📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4,000 dokumen

STUDI PENGARUH DOPING LOGAM-TRANSISI 3D TERHADAP TEGANGAN INTERKALASI DAN LAJU DIFUSI ION NATRIUM PADA KATODA BATERAI NA3V2(PO4)3

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh doping logam-transisi 3d terhadap tegangan interkalasi, stabilitas termodinamika, dan difusi ion natrium pada material katoda Na3V2(PO4)3 menggunakan pendekatan komputasi. Sistem yang dianalisis meliputi material pristine Na3V2(PO4)3 dan material terdoping Na3V2(PO4)3 dengan M = Sc, Ti, Cr, Mn, Fe, Co, Ni, Cu, dan Zn. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa setiap dopan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap karakteristik elektrokimia material. Pada analisis tegangan interkalasi, beberapa dopan seperti Zn, Cu, Ni, Fe, dan Sc menunjukkan tegangan awal yang relatif tinggi dibandingkan pristine, sehingga berpotensi meningkatkan karakteristik energi material katoda. Namun, peningkatan tegangan tidak selalu sejalan dengan peningkatan difusi ion natrium. Hasil analisis energi aktivasi menunjukkan bahwa Co-doped juga menunjukkan karakteristik difusi yang baik dengan energi aktivasi sekitar 0,22 eV, sehingga paling efektif dalam meningkatkan mobilitas ion Na3. Sebaliknya, Zn, Ti, Ni, dan Cu cenderung meningkatkan hambatan difusi ion natrium. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa doping logam-transisi 3d mampu memodifikasi sifat termodinamika dan elektrokimia Na3V2(PO4)3. Pemilihan dopan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara tegangan interkalasi, stabilitas termodinamika, dan kinetika difusi ion natrium.

2026
👤 Penulis: Favian Widyardhana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN DAN VALIDASI SISTEM MANAJEMEN ALARM DAN LOGIKA INTERLOCK BERBASIS STANDAR IEC 61499 MELALUI VIRTUAL COMMISSIONING PADA FASILITAS PROSES TIGA TANGKI

Sistem otomasi industri modern menghadapi risiko alarm floods, yaitu membanjirnya peringatan dalam selang waktu singkat yang menurunkan kesigapan situasional operator dan berpotensi memicu kecelakaan proses. Penelitian ini merancang sistem pengawasan dan proteksi terintegrasi yang menggabungkan manajemen alarm, logika interlock keselamatan, dan antarmuka High Performance-Human Machine Interface ke dalam satu arsitektur terdistribusi berbasis standar International Electrotechnical Commission (IEC) 61499. Objek penelitian adalah fasilitas proses tiga tangki berinteraksi yang memiliki dinamika nonlinear. Model matematis fasilitas diturunkan dari hukum kesetimbangan massa, kemudian koefisien luarannya diidentifikasi melalui injeksi sinyal Pseudo-Random Binary Sequence dan optimisasi Particle Swarm Optimization. Untuk meredam alarm palsu akibat derau sensor, algoritma alarm dilengkapi parameter deadband dan delay timer, sementara fungsi proteksi dirancang sebagai Execution Control Chart yang independen terhadap kendali reguler. Validasi dilakukan melalui virtual commissioning berskema Software-in-the-Loop yang memanfaatkan model Simulink dan protokol Open Platform Communications Unified Architecture, lalu hasilnya dikomparasikan langsung terhadap implementasi pada fasilitas fisik. Hasil identifikasi menunjukkan model virtual mampu merepresentasikan dinamika fasilitas aktual dengan galat Root Mean Square Error total sebesar 2,39 cm. Penerapan deadband 1,2 cm dan delay timer 3 detik terbukti menekan fenomena chattering alarm secara signifikan, yaitu dari sebelas menjadi dua aktivasi pada lingkungan virtual dan dari delapan menjadi tiga aktivasi pada fasilitas fisik. Logika interlock keselamatan mandiri mencatatkan latensi interlock sebesar 1 detik pada perangkat keras fisik, lebih cepat dibanding 2,25 detik pada lingkungan virtual, dan keduanya berada jauh di bawah ambang Process Safety Time yang ditetapkan sebesar 30 detik.

2026
👤 Penulis: Gerard Alexander Sitompul
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

SINTESIS, KARAKTERISASI, DAN STUDI VOLTAMMETRI SIKLIK KOMPLEKS MN(II)-GALAT SEBAGAI MATERIAL ELEKTROKATALITIK UNTUK OKSIDASI GLUKOSA

