π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 43 dokumenSUSTAINED URBAN VILLE: HUNIAN VERTIKAL BERKELANJUTAN RESILIEN PADA AREA URBAN BERKEPADATAN TINGGI DI KOTA BANDUNG
Urbanisasi, suatu fenomena global yang tidak dapat dihindari, telah menjadi fokus perhatian utama dalam pembangunan di seluruh dunia. Penelitian ini mengeksplorasi dampak urbanisasi di Kawasan Metropolitan Bandung Raya (MBR), khususnya di Kelurahan Arjuna, dengan memeriksa implikasi pada konteks ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Meskipun urbanisasi membuka pintu akses yang lebih mudah terhadap pekerjaan dan layanan publik, pertumbuhan yang cepat dapat mengakibatkan krisis lahan dan hunian, serta menimbulkan tantangan terkait energi dan dampak lingkungan. Fokus utama penelitian ini adalah meninjau krisis lahan dan hunian, di mana peningkatan kepadatan penduduk memerlukan upaya penyediaan tempat tinggal yang layak. Penelitian ini juga mengeksplorasi dampak urbanisasi terhadap emisi gas rumah kaca, dengan penekanan pada konsumsi energi dalam sektor pembangunan. Diskusi mengenai embodied energy pada hunian menyoroti pentingnya mempertimbangkan aspek energi terkandung dalam pemilihan material bangunan, sebagai upaya untuk mengurangi dampak lingkungan selama masa hidup bangunan. Dalam konteks Kelurahan Arjuna, tapak Rusun Industri Dalam (Indal) menjadi pusat perhatian utama. Analisis terhadap tapak, termasuk delineasi tapak, topografi, klimatologi, aksesibilitas, serta aspek biologis dan lingkungan, dilakukan untuk mengidentifikasi peluang dan kendala yang melekat. Tapak ini memiliki potensi untuk dijadikan hunian berkepadatan tinggi dengan bonus demografi, karena dekat dengan sarana pendidikan, kesehatan, dan pusat lifestyle. Namun, sejumlah hambatan seperti alokasi lahan yang tidak optimal, akses terkendala, dan minimnya ruang hijau perlu diatasi untuk meraih potensi tapak secara optimal. Dalam konteks ini, dukungan penuh dari pemerintah dan partisipasi aktif komunitas menjadi kunci keberhasilan implementasi kebijakan berkelanjutan. Oleh karena itu, rekomendasi kebijakan mencakup perencanaan tata ruang yang lebih baik, peningkatan infrastruktur, pengelolaan lahan yang efisien, dan integrasi elemen hijau sebagai langkah-langkah strategis dalam menciptakan lingkungan yang inklusif, aman, dan berkelanjutan, sesuai dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitian ini memberikan kontribusi dalam menyusun kerangka konseptual dan praktis untuk mengatasi dampak urbanisasi di Kelurahan Arjuna dan sekitarnya. Dengan mendalamnya analisis terhadap tapak Rusun Industri Dalam (Indal) dan penyelidikan terkait dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan urbanisasi, diharapkan rekomendasi kebijakan yang diusulkan dapat menjadi panduan untuk mencapai perkembangan perkotaan yang berkelanjutan, serta menjadi contoh bagi kawasan lain dalam menghadapi dinamika urbanisasi dengan bijak dan berdaya. Keseluruhan, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik dan berkelanjutan dalam mengelola urbanisasi guna mencapai tujuan pembangunan yang seimbang dan berkelanjutan.
