πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 38 dokumen

ANALISIS BIAYA DAN MANFAAT SOSIAL IMPLEMENTASI KEBIJAKAN KELAS RAWAT INAP STANDAR (KRIS) PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) STUDI KASUS: SALAH SATU RUMAH SAKIT TIPE ADI KOTA BANDUNG

Salah satu sasaran untuk mencapai Indonesia Emas 2045 adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang. Seluruh target tersebut tentunya sangat bergantung pada Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Untuk menciptakan SDM yang kompeten dan mampu bersaing pada tingkat nasional maupun global, pembangunan kesehatan memegang peranan penting dalam menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk mewujudkannya, pemerintah bertanggung jawab menyediakan layanan kesehatan bagi semua warga negara. UUD 1945 mengamanatkan bahwa jaminan kesehatan, khususnya bagi masyarakat yang kurang mampu, adalah tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari BPJS Kesehatan untuk layanan rawat inap. Pada tahun 2014, jumlah kunjungan pasien mencapai 4,2 juta dan terus meningkat di tahun-tahun berikutnya. Sesuai dengan arahan presiden dalam Perpres Nomor 59 Tahun 2024, aturan baru mengharuskan rumah sakit menyediakan minimal 60% tempat tidur kelas standar untuk pasien BPJS Kesehatan. Tujuannya agar semua peserta JKN mendapat pelayanan yang sama tanpa memandang status sosial. Dalam Kebijakan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS), terdapat dua belas persyaratan yang harus dipenuhi pada aspek sarana dan prasarana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya dan manfaat sosial dari rencana penerapan kebijakan KRIS di salah satu rumah sakit tipe A di Kota Bandung. Analisis dilakukan dengan metode analisis biaya dan manfaat sosial dengan mengasumsikan lima strategi dalam rencana implementasinya: pertama, strategi 0 ketika kebijakan KRIS tidak diimplementasikan; kedua, strategi 1A dengan merenovasi seluruh ruangan rawat inap dengan skema penentuan tarif pasien setara iuran kelas II; ketiga, strategi 2A dengan merenovasi seluruh ruangan rawat inap dengan skema penentuan tarif pasien setara iuran kelas III; keempat, strategi 2A dengan merenovasi seluruh ruangan rawat inap dan membangun gedung rawat inap baru dengan skema penentuan tarif pasien setara iuran kelas II; serta kelima, strategi 2B dengan merenovasi seluruh ruangan rawat inap dan membangun gedung rawat inap baru dengan skema penentuan tarif pasien setara iuran kelas III. Dari kelima strategi tersebut, dihitung masing-masing komponen biaya dan manfaat sosial yang direncanakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang paling optimal yaitu strategi 1A dengan nilai NPV dan BCR yang paling tinggi dibandingkan strategi lainnya. Dalam mengimplementasikan strategi 1A yang paling optimal, rumah sakit dalam hal ini harus melakukan persiapan renovasi seluruh area rawat inap yang belum memenuhi standar kriteria KRIS. Renovasi tersebut mencakup renovasi sarana dan prasarana, serta sistem utilitas yang belum terpenuhi.

2024
πŸ‘€ Penulis: Annisa Rachman Supartono
🏷️ Kebijakan Kesehatan 🏷️ Analisis Biaya Dan Manfaat Sosial 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Kesehatan

