📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 57 dokumenDESAIN POLDER PLUMBON SEBAGAI PENGENDALIAN BANJIR WILAYAH PESISIR KECAMATAN TUGU KOTA SEMARANG
Banjir merupakan permasalahan yang sering terjadi di wilayah pesisir Kota Semarang, khususnya di Kecamatan Tugu, akibat luapan Sungai Plumbon dan Sungai Beringin. Kejadian banjir ini menimbulkan kerugian material dan mengganggu aktivitas masyarakat setempat. Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk mengendalikan banjir di wilayah tersebut. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang sistem polder Plumbon sebagai upaya pengendalian banjir di wilayah pesisir Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Metodologi yang digunakan meliputi analisis hidrologi untuk menentukan debit banjir rencana dengan periode ulang 25 tahun, pemodelan hidraulika menggunakan HEC-RAS, serta perencanaan kolam retensi dan stasiun pompa. Analisis hidrologi dilakukan dengan metode poligon Thiessen untuk menghitung curah hujan wilayah, dilanjutkan dengan analisis frekuensi menggunakan distribusi Gumbel, dan simulasi hidrograf banjir dengan metode Nakayasu dan SCS. Hasil analisis menunjukkan bahwa debit banjir rencana untuk DAS Plumbon dan DAS Beringin masing-masing adalah 189,175 m³/s dan 239,979 m³/s. Solusi yang direkomendasikan adalah pembangunan polder Plumbon dengan kolam retensi berkapasitas 4,5 juta m³, dilengkapi sistem pompa berkapasitas 3,5 m³/s untuk satu pompa dengan jumlaah total adalah 15 dan saluran intake untuk mengalirkan air kekolam untuk ditampung. Analisis stabilitas lereng menunjukkan faktor keamanan memenuhi kriteria SNI 8460:2017. Selain itu, disusun pula rencana operasi dan pemeliharaan serta perhitungan anggaran biaya sebesar 535,577 miliar rupiah.
KETIDAKAMANAN AIR DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEJAHTERAAN PEREMPUAN DI WILAYAH SEMI-KERING INDONESIA: STUDI KASUS DESA NANSEAN DAN OENENU SELATAN, NUSA TENGGARA TIMUR
Ketidakamanan air tetap menjadi isu krusial, khususnya di wilayah semi-kering di mana masyarakat menghadapi tantangan dalam mengakses air bersih dan dampak perubahan iklim. Masalah ini memengaruhi kesehatan fisik maupun mental, dengan perempuan di daerah pedesaan berpendapatan rendah terdampak secara tidak proporsional karena peran mereka dalam pengambilan dan pengelolaan air. Di wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, Indonesia, perempuan mengalami beban fisik, tekanan psikologis, dan tantangan relasional akibat tugas pengambilan air yang memakan waktu, diperburuk oleh faktor lingkungan seperti medan yang terjal dan iklim yang kering. Beban ini menghambat kesejahteraan perempuan, kesetaraan gender, dan ketahanan masyarakat. Penelitian menunjukkan dampak negatif kelangkaan air terhadap kesehatan fisik dan mental perempuan, serta ketimpangan gender yang diperkuat oleh kondisi ini. Meskipun telah ada berbagai temuan berharga, masih terdapat kesenjangan dalam pemahaman mengenai faktor-faktor spesifik wilayah yang memengaruhi perempuan di daerah semi-kering. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak psikologis, fisik, dan aspek keamanan dari ketidakamanan air terhadap perempuan di Nusa Tenggara Timur, sekaligus menganalisis bagaimana aktivitas pengambilan air memengaruhi kesejahteraan relasional dalam keluarga dan masyarakat. Penelitian ini menggunakan kerangka Relational Well-being (RWB) untuk memahami keterhubungan antaradimensi individu, relasional, dan sosial, serta menggunakan kerangka Feminist Political Ecology (FPE) untuk menelaah aspek gender dalam akses air. Studi ini memberikan kontribusi pada pemahaman mengenai ketidakamanan air yang berperspektif gender dan menawarkan wawasan untuk pengelolaan air yang berkelanjutan di Indonesia.
