📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 58 dokumenPENILAIAN PROYEK FLOATING STORAGE AND PROCESSING UNIT (FPSO) DI PT SOUTH OIL INDONESIA, INDONESIA, MENGGUNAKAN VALUASI REAL OPTION
Studi ini meninjau metodologi untuk melakukan valuasi proyek Floating Storage and Processing Unit (FPSO) di PT SOUTH OIL INDONESIA, Indonesia. Gas alam (LNG) adalah sumber energi global yang penting, tetapi Eropa sangat bergantung pada impor sementara Indonesia, eksportir utama, memprioritaskan minyak impor untuk pembangkit listrik domestik. FPSO menawarkan sebuah alternatif untuk mengangkut gas alam dalam bentuk (LPG) ke pasar yang kekurangan fasilitas regasifikasi darat. PT SOUTH OIL INDONESIA menggunakan FPSO untuk penyimpanan dan distribusi LPG. Penelitian ini mengeksplorasi teknik penilaian yang mapan seperti analisis Discounted Cash Flow (DCF) dan kelipatan pasar, bersama dengan pendekatan khusus FPSO yang sedang berkembang. Ini kontras dengan metode DCF tradisional dengan Pendekatan Opsi Real (ROA) yang menyajikan alternatif yang menjanjikan untuk menilai aset riil dalam lingkungan yang tidak pasti. Dengan menganalisis faktor-faktor termasuk investasi modal, biaya sewa, harga LPG, dan perkiraan produksi, tesis ini bertujuan untuk menawarkan wawasan berharga untuk penilaian proyek FPSO. Ini bertujuan untuk memberikan panduan praktis bagi investor, pengembang proyek, dan pemangku kepentingan di pasar FPSO dengan membangun kerangka kerja yang kuat untuk menilai kelayakan keuangan proyek FPSO.
KAJIAN KELAYAKAN PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK GEOTHERMAL DI JAWA TENGAH (PT GEOTHERMAL PURWA ENERGI PROJEK J-3 DAN J-4)
Indonesia memiliki potensi energi panas bumi yang sangat besar. Namun, pengembangannya masih berjalan lambat karena berbagai kendala, seperti tingginya biaya awal dan risiko keuangan yang melekat. Pemerintah telah menyatakan komitmennya untuk dapat mencapai Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060. Untuk itu, pemerintah mendorong percepatan proyek energi terbarukan, baik oleh perusahaan swasta maupun BUMN termasuk didalamnya energi angin, surya, dan panas bumi. PT Geothermal Purwa Energi (GPE), merupakan sebuah BUMN yang mengoperasikan pembangkit listrik tenaga panas bumi, perusahaan tersebut berencana untuk melakukan ekspansi di Jawa Tengah melalui proyek J-3 dan J-4 dengan total kapasitas tambahan sebesar 110 MW. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah proyek tersebut layak secara finansial dan lingkungan bisnis, terutama di tengah keterbatasan modal. Penelitian ini fokus pada kelayakan proyek J-3 dan J-4 dengan menggunakan indikator utama seperti Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV), Payback Period, dan Profitability Index (PI). Analisis lingkungan bisnis juga dilakukan dengan pendekatan menggunakan teori PESTLE, untuk memahami secara menyeluruh situasi investasi di Indonesia. Dalam analisis tersebut, dibahas juga terkait regulasi dan insentif yang berpengaruh terhadap para pengembang. Penelitian dilakukan dengan bebeberapa tahap. Tahap awal adalah mencakup studi literatur dan melakukan kajian teori terkait penganggaran modal, penilaian proyek, dan pembiayaan energi terbarukan. Selanjutnya, dilakukan analisis lingkungan bisnis menggunakan PESTLE serta pemetaan pemangku kepentingan untuk melihat pengaruh dan dinamika yang ada di Indonesia. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif. Data utama berasal dari dokumen keuangan, kontrak, dan catatan operasional. Sementara itu, wawancara dengan ahli dari GPE digunakan untuk melakukan verifikasi data terkait proyeksi biaya, risiko, dan standar industri. Semua data ini digunakan untuk menyusun model keuangan dan melakukan proyeksi arus kas selama 30 tahun. Asumsi utama mencakup tarif listrik, kemampuan operasional pembangkit, belanja modal, dan biaya operasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa proyek dinilai layak untuk dilaksanakan. Berdasarkan asumsi dasar, proyek