📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 172 dokumenPERANCANGAN PROTOTIPE PERANGKAT LUNAK PENDUKUNG PERAMALAN PERMINTAAN PRODUK PT XYZ MENGGUNAKAN MODEL TIME SERIES FORECASTING
PT XYZ merupakan perusahaan yang bergerak di bidang elektrifikasi, automasi, dan digitalisasi. Secara tradisional PT XYZ menjual produknya dengan model Business-to-Business (B2B). Namun, beberapa produk mulai dijual secara langsung melalui channel e-commerce. Dalam penjualan melalui channel baru ini, terdapat symptom permasalahan berupa terjadinya overstocking dan lost sales. Analisis akar masalah dilakukan lalu ditetapkan tujuan penelitian yaitu merancang prototipe perangkat lunak pendukung peramalan permintaan produk PT XYZ yang dijual melalui channel e-commerce. Metodologi penelitian dirancang berdasarkan framework CRISP-DM. Tahap modeling dilakukan untuk model existing dan 4 model usulan. Dua model usulan tersebut, yaitu ETS dan ARIMA, termasuk ke dalam model statistika. Dua model usulan lainnya, yaitu LSTM dan GRU, tergolong ke dalam model neural networks dan dilakukan integrasi dengan teknik time series clustering menggunakan algoritma K-Means dan dynamic time warping (DTW) untuk meningkatkan performansi. Hasil evaluasi model menunjukkan bahwa model GRU, dengan kombinasi time series clustering, memiliki performansi terbaik. Model GRU berhasil menurunkan nilai mean absolute scaled error (MASE) dari 83,66% pada metode existing menjadi 71,36%. Hasil ini memberikan nilai tambah bagi bisnis yang dihitung menggunakan price-weighted error, dan berhasil memperbaiki price-weighted error sebesar 18,08% relatif terhadap metode existing. Dari model terpilih dan tahapan lainnya pada penelitian, dibangun suatu prototipe perangkat lunak yang mengurangi waktu forecast dari 1-2 hari kerja menjadi 14 menit dan 42 detik.
CUSTOMERS' PREFERENCE OF T-SHIRT CASE STUDY: SAND
SAND adalah sebuah merk kaos baru yang berusaha untuk masuk kedalam pasar penjualan kaos di ITC-Kuningan, Jakarta. Untuk dapat bersaing kedalam sebuah pasar penjualan kaos di ITC-Kuningan SAND membutuhkan banyak cara untuk menarik minat konsumen. Agar dapat memecahkan masalah-masalah tersebut maka dibuatlah penilitian tentang aspek-aspek marketing apa saja yg dibutuhkan SAND agar konsumen sadar akan eksistensi mereka dan tertarik untuk membeli produk mereka, mulai dari motivasi para konsumen dalam membeli sebuah kaos, pasar yang dituju oleh SAND, kompetitor daripada SAND, promosi apa yang menarik konsumen dan harga yang cocok daripada sebuah kaos. Untuk melakukan penilitian pertama-tama peneliti akan melakukan observasi lapangan langsung yang diikuti oleh diskusi dalam kelompok terhadap konsumen kaos pria dan interview terhadap pemilik daripada SAND. Dari data yang didapat tersebut peneliti akan mengetahui aspek-aspek apa saja yang dibutuhkan agar konsumen tertarik untuk membeli sebuah kaos. Dari aspek-aspek tersebut dibuatlah pertanyaan-pertanyaan agar peneliti dapat mengetahui dan mengambil kesimpulan tentang aspek-aspek apa saja yg dibutuhkan SAND agar produk mereka disukai konsumen. Hasil observasi dengan menggunakan analisa frekuensi dan analisa conjoint dengan alat bantu spss dan menggunakan non-probability sampel. Diketahui bahwa pengunjung utama daripada ITC-Kuningan adalah anak muda yang berusia 18-24 tahun dimana mereka menganggap bahwa harga sebuah kaos sepantasnya adalah Rp. 50,000- Rp 75.000, dan kaos yang paling disukai adalah kaos bergambar band dengan warna hitam (kaos lengan pendek). Maka disarankan agar SAND fokus terhadap konsumen muda yang menyukai kaos murah bergambar band dengan warna hitam agar dapat menarik konsumen membeli produk mereka.
MODEL PENILAIAN PARIWISATA BERWAWASAN LINGKUNGAN MELALUI LIFE CYCLE ASSESSMENT DI KOTA BUKITTINGGI
Sektor pariwisata berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan akibat aktivitas akomodasi, transportasi, dan rekreasi yang menyertai pergerakan wisatawan. Kota Bukittinggi, sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Sumatera Barat yang perekonomiannya sangat bergantung pada sektor pariwisata, memiliki keterbatasan daya dukung lingkungan. Pertumbuhan penduduk dan peningkatan intensitas pariwisata tanpa perencanaan yang memadai berisiko menurunkan kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak lingkungan aktivitas pariwisata di Kota Bukittinggi secara komprehensif menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA), mulai dari tahap inventori hingga analisis dampak dan perumusan strategi pengelolaan berkelanjutan. Unit fungsional yang digunakan adalah satu wisatawan yang melakukan aktivitas selama satu hari di Kota Bukittinggi, dengan cakupan sistem meliputi subsistem akomodasi, transportasi, wisata rekreasi, wisata kuliner, dan wisata belanja. Hasil analisis dampak midpoint menunjukkan bahwa kategori dampak yang paling dominan adalah Global Warming Potential (GWP) pada setiap unit fungsional, yang terutama berasal dari penggunaan listrik di akomodasi (1,34 kg CO2-eq), transportasi—khususnya kendaraan MPV (0,64 kg CO2-eq), penggunaan energi pada aktivitas wisata rekreasi (0,148 kg CO2-eq), penggunaan kayu bakar pada wisata kuliner (0,976 kg CO2-eq), serta aktivitas wisata belanja yang berkaitan dengan produk suvenir berbasis olahan pertanian (1,058 kg CO2-eq). Dampak lanjutan pada tingkat endpoint untuk setiap unit fungsional mencakup penurunan kesehatan manusia yang direpresentasikan