IDENTIFIKASI URBAN BIAS PADA TREN TEMPERATUR DI PULAU JAWA TAHUN 1963-2022
Perubahan temperatur menjadi indikator utama dalam perubahan iklim. Namun dengan meningkatnya urbanisasi, terdapat faktor ketidakpastian dalam pengamatan tren temperatur terutama di perkotaan. Dengan adanya ketidakpastian ini, perlu dipelajari lebih lanjut mengenai urban bias di Indonesia khususnya di Pulau Jawa yang memiliki tingkat urbanisasi paling tinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi urban bias pada tren temperatur di Pulau Jawa dalam dua periode iklim terakhir (1962-1992 dan 1993-2022) dan mengidentifikasi variasi spasial dari bias urban pada tren temperatur di Pulau Jawa. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data observasi temperatur permukaan, kecerahan malam hari, kepadatan populasi dan temperatur permukaan reanalisis ERA5 (The European Centre for Medium-Range Weather Forecast (ECMWF) Reanalysis 5-th Generation). Klasifikasi urban dan rural dihitung berdasarkan kepadatan penduduk dan kecerahan malam hari yang selanjutnya diturunkan menjadi derajat urbanisasi. Perhitungan tren temperatur menggunakan regresi linear serta perhitungan urban bias dengan metode urban minus rural. Pada identifikasi urban bias dengan data observasi teridentifikasi urban bias positif pada tren anomali temperatur maksimum, rata-rata dan diurnal range. Pada identifikasi urban bias dengan data reanalisis di periode 1 (1963-1992) hanya terdapat urban bias positif pada tren anomali temperatur minimum, sedangkan pada periode dua urban bias mayoritas bernilai positif dengan dengan urban bias pada tren anomali temperatur rata-rata sebesar 16%. Pada variasi spasialnya, wilayah Jawa Barat memiliki urban bias paling tinggi.
PERANCANGAN KAMPUNG SUSUN DENGAN MENGINTEGRASIKAN INDUSTRI GARMEN RUMAHAN DI TAMBORA, JAKARTA BARAT
Pertumbuhan penduduk yang cepat telah menciptakan kepadatan penduduk yang tinggi di kota-kota besar di Indonesia. Kepadatan penduduk Indonesia dipengaruhi oleh persebaran yang tidak merata, dengan sekitar 56,1% populasi Indonesia mendiami Pulau Jawa. Urbanisasi yang signifikan, pembangunan tak merata, dan dorongan ekonomi yang kuat telah mendorong peningkatan jumlah penduduk. Khususnya di DKI Jakarta, sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan, kepadatan penduduknya mencapai 16.125 jiwa/kmΒ², melebihi standar normal WHO (9.600 jiwa/kmΒ²). Meskipun terjadi pertumbuhan ekonomi yang pesat, muncul berbagai permasalahan diantaranya ketidaksetaraan sosial, ketidakadilan ekonomi, dan isu lingkungan, seperti permukiman kumuh, banjir, polusi, dan pengangguran. Budaya bermukim masyarakat tradisional Indonesia umumnya menetap di suatu kampung. DKI Jakarta memiliki lebih dari 600 permukiman padat yang dinamakan kampung kota. Kampung kota merupakan lingkungan perumahan tradisional spesifik Indonesia, ditandai dengan kehidupan masyarakat yang terjalin dalam ikatan kekeluargaan yang erat (Herbasuki, 1984). Salah satu kampung kota terpadat di DKI Jakarta berada di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Wilayah ini didominasi oleh perumahan padat, lingkungan kumuh, dan kondisi sosial ekonomi yang beragam. Di sisi lain, Kampung Tambora termasuk ke dalam kawasan strategis untuk perdagangan, industri kecil, dan jasa. Kampung Tambora terkenal dengan industri garmen rumahan yang menjadi mata pencaharian warganya. Akan tetapi, infrastruktur perumahan yang ada kurang memadai untuk dapat mengakomodasi ruang ekonomi bagi warga dengan kondisi lingkungan yang tidak layak sehingga menjadi masalah utama yang perlu diatasi. Dalam konteks ini, arsitektur memiliki potensi untuk menyediakan solusi perumahan berkelanjutan bagi kampung kota dengan menghadirkan wadah komunitas yang dapat mendukung ekonomi lokal berupa kampung susun. Pengembangan kampung susun ini mengintegrasikan tempat tinggal dengan ruang ekonomi ini mendorong produktivitas warga sekitar yang mencerminkan nilai-nilai budaya lokal. Pendekatan perancangan yang digunakan adalah behavior setting untuk dapat memahami perilaku dari pengguna. Solusi ini diharapkan dapat menawarkan lingkungan hidup yang lebih baik bagi penduduk Kampung Tambora, juga mempertahankan identitas dan ikatan sosial yang kuat di dalamnya.