STRATEGI PENINGKATAN KETAHANAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR
Perubahan iklim global memberikan dampak signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk ketersediaan sumber daya air, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, infrastruktur perkotaan, dan tempat tinggal. Salah satu dampak paling nyata adalah meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi ekstrem seperti banjir, yang menyebabkan kerusakan fisik dan dampak sosial yang luas di kawasan perkotaan. Kabupaten Bandung merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap banjir dengan tingkat kejadian yang tinggi serta dampak signifikan terhadap penduduk dan infrastruktur. Faktor utama penyebab banjir di daerah ini adalah perubahan tata guna lahan, peningkatan kepadatan penduduk, dan tingginya curah hujan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi ketahanan daerah dalam menghadapi perubahan iklim, khususnya terhadap bencana banjir. Metode yang digunakan adalah metode campuran dengan analisis profil perlindungan sosial adaptif, ketahanan perkotaan, dan strategi peningkatan ketahanan. Penilaian ketahanan dilakukan berdasarkan sepuluh esensial ketahanan perkotaan yang kemudian diolah untuk merumuskan strategi peningkatan ketahanan daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan daerah masih terbatas, yang ditunjukkan oleh kurangnya kolaborasi multipihak, lemahnya regulasi yang mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana, sistem peringatan dini yang belum terintegrasi, penerapan solusi berbasis alam yang masih minim, serta keterbatasan mekanisme pembiayaan dan kapasitas sumber daya manusia. Penguatan aspek-aspek tersebut melalui kolaborasi lintas sektor, penyediaan regulasi yang mendukung, pengembangan teknologi peringatan dini, dan peningkatan kapasitas kelembagaan menjadi kunci untuk meningkatkan ketahanan daerah secara berkelanjutan. Temuan penelitian ini dapat memberikan arahan strategis bagi pembuat kebijakan dalam memperkuat adaptasi perubahan iklim di tingkat daerah, khususnya dalam pengelolaan risiko banjir di Kabupaten Bandung.
IDENTIFIKASI SUMBER KELEMBAPAN DI BENUA MARITIM INDONESIA KETIKA MONSUN-ASIA-MUSIM-DINGIN DAN VARIABILITASNYA BERDASARKAN ENSO
Benua maritim Indonesia (BMI) memiliki peran yang sangat penting dalam dinamika atmosfer global, sebagai wilayah pertemuan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Tidak hanya sebagai penghasil kelembapan lokal tapi juga penerima kelembapan dari wilayah sekitarnya. Pada musim dingin (Desember - Februari), BMI dipengaruhi oleh Monsun Asia Musim Dingin (MAMD) yang membawa kelembapan dari Pasifik Barat, Laut China Selatan dan Samudra Hindia. Variabilitas ENSO (El Niño-Southern Oscillation) juga berpengaruh besar terhadap transpor kelembapan dan distribusi curah hujan di BMI. Namun, hingga saat ini, sumber – sumber kelembapan dan distribusi curah hujan di wilayah Benua Maritim Indonesia masih belum sepenuhnya diidentifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lintasan transpor kelembapan dan area sumber kelembapan yang masuk ke wilayah BMI serta variabilitasnya saat ENSO (El Niño kuat dan La Niña kuat) di periode MAMD. Analisis dilakukan dengan menggunakan data ERA5 untuk periode MAMD selama September Februari, di saat La Niña kuat 2010-2011, El Niño kuat 2015-2016 dan kondisi normal 2013-204. Identifikasi dilakukan selama 10 harian dengan pendekatan analisis lintasan mundur menggunakan model Hybrid Single-Particle Lagrangian Integrated Trajectory (HYSPLIT) untuk mensimulasikan setiap 36 titik yang disebar di wilayah target A dan B (diidentifikasi sebagai pintu masuk kelembapan spesifik ke wilayah BMI) pada 3 level ketinggian yang mewakili boundary layer. Lalu analisi perhitungan persen Contribution Ratio (Cri) untuk wilayah penyerapan (moisture uptake) yang masuk ke lokasi target A dan B. Hasil menunjukan bahwa wilayah target A saat MAMD dengan persen CRi >10% secara umum bervariasi diwilayah sumber daratan China ketika kondisi normal maupun ENSO kuat terjadi. Dan wilayah B secara umum bervariasi di wilayah sumber Samudra Pasifik Barat dengan persen CRi >10% saat La Niña, 8% saat El Niño dan 7% saat kondisi normal. Temuan ini mengidentifikasi bahwa variabilitas ENSO mempengaruhi area dan transpor kelembapan yang masuk ke wilayah BMI.