oleh hilangnya hari sehat akibat disabilitas sebesar 0,007 DALY, degradasi kualitas dan keberlanjutan ekosistem yang ditunjukkan oleh potensi kehilangan ekosistem terestrial sebesar 1,029 × 10-5 species·year, kehilangan ekosistem air tawar sebesar 1,16 × 10-5 species·year, serta kehilangan ekosistem air laut sebesar 4,7 × 10-8 species·year, dan meningkatnya biaya pemulihan sumber daya alam sebesar 0,36 USD. Proyeksi tekanan lingkungan hingga tahun 2040 mengindikasikan peningkatan beban lingkungan yang semakin besar seiring pertumbuhan jumlah wisatawan dan penduduk, apabila tidak dilakukan intervensi kebijakan dan teknologi yang memadai. Pengembangan skenario wisata ramah lingkungan dilakukan untuk mengevaluasi potensi penurunan dampak lingkungan melalui penerapan teknologi dan perubahan praktik pengelolaan. Skenario optimis menunjukkan bahwa implementasi panel surya sebesar 60–70% pada fasilitas akomodasi, penerapan rain water harvesting sebesar 60%, minimisasi dan pengelolaan sampah sebesar 50–74,5%, penyediaan layanan transportasi listrik sebesar 52,3%, penggunaan bahan pangan beras organik sebesar 20%, penggantian kayu bakar dengan sumber energi yang lebih bersih sebesar 100%, serta peningkatan pembelian suvenir ramah lingkungan sebesar 72% mampu menurunkan berbagai kategori dampak lingkungan secara signifikan per wisatawan per hari. Penurunan tersebut mencakup dampak perubahan iklim, konsumsi energi fosil, penggunaan air, serta toksisitas terhadap manusia dan ekosistem. Sebagai tindak lanjut, penelitian ini menyusun roadmap pariwisata berkelanjutan Kota Bukittinggi periode 2026–2035 dengan pendekatan Three Horizons, yang mencakup tahapan stabilisasi, transformasi, serta integrasi. Roadmap ini menunjukkan bahwa penerapan skenario optimis secara bertahap berpotensi menurunkan dampak lingkungan per wisatawan per hari sekaligus menjaga daya saing destinasi wisata. Secara keseluruhan, hasil penelitian menyatakan bahwa integrasi pendekatan LCA ke dalam perencanaan dan kebijakan pembangunan pariwisata daerah merupakan langkah strategis untuk mewujudkan pariwisata Kota Bukittinggi yang berkelanjutan, rendah karbon, dan berdaya dukung jangka panjang.
PENGEMBANGAN STRATEGI PEMASARAN OMNICHANNEL MENGGUNAKAN CUSTOMER JOURNEY MAPPING DI PERUSAHAAN RITEL OLAHRAGA: STUDI KASUS DECATHLON INDONESIA
Transformasi digital telah mendorong perusahaan ritel seperti Decathlon untuk mengadopsi pendekatan omnichannel dalam melayani pelanggan. Namun, keberadaan berbagai saluran distribusi tidak secara otomatis menghasilkan pengalaman pelanggan yang terintegrasi dan konsisten. Tantangan utama yang dihadapi Decathlon adalah bagaimana memastikan keselarasan interaksi pelanggan di seluruh titik kontak sehingga tercipta pengalaman yang mulus dan bernilai. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola interaksi pelanggan dalam kanal omnichannel, mengidentifikasi kesenjangan pengalaman pelanggan, serta merumuskan strategi pemasaran yang lebih efektif melalui pendekatan pemetaan perjalanan pelanggan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena meningkatnya perilaku pelanggan yang bergerak dinamis antara kanal digital dan fisik dalam proses pencarian informasi, pembelian, dan evaluasi pasca pembelian. Meskipun tingkat kepuasan pelanggan relatif tinggi, masih ditemukan indikasi inkonsistensi informasi dan friksi pada saat perpindahan antar kanal. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini mengajukan tiga pertanyaan utama: bagaimana pola interaksi pelanggan di sepanjang tahapan pembelian; apa saja kesenjangan dan titik friksi yang dialami pelanggan; serta bagaimana pemetaan perjalanan pelanggan dapat dimanfaatkan untuk merancang strategi yang lebih terintegrasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis statistik deskriptif. Data dikumpulkan melalui survei berbasis skala Likert kepada pelanggan yang pernah menggunakan lebih dari satu kanal dalam proses pembelian. Instrumen penelitian dirancang berdasarkan integrasi teori perilaku konsumen dan pemetaan perjalanan pelanggan. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi pola distribusi jawaban, tingkat persetujuan responden, serta indikator potensi kesenjangan pengalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggan secara aktif menggunakan berbagai kanal dalam tahap pra pembelian, terutama melalui pencarian informasi digital yang dilanjutkan dengan kunjungan ke toko fisik. Pada tahap pembelian, pelanggan memilih kanal berdasarkan kenyamanan, namun sebagian mengalami hambatan emosional saat berpindah kanal. Pada tahap pasca pembelian, tingkat kepuasan dan niat pembelian ulang berada pada level tinggi, meskipun masih terdapat kelemahan pada aspek penanganan keluhan. Temuan ini mengindikasikan bahwa integrasi struktural telah berjalan, tetapi integrasi pengalaman pelanggan belum sepenuhnya optimal. Kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan pemahaman bahwa keberhasilan sistem lintas kanal tidak hanya diukur dari kepuasan akhir, tetapi juga dari kualitas kesinambungan pengalaman antar titik kontak. Penelitian ini juga memberikan implikasi praktis bagi manajemen dalam memperkuat sinkronisasi informasi, menyederhanakan transisi antar kanal, serta meningkatkan kualitas respons layanan purna jual. Secara teoretis, penelitian ini memperluas diskursus mengenai pentingnya kesinambungan pengalaman sebagai dimensi utama dalam strategi ritel modern.
