📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 43 dokumenPERANCANGAN BUKU PANDUAN WISATA KOTA BANJARMASIN
Industri pariwisata adalah pilar penting dalam perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia. Salah satu kota yang berpotensial dalam bidang pariwisata adalah Kota Banjarmasin yang dikenal sebagai Kota Seribu Sungai. Namun, penyebaran informasi akan pariwisata di kota ini masih belum dilakukan dengan maksimal. Berangkat dari masalah tersebut, perancang mengusulkan sebuah solusi dari sudut pandang desain grafis dengan membuat buku panduan wisata Kota Banjarmasin untuk masyarakat, khususnya dewasa muda. Perancangan ini bertujuan untuk mengenalkan keunikan Kota Banjarmasin dari perspektif pariwisata. Perancangan ini menggunakan metode pengumpulan data melalui studi pustaka, wawancara ahli, oberservasi, dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil dari perancangan ini merupakan buku panduan berbentuk digital dan fisik yang berisikan informasi yang komprehensif dan visual yang menunjukkan keunikan Banjarmasin sebagai Kota Seribu Sungai. Melalui perancangan ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam mencari informasi mengenai pariwisata di Kota Banjarmasin, sekaligus menjadi sebuah sumber informasi sejarah perkembangan pariwisata di Kota Banjarmasin yang terpadu.
MENINGKATKAN PARIWISATA KALIMANTAN BARAT MELALUI KO-KREASI NILAI DAN ORKESTRASI UNTUK PENGALAMAN E-PARIWISATA: STUDI KASUS PUSAT INFORMASI PARIWISATA
Kalimantan Barat, memiliki potensi pariwisata yang signifikan. Namun, provinsi ini hanya menempati peringkat ke-22 dari 34 provinsi dalam Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional. Menurut indeks, Kalimantan Barat perlu melakukan perbaikan dalam beberapa aspek, seperti daya saing digital, total pencarian internet, alokasi anggaran pemerintah, dan infrastruktur. Saat ini, Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata telah mempromosikan pariwisatanya melalui platform yang ada, namun platform tersebut belum sepenuhnya memanfaatkan potensinya karena fiturfitur yang kurang berfokus pada wisatawan. Penelitian ini mendefinisikan peran pemangku kepentingan dalam pengembangan dan promosi pariwisata di Kalimantan Barat, menganalisis tantangan dan kebutuhan, serta mengusulkan perbaikan untuk model pariwisata yang kolaboratif dan inklusif dengan menggunakan platform E-TIC. Data dikumpulkan melalui wawancara, kelompok diskusi terarah, dan kuesioner terbuka dengan pemangku kepentingan utama, termasuk Dinas Pariwisata Kalimantan Barat, Tour Operator Komunitas Lokal, dan Turis Lokal. Analisis tematik dalam penelitian ini mengungkapkan beberapa tema utama seperti manajemen informasi, infrastruktur teknologi, mekanisme umpan balik, keterlibatan pemangku kepentingan, pengembangan kapasitas, dan tata kelola. Temuan utama menunjukkan perlunya berbagi informasi yang efektif dan pengalaman wisata yang dipersonalisasi. Integrasi platform digital untuk manajemen pariwisata dan umpan balik sangat penting. Kolaborasi pemangku kepentingan dan keterlibatan komunitas sangat diperlukan, di samping program pelatihan dan alokasi anggaran yang memadai. Solusi yang diusulkan melibatkan transformasi platform e-TIC menjadi pusat interaksi yang dinamis, dengan menekankan penciptaan dan orkestrasi nilai bersama.