PENELITIAN PARALEL KONVERGEN PADA INTENSI VAKSINASI PNEUMONIA DAN TANTANGANNYA DI LINGKUNGAN KERJA

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dengan salah satu contoh nya Pneumonia tidak hanya memiliki beban penyakit yang tinggi pada bayi tetapi juga kelas pekerja usia dewasa di Indonesia. Berdasarkan data dari Marsh Mercer, tren medis di tahun 2023, Infeksi Saluran Pernafasan Akut dengan contoh Pneumonia memberikan beban yang signifikan kepada perusahaan dan juga kelas pekerja dengan salah satu insidensi tertinggi, klaim medis, kehilangan produktivitas dan juga kasus rawat inap. Walaupun sudah tersedia nya vaksin yang bisa mencegah Pneumonia, tingkat vaksinasi masih sangat rendah terutama di kalangan pekerja dan dewasa secara umum. Penelitian ini bertujuan untuk memahami lebih lanjut faktor faktor yang mempengaruhi intensi untuk melakukan vaksinasi Pneumonia khususnya setelah pandemi COVID-19. Sebagai tambahan, saat ini belum banyak penelitian yang meneliti strategi untuk meningkatkan intensi vaksinasi Pneumonia di Indonesia. Penelitian ini mengadopsi Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior) dari (Ajzen, 1991) untuk menjelaskan variabel Attitude, Subjective Norm dan Perceived Behavior Control dalam mempengaruhi intensi terhadap vaksinasi di kalangan pekerja di Indonesia. Ada satu variabel tambahan yaitu pengetahuan terhadap Infeksi Saluran Pernafasan Akut diteliti korelasi dan pengaruhnya terhadap intensi untuk vaskinasi. Selain itu, peneliti juga meneliti bagaimana penerimaan tindakan pencegahan seperti vaksinasi secara umum dan juga jenis-jenis tindakan pencegahan yang dilakukan lingkungan kerja di Indonesia. Peneliti mengajukan penelitian paralel konvergen dengan analisis data kuantitatif dan analisis data kualitatif di lakukan secara bersama-sama dan kemudian disimpulkan dalam integrasi data. Data kuantitatif dikumpulkan melelaui survei daring dengan teknik sampel non-probability & metode purposive. Sejumlah 151 responden pekerja dewasa di atas 18 tahun sampai 55 tahun memberikan respon dan terlibat dalam penelitian ini. Data kualitatif dikumpulkan dengan metode wawancara semi terstruktur dengan total 5 responden yang terdiri dari pemimpin perusahaan, direktur sumber daya manusia dari berbagai industri dan juga eksekutif dari perusahaan broker asuransi dan asuransi kesehatan. Penelitian ini mengunakan metode analisis data secara deskriptif dan menggunakan Partial Least Square Structural Equation Modelling (PLS SEM) untuk kuantitatif dan analisis tematik untuk metode kualitatif. Hasil penelitian membuktikan bahwa Attitude, Perceived Behavior Control dan pengetahuan mengenai Infeksi Saluran Penafasan Akut dan Pneumonia memberikan pengaruh positif terhadap intensi vaksinasi Pneumonia, sedangkan subjective norm tidak memberikan pengaruh yang positif. Penelitian ini juga menjabarkan penyebab rendahnya penerimaan tindakan pencegahan seperti vaksinasi di lingkungan pekerja di Indonesia yang disebabkan oleh beberapa alasan seperti kepercayaan bahwa dasar kebutuhan medis untuk pekerja di Indonesia adalah tindakan kuratif dan pemberian cakupan vaksinasi adalah bagian dari manfaat kesehatan tambahan sebagai strategi v menahan/menarik talenta. Alasan lain berkaitan dengan biaya, ada persepsi bahwa menambahkan cakupan vaksinasi kedalam manfaat kesehatan akan meningkatkan premi asuransi kepada perusahaan asuransi. Selain itu, rendahnya wawasan dan pengetahuan mengenai manfaat vaksinasi secara umum, pengetahuan terhadap beban penyakit dan pencegahan Pneumonia dan Infeksi Saluran Penafasan Akut adalah penghalang utama yang menyebabkan rendah nya penerimaan vaksinasi sebagai tindakan pencegahan di lingkungan kerja di Indonesia. Selain itu, vaksinasi flu dan pemakaian masker adalah tindakan pencegahan yang paling umum diadopsi oleh Perusahaan dan pekerja. Penelitian ini turut berkontribusi terhadap aplikasi dari Extended Theory Planned Behaviour (TPB) terhadap intensi vaksinasi Pneumonia di kelas pekerja di Indonesia dan penelitian ini juga memberikan pengetahuan mendalam dan rekomendasi kepada perusahaan vaksin, Perusahaan, pemerintah dan pemangku kepentingan yang lain mengenai strategi dalam memaksimalkan vaksinasi sebagai tindakan pencegahan dalam menangkal tingginya beban penyakit Pneumonia di kelas pekerja di Indonesia.