PERANCANGAN LIFESTYLE CENTER DENGAN PENDEKATAN NEARLY ZERO ENERGY BUILDING DI PEKANBARU
Indonesia merupakan negara penghasil emisi karbon terbesar ke-5 sedunia. Dalam menyumbangkan emisi karbon di Indonesia ini didominasi dengan perubahan penggunaan lahan. Emisi karbon merupakan salah satu gas rumah kaca yang dapat menyebabkan perubahan iklim yang merugikan seperti perubahan cuaca, musim, bahkan merusak ekosistem. Pekanbaru sebagai kota yang memiliki tujuh perencanaan perkotaan baru ini memiliki potensi dalam pelepasan karbon yang sangat besar. Pusat perbelanjaan, dibandingkan dengan fungsi lain seperti rumah sakit, perkantoran, dan hotel memiliki intensitas konsumsi energi terbesar. Hal ini menggarisbawahi urgensi untuk mengadopsi pendekatan yang berkelanjutan dalam rancangan beserta operasionalnya. Lifestyle Center, tidak hanya sekedar pusat perbelanjaan tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial dan rekreasi yang dapat mendukung gaya hidup berkelanjutan. Oleh karena itu, fokus utama pada rancangan ini yaitu pada energi operational bangunan, yang dimana energi operasional ini menjadi kontributor dominan pada siklus hidup bangunan. Dalam menerapkan konsep nZEB, tidak hanya dalam hal energi efisiensinya tetapi juga dapat meminimalisir karbon yang dihasilkan dalam kegiatan operasional sehari-harinya. Oleh karena itu, pada rancangan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam energi efisiensi dan karbon yang dihasilkan, sekaligus memberikan wawasan dan solusi baru dalam merancang pusat perbelanjaan yang lebih berkelanjutan di era urbanisasi dan perubahan iklim.
EVALUASI EFEKTIVITAS PENERAPAN HUNIAN BERIMBANG PADA PERUMAHAN KOMERSIAL DI GEDEBAGE, KOTA BANDUNG (STUDI KASUS: PERUMAHAN BUMI ADIPURA, SUMMARECON BANDUNG, DAN GRIYA CEMPAKA ARUM)
Penerapan hunian berimbang di Indonesia mewajibkan pengembang swasta untuk membangun rumah sederhana, menengah, dan mewah dalam satu hamparan guna memastikan akses perumahan merata bagi berbagai segmen masyarakat. Tujuan utama dari aturan ini adalah menciptakan keserasian sosial dan ekonomi melalui subsidi silang, dengan menyediakan rumah sederhana yang berdampingan dengan rumah mewah dan menengah. Namun, implementasinya masih menghadapi kendala yang signifikan. Tingginya harga tanah dan lemahnya penegakan hukum, yang membuat pengembang cenderung mengabaikan prinsip hunian berimbang. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan realitas penerapan hunian berimbang pada perumahan komersial di Kecamatan Gedebage Kota Bandung, yang mengalami urbanisasi setelah ditetapkan sebagai kawasan teknopolis dan Pusat Pelayanan Kota Kedua di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kasus. Di mana terdapat tiga lokasi studi terpilih, yakni Perumahan Bumi Adipura, Perumahan Summarecon Bandung dan Perumahan Griya Cempaka Arum. Fokus utama penelitian ini adalah mengevaluasi efektivitas penerapan hunian berimbang dalam hal persyaratan, peran pelaku pembangunan perumahan, dan kendala-kendala yang dihadapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi aturan hunian berimbang sebagai upaya penyediaan perumahan rakyat tidak efektif karena masih terhambat sejumlah tantangan, terutama terkait dengan kepatuhan pengembang dan penegakan hukum. Konsep hunian berimbang pada perumahan komersial oleh pengembang swasta lebih efektif dalam menciptakan keberagaman hunian dalam satu kawasan bagi masyarakat menengah ke atas daripada dalam mewajibkan pengembang swasta untuk menyediakan rumah sederhana. Penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih terintegrasi dengan perencanaan tata ruang untuk mencapai tujuan hunian berimbang.