PERANCANGAN INTERIOR WELLNESS CENTER DI UBUD DENGAN PENDEKATAN PARIWISATA UNTUK MEMPROMOSIKAN PRODUK PERAWATAN BADAN TRADISIONAL BALI
Laporan ini dilandasi oleh permasalahan mengenai maraknya investasi asing di Indonesia, khususnya Bali, dan ketidaktahuan masyarakat lokal maupun mancanegara mengenai produk tradisional khas Bali yang memiliki potensi untuk dapat bersaing di pasar internasional. Pada kasus ini, topik yang saya angkat yaitu produk perawatan badan tradisional Bali, dengan keunikan bahan dan manfaatnya yang menurut saya sangat disayangkan jika tidak dikenal oleh kalangan luas. Wellness Center dirasa merupakan rancangan yang tepat sebagai sarana promosi dan edukasi bagi pengunjung secara implisit mengenai produk perawatan badan tradisional Bali. Membungkus niat utama untuk mempromosikan produk dengan menjual trend gaya hidup sehat secara menyeluruh, menjadi jalan utama agar pengunjung tertarik untuk mendatangi rancangan tersebut. Dengan menyediakan sarana relaksasi sebagai fasilitas utama, pengunjung juga mendapat edukasi dari fasilitas pengukung seperti pengadaan instalasi wewangian dan pada setiap area relaksasi. Diharapkan setelah mendapat informasi dan promosi yang menarik, pengunjung akan lebih paham dan ingin untuk membeli produk yang tersedia pada fasilitas retail. Pendekaatan pariwisata dipilih untuk perancangan ini karena dirasa dapat berkesinambungan dengan objektif perancangan yaitu untuk menambah daya tarik produk domestik.
PERANCANGAN RESORT GUNUNG DI TEGALLALANG DENGAN PENDEKATAN FENOMENA WORK FROM BALI
Laporan Tugas Akhir ini mengkaji dampak ekonomi dari pandemi Covid-19 terhadap pariwisata di Bali, kebiasaan produktif manusia, Respon dari sektor hospitalitas, adaptasi terhadap kebiasaan bekerja baru, dan program pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan sebuah resort yang tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga menjadi lingkungan yang mendukung fenomena "Work From Bali". Pandemi Covid-19 telah mengubah pola hidup masyarakat, termasuk cara bekerja. Dalam konteks ini, resort di Tegallalang diharapkan dapat memberikan fasilitas yang memungkinkan tamu untuk bekerja secara produktif, baik virtual maupun konvensional untuk mengadakan pertemuan atau acara bisnis. Perancangan resort ini akan mempertimbangkan kebutuhan tamu akan suasana tenang dan nyaman, serta fasilitas produktif yang bervariasi di lingkungan resort. Selain itu, resort ini juga akan memperhatikan aspek psikologis tamu, dengan menyediakan lingkungan yang beragam, menenangkan dan membangkitkan kreativitas. Lokasi yang terletak di Tegallalang, yang dikenal dengan keindahan alamnya dan kebudayaan yang kaya, akan menjadi tambahan nilai dalam mendukung kesejahteraan mental para tamu. Perancangan resort ini akan dilakukan dengan mempertimbangkan adaptasi terhadap kebiasaan bekerja baru yang mungkin akan bertahan setelah pandemi, serta tren-tren dalam industri pariwisata. Diharapkan resort ini dapat menjadi tempat yang tidak hanya menyediakan akomodasi yang nyaman, tetapi juga mendukung gaya hidup modern yang produktif dan seimbang secara psikologis bagi para tamu yang memilih untuk bekerja dari Bali.
PERANCANGAN INTERIOR GARUT CRAFT CENTER SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN SEKTOR EKONOMI KREATIF DAN PARIWISATA DENGAN PENDEKATAN KONSEP BUDAYA SUNDA
Garut merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang mempunyai potensi sumber daya alam bagi perekonomian dan pariwisata. Garut cukup terkenal dengan produk kulit dan akar wangi. Kabupaten Garut dengan berbagai potensi alam yang dimilikinya ternyata tidak menjamin kesejahteraan masyarakatnya, terutama dari sisi ekonomi. Pertumbuhan perekonomian di Garut masih rendah dibandingkan pertumbuhan perekonomian rata-rata Jawa Barat. Dengan keberadaan sumber daya alam dan potensi budaya yang kaya seharusnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dengan menciptakan lebih banyak kesempatan kerja, mengurangi tingkat pengangguran, dan peningkatan pendapatan masyarakat, serta dapat mentransfer pengetahuan mereka kepada generasi mendatang. Maka dari itu penulis mengusung “Perancangan Interior Garut Craft Center sebagai Upaya Peningkatan Sektor Ekonomi Kreatif dan Pariwisata dengan Pendekatan Konsep Budaya Sunda”. Sebagai peningkatan pemberdayaan sumber daya manusia warga Garut. Metode yang digunakan pada proyek ini yakni menggunakan pendekatan kualitatif yang dilakukan adalah dengan melakukan survey literatur benchmark terhadap buku dan jurnal mengenai perancangan atau fasilitas yang memiliki karakteristik serupa, melakukan observasi lapangan dan wawancara langsung kepada pengelola kerajinan yang ada di Garut.