Dalam beberapa tahun terakhir, material anorganik berbasis logam transisi t lah banyak dikembangkan sebagai elektrokatalis untuk mengoksidasi glukosa secara langsung melalui mekanisme transfer elektron pada permukaan elektroda. Pendekatan ini diharapkan menghasilkan material sensor glukosa non-enzimatik yang memiliki stabilitas lebih tinggi dibandingkan dengan sensor glukosa berbasis enzim. Pada penelitian ini, kompleks Mn(II)­ galat berhasil disintesis dan dievaluasi potensinya sebagai material elektrokatalitik untuk reaksi oksidasi glu.kosa menggunakan teknik voltametri siklik. Hasil analisis pola Powder X­ ray Diffraction (P-XRD) menunjukkan bahwa kompleks Mn(II)-galat yang diperoleh memiliki struktur kristal yang sesuai dengan referensi Mn(II)-galat dihidrat (CCDC 286498). Analisis komposisi unsur melalui AAS dan CHNS elemental analyzer menunjukkan kadar unsur Mn, C, H,. dan S masing-masing sebesar 24%; 31,06%; 3,58%; dan 0,053%, yang konsisten dengan rumus molekul Mn(C10sfu)·2H20 (Mr = 259,07 g/mol). Keberadaan dua molekul air hidrat dalam struktur kompleks selanjutnya dikonfrrmasi melalui analisis termogravimetri (TGA). Pembentukan ikatan koordinasi antara ion Mn(II) dan ligan galat dibuktikan oleh hilangnya pita regangan 0-H karboksilat pada 3064,33 cm-1 serta munculnya pita regangan Mn-0 pada 557,81 cm-1 pada spektra FTIR. Spektra UV-Vis memp rlihatkan pita serapan berintensitas rendah pada 612 99 run yang berasal dari transisi d-d khas senyawa Mn(Il). Pengukuran momen magnet dengan MSB menghasilkan nilai momen magnet sebesar 5,771 BM yang menunjukkan bahwa kompleks Mn(II) -galat berada pada keadaan spin tinggi (high-spin, d5). Hasil citra SEM memperlihatkan morfologi kristal berbentuk prismat ik dengan permukaan yang kasar clan berpori. Kinerja elektrokimia kompleks Mn(II)-galat dievaluasi menggunakan elektroda pasta karbon yang dimodifikasi dengan 10% (bib) kompleks Mn(II)­ galat. Modifikasi elektroda tersebut meningkatkan kemampuan transfer elektron, yang ditunjukkan oleh penurunan hambatan transfer muatan (Rct) dari 429 n menjadi 84 Q serta peningkatan luas permukaan aktif elektroda dari 1 06 menjadi 49,6 c1n2 • Aktivitas elektrokatalitik terhadap oksidasi glukosa diamati dalam medium NaOH 0,1 M, yang ditandai dengan meningkatnya arus oksidasi seiring bertambahnya konsentrasi glukosa. Studi kinetika menunjukkan bahwa proses oksidasi glukosa dikendalikan oleh mekanisme difusi dengan kontribusi proses adsorpsi pada permukaan elektroda. Pengukuran amperometri menghasilkan rentang tinier sebesar 0,38,30 mM, dengan limit deteksi (LoD) sebesar 140 µM dan limit kuantifikasi (LoQ) sebesar 470 µM. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompleks Mn(II)-galat memiliki potensi sebagai material elektrokatalitik untuk pengembangan sensor glukosa non-enzimatik yang stabil.

2026
👤 Penulis: Asilah Syafa Abdurrahman
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

EVALUASI KOMPARATIF ENERGY TRANSFER STATION PADA SISTEM DISTRICT COOLING BERBASIS KONEKSI LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG MELALUI SIMULASI MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK OPENMODELICA

Kebutuhan pendinginan pada kawasan kampus dengan beban termal besar dan berubah sepanjang waktu memerlukan sistem pendinginan yang efisien, andal, serta mampu menjaga kondisi operasi gedung. District Cooling System (DCS) menjadi salah satu alternatif melalui penyediaan air dingin secara terpusat, sedangkan Energy Transfer Station (ETS) berperan penting dalam menentukan performa perpindahan panas dan distribusi aliran antara jaringan district dengan sistem gedung. Oleh karena itu, evaluasi konfigurasi ETS diperlukan untuk memperoleh rancangan yang sesuai bagi penerapan DCS pada kawasan kampus. Kajian ini membandingkan lima konfigurasi ETS pada DCS untuk empat Gedung Laboratorium Teknologi Institut Teknologi Bandung, yaitu Koneksi langsung serta Koneksi tidak langsung menggunakan Plate Heat Exchanger (PHE) dengan aliran counterflow, parallelflow, dan Shell and Tube (S&T). Model disusun menggunakan OpenModelica dan disimulasikan selama 24 jam dengan interval satu jam berdasarkan profil beban pendinginan dinamis. Evaluasi dilakukan terhadap temperatur suplai dan balik, penurunan tekanan, selisih kapasitas kalor, nilai UA, serta keseimbangan massa dan hidraulik pada header suplai dan balik melalui turunan persamaan Navier-Stokes. Konfigurasi Koneksi langsung menghasilkan temperatur suplai 4.40-4.46 °C dan temperatur balik 10.41-12.35 °C. PHE Counterflow menghasilkan temperatur suplai 4.63-7.06 °C dan temperatur balik 11.33-13.4 °C dengan approach temperature 0.23-2.66 °C. Penurunan tekanan pada sisi gedung dan district berturut-turut sebesar 5.26-40 kPa dan 7.35-40.78 kPa, selisih kapasitas kalor sebesar 23.08-15,189.30 W/K, serta nilai UA sebesar 304.403-669.417 W/K. PHE Parallelflow menghasilkan temperatur suplai 5.87-17.33 °C dan temperatur balik 7-25.67 °C dengan penurunan tekanan 3.6-10.33 kPa pada sisi gedung dan 2.93-12.2 kPa pada sisi district. Nilai UA yang diperoleh sebesar 43,693.90-104,206 W/K. Konfigurasi S&T menghasilkan temperatur suplai 7.65-18.03 °C dan temperatur balik 10.21-28.29 °C, dengan penurunan tekanan 2.60-9.05 kPa pada sisi gedung dan 35.50-94.76 kPa pada sisi district. Seluruh konfigurasi menunjukkan keseimbangan massa dan hidraulik yang stabil pada header suplai dan balik. PHE Counterflow dipilih sebagai konfigurasi paling optimal.