PERANCANGAN UNIT KOAGULASI, AERASI, FLOKULASI, DAN SEDIMENTASI PADA INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) PESANGGRAHAN KOTA JAKARTA SELATAN
Cakupan pelayanan air perpipaan di DKI Jakarta hingga saat ini masih belum mencapai 100% sementara kebutuhan air akan terus meningkat seiring berjalannya waktu. Pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pesanggrahan menjadi salah satu upaya meningkatkan cakupan pelayanan yang direncanakan melayani 6 kelurahan di Jakarta Selatan. Berdasarkan hasil proyeksi kebutuhan air domestk dan non-domestik, debit pengolahan IPA Pesanggrahan untuk 20 tahun sebesar 860 LPS. Sumber air baku diambil dari Kali Pesanggrahan, apabila mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023, Kali Pesanggrahan dapat digunakan sebagai sumber air baku dengan beberapa pengolahan untuk menyisihkan parameter yang belum memenuhi baku mutu. Konfigurasi alternatif pengolahan dipilih melalui matriks pemilihan teknologi dari JICA, AWWA, dan SNI lalu diseleksi menggunakan metode SAW. Konfigurasi pengolahan di IPA Pesanggrahan terdiri dari Intake, Koagulasi, Aerasi, Flokulasi, Sedimentasi, Filtrasi, Reservoir dan Disinfeksi dengan Gravity Thickener dan Belt Filter Press ssebagai Pengolahan Lumpur. Tipe unit pengolahan yang digunakan untuk Koagulasi dan Aerasi adalah Koagulasi-Aerasi Terjunan dengan koagulan PAC, Flokulasi adalah Baffled Flocculation, dan Sedimentasi adalah Sedimentasi Plate Settler. Analisis ekonomi dan finansial untuk IPA juga dilakukan dengan Anggaran Biaya Investasi (CAPEX) untuk Koagulasi, Flokulasi dan Sedimentasi didapat sebesar Rp19.324.026.213,73 dan Anggaran Biaya Operasional (OPEX) didapat sebesar Rp28.491.679,00. IPA Pesanggrahan direncanakan akan mendapatkan pendapatan dari biaya retribusi penjualan air dengan tarif Rp5.500/????3. Berdasarkanhasil analisis kelayakan finansial dengan metode NPV mendapatkan nilai positif, dengan metode BCR mendapatkan nilai lebih dari 1 sehingga proyek pembangunan IPA Pesanggrahan dikatakan layak secara finansial dengan Payback Period yang relative singkat selama 14 tahun
PERANCANGAN UNIT FILTRASI, DISINFEKSI, RESERVOIR, DAN PENGOLAHAN LUMPUR PADA INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) PESANGGRAHAN KOTA JAKARTA SELATAN
Untuk mencapai target cakupan layanan air perpipaan 100% pada 2030, Perumda PAM JAYA merencanakan pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pesanggrahan di Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. Proyek ini ditujukan untuk meningkatkan akses air bersih perpipaan di 10 kelurahan dengan target 45.000 pelanggan baru. IPA Pesanggrahan direncanakan memiliki kapasitas 860 liter per detik dengan luas lahan ±9.000 m², menggunakan horizon perencanaan 20 tahun (2029–2048). Perancangan dilakukan pada 2025–2026, sedangkan konstruksi berlangsung pada 2026–2029. Sumber air baku berasal dari Sungai Pesanggrahan yang berjarak ±600 meter dari lokasi IPA. Hasil uji laboratorium menunjukkan beberapa parameter kualitas air baku, seperti TSS, kekeruhan, warna, kadar besi, mangan, COD, BOD, serta kandungan mikrobiologis (total koliform dan fekal koliform), melebihi ambang batas baku mutu. Oleh karena itu, berbagai alternatif pengolahan dirancang dan dievaluasi menggunakan metode pembobotan Simple Additive Weighting (SAW) dengan kriteria efisiensi, kebutuhan lahan, kemudahan operasional, dan biaya. Alternatif terpilih (skor 2,75) meliputi koagulasi dan aerasi terjunan, flokulasi hidrolis tipe baffle channel, sedimentasi dengan plate settler, filtrasi pasir cepat dual media, disinfeksi klorin, serta pengolahan lumpur dengan gravity thickener dan belt filter press. Analisis teknis meliputi desain unit dan profil hidrolis untuk efisiensi aliran. Dari aspek finansial, biaya pembangunan unit filtrasi, disinfeksi, reservoir, dan pengolahan lumpur adalah Rp31,76 miliar dari total biaya Rp86,16 miliar. Biaya operasional tahunan mencapai Rp8,36 miliar dari total Rp42,96 miliar per tahunnya. Sumber pendanaan berasal dari Penyertaan Modal Daerah (PMD) DKI Jakarta. Analisis kelayakan menunjukkan NPV positif Rp78,39 miliar, BCR sebesar 1,1, dan payback period 14 tahun. Hasil ini menegaskan bahwa pembangunan IPA Pesanggrahan layak secara teknis maupun finansial.
PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR SUBSISTEM BANGER LAMA, KOTA PEKALONGAN, PROVINSI JAWA TENGAH
Kota Pekalongan, khususnya Subsistem Drainase Banger Lama Kota Pekalongan merupakan sebuah wilayah yang seringkali mengalami banjir. Banjir tersebut disebabkan oleh beberapa sebab, seperti dataran yang rendah dan relatif datar, alih fungsi lahan meningkat, sedimentasi sungai, dan diperparah dengan adanya penurunan muka tanah. Permasalahan tersebut menyebabkan bencana banjir yang merugikan dan mengganggu aktivitas manusia. Selain itu, banjir juga meningkatkan risiko bagi kesehatan serta lingkungan. Untuk mengatasi permasalahan banjir tersebut, direncanakan pengendalian banjir yang didasarkan pada curah hujan periode ulang 5 tahun untuk drainase, debit periode ulang 20 tahun untuk inflow sungai, dan juga kondisi HHWL pada bagian hilir pesisirnya. Penelitian ini dimaksudkan untuk merencanakan sistem pengendalian banjir yang dapat diterapkan pada Subsistem Banger Lama, Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. Sistem pengendalian banjir yang akan diterapkan dalam penelitian ini adalah pelebaran saluran drainase untuk saluran yang mengalami limpas, penambahan pompa dengan kapasitas 250 liter.detik pada drainase, Pembangunan dua kolam retensi, yaitu Kolam Retensi Krapyak dan Kolam Retensi Klego, serta penambahan pompa dengan kapasitas 0.75 liter/detik untuk Kolam Retensi Krapyak dan 0.70 liter/detik untuk Kolam Retensi Klego. Pemodelan yang digunakan dalam menopang penelitian ini adalah pemodelan hidraulika melalui perangkat lunak PCSWMM yang dilakukan dengan analisis 1D dan 2D. Pemodelan yang dilakukan dalam 2D (dua dimensi) untuk meninjau genangan dan muka air banjir yang terjadi. Alternatif solusi yang dipilih adalah solusi gabungan dari setiap alternatif solusi yang menunjukkan persentase reduksi luas genangan sebesar 46% dari luas genangan eksisting. Berdasarkan analisis rencana anggaran biaya (RAB), total RAB yang diperlukan untuk pembangunan system pengendalian banjir adalah Rp195,136,937,010.49.
KAJIAN SEDIMENTASI AKIBAT PEMBANGUNAN RIGPAD TERHADAP MORFOLOGI PANTAI LANGKAT DI KABUPATEN LANGKAT, PROVINSI SUMATERA UTARA
Wilayah pesisir Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, merupakan kawasan strategis yang memiliki potensi sumber daya alam berupa minyak dan gas bumi (migas). Dalam rangka mendukung kegiatan eksplorasi dan produksi migas, telah direncanakan pembangunan rigpad melalui metode reklamasi di wilayah perairan dangkal pesisir Langkat. Namun, pembangunan infrastruktur pesisir seperti rigpad di wilayah pesisir yang dinamis ini dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan sistem pesisir, khususnya terhadap proses sedimentasi dan kondisi morfologisnya. Oleh karena itu, dilakukan studi yang bertujuan untuk mengevaluasi dampak dari pembangunan dengan metode reklamasi terhadap kondisi sedimentasi dan morfologi pesisir. Studi ini dilakukan dengan pendekatan numerik berbasis pemodelan hidrodinamika dan transpor sedimen. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Delft3D yang mampu mensimulasikan kondisi pasang surut, arus, gelombang, serta distribusi dan akumulasi sedimen dalam jangka panjang. Dilakukan dua skenario pemodelan, yakni skenario eksisting (2019 – 2023 dan 2023 – 2033) dan reklamasi (2023 – 2033), untuk mengetahui perbandingan antara kondisi setelah dilakukan pembangunan dan kondisi natural wilayah studi. Data input yang digunakan berupa data pasang surut, angin, gelombang, batimetri, debit sungai, dan data sedimen yang diolah dengan metode pendekatan tertentu sebelum akhirnya dilakukan pemodelan. Kalibrasi model dilakukan dengan perbandingan data model skenario eksisting dalam periode tertentu dengan perubahan batimetri yang terjadi dari pengamatan satelit General Bathymetric Chart of the Oceans (GEBCO) untuk tahun 2019 dan 2023. Analisis dilakukan terhadap beberapa komponen utama. Pertama, analisis hidrodinamika terkait pasang surut, gelombang, dan pola arus yang akan menjadi dasar penggerak sedimen. Kedua, analisis transpor sedimen yang dilakukan untuk mengidentifikasi zona akumulasi sedimentasi dan erosi di sekirat muara, sepanjang garis pantai, dan wilayah struktur. Ketiga, analisis perubahan batimetri