PERENCANAAN RUTE WISATA PUSAKA DI KOTA CIREBON
Kota Cirebon ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pengembangan Pariwisata (KSPP) sejarah dan keraton pada Perda Jabar No. 15 Tahun 2015 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan (RIPPARPROV) Jawa Barat Tahun 2015-2025. Hal ini dapat membantu mewujudkan misi Metropolitan Cirebon Raya (MCR) untuk menjadikan Cirebon Raya sebagai kota sejarah dan budaya serta pariwisata yang didasarkan pada kearifan lokal. Beragam objek wisata pusaka yang tersebar di Kota Cirebon memiliki sejarah yang saling berkaitan. Namun, terdapat ketimpangan jumlah pengunjung yang disebabkan oleh tidak adanya pengembangan pariwisata yang terintegrasi serta adanya ketimpangan pengelolaan antar objek wisata pusaka. Maka dari itu, penting bagi Kota Cirebon untuk mengembangkan suatu konsep pengembangan wisata pusaka yang terintegrasi melalui perencanaan rute wisata pusaka di Kota Cirebon yang ditinjau berdasarkan komponen perencanaan rute wisata pusaka. Dalam penelitian ini berbagai metode pengumpulan data yang digunakan antara lain pengumpulan data sekunder yang didapat dari studi literatur serta data primer yang didapat dari hasil observasi, wawancara kepada stakeholder terkait, serta penyebaran kuesioner kepada wisatawan. Analisis pada penelitian ini digunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif untuk mengidentifikasi kondisi eksisting wisata pusaka dan merumuskan konsep perencanaan rute wisata pusaka di Kota Cirebon, analisis spasial dengan menggunakan metode network analysis untuk menentukan rute wisata pusaka yang paling optimal, dan analisis lama perjalanan wisata yang digunakan untuk menghitung waktu tempuh untuk sekali perjalanan dalam satu rute wisata pusaka. Berdasarkan hasil analisis, dihasilkan 3 rute yang paling cocok untuk mengintegrasikan objek-objek wisata pusaka di Kota Cirebon, dengan total lama perjalanan wisata pada masing-masing rute yaitu 1 jam 50 menit, 1 jam 52 menit, dan 1 jam 47 menit dengan mempertimbangkan timeline sejarah, titik awal, kedekatan jarak, lebar jalan, dan lama perjalanan wisata. Penelitian ini juga memberikan beberapa rekomendasi antara lain Pemanfaatan CITROS sebagai sarana transportasi untuk rute wisata pusaka, serta perlu adanya upaya kerjasama antar pengelola objek wisata pusaka dalam mengembangkan pariwisata pusaka di Kota Cirebon.
PENGARUH JUMLAH WISATAWAN, JUMLAH OBYEK WISATA, DAN JUMLAH HOTEL TERHADAP PDRB DI MALANG RAYA
Sektor pariwisata berperan penting dalam meningkatkan perekonomian suatu negara, khususnya dalam mengurangi jumlah pengangguran dan meningkatkan produktivitas suatu negara. Pasca pandemi Covid 19 pertumbuhan ekonomi di Indonesia saat ini terus berkembang dan menunjukan angka perbaikan dalam meningkatkan pendapatan atau devisa negara. Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi sektor pariwisata adalah Malang Raya. Malang Raya adalah Kawasan di Provinsi Jawa Timur yang mencakup Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Penelitin ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis Pengaruh Jumlah Wisatawan, Jumlah Obyek Wisata, dan Jumlah Hotel serta jumlah penduduk(dummy) terhadap PDRB Malang Raya. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dalam kurun waktu 10 tahun, dari tahun 2012 hingga 2021. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian asosiatif. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder, berupa data runtun waktu (Time series) periode 2012 – 2021, dan menggunakan metode persamaan regresi linier berganda (Ordinary Least Square) dengan Degree of Freedom ? 5%. Analisis dalam penelitian ini menggunakan data panel yang merupakan gabungan antara data deret waktu (time-series) dan data deret lintang (cross section). Berdasarkan hasil penelitian, Jumlah wisatawan mancanegara tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Malang Raya, namun jumlah wisatawan domestik berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Malang Raya, Jumlah objek wisata berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Malang Raya, Jumlah hotel dan restoran berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Malang Raya serta Jumlah penduduk tidak memiliki pengaruh terhadap PDRB. Rekomedasi diberikan Peneliti kepada pemerintah Malang Raya untuk dapat mengembangkan jumlah objek wisata, membuat kebijakan yang ramah terhadap usaha hotel dan retoran, dan Diversifikasi Produk Wisata, melakukan kampanye pemasaran yang lebih agresif dan efektif di pasar internasional untuk meningkatkan kesadaran dan minat terhadap obyek wisata di Malang Raya. Hal ini bisa dilakukan melalui media sosial, partisipasi dalam pameran wisata internasional, dan kerjasama dengan agen perjalanan internasional.