2026
👤 Penulis: Aliyah Shafina
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STUDI KOMPUTASI MEKANISME REAKSI REDUKSI OKSIGEN PADA KATALIS ATOM GANDA JANUS DENGAN VARIASI LINGKUNGAN GRAFITIK UNTUK KATODE SEL TUNAM

Dalam upaya perancangan katalis yang efisien dalam aspek performa dan biaya untuk reaksi reduksi oksigen (ORR) pada katode sel tunam, katalis atom ganda (DAC) janus telah muncul sebagai salah satu kandidat yang menarik karena memiliki struktur yang unik dan aktivitas ORR yang baik. Melalui serangkaian perhitungan teori fungsional kerapatan (DFT), diperoleh adanya peningkatan kestabilan DAC janus pada pinggiran grafitik zigzag, dengan situs aktif ortho yang cenderung lebih stabil dibandingkan situs aktif para. Melalui jalur reduksi empat elektron secara asosiatif, ORR pada DAC janus dimodelkan via adsorpsi O2 mode Pauling dan Yeager pada situs logam ganda, dengan pendekatan computational hydrogen electrode (CHE) untuk mendapatkan potensial onset. Di antara berbagai konfigurasi situs aktif ortho, (CoFe–N3O3)????@????1 menunjukkan kemampuan katalitik terbaik, dengan nilai potensial onset sebesar 0,50 V vs RHE via mekanisme Pauling pada situs Fe, nilai yang mendekati aktivitas katalis berbasis Pt. Meskipun dengan aktivitas ORR yang terbatas pada situs aktif para, keberadaan intermediet ?OH justru dapat mengaktivasi ORR lebih lanjut, dengan performa puncak sebesar 0,42 V vs RHE pada (CoFe–N3O3)????–OH@????1. Temuan ini membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut secara eksperimental maupun teoretis pada area ini, serta memberikan wawasan desain katalis yang strategis dalam aplikasi sel tunam.

2026
👤 Penulis: Teuku Beuraja Laksamana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PEMODELAN DAMPAK JARINGAN DAN ANALISIS RISIKO PROBABILISTIK MENGGUNAKAN PENDEKATAN DETERMINISTIK-STOKASTIK BERBASIS DATA HISTORIS PENGGUNAAN LISTRIK UNTUK IMPLEMENTASI INFRASTRUKTUR SPKL CERDAS DI LINGKUNGAN KAMPUS ITB GANESHA

Penyediaan infrastruktur untuk transisi menuju kendaraan listrik (EV) di kampus ITB Ganesha menghadapi kendala keterbatasan infrastruktur pada SPKL yang tersedia serta potensi benturan beban daya dengan beban puncak gedung. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak penambahan beban pengisian EV terhadap stabilitas jaringan listrik kampus, menentukan infrastruktur SPKL optimal yang aman berdasarkan proyeksi penetrasi EV, dan mengevaluasi kelayakan ekonomi proyek peningkatan infrastruktur SPKL. Pemodelan dilakukan melalui pendekatan deterministik-stokastik menggunakan analisis aliran daya Newton-Raphson dan simulasi Monte Carlo berbasis data beban aktual pengukuran konsumsi listrik historis, serta hasil observasi penetrasi EV pada April 2026 di lingkungan kampus ITB Ganesha. Hasil simulasi menunjukkan seluruh skenario aman karena kelistrikan kampus memiliki sisa utilisasi daya sekitar 3.895 kVA saat beban puncak yang setara dengan 56,2% dari total kapasitas suplai 6.930 kVA. Skenario agresif dengan menggunakan 30 unit SPKL berkapasitas diatas 50kW hanya meningkatkan beban transformator maksimum sebesar 19,1% dengan tegangan bus minimum 0,9927 p.u. Implementasi pengisian cerdas berbasis perubahan waktu penggunaan (TOU) terbukti optimal menggeser beban pengisian dan menurunkan nilai Tingkat Pengurangan Efisiensi (EDI) dari 3,7% menjadi 3,3%. Secara finansial, integrasi SPKL tipe AC 22 kW terbukti jauh lebih menguntungkan dengan probabilitas NPV > 0 mencapai 98,2% dibandingkan tipe DC berdaya besar dengan spesifikasi 100 kW ke atas yang menghasilkan NPV negatif akibat beban investasi awal yang terlalu tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterbatasan utama implementasi SPKL di ITB adalah aspek ekonomis, bukan teknis kelistrikan karena secara kapasitas jaringan yang ada sudah sangat kuat.

2026
👤 Penulis: Muhammad Guinnot Raid Nabihfalah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN SENSOR ELEKTROKIMIA BERBASIS ELEKTRODA PASTA KARBON TERMODIFIKASI RGO/AUNPS/MIP UNTUK DETEKSI DOPAMIN