PENGARUH PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP DINAMIKA PERKOTAAN DI KAWASAN REBANA TAHUN 2000-2020
Akibat adanya ketimpangan pada pembangunan yang tidak merata di Jawa Barat menjadi salah satu alasan ditetapkannya rencana aksi pengembangan Kawasan Metropolitan Cirebon-Patimban-Kertajati (REBANA) yang mencakup beberapa kabupaten dan kota. Kawasan ini diharapkan dapat meningkatkan investasi dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi industri sebagai kegiatan utamanya pada wilayah Jawa Barat bagian timur-utara. Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu hal yang menyebabkan terjadinya urbanisasi dan mempercepat pertumbuhan dan perkembangan kota. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pertumbuhan industri terhadap dinamika perkotaan di kawasan rebana tahun 2000 sampai 2020, dengan fokus pada perubahan dinamika perkotaan yang digambarkan berdasarkan pada aspek fisik, ekonomi, dan demografi serta pertumbuhan sektor industri yang dilihat melalui perubahan nilai PDRB sektor industri. Selain itu perubahan luas kawasan terbangun akibat adanya kawasan peruntukan industri di tahun 2030 juga akan dicari tahu. Penelitian ini berada pada ruang lingkup wilayah Kawasan Rebana dengan menggunakan unit analisis berupa batas administrasi wilayah kecamatan yang ada di Kawasan Rebana dengan menggunakan data tahun 2000 yang terdiri dari total 130 kecamatan. Penelitian ini akan melihat perubahan dinamika perkotaan yang terjadi di Kawasan Rebana pada rentang tahun 2000 hingga tahun 2020 serta 2020 sampai 2030 untuk rentang waktu proyeksi luas kawasan terbangun. Metode pengumpulan data sepenuhnya dilakukan dengan menggunakan pengumpulan data sekunder. Dalam pengerjaan penelitian ini digunakan metode analisis yaitu analisis statistik deskriptif, analisis laju, analisis regresi linier sederhana, dan analisis spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika perkotaan di Kawasan Rebana mengalami perubahan dengan laju positif dan membentuk persebaran yang memusat di beberapa lokasi seperti di sekitar kawasan perkotaan bagian utara maupun selatan Kawasan Rebana. dari hasil analisis regresi, perekonomian sektor industri diketahui memberikan pengaruh terhadap dinamika perkotaan di Kawasan Rebana. Pertumbuhan positif pada ekonomi industri berpengaruh sebesar 24,7% terhadap peningkatan ekonomi keseluruhan serta berpengaruh sebesar 13,3% padaii pertambahan luas kawasan terbangun yang keduanya sama-sama berkorelasi positif. Hasil analisis juga menunjukkan proyeksi peningkatan luas kawasan terbangun secara signifikan di tahun 2030 dengan perbedaan lebih dari 23% ketika kawasan peruntukan Industri berkembang sepenuhnya menjadi kawasan Industri.
PENGEMBANGAN SARANA MENCUCI PAKAIAN UNTUK IBU RUMAH TANGGA DI DAERAH URBAN PADAT PENDUDUK
Urbanisasi merupakan fenomena besar di Indonesia yang telah berlangsung sejak pertengahan abad ke-20 dan terus meningkat setiap tahunnya. Menurut Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS), sebanyak 54,7% penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan dan terus meningkat setiap tahunnya. BPS juga memperkirakan jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan akan meningkat menjadi 66,6% pada tahun 2035. Namun, infrastruktur kota yang terbatas ditambah semakin banyak penduduk yang pindah ke perkotaan mengakibatkan munculnya permukiman padat penduduk. Infrastruktur kota yang kurang memadai memiliki dampak yang besar pada ketersediaan air bersih yang menjadi masalah serius bagi masyarakat yang tinggal di permukiman padat penduduk. Menanggapi permasalahan tersebut, perancangan sebuah sarana mencuci yang dapat meningkatkan efisiensi dalam penggunaan air bersih memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang tinggal di wilayah urban padat penduduk. Dengan melakukan observasi langsung terhadap kebiasaan aktivitas ibu rumah tangga di permukiman padat penduduk, sarana tersebut dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan, ergonomi, dan batasan-batasan pengguna.