berhasil mendapatkan IRR sebesar 5,96%, yang dimana berada sedikit di atas Weighted Average Cost of Capital (WACC), sebesar 4,78%. Perhitungan yang dilakukan juga menghasilkan NPV yang positif sebesar USD 114 juta dan Profitability Index sebesar 1,149. Meskipun hasil perhitungan menunjukkan projek ini layak untuk dilakukan, Payback Period yang mencapai 13 tahun melebihi batas ideal menurut LPEM FEB UI 2023, yaitu di bawah 10 tahun. Selanjutnya, analisa sensitivitas menunjukkan bahwa proyek rentan terhadap perubahan variabel penting. Penurunan tarif listrik yang lebih dari 13% dapat menurunkan IRR ke bawah ambang batas kelayakan. Demikian pula, perubahan pada kemampuan operasional pembangkit dan biaya modal berpotensi mengancam keberlangsungan proyek. Namun demikian, dukungan kebijakan pemerintah dan insentif ekonomi bagi energi baru terbarukan dinilai dapat meningkatkan kelayakan proyek secara signifikan. Analisis pemangku kepentingan juga menunjukkan adanya dukungan kuat dari instansi pemerintah dan juga PLN. Sebagai kesimpulan, proyek panas bumi J-3 dan J-4 dinilai layak untuk dilaksanakan. Penelitian ini menekankan pentingnya pengendalian biaya konstruksi, kesepakatan tarif dengan PLN, dan kemampuan operasional pembangkit. Dengan menggabungkan pemodelan keuangan yang ketat dan analisis strategis terhadap lingkungan bisnis serta pemetaan pemangku kepentingan, studi ini memberikan wawasan penting dalam pengelolaan risiko dan kelayakan proyek panas bumi. Temuan ini tidak hanya mendukung pengambilan keputusan GPE, tetapi juga menjadi referensi praktis bagi proyek energi terbarukan serupa di masa mendatang.
MANAJEMEN KONSTRUKSI MANAJEMEN RISIKO TERHADAP MANAJEMEN KONSTRUKSI
Industri konstruksi di Dubai sedang mengalami pertumbuhan yang luar biasa menjadi sektor yang kuat, efisien, dan inovatif. Industri ini juga memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB negara, mengubah negara dari negara berkembang menjadi negara maju, dan menjadi salah satu negara paling maju di kawasan tersebut. Namun, diyakini bahwa perusahaan-perusahaan dalam industri konstruksi menghadapi berbagai tantangan untuk membawa semua proyek menuju kesuksesan, seperti keterlambatan, pembengkakan biaya, dan masalah pengendalian kualitas. Perusahaan-perusahaan ini mungkin melakukan manajemen risiko untuk mengatasi tantangan tersebut dan menghindari dampak negatif terhadap proyek. Mengingat kontribusi signifikan industri konstruksi di Dubai, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan ini, pada tingkat tertentu, telah melakukan manajemen risiko dengan cukup baik untuk mengatasi tantangan tersebut. Oleh karena itu, memahami tantangan-tantangan umum dan menyelidiki praktik terbaik dalam manajemen risiko di industri konstruksi di Dubai dapat memberikan wawasan berharga bagi perusahaan lain yang menghadapi tantangan serupa di kawasan ini. Untuk memperoleh pemahaman ini, penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif berdasarkan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini mewawancarai delapan peserta yang merupakan profesional dalam industri konstruksi di Dubai untuk memberikan wawasan mereka. Berdasarkan analisis, terungkap bahwa dalam menyelesaikan proyek, perusahaan-perusahaan di industri ini menghadapi berbagai tantangan seperti kesiapan tenaga kerja yang kurang, tantangan hukum, risiko keuangan dan ekonomi, serta masalah lingkungan. Untuk mengurangi risiko ini dan memastikan keberhasilan jangka panjang serta keberlanjutan proyek konstruksi, perusahaan-perusahaan dalam industri ini telah mengadopsi strategi manajemen risiko proaktif. Strategi ini mencakup integrasi teknologi canggih seperti Building Information Modeling (BIM), advokasi untuk dukungan regulasi dari pemerintah, peningkatan kehati-hatian dan manajemen keuangan, serta investasi dalam praktik berkelanjutan. Meskipun strategi-strategi ini telah diterapkan, perbaikan lebih lanjut masih diperlukan untuk mengatasi tantangan yang sedang berlangsung.