PEMODELAN TERPADU MITIGASI BANJIR DAN PENILAIAN KERENTANAN TINGKAT BANGUNAN DALAM SKENARIO AFORESTASI DAN CURAH HUJAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CITARUM HULU, INDONESIA
Banjir merupakan salah satu bencana alam yang paling sering terjadi dan paling merusak di Indonesia, khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu, Jawa Barat. Urbanisasi yang pesat, perubahan tata guna lahan, serta praktik mitigasi banjir yang belum memadai di wilayah ini memperparah dampak bencana, sehingga menyebabkan kerugian jiwa dan harta benda yang signifikan. Penelitian ini menyajikan suatu kerangka pemodelan terintegrasi yang menghubungkan simulasi hidrologi–hidraulik dengan penilaian kerentanan fisik bangunan pada tingkat individu untuk mengevaluasi bagaimana perubahan tutupan lahan akibat aforestasi memodifikasi bahaya banjir serta bagaimana variasi bahaya tersebut diterjemahkan menjadi potensi kerusakan struktural pada berbagai periode ulang hujan. Penelitian ini menggunakan model hidrologi (HEC-HMS) dan hidraulik (HEC-RAS) yang terintegrasi untuk mensimulasikan dampak enam skenario aforestasi, yaitu No Forest (NF), Medium Afforestation (MF), aforestasi berdasarkan Rencana Tata Ruang Bandung 2029 (F-2029), Riverbank Afforestation (RF), Skenario Tata Ruang 2029 (SP-2029), No Built-up (NB), serta Land Cover 2021 (LC-2021) sebagai kondisi dasar. Simulasi dilakukan menggunakan enam periode ulang hujan (2, 5, 10, 20, 50, dan 100 tahun), yang diturunkan dari 32 tahun data hujan maksimum harian yang dikumpulkan dari 11 stasiun hujan. Kalibrasi model untuk kejadian banjir November 2021 menunjukkan kinerja yang sangat baik (NSE = 0,932; R² = 0,93; PBIAS = 2,34%), yang mengonfirmasi reliabilitas model. Perubahan tutupan lahan menunjukkan dampak yang signifikan: urbanisasi meningkatkan risiko banjir, sementara aforestasi meningkatkan kapasitas retensi air. Deforestasi dan peningkatan permukaan kedap air meningkatkan limpasan, debit puncak, dan kedalaman genangan. Sebaliknya, aforestasi menurunkan besaran banjir melalui peningkatan infiltrasi dan kekasaran permukaan. Dari seluruh skenario yang diuji, aforestasi sempadan sungai (RF) dan pengurangan area terbangun (NB) merupakan strategi yang paling efektif dalam mitigasi banjir. Sebagai contoh, skenario NB mampu menurunkan debit puncak sekitar 90% dan luas genangan lebih dari 80% vi vii dibandingkan kondisi dasar tahun 2021. Sebaliknya, skenario pengurangan tutupan hutan (NF) dan ekspansi urban terencana (SP-2029) menyebabkan peningkatan limpasan dan risiko banjir, meskipun target kehutanan yang ditetapkan bersifat moderat. Evaluasi kinerja model berdasarkan kejadian banjir November 2021 menunjukkan kesesuaian yang kuat antara debit dan pola genangan hasil simulasi dengan kondisi teramati, khususnya dalam mengidentifikasi wilayah rawan banjir seperti Margahayu, Bojongsoang, Dayeuhkolot, dan Baleendah. Simulasi pada periode ulang 2 dan 5 tahun merepresentasikan kejadian banjir yang lebih sering terjadi namun dengan magnitudo yang lebih rendah dibandingkan periode ulang yang lebih besar. Pada skala lokal, dilakukan penilaian kerentanan bangunan secara rinci terhadap 1.154 bangunan di Desa Dayeuhkolot, salah satu wilayah paling rawan banjir di Bandung. Data hasil survei lapangan dan pemetaan drone menghasilkan 12 indikator struktural yang kemudian diintegrasikan menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk membangun Indeks Kerentanan Fisik (Physical Vulnerability Index/PVI) serta kurva kedalaman–kerusakan menggunakan fungsi logistik. Verifikasi empiris terhadap model referensi internasional (HAZUS, JRC, Englhardt, Mesta, dan Dutta) menunjukkan kesesuaian yang kuat (R² = 0,881–0,967; Spearman ? ? 1,0), yang mengonfirmasi validitas kurva kerentanan yang dikembangkan dalam konteks tipologi bangunan Dayeuhkolot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis material, jumlah lantai, dan kategori bangunan merupakan faktor utama yang menentukan tingkat kerusakan akibat banjir. Bangunan kayu satu lantai cenderung mengalami kerusakan hampir total pada kedalaman genangan di atas 2–3 meter, sedangkan bangunan beton bertulang dan bertingkat lebih tahan terhadap dampak banjir. Integrasi antara aforestasi dan pemodelan kerentanan bangunan menghasilkan penurunan risiko banjir struktural yang signifikan, di mana penerapan skenario River Forest (RF) dan perbaikan tutupan lahan mampu mengurangi jumlah bangunan dengan kerentanan sangat tinggi lebih dari 95%. Penelitian ini menawarkan kerangka pemodelan banjir terintegrasi untuk DAS tropis perkotaan serta menyediakan dasar berbasis data bagi perencanaan tata guna lahan dan kebijakan pengurangan risiko bencana. Temuan ini menegaskan bahwa restorasi tutupan lahan yang dipadukan dengan peningkatan ketahanan bangunan merupakan strategi kunci dalam mitigasi banjir di DAS Citarum Hulu, terutama di tengah meningkatnya variabilitas curah hujan dan tekanan urbanisasi.