secara spasial dan temporal untuk melihat dampak reklamasi terhadap elevasi dasar laut. Keempat, analisis terhadap zona wilayah lokasi studi, meliputi zona pasang surut dan pergeseran garis pantai. Analisis garis pantai eksisting, menunjukkan bahwa terdapat akumulasi sedimen di sepanjang 3.4 km area sisi kanan muara (bagian timur), sementara di sisi kanan ii (bagian barat) sedimentasi terjadi sejauh 1.4 km. Secara longitudinal garis pantai, pantai barat mengalami sedimentasi sepanjang ±1,4 km dengan akumulasi sedimen yang cukup besar, sekitar 1.4 m. Sementara bagian timur menunjukkan akresi yang lebih jauh sepanjang ±2,5 km, dengan rata-rata sedimentasi sebesar 0.4 m. Hal ini menunjukkan ketidak simetrisan kondisi sedimentasi di bagian pantai barat dan timur. Berdasarkan analisis spasial pasang surut, garis HHWL (Highest High Water Level) dan LLWL (Lowest Low Water Level) menunjukkan pergeseran ke arah laut setelah reklamasi. Perubahan ini menunjukkan bahwa akresi pantai mengakibatkan pergeseran zona pasang surut. Indikasi pergeseran pasang surut ini sejalan dengan zona sedimentasi dan erosi yang terjadi yang lebih dominan di pantai barat dibandingkan dengan timur. Hasil pemodelan setelah reklamasi menunjukkan bahwa reklamasi rigpad memberikan dampak signifikan terhadap pola arus dan distribusi sedimen di sekitar lokasi pembangunan. Struktur reklamasi menyebabkan perubahan arah dan kecepatan arus laut, menghasilkan zona-zona deposisi baru di sisi hulu (updrift) dan potensi erosi di sisi hilir (downdrift) rigpad. Pada kedua bagian pantai, terjadi sedimentasi untuk wilayah yang dekat dengan muara. Di sisi kiri, terjadi akumulasi sedimen namun dengan skala yang lebih terbatas. Di sisi kanan, terjadi penumpukan sedimen yang cukup besar karena pengaruh struktur. Sementara itu, muara sungai tetap terbuka dan tidak mengalami penutupan, yang menunjukkan bahwa proses flushing dari debit sungai masih berlangsung. Berdasarkan hasil kajian, terlihat bahwa pengaruh dari kondisi musiman sangat berperan terhadap kondisi morfologi pantai. Hal ini terlihat dengan perbedaan kumulatif dimensi sedimentasi yang terjadi pada wilayah pantai timur lebih besar dibandingkan dengan wilayah pantai barat. Struktur juga berpengaruh terhadap kondisi sedimentasi dan erosi pada wilayah studi yang perlu dipertimbangkan.
ANALISIS KUALITAS AIR SUNGAI MENGGUNAKANQUAL2KW DAN HUBUNGANNYA DENGAN MAKROZOOBENTOS (STUDI KASUS: SUNGAI CITUMANG)
Penelitian ini dilakukan di Sungai Citumang, Kabupaten Pangandaran untuk menganalisis pengaruh variasi penggunaan lahan terhadap kualitas air dan keanekaragaman makrozoobentos sebagai bioindikator kualitas air. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan di sepanjang DAS memengaruhi kualitas air dan keanekaragaman makrozoobentos yang ditunjukkan oleh penurunan indeks keanekaragaman pada kawasan dengan tekanan antropogenik tinggi dibandingkan kawasan alami. Sebanyak 5 titik sampling dipilih berdasarkan variasi pengunaan lahan di sepanjang Sungai Citumang yaitu hutan alami, perkebunan, pertanian, hingga pemukiman yang dilakukan secara period pada bulan Mei, Juni, dan Oktober 2024. Analisis statistik digunakan mencakup ANOVA untuk menguji perbedaan kualitas air, indeks biotik untuk mengukur tekanan ekologis. HCA dan SIMPER untuk mengelompokkan dan mengidentifikasi spesies kunci, serta CCA untuk menganalisis hubungan antara keanekaragaman makrozoobentos dengan parameter fisikokimia air dan sedimen. Hasil analisis menunjukkan Clithon sp., dan Melanoides sp., ditemukan di hutan alami, perkebunan, dan pertanian beraosiasi dengan oksigen tinggi, pH, kecerahan air, serta sedikit peningkatan konsentrasi nitrat dan fosfat. Dominasi distribusi partikel sedimen berupa gravel dan sand juga berasosiasi dengan spesies tersebut menjadikan kedua spresies tersebut sebagai bioindikator potensial perairan dengan kualitas air baik hingga sedang. Pada penggunaan lahan pemukiman didominasi oleh spesises khas estuari seperti Faunus sp., yang berasosiasi dengan salinitas, TDS, konduktivitas, COD, BOD, nitrit, serta suhu air yang meningkat menjadikan spesies tersebut sebagai bioindikator potensial perairan dengan kualitas air yang buruk. Seluruh analisis statistik dilakukan menggunakan PAST versi 4.03.