PENGARUH NILAI YANG DIBERIKAN PELANGGAN DOMESTIK TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN, WOM DAN NIAT KEMBALI UNTUK EKOWISATA INOVATIF BERKELANJUTAN DI INDONESIA
Industri pariwisata di Indonesia menjadi sangat kompetitif dengan banyaknya destinasi wisata baru yang dibuka. Dalam pasar yang kompetitif, terdapat kebutuhan bagi destinasi pariwisata untuk menekankan pada niat berkunjung kembali. Penelitian ini akan mengkaji nilai-nilai yang dirasakan wisatawan terhadap industri pariwisata di Indonesia dan mengungkap faktor-faktor nilai yang dirasakan pelanggan (CPV) yang terkait dengan WOM, niat berkunjung kembali, serta kepuasan wisatawan. Telah ada penelitian yang menghubungkan CPV dengan kepuasan pelanggan dan niat mengunjungi kembali atau penelitian mengenai faktor pembelian dengan kepuasan pelanggan, loyalitas dan WOM. Namun belum ada makalah khusus yang mengungkap hubungan antara 5 variabel independen CPV dengan 3 variabel dependen yaitu kepuasan pelanggan, WOM dan niat berkunjung kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap hubungan antara masing-masing faktor yang akan berdampak signifikan terhadap industri pariwisata khususnya di wilayah Bandung Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang mencakup penyebaran kuesioner secara nasional yang dikumpulkan sebagai data yang digunakan untuk analisis data primer. Penelitian ini akan menggunakan SEMPLS untuk menganalisis regresi berganda dengan variabel intervening. Responden penelitian ini akan diambil secara acak di antara wisatawan berusia minimal 20 tahun untuk menggeneralisasi temuan di seluruh negeri. Dalam menjawab 50 pertanyaan tersebut, akan digunakan metode Skala Likert untuk menentukan jawaban “Tidak Setuju” dengan skala 1 dan “Setuju” dengan skala 5. Kuesioner akan mengumpulkan 385 sampel dalam penelitian sesuai ke Rumus Slovin untuk mendapatkan hasil yang tidak bias dari pengambilan sampel yang mudah digunakan. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan langsung yang signifikan yang menghubungkan faktor CPV dengan kepuasan pelanggan dan niat berkunjung kembali secara terpisah maupun tidak langsung terhadap WOM. Kepuasan pelanggan dapat memengaruhi WOM secara positif dan juga niat berkunjung kembali. Terdapatjuga hubungan positif yang penting antara WOM dan niat mengunjungi kembali yang harus diteliti oleh pemasar dalam menciptakan strategi pemasaran. Hal tersebut dikarenakan hasil CPV terhadap kepuasan pelanggan atau niat berkunjung kembali di setiap industri berbeda-beda, keterkaitan yang ditunjukkan dalam penelitian ini menawarkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pelanggan di industri pariwisata. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor signifikan yang akan memengaruhi kepuasan pelanggan dan keputusan mereka untuk berkunjung kembali secara lebih mendalam. Penting untuk mengedukasi pemilik bisnis dan masyarakat setempat untuk memahami permasalahan di balik faktor-faktor yang mempengaruhi pelanggan dalam mengambil keputusan. Pariwisata mempengaruhi perekonomian daerah dan juga perekonomian negara. Penelitian di masa depan dapat mempelajari metode penerapan faktor-faktor yang digunakan untuk mempengaruhi niat berkunjung kembali pelanggan agar bisnis pariwisata berhasil mempertahankan pelanggan. Implikasi manajerial utamanya adalah meningkatkan atribut destinasi dan menerapkan strategi secara efektif untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dibandingkan pesaing lainnya.