ANALISIS MARGIN, PERPUTARAN ASET, DAN LEVERAGE KEUANGAN TERHADAP PROFITABILITAS PERUSAHAAN AGRIKULTUR (PT. JAPFA COMFEED INDONESIA, TBK)
Industri agrikultur memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia, berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh margin, perputaran asset, dan leverage keuangan terhadap profitabilitas PT. Japfa Comfeed Indonesia selama periode 2015 hingga 2024. PT. Japfa Comfeed Indonesia merupakan sebuah perusahaan agri-pangan terkemuka di Indonesia. Profitabilitas dalam penelitian ini diukur menggunakan Return on Equity. Penelitian ini menggunkan metode penelitian ekspanatori dengan pendekatan kuantitatif, Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode Regresi Linear Berganda, serta uji F dan uji t yang diterapkan melalui SPSS versi 29. Hasil penelitian menunjukan bahwa margin, perputaran asset, dan leverage keuangan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas perusahaan. Margin memiliki pengaruh signifikan positif terhadap profitabilitas, perputaran asset memiliki pengaruh signifikan positif terhadap profitabilitas, sedangkan leverage keuangan memiliki pengaruh negative tetapi tidak signifikan terhadap profitabilitas.
MITIGASI RISIKO PASAR DAN FINANSIAL PADA PENERBITAN GREEN BOND BANK NEGARA INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko pasar dan finansial serta mitigasinya terhadap penerbitan Green Bond oleh PT Bank Negara Indonesia, salah satu Badan Usaha Milik Negara. Penelitian ini mengeksplorasi apa saja risiko penerbitan Green Bond, dan bagaimana cara memitigasinya. Tren yang berfokus pada ESG (Environment, Social, and Governance) terus meningkat dari tahun ke tahun. Tantangannya adalah kurangnya investasi dalam proyek-proyek ramah lingkungan. Green Bond bisa digunakan sebagai instrumen pembiayaan proyek yang dinilai ramah lingkungan. Namun, tidak banyak institusi yang berminat akan instrumen ini di Indonesia. Ketika BNI membutuhkan pendanaan karena terdapat obligasi yang akan jatuh tempo, mereka memutuskan akan melakukan refinance dengan menerbitkan Green Bond, menjadikan BNI sebagai bank pertama di Indonesia yang menerbitkan Green Bond. Dengan demikian, BNI menghadapi tantangan untuk menentukan risiko penerbitan Green Bond dan apakah layak untuk mengambil risiko untuk menerbitkannya, terutama mengenai risiko pasar dan keuangan. Manajemen risiko sangat penting dalam menentukan dan menemukan solusi atau mitigasi terhadap risiko tersebut. Dengan menentukan risiko, probabilitas dan dampak risiko juga dapat dianalisis. Dari identifikasi risiko tersebut, mitigasi risiko juga dapat dianalisis. Mitigasi akan mengurangi dampak atau kemungkinan terjadinya risiko. Setelah semua identifikasi risiko dan mitigasi selesai, Solusi dari analisis dapat digunakan sebagai rekomendasi dan acuan untuk manajemen risiko jika terjadi penerbitan Green Bond berikutnya. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi wawasan berharga untuk penelitian lain yang membahas topik serupa.
MODEL LINEAR TINGKAT KESEHATAN BANK SYARIAH BERDASARKAN METODE RISK BASED BANK RATING
Penulis mengevaluasi tingkat kesehatan bank syariah menggunakan metode Risk Based Bank Rating (RBBR). Model yang dikembangkan menggunakan data laporan keuangan Bank NTB Syariah dan Bank Victoria Syariah setiap triwulan. Penelitian ini menggunakan regresi linear berganda untuk memahami hubungan antara rasio keuangan seperti Non Performing Financing (NPF), Financing to Deposit Ratio (FDR), Good Corporate Governance (GCG), Return on Asset (ROA), Net Operating Margin (NOM), dan Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap skor kesehatan bank yang diperoleh melalui RBBR. Penelitian ini menggunakan Microsoft Excel untuk membantu konstruksi model linear. Hasil signifikansi parameter dari model linear digunakan untuk mendeteksi anomali dalam perilaku bank dalam mempertahankan skor kesehatannya. Anomali ini dianalisis lebih lanjut dengan memeriksa laporan keuangan tahunan untuk memberikan penilaian kualitatif terhadap kesehatan bank syariah.