ANALISIS ANCAMAN BANJIR AKIBAT PENURUNAN MUKA TANAH DI SUB SISTEM DRAINASE LOJI, KOTA PEKALONGAN
Kota Pekalongan merupakan wilayah dataran rendah yang sangat rentan terhadap banjir akibat curah hujan ekstrem dan penurunan muka tanah. Penelitian ini dilakukan di Sub Sistem Drainase Loji untuk mengevaluasi pengaruh kedua faktor tersebut terhadap karakteristik banjir serta kinerja sistem drainase eksisting. Metode yang digunakan adalah pemodelan hidrologi dan hidraulika dua dimensi berbasis perangkat lunak PCSWMM 2D. Skenario pemodelan dibangun dengan kombinasi curah hujan periode ulang (2, 5, dan 10 tahun) serta kondisi topografi eksisting dan proyeksi 20 tahun mendatang berdasarkan data deformasi dari citra satelit Sentinel-1. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting, kenaikan curah hujan dari Tr = 2 ke Tr = 10 tahun meningkatkan kedalaman genangan sebesar 43%, kecepatan aliran 27%, dan durasi genangan 5%. Sementara itu, pada kondisi proyeksi dengan penurunan muka tanah, kenaikan yang sama menghasilkan peningkatan kedalaman sebesar 33%, penurunan kecepatan sebesar 11%, dan durasi tetap stagnan. Jika dibandingkan langsung, kedalaman genangan pada proyeksi meningkat 18%–20% dibanding eksisting untuk Tr yang sama. Sebaliknya, kecepatan aliran menurun 11%–12%, dan durasi genangan hanya sedikit berbeda (turun ±2%). Kapasitas saluran sekunder tampak meningkat secara semu pada proyeksi (naik 4% pada Tr = 2 tahun) karena air tertahan di lahan akibat deformasi. Saluran tersier tetap menunjukkan performa buruk dengan kenaikan efektivitas hanya 2%. Beban kerja pompa meningkat lebih dari 30% karena air harus diangkat dari elevasi yang lebih rendah, sementara efektivitas kolam retensi turun 20–25% akibat terputusnya aliran permukaan menuju kolam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem drainase eksisting belum adaptif terhadap perubahan iklim dan geoteknik jangka panjang. Perencanaan ke depan perlu mencakup desain saluran berbasis perubahan elevasi, peningkatan kapasitas pompa, dan pemulihan konektivitas hidrologi kolam retensi.
PERENCANAAN LANSKAP PENGENDALI BANJIR DI KOTA SURABAYA
Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, sangat rentan terhadap banjir karena kondisi tipologi fisik dan infrastruktur drainase yang tidak memadai. Kerentanan kota ini diperparah dengan terbatasnya ruang terbuka untuk menampung dan menyerapkan air limpasan hujan sehingga menyebabkan dampak lingkungan yang semakin buruk. Tesis ini bertujuan untuk mengembangkan rencana pengelolaan banjir yang komprehensif untuk Surabaya, dengan fokus pada integrasi prinsip-prinsip Water Sensitive Urban Design (WSUD) untuk mengurangi risiko banjir. Tesis ini membahas pemetaan risiko banjir yang komprehensif dan mengeksplorasi elemen-elemen WSUD yang sesuai untuk mengelola air hujan secara efektif di area dengan kerawanan banjir tertinggi di Kota Surabaya. Tesis ini menggunakan pendekatan analisis spasial multikriteria untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang rawan banjir di Surabaya dengan menggunakan data terbaru, mengidentifikasi elemen-elemen WSUD yang tepat untuk kemudian disesuaikan dengan data-data inventori kondisi fisik, kebijakan, dan biologis di wilayah studi berdasarkan metode LaGro (2007), dan menggunakan analisis raster volume untuk mengetahui kebutuhan tampung banjir sehingga diketahui seberapa banyak dan apa saja elemen WSUD yang akan digunakan. Metodologi ini mencakup pengembangan strategi perencanaan lanskap untuk mengendalikan banjir di satu area paling rawan banjir, yang mengadaptasikan elemen-elemen WSUD dengan kebijakan lokal dan menyesuaikan berdasarkan hasil-hasil analisis spasial sehingga apa yang diterapkan akan relevan dengan kondisi dan kebijakan di wilayah studi sehingga metode yang dilakukan dalam perencanaan ini memberikan sebuah contoh untuk mengitegrasikan konsep WSUD kedalam kebijakan dan kondisi secara khusus di Surabaya. Hasil perencanaan menunjukkan bahwa penerapan elemen-elemen WSUD dapat berkontribusi memberikan tampungan air banjir sebesar 148.500,00 m^3, melebihi kebutuhan tampung 23.883,4m^3, menciptakan ruang-ruang hijau publik baru di tengah padatnya pembangunan Kota.