Dopamin merupakan neurotransmiter katekolamin yang berperan krusial dalam regulasi sistem saraf pusat, termasuk fungsi motorik, kognitif, dan emosional. Ketidakseimbangan kadar dopamin dalam tubuh berkaitan erat dengan berbagai kondisi neurologis dan psikiatris seperti Parkinson, skizofrenia, depresi, serta ADHD. Deteksi secara akurat dan sensitif menjadi penting untuk mendukung pemantauan kondisi kesehatan mental, namun tantangan utama terletak pada rendahnya konsentrasi dopamin fisiologis, serta kehadiran interferen biomolekul seperti asam askorbat dan asam urat yang sering terdapat bersama dopamin dalam matriks biologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sensor elektrokimia berbasis elektroda pasta karbon (EPK) yang dimodifikasi dengan reduced Graphene Oxide (rGO), nanopartikel emas (AuNPs), dan molecularly Imprinted Polymer (MIP) berbasis polipirol untuk deteksi dopamin secara selektif dan sensitif dengan menggunakan teknik Square Wave Voltammetry (SWV). Modifikasi rGO dilakukan melalui reduksi secara elektrokimia GO yang terdispersi dalam Na2SO4 pada potensial -1,0 V selama 120 detik sebanyak 15 siklus CV, keberhasilan modifikasi dikonfirmasi melalui spektra FTIR yang menunjukkan penurunan intensitas gugus fungsi beroksigen dan citra SEM-EDS yang memperlihatkan penurunan persentase atom oksigen dari 32% menjadi 2%. Deposisi AuNPs dilakukan pada potensial tetap -0,2 V dengan waktu elektrodeposisi 900 detik, menghasilkan distribusi nanopartikel emas berukuran 50- 80 nm pada permukaan rGO. Modifikasi MIP berbasis polipirol dilakukan dengan rasio molar dopamin : pirol sebesar 1 : 2, dengan 15 siklus elektropolimerisasi menggunakan teknik CV pada rentang potensial 0,0 – 0,8 V, dan 10 siklus pelepasan molekul dopamin dalam KOH 0,1 M untuk membentuk rongga pengenalan spesifik dopamin. Optimasi kondisi pengukuran menunjukkan bahwa teknik SWV memberikan respon arus puncak tertinggi dibandingkan LSV, CV, dan DPV. pH optimum larutan PBS yang digunakna untuk pengukuran adalah 6,5 dengan kemiringan hubungan linear Epa terhadap pH sebesar -0,0662 V, mendekati nilai teoritis Nernst -0,059 V yang mengindikasikan mekanisme oksidasi dopamin melibatkan jumlah proton dan elektron yang sebanding sebanyak 2 elektron. Studi laju pindai mengonfirmasi bahwa reaksi elektrokatalisis dikontrol oleh proses difusi dengan nilai slope hubungan Log V terhadap Log I sebesar 0,5442. Luas permukaan aktif elektrokimia (ECSA) dari EPK rGO/AuNPs/MIP meningkat sebesar 117,3% dari EPK tanpa modifikasi, yang mengonfirmasi adanya kontribusi nyata setiap tahap modifikasi terhadap peningkatan luas permukaan. Uji kinerja sensor menunjukkan rentang kerja linear yang sensitif pada konsentrasi dopamin 0,1 – 1 nM dengan nilai R2 sebesar 0,9996 dan limit deteksi terkecil (LOD) sebesar 0,021 nM dan limit kuantifikasi (LOQ) sebesar 0,071 nM. Elektroda EPK rGO/AuNPs/MIP juga menunjukkan selektivitas yang baik terhadap interferen asam askorbat hingga 100 kali konsentrasi lebih besar dari dopamin, dan interferen ion-ion anorganik, glukosa, dan urea hingga 1000 kali lipat lebih besar. Uji kebolehulangan (reproducibility) terhadap 10 elektroda, dan uji keberulangan (repeatability) sebanyak 50 kali pengukuran menunjukkan konsistensi respon yang baik. Elektroda juga menunjukkan stabilitas yang memadai hingga 28 hari penyimpanan dengan nilai %RSD lebih kecil dari RSD Horwitz. Validasi metode dilakukan menggunakan sampel keringat simulasi yang di-spike dengan dopamin 200 µM dan dianalisis menggunakan uji t-berpasangan. Nilai % recovery yang diperoleh sebesar 95,40% untuk teknik voltammetri, dan 95,29% untuk spektrofotometri UV-Vis, dengan nilai t hitung sebesar 0,0082 lebih kecil dari t tabel 4,303, menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua metode sehingga sensor dinyatakan valid untuk analisis dopamin dalam sampel nyata.

2026
👤 Penulis: Tania Amara Dewi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGARUH DOPING GANDA ION MG2+ DAN ZN2+ TERHADAP STRUKTUR DAN BIOAKTIVITAS BIFASIK KALSIUM FOSFAT

Bifasik kalsium fosfat (BCP), material komposit yang tersusun dari hidroksiapatit (HAp, Ca10(PO4)6(OH)2) dan ?-trikalsium fosfat (?-TCP, ?-Ca3(PO4)2) merupakan biomaterial alloplastik kandidat bone graft untuk prosedur socket preservation pada kasus kehilangan gigi. Namun, BCP konvensional belum sepenuhnya menyerupai apatit biologis yang mengandung berbagai ion substituen, sehingga modifikasi BCP melalui substitusi ion Ca2+ dengan ion Mg2+ dan Zn2+ perlu dilakukan untuk meningkatkan reaktivitas dan bioaktivitasnya. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh dopan ganda Mg2+/Zn2+ terhadap struktur, keseimbangan fase, dan bioaktivitas in vitro BCP. BCP disintesis melalui metode mekanokimia dengan komposisi 60% (b/b) HAp + 40% (b/b) ?-TCP dan disinter pada 800 °C selama 4 jam. Pada sampel BCP, konsentrasi ion Mg2+ divariasikan sebesar 1; 2,5; dan 5 mol% serta ion Zn2+ dipertahankan pada 2 mol%. Analisis Rietveld refinement dari data Powder X-ray diffraction powder (PXRD) menunjukkan bahwa dopan ion Mg2+ dan Zn2+ berhasil mensubstitusi ion Ca2+ pada struktur BCP, menyebabkan kontraksi parameter kisi. Doping tunggal ion Mg2+ meningkatkan transformasi sebagian fase HAp menjadi ?-TCP, sedangkan doping ganda Mg2+/Zn2+ mampu mempertahankan keseimbangan fase HAp dan ?-TCP yang mendekati BCP non- dopan. Uji bioaktivitas in vitro dalam larutan simulated body fluid (SBF) selama 28 hari menunjukkan bahwa sampel BCP-Mg2,5Zn2 menghasilkan peningkatan fraksi massa HAp tertinggi sebesar 7,01%, disertai pembentukan lapisan bone-like apatite yang tebal dan homogen, serta meningkatnya rasio (Ca+Mg+Zn)/P di permukaan menjadi 1,84 berdasarkan analisis SEM-EDX. Analisis AAS terhadap larutan SBF pasca perendaman menunjukkan perubahan konsentrasi ion Ca2+ yang mengindikasikan berlangsungnya mekanisme dissolution–reprecipitation selama pembentukan lapisan apatit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa doping ganda ion Mg2+ dan Zn2+ memberikan efek sinergis dalam mempertahankan keseimbangan fase sekaligus meningkatkan kemampuan pembentukan apatit pada BCP, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai material bone graft sintetik untuk aplikasi socket preservation.