EVALUASI HEAT RATE DAN EFISIENSI COFIRING BIOMASSA WOODCHIP DI PLTU CIRCULATING FLUIDIZED BED: STUDI KASUS PLTU AIR ANYIR
Electricity distribution is a high-risk industry and a complex sociotechnical system. One of the significant risks in performing distribution operations is occupational accidents. PT PLN (Persero), electric utility company in Indonesia, reported 61 accidents between March 2022 and June 2024 which 75% of them occurred in the distribution sector. In fact, PLN still adheres to safety-I approach in its safety management system, although this approach is considered insufficient to reduce the number of accidents. Resilience engineering (RE), part of safety-II, then emerged as a new approach in managing safety. Therefore, this study aims to explore RE principles that influence resilience potential in the electricity distribution and identify areas of improvement to achieve zero accidents. Data were collected through a 27-item questionnaire designed to measure actual performance and the level of importance of an RE principle using 6 Likert scale. A total of 196 technical service officers of the Jakarta Distribution Unit were selected using a judgment sampling technique. Data were then statistically examined using factor analysis method with the help of SPSS 27 software and importance-performance analysis (IPA). This research generated five novels RE principles through factor analysis, with a total variance explained of 67.19%. These principles are risk management, safety climate, agility, adaptability, and safety accountability. Furthermore, IPA matrix indicates that maintaining and strengthening these four principles—risk management, safety climate, adaptability, and safety accountability—is crucial for enhancing the organization's resilience potential. The findings of this study have significant implications for PLN to build resilience potential in dealing with accident risks in the future. Some recommended strategies include: foster reporting and learning culture; enhancing effective communication; conducting routine safety training and emergency response simulations; implementing reward and punishment system.
KERANGKA KEPUTUSAN DAN NEGOSIASI DALAM MEMUTUS HUBUNGAN DENGAN NASABAH KASUS PIDANA KEUANGAN UNTUK MENYEIMBANGKAN RISIKO KEPATUHAN DAN REPUTASI DI PT BANK TIONGKOK & LONDON INDONESIA
Penelitian ini menganalisis tantangan yang dihadapi oleh lembaga keuangan global, khususnya PT Bank Tiongkok & London Indonesia (BTLI), dalam menangani skenario exit-client yang terkait dengan dugaan aktivitas kejahatan keuangan. Seiring dengan semakin kompleksnya kejahatan keuangan dan semakin ketatnya regulasi, BTLI harus menjaga keseimbangan antara kewajiban untuk melindungi reputasinya dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Penelitian ini mengembangkan kerangka kerja pengambilan keputusan yang terstruktur dengan menggunakan model Composite Risk Scoring (CRS) dan strategi negosiasi yang disesuaikan untuk pengambilan keputusan pemutusan hubungan dengan nasabah sesuai dengan risiko yang melekat pada setiap kasus. Metodologi CRS terdiri dari empat faktor risiko utama - risiko keuangan, reputasi, kepatuhan, dan hukum - untuk memberikan keputusan yang obyektif terhadap setiap situasi. Dengan menggabungkan penilaian probabilitas, maka matriks risiko yang dibuat dapat memungkinkan BTLI untuk memprioritaskan kasus-kasus secara efisien. Studi ini mengusulkan teknik negosiasi yang sesuai dengan profil risiko yang diklasifikasikan sebagai pendekatan akomodatif, kolaboratif, bersaing, dan menghindari, sebagai tambahan dari CRS. Metodologi kualitatif dan kuantitatif digunakan, meliputi wawancara, diskusi kelompok terarah, dan studi data kasus historis. Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan CRS meningkatkan objektivitas pengambilan keputusan dan mengurangi durasi penyelesaian, sehingga memastikan kepatuhan terhadap persyaratan peraturan, termasuk POJK No. 8/2023 di Indonesia. Penelitian ini menekankan pentingnya manajemen risiko yang proaktif dan menawarkan solusi praktis, seperti memasukkan CRS ke dalam kerangka kerja pengambilan keputusan BTLI, mendorong kerja sama antar departemen, dan meningkatkan komunikasi dengan nasabah untuk memitigasi masalah risiko reputasi.