STUDI PENENTUAN KUALITAS PERAIRAN SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI CIKAPUNDUNG HULU PADA KAWASAN TAMAN HUTAN RAYA IR. H. DJUANDA MENGGUNAKAN METODE WATER QUALITY INDEX (WQI)
Segmen hulu Sungai Cikapundung merupakan salah satu perairan permukaan yang masih dimanfaatkan sebagai sumber air baku air minum untuk pemenuhan kebutuhan air minum masyarakat di Kota Bandung. Perubahan pada pemanfaatan lahan di Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung dapat mempengaruhi kualitas air sungai. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan status mutu dan distribusi spasial 12 parameter fisikokimia-mikrobiologi perairan segmen hulu Sungai Cikapundung yang melintasi kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Pengambilan sampel air dilakukan di lima titik pemantauan pada bulan Agustus hingga September 2024. Status mutu air sungai ditentukan dengan metode IP dan NSF WQI dan kemudian dilakukan analisis koefisien korelasi Pearson untuk memberikan gambaran hubungan tiap parameter dan sumber pencemar utama Sungai Cikapundung Hulu. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi spasial pada kelima titik pemantauan. Peningkatan konsentrasi secara signifikan ditemukan di titik E (hilir) mencakup parameter nitrat (2,40 mg/L), total fosfat (1,28 mg/L), fecal coliform (240.000 JPT/100 mL), dan total coliform (350.000 JPT/100 mL). Nilai IP dikategorikan cemar berat pada titik B dan E dan cemar sedang pada titik A, C, dan D untuk kesesuaian dengan baku mutu kelas I yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, sedangkan status mutu air tergolong pada kategori sedang pada kelima titik dengan metode NSF WQI. Hubungan korelasi yang kuat ditemukan pada parameter temperatur, turbiditas, TDS, TSS, DO, BOD, nitrat, total fosfat, fecal coliform, dan total coliform.
KAJIAN PENINGKATAN BAHAYA BANJIR DI WILAYAH ANTARA KANAL BANJIR BARAT (KBB) DAN KANAL BANJIR TIMUR (KBT) DKI JAKARTA AKIBAT PENURUNAN MUKA TANAH TAHUN 2010 – 2023
Jakarta sering mengalami banjir yang disebabkan oleh curah hujan tinggi, limpasan dari hulu, dan air pasang laut. Penurunan muka tanah yang terus terjadi semakin memperburuk kondisi ini karena mengurangi efektivitas sistem drainase. Studi ini menganalisis pengaruh penurunan muka tanah dari tahun 2010 hingga 2023 terhadap tingkat bahaya banjir di wilayah antara Kanal Banjir Barat dan Kanal Banjir Timur. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi efektivitas pembangunan infrastruktur pompa pada outlet kali utama sebagai upaya mitigasi dalam mengurangi genangan akibat penurunan muka tanah. Analisis dilakukan menggunakan simulasi model genangan banjir 2D dengan perangkat lunak Sobek 2.16. Setup pemodelan dalam Sobek tidak menginkorporasikan infrastruktur pompa yang berada pada polder-polder dan mengansumsikan elevasi level tanggul pada kali sama dengan level permukaan topografi. Terdapat empat skenario pemodelan yang dilakukan yang akan menjadi bahan pembahasan dalam studi ini, yaitu pemodelan dengan dua kondisi topografi tahun 2010 dan 2023, dengan dan tanpa pompa tambahan. Seluruh skenario pemodelan dibebankan dengan tinggi hujan yang sama yaitu sebesar 110,77 mm. Hasil penelitian menunjukkan luas genangan secara keseluruhan meningkat sebesar 29% dari tahun 2010 ke 2023, dengan kenaikan signifikan pada kategori genangan dalam (>150 cm), yang bertambah hingga 121%. Sementara itu, mitigasi berupa pembangunan pompa pada outlet kali utama tidak memberikan dampak signifikan. Pembangunan pompa berkapasitas besar pada outlet kali utama hanya memberikan pengurangan genangan yang sangat kecil. Jika pompa telah dibangun sejak 2010, pengurangan luas genangan hanya sekitar 1,7%, dan dampaknya semakin berkurang menjadi hanya 0,4% pada tahun 2023. Perlu dicatat bahwa penurunan muka tanah juga berkontribusi terhadap terjadinya banjir rob saat gelombang tinggi dan pasang, namun aspek ini tidak dipertimbangkan dalam studi ini.