2026
👤 Penulis: Sabrina Ocha Felinda
🏷️ Kalsium Fosfat 🏷️ Biomaterial Alloplastik 🏷️ Hidrologi

ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA BIOAKTIF DARI KAYU BATANG DEHAASIA CAESIA SERTA UJI AKTIVITAS ANTIDIABETES SEBAGAI INHIBITOR ENZIM ?-GLUKOSIDASE

Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai oleh kondisi hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Peningkatan prevalensi diabetes secara global serta tingginya jumlah kasus di Indonesia menunjukkan urgensi pengembangan agen antidiabetes yang lebih efektif dan aman. Salah satu pendekatan dalam pengendalian hiperglikemia, khususnya setelah makan, adalah melalui inhibisi enzim ?-glukosidase yang berperan dalam hidrolisis karbohidrat menjadi glukosa. Namun, penggunaan inhibitor ?-glukosidase komersial sering dikaitkan dengan efek samping gastrointestinal, sehingga mendorong pencarian alternatif yang lebih aman dari sumber bahan alam. Dalam hal ini, produk alami menjadi sumber yang menjanjikan karena keragaman struktur kimianya memungkinkan berbagai aktivitas biologis. Salah satu tumbuhan yang berpotensi adalah genus Dehaasia dari famili Lauraceae. Beberapa spesies Dehaasia telah dilaporkan mengandung alkaloid, seperti kelompok benzilisokuinolin, bisbenzilisokuinolin, aporfin, bisaporfin, fenantren, dan morfinan, yang diketahui menunjukkan aktivitas sitotoksik, antiplasmodial, antibakteri, dan antioksidan. Salah satu spesies yaitu Dehaasia caesia tersebar di Sumatera, Indonesia. Kayu D. caesia telah dimanfaatkan sebagai bahan bangunan serta daunnya digunakan secara tradisional untuk mengobati infeksi mikroba dan bisul. Meskipun demikian, kajian fitokimia terhadap spesies ini masih terbatas. Oleh karena itu, maka penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan melakukan karakterisasi metabolit sekunder dari kayu batang Dehaasia caesia serta mengevaluasi aktivitas antidiabetesnya melalui uji inhibisi enzim ?-glukosidase. Dalam penelitian ini, kayu batang D. caesia diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut aseton. Ekstrak aseton diuapkan pelarutnya menggunakan rotary evaporator, dan ekstrak pekat aseton kemudian dipisahkan dan dimurnikan melalui kromatografi cair vakum (KCV), kromatografi kolom gravitasi (KKG), dan kromatografi radial (KR). Senyawa hasil isolasi selanjutnya diuji kemurniannya menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan tiga eluean yang berbeda. Struktur senyawa ditentukan berdasarkan data spektroskopi, yang meliputi data 1D-NMR dan 2D-NMR serta pengukuran putaran optik. Aktivitas antidiabetes dari ekstrak aseton dan senyawa hasil isolasi selanjutnya dievaluasi secara in vitro melalui inhibisi enzim ?-glukosidase. Pada penelitian ini dua senyawa berhasil diisolasi, yaitu turunan neolignan yaitu 7S,8R-licarin A dan turunan lignan yaitu asam dihidroguaiaretat. Meskipun kedua senyawa tersebut telah dilaporkan dari berbagai spesies anggota famili Lauraceae, Myristicaceae, Aristolochiaceae, dan Zygophyllaceae, tetapi penelitian ini merupakan laporan pertama keberadaan kedua senyawa tersebut pada kayu batang Dehaasia caesia Indonesia. Selanjutnya, evaluasi aktivitas antidiabetes melalui uji inhibisi enzim ?-glukosidase menunjukkan bahwa ekstrak kayu batang, 7S,8R-licarin A dan meso-asam dihidroguaiaretat memiliki aktivitas penghambatan yang rendah terhadap enzim maltase dan sukrase pada konsentrasi 100,0 ?M. Persentase penghambatan terhadap maltase berturut-turut sebesar 13,11%, 12,03%, dan 25,07%, sedangkan terhadap sukrase sebesar 13,99%, 17,76%, dan 23,22%. Dibandingkan dengan nilai persentase penghambatan senyawa akarbosa (kontrol positif) pada konsentrasi 12,5 ?M (senyawa kontrol) terhadap maltase dan sukrase yang menunjukkan nilai berturut-turut yaitu 67,39 dan 47,42, maka ekstrak kayu batang, 7S,8R-licarin A, serta meso-asam dihidroguaiaretat memiliki aktivitas lemah. Berdasarkan penelusuran literatur, aktivitas inhibisi ?-glukosidase dari 7S,8R-licarin A dan meso-asam dihidroguaiaretat dilaporkan untuk pertama kalinya dalam penelitian ini.