PERANCANGAN SAMOSIR VISITOR CENTER BERBASIS ECO-TOURISM DI PANGURURAN, SAMOSIR
Pariwisata merupakan salah satu sektor yang memegang peranan penting di Indonesia. Pariwisata dapat menjadi sumber pendapatan utama bagi daerah, menciptakan lapangan kerja baru, dan memberikan stimulus ekonomi. Akan tetapi, Pandemi Covid-19 membawa dampak negatif bagi sektor pariwisata di Inonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa pada Januari 2020, kunjungan wisatawan mencapai 1,272 juta dan pada April 2020 turun menjadi 158,7 ribu. Apabila dibandingkan dengan tahun 2019, jumlah wisatawan mancanegara turun sebesar 75,03 persen. Salah satu langkah yang dilakukan dalam menghadapi dampak negatif dari adanya pandemi tersebut yaitu dengan menerapkan pengembangan konsep pariwisata yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama dan terus berlanjut. Proyek ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah Visitor Center yang berkelanjutan di Pangururan, Sumatera Utara, sebagai upaya untuk memitigasi dampak negatif pandemi Covid-19 terhadap sektor pariwisata. Dengan mengusung konsep eco-tourism dan sustainable tourism, Fokus utama proyek adalah menyediakan fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat setempat maupun wisatawan dalam hal penyediaan fasilitas dan informasi terkait pariwisata setempat, menyediakan fasilitas rekreasi yang terhubung dan bergantung pada alam, dan memberdayakan serta melestarikan budaya serta kearifan lokal.. Pengembangan visitor center berbasis eco-tourism di Pangururan, Samosir ini melibatkan penerapan konsep eco-tourism, memanfaatkan potensi alam dan budaya setempat. Melalui visi "harmonizing the local community, culture, and nature through visitor center," proyek ini bertujuan menjadi penghubung dan menjadi pusat penyediaan informasi pariwisata, wadah kegiatan masyarakat setempat, serta menjadi sarana pengembangan pariwisata dan pelestarian kebudayaan setempat.
IDENTIFIKASI PERUBAHAN KONDISI PEREKONOMIAN WILAYAH PENYANGGA AKIBAT KEBERLANGSUNGAN KEGIATAN PARIWISATA DI KEK MANDALIKA
Penelitian ini mengkaji dampak ekonomi dari kegiatan pariwisata di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika terhadap wilayah penyangganya di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Metodologi penelitian yang digunakan mencakup analisis data primer dari wawancara secara langsung bersama beberapa narasumber di lapangan serta data sekunder yang didapatkan melalui data statistik, dokumen perencanaan, dan dokumen lainnya yang memiliki keterkaitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan lokal akibat pariwisata, tetapi masyarakat yang tinggal di wilayah penyangga tersebut masih menghadapi tantangan dalam memenuhi standar pekerjaan dan sering kali hanya dapat memperoleh pekerjaan dengan upah yang rendah. Pembangunan KEK Mandalika juga berdampak pada pendapatan daerah, meskipun belum dapat dimaksimalkan oleh pemerintah setempat karena kurangnya transparansi dan koordinasi dengan pengembang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pariwisata di KEK Mandalika memberikan dampak positif dan negatif terhadap ekonomi lokal dengan rekomendasi untuk meningkatkan pelatihan keterampilan, integrasi UMKM untuk meningkatkan keuntungan lokal, serta perbaikan sistem insentif dan koordinasi antar pemerintah dan pengembang.
