchor. Secara fungsional, tag yang dipasang pada drone memancarkan sinyal blink UWB dan mengirim data IMU setiap 40 ms, sedangkan anchor (satu master clock dan empat slave) menjadi referensi posisi dan clock melalui sinyal sinkronisasi CCP setiap 30 ms. Tag tersusun atas mikrokontroler ESP32-S3, IMU BNO055, modul UWB DWM1000, regulator daya, dan battery management system; anchor menggunakan ESP32-WROOM-32 dan DWM1000. Antarmuka antar-blok memanfaatkan SPI, I2C, sinyal UWB, serta WiFi/UDP. Integrasi top-level direalisasikan sebagai pipeline ROS2 yang menggabungkan algoritma sinkronisasi clock, perhitungan posisi TDoA, dan pengolahan data IMU menjadi keluaran end-to-end. Sistem yang terpasang di drone berdimensi 5 cm × 4 cm dengan berat total 43 gram termasuk baterai 600 mAh, sehingga memenuhi seluruh spesifikasi. Keluaran sistem berupa estimasi posisi, kecepatan dan percepatan translasi, orientasi, serta kecepatan dan percepatan angular dalam format JSON. Pipeline ROS berjalan secara real-time dengan beban komputasi 14–23%, latensi ~19 ms, dan laju pembaruan posisi ~24,7 Hz. Total biaya produksi ~Rp4,3 juta, jauh di bawah anggaran pengguna sebesar Rp10 juta, sehingga permasalahan berhasil diselesaikan.
EFEK SINERGIS SISTEM IONIK MULTIKOMPONEN TERHADAP STABILITAS MIKROEMULSI SURFAKTAN ANIONIK DAN PENURUNAN TEGANGAN ANTARMUKA: IMPLIKASI TERHADAP PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK MENGGUNAKAN ALKALI–SURFAKTAN
Implementing Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) via alkaline-surfactant flooding requires understanding how brine ionic composition affects surfactant behavior. This study evaluated the effects of multicomponent ionic systems on microemulsion formation, phase behavior, and interfacial tension (IFT) reduction to develop an optimum formulation for oil recovery. The performance of Linear Alkylbenzene Sulfonate and Alpha Olefin Sulfonate (LAS:AOS 50:50) and Sulfonated di-Alkyl Ester (SAE-2) was evaluated through IFT measurements, aqueous stability, phase behavior, and spontaneous imbibition tests at 65°C. Results indicated that monovalent cations increased IFT relative to base brine, whereas 200 ppm Mg²? achieved the lowest screening IFT of 0.082 mN/m. Conversely, carbonate ions significantly increased IFT, particularly when combined with divalent cations, reaching 0.225 mN/m. All screening formulations exhibited Winsor Type II phase behavior. Formulation optimization revealed that surfactant selection and salinity were critical for achieving ultra-low IFT. The optimum formulation comprising 0.75 wt% SAE-2, 1.5 wt% Na?CO?, 20,000 ppm NaCl, and 2 wt% Ethylene Glycol Monobutyl Ether successfully achieved an ultra-low IFT of 0.00804 mN/m. In spontaneous imbibition tests, this SAE-2 formulation yielded an oil recovery factor of 44.74%, significantly outperforming the optimized LAS:AOS formulation (13.17%) and base brine (4.13%), demonstrating its superior potential for CEOR applications.
TEORI KODING BERBASIS GRAF
Pada teori koding klasik, informasi kerap kali direpresentasikan dalam bentuk vektor. Namun representasi vektor tidak selalu optimal pada sistem yang kompleks, seperti sistem penyimpanan terdistribusi. Oleh karena itu, dilakukan representasi informasi dengan objek graf pada sistem tersebut karena mendekati representasi alaminya. Tugas akhir ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sifat kode linear klasik dengan graf dan mengonstruksi kode atas graf yang optimal, seperti kode Maximum Distance Separable (MDS). Melalui metode tinjauan pustaka, tugas akhir ini membahas mengenai konsep dasar teori koding, representasi graf menggunakan matriks ketetanggaan, hingga kemampuan koreksi kode terhadap penghapusan simpul. Tugas akhir ini menunjukkan bahwa kode graf optimal dapat dikonstruksi melalui kode hasil-kali simetris. Untuk mendapatkan kode yang bersifat eksplisit kuat, kode graf dikonstruksi dengan Kode Hasil-Kali Simetris dengan Diagonal Nol (HKSDN) berbasis kode Reed-Solomon. Selain itu dilakukan konstruksi Kode Penyambungan Simetris yang mampu melewati batas jarak relatif ? > 1 2 dengan tetap mempertahankan laju konstan yang asimtotik bernilai positif.
EVALUASI SISTEMATIS PENYESUAIAN SALINITAS DENGAN BANTUAN ALKALINE PADA SURFACTANT FLOODING BERBASIS ALKIL ESTER SULFONAT UNTUK MINYAK RINGAN LAPANGAN X: PERAN ALKALINE DALAM OPTIMASI PERILAKU FASA MIKROEMULSI DAN TEGANGAN ANTARMUKA
Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) is a promising tertiary recovery method for improving oil recovery from mature reservoirs. This study evaluated the effect of alkali type and concentration on the performance of a Polymeric Alkyl Ester Sulfonate (SAE–2) based alkaline-surfactant system for Field X, a light oil reservoir in East Kalimantan, Indonesia. A total of 22 formulations were prepared using NaOH, Na2CO3, and combined NaOH–Na2CO3 at concentrations ranging from 0.10 to 1.50 %wt, while maintaining constant SAE–2 at 0.50 %wt. Formulation performance was assessed through aqueous stability testing, phase behavior analysis, interfacial tension (IFT) measurements, and spontaneous imbibition experiments on Berea sandstone cores at reservoir temperature. The results demonstrated that alkali type had greater influence on formulation performance than concentration alone. NaOH formulations exhibited the broadest aqueous stability and achieved the highest recovery factor of 52.76% at 1.50 %wt of Na?CO? formulations demonstrated systematic phase behavior progression and generated multiple Winsor Type III microemulsion windows. The formulation containing 1.50 %wt Na2CO3 and 0.50 %wt SAE–2 produced the lowest IFT of 4.101 × 10?3 mN/m and achieved a recovery factor of 46.90%. The combined NaOH– Na2CO3 system showed poor stability and unfavorable phase behavior. Based on comprehensive evaluation, 1.50 %wt NaOH and 0.50 %wt SAE–2 was identified as the optimum formulation for Field X.