2026
👤 Penulis: Syaehul Islam
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

MEKANISME DAN PENGARUH CHELATING AGENT TERHADAP DINAMIKA SUPERSATURATION, NUCLEATION, CRYSTAL GROWTH, DAN PERFORMA ELEKTROKIMIA PADA SINTESIS MATERIAL KATODE LINI1-X-YMNXALYO2 SINGLE CRYSTALLINE UNTUK BATERAI ION LITIUM

Material katode LiNi1-x-yMnxAlyO2 (NMA) merupakan alternatif katode bebas kobalt, dengan Al menekan pencampuran kation Li+/Ni2+ dan menstabilkan struktur layered. Namun, perbedaan Ksp yang besar antara Al(OH)3, Ni(OH)2, dan Mn(OH)2 memicu segregrasi fasa pada sistem NH4OH. Penelitian ini menggunakan di-ammonium hydrogen citrate (DAHC) sebagai agen pengkelat tunggal berfungsi ganda, ligan multidentat yang membentuk kompleks stabil dengan Al3+ sekaligus sumber amonia, untuk menyederhanakan sintesis NMA955 melalui metode hidrotermal (180oC, 10 jam) dan kalsinasi (800oC, 12 jam, atmosfer O2). Pemodelan termodinamika-kinetika menunjukkan peningkatan konsentrasi DAHC menurunkan supersaturasi (lnS = 10.69 ? 10.37) dan laju nukleasi (9.73 ? 8.97 x 1010 nukleus/m3?s), dengan kondisi optimum pada 1.2 M. Sebaliknya, NH4OH menghasilkan lnS = 21.92 dan laju nukleasi 3.64 x 1011 nukleus/m3?s, sehingga DAHC efektif menekan nukleasi eksplosif penyebab aglomerasi partikel primer. XRF mengonfirmasi DAHC mempertahankan komposisi lebih dekat target (Al 8.49%; Mn 4.24%) lebih tinggi dari NH4OH (Al 7.79%; Mn 1.79%) yang defisit Mn akibat lemahnya kompleks Mn-amonia. XRD menunjukkan DAHC 1.2 M memiliki parameter struktural terbaik (I(003)/I(104) = 1.63, R-Factor = 0.51, c/a = 4.942, FWHM = 0.09o) mendekati karakter single-crystalline, sedangkan NH4OH 1.2 M hanya mencapai I(003)/I(104) = 1.01 yang menandakan pencampuran kation lebih tinggi. Konsisten dengan itu, SEM memperlihatkan DAHC menghasilkan partikel primer besar sementara NH4OH membentuk partikel sekunder teraglomerasi padat. Pengujian elektrokimia menunjukkan DAHC 1.2 M memberikan initial discharge capacity 161.53 mAh/g, retensi 91.5% setelah 100 siklus pada 0.5C, kemampuan rate 67% pada 2C, Rct = 49.69 ?, DLi+ = 1.33 x 10-12 cm2/s, dan pergeseran ?V < 0.05 V setelah 100 siklus. Sebaliknya, NH4OH 1.2 M hanya mempertahankan retensi 49% dengan Rct = 82 ? dan DLi+ = 2.25 x 10-15 cm2/s.

2026
👤 Penulis: Faiprianda Assyari Rahmatullah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

MODIFIKASI BIOSILIKA DARI DIATOM LAUT TROPIS UNTUK PENGEMBANGAN SISTEM PENGANTAR OBAT PEKA CAHAYA

Terapi obat konvensional sering kali menghadapi tantangan berupa distribusi obat yang tidak merata dalam tubuh, efektivitas yang rendah di lokasi target, serta efek samping yang bersifat sistemik. Pengembangan sistem pengantaran obat (drug delivery) yang dikontrol oleh faktor eksternal, seperti sinar dengan panjang gelombang tertentu, dapat memicu pelepasan obat secara tepat sasaran dan mengurangi efek samping. Salah satu kandidat sistem pengantaran obat yang bersifat biokompatibel dan terbarukan adalah material biosilika berpori hierarkis dari mikroalga jenis diatom. Dalam penelitian ini, biosilika dari diatom dimodifikasi dengan senyawa linker yang bersifat peka cahaya (photolabile) dengan tujuan agar dapat melepaskan senyawa kargo di bawah kontrol cahaya. Tahap penelitian ini meliputi kultivasi diatom spesies Navicula salinicola NLA, pemanenan biomassa diatom, isolasi dan aktivasi biosilika dari biomassa, fungsionalisasi biosilika dengan (3-Aminopropil)trietoksisilana (APTES), serta konjugasi biosilika-APTES dengan linker peka cahaya dan senyawa model obat, yaitu metil merah (MM). Sistem biosilika-APTES-linker-MM diiradiasi dengan sinar UV (? = 365 nm) dengan pencuplikan alikuot larutan pada interval waktu tertentu (5–210 menit) untuk mengamati pelepasan senyawa MM secara spektrofotometrik. Kultur N. salinicola NLA mencapai kerapatan sel maksimum pada hari ke-9 sebesar 637.33 sel/mL kultur. Pemanenan biomassa menghasilkan 4,75 gram pada hari ke-9 dengan produktivitas mencapai 764,75 mg·L?¹·hari?¹. Sebanyak 0,0523 g biosilika diekstraksi dari biomassa basah dengan produktivitas sebesar 1% (%massa) dan nilai potensial zeta negatif (-16,61 mV) yang menandakan keberadaan gugus silanol. Biosilika yang telah diaktivasi dimodifikasi dengan senyawa APTES dengan kerapatan fungsionalisasi mencapai 1,01 mmol/gram dan nilai potensial zeta positif (+12,01 mV) yang menandakan keberadaan gugus amonium. Modifikasi biosilika dengan APTES juga diindikasikan oleh puncak serapan IR pada 1633 cm-1 dan 2925 cm-1. Konjugasi linker pada biosilika-APTES melalui ikatan amida dapat dilihat melalui munculnya pita amida I pada 1624 cm?¹ dan amida II pada 1566 cm?¹ pada spektrum FTIR, serta kenaikan rasio molar C/N sebesar 14,69 yang didapat dari hasil analisis unsur CHNS. Pemuatan metil merah melalui ikatan ester pada ujung gugus hidroksimetil linker diindikasikan oleh pita C=O ester pada 1723 cm?¹ dengan rasio molar C/N sebesar 4,46 dan kerapatan pemuatan sebesar 0,055 mmol/gram. Fotoiradiasi UV (? = 365 nm) menghasilkan pelepasan spesi yang menyerap pada ????????????????? = 280 nm, berbeda dengan serapan khas metil merah pada ????????????????? = 405 nm. Hal ini menandakan telah terjadi proses pelepasan molekul walaupun tidak terindikasi dalam bentuk metil merah fungsional. Analisis spektrometri massa untuk spesi hasil fotoiradiasi tersebut menunjukkan puncak pada m/z 274,29; 261,16; dan 123,09 yang bersesuaian dengan struktur metil merah yang telah mengalami degradasi yang kemungkinan besar disebabkan oleh fotoiradiasi. Hasil ini menunjukkan bahwa telah terjadi pemutusan ikatan secara fotoiradiasi walaupun belum tercapai pelepasan bahan aktif terkontrol.