FUTURE LIVING: HOUSING IN TRANSIT DEVELOPMENT AREA TO ALLEVIATE TRAFFIC CONGESTION
Urbanisasi di Jakarta telah menyebabkan pertumbuhan populasi yang cepat dan peningkatan jumlah kendaraan bermotor. Hal ini telah mengakibatkan kemacetan yang parah di berbagai wilayah kota. Untuk mengatasi masalah ini, strategi yang diusulkan adalah pembangunan hunian mixed use di kawasan yang terintegrasi dengan sistem transportasi publik yang ada. Pembangunan hunian mixed use bertujuan untuk menciptakan kawasan yang tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menawarkan fasilitas komersial, perkantoran, dan area rekreasi dalam satu lingkungan. Kawasan ini dirancang agar penduduknya dapat menjalani kegiatan sehari-hari tanpa perlu menggunakan kendaraan pribadi secara intensif. Pembangunan hunian mixed use yang berorientasi transit akan memberikan akses yang mudah ke sarana transportasi publik seperti stasiun kereta api, terminal bus, atau jalur khusus transportasi massal lainnya. Hal ini akan merangsang penggunaan transportasi umum, mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang masuk ke dalam kota, dan secara efektif mengurangi kemacetan. Selain itu, pengembangan kawasan berorientasi transit dapat mempromosikan gaya hidup berkelanjutan dengan menyediakan fasilitas untuk pejalan kaki dan sepeda serta mengurangi kebutuhan akan mobilitas dengan mobil pribadi. Proyek merupakan sebuah bangunan mixed-use di kawasan TOD Blok M yang merupakan kawasan TOD dengan intensitas kegiatan di sekitarnya tinggi, tetapi permukiman sekitarnya masih tergolong permukiman berkepadatan rendah. Analisis permasalahan ini kemudian menghasilkan tiga persoalan, yaitu integrasi fungsi untuk mengurangi mobilitas pengguna sebagai persoalan utama, persoalan tambahan lainnya mengenai lingkungan berbasis transit yang kreatif dan produktif sebagai respon karakteristik kawasan TOD Blok M, serta arsitektur restoratif di kawasan padat penduduk yang sejalan dengan tujuan TOD Blok M, yaitu βGreen Creative Hubβ.
MENTAL HEALTH CENTER DENGAN PENDEKATAN HEALING ENVIRONMENT
Kesehatan mental adalah bagian yang penting dalam meraih kesejahteraan yang menyeluruh. Meningkatnya urbanisasi dan kepadatan penduduk berkontribusi terhadap berbagai pemicu stres, yang menyebabkan tingkat stres yang lebih tinggi di masyarakat perkotaan dan menjadi faktor sehingga mempersulit masyarakat untuk mencapai kesejahteraan yang menyeluruh. Faktor-faktor seperti gaya hidup yang serba cepat, individualisme, dan menjauhnya manusia dari alam diidentifikasi sebagai kontributor stres di perkotaan. Fenomena stres di perkotaan dieksplorasi, menyoroti pemicu stres seperti kebisingan, polusi, kurangnya ruang hijau, dan tantangan kehidupan kota. Teks ini menekankan hubungan antara stres perkotaan dan masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan, depresi, gangguan tidur, penyalahgunaan zat, dan masalah kesehatan kronis. Mekanisme koping individu dalam menanggapi stres juga dibahas, dengan mengakui beragam cara orang menghadapi stres, baik secara positif maupun negatif. Pentingnya mengatasi masalah kesehatan mental digarisbawahi, terutama di daerah yang mengalami urbanisasi dengan cepat seperti Kota Bandung, di mana prevalensi stres dan gangguan mental terus meningkat, sedangkan pemahaman dan kesadaran masyarakatnya rendah, serta kurangnya fasilitas serta sumber daya yang memadai. Kasus Kota Bandung, Indonesia, dibahas dalam hal kepadatan penduduk, tantangan perkotaan, dan hubungannya dengan meningkatnya prevalensi masalah kesehatan mental. Kebutuhan akan fasilitas kesehatan mental dan kesadaran ditekankan, mengingat kurangnya sumber daya yang ada dan stigma seputar kesehatan mental di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan respon arsitektur untuk mengurangi stres perkotaan. Konsep "Urban oasis" dibawakan untuk menciptakan ruang publik yang tenang di dalam lingkungan perkotaan untuk mengurangi stres. Selain itu, gagasan "Pusat Kesehatan Mental" juga dipaparkan, dengan fokus pada penyediaan terapi psikologis, perawatan komplementer, edukasi, serta pembentukan komunitas yang mendukung dalam lingkungan yang regeneratif dan terhubung dengan alam. Pentingnya "Healing Environment" juga disoroti, dengan menekankan integrasi elemen-elemen alam ke dalam lingkungan binaan untuk meningkatkan kesejahteraan. Sebagai kesimpulan, teks ini mengadvokasi intervensi arsitektural dan fasilitas kesehatan jiwa untuk mengatasi meningkatnya stres perkotaan dan tantangan kesehatan jiwa di Bandung. Tujuannya adalah untuk menciptakan ruang yang inklusif dan suportif yang mendorong kesejahteraan dan mengurangi dampak negatif urbanisasi terhadap kesehatan mental.