2024
πŸ‘€ Penulis: Hendra Wijaya
🏷️ Infeksi Saluran Pernafasan Akut 🏷️ Vaksinasi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Kesehatan

INDUSTRI KESEHATAN, INSTAGRAM, KETERLIBATAN AUDIENS, PEMASARAN KONTEN, STRATEGI PEMASARAN DIGITAL, ULTRA MEDICA KEDIRI

Peningkatan solusi kesehatan digital di Indonesia, terutama melalui media sosial seperti Instagram, semakin penting dalam strategi pemasaran, terutama untuk menjangkau konsumen muda yang melek teknologi. Penelitian ini mengevaluasi strategi Instagram Ultra Medica Kediri, yang bertujuan meningkatkan kesadaran publik, membangun hubungan dengan pasien, dan memperkuat citra sebagai penyedia layanan kesehatan terpercaya. Meskipun ada tantangan seperti jadwal posting yang tidak konsisten dan perkembangan teknologi yang cepat, Ultra Medica Kediri berencana mengoptimalkan penggunaan fitur Instagram dan diversifikasi konten untuk meningkatkan keterlibatan audiens. Analisis SWOT menunjukkan peluang dalam memanfaatkan AI untuk konten inovatif, sementara survei pasar mengungkap preferensi audiens terhadap konten edukatif, interaktif, dan hiburan. Kesimpulannya, untuk meningkatkan efektivitas pemasaran, Ultra Medica Kediri perlu lebih memperhatikan preferensi audiens dan memanfaatkan fitur Instagram secara optimal.

2024
πŸ‘€ Penulis: Nabila Putri Valentina
🏷️ Kesehatan Digital 🏷️ Pemasaran Konten Digital 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Kesehatan

PENGEMBANGAN AICARE TAHAP II: HEPATITIS C DAN STROKE

Pemodelan prediktif memainkan peran krusial dalam memperkirakan penyakit kronis dan akut, memungkinkan identifikasi dini, intervensi tepat waktu, dan layanan kesehatan yang dipersonalisasi. Prediksi penyakit kronis melibatkan pemanfaatan teknik analisis data tingkat lanjut, khususnya machine learning, untuk mengevaluasi kerentanan individu terhadap kondisi jangka panjang seperti hepatitis-C dan stroke. Model-model ini menganalisis data medis yang multifaset, faktor gaya hidup, dan penanda genetik untuk memperkirakan risiko perkembangan penyakit kronis dalam jangka waktu yang lama, serta mendukung manajemen proaktif dan intervensi yang disesuaikan. Untuk memfasilitasi diagnosis yang cepat dan akurat oleh tenaga medis, metode machine learning digunakan. Dalam penelitian ini, berbagai algoritma machine learning diterapkan, termasuk Random Forest, Logistic Regression, K-Nearest Neighbor, Decision Tree, Gaussian NaΓ―ve Bayes, XGBoost, Support Vector Machine (SVM), Gradient Boosting Machine, dan Adaptive Boosting. Model-model ini dievaluasi berdasarkan akurasi, presisi, sensitivitas, dan F1-Score. Model algoritma Decision Tree dengan tiga belas parameter menunjukkan akurasi sebesar 0,95, presisi sebesar 0,81, sensitivitas sebesar 0,69, dan F1-Score sebesar 0,75, menjadikannya model terbaik dalam pengklasifikasian hepatitis-C. Selain itu, model algoritma Decision Tree dengan tiga belas parameter juga menunjukkan akurasi sebesar 0,94, presisi sebesar 0,81, sensitivitas sebesar 0,69, dan F1-Score sebesar 0,75, menjadikannya model terbaik dalam pengklasifikasian stroke. Namun, penerapan metode machine learning oleh tenaga medis masih sangat terbatas. Untuk mengatasi masalah ini, AiCare hadir sebagai solusi untuk membantu tenaga medis dalam implementasi machine learning untuk diagnosis penyakit kronis dan akut. Dalam penelitian sebelumnya, AiCare telah dikembangkan untuk penyakit kronis. Penelitian ini akan melanjutkan pengembangan AiCare tahap II, dengan menambahkan beberapa fitur baru untuk meningkatkan daya tarik dan fungsionalitas aplikasi, sehingga diharapkan akan lebih banyak pengguna yang memanfaatkan AiCare di masa depan.

2024
πŸ‘€ Penulis: Horas Miharkeisal Sinaga
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Kesehatan 🏷️ Analisis Data Tingkat Lanjut

EMBRACING END: PERANCANGAN FASILITAS HOSPICE UNTUK PASIEN TERMINAL BERBASIS SALUTOGENIC DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Penyakit terminal merujuk pada penyakit yang tidak lagi responsif terhadap pengobatan secara kuratif. Pasien terminal ini sudah seharusnya mendapatkan perawatan hospice agar kehidupan akhir hayatnya lebih bermartabat. Adanya fasilitas perawatan hospice ini bertujuan untuk mendukung perkembangan kesehatan holistic pasien terminal, meskipun perawatan kuratif sudah tidak dapat dilakukan. Sayangnya, keberadaan rumah sakit yang melayani perawatan hospice masih sangat sedikit, jika dibandingkan dengan rumah sakit reguler. Selain keberadaannya yang sedikit lokasi fasilitas perawatan hospice ini pun mayoritas terletak pada kota-kota besar. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai salah satu provinsi dengan tingkat penyakit terminal terbesar di Indonesia hanya memiliki satu fasilitas perawatan hospice. Oleh karena itu diperlukan adanya fasilitas hospice di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan harapan bahwa keberadaannya tidak hanya menampung pasien terminal dari provinsi tersebut saja, melainkan juga daerah sekitarnya.