2026
👤 Penulis: Zeini Alkarina Fajrin
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERENCANAAN RUANG TERBUKA HIJAU BERBASIS NATURE-BASED SOLUTIONS PADA KORIDOR EKOLOGIS RIPARIAN CILIWUNG DI LANSKAP PERKOTAAN DKI JAKARTA

Perkembangan kawasan perkotaan di Provinsi DKI Jakarta telah menyebabkan tekanan ekologis yang signifikan, ditandai dengan dominasi lahan terbangun dan keterbatasan ruang terbuka hijau yang berdampak pada fragmentasi habitat serta menurunnya konektivitas ekologis. Kondisi ini berimplikasi pada terganggunya pergerakan spesies dan kualitas ekosistem perkotaan. Burung perkotaan sebagai bioindikator dapat merepresentasikan kondisi tersebut, sementara koridor DAS Ciliwung memiliki potensi sebagai ecological backbone yang belum optimal dimanfaatkan dalam perencanaan berbasis ekologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesesuaian habitat burung perkotaan dan menganalisis konektivitas ekologis sebagai dasar perumusan koridor ekologis berbasis NatureBased Solutions (NbS) di koridor DAS Ciliwung, DKI Jakarta. Pendekatan yang digunakan adalah pemodelan spasial dengan metode Maximum Entropy (MaxEnt), analisis fragmentasi habitat, serta konektivitas ekologis menggunakan Least-Cost Path (LCP), dengan data 131 titik kemunculan lima spesies dan variabel lingkungan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model memiliki akurasi baik hingga sangat baik (AUC 0,899-0,950). Tutupan lahan (LULC) menjadi faktor dominan (50-90,5%), diikuti intensitas kawasan terbangun (>30%), yang menegaskan bahwa struktur lanskap dan tekanan urbanisasi menentukan kesesuaian habitat. Secara spasial, habitat potensial terkonsentrasi pada koridor riparian dan area vegetasi tinggi, namun terfragmentasi menjadi patch kecil (threshold 0,102-0,247) dengan core habitat terbatas. Jalur konektivitas cenderung mengikuti koridor Sungai Ciliwung dan area resistansi rendah sebagai stepping-stone, sementara kawasan terbangun menghambat pergerakan spesies. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan utama bukan hanya kehilangan habitat, tetapi keterputusan struktur ekologis dalam lanskap perkotaan. Berdasarkan hasil tersebut, dirumuskan koridor ekologis berbasis NbS melalui penguatan vegetasi riparian, optimalisasi ruang terbuka hijau sebagai jaringan habitat, serta integrasi elemen hijau pada kawasan terbangun untuk meningkatkan permeabilitas lanskap. Penelitian ini memberikan dasar spasial dalam perumusan koridor ekologis yang adaptif dan berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Farid Ramadhani
🏷️ Koridor Eko 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Ruang Terbuka Hijau

PENGARUH MONSUN TERHADAP VARIABILITAS TRANSPOR VOLUME DAN FRESHWATER DI PERAIRAN INDONESIA TENGAH

Penelitian ini mengkaji pengaruh monsun terhadap variabilitas transpor volume dan air tawar (freshwater) di Perairan Indonesia Tengah, meliputi Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Maluku, dan Teluk Tomini, menggunakan data reanalisis Global Ocean Physics dari CMEMS selama periode 30 tahun (1994–2024). Transpor dihitung dengan mengintegrasikan kecepatan arus dan salinitas pada tiga lapisan vertikal berdasarkan profil temperatur klimatologis, yaitu lapisan Mix Layer Depth (MLD), lapisan transisi, dan lapisan termoklin, dengan salinitas referensi 34,62 psu. Analisis sinyal menggunakan Fast Fourier Transform (FFT) dan S-Transform diterapkan untuk mengevaluasi periodisitas dan variabilitas temporal. Verifikasi model CMEMS menghasilkan nilai korelasi 0,749 untuk kecepatan arus dan di atas 0,9 untuk salinitas dan temperatur, sehingga data dinyatakan layak digunakan. Hasil menunjukkan bahwa Selat Makassar memiliki aliran ke selatan yang konsisten dengan puncak outflow ?0,975 Sv pada lapisan transisi saat Musim Timur (JJA) dan melemah pada Musim Barat (DJF). Laut Sulawesi mencatat transpor ke barat terkuat pada JJA hingga ?0,8 Sv di lapisan termoklin. Laut Maluku menunjukkan pola vertikal paling dinamis dengan pembalikan arah transpor antar lapisan seiring pergantian monsun. Teluk Tomini memperlihatkan karakteristik perairan semi tertutup dengan magnitudo transpor kecil (< 0,1 Sv) yang didominasi siklus intramusiman 2–4 bulan. Analisis S-Transform mengungkap bahwa sinyal tahunan (12 bulan) mendominasi lapisan transisi di seluruh lokasi. Secara keseluruhan, El Niño melemahkan kapasitas transpor volume dan freshwater, sementara La Niña bertindak sebagai penguat aliran di Perairan Indonesia Tengah.