DAMPAK URBANISASI TERHADAP PERTANIAN PINGGIRAN KOTA JAKARTA RAYA: POLA SPASIAL, INTENSITAS, PERILAKU DAN PERSPEKTIF KEBERLANJUTAN
Pertanian pinggiran kota (peri urban agriculture; PUA) menjadi topik yang semakin relevan di Belahan Bumi Selatan (the Global South) karena daerah-daerah ini terus mendapatkan tekanan dari aktivitas perkotaan dengan berkembangnya kebutuhan tempat tinggal dan kebutuhan lahan lainnya. Pertanian pinggiran kota, sebagai sumber makanan lokal, dapat memainkan peran penting dalam berbagai aspek. Karakteristik peri-urban di negara berkembang berbeda dengan negara maju. Di negara berkembang, wilayah pertanian yang masif terdampak dari ekspansi perkotaan (urbanisasi). Salah satunya adalah wilayah sentra pangan. Bagaimana wilayah tersebut sampai saat ini masih bertahan terhadap urbanisasi menjadi bagian penting dari penelitian ini. Peran petani dan juga komunitas pertanian sebagai aktor kunci menjadi bagian penelitian yang penting untuk menjelaskan sikap petani masih bertahan sampai saat ini. Berbagai penelitian terkait belum ada yang melihat sebagai satu kesatuan, mulai dari menjelaskan proses ekspansi perkotaan dan dampaknya terhadap pertanian, mentipologikan karakteristik pertanian, menjelaskan sikap petani terhadap tekanan urbanisasi, dan keterkaitan keduanya. Dimensi fisik-spasial, ekonomi sampai perilaku dibahas secara berkesinambungan dalam disertasi ini. Hipotesisnya adalah karakteristik pertanian dan jenis petani yang berbeda menyebabkan perbedaan respon dalam memastikan keberlanjutan pertanian di setiap wilayah. Oleh karena itu, kondisi ini memiliki konsekuensi penting untuk perencanaan wilayah kedepan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman sistematis dan mendalam dampak urbanisasi terhadap keberlanjutan pertanian dilihat dari sisi dinamika spasial, karakteristik, tipologi, dan hubungan antara pola spasial dan pertanian. Untuk membuktikan hipotesis diatas pendekatan penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Studi kasus penelitian ini multi-skala: global, wilayah, lokal, dan rumah tangga di sekitar Jakarta Raya, utamanya Kabupaten Karawang sebagai salah satu pusat produksi pertanian yang terdampak langsung urbanisasi. Berbagai tinjauan literatur ekstensif, dan analisis, seperti K-means clustering, analisis faktor, tabel matriks logik, Qualitative Comparative Analysis (QCA) dan analisis spasial digunakan dalam penelitian ini. Berbagai temuan diuraikan per bab secara i berurutan untuk menjawab setiap sasaran yang telah ditentukan. Hasil penelitian diuraikan sebagai berikut: Saat ini urbanisasi semakin masif memengaruhi keberlanjutan PUA. Keberadaan PUA sangat penting untuk melindungi seluruh ekosistem wilayah. Wilayah perkotaan mendapatkan manfaat terbesar dari lestarinya PUA. Sub-ekosistem pinggiran kota yang rusak juga akan berdampak negatif pada wilayah disekitarnya, yang diindikasikan dengan meningkatnya bencana dan kekurangan pangan. Oleh karena itu, mengenali karakteristik pertanian pinggiran kota menjadi bagian penting dalam rangka memastikan keberlanjutan PUA. Analisis klasterisasi K-means menjadi salah satu pilihan yang digunakan untuk melakukan pentipologian karakteristik PUA. Hasilnya menggambarkan keragaman kondisi pertanian berdasarkan intensitasnya. Semakin tinggi intensitas pertanian di wilayah pinggiran kota, semakin seragam tipologi jenis pertaniannya, semakin luas lahan, dan semakin banyak jumlah petaninya. Tipologi PUA dapat