RESOR PANTAI BAJULMATI DI MALANG SELATAN
Kabupaten Malang merupakan salah satu Kabupaten dengan luas wilayah paling besar di Provinsi Jawa Timur. Berbagai potensi tersebar di setiap daerah yang ada di Kabupaten Malang. Salah satupotensi paling besar yaitu potensi alam. Hal ini dikarenakan Kabupaten Malang terletak dikelilingi oleh pesisir pantai dan sebagian wilayahnya merupakan pegunungan. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan dengan baik terbukti dengan pertumbuhan ekonominya yang masih tergolong rendah. Proyek ini merupakan proyek penginapan berupa resort yang berada di salah satu pantai di daerah Malang Selatan. Resor ini menaungi fasilitas penginapan dan dilengkapi dengan fasilitas rekreasi yang menunjang potensi wisata di sekitar tapak. Fasilitas ini menyediakan berbagai macam wadah kegiatan berelaksasi bagi para pengunjung. Proyek ini menempatai lahan sebesar 27.400 m2 yang berada di Desa Gaharejo, Kelurahan Gedangan, Kabupaten Malang. Proyek ini diperkasai oleh Lembaga Bajulmati Sea Turtle Conservation (BTSC) dengan bantuan CSR dan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Malang. Hal ini sejalan dengan misi Kabupaten Malang untuk meningkatkan ekonomi melalui sektor pariwisata. Isu perancangan dari proyek ini datang dari tipologi proyek berupa resor dan isu dari kondisi di sekitar tapak. Isu perancangan berupa desain yang memberikan pengalaman alam sebagai daya tarik utama wisata, rancangan arsitektur yang memberikan efek relaksasi kepada pengunjung dan rancangan tapak dan bangunan yang memberikan rasa aman bagi pengunjung. Pengalaman alam dimaksimalkan dengan penataan dan orientasi bangunan pada tapak, serta memaksimalkan penangkapan suasana alam melalui panca indra. Efek relaksasi didapatkan dengan penataan zonasi pada tapak dan penyediaan berbagai fasilitas rekreasi dan relaksasi sesuai dengan kategori pengunjung. Rasa aman dan nyaman bagi pengunjung diwujudkan dengan perancagan yang memenuhi regulasi dan perancangan sirkulasi yang mudah diakses oleh pengunjung. Proyek ini terdiri dari masa majemuk yang di kelompokkan dan tata sesuai dengan fungsi, kegiatan, dan hirarki setiap bangunan. Penataan memaksimalkan potensi pemandangan alam dan tingkat privasi dari setiap massa bangunan. Material bangunan didominasi dengan warna yang hangat berupa material kayu dan batu bata. Warna yang terkesan hangat ini dimaksudkan untung memberikan efek relaksasi dan ketenangan bagi pengunjung.
PENERAPAN CITY BRANDING SEBAGAI STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KOTA TOMOHON
City branding merupakan upaya menonjolkan potensi dan identitas kota untuk meningkatkan daya saing, membentuk citra, dan menarik wisatawan. Oleh karena itu city branding menjadi strategi yang banyak digunakan kota untuk mengembangkan dan memasarkan pariwisata kotanya. Penelitian ini mengambil studi kasus pada Kota Tomohon yang melakukan branding sebagai Kota Bunga. Pembentukan city branding akan mengacu pada komponennya yang meliputi identity, objctivity, communication, dan coherence. Sehingga pada penelitian ini, akan diidentifikasi penerapan branding Kota Bunga di Kota Tomohon berdasarkan komponen tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan hasil analisis yang dijelaskan secara deskriptif. Selanjutnya, pada penelitian ini akan dirumuskan strategi terkait city branding untuk pengembangan pariwisata di Kota Tomohon berdasarkan hasil identifikasi penerapan city branding yang kemudian dianalisa menggunakan analisis SWOT dan model Unique Selling Proposition (USP). Adapun data untuk mendukung penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara dan kuesioner untuk data primer, serta melalui studi dokumen dan publikasi online untuk data sekunder. Hasil penelitian menunjukan branding Kota Bunga Tomohon selaras dengan identitas kota. Bunga dan pariwisata menjadi keunggulan yang ingin ditonjolkan pemerintah melalui branding tersebut, yang