2026
👤 Penulis: Daniel Bonifasius Sipayung
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS SPASIO-TEMPORAL DISTRIBUSI RUMPUT LAUT DENGAN PENDEKATAN MACHINE LEARNING DAN KAITANNYA DENGAN PARAMETER OSEANOGRAFI DI PESISIR PULAU SABU TAHUN 2020–2025

Penelitian ini bertujuan memetakan distribusi spasio-temporal rumput laut di perairan Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, periode 2020–2025 menggunakan model Machine Learning Random Forest (RF) berbasis citra Sentinel-2 serta menganalisis hubungannya dengan parameter oseanografi. Hasil optimasi menunjukkan konfigurasi ntree = 100 dan mtry = 2 sebagai model terbaik dengan Overall Accuracy (OA) 88% dan Kappa 0,76. Validasi independen terhadap 15.617 sampel menghasilkan OA 87,92% dengan F-measure 89,4% untuk kelas rumput laut dan 85,9% untuk kelas non-rumput laut. Luasan rumput laut berfluktuasi antara 2.194,93–2.908,49 ha, dengan puncak pada Maret dan September serta minimum pada Juni. Secara spasial, Zona A memiliki luasan terbesar (1.113,02–1.700,75 ha), diikuti Zona B (558,21–626,52 ha) dan Zona C (432,17–581,21 ha). Hasil pemetaan merepresentasikan tutupan rumput laut secara keseluruhan, mencakup rumput laut budidaya maupun alami. Estimasi luasan lebih besar dibandingkan areal budidaya resmi tahun 2016, namun masih berada dalam kisaran luas areal potensial rumput laut Pulau Sabu tahun 2022 (3.955 ha). Meskipun demikian, nilai False Positive sebesar 23,5% menunjukkan adanya potensi overestimasi. Analisis Principal Component Analysis (PCA) menunjukkan bahwa dinamika musiman merupakan faktor utama yang mengontrol variasi luasan rumput laut. Suhu permukaan laut (SPL), salinitas, dan kecepatan arus menjelaskan 78,82–87,96% keragaman data pada komponen utama pertama. Musim barat dicirikan oleh SPL yang lebih tinggi dan salinitas yang relatif stabil yang berasosiasi dengan peningkatan luasan rumput laut, sedangkan musim timur ditandai oleh penguatan arus, pencampuran massa air, dan peningkatan nutrien yang bertepatan dengan penurunan luasan rumput laut. Meskipun demikian, luasan rumput laut kembali meningkat pada akhir musim timur, menunjukkan adanya respons yang tidak langsung terhadap perubahan kondisi oseanografi. Zona B memperlihatkan respons yang lebih fluktuatif akibat pengaruh transisi antara Laut Sawu dan Samudra Hindia.

2026
👤 Penulis: Sabitha Chairunnisa Syahrial
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Sumber Daya Air

PEMODELAN RISK ADJUSTMENT IFRS 17 MENGGUNAKAN RUANG KEADAAN FUZZY DAN LINEAR QUADRATIC REGULATOR

IFRS 17 memperkenalkan Risk Adjustment (RA) sebagai komponen penting dalam pengukuran fulfilment cash flows untuk mencerminkan ketidakpastian risiko non-keuangan. Pada penelitian sebelumnya, estimasi RA telah dikembangkan menggunakan pendekatan Takagi–Sugeno Fuzzy Inference System (TS-FIS). Penelitian ini melanjutkan pendekatan tersebut dengan membangun model ruang-keadaan fuzzy Takagi–Sugeno, dengan state sistem didefinisikan sebagai xt = [RAt, pt, dt]T . Komponen RAt merepresentasikan nilai internal RA, pt menunjukkan tingkat keyakinan, sedangkan dt menggambarkan deviasi atau memori sistem. Input risiko yang digunakan meliputi indeks volatilitas, indeks ketidakpastian mortalitas, dan indeks ketidakpastian lapse. Model ruang-keadaan fuzzy dibangun melalui kombinasi fungsi keanggotaan rendah, sedang, dan tinggi sehingga menghasilkan 81 aturan lokal dalam bentuk matriks Ai, Bi, dan vektor konstanta ci. Dinamika RA dirumuskan dengan mempertimbangkan parameter persistensi ?, parameter skala ?, tingkat keyakinan, serta ringkasan penggerak risiko. Parameter ? diestimasi menggunakan pendekatan least squares agar model dapat menyesuaikan dinamika RA terhadap nilai referensi aktuaria. Selain itu, Linear Quadratic Regulator (LQR) digunakan sebagai mekanisme kontrol untuk mengurangi penyimpangan nilai RA terhadap target. Dengan demikian, pendekatan ini diharapkan mampu memberikan kerangka yang lebih sistematis, adaptif, dan interpretatif dalam memodelkan serta mengendalikan dinamika RA dari waktu ke waktu.

2026
👤 Penulis: Thio Novriery
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
Halaman 30 dari 267
💬