ANALISA IMPLEMENTASI ESG PADA PERUSAHAAN PENYEDIA BAHAN KONSTRUKSI
-
KERENTANAN PEREMPUAN BERDASARKAN PROSES PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA DI KABUPATEN SLEMAN
Penanganan bencana di Indonesia belum sensitif gender. Ini disebabkan adanya tekanan bagi perempuan dalam hal sosio-ekonomi politik, seperti dominasi kegiatan domestik, agama, dan tradisi. Perempuan menjadi cenderung memiliki kesempatan minim dalam mengakses keamanan dan keselamatan. Isu mengenai gender dalam kebencanaan di Indonesia sudah mendapat perhatian kebijakan, tetapi komitmennya belum berhasil terinternalisasi dalam kehidupan masyarakat. Adanya penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kerentanan perempuan berdasarkan proses pengarusutamaan gender (PUG) yang diupayakan sebagai hadirnya komitmen kebijakan mengenai gender dalam kebencanaan dalam mengupayakan Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Penelitian dilakukan dengan pengumpulan data observasi dan wawancara. Dilanjutkan dengan analisa koding dan konten. Penelitian diharapkan dapat menjadi poin refleksi mengenai kerentanan perempuan terhadap bencana, sehingga implementasi pengarusutamaan gender (PUG ) dalam kebencanaan tidak sekadar dalam komitmen kebijakan saja.
EVALUASI DESAIN DAN PROSES MANUFAKTUR PADA MODUL PENYERAP IMPAK TIPE COMBINED TUBE EXPANSION-AXIAL SPLITTING MENGGUNAKAN FAILURE MODE AND EFFECTS ANALYSIS (FMEA)
Modul penyerap impak tipe combined tube expansion-axial splitting memiliki karakteristik unggul dalam menyerap energi impak dibandingkan jenis lainnya. Modul ini menggabungkan dua mekanisme, yaitu expansion tube dan axial splitting, dengan harapan mendapatkan karakteristik terbaik dari keduanya dalam satu mekanisme gabungan untuk mengatasi kelemahan masing-masing mekanisme. Salah satu aspek penting dalam menjaga fungsi dari modul adalah toleransi dimensi. Toleransi merupakan faktor krusial dalam menjaga fungsi modul yang dapat dipengaruhi oleh kesalahan saat proses manufaktur dan inspeksi. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu metode yang dapat menjaga nilai toleransi untuk parameter penting pada komponen modul agar dapat menjaga fungsinya. Pada penelitian ini Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) diperlukan untuk mengidentifikasi potensi kegagalan yang dapat memengaruhi nilai toleransi dalam tahap desain, proses manufaktur, dan proses inspeksi dengan tahapan sebagai berikut: penentuan sistem yang dianalisis, penguraian fungsi sistem, identifikasi modus kegagalan, identifikasi efek kegagalan, identifikasi mekanisme kegagalan, penentuan nilai Severity, Occurrance dan Detection baik secara kualitatif maupun kuantitatif serta perhitungan Risk priority number(RPN). Proses screening dilakukan untuk memperlihatkan modus-modus kegagalan dengan RPN yang tinggi maupun yang rendah. Berdasarkan proses screening diusulkan rekomendasi cost efficiency untuk semua modus kegagalan dikarenakan nilai RPN yang sangat rendah. Penggunaan metode quality control yang lebih efisien seperti Photoelectric Digital Length Measurement dipilih sebagai alternatif pengganti Coordinate Measuring Machine (CMM), meskipun dampaknya menyebabkan nilai RPN meningkat. Setelah dilakukan cost efficiency dari keenam modus kegagalan yang diidentifikasi, modus kegagalan premature splitting dan progressive buckling memiliki nilai RPN tertinggi yaitu 160. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setelah dilakukan cost efficiency, berdasarkan referensi yang dipakai untuk nilai RPN 160 belum membutuhkan perbaikan dikarenakan fungsi dari modul masih tetap terjaga.