PENINGKATAN KONVERSI PEMBELIAN PADA PRODUK EKOWISATA DENGAN TINGKAT FAMILIARITAS RENDAH: STUDI KASUS WALKTOFOREST
Ekowisata semakin dipromosikan sebagai alternatif berkelanjutan terhadap pariwisata massal. Namun, di negara dengan keanekaragaman hayati tinggi seperti Indonesia, produk ekowisata tertentu—khususnya birdwatching—masih memiliki tingkat familiaritas dan adopsi yang rendah di pasar domestik. Penelitian ini mengkaji permasalahan bisnis yang dihadapi oleh Walktoforest, sebuah wirausaha sosial di Jawa Barat yang mengintegrasikan konservasi, pemberdayaan masyarakat lokal, dan pariwisata berbasis pengalaman. Meskipun memiliki visibilitas digital yang tinggi, tingkat konversi pemesanan produk birdwatching masih rendah dan berpotensi mengganggu keberlanjutan finansial organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan pemecahan masalah diagnostik dengan kerangka kerja Pirate Metrics AAARRR (Awareness, Acquisition, Activation, Revenue, Retention, Referral) untuk menganalisis perilaku pelanggan sepanjang funnel digital. Data yang digunakan berupa revealed preference data dari analitik digital internal Walktoforest, meliputi wawasan Instagram, kinerja Meta Ads, log pertanyaan WhatsApp, dan data transaksi dalam periode pengamatan tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya kinerja penjualan tidak disebabkan oleh kualitas produk, harga, atau keterbatasan permintaan pasar, melainkan oleh hambatan adopsi perilaku akibat rendahnya familiaritas pengalaman. Hambatan utama mencakup penghindaran ketidakpastian, persepsi risiko pengalaman, dan kurangnya kejelasan pengalaman pada tahap keputusan. Meskipun tahap Awareness menghasilkan lebih dari 63.000 impresi, penurunan terbesar terjadi antara Activation dan Revenue, sementara tahap pascapengalaman menunjukkan kinerja yang kuat dengan tingkat rujukan sebesar 75%. Penelitian ini mengusulkan strategi optimalisasi funnel berbasis perilaku untuk meningkatkan konversi produk ekowisata niche.
KAJIAN MORFOLOGI SUNGAI AKIBAT PEMBANGUNAN REVETMENT DAN KEGIATAN NORMALISASI SUNGAI BATANG AGAM KOTA PAYAKUMBUH
Sungai Batang Agam merupakan sungai alluvial yang memiliki karakteristik bermeander dengan palung relatif dalam serta melintasi kawasan padat penduduk, perkotaan, lahan pertanian, dan fasilitas umum di wilayah Kota Payakumbuh dan sekitarnya. Sungai ini menjadi bagian penting dalam sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Agam, dengan hulu berada di Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam, serta hilir yang melintasi Kabupaten Lima Puluh Kota, Tanah Datar, dan Kota Payakumbuh sebelum bermuara ke Sungai Batang Sinamar. Secara alami, dinamika fluvial berupa erosi, transportasi sedimen, dan deposisi membentuk morfologi sungai. Namun, aktivitas manusia seperti perubahan tata guna lahan di daerah hulu dan kegiatan penambangan pasir di bagian hilir telah mempercepat ketidakseimbangan morfologi sungai, yang memicu erosi dasar, longsoran tebing, dan sedimentasi berlebih di beberapa segmen sungai. Permasalahan utama yang terjadi di Sungai Batang Agam Hilir adalah longsoran tebing sungai yang mengakibatkan perubahan alur, berkurangnya lahan pertanian, serta ancaman terhadap permukiman masyarakat. Kondisi ini diperparah oleh peningkatan debit dan kecepatan aliran akibat perubahan tata guna lahan di hulu serta gangguan keseimbangan sedimentasi akibat aktivitas penambangan pasir. Untuk mengurangi dampak tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang telah melaksanakan program penanganan sungai berupa normalisasi, pembangunan tanggul, dan perkuatan tebing sepanjang ±2,85 km pada periode 2017–2020 (Tahap I) serta sepanjang ±1,2 km pada tahun 2025 (Tahap II) pada titik-titik rawan di Sungai Batang Agam Hilir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan morfologi Sungai Batang Agam akibat proses sedimentasi dan keruntuhan tebing, serta mengevaluasi efektivitas penanganan sungai yang telah dilakukan terhadap laju sedimentasi stabilitas, dan dinamika morfologi sungai. Analisis dilakukan menggunakan pemodelan hidraulika dan transportasi sedimen satu dimensi (1D) dan dua dimensi (2D) dengan perangkat lunak HEC-RAS yang telah melalui proses kalibrasi dan validasi. Estimasi suplai sedimen tahunan dihitung menggunakan pendekatan iii berbasis erosi lahan Universal Soil Loss Equation (USLE), sedangkan simulasi transportasi sedimen menggunakan kombinasi fungsi transport Meyer–Peter Müller dan metode kecepatan jatuh sedimen Wu dan Wang. Selain itu, pengaruh keruntuhan tebing terhadap dinamika sedimentasi dianalisis dengan mempertimbangkan Bank Stability and Toe Erosion Model (BSTEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanganan sungai yang telah dilakukan efektif dalam meningkatkan kapasitas sungai dan mengurangi limpasan banjir kala ulang 25 tahun, dengan penurunan tinggi muka air banjir mencapai sekitar 1,1 m. Estimasi suplai sedimen tahunan berdasarkan pendekatan USLE menunjukkan nilai sebesar 67.335 ton/tahun, sedangkan hasil simulasi model dengan debit kala ulang satu tahun menghasilkan nilai transport sedimen sebesar 54.597 ton/tahun. Secara keseluruhan, penanganan sungai mampu mengurangi tingkat agradasi dan degradasi dasar sungai hingga sekitar 15%. Namun demikian, peningkatan kecepatan aliran pada beberapa segmen pasca penanganan, khususnya pada bagian tengah sungai, menyebabkan peningkatan tegangan geser dasar yang memicu degradasi lokal. Sebaliknya, pada segmen hulu dan hilir terjadi kecenderungan agradasi akibat perubahan geometri lebar dasar sungai serta keberadaan bangunan pulau di hilir. Kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengelolaan dan perencanaan penanganan Sungai Batang Agam secara berkelanjutan serta sebagai referensi dalam evaluasi dampak morfologi sungai akibat intervensi manusia.
KAJIAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BATANG TIMPEH KABUPATEN DHARMASRAYA
Sungai Batang Timpeh merupakan salah satu sungai utama yang berada di Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat, dan merupakan bagian penting dari sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari. Sungai ini memiliki panjang alur sekitar 57,62 km dengan luas DAS sekitar 236,36 km², serta berperan strategis dalam proses hidrologi regional dan mendukung berbagai aktivitas sosial ekonomi masyarakat, khususnya pada sektor perkebunan dan permukiman. Dalam beberapa tahun terakhir, kejadian banjir di sepanjang Sungai Batang Timpeh terjadi dengan frekuensi dan luasan genangan yang semakin meningkat, sehingga menimbulkan kerugian ekonomi serta gangguan terhadap aktivitas masyarakat. Kondisi ini mengindikasikan adanya penurunan kapasitas pengaliran sungai dan menunjukkan perlunya perencanaan pengendalian banjir yang komprehensif. Banjir di Sungai Batang Timpeh dipengaruhi oleh kombinasi faktor hidrologi, hidraulika, dan morfologi sungai. Keterbatasan kapasitas alur sungai, perubahan tutupan lahan di wilayah DAS, serta dinamika proses transport sedimen berkontribusi terhadap perubahan morfologi sungai yang selanjutnya memengaruhi karakteristik aliran dan stabilitas alur. Upaya pengendalian banjir yang hanya berfokus pada peningkatan kapasitas hidraulika cenderung memberikan manfaat jangka pendek dan berpotensi menimbulkan permasalahan lanjutan apabila respon morfologi sungai tidak diperhitungkan secara memadai. Oleh karena itu, strategi pengendalian banjir perlu dikembangkan melalui pendekatan terpadu yang mempertimbangkan karakteristik hidrologi, kinerja hidraulika, fungsi konservasi air, serta dinamika morfologi sungai sebagai satu kesatuan sistem. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik hidrologi, hidraulika, dan morfologi Sungai Batang Timpeh sebagai dasar dalam penyusunan alternatif pengendalian banjir yang berkelanjutan dan terpadu. Analisis hidrologi dilakukan menggunakan data curah hujan selama 13 tahun yang diperoleh dari empat stasiun hujan yang tersebar di dalam dan sekitar DAS. Pemodelan hujan–aliran dilakukan menggunakan metode GR4J untuk menghasilkan debit harian, yang selanjutnya digunakan untuk menentukan debit banjir rencana pada beberapa kala ulang, dengan penekanan pada debit banjir kala ulang 25 tahun (Q25). Selain itu, pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap debit puncak banjir dianalisis sebagai bagian dari pendekatan non-struktural untuk mengevaluasi sensitivitas respon banjir terhadap pengelolaan DAS. Analisis hidraulika dan genangan banjir dilakukan menggunakan perangkat lunak HEC-RAS melalui pemodelan aliran tidak tunak satu dimensi dan dua dimensi. vi Beberapa skenario penanganan dikembangkan dan dievaluasi, meliputi kondisi eksisting, normalisasi sungai, pembangunan dan peninggian tanggul, serta penerapan kolam retensi dengan sistem outlet gravitasi dan pompa. Setiap skenario dianalisis berdasarkan kemampuannya dalam menurunkan muka air banjir, mengurangi luas genangan, dan meningkatkan kapasitas pengaliran sungai pada kondisi debit banjir rencana Q25. Kajian morfologi sungai dilakukan melalui pemodelan transport sedimen satu dimensi menggunakan persamaan Meyer–Peter Müller (MPM). Debit harian hasil pemodelan GR4J digunakan sebagai input simulasi transport sedimen untuk periode 2026–2035. Analisis difokuskan pada identifikasi kecenderungan perubahan elevasi dasar sungai akibat proses agradasi dan degradasi, serta implikasinya terhadap kapasitas alur sungai dan risiko banjir dalam jangka menengah hingga panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting Sungai Batang Timpeh belum mampu mengalirkan debit banjir rencana Q25 secara aman, sehingga menyebabkan limpasan dan genangan banjir di wilayah sekitar sungai. Normalisasi sungai dan pembangunan tanggul mampu mereduksi genangan secara signifikan, namun masih terdapat potensi limpasan pada beberapa segmen sungai akibat keterbatasan kapasitas lokal dan perbedaan elevasi puncak tanggul. Dari seluruh alternatif yang dikaji, penambahan kolam retensi dengan kapasitas tampungan efektif sekitar 441.223 m³ terbukti paling efektif dalam menurunkan debit puncak dan muka air banjir. Selain berfungsi sebagai pengendali banjir, kolam retensi tersebut juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sarana konservasi air untuk mendukung kebutuhan air perkebunan pada musim kemarau. Analisis morfologi menunjukkan kecenderungan agradasi yang dominan selama periode simulasi, yang berpotensi menurunkan kapasitas alur sungai secara bertahap apabila tidak disertai dengan pengelolaan sedimen yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil kajian tersebut, pengendalian banjir Sungai Batang Timpeh direkomendasikan untuk dilaksanakan melalui kombinasi pendekatan struktural dan non-struktural secara terpadu dengan mempertimbangkan keterkaitan antara proses hidrologi, kinerja hidraulika, dan dinamika morfologi sungai. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pengendalian banjir sekaligus menjamin keberlanjutan fungsi sungai dalam jangka panjang.
DAMPAK SALURAN KOMUNIKASI DIGITAL TERHADAP EFISIENSI RANTAI PASOKAN DAN KEPUASAN PELANGGAN BMW
Transformasi digital industri otomotif semakin cepat dan telah menyebabkan perubahan dalam cara produsen beroperasi dan bagaimana pelanggan berinteraksi dengan mereka. Perkembangan luar biasa ini berkat kecerdasan buatan, Internet of Things, big data, dan realitas virtual, di antara teknologi lain yang berperan penting dalam perubahan ini. Dalam penelitian ini, kami meneliti penggunaan saluran komunikasi digital untuk mendapatkan manfaat dari efisiensi rantai pasokan yang lebih besar dan kepuasan pelanggan dalam kasus BMW Group, salah satu produsen otomotif premium terkemuka. Dengan menerapkan metodologi penelitian kualitatif, studi ini menggunakan tinjauan pustaka yang menyeluruh bersama dengan analisis studi kasus tunggal. Temuan didukung oleh literatur akademis, laporan industri, dan publikasi perusahaan BMW. Data yang diproses menunjukkan bahwa teknologi komunikasi digital seperti platform cloud, analitik AI, blockchain, AR/VR, dll., meningkatkan visibilitas, koordinasi, dan responsivitas rantai pasokan secara keseluruhan, dan pada saat yang sama pengalaman pelanggan menjadi lebih baik melalui personalisasi, transparansi, dan keterlibatan digital interaktif.