dikomunikasikan secara primer melalui penyelenggaraan event Tomohon International Flower Festival (TIFF) dan secara sekunder melalui keberadaan berbagai taman bunga, tanaman hias pada koridor jalan raya, taman vertikal dan kios-kios bunga, serta kebiasaan masyarakat dalam menggunakan dan menanam bunga hidup. Branding Kota Bunga dibuat untuk memasarkan dan memperkenalkan potensi florikultura dan bunga khas kota Tomohon secara global, didukung dengan slogan “We Greet The World With Flowers”. Namun, penerapannya saat ini cenderung terpusat pada pelaksanaan event tahunan TIFF. Selanjutnya hasil analisa model USP atas branding kota bunga Tomohon menunjukan posisi brand dalam kategori risky yang berarti dibutuhkan strategi untuk semakin menonjolkan keunggulan brand dan strategi untuk dapat bersaing dengan kompetitornya. Dirumuskanlah 9 (sembilan) strategi untuk pengembangan pariwisata di Kota Tomohon dengan branding sebagai kota bunga, yang meliputi; 1) Menekankan identitas bunga melalui logo, slogan, dan kampanye; 2) Meningkatkan citra kota bunga melalui ruang dan gerbang kota; 3) Meningkatkan kualitas promosi dan pemasaran Kota Bunga Tomohon; 4) Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pariwisata dan branding kota; 5) Meningkatkan aktivitas wisata yang merefleksikan kota bunga; 6) Mengembangkan segementasi wisatawan untuk menciptakan paket wisata yang seusai kebutuhan; 7) Menciptakan branding kota yang berkelanjutan melalui program monitoring dan evaluasi; 8) Meningkatkan kerja sama untuk mendorong investasi; dan 9) Mengembangkan teknologi pintar basis digital untuk edukasi dan penyebaran branding kota bunga.
STUDI SPASIAL LISTING AIRBNB DAN KETERKAITANNYA TERHADAP KOMPONEN 3A (ATTRACTION, AMENITIY, ACCESSIBILITY) DI KOTA BANDUNG33
Airbnb merupakan satu platform sharing economy bergerak di bidang akomodasi yang seringkali dikaitkan dengan pariwisata. Kota Bandung sebagai salah satu kota dengan tujuan wisata terfavorit di Jawa Barat, memiliki jumlah listing Airbnb terbanyak selain Jakarta dan Bali. Kemunculan platform ini mendatangkan banyak dampak positif, namun adanya dampak positif ini tentunya juga disertai oleh ancaman dampak negatif apabila tidak adanya pengawasan terhadap pertumbuhannya. Studi ini mengkaji dampak pertumbuhan platform Airbnb terhadap pariwisata di Kota Bandung dengan fokus pada komponen 3A (Attraction, Amenity, Acessibility). Melalui analisis Hot Spot Getis-Ord Gi*, Space Time Cube, dan Emerging Hot Spot, studi ini mengungkap pola distribusi listing Airbnb secara temporal dan spasial. Analisis Exploratory Regression dan Ordinary Least Square (OLS) membantu mengidentifikasi variabel pada Komponen 3A yang memengaruhi pertumbuhan listing Airbnb, sementara regresi spasial Geographically Weighted Regression (GWR) memahami hubungan spasialnya dengan komponen 3A. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan listing Airbnb cenderung berada pada wilayah bagian utara Kota Bandung dengan pertumbuhan Airbnb di Kota Bandung cenderung rendah setiap bulannya. Meskipun begitu, hampir seluruh tren pertumbuhan listing di setiap kecamatan menunjukan status up trend. Faktor-faktor dalam komponen 3A yang mempengaruhi pertumbuhan listing Airbnb berupa daya tarik wisata alam, jumlah hotel dan penginapan, serta panjang jalan lokal. Secara spasial, koefisien daya tarik wisata alam memiliki pengaruh yang tinggi pada kecamatan-kecamatan di bagian utara-barat Kota Bandung. Variabel ini merupakan variabel dengan nilai koefisien tertinggi dari variabel prediktor lainnya. Koefisien hotel dan penginapan memiliki pengaruh yang tinggi pada kecamatan-kecamatan di bagian timur Kota Bandung. Sementara itu, koefisien panjang jalan lokal memiliki pengaruh yang tinggi pada kecamatan-kecamatan di bagian utara Kota Bandung. Secara keseluruhan dapat diidentifikasi bahwa pertumbuhan listing cenderung mendekati wilayah-wilayah dengan daya tarik wisata alam yang tinggi