DETERMINING FACTORS OF DIGITAL BANKING PROFITABILITY IN INDONESIA
Industri perbankan digital di Indonesia telah mengalami transformasi yang signifikan, terutama setelah pandemi COVID-19 yang mempercepat adopsi layanan keuangan digital. Studi ini menyelidiki dampak Loan to Deposit Ratio (LDR), NonPerforming Loan (NPL), dan Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap profitabilitas, yang diukur dengan Return on Assets (ROA). Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) berdasarkan data keuangan yang mencakup periode 2021 hingga Q3 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LDR memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ROA, yang menekankan peran strategi pinjaman yang efektif dalam meningkatkan profitabilitas. Sebaliknya, NPL dan CAR menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan terhadap ROA, yang menunjukkan bahwa pengaruhnya dapat dimoderasi oleh praktik manajemen risiko dan efisiensi modal. Hasil ini menyoroti pentingnya meningkatkan kebijakan pinjaman, memperkuat mitigasi risiko, dan mengoptimalkan pemanfaatan modal untuk mempertahankan profitabilitas yang berkelanjutan dalam perbankan digital. Studi ini menawarkan wawasan praktis bagi bank digital untuk meningkatkan kinerja keuangan mereka dengan berfokus pada pengoptimalan LDR, peningkatan sistem penilaian kredit, dan pengelolaan likuiditas secara efektif. Rekomendasi yang diberikan meliputi memprioritaskan pinjaman UKM, memanfaatkan perangkat penilaian risiko berbasis AI, dan mendiversifikasi sumber pendapatan. Lebih jauh, penelitian ini memberikan kontribusi teoritis pada model profitabilitas perbankan dan menawarkan arahan strategis bagi para pembuat kebijakan dan lembaga keuangan yang menavigasi lanskap perbankan digital yang terus berkembang.
DAMPAK PERILAKU KONSUMEN TERHADAP EKUITAS MEREK PADA INDUSTRI E-WALLET INDONESIA SAAT PANDEMI COVID-19: STUDI KASUS SHOPEEPAY
-
ANALISIS PENERAPAN ALGORITMA IN-PROCESSING YANG MEMENUHI SYARAT MONOTONIC SELECTIVE RISK TERHADAP KEADILAN DAN AKURASI PADA PEMBELAJARAN MESIN
Tradeoff antara nilai keadilan dan akurasi adalah masalah yang sering muncul dalam pengembangan model pembelajaran mesin, terutama ketika data yang digunakan mengandung bias. Model yang mengutamakan akurasi sering kali mencapai hasil yang optimal dalam hal prediksi, tetapi kerap mengorbankan keadilan. Tantangan utama dalam konteks ini adalah mencari cara untuk menghasilkan model yang tidak hanya akurat, tetapi juga adil, terutama dalam aplikasi dunia nyata seperti sistem perekrutan. Tugas Akhir ini membahas beberapa algoritma in-processing yang dirancang untuk menyeimbangkan tradeoff antara keadilan dan akurasi. Algoritma ini dikhususkan pada model selective regression, yang memanfaatkan variasi prediksi sebagai patokan tingkat keyakinan prediksi model. Metode yang dievaluasi meliputi ensemble selective regression, fairness under unawareness, dan heteroskedastic neural network with sufficiency-based regularizer. Masing-masing model dievaluasi dari metriks monotonic selective risk, akurasi, dan keadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model heteroskedastic yang digabungkan dengan sufficiency-based regularizer mampu menghasilkan performa yang sangat baik dari segi keadilan maupun akurasi. Model ini berhasil menurunkan nilai RMSE sekaligus menjaga nilai independence, separation, dan sufficiency pada batas yang ideal. Riset pada Tugas Akhir ini masih dapat dikembangkan lebih lanjut dengan pengujian pada dataset rekrutmen yang lebih banyak dengan atribut sensitif yang lebih variatif.
PERANCANGAN UNIT KERJA DAN MEKANISME DATA ANALYTICS DI PT X
PT X, sebagai perusahaan induk yang besar dengan portofolio bisnis yang beragam, menghadapi tantangan dalam mengawasi dan mengelola risiko di seluruh grupnya. Penelitian ini berfokus pada perancangan unit kerja dan mekanisme data analytics untuk mendukung fungsi Group Audit and Risk Advisory (GANRA) dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses audit internal dan manajemen risiko. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus di PT X. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan pemangku kepentingan terkait dan analisis dokumen perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan unit kerja data analytics dapat membantu GANRA mengatasi tantangan yang ada, seperti peningkatan kompleksitas bisnis, kebutuhan akan wawasan yang lebih mendalam, dan kepatuhan terhadap regulasi. Unit kerja baru ini akan bertanggung jawab untuk mengumpulkan, membersihkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data dari berbagai sumber, serta mengembangkan dan menerapkan alat analitik untuk mendukung proses audit internal dan manajemen risiko. Penelitian ini merekomendasikan agar PT X memprioritaskan pengembangan kompetensi data analytics dalam tim, membangun budaya data-driven, dan memastikan kolaborasi lintas fungsi yang efektif. Selain itu, investasi dalam teknologi dan infrastruktur yang memadai juga penting untuk mendukung kinerja unit kerja data analytics.