2024
πŸ‘€ Penulis: Sheila Azzahra Maharani
🏷️ Hospice 🏷️ Salutojenik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Kesehatan

PUSAT PERAWATAN DAY CARE ALZHEIMER DI KOTA BOGOR DENGAN PENDEKATAN PRINSIP DESAIN RAMAH ALZHEIMER

Dunia saat ini menghadapi tantangan yang signifikan seiring dengan bertambahnya populasi dunia yang pesat. Prakiraan PBB (2022) menunjukkan bahwa dalam tiga dekade ke depan kita akan melihat proporsi penduduk lanjut usia meningkat, mencapai 11,7% pada tahun 2030 dan 16,4% pada tahun 2050. Indonesia bahkan telah mengalami struktur demografi penuaan sejak tahun 2021 (BPS, 2021). Fenomena ini menandai perubahan demografi yang menyebabkan peningkatan populasi lansia yang rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer, suatu bentuk demensia yang mengganggu fungsi kognitif, telah menjadi masalah kesehatan global. Penelitian menunjukkan bahwa kejadian penyakit Alzheimer meningkat 147,95% dari tahun 1990 hingga 2019, dan pada tahun 2020, sekitar 55 juta orang di seluruh dunia menderita demensia dan sekitar 85% di antaranya tidak menerima perawatan penuh (Alzheimer's disease International, 2023). Di Indonesia, jumlah kasus penyakit Alzheimer terus meningkat hingga mencapai 1,2 juta pada tahun 2022 dan diperkirakan mencapai 4 juta pada tahun 2050 (CNN, 2022). Proses penuaan, ditambah dengan meningkatnya kejadian penyakit Alzheimer, menekankan perlunya perhatian mendesak terhadap kebijakan kesehatan, fasilitas perawatan dan sistem pendukung. Untuk memenuhi kebutuhan penderita penyakit Alzheimer, prinsip desain adalah kuncinya. Prinsip desain Fleming- Bennett, yang dikembangkan oleh Profesor Richard Fleming dan Kirsty Bennett, berfokus pada mempertahankan atau meningkatkan kemampuan pasien, menciptakan lingkungan yang dapat dibaca, fleksibel dan adaptif yang mendukung aktivitas dalam kehidupan sehari-hari, memfasilitasi interaksi sosial dan memastikan keamanan dan kenyamanan. Pentingnya mengembangkan kebijakan kesehatan dan merancang fasilitas perawatan yang efektif merupakan hal mendasar dalam menciptakan lingkungan yang mendukung penuh bagi penderita penyakit Alzheimer, memastikan kesehatan dan martabat mereka. Pendekatan komprehensif ini diperlukan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi penyakit Alzheimer dalam konteks populasi lanjut usia di Indonesia.

2024
πŸ‘€ Penulis: Asysyifa Asri Adityarini
🏷️ Penyakit Alzheimer 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Kesehatan 🏷️ Desain Lingkungan Ramah

EVALUASI PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PRAKTIK MASYARAKAT KOTA BANDUNG TERKAIT PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DAN RESISTANSI TERHADAP ANTIBIOTIK

Penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan utama di negara berkembang seperti Indonesia, dengan insidensi penyakit yang tinggi per 100 penduduk. Antibiotik digunakan untuk mencegah atau mengobati infeksi bakteri. Resistansi terhadap antimikroba (RAM) merupakan salah satu dari 10 ancaman kesehatan global pada tahun 2019. Diperkirakan pada tahun 2050, RAM menyebabkan kematian yang sangat tinggi, dengan satu orang meninggal setiap tiga detik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengetahuan, sikap, dan praktik masyarakat Kota Bandung terkait penggunaan antibiotik dan resistansi terhadap antibiotik; mengidentifikasi hubungan antara karakteristik sosiodemografi dengan domain pengetahuan, sikap, dan praktik masyarakat; dan menentukan korelasi antara ketiga domain tersebut. Penelitian dilakukan dengan metode observasional potong lintang (cross-sectional) dengan teknis purposive sampling. Penelitian dilakukan dari Desember 2023 hingga Mei 2024 dengan menyebarkan kuesioner kepada masyarakat di 30 kecamatan Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas masyarakat Kota Bandung memiliki pengetahuan tidak memadai (55,77%, n=343), sikap negatif (66,67%, n=410), dan praktik positif (61,95%, n=381). Faktor sosiodemografi seperti usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, status pekerjaan, dan suku berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan, sikap, dan praktik (p-value < 0,05), kecuali praktik yang tidak dipengaruhi usia (p-value > 0,05). Koefisien korelasi (?) antara sikap dan pengetahuan adalah +0,649, antara praktik dan pengetahuan +0,527, dan antara praktik dan sikap +0,537, dengan p-value <0,001. Analisis ini menunjukan pengetahuan yang memadai menghasilkan sikap dan praktik yang positif. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kota Bandung memiliki pengetahuan yang kurang memadai dan sikap negatif meskipun praktik sudah positif, sehingga diperlukan upaya edukasi dan intervensi lain untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap secara keseluruhan.

2024
πŸ‘€ Penulis: Cut Difa Aulya Oktaviani Y.
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Resistensi Terhadap Antibiotik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Kesehatan

STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN TERPADU UNTUK MENINGKATKAN EKUITAS MEREK BPJS KESEHATAN

BPJS Kesehatan, badan pelaksana Program JKN, dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan keberlanjutan program karena banyaknya peserta yang tidak aktif di segmen PBPU, sebuah situasi yang terutama disebabkan oleh rendahnya ekuitas merek organisasi. Tujuan penelitian utama dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan strategi komunikasi pemasaran terpadu untuk meningkatkan ekuitas merek BPJS Kesehatan. Metodologi yang digunakan adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif. Meskipun memiliki keunggulan kompetitif yang patut dipuji dan menawarkan pilihan layanan kesehatan yang paling terjangkau, perjuangan BPJS Kesehatan berasal dari kekurangan dalam komunikasi pemasaran. Secara internal, organisasi ini menyadari potensinya untuk membangun ekuitas merek, tetapi mengakui adanya kesenjangan dalam efektivitas komunikasi pemasaran dan koherensi pesan. Secara eksternal, segmen PBPU menunjukkan ekuitas merek yang rendah, terutama dalam hal loyalitas dan kesadaran terhadap program JKN. Target demografis yang teridentifikasi untuk BPJS Kesehatan di segmen PBPU mencakup individu berusia 18-35 tahun, tinggal di daerah perkotaan dan padat penduduk, dengan status sosial ekonomi kelas atas. Meskipun individuindividu ini secara umum menunjukkan kepercayaan terhadap BPJS Kesehatan, namun mereka kurang memiliki kesadaran akan detail program. Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, strategi yang direkomendasikan adalah dengan menerapkan pendekatan Komunikasi Pemasaran Terpadu yag mengusung tema: "kemudahan jaminan kesehatan yang dapat diandalkan." Penguatan pada aspek pada keterjangkauan, aksesibilitas, kualitas, nilai, kenyamanan, teknologi, dan dampak sosial harus disampaikan. Memanfaatkan saluran pemasaran yang beragam seperti televisi dengan menggunakan iklan layanan masyarakat, penyebaran konten berupa video online, kampanye media sosial dengan konten Kesadaran Kesehatan, Tutorial Layanan, Keterlibatan Masyarakat, optimalisasi aplikasi seluler, dan acara komunitas serta workshop layanan BPJS Kesehatan yang dapat meningkatkan efektivitas komunikasi. Selain itu, BPJS Kesehatan juga harus mempertimbangkan untuk mengembangkan manfaat tambahan untuk menambah layanan dan meningkatkan loyalitas peserta. Penting juga untuk memberdayakan karyawan agar dapat menjadi komunikator yang efektif, meningkatkan kemampuan komunikasi yang tegas untuk mendukung strategi komunikasi organisasi secara keseluruhan.

2024
πŸ‘€ Penulis: Ryan Abdullah Putra
🏷️ Komunikasi Pemasaran Terpadu 🏷️ Ekuitas Merek Bpjs Kesehatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Kesehatan
Halaman 3 dari 3
πŸ’¬