memberikan berbagai opsi perencanaan kebijakan pemerintah, baik kearah konservatif maupun eksploitatif dan juga memahami posisi pada rezim pertanian (productivism, post-productivism, atau multifunctional). Menilik lebih dalam hasil tipologi ini, berdasarkan karakteristik PUA, dapat disederhanakan konteksnya menjadi mempertahankan pertanian dapat dilihat dari perspektif, subjek dan objeknya. Subjek dalam hal ini petani bermakna mempertahankan aktivitas, sedangkan objek bermakna petani yang mempertahankan properti/lahannya. Selain keduanya, kebijakan juga menjadi aspek karena menyangkut regulasi. Jenis petani beragam antara lain petani pemilik, penggarap, pemilik-penggarap, penyewa, dan penggadai. Salah satu yang memengaruhi keputusan mempertahankan pertanian adalah jenis petani dan karakteristik pertanian. Oleh karenanya, menjelaskan kausalitas antara keduanya menjadi sasaran akhir untuk mengetahui cara mempertahankan pertanian, utamanya PUA. Kebaruan yang dihasilkan adalah pertama berkontribusi terhadap debat posisi pertanian pinggiran kota yang sangat rentan berubah, namun berdampak besar terhadap jasa lingkungan wilayah sekitarnya, terutama wilayah perkotaan, sehingga perlu dipertahankan. Kedua, urbanisasi tidak selalu mengancam keberlanjutan lahan pertanian, tetapi beberapa diantaranya berupa pergeseran aktivitas perdesaan. Ketiga, pertanian tidak serta merta berkontribusi terhadap keberlanjutan wilayah, diperlukan kontribusi dari beragam aspek/sektor dibandingkan peningkatan intensitas pertanian itu sendiri. Keempat, telah dihasilkan set variabel baru dalam pentipologian wilayah yang dapat secara spesifik mendeteksi perbedaan yang signifikan pada wilayah yang berdekatan berdasarkan intensitas pertaniannya. Kelima, tekanan urbanisasi sangat memengaruhi sikap petani terhadap keberlanjutan pertanian.
EVALUASI DESAIN BARU LAPANGAN MERDEKA KOTA MEDAN TERHADAP KENYAMANAN TERMAL PEJALAN KAKI
Lapangan Merdeka, yang terletak di Kota Medan, merupakan landmark penting yang memainkan peran krusial dalam jalinan sosial, budaya, dan sejarah kota tersebut. Ia bukan hanya sekadar lahan terbuka; Lapangan Merdeka mencerminkan semangat kebebasan dan persatuan yang memiliki arti besar bagi perkembangan terus-menerus Medan. Proses urbanisasi yang cepat di Kota Medan telah menyebabkan suhu kota meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya karena iklim tropisnya, yang menghadirkan tantangan dalam menciptakan kenyamanan termal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis desain baru Lapangan Merdeka Kota Medan yang berpengaruh terhadap kenyamanan termal pejalan kaki disekitarnya. Studi ini mencakup penentuan suhu paling nyaman bagi pejalan kaki, studi aspek mana saja yang mempengaruhi kenyamanan termal Lapangan Merdeka Kota medan dan menemukan daerah-daerah yang lanskapnya dapat diubah/perbaharui untuk meningkatkan kenyamanan termal pejalan kaki. Metode yang digunakan akan mencakup metode Predicted Mean Voted (PMV) untuk menentukan suhu yang nyaman bagi pejalan kaki, penggunaan ENVI-met untuk menganalisis iklim mikro dari desain baru Lapangan Merdeka Kota Medan, dan pengumpulan data melalui wawancara dan kuesioner. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan dan rekomendasi lokasi untuk meningkatkan Kenyamanan termal di Lapangan Merdeka Kota Medan. Ini akan mendorong lebih banyak orang untuk berjalan kaki dan menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan sehat di Kota Medan.