PENGEMBANGAN MODEL INVENTORY P – PENDAPATAN TERTUNDA PADA LAYANAN PASANG BARU PLN UID SULUTTENGGO
Tingginya tingkat keterlambatan penyalaan pasang baru di wilayah kerja PLN kerap disebabkan oleh ketidakefisienan dalam pengelolaan distribusi material, khususnya kWh meter. Penelitian ini mengusulkan pengembangan model distribusi material dua tingkat antara pemasok, UP3, dan ULP dengan mempertimbangkan total biaya logistik, yang meliputi biaya transportasi, biaya penyimpanan, dan potensi penundaan pendapatan akibat keterlambatan layanan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan frekuensi pengiriman optimal pada setiap jalur distribusi agar diperoleh total biaya logistik yang minimal. Model dirumuskan dalam Mixed Biner Integer Quadratik Programming (MBIQP). Evaluasi dilakukan melalui studi kasus pada sistem distribusi aktual PLN UID Suluttenggo untuk menguji keefektifan model dalam konteks operasional nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu menghasilkan skema pengiriman yang lebih efisien serta mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan logistik pasang baru. Pendekatan ini juga berpotensi diterapkan secara luas dalam pengelolaan distribusi material di sektor kelistrikan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa implementasi model optimasi memberikan perbaikan kinerja yang signifikan dibandingkan dengan kondisi baseline. Secara khusus, penerapan model optimasi distribusi dua-echelon berhasil menurunkan total biaya logistik dari Rp255.509.267 menjadi Rp166.354.174, yang merepresentasikan tingkat efisiensi biaya sebesar kurang lebih 35% terhadap total biaya distribusi. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengelolaan frekuensi pengiriman dan keputusan alokasi distribusi yang dirancang secara terintegrasi mampu meningkatkan efisiensi operasional dalam sistem distribusi dua-echelon serta mendukung pengambilan keputusan logistik yang lebih sistematis di lingkungan PLN.
HUBUNGAN LITOFASIES DAN ASOSIASI FASIES TERHADAP ROCK TYPE PADA ZONA POTENSIAL HIDROKARBON RESERVOIR E3140 FORMASI BALIKPAPAN, LAPANGAN BERAS, CEKUNGAN KUTAI
Reservoir E3140 Formasi Balikpapan, Lapangan Beras, Cekungan Kutai yang terdapat di tepi bagian timur, Kalimantan Timur merupakan salah satu cekungan sedimen penghasil hidrokarbon di Indonesia yang saat ini dikelola oleh PT Pertamina Hulu Indonesia Zona 9. Menurunnya laju produksi pada reservoir E3140 menjadi tantangan pada tahap pengembangan sehingga dibutuhkan model geologi reservoir 3D yang mampu menjelaskan tingkat karakteristik heterogenitas reservoirnya. Penelitian ini menentukan analisis litofasies, asosiasi fasies serta lingkungan pengendapan, analisis rock type serta penyebarannya dengan multi resolution graph-based clustering (MRGC) dan prediksi permeabilitas dari hubungan permeabilitas dan porositas berdasarkan pengelompokan rock type, dan pemodelan geologi reservoir 3D dari dari reservoir E3140 Formasi Balikpapan, Cekungan Kutai. Hasil analisis deskripsi inti batuan dari analogi sumur Lapangan Mutiara dan log elektrofasies pada reservoir batupasir E3140 merupakan asosiasi fasies distributary channel pada lingkungan pengendapan delta, bagian delta plain yang dipengaruhi pasang surut. Selain itu, reservoir batupasir E3140 Formasi Balikpapan, Lapangan Beras yang merupakan asosiasi fasies distributary channel tersusun atas beberapa litofasies dari hasil analogi deskripsi inti batuan pada sumur MUT0530 reservoir G3140 Formasi Balikpapan, Lapangan Mutiara yaitu (1) Litofasies Batupasir Planar Cross Bedding, (2) Litofasies Batupasir Planar Cross Bedding Bioturbation, (3) Litofasies Batupasir Cross Lamination With Mud Drapes, (4) Litofasies Batupasir Wavy Ripple Cross-Lamination With Mud Drapes Bioturbation, (5) Litofasies Batupasir Wavy Ripple Cross-Lamination With Mud Flasher. Analisis rock type (RT) dari reservoir batupasir E3140, Formasi Balikpapan terdiri dari 5 rock type. Salah satunya pada sumur BRS030 yang memiliki data routine core analysis (RCAL) dan memiliki data nilai produksi kumulatif minyak 6.722.949 STB dan kumulatif gas 1.560.048 MScf, pada asosiasi fasies distributary channel sebagai penghasil hidrokarbon utama dapat dibagi menjadi 3 rock type (RT) yaitu RT 01 yang memiliki kualitas yang sangat baik dengan nilai FZI ? 6,278, nilai porositas 32,30% – 32,5% dan nilai permeabilitas 2830,5 mD – 444,3 mD, RT 02 dengan kualitas baik dengan nilai FZI 3,62 – 6,03, nilai porositas 30,2% - 35,7%, dan nilai permeabilitas 772 mD – 2955 mD, dan RT03 dengan kualitas sedang dengan nilai FZI 0,223 – 3,603, nilai porositas 27,7% –34,7% dan nilai permeabilitas 277 mD – 1256 mD. Hasil analisis dari rock type ini juga nantinya akan digunakan untuk melakukan prediksi permeabilitas berdasarkan hasil klasifikasi RT-nya dengan menggunakan hubungan antara nilai permeabilitas dari data routine core analysis (RCAL) dan normalized porosity. Rock type pada sumur-sumur reservoir E3140 Formasi Balikpapan yang tidak memiliki data routine core analysis (RCAL) diprediksi dengan menggunakan multi resolution graph-based clustering (MRGC). Pemodelan properti reservoir seperti pemodelan penyebaran rock type, pemodelan penyebaran volume shale, pemodelan penyebaran porositas, dan pemodelan penyebaran prediksi permeabilitas berdasarkan klasifikasi rock type dikontrol oleh pemodelan asosiasi fasies pada reservoir E3140, Formasi Balikpapan, Lapangan Beras. Hal ini diharapkan mampu menghasilkan model geologi reservoir E3140, Formasi Balikpapan yang mampu menggambarkan tingkat karakteristik heterogenitas reservoirnya.