KAJIAN MIKRO ZONASI KAWASAN BANJIR DANAU TEMPE DI PROVINSI SULAWESI SELATAN
Danau Tempe merupakan salah satu danau yang termasuk dalam daftar Danau Prioritas Nasional berdasarkan Peraturan Presiden No. 60 Tahun 2021. Danau ini memiliki nilai strategis dari segi ekonomi, ekologi, sosial budaya, dan ilmu pengetahuan, namun menghadapi berbagai tekanan lingkungan, termasuk degradasi daerah tangkapan air, sedimentasi, dan banjir tahunan. Fenomena banjir tahunan yang sering terjadi di Danau Tempe memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat dan lingkungan sekitar. Penurunan kualitas lingkungan dan peningkatan sedimen masuk ke danau dari tahun ke tahun mengakibatkan penurunan kapasitas tampungan air dan tingginya risiko banjir di wilayah sekitar, khususnya di daerah hilir yang dipengaruhi oleh luapan Sungai Cenranae. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi daerah tangkapan air (DTA) Danau Tempe, mengidentifikasi faktor-faktor hidrologi yang memengaruhi pola banjir, serta menyusun strategi mitigasi berbasis mikro zonasi sebagai solusi pengurangan risiko banjir. Kajian ini mencakup analisis hidrologi, hidraulika, serta pemetaan risiko banjir berdasarkan data topografi, tutupan lahan, hujan, dan kawasan genangan banjir. Berdasarkan simulasi hidrologi yang dilakukan terdapat hubungan antara curah hujan harian dan kejadian banjir di Danau Tempe berdasarkan data historis. Banjir signifikan tercatat pada tahun 2002, 2013, dan 2018, dengan tahun 2002 sebagai kejadian paling ekstrem. Pada tahun tersebut, curah hujan tinggi menyebabkan elevasi air maksimum mencapai +10,15 m, menjadikannya referensi utama dalam kalibrasi parameter DTA hidrologi Danau Tempe. Selanjuntnya simulasi hujan untuk kejadian Mei 2002 dilakukan menggunakan dua metode, yaitu SCS UH dan Snyder UH, untuk memahami pola aliran dan potensi banjir dengan 2 metode transform. Pemilihan metode transform hydrograph dilakukan kalibrasi dengan debit tertinggi yang tercatat pada 26 Juli 2010 di Sungai Walanae Mong (1.355,4 m³/s) dan Sungai Tanruntendong (129,51 m³/s) menunjukkan metode SCS UH lebih mendekati dalam kalibrasi debit. Berdasarkan hasil debit metode SCS dilakukan pemodelan menggunakan HEC-RAS menggunakan model Storage Coupling 2D-1D untuk mendapatkan peta genangan banjir yang selanjutnya dilakukan analisis risiko dan menghasilkan peta risiko banjir. Perhitungan peta risiko banjir mengacu kepada Peraturan Kepala BNPB Tahun 2012 dengan melakukan modifikasi pada indeks ancaman dengan menggunakan metode Mani.et.all yang merupakan fungsi dari kedalaman, waktu durasi, dan kecepatan dalam penentuan indeks parameter bahaya. Hasil penelitian ini akan memberikan rekomendasi strategi mitigasi yang meliputi pembagian zona berdasarkan tingkat risiko banjir, infrastruktur terdampak banjir guna untuk mengurangi dampak banjir. Dengan menggunakan pendekatan struktural dan nonstruktural, diharapkan strategi mikro zonasi dapat mendukung keberlanjutan ekosistem Danau Tempe serta meningkatkan aktivitas dan produktivitas masyarakat di sekitarnya.
HIDROLIKA ALIRAN PERTUKARAN DUA LAPISAN
Penelitian ini mengusulkan suatu metode untuk menghitung solusi tunak aliran pertukaran melalui berbagai konfigurasi saluran. Dua jenis solusi tunak yaitu aliran pertukaran maksimal dan submaksimal, dipenuhi untuk suatu pasangan beda energi dan laju pertukaran. Untuk aliran pertukaran di atas sill, kedalaman reservoir diperhitungkan, berbeda dengan literatur yang mengasumsikan kedalaman reservoir tak hingga. Metode yang dibahas di sini dapat diterapkan bahkan ketika kontraksi dan sill tidak terletak pada posisi yang sama, yang belum dibahas dalam literatur lain. Lebih jauh, dibahas pengaruh gaya luar barotropik terhadap aliran pertukaran maksimal pada saluran dengan kombinasi sill dan kontraksi. Solusi aliran pertukaran maksimal sebagai fungsi dari gaya luar barotropik dapat digunakan untuk menghitung rata-rata transport dengan pendekatan quasi-tunak. Metode yang sama kemudian diterapkan untuk menghitung solusi aliran pertukaran maksimal dan rata-rata transport di Selat Lombok. Solusi tunak yang dibahas di sini bermanfaat untuk memahami hidrolika aliran dua lapisan dan juga sebagai tolok ukur skema numerik.