INVESTIGASI PELAYANAN AIR BERSIH PADA PERMUKIMAN INFORMAL DI KELURAHAN LEMAHWUNGKUK, KOTA CIREBON
Pesatnya urbanisasi dan pertumbuhan penduduk di negara-negara berkembang menimbulkan tantangan besar dalam penyediaan layanan dasar, termasuk layanan air bersih. Tantangan-tantangan ini terlihat jelas dalam konteks permukiman informal. Studi ini memberikan evaluasi komprehensif terhadap sistem pelayanan air bersih di permukiman informal Kelurahan Lemahwungkuk, dengan fokus pada RW5 dan RW6, di Kota Cirebon. Penelitian ini didorong oleh kebutuhan penting untuk memahami aksesibilitas, kualitas, dan tata kelola air bersih di wilayah yang ditandai dengan pesatnya urbanisasi dan pertumbuhan pemukiman informal. Dengan tujuan menyeluruh untuk meningkatkan akses air bersih sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipologi sistem air saat ini, memahami pengaturan tata kelola, dan menilai persepsi masyarakat mengenai layanan air bersih. Studi ini menggunakan beberapa metode termasuk, analisis kuantitatif, analisis kualitatif deskriptif, analisis tipologi, analisis konten, dan analisis spasial, studi ini mengintegrasikan data dari kuesioner, wawancara, dan observasi, di samping pemetaan Sistem Informasi Geografis (SIG). Metodologi ini memungkinkan eksplorasi dinamika layanan air bersih yang bernuansa, yang mengungkap lanskap penyediaan air bersih yang kompleks yang ditandai dengan berbagai tingkat aksesibilitas, keandalan, dan kepuasan di antara anggota masyarakat. Temuan studi ini menunjukkan adanya lima tipologi sistem air dengan ketergantungan utama pada sistem air minum kota yang disediakan oleh PDAM Tirta Giri Nata, dengan sebagian besar penduduk juga bergantung pada sumbersumber alternatif seperti sumur pribadi, sumur umum, dan penjual air. Terlepas dari kepuasan umum terhadap kualitas dan kecukupan layanan air, tantangan terkait keterjangkauan, keandalan, dan masalah kualitas tertentu disoroti. Studi ini menemukan adanya kesenjangan dalam pengalaman layanan air bersih, dimana rumah tangga berpenghasilan rendah menghadapi kesulitan yang lebih besar dalam hal keterjangkauan dan keandalan layanan. Pengaturan tata kelola ditemukan sebagai perpaduan antara manajemen formal dan terpusat oleh PDAM dan pendekatan berbasis masyarakat, dengan penekanan utama pada keterlibatan masyarakat dalam pemeliharaan dan peningkatan layanan air minum.
ARAHAN PENYEDIAAN PERUMAHAN DI KAWASAN PERKOTAAN PURWAKARTA BERDASARKAN KETERSEDIAAN LAHAN POTENSIAL UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN DAN PERMINTAAN PERUMAHAN
Lahan merupakan tempat yang dibutuhkan dalam menyuplai keperluan masyarakat. Peningkatan jumlah penduduk dapat mempengaruhi pertumbuhan suatu wilayah, dan berdampak kepada supply lahan yang terbatas. Keterbatasan lahan ini dapat disebabkan oleh adanya tuntutan dalam kelangsungan kebutuhan hidup masyarakat untuk permukiman. Adanya kenaikan jumlah penduduk yang tidak dapat dihindari, memunculkan beberapa permasalahan dalam pengalokasian ruang. Kabupaten Purwakarta terkhusus kawasan Perkotaan Purwakarta merupakan ibukota Kabupaten mengakibatkan urbanisasi, bersumber Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Purwakarta di tahun 2018 mencatat sebanyak 1.348 jiwa penduduk yang datang ke Kecamatan Purwakarta. Bersumber dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Purwakarta Tahun 2011 β 2031 terdapat rencana pola ruang berupa Kawasan Permukiman Perkotaan seluas 8161,01 Ha, dan rencana kawasan permukiman perdesaan seluas 6576,42 Ha. Penelitian menggunakan jenis penelitian eksploratif yang dimana untuk mencari hubungan gejala-gejala yang hendak diteliti antara ketersediaan lahan potensial dengan permintaan perumahan. Berdasarkan analisis ketersediaan lahan potensial kawasan perkotaan Purwakarta memiliki luas lahan potensial 1297,56 Ha. Maka, arahan penyediaan perumahan di kawasan Perkotaan Purwakarta untuk lahan potensial yang tinggi dapat membangun perumahan dengan komposisi 3:2:1, sedangkan lahan potensial yang rendah menggunakan sistem rumah sewa.