APAKAH 'BUATAN INDONESIA' PENTING? STUDI TENTANG PERSEPSI ASAL MEREK PADA MEREK FESYEN INDONESIA: STUDI KASUS SUKO
Penelitian ini menyelidiki apakah negara asal (COO) produk fesyen secara signifikan mempengaruhi niat pembelian konsumen di Indonesia, khususnya menguji merek lokal SUKO. Studi ini mengatasi tantangan bisnis kritis yang dihadapi Matahari Department Store: meskipun SUKO memiliki keunggulan kompetitif termasuk distribusi ritel strategis di 142 toko di 79 kota dan kontrol vertikal penuh rantai pasokan, merek ini kesulitan mengonversi kesadaran konsumen menjadi niat pembelian. Masalah inti berasal dari kesenjangan persepsi-kualitas, di mana konsumen Indonesia mungkin secara sistematis meremehkan kualitas SUKO karena bias COO yang menguntungkan merek asing dan kepercayaan xenosentrisme konsumen bahwa produk asing secara inheren lebih unggul daripada alternatif domestik. Penelitian ini menggunakan desain penjelasan kuantitatif yang memanfaatkan Pemodelan Persamaan Struktural Kuadrat Terkecil Parsial (PLS-SEM) untuk menguji kerangka konseptual yang didasarkan pada teori Country-of-Origin, Theory of Planned Behavior, dan konstruk kualitas yang dirasakan. Data dikumpulkan dari 230 responden beragam usia di Jabodetabek yang memiliki kesadaran tentang merek SUKO melalui kuesioner daring terstruktur. Kerangka kerja mengusulkan lima hubungan yang dihipotesiskan: (H1) persepsi negara-asal secara signifikan mempengaruhi kualitas yang dirasakan; (H2) superioritas/inferioritas produk secara signifikan mempengaruhi kualitas yang dirasakan; (H3) persepsi marketing mix yang dirasakan (4Ps) secara signifikan mempengaruhi kualitas yang dirasakan; (H4) perceived quality secara signifikan mempengaruhi sikap terhadap pembelian; dan (H5) sikap terhadap pembelian secara signifikan mempengaruhi niat pembelian. Temuan penelitian diperkirakan akan mengungkapkan isyarat ekstrinsik dan intrinsik mana yang paling kuat membentuk persepsi kualitas konsumen dan niat pembelian berikutnya untuk SUKO. Hasil dari penilaian model pengukuran mengkonfirmasi reliabilitas kuat dan validitas konvergen di semua konstruk. Namun, analisis validitas diskriminan menggunakan rasio Heterotrait-Monotrait (HTMT) mengungkapkan tumpang tindih konseptual yang substansial antara beberapa konstruk, menunjukkan bahwa dimensi perseptual mengenai elemen bauran pemasaran dan atribut merek sangat saling terkait dalam kognisi konsumen. Penilaian model struktural akan mengevaluasi kekuatan relatif setiap jalur dalam memprediksi niat pembelian, dengan demikian mengidentifikasi mekanisme psikologis dominan di mana COO dan faktor perseptual mempengaruhi perilaku konsumen di pasar fesyen cepat lokal. Penelitian ini berkontribusi secara teoritis dengan memperluas penelitian COO ke konteks spesifik pasar berkembang Asia Tenggara dan kompetisi merek lokal, sambil menerangi bagaimana Attitude towards purchase beroperasi dalam perilaku konsumen fesyen. Secara manajerial, studi ini menyediakan Matahari dengan rekomendasi strategis untuk memposisikan SUKO guna mengatasi kewajiban COO dan memanfaatkan tren lokalisme yang mendukung merek domestik. Penelitian mengidentifikasi bahwa mayoritas responden menemukan SUKO melalui platform media sosial (khususnya Instagram dan TikTok), mengungkapkan peluang pemasaran digital yang kritis. Analisis deskriptif konsumen menunjukkan pasar target mayoritas terdiri dari konsumen milenial dan Gen Z yang sensitif harga dengan lebih dari setengah membeli fesyen satu hingga dua kali sebulan dan kebanyakan mengeluarkan kurang dari Rp150.000 per bulan untuk fesyen. Rekomendasi strategis akan mengatasi penentuan posisi, komunikasi pemasaran, sinyal kualitas produk, dan integrasi ritel omnisaluran yang diperlukan agar SUKO membangun persepsi kualitas kredibel dan konversi di antara konsumen milenial Indonesia meskipun persaingan merek internasional.
ANALISIS KESENJANGAN KUALITAS FASILITAS PENDUKUNG BLEISURE TOURISM DAN TINGKAT KEPUASAN BLEISURE DI KOTA BANDUNG
Pengembangan pariwisata perkotaan yang mengakomodasi bleisure tourism yang merupakan perjalanan bisnis yang dikombinasikan dengan aktivitas leisure/wisata, aktivitas tersebut membutuhkan dukungan fasilitas pendukung yang memadai agar wisatawan merasa nyaman serta terdorong untuk memperpanjang masa tinggal dan melakukan aktivitas wisata di destinasi. Kota Bandung sebagai kota bisnis sekaligus destinasi wisata memerlukan pemetaan kualitas fasilitas pendukung bleisure dari sudut pandang wisatawan sebagai pengguna langsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesenjangan (gap) kualitas fasilitas pendukung bleisure tourism serta tingkat kepuasan wisatawan bleisure di Kota Bandung. Dimensi kualitas fasilitas yang dianalisis mencakup aspek bukti fisik (tangibles) yang relevan dengan konteks bleisure yang terdiri dari 5 dimensi yaitu accomodation, business facilities, leisure facilities, family-friendly facilities, dan accesibilities.Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode deskriptif-evaluatif dengan jumlah sampel 160 responden wisatawan bleisure. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Skala pengukuran menggunakan skala Likert. Metode analisis data menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI), analisis gap (importance–performance), dan Importance Performance Analysis (IPA). Hasil analisis menunjukkan nilai CSI sebesar 79,70% yang mengindikasikan bahwa secara keseluruhan wisatawan bleisure merasa puas terhadap fasilitas pendukung bleisure tourism di Kota Bandung. Namun, hasil analisis gap menunjukkan bahwa performance < importance dengan nilai 3,18 < 3,39 dan rata-rata gap sebesar -0,21, yang berarti kualitas fasilitas pendukung yang dirasakan belum sepenuhnya memenuhi harapan wisatawan bleisure. Hasil analisis IPA menunjukkan atribut yang menjadi prioritas utama untuk diperbaiki meliputi transportasi umum di dalam Kota Bandung, tourists Information Center (TIC) dan signage atau petunjuk arah. Temuan ini diharapkan menjadi masukan bagi pengelola destinasi dan pemerintah Kota Bandung dalam meningkatkan kualitas fasilitas pendukung bleisure tourism untuk memperkuat daya saing pariwisata Kota Bandung.
KAJIAN MORFOLOGI SUNGAI AKIBAT BANGUNAN PENGENDALI SEDIMEN DI SUNGAI SALUKI KAB. SIGI PROV. SULAWESI TENGAH
Bencana gempa bumi berkekuatan 7,4SR yang terjadi pada 28 September 2018 di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah tidak hanya menimbulkan dampak langsung berupa kerusakan infrastruktur, tetapi juga memberikan pengaruh terhadap kondisi geoteknik di daerah hulu sungai, termasuk di Sungai Saluki. Gempa mengganggu stabilitas tanah di hulu Sungai Saluki sehingga mudah tererosi pada saat hujan. 30% wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Saluki terdiri dari material yang tidak stabil sehingga sangat rentan terhadap aliran debris pada saat terjadi hujan. Fenomena ini akan berkontribusi terhadap peningkatan beban sedimen yang terbawa aliran permukaan menuju Sungai Saluki, dan akan mempengaruhi fungsi bendung dan intake air baku yang baru selesai dibangun pada Tahun 2024 sebagai bentuk upaya rehabilitasi rekonstruksi pasca bencana yang berfungsi untuk menyediakan air baku bagi Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Upaya penanganan pengendalian sedimen yang telah dilakukan adalah pembangunan 1 unit sabodam di hulu Bendung Saluki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas Sungai Saluki dalam menerima dan mengalirkan aliran debris, menganalisis perubahan morfologi Sungai Saluki akibat adanya bangunan pengendali sedimen, dan menganalisis kapasitas dan kinerja penangkapan sedimen oleh sabodam di Sungai Saluki. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan pemodelan aliran debris dan pemodelan sedimentasi menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 1 Dimensi. Pemodelan aliran debris menggunakan parameter Non-Newtonian Bingham dengan debit banjir rencana Q2 dan Q100. Pemodelan sedimentasi dilakukan dengan kondisi debit harian satu tahun dan kondisi Q100. Berdasarkan hasil pemodelan aliran debris, dengan adanya sabodam tidak mempengaruhi tinggi muka air secara signifikan. Sungai Saluki mampu mengalirkan aliran debris hingga Q100. Hasil pemodelan sedimentasi kondisi debit harian satu tahun menunjukan agradasi sungai pada area yang terpengaruh bangunan sabodam, dan degradasi pada hilir Bendung Saluki. Hasil pemodelan sedimentasi kondisi Q100, terjadi agradasi pada area terpengaruh bangunan sabodam pada area hilir tidak terjadi perubahan morfologi sungai yang signifikan. Pada Skema 2 (Sabodam 1) kondisi debit harian, diperoleh umur layan (kapasitas) Sabodam 1 = 1 tahun, dengan kinerja penangkapan sedimen mencapai 27,91%, serta terjadi pengurangan pada area bendung sebesar 82,17%. Kondisi debit Q100, kinerja penangkapan sedimen mencapai 16,58% dan pengurangan sedimen pada area bendung sebesar 75,12%. Pada Skema 3 (Sabodam 1, Sabodam 2, dan Sabodam 3) kondisi debit harian diperoleh umur layan (kapasitas) Sabodam 1 = 19, Sabodam 2 = 4 tahun, dan Sabodam 3 = 4 tahun, dengan kinerja penangkapan sedimen secara total mencapai 35,35%, serta terjadi pengurangan pada area bendung sebesar 92,30%. Kondisi debit Q100, kinerja penangkapan sedimen secara total mencapai 68,54% dan pengurangan sedimen pada area bendung sebesar 100%.
KAJIAN KOMPREHENSIF LANDAS KONTINEN EKSTENSI DI LAUT UTARA PAPUA INDONESIA
Pasal 76 United Nations Law of the Sea Convention (UNCLOS) menyatakan bahwa sebuah negara pantai memungkinkan memiliki Landas Kontinen melebihi 200 mil laut yang diukur dari garis pangkalnya. Hal ini juga dikenal dengan istilah Landas Kontinen Ekstensi (LKE). Negara pantai dapat melakukan submisi batas terluar LKE ini dan mengajukannya kepada Komisi Batas Landas Kontinen (Commission on the Limits of Continental Shelf, CLCS) melalui Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jika memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil studi terdahulu (Desktop Study) yang mengkaji data geologi, seismik, graviti, dan hasil survei batimetri berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan dalam UNCLOS 1982 menunjukkan bahwa di 3 lokasi Indonesia memiliki prospek untuk melaksanakan submisi LKE yaitu, di sebelah Barat Aceh, Selatan pulau Sumba dan Utara pulau Papua. Tugas Akhir ini bertujuan untuk memaparkan secara komprehensif potensi klaim batas Landas Kontinen Ekstensi sebelah utara Papua. Dalam Tugas Akhir ini juga dikaji realisasi dan hasil survei batimetri dan survei seismik yang telah dilakukan untuk mendapatkan data profil kedalaman dan data ketebalan 1% sedimen di laut utara Papua sebagai syarat teknis untuk submisi Landas Kontinen Ekstensi. Adapun hasil survei yang telah dilakukan, didapat data profil kedalaman dan data 1% ketebalan sedimen di Utara Papua yang memiliki potensi sangat kecil kemungkinannya untuk bisa menambah Batas